Anda di halaman 1dari 28

BAB I

STATUS MEDIK
I

IDENTITAS PASIEN
No. Rekam Medis

: 57xxxxx

Nama Pasien

: An. RFA

Umur

: 0 Bulan, 3 hari

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat:

: Sukaluyu

Tempat, Tanggal lahir

: Bidan , 1 April 2013

Masuk RSUD Cianjur

: 4 April 2013

IDENTITAS ORANG TUA


Ayah:
Nama

: Tn.F

Umur

: 25 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Supir

Penghasilan

: Rp.1.000.000

Ibu:

Pendidikan terakhir

: SMA

Nama

: Ny,W

Suku bangsa

: Sunda

Umur

: 24 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelayan toko

Penghasilan

: Rp.500.000

Pendidikan terakhir

: SMA

Suku bangsa

: Sunda

II

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis (ibu pasien) pada tanggal 4 April 2013
KELUHAN UTAMA
Dirawat karena sesak
KELUHAN TAMBAHAN
OS demam, kebiruan, merintih, tidak mau menyusu, kurang bergerak dan lemah
serta kulit berwarna kuning.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
OS di bawa ke IGD Neonatus RSUD Cianjur pada tanggal 4 April 2013 dengan
keluhan sesak dan kebiruan sejak 2 jam SMRS. Sesak dirasakan semakin memberat, dan
kebiruan muncul di ujung-ujung tangan dan kaki serta mulut. Pada saat itu, OS mula
menunjukan penurunan nafsu makan sehingga OS semakin males untuk minum
susu/ASI. Ibu OS menyangkal, OS pernah mengalami riwayat tersedak.
Sekitar jam 2 pagi pada tanggal 4 April 2013 ibu OS mengeluh suhu tubuh
anaknya mulai meningkat. Mual, muntah, dan batuk disangkal. Ibu OS mengakui nafas
anaknya berbunyi seperti mendengkur ketika tertidur. Untuk menurunkan panasnya ibu
pasien mengkompres kepala OS menggunakan air dingin, tetapi suhu tubuhnya tidak
menurun. Pada jam 7 pagi OS mulai kelihatan biru, kelihatan sesak dan nafasnya mulai
menghilang. Segera, Ibu OS membawa OS ke bidan tempat OS dilahirkan .Disana bidan
meyedot lendir dari mulut dan hidung OS. Bidan juga memberi parasetamol yang
dimasukkan lewat dubur untuk menurukan demam dan memberi Oksigen kanul ke OS
untuk menghilangkan sesaknya. Pada jam 9 pagi OS dibawa ke RSUD Cianjur.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit diabetes, hipertensi, gangguan jantung, TBC dan asma pada
keluarga disangkal oleh orang tua OS. Ibu OS mengakui pernah didiagnosa menderita
hepatitis B 2 tahun yang lalu dan sampai pada saat ini ibu pasien tidak pernah control

penyakitnya lagi karena masalah keuangan. Ayah pasien menderita haemmoroid sejak
bulan yang lalu.
RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN
OS lahir melalui persalinan normal pada tanggal 1 April 2013 jam 22.30 dengan
kelahiran dipimpin oleh bidan di dekat rumahnya. Menurut ibu OS, OS dilahirkan dengan
ketuban warna jernih, pasien menangis kuat setelah dilahirkan dan kelihatan biru di
ujung-ujung tubuh OS. Apgar score tidak diketahui, OS dinyatakan NCB-SMK (TIAGA) dengan berat badan lahir 3100 gram dan panjang badan lahir 50 cm. Ibu OS
mengetahui kehamilan ini pada 2 bulan kehamilan. Selama kehamilan menurut ibu OS,
tidak mengalami masalah kesehatan. Empat bulan setelah kehamilan ibu pasien
mengalami keputihan, tapi pada mulainya sedikit dan kurang berbau. Setelah 6 bulan
kehamilan keputihan semakin banyak dan semakin berbau tajam, lalu ibu OS sempat
berobat ke bidan dan diberikan antibiotik. Setelah itu keluhan keputihannya semakin
berkurang.. Ibu OS tidak mengetahui kapan persisnya hari pertama haid terakhirnya,.
Pada tanggal 28 Maret 2013, jam 09.00 pagi ibu OS merasa mules, jam 22.30 ketuban ibu
OS pecah, jam 22.30, OS dilahirkan.

KEHAMILAN Morbiditas
kehamilan

Pada bulan kedua kehamilan, ibu OS merasa


mual-mual

dan

muntah-muntah,

tapi

menurut ibu OS tidak berat atau tidak perlu


dirawat di rumah sakit. Ibu OS juga
mengaku demam yang tinggi sebelum
melahirkan pasien, tidak mengalami infeksi
saluran kemih. Pasien mengaku mengalami
keputihan pertama kalinya 4 bulan setelah
kehamilan, yang pertama kalinya timbul
sedikit dan tidak berbau. Setelah usia
kandungan 6 bulan, keputihan semakin
banyak dan berbau tajam. Pasien mengaku
keputihan itu timbul setelah melakukan
Perawatan antenatal

hubungan intim bersama suaminya.


