Anda di halaman 1dari 11

REFRAT JURNAL

Bipolar disorders in DSM-5 : strengths, problems and


persperctives

Pembimbing :
dr.

Disusun Oleh :
Prabuwinnoto Setiawan
Rizka Febriani Anggita Putri / G99131072
M. Abdul Hamid

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT JIWA


RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2014

Gangguan bipolar pada DSM-5 : kelebihan, permasalahan, dan sudut pandang


Bipolar disorders in DSM-5 : strengths, problems and persperctives

Abstrak :
Klasifikasi diagnosis dari gangguan mood dengan the Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) memiliki dua kelemahan besar : gangguan bipolar
yang tidak terdiagnosis dan sebagian besar pasien yang diterapi harus dikelompokkan dalam
grup NOS (not otherwise specified) yang tidak dapat diklasifikasikan. Beberapa subkelompok
(kelompok subthreshold) depresi yang baru, gangguan bipolar dan status campuran kini telah
dicantumkan dalam klasifikasi DSM-5. Selain itu, episode hipomanik dan manik yang terjadi
selama pemberian antidepresan dengan kondisi tertentu, diterima sebagai kriteria gangguan
bipolar. Diagnosis gangguan bipolar, yang terdapat dalam kriteria A, tidak hanya didapatkan
mood gembira/euforia atau mudah marah/iritatif, tetapi juga harus didapatkan adanya
hubungan antara gejala yang ditunjukkan dengan peningkatan energi/aktivitas. Pembatasan
ini akan mengubah diagnosis beberapa pasien dari gangguan bipolar I dan II menurut DSMIV menjadi sindroma bipolar subthreshold. Meskipun demikian, secara keseluruhan, DSM-5
merupakan langkah menuju arah yang benar, menspesifikasikan kategori subdiagnosis
dengan mengembangkan pendekatan dimensional derajat keparahan. DSM-5 juga memiliki
efek pada pemilihan pasien kontrol yang diberikan plasebo pada penelitian obat antidepresan.
A. Pendahuluan
Kelebihan the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III, DSMIII-R dan DSM-IV) merupakan dasar diagnosis psikiatri dengan kriteria operasional yang
telah ditetapkan, yang memiliki reliabilitas tinggi. Kelemahan yang dibandingkan dengan
DSM-IV, adalah hanya dapat mendiagnosis kurang dari setengah pasien yang sudah diterapi
(Angst et al. 2010). Hal yang tidak dapat diterima secara klinis tersebut disebabkan sebagian
oleh kurangnya diagnosis subthreshold yang didefinisikan secara operasional. Kini, setelah
menyadari fakta bahwa banyak pasien yang menerima terapi dari dokter tidak memiliki
diagnosis selain diagnosis residual not otherwise secified (NOS); DSM-5 memasukkan
sindroma subthreshold yang akan merangsang penelitian dan memberikan ruangan bagi sudut

