Anda di halaman 1dari 9

MENCARI KEBENARAN LAILATUL QADAR

Khutbah Vol : 410/9-10/A


Ramadhan 1431 H

3 September 2010 / 24





.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah ;


Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur atas anugerah Ilahi yang telah
menurunkan Al-Quran pada suatu malam yang penuh berkah, yakni malam lailatul
qadar. Shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw. seorang
Rosul yang berakhlak Qurani, yang sangat menerapkan ajaran Al-quran dalam
setiap prilaku atau akhlaknya.
Dengan
menyebut
Al-Quran
sebagai
penyembuh
(syifaun),
mengisyaratkan bahwa sebelumnya, ada suatu kondisi pada masyarakat yang
kurang sehat, sehingga Al-qurn harus diturunkan sebagai penyembuh (syifa)
terhadap kondisi yang kurang sehat tersebut. Al-Quran juga disebut sebagai
petunjuk (hudan), mengisyaratkan bahwa telah terjadi kekeliruan jalan yang
ditempuh manusia sebelumnya, sehingga al-Quran harus turun guna menunjuk
jalan yang benar.
Sidang Jumat yang berbahagia;
Menyoal kedua fungsi al-Quran di atas, sebagai syifa (penyembuh) dan
hudan (petunjuk), maka untuk menghayati nuzul al-Quran / turunya al-Quran
dalam masa sekarang, berarti kita bukan sedang menuggu saat turunnya al-Quran,

sebab sejak dahulu al-Quran sudah turun dengan fungsi yang juga sudah jelas, salah
satunya sebagai penyembuh dan petunjuk hidup manusia.
Laylatul qadar, atau malam turunnya al-Quran, atau malam seribu bulan, sering
diartikan dengan akan turunnya suatu malam yang agung, yang biasanya terjadi pada suatu
malam yang ganjil pada 10 hari menjelang akhir Ramadhan, sehingga sering ditunggu-tunggu
dengan harapan dapat menemukannya. Bahkan ada orang yang berusaha menunggunya
dengan berjaga-jaga sepanjang malam sembari terpikir di benaknya tanda-tanda laylat alqadr, seperti hujan rintik-rintik, situasi malam yang dingin, dan lain-lain.
Ditemukan suatu riwayat yang berkembang di kalangan umat Islam, bahwa dimasa
yang lampau pernah terjadi pada suatu malam seseorang mengikat tali kudanya pada
pohon kelapa yang sedang tumbang. Akan tetapi pagi harinya ia terperanjat melihat
kudanya sudah tergantung pada pohon kelapa yang berdiri dengan kokohnya. Sebab pada
malamnya pohon kelapa itu tumbang (bersujud di tanah), adalah dalam rangka menghormati
laylat al-qadr yang sedang berlangsung.
Riwayat lain juga menceritakan bahwa ada seseorang yang hendak berwudhu.
Namun ia terkejut ketika menyaksikan air yang akan digunakan untuk wudhu berada dalam
keadaan beku sebagai isyarat bahwa saat itu laylat al-qadr sedang berlangsung. Dan banyak
lagi cerita cerita yang berkembang di tengah masyarakat sekitar laylat al-qadr itu.
Di tengah tradisi pemahaman tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah
bahwa tak seorang pun di antara umat ini yang dapat berkata bahwa ia telah
menemukan/memperoleh malam yang berkah itu. Sehingga timbul konflik, bahwa para
ulama atau kiyai sajalah yang dapat memperolehnya. Namun, ketika kita mulai bertanya
apakah mereka para ulama dan para kiyai kita yang terhormat (khususnya yang ada saat
ini), tak satupun di antara mereka yang mengaku pernah menemukan malam berkah itu.
Kalau demikian halnya, dimana sebetulnya laylat al-qadr itu ? Mungkinkah ia
misterius? Atau pemahaman kita yang tidak proporsional mengenainya untuk memperoleh
laylat al-qadr yang penuh rahmat dan berkah itu ?.
Sebenarnya makna yang paling hakiki dari penemuan laylat al-Qadar itu adalah
munculnya kesadaran yang tulus dari seseorang untuk : (1) menyadari kesalahan dan
kekeliruannya di masa yang lewat. (2) tekad untuk menyucikan dirinya diluar Ramadhan,
seperti yang ia praktekkan pada bulan Ramadhan. (3) menjadikan al-Quran sebagai
petunjuk bagi kehidupannya di masa yang akan datang. Sebetulnya dengan munculnya
ketiga kondisi seperti ini pada diri seseorang, berati hakekatnya ia telah menemukan malam
kemuliaan dan keberkahan itu.
Kaum Muslimin rahimakumullah ;
Al-Qurn menginformasikan (khususnya ayat pertama), bahwa :