- pernah kontrol dua kali selama kehamilan,
sekali ke Dokter kandungan pada awal
kehamilan, dan kali keduanya di bidan
swasta
- konsumsi vitamin C

KELAHIRAN

Tempat kelahiran
Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi
Keadaan bayi

- tidak prnah USG selama kehamilan


Bidan swasta
Bidan
Persalinan normal
Cukup bulan (37 minggu), G1P0A0
1 Berat lahir: 3100 gram
2 Panjang: 50 cm
3 Langsung menangis
4 Kulit merah dan biru di hujung-hujung
tungkai
5 Nilai APGAR : tidak diketahui
6 Kelainan bawaan: -

Kesan: Pasien lahir cukup bulan, dan ditemukan adanya keputihan pada ibunya

RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


Pertumbuhan gigi I: - (Normal 5-9 bulan)

Ganqgguan perkembangan mental: Tidak ada


Psikomotor
o Tengkurap

: - bulan

(Normal: 6-9 bulan)

o Duduk

: - bulan

(Normal: 6-9 bulan)

o Berdiri

: - bulan

(Normal: 9-12 bulan)

o Berjalan

: - bulan

(Normal: 12-18 bulan)

o Bicara

: - bulan

(Normal: 12-18 bulan)

Kesan: Riwayat pertumbuhan dan perkembangan belum dapat dinilai.

RIWAYAT MAKANAN
Umur (bln)
0 - 2
2 - 4
4 - 6
6 - 8
8 - 10
10 - 12
12 - 14
14 - 16
16 - 18
18 20
20 22
22 23

ASI/PASI
+
-

Buah/biskuit
-

Bubur susu
-

Umur di atas 1 tahun


Jenis makanan
Nasi/pengganti
Sayur
Daging
Telur
Ikan
Tahu
Tempe
Susu
Kesulitan makan : ( - )

Frekuensi dan jumlah


-

Kesan: OS mendapat inisiasi menyusui dini.

Nasi tim
-

RIWAYAT IMUNISASI DASAR


1
2
3
4
5

BCG
DPT/DT I,II,III
POLIO I,II,III,IV
CAMPAK
HEPATITIS B I,II,III

:::::-

Kesan : Riwayat imunisasi dasar belum dilakukan.

RIWAYAT KELUARGA
OS merupakan anak pertama, ibu OS belum perrnah hamil sebelumnya dan tidak
pernah abortus.
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Ayah OS bekerja sebagai supir dengan penghasilan Rp 1.000.000,00/bulan. Ibu
bekerja sebagai pelayan toko dengan penghasilan Rp 500.000,00-/bulan. Menurut ibu OS
penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Kesan : Kebutuhan pokok sehari-hari terpenuhi.

RIWAYAT PERUMAHAN DAN SANITASI


Keluarga OS tinggal di sebuah rumah sendiri dengan 1 ruang tamu, 2 ruang tidur,
1 kamar mandi, dan 1 dapur. Masing-masing ruangan dibatasi tembok dan berlantai
keramik. Menurut ibu OS jendela kamar mendapat cukup sinar matahari, dan ventilasi
cukup baik. Penerangan listrik dari PLN, sumber air bersih dari air PAM. Air limbah
rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan sampah setiap harinya diangkut
oleh petugas kebersihan.
Kesan: Riwayat perumahan dan sanitasi baik.
III

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 4 April 2012 pada pukul 11.30.
Keadaan umum

: Sakit sedang, Menangis

Kesadaran

: Compos Mentis

Keaktifan

: Gerakan kurang aktif, ekstremitas dalam keadaan fleksi simetris

Tanda Vital
Nadi

: 140 x/menit

Frekuensi napas

: 64 x/menit
: 38,8 0C

Suhu
Tekanan darah

: Tidak dilakukan

Data antropometri
Berat badan
Panjang badan

: 2800 gr
: 50 cm

Status Gizi
BB/U = -2 SD sampai dengan 2 SD Gizi Baik
PB/U = -2 SD sampai dengan 2 SD Panjang Badan Normal
BB/PB = -2 SD sampai dengan 2 SD Normal
Kesan : Gizi Baik
STATUS GENERALIS

Kepala: Normocephal, UUB datar.


Mata: Pupil bulat isokor, refleks cahaya +/+, Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik

-/-, Sekret (+/-)


Telinga: Normotia
Hidung: Bentuk normal, Pernafasan Cuping Hidung (-), sekret (-), septum deviasi (-)
Bibir: Bibir kering (+)
Mulut : POC (-)
Tenggorokan: Sulit dinilai
Leher: Kelenjar getah bening tidak teraba, retraksi suprasternal(+)
Toraks
Jantung

Paru

Inspeksi
Palpasi

Ictus cordis tidak terlihat


ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis

Perkusi
Auskultasi
Inspeksi

sinistra.
Tidak dilakukan
BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-).
Bentuk dada normal, pernapasan simetris dalam
keadaan statis dan dinamis, retraksi intercosta (+)

Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Suara napas vesikuler, ronki (+/+), wheezing (-/-).

