Anda di halaman 1dari 19

SOLIDIFIKASI SEBAGAI SALAH SATU

ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH B3


Limbah B3 adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya
dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (PP18/99 jo
PP85/99 pasal 1 ayat 2).

Solidifikasi limbah B3 suatu tahapan proses pengolahan limbah B3 untuk


mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 melalui upaya
memperkecil/membatasi daya larut, pergerakan/penyebaran dan daya
racunnya (amobilisasi unsur yang bersifat racun) sebelum limbah B3
tersebut dibuang ke tempat penimbunan akhir (landfill) (Kepbapedal no.
3 tahun 1995), merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah B3.

Solidifikasi juga dapat dinyatakan sebagai proses pemadatan suatu


bahan berbahaya dengan penambahan aditif.

Solidifikasi merupakan

salah satu metode yang paling umum untuk melakukan stabilisasi.

Solidifikasi dapat melibatkan reaksi kimiawi antara limbah dengan bahan


pembentuk padatan, isolasi mekanis di dalam suatu matriks pengikat
yang melindungi limbah dari pengaruh luar atau dengan suatu kombinasi
proses-proses fisika dan kimiawi.

Teknik ini dapat dilakukan dengan

menguapkan air dari limbah berair atau lumpur limbah (sludge),


penyerapan limbah pada suatu padatan, reaksi dengan semen, reaksi
dengan senyawa-senyawa silikat, enkapsulasi atau penyisipan di dalam
bahan polimer atau termoplastik (Manahan, 2000). Pada proses
solidifikasi kemungkinan terjadi stabilisasi yang secara umum dapat
didefinisikan sebagai proses pencampuran limbah dengan bahan
tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan
pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut.
Stabilisasi mencakup reaksi-reaksi kimiawi yang menghasilkan produkproduk yang lebih tidak mudah menguap, lebih tidak mudah larut dan
lebih tidak reaktif. Solidifikasi limbah B3 banyak dilakukan dengan
menggunakan semen portland. Pada penerapannya, semen portland
menghasilkan matriks padat untuk isolasi limbah, secara kimiawi
mengikat air dari sludge dan dapat bereaksi secara kimiawi dengan
limbah (misalnya kalsium dan basa dalam semen portland bereaksi
dengan limbah anorganik untuk mengurangi kelarutannya). Akan tetapi,
kebanyakan limbah ditahan secara fisik di dalam matriks semen portland
dan rawan terhadap perlucutan.

Sebagai matriks solidifikasi, semen


2

portland mudah digunakan untuk sludge anorganik yang mengandung


ion-ion logam berat yang membentuk senyawa hidroksida dan karbonat
tak larut dalam media karbonat basa yang dihasilkan dari semen.
Keberhasilan solidifikasi dengan semen portland sangat bergantung
pada apakah limbah mempengaruhi kekuatan dan kestabilan produk
perkerasan yang dihasilkan.

Dapat dinyatakan bahwa proses solidifikasi adalah suatu tahapan proses


pengolahan limbah B3 untuk mengurangi potensi racun dan kandungan
limbah

B3

melalui

upaya

memperkecil/membatasi

daya

larut,

pergerakan/penyebaran dan daya racunnya (amobilisasi unsur yang


bersifat racun) sebelum limbah B3 tersebut dibuang ke tempat
penimbunan akhir (landfill). Dan prinsip kerja solidifikasi adalah
pengubahan watak

fisik

dan kimiawi

limbah

B3 dengan

cara

penambahan senyawa pengikat sehingga pergerakan senyawa-senyawa


B3 dapat dihambat atau terbatasi dan membentuk ikatan massa
monolith

dengan

struktur

yang

kekar

(massive)

(KEP-03

/BAPEDAL/09/1995) .

Potensi pemanfaatan hasil solidifikasi sebagai bahan bangunan dapat


diketahui dengan melakukan beberapa uji lebih lanjut. Diantaranya yaitu
dilakukan Unconfined Compressive Strength (UCS) atau uji kekuatan
tekan dan Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) atau uji
perlucutan logam berat.

Limbah B3 yang dibuang langsung ke lingkungan dapat menimbulkan


bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk
hidup lainnya. Mengingat resiko tersebut, perlu diupayakan agar setiap
kegiatan industri dapat mengelola limbah B3 yang dihasilkan.

Pada

sektor industri, semakin ketatnya penerapan peraturan pemerintah


tentang baku mutu limbah cair terhadap kegiatan industri dan semakin
tingginya kriteria baku mutu air, maka makin berfungsi pula unit
pengolahan limbah cair industri.