pandang dimensional. Untuk kasus depresi, contohnya, depresi singkat yang rekuren dan
episode depresi durasi pendek (4 sampai 13 hari), bahkan episode 2 mingguan dengan gejala
yang tidak jelas, kini memiliki tempat tersendiri.
B. Gangguan bipolar pada DSM-5
Definisi utama dari episode depresif mayor (MDE) pada DSM-5, yang merupakan
diagnosis dasar dari baik gangguan bipolar I maupun gangguan bipolar II, mirip dengan yang
ada pada DSM-IV; ditemukannya lima dari sembilan kriteria diagnosis dengan durasi
minimal 2 minggu dan perubahan dari fungsi sebelumnya. Tetapi, saat ini mungkin sekali
untuk mengklasifikasikan baik gangguan depresi dan gangguan bipolar dengan status
campuran.
Definisi dari episode manik dan hipomanik telah direvisi secara tital, yang akan
berakibat pada diagnosis bipolar. Perubahan utamanya ada tiga yaitu (1) perubahan mengenai
gate question (kriteria A), (2) pengurangan jumlah dari kriteria eksklusi dan (3) usaha yang
besar untuk mengoperasionalisasikan sindroma subthreshold bipolar, yang sampai sekarang
diklasifikasikan dibawah grup NOS.
C. Gate question untuk mania dan hipomania
Pada klasifikasi DSM-IV, yang disbut kriteria A, harus didapatkan satu dari dua gejala
mood (gembira berlebhan/euforia atau mood yang mudah marah/iritatif), pada DSM-5,
perubahan mood harus disertai dengan peningkatan energi dan aktivitas secara persisten.
Aturan baru ini, tentu lebih restriktif dan mengeksklusi individu individu yang hanya
memiliki satu dari tiga gejala utama dan mereka yang memliki mood baik euforia maupun
iritatif secara bersamaan. Tanpa dasar yang jelas, DSM-5 mengklasifikasikan beberapa pasien
dengan gangguan bipolar subthreshold yang awalnya telah didiagnosis dengan episode manik
atau gangguan bipolar I atau II. Aturan baru yang ketat ini tidak didasari pada data, tetapi
justru kontradiksi terhadap bukti yang ada. Seperti yang dilaporkan oleh International Bridge
Study yang mengumpulkan 5635 pasien yang mencari terapi untuk MDE, menunjukkan
bahwa tidak satupun dari tiga gate question valid, berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh
Robins dan Guze (1970) dan Angst at al. (2012).
D. Kriteria eksklusi

Satu perubahan yang penting dan tidak tepat pada DSM-5 mengenai diagnosis
gangguan bipolar II. Pada DSM-IV, perubahan depresi mayor menjadi hypomania under
antidepressant treatment (Ads) masuk dalam kriteria eksklusi utama. Pada DSM-5 perubahan
tersebut, yang berlangsung akibat efek fisiologis dari terapi, justru merupakan kriteria yang
jelas yang menunjukkan gangguan bipolar II. DSM-5, seperti DSM-IV, mengijinkan beberapa
bidang untuk memberikan penilaian klinis hubungan sebab akibat. Di samping itu, DSM-5
menyediakan kriteria formal yang baru untuk bipolar dan gangguan lain yang terkait dengan
substansi/medikasi.
Berdasarkan data the Bridge Study (angst et al. 2012), kami dapat memperkirakan
bahwa gangguan bipolar II DSM-5 akan didiagnosis dua kali lebih sering sampai saat ini dan
akan menduduki prevalensi mendekati bipolar I.
Diagnosis gangguan bipolar II yang lebih sering ini tidak tepat tetapi logis : kondisi
yang lebih ringan (pada kasus ini hipomania) biasanya lebih sering muncul daripada yang
bersifat lebih berat (mania). Setelah melalui waktu yang panjang dari penyakit mereka, pasien
bipolar mengalami kondisi yang lebih ringan, terutama gejala depresi minor, daripada
sindroma mayor (Phillips dan Kupfer 2013).
Kriteria eksklusi yang masih terdapat pada DSM-5, yang disebut bipolar dan gangguan
lain yang terkait dengan substansi/medikasi dan bipolar dan gangguan lain yang terkait
dengan kondisi medis lain. Keduanya bergantung pada penyebab lain yang berdasar pada
kejadian parsial yang bersamaan dengan penggunaan substansi zat atau medikasi atau
kejadian yang bersamaan dengan kondisi medis lain.
F. Gangguan bipolar lain dan gangguan lain yang terkait (DSM-5)
other specified dipolar and related disorder
DSM-5 telah menggantikan diagnosis NOS pada DSM-IV yang samar dan tidak jelas
dengan MDE dengan beberapa kondisi subthreshold dari gangguan bipolar, singkatnya,
mengijinkan kriteria durasi 2 sampai 3 hari untuk episode hipomanik, seperti yang telah
diungkapkan oleh psikiatri anak atau lebih sedikit dari empat kriteria hipomania selama 4
hari, atau siklotimia, manifestasi spesifik yang lebih pendek (<24 bulan). Langkah penting
lain yang lebih jauh adalah ditemukannya distimia yang dapat terjadi bersamaan dengan
hipomania yang digolongkan dalam kondisi komorbid tetapi mengapa tidak digolongkan
dalam gangguan siklotimia?