Abdomen
Inspeksi
Cembung
Palpasi
Supel, turgor baik, hepar tidak teraba, lien tidak teraba.
Perkusi
Tidak dilakukan
Auskultasi
Bising usus (+) normal
Extremitas: Akral hangat, oedem (-), ptekie (-), CRT < 2, detik, plantar creases
diseluruh telapak kaki, sianosis (+)

Kulit
Turgor
Kelembaban
Warna
Tekstur
Perfusi

IV

Baik
Baik
Tidak pucat, sianosis ekstremitas (+), ikterik(+) ruam (-), ptekie (-)
Halus
< 2 detik

Genitalia Eksterna

: Normal (+)

Refleks Moro

:+

Refleks palmar grasp

: +/+

Refleks plantar grasp

: +/+

Refleks rooting

: +, lemah

Refleks isap

: +, lemah

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
4 APRIL 2013
PEMERIKSAAN

HASIL

NILAI

SATUAN

NORMAL
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Lekosit
Hematokrit
Trombosit
GDS

15,6
15.600
49,5
262.000
38

11.0-16.5
3800-10000
35-50
150.000-500.000
70-120

g/dl
/Ul
%
/Ul
g/dl

Bilirubin total

10,29

Uo to 1,10

Bilirubin indirek

7,30

Bilirubin direk

2,99

0,30

143
6,8
106

135-147
3,5-5,0
96-108

ELEKTROLIT
Natrium
Kalium
Klorida
V

mmol/L
mmol/L
mmol/L

RESUME
Bayi laki-laki cukup bulan, lahir dengan persalinan normal, G1P0A0, dengan
warna air ketuban jernih,langsung menangis, gerak aktif dan tubuh merah tetapi
ekstrimitas biru. OS lahir dengan berat badan 3100 gram, panjang: 50 cm. OS dirawat
karena sesak dan sianosis. Selain itu OS juga tidak mau menyusu, kurang bergerak dan
lemah. OS tampak sakit sedang, kesadaran Compos Mentis, gerakan kurang aktif, dengan
keempat ekstremitas dalam keadaan fleksi simetris Nadi:156 x/menit, Frekuensi napas:
34 x/menit dan Suhu: 38 0C. Turgor kulit baik, kelembaban kering, warna pucat, sianosis
ekstremitas (+), ikterik (+), dan terdapat pengelupasan kulit serta perfusi < 2 detik. Mata:
Secret +/-. Bibir: Bibir kering (+). Toraks : Paru : retraksi sela iga (+),Suara napas
vesikuler, ronki (+/+), Refleks rooting : +, lemah, Refleks isap : +, lemah
Pada pemeriksaan darah ditemukan hipoglikemia, leukositosis dan hiperbilirubinemia,
dan Pemeriksaan Elektrolit ditemukan Hiperkalsemia.

VI

DIAGNOSA BANDING
-

NCB-SMK (TI-AGA) SP a/i KPD dengan Sepsis neonatorum, hiperbilirubinemia,


pneumonia dan hipoglikemia

VII

Perinatal asfiksia

DIAGNOSIS KERJA
NCB-SMK (TI-AGA) dengan Sepsis neonatorum, hiperbilirubinemia, pneumoniae

VIII

USUL PEMERIKSAAN

IX

Darah rutin
Pemeriksaan bilirubin
Pemeriksaan analisa gas darah
Protein spesifik
Kultur dan resistensi tes
Rontgen thorax
Fototerapi

RENCANA PENATALAKSANAAN
Inkubator
OGT Output
IVFD D5%

2.8 x 100
= 12 tetes/menit (mikro)
24

Gentamisin 2x 10mg iv
Cefotaxime 3x 150mg iv
CPAP:
Flow:5 L/menit
Fi02 :50%
PEEP:5cmH2O
Puasa
X

PROGNOSIS

Ad vitam: dubia ad bonam


Ad fungtionam: dubia ad bonam
Ad sanationam: dubia ad bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
SEPSIS NEONATORUM
I.

PENDAHULUAN
Sepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang
pelayanan dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization
(WHO), terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus
(kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan
98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang.1 Secara khusus angka kematian
neonatus di Asia Tenggara adalah 39 per 1000 kelahiran hidup.2 Dalam laporan WHO
yang dikutip dari State of the worlds mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan
bahwa 36% dari kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi, diantaranya :
sepsis; pneumonia; tetanus; dan diare. Sedangkan 23% kasus disebabkan oleh asfiksia,
7% kasus disebabkan oleh kelainan bawaan, 27% kasus disebabkan oleh bayi kurang
bulan dan berat badan lahir rendah, serta 7% kasus oleh sebab lain.3 Sepsis neonatorum
sebagai salah satu bentuk penyakit infeksi pada bayi baru lahir masih merupakan masalah
utama yang belum dapat terpecahkan sampai saat ini. WHO juga melaporkan case
fatality rate pada kasus sepsis neonatorum masih tinggi, yaitu sebesar 40%. Hal ini
terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah
dan ditanggulangi.4 Selanjutnya dikemukakan bahwa angka kematian bayi dapat
mencapai 50% apabila penatalaksanaan tidak dilakukan dengan baik.

II.

DEFINISI
Sepsis neonatorum (bayi baru lahir) adalah infeksi aliran darah yang bersifat
invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah,
cairan sumsum tulang atau air kemih.