Sesunggunya Kami turunkan ia (Al-qurn) pada suatu malam yang dinamakannya Laylat alQadr (QS. 97/al-Qad:1).


. . .

















.



















.

Malam tersebut dipandang sebagai malam yang penuh keberkahan dan


)kemuliaan, lebih mulia dari seribu bulan (QS2.97/al-Qadr:3
Untuk mencari keberkahan dan kemuliaan malam itu, Rasulullah
menganjurkan agar umat Islam untuk mempersiapkan jiwa menyambutnya, secara
khusus, pada malam-malam ganjil setelah berlalu duapuluh hari Ramadhan.
Maka dalam memahami ini, perlu kita tegaskan bahwa penemuan laylatul
qadr itu tidak lagi monopoli para ulama, para kiyai, dan setiap ahli agama saja,
akan tetapi siapa saja yang memiliki kesadaran baru, baik seorang pengusaha,
manager, bisnisman, birokrat, seniman, artis, bahkan seorang petani di ujung
pedesaan sekalipun berhak memperoleh dan menemukannya, mankala ia
mendapat kesadaran baru, dan berhasil merubah sikapnya kearah yang lebih baik
sehingga meningkatkan kualitas kerja mereka.
Sebab laylat al-qadr bukan hanya menjanjikan sejumlah rahmat bagi
manusia berupa rezeki, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni saja, seseorang
yang mendapat kesadaran baru sehingga merubah sikapnya kearah yang lebih baik,
dapat dipahami telah mendapatkan laylat al-qadr yang penuh berkah itu.
Pemahaman seperti inilah yang harus kita hidupkan, sehingga dengan
perolehan atau penemuan laylat al-qadr itu dapat mendatangkan perubahan bagi
arah keberagaman dan kualitas orang beriman.

Khutbah ke-II








.
PUASA RAMADHAN & PENGUATAN PENGENDALIAN DIRI

Khutbah Vol : 411/9-10/B


1431 H

dirinya dari bentuk- bentuk kejahatan, maka keburukanlah yang akan diterimanya.
Sebagaimana firman Allah taala:

Siapa yang berbuat kebajikan, maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan siapa yang
berbuat kesalahan maka balasannya untuk dirinya sendiri. (QS.41/Fushshilat:46).
Demikianlah bentuk kemandirian yang ada pada manusia yang harus tetap dipupuk dan
dijaga dengan memperhatikan keburukan, dan menghindari serta memperbaiki kekurangankekurangan yang ada pada dirinya dengan berbuat amalan yang lebih baik.
10 September 2010 / 1 Syawwal





.

Ibadallah Asadakumullah ;
Alhamdulillah puji dan syukur marilah kita persembahkan kehadirat Allah Swt.,
atas nikmat dan karunia yang diberikan kepada kita hingga kita dapat menjalankan
aktifitas Ramadhan dengan baik, Shalawat beserta salam kepada junjungan Nabi
Muhammad saw. yang telah menuntunkan kepada manusia jalan hidup menuju
jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Maasyiral Hadirin rahimakumullah ;