Hal ini akan semakin menambah

kuantitas lumpur limbah (sludge) hasil proses pengolahan limbah cair


dan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk pengelolaan lebih lanjut.
Landfilling merupakan hirarki terakhir pada pengelolaan limbah padat.
Dan dilakukan karena limbah tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis
untuk di daur ulang dan relatif sangat sulit untuk diuraikan secara
biologis.

Untuk limbah B3 yang akan disingkirkan secara landfilling,

diperlukan penanganan pendahuluan yaitu dengan cara solidifikasi.


4

Hasil solidifikasi memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan sebagai


bahan bangunan. Kelayakan hasil solidifikasi sebagai bahan banguan
dapat diketahui setelah melalui beberapa uji yang dipersyaratkan.
Diantaranya yaitu dilakukan Unconfined Compressive Strength (UCS)
atauuji kekuatan tekan dan Toxicity Characteristic Leaching Procedure
(TCLP) atau uji perlucutan logam berat.

Uji kekuatan tekan (UCS) dilakukan untuk mengetahui mutu kuat tekan
suatu material tersebut dengan satuan luasan bidang tekan tertentu.
Kualitas terkait dengan nilai uji kekuatan tekan dari suatu material bahan
bangunan harus memenuhi batas nilai uji tekan berdasarkan SNI yang
sesuai.

Dan Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) merupakan


uji perlucutan yang digunakan sebagai penentuan salah satu sifat
berbahaya atau beracun suatu limbah dan juga dapat digunakan dalam
mengevaluasi produk pretreatment limbah sebelum di landfill (ditimbun
dalam tanah) dalam proses stabilisasi/solidifikasi (S/S). Tujuan dari uji
5

TCLP ini

adalah membatasi adanya lindi (leaching) berbahaya yang

dihasilkan setelah limbah di solidifikasi.

Pemanfaatan

Solidifikasi

untuk

Pengolahan

Limbah

Pelapisan Logam
Istilah logam berat menunjuk pada unsur logam yang mempunyai berat
jenis lebih tinggi dari 5 g/cm3. Disebut logam berat berbahaya karena
umumnya memiliki rapat massa tinggi dan sejumlah konsentrasi kecil
dapat bersifat racun dan berbahaya. Logam berat adalah komponen
alamiah

lingkungan

yang

mendapatkan

perhatian

lebih

akibat

ditambahkan ke dalam tanah dalam jumlah yang semakin meningkat


dan bahaya yang mungkin ditimbulkan.

Keberadaan logam berat di

lingkungan yang melebihi ambang batas akan merusak lingkungan dan


menimbulkan masalah kesehatan bagi makhluk hidup di lingkungan
tersebut.
Beberapa logam berat yang berbahaya dan sering mencemari
lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal/timah hitam (Pb),
arsenik (As), tembaga (Cu), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan nikel (Ni)
(Fardiaz, 1992).

Logam berat mudah kehilangan elektron untuk

membentuk kation dan bisa terdapat dalam bentuk unsur, di dalam


6

larutan sebagai ion atau kompleks dan sebagai endapan berkelarutan


rendah. Logam-logam berat biasanya beracun dan banyak di antaranya
yang dapat terakumulasi secara biologis melalui rantai makanan dan
mengakibatkan pengaruh yang merusak bagi makhluk hidup (Bone, et
al, 2004).
Logam berat dianggap berbahaya bagi kesehatan bila terakumulasi
secara berlebihan di dalam tubuh.

Beberapa diantaranya bersifat

karsinogen. Dampak logam berat terhadap kesehatan manusia terjadi


secara tidak langsung melalui rantai makanan organisme perairan
maupun tanaman dan hewan yang berasal dari darat yang digunakan
sebagai sumber makanan.

Deposit logam berat dalam jaringan

merupakan hasil akumulasi yang tinggi dan rendahnya proses ekskresi


di organisme.

Pelapisan

logam

(electroplating)

merupakan

proses

pelapisan

permukaan logam dengan logam yang lain menggunakan arus listrik


melalui suatu elektrolit. Logam - logam yang biasa digunakan sebagai
pelapis yaitu cadmium, tembaga, emas, perak nikel, kromium dan logam
- logam sejenis.

Benda yang dilakukan pelapisan merupakan konduktor atau dapat


menghantarkan listrik. Industri pelapisan logam merupakan penghasil
limbah logam berat yang terkandung dalam limbah padat maupun
limbah cairnya. Limbah industri pelapisan logam berasal dari bahanbahan kimia yang digunakan dan hasil dari proses pelapisan. Limbah
padat yang dihasilkan industri pelapisan logam disebut electroplating
sludge.