Sepsis neonatorum adalah suatu infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh
bayi baru lahir sampai 1 bulan atau 4 minggu pertama, ditandai dengan gejala-gejala
sistemik dan bakteremia. Sepsis merupakan respon sistemik terhadap infeksi oleh bakteri,
virus, jamur, dan protozoa. Sedangkan bakteremia adalah ditemukannya bakteri dalam
kultur darah.
Sepsis neonatal ini biasanya dibagi dalam dua kelompok yaitu sepsis awitan dini
dan awitan lambat. Pada awitan dini, kelainan ditemukan pada hari-hari pertama
kehidupan (umur di bawah 3 hari). Infeksi terjadi secara vertikal karena penyakit ibu atau
infeksi yang dideritai ibu selama persalinan atau kelahiran. Sementara pada awitan
lambat terjadi disebabkan kuman yang berasal dari lingkungan di sekitar bayi setelah hari
ke 3 lahir. Proses infeksi semacam ini disebut juga infeksi dengan transmisi horizontal
dan termasuk didalamnya infeksi karena kuman nosokomial, 85% neonatus dengan
infeksi awal terjadi dalam 24 jam, 5% pada 24-48 jam, dan sedikit yang terjadi antara 48
jam 6 hari. Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan
disebabkan oleh infeksi nosokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit). Onset lebih
cepat pada bayi prematur. Sepsis neonatorum disebut juga sepsis, atau septikemi
neonatal.
III.

EPIDEMIOLOGI
Sepsis merupakan masalah yang belum dapat teratasi dalam pelayanan dan
perawatan bayi baru lahir. Di negara berkembang, hampir sebagian besar bayi baru lahir
yang dirawat mempunyai kaitan dengan masalah sepsis. Angka kejadian atau insidens
sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi yaitu 1,8-18/1000 kelahira dibanding
negara maju 1-5/1000 kelahiran.. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi
merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri lima kali
lebih sering terjadi pada bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2,75 kg dan dua
kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Infeksi pada neonatus di Indonesia masih
merupakan masalah yang gawat. Di Jakarta terutama di RSCM, infeksi merupakan 1015% dari morbiditas perinatal. Angka kejadian sepsis neonatorum adalah 1-10 per 1000
kelahiran hidup.

IV.

ETIOLOGI
Sepsis dapat timbul sebagai lanjutan dari infeksi mikroorganisme termasuk bakteri,
virus, jamur dan parasit. Bayi dapat terkena infeksi selama kehamilan, dari traktus genital
ibu selama kelahiran, atau setelah bayi lahir oleh sebab lain. Berbagai kuman patogen
yang dapat menyebabkan sepsis pada neonatus dapat dilihat dalam table 1.
Tabel 1. Kuman penyebab sepsis neonatorum berdasarkan saat terjadinya infeksi.
Intranatal
Onset dini
Onset lambat
Prenatal
Rubella
Cytomegaloviru
s
Varicella-zoster
Listeria
monocytogenes

(< 5 hari)
Streptokokus
grup B (GBS)
E. coli
Klebsiella
Listeria
H. influenzae tipe
B

(> 4 hari)
Streptokokus
grup B (GBS)
E. coli
Herpes simplex
Listeria
Enterovirus

S. pneumonia

Pascanatal (Nosokomial:
5 hari s.d saat
dipulangkan)
Stafilokokus koagulasenegatif
S. aureus
S. epidermidis
E. coli
Herpes simplex
Klebsiella
C. albicans
Pseudomonas
Serratia

Faktor Predisposisi
Sepsis neonatorum lebih cenderung berkembang saat ibu menderita komplikasi
kehamilan yang meningkatkan kemungkinan infeksi, yaitu:
1

BBLR (bayi berat lahir rendah) dan prematuritas (<37 minggu)

2
3
4
5
6
7
8

Membran ruptur prematur/ketuban pecah dini atau memanjang (>18 jam)


Perdarahan
Kesulitan partus
Infeksi uterus atau jaringan plasenta (Korioamnionitis)
Demam intrapartum maternal (>38 C)
Leukositosis maternal (>18.000/l)
Hipoksia atau resusitasi saat lahir

Bayi juga dapat menderita sepsis karena terkena infeksi setelah kelahiran dari orang
atau benda yang terinfeksi. Bayi di neonatus intensive care unit (NICU) berisiko
mendapat infeksi nosokomial, terutama mereka yang prematur atau memiliki berat lahir
rendah sehingga lebih rentan infeksi. Mikroorganisme yang normal hidup di kulit dapat
menyebabkan infeksi bila memasuki tubuh melalui kateter dan pipa lain yang menyertai
tubuh bayi. Di negara berkembang macam infeksi yang sering ditemukan adalah infeksi
saluran pernapasan akut, infeksi saluran cerna (diare), tetanus neonatal, sepsis dan
meningitis.
Penyebab utama sepsis neonatorum onset dini adalah Streptokokus group B (GBS)
dan bakteri enterik (E. Coli) dari traktus genital maternal. Pada onset lambat terutama
GBS, virus herpes simpleks, enterovirus dan E. Coli. Pada bayi berat lahir rendah yang
rentan infeksi nosokomial kuman penyebabnya terutama Candida dan Stafilokokus
koagulase negatif (CONS).

V.

PATOGENESIS
Infeksi dapat masuk ke dalam tubuh neonatus melalui tiga rute, yaitu: in utero
(transplasental), intrapartum (asendens), dan post partum (nosokomial). Neonatus tidak
dapat merespon benda asing infeksius dikarenakan adanya defisit dari respon fisiologis
terhadap agen infeksius. Studi tentang neonatus masih terbatas, namun ditemukan
produksi sitokin berkurang. Ditemukan peningkatan kadar interleukin-6, tumor necrosis
factor (TNF), dan faktor aktifasi platelet.
Sepsis dini, organisme penyebab penyakit didapat dari intrapartum, atau melalui
saluran genital ibu. Pada keadaan ini kolonisasi patogen terjadi pada periode perinatal.
Beberapa mikroorganisme penyebab bertransmisi ke janin melalui plasenta secara
hematogenik. Cara lain masuknya mikroorganisme, dapat melalui proses persalinan.
Dengan pecahnya selaput ketuban, mikroorganisme dalam flora vagina atau bakteri
patogen lainnya secara asenden dapat mencapai cairan amnion dan janin. Hal ini
memungkinkan terjadinya khorioamnionitis atau cairan amnion yang telah terinfeksi
teraspirasi oleh janin atau neonatus, yang kemudian berperan sebagai penyebab kelainan