Tidak terdiagnosisnya gangguan bipolar, hipomania dan mania


Tidak disadarinya gangguan bipolar masih berlanjut hingga munculnya klasifikasi
DSM-5 yang telah dikembangkan. Analisis ulang pada studi epidemiologi menunjukkan
bahwa gangguan depresif mayor (MDD) DSM bersifat heterogen dan mencakup 40% dari
gangguan bipolar yang tersembunyi. Tanpa screening yang sistematik untuk mengetahui
riwayat hipomania pada pasien, DSM-5 akan mendapatkan dampak yang cukup besar dalam
mendeteksi gangguan bipolar yang tersembunyi. Sebagian besar pasiendengan MDE
selanjutnya akan berlanjut pada diagnosis MDD.
Pada konteks ini, tidak terdeteksinya mania murni dan hipomania pada DSM-5 (dan
ICD) menjadi permasalahan yang menetap melihat bukti yang ada saat ini. Padahal kedua
kondisi ini sangat umum terjadi pada remaja (Paaren et al.2013) terlebih lagi, studi
epidemiologi NCS-A yang besar dan representatif (N=10.123 remaja usia 13 hingga 18
tahun) telah menunjukkan bahwa mania dan hipomania dapat berdiri sendiri dan terpisah dari
gangguan depresi (Merikangas et al.2012). Studi yang lebih baru lagi, studi keluarga pasien
NIMH dengan gangguan mood menunjukkan bahwa mania juga tidak dipengaruhi oleh
genetika (Merikangas et al.). Remaja, tidak seperti orang dewasa, lebih sering ditemukan
cocok dengan kriteria DSM-IV untuk mania dan hipomania tanpa MDD dibandingkan
dengan gangguan bipolar, tetapi mereka lebih tidak memperhatikan perubahan mood mereka,
sedangkan pemeriksaan retrospektif pada dewasa justru banyak menunjukkan negatif palsu,
seperti yang dilaporkan oleh Moffitt et al. (2010) mengenai hubungannya dengan episode
depresif mayor.
Dengan berlanjutnya gangguan bipolar yang tidak terdiagnosis, peresepan litium tanpa
diagnosis yang jelas, yang merupakan terapi profilaksis yang terbukti terbaik, juga akan terus
berlangsung. Litium mengurangi percobaan bunuh diri, meningkatkan perbaikan penyakit,
dan menurunkan risiko demensia pada pasien (angst et al. 2007; Nunes et al. 2007; Kessing et
al. 2008) yang memiliki risiko demensia tinggi (da Silva et al. 2013).
G. Rekomendasi untuk studi antidepresan
Tidak berseponnya MDD terhadap antidepresan (AD) berhubungan dengan gangguan
bipolar yang tersembunyi (Hantouche et al. 2009; Rybakowski et al. 2010; Correa et al.
2012). Skrining yang sistematik dari gejala hipomania selama pemilihan pasien kontrol untuk
studi antidepresan memberikan manfaat yang besar. Skrining ini dapat mengidentifikasi