Pada hakekatnya pada diri manusia ada kemampuan untuk mengendalikan diri
dan mengontrol dirinya agar tetap berjalan dalam petunjuk Tuhan. Manusia juga
diberi kemampuan oleh Allah agar dapat secara mandiri dalam menjaga dirinya
dari penyimpangan-penyimpangan agama. Allah taala mengingatkan hambahambanya bahwa jika ia mampu menjaga diri, dan tetap dalam kebaikan, maka
manfaatnya kembali kepada dirinya, akan tetapi jika ia tidak mampu menjaga

Hadirin sidang jumat yang dirahmati Allah;


Kemandirian manusia memperhatikan hal-hal menjadi kekurangan dirinya, adalah
perintah Allah swt. sebagaimana disebut dalam al-Quran:
Sebetulnya apa-apa dalam dirimu, mengapa tidak engkau perhatikan ? (QS.51/alDzariyat:21).
Perintah Allah pada ayat diatas, yang menunjukkan pentingnya introspeksi diri itu
dilakukan. Bahkan beberapa hadits Nabi, terdapat diantaranya hadits yang menjelaskan:
hendaklah manusia mengevaluasi dirinya sendiri sebelum orang lain mengevaluasinya.
(al-Hadis).
Pengendalian diri dapat diartikan sebagai kemampuan manusia untuk menyadari
posisinya sebagai hamba Tuhan, serta kemampuan dirinya mengikuti kata hati dan
agamanya, sehingga dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang salah, dan secara
sadar serta konsisten (istiqamah) menyelenggarakan kehidupannya dengan penuh kebaikan
dan kesalehan.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah ;
Puasa memang sengaja dirancang Allah sebagai sarana latihan pengendalian diri,
karena dalam pelaksanaannya, seorang yang berpuasa lebih ditekankan untuk berbuat ihsan
yakni : beribadah kepada Allah seolah-olah Allah melihatnya, meskipun Allah tidak dapat
dilihat, seseorang yakin bahwa Allah SWT selalu melihat,
Itu sebabnya orang yang berpuasa tidak memerlukan seorang pengawas puasa, tapi
yang mengawasinya adalah ihsan yang ada dalam dirinya yang menjadi self control bagi
dirinya.
Kaum muslimin yang berbahagia ;
Berbagai ayat al-Quran menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha
Melihat apa saja yang dikerjakan hamba-Nya. Bahkan Ia sangat mengetahui hal-hal yang
dizhahirkan dan di sembunyikan oleh tangan manusia. Sebagaimana firman Allah swt yang
artinya : Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka
sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan? (QS.2/al-Baqarah:77)
Self control ataupun merasa selalu diawasi, tumbuh dan berkembang berdasarkan
keyakinan karena terbiasa merasa dipantau oleh Tuhan, dekat dengan Tuhan, diawasi oleh
Tuhan, sebab Allah berfirman : Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan, melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS.Qaf:18)

Dengan demikian seseorang apakah ia pejabat, pengusaha, remaja,


seorang suami ataupun istri akan selamat bila saja ia menyadari bahwa dia selalu
dipantau oleh Tuhannya.
Sidang jumat rahimakumullah;
Ada beberapa sikap yang perlu dibudayakan seorang beriman saat
melakukan puasa Ramadhan. Diantaranya adalah: Keharusan Untuk Jujur
Kejujuran adalah kesucian nurani yang memancarkan kebenaran berbuat,
ketepatan dalam bekerja, bisa dipercaya dan tidak mau berdusta. Banyak sekali
ayat maupun hadits yang menekankan dilakukannya sikap-sikap tersebut.
Diantaranya firman Allah taala:

Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang berbuat dusta
terhadap Allah, dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadaNya. Bukankah
di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir ? (QS.alZumar:32)
Ayat ini menjelaskan bahwa kedustaan merupakan bentuk kezaliman
sehingga manusia tidak diperkenankan berbuat dusta, sebab itu sama artinya
melanggar janjinya kepada Allah yang telah disepakatinya sejak dalam kandungan
yakni kesetiaan iman pada Allah swt. Dan inilah sikap-sikap kesetiaan yang harus
dibudayakan orang yang beriman saat melakukan puasa Ramadhan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah;
Sikap selanjutnya adalah Menjaga Amanah. Kepercayaan yang diberikan
kepada orang lain tentu didasari oleh kepercayaan akan kejujuran yang ada pada
seseorang. Oleh karenanya seorang muslim harus menjaga dan menunaikannya
dengan sempurna. Pengkhianatan atas amanah berarti melanggar perintah Allah.
Sebagaimana firman Allah swt. : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan RasulNya dan juga janganlah kamu mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS.al-Anfal:27)
Selanjutnya adalah sikap taqwa. Dalam pengertiannya yang lebih luas,
taqwa dapat dipahami sebagai sikap waspada seorang manusia untuk menjaga
dirinya dari kemurkaan Allah dengan jalan menjaga ketentuan-ketentuan Allah.
Taqwa adalah indikasi kesiapan manusia untuk menjalani proses kehidupan setelah
dunia yakni hari kemudian. Sehingga kewaspadaan atas apa yang dipikirkan dan
diperbuat semasa hidup, disadari memiliki pengaruh dan dampak bagi nasibnya di
kemudian hari kelak. Dengan taqwa itulah seseorang dapat menjalankan tugasnya
dengan baik, menghiasi diri dengan kerendahan hati dan tidak sombong atas hasilhasil yang diperoleh nantinya.
Kaum muslimin sidang jumat rahimakumullah;

Dari poin-poin di atas dapat dilihat bagaimana puasa Ramadhan sangat penting
untuk melatih jiwa agar memiliki kemampuan pengendalian diri (self control) secara mandiri
dan otonom, karena sangat potensial bagi peningkatan kualitas diri seorang muslim. Berkat
latihan yang diikutinya secara serius pada bulan Ramadhan menjadikannya unggul dalam
kehidupan.

.














.








Khutbah Kedua







.




















.


.


.




!

.
URGENSI KE-FITHRI-AN
DALAM PENINGKATAN KUALITAS KERJA

Khutbah Vol : 412/9-10/C


Syawwal 1431 H

17 September 2010 / 8





.






Maasyiral Jumah Asadakumullah ;
Marilah segala puji dan syukur kita persembahkan kehadirat Allah Swt. karena atas
curahan nikmat iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas
kita dengan baik. Tidak lupa sholawat beriring salam marilah kita sampaikan kehadirat
junjungan Nabi besar Muhammad Saw. seorang Rasul yang telah diutus Allah sebagai rahmat
bagi sekalian alam.
Hadirin sidang Jumah asadakumullah;
Syukur Alhamdulillah marilah kita panjatkan kehadirat Allah Swt. atas anugerah
nikmat yang kita terima, shalawat serta salam kepada Muhammad Rasulullah Saw. yang
telah memberikan pengajaran mengenai hidup dan kehidupan seorang Muslim.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah ;
Pasca Ramadhan, orang yang beriman memasuki Hari Raya dul Fithri (kembali ke
fithrah) saat kembali kepada kesucian dan kemenangan. Suatu momentum di mana mereka
telah menemukan kesucian diri (tazkiyatunnafs) berkat keampunan yang diperoleh dari
Tuhannya.
Memang, kondisi ke-fithri-an seringkali dianggap sebagai akhir dari tugas ibadah
seseorang, meskipun anggapan ini cenderung kurang tepat, sebab kondisi ke-fithri-an atau
predikat ketaqwaan lebih tepat dipandang sebagai modal awal manusia untuk kemudian
melanjutkan tugas berikutnya seperti meningkatkan kualitas hidupnya, mencakup kualitas
pikir, kualitas kerja, dan kualitas semangat dan mentalitasnya.
Kata Fithrah berasal dari akar kata fatr, dan para ulama sepakat mengartikannya
sebagai asal kejadian atau kondisi awal. Kata Fithrah terdapat dalam Al-Qurn surat 30/alRum:30.
Kata Fithrah dalam ayat ini sering dihubungkan dengan hadis yang diriwayatkan
Bukhari dan Muslim yang menginformasikan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan
fithrah, tetapi orang tua (lingkungan) lah yang mengalihkannya dari fithrah itu. Hadits lain
menyebutkan : Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fithrah, akan tetapi
orangtuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi (HR.Bukhari
dan Muslim).
Fithrah juga diartikan sebagai marifah al-iman (potensi untuk beriman) pada diri
manusia yang sudah ada sejak awal penciptaannya. Potensi Fithrah tersebut harus dijaga
dan dikembangkan manusia. Bertitik tolak dari pengertian kembali kepada fitrah (idul fitri),
dipandang sebagai kembalinya manusia pada jati diri yang sesungguhnya, dan hal ini sangat
penting dalam rangka usaha manusia itu untuk membangun lembaran baru, semangat baru,
dan etos kerja baru.
Hadirin yang berbahagia ;