pernapasan. Adanya vernix atau mekonium merusak peran alami bakteriostatik cairan
amnion. Akhirnya bayi dapat terpapar flora vagina waktu melalui jalan lahir. Kolonisasi
terutama terjadi pada kulit, nasofaring, orofaring, konjungtiva, dan tali pusat. Trauma
pada permukaan ini mempercepat proses infeksi. Penyakit dini ditandai dengan kejadian
yang mendadak dan berat, yang berkembang dengan cepat menjadi syok sepsis dengan
angka kematian tinggi. Insidens syok septik 0,1-0,4% dengan mortalitas 15-45% dan
morbiditas kecacatan saraf.
Pada onset lambat, bakteri penyebab sepsis dan meningitis timbul sesudah lahir,
yang berasal dari saluran genital ibu, kontak antar manusia atau dari alat-alat yang
terkontaminasi. Di sini transmisi horisontal memegang peran. Insiden sepsis lambat
sekitar 5-25%, sedangkan mortalitas 10-20% namun pada bayi kurang bulan mempunyai
risiko lebih mudah terinfeksi, disebabkan penyakit utama dan imunitas yang imatur.
Jika persalinan berjalan lama, maka bakteri di vagina dapat secara vertikal
menyebabkan inflamasi pada ketuban, tali pusat, dan plasenta. Infeksi fetal dapat juga
disebabkan aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Hal ini dapat menyebabkan lahir mati,
persalinan prematur, atau sepsis neonatus. Kuman yang terisolasi dari cairan amnion yang
terinfeksi yaitu bakteri anaerobik, Streptococcus B hemoliticus group B, Escheria coli,
dan Mycoplasma.
Cairan amnion dapat mencegah Escherichia coli dan bakteri lain berkembang lebih
jauh karena mengandung lyzozyme, transferin, dan immunoglobulin ( IgA dan IgG). Jika
terdapat meconium dan verniks, biasanya akan terjadi peningkatan Escherichia coli dan
Streptococcus B hemolitycus group B.
Infeksi pada ibu Hamil waktu melahirkan memiliki peranan penting terhadap
infeksi neonatus. Infeksi secara transplasenta sewaktu atau sebelum melahirkan dapat
terjadi walaupun terlihat seperti infeksi saat melewati jalan lahir. Mikroorganisme yang
didapat neonatus selama kelahiran akan berkembang dikulit, mukosa nasofaring dan
orofaring, konjungtiva, dan tali pusat, dan pada neonatus perempuan di genitalia externa.
Kulit pada neonatus yang lahir secara seksio cesarea akan lebih bebas kuman dibanding

yang lahir secara pervaginam dimana neonatus akan terpapar mikroorganisme yang
terdapat dijalan lahir.
Endotrakeal suction juga dapat menyebabkan terpapar terhadap mikroorganisme.
neonatus juga dapat terinfeksi melalui sirkumsisi ataupun pemotongan tali pusat.
Neonatus dengan satu atau lebih faktor predisposisi (seperti berat badan lahir rendah
(BBLR), ketuban pecah dini, trauma persalinan, hipoksia fetal, jenis kelamin laki-laki,
atau infeksi ibu selama peripartum) akan meningkatkan resiko terhadap sepsis. Fungsi
fagosit yang belum matur dan penurunan respon inflamasi dan imunitas yang sering pada
neonatus yang kecil menyebabkan neonatus rentan terhadap sepsis.
Hipotermia pada neonatus ( suhu rektal 35 C ) berkaitan erat dengan peningkatan
insiden sepsis. sampai sekarang masih kurang jelas apakah hipotermia merupakan
predisposisi ataupun akibat dari sepsis. Tali pusat sering menjadi portal atau saluran
masuknya infeksi sistemik pada neonatus. jaringan yang sudah mati seperti tali pusat
sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri dan pembuluh darah umbilikal dapat sebagai
saluran langsung infeksi ke sirkulasi darah neonatus. Lemahnya pertahanan tubuh pada
bayi kurang bulan atau pada bayi cukup bulan resiko tinggi disebabkan oleh :
1

Sistem Imunitas seluler


Netrofil atau sel PMN yang vital untuk membunuh bakteri, mengalami defek dalam
kemotaksis dan kapasitas menghancurkan. Ikatan endotel pembuluh darah berkurang
sehingga

menurunkan

kemampuan

dalam

membatasi,

menyebabkan

area

intravaskular bermigrasi ke dalam jaringan. Pada jaringan, sel tersebut gagal


berdeagregasi sebagai respon terhadap faktor kemotaktik. PMN neonatal juga sedikit
cacat sehingga kemampuannya memasuki matriks ekstraselular dari jaringan untuk
mencapai daerah yang inflamasi berkurang. Kemampuan PMN neonatus yang
terbatas untuk memfagosit dan membunuh bakteri akan terganggu ketika bayi sakit
secara klinis. Akhirnya, cadangan netrofil akan habis dengan mudahnya oleh karena
penurunan respon sumsum tulang, terutama pada bayi prematur.
2