gangguan bipolar pada pasien dengan MDE dan meningkatkan homogenitas sampel,
meningkatkan rasio responden dan kekuatan dari studi kontrol-plasebo. Pengukuran yang
sistematik dari gejala hipomania dengan skala pengukuran selama studi membantu
mengidentifikasi perkembangan status campuran dan perubahannya menjadi hipomania.
Arah selanjutnya dari penelitian spektrum bipolar
Seperti yang tampak, penelitian selanjutnya harus fokus pada terpisahnya mania dan
hipomania dari gangguan bipolar, dan permasalahan yang belum terpecahkan pada psikiatri
remaja mengenai apakah perilaku hipertimia pada remaja yang menetap masih tergolong
dalam variasi batas normal dari perkembangan emosional ataukah sudah termasuk dalam
disregulasi emosional (Paaren et al. 2013). Fase perkembangan ini berhubungan kuat dengan
permulaan penggunaan yang salah dari zat zat seperti tembakau, alkohol dan obat obtan
yang menyebabkan remaja normal mengalami mabuk atau menyebabkan episode hipomania
awal, seperti yang dilaporkan dari hasil studi NCS-A (lihat review Post dan Kamivas 2013).
Remaja pada umumnya mengalami kesulitan dalam membedakan perkembangan temperamen
(hipertimia) dan perkembangan status (episode hipomanik ataupun campuran). Kriteria
tradisional dari kasus ini, meliputi distress atau kecacatan mental, tidak sesuai dengan
sindroma tipikal dari hipomania dan mania selama subyek tidak merasa sakit atau mengalami
cacat. Pada kebanyakan kasus, kesimpulan dasar untuk mendiagnosis konsekuensi sosial
yang tidak diinginkan hanyalah informasi dari orangtua, teman, guru atau atasan.
Topik lain yang membutuhkan penelitian lebih lanjut adalah kriteria durasi MDE (2
minggu) dan hipomania (4 hari), validitasinya dipertanyakan berdasarkan data dari the
Brodge dan Zurich (angst et al. 2012). Pada dasarnya, semua variabel yang kontinyu, seperti
distress/penderitaan, impairment/kecacatan, durasi episode dan waktu yang dihabiskan
mengidap penyakit lebih dari 1 tahun (2 tahun untuk sindrom kronis) harus di ukur secara
sistematik pada pemeriksaan klinis dan tidak hanya didikotomikan pada defenisi diagnosis
saja.
Interview untuk diagnostik yang terstruktur secara klinis dan epidemiologis harus
meliputi semua kategori subthreshold other specified diagnostic categories 311 (F32.8) dan
other specified bipolar and related disorder 296.89 (F31.89). hal ini dapat memberikan data
yang penting untuk revisi selanjutnya.

Yang urgent dibutuhkan tetapi tidak dibiayai adalah studi dengan metode prospektif
pada pasien dan komunitas, dengan mengambil aspek kesehatan dan gangguan somatis dan
psikiatris. Sekarang DSM-5 yang baru akan membantu, tetapi pandangan ini pendek jika
tetap menghentikan pengumpulan data untuk membuat konsep diagnosis yang baru, karena
kriteria ini hanya akan memiliki umur pendek sekitar 10 tahun atau bahkan kurang. Sudut
pandang dari penelitian biologis pada spektrum depresi unipolar dan gangguan bipolar telah
dirancang oleh Phillips dan Kupfer (2013).
Mendiagnosis gangguan bipolar pada DSM-5
Diagnosing bipolar disorders in DSM-5
Kata kunci : diagnosis, bipolar disorders, DSM-5
A. Editorial
Beberapa minggu yang lalu, setelah bertahun- tahun kerja intensif, edisi keliam the
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang ditunggu-tunggu telah
dipublikasikan. Hal ini masih menjadi masalah bahwa diagnosis psikiatri tampaknya
ditetapkan lebih berdasarkan konsensus dibandingkan validitas (Cuthbert dan Insel 2013;
Bschor et al. 2012; Berk 2013), sesuatu yang DSM-5 juga tidak akan berhasil mengubahnya.
Namun DSM-5 memperkenalkan beberapa perubahan penting mengenai kriteria diagnostik
dari gangguan bipolar. The International Journal of Bipolar Disorders merasa bangga bahwa
Jules Angst, yang kinerjanya memberikan kontribusi luar biasa untuk memodifikasi kriteria
diagnosis gangguan bipolar pada DSM-5 (Angst et al. 2011,2012), telah menyetujui untuk
berkomentar mengenai keunggulan, permasalahan dan sudut pandang yang berhubungan
dengan perubahan kriteria tersebut pada editorial ini (Angst 2013).
Topik yang penting yang diajukan oleh Jules Angst pada papernya (Angst 2013) saat ini
sedang panas diperdebatkan di antara komunitas peneliti di bidang psikiatri selama beberapa
tahun terakhir, yaitu apakah kejadian gangguan bipolar sebenarnya lebih banyak
dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Dalam hal kasus ini, di satu sisi ada yang
menyimpulkan bahwa kriteria diagnostik yangg berlaku hingga saat ini terbilang salah dan
justru menghalangi diagnosis yang tepat dari semua jenis kasus gangguan bipolar yang ada
karena kriterianya yang bersifat restriktif atau sempit.