Kembali ke Fithrah bisa berarti dua hal. Pertama, kembali kepada kondisi
asal kejadian, yaitu Adam, manusia yang diciptakan Tuhan dalam keadaan suci
tidak berdosa dan berhak menempati surga. Oleh karenanya sebagai keturunan
Adam, seyogianyalah orang yang beriman senantiasa mengupayakan agar dirinya
terbebas dari dosa, baik dosa vertikal dan dosa horizontal. Dosa kepada Allah
dilakukan dengan istighfar dan taubat. Sementara dosa horizontal diselesaikan
dengan kegiatan-kegiatan sosial.
Mengingat Adam sebagai asal manusia, mengingatkan kita pula bagaimana
Adam pernah dijerumuskan oleh syetan ke lembah dosa, yang menyebabkan
manusia (Adam) dikeluarkan dari sorga. Oleh karenanya, kembali ke fithrah dalam
hal ini hendaklah dipahami sebagai perang totalterhadap segala bentuk rayuan
dan pengaruh syetan dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Sebagaimana
penegasan Allah SWT : Sesungguhnya Syetan itu adalah musuhmu, oleh
karenanya nyatakanlah permusuhan yang jelas terhadapnya.
Mengingat Nabi Adam sebagai asal kejadian, mengingatkan kita bahwa asal
keturunan manusia itu adalah makhluk yang berkeunggulan dalam hal ilmu
pengetahuan. Dan atas keunggulan itu Allah SWT, memerintahkan Malaikat untuk
sujud kepada Adam.
Dengan demikian kembali ke fithrah juga bermakna munculnya tekad
orang yang beriman untuk menjadikan dirinya sebagai makhluk yang
berkeunggulan. Jadi setiap orang menegaskan keunggulan keilmuannya dalam
apapun profesinya, karena hanya orang-orang yang berkeunggulan dalam ilmulah,
yang dapat membawa dunia kepada kemakmurannya. Demikian pula hanya orang
yang beriman dan berkeunggulanlah yang dapat mempertanggung jawabkan ke
arah mana sejarah dunia akan dibawa.
Kembali ke fithrah bisa berarti kembali ke jalan agama yang benar
(shirathal mustaqim). Oleh karenanya orang yang beriman pasca Ramadhan
hendaknya dapat mengarahkan kehidupannya pada ketaatan agama yang lebih
sempurna. Sebagaimana disebutkan Rasulullah :

Pertama, pribadi dengan etos kerja yang lebih tinggi, sebab orang tersebut telah
memiliki kedekatan kepada Tuhan dan bebas dari dosa-dosa yang membuatnya lamban
dalam melakukan aktifitasnya.
Kedua, pribadi dengan tingkat kejujuran yang tinggi dan lebih baik, sebab ia telah
bebas dari pengaruh syetan dan pengaruh hawa nafsunya.
Ketiga, memiliki keunggulan berkat ilmu dan ketrampilannya yang tinggi. Jadi
seseorang yang mengalami kembali ke fithrah (dul Fithri) telah memiliki tenaga yang unggul
dan handal.
Keempat, pribadi yang memiliki optimis tinggi, sebab dengan pengalaman puasanya
ia semakin sadar dan mengerti bahwa di balik kesulitan dan kesusahan yang dialaminya
dengan berpuasa, pasti Allah akan memberi kesenangan dan kebahagiaan.
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi fithri merupakan
momentum yang tepat untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan yang bercirikan
kesucian diri, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan, semangat
kebersamaan, dan optimisme yang tinggi dalam kehidupan. Kesemua ciri itu, saat ini
merupakan kualitas SDM yang sangat diinginkan masyarakat global.

