Anda di halaman 1dari 11

Problematika Lingkungan hidup DKI

Dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta
adalah meruoakan daerah sedang berhadapan dengan bebagai permasalahan
lingkungan hidup yang kompleks, dan hampir membelit semua aspek dan dimensi
kehidupan masyarakatnya. Juga kadar, jenis maupun cakupannya terus menerus
meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, salah satu permasalahan menjadi penyebab
timbulnya permasalahan berikutnya yang tak kalah rumitnya.
Hal itu terjadi sebagai akibat tingginya tingkat pertumbuhan pendudukan, baik
darikelahiran maupun karena urbanisasi. Pertambahan jumlah penduduk yang terus
meningkat pada akhirnya menimbulkan tekanan terhadap lingkungan hidup juga
meningkat. Alih fungsi lahan semakin sulit dihindari . Data yang dirilis oleh Dinas
Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan bahwa dengan ratarata 100 lubang makam/perhari, maka tiga tahun kedepan DKI Jakarta bakal
mengalami krisis lahan pemakaman.
Dari diskusi dengan berbagai pihak serta pengamatan di lapangan maka permasalahan
lingkungan hidup yang menonjol di DKI Jakarta antara lain:
1. Kerusakan lingkungan di DKI Jakarta ditandai dengan berkurangnya daerah resapan
air, menyusutnya areal terbuka hijau (RT), kerusakan area terbuka biru (sungai,
situ, saluran air, dan perairan pantai) eksploitasi air bawah tanah dengan berbagai
dampak negatifnya (penurunan permukaan tanah, intrusi air laut, dan
sebagainya), abrasi pantai akibat berkurangnya hutan mangrove di pantai
utara, serta sistem drainase kota yang buruk.
2. Pencemaran lingkungan di DKI Jakarta ditandai dengan tingginya tingkat
pencemaran udara, air, dan perairan laut akibat pengelolaan sampah dan limbah
yang belum baik dan benar.
Masyarakat memiliki peranan penting dalam kerusakan dan pencemaran
lingkungan, karena itu seyogyanya mengambil peran yang sama pentingnya dalam
perlindungan lingkungan hidup sebagai implementasi hak dan kewajiban asasi warga
negara yang dijamin oleh Konstitusi UUD 1945 dan Undang-Undang No. 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Masalah Aktual
1 Alih Fungsi Lahan Ruang Kota
a. Ruang Terbuka Hijau.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota, penyerap
polusi udara, tapi juga memberikan rasa nyaman. Ia juga bertfungsi sebagai penyerap
air sehingga kota terhindar dari ancaman banjir. Jika berpatokan pada standar
RTH yang berlaku di negara-negara maju yakni 7,81 m2 RTH/penduduk, studi Fakultas
Kehutanan IPB (2003) memperhitungkan luas RTH di Jakarta seharusnya 15.897 ha
(21,45 persen dari total luas kota). Ini berarti dengan target luas RTH 13,94 persen
(Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000-2010), Jakarta di tahun 2010 hanya
mampu memiliki kapasitas resapan air sekitar 54 persen dari kebutuhannya.
Laju pertumbuhan penduduk yang melaju pesat telah mendorong perubahan fungsi
lahan kota secara besar-besaran. Ini tergambar jelas pada citra satelit yang
menunjukan tutupan hutan kota terus menyusut, bahkan nyaris lenyap dari wilayah DKI
Jakarta. Sejak 15 tahun silam, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah bertekad
menambah luasan RTH. Selain itu juga dilakukan pembagian RTH atas 4
(empat)kategori yakni: 1. RTH Taman; 2. RTH Privat; 3. RTH Pemakaman; 4. RTH
Pembibitan.
Meski ada niat untuk terus mengembangkan luasan RTH, namun dalam pelaksanaan di
lapangan kerap berbenturan dengan kepentingan yang lain, dan RTH yang selalu
dikorbankan. Hal ini antara lain terlihat pada RTH Pemakaman Menteng Pulo, yang
kian menyusut karena pembangunan jalan, pendirian gedung dan sebagainya yang
menelan lahan pemakaman sekitar 1 hektar lebih.
Sementara pada saat yang sama, luas RTH Taman juga menyusut karena banyak
berubah menjadi area komersial. Bahkan tak jarang taman-taman kota yang berada di
areal pemukiman berubah fungsi menjadi tempat parkir atau tempat pembuangan
sampah sementara. Berbeda dengan kota-kota di negara maju seperti Singapura,
Melbourne, Sydney, London, Tokyo, atau New York, konsep pembangunan RTH Taman
(interaktif), kerap asing dengan lingkungan sekitarnya.
b. Ruang Terbuka Biru