Sistem Imunitas Humoral

Kadar IgG pada neonatus tergantung dari transport aktif melalui plasenta oleh karena
semua tipe IgM, IgA dan IgE tidak melalui plasenta, karena itu pada neonatus
jumlahnya kurang. Antibodi yang ditransfer ke janin, akan menjadi pelindung
terhadap infeksi spesifik yang pernah di derita ibu sebelumnya. Secara kuantitatif
jumlah IgG jelas kurang pada bayi Berat lahir rendah, karena sebagian besar IgG
ditransfer melalui plasenta sesudah 32 minggu kehamilan; maka jumlah IgG pada
bayi kurang bulan sangat rendah dibanding bayi cukup bulan. Jumlah ini berkurang
pada

beberapa

bulan

pertama

sesudah

lahir,

keadaan

ini

disebut

hipoimunoglobulinemia fisiologis pascanatal. hal ini merupakan faktor resiko


terjadinya infeksi nosokomial pada masa neonatal.

FAKTOR RISIKO PADA KEHAMILAN DAN PERSALINAN


SEBAGAI INDIKATOR KECURIGAAN
TERHADAP SEPSIS

Faktor Risiko Mayor

Faktor Risiko Minor

Ketuban pecah > 24 jam

ketuban pecah 12 jam

Ibu demam saat intra-partum > 38 c

Ibu demam > 37,5 c

Korioamninitis

Apgar score menit 1<5 ,

Denyut jantung janin menetap > 160x/ mnt

menit ke 5 <7

Ketuban berbau

BBLSR < 1500 gram

Usia gestasi < 37 minggu


Kehamilan Ganda
Keputihan
ISK

SUSPEK SEPSIS POSITIF JIKA SEKURANG-KURANGNYA TERDAPAT 1 RISIKO MAJOR


ATAU 2 RISIKO MINOR.

VI.

MANIFESTASI KLINIS
Sepsis pada neonatus tidak mudah diketahui karena gejalanya yang tidak khas
seperti yang terdapat pada bayi yang lebih tua, dan bervariasi tergantung kuman
penyebab, derajat sakit dan lokasi infeksi. Gejala-gejalanya yaitu:

Keadaan umum

tampak tidak sehat, malas minum/menghisap, iritabel,


lesu, merintih (grunting)

Suhu

tidak stabil (hiper/hipotermia)

Respirasi

sulit bernapas, apneu/takhipneu, sianosis, retraksi

Kardiovaskular

bradi/takhikardi, hipotensi, syok

Gastrointestinal

muntah, diare, distensi abdomen

Neurologi

kejang, letargi, hipotoni, pergerakan kurang

Hepatobilier

hepatosplenomegali, jaundice/ikterik

Kulit

pucat, ptekie, purpura

Metabolik

asidosis metabolik, hipoglikemia

VII.

DIAGNOSIS
Diagnosis sepsis neonatorum sulit ditegakkan bila hanya berdasarkan gejala klinis.

Biasanya terdapat satu atau lebih riwayat dari faktor predisposisi yang berhubungan
dengan kehamilan dan persalinan. Bila sindrom klinis mengarah ke sepsis, perlu
dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, pungsi
lumbal, analisis dan kultur urin, biakan cairan tubuh yang terdapat pada kateter, serta foto
dada. Diagnosis sepsis ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada biakan darah.
Hasil pemeriksaan penunjang, yaitu:

Leukositosis (>12.000/mm3) atau leukositopenia (<4000/mm3), netropenia dengan


pergeseran ke kiri (<1000/mm3), peningkatan rasio netrofil imatur (I/T) >0,2.

Trombositopenia (<100.000/mm3) dan penurunan faktor-faktor pembekuan.

Peningkatan antibodi IgM dan reaktan fase akut seperti C-reactive protein.

Ditemukan kuman pada biakan darah, urin, dan cairan serebrospinal.

Pemerikasaan LCS terdapat peningkatan jumlah leukosit terutama PMN (>20/ml untuk
umur <7 hari; >10/ml untuk umur >7 hari).

Analisa gas darah: asidemia dan hipoksia

Foto toraks dapat ditemukan atelektasis, hematotoraks dan efusi pleura.

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Tabel 2. Diagnosis banding sepsis neonatorum.
Perinatal Asphyxia
Respiratory
Aspirastion pneumonia:

Amniotic fluid, meconium, or gastric contents

Cardiac
Congenital :

Hypoplastic left heart syndrome,


Persistent pulmonary hypertension

Acquired :

Myocarditis

Metabolic
Hypoglycemia
Adrenal insufficiency (congenital adrenal hyperplasia)
Organic acidoses
Urea cycle disorders
Salicylate toxicity

Neurologic
Intracranial hemorrhage
Hematologic
Neonatal purpura fulminans
Severe anemia
Malignancies (congenital leukemia)

IX.