Seseorang tidak disebut berlebaran kalau hanya pakaiannya saja yang baru.
Tetapi seseorang baru disebut lebaran kalau ketaatannya kepada agama semakin
bertambah
Keadaan fithrah yang dimiliki manusia, paling tidak menggambarkan lima
kualitas manusia :
Bebas dari dosa-dosa yang menjeratnya
Memiliki resistensi yang tinggi terhadap dominasi syetan dan hawa nafsu
Berkeunggulan dalam hal hal ilmu dan ketrampilan
Memiliki semangat kebersamaan (team work) dalam menangani kerja
Memiliki optimisme yang tinggi
Kualitas ini akan memunculkan pribadi dengan kualitas hidup sebagai berikut :

Khutbah Kedua

18 September 2010 / 15 Syawwal 1431 H

Khutbah Vol : 413/9-10/D




; Maasyiral Hadirin rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita persembahkan kehadirat Allah Swt., atas rahmat dan
hidayahNya sehingga dapat menjalankan aktifitas kegiatan kita dengan baik. Shalawat
beriring salam kehadirat junjungan Nabi Besar Muhammad saw., yang telah menuntunkan
kepada manusia pola kehidupan yang menjamin kebahagiaan hidup di dunia dan
keselamatan di akhirat.
Allah swt berfirman dalam al-quran:




-







-









-

Alif lam mim inilah kitab yang berisi hikmah Petunjuk dan Rahmat bagi orang yang
berbuat baik. Mereka yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan
hari akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan dan merekalah orang yang
berhasil (QS.31/Luqman:1-5).

AL-QURAN SEBAGAI HIKMAH DAN PETUNJUK




UNTUK KEBERHASILAN














,











.














.




















.


.


.




!

.

Ayat ini menjelaskan bahwa al-quran itu mengandung hikmah yang amat
besar, dan ini hanya dapat dirasakan dan dimengerti bagi mereka yang benarbenar muhsin, yaitu orang yang senang berbuat kebabaikan atau berbuat ihsan.
Ihsan adalah perbuatan yang lebih tinggi derajatnya dari perbuatan adil dalam
tataran derajat maupun nilainya.
Kaum muslimin rahimakumullah;
Allah menurunkan al-quran kepada manusia sebagai pedoman untuk
berbuak kebaikan yang penuh hikmah. Al-quran itu sendiri adalah kumpulan
firman-firman Allah yang merupakan sumber hikmah sehingga Allah disebut sebagai
al-hakiim yang berarti sumber kebaikan yang haqiqi.
Al-quran yang berasal dari Yang Maha Hakiim yaitu Allah swt. Diturunkan
Allah tidak bermaksud supaya manusia bisa unggul dalam keilmuannya, baik dalam
ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan maupun yang berhubungan dengan
kemanusiaannya. Akan tetapi hikmah yang dapat diambil didalam al-Quran
dimaksudkan agar manusia dalam kehidupan sehari-harinya hendaklah berusaha
sekuat tenaga agar mengamalkan sikap-sikap yang baik serta pengetahuan yang
baik dan praktis, sebagaimana yang telah dilakukan dan dituntunkan oleh
Rasulullah SAW dalam kehidupannya.
Maasyiral hadirin rahimakumullah;
Allah swt. Melalui ayat diatas juga berbicara mengenai kriteria orang yang
baik (para muhsinin). Diantara ciri-cirinya tersebut adalah:
1. Mereka yang merindukan kebaikan dalam tugas, cinta, dan shalat.
2. Mereka mencintai dan mengabdi kepada sesama dalam bentuk zakat atau
sedekah dan perbuatan amal kebajikan.
3. Mereka memperoleh kedamaian dan ketenangan dalam harapan dan
keberhasilan mereka dihari kemudian.
Dari penjelasan mengenai ayat di atas, terlihat jelas bahwa al-quran alkarim merupakan hikmah bagi orang yang berbuat baik, dan tampaklah bahwa
kebaikan seseorang itu tidak terbatas pada ketekunan dalam melaksanakan ibadah
mahdhah semata, melainkan terletak pada nilai-nilai kebaikan yang dilakukannya
untuk orang lain.
Ada tiga dimensi bentuk kebaikan yang lahir dari diri seseorang :
Pertama, mereka mengupayakan kebaikan dan keberhasilan dalam tugastugasnya. Selalu berorientasi pada pencapaian prestasi dalam setiap usaha dan
profesi yang ditekuninya. Dan nilai prestasi itu dapat dirasakan berkahnya oleh
dirinya dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Kehadirannya selalu memacu
prestasi dan kebaikan bagi orang lain, serta dirasakan begitu perlunya setiap ide
dan buah pikirannya bagi keberhasilan bersama untuk membawa pada
keberhasilan dan pencapaian prestasi. Rosulullah saw. adalah tipe manusia yang
senantiasa mengupayakan kebaikan bagi orang-orang sekelilingnya. Beliau tidak
pernah lupa untuk bertanya kepada para sahabat tentang kondisi hidup seseorang,
baik kondisi kehidupan sosial maupun kehidupan ibadahnya. Seolah kepedulian
yang Nabi curahkan kepada sahabat-sahabatnya adalah bentuk ihsan yang ada