Sebenarnya pembangunan RTH dapat diintegrasikan dengan elemen di sekitarnya


seperti situ, telaga, sungai dan sebagainya. Misalnya dengan menjadikan bantaran
sungai sebagai RTH Taman, begitu pula dengan tepian telaga/situ. Dengan demikian,
yang dikembangkan tidak hanya ruang hijau (green area) tapi juga blue area (ruang
biru). Di Singapura, pengelolaan ruang hijau menyatu dengan ruang biru, yakni
oleh National Parks (NParks) dan Urban Redevelopment Authority (URA). Lembaga ini
menyusun Singapore Green and Blue Plan 2010 yang memandu penataan
RTH termasuk pengembangan situ-situ.
Tidak terintegrasinya pengelolaan ruang hijau dan biru menyebabkan banyak situ di
Jakarta hilang tak berbekas, dan yang masih tersisa umumnya dalam keadaan rusak.
Areal Ruang Terbuka Biru biasanya dipenuhi pemukiman liar, menjadi tempat
pembuangan limbah, atau tempat pembuangan sampah, dan kemudian diuruk
untukdialihfungsikan. Departemen Kimpraswil (2003) mencatat 16 situ di Jakarta dari
luas semula 168,42 ha dipastikan sudah menyusut. Misalnya Situ Rorotan, Jakarta
Utara, Situ Rawa Kendal, Situ Rawa Ulujami di Jakarta Selatan, dan Situ Rawa
Penggilingan di Jakarta Timur telah hilang tak berbekas.
Pengelolaan RTH dan RTB (Ruang Terbuka Biru) selama ini jadi tanggung jawab
instansi yang berbeda. RTH menjadi tanggung jawab Dinas Pertamanan dan
Pemakaman sedangkan RTB menjadi wewenang Dinas Pekerjaan Umum khususnya
unit pengelola tata air. Akibatnya, disatu sisi pengelolaan RTH kurang mencapai target
sementara RTB banyak terbengkalai. Adalah kenyataan, saat ini hampir semua
situ/telaga di Jakarta mengalami degradasi kualitas yang serius.
c. Daerah Aliran Sungai (DAS)
Tekanan kebutuhan masyarakat menyebabkan daerah aliran sungai yang seharusnya
dapat dijadikan ruang terbuka menjadi sesak karena dimanfaatkan untuk kebutuhan
yang lain. Hal ini terlihat dengan jelas pada Hilir DAS Ciliwung yang termasuk dalam
wilayah Provinsi DKI Jakarta. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup lahan hilir
DAS Ciliwung seluas 66.152 Ha.
2. Pencemaran Udara
Tingkat polusi udara di DKI Jakarta adalah tertinggi di seluruh Indonesia, sehinggawajar
bila ada yang menyebutnya sebagai kota polusi. Pada skala global, Kota

