Anda di halaman 1dari 158

LAMPIRAN

KONTRAK BELAJAR PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN KOMPREHENSIF (KONTRAK BELAJAR PBLK) PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN USU DI LINGKUNGAN II KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR TANGGAL 11 JUNI – 07 JULI 2012

Tanggal No. Kegiatan 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
Tanggal
No.
Kegiatan
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
1.
Bimbingan dengan
dosen pembimbing
 Orientasi lahan
 Pengumpulan
data
Penyusunan
Instrumen
Pengkajian
Konsul
Pembimbing
3.
Pengelolaan
Pelayanan Kesehatan
*
Pengumpulan data
dan menganalisa
masalah
2.
Kasus Kelolaan
 kasus
Pengkajian
kelolaan
 ma-
salah keperawatan
kasus kelolaan
Merumuskan
Mempriorotaskan
masalah
dan
menentukan
intervensi
keperawatan  Konsul dengan pembimbing  Implemenasi Kasus kelolaan  Laporan Konsul dengan pembimbing 
keperawatan
 Konsul
dengan
pembimbing
 Implemenasi
Kasus kelolaan
 Laporan
Konsul
dengan
pembimbing
 Evaluasi Kegiatan
 laporan
Konsul
dengan
pembimbing
 Penyelesaian
laporan akhir

Keterangan:

:

Hari Minggu laporan Konsul dengan pembimbing  Penyelesaian laporan akhir Keterangan: : Dinas di Kampus : Kegiatan

Dinas di KampusKegiatan  laporan Konsul dengan pembimbing  Penyelesaian laporan akhir Keterangan: : Hari Minggu : Kegiatan

:

Kegiatan laporan Konsul dengan pembimbing  Penyelesaian laporan akhir Keterangan: : Hari Minggu Dinas di Kampus

:

Tabel POA Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV No Kegiatan 11 12 13
Tabel POA
Minggu I
Minggu II
Minggu III
Minggu IV
No
Kegiatan
11
12
13
14
15
16
18
19
20
21
22
23
25
26
27
28
29
30
2
3
4
5
6
7
1.
Meninjau Lokasi PBLK
2.
Mengkaji masalah lansia
3.
Menentukan judul & POA
4.
Konsul Judul PBLK
5.
Mengumpulkan bahan
6.
Mengkaji lansia kelolaan
7.
Entry data
8.
Menentukan diagnosa dan
intervensi
9.
Konsul diagnosa dan
intervensi
10.
Implementasi pada pasien
kelolaan
11.
Menyusun Evaluasi
12.
Melakukan Evaluasi
13.
Menyusun laporan presentasi
hasil implementasi dan
evaluasi kegiatan
14.
Konsul Laporan PBLK
15.
16.
Memperbaiki laporan PBLK
Mengumpulkan laporan
PBLK

Kuesioner Kemampuan Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga Lansia

yang Mengalami Penyakit Kronis

Beri tanda ceklist pada pilihan yang menjadi pilihan Anda (√)

NO

 

Pernyataan

Ya

Tidak

 

Mengenal Masalah Kesehatan

   

1.

Apakah keluarga merasakan adanya masalah kesehatan pada lansia?

2.

Apakah keluarga mengetahui kebutuhan lansia untuk mendukung kesehatannya?

   

3.

Apakah keluarga mengetahui perubahan-perubahan kesehatan yang terjadi pada lansia?

   

4.

Apakah keluarga menjaga dan memeriksakan kesehatan lansia secara teratur?

   
 

Membuat Keputusan Tindakan Kesehatan yang Tepat

   

5.

Apakah keluarga dapat langsung mengenali ketika penyakit lansia sedang kambuh?

6.

Apakah keluarga berdiskusi bersama dalam menentukan tempat pengobatan lansia?

   

7.

Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami lansia?

   
 

Memberikan Perawatan kepada Lansia yang Sakit

   

8.

Ketika lansia mengalami nyeri di bagian kepala, biasanya saya memijat kepala lansia.

9.

Saya melakukan kompres air hangat/dingin ketika lansia mengalami nyeri sendi.

   

10.

Saya

selalu

memotivasi

lansia

untuk

berolahraga

   

ringan.

11.

Saya membedakan makanan bagi lansia dengan makanan yang akan disajikan kepada keluarga.

   

12.

Saya

mengingatkan

lansia

merawat

diri

atau

   

kebersihan dirinya.

13.

Saya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat dipenuhi oleh lansia secara mandiri

   

14.

Saya

menyarankan

lansia

untuk

beristirahat

saja

   

apabila

lansia

sedang

sakit

(tidak

perlu

banyak

bergerak)

15.

Saya menjaga dan mempertahankan fisik lansia dengan melakukan kegiatan bersama dalam batas kemampuan lansia.

   

16.

Saya mengingatkan lansia untuk minum obat

   
 

Memodifikasi Lingkungan Rumah

17.

Saya memantau lantai agar tidak licin maupun basah.

18.

Saya selalu memastikan bahwa penerangan di rumah khususnya kamar mandi baik, tidak terlalu terang maupun redup.

19.

Saya menata barang-barang di rumah sebaik mungkin agar lansia tidak perlu sampai menggapai ataupun membungkuk ketika akan mengambil sesuatu.

 

Menggunakan Fasilitas Kesehatan yang ada

20.

Apakah keluarga membawa lansia ke tempat pelayanan kesehatan apabila kondisi lansia tidak memungkinkan lagi untuk dirawat dirumah?

21.

Apakah keluarga lebih memilih untuk membawa lansia berobat ke dokter daripada membeli obat langsung ke apotik?

22.

Apakah keluarga meminta bantuan kepada petugas kesehatan dalam memecahkan masalah kesehatan yang dialami lansia?

23.

Apakah

keluarga

percaya

terhadap kinerja tenaga

kesehatan?

 

24.

Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada?

PRE PLANNING PENDIDIKAN KESEHATAN RENTANG PERGERAKAN (RANGE OF MOTION/ROM) DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR MEDAN

1. Latar Belakang

Penuaan adalah proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya hal ini menjadi beban bagi setiap manusia yang mengalami proses ini. Penuaan merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Proses penuaan biologis yang dialami lansia relatif tidak akan menimbulkan perubahan buruk apabila daya tahan tubuh dan kesehatannya terpelihara. Namun munculnya penyakit kronis diusia lanjut seperti Hipertensi mengakibatkan tingkat ketergantungan lansia terhadap orang lain sangat tinggi. Hal ini dikarenakan penurunan kekuatan otot dan penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas. Body Mechanic (mekanika tubuh) adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi risiko cedera sistem muskuloskeletal. Mekanika tepat juga memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan. Mekanika tubuh meliputi rentang gerak, gaya berjalan, latihan dan toleransi aktivitas, kesejajaran tubuh, dan posisi tubuh yang aman saat bekerja. Mekanika tubuh yang baik yakni yang dapat memelihara dan mempertahankan kekuatan otot serta memelihara pergerakan sendi, salah satunya dengan ROM (Range of Motion) yaitu kemampuan klien untuk menggerakan sendi agar tidak terjadi kekakuan, pembengkakan, nyeri, keterbatasan sendi dan gerakan yang tidak seimbang. ROM (Range of Motion) adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif.

ROM adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005). Dengan melakukan ROM secara teratur diharapkan dapat meningkatkan kekuatan otot secara bertahap dan ROM sebagai bentuk latihan untuk mencegah depormitas sendi dan kontraktur sendi yang dapat menyebabkan pleksi sendi yang permanent. Oleh karena alasan tersebut, perawat memberikan pendidikan kesehatan pada lansia kelolaan yang mengalami penurunan kekuatan otot dan kekakuan agar kekuatan otot lansia kembali maksimal dan dapat memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri. Disamping itu, lansia juga dapat mengambil tindakan pengobatan yang tepat, mengubah gaya hidupnya dan mengurangi aktivitas yang dapat membahayakannya.

2. Satuan Acara Pengajaran

2.1 Tujuan Instruksional

2.1.1 Umum Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 30 menit, klien dan keluarga di Kelurahan Gedung Johor Medan akan mampu melakukan latihan rentang pergerakan (ROM).

2.1.2 Khusus Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 30 menit, klien dan keluarga di Kelurahan Gedung Johor Medan akan dapat:

1) Menyebutkan pengertian ROM 2) Menyebutkan tujuan ROM 3) Menyebutkan manfaat ROM 4) Menjelaskan prinsip dasar latihan ROM 5) Pembagian ROM

3. Pokok Bahasan Range of Motion

4.

Sub Pokok Bahasan

1. Pengertian ROM

2. Tujuan ROM

3. Manfaat ROM

4. Prinsip dasar latihan

5. Sasaran Nenek N, H, Y, S, M

6. Waktu dan Tempat Di rumah lansia binaan

7. Metode

- Ceramah,

- Praktek,

- Diskusi.

8. Media

- Leaflet

9. Strategi Kegiatan

Tahap

Kegiatan Penyuluh

Kegiatan

Metode

Media dan

Estimasi

Klien

alat

Waktu

Pendahuluan

1. Perkenalan

Mendengar

Ceramah

Leaflet

5’

2. Menjelaskan

manfaat

Bertanya

mengetahui

latihan

ROM

3. Penjelasan TIK

4. Cakupan materi

Penyajian

Menjelaskan :

       

Pengertian ROM

Mendengar

Ceramah

Leaflet

20’

Tujuan ROM

Bertanya

dan

 

Manfaat ROM

Mempraktek-

Diskusi

   

Prinsip Dasar Latihan ROM

kan

Pembagian ROM

Praktek gerakan ROM oleh klien dibantu perawat

Penutup

-

Memberi

kesempatan

Umpan balik

Diskusi

Leaflet

5’

kepada

peserta

penyuluhan untuk bertanya

-

Mempraktekkan

gerakan ROM

oleh

klien dibantu keluarga

-

Bertanya kepada peserta penyuluhan bagaimana perasaannya setelah mengikuti penyuluhan

-

Menyimpulkan materi penyuluhan

-

Menutup pertemuan dan memberi salam

-

Membagikan leaflet

8.

Evaluasi Evaluasi Struktur:

- Penggunaan media yang lengkap, kondisi tempat yang kondusif.

- Penyuluh menguasai materi dan mampu menyampaikan informasi kesehatan kepada peserta

- Peserta berperan aktif selama proses penyuluhan

Evaluasi Proses

- Proses penyuluhan dapat terlaksana sesuai dengan perencaan

Evaluasi Hasil

- 50 % dari materi penyuluhan dapat dijelaskan oleh klien dan keluarga

9.

Materi Penyuluhan

9.1

Pengertian Range of Motion (ROM)

Range of motion atau rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transfersal. Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang, membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan dan belakang. Potongan transfersal adalah garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah. Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005).

9.2 Tujuan ROM

1. Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot

2. Memelihara mobilitas persendian

3. Merangsang sirkulasi darah

4. Mencegah kelainan bentuk

5. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan

6. Memperlancar eliminasi Alvi dan Urin

7. Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal dan

atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian.

8. Memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi atau

berkomunikasi

9.3

Manfaat ROM

1. Memperbaiki tonus otot

2. Meningkatkan mobilisasi sendi

3. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

4. Meningkatkan massa otot

5. Mengurangi kehilangan tulang

9.4

Prinsip Dasar Latihan ROM

1.

ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dilatih minimal 2 kali sehari.

2.

ROM dilakukan perlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan klien.

3.

Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur klien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.

4.

Bagian-bagian tubuh yang dapat dilakukan latihan ROM adalah leher, jari lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.

5.

ROM dapat dilakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang mengalami proses penyakit atau kelemahan.

6.

Melakukan ROM harus sesuai waktunya, misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah dilakukan

9.5

Pembagian Range of Motion (ROM)

1.

ROM Pasif

Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang dilakukan klien dengan bantuan perawat atau keluarga pada setiap gerakan ROM. Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi, tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total (Suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.

2.

ROM Aktif

Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .

9.6

Gerakan ROM

1.

Leher

Angkat dagu ke arah atas

Kembalikan posisi kepala ke awal

Tekuk kepala ke belakang sejauh mungkin

Miringkan kepala kearah bahu kiri dan kanan

Putar kepala

2.

