Anda di halaman 1dari 2

Memaknai sifat perubahan

Bagian ke dua bab ini membahas makna dari sifat perubahan standart, dari standart audit
berbasis ISA dan standart audit sebelum ISA, ada beberapa pendekatan yang dilakukan.
Dalam pendekatan pertama, kita membandingkan substansi standart lama dan
substansi standart baru.
o Apa saja perubahannya?
o Mengapa perubahan itu diperlukan?
o Apakah ada latar belakang yang lebih mendasar, lebih filosofis?
Pendekatan kedua, tidak melihat kepada substansi perubahan melainkan pada
otoritas. Siapa yang menggagas perubahan ini? Jika kakakn sulung (Big Brother) ini
dapat diandalkan dan alasan untuk melakukan perubahan memang dapat diterima, maka
argument otoritas ini memaknai perubahan sebagai perubahan untuk mencapai sesuatu
yang yang lebih baik.
Pendekatan ketiga, dimulai dari keengganan untuk berubah. Ini sesuatu yang
istimewa. Enggan berubah memang bagian dari naluri manusia.
Menjelaskan Sifat Perubahan dengan Pendekatan Pertama
Perbedaan antara ISA dan standart audit sebelumnya, terlihat dari perubahan yang substantive
dan mendasar. Perubahan mendasar mencerminkan cara berpikir yang berbeda yang
melandasi teknik audit tertentu. Perubahan substantive dan mendasar akan dijelaskan dalam
contoh-contoh bagian berikut.
Sifat Perubahan Substantif dan Mendasar
Audit Berbasis Resiko
Ciri paling menonjol dalam audit berbasis ISA ialah penekanan terhadap aspek resiko. Audit
ISA tidak lain dari audit berbasis resiko.
ISA berulang-ulang menegaskan kewajiban auditor dalam menilai resiko, dalam menanggapi
resiko yang dinilai, dalam mengevaluasi resiko yang ditemukan, baik yang akan dikoreksi
maupun yang tidak dikoreksi entitas. Penegasan ini bermakna, jika auditor tidak menjalankan
kewajibannya, ia teledor.
Dari Rules-based ke Principles-based Standarts
ISA dan IFRS adalah standart-standart berbasis prinsip, yang merupakan perubahan besar
dari standart-standart sebelumnya yang berbasis aturan.
Berpaling dari Model Matematis
Ciri dari semua buku teks auditing amerika, maupun buku-buku pedoman dari KAP besar
seperti the Big Four di era assurance model ialah membantu auditornya dengan memberikan
model-model matematis dalam sampling, statistical sampling maupun non-statistical
sampling.

Salah satu sifat dari model-model matematis, ialah kerumitannya. Kerumitan atau
kompleksitas model matematis sering memberikan kesan keliru, seolah-olah model itu seperti
black box atau botol yang berisi jin yang memberikan jawaban yang tepat.
Kearifan Profesional dan Konsekuensinya
Apa konsekuensi dari ISAs mewajibkan kearifan professional? Konsekuensi yang paling
mudah diamati ialah keterlibatan auditor yang berpengalaman, dan dalam praktik akuntan
publik, ini berarti keterlibatan partner yang mempunyai pengalaman, pendidikan, dan
pelatihan dengan ciri-ciri kepribadian tertentu seperti sikap skeptic.
Pengendalian Internal
Pengendalian internal merupakan perubahan mendasar dalam standar audit dan bagian yang
tidak terpisahkan dari audit berbasis risiko. Contoh dari cara berpikir lama dapat dilihat
dalam banyak praktik di Indonesia. Akuntan publik mereviu sistem pengendalian internal,
dan produk yang dihasilkannya ialah rekomendasi perbaikan sistem dalam surat management
letter.
Those Charged with Governance
ISAs menekankan berbagai kewajiban entitas dan manajemen. Namun, perkembangan dalam
tata kelola pada dua decade terakhir menekankan perlunya orang atau lembaga dengan
wewenang yang cukup dalam mengawasi entitas. Mereka inilah yang disebut TCWG. Auditor
wajib berkomunikasi dengan mereka.
Penutup
Adopsi ISA merupakan bagian dari globalisasi perekonomian, termasuk globalisasi pasar
uang dan pasar modal. Dalam pandangan penulis, perubahan antara ISA dan standar
terdahulu tidak sedramatis paradigm shift. Opini yang diberikan auditor masih sebatas opini
baku (unqualified opinion) dan opini yang dimodifikasi (qualified opinion, disclamer, and
adverse).
Dalam pandangan penulis juga, perubahan standar audit bersifat substantive dan mendasar.
Dari segi utilitas, perubahan ini menjawab banyak tantangan yang dihadapi auditor dalam
menangani risiko yang diambilnya ketika menerima dan melaksanakan perikatan audit.