Jakarta termasuk nomor kota dengan pencemaran udara tertinggi 3 setelah kota di
Meksiko dan di Thailand. Masih dalam skala global kandungan partikel debu
(particulate matter) dalam udara Jakarta berada pada urutan nomor 9 (yaitu 104
mikrogram per meter kubik. Uni Eropa menetapkan ambang batas tertinggi 50
mikrogram) dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank Dunia pada tahun 2004.
Jumlah hari udara tidak sehat juga meningkat, yakni 22 hari di tahun 2002 menjadi 7
hari di tahun 2003. Hasil penelitian Kelompok Kerja Udara Kaukus Lingkungan Hidup,
pada tahun 2004 dan 2005, jumlah hari dengan kualitas udara terburuk di Jakarta jauh
di bawah 50 hari. Tapi pada tahun 2006, jumlahnya justru naik di atas 51 hari. Menurut
BPLhD DKI Jakarta, kandungan PM-10 (Partikel Debu) yang pernah mengalami
penurunan justru kembali meningkat pada 2011 dan 2012 cenderung mengalami
peningkatan, diduga akibat penurunan aktivitas uji emisi kendaraan bermotor.
Sumber utama pencemaran udara adalah dari gas buang kendaraan bermotor. Hal ini
terjadi selain akibat jumlah kendaraan bermotor terus meningkat tajam, jugakarena
warga masyarakat cenderung enggan melakukan uji emisi, dan bengkel-bengkel
pemeliharaan kendaraan yang tidak melakukan perbaikan kendaraan secara baik dan
benar. Melihat kenaikan jumlah kendaraan bermotor, maka bisa dipastikan pencemaran
udara di Jakarta juga bakal meningkat.
Data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di DKI
Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah
9.993.867 kendaraan. Padahal jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009
adalah 8.513.385 jiwa. Artinya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta melebihi jumlah
penduduk. Sementara tingkat jumlah kendaraan di DKI Jakarta juga sangat tinggi, yaitu
mencapai 10,9 persen per tahun.
Tingginya tingkat kemacetan di jalan juga menjadi penyebab tingginya polusi udara.
Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan di Jakarta memang timpang. Saat ini,
panjang jalan di DKI Jakarta hanya hanya sekitar 7.650 kilometer dengan luas 40,1
kilometer persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Padahal, perbandingan
ideal antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14 persen. Dengan kondisi yang
tidak ideal tersebut, dapat dengan mudah dipahami apabila kemacetan makin sulit
diatasi dan pencemaran udara semakin meningkat.

Meningkatnya laju polusi udara di DKI Jakarta adalah akibat kurangnya ruang terbuka
hijau (RTH) kota, yakni bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) untuk
mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH
dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan
wilayah perkotaan. Kurangnya RTH kota akan mengakibatkan kurangnya kemampuan
ekosistem kota untuk menyerap polusi.
Adapun reaksi masyarakat terhadap kondisi udara yang semakin tercemar adalah
selain tetap meminta kepada pemerintah agar menambah RTH juga membiasakan diri
memakai masker. Namun kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kualitas gas
kendaraan atau melakukan penanaman pohon atas inisiatif sendiri masih kurang. Pada
hal akibat udara semakin tercemar, biaya kesehatan yang membebani masyarakat jadi
meningkat. Data Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB menyebutkan bahwa di
tahun 2010 warga Jakarta harus membayar Rp 38 triliun untuk biaya pengobatan
karena menderita Ashma, Bronkitis, infeksi pernapasan akut, pneumonia, hingga
jantung koroner yang disebabkan pencemaran udara. Sementara parameter
pencemaran udara pada 2011 hingga 2012 mencapai 60 mikro gram per meter kubik.
Artinya berada diatas standar nasional yakni h 50 mikro gram per meter kubik, dan
standar World Health Organization (WHO) 20 mikro gram per meter kubik.
Parameter lainnya adalah tingkat pencemaran Nitrogen Dioksida dan Oksigen, yang
menyebabkan beberapa penyakit. Seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan pada
sistem saraf, hingga penurunan kemampuan intelektual (IQ) pada anak-anak.
Pencemaran udara juga mengakibatkan keguguran, impotensi, jantung koroner, kanker
dan kematian dini. Data yang dirilis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menunjukan,
sebanyak 46 persen penyakit di Jakarta, timbul karena pencemaran udara. Seperti
infeksi saluran pernapasan, asma, dan kanker paru-paru. Jika kondisi ini dibiarkan,
maka bukan mustahil kematian akibat polusi udara semakin meningkat
3. Pencemaran Air dan Eksploitasi Air Tanah
Air menjadi sumber masalah yang serius bagi DKI Jakarta. Di musim hujan banjir
menggenangi kota, sedangkan di musim kemarau terjadi defisit air bersih. Daya dukung
lingkungan untuk menyediakan air bersih bagi warga kota juga semakin terbatas,
sementara tingkat kebutuhan air bersih terus meningkat. Beberapa masalah yang

