Anda di halaman 1dari 4

1.5.

Disolusi
Uji disolusi digunakan untuk mengetahui kualitas produk dan konsistensi
dari setiap batch serta mengetahui baik buruknya suatu formula. Faktor kritis uji
disolusi adalah untuk mengetahui potensi hubungan antara data in vitro dan
bioavaibilitas in vivo (Swabick). Disolusi partikel dapat digambarkan pada
persamaan 1.
dW
dt

D
S (CsCt )
h

..(1)
Keterangan :
dW/dt

= Kecepatan obat terlarut melewati permukaan S pada waktu t.

= Ketebalan permukaan film

Cs

= Kelarutan jenuh obat

Ct

= Konsentrasi zat terlarut dalam medium pada waktu t

= Konstanta difusi molekul

= Waktu

= Luas permukaan film

Kecepatan disolusi maksimum dapat diprediksi ketika Ct = 0. Peningkatan


nilai Ct maka akan menurunkan kecepatan disolusi. Parameter D juga tergantung
pada Cs-Ct. Disolusi juga diikuti oleh absorbsi obat sama seperti situasi in vivo
yang digambarkan seperti kondisi sink. Sistem in vitro harus ideal untu menjaga
kondisi sink dan uji bahan terlarut harus menggunakan pelarut baru, sehingga
tidak terjadi perubahan obat terlarut di dalam medium disolusi. Parameter D
sangat bergantung pada suhu, oleh karena itu suhu cairan disolusi dan viskositas
cairan harus dikendalikan dengan hati-hati. Faktor lain yang dapat mempengaruhi
disolusi, yaitu keberadaan elektrolit dan perubahan pH kemungkinan akan

mempengaruhi difusi bahan akibat perubahan ionisasinya. media yang harus


sesuai dengan kondisi biologis, jika uji disolusi digunakan untuk memperkirakan
aktivitas secara in vivo (swarbick).
Orde nol merupakan hubungan antara fraksi obat terlarut dengan waktu
dapat digunakan sebagai gambaran disolusi obat pada beberapa tipe sediaan obat
termodifikasi, seperti sistem transdermal atau matriks tablet dengan obat yang
memiliki kelarutan yang kecil. gambaran mekanisme tersebut dapat dilihat pada
persamaan 2.
Qt = Q0 + K0t ..(2)
Keterangan :
Qt = Jumlah obat yang terlarut pada waktu t
Q0 = Dosis awal pada sediaan
K0 = konstanta pelepasan obat kinetika orde nol (costa)

Kinetika orde satu digunakan untuk menggambarkan absorpsi dan


eliminasi beberapa obat. fenomena tersebut dapat dilihat pada persamaan NoyesWhitney yang telah dikembangkan dengan memasukkan pengaruh nilai
permukaan padatan ke dalam persamaan sehingga akan memberikan nilai
konstanta yang baru (K1) (persamaan 3).
dC
dt

K1S(Cs-C)

.(3)
Penggunaan hukum fick pertama, memungkinkan untuk mengetahui
hubungan antara K1 dengan koefisien difusi padatan (D) dalam media disolusi,
volume cairan disolusi (V) dan tebal lapisan difusi (h) (costa)

D
K1= Vh
(4)

Persamaan Higuchi digunakan untuk menggambarkan pelepasan obat yang


dikendalikan oleh proses difusi ketika obat terdispersi sebagai padatan di dalam
matriks. ketika matriks homogen, maka kondisi sink berperan penting dala proses
difusi planar, hal tersebut dapat digambarkan pada persamaan .

D ( 2 ACs ) Cst

(5)

Keterangan :
Q = Jumlah obat yang dilepas per unit permukaan area
D = Koefisiem difusi molekul obat dalam matriks
A = Jumlah total obat dalam matriks per unit volume
Cs = Kelarutan obat
t = Waktu

Model tersebut digunakan untuk menganalisis pelepasan obat dari polimer


sediaan farmasi, ketika mekanisme pelepasan obat tersebut tidak diketahui atau
memiliki mekanisme pelapsan lebih dari satu mekanisme pelepasan. Secara
umum, persamaan dapat dilihat dapat pada persamaan 6.
Mt
M

= tn (6)

Keterangan :

Mt
M

= Fraksi obat terlepas

= Konstanta
n = Eksponen pelepasan yang mengidentifikasi mekanisme pelepasa obat (costa)

Tabel . Interprestasi mekanisme pelepasan obat dari polimer

Eksponen pelepasan (n)

Mekanisme pelepasan obat

0,5

Difusi Fick

0,5<n<1,0

Transport anomalous (difusi dan relaksasi polimer)

1,0

Transport case-II

> 1,0

Super Transport case-II