Bahu

Angkat lengan keatas ke arah kepala

Kembalikan lengan ke posisi awal

Gerakkan lengan ke belakang tubuh dengan posisi tetap lurus

Angkat lengan ke samping dengan telapak tangan kearah atas

Kembalikan posisi lengan kearah tubuh

Tekuk siku dan gerakkan ke depan

Tekuk siku dan gerakkan kearah atas ke belakang

Gerakkan bahu dengan lingkaran penuh

3.

Siku

Tekuk siku sehingga sejajar dengan lengan atas

Luruskan siku keposisi awal

Luruskan siku sejauh mungkin

4.

Lengan Bawah

Putar lengan bawah dengan posisi tangan terbuka ke atas

Putar lengan bawah dengan posisi tangan terbuka ke bawah.

5.

Pergelangan Tangan

Gerakkan telapak tangan ke bawah

Gerakkan telapak tangan sejajar dengan lengan bawah

Gerakkan tangan ke atas kearah bahu

Tekuk pergelangan tangan ke arah dalam

Tekuk pergelangan tangan ke arah luar

6. Jari

Kepalkan tangan

Luruskan jari/terbuka

Tekuk jari ke belakang

Jauhkan masing-masing jari

Gabung jari secara bersama-sama

7. Ibu Jari

Gerakkan ibu jari kearah telapak tangan

Gerakkan kembali ibu jari menjauh

Gerakkan ibu jari ke samping

Gerakkan ibu jari ke dalam

Sentuh jari-jari dengan ibu jari

8. Pinggul

Gerakkan kaki ke depan

Gerakkan kaki ke posisi sejajar

Gerakkan ke arah belakang menjauhi posisi sejajar

Gerakkan kaki kesamping menjauhi kaki lain

Gerakkan kaki ke dalam, ke kaki lain

Gerakkan telapak kaki dan kaki ke dalam

Gerakkan telapak kaki dan kaki keluar

Gerakkan kaki memutar

9.

Lutut

Angkat tumit ke belakang tubuh

Kembalikan kaki ke posisi awal

10. Pergelangan Kaki

Gerakkan telapak kaki sehingga jari ke atas

Gerakkan telapak kaki sehingga jari kaki kebawah

11. Kaki

Putar telapak kaki ke dalam

Putar telapak kaki ke luar

Kepitkan jari kaki

Luruskan jari kaki

Jauhkan masing-masing jari

Gerakkan masing-masing jari ke arah dalam

DAFTAR PUSTAKA

Maryam, R.Siti, dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta; Salemba Medika.

Stanley, Mickey dan Patricia. (2007). Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC

Stockslager, Jaime dan Liz Schaeffer. (2008). Asuhan Keperawatan Geriatrik. Edisi 2. Jakarta: EGC

1.

Pengkajian Lansia I

I.

Identitas

a. Inisial kepala keluarga

b. Usia

c. Tempat/Tanggal Lahir

d. Pendidikan

e. Agama

f. Suku

g. Alamat

h. Tipe Keluarga

: Nenek N : 60 tahun : Medan/ 11 Januari 1952 : Tidak Sekolah : Islam : Jawa : Jln. Eka Jaya III, Lingk II Kelurahan Gedung Johor Medan : Keluarga besar (Extended Family)

Gedung Johor Medan : Keluarga besar ( Extended Family ) Ket : : Perempuan : Laki-Laki

Ket :

: Perempuan

: Perempuan

: Laki-Laki

: Laki-Laki

: Klien

: Klien

: Meninggal (Perempuan)

: Meninggal (Perempuan)

: Meninggal (Laki-Laki)

: Meninggal (Laki-Laki)

: Tinggal Serumah

II.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Nenek N mengatakan bahwa ibunya dulu mengalami hipertensi dan pernah juga terserang stroke, yakni lumpuh pada bagian tubuh sebelah kanan.

III. Riwayat Kesehatan Saat Ini

Nenek pernah terserang stroke, dan saat ini nenek mengalami kelemahan pada ekstremitas kiri bagian atas dan bawah. Kekuatan otot lengan maupun kaki nenek bernilai 4. Nenek tampak berjalan dengan pelan dan pincang. Nenek N juga mengeluhkan nyeri di sendi-sendi kaki dan tangan, serta nyeri di pinggangnya. Nenek N sering kebas, kesemutan dan kaku di ekstremitas atas maupun bawah pada saat bangun tidur di pagi hari. Nenek tidak bisa memastikan kondisi-kondisi yang bagaimana saja yang dapat menimbulkan nyeri. Tetapi apabila cuaca dingin, nyeri sendi nenek akan timbul. Nenek juga mengalami hipertensi. Nenek juga sering merasa pusing, sakit kepala dan berat di tengkuk. Apabila tekanan darah nenek sedang naik dan menimbulkan nyeri kepala, biasanya nenek tidak bisa tidur semalaman.

IV. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Nenek N mengalami stroke pertama kali tiga tahun yang lalu. Pada saat itu nenek bangun tidur dan mengeluhkan bagian tubuh sebelah kiri tidak bisa digerakkan. Nenek menjalani terapi dan akhirnya tangan dan kaki nenek bisa digerakkan walaupun tidak pulih maksimal. Tetapi kemudian nenek terserang stroke kembali sekitar 7 bulan yang lalu. Tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan kembali. Kemudian nenek menjalani terapi lagi dan akhirnya tangan dan kaki nenek dapat digerakkan, tetapi kekuatannya sangat lemah. Nenek tampak

berjalan pincang. Sejak dulu, Nenek N juga mengalami hipertensi dan rematik. Apabila rematik nenek kambuh, nenek merasakan nyeri yang sangat menyakitkan. Nenek juga mengalami maag kronik.

V.

Riwayat sehari-hari

a. Persepsi lansia terhadap sehat sakit Sehat adalah suatu keadaan dimana badan terasa enak, tidak merasa pening dan dapat melakukan aktivitas, hati pun terasa senang. Sedangkan sakit adalah saat beliau merasa lesu dan lunglai, tidak dapat berbuat apa-apa dan terasa nyeri.

b. Kebiasaan Setiap hari nenek menghabiskan waktunya duduk di teras rumah sambil menjaga kedai yang ada di rumah. Nenek juga menjaga cucunya apabila anak nenek sedang bekerja dan belanja. Nenek juga sering bepergian bersama anak maupun besannya ke rumah sanak saudara di provinsi lain.

c. Pola nutrisi Klien mengatakan biasanya sarapan pada pukul 08.00 WIB, sarapan lontong, siang hari makan nasi antara pukul 14.00 WIB, sedangkan pada malam hari terkadang lansia makan nasi atau makan roti pada pukul 20.00 WIB. Di malam hari nenek lebih sering makan kue daripada makan nasi karena nenek tidak selera makan. Nenek N suka makan ikan. Kalau untuk sayur, nenek akan makan sayur yang disukai oleh nenek.

d. Pola istirahat dan tidur Nenek biasanya istirahat di siang hari pada pukul 12.00-13.00 WIB. Di malam hari biasanya nenek tidur pada pukul 22.00 WIB. Nenek tidak mengalami kesulitan dalam tidur, tetapi ketika hipertensi nenek sedang kambuh, maka nenek akan sangat sulit tidur karena nyeri kepala yang dirasakan oleh nenek. Nenek bangun dipagi hari pada pukul 06.30 WIB. Tiap malam klien selalu terbangun 3-4 kali untuk BAK.

e. Pola eliminasi Klien mengatakan BAK lancar. Klien mengalami masalah dalam BAK. Nenek mengalami masalah dalam BAK, yakni sebelum sampai ke kamar mandi, urine nenek sudah keluar (inkontinensia). Klien mengatakan tidak bisa menahan keinginan untuk BAK dalam waktu

yang lama. Ini yang menyebabkan nenek sering terbangun dimalam hari untuk BAK. Kebiasaan BAB nenek biasanya tidak teratur biasanya klien BAB sekali dalam 2-3 hari dengan konsistensi yang keras. Tetapi seminggu terakhir, nenek ada mengkonsumsi ramuan tradisional dari pedagang keliling dan akhirnya BAB nenek seminggu ini lancar.

f. Kebiasaan olahraga Nenek N jarang berolah raga di pagi hari. Nenek mengatakan karena kaki kiri nenek mengalami kelemahan, maka nenek tidak berani berjalan jauh untuk berolahraga.

g. Kemampuan melakukan aktivitas Nenek tidak mampu lagi melakukan pekerjaan rumah yang ringan sekalipun. Nenek hanya mampu merawat dirinya sendiri, misalnya mandi. Dalam hal berpakaian, untuk memakai pakaian bawah, nenek tidak bisa secara mandiri melakukannya, nenek biasanya dibantu oleh anaknya. Dalam hal makan, biasanya anak nenek akan menyiapkan makanan nenek, dan nenek hanya tinggal makan.

h. Rekreasi Nenek N sering melakukan rekreasi bersama anak dan besannya. Biasanya nenek akan mengunjungi rumah sanak saudara selama kurang lebih 1 minggu. Di rumah biasanya rekreasi nenek hanyalah menonton tv.

VI. Riwayat psikologi Nenek N tidak pernah merasa stress dalam menjalani kehidupan. Walaupun nenek mengalami banyak penyakit, tetapi nenek tetap semangat dalam menjalani hidup. Terkadang nenek juga merasa kesepian karena suami nenek bekerja di luar kota dan hanya beberapa kali pulang ke rumah dalam setahun. Tetapi kesepian itu terobati dengan kelucuan dari cucu nenek yang selalu menemaninya sepanjang hari.

VII. Riwayat sosial Klien sudah lama tinggal di daerah Lingkungan II jalan Eka Jaya dan memiliki hubungan yang baik dengan tetangga lingkungan sekitar. Nenek merupakan seorang yang peramah dan memiliki kebutuhan yang tinggi akan sosialisasi. Nenek selalu menyapa tetangga-tetangga yang lewat di depan rumahnya dan tetangga nenek pun sering duduk-duduk di teras rumah nenek untuk cerita-cerita.

VIII. Riwayat spiritual dan kultural Klien tidak pernah lupa untuk sholat lima waktu. Apabila kondisi kesehatan nenek mengizinkan, biasanya nenek akan mengikuti pewiridan. Pewiridan tersebut diadakan setiap hari rabu yang dinamakan dengan arisan silaturahmi.

IX. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum Klien terlihat rapi, bersih, dan ramah. Klien tampak berjalan dengan pincang.

b. Tanda-tanda vital TD = 170/90 mmHg, HR = 81x/i, RR = 20/i, T = afebris

c. Kepala Bentuk kepala klien normal dan anatomis, kulit kepala bersih, penyebaran rambut merata, rambut mulai menipis dan warna rambut putih, tidak ada pembengkakan/benjolan, tidak ada lesi ataupun kelainan pada kepala.

d. Mata Letak mata simetris kanan dan kiri, tidak dijumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, pupil isokor ka/ki 3mm, refleks cahaya (+), edema (-), kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat.

e. Telinga Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

f. Hidung Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

g. Mulut/Tenggorokan Mulut bersih, tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah mulai berkurang jumlahnya, tidak ada tanda-tanda pembesaran uvula.

h. Sistem pernafasan Klien tidak ada gangguan pernafasan seperti sesak nafas, (-) pernapasan cuping hidung, suara pernapasan vesikuler dengan frekuensi 23x/i, ronchi (-), wheezing (-).

i. Sistem kardiovaskular Frekuensi nadi 81x/i, irama reguler dan tetap, irama jantung sama dengan radialis, bunyi jantung S1 dan S2 normal, Gallop (-), Murmur (-), dan CRT < 2 detik.

j. Abdomen Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+). Pencernaan baik, klien tidak ada mengeluhkan tentang maag sejak dulu.

k. Sistem gastrointestinal Klien tidak ada gangguan gastrointestinal (pencernaan) seperti diare.

l. Sistem genitourinari Klien mengalami gangguan genitourinari (perkemihan) yakni inkontinensia, klien tidak bisa menahan BAK dalam waktu yang lama, sebelum sampai di kamar mandi biasanya urine nenek sudah keluar.

m. Sistem muskuloskeletal Tampak tubuh nenek sebelah kiri mengalami kelemahan. Kekuatan otot lengan bernilai 4 dan kekuatan otot kaki juga bernilai 4. Nenek juga tidak sanggup lagi untuk melakukan pekerjaan rumah. Nenek juga sering mengalami kebas dan kaku pada ekstremitas atas maupun bawah.

n. Sistem neurologi Keadaan status mental klien baik dan emosi stabil. Klien berbicara dengan normal dan jelas. Klien tidak ada gangguan neurologi. Klien masih dapat mengingat kejadian-kejadian di masa lampau maupun yang baru terjadi.