terkait dengan lingkungan hidup adalah degradasi kualitas air akibat pencemaran,
hilangnya sumber air akibat pemanfaatan areal daerah aliran sungai dan situ, serta
tingginya pemanfaatan air tanah sehingga menyebabkan penurunan permukaan tanah.
Mengenai pencemaran air, Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta (2011)
menyebutkan bahwa 90 persen air tanah di Jakarta sudah tercemar oleh logam, nitrat
dan e-coli. Pencemaran tidak hanya terjadi pada air tanah, tapi juga pada sumbersumber air yang memasok jaringan pelayanan publik. Sedangkan air dari sumur
penduduk selain umumnya telah tercemar oleh bakteri, juga terdapat kandungan logam
bahkan pada sebagian wilayah terasa asin karena kadar garam meningkat. Air tanah di
beberapa tempat Sementara air di sungai-sungai sudah sulit didaur ulang akibat
pencemaran yang parah. Bahkan menurut Kementerian Lingkungan Hidup, air sungai
Ciliwung di wilayah Jakarta sudah no class. Pemerintah telah berusaha menurunkan
beban pencemaran sungai Ciliwung, namun tidak mudah. Beban pencemaran ideal
menurut KLH berkisar 7.019 kilogram per hari. Sedangkan saat ini beban pencemaran
Ciliwung berada pada kisaran 29.231 kg per hari. Artinya, perlu penurunan beban
pencemaran sekitar 76 persen agar kembali normal.
Sumber pencemaran air di sungai-sungai di Jakarta adalah limbah domestik.
Bahkan menurut media massa sekitar sepertiga dari 6000 ton /hari sampah di DKI
Jakarta masuk (dibuang) ke dalam sungai dan badan-badan air lainnya (situ, selokan,
dan sebagainya). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia
memaparkan data yang dapat menjelaskan bahwa sebagian besar air sungai diJakarta
berkualitas buruk.
Degradasi kualitas dan ketersediaan air juga terjadi akibat eksploitasi air tanag yang
massif. Akibat keterbatasan akses air dari jaringan publik, warga terpaksa
memanfaatkan air tanah untuk berbagai keperluan. Hal ini menyebabkan pencemaran
air tanah, permukaaan tanah dan intrusi air asin. Sistem sanitasi kota yang buruk
menyebabkan berbagai zat pencemar semakin mudah masuk ke ceruk (aquifer) air di
dalam tanah. Sedangkan akibat pengurasan air tanah yang massif,ceruk air (aquifer)
yang semula berisi air tawar, kini dimasuki air asin dari laut. Beberapa sumber
melaporkan, saat ini intrusi air asin sudah mencapai beberapa wilayah di tengah kota
Jakarta. Dengan demikian ancaman korosi terhadap logam yang menjadi fondasi
bangunan sulit dihindarkan.