Limbah

berupa

lumpur

(sludge)

mengandung senyawa-senyawa

dari

industri

pelapisan

logam

asam dan logam-logam tertentu

bergantung pada sifat kegiatan pelapisan logam yang menghasilkan


limbah tersebut. Logam-logam seperti kadmium, krom, tembaga, timbal,
arsen, barium, raksa, selenium, nikel, seng dan timah serta beberapa
senyawa non logam seperti senyawa-senyawa sianida, fluorida, amoniak
dan fenol disebutkan sebagai pencemar spesifik dari kegiatan pelapisan
logam. Dimana limbah tersebut merupakan jenis limbah yang tergolong
sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Limbah industri pelapisan logam mengandung kadar logam yang tinggi,


yang memerlukan penanganan khusus sebelum dibuang ke lingkungan.

Upaya penanganan lumpur limbah pelapisan logam hasil samping dari


unit pengolahan limbah cair industri pelapisan logam, dapat dilakukan
dengan cara solidifikasi untuk mengamobilisasi kontaminan logam berat
yang

terkandung

dalam

lumpur

limbah.

Solidifikasi

dengan

menggunakan semen dalam rangka menurunkan laju migrasi logam


berat merupakan cara yang cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya
yang tinggi dalam pelaksanaannya. Mekanisme solidifikasi dengan
menggunakan semen dapat menyebabkan kestabilan kimia dan
mengikat polutan di dalam matriks padatan (Bone, 2004).
Tujuan dari solidifikasi yaitu memperbaiki karakteristik fisik dan
mempermudah penanganan limbah; atau menurunkan luas permukaan
yang dapat memfasilitasi pelepasan pencemar dari dalam limbah (Bone
et al, 2004). Solidifikasi menghasilkan suatu padatan yang disebut
monolith (mono = satu; lithos = batu).

Pengurangan pelepasan pencemar dari monolith dapat terjadi karena


hal-hal sebagai berikut (Spence, 2005):
1.

Penurunan kelarutan pencemar dalam monolith karena terjadinya

reaksi kimia yang mengubah pencemar menjadi bentuk lain dengan


kelarutan yang lebih rendah;

2.
3.

Pembentukan monolith berkekuatan tinggi;


Penurunan luas permukaan kontak antara partikel pencemar dalam

monolith dengan komponen lain (terutama pelarut) di sekitar monolith;


4.

Terperangkapnya pencemar secara fisik di dalam matriks padat,

sehingga akan mencegah terjadinya kontak antara pencemar dengan


komponen lain (terutama pelarut) di sekitar monolith. Mekanisme ini
disebut encapsulation.
5.

Uji Kekuatan Tekan / Unconfined Compressive Strength (UCS)

Kuat tekan adalah parameter kunci yang digunakan sebagai ukuran


kemampuan monolith bahan solidifikasi untuk menahan tekanan
mekanis.

Pengujian kuat tekan material dilakukan untuk mengetahui

mutu kuat tekan suatu material tersebut dengan satuan luasan bidang
tekan tertentu. Unconfined Compressive Strength(UCS) terkait dengan
perkembangan reaksi hidrasi di dalam produk solidifikasi/stabilisasi dan
ketahanan bahan monolith hasil proses solidifikasi/stabilisasi sehingga
merupakan parameter kunci.

Uji ini merupakan salah satu uji yang

umumnya digunakan dan ada beberapa metode standar untuk


penentuannya. Semua melibatkan pembebanan vertikal terhadap suatu
monolith hingga mengalami kerusakan. Metode standar bervariasi satu
sama lain terutama dalam hal bentuk dan ukuran contoh.

Karena

10

kesederhanaannya, pengukuran UCS cocok digunakan sebagai uji


kelayakan (Spence, 2005). Pengujian biasanya dilakukan pada hari ke7, 14, 21 dan ke-28 (US EPA, 1989).
Cara pengujian kuat tekan mengikuti beberapa tahapan sebagai berikut:
1.

Meletakkan benda uji pada mesin tekan secara sentris

2.

Kemudian menjalankan mesin tekan dengan penambahan beban

yang konstan berkisar antara 2 sampai 4 kg/cm2 per detik.


3.

Melakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan

kemudian mencatat beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan


benda uji.
Compressive Strength (UCS) terhadap produk solidifikasi. Dan hasil uji
UCS yang tercantum dalam dokumen US EPA OSWER Directive No.
9437.00-2A, akan memenuhi syarat jika hasil ujinya pada hari ke-28
sejak produk dibuat adalah sebesar 50 psi 0,03445kN/cm2.