PENATALAKSANAAN

Pengobatan sepsis neonatorum dapat dibagi menjadi terapi antimikrobia pada


patogen yang dicurigai atau yang telah diketahui, dan perawatan pendukung. Cairan,
elektrokit, dan glukosa harus dipantau dengan teliti, disertai dengan perbaikan
hipovolemia, hiponatremia, hipokalsemia, dan hipoglikemia serta pembatasan cairan jika
sekresi hormon antidiuretik tidak memadai. Syok, hipoksia, dan asidosis metabolik harus
dideteksi dan dikelola dengan pemberian inotropik, resusitasi cairan, dan ventilasi
mekanik.
Eliminasi kuman merupakan pilihan utama dalam manajemen sepsis neonatal.
Pada kenyataannya menentukan kuman spesifik pasti tidak mudah Dengan dan
membutuhkan waktu. Untuk memperoleh hasil yang optimal pengobatan sepsis harus
cepat dilaksanakan. Sehubungan dengan hal tersebut pemberian antibiotika secara

empiris terpaksa cepat diberikan untuk menghindarkan berlanjutnya perjalanan penyakit.


Pemberian pengobatan pasien biasanya dengan memberikan antibiotik kombinasi yang
bertujuan untuk memperluas cakupan mikroorganisme patogen yang mungkin diderita
pasien. Diupayakan kombinasi antibiotik tersebut mempunyai sensitifitas yang baik
terhadapkuman gram positif ataupun gram negatif. Selain pola kuman hendaknya
diperhatikan pula resistensi kuman. Namun lama pemberian antibiotik begantung pada
hasil kultur darah, dan segera setelah didapatkan hasil kultur darah, jenis antibiotika yang
dipakai disesuaikan dengan kuman penyebab dan pola reistensinya.
Tabel 3. Waktu/durasi pemberian antibiotik pada sepsis neonatal.
Diagnosis
Meningitis
Kultur darah (+), tanda-tanda sepsis (+)
Kultur darah (-), komponen skrining sepsis (+)
Kultur darah (-), komponen skrining sepsis (-)

Durasi
21 hari
10 14 hari
7 10 hari
5 7 hari

Tabel 4. Antibiotik untuk sepsis neonatal


Antibiotik

Dosis

Ampicillin

50 mg/kgBB/x

Cloxallin

50 mg/kgBB/x

Gentamicin

2,5 mg/kgBB/x

Amikacin

7,5 mg/kgBB/x

Frekuensi

Pemberian

Durasi

< 7 hari

< 7 hari

12 jam
atau
12 jam
Dan
2 jam
atau
12 jam

8 jam

IV, IM

7 10 hari

8 jam

IV, IM

7 10 hari

8 jam

IV, IM

7 10 hari

8 jam

IV, IM

7 10 hari

Mempertimbangkan pola kuman yang tersering ditemukan, Divisi Perinatologi


RSCM menggunakan obat golongan Ceftasidim sebagai antibiotik pilihan pertama
dengan dosis yang dianjurkan 50-100 mg/kgBB/hari, 2 kali sehari. Beberapa kuman
Gram negatif saat ini hanya sensitif terhadap imipenem atau meropenem dengan dosis 25
mg/kgBB/dosis, 2 kali sehari.
Dalam kepustakaan dikemukakan bahwa kuman Streptokokus Grup B dan kuman
Gram positif lainnya masih sensitif terhadap penisilin (dosis 100.000-200.000

U/kgBB/hari) atau ampisilin (dosis 100-200 mg/kgBB/hari). Sedangkan kuman Listeria


masih sensitif terhadap kombinasi antibiotik ampisilin dan aminoglikosid, serta golongan
Pseudomonas umumnya sensitif terhadap sefalosporin. Lamanya pengobatan sangat
bergantung kepada jenis kuman penyebab. Pada penderita yang disebabkan oleh kuman
Streptococcus dan Listeria, pemberian antibiotik dianjurkan selama 10-14 hari,
sedangkan penderita yang disebabkan oleh kuman Gram negatif pengobatan kadangkadang diteruskan sampai 2-3 minggu.

Pengobatan tambahan
Walaupun pemberian antibiotik masih merupakan tatalaksana utama pengobatan
sepsis neonatal, berbagai upaya pengobatan tambahan (adjunctive, asjuvant therapy)
banyak dilaporkan dalam upaya memperbaiki mortilitas bayi.pengobatan tambahan atau
terapi inkonvensional semacam ini selain mengatasi berbagai defisiensi dan belum
matangnya fungsi pertumbuhan tubuh bayi baru lahir,juga dalam rangka mengatasi
perubahan yang terjadi dalam perjalanan penyakit dan cascade inflamasi pasien sepsis
neonatal. Bebrapa terapi inkonvensional yang sering diberikan,antara lain:
1

Pemberian immunoglobulin secara intravena (Intravenous Immunoglobulin IVIG).


Pemberian immunoglobulin dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan antibodi tubuh
serta memperbaiki fagositosis dan kemotaksis sel darah putih.

Pemberian Fresh Frozen Plasma (FFP). Pemberian FFP diharapkan dapat mengatasi
gangguan koagulasi yang diderita pasien.

Tindakan transfusi tukar. Tindakan ini bertujuan untuk:

Mengeluarkan/mengurangi toksin atau produk bakteri serta mediator-mediator


penyebab sepsis

Memperbaiki perfusi perifer dan pulmonal dengan meningkatkan kapasitas oksigen


dalam darah

Memperbaiki sistem imun dengan adanya tambahan neutrofil dan berbagai antibodi
yang mungkin terkandung dalam darah donor.

Selain beberapa upaya diatas berbagai tatalaksana lain dilakukan pula dalam
rangka mengatasi mortilitas dan morbiditas sepsis neonatal. Pemberian transfusi
granulosit dikemukakan dapat memperbaiki pengobatan pada penderita sepsis. Hal ini
dilakukan karena produksi dan respons fungsi sel darah putih yang menurun pada
keadaan sepsis neonatal. Demikian pula pemberian transfusi packed red blood cells
bertujuan mengatasi keadaan anemia dan menjamin oksigenisasi jaringan yang optimal
pada pasien sepsis.