pada sosok kebaikan beliau. Dan beliau sering memberi nasehat kepada seseorang
berdasarkan kondisi yang dialami dan sesuai dengan kekurangan yang dimiliki sahabatnya.
Kedua, mereka yang melakukan kebaikan, senantiasa mengorientasikan kebaikannya
pada pencapaian nilai ibadah. Tiada perbuatan yang bernilai tinggi selain perbuatan itu
diupayakan dalam rangka mengejar prestasi pahala akhirat. Sebab itu maka orientasi setiap
perbuatan seseorang hendaklah dalam rangka beribadah kepada Allah sehingga ia termasuk
dalam golongan orang-orang muhsin. Firman Allah taala:

Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
yang berserah diri?"
Dalam setiap perkataan dan perbuatan yang baik-baik hendaklah menjadikan Allah
taala tempat ia berserah diri dalam niat dan tujuannya.

Kaum muslimin rahimakumullah;


Ketiga, mereka yang memiliki sifat ihsan, haruslah mempunyai keyakinan bahwa
Allah akan memberhasilkan cita-citanya. Tidak pernah berperasangka buruk kepada Allah
dari apa yang diterimanya karena telah melakukan kebaikan. Hidup manusia adalah
perjuangan untuk memberi kebaikan kepada sesama. Jika manusia tidak merasakan adanya
keterpanggilan untuk berbuat baik, maka kehadirannya diatas bumi ini hanyalah menambah
kejenuhan dan kesempitan, lain halnya manusia yang merasa butuh akan berbuat baik pada
orang lain, maka ia adalah orang yang muhsin. Ia tidak perduli atas respon negatif atau
celaan orang atas kebaikannya sebab ia yakin bahwa Allah tidak akan melupakan kebaikan
itu dan pasti akan memberhasilkannya. Firman Allah :

Mereka yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah
Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah:54)

Kaum muslimin sidang jumat yang dirahmati Allah;


Secara singkat disimpulkan bahwa seorang muslim yang mengupayakan kebaikan
dalam kerjanya, mengupayakan prestasi dalam perbuatan dan ibadahnya akan mendapat
keberhasilan dan memperoleh kebahagiaan serta kedamaian dalam hidupnya. Dan al-quran
itu diturunkan Allah sebagai pedoman dalam kehidupan agar membuat seseorang menjadi
lebih baik, lebih yakin, akan keberhasilan masa depannya, dan akan memperoleh
ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya.










.

.






.















.

.



.




.

Khutbah Kedua







.






.