Ancaman korosi pada fondasi bangunan , dan penurunan permukaan tanah akibat
pengurasan air tanah kini sudah menjadi ancaman serius bagi bangunan dan
keselamatan warga. Tanda-tanda terjadinya penurunan permukaan tanah telah
teridentifikasi ketika suatu retakan ditemukan di jembatan Sarinah pada tahun
1978.Penyebabnya, selain eksploitasi air tanah yang massif juga disebabkan oleh berat
bangunan semakin tinggi. Menurut sejumlah sumber tingkat penurunan permukaan
tanah di Jakarta memang bervariasi. Dalam rentang waktu antara 1993 dan 2005
tingkat penurunan tanah terbesar terjadi di Jakarta Pusat pada, dari 3.42m sampai
1.02M atas permukaan laut. Di Jakarta Utara penurunan itu 57 cm, dari 2.03m ke
1.46m. Di Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan penurunan itu 2, 11 dan 28
cm.
3. Ancaman Sampah
Saat ini, sampah telah menjadi permasalahan serius hampir di semua kota di
Indonesia. Di Jakarta, volume sampah setiap hari rata-rata sekitar 6000 ton, dan
lazimnya mengalami peningkatan sekitar 15% pada momentum tertentu seperti lebaran,
natal dan tahun baru. Volume sampah juga meningkat pada musim hujan, musim
pernikahan, musim hajatan, musim order percetakan, musim belanja, musim buah
rambutan, maka bisa bertambah ribuan ton lagi.
Sampah tidak pernah habis, karena merupakan konsekuensi dari aktivitas manusia.
Bahkan akan selalu bertambah seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat.
Saat ini sebagian sampah dari kota Jakarta di kirim ke Tempat Pembuangan Akhir
Sampah (TPA) Bantar Gebang, dan tinggi gunungan sampah di TPA tersebut yang
sudah mencapai minimal 20 meter. Sedangkan di TPA Sumur Batu (juga di Bekasi)
ketinggiannga sudah mencapai 30 meter.
Dari karakteristiknya sampah di Jakarta dan di kota-kota lainnya di Indonesia, rata-rata
60 - 70% adalah sampah organik, yang didominasi oleh sampah sisa makanan dan
daun-daunan. Sedangkan 40% merupakan sampah non organik berupa sampah plastik
dan sejenisnya. Tidak semua sampah kota Jakarta dapat terangkut ke TPA, karena itu
sebagian lagi dibuang di sembarang tempat, seperti masuk ke dalam sungai, dan tak
sedikit pula yang terbawa aliran sungai sehingga mengotori laut.
Beberapa cara pengelolaan sampah dengan pendekatan high investment and high
technolog yang pernah diujicoba belum berhasil. Hal yang sama juga terjadi dalam

pengelolaan sampah dengan berbasis masyarakat. Namun Pemerintah Pusat dalam


hal ini Kementerian Lingkungan Hidup belakangan semakin gencar mengkampanyekan
pengolahan sampah berbasis lingkungan dan masyarakat, antara lain melalui kegiatan
daur ulang, pemilahan sampah berdasarkan karakteristiknya sehingga kembali
berguna.
Biaya pengolahan sampah memang mahal. Namun tetap menjadi prioritas mengingat
dampak yang ditimbulkannya jauh lebih mahal. Tapi masalah ini sebenarnya dapat
diatasi dengan cara yang lebih mudah dan murah yakni dengan pengelolaan tradisional
yang terorganisir rapi dalam bentuk bank sampah dan pengembangan kerajinan serta
industri berbahan baku sampah, yang telah mulai banyak ditekuni oleh beberapa pelaku
bisnis sampah.
Penanggulangan sampah di perairan laut dan pantai hingga saat ini belum maksimal.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sampah di sepanjang Pantura Jakarta. Kendalanya
adalam fasilitas kebersihan yang minim, dan kesadaran masyarakat Jakarta akan
kebersihan yang sangat rendah. Tumpukan sampah itu tidak hanya berasal dari
daratan, tetapi juga laut. Fasilitas kebersihan yang dimiliki Sudin Kebersihan Jakarta
Utara hanya lima kapal pengambil sampah. Satu berukuran besar dan empat lainnya
kecil. Namun, kapal yang kerap rusak Dengan lima kapal itu, kapasitas pengangkutan
sampah hanya sebanyak 45-50 kubik sampah dari pantai. tu hanya sampah dari Muara
Baru dan hutan mangrove di Kapuk, sedangkan sampah di wilayah yang lain belum
bisa tertangani.
5. Pencemaran Laut
Pencemaran air di Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya tidak hanya terjadi di daratan
tapi juga di perairan laut Teluk Jakarta. Sebagian besar sumber pencemaran Teluk
Jakarta berasal dari daratan, berupa sampah dan limbah cair yang terbawa oleh aliran
sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Namun belakangan, pencemaran laut juga
terjadi akibat buangan dari kapal-kapal, dan juga berasal dari berbagai aktivitas
manusia di Teluk Jakarta. Menurut Subdit Mitigasi Bencana dan Pencemaran
Lingkungan pada Direktorat Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan,
tingkat pencemaran perairan Teluk Jakarta sudah sangat tinggi.
Bahkan Teluk Jakarta merupakan perairan laut paling kotor urutan 3 di dunia. Menurut
Kementerian Lingkungan Hidup (2011) sedikitnya 21 perusahaan besar membuang