X.

PROGNOSIS
Prognosis pada sepsis neonatorum umumnya baik. Namun hal ini juga tergantung
pada masa gestasi, jenis kuman, sensitifitas kuman dan lama penyakit. Angka kematian
sepsis neonatorum yaitu 10 30% dari seluruh penderita meskipun telah diberikan
antibiotika dan perawatan intensif. Sedangkan pada neonatus dengan sepsis yang tidak
diobati, angka kematian mencapai 50%. Pada bayi berat lahir rendah atau prematur angka
kematian lima kali lebih tinggi. Dapat terjadi sekuel seperti osteomyelitis dan destruksi
tulang yang terjadi pada lebih dari 8% neonatus dengan sepsis. Rekuren bakteremia dapat
terjadi pada bulan kedua setelah bayi lahir, yaitu pada sekitar 4% penderita. Sekuel
neurologi jangka panjang dapat terjadi bila sepsis disertai dengan meningitis.

XI.

PENCEGAHAN
Pencegahan infeksi sering mengandalkan barier antara agen dan pejamu (barier
protektif), yaitu termasuk tindakan cuci tangan, penggunaan sarung tangan, masker,
penggunaan cairan antiseptik, pemakaian jarum sekali pakai, serta dekontaminasi,
pencucian, sterilisasi atau desinfeksi tingkat tinggi pada alat yang digunakan ulang.
Prinsip pencegahan sepsis neonatus onset dini adalah pencegahan prematuritas,
manajemen persalinan dan kelahiran yang benar, serta penggunaan kemoprofilaksis dan
imunoprofilaksis. Pemakaian ampisilin 1000 mg i.v setiap 6 jam sejak onset persalinan
sampai kelahiran pada ibu dengan koloni Streptokokus grup B atau dengan faktor risiko

obstetrik, dapat mematikan kolonisasi neonatus dan mengurangi secara signifikan angka
kejadian sepsis neonatorum onset dini. Imunisasi aktif pada ibu dapat menyediakan jalan
transplasental antibodi menuju fetus, namun vaksin yang komersial belum tersedia.
Penggunaan imunoglobulin 0,5 1,3 gr/kgbb i.v terbukti dapat menurunkan sepsis onset
dini pada bayi dengan berat badan lahir <2000 gr.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sepsis neonatorum merupakan infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai
dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, sumsum tulang atau air kemih.
Insiden sepsis neonatorum beragam menurut definisinya, dari 1-5/1000 kelahiran hidup, dan
angka sepsis neonatorum meningkat secara bermakna pada bayi dengan berat badan lahir rendah
dan bila ada faktor resiko ibu (obstetrik) atau tanda-tanda korioamnionitis.
Sepsis biasanya akan dimulai dengan adanya respon sistemik tubuh dengan gambaran
proses inflamasi, koagulopati, gangguan fibrinolisis yang selanjutnya menimbulkan sirkulasi dan
perfusi yang berakhir dengan gangguan fungsi organ. Untuk itu diagnosis dini sepsis neonatal
sangat penting artinya dalam penatalaksanaan dan prognosis pasien. Keterlambatan diagnosis
berpotensi mengancam kelangsungan hidup bayi dan memperburuk prognosis pasien. Dalam
menentukan diagnosis diperlukan berbagai informasi antara lain: faktor resiko, gambaran klinik,
pemeriksaan penunjang. Ketiga faktor ini perlu dipertimbangkan saat mengahadapi pasien,

karena salah satu faktor saja tidak mungkin dipakai sebagai pegangan dalam menegakkan
diagnosa pasien.
II

SARAN
Pengobatan sepsis neonatorum dapat dibagi menjadi terapi antimikroba pada patogen
yang dicurigai atau yang telah diketahui, dan perawatan pendukung. Cairan, elektrokit, dan
glukosa harus dipantau dengan teliti, disertai dengan perbaikan hipovolemia, hiponatremia,
hipokalsemia, dan hipoglikemia serta pembatasan cairan. Eleminasi kuman merupakan pilihan
utama dalam manajemen sepsis neonatal dan untuk memperoleh hasil yang optimal pengobatan
sepsis harus cepat dilaksanakan. Pengobatan pasien biasanya dengan memberikan antibiotik
kombinasi yang bertujuan untuk memperluas cakupan mikroorganisme patogen yang mungkin
diderita pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Dharmasetiawani N. Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir. Dalam : Kosim MS, Yunanto A, et
al. Buku Ajar Neonatologi. Edisi pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2010.
Friedland IR, McCracken GH. Neonatal Sepsis and Meningitis. In: Rudolph AM, Hoffman JIE,
Rudolph CD. Rudolphs Pediatrics. 20th Ed. California; Prentice-Hall Int Inc. 1996.
Staf Pengajar Ilmu kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Kuliah
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta; Infomedika, 2000.
Sondheimer JM. Current Essentials Pediatrics. 1st Edition. New York: McGraw Hill Co. 2008.

Gomell LT, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Langes Neonatology: Management,
procedures, On-Call Problems, Diseases, and Drugs. 5th Edition. New York: Lange Medical/M
cGraw Hill Co. 2004.