Persyaratan hasil uji kekuatan tekan material bahan bangunan di


Indonesia ditetapkan melalui SNI. Salah satu contoh untuk kualitas dari
bata beton pejaldibagi menjadi 4 kelas dengan batas nilai uji tekan
sebagai berikut (SNI-03-0348-1989):

11

1).

Kualitas 1 = nilai uji kekuatan tekan minimum = 100 kg / cm2 =

0,98 kN / cm2.
2).

Kualitas 2 = nilai uji kekuatan tekan minimum = 70 kg / cm2 =

0,686 kN / cm2.
3).

Kualitas 3 = nilai uji kekuatan tekan minimum = 40 kg / cm2 =

0,392 kN / cm2.
4).

Kualitas 4 = nilai uji kekuatan tekan minimum = 25 kg / cm2 =

0,245 kN / cm2.

4.

Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP)

Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) merupakan uji


perlucutan yang digunakan sebagai penentuan salah satu sifat
berbahaya atau beracun suatu limbah dan juga dapat digunakan dalam
mengevaluasi produk pretreatment limbah sebelum di landfill (ditimbun
dalam tanah) dalam proses stabilisasi/solidifikasi (S/S). Setelah
dilakukan solidifikasi, selanjutnya terhadap hasil olahan tersebut
dilakukan uji TCLP untuk mengukur kadar/konsentrasi parameter dalam
lindi (extract/eluate) (KEP-03 /BAPEDAL/09/1995).

12

Tujuan dari uji TCLP ini

adalah membatasi adanya lindi (leaching)

berbahaya yang dihasilkan dari penimbunan (landfilling) setelah limbah


di solidifikasi.

Uji TCLP dilakukan dengan cara menghancurkan material yang telah di


solidifikasi dan diayak dengan ukuran 9,5 millimeter. Pemilihan larutan
ekstraksi ditentukan berdasarkan pH dari larutan yang berasal dari
pengocokan 5 g padatan dan 96,5 ml aquades. Jika pH kurang dari 5,0
maka larutan yang digunakan untuk ekstraksi adalah dapar asetat /
buffer sodium asetat dengan pH 4,93. Akan tetapi jika pH dari padatan
tersebut lebih dari 5 maka larutan yang digunakan untuk ekstraksi
adalah larutan asam asetat dengan pH 2,88 0,05. Ekstraksi dilakukan
dengan suatu alat yang berputar secara
putaran 30 2 rpm selama 18 2 jam.

rotasi

dengan

kecepatan

Larutan hasil pengocokan

kemudian dilakukan penyaringan dan di analisa kadar kandungan


spesifiknya (Manahan, 2000).

Uji TCLP dirancang untuk mensimulasikan potensi kebocoran pencemar


dari suatu limbah padat yang disimpan di tempat pembuangan sampah
kota (USACE, 1995). Lokasi semacam itu dapat mengeluarkan air lindi

13

yang mengandung asam-asam organik (USACE, 1995). Asam asetat


dianggap dapat mewakili asam-asam tersebut sehingga zat ini dipilih
sebagai ekstraktan sedangkan pengaturan pH ekstraktan ditentukan
oleh alkalinitas bahan; bahan dengan alkalinitas tinggi diesktrak dengan
larutan dapar asetat pH 2,88 0,05 sedangkan bahan dengan alkalinitas
rendah diekstrak dengan larutan dapar asetat pH 4,93 0,05.
Pengujian Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) untuk
krom dan nikel dilakukan menurut tatacara Toxicity Characteristic
Leaching Procedure, Test Methods for Evaluating Solid Waste.
Physical/Chemical Method, SW-846 Method 1311. Dan hasil uji TCLP
untuk krom dan nikel memenuhi syarat bila hasil uji yang dilakukan
sebelum 180 hari memenuhi ketentuan di bawah ini (US EPA 1990c
(Superfund LDR Guide No. 6A 2nd Edition)):
i.

Jika kadar nikel dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan 20

ppm, maka kadar nikel dalam ekstrak TCLP setelah perlakuan harus 1
ppm; atau
ii.

Jika kadar nikel dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan > 20

ppm, maka kadar nikel dalam ekstrak TCLP setelah perlakuan harus 5
% dari kadar nikel dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan; dan

14

iii.

Jika kadar krom dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan 120

ppmmaka kadar krom dalam ekstrak TCLP setelah perlakuan harus 6


ppm; atau
iv.

Jika kadar krom dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan > 120

ppm, maka kadar krom dalam ekstrak TCLP setelah perlakuan harus 5
% dari kadar krom dalam ekstrak TCLP sebelum perlakuan.

Kesimpulan
Solidifikasi limbah B3 merupakan suatu tahapan proses pengolahan
limbah B3 untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3
melalui

upaya

memperkecil/membatasi

daya

larut,

pergerakan/penyebaran dan daya racunnya (amobilisasi unsur yang


bersifat racun), merupakan salah satu alternatif pengolahan lumpur
limbah pelapisan logam yang tergolong limbah B3. Potensi pemanfaatan
hasil solidifikasi sebagai bahan bangunan dapat diketahui dengan
melakukan pengukuran beberapa parameter uji lebih lanjut. Uji yang
dapat dilakukan diantaranya yaitu dilakukan Unconfined Compressive
Strength (UCS) atau uji kekuatan tekan dan Toxicity Characteristic
Leaching Procedure (TCLP) atau uji perlucutan logam berat.

15

Referensi
Bone, et al. 2004. Review of Scientific Literature on The Use of
Stabilisation/Solidification for The Treatment of Contaminated Soil, Solid
Waste and Sludges. Environment Agency.
Gupta, S. K. and M. T. Surwade. 2007. Immobilization of Heavy
Metals from Steel Plating Industry Sludge Using Cement at Different pH
Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
Nomor: KEP-03 /BAPEDAL/09/1995. Tentang Persyaratan Teknis
Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya Beracun.
Manahan, Stanley E. 2000. Environmental Science, Technology
and Chemistry. Boca Raton: CRC Press LLC.
Palar, H. (2008). Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT.
Rineka Cipta, Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah No.
85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 18
Tahun 1999. Tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.
Jakarta.

16

Spencer. 2005. Stabilization and Solidification of Hazardous,


Radioactive and Mixed Wastes. CRC Press. Boca Raton: CRC Press.
US EPA. 1986. Handbook Stabilization/Solidification of Hazardous
Wastes. EPA/540/2-86/001.

ISTILAH
Lethal Doses50 (LD50) adalah dosis tertentu yang dinyatakan dalam
miligram berat bahan uji per kilogram berat badan (BB) hewan uji yang
menghasilkan 50% respon kematian pada populasi hewan uji dalam
jangka waktu tertentu.

Sebelum melakukan pengolahan limbah minyak bumi dengan metoda


biologis, maka perlu dilakukan analisis terhadap bahan yang diolah
untuk mengetahui komposisi dan karakteristik limbah yang terdiri dari:
- Kandungan minyak atau oil content (bila kandungan minyak relatif
besar) dan/ atau Total Petroleum Hydrocarbon / TPH (bila kandungan
minyak relative kecil)
- Kandungan total logam berat;
- Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) logam berat.
17

Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) merupakan uji


perlucutan yang digunakan sebagai penentuan salah satu sifat
berbahaya atau beracun suatu limbah dan juga dapat digunakan dalam
mengevaluasi produk pretreatment limbah sebelum di landfill (ditimbun
dalam tanah) dalam proses stabilisasi/solidifikasi (S/S). Setelah
dilakukan solidifikasi, selanjutnya terhadap hasil olahan tersebut
dilakukan uji TCLP untuk mengukur kadar/konsentrasi parameter dalam
lindi (extract/eluate) (KEP-03 /BAPEDAL/09/1995). Tujuan dari uji TCLP
ini adalah membatasi adanya lindi (leaching) berbahaya yang dihasilkan
dari penimbunan (landfilling) setelah limbah di solidifikasi.

Uji TCLP dilakukan dengan cara menghancurkan material yang telah di


solidifikasi dan diayak dengan ukuran 9,5 millimeter. Pemilihan larutan
ekstraksi ditentukan berdasarkan pH dari larutan yang berasal dari
pengocokan 5 g padatan dan 96,5 ml aquades. Jika pH kurang dari 5,0
maka larutan yang digunakan untuk ekstraksi adalah dapar asetat /
buffer sodium asetat dengan pH 4,93. Akan tetapi jika pH dari padatan
tersebut lebih dari 5 maka larutan yang digunakan untuk ekstraksi
adalah larutan asam asetat dengan pH 2,88 0,05. Ekstraksi dilakukan
dengan suatu alat yang berputar secara

rotasi

dengan

kecepatan
18

putaran 30 2 rpm selama 18 2 jam.

Larutan hasil pengocokan

kemudian dilakukan penyaringan dan di analisa kadar kandungan


spesifiknya (Manahan, 2000).

-------------------------------------------------------------------------------------------------

19