limbahnya ke perairan Teluk Jakarta. Pencemaran laut oleh Limbah B3 (Bahan


Berbahaya Beracun) dan logam berat berpengaruh terhadap kualitas hasil laut. Karena
itu sejumlah pakar mengingatkan agar berhati-hati menyantap hasil laut yang sudah
tercemar sebab bukan bukan kesehatan yang bakal diperoleh melainkan kemungkinan
besar, tingkat kesuburan justru akan menurun dan angka kecerdasan pun bakal
berkurang..
Saat ini diprediksi terdapat 14 ribu kubik sampah dari limbah rumah tangga dan limbah
industri, yang mencemari teluk seluas 2,8 kilometer persegi itu. Seluruh limbah tersebut
mengalir melalui 13 anak sungai yang bermuara di teluk tersebut. Jika hal tersebut tidak
segera ditangani, dikhawatirkan akan mengancam kelestarian hutan bakau dan
terumbu karang. Sekalipun demikian, pencemaran yang berasal dari daratan atau land
base pollution menyumbang 80 persen terhadap pencemaran perairan teluk. Baik
akibat bahan organik, bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti logam dan pestisida,
pencemaran minyak dan sedimen, pencemaran organisme patogen dan eksotik, serta
detergen
Sejak tahun 1979, para peneliti di Badan Atom Nasional (Batan) telah mendapati bahwa
kadar logam berat dalam air di Teluk Jakarta sudah tergolong tinggi. Bahkan di
beberapa lokasi seperti Muara Angke kadar logam beratnya cenderung meningkat.
Meskipun tercemar parah, sampai saat ini masih banyak saja udang, kerang-kerangan,
dan beberapa jenis ikan yang hidup di Teluk Jakarta yang dijual dan dikonsumsi
penduduk Jakarta. Kerang hijau, sebagai contohnya, masih jadi komoditas favorit
karena harganya yang lebih murah sehingga terjangkau untuk dikonsumsi. Sebenarnya
pencemaran Teluk Jakarta bukan hanya berasal dari darat, karena memang ada
banyak sekali sungai yang bermuara ke teluk ini.
Pencemaran juga bisa datang dari laut. Sebab tidak sedikit kapal yang membuang
limbah dan mencemari teluk Jakarta ini. Karena itu pengawasannya sebenarnya ada di
masyarakat.
6.Ancaman Banjir
Banjir yang terjadi di Jakarta selain karena faktor alam juga merupakan dampak
kerusakan lingkungan yang parah di kawasan Jakarta Depok, Bogor, Bekasi dan
Tanggerang. Dimaksud dengan faktor alamiah adalah adanya muara dari 13 sungaidi
DKI Jakarta, kondisi topografi DKI Jakarta yang hampir 40% berada di bawah