Pada DSM-5, gangguan bipolar dan yang terkait, atau disebut bipolar and related
disorders, dimasukkan dalam golongan tersendiri, di antara spektrum gangguan depresif dan
skizofrenia, yang meliputi gangguan bipolar I (yang berdasarkan DSM-5, mewakili gangguan
depresif manik klasik, dengan pengecualian tidak ada episode depresif atau psikosis yang
ditemukan saat dilakukan diagnosis), gangguan bipolar II dan gangguan siklotimik. Di
samping itu, pada bagian ini, sekarang terdapat kriteria diagnosis yang terpisah untuk
fenomena menyerupai manik yang berhubungan dengan penggunaan zat zat (yaitu
penggunaan substansi zat berlebihan atau yang didapatkan dari peresepan obat) atau yang
berhubungan kondisi medis lain. Sehingga, untuk mendorong studi yang lebih lanjut, DSM-5
secara eksplisit menyebutkan bahwa fenomena yang menyerupai gangguan bipolar tidak
memenuhi syarat kriteria diagnosis untuk gangguan bipolar I, gangguan bipolar II, maupun
gangguan siklotimik (yang termasuk dalam hal ini adalah episode hipomanik durasi pendek
dan episode depresif mayor, episode hipomanik dengan gejala yang tidak memenuhi syarat
dan episode depresif mayor, episode hipomanik tanpa episode depresif mayor, dan siklotimia
durasi pendek) dikumpulkan di bawah satu label other specified bipolar and related
disorder.
Dengan adanya perubahan ini, DSM-5 tampaknya menyetujui gagasan bahwa terdapat
gangguan bipolar yang tidak terdeteksi. Namun, dampaknya, gejala wajib (kriteria A) harus
ditemukan untuk memenuhi kriteria episode hipomasik atau manik yang telah
diklasifikasikan. Sementara itu sebelumnya, hanya periode tertentu dari ketidaknormalan dan
perubahan mood yang persisten baik itu meningkat, meledak (euforia) atau iritatif saja yang
penting, gejala ini saat ini harus ditemukan bersamaan dengan peningkatan yang persisten
dari aktivitas dan energi, sepanjang hari, setiap hari. Sementara beberapa pihak tidak
menyetujui langkah ini, untuk alasan yang belum dapat dipahami (Angst et al. 2011, 2012).
Kami merasa bahwa langkah ini merupakan pendekatan yang bijaksana khususnya berkenaan
dengan diagnosis gangguan bipolar II. Mengapa kami mengatakan demikian?
Gangguan bipolar II merupakan satu satunya gangguan psikiatri yang memiliki
karakterisitik yang tipikal (khusus) berupa tidak ditemukannya gejala penting misalnya
episode hipomanik pada saat diagnosis. Diagnosis gangguan ini seringkali diberikan pada
pasien usia muda dengan gejala episode depresif mayor pertamanya. Pada kasus ini,
diagnosis ini diambil berdasarkan riwayat psikiatri, tidak berdasarkan pemeriksaan
psikopatologis dari psikiater. Tetapi, memori terdahulu mengenai riwayat psikiatri cenderung
mengalami bias. Bahkan hal ini akan lebih menonjol jika pasien sedang dalam episode

depresif. Di samping itu, dengan adanya episode hipomanik, akan terdapat kondisi dimana
keadaan pasien tidak cukup berat sehingga menyebabkan cacat dari sisi fungsi sosial maupun
okupasional. Dan faktanya justru pada kondisi ini pasien mengalami peningakatan kreativitas.
Sehingga, episode hipomanik sering disangka sebagai ego-sintonik. Maka dari itu, untuk
mengetahui, apakah pada masa lalu pasien, pernah mengalami perubahan mood yang
berhubungan dengan perubahan fungsional yang jelas, yang bukan merupakan karakter
individu biasanya, yang jika tidak nampak secara simtomatis, dapat secara diterima melalui
informasi yang diberikan oleh orang lain seperti teman dekat, saudara, atau pasangan.
Sayangnya, informasi yang diberikan oleh kerabat ini jarang digunakan dalam studi mengenai
diagnosis gangguan bipolar II. Perubahan mood berupa peningkatan mood, kadangkala
berhubungan dengan pengalaman subyektif, dan tidak berhubungan dengan perubahan
fungsional yang nyata, sehingga perubahan ini tidak dengan mudah disadari oleh orang
orang disekitar pasien. Sebaliknya perubahan mood yang berkaitan dengan (hipo)mania ,
harus diikuti dengan perubahan fungsional yang nyata. Sehingga, klasifikasi selanjutnya dari
perubahan mood berupa (hipo)mania sangat diperlukan. Dari sudut pandang klinis ini,
perubahan mood inilah yang dianggap sebagai hiper (yang secara kebetulan merupakan
pertanyaan skrining untuk (hipo)mania di SCID untuk DSM-IV). Menjadi hiper meliputi
memiliki energi yang tinggi. Sehingga, dari klinisi dan sudut pandang DSM, hal ini
merupakan langkah yang sangat logis dan konsisten untuk menambahkan kriteria
peningakatan aktivitas/energi pada peruabahan mood sebagai kriteria A pada DSM-5.
Sementara kriteria diagnosis memiliki bermacam macam fungsi (misalnya sebagai
alat untuk berkomunikasi untuk mengenali gejala atau sebagai dasar mengklaim biaya pada
sistem layanan kesehatan), tetapi fungsinya sebagai pembuat keputusan dalam pemberian
terapi merupakan hal yang paling krusial (Cuthbert dan Insel 2013). Pada contoh klinis yang
telah disebutkan sebelumnya (pasien usia muda dengan episode depresif mayor pertama),
diagnosis yang akan diberikan pada pasien ini baik gangguan depresi mayor (MDD) maupun
gangguan bipolar II akan memberikan dampak yang besar dan signifikan pada terapi
selanjutnya, dan terutama pada terapi jangka panjangnya. Mengacu pada guideline terapi
terkini, pasien usia muda dengan MDD akan diterapi dengan antidepresan dalam jangka
waktu 6 hingga 12 bulan, tergantung pada tingkatan manifestasi klinisnya, misalnya derajat
keparahan episode depresif atau riwayat penyakit keluarga (Bauer et al. 2013). Sebaliknya,
pasien dengan diagnosis depresi bipolar akan menerima terapi dengan quetiapine atau
kombinasi antidepresan dan agen antimanik profilaksis (yang sering disebut mood stabilizer)

(Pfennig et al. 2012). Quetiapine atau mood stabilizer, jika memberikan hasil yang efektif,
akan dilanjutkan pemberiannya dalam jangka waktu panjang. Salah satu kriteria
efektifitasnya adalah mencegah munculnya episode hipomanik/manik yang baru. Sekarang,
jika kami berpikir bahwa kriteria diagnosis adalah alat uji untuk mengetahui etiologi dan
dasar penyakit, maka menciptakan diagnosis threshold untuk gangguan bipolar,

akan

meningkatkan kemungkinan positif palsu dan mengurangi kemungkinan negatif palsu, dan
sebaliknya (Zimmerman 2012). Dengan mengacu pada contoh yang kami buat, seorang
pasien dengan episode depresif mayor yang diberikan diagnosis yang salah dengan gangguan
bipolar (dimana pada kenyataannya dia menderita depresi unipolar) akan diterapi dengan
agen antimanik profilaksis (mood stabilizer) dan terapi ini akan diberikan secara kontinyu
dengan kriteria efektifitasnya adalah mencegah munculnya episode manik yang baru, padahal
pasien tidak akan mengalami episode manik karena sebenarnya dia menderita depresi
unipolar. Sebaliknya, jika pasien dengan episode depresif mayor diberikan diagnosis yang
salah dengan gangguan depresif mayor (MDD) yang pada kenyataannya pasien menderita
gangguan bipolar II (yang merupakan kasus yang paling mungkin terjadi), pasien akan
diterapi dengan antidepressan (yang berdasarkan studi terakhir, merupakan terapi pilihan
yang sah dan tepat untuk gangguan bipolar II) (Pacchiarotti et al. 2013). Jika pasien tidak
berespon terhadap antidepresan, maka akan diberikan tambahan terapi dengan lithium,
quetiapine,aripiprazole atau olanzapine (Bauer et al. 2013). Lithium, quetiapine, aripiprazole
dan olanzapine merupakan agen antimanik profilaksis (mood stabilizer), dan kombinasi
antara antidepresan dengan agen antimanik profilaksis (mood stabilizer) merupakan pilihan
terapi yang mungkin diberikan sebagai terapi jangka panjang pada pasien dengan gangguan
bipolar II (Pacchiarotti et al, 2013). Namun ternyata, jika pasien menunjukkan gejala episode
hipomanik atau manik selama pemberian monoterapi dengan antidepresan, yang berlanjut
menjadi episode menetap setelah penghentian antidepresan, maka pasien akan didiagnosis
dengan gangguan bipolar berdasarkan kriteria terkini DSM-5, dan pasien akan diterapi sesuai
guideline. Sehingga mengacu pada makna dari syarat do no harm, maka konsekuensi salah
diagnosis dengan gangguan bipolar lebih parah dibandingkan salah diagnosis dengan MDD
atau gangguan depresif mayor (Frances dan Jones 2012). Di samping itu, jika tujuan dari
diagnosis tidak hanya untuk membuat keputusan terapi tetapi juga berkontibrusi pada
pengembangan pilihan terapi selanjutnya, maka pemberian diagnosis gangguan bipolar yang
salah pada pasien pada genome-wide association-studies (GWAS) akan menyamarkan data
asosiasi secara signifikan, sehingga akan menghalangi pengembangan pemberian pilihan

terapi yang sesuai pada masing masing pasien, berdasarkan penemuan dari GWAS, untuk
pasien dengan gangguan bipolar (Schulze 2010).
Kesimpulannya, menurut hemat kami, kriteria DSM-5 telah mengklasifikasikan kondisi
yan telah dipahami sebagai diagnosis gangguan bipolar (dengan pilihan terapi berdasarkan
definisi gangguan tersebut) dan dalam waktu yang sama membuka kemungkinan eksplorasi
yang lebih jauh lagi mengenai karakteristik gangguan (misalnya respon pasien terhadap
terapi) yang mana pada saat ini, berkaitan dengan gangguan yang terkait dengan gangguan
bipolar.