X. Pemeriksaan penunjang

-

XI. Riwayat terapi Klien mengkonsumsi obat-obatan untuk penyakit rematik dan hipertensi secara teratur dari dokter yang ada di puskesmas.

XII. Hasil Pengkajian Keluarga Nenek N Berdasarkan hasil pengkajian dengan kuesioner tentang kemampuan keluarga dalam merawat lansia dengan penyakit kronik hasilnya yakni “Perawatan Cukup”. Dalam hal mengenal masalah kesehatan pada lansia, keluarga Nenek N dapat merasakan adanya masalah kesehatan pada lansia dan dapat mengenali perubahan-perubahan kesehatan pada lansia. Ini sangat bermanfaat sekali dalam mengenal masalah kesehatan pada lansia, karena ketika keluarga mengetahui bahwa kondisi lansia sedang tidak baik, keluarga langsung dapat mengambil tindakan. Tetapi keluarga tidak mengetahui apa-apa saja kebutuhan yang diperlukan lansia untuk mendukung kesehatannya dan keluarga tidak memeriksakan kesehatan lansia secara teratur. Banyak masalah kesehatan yang terjadi pada lansia,

oleh karena itu, penting sekali untuk memeriksakan kesehatan lansia secara teratur. Dalam hal membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, keluarga berdiskusi dalam menentukan tempat pengobatan bagi lansia dan keluarga tidak menyerah dalam menghadapi masalah yang dialami lansia. Dalam hal ini, keluarga tidak dapat langsung mengenali ketika penyakit lansia sedang kambuh. Keluarga dapat mengetahui apabila lansia mengeluh akan kondisinya dan apabila lansia sudah tidak beraktivitas lagi (hanya tidur-tiduran saja), ketika ini terjadi berarti lansia sedang sakit. Dalam memberikan perawatan kepada lansia yang sakit, keluarga sebisa mungkin membantu lansia untuk mengurangi keluhan yang dirasakan lansia, misalnya ketika lansia sedang mengalami nyeri kepala, keluarga akan melakukan masase di daerah kepala lansia. Keluarga juga membedakan makanan bagi lansia dengan makanan yang akan disajikan kepada keluarga, membantu lansia dalam memenuhi kebutuhan sehari- hari yang tidak dapat dipenuhi oleh lansia secara mandiri, menyarankan lansia untuk beristirahat apabila lansia sedang sakit (tidak perlu banyak bergerak), dan mengingatkan lansia untuk minum obat. Dalam hal memodifikasi lingkungan rumah, keluarga selalu memantau lantai agar tidak licin maupun basah. Tetapi untuk hal penerangan di rumah, keluarga tidak terlalu memperhatikan. Begitu juga dengan barang-barang di rumah tidak diatur dengan baik. Hal ini akan dapat menimbulkan resiko cedera bagi lansia. Keluarga juga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada. Ketika lansia sudah tidak memungkinkan lagi untuk dirawat di rumah, maka keluarga akan membawa lansia ke pelayanan kesehatan terdekat. Keluarga juga lebih memilih untuk meminta bantuan dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan daripada langsung ke apotik untuk membeli obat atas inisiatif sendiri. Setelah didapatkan hasil pengkajian kemampuan keluarga dalam merawat lansia, maka keluarga nenek N masih perlu untuk mendapatkan pendidikan dan penyuluhan kesehatan, diantaranya tentang apa-apa saja

kebutuhan yang diperlukan lansia untuk mendukung kesehatannya dan pentingnya memeriksakan kesehatan lansia secara teratur. Nenek N banyak menderita penyakit kronis, diantaranya hipertensi, stroke, rematik, dan maag. Jadi sangat penting sekali untuk mengontrol kesehatan lansia secara teratur ke pelayanan kesehatan. Agar kondisi kesehatan lansia tetap terjaga. Dalam hal merawat lansia yang sedang sakit kronis, keluarga masih kurang maksimal dalam melakukannya, ini dikarenakan pengetahuan keluarga yang tidak memadai. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan kepada keluarga bagaimana cara merawat lansia yang sedang sakit dan memberikan pengetahuan tentang penyakit yang diderita oleh lansia, agar pemahaman keluarga akan penyakit tersebut bertambah. Keluarga juga perlu untuk mendapatkan pendidikan kesehatan tentang cara memodifikasi rumah untuk menghindari terjadinya cedera/jatuh pada lansia.

Analisa Data

NO

 

Data

Analisa Data

Masalah

1.

DS :

   
 

- Klien mengatakan bahwa sendi-sendinya sering terasa kebas dan nyeri, baik sendi kaki maupun tangan.

Proses menua

Nyeri Kronik

sendi kaki maupun tangan. Proses menua Nyeri Kronik Perubahan perfusi/aliran darah - Klien mengatakan bahwa saat

Perubahan perfusi/aliran darah

- Klien mengatakan bahwa saat bangun tidur, ekstremitas klien terasa kaku. Pinggang klien juga sering terasa nyeri.

ke jaringan dan ekstremitas berkurang

terasa nyeri. ke jaringan dan ekstremitas berkurang - Klien mengatakan apabila tekanan darah klien Kurang

- Klien mengatakan apabila tekanan darah klien

Kurang atau tidak lancarnya peredaran darah ke tubuh

Kurang atau tidak lancarnya peredaran darah ke tubuh

sedang naik, maka kepala klien akan terasa sangat nyeri. Tengkuk klien juga terasa berat.

DO :

Menurunnya cairan synovial, menurunnya kadar esterogen, peningkatan kadar asam urat, penurunan kadar kalsium pada tulang

Menurunnya cairan synovial, menurunnya kadar esterogen, peningkatan kadar asam urat, penurunan kadar kalsium pada tulang

- Wajah klien meringis.

- TTV TD : 170/90mmHg

Nyeri

 

HR : 81x/i

RR : 20x/i

- Klien memegangi kakinya dan mengurut-urut kakinya.

- Skala nyeri bernilai 6

2.

DS :

   

-

Klien mengatakan tidak dapat menahan keinginan untuk BAK dalam waktu yang lama.

Proses menua

Inkontinensia

- Klien mengatakan tidak dapat menahan keinginan untuk BAK dalam waktu yang lama. Proses menua Inkontinensia
 

- Klien

mengatakan

Penurunan fungsi kerja persyarafan, salah satunya adalah saraf yang mengatur sistem perkemihan

 

sebelum Ia sampai di kamar mandi, urinenya sudah keluar.

- Klien

mengatakan

terbangun di malam hari sebanyak 3-4 kali tiap malam.

terbangun di malam hari sebanyak 3-4 kali tiap malam.

Hiperrefleksi Destrusor

Hiperrefleksi Destrusor

DO :

Bladder Spastik

- Klien

mengalami

- Klien mengalami

inkontinensia urine

- Nokturia

 

- Urgensi

Inkontinensia

- Sering berkemih

3.

DS :

   

- Klien mengatakan bahwa semenjak mengalami stroke tangan dan kakinya mengalami kelemahan.

- Klien mengatakan bahwa Ia sudah sulit untuk bergerak bebas, terkadang aktivitas sehari-hari dibantu oleh anaknya. Klien tidak mampu untuk melakukan pekerjaan rumah.

- Dalam hal berpakaian, klien dibantu oleh anaknya untuk memakai pakaian bawah dan anak klien juga selalu menyediakan nasi klien apabila klien mau makan.

Proses patologi pada sistem pembuluh darah otak

Proses patologi pada sistem pembuluh darah otak

Hambatan

mobilitas fisik

Penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli

Penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli

Pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan

permeabilitas dinding

pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas

darah

sendiri

darah sendiri

DO :

Gangguan fungsi otak

- Keterbatasan

untuk

yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak

bergerak bebas

- Keterbatasan

kemampuan

untuk

melakukan

keterampilan

motorik

 
 

kasar (makan)

     
  kasar (makan)       - Penurunan aktivitas - Kekuatan otot lengan dan kaki bernilai

- Penurunan aktivitas

- Kekuatan otot lengan dan kaki bernilai 4

- Melambatnya pergerakan

Kelemahan pada bagian tubuh

4 - Melambatnya pergerakan Kelemahan pada bagian tubuh   Hambatan mobilitas fisik 4. DS :  
 

Hambatan mobilitas fisik

4.

DS :

   

- Klien mengatakan bahwa kaki dan tangannya lemah dan tidak bertenaga.

- Klien tampak pincang sewaktu berjalan.

Proses patologi pada sistem pembuluh darah otak

Resiko Tinggi

Cedera

pada sistem pembuluh darah otak Resiko Tinggi Cedera - Klien mengatakan bahwa Ia sering mengalami pusing

- Klien mengatakan bahwa Ia sering mengalami pusing dan nyeri kepala karena hipertensi.

Penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli

Penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli DO : - TTV : Pecahnya dinding pembuluh

DO :

- TTV :

Pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan

TD 170/90 mmHg

permeabilitas dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri

HR 81 x/i

RR 20 x/i

- Klien tampak berjalan lambat dan pincang.

- Klien tampak berjalan lambat dan pincang.

- Kekuatan otot lengan dan

Gangguan fungsi otak

kaki ka/ki bernilai 4.

yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak

bernilai 4. yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak Kelemahan pada bagian tubuh Resiko

Kelemahan pada bagian tubuh

bernilai 4. yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak Kelemahan pada bagian tubuh Resiko

Resiko Tinggi Cedera

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d proses menua, menurunnya cairan synovial kadar kalsium pada tulang dan estrogen dan peningkatan asam urat d/d skala nyeri 6, wajah meringis, klien memegangi dan mengurut- urut kaki serta lengannya.

2. Gangguan pola eliminasi : Inkontinensia Urine b/d proses menua, penurunan fungsi kerja persyarafan yang mengatur sistem perkemihan, hiperrefleksi destrusor d/d nokturia, keluarnya urine sebelum mencapai kamar mandi, dan urgensi.

3. Hambatan mobilitas fisik b/d Pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan permeabilitas dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri, gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak d/d keterbatasan untuk bergerak bebas, keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar (makan), penurunan aktivitas, kekuatan otot lengan dan kaki bernilai 4 (empat), melambatnya pergerakan.

4. Resiko tinggi cedera b/d pernah mengalami stroke ringan akibat pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan permeabilitas dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri, gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak d/d kekuatan otot lengan dan kaki bernilai 4, keterbatasan dalam ruang gerak, klien sering pusing dan nyeri kepala karena hipertensi.

Intervensi Keperawatan

 

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

     

NO

Keperawatan

 

Intervensi

 

Rasional

1.

Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d proses menua, menurunnya cairan synovial kadar kalsium pada tulang dan estrogen dan peningkatan asam urat d/d skala nyeri 6, wajah meringis, klien memegangi

Tujuan :

1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan intensitas skala (0-10), catat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa sakit non - verbal.

1. Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.

Nyeri berkurang atau hilang.

2. Kaji

faktor-faktor

yang

menyebabkan

2. Untuk

meminimalkan

resiko

Kriteria Hasil :

nyeri muncul.

 

timbulnya nyeri.

3. Berikan pendidikan kesehatan kepada

3. Mengajarkan kepada keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh klien.

Skala nyeri berkurang

Wajah tampak tenang

klien dan keluarga tentang penyakit

kronis rematik dan diskusikan bersama

Mendemostrasikan teknik-teknik

tentang keluhan dan masalah kesehatan yang dialami klien.

 

dan mengurut-urut kaki serta lengannya.

menurunkan nyeri dengan baik

4. Anjurkan klien untuk mandi air hangat dan anjurkan kepada keluarga untuk membantu lansia dalam menyediakan air panas untuk mandian.

4. Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari.

5. Ajarkan kepada keluarga tentang teknik penghilang nyeri dengan melakukan kompres panas. Sediakan waslap untuk

5. Kompres panas dapat menurunkan nyeri sendi dan memperlancar aliran darah.

mengkompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.

 

6. Ajarkan pasien cara menghilangkan nyeri punggung melalui tirah baring dengan menggunakan matras yang keras dan tidak menggulung.

6. Agar posisi/postur tulang belakang tetap terjaga.

7. Berikan masase lembut. Ajarkan kepada keluarga teknik masase dan jelaskan manfaatnya.

7. Meningkatkan relaksasi otot.

8. Dorong penggunaan teknik masase

 

8. Memberikan rasa nyaman sehingga dapat mengurangi nyeri.

9. Berikan pendidikan kesehatan tentang diet bagi pasien rematik kepada keluarga dan klien dan diskusikan bersama.

9. Mengendalikan

nyeri rematik dari

diet sehari-hari.

10. Anjurkan klien

untuk

rutin

mengkonsumsi obat dari dokter. Ajarkan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan klien untuk minum obat dan selalu mengawasi klien dalam mengkonsumsi obat.

10. Sebagai antiimflamasi dan efek analgesik dalam mengurangi nyeri.

11. Anjurkan kepada keluarga untuk membawa lansia ke tempat pelayanan

11. Untuk tetap menjaga kesehatan lansia melalui tindakan preventif

     

kesehatan terdekat guna memeriksakan kondisi kesehatan lansia secara teratur.

(pencegahan).

 

2.

Gangguan pola eliminasi

Inkontinensia Urine b/d proses menua, penurunan fungsi kerja persyarafan yang mengatur sistem perkemihan, hiperrefleksi destrusor d/d nokturia, keluarnya urine sebelum mencapai kamar mandi, dan urgensi.

:

Tujuan :

Mempertahankan pola eliminasi urine yng optimum.

1. Jelaskan dan diskusikan kepada klien dan keluarga tentang masalah yang dihadapi oleh lansia.

1. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang masalah kesehatan yang dihadapi lansia.

2. Anjurkan kepada klien dan keluarga untuk selalu mengganti pakaian lansia apabila sudah basah.

2. Pakaian

basah

dapat

mengiritasi

 

kulit lansia.

Kriteria Hasil :

3. Ajarkan teknik memperkuat sfingter dan struktur pendukung kandung kemih

3. memperkuat

Untuk

otot

perkemihan lansia.

Tidak terjadi inkontinensia

(misalnya latihan otot pelvis, latihan menghentikan dan memulai lagi

 

Klien dapat menahan

berkemih).

BAK dalam waktu yang normal.

4. Jelaskan kepada lansia bahwa hal itu mungkin membutuhkan latihan selama beberapa minggu untuk mencapai peningkatan.

4. Agar lansia lebih berkomitmen dalam melakukan latihan selama beberapa minggu.

 

5. Batasi pemasukan zat yang mengandung cola, kopi, teh, dan coklat).

5. Dapat mengiritasi kandung kemih.

3.

Hambatan mobilitas fisik b/d Pecahnya dinding pembuluh

darah

otak,

Tujuan :

1. Kaji kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan di rumah

1. Untuk meminimalkan masalah yang mungkin akan dihadapi klien.

Mobilitas fisik dapat terpenuhi

2. Meningkatkan pengetahuan lansia dan keluarga akan kondisi kesehatannya.

perubahan permeabilitas dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri, gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak d/d keterbatasan untuk bergerak bebas, keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar (makan), penurunan aktivitas, kekuatan

Kriteria Hasil:

2. Kaji kebutuhan akan pendidikan kesehatan dan diskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh lansia.

Melakukan aktivitas secara mandiri sesuai dengan kemampuan

Meminta bantuan untuk aktivitas yang diluar kemampuan.

3. Jelaskan

manfaat

ROM pada keluarga

3. Untuk

mempertahankan

atau

dan klien serta ajarkan kepada keluarga

meningkatkan

kekuatan

dan

dan klien gerakan latihan ROM.

 

ketahanan otot.

4. Motivasi keluarga untuk selalu membantu dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

4. Agar hasil yang diperoleh dari latihan ROM lebih maksimal.

 

5. Anjurkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan klien yang tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh lansia.

5. Agar pemenuhan kebutuhan lansia tetap terpenuhi.

6. Ajarkan teknk ambulasi dan perpindahan yang aman

6. Untuk mencegah cedera/jatuh pada lansia.

7. Berikan lingkungan di dalam

maupun di

7. Mencegah terjadi jatuh pada lansia

luar rumah yang aman bagi lansia.

 

otot lengan dan kaki bernilai 4 (empat), melambatnya pergerakan

 

8. Dorong

klien

untuk

mempertahankan

8.

Memaksimalkan sendi

postur tegak

 

4.

Resiko tinggi cedera

Tujuan :

1. Kaji kemampuan klien secara fungsional dan kaji TTV klien.

1. Mengidentifikasi

kekuatan

dan

b/d

pernah

Tidak terjadi cedera/ cedera dapat dihindari.

kelemahan

mengalami stroke

2. Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dan lansia tentang cedera pada lansia dan diskusikan kepada keluarga dan klien tentang hal-hal yang dapat menyebabkan cedera pada lansia.

2. Untuk

menghindari

terjadinya

ringan akibat

 

trauma fisik

pecahnya dinding

Kriteria Hasil :

pembuluh darah

otak, perubahan

TTV normal

3. Anjurkan kepada keluarga untuk

3. Meminimalkan resiko jatuh

permeabilitas

Resiko cedera diminimalkan

menciptakan penerangan yang aman, khususnya di kamar mandi

dinding pembuluh

Lansia dapat mendemonstrasikan teknik-teknik dalam menghindari cedera/jatuh.

darah dan perubahan

4. Pastikan bahwa lantai kamar mandi dalam tidak licin dan lantai kamar mandi luar tidak basah/becek. Ganti alas kaki apabila sudah sangat basah.

4. Pengawasan terhadap lansia lebih ditingkatkan.

viskositas maupun

kualitas darah

sendiri, gangguan

 

5. Berikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan diet untuk penderita hipertensi. Diskusi bersama klien dan keluarga tentang bahaya hipertensi.

5. Agar keluarga memahami kondisi

fungsi otak yang

klien dan bahaya dari penyakit kronik yang dialami.

disebabkan oleh

gangguan aliran

6. Anjurkan

kelurga

untuk selalu

6.

Mengurangi

resiko

jatuh

pada

darah ke bagian otak

mengawasi klien ketika berjalan (khusunya ketika terbangun di malam hari untuk BAK).

lansia.

d/d kekuatan otot

 

lengan dan kaki

7. Anjurkan kepada lansia untuk selalu berpegangan pada benda atau sesuatu yang bisa dipegang ketika berjalan. Dan tidak melakukan aktivitas apabila kepala pusing atau sedang tidak bertenaga

7. Meminimalkan jatuh pada lansia.

resiko

terjadinya

bernilai

4,

keterbatasan dalam

 

ruang gerak, klien

sering pusing dan

 

nyeri kepala karena

hipertensi

Implementasi Keperawatan dan Evaluasi

 

Diagnosa

     

NO

Keperawatan

Waktu

Implementasi Keperawatan

 

Evaluasi

1.

Gangguan

 

rasa

Kamis,

1. Mengkaji keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan

S :

nyaman

:

nyeri

 

21 Juni

-

Klien dan keluarga mengatakan bahwa mereka mengerti mengenai rematik, tanda dan gejala, dan cara penanggulangannya.

b/d proses menua,

menurunnya cairan synovial

2012

intensitas skala (0-10), mencatat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa sakit non - verbal.

Hasil pengkajian nyeri :

lokasi nyeri di sekitar sendi-sendi lengan maupun kaki dan daerah pinggang

skala nyeri 6

kadar

kalsium

-

Klien mengatakan bahwa kompres air panas membuat sendi-sendinya lebih nyaman.

Klien mengatakan bahwa Ia bersedia untuk mengikuti saran dari perawat yakni mandi dengan air hangat.

pada

tulang dan

estrogen

 

dan

wajah klien meringis

peningkatan asam

klien mengurut-urut sendi-sendi kakinya

-

urat

d/d

skala

yang memperberat nyeri yakni cuaca dingin, mandi air dingin, dan banyak beraktivitas.

2. Mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya nyeri sendi pada lansia. Hasil pengkajian faktor-faktor :

nyeri

6,

wajah

meringis, klien

dan

memegangi

O :

mengurut-urut

-

TTV :

kaki

lengannya.

serta

Memakan makanan yang mengandung kacang-kacangan, seperti tahu, tempe, sayur kacang panjang, buncis, dll.

TD 170/90 mmHg

 

HR 79 x/i

Memakan makanan berlemak

RR 24 x/i

Mandi air dingin, cuaca yang dingin.

 

3. Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien

-

Wajah klien tampak tenang

 

dan keluarga tentang penyakit kronis rematik dan diskusikan bersama tentang keluhan dan masalah kesehatan yang dialami klien.

 

-

Skala nyeri berkurang (bernilai 4)

-

Keluarga dan klien mengerti akan rematik dan penanggulangannya.

4. Menganjurkan klien untuk mandi air hangat dan menganjurkan kepada keluarga untuk membantu lansia dalam menyediakan air panas untuk mandian.

5. Melakukan kompres air panas ke sendi-sendi lengan dan kaki maupun pinggang klien serta mengajarkan kepada keluarga tentang teknik penghilang nyeri dengan melakukan kompres panas. Sediakan waslap untuk mengkompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.

6. Mengajarkan pasien cara menghilangkan nyeri punggung melalui tirah baring dengan menggunakan matras yang keras dan tidak menggulung.

 

A

:

Kompres hangat dapat menurunkan nyeri dan membuat otot lebih rileks, skala nyeri berkurang. Masalah teratasi sebagian.

 

P

:

Intervensi dilanjutkan dengan melakukan kompres hangat untuk menurunkan nyeri.

Sabtu,

1. Mengkaji keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan intensitas skala (0-10), catat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa sakit non - verbal.

S

:

23 Juni

-

Klien dan keluarga mengatakan bahwa mereka mengerti akan diet untuk penderita rematik.

2012

Hasil pengkajian nyeri :

 

Skala nyeri 4

-

Klien mengatakan bahwa dengan dilakukannnya masase, sendi-sendinya terasa enak dan nyeri berkurang.

Nyeri di sendi lengan dan kaki

Nyeri di pinggang tidak ada lagi.

Wajah klien tampak lebih tenang

-

Keluarga mengatakan akan merencanakan diet khusus untuk lansia dan membedakan menu harian lansia dengan anggota keluarga yang lain.

Keluarga mengatakan akan melakukan

2. Melakukan masase pada ekstremitas atas dan bawah. Mengajarkan kepada keluarga teknik masase dan menjelaskan manfaatnya.

-

3. Memotivasi dan mendorong keluarga untuk melakukan penggunaan teknik masase

4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang diet bagi pasien rematik kepada keluarga dan klien dan mendiskusikannya bersama.

5. Menganjurkan klien untuk rutin mengkonsumsi obat dari dokter. Mengajarkan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan klien untuk minum obat dan selalu mengawasi klien dalam mengkonsumsi obat.

O :

teknik masase dan selalu mengingatkan lansia untuk minum obat secara teratur.

-

TTV :

TD 180/90 mmHg

HR 80 x/i

6. Menganjurkan kepada keluarga untuk membawa lansia ke tempat pelayanan kesehatan terdekat guna memeriksakan kondisi kesehatan lansia secara teratur.

RR 21 x/i

-

Skala nyeri berkurang (bernilai 3)

 

-

Wajah klien tampak santai

-

Keluarga dan klien mengerti akan pendidikan kesehatan tentang diet khusus bagi penderita rematik.

A :

Masalah teratasi sebagian, yang ditandai dengan

       

menurunnya nyeri.

 

P

:

Intervensi

dilanjutkan

dengan

melakukan

masase pada daerah sendi-sendi.

2.

Gangguan

pola

Kamis,

1. Menjelaskan dan mendiskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah yang dihadapi oleh lansia.

S

:

eliminasi

:

 

Inkontinensia Urine b/d proses menua,

21 Juni

 

-

Klien mengatakan mengerti akan masalah yang terjadi dan bersedia untuk melakukan latihan untuk memperkuat otot perkemihan.

2012

2. Menganjurkan kepada klien dan keluarga untuk selalu mengganti pakaian lansia apabila sudah basah.

 

penurunan

fungsi

3. Mengajarkan teknik memperkuat sfingter dan struktur pendukung kandung kemih (misalnya latihan otot pelvis, latihan menghentikan dan memulai lagi berkemih).

 

-

Klien mengatakan bahwa Ia dapat melakukan gerakan tersebut, dan akan melakukannya selama beberapa minggu kedepan.

kerja

persyarafan

 

yang

mengatur

sistem

4. Menjelaskan kepada lansia bahwa hal itu mungkin membutuhkan latihan selama beberapa minggu untuk mencapai peningkatan.

 

-

Keluarga mengatakan mengerti akan masalah kesehatan lansia dan keluarga mau untuk memotivasi lansia untuk melakukan latihan otot sfingter.

perkemihan,

 

hiperrefleksi

destrusor

d/d

nokturia,

 

keluarnya

urine

 

sebelum

O :

 

mencapai

kamar

   

- TTV :

mandi,

dan

TD 170/90 mmHg

urgensi.

HR 79 x/i

RR 24 x/i

- Klien dapat menjelaskan kembali cara- cara melatih otot sfingter dengan baik dan mau melakukan latihan tersebut.

A: Masalah teratasi sebagian.

P: Intervensi dilanjutkan.

 

Sabtu,

1. Mendiskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah yang dihadapi oleh lansia dan kemajuan latihan yang telah dilakukan oleh

S :

23 Juni

-

Klien mengatakan telah melakukan latihan tersebut, tetapi belum ada perubahan.

2012

klien.

2. Mengajarkan teknik memperkuat sfingter dan struktur pendukung kandung kemih (misalnya latihan otot pelvis, latihan menghentikan dan memulai lagi berkemih).

3. Menjelaskan kepada lansia bahwa hal itu

-

Klien mengatakan akan mengurangi konsumsi makanan yang dilarang.

-

Keluarga mengatakan bahwa mereka akan selalu mengingatkan lansia untuk tidak mengkonsumsi makanan yang dilarang.

mungkin membutuhkan latihan selama beberapa minggu untuk mencapai peningkatan. 4. Menganjurkan kepada lansia untuk membatasi pemasukan zat yang mengandung cola, kopi, teh, dan coklat). 5. Menganjurkan kepada keluarga untuk tidak

menyediakan makanan yang dilarang untuk dikonsumsi oleh klien.

O :

- TTV :

TD 180/90 mmHg

HR 80 x/i

RR 21 x/i

- Klien mau mengikuti saran perawat untuk menjauhi makanan yang dilarang dan tetap melakukan latihan sfingter otot.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Intervensi dilanjutkan.

3.

Hambatan

 

Selasa,

1. Mengkaji kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan di rumah. (klien tidak memerlukan alat bantu khusus untuk

S :

mobilitas fisik b/d Pecahnya dinding

26 Juni

2012

-

Klien mengatakan bahwa Ia tidak bisa bergerak bebas karena kelemahan pada kaki dan lengannya.

Klien mengatakan akan melakukan ROM untuk mengembalikan kekuatan lengan dan tangannya seperti semula.

pembuluh

darah

berpindah/berjalan, klien masih bisa melakukan mobilisasi tanpa harus menggunakan alat bantu).

otak,

perubahan

-

permeabilitas dinding pembuluh

2. Mengkaji kebutuhan akan pendidikan kesehatan dan diskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh lansia. (klien perlu untuk meningkatkan kekuatan otot lengan dan kaki sebelah kiri dengan melakukan ROM, agar kekuatan otot maksimal sehingga lansia dapat beraktivitas secara mandiri).

darah

dan

-

Keluarga klien mengatakan akan selalu memotivasi dan membantu lansia untuk melakukan ROM

perubahan

viskositas

maupun

kualitas

 

darah

sendiri,

gangguan

fungsi

otak

yang

3. Menjelaskan manfaat ROM pada keluarga dan klien serta mengajarkan kepada keluarga dan klien gerakan latihan ROM.

disebabkan

oleh

O :

gangguan

aliran

darah

ke

bagian

4. Memotivasi keluarga untuk selalu membantu dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

5. Mengingatkan lansia untuk selalu melakukan latihan gerakan ROM sesering mungkin tiap hari dan lansia harus tetap berhati-hati dalam melakukan gerakan. Agar tidak terjadi cedera pada lansia.

-

TTV :

otak

d/d

TD 180/90 mmHg

keterbatasan

HR 82 x/i

untuk

bergerak

 

bebas,

 

RR 22 x/i

keterbatasan

   

kemampuan

-

Klien antusias dalam melatih gerakan ROM, dan berkomitmen untuk melakukan gerakan tersebut. Keluarga

untuk

melakukan

 

keterampilan

       

juga mengerti akan gerakan dan mau untuk membantu lansia dalam melakukan gerakan tersebut.

motorik

kasar

(makan),

penurunan

 

aktivitas,

A

:

kekuatan

otot

 

lengan

dan

kaki

Masalah teratasi sebagian.

 

bernilai

4

 

(empat),

melambatnya

 

P

:

pergerakan.

 
 

Intervensi dilanjutkan.

 
 

Jumat,

1. Mengkaji perkembangan latihan gerakan ROM yang telah dilakukan klien selama beberapa hari ini.

S

:

29 Juni

-

Klien

mengatakan

bahwa

Ia

melatih

2. Memotivasi keluarga untuk selalu membantu

lengan

dan

kakinya

setiap

hari

dan

Ia

2012

dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

 

merasakan lengan dan kakinya terasa lebih ringan dan nyaman.

3. Menganjurkan kepada keluarga untuk memenuhi kebutuhan klien yang tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh lansia.

-

Klien megatakan bahwa Ia mengerti akan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman.

4. Mengajarkan teknk ambulasi dan perpindahan yang aman.

-

Keluarga mengatakan bahwa mereka selalu membantu lansia untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh lansia.

5. Memberikan lingkungan di dalam maupun di luar rumah yang aman bagi lansia.

6. Mendorong klien untuk mempertahankan postur tegak

 

O

:

-

TTV :

TD 170/90 mmHg

HR 81 x/i

RR 22 x/i

-

Klien merasa lengan dan kakinya nyaman dan ringan, kekuatan otot otot klien sedikit bertambah, tetapi belum maksimal.

A

: Masalah teratasi sebagian

       

P : Intervensi dilanjutkan.

4.

Resiko tinggi cedera b/d pernah mengalami stroke ringan akibat pecahnya dinding pembuluh darah otak, perubahan permeabilitas dinding pembuluh

Jumat,

1.

Mengkaji kemampuan klien secara fungsional (klien masih dapat melakukan beberapa kegiatan secara mandiri, tetapi klien membutuhkan

S :

22 Juni

-

Klien mengatakan akan lebih berhati-hati ketika berjalan dan beraktivitas.

2012

keluarga untuk selalu membantu memenuhi kebutuhan dan mengawasi lansia).

2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dan lansia tentang cedera pada lansia dan mendiskusikan kepada keluarga dan klien tentang hal-hal yang dapat menyebabkan cedera pada lansia. 3. Menganjurkan kepada keluarga untuk menciptakan penerangan yang aman, khususnya di kamar mandi 4. Memastikan bahwa lantai kamar mandi dalam tidak licin dan lantai kamar mandi luar tidak basah/becek. Mengganti alas kaki apabila sudah sangat basah. 5. Memberikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan diet untuk penderita hipertensi. Mendiskusikan bersama klien dan keluarga tentang bahaya hipertensi.

-

O :

Keluarga mengatakan bahwa mereka akan selalu menjaga kondisi rumah, khususnya penerangan agar adekuat dan lantai agar tidak licin.

darah

dan

 

perubahan viskositas maupun kualitas darah sendiri, gangguan fungsi otak

yang

-

TTV :

TD 180/90 mmHg

HR 80 x/i

RR 23 x/i

 

disebabkan oleh gangguan aliran darah ke bagian otak d/d kekuatan

-

Klien masih merasakan pusing dan sakit kepala.

-

Klien dan keluarga mendengarkan penyuluhan dengan antusias dan bersedia

otot

lengan

dan

 

6. Menganjurkan kepada lansia untuk selalu berpegangan pada benda atau sesuatu yang bisa dipegang ketika berjalan. Dan tidak melakukan

 

untuk melakukan hal-hal yang dapat mencegah kejadian cedera/jatuh pada lansia.

kaki

bernilai

4,

keterbatasan

   

-

Klien bersedia untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan tekanan darah.

dalam

ruang

gerak.

aktivitas apabila kepala pusing atau sedang tidak bertenaga

A

: Masalah teratasi sebagian.

P

: Intervensi dilanjutkan.

 

Senin,

1. Mengkaji kembali pengetahuan keluarga tentang pencegahan terjadinya cedera/jatuh pada lansia.

S

:

25 Juni

2. Mengobservasi dan mengevaluasi tentang penerangan rumah, khususnya kamar mandi.

-

Klien mengatakan bahwa Ia selalu berhati-hati ketika berjalan.

2012

Menganjurkan agar penerangan adekuat. (kondisi penerangan rumah dan kamar mandi adekuat, tidak terlalu terang dan tidak terlalu remang).

-

Keluarga mengatakan bahwa mereka selalu mengawasi lansia ketika berjalan.

3. Memastikan bahwa lantai kamar mandi dalam tidak licin dan lantai kamar mandi luar tidak basah/becek. Ganti alas kaki apabila sudah sangat basah. Memotivasi keluarga untuk selalu menjaga lantai tetap kering dan tidak licin.

 

(kondisi lantai rumah dan kamar mandi bersih dan tidak licin).

4. Menganjurkan kelurga untuk selalu mengawasi klien ketika berjalan (khusunya ketika terbangun di malam hari untuk BAK). 5. Menganjurkan kepada lansia untuk selalu berpegangan pada benda atau sesuatu yang bisa dipegang ketika berjalan. Dan tidak melakukan aktivitas apabila kepala pusing atau sedang tidak bertenaga

O :

 
 

-

TTV :

TD 180/90 mmHg

 

HR 82 x/i

RR 22 x/i

 

- Klien lebih berhati-hati dalam beraktivitas, kondisi penerangan rumah dan kamar mandi adekuat, kondisi lantai bersih dan tidak licin.

 

A

:

Masalah teratasi sebagian.

P

:

Intervensi dilanjutkan.

Ringkasan Terminasi Saat terminasi, Nenek N mengatakan merasa lebih nyaman setelah melakukan anjuran perawat. Setelah melakukan latihan gerakan ROM, kekuatan otot lansia sedikit meningkat, walaupun belum maksimal. Untuk mengurangi nyeri, Nenek N juga telah menerapkan cara-cara yang telah diajarkan oleh perawat, yakni diantaranya kompres dengan air hangat dan masase. Dalam mengatasi inkontinensia, Nenek juga tetap melakukan latihan otot sfingter, tetapi masih belum menampakkan hasil. Saat menerapkan cara-cara perawatan tersebut, klien dibantu oleh keluarganya. Keluarga mengerti saat-saat dimana kondisi kesehatan lansia sedang tidak baik, karena keluarga telah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala suatu penyakit. Keluarga juga mengatakan bahwa mereka akan secara rutin memeriksakan kesehatan lansia, karena mereka takut jika sewaktu- waktu lansia terserang stroke kembali. Keluarga telah memahami betapa tingginya resiko cedera/jatuh pada lansia. Oleh sebab itu, keluarga telah memodifikasi kondisi rumah, dan selalu mengawasi lansia ketika berjalan dan beraktivitas.

2.

Pengkajian Lansia II

I.

Identitas

a.

Inisial kepala keluarga

: Nenek Y

b.

Usia

: 80 tahun

c.

Tempat/Tanggal Lahir

: Jateng/ 11 November 1930

 

d.

Pendidikan

:

Tidak

 

Sekolah

e.

Agama

: Islam

f.

Suku

: Aceh

g.

Alamat

: Jln. Eka Dame Lingk. V Kelurahan Gedung Johor Medan

h.

Tipe Keluarga

: Keluarga dengan tiga generasi (Extended Family)

Genogram

V Kelurahan Gedung Johor Medan h. Tipe Keluarga : Keluarga dengan tiga generasi ( Extended Family

Ket :

: Perempuan

: Perempuan

: Laki-Laki

: Laki-Laki

: Klien

: Klien

: Meninggal (Perempuan)

: Meninggal (Perempuan)

: Meninggal (Laki-Laki)

: Meninggal (Laki-Laki)

: Tinggal Serumah

II. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien tidak memiliki riwayat penyakit keturunan. Penyakit yang sering dialami oleh klien adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan cuaca seperti batuk, pilek, demam.

III. Riwayat Kesehatan Saat Ini

Saat ini Nenek Y mengeluhkan nyeri di kepala dan pinggangnya. Nenek Y sejak dulu mengalami hipertensi dan nyeri rematik. Nenek Y sering merasa nyeri

dan kebas/kesemutan di ekstremitas atas maupun bawah dan nyeri di daerah pinggang. Nenek tidak tahan untuk berdiri atau duduk dalam waktu yang lama, biasanya apabila nyeri mulai timbul, nenek segera berbaring. Nenek mengalami hipertensi. Nenek sering mengalami pusing dan sakit kepala. Nenek juga mengeluhkan kekuatan ekstremitas atas maupun bawah menurun. Lengan nenek selalu bergetar dan kakinya tidak tahan lagi untuk jalan jauh.

IV. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Sejak dulu, Nenek S mengalami hipertensi dan rematik. Apabila nyeri rematik Nenek Y kambuh, anak nenek akan membeli obat rematik ke apotik. Nenek Y juga mengatakan apabila tekanan darah nenek sedang naik, nenek akan

merasakan tengkuknya berat dan kepalanya pusing. Nenek biasanya berobat ke puskesmas di dekat rumahnya.

V. Riwayat sehari-hari

a. Persepsi lansia terhadap sehat sakit Sehat adalah suatu keadaan dimana badan terasa nyaman, tidak merasa pening dan dapat melakukan aktivitas. Sedangkan sakit adalah saat beliau tidak dapat berbuat apa-apa dan terasa nyeri.

b. Kebiasaan Setiap pagi nenek terbangun ketika cucunya mau mandi untuk bersiap- siap ke sekolah, selesai nenek mandi dan sarapan, nenek menyapu halaman depan rumah. Setelah itu, nenek akan duduk-duduk di teras rumah sambil berbincang-bincang dengan Nenek P yang ada di sebelah rumah.

c. Pola nutrisi Klien mengatakan biasanya sarapan pada pukul 08.00 WIB, sarapan lontong atau bubur, siang hari makan nasi antara pukul 12.00-13.00 WIB, sedangkan pada malam hari terkadang lansia makan nasi atau makan roti pada pukul 20.00 WIB. Di malam hari nenek biasanya tidak selera makanNenek Y tidak suka makan sayur dan ikan, karena nenek takut termakan duri ikan. Biasanya nenek mengkonsumsi tempe dan tahu dalam potongan kecil.

d. Pola istirahat dan tidur Nenek biasanya istirahat di siang hari pada pukul 14.00-15.00 WIB, hanya tidur-tiduran saja. Sekedar untuk meluruskan pinggang dan merilekskan badan. Disiang hari nenek tidak pernah tertidur pulas. Di malam hari biasanya nenek naik ke tempat tidur pukul 21.00 WIB, dan benar-benar tertidur biasanya dua jam kemudian yakni pukul 23.00 WIB. Nenek bangun dipagi hari pada pukul 06.30 WIB, bersamaan dengan terbangunnya cucu Nenek Y untuk mandi. Masalah tidur yang dirasakan oleh klien yakni hanya pada waktu memulai tidur, biasanya diperlukan waktu sekitar 2 jam agar tertidur nyenyak. Tiap malam klien selalu terbangun 2-4 kali untuk BAK.

e. Pola eliminasi Klien mengatakan BAK lancar, sesuai dengan jumlah cairan yang diminum yaitu 8-9 x/hari. Klien mengatakan tidak bisa menahan lebih lama lagi hasrat untuk BAK, ketika ada keinginan untuk BAK, maka harus segera dikeluarkan. Ini yang menyebabkan nenek sering terbangun dimalam hari untuk BAK. Kebiasaan BAB tidak teratur, biasanya klien BAB sekali dalam 2-3 hari dan biasanya konsistensi BAB nenek Y keras.

f. Kebiasaan olahraga Nenek Y jarang berolah raga di pagi hari. Tetapi terkadang nenek jalan-jalan pagi didepan rumah. Nenek mengatakan bahwa badannya lemah dan mudah lelah, jadi nenek jarang berolahraga dan jalan yang jaraknya jauh dari rumahnya. Kaki nenek tidak dapat lagi berjalan jauh, itu sebabnya nenek mengurangi aktivitasnya termasuk olahraga.

g. Kemampuan melakukan aktivitas Biasanya di pagi hari setelah selesai mandi dan sarapan, nenek menyapu halaman depan rumah, tetapi untuk pekerjaan rumah yang lain, nenek sudah tidak mampu. Nenek hanya mampu untuk merawat dirinya sendiri misalnya mandi, berpakaian, BAB dan BAK serta makan, walaupun nasi yang akan dimakan disediakan terlebih dahulu oleh anak klien.

h. Rekreasi Nenek Y sudah jarang melakukan rekreasi karena keterbatasan kekuatan dan aktivitas nenek. Biasanya anak-anak nenek yang akan datang ke rumah untuk mengunjungi nenek. Di rumah biasanya rekreasi nenek hanyalah menonton tv.

VI. Riwayat psikologi Nenek Y tidak merasa stress dalam menjalani kehidupan beliau walaupun harus menjalani pengobatan secara teratur akibat penyakit hipertensi dan

rematik yang dialaminya. Bagi beliau penyakit harus tetap dilawan dengan semangat dan tabah. Nenek juga merasa senang karena diperhatikan oleh anak-anak beliau dan masih dapat mengurus dirinya sendiri walaupun dengan bantuan.

VII. Riwayat sosial Klien sudah lama tinggal di daerah Lingkungan V jalan Eka dame dan memiliki hubungan yang baik dengan tetangga lingkungan sekitar. Walaupun nenek jarang mendatangi rumah tetangga untuk bersosialisasi, tetapi nenek selalu menyapa tetangganya yang melewati depan rumahnya. Nenek tidak bisa lagi datang ke rumah tetangga karena mengalami kelemahan dan keletihan. Nenek hanya dapat berbincang-bincang dengan lansia yang tinggal disebelah rumahnya.

VIII. Riwayat spiritual dan kultural Klien tidak pernah lupa untuk sholat lima waktu karena klien mengatakan merasa bahwa kehidupan ini adalah berkat dari Tuhan. Dalam adat Jawa beliau juga selalu memegang erat nilai dan norma sesuai budaya beliau yaitu untuk selalu ramah pada setiap orang. Tetapi belakangan ini klien sudah jarang mengikuti pewiridan karena tidak sanggup jalan jauh. Dan biasanya klien sholat di rumah saja.

IX. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum Klien terlihat ramah, rapi, dan bersih, tercermin dari caranya berpakaian. Jari-jari klien tampak tremor. Klien berjalan dengan pelan dan hati-hati.

b. Tanda-tanda vital TD = 170/100 mmHg, HR = 86x/i, RR = 23x/i, T = afebris

c. Kepala Bentuk kepala klien normal dan anatomis, tidak ada pembengkakan/benjolan, tidak ada lesi ataupun kelainan pada kepala,

kulit kepala bersih, penyebaran rambut merata, rambut mulai menipis dan warna rambut putih.

d. Mata Letak mata simetris kanan dan kiri, tidak dijumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, pupil isokor ka/ki 3mm, refleks cahaya (+), edema (-), mata cekung, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat.

e. Telinga Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

f. Hidung Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

g. Mulut/Tenggorokan Mulut bersih, tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah mulai berkurang jumlahnya, tidak ada tanda-tanda pembesaran uvula.

h. Sistem pernafasan Klien tidak ada gangguan pernafasan seperti sesak nafas, (-) pernapasan cuping hidung, suara pernapasan vesikuler dengan frekuensi 23x/i, ronchi (-), wheezing (-).

i. Sistem kardiovaskular Frekuensi nadi 86x/i, irama reguler dan tetap, irama jantung sama dengan radialis, bunyi jantung S1 dan S2 normal, Gallop (-), Murmur (-), dan CRT < 2 detik.

j. Abdomen Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+). Pencernaan baik, klien tidak ada mengeluhkan tentang maag sejak dulu.

k. Sistem gastrointestinal Klien tidak ada gangguan gastrointestinal (pencernaan) seperti diare.

l. Sistem genitourinari Klien mengatakan tidak ada gangguan genitourinari (perkemihan).

m. Sistem muskuloskeletal Klien mengatakan merasa sehat dan nyaman walaupun 3 bulan yang lalu pernah merasakan nyeri pada kaki beliau. Klien mengalami kelemahan otot baik pada otot lengan ka/ki bernilai 4. Klien agak membungkuk sewaktu berjalan, tidak ada pembengkakan sendi, edema dan fraktur.

n. Sistem neurologi Keadaan status mental klien baik dan emosi stabil. Klien berbicara dengan normal dan jelas. Klien tidak ada gangguan neurologi. Hanya sistem persyarafan yang mengatur fungsi motorik untuk ekstremitas atas sudah mulai mengalami penurunan fungsi yang dapat dilihat dari tangan klien selalu tremor.

X. Pemeriksaan penunjang

-

XI. Riwayat terapi Klien mengkonsumsi obat-obatan untuk penyakit rematik dan hipertensi secara teratur dari dokter yang ada di puskesmas, maupun obat yang dibeli sendiri dari apotik.

XII. Hasil Pengkajian Keluarga Nenek Y

Berdasarkan hasil pengkajian dengan kuesioner tentang kemampuan keluarga dalam merawat lansia dengan penyakit kronik hasilnya yakni “Perawatan

Cukup”. Dalam hal mengenal masalah kesehatan pada lansia, keluarga merasakan adanya masalah pada kesehatan lansia. Kekurangan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan yakni keluarga tidak mengetahui perubahan-perubahan kesehatan pada lansia, keluarga tidak mengetahui kebutuhan lansia untuk mendukung kesehatannya, dan keluarga juga tidak memeriksakan kesehatan

lansia secara teratur. Dalam hal membuat keputusan kesehatan yang tepat, hal ini dapat dilakukan dengan baik oleh keluarga. Keluarga berdiskusi bersama dalam menentukan tempat pengobatan lansia. Keluarga tidak menyerah dalam menghadapi masalah kesehatan yang dihadapi lansia. Dalam memberikan perawatan kepada lansia yang sakit, ketika lansia mengalami nyeri kepala, keluarga melakukan masase di daerah kepala. Keluarga dan klien tidak tahu bagaimana cara untuk mengurangi nyeri di sendi-sendi dan keluarga juga jarang untuk memotivasi lansia dalam hal berolahraga karena menurut keluarga berbahaya bagi lansia untuk melakukan olahraga karena tremor (penurunan kekuatan) yang dialami oleh lansia. Biasanya keluarga membedakan makanan untuk lansia dan untuk anggota keluarga yang lain. Makanan yang disajikan kepada lansia tidak terlalu mengandung banyak garam. Keluarga selalu mengingatkan lansia untuk merawat diri dan kebersihan dirinya dan keluarga membantu apabila lansia tidak dapat melakukannya secara mandiri. Apabila lansia sedang sakit, keluarga menyarankan untuk beristirahat dan meminum obat. Dalam hal memodifikasi lingkungan rumah, keluarga sudah melakukan hal yang cukup baik diantaranya selalu memantau apakah lantai licin maupun basah dan membersihkannya apabila lantai tersebut licin maupun basah. Keluarga selalu memantau kondisi penerangan rumah, khususnya di kamar mandi. Tetapi keluarga kurang menata barang-barang dengan lebih rapi sehingga memungkinkan lansia untuk menggapai maupun membungkuk ketika akan mengambil sesuatu. Keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada yakni puskesmas yang berada di dekat rumah. Keluarga percaya akan kinerja petugas tenaga kesehatan. Tetapi ketika keluarga sudah mengenal apa-apa saja obat yang biasa digunakan ketika lansia berobat, maka untuk selanjutnya keluarga membeli sendiri obat tersebut ke apotik tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter yang ada di puskesmas. Perawatan keluarga dinilai “Cukup” dalam merawat lansia. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam merawat lansia, perlu diberikan pendidikan kesehatan baik kepada keluarga maupun klien. Dalam hal mengenal masalah kesehatan lansia keluarga tidak mengetahui perubahan-perubahan kesehatan pada lansia, keluarga tidak mengetahui kebutuhan lansia untuk

mendukung kesehatannya, dan keluarga juga tidak memeriksakan kesehatan lansia secara teratur. Perlu diberikan pendidikan kesehatan terkait dengan hal tersebut. Dalam merawat lansia yang sedang sakit, keluarga belum memiliki pengetahuan yang cukup. Perlu diberikan penyuluhan tentang penyakit yang dialami lansia dan bagaimana cara-cara perawatan yang tepat. Keluarga sudah cukup menerapkan cara-cara dalam mencegah terjadinya cedera/jatuh pada lansia, tetapi belum maksimal. Oleh karena itu perlu diberikan pendidikan kesehatan tentang cara-cara meminimalkan resiko terjadinya cedera/jatuh pada lansia. Dalam hal pemanfaatan fasilitas kesehatan, keluarga membawa lansia ke puskesmas ketika penyakit kronis lansia sedang kambuh. Tetapi keluarga terkadang membeli obat ke apotik tanpa resep dokter. Ini merupakan tindakan yang tidak baik bagi kesehatan lansia. Perlu diberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar selalu berkonsultasi dengan dokter dan membeli obat dengan resep dokter.

Analisa Data

NO

Data

Analisa Data

Masalah

1.

DS :

Perubahan yang berhubungan dengan proses penuaan

Perubahan yang berhubungan dengan proses penuaan

Gangguan rasa nyaman : nyeri

- Klien mengeluhkan nyeri di daerah pinggang, setiap sendi-sendi kaki maupun tangan.

- Klien mengatakan nyeri bertambah apabila klien duduk dan berdiri dalam waktu yang lama dan banyak beraktivitas.

Perubahan perfusi/ aliran darah ke jaringan dan ektremitas berkurang

 
aliran darah ke jaringan dan ektremitas berkurang   DO : - Tampak lansia sedang memegangi kakinya

DO :

- Tampak lansia sedang memegangi kakinya dan wajahnya meringis.

Kurang /tidak lancarnya peredaran darah

- Skala nyeri 4.

Kurang /tidak lancarnya peredaran darah - Skala nyeri 4. Kurangnya cairan sinovial di sendi Nyeri 2.

Kurangnya cairan sinovial di sendi

darah - Skala nyeri 4. Kurangnya cairan sinovial di sendi Nyeri 2. DS : Proses menua

Nyeri

2.

DS :

Proses menua

Resiko tinggi

cedera

cedera

 

Klien mengatakan bahwa kaki dan tangannya lemah, lengannya selalu bergetar, dan klien mengatakan tidak sanggup jalan jauh.

Penebalan pembuluh darah, perubahan sirkulasi darah, nutrisi kurang

Penebalan pembuluh darah, perubahan sirkulasi darah, nutrisi kurang
 

DO :

Penurunan aliran darah ke sel terutama otak

- TTV TD 170/100 mmHg

- TTV TD 170/100 mmHg

HR 86 x/i

Ketidakseimbangan nutrisi dan suplai O 2

RR 23 x/i

- Klien berjalan lambat

- Klien berjalan lambat

- Kekuatan otot lengan ka/ki

Kekuatan otot menurun

bernilai 4 dan kaki tidak tahan lagi berdiri dalam waktu yang lalu.

Resiko tinggi cedera

Resiko tinggi cedera

3.

DS :

Proses menua

Hambatan

Mobilitas Fisik

Mobilitas Fisik

Klien mengatakan bahwa Ia sudah sulit untuk bergerak bebas, terkadang aktivitas sehari-hari dibantu oleh anaknya. Apabila ingin makan, anak nenek akan menyediakan nasinya dan nenek tinggal makan.

Penebalan pembuluh darah, perubahan sirkulasi darah, nutrisi kurang

Penebalan pembuluh darah, perubahan sirkulasi darah, nutrisi kurang

Penurunan aliran darah ke sel terutama otak

Penurunan aliran darah ke sel terutama otak Ketidakseimbangan nutrisi dan suplai O 2 Kekuatan dan massa

Ketidakseimbangan nutrisi dan

suplai O 2
suplai
O 2

Kekuatan dan massa otot menurun

nutrisi dan suplai O 2 Kekuatan dan massa otot menurun Hambatan mobilitas fisik DO : -

Hambatan mobilitas fisik

DO :

- Kesulitan bergerak

- Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar (makan)

- Penurunan aktivitas

- Kekuatan otot lengan bernilai 4 (Tremor)

- Melambatnya pergerakan

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d proses menua, menurunnya cairan

synovial kadar kalsium pada tulang dan estrogen dan peningkatan asam

urat d/d skala nyeri 4, wajah meringis.

2. Resiko tinggi cedera b/d proses menua, kelemahan, ketidakseimbangan

nutrisi dan O 2

bernilai 4 dan kaki tidak tahan lagi berdiri dalam waktu yang lama.

d/d klien berjalan lambat, kekuatan otot lengan ka/ka

3. Hambatan mobilitas fisik b/d proses menua, kekuatan dan massa otot

menurun d/d kesulitan bergerak, keterbatasan kemampuan untuk

melakukan keterampilan motorik kasar (makan), penurunan aktivitas,

kekuatan otot lengan bernilai 4 (tremor), dan melambatnya pergerakan.

Intervensi Keperawatan

 

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

       

NO

Keperawatan

 

Intervensi

 

Rasional

1.

Gangguan rasa

Tujuan :

1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan intensitas skala (0-10), catat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa sakit non - verbal.

1. Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.

nyaman : nyeri b/d

Nyeri berkurang atau hilang.

proses menua,

menurunnya cairan

 

2. Kaji

faktor-faktor

yang

menyebabkan

2.

Untuk

dapat

meminimalkan

synovial kadar

Kriteria Hasil :

nyeri muncul.

 

faktor-faktor penyebab nyeri.

kalsium pada tulang

3. Berikan pendidikan kesehatan kepada

3. Mengajarkan kepada keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh klien.

dan estrogen d/d

Skala nyeri berkurang

Wajah tampak tenang

klien dan keluarga tentang penyakit kronis rematik dan diskusikan bersama tentang

keluhan dan masalah kesehatan yang dialami klien.

skala nyeri 4, wajah

meringis.

Mendemostra-sikan teknik-teknik menurunkan nyeri dengan baik

4. Anjurkan klien untuk mandi air hangat dan anjurkan kepada keluarga untuk membantu lansia dalam menyediakan air panas untuk

4. Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari.

Berpartisipasi dalam melakukan aktivitas sesuai kemampuan.

mandian.

 

5. Ajarkan kepada keluarga tentang teknik

5.

Kompres

panas

dapat

Dapat beristirahat dan tidur

penghilang nyeri dengan melakukan kompres panas. Sediakan waslap untuk

memperlancar aliran darah dan menurunkan nyeri.

mengkompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.

 

6. Berikan masase lembut. Ajarkan kepada keluarga teknik masase dan jelaskan manfaatnya.

6. Meningkatkan relaksasi otot.

7. Dorong penggunaan teknik masase

7. Memberikan rasa nyaman sehingga dapat mengurangi nyeri.

8. Berikan pendidikan kesehatan tentang diet bagi pasien rematik kepada keluarga dan klien dan diskusikan bersama.

8. Mengendalikan nyeri rematik dari diet sehari-hari.

9. Anjurkan klien untuk rutin mengkonsumsi obat dari dokter. Ajarkan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan klien untuk minum obat dan selalu mengawasi klien dalam mengkonsumsi obat.

9. Sebagai antiimflamasi dan efek analgesik dalam mengurangi nyeri.

10.Anjurkan kepada keluarga untuk membawa lansia ke tempat pelayanan kesehatan terdekat guna memeriksakan kondisi kesehatan lansia secara teratur.

10. Agar kondisi kesehatan lansia

tetap

terjaga

dengan

tindakan

preventif.

 

2.

Resiko tinggi cedera

Tujuan :

1. Kaji kemampuan klien secara fungsional

1. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.

b/d proses menua,

Tidak terjadi cedera/ cedera dapat dihindari.

kelemahan,

2. Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dan lansia tentang cedera pada lansia dan diskusikan kepada keluarga dan klien tentang hal-hal yang dapat menyebabkan cedera pada lansia.

2. Untuk

menghindari

terjadinya

ketidakseimbangan

 

trauma fisik

nutrisi dan O 2 d/d

Kriteria Hasil :

klien berjalan

lambat, kekuatan

Resiko cedera diminimalkan

3. Anjurkan kepada keluarga untuk menciptakan penerangan yang aman,

khususnya di kamar mandi.

3. Meminimalkan resiko jatuh

otot lengan ka/ka

Lansia dapat mendemonstra-sikan teknik-teknik dalam menghindari cedera/jatuh.

bernilai 4 dan kaki

 

tidak tahan lagi

4. Pastikan bahwa lantai kamar mandi dalam tidak licin dan lantai kamar mandi luar tidak basah/becek. Ganti alas kaki apabila sudah sangat basah.

4. Pengawasan

terhadap

lansia

lebih ditingkatkan.

berdiri dalam waktu

yang lama.

 

5. Berikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan diet untuk penderita hipertensi. Diskusi bersama klien dan keluarga tentang bahaya hipertensi.

5. Pusing dan sakit kepala dapat meningkatkan resiko jatuh. Oleh karena itu, hipertensi klien harus ditangani.

6. Anjurkan kelurga untuk selalu mengawasi klien ketika berjalan (khusunya ketika terbangun di malam hari untuk BAK).

6. Mengurangi resiko jatuh pada lansia.

     

7. Anjurkan kepada lansia untuk selalu berpegangan pada benda atau sesuatu yang bisa dipegang ketika berjalan. Dan tidak melakukan aktivitas apabila kepala pusing atau sedang tidak bertenaga

7. Meminimalkan resiko terjadinya jatuh pada lansia.

3.

Hambatan mobilitas

Tujuan :

1. Kaji kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan di rumah.

1. meminimalkan

Untuk

masalah

fisik b/d proses

yang

mungkin

akan

dihadapi

Mobilitas fisik dapat terpenuhi

 

klien.

menua, kekuatan dan

massa otot menurun

 

2. Kaji kebutuhan akan pendidikan kesehatan dan diskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh lansia.

2. Meningkatkan pengetahuan lansia dan keluarga akan kondisi kesehatannya.

d/d kesulitan

Kriteria Hasil:

bergerak,

   

keterbatasan

Melakukan aktivitas secara mandiri sesuai dengan kemampuan

3. Jelaskan manfaat ROM pada keluarga dan klien serta ajarkan kepada keluarga dan klien gerakan latihan ROM.

3. Untuk

mempertahankan

atau

kemampuan untuk

meningkatkan

kekuatan

dan

ketahanan otot.

melakukan

 

keterampilan

Meminta bantuan untuk aktivitas yang diluar kemampuan.

4. Motivasi keluarga untuk selalu membantu dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

4. Agar hasil yang diperoleh dari latihan ROM lebih maksimal.

motorik kasar

(makan), penurunan

 

5. Ajarkan teknk ambulasi dan perpindahan yang aman

5. Untuk

mencegah

cedera/jatuh

aktivitas, kekuatan

otot lengan bernilai

pada lansia.

6. Berikan lingkungan di dalam maupun di luar rumah yang aman bagi lansia.

6. terjadi

Mencegah

jatuh

pada

4 (Tremor), dan

lansia.

melambatnya

7.

Dorong

klien

untuk

mempertahankan

7.

Memaksimalkan sendi

pergerakan.

postur tegak

   

Implementasi Keperawatan & Evaluasi

 

Diagnosa

     

NO

Keperawatan

Waktu

Implementasi Keperawatan

 

Evaluasi

1.

Gangguan rasa nyaman:

Senin,

1. Mengkaji keluhan nyeri, mencatat lokasi nyeri dan intensitas skala (0-10), mencatat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa

S :

nyeri b/d proses menua, menurunnya cairan synovial kadar kalsium pada tulang dan estrogen d/d skala nyeri 4, wajah meringis.

25 Juni

 

- Klien mengatakan mengerti akan penjelasan penyakit kronis tersebut dan bersedia untuk mematuhi aturan-aturan dalam menanggulangi rematik tersebut.

2012

sakit non - verbal. Hasil pengkajian nyeri :

Lokasi di sendi-sendi lengan dan kaki

Nyeri di daerah pinggang

- Klien mengatakan bahwa nyeri di sendi lengan dan kaki maupun pinggangnya berkurang.

- Keluarga klien mengerti akan cara dan manfaat kompres air hangat dan bersedia untuk melakukannya apabila lansia sedang mengalami nyeri.

 

Skala nyeri 4

Nyeri bertambah apabila klien kebanyakan duduk dan berdiri.

2. Mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan nyeri muncul (faktor-faktor yang bisa menyebabkan nyeri muncul yakni dari makanan dan aktivitas, apabila klien kebanyakan duduk maupun beraktivitas, maka nyeri pinggang klien akan kambuh).

O :

- TTV :

3. Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga tentang penyakit kronis rematik dan mendiskusikan bersama tentang

TD 180/100 mmHg

 

keluhan dan masalah kesehatan yang dialami klien.

 

HR 76 x/i

RR 23 x/i

4. Menganjurkan klien untuk mandi air hangat dan menganjurkan kepada keluarga untuk membantu lansia dalam menyediakan air panas untuk mandian.

5. Melakukan kompres hangat pada sendi-sendi lengan dan kaki serta daerah pinggang klien. Mengajarkan kepada keluarga tentang teknik penghilang nyeri dengan melakukan kompres panas. Sediakan waslap untuk mengkompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari.

 

-

Nyeri lansia berkurang (skala 3), klien tampak tenang dan nyaman. Keluarga bersedia untuk melakukan intervensi tersebut pada klien.

A

: Masalah teratasi sebagian

 

P

: Intervensi dilanjutkan.

Rabu,

1. Mengkaji keluhan nyeri, mencatat lokasi nyeri dan intensitas skala (0-10), mencatat faktor yang memperberat tanda-tanda rasa sakit non - verbal.

S

:

26 Juni

 

- Klien mengatakan bahwa Ia telah menerapkan kompres hangat tetapi dengan air yang diisi ke botol.

2012

Hasil pengkajian nyeri :

Lokasi nyeri di sendi-sendi lengan dan kaki serta daerah pinggang.

- Klien mengatakan bahwa dengan dilakukan masase, lengan dan kakinya terasa lebih nyaman dan nyerinya berkurang.

Skala nyeri 3

2. Mengevaluasi tentang pelaksanaan kompres

 

hangat pada daerah sendi-sendi.

3. Melakukan masase pada ekstremitas atas

     

maupun bawah serta daerah pinggang. Mengajarkan kepada keluarga teknik masase dan menjelaskan manfaatnya. 4. Mendorong penggunaan teknik masase kepada klien oleh keluarga. 5. Memberikan pendidikan kesehatan tentang diet bagi pasien rematik kepada keluarga dan klien dan diskusikan bersama. 6. Menganjurkan klien untuk rutin mengkonsumsi obat dari dokter. Ajarkan kepada keluarga untuk selalu mengingatkan klien untuk minum obat dan selalu mengawasi klien dalam mengkonsumsi obat. 7. Menganjurkan kepada keluarga untuk membawa lansia ke tempat pelayanan kesehatan terdekat guna memeriksakan kondisi kesehatan lansia secara teratur.

O

:

- TTV :

TD 180/90 mmHg

HR 77 x/i

RR 21 x/i

- Skala nyeri menurun ketika dimasase (bernilai 2).

- Klien tampak tenang dan rileks.

- Keluarga dapat mendemostrasikan dengan baik cara masase dan mengerti manfaatnya.

A

: Masalah teratasi teratasi sebagian

 

P : Intervensi dilanjutkan.

2.

Resiko tinggi cedera

Selasa,

1. Mengkaji kemampuan klien secara fungsional (klien masih mampu mandi sendiri, berpakaian, tetapi untuk makan biasanya anak

klien akan menyediakan nasi di piring, kemudian klien tinggal makan). 2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada

S :

b/d

proses

menua,

26 Juni

 

- Klien mengatakan bahwa Ia akan selalu berhati-hati ketika berjalan dan beraktivitas

- Keluarga mengatakan bahwa

kelemahan,

2012

ketidakseimbangan

nutrisi dan O 2 d/d klien

 

keluarga dan lansia tentang cedera pada lansia dan mendiskusikan kepada keluarga dan klien tentang hal-hal yang dapat menyebabkan cedera pada lansia. 3. Menganjurkan kepada keluarga untuk menciptakan penerangan yang aman, khususnya di kamar mandi. 4. Menganjurkan kepada keluarga untuk memastikan bahwa lantai kamar mandi dalam tidak licin dan lantai kamar mandi luar tidak basah/becek. Mengganti alas kaki apabila sudah sangat basah. 5. Memberikan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan diet untuk penderita hipertensi. Mendiskusi bersama klien dan keluarga tentang bahaya hipertensi.

 

mereka setuju atas saran yang diberikan, yakni menjaga lantai dan penerangan rumah tetap baik.

berjalan lambat,

kekuatan otot lengan

ka/ka bernilai 4 dan

O

:

kaki tidak tahan lagi

- TTV:

berdiri dalam waktu

TD 180/100 mmHg

yang lama.

HR 78 x/i

RR 21 x/i

- Klien dan keluarga sangat antusias dalam mendengarkan pendidikan kesehatan yang disampaikan.

 

A

: Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan.

 

Kamis,

1.

Mengevaluasi sejauh mana modifikasi rumah yang dilakukan oleh keluarga (lantai kamar mandi bersih dan tidak licin, penerangan di rumah dan kamar mandi juga

S :

28 Juni

 

Klien mengatakan akan selalu berpegangan apabila hendak berjalan ke

2012

adekuat).

kamar mandi dan tidak memaksakan diri untuk bergerak apabila kepala sedang pusing.

2. Menganjurkan kelurga untuk selalu mengawasi klien ketika berjalan (khusunya ketika terbangun di malam hari untuk BAK).

3. Menganjurkan kepada lansia untuk selalu berpegangan pada benda atau sesuatu yang bisa dipegang ketika berjalan. Dan tidak melakukan aktivitas apabila kepala pusing atau sedang tidak bertenaga

O :

- TTV TD 180/100 mmHg

HR 79 x/i

RR 20 x/i

- Klien dan keluarga bersedia untuk mengikuti anjuran perawat.

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

3.

Hambatan mobilitas

Selasa,

1. Mengkaji kebutuhan akan bantuan pelayanan kesehatan di rumah. (ada beberapa aktivitas yang masih dapat

S :

fisik b/d proses menua,

26 Juni

 

- Klien mengatakan bahwa lengan dan kakinya terasa lemah, dan Ia tidak dapat lagi berjalan jauh.

- Klien mengatakan akan melakukan ROM untuk mengembalikan kekuatan lengan dan tangannya seperti semula.

kekuatan dan massa

2012

dilakukan oleh klien, tetapi ada juga yang tidak dapat dilakukan oleh klien, dan klien membutuhkan bantuan dari keluarganya).

otot menurun d/d

kesulitan bergerak,

keterbatasan

2. Mengkaji kebutuhan akan pendidikan kesehatan dan mendiskusikan bersama klien dan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami oleh lansia. (klien perlu untuk meningkatkan kekuatan otot lengan dan kaki sebelah kiri dengan melakukan ROM, agar kekuatan otot maksimal sehingga lansia dapat beraktivitas secara mandiri).

kemampuan untuk

- Keluarga klien mengatakan akan

melakukan

selalu memotivasi dan membantu lansia untuk melakukan ROM

keterampilan motorik

 

kasar (makan),

O :

penurunan aktivitas,

 

- TTV :

kekuatan otot lengan

3. Menjelaskan manfaat ROM pada keluarga dan klien serta mengajarkan kepada keluarga dan klien gerakan latihan ROM.

TD 180/100 mmHg

bernilai 4 (Tremor), dan

HR 78 x/i

melambatnya

4. Memotivasi keluarga untuk selalu membantu

 

pergerakan.

 

RR 21 x/i

dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

- Klien dengan senang melatih gerakan ROM, dan mengatakan bahwa Ia akan melakukan gerakan tersebut. Keluarga juga mengerti

     

akan gerakan dan mau untuk membantu lansia dalam melakukan gerakan tersebut.

A

: Masalah teratasi sebagian

P

: Intervensi dilanjutkan.

Kamis,

1. Mengevaluasi perkembangan latihan gerakan ROM pada klien (kondisi lengan dan kaki klien belum

mengalami perkembangan yang signifikan)

S

:

27 Juni

- Klien mengatakan bahwa setiap hari Ia melatih gerakan ROM.

2012

2. Memotivasi keluarga untuk selalu membantu dan mengingatkan lansia untuk melakukan gerakan ROM.

- Klien mengatakan bahwa lengan dan kakinya terasa enak, ringan dan tidak kaku maupun kebas ketika selesai melakukan gerakan ROM.

3. Mengajarkan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman

- Keluarga mengatakan bahwa mereka selalu memotivasi dan membantu klien untuk melakukan gerakan ROM.

4. Memberikan lingkungan di dalam maupun di luar rumah yang aman bagi lansia.

5. Memotivasi klien dan mendorong klien untuk mempertahankan postur tegak

O

:

- Kekuatan otot klien belum meningkat (bernilai 4)

Klien mendemonstrasikan teknik ambulasi dan perpindahan yang aman dengan baik

-

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan.

Ringkasan Terminasi Saat terminasi, Nenek Y mengatakan bahwa Ia akan terus melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan ototnya, agar Ia bisa melakukan aaktivitas pemenuhan kebutuhannya secara mandiri. Walaupun belum menampakkan hasil yang maksimal ktika melakukan gerakan ROM, tetapi klien merasakan ekstremitasnya sangat nyaman setelah melakukan gerakan tersebut. Klien juga senang melakukan gerakan itu karena keluarganya juga membantu klien dan selalu memotivasi dan memberikan semangat kepada klien. Dalam menurunkan nyeri, keluarga melakukan teknik kompres hangat dan masase untuk membantu klien menurunkan nyeri sendi di lengan, kaki, serta pinggang. Menurut keluarga dan klien, cara ini cukup untuk menurunkan nyeri dan membuat lansia merasa nyaman. Klien juga menyadari pentingnya memodifikasi rumah agar meminimalkan resiko jatuh bagi lansia. Keluarga berusaha untuk selalu memperhatikan saat lansia sedang beraktivitas dan sebisa mungkin mengawasi lansia sewaktu terbangun di malam hari untuk BAK ke kamar mandi. Keluarga juga harus senantiasa mengawasi lansia ketika berjalan, disaat lansia sedang pusing dan sakit kepala karena hipertensi.

3.

Pengkajian Lansia III

I.

Identitas

a. Inisial kepala keluarga

b. Usia

c. Tempat/Tanggal Lahir

d. Pendidikan

e. Agama

f. Suku

g. Alamat

h. Tipe Keluarga

Genogram

: Nenek M : 80 tahun : Jawa/ 14 Juni 1930 : Tidak Sekolah : Islam : Jawa : Jln. Eka Murni Lingk. V Kelurahan Gedung Johor Medan : Keluarga dengan tiga generasi (Extended Family)

: Islam : Jawa : Jln. Eka Murni Lingk. V Kelurahan Gedung Johor Medan : Keluarga

Ket :

: Perempuan

: Perempuan