permukaan air laut, dan naiknya muka air laut sebagai dampak pemanasan global
(global warming). Sedangkan faktor manusia antara lain adalah, kebiasaan sebagian
warga masyarakat membuang sampah di sungai dan badan air lainnya, pemanfaatan
bantaran sungai untuk pemukiman, konservasi lahan di hulu daerah aliran sungai
(DAS), berkurangnya daerah terbuka hijau sebagai daerah resapan air, hilangnya
sejumlah situ sebagai tempat parkir air dan lain sebagainya.
Terjadinya perubahan musim yang ekstrim antara lain ditandai dengan meningkatnya
curah hujan di musim penghujan juga berpotensi menimbulkan banjir. Sementara
naiknya permukaan air laut, hilangnya hutan mangrove di pesisir pantai menyebabkan
terjadinya Rob (banjir pasang air laut) yang kini telah terjadi di beberapa kawasan
Pantai Utara (Pantura) Jakarta.
Secara umum banjir disebabkan oleh rusaknya bendungan dan saluran air rusak,
seperti terjadi pada bencana di situ gintung, penebangan hutan secara liar dan tidak
terkendali, kiriman atau bencana banjir bandang, keadaan tanah tertutup semen, paving
atau aspal, hingga tidak menyerap air, pembangunan tempat permukiman dimana
tanah kosong diubah menjadi jalan gedung, tempat parkir, hingga daya serap air hujan
tidak ada.
Saat ini, banjir telah menjadi bencana bencana yang rutin terjadi setiap tahun baik di
DKI Jakarta maupun di daerah-daerah lain di Indoenesia. Dan paling sering memakan
korban yang tidak sedikit, baik jiwa, harta maupun sarana dan prasarana bagi
kehidupan masyarakat. Puluhan ribu hektar sawah dan taanaman lain gagal panen,
jalan dan jembatan rusak, serta ribuan rumah yang rusak dan hancur. Misalnya, banjir
yang terjadi di Jakarta pada Agustus 2010 telah meluruhkan Jakarta. Wilayah-wilayah
yang tergenang air antara lain Kalibata, Bukit Duri, dan Bidara Cina, segitiga emas
Kuningan. Bahkan sentra bisnis di jalan Sudirman (Bendungan Hilir, Semanggi, Dukuh
Atas), Kuningan, serta seputaran Sarinah-Sabang-Thamrin tenggelam. Di Kelapa
Gading hanya menyisakan atap rumah dan lampu jalan.
Akibatnya, listrik mati dan air ledeng mampet. 70 ribu sambungan telepon putus.
Jakarta berubah seperti rawa-rawa purba. Lebih dari dua per tiga wilayahnya terendam.
Kawasan Suntersentra industri otomotif nasionallumpuh selama sepekan. 100
mobil Toyota tenggelam Begitu pula di Pulogadung, mesin-mesin tak dapat
dioperasikan karena terendam air.

Kejadian yang sama kembali terulang pada 25 Oktober 2010 yang


menyebabkantransportasi kotaa lumpuh (hampir total) karena hujan deras yang
mengakibatkan banjir yang pada akhirnya menyebabkan kemacetan di mana-mana.
Perjalanan dari Kuningan ke Kelapa Gading yang biasanya hanya memakan waktu satu
jam berubah menjadi tiga jam
Berbagai upaya untuk mengatasi ancaman banjir telah dilakukan sejak Jaman Kerajaan
Tarumanegara dengan pembangunan saluran air dari hulu hingga hilir. Juga pada masa
kolonial Belanda dengan pembangunan Kanal Banjir Barat. Sekarang pemerintah Pusat
dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membangun Kanal Banjir Timur (KBT) dan
merevitalisasi Kanal Banjir Barat (KBB) dengan harapan dapat membebaskan 207
wilayah DKI Jakarta dari ancaman banjir. Namun upaya tersebut diperkirakan hanya
mengurangi sebagian resiko dan dampak banjir. Artinya, ancaman banjir tetap menjadi
persoalan yang akut bagi Jakarta di masa mendatang terutama banjir lokal.
Resiko dan dampak banjir yang terjadi dalam dua dekade terakhir sangat terasa
menimbulkan penderitaan bagi warga masyarakat secara luas antara lain disebabkan:
a. Rendahnya kesadaran dan kemampuan warga menghadapi datangnya banjir;
b. Belum ada strategi dan skenario baku dari pemerintah dalam menghadapi resiko dan
dampak banjir;
c. Belum/tidak ada
berkesinambungan.

strategi

mitigasi

dan

adaptasi

menghadapi

banjir

yang

Selain beberapa permasalahan tersebut, sesungguhnya masih banyak permasalahan


yang aktual dalam kehidupan sosial, seperti pemukiman kumuh, kebakaran, kemacetan
lalu lintas, dan lain-lain yang memiliki pertaliannya dengan kerusakan dan pencemaran
lingkungan hidup di DKI Jakarta.