Anda di halaman 1dari 241

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK

NOMOR KEP - 533/PJ./2000


TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAFTARAN, PENDATAAN DAN PENILAIAN OBJEK DAN
SUBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) DALAM RANGKA PEMBENTUKAN
DAN ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA SISTEM MANAJEMEN INFORMASI OBJEK PAJAK (SISMIOP)
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Menimbang :
bahwa dalam rangka upaya meningkatkan akuntabilitas kinerja dengan memberikan pelayanan prima kepada wajib
pajak, peningkatan Potensi PBB secara nasional serta dengan mempertimbangkan perkembangan keadaan dan
ekonomi terkini, perlu dilakukan perubahan terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-04/PJ.6/1998
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB) dalam rangka Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak
(SISMIOP);
Mengingat :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

g.

Undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah dirubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 tahun 2000;
Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan PBB antara
Pemerintah Pusat dan Daerah;
Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 83/KMK.04/2000 tentang Pembagian dan Penggunaan Biaya
Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan;
Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 523/KMK.04/1998 tentang Penentuan Klasifikasi dan Besarnya
Nilai Jual Objek Pajak sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan;
Keputusan Bersama Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Pajak
KEP-15/A/2000
Nomor : ------------------ tentang Tata Cara Penyaluran Biaya Pemungutan PBB; KEP87/PJ/2000
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-157/PJ.6/2000 tentang Tata Cara Penyusunan dan
Pengusulan Rencana Penggunaan BP PBB;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAFTARAN, PENDATAAN


DAN PENILAIAN OBJEK DAN SUBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DALAM RANGKA PEMBENTUKAN DAN ATAU
PEMELIHARAAN BASIS DATA SISTEM MANAJEMEN INFORMASI OBJEK PAJAK (SISMIOP).
Pasal 1
Pelaksanaan pembentukan basis data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) Pajak Bumi dan
Bangunan dilakukan melalui kegiatan :
a.
Pendaftaran objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan;
b.
Pendataan objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan;
c.
Penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan.

Pasal 2
(1)
(2)

(4)

Pendaftaran objek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a dilakukan oleh
subjek Pajak dengan cara mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP).
Wajib Pajak yang memiliki NPWP mencantumkan NPWP dalam kolom yang tersedia dalam SPOP. (3)
SPOP diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani dan disampaikan ke Kantor
Pelayanan PBB yang wilayah kerjanya meliputi letak objek pajak, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)
hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh Subjek Pajak atau kuasanya.
Formulir SPOP disediakan dan dapat diperoleh dengan cuma-cuma di Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan atau di tempat-tempat lain yang ditunjuk.
Pasal 3

(1)
(2)

Pendataan objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b
dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan dengan menuangkan hasilnya dalam formulir
SPOP.
Pendataan objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat
dilakukan dengan alternatif :
a.
Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP,
b.
Identifikasi objek pajak,
c.
Verifikasi data objek pajak,
d.
Pengukuran bidang objek pajak.

Pasal 4
(1)
(2)

Penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf c dilakukan oleh
Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan baik secara massaI maupun secara individual dengan
menggunakan pendekatan penilaian yang telah ditentukan.
Hasil penilaian objek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan sebagai dasar penentuan Nilai
JuaI Objek Pajak (NJOP). Khusus hasil penilaian objek bumi, sebelum ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak perlu dikonfirmasikan terlebih dahulu kepada Pemerintah Daerah untuk
mendapatkan pertimbangan.
Pasal 5

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak dapat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Kebijakan
Pengembangan dan Penyempurnaan SISMIOP.
Pasal 6
Pemeliharaan basis data SISMIOP dilakukan dengan cara :
a.
Pasif, yaitu kegiatan pemeliharaan basis data yang dilakukan oleh petugas Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan berdasarkan laporan yang diterima dari wajib pajak dan atau pejabat/instansi terkait
pelaksanaannya sesuai prosedur Pelayanan Satu Tempat (PST).
b.
Aktif, yaitu kegiatan pemeliharaan basis data yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan dengan cara mencocokkan dan menyesuaikan data objek dan subjek pajak yang ada dengan
keadaan sebenarnya di lapangan atau mencocokkan dan menyesuaikan nilai jual objek pajak dengan ratarata nilai pasar yang terjadi di lapangan, pelaksanaannya sesuai dengan prosedur pembentukan basis data.
Pasal 7
Setiap Petugas yang melaksanakan kegiatan pendaftaran, pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan
Bangunan dalam rangka pembentukan dan atau pemeliharaan basis data SISMIOP wajib merahasiakan segala sesuatu
yang diketahuinya atau diberitahukan oleh wajib pajak sesuai dengan ketentuan Pasal 34 Undang-undang Nomor 6 tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang
Nomor 16 tahun 2000.

Pasal 8
(1)

(2)
(3)

Dalam melakukan kegiatan pendaftaran, pendataan, dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan
Bangunan dalam rangka pembentukan dan atau pemeliharaan basis data SISMIOP, Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan dapat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, Kantor Pertanahan, dan/ atau
instansi lain yang terkait.
Pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan dalam rangka pembentukan dan
atau pemeliharaan basis data SISMIOP dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang memenuhi persyaratan
teknis yang ditentukan dan ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Rencana kerja pendataan dan penilaian disusun dalam satuan Kabupaten/Kota per sumber dana
dan harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak setempat.
Pasal 9

(1)

(2)

(3)

Biaya pelaksanaan pendaftaran, pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan dapat
dibebankan pada sumber dana :
a.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) u.p. Daftar Isian Proyek (DIP), Daftar Isian
Kegiatan (DIK), dan Daftar Alokasi Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (DA BP
PBB);
b.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi/Kabupaten/Kota.
Standar biaya pendataan dan penilaian yang bersumber pada APBN dan APBD sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), dan Daftar Biaya Komponen Bangunan untuk penilaian objek non standar akan ditinjau
dan disesuaikan secara periodik oleh Direktur Pajak Bumi dan Bangunan atas nama Direktur Jenderal
Pajak.
Tata cara pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan sebagai pelaksanaan ayat (1) huruf b
ditentukan oleh masing-masing Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Pasal 10

(1)
(2)

Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan
Bangunan dalam Rangka Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen
Informasi Objek Pajak (SISMIOP) adalah sebagaimana tercantum pada lampiran Keputusan ini.
Petunjuk Pelaksanaan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilengkapi dengan Standar Biaya Pendataan dan
Penilaian Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan dalam Rangka Pembentukan dan atau
pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP).
Pasal 11

(1)

(2)

Pada saat Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor
Kep-04/PJ.6/1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan, dan Penilaian Objek dan Subjek
Pajak Bumi dan Bangunan dalam Rangka Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data Sistem
Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) dinyatakan tidak berlaku.
Petunjuk-petunjuk teknis yang mengatur Pendaftaran, Pendataan, dan Penilaian Objek dan Subjek Pajak
Bumi dan Bangunan dalam Rangka Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen
Informasi Objek Pajak (SISMIOP) sepanjang belum diatur kembali dan tidak bertentangan dengan
Keputusan ini dinyatakan masih berlaku, yaitu :
1. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-28/PJ.6/1992 tanggal 12 Juni 1992 tentang Petunjuk
Teknis Nomor Objek Pajak (NOP) Pajak Bumi dan Bangunan;
2. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-33/PJ.6/1993 tanggal 14 Juni 1993 tentang Petunjuk
Teknis Pemetaan PBB;
3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-38/PJ.6/1993 tanggal 30 Juni 1993 tentang Petunjuk
Teknis Pengukuran dan Identifikasi Objek Pajak Bumi dan Bangunan.

Pasal 12
Hal-hal yang belum diatur dalam petunjuk pelaksanaan ini dapat diatur lebih lanjut dalam petunjuk teknis.
Pasal 13
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggaI ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2000
DIREKTUR JENDERAL PAJAK
ttd
MACHFUD SIDIK

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.

BAB II

LATAR BELAKANG
MAKSUD DAN TUJUAN
ISTILAH DAN PENGERTIAN
STRUKTUR/BAGIAN UMUM
UNSUR-UNSUR POKOK SISMIOP
1.5.1. Nomor Obyek Pajak (NOP)
1.5.2. Blok
1.5.3. Zona Nilai Tanah
1.5.4. Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB)
1.5.5. Program Komputer

1
2
2
6
6
6
7
8
8
8

PEMBENTUKAN BASIS DATA


2.1. PENDAFTARAN
2.1.1. Pekerjaan Persiapan
2.1.2. Pelaksanaan Pekerjaan
2.1.3. Pekerjaan Kantor

10
10
10
12

2.2. PENDATAAN
2.2.1. Pekerjaan Persiapan
2.2.2. Pekerjaan Lapangan
2.2.3. Pekerjaan Kantor

13
13
17
20

2.3. PENILAIAN
2.3.1. Jenis-jenis Obyek Pajak
2.3.2. Pendekatan dan C ara Penilaian
2.3.3. Pelaksanaan Penilaian

24
24
25
26

2.4. SISTEM INFORMASI GEOGRAFI PBB


2.4.1. Latar Belakang Pengembangan SIG PBB
2.4.2. Maksud dan Tujuan Pengembangan SIG PBB
2.4.3. Tahapan Pelaksanaan SIG PBB
2.4.4. Ketentuan di Dalam Pembuatan Peta Digital

47
47
47
48
50

BAB III PEMELIHARAAN BASIS DATA


3.1. PEMELIHARAAN BASIS DATA SEC ARA PASIF
3.1.1. Pendaftaran
3.1.2. Pemeliharaan Basis Data Kolektif

54
54
56

3.2. PEMELIHARAAN BASIS DATA SEC ARA AKTIF


3.2.1. Pemeliharaan Basis Data untuk Penyempurnaan ZNT/NIR
3.2.2. Pemeliharaan Basis Data Obyek dan atau Subyek Pajak
3.2.3. Pemeliharaan Basis Data Peta Digital

56
56
57
57

BAB IV PENGAWASAN, PELAPORAN, DAN EVALUASI


4.1. PENGAWASAN PEKERJAAN LAPANGAN
4.1.1. Ruang Lingkup
4.1.2. C ara Pengawasan

58
58
59

4.2. PELAPORAN DAN EVALUASI


4.2.1. Pelaporan

59
59

4.2.2. Evaluasi

60

BAB V

STRUKTUR ORGANISASI, JADWAL KEGIATAN, PEMBIAYAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN


KEUANGAN
5.1. STRUKTUR ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

5.1.1. Sumber Dana dari APBN u.p. Daftar isian Proyek (DIP)
5.1.2. Sumber Dana dari APBN u.p. DIK dan DA BP PBB
5.1.3. Struktur Organisasi Tim Pengawas Pelaksanaan SISMIOP Di Tingkat Kanwil
5.1.4. Sumber Dana dari APBD Propinsi/Kabupaten/Kota

61
61
63
71
72

5.2. JADWAL KEGIATAN PEMBENTUKAN DAN ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA

73

5.3. PEMBIAYAAN
5.3.1. Standar Biaya
5.3.2. Kelompok Biaya

73
73
75

5.4. PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN


5.4.1. Jenjang Pertanggungjawaban Keuangan
5.4.2. Kelengkapan Dokumen Pertanggungjawaban Keuangan

75
76

BAB VI PENUTUP

PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAFTARAN, PENDATAAN DAN PENILAIAN OBJEK DAN


SUBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DALAM RANGKA PEMBENTUKAN DAN ATAU
PEMELIHARAAN BASIS DATA SISTEM MANAJEMEN INFORMASI OBJEK PAJAK (SISMIOP)
BAB I PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG

1.

Sesuai Pasal 6 dan Pasal 9 Undang-undang 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi
dan Bangunan;

2.

Asas perpajakan nasional adalaha self assessment, yaitu suatu asas yang memberikan
kepercayaan kepada wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban serta memenuhi
haknya di bidang perpajakan, sehingga dapat mewujudkan perluasan dan peningkatan
kesadaran kewajiban perpajakan secara adil.
Dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan, salah satu pemberian kepercayaan
tersebut adalah dengan memberikan kesempatan kepada wajib pajak untuk
mendaftarkan sendiri objek pajak yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatnkan (self
assessment di bidang pelaporan), ke Direktorat Jenderal Pajak atau tempat-tempat
lain yang ditunjuk;

3.

Mengingat besarnya jumlah objek pajak dan beragamnya tingkat pendidikan dan
pengetahuan wajib pajak, maka belum seluruhnya wajib pajak dapat melaksanakan
kewajiban untuk mendaftarkan objek pajak yang dikuasai/dimiliki/dimanfaatkannya.
Oleh karena itu untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, maka Direktorat
Jenderal Pajak mengadakan kegiatan pendataan Objek dan Subjek Pajak Bumi dan
Bangunan. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan sendiri oleh Direktorat Jenderal
Pajak atau bekerjasama dengan pihak lain/ketiga yang ditentukan oleh Direktorat
Jenderal Pajak;
Kegiatan pendataan dapat dilaksanakan dengan 4 (empat) alternatif, yaitu :
a. Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP, lebih lanjut dibagi menjadi
pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP perorangan
serta penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP Kolektif;
b. Identifikasi objek pajak;
c. Verifikasi data objek pajak;
d. Pengukuran bidang objek pajak;

4.

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sebagai dasar pengenaan pajak ditentukan melalui
kegiatan penilaian atas objek pajak. Dalam melaksanakan kegiatan ini, dapat
dipergunkan pendekatan data pasar, pendekatan biaya dan pendekatan kapitalisasi
pendapatan. Sedangkan teknik yang digunakan dalam penilaian adalah secara individu
atau secara massal.
Dengan semakin pentingnya kedudukan NJOPsebagai acuan dalam berbagai jenis
kegiatan khususnya yang berkaitan dengan akurasi data objek pajak dan nilai jual
objek pajak, terutama setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 21 tahun 1997
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2000 tentang Bea
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, maka kegiatan pendaftaran, pendataan,
dan penilaian objek dan subjek pajak harus semakin ditingkatkan baik kualitas
maupun kuantitasnya.

5.

1.2.

Basis data SISMIOP yang telah terbentuk yaitu seluruh objek dan subjek pajak bumi
dan bangunan yang telah diberi Nomor Objek Pajak (NOP), kode ZNI, dan DBKB
dalam suatu wilayah administrasi pemerintahan tertentu yang disimpan dalam media
komputer, perlu selalu dipelihara dan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya di
lapangan. Pemeliharaan basis data tersebut didasarkan kepada informasi/laporan baik
yang diterima langsung dari wajib pajak bersangkutan, laporan petugas Direktorat
Jenderal Pajak, maupun laporan pejabat lain sebagaimana diubah dalam Undangundang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

MAKSUD DAN TUJUAN


Kegiatan pendaftaran, pendataan dan penilaian objek dan subjek PBB dimaksudkan untuk
menciptakan suatu basis data yang akurat dan up to date dengan mengintegrasikan semua
aktivitas administrasi PBB ke dalam satu wadah, sehingga pelaksanaannya dapat lebih
seragam, sederhana, cepat, dan efisien. Dengan demikia, diharapkan akan dapat tercipta:
pengenaan pajak yang lebih adil dan merata, peningkatan realisasi potensi/pokok
ketetapan, peningkatan tertib administrasi dan peningkatan penerimaan Pajak Bumi dan
Bangunan, serta dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wajib pajak. Untuk
menjaga akurasi data objek dan subjek pajak yang memenuhi unsur relevan, tepat waktu,
andal, dan mutakhir, maka basis data tersebut di atas perlu dipelihara dengan baik.

1.3.

ISTILAH DAN PENGERTIAN


1.

Basis Data
Kumpulan informasi objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan serta data
pendukung lainnya dalam suatu wilayah administrasi pemerintahan tertentu serta
disimpan dalam media penyimpan data.

2.

Blok
Zona Geografis yang terdiri dari sekelompok objek pajak yang dibatasi oleh batas
alam dan/atau buatan manusia yang bersifat permanen/tetap, seperti jalan, selokan,
sungai, dan sebagainya untuk kepentingan pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
dalam satu wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan.
Penentuan batas blok tidak terikat kepada batas RT/RW dan sejenisnya dalam satu
desa/kelurahan.

3.

Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB)


Daftar yang dibuat untuk memudahkan perhitungan nilai bangunan berdasarkan
pendekatan biaya yang terdiri dari biaya komponenutama dan/atau biaya komponen
material bangunan dan biaya komponen fasilitas bangunan.

4.

Daftar Himpunan Ketetapan Pajak (DHKP)


Daftar himpunan yang memuat data nama wajib pajak, letak objek pajak, NOP, besar
serta pembayaran pajak terhutang yang dibuat per desa/kelurahan.

5.

Daftar Hasil rekaman (DHR)


Daftar yang memuat rincian data tentang objek dan subjek pajak serta besarnya nilai

objek pajak sebagai hasil dari perekaman data.

6.

Daftar Perubahan Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan


Daftar yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang dipergunakan untuk
melaporkan perubahan/mutasi objek dan subjek PBB secara kolektif melalui Kepala
Desa.

7.

Data Harga Jual


Data/informasi mengenal jual beli tanah dan/atau bangunan yang didapat dari sumber
pasar dan sumber lainnya seperti Camat PPAT, Notaris PPAT, aparat desa/kelurahan,
iklan media cetak, dan lain-lain.

8.

Duplikasi (Back Up)


Proses Penggandaan/duplikasi data ke dalam media penyimpan data dengan tujuan
untuk keamanan dari kemungkinan rusak atau hilangnya data yang tersimpan dalam
hard disk.

9.

Editing
Kegiatan memperbaiki,melengkapi, dan menyempurnakan data grafis hasil pekerjaan
scanning agar dapat dimanfaatkan oleh aplikasi SIG PBB.

10. Gambar Sket


Gambar tanpa skala yang menunjukkan letak relatif objek pajak, zona nilai tanah, dan
lain sebagainya dalam satu wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan.

11. Jenis Penggunaan Bangunan (JPB)


Pengelompokkan
penggunaannya.

bangunan

berdasarkan

tipe

konstruksi

dan

peruntukkan/

12. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tentang Klasifikasi dan Besarnya
Nilai Jual Objek Pajak.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia yang digunakan sebagai dasar
pengenaan Pajka Bumi dan Bangunan di wilayah kerja Kanwil DJP yang bersangkutan.

13. Lembar Kerja Objek Khusus (LKOK)


Formulir tambahan yang dipergunakan untuk menghimpun data tambahan atas objek
pajak yang mempunyai kriteria khusus yang belum tertampung dalam SPOP dan
LSPOP.

14. Nomor Objek Pajak (NOP)


Nomor identifikasi objek pajak (termasuk objek yang dikecualikan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 3 Undang-undnag Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana diubah
dalam UU Nomor 12 tahun 1994) yang mempunyai karakteristik unik, permanen,
standar dengan satuan blok dalam satu wilayah administrasi pemerintahan
desa/kelurahan yang berlaku secara nasional.

15. Nilai Indikasi Rata-rata (NIR)


Nilai Pasar rata-rata yang dapat mewakili nilai tanah dalam sutu zona nilai tanah.

16. Objek Acuan


Suatu objek yang mewakili, dari sejumlah objek yang serupa/sejenis yang nilainya
telah diketahui, dan telah berfungsi sebagai objek acuan dalam melakukan penilaian
objek khusus secara individual.

17. Objek Pajak Non Standar


Objek pajak yang tidak memenuhi kriteria objek pajak standar.

18. Objek Pajak Umum


Objek pajak yang memiliki jenis konstruksi dan material pembentuk yang umum
digunakan. Jenis objek pajak umum dibagi dua yaitu objek pajak standar dan non
standar.

19. Objek Pajak Khusus


Objek Pajak yang memiliki jenis konstruksi khusus baik ditinjau dari segi material
pembentuk maupun keberadaannya memiliki arti yang khusus.
Contoh : pelabuhan udara, pelabuhan laut, lapangan golf, pabrik semen/kimia, jalan
tol, dan lain-lain.

20. Objek Pajak Standar


Objek pajak yang memiliki luas bangunan 10.000 m2.

21. Pelayanan Informasi Telepon (PIT)


Salah satu bentuk pelayanan wajib pajak dari Kantor Pelayanan PBB yang dapat
diakses melalui pesawat telepon/faksimile.

22. Pembentukan Basis Data


Suatu rangkaian kegiatan untuk membentuk suatu basis data yang sesuai dengan
ketentuan SISMIOP (pendaftaran, pendataan dan penilaian, serta pengolahan data
objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan) dengan bantuan komputer pada suatu

wilayah tertentu, yang dilakukan oleh kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
atau pihak lain yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

23. Pemeliharaan Basis Data


Kegiatan memperbaharui atau menyesuaikan basis data yang telah terbentuk
sebelumnya melalui kegiatan verifikasi/penelitian yang dilakukan oleh Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan sesuai dengan Pasal 21 Undang-undang Nomor
12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undnag-undang Nomor 12 Tahun
1994 dan/atau laporan dari wajib pajak yang bersangkutan dalam rangka akurasi
data.

24. Pemulihan (Recovery)


Kegiatan untuk memulihkan kembali data dan/atau program yang rusak dalam basis
data dengan jalan memasukkan (restore) data dan/atau program cadangan.

25. Pemutakhiran Basis Data (Up Dating)


Pekerjaan yang dilakukan untuk menyesuaikan data yang disimpan di dalam basis
data dengan data yang sebenarnya di lapangan.

26. Pendaftaran objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan


Kegiatan subjek pajak untuk mendaftarkan objek pajaknya dengan cara mengisi Surat
Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) sesuai Prosedur Pelayanan Satu Tempat.

27. Pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan


Kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh data objek
dan subjek pajak sesuai prosedur Pembentukan Basis Data.
Kegiatan ini dapat dilaksanakan bekerja sama dengan pihak lain yang ditentukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak.

28. Pendekatan Biaya


Cara penentuan Nilai jual Objek Pajak (NJOP) dengan menghitung seluruh biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh objek pajak tersebut pada waktu penilaian dilakukan
dikurangi dengan penyusutannya.

29. Pendekatan Data Pasar


Cara penentuan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dengan membandingkan objek pajak
yang akan dinilai dengan objek pajak lain yang sejenis yang telah diketahui harga
jualnya, dengan memperhatikan antara lain faktor letak, kondisi fisik, waktu, fasilitas,
dan lingkungan.

30. Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan


Cara penentuan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dengan mengkapitalisasi pendapatan
bersih 1 (satu) tahun dari objek pajak tersebut.

31. Pengiriman (Transfer)


Kegiatan pengiriman data ke dalam media komputer dari kantor-kantor Direktorat
Jenderal Pajak ke pihak lain agar data tersebut selalu sama.

32. Penilaian dengan bantuan komputer (Computer Assisted Valuation=CAV)


Proses penilaian yang menggunakan bantuan komputer dengan kriteria yang sudah
ditentukan.

33. Penilaian individual


Penilaian terhadap objek pajak dengan cara memperhitubgkan semua karakteristik
dari setiap objek pajak.

34. Penilaian Massal


Penilaian yang sistematis untuk sejumlah objek pajak yang dilakukan pada saat
tertentu secara bersamaan dengan menggunakan suatu prosedur standar yang dalam
hal ini disebut Computer Assisted Valuation (CAV)

35. Penilaian Objek Pajak Bumi dan Bangunan


Kegiatan Direktorat Jenderal Pajak untuk menentukan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
yang akan dijadikan dasar pengenaan pajak, dengan menggunakan pendekatan data
pasar, pendekatan biaya, dan pendekatan kapitalisasi pendapatan.

36. Penyusutan
Berkurangnya nilai bangunan yang disebutkan
keusangan/penurunan kondisi fisik bangunan.

yang

disebabkan

oleh

37. Peta Blok


Peta yang menggambarkan suatu zona geografis yang terdiri atas sekelompok objek
pajak yang dibatasi oleh batas alam dan/atau batas buatan manusia, seperti : jalan,
selokan, sungai, dan sebagainya untuk kepentingan pengenaan Pajak Bumi dan
Bangunan dalam satu wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan.

38. Peta Digital


Peta yang mempunyai format digital, mempunyai besaran vektor, dan tersimpan
dalam media komputer.

39. Peta Desa/Kelurahan


Peta wilayah administrasi desa/kelurahan dengan skala tertentu yang memuat segala
informasi mengenai jenis tanah, batas dan nomor blok, batas wilayah administrasi
pemerintahan, dan keterangan lainnya yang diperlukan.

40. Peta Foto


Peta yang detailnya adalah bayangan fotografis yang sudah dibetulkan serta diberikan
keterangan tambahan yaitu data kartografi yang penting, sehingga dapat digunakan
sebagai peta.

41. Peta Garis


Peta yang menggambarkan unsur-unsur di permukaan bumi dalam bentuk bayangan
garis, unsur yang digambarkan dinyatakan dalam bentuk simbol, serta dilengkapi
dengan legenda.

42. Peta Kerja


Salinan/foto copy peta garis, peta foto, atau foto udara yang digunakan sebagai dasar
pelaksanaan pekerjaan pendataan di lapangan.

43. Plotting
Pencetakkan peta digital ke media kertas/drafting film/kalkir.

44. Peta Zona Nilai Tanah


Peta yang menggambarkan suatu zona geografis yang terdiri atas sekelompokobjek
pajak yang mempunyai satu Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) yang dibatasi oleh batas
penguasaan/pemilikan objek pajak dalam satu wilayah administrasi desa/kelurahan.
Penentuan batas Zona Nilai Tanah tidak terikat kepada batas blok.

45. Scanning/pemindai
Kegiatan entry data grafis ke dalam media komputer.

46. Sistem Informasi Geografis Pajak Bumi dan Bangunan (SIG PBB)
Aplikasi yang mengintegrasikan antara data grafis dan numerik serta merupakan
bagian dari SISMIOP.

47. Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP)


Sistem yang terintegrasi untuk mengolah informasi/data objek Pajak Bumi dan
Bangunan dengan bantuan komputer, sejak dari pengumpulan data (melalui
pendaftaran, pendataan dan penilaian), pemberian identitas objek pajak (Nomor objek
Pajak), perekaman data, pemeliharaan basis data, pencetakan hasil keluaran (berupa
SPPT, STTS, DHKP< dan sebagainya). Pemantauan penerimaan dan pelaksanaan
penagihan pajak, sampai dengan pelayanan kepada wajib pajak melalui Pelayanan

Satu Tempat.

48. Sistem Pelayanan Satu Tempat


Tata cara pemberian pelayanan urusan Pajak Bumi dan Bangunan kepada wajib
pajak/masyarakat pada tempat yang telah ditentukan dan mudah dijangkau oleh wajib
pajak/masyarakat.

49. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP)


Surat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak beserta lampirannya dan
digunakan oleh subjek/wajib pajak untuk melaporkan data objek pajaknya.

50. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT)


Surat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk menetapkan besarnya
pajak terhutang.

51. Surat Tanda Terima Setoran (STTS)


Surat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai bukti pembayaran pajak
terhutang.

52. Zona Nilai Tanah


Zona geografis yang terdiri atas sekelompok aobjek pajak yang mempunyai satu Nilai
Indikasi Rata-rata yang dibatasi oleh batas penguasaan/pemilikan objek pajak dalam
satu satuan wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan tanpa terikat pada
batas blok.

1.4.

STRUKTUR/BAGAN UMUM

1.
2.
3.
4.
5.
1.5.

SISMIOP terdiri atas 5 (lima) unsur dan beberapa sub sistem. Di dalamnya terdapat
unsur NOP, Blok, ZNI, DBKB, dan Program Komputer, serta sub sistem pendataan, sub
sistem Pelayanan Satu Tempat.
Sub sistem-sub sistem tersebut di atas masing-masing melakukan fungsi yang
berlainan, tetapi menggunakan basis data yang sama.
Untuk mengoperasikan sistem ini dengan bantuan komputer, setiap objek pajak diberi
NOP sebagai tanda pengenal yang unik, permanen, dan standar.
NOP merupakan alat yang dapat mengintegrasikan fungsi-fungsi dari masing-masing
sub sistem yang ada dalam SISMIOP dalam rangka pemenuhan fungsi dan tugas
pokok Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.
Struktur/Bagan Umum SISMIOP dapat dilihat pada Lampiran 1.

UNSUR-UNSUR POKOK SISMIOP


SISMIOP terdiri atas 5 (lima) unsur yaitu NOP, Blok, ZNT, DBKB, dan Program Komputer.

1.5.1. Nomor Objek Pajak (NOP)


A. Spesifikasi Nomor Pajak (NOP)
Penomoran objek pajak merupakan salah satu elemen kunci dalam pelaksanaan
pemungutan PBB dalam arti luas. Spesifikasi NOP dirancang sebagai berikut :
1. Unik, artinya satu objek PBB memperoleh satu NOP dan berbeda dengan NOP
untuk objek PBB lainnya.
2. Tetap, artinya NOP yang diberikan pada satu objek PBB tidak berubah dalam
jangka waktu yang relatif lama.
3. Standar, artinya hanya ada satu sistem pemberian NOP yang berlaku secara
nasional.

B.

Maksud dan Tujuan Pemberian NOP


1. Untuk menciptakan identitas yang standar bagi semua objek Pajak Bumi dan
Bangunan secara nasional, sehingga semua aparat pelaksana Pajak Bumi dan
Bangunan mempunyai pemahaman yang sama atas segala informasi yang
terkandung dalam NOP.
2. Untuk menertibkan administrasi objek PBB dan menyederhanakan administrasi
pembukuan, sehingga sesuai dengan keperluan pelaksanaan PBB. Dalam
pelaksanaannya NOP juga identik dengan nomor SPPT, STTS, dan DHKP.
3. Untuk membentuk file induk PBB (master file) yang terdiri atas beberapa file yang
salin berkaitan melalui NOP.

C.

Manfaat Penggunaan NOP


1. Mempermudah mengetahui lokasi/letak objek pajak.
2. Mempermudah untuk mengadakan pemantauan penyampaian dan pengembalian
Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) sehingga dapat diketahui objek yang
belum/sudah terdaftar.
3. Sebagai sarana untuk mengintegrasikan data atributik dan data grafis (peta) PBB.
4. Mengurangi kemungkinan adanya ketetapan ganda.
5. Memudahkan penyampaian SPPT, sehingga dapat diterima wajib pajak tepat pada
waktunya.
6. Memudahkan pemantauan data tunggakan.
7. Dengan adanya NOP wajib pajak mendapatkan identitas untuk setiap objek pajak
yang dimiliki atau dikuasainya.

D.

Tata Cara Pemberian NOP


Secara rinci tata cara pemberian NOP diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor : SE-28/PJ.6/1992 tanggal 12 Juni 1992 tentang Petunjuk Teknis Nomor
Objek Pajak (NOP) Pajak Bumi dan Bangunan.

1.5.2. Blok
Blok ditetapkan menjadi suatu areal pengelompokkan bidang tanah terkecil untuk
digunakan sebagai petunjuk lokasi objek pajak yang unik dan permanen. Syarat utama
sistem identifikasi objek pajak adalah stabilitas. Perubahan yang terjadi pada sistem
identifikasi dapat menyulitkan pelaksanaan dan administrasi. Alasan kestabilan ini yang
menyebabkan RT/RW/RK atau sejenisnya yang cenderung mengalami perubahan yang
relatif tinggi tidak dimanfaatkan sebagai salah satu komponen untuk mengidentifikasi
objek pajak yang bersifat permanen dalam jangka panjang. Sehingga apabila RT/RW/RK
atau sejenisnya dimasukkan sebagai bagian dari NOP/blok dapat menyebabkan NOP/blok
tidak permanen. Blok merupakan komponen utama untuk identifikasi objek pajak. Jadi
penetapan definisi serta pemberian kode blok semantap mungkin sangat penting untuk
menjaga agar identifikasi objek pajak tetap bersifat permanen.
Untuk menjaga kestabilan, batas-batas suatu blok harus ditentukan berdasarkan suatu

karakteristik fisik yang tidak berubah dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu, batasbatas blok harus memanfaatkan karakteristik batas geografis permanen yang ada, jalan
bebas hambatan, jalan arteri, jalan lokal, jalan kampung/desa, jalan setapak/lorong/gang
rel kereta api, sungai, saluran irigasi, saluran buangan air hujan (drainage), kanal, dan
lain-lain.
Dalam membuat batas blok, persyaratan lain yang harus dipenuhi adalah tidak
diperkenankan melampaui batas desa/kelurahan dan dusun. Batas lingkungan dan
RT/RW/RK atau sejenisnya tidak perlu diperhatikan dalam penentuan batas blok. Dengan
demikian dalam satu blok kemungkinan terdiri atas satu RT/RW/RK atau sejenisnya atau
lebih.
Satu blok dirancang untuk dapat menampung lebih kurang 200 objek pajak atau luas
sekitar 15 ha, hal ini untuk memudahkan kontrol dan pekerjaan pendataan di lapangan
dan administrasi data. Namun jumlah objek pajak atau wilayah yang luasnya lebih kecil
atau lebih besar dari angka di atas tetap diperbolehkan apabila kondisi setempat tidak
memungkinkan menerapkan pembatasan tersebut. Untuk menciptakan blok yang mantap,
maka pemilihan batas-batas blok harus seksama. Kemungkinan pengembangan wilayah di
masa mendatang penting untuk dipertimbangkan sehingga batas-batas blok yang dipilih
dapat tetap dijamin kestabilannya.
Kecuali dalam hal yang luar biasa, misalnya perubahan wilayah administrasi, blok tidak
boleh diubah karena kode blok berkaitan dengan semua informasi yang tersimpan di dalam
basis data.

1.5.3. Zona Nilai Tanah (ZNT)


ZNT sebagai komponen utama identifikasi nilai objek pajak bumi mempunyai satu
permasalahan yang mendasar, yaitu kesulitan dalam menentukan batasnya karena pada
umumnya bersifat imajiner. Oleh karena itu secara teknis, penentuan batas ZNT mengacu
pada batas penguasaan/pemilikan atas bidang objek pajak. Persyaratan lain yang perlu
diperhatikan adalah perbedaan nilai tanah antar zona. Perbedaan tersebut dapat bervariasi
misalnya 10%. Namun pada prakteknya penentuan suatu ZNT dapat didasarkan pada
tersedianya data pendukung (data pasar) yang dianggap layak untuk dapat mewakili nilai
tanah atas objek pajak yang ada pada ZNT yang bersangkutan.
Penentuan nilai jual bumi sebagai dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan cenderung
didasarkan kepada pendekatan data pasar. Oleh karena itu keseimbangan antar zona yang
berbatasan dalam suatu wilayah administrasi pemerintahan mulai dari tingkat yang
terendah sampai dengan tingkat petinggi perlu diperhatikan.
Informasi yang berkaitan dengan letak geografis diwujudkan dalam bentuk peta atau sket
salah satu hal terpenting adalah pemberian kode untuk setiap ZNT. Hal ini dimaksudkan
untuk memudahkan menentukan letak relatif objek pajak di lapangan maupun untuk
kepentingan lainnya dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan. Setiap ZNT diberi kode
dengan menggunakan kombinasi dua huruf dimulai dari AA sampai dengan ZZ. Aturan
pemberian kode pada peta ZNT mengikuti pemberian nomor blok pada peta
desa/kelurahan atau NOP pada peta blok (secara spiral).

1.5.4. Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB)


Sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi
dan Bangunan sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 1994 tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah bumi dan/atau bangunan. Sebagaimana dengan
bumi, bangunan juga harus ditentukan nilai jualnya.
Nilai Jual Objek Pajak Bangunan dihitung berdasarkan biaya pembuatan baru untuk
bangunan tersebut dikurangi dengan penyusutan. Untuk mempermudah penghitungan Nilai

Jual Objek Pajak bangunan harus disusun Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB).
DBKB terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen utama, material, dan fasilitas. DBKB
berlaku untuk setiap Daerah Kabupaten/Kota dan dapat disesuaikan dengan
perkembangan harga dan upah yang berlaku.

1.5.5. Program Komputer


SISMIOP, sebagai pedoman administrasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang mulai
diaplikasikan (diberlakukan) di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sejak tahun 1992,
merupakan sistem administrasi yang mengintegrasikan seluruh pelaksanaan kegiatan PBB.
SISMIOP diharapkan dapat meningkatkan kinerja sistem perpajakan di masa mendatang
yang membutuhkan kecepatan, keakuratan, kemudahan dan tingkat efisiensi yang tinggi.
Untuk menunjang kebutuhan akan sistem perpajakan diatas maka SISMIOP memasukkan
Program Komputer sebagai salah satu unsur pokoknya. Program komputer adalah aplikasi
komputer yang dibangun untuk dapat mengolah dan menyajikan basis data SISMIOP yang
telah tersimpan dalam format digital.
Pada awalnyasistem komputerisasi PBB dibangun dalam suatu plat-form sebagai berikut :
Menggunakan perangkat keras berbasis Personal Computer (server);
Sistem operasi Unix;
Perangkat lunak basis data Recital dan;
Program aplikasi SISMIOP yang dibangun menggunakan perangkat lunak Recital;
Sejak tahun 1996 program komputer ini dikembangkan pada aplikasi lainny, antara lain
aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) PBB dan aplikasi Pelayanan Informasi Telepon
(PIT). Aplikasi SIG PBB dan PIT merupakan suatu sistem yang terintegrasi dengan
SISMIOP dan tetap menggunakan basis data SISMIOP sebagai sumber informasi data
numeris.
Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan untuk lebih meningkatkan kinerja,
kemampuan yang lebih baik dalam mengolah basis data yang besar serta terjaminnya
keamanan basis data yang tersimpan, maka aplikasi SISMIOP sejak tahun 1997 telah
dikembangkan dalam perangkat lunak basis data yang dipilih oleh Departemen Keuangan
RI sebagai standar pengolahan basis data, sehingga seluruh instansi di bawah Departemen
Keuangan diharapkan akan lebih mudah dalam tukar menukar informasi.
Sistem SISMIOP yang dibangun dengan Perangkat Lunak Basis data Oracle sejak tahun
2000 tersebut selanjutnya dinamakan i-sismiop. Nama tersebut mempunyai dua
pengertian yaitu Integrated dan Internet Ready.
1. Integrated mempunyai pengertian bahwa sistem tersebut mengintegrasikan seluruh
aplikasi yang ada yaitu SISMIOP, SIG, PIT, aplikasi BPHTB, dan aplikasi P3, dengan
menggunakan basis-data Oracle.
2. Internet Ready dimaksudkan bahwasistem tersebut mempunyai kemampuan
interkoneksi dengan sistem yang lain dengan memanfaatkan teknologi internet. Hal ini
dimungkinkan dengan menggunakan perangkat lunak yang digunakan secara luas di
kalangan pengguna teknologi informasi.

BAB II
PEMBENTUKAN BASIS DATA

Pembentukan basis data dapat dilaksanakan dengan cara:

2.1.

PENDAFTARAN
Pendaftaran objek Pajak Bumi dan Bangunan dilakukan oleh subjek pajak denan cara
mengambil, mengisis, dan mengembalikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP)
ke Kantorkantor Direktorat Jenderal Pajak setempat atau tempat-tempat lain yang
ditunjuk untuk pengambilan/pengembalian SPOP. Pengisian SPOP dalam rangka
pendaftaran harus dilengkapi dengan denah objek pajak. Contoh formulir SPOP dapat
dilihat pada Lampiran 2. Pendaftaran di wilayah yang basis datanya belum terbentuk
dengan pola SISMIOP, NOP yang diberikan bukan merupakan hasil kegiatan
pendataan sehingga tidak dapat menunjukkan posisi relatifnya. Adapun tahap
kegiatan pendaftaran adalah sebagai berikut :

2.1.1. Pekerjaan Persiapan


1. Kantor Pelayanan PBB memberitahukan kepada Pemerintah Daerah setempat
tentang kegiatan pendaftaran objek pajak sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak;
2. Kantor Pelayanan PBB bersama dengan Pemerintah Daerah setempat menunjuk
tempat-tempat pengambilan dan pengembalian SPOP; Tempat yang dapat
ditunjuk antara lain :
a. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan;
b. Kantor Penyuluhan Pajak;
c. Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota;
d. Kantor Kecamatan;
e. Kantor Desa/Kelurahan;
f.
Tempat lain yang dianggap memungkinkan.
3. Kantor Pelayanan PBB bersama dengan Pemerintah Daerah setempat
memberikan penjelasan kepada penanggungjawab tempat pengambilan dan
pengembalian SPOP;
4. Kantor Pelayanan PBB menyerahkan SPOP dan perangkat administrasi lainnya
(seperti tanda terima SPOP, daftar penjagaan, dan lain-lain) kepada penanggung
jawab tempat pengambilan dan pengembalian SPOP dengan Berita Acara
Penyerahan SPOP. SPOP harus diberi nomor urut terlebih dahulu dan
ditatausahakan. Contoh Berita Acara Penyerahan SPOP dapat dilihat pada
Lampiran 4.
5. Kantor Pelayanan PBB menyiapkan Keputusan Kakanwil DJP untuk tahun berjalan
tentang penentuan kalsifikasi besarnya NJOP sebagai dasar pengenaan PBB
khususnya yang menyangkut NIR dan DBKB.
6. Kantor Pelayanan PBB memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang
rencana kegiatan pendaftaran objek dan subjek pajak.

2.1.2. Pelaksanaan Pekerjaan


Pelaksanaan pendaftaran objek Pajak Bumi dan Bangunan melibatkan tiga unsur,
yaitu subjek pajak, petugas pada tempat pengambilan dan pengembalian SPOP, serta
petugas Kantor Pelayanan PBB. Masing-masing unsur mempunyai kewajiban sebagai
berikut :

A. Kewajiban Petugas pada Tempat Pengambilan dan Pengembalian SPOP.


1. Memberikan formulir SPOP kepada subjek pajak yang datang untuk
mendaftarkan objek pajaknya.

2.
3.

4.

5.

6.

Memberikan Tanda Terima Penyampaian SPOP kepada subjek pajak untuk


diisi dan ditandatangani; Contoh tanda terima SPOP dapat dilihat pada
lampiran 5.
Mencatat identitas subjek pajak dan/atau kuasanya yang menerima SPOP;
Dalam hal ini kepada subjek pajak atau kuasanya supaya diminta
menunjukkan identitasnya (salinan KTP/Sim atau identitas lainnya yang
masih berlaku).
Menerima SPOP, yang sudah diisi, ditandatangani, dan dilengkapi dengan
data pendukungnya, yang dikembalikan oleh subjek pajak atau kuasanya
serta memberikan Tanda Terima Pengembalian SPOP. Contoh Tanda Terima
Pengembalian SPOP dapat dilihat pada Lampiran 6.
Mengirimkan Laporan Daftar Penjagaan Penyampaian dan Pengembalian
SPOP kepada Kantor Pelayanan PBB pada setiap hari kerja terakhir dalam
setiap minggunya (Jumat/Sabtu) atau hari kerja berikutnya apabila hari
Jumat/Sabtu jatuh pada hari libur disertai dengan :
a. Tanda Terima Penyampaian SPOP;
b. SPOP yang sudah dikembalikan oleh subjek pajak beserta Tanda Terima
Pengembalian SPOP;
c. Surat Pengantar;
Contoh Daftar Penjagaan Penyampaian dan Pengembalian SPOP dapat dilihat
pada Lampiran 7.
Mengajukan permintaan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk
mendapatkan formulir SPOP, dalam hal persediaan SPOP sudah tidak
mencukupi.

B. Kewajiban subjek Pajak pada Pelaksanaan Pendaftaran Objek Pajak:


1. Mengambil formulir SPOP pada tempat-tempat yang ditunjuk;
2. Mengisi formulir SPOP dengan jelas, benar, dan lengkap serta
menandatanganinya, bila perlu dilengkapi dengan data pendukung;
3. Dalam hal yang menjadi subjek pajak adalah badan hukum, maka yang
menandatangani SPOP adalah pengurus/direksi; Tanda terima SPOP harus
diberi penjelasan secukupnya yang menjelaskan siapa yang menandatangi
SPOP;
4. Dalam SPOP ditandatangani oleh bukan subjek pajak yang bersangkutan,
maka harus dilampiri Surat Kuasa dari subjek pajak;
5. Mengembalikan formulir SPOP yang sudah diisi ke Kantor Pelayanan PBB
setempat atau tempat di mana formulir SPOP diperoleh, selambat-lambatnya
30 (tiga puluh hari) sejak tanggal diterimanya SPOP.

C. Kewajiban Petugas Kantor Pelayanan PBB


1. Membuat Buku Penjagaan Penyampaian dan Pengembalian SPOP mengenai
semua SPOP yang dikeluarkan oleh Kantor Pelayanan PBB baik dari Kantor
Pelayanan PBB sendiri maupun dari tempat yang ditunjuk sebagai tempat
pengambilan dan pengembalian Spop dalam Daftar Rekapitulasi SPOP yang
Diterima Kembali dari Subjek Pajak; Contoh Daftar Rekapitulasi SPOP yang
Diterima Kembali dari Subjek Pajak dapat dilihat pada Lampiran 8.
2. Menerima dan menatausahakan laporan yang disampaikan oleh petugas
penanggung jawab tempat pengambilan dan pengembalian SPOP;
3. Meneliti SPOP yang sudah dikembalikan baik langsung dari subjek pajak
maupun dari tempat-tempat yang ditunjuk sebagai tempat pendaftran, yang
perlu ditelitii antara lain adalah kebenaran pengisian dan kelengkapan data
pendukung SPOP. Dalam hal diperlukan penelitian lapangan, SPOP berikut
data pendukungnya diteruskan kepada petugas yang ditunjuk untuk
mengadakan penelitian lapangan.
4. Memberikan laporan kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB mengenai subjek
pajak yang belum mengembalikan SPOP setelah lewat batas waktu 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal diterimanya SPOP, selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari sesudah batas waktu pengembalian SPOP yang ditetapkan dalam Surat
Teguran Pengembalian SPOP ditentukan paling lama 15 (lima belas) hari
terhitung mulai tanggal pengiriman (stempel pos). Contoh Surat Teguran
Pengembalian SPOP dapat dilihat pada Lampiran 9.

5.

6.

Menetapkan kepada Kepala Kantor Pelayanan PBB dengan tindasan Kepala


Seksi Penetapan apabila subjek pajak tidak juga mengembalikan SPOP,
setelah melewati batas waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran
Pengembalian SPOP, untuk diterbitkan SKP-nya;
Meneliti permintaan tertulis dari subjek pajak tentang perpanjangan atau
penundaan pengembalian SPOP dan melaporkan kepada Kepala Kantor
Pelayanan PBB. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan PBB menyetujui
permintaan tersebut, maka diterbitkan Surat Persetujuan Penundaan
Pengembalian SPOP. Batas waktu penundaan ditentukan paling lama 3 (tiga)
bulan sejak permohonan diterima. Contoh Surat Persetujuan Penundaan
Pengembalian SPOP dapat dilihat pada Lampiran 10.

2.1.3. Pekerjaan Kantor

A. Penelitian Data Masukan


Penelitian data masukan dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa SPOP dan
formulir formulir pendukungnya telah diisi dengan benar, jelas, dan lengkap
serta ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

B. Pembendelan SPOP
1. Pembendelan SPOP beserta data pendukungnya penting sekali untuk
memudahkan penyimpanan dan pencarian kembali apabila diperlukan. Cara
sederhana namun efektif adalah dengan memasang nomor pengenal di
setiap formulir SPOP yang dijilid dalam setiap bendel yang berisi kurang lebih
100 objek pajak.
2. Setiap bendel SPOP diberi nomor yang unik, terdiri atas enam digit dengan
sistematika sebagai berikut:
a. Dua digit pertama menyatakan tahun pendataab.
b. Empat digit selanjutnya merupakan nomor bendel.
Contoh : 97.0001, 97.0125, 97.1450, dst.

3.

4.

Nomor bendel ini dapat ditulis atau dicetak, kemudian ditempatkan pada
sudut kanan atas halaman muka dan disamping kiri ketebalan bendel.
Setiap formulir SPOP yang ada pada setiap bendel diberi nomor berurutan
pada sudut kanan atas yang terdiri atas sembilan digit. Enam digit pertama
menyatakan nomor bendel sebagaimana dimaksud pada angka 2, sedangkan
tiga digit terakhir menyatakan nomor lembar SPOP dan lampirannya.
Contoh : 97.0125.001, 97.0125.002, 97.0125.003, dst.
97.0126.001, 97.0126.002, 97.0126.003, dst.
Penjilidan bendel sebaiknya menggunakan kertas karton tipis yang ditutup
dengan plastik untuk melindungi dari debu dan memperlambat kerusakan.
Khusus dalam rangka pemeliharaan basis data, pembendelan SPOP dapat
dilakukan setelah perekaman data.

C. Perekaman Data
1. Perekaman data ke dalam komputer dilakukan oleh Operator Data Entry.
Proses penerimaan dan perekaman SPOP dikoordinir oleh Operator Console.
2. Perekaman data dilaksanakan setiap hari, dan apabila jumlah yang akan
direkam cukup banyak, perekaman dapat dilaksanakan siang dan malam.
Untuk itu perlu dibuatkan jadwal penugasan Operator Data Entry.

D. Penyimpanan Bendel
Bendel-bendel SPOP disimpan pada tak bertingkat dan terbuka yang dapat
dicapai dari dua sisi dengan jarak antar rak kira-kira 45 cm. Letak bendel-bendel

SPOP dalam rak disusun sesuai dengan urutan nomor bendel, sehingga
memudahkan penempatan dan pencarian kembali apabila diperlukan (terutama
apabila ada wajib pajak yang mengajukan keberatan). Penatausahaan bendelbendel SPOP dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan.

E. Produksi Data Keluaran


Kegiatan ini dilaksanakan sehubungan dengan adanya permintaan pelayanan dari
wajib pajak sesuai dengan kasus yang diajukan, seperti halnya pendaftaran data
baru, perubahan data, penerbitan salinan SPPT, pengajuan keberatan data/atau
permohonan pengurangan PBB, dan lain sebagainya.

2.2

PENDATAAN
Pendataan objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan dilaksanakan oleh Kantor
Pelayanan PBB atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak, dan
selalu diikuti dengan kegiatan penilaian. Pendataan dilakukan dengan menggunakan
formulir SPOP dan dilakukan sekurang-kurangnya untuk satu wilayah administrasi
desa/kelurahan dengan menggunakan/memilih salah satu dari empat alternatif
sebagai berikut.

A. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP


Pendataan dengan alternatif ini hanya dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah
yang pada umumnya belum/tidak mempunyai peta, merupan daerah terpencil,
atau mempunyai potensi PBB relatif kecil. Pelaksanaannya dilakukan sebagai
berikut :
1. Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP Perorangan.
Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP perorangan dilakukan
dengan menyebarkan SPOP langsung kepada subjek pajak atau kuasanya
dengan berpedoman pada sket/peta blok yang telah ada;
2. Untuk daerah yang potensi PBB-nya relatif lebih kecil, cakupan Wilayah dan
objek pajaknya luas, dapat digunakan alternatif pendataan dengan
penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP Kolektif. Dengan
alternatif ini, SPOP disebarkan melalui aparat desa/kelurahan setelah terlebih
dahulu membuat sket/peta blok.
Untuk menghindari kelemahan alternatif ini (rendahnya tingkat akurasi data)
perlu diperhatikan kemampuan penguasaan wilayah bagi petugas yang
bertanggung jawab.

B. Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak


Pendataan dengan alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang
sudah mempunyai peta garis/peta foto yang dapat menentukan posisi relatif
objek pajak tetapi tidak mempunyai data administrasi pembukuan Pajak Bumi
dan Bangunan. Data tersebut merupakan hasil pendataan secara lengkap tiga
tahun terakhir.

C. Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak


Alternatif ini dapat dilaksanakan pada daerah/wilayah yang sudah mempunyai
peta garis/peta foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan Pajak
Bumi dan Bangunan hasil pendataan tiga tahun terakhir secara lengkap.

D. Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak


Alternatif ini dapat dilaksankan pada daerah/wilayah yang hanya mempunyai sket
peta desa/kelurahan (misalnya dari Biro Pusat Statistik atau instansi lain)
dan/atau peta garis/peta foto tetapi belum dapat digunakan untuk menentukan
posisi relatif objek pajak. Adapun tahapan kegiatan pendataan adalah sebagai
berikut :
2.2.1. Pekerjaan Persiapan

A. Penelitian Pendahuluan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan data dan informasi yang diperlukan,
baik dalam rangka penyusunan rencana kerja maupun untuk menentukan
sasaran dan daerah/wilayah mana yang akan diadakan kegiatan pendataan
dengan memperhatikan potensi pajak dan perkembangan wilayah.
Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian pendahuluan antara lain
adalah :
1. Luas wilayah
2. Perkiraan luas tanah yang dapat dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
3. Luas tanah yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
4. Luas bangunan yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
5. Jumlah penduduk
6. Jumlah wajib pajak yang sudah terdaftar
7. Jumlah objek pajak yang sudah terdaftar
8. Jumlah pokok ketetapan pajak tahun sebelumnya
9. Perkiraan harga jual tanah tertinggi dan terendah per m2 dalam satu
desa/kelurahan
10. Harga bahan bangunan danstandar upah yang berlaku
11. Peta dan pembukuan PBB, antara lain :
a. Peta desa/kelurahan yang dimiliki Kantor Pelayanan PBB
b. Peta garis/peta foto berkoordinat yang dimiliki Kantor Pelayanan PBB
c. Buku Induk atau Buku Himpunan Data Objek/Subjek PBB yang lama
d. Buku rincikan yang lama (kalau ada)
e. SK Kakanwil DJP tentang kalasifikasi NJOP Bumi, Peraturan PBB, bukubuku aministrasi PBB lainnya

B. Penyusunan Rencana Kerja


Data yang berhasil dikumpulkan dalam kegiatan penelitian pendahuluan terlebih
dahulu dianalisis dan selanjutnya dijadikan bahan untuk menyusun rencana kerja.
Materi yang perlu dituangkan dalam rencana kerja tersebut antara lain adalah :
1. Sasaran dan volume pekerjaan
2. Alternatif kegiatan
3. Standar prestasi petugas
4. Jadwal pelaksanaan pekerjaan
5. Organisasi dan jumlah pelaksana
6. Jumlah biaya yang diperlukan
7. Perkiraan peningkatan pokok ketetapan pajak
8. Hasil akhir

Dalam penyusunan rencana kerja perlu diperhatikan dua hal berikut :


1. Fleksibilitas, artinya rencana kerja tersebut mampu menampung perubahanperubahan pelaksanaan di lapangan tanpa harus mengubah rencana kerja.
2. Konsisten, artinya hal-hal yang telah ditentukan dalam rencana kerja
tersebut harus dapat dipenuhi secara konsisten, seperti halnya standar

prestasi kerja, jumlah personil, waktu yang diperlukan, biaya, dan lain-lain.

Rencana kerja disusun dalam satu Daerah Kabupaten/Kota per sumber dana dan
harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah DJP setempat.
Contoh sistematika Rencana Kerja dapat dilihat pada Lampiran II.

C. Penyusunan Organisasi Pelaksana


Bentuk dan beban organisasi pelaksana erat kaitannya dengan jumlah objek
pajak yang akan di data. Apabila jumlah objek paajk yang akan didata lebih kecil
atau sama dengan 50.000, pelaksanaannya secara fungsional diserahkan kepada
Seksi Pendataan dan Penilaian pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
setempat dengan penanggung jawab adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan setempat. Demikian juga untuk jumalah objek pajak yang didata
jumlahnya lebih dari 50.000, bentuk dan struktur organisasinya sama dengan
ketua tim yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
dan dilaksanakan secara terpadu oleh seluruh unit organisasi pada Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Untuk kegiatan yang sumber dananya
berasal dari dana APBN/Bantuan Luar Negeri (DIP/Loan) struktur dan bentuk
organisasinya tersendiri. Bentuk dan struktur organisasi, uraian tugas, dan
tanggung jawab akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab V.
Apabila jumlah tenaga pelaksana pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan tidak memadai dibandingkan dengan jumlah objek pajak yang akan
didata, maka petugas pendata dapat diambil dari tenaga lulusan SMU atau STM
jurusan bangunan/mesin. Pengadaan petugas lapangan tersebut dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain :
1. Melalui Departemen Tenaga Kerja setempat, atau
2. Memanfaatkan tenaga yang ada (Karang Taruna) di desa/kelurahan
setempat.
3. Melalui institusi lain yang bisa dipertanggungjawabkan kemampuan
personilnya.

Hal-hal yang perlu dilaksanakan sehubungan dengan pengadaan tenaga lapangan


sebagaimana dimaksud di atas adalah :
1. Pemerintahan dan seleksi calon petugas lapangan
2. Penentuan jadwal dan materi latihan
3. Pelaksanaan peltihan dan evaluasi hasil pelatihan
4. Pembuatan surat perjanjian kerja antara petugas lapangan dengan Kantor
Pelayanan PBB
Pelatihan selain diberikan kepada petugas lapangan sebaiknya juga diberikan
kepada pengawas petugas lapangan

D. Pengadaan Sket, Peta Desa/kelurahan, dan Sarana Pendukung Lainnya


Jenis sket/peta desa/kelurahan disesuaikan dengan alternatif kegiatan pendataan
sebagai berikut :
1. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pegembalian SPOP
Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP dapat
dilakukan dengan bantuan sket/peta desa/kelurahan yang dapat diperoleh
dari instansi yang berkompeten dalam bidang pembuatan peta, menyalin
sket/peta yang sudah ada, atau sket kasar kasar yang dibuat oleh petugas
pendata.

2.

Pendataan dengan identifikasi objek pajak


Peta garis/peta foto dari desa/kelurahan yang akan didata dapat diperoleh
dari instansi yang berkompeten dalam bidang pembuatan peta, seperti
Bakosurtanal, Badan Pertanahan Nasional, Dinas Tata Kota, BAPPEDA,
TOPDAM, atau instansi lainnya. Skala peta disesuaikan dengan kondisi
wilayah dan dapat ditentukan sebagai berikut :
a. Daerah padat (pusat : 1 : 1.000
kota)
b. Daerah
sedang : 1 : 2.000 atau 1 : 2.500
(pinggiran kota)
c. Daerah
jarang : 1 : 5.000
(pedesaan)
Dengan catatan : skala peta dalam satu desa/kelurahan harus sama

3.

Pendataan dengan verifikasi data objek pajak


Pengadaan peta dilaksanakan dengan menggandakan peta desa/kelurahan
dan peta rincik yang sudah ada pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan, sebagai hasil dari kegiatan pedataan 3 (tiga) tahun terakhir.

4.

Pendataan dengan pengukuran bidang objek pajak.


Pengadaan peta dapat diperoleh dari instansi yang berkompeten dalam
pembuatan peta atau membuat sendiri dengan peralatan yang ada sesuai
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak SE-33/PJ.6/1993 tanggal 14
Juni 1993 tentang Petunjuk Teknis Pemetaan PBB. Untuk pembuatan
kerangka peta dan pengukuran OP dengan menggunakan alat GPS akan
diatur dalam surat edaran tersendiri.

Sarana pendukung lainnya untuk melaksanakan pembentukan basis data antara


lain berupa :
1. Perangkat komputer beserta kelengkapannya
2. Almari penyimapanan sket/peta dan SPOP/LSPOP
3. Perlengkapan pekerjaan lapangan
4. Perlengkapan pekerjaan administrasi/penggambaran
5. Stiker NOP
6. Formulir SPOP dan formulir teknis lainnya
7. Alat tulis kantor

E. Pembuatan Konsep Sket/Peta Desa/Kelurahan


Tahapan pekerjaan dalam pembuatan konsep sket/peta desa/kelurahan adalah
sebagai berikut :
1. Orientasi lapangan
Kegiatan ini bertujuan untuk mencocokkan keadaan yang tergambar pada
konsep sket/peta desa/kelurahan dengan keadaan yang sebenarnya di
lapangan. Dalam hal terjadi perubahan detail di lapanagan terutaman detail
lapangan yang akan dijadikan batas blok, maka perubahan tersebut agar
digambarkan pada konsep sket/peta desa/kelurahan. Orientasi lapangan
harus benar-benar dilaksanakan secara teliti guna mengurangi kemungkinan
adanya perubahan batas blok pada saat pengukuran bidang atau identifikasi
objek pajak.

2.

Penentuan batas blok


Penentuan batas blok harus memperhatikan karakteristik fisik yang tidak
berubah dalam kurun waktu yang lama, sebagai contoh dalam hal terdapat
jalan raya dan gang, maka yang ditetapkan sebagai batas blok adalah jalan
raya.
Batas-batas blok yang telah ditentukan tersebut digambarkan pada konsep
sket/peta kerja, dengan menggunakan legenda yang telah ditentukan dan
berbeda dengan legenda yang digunakan sebagai batas ZNT. Idealnya satu
blok menampung lebih kurang 200 OP atau luas sekitar 15 hektar. Hal ini
untuk memudahkan pengawasan baik dalam pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data di lapangan maupun dalam pemeliharaan basis data.
Jumlah objek pajak atau luas blok lebih kecil atau lebih besar dari angka
tersebut di atas diperbolehkan apabila kondisi setempat tidak memungkinkan
untuk diterapkan pembatasan tersebut.

3.

Pemberian Nomor Blok


Nomor Blok yang terdiri dari 3 (tiga) digit dimulai dari kiri atas (barat laut)
peta dengan menggunakan angka arah, dan disusun secara spiral sesuai
dengan arah jarum jam.

Untuk menunjang pelaksanaan, aplikasi SIG PBB diusahakan pegadaan peta yang
mempunyai grid dan koordinat. Contoh sket/peta desa/kelurahan dapat dilihat
pada lampiran 12.

F. Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT


Tata cara pembuatan konsep sket/peta ZNT dijelaskan dalam Bab II butir 2.3.3
huruf A angka 1 tentang Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR.

G. Penyusunan DBKB
Tata cara penyusunan DBKB dijelaskan dalam Bab II butir 2.3.3 huruf A angka 2
tentang penyusunan DBKB.

H. Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Instansi lainnya


Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan instansi lainnya (misalnya Bappeda,
Kantor Pertanahan, Departemen Pekerjaan Umum, Real Estate Indonesia, dan
lain-lain yang diperlukan) dimaksudkan untuk menunjang kelancaran
pelaksanaan kegiatan pembentukan basis data SIMIOP anatara lain :
1. Penyuluhan kepada masyarakat dan instansi lainnya mengenai maksud dan
tujuan diadakannya kegiatan pembentukan basis data SISMIOP
2. Mengadakan keseimbangan penggolongan Nilai Jual Objek Pajak yang akan
dijadikan sebagai dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan, antar wilayah
yang berbatasan mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat
propinsi;
3. Meningkatkan peran aktif Tim Intensifikasi Pajak Bumi dan Bangunan Daerah
Propinsi/Kabupaten/Kota yang bersangkutan;
4. Pelatihan petugas lapangan/perangkat desa;
5. Pembagian tugas dan tanggung jawab pelaksanaan pendataan.

I. Penyuluhan kepada masyarakat


Kantor Pelayanan PBB memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang
rencana kegiatan pendataan objek dan subjek pajak.

2.2.2. Pekerjaan Lapangan


Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pekerjaan lapangan antara lain adalah :

A. Pengumpulan Data Objek Pajak serta Pemberian NOP


1. Pendataan dengan Penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP
a. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP
Perorangan
(i)
Dengan menggunakan konsep sket/peta blok, petugas lapangan
bersama-sama dengan aparat desa/kelurahan setempat membuat sket
letak relatif bidang objek pajak yang ada pada blok yang
bersangkutan.

(ii)

(iii)

(iv)

Pada waktu membuat sket letak relatif objek pajak tersebut, Petugas
lapangan memberikan NOP pada setiap bidang objek pajak dan
mencatat data objek dan subjek pajak PBB dari buku induk/Buku
C/Register Desa/daftar ringkas?informasi lainnya pada Daftar
Sementara Data Objek dan Subjek PBB sebagaimana Lampiran 13.
Setelah letak relatif objek pajak dalam satu desa/kelurahan selesai
dibuat, Petugas Lapangan bersama sama dengan aparat
desa/kelurahan mengidentifikasikan batas RT/RW atau yang setingkat
dengan itu, dan selanjutnya menyampaikan SPOP dan stiker NOP
kepada para Ketua RT/RW sebanyak jumlah objek pajak yang ada di
wilayahnya untuk disampaikan kepada subjek pajak yang ada
bangunannya.
Petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah diisi dengan jelas
benar dan lengkap serta ditandatangani oleh subjek pajak atau
kuasanya melalui para ketua RT/RW yang bersangkutan.
Pada konsep sket/peta blok diberi tanda apakah SPOP yang
disampaikan kepada wajib pajak tersebut di atas sudah atau belum
dikembalikan.
Bila dalam suatu blok terdapat objek pajak yang bernilai
tinggi/mempunyai karakteristik objek khusus, dilakukan penilaian
individual.

b. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP


Kolektif.
Pada dasarnya, pendataan dengan alternatif ini dilaksanakan dengan tata
cara yang sama seperti pendataan dengan penyebaran SPOP Perorangan.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
(i)
Data objek dan subjek pajak yang telah disusun, disesuaikan dengan
keadaan lapangan dan diisikan ke dalam SPOP Kolektif sesuai dengan
urutan NOP (Contoh formulir SPOP Kolektif sebagaimana Lampiran 3).
(ii)
Pemberian NOP pada objek pajak dilakukan tanpa penempelan stiker
NOP.
(iii)
Data rinci setiap bangunan dimasukkan ke dalam LSPOP Kolektif
sesuai urutan NOP.
(iv)
Apabila di dalam blok terdapat objek pajak yang bernilai
tinggi/mempunyai karakteristik objek khusus, pengisian SPOP
menggunakan SPOP Perorangan dan dilakukan Penilaian Individual.

2. Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak


a.
Dengan menggunakan konsep peta blok, petugas lapangan mengadakan
identifikasi batas-batas objek pajak. Terhadap objek pajak yang tidak dapat
diidentifikasikan batasnya, petugas lapangan melakukan pengukuran sisi
objek pajak. Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak.
Setelah selesai mengidentifikasikan bidang objek pajak, langsung diberi
NOP atas bidang objek pajak tersebut dan ditempel stiker NOP untuk objek
pajak yang ada bangunannya. Selanjutnya petugas lapangan mengisikan
data objek dan subjek pajak pada SPOP.
b.
Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan mengkonfirmasikan kepada
subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya. Dalam hal pada saat itu,
SPOP belum dapat dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya, maka dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat
desa/kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk diteruskan kepada
subjek pajak yang bersangkutan. Penyerahan SPOP dimaksud disertai
denan tanda terima SPOP.
c.
Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya.

3. Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak


a.
Peta blok yang telah diisi dengan batas-batas bidang objek pajak hasil
plotting/foto copy dari peta rincik, pada masing-masing bidang objek
pajaknya diberi nama subjek pajak sesuai yang terdapat dalam buku rincik.
b.
Dengan menggunakan peta blok sebagaimana dimaksud pada butir a,
petugas lapangan mengadakan penempelan Stiker NOP untuk objek pajak
yang ada bangunannya sekaligus meneliti apakah ada perubahan data.
c.
Dalam hal terjadi Perubahan data, maka petugas melakukan kegiatan mulai
dari identifikasi dan pengukuran objek pajak sampai dengan mengisi SPOP
sesuai dengan data yang sebenarnyadan mengkonfirmasikan kepada subjek
pajak yang bersangkutan atau kuasanya. Dalam hal SPOP belum dapat
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya,
maka dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat
desa/kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk diteruskan kepada
subjek pajak yang bersangkutan disertai dengan tanda terima SPOP. Dalam
hal tidak terjadi perubahan data, maka petugas lapangan mengisi SPOP
dengan menyalin data yang sudah ada pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan serta mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya.
d.
Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah
dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya.

4. Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak


a.
Dengan menggunakan konsep sket/peta blok, petugas lapangan
mengadakan pengukuran batas-batas objek pajak sesuai dengan Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-38/PJ.6/1993 tanggal 30 Juni
1993 tentang Petunjuk Teknis Pengukuran dan Identifikasi Objek PBB.
Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak. Setelah selesai
mengukur satu bidang objek pajak, langsung diberi NOP atas bidang objek
pajak tersebut dan ditempel stiker NOP bagi objek pajak yang ada
bangunannya. Selanjutnya petugas lapangan mengisikan data objek dan
subjek pajak pada SPOP.
b.
Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan mengkonfirmasikan kepada
subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya. Dalam hal SPOP belum
dapat dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau
kuasanya, maka dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat
desa/kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk diteruskan kepada
subjek pajak yang bersangkutan. Penyerahan SPOP, dimaksud disertai
dengan tanda terima SPOP.
c.
Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang telah

dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya.

B. Penyerahan Hasil Pekerjaan Lapangan


1. Petugas lapangan mengadakan penelitian terhadap SPOP hasil pendataan, dan
selanjutnya diberi kode ZNT sesuai dengan letaknya.
2. Penelitian SPOP dan pemberian kode ZNT tersebut di atas dibuatkan Daftar
Penjagaannya.
Contoh formulir Daftar Penjagaan dapat dilihat pada Lampiran 14.
3. Penyerahan hasil pekerjaan lapangan berupa SPOP dan net konsep sket/peta
blokkepada Petugas Pengawas Lapangan, harus dibuatkan tanda terima.
Selanjutnya
Pengawas
meneliti
hasil
pekerjaan
lapangan
dan
menandatanganinya.
4. Untuk SPOP Kolektif, sebelum diserahkan kepada pengawas petugas lapangan,
data hasil pendataan terlebih dahulu dikonfirmasikan kepada Kepala Desa.
Penyerahan tersebut disertai dengan tanda terima penyerahan sebagaimana
Lampiran 15.
5. Secara hirarki, Pengawasan Petugas Lapangan meneruskan hasil pekerjaan
lapangan yang diterimanya dari petugas Lapangan kepada pejabat yang ditunjuk
untuk diproses lebih lanjut.

C. Penelitian Hasil Pekerjaan Lapangan


1. Penelitian SPOP
a.
Penelitian ini dimaksud agar butir yang ada dalam SPOP diisi dengan jelas,
benar, lengkap, serta ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
b.
Dalam hal pengisian tersebut belum memenuhi syarat sebagaimana yang
telah ditentukan, agar dikembalikan kepada petugas lapangan untuk
dilengkapi.
c.
Selain itu SPOP dicocokkan dengan sket/peta blok/ZNT agar data atributik
yang telah dicatat pada SPOP sesuai dengan data grafisnya (posisi
relatifnya pada sket/peta blok)
d.
Untuk SPOP Kolektif setelah selesai pelaksanaan pengumpulan data perlu
diadakan verifikasi hasil pekerjaan Lapangan oleh petugas Kantor
Pelayanan PBB dengan didampingi Kepala Desa/perangkat desa/pemuka
masyarakat/wajib pajak.
Kegiatan verifikasi lapangan meliputi :
(i) Mencocokkan nama wajib pajak, data objek dan subjek pajak
termasuk rincian data dalam LSPOP Kolektif;
(ii) Mencocokkan letak relatif objek pajak pada konsep sket/peta blok dan
batas ZNT;
Apabila terjadi perubahan/kesalahan data, petugas verifikasi lapangan
segera melakukan perbaikan data dan menandatanganinya dengan
sepengetahuan Kepala Desa. Hasil pelaksanaan verifikasi lapangan
dituangkan dalam formulir sebagaimana Lampiran 16.

2.

Penelitian Net Konsep Sket/peta Blok dan Net Konsep Sket/Peta ZNT
a.
Penelitian ini dimaksudkan agar net konsep sket/peta blok yang dibuat
telah memenuhi spesifikasi teknis yang ditentukan, seperti halnya
penulisan NOP, penentuan batas blok, ukuran peta, skala peta, legenda,
dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk pembuatan
sket/peta blok.
b.
Selanjutnya penelitian ini juga dimaksudkan agar net konsep sket/peta
ZNT tersebut telah dibuat sesuai dengan spesifikasi teknis yang
ditentukan, seperti halnya penentuan batas ZNT, pencantuman kode ZNT,
penulisan NIR, dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk
pembuatan sket/peta ZNT.

3.

Penyempurnaan NIR dan ZNT


Jika berdasarkan hasil pekerjaan lapangan diperoleh data pasar baru serta
diketahui bahwa batas ZNT yang terdapat dalam sket/konsep peta ZNT
mengalami perubahan, maka NIR beserta sket/konsep peta ZNT dapat diubah
berdasarkan data baru tersebut. Pekerjaan penyempurnaan NIR dan ZNT
sebagaimana dimaksud di atas, selain dilaksanakan dalam satu paket dengan
kegiatan pembentukan basis data SISMIOP, dapat juga dilaksanakan secara
tersendiri serta merupakan kegiatan rutin setiap tahun dalam upaya
penyempurnaan ZNT/NIP untuk menentukan penggolongan NJOP bumi.

2.2.3. Pekerjaan Kantor

A. Penelitian Data Masukan


Penelitian ini dimaksudkan agar pengisian SPOP dan formulir data harga jual diisi
dengan benar, jelas, dan lengkap serta ditandatangani oleh pihak-pihak yang
bersangkutan. Sedangkan net konsep/peta blok digambar sesuai dengan
petunjuk teknis pengukuran dan identifikasi objek pajak bumi dan bangunan.
Dalam hal pengisian/penggambaran tersebut belum memenuhi syarat, maka
data masukan tersebut harus dikembalikan kepada petugas yang bersangkutan.

B. Pembendelan SPOP dan formulir-formulir data pasar


1. SPOP
a. Pembendelan SPOP dan data pendukungnya penting sekali untuk
memudahkan penyimpanan dan pencarian kembali apabila diperlukan.
Cara sederhana namun efektif adalah dengan memasang nomor
pengenal di setiap formulir SPOP yang dijid dalam setiap bendel yang
berisi kira-kira 100 objek pajak.
b. Pembendelan SPOP tidak harus dikelompokkan berdasarkan kriteria
tertentu (misalnya per blok) tetapi dapat dibendel secara acak karena
karena pengenalan dan lokasi setiap formulir SPOP secara mudah dapat
dicari dengan menggunakan komputer.
c. Setiap bendel SPOP diberi nomor yang unik, terdiri atas enam digit
dengan sistematika sebagai berikut :
(i) Dua digit pertama menyatakan tahun pendataan
(ii) Empat digit selanjutnya merupakan nomor bendel
Contoh : 97.0001, 97.0125, 97.1450, dst.
Nomor bendel ini dapat ditulis atau dicetak, kemudian ditempatkan pada
sudut kanan atas halaman muka dan samping kiri ketebalan bendel.
d. Setiap formulir SPOP yang ada pada setiap bendel diberi nomor
berurutan pada sudut kanan atas yang terdiri atas sembilan digit. Enam
digit pertama menyatakan nomor bendel sebagaimana dimaksud pada
huruf c, sedangkan tiga digit terakhir menyatakan nomor lembar SPOP
dan lampirannya.
Contoh
: 97.0125.001, 97.0125.002, 97.0125.003, dst.
: 97.0126.001, 97.0126.002, 97.0126.003, dst.
Penjilidan bendel sebaiknya menggunakan kertas karton tipis yang
ditutup dengan plastik untuk melindungi dari debu dan memperlambat
kerusakan.

2.

Formulir-formulir data pasar


Formulir data pasar terdiri dari Formulir Data Harga Jual, Formulir
Pengumpulan Data Tanah, Formulir Pengumpulan Data Transaksi, dan
Daftar Upah Pekerja, Harga Bahan Bangunan, dan Sewa Alat. Untuk

memudahkan menemukan kembali apabila diperlukan, pembendelan


formulir data pasar disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing. Untuk
pemeliharaan basis data, pembendelan SPOP dan formulir-formulir data
pasar dapat dilakukan setelah perekaman data.

C. Perekaman Data
1. Perekaman ZNT dan DBKB
Perekaman ZNT dilakukan dengan memasukkan kode masing-masing ZNT
beserta NIR-nya ke dalam komputer.
Perekaman DBKB dilakukan dengan memasukkan harga bahan bangunan
dan upah pekerja dari setiap wilayah Daerah Kabupaten//Kota ke dalam
komputer. Perekaman ZNT dan DBKB harus dilakukan terlebih dahulu
sebelum dilakukan perekaman SPOP.

2.

Perekaman SPOP
a. SPOP yang sudah dibendel diserahkan kepada masing-masing Operator
Date Entry untuk direkam ke dalam komputer. Proses penerimaan dan
perekaman SPOP dikoordinir oleh Operator Console.
b. Perekaman data dilaksanakan setiap hari, dan apabila jumlah yang akan
direkam cukup banyak, perekaman dapat dilaksanakan siang dan
malam. Untuk itu perlu dibuatkan jadwal penugasan Operator Data
Entry.

D. Pengawasan Kualitas Data


1. Validasi DHR
a. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memeriksa kebenaran perekaman data
dari SPOP ke dalam komputer yang dilaksanakan oleh petugas yang
ditunjuk oleh pejabat yang berwenang.
b. Petugas Pemeriksa memberi tanda dengan warna tertentu, misalnya
merah, atas setiap kesalahan yang ditemui dalam DHR.
c. Petugas pemeriksa membuat Daftar Hasil Pemeriksaan DHR yang
memuat nomor urut, NOP, jenis kesalahan, dan keterangan lainnya
Daftar tersebut ditandatangani oleh petugas pemeriksa dan diserahkan
kepada petugas perekam data melalui Kepala Seksi Pengolahan Data
dan Informasi. Contoh formulir Daftar Hasil Pemeriksaan dapat dilihat
pada Lampiran 17.
d. Hasil Pemeriksaan tersebut dijadikan bahan untuk membetulkan
kesalahan yang terjadi dalam perekaman data.
e. Bahan yang dijadikan acuan dalam pemeriksaan DHR adalah SPOP, peta
blok, dan peta ZNT yang bersangkutan.
f. Validasi hasil rekaman dapat juga dilaksanakan tanpa melalui hasil
cetakan (hard copy) DHR, yaitu langsung dari SPOP ke layar komputer
(screen). Kegiatan tersebut dilakukan oleh bukan petugas yang
merekam data dari desa/kelurahan yang sedang divalidasi, tetapi harus
dilakukan oleh petugas lain.

2.

Penggunaan Hasil Validasi


a. Mencocokkan SK Kepala Kantor Wilayah DJP dengan peta ZNT, untuk
mengetahui kebenaran dan kesamaan kode ZNT dan NIR yang ada pada
Lampiran SK Kepala Kantor Wilayah tersebut yang tidak tercatat pada
peta ZNT.
b. Mencocokkan jumlah objek pajak yang telah direkam dengan objek
pajak yang terdapat di lapangan/peta blok.
c. Mengetahui objek-objek, pajak yang tidak dikenakan/dikecualikan dan
pengenaan pajak, agar tidak diterbitkan SPPT atas objek dimaksud.

d. Mengetahui objek-objek janggal untuk diteliti ulang.

E. Penyimpanan Bendel
Bendel-bendel SPOP dan formulir-formulir data pasar yang telah direkam ke
dalam komputer, disimpan pada rak bertingkat dan terbuka yang dapat dicapai
dari dua sisi dengan jarak antar rak kira-kira 45 cm. Letak bendel-bendel SPOP
dalam rak disusun sesuai dengan urutan nomor bendel, sehingga memudahkan
penempatan dan pencarian kembali apabila diperlukan (terutama apabila ada
wajib pajak yang mengajukan keberatan).
Penatausahaan bendel-bendel SPOP dan Bendel formulir-formulir data pasar
dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan.

F. Pembuatan dan Penyimpanan Sket/Peta

1. Pembuatan Sket/Peta Blok


Petugas lapangan setiap hari menggambar hasil ukuran di lapangan pada net
sket/peta blok (pada milimeter blok) per bidang objek pajak. Yang
digambarkan pada peta blok, selain batas penguasaan/pemilikan tanah
(dengan garis tegas), juga batas bidang bangunan (dengan garis putusputus). Petugas gambar memindahkan sket/peta blok dari milimeter blok ke
drafting film sesuai dengan Petunjuk Teknis Pemetaan PBB. Sket/peta blok
yang sudah selesai digambar kemudian dilichtdruk/fotocopy. Selanjutnya
pada peta blok hasil lichtdruk/fotocopy tersebut digambar/ditegaskan batas
ZNT yang ada dalam blok serta kode dari ZNT yang bersangkutan. Contoh
sket/peta blok dapat dilihat pada Lampiran 18.
Untuk menunjang pelaksanaan aplikasi SIG PBB diusahakan pengadaan peta
yang mempunyai grid dan koordinat.

2. Pembuatan Sket/Peta Desa/Kelurahan


Sket/peta desa/kelurahan dibuat berdasarkan sket/peta blok yang ada pada
drafting film/kalkir dengan cara menggambar batas bloknya. Yang perlu
diperhatikan dalam penggambaran sket/peta desa/kelurahan adalah pada
waktu penyesuaian batas-batas blok. Detail yang digambar pada peta
desa/kelurahan adalah jaringan jalan, sungai, batas wilayah administrasi
pemerintahan, dan batas blok. Tata cara pembuatan sket/peta
desa/kelurahan dapat dilihat pada Petunjuk Teknis Pemetaan PBB.
Untuk menunjang pelaksanaan aplikasi SIG PBB diusahakan pengadaan peta
yang mempunyai grid dan koordinat.

3. Pembuatan Peta Digital


Pekerjaan pembuatan peta digital untuk keperluan aplikasi SIG PBB dapat
dilakukan sepanjang sarana dan prasarana pendukung telah tersedia.
Petunjuk mengenai standarisasi Peta Digital akan diatur dalam aturan
tersendiri. Adapun pelaksanaan selengkapnya dapat dilihat pada Bab II butir
2.4. tentang Sistem Informasi Geografi PBB.

4. Pembuatan Sket/peta ZNT


Tata cara pembuatan konsep sket/peta ZNT dijelaskan dalam Bab II butir
2.3.3 huruf A angka 1 tentang Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan
Penentuan NIR.

5. Penyimpanan Sket/peta ZNT


a. Sket/peta yang digambar di atas drafting film/kalkir disimpan di dalam
lemari gantung peta yang dapat memuat segala jenis sket/peta. Pada
kanan atas gantungan sket/peta diberi indeks yang diambil dari kode
wilayah sesuai dengan jenis sket/peta yang bersangkutan. Apabila
sket/peta tersebut terdiri atas lebih dari satu lembar, di belakang kode
wilayah dimaksud diberi tanda jumlah lembar.

b. Sistematika indeks sket/peta ditentukan sebagai berikut :


(i) Sket/peta desa/kelurahan dan ZNT
00.00.000.000.(00)
Nomor Lembar Sket/Peta
Kode Desa/Kelurahan
Kode Kecamatan
Kode Daerah Kabupaten/Kota
Kode Daerah Propinsi
(ii) Sket/peta blok
00.00.00.000.000.(00)
Nomor Lembar Sket/Peta
Nomor Blok
Kode Desa/Kelurahan
Kode Kecamatan
Kode Daerah Kabupaten/Kota
Kode Daerah Propinsi
c. Khusus pada penyimpanan sket/peta blok, setiap gantungan sket/peta
blok lembar pertama ditempel karton berwarna bertuliskan indeksnya
sebagai penunjuk, batas setiap desa/kelurahan. Pada setiap gantungan
sket/peta blok lembar pertama untuk kelurahan dalam setiap kecamatan,
ditempel karton berwarna lain yang bertuliskan sket/peta tersebut
sebagai batas dari setiap kecamatan.
d. Sket/peta yang disimpan tersebut di atas agar dibuatkan buku
penjagaannya untuk mengetahui jenis dan jumlah lembar sket/peta yang
ada.
e. Sket/peta blok hasil lichtdruk/fotocopy dibendel per desa/kelurahan, serta
disimpan pada lemari peta yang cocok untuk itu. Peta ini merupakan peta
kerja bagi setiap keperluan administrasi PBB. Perubahan data grafis pada
peta ini dilaksanakan oleh petugas khusus yang ditunjuk Kepala Kantor
Pelayanan PBB.

Pemutakhiran Data
Selama dalam proses pembentukan basis data dimungkinkan terjadi perubahan
objek pajak, subjek pajak, atau zona nilai tanah. Setiap terjadi perubahan harus
dilaporkan secara hirarkis sesuai dengan rentang kendali pengawasan.
Dalam hal terjadi perubahan sebagaimana dimaksud di atas, maka pemutakhiran

datanya dapat dilaksanakan sebagai berikut :

1. Perubahan Data Objek Pajak


a. Perubahan data objek pajak dapat terjadi antara lain karena perubahan
nama subjek pajak, kesalahan dalam pengukuran objek pajak,
pemecahan atau penggabungan bidang objek pajak.
b. Setiap terjadi perubahan data objek pajak khususnya perubahan yang
berhubungan dengan karakteristik objek pajak, agar dibuatkan SPOP.
Untuk membedakan dengan SPOP yang telah dibuat terdahulu atas objek
pajak yang berubah, maka pada SPOP tersebut diberi tanda
PERBAIKAN. Pemberian tanda dimaksud dapat ditulis tangan atau dicap.
c. Khususnya perubahan data objek pajak karena adanya pemecahan bidang
harus disertakan informasi grafisnya. Dalam hal tidak disertai dengan
informasi grafisnya, maka perlu diadakan peninjauan ke lapangan. Hal ini
sangat diperlukan guna menentukan NOP bagi pecahan bidang objek
pajak dimaksud.
d. Setelah diteliti seperlunya, maka SPOP yang diberi tanda PERBAIKAN
tersebut dibendel secara khusus dan selanjutnya diadakan pemutakhiran
datanya pada komputer.
e. Pemutakhiran data yang menyangkut data karakteristik objek pajak
dilakukan per bidang objek pajak.

2. Perubahan NIR dan/atau kode ZNT


a. Setiap perubahan NIR agar dibuatkan daftar perubahannya sebagaimana
Lampiran 19. Dalam daftar perubahan tersebut dicatat kode ZNT-nya, NIR
lama, dan NIR yang baru.
b. Apabila terjadi perubahan NIR yang mengakibatkan perubahan batas ZNT,
maka disamping dibuat daftar perubahan sebagaimana dimaksud dalam
butir (a), juga dibuatkan daftar perubahannya dalam Formulir
Pemutakhiran Kode Zona Nilai Tanah. Dalam daftar tersebut, dicatat NOPNOP yang termasuk dalam ZNT lama maupun yang baru. Contoh Formulir
Pemutakhiran Kode Zona Nilai Tanah dapat dilihat pada Lampiran 20.
c. Setelah diteliti seperlunya, maka daftar-daftar sebagaimana dimaksud
huruf (a) dan (b) di atas di bendel, dan selanjutnya diadakan
pemutakhiran data pada komputer.

Perubahan data lainnya, misalnya penulisan nama jalan dan sebagainya,


dapat dilaksanakan pada DHR yang diterbitkan sehubungan dengan
standarisasi nama jalan atau persiapan pembuatan Lampiran Surat
Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak tentang
klasifikasi NJOP.
Setiap terjadi perubahan khususnya yang menyangkut perubahan NOP dan
ZNT, selain diadakan pemutakhiran datanya pada komputer, juga diadakan
perubahan pada peta-peta yang berkaitan dengan perubahan-perubahan
dimaksud.

H. Produk Keluaran
1. Peta Blok manual dan/atau Digital
2. Peta Desa/Kelurahan Manual dan/atau Digital
3. Peta ZNT
4. DHR yang divalidasi

2.3.

PENILAIAN

2.3.1. JENIS-JENIS OBJEK PAJAK

A. OBJEK PAJAK UMUM


Objek Pajak Umum adalah objek pajak yang memiliki konstruksi umum dengan
keluasan tanah berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Objek pajak umum terdiri
atas :
1. Objek Pajak Standar
Objek Pajak Standar adalah objek-objek pajak yang memenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut :
Tanah
: < 10.000 m2
Bangunan
: Jumlah lantai < 4
Luas Bangunan : < 1.000 m2

2. Objek Pajak Non Standar


Objek Pajak Non Standar adalah objek-objek pajak yang memenuhi salah satu
dari kriteria-kriteria sebagai berikut :
Tanah
: > 10.000 m2
Bangunan
: Jumlah lantai > 4
Luas Bangunan : > 1.000 m2

B. OBJEK PAJAK KHUSUS


Objek Pajak Khusus adalah objek pajak yang memiliki konstruksi khusus atau
keberadaannya memiliki arti yang khusus seperti : lapangan golf, pelabuhan laut,
pelabuhan udara, jalan tol, pompa bensin dan lain-lain.

2.3.2. PENDEKATAN DAN CARA PENILAIAN

A. PENDEKATAN PENILAIAN
Sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 1 ayat 3 Undang-undang Nomor 12 Tahun
1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 1994,
maka dalam penentuan NJOP dikenal tiga pendekatan penilaian, yaitu :
1. Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
2. Pendekatan Biaya (Cost Approach)
3. Pendekatan kapitalisasi pendapatan (Income Approach)

1. Pendekatan Data Pasar


Pendekatan data pasar dilakukan dengan cara membandingkan objek pajak
yang akan dinilai dengan objek pajak lain yang sejenis yang nilai jualnya sudah
diketahui dengan melakukan penyesuaian yang dipandang perlu. Persyaratan
utama yang harus dipenuhi dalam penetapan, pendekatan ini adalah
tersedianya data jual-beli atau harga sewa yang wajar. Pendekatan data pasar
terutama diterapkan untuk penentuan NJOP bumi, dan untuk objek tertentu
dapat juga dipergunakan untuk penentuan NJOP bangunan.

2. Pendekatan Biaya
Pendekatan biaya digunakan untuk penilaian bangunan yaitu dengan cara
memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membuat bangunan
baru objek yang dinilai, dikurangi penyusutan. Perkiraan biaya dilakukan
dengan cara menghitung biaya setiap komponen utama bangunan, material
dan fasilitas lainnya.

3. Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan


Pendekatan kapitalisasi pendapatan dilakukan dengan cara menghitung atau
memproyeksikan seluruh pendapatan sewa/penjualan dalam satu tahun dari
objek pajak yang dinilai dikurangi dengan kekosongan, biaya operasi dan/atau
hak pengusaha. Selanjutnya dikapitalisasikan dengan suatu tingkat kapitalisasi
tertentu. Pendekatan ini pada umumnya diterapkan untuk objek-objek
komersial, yang dibangun untuk usaha/menghasilkan pendapatan seperti hotel,
apartemen, gedung perkantoran yang disewakan, pelabuhan udara, pelabuhan
laut, tempat rekreasi dan lain sebagainya. Dalam penentuan NJOP, penilaian
berdasarkan pendekatan kapitalisasi pendapatan dipakai juga sebagai alat
penguji terhadap nilai yang dihasilkan dengan pendekatan lainnya.

B. CARA PENILAIAN
Mengingat jumlah objek pajak yang sangat banyak dan menyebar di seluruh
wilayah Indonesia, sedangkan jumlah tenaga penilai dan waktu penilaian dilakukan
yang tersedia sangat terbatas, maka pelaksanaan dengan dua cara (Lampiran 21),
yaitu :

1. Penilaian Massal
Dalam sistem nilai NJOP bumi dihitung berdasarkan NIR yang terdapat pada
setiap ZNT, sedangkan NJOP bangunan dihitung berdasarkan DBKB.
Perhitungan Penilaian massal dilakukan terhadap objek pajak dengan
menggunakan program komputer konstruksi umum (Computer Assisted
Valuation/CAV).

2. Penilaian Individual
Penilaian individual diterapkan untuk objek pajak umum yang bernilai tinggi
(tertentu), baik objek pajak khusus , ataupun objek pajak umum yang telah
dinilai dengan CAV namun hasilnya tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya
karena keterbatasan aplikasi program. Proses penilaiannya adalah dengan
memperhitungkan seluruh karakteristik dari objek pajak tersebut. Pelaksanaan
pendataan dilakukan dengan menggunakan SPOP dan LSPOP, sedangkan untuk
data-data tambahan dengan menggunakan LKOK ataupun dengan lembar
catatan lain untuk menampung informasi tambahan sesuai dengan keperluan
penilaian masing-masing objek pajak. Proses penghitungan nilai dilaksanakan
dengan menggunakan formulir penilaian masing-masing objek pajak. Proses
penghitungan nilai dilaksanakan dengan menggunakan formulir penilaian
sebagaimana dalam Lampiran Buku Petunjuk Teknis Penilaian Objek Khusus
PBB atau dengan lembaran khusus untuk objek-objek tertentu seperti jaln tol,
bandar udara, pelabuhan laut, lapangan golf, pompa bensin dan lain-lain.
Setiap penilaian harus memperhatikan tanggal penilaian yang menjadi dasar
ketetapan PBB per 1 Januari tahun pajak sebagaimana diatur pada Pasal 8 ayat
2 UU No.12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 12 Tahun 1994.

2.3.3. PELAKSANAAN PENILAIAN

A. PENILAIAN MASSAL
1. PENILAIAN TANAH

1.1 Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR

a. Batasan-batasan dalam Pembuatan Sket/peta ZNT


(i)
ZNT dibuat per kelurahan/desa
(ii)
Pengisian NIR tanah ditulis dalam ribuan rupiah.
Contoh :
NO.
NIR
PENULISAN
1.
Rp.
1.500.000
1.500
2.
Rp.
220.000
220
3.
Rp.
22.500
22,50
4.
Rp.
600
0,60
(iii)

Garis batas setiap ZNT diberi warna yang berbeda sehingga jelas batas
antar ZNT.

b. Bahan-bahan yang Diperlukan


(i)
Peta kelurahan/desa yang telah ada batas-batas bloknya.

(ii)

(iii)

(iv)

Peta dimaksud disalin/di foto copy 2 (dua) lembar. Satu lenbar untuk
konsep peta ZNT dan satu lembar lagi untuk pembuatan peta ZNT akhir.
File data tahun terakhir serta DHKP.
Data ini diperlukan untuk standarisasi nama jalan.
Buku klasifikasi Nilai Jual Objek Pajak (Keputusan Kakanwil DJP) tahun
terakhir.
Data ini dipakai untuk pembanding dalam penentuan NIR tanah dan sebagai
bahan standarisasi nama jalan.
Alat-alat tulis termasuk pensil pewarna.

c. Proses Pembuatan Sket/Peta ZNT


(i)
Tahap Persiapan
Tahapan persiapan meliputi kegiatan-kegiatan :
1) Menyiapkan peta yang diperlukan dalam penentuan NIR dan pembuatan
ZNT, meliputi Peta Wilayah, Peta Desa/Kelurahan, Peta Zona Nilai Tanah
dan Peta Blok.
2) Menyiapkan data-data dari Kantor Pelayanan PBB yang diperlukan,
seperti data dari laporan Notaris/PPAT, data NIR dan ZNT lama, SK
Kakanwil tentang Klasifikasi dan Penggolongan NJOP Bumi dan
sebagainya.
3) Menyiapkan data-data yang berhubungan dengan teknik penentuan nilai
tanah, seperti data Jenis Penggunaan Tanah dari BAPPEDA dan data
potensi pengembangan wilayah berdasarkan Rencana Kota
(berdasarkan RUTRK dan RDTRK).
4) Pembuatan rencana pelaksanaan (meliputi personil, biaya serta jadwal
kegiatan dengan mengacu pada Keputusan ini.

(ii)

Pengumpulan data harga jual


1) Data harga jual adalah informasi mngenai harga transaksi dan/atau
harga penawaran tanah dan/atau bangunan.

2) Sumber data berasal dari PPAT, notaris, lurah/kepala desa, agen


properti, penawaran penjualan properti melalui majalah, brosur,
direktori, pameran dan sebagainya.
3) Data Lapangan yaitu data harga jual yang diperoleh di lapangan
merupakan data yang dianggap paling dapat dipercaya akurasinya. Oleh
karena itu pencarian data langsung ke lapangan harus dilakukan baik
untuk memperoleh data-data baru maupun mengecek data-data yang
diperoleh di kantor.
4) Semua data harga jual yang diperoleh harus ditulis dalam Formulir 1 :
Data Transaksi Properti (Lampiran 30).
5) Dalam rangka pengumpulan data harga jual, juga diadakan inventarisasi
nama-nama jalan yang ada di setiap desa/kelurahan. Penulisan nama
jalan disesuaikan dengan standar Baku Penulisan Nama-nama Jalan
Sebagaimana diuraikan dalam Lampiran 23.

(iii)

Kompilasi Data
1) Data yang terkumpul dalam masing-masing kelurahan/desa harus
dikelompokkan menurut jenis penggunaannya karena jenis penggunaan
tanah/bangunan merupakan variabel yang signifikan dalam menentukan
nilai tanah.
2) Kompilasi juga diperlukan berdasarkan lokasi data untuk memudahkan
tahap analisis data.

(iv)

Rekapitulasi Data dan Plotting Data Transaksi pada Peta Kerja ZNT
1) Semua data yang diperoleh harus dimasukkan dalam Formulir 2 :
Analisis Penentuan Nilai Pasar Wajar (Lampiran 30).
2) Nomor Data yang tertulis pada Formulir 1 harus sama persis dengan
nomor yang tertulis pada Formulir 2. Selanjutnya nomor ini akan
berfungsi lebih lanjut sebagai alat untuk mengidentifikasi lokasi data
pada Peta Taburan Data.
3) Penyesuaian terhadap waktu dan jenis data :
- Penyesuaian terhadap waktu dilakukan dengan membandingkan
waktu transaksi dengan keadaan per 1 Januari tahun pajak
bersangkutan.
- Penyesuaian terhadap faktor waktu dilakukan dengan mengacu pada
faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi nilai properti, keadaan
ekonomi, tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan faktor lain yang
berpengaruh. Perubahan nilai tanah tersebut adalah cenderung
meningkat. Oleh karena itu perlu dibuat penyesuaian dengan
menambah persentase antara 2% s/d 10% pertahun.
- Penyesuaian terhadap jenis data diperlukan untuk memenuhi
ketentuan Nilai Pasar sebagaimana prinsip-prinsip penilaian yang
berlaku. Misalnya data hipotik/agunan di Bank, data penawaran, data
dari PPAT/Notaris yang tidak sepenuhnya mencerminkan Nilai Pasar
harus disesuaikan. Besar penyesuaian sangat tergantung pada tingkat
akurasi data dan keadaan di lapangan. Variasi besarnya prosentase
penyesuaian antara penilai satu dengan yang lain tidak dapat
dihindari dan tetap dibenarkan asalkan tidak menimbulkan
penyimpangan yang terlalu jauh dari Nilai pasar. Untuk mendapatkan
nilai tanah data yang digunakan adalah data transaksi jual beli yang
memenuhi unsur pasar wajar. Oleh karena itu data harga penawaran
perlu disesuaikan dengan mengurangkan dalam persentase 5% s/d
20% sesuai dengan analisis di lapangan. Untuk data hipotik
disesuaikan dengan menambah dalam persentase 10% s/d 35%
sesuai analisis di lapangan.
- Angka persentase penyesuaian di atas bukan merupakan angka yang
mutlak. Persentase penyesuaian harus berdasarkan kepada
kenyataan, data dan fakta di lapangan dan di analisis terlebih dahulu,
sehingga di setiap wilayah dapat berbeda.

(v)

Menentukan Nilai Pasar tanah per meter persegi


1) Tanah kosong, Nilai Pasar dibagi luas tanah dalam satuan meter
persegi.
2) Tanah dan bangunan;
- Menentukan nilai bangunan dengan menggunakan DBKB setempat.
- Nilai Pasar dikurangi nilai bangunan diperoleh Nilai Pasar tanah
kosong untuk kemudian dibagi luas tanah dalam satuan meter
persegi.

(vi)

Membuat batas imajiner ZNT


Batas imajiner dituangkan dalam konsep peta ZNT yang telah berisi taburan
data transaksi. Prinsip pembuatan batas imajiner ZNT adalah :
1) Mengacu pada peta ZNT lama bagi wilayah yang telah ada peta ZNTnya.
2) Mempertimbangkan data transaksi yang telah dianalisis yang telah
diplot pada peta kerja ZNT.
3) Pengelompokan
persil
tanah
dalam
satu
ZNT
dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
- Nilai Pasar Tanah yang hampir sama
- Memperoleh akses fasilitas sosial dan fasilitas umum yang sama
- Aksesibilitas yang tidak jauh berbeda
- Mempunyai potensi nilai yang sama

(vii) Analisis Data Penentuan NIR


1) Analisis data dilakukan berdasarkan Zona Nilai Tanah, sehingga untuk
ZNT yang berbeda harus menggunakan halaman baru Formulir 3 dan 4
(masing-masing pada Lampiran 30). Data-data yang dianalisis untuk
memperoleh Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) dalam satu ZNT harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Data relatif baru
- Data transaksi atau penawaran yang wajar
- Lokasi yang relatif berdekatan
- Jenis penggunaan tanah/bangunan yang relatif sama
- Memperoleh fasilitas sosial dan fasilitas umum yang relatif sama

2) Penyesuaian nilai tanah dan penentuan NIR


Sebelum menentukan NIR pada masing-masing ZNT, nilai tanah yang
telah dianalisa pada Formulir 2 (Lampiran 30) disesuaikan dengan
ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk ZNT yang memiliki data transaksi lebih dari satu penentuan
NIR dilakukan dengan cara merata-rata data transaksi tersebut
dengan menggunakan formulir 3 (Lampiran 30).
b. Untuk ZNT yang hanya memiliki satu data transaksi NIR ditentukan
dengan cara mempertimbangkan data transaksi dari ZNT lain yang
terdekat dengan menggunakan formulir 3 setelah dilakukan proses
penyesuaian seperlunya.
c. Untuk ZNT yang tidak memiliki data transaksi, penentuan NIR dapat
mengacu pada NIR di ZNT lain yang terdekat dengan melakukan
penyesuaian faktor lokasi, jenis penggunaan tanah dan keluasan
pensil sebagaimana pada formulir 4 (Lampiran 30).

(viii) Pembuatan Peta ZNT Akhir


1) Tahap ini dilaksanakan setelah selesai pengukuran bidang milik dalam
satu kelurahan/desa
2) Garis batas ZNT dibuat mengikuti garis bidang milik dan tidak boleh
memotong bidang milik
3) Cantumkan NIR (nilai tanah hasil analisis dari Formulir 3 atau 4 bukan

nilai tanah hasil klasifikasi NJOP) dan kode ZNT pada peta kerja.
4) Peta ZNT akhir diberi warna yang berbeda pada setiap garis batas ZNT.

Contoh Analisis Data


1. Tabel Data Harga Jual
NO.
1.
2.
3.

IDENTIFIKASI
OBJEK
Alamat

DATA NO. 1

DATA NO. 3

DATA NO. 4

Jl. Mawar No. Jl. Mawar No. Jl. Mawar No. Jl. Mawar No. 15
3
19
40
Perumahan
Perumahan
Perumahan
Perumahan

4.
5.

Peruntukan tanah
Ukuran
a. Tanah
b. Bangunan
Tahun dibangun
Waktu transaksi

6.

Harga Jual

7.

Spesifikasi
Bangunan :
a. Lantai
Keramik
b. Gedung
Beton
Biaya Reproduksi
Rp. 332,Baru Bangunan/m2
(thn 1998)

8.

DATA NO. 2

20m x 25m
18m x 15m

15m x 17m
12m x 15m

15m x 30m
15m x 20m

15m x 19m
12m x 15m

Akhir tahun
1988
Rp.
450.000.000,-

Awal tahun
1986
Rp.
250.000.000,-

Akhir tahun
1987
Rp.
405.000.000,-

Penawaran pada
Desember 1996
Harga penawaran
Rp. 325.000.000,-

Teraso
Beton
Rp. 300,-

Keramik
Beton
Rp. 332,-

Keramik
Beton
Rp. 332,-

Keempat data tersebut di atas setelah diteliti adalah wajar untuk dijadikan data pembanding,
dan setelah diplot dalam peta kerja maka data pembanding di atas berada dalam satu ZNT.

2. Analisis Harga Jual Tanah per m2


a. Jl. Mawar No. 3
Harga Transaksi Tanah dan Bangunan Rp.
(-) Nilai
bangunan
(berdasarkan Rp.
DBKB)
Nilai tanah
Rp.
(:) Luas Tanah
Nilai Tanah/m2

(Rp. 000)
450.000,00
62.640,00
387.360,00

Rp.

500,00
775,00

Rp.

31,00

b. Penyesuaian Jenis Data : 0%


Rp.
Nilai
Tanah/m2
setelah Rp.
disesuaikan

805,00

a. Penyesuaian Waktu +4%


(+) 4% x Rp. 775,00

b. Jl. Mawar No. 19


Harga Transaksi Tanah dan Bangunan Rp.
(-) Nilai
bangunan
(berdasarkan Rp.
DBKB)
Nilai tanah
Rp.

(Rp. 000)
250.000,00
37.800,00
212.200,00

(:) Luas Tanah


Nilai Tanah/m2

Rp.

255,00
832,00

Rp.

33,00

b. Penyesuaian Jenis Data : 0%


Rp.
Nilai
Tanah/m2
setelah Rp.
disesuaikan

885,00

a. Penyesuaian Waktu +4%


(+) 4% x Rp. 832,00

c. Jl. Mawar No. 40


Harga Transaksi Tanah dan Bangunan Rp.
(-) Nilai
bangunan
(berdasarkan Rp.
DBKB)
Nilai tanah
Rp.
(:) Luas Tanah
Nilai Tanah/m2

(Rp. 000)
405.000,00
69.600,00
335.400,00

Rp.

450,00
745,00

Rp.

60,00

b. Penyesuaian Jenis Data : 0%


Rp.
Nilai
Tanah/m2
setelah Rp.
disesuaikan

805,00

a. Penyesuaian Waktu +8%


(+) 8% x Rp. 745,00

d. Jl. Mawar No. 15


Harga Transaksi Tanah dan Bangunan Rp.
(-) Nilai
bangunan
(berdasarkan Rp.
DBKB)
Nilai tanah
Rp.
(:) Luas Tanah
Nilai Tanah/m2

Rp.

a. Penyesuaian Waktu 0%
b. Penyesuaian Jenis Data
10%
(-) 10% x Rp.954,00
Nilai
Tanah/m2
disesuaikan

(-)

(Rp. 000)
325.000,00
41.760,00
283.240,00
297,00
954,00

Rp.

Rp.

95,00

setelah Rp.

859,00

Contoh analisis penyesuaian atas faktor waktu transaksi :


Untuk menganalisis persentase atas waktu transaksi dapat dilakukan dengan membandingkan 2
(dua) data atau lebih yang mempunyai, ciri-ciri yang hampir sama yang dalam contoh ini adalah
data nomor 1 dan 3.
Cara analisis :
Rp. 775 Rp. 745

-----------------------

x 100% = 4%

Rp. 745

4% di atas menunjukkan adanya, kenaikan nilai tanah setiap tahunnya.

3. Penentuan NIR

NO.

FAKTOR-FAKTOR
PENYESUAIAN
Harga Jual Tanah per
m2

1.
2.

Waktu Transaksi
Jenis Data

BERDASARKAN
KONSEP FAKTOR
PENILAIAN

Tahun 1996

Jumlah Persentase Penyesuaian


Nilai yang telah disesuaikan
Nilai dirata-rata
Nilai Indikasi Rata-rata (NIR)

DATA
NO. 1
(Rp.
000)
775
+ 4%

PENYESUAIAN
DATA
DATA NO. DATA NO.
NO. 2
3
4
(Rp.
(Rp. 000) (Rp. 000)
000)
832
745
954
+4%
+ 8%
- 10%

+ 4%

+4%

+ 8%

- 10%

834

(v)

Pemberian warna garis batas ZNT dan pencantuman angka NIR dalam
peta kerja (contoh Lampiran 24)
1) Garis batas imajiner ZNT pada peta kerja diberi warna yang berbeda
sehingga jelas batas antar ZNT.
2) Untuk setiap ZNT dicantumkan angka NIR-nya
3) NIR dicantumkan sebagaimana hasil analisis, bukan dalam bentuk
ketentuan nilai jual bumi.

(vi)

Membuat kode ZNT untuk masing-masing ZNT dalam peta kerja.


1) Untuk setiap ZNT dibuat kode ZNT dan ditulis tepat di bawah angka
NIR
2) Kode ZNT dibuat pada peta kerja, dimulai dari sudut kiri atas (sudut
barat laut) berurutan mengikuti bentuk spiral.
3) Setiap ZNT diberi kode dengan menggunakan kombinasi dua huruf,
dimulai dari AA s/d ZZ.
4) ZNT yang memiliki NIR sama, jika dipisahkan oleh ZNT lain harus
dibuatkan kode ZNT yang berbeda.

(vii)

Pengisian Formulir ZNT


ZNT yang telah diberi kode dan telah ditentukan NIR-nya, datanya

diisikan pada Formulir ZNT. Contoh Formulir ZNT dapat dilihat pada
Lampiran 19.

(viii) Membuat sket/peta ZNT akhir


1) Tahap ini dilaksanakan setelah selesai pengukuran bidang objek
pajak dalam satu kelurahan/desa.
2) Garis batas ZNT dibuat mengikuti garis bidang objek pajak tetapi
tidak boleh memotong bidang objek pajak.
3) Untuk mempermudah penentuan batas ZNT sesuai garis bidang
objek pajak, terlebih dahulu dibuat sket/peta ZNT blok yang
selanjutnya dipindahkan ke dalam sket/peta ZNT desa/kelurahan.
4) Cantumkan NIR dan kode ZNT sesuai dengan NIR dan ZNT pada
peta kerja, ZNT yang telah diberi kode dan ditentukan NIR-nya,
datanya diisikan pada formulir ZNT.
5) Sket/peta ZNT akhir di beri warna pada setiap garis batas ZNT.
6) Sket/peta ZNT akhir merupakan lampiran Keputusan Kakanwil DJP
tentang besarnya NJOP sebagai dasar pengenaan PBB. Dalam hal ini
sket/peta ZNT tersebut diperkecil dengan cara fotokopi (lichtdruk)
dari tidak perlu diberi warna, namun kode ZNT dan NIR harus jelas.
Contoh sket/peta ZNT dapat dilihat pada Lampiran 25.

2. Penyusunan DBKB
a. Metode
Untuk menyusun/membuat DBKB digunakan metode survai kuantitas terhadap model
bangunan yang dianggap dapat mewakili kelompok bangunan tersebut dan dinilai
dengan dasar perhitungan analisis BOW.
Dengan metode survai kuantitas dan dasar perhitungan analisis BOW yang merupakan
perhitungan dengan pendekatan biaya, akan diperoleh biaya pembuatan baru/biaya
penggantian baru dari bangunan. Sehubungan dengan kebutuhan program komputer
(CAV), maka biaya komponen bangunan perlu dikelompokkan ke dalam biaya
komponen utama, komponen material dan komponen fasilitas bangunan. Metode survai
kuantitas dipilih menjadi dasar metode yang dipergunakan karena metode inilah yang
paling mendasar bila dibandingkan dengan metode-metode perhitungan yang lain,
seperti metode unit terpasang, metode meter persegi dan metode indeks.
Perhitungan harga satuan pekerjaan memakai analisis BOW karena cara ini merupakan
satu-satunya cara untuk mendapatkan keseragaman menghitung biaya pembuatan
baru bangunan. Karena cara ini akan memberikan hasil yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan cara perhitungan biaya pemborongan pekerjaan di lapangan,
maka dalam perhitungan ini digunakan faktor koreksi.
b. Pengelompokan Bangunan
Penerapan DBKB tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis penggunaan bangunan
sesuai dengan tipe konstruksinya, yaitu :
Jenis Penggunaan Bangunan 1
(JPB 1)
: Perumahan
Jenis Penggunaan Bangunan 2
(JPB 2)
: Perkantoran
Jenis Penggunaan Bangunan 3
(JPB 3)
: Pabrik
Jenis Penggunaan Bangunan 4
(JPB 4)
: Toko/apotik/pasar/ruko
Jenis Penggunaan Bangunan 5
(JPB 5)
: Rumah sakit/klinik
Jenis Penggunaan Bangunan 6
(JPB 6)
: Olah raga/rekreasi
Jenis Penggunaan Bangunan 7
(JPB 7)
: Hotel/restoran/wisma
Jenis Penggunaan Bangunan 8
(JPB 8)
: Bengkel/gudang/pertanian
Jenis Penggunaan Bangunan 9
(JPB 9)
: Gedung pemerintah
Jenis Penggunaan Bangunan 10
(JPB 10)
: Lain-lain
Jenis Penggunaan Bangunan 11
(JPB 11)
: Bangunan tidak kena pajak
Jenis Penggunaan Bangunan 12
(JPB 12)
: Bangunan parkir
Jenis Penggunaan Bangunan 13
(JPB 13)
: Apartemen/kondominium
Jenis Penggunaan Bangunan 14
(JPB 14)
: Pompa bensin (kanopi)
Jenis Penggunaan Bangunan 15
(JPB 15)
: Tangki minyak
Jenis Penggunaan Bangunan 16
(JPB 16)
: Gedung sekolah
Konstruksi bangunan sebagai satu kesatuan terdiri dari beberapa biaya satuan
pekerjaan. Biaya satuan pekerjaan tersebut dikelompokkan dalam 3 (tiga) komponen,
yaitu biaya komponen utama, biaya komponen material dan biaya komponen fasilitas.
Keseluruhan komponen tersebut disusun dalam suatu daftar yang dimainkan di DBKB.
c. DBKB Standar
(i) Tahapan Pembuatan DBKB
Tahap 1 : Menentukan dan membuat tipikal kelompok bangunan sebagai model
yang dianggap dapat mewakili bangunan yang akan dinilai. Kriteria untuk
menentukan kelompok bangunan dapat ditinjau dari segi arsitektur, tata letak dan
mutu bahan bangunan, konstruksi serta luas bangunan. Oleh karena itu dalam
tahap 1 ini pekerjaan utama yang harus dilakukan adalah menentukan/membuat
model bangunan.

Menu layanan model-model tersebut tersedia di dalam program komputer.


Tahap 2 : Menghitung volume setiap jenis/item pekerjaan untuk setiap model
bangunan. Perhitungan volume ini dilakukan dengan mengukur/menghitung
panjang, luas atau isi dari setiap jenis pekerjaan sesuai dengan satuan yang
dipakai atas dasar data yang terkumpul, baik dan gambar denah, tampak,
potongan atau peninjauan langsung ke lapangan. Pengukuran/perhitungan atas
dasar data yang berupa gambar, harus diperhatikan skala yang dipakai.
Tahap 3 : Mengumpulkan data upah pekerja dan harga bahan bangunan
setempat. Harga bahan bangunan dan upah tersebut kemudian dianalisis untuk
mendapatkan harga pasar yang wajar, dalam arti harga/upah tersebut tidak
terlalu mahal atau tidak terlalu murahserta berlaku standar di kawasan setempat.
Data dimaksud agar dikumpulkan dengan menggunakan formulir Lampiran 26.
Tahap 4 : Harga bahan bangunan dan upah pekerja setempat yang sudah
dianalisis BOW yang sudah tersedia dalam program komputer (CAV), untuk
mendapatkan harga satuan pekerjaan.
Tahap 5 : Memasukkan volume setiap jenis pekerjaan (hasil pekerjaan tahap 2)
dan harga satuan setiap jenis pekerjaan (hasil pekerjaan tahap 4) ke dalam suatu
format rencana anggaran biaya bangunan agar diperoleh biaya dasar setiap jenis
pekerjaan atau biaya dasar total yang dikeluarkan untuk pembuatan sebuah model
bangunan.
Tahap 6 : Melakukan pengelompokan biaya dasar jenis pekerjaan pada tahap 5,
yaitu pengelompokan ke dalam komponen utama, komponen material dan
komponen fasilitas. Pengelompokan ini ditujukan agar dapat dibedakan antara
biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan struktur utama (komponen utama),
pekerjaan finishing arsitektural(komponen material) serta pekerjaan tambahan
lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan mekanikal/elektrikal, perkerasan
halaman, elemen estetika, lansekap dan sebagainya (komponen fasilitas).
Tahap 7 : Melakukan penjumlahan dari biaya setiap jenis pekerjaan dari masingmasing komponen pada tahap 6 agar diperoleh biaya dasar per komponen
bangunan untuk keseluruhan model bangunan untuk keseluruhan model
bangunan.
Tahap 8 : Membagi biaya dasar setiap komponen bangunan dengan luas
bangunan keseluruhan untuk mendapatkan biaya dasar setiap komponen
bangunan per meter persegi lantai bangunan.
Tahap 9 : Setelah diperoleh biaya dasar per komponen bangunan maka dengan
cara menjumlahkan setiap komponen yang ada akan diperoleh biaya dasar
keseluruhan bangunan. Selanjutnya untuk memperoleh Biaya Pembuatan Baru
Bangunan maka perlu dilakukan penyesuaian dengan cara mensubstitusikan
faktor-faktor biaya (FAKTOR PENYELARAS) yang mempengaruhi biaya dasar
bangunan ke dalam perhitungan biaya dasar bangunan yang telah diperoleh.
Faktor-faktor penyelaras tersebut adalah :
1. Koreksi BOW
2. Biaya-biaya tak terduga proyek
3. Jasa pemborong
4. PPN
5. Jasa/fee konsultan perancang dan pengawas
6. Perijinan
7. Suku bunga kredit selama pembangunan

Tahap 10 : Dengan mensubstitusikan faktor-faktor penyelaras, hasil dari tahap 9,


terhadap biaya dasar setiap komponen bangunan per meter persegi lantai
bangunan maka akan diperoleh biaya pembuatan baru setiap komponen bangunan
per meter persegi lantai bangunan.
Tahap 11 : Penilaian terhadap suatu bangunan dilakukan atas dasar biaya
pembuatan baru per meter persegi lantai bangunan setiap komponen bangunan,
setelah memperhitungkan adanya faktor penyusun.
(ii) Biaya Komponen Bangunan
1) Biaya Komponen Utama
Biaya konstruksi utama bangunan ditambah komponen bangunan lainnya per
meter persegi lantai.
Unsur-unsur Komponen Utama :
1) Pekerjaan Persiapan (pembersihan, direksi, keet, bouwplank).
2) Pekerjaan Pondasi (mulai dari galian pondasi sampai dengan urugan tanah
kembali).
3) Pekerjaan beton/Beton Bertulang (termasuk kolom dinding luar/dalam,
lantai dan plat lantai).
4) Pekerjaan dinding luar (plester, pekerjaan cat)
5) Pekerjaan Kayu dan Pengawetan termasuk pekerjaan cat (kusen, pintu
jendela, kuda-kuda dan rangka atap kecuali kaso dan reng).
6) Pekerjaan Sanitasi.
7) Pekrjaan Instalasi Air Bersih.
8) Pekerjaan Instalasi Listrik.
9) Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Faktor Penyelaras yang besarnya
bergantung kepada tipe dari tiap-tiap JPB, dari jumlah 1) sampai dengan
8).
2) Biaya Komponen Material Bangunan
Biaya material atap, dinding, langit-langit dan lantai per meter persegi lantai.
Unsur-unsur Material Bangunan
a) ATAP
1.
Bahan penutup atap.
2.
Kaso, reng (alumunium foil, triplek jika ada).
3.
Upah.
4.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Faktor Penyelaras sebesar 38%
dari jumlah 1) sampai dengan 3).
5.
Faktor penyesuaian kemiringan atap terhadap luas bangunan adalah
1,3 dan 1,2 untuk asbes dan seng (dapat disesuaikan dengan kondisi
kemiringan atap di daerah).
b) DINDING (dinding dalam tanpa pintu, jendela)
1.
Bahan dinding (plester luar/dalam dan pekerjaan cat).
2.
Upah.
3.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Faktor Penyelaras sebesar 38%
dan jumlah 1) sampai dengan 2).
4.
Faktor penyesuaian dinding bagian dalam terhadap luas bangunan
adalah 0,60.
c) LANGIT-LANGIT
1.
Bahan langit-langit (pekerjaan cat).
2.
Rangka dan penggantung.
3.
Upah.
4.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Faktor Penyelaras sebesar 38%
dari jumlah 1) sampai dengan 3).

d) LANTAI
1.
Bahan penutup lantai.
2.
Spesi(3 cm, 1:5)
3.
Upah.
4.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Faktor Penyelaras sebesar 38%
dari jumlah 1) sampai dengan 3).
3. Biaya Komponen Fasilitas Bangunan
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membayar seluruh unsur-unsur pekerjaan
yang berkaitan dengan penyediaan fasilitas bangunan. Unsur-unsur yang
termasuk dalam komponen fasilitas merupakan komponen ataupun sarana
pelengkap dari bangunan seperti : kolam renang, lapangan tenis, AC, lift,
tangga berjalan, genset, perkerasan baik halaman maupun lantai untuk tujuan
tertentu, elemen estetika dan lansekap. Setiap tahun DBKB harus
dimutakhirkan sesuai dengan perubahan harga jenis bahan/material bangunan
dan upah pekerja yang berlaku di wilayah KP PBB bersangkutan.
d. DBKB Non Standar
(i) Proses penyusunan DBKB Non Standar
Untuk Objek Pajak Non Standar tahapan-tahapan pembentukan DBKB-nya sedikit
berbeda dengan Objek Pajak Standar. Dimana nilai DBKB untuk masing-masing
JPB Non Standar tergantung pada jenis komponen utama, material dan fasilitas
yang digunakan oleh bangunan tersebut. Konsep penyusunan DBKB Non Standar
disesuaikan dengan sistem struktur dan sub struktur sebagai komponen utama
dalam bangunan dijadikan satu rangkaian ke dalam komponen utama. Sedangkan
kedua komponen lainnya merupakan sistem pendukung dari komponen utama.
1. Komponen utama, yaitu komponen penyusun struktur rangka bangunan baik
struktur atas maupun struktur bawah, yang terdiri dari pondasi, pelat lantai,
kolom, balok, tangga dan dinding geser.
2. Komponen material, yaitu : komponen pelapis (kulit) struktur rangka
bangunan. Komponen material bangunan dibedakan menjadi 7 (tujuh) jenis
yaitu :
a) Material Dinding Dalam (MDD), merupakan material pembentuk ruang
(pemisah) dalam struktur bangunan.
Contoh : Gypsum board, plywood (kayu lapis), Triplex dan Pasangan
dinding bata,
b) Material Dinding Luar (MDL), merupakan material pembentuk bangunan
yang berfungsi sebagai penutup (kulit), rangka struktur bangunan bagian
luar.
Contoh : Beton pra cetak, Kaca, Celcon (cilicon block) dan Pasangan
dinding bata.
c) Pelapis Dinding Dalam (PDD), merupakan material yang berfungsi sebagai
pelapis (kulit) dari MDD.
Contoh : Kaca, Wallpaper, Granit, Marmer, Keramik, dan Cat.
d) Pelapis Dinding Luar (PDL), merupakan material yang berfungsi sebagai
pelapis (kulit) MDL.
Contoh : Kaca, Granit, Marmer, Keramik dan Cat.
e) Langit-langit (LL), merupakan material penutup rangka atap atau plat
lantai bagian bawah.
Contoh : Gypsum board, Akustik, Triplex dan Eternite.
f) Penutup Atap (PA), merupakan material penutup rangka atap bagian atas.
Contoh : Plat beton, Genteng keramik, Genteng press beton, Genteng
tanah liat, Asbes gelombang, Seng gelombang, Genteng sirap dan
Spandek.
g) Penutup Lantai (PL), merupakan material bangunan yang berfungsi sebagai
pelapis lantai.
Contoh : granit, Marmer, Keramik, Karpet, Vinil, Kayu (parquet), Ubin PC

abu-abu, Ubin teraso dan Semen.


3. Komponen fasilitas, yaitu merupakan komponen pelengkap fungsi bangunan.
Komponen fasilitas ini dibedakan menjadi 22 jenis yaitu :
a) Air conditioner (AC), merupakan fasilitas pendingin ruangan. Sistem
pendingin dibedakan menjadi dua bagian :
Sistem pendingin terpusat (central), dimana pengaturan sistem
pendinginan dilakukan terpusat pada satu ruang kontrol.
Sistem pendinginan unit, dimana sistem pengontrol pendingin
terdapat pada masing-masing alat pendingin.
Contoh ;
1. AC split, merupakan AC per unit yang memiliki 2 mesin yaitu
blower dan compressor.
2. AC window, merupakan AC per unit yang pendingin dan
compressornya menyatu dan dipasang pada dinding dengan cara
membuat lubang.
3. AC floor, merupakan AC per unit berbentuk lemari yang memiliki
kapasitas besar untuk mendinginkan ruangan dengan luasan
besar.
b) Elevator (lift), merupakan alat angkut berbentuk ruangan kecil (kotak)
yang berfungsi untuk sirkulasi barang atau penumpang secara vertikal.
c) Eskalator, merupakan alat angkut berupa tangga berjalan yang berfungsi
untuk sirkulasi penumpang, secara vertikal maupun horisontal.
d) Pagar, merupakan fasilitas pemisah atau pembatas bangunan.
e) Sistem proteksi api, merupakan fasilitas proteksi terhadap bahaya
kebakaran. Terdiri dari :
Hydrant, merupakan alat berupa pipa untuk menyiram air.
Splinker, alat penyiram air otomatis yang tergantung dari panas.
Alarm kebakaran, merupakan alat peringatan terjadinya kebakaran,
Intercom, merupakan alat komunikasi untuk peringatan jika terjadi
kebakaran.
f) Genset, merupakan fasilitas pembangkit tenaga listrik yang pada
umumnya digunakan sebagai tenaga listrik cadangan.
g) Sistem PABX, merupakan fasilitas telekomunikasi di dalam gedung
bertingkat. Yang dimaksud sistem PABX disini adalah jumlah saluran
telepon di dalam gedung yang dihasilkan oleh mesin PABX (saluran
extension).
h) Sumur artesis, merupakan fasilitas bangunan untuk penyediaan sarana air
bersih selain air yang berasal dari PAM, kedalaman sumur ini pada
umumnya lebih dari 30 m.
i) Sistem air panas, merupakan fasilitas bangunan untuk penyediaan sarana
air panas.
j) Sistem kelistrikan, merupakan fasilitas bangunan untuk penyediaan sarana
air panas.
k) Sistem perpipaan (plumbing), merupakan fasilitas instalasi sistem
perpipaan baik pipa air kotor maupun air bersih di dalam bangunan.
l) Sistem penangkal petir, merupakan fasilitas untuk menangkal sambaran
petir pada gedung-gedung tinggi.
m) Sistem pengolah limbah, merupakan fasilitas untuk sistem pengolahan
limbah lingkup kecil yang terdapat di dalam bangunan, contohnya seperti
saptictank, peresapan atau STP (sawage treatment plant).
n) Sistem tata suara, merupakan fasilitas untuk sistem instalasi tata suara di
dalam gedung.
o) Sistem video intercom, merupakan fasilitas penghubung antar ruangan
(lantai) dengan ruang pemanggil, pada umumnya terdapat pada bangunan
apartemen.
p) Sistem pertelevisian, merupakan fasilitas sistem pertelevisian yang
terdapat di dalam gedung, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
MATV, merupakan sistem jaringan televisi penerima gambar di dalam

gedung
CCTV (close circuit television), merupakan jaringan kamera untuk
security system.
q) Kolam renang.
r) Perkerasan halaman, dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :
Tipe konstruksi ringan, tebal rata-rata 6 cm dan biasanya
menggunakan bahan seperti paving block atau tanah yang
dipadatkan.
Tipe konstruksi sedang, tebal rata-rata 10 cm dan biasanya
menggunakan beton ringan atau aspal ringan.
Tipe konstruksi berat, tebal rata-rata lebih dari 10 cm dan pada
umumnya menggunakan bahan beton bertulang dengan atau tanpa
aspal beton (hot mix).
s) Lapangan tenis
t) Reservoir, merupakan fasilitas penampungan air pada bangunan gedung
yang terbuat dari beton bertulang pada salah satu lantai.
u) Sistem sanitasi, merupakan fasilitas sanitasi atau sistem pembuangan air
kotor yang terdapat di dalam bangunan.
-

(ii) Pembuatan DBKB Non Standar


Pembuatan DBKB Non Standar ini dilakukan secara bertahap dengan maksud agar
diperoleh hasil yang maksimal. Tahapan-tahapan tersebut antara lain :
Tahap 1

: Menentukan material penyusun bangunan yang akan digunakan


sebagai data masukan (input) bagi perhitungan komponen struktur
bangunan.

Tahap 2

: Melakukan analisa harga satuan dengan menggunakan metode


BOW yang telah disesuaikan bagi komponen utama dan metode
unit in place bagi komponen material dan fasilitas.

Tahap 3

: Menentukan model tipikal bangunan sebagai sebagai bangunan


yang mewakili struktur bangunan yang akan dinilai, dalam hal ini
per JPB minimal diambil 5 model bangunan dengan jumlah lantai
yang bervariasi.

Tahap 4

: Menghitung volume setiap jenis/item pekerjaan untuk setiap model


bangunan.
Perhitungan
volume
ini
dilakukan
dengan
mengukur/menghitung panjang, luas atau isi dari setiap jenis
pekerjaan sesuai dengan satuan yang dipakai atas dasar data yang
terkumpul baik dari gambar denah, tampak, potongan atau
peninjauan langsung ke lapangan.

Tahap 5

: Menghitung nilai bangunan per JPB menggunakan masing-masing


model yang telah dipilih sehingga dihasilkan nilai DBKB per meter
persegi.

Tahap 6

: Melakukan generalisasi nilai DBKB komponen utama dari setiap


model dalam satu JPB yang dibantu dengan metode statistik
tertentu, sehingga dihasilkan sebuah formula tren komponen
utama per JPB untuk memprediksi (forecast) jumlah lantai
bangunan menjadi tidak terbatas.

Tahap 7

: Melakukan generalisasi nilai DBKB komponen material dan setiap


jenis material pelapis bangunan yang dibantu dengan metode
statistik tertentu, sehingga dihasilkan sebuah formula tren
komponen material per jenis pelapis untuk memprediksi (forecast)
jumlah lantai bangunan menjadi tidak terbatas.

Tahap 8

: Menghitung nilai DBKB fasilitas pendukung menggunakan model


yang telah ditentukan, sehingga diperoleh nilai komponen fasilitas
lengkap dengan sistem pendukungnya.

Tahap 9

: Menghitung nilai DBKB total dengan cara menjumlahkan nilai DBKB


komponen utama, komponen material dan komponen fasilitas,
dimana biaya yang terdapat dalam formula ini dihitung dalam
ribuan rupiah dan sudah termasuk biaya langsung (direct cost) dan
biaya tidak langsung (indirect cost).

Tahap 10

: Melakukan penyesuaian nilai (up dating) DBKB dengan cara mengup date harga-harga material (harga resources) dengan
memperhitungkan fluktuasi harga material bangunan di pasar,
faktor inflasi, biaya transportasi berdasarkan informasi yang
diperoleh dari buku Jurnal Harga Satuan Kontraktor, developer,
Dinas Pekerjaan Umum dan instansi terkait lainnya.

Tahap 11

: Besarnya penyusutan fisik dihitung berdaarkan tabel yang


tercantum dalam lampiran keputusan ini (lampiran 29).

Proses analisa dalam DBKB 2000 merupakan proses berantai yang merupakan
perpaduan dari konsep model struktur, statistik dan penilaian. Proses analisanya
dapat dilihat dalam diagram berikut :

(iii) Biaya Komponen Bangunan


Untuk menghitung biaya komponen bangunan yaitu dengan cara
menjumlahkan biaya konstruksi yang terdiri :
1. Untuk JPB 1,2,4,5,6,7,12,13,16 biaya komponen bangunan sama
dengan biaya komponen utama (struktur atas dan basemen) +
komponen material + komponen fasilitas,
2. Untuk JPB 3 dan 8 biaya komponen bangunan sama dengan biaya
komponen utama (struktur atas, struktur bawah, mezzanin dan
dayadukung lantai) + komponen material + komponen fasilitas,
3. Untuk JPB 14 dan 15 biaya komponen bangunan sama dengan biaya
komponen utama.
Untuk Daftar Biaay Konstruksi Bangunan Komponen Utama per m2,
Komponen material per m2, Daftar Biaya Komponen Fasilitas, Formulir
Perhitungan Biaya Konstruksi Bangunan per m2 dapat dilihat di Lampiran 27
Keputusan ini.
3. Penilaian dengan Bantuan Komputer (CAV)
a. Data yang Diperlukan CAV
(i)
ZNT untuk penilaian tanah
Data ZNT yang telah siap secara otomatis akan dipergunakan dalam proses

(ii)
(iii)

CAV.
DBKB objek pajak standar untuk penilaian bangunan.
Data DBKB objek pajak standar yang telah siap secara otomatis akan
dipergunakan dalam proses CAV.
SPOP dan LSPOP untuk pendataan objek pajak
Data luas tanah dan detail bangunan harus dikumpulkan di lapangan dengan
menggunakan SPOP dan LSPOP. Semua data objek harus dimasukkan ke
dalam komputer. Setelah itu, data masukan tersebut akan diproses dalam
CAV secara otomatis.

b. Validasi Data
Data SPOP dan LSPOP akan divalidasi sebagai berikut :
(i)

Data Tanah dan Bangunan


1) Kode ZNT harus ada di tabel ZNT. Bila tidak ditemui dalam tabel, maka
SPOP akan ditolak.
2) Status wajib pajak = 1,2,3,4 atau 5.
3) Pekerjaan wajib pajak = 1,2,3,4 atau 5.
4) Dalam hal bangunan tanpa tanah perlu dicek luas tanah = 0 dan kode
ZNT tidak perlu diisi.
5) Jenis tanah = 1,2,3, atau 4.
6) Jumlah bangunan 0.
7) Bangunan 1.
Bangunan ke tidak boleh > dari pada jumlah bangunan.
Data baru lengkap, bila jumlah LSPOP sama dengan jumlah bangunan.
8) Jenis penggunaan bangunan = 1 sampai dengan 16.
9) Luas bangunan > 0, kecuali tangki minyak (JPB = 15).
10) Jumlah lantai bangunan 1, kecuali tanki minyak (JPB = 15).
11) Tahun dibangun tahun perekaman.
12) Tahun renovasi tahun dibangun atau, tahun renovasi tahun
perekaman
13) Daya listrik 0.
14) Kondisi pada umumnya = 1,2,3 atau 4.
15) Konstruksi = 1,2,3 atau 4.
16) Atap = 1,2,3, 4 atau 5.
17) Dinding = 1,2,3, 4 atau 5.
18) Lantai = 1,2,3, 4 atau 5.
19) Langit-langit = 1, 2 dan 3.
20) Untuk bangunan yang dilengkapi dengan fasilitas seperti kolam renang,
lapangan tenis, alat pemadam kebakaran, lift, AC, validasinya
dilanjutkan dengan fasilitas.
21) Untuk bangunan-bangunan bertingkat dan mempunyai kelaskelas/bintang tertentu seperti gedung perkantoran bertingkat tinggi,
pusat-pusat perbelanjaan, hotel resort/non resort, apartemen, validasi
dilakukan sesuai dengan kelas dan jumlah lantainya.
22) Untuk bangunan perindustrian seperti pabrik, gudang, dan sejenisnya,
validasinya dapat ditambahkan sebagai