Anda di halaman 1dari 4

Viscosity merupakan sifat internal fluida yang menolak untuk mengalir.

Kata
viscosity juga dipakai sebagai ukuran keengganan/resistansi suatu fluida untuk
mengalir.

Ada

jenis

yaitu dynamic (atau absolute) viscosity dan kinematic

viscosity,

viscosty.

Kinematic

viscosity merupakan perbandingan dynamic viscosity tarhadap density. Satuan


untuk dynamic viscosity adalah Pa s atau Ns/m2 (=1 Pa s) atau kg/m s (=1 Pa s)
atau g/cm s (=0.1 Pa s) atau dyne s/cm2 (=0.1 Pa s) atau poise, P (0.1 Pa s) atau
centiPoise,

cP

(=0.01

P).

Sedangkan

satuan

untuk

kinematic

viscosity

adalah m2/s atau Stoke, St (=0.0001 m2/s) atau Centistoke, cSt (=0.01 St).
Viscosity dari produk-produk perminyakan (petroleum) penting untuk diketahui
karena nilai viscosity ini akan mempengaruhi sistem penimbuan/storage-nya,
handling-nya dan kondisi operasi-nya, terutama untuk lubeoil (oli).
ASTM D-445 mengatur prosedur untuk menentukan kinematic viscosity produkproduk perminyakan. Setelah kinematic viscosity diketahui, dynamic viscosity
dapat diperoleh dengan mengalikan kinematic viscosity tersebut dengan density.

http://www.pumped101.com

http://www.engineeringtoolbox.com/classification-pumpsd_55.htmlhttp://www.engineeringtoolbox.com/classification-pumps-d_55.html

Minyak bumi merupakan campuran kompleks yang mengandung ribuan senyawa


hidrokarbon tunggal mulai dari yang paling ringan saperti gas metana sanpai bahan
aspal yang berat dan berwujud padat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hampir
semua komposisi senyawa dalam minyak bumi terdiri atas atom karbon dan hydrogen
(hidrokarbon). Namun terdapat pula senyawa- senyawa yang mengandung belerang,
oksigen dan nitrogen.
Senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berdasarkan strukturnya
secara umum dibagi atas 4 kategori yaitu:
1. Senyawa paraffinic
Hidrokarbon golongan ini menpunyai ikatan rantai baik dalam bentuk lurus maupun
bercabang. Pada temperature kamar dan tekanan atmosferik, metana (CH4) etana
(C2H6), propana (C3H5), dan butane (C4H10) berada dalam fase gas. Namun propana
dan butana dapat dicairkan dengan sedikit kompresi.senyawa paraffinic yang berbentuk
cair pada kondisi atmosferik adalah mulai dari pentana (C5) hingga di atasnya. Semakin
panjang rantai paraffin, maka titik didih dan titik lebernya akan semakin tinggi.
2. Senyawa olefinic
Senyawa golongan ini jarang terapat dalam minyak bumi, karena senyawa ini merupakan
hasil dekomposisi dari tipe golongan hidrikarbon lainnya. Olefin pada konsentrasi tinggi
dapat kita peroleh pada produk dari Thermal Cracking atau Catalytic Cracking. Olefin
merupakan senyawa paraffinic yang kekurangan atom-atom hidrogen, sehingga
mempunyai ikatan rangkap. Secara umum olefin tidak di inginkan dalam proses akhir
pengolahan minyak bumi menjadi bahan bakar minyak, karena ikatan rangkapnya yang
sangat reaktif serta mudah teroksidasi dan terpolymerisasi menjadi gum. Senyawa
oleffinic disebut juga senyawa karbon tak jenuh.
3. Senyawa naphtenic
Senyawa hidrokarbon yang juga dikenal dengan Cycloparaffinic ini mempunyai struktur
molekul yang lebih kompleks dari pada paraffin dan berbentuk rantai cincin yang tidak
mengandung ikatan rangkap. Panjang dan julah senyawa paraffin yang melekat pada
rantai cincin dapat sangat beragam sesuai dengan formula CnH2n. pada Countinuous
Catalytic Reforming Unit, Napthenic tersebut akan kehilangan atom hidrogennya dan
terkonversi menjadi aromatik.
4. Senyawa aromatic
Bentuk dan rangkaian yang paling sederhana dari aromatik adalah benzene (C6H6).
Struktur molekul senyawa ini hampir sama dengan senyawa napthenic, yaitu membentuk
suatu rantai cincin. Perbedaanya adalah adanya ikatan rangkap didalam senyawa
hidrokarbon yang timbul karena di lepaskanya satu atom hidrogen pada setiap
ikatannya. Karakteristik dari golongan senyawa aromatik ini terdiri dari struktur benzene
segi enam. Aromatik pada umumnya bersifat kurang reaktif dan pada gasolin range
merupakan pelarut yang bagus serta memiliki angka oktan yang tinggi.
Salah satu bahan yang terdapat dalam crude oil adalah wax. Wax ini adalah salah satu

hidrokarbon, biasanya berupa paraffin hidrokarbon (C18 C36) dan naphtenic


hidrokarbon (C 30 C 60). Bila temperatur minyak dalam pipa berada di bawah
temperatur titik kabut (cloud point) minyak tersebut, maka wax akan membeku dan
membentuk kristal. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan temperatur
minyak dalam pipa adalah kehilangan panas yang dialami oleh minyak sebagai akibat
adanya perbedaan temperatur antara minyak dan lingkungan.
Masalah wax dan paraffin merupakan hal yg sering dialami dalam instalasi pipeline
bawah laut. Terutama untuk pengembangan minyak offshore dimana suhu air laut sangat
rendah yang membuat wax mudah mengendap. Pengendapan wax/paraffin di dinding
pipa menjadi suatu permasalahan yang serius di industri perminyakan dalam suatu
sistem produksi dan transportasi minyak berparaffin. Permasalahan yang timbul dengan
keberadaan wax dalam minyak mentah (crude oil) diantaranya adalah :
Ketika mentransportasikan minyak dalam jaringan pipa, karena akan memperlambat
laju alirankarena mengurangi diameter efektif dari pipeline dan juga akan menambah
kekasaran pipa juga meningkatkan pressure drop.
Adanya wax dapat meningkatkan viskositas minyak sehingga akan lebih sukar untuk
dialirkan.
Wax akan mengendap pada tanki penyimpanan.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari wax, yaitu dengan
mempertahankan suhu minyak di atas wax appearance temperature (WAT) dengan
memberikan isolasi pada pipeline (passive heating) atau memberikan sumber panas
tambahan (active heating) ke pipeline seperti electric heater, water medium heater.
Namun apabila mempertahankan suhu minyak di atas WAT tidak memungkinkan, maka
wax dapat dicegah mengendap dalam pipeline dengan jalan memberikan tambahan
bahan-bahan kimia (chemical injections) ke dalam pipeline, baik berupa wax inhibitor
atau pour point depressant (PPD). Salah satu fungsi wax inhibitor atau PPD adalah untuk
menurunkan WAT atau mengurangi laju pengendapan wax dalam pipeline sehingga wax
dapat terbawa ke tujuan.

Jika upaya mencegah pengendapan wax dalam pipeline sudah dilakukan masih gagal,
maka wax yg sudah mengendap dalam pipeline dapat dibersih dengan melalukan
pigging secara berkala. Pigging adalah satu proses dimana kita memasukkan suatu
benda yg keras kedalam pipeline dengan tujuan untuk mengikis wax-wax yg sdh
mengendap di dinding pipeline. Waktu melakukan pigging akan disesuaikan dengan laju
pengendapan wax dalam pipeline sehingga flow area untuk minyak dalam pipeline tetap
memadai.

Perkembangan teknologi terbaru kini memungkinkan untuk menerapkan kombinasi


antara wax inhibitor injection dan pigging operation. Pigging, selain digunakan untuk
mengikis wax sering juga pakai untuk menjaga jumlah cairan yan berada dalam pipeline,
karena selain minyak ada juga cairan lain berupa produced water serta bahan kimia (baik
berupa corrosion inhibitor, hydrate inhibitor, dll) yang mengendap dan tertahan dalam
pipeline.
Dari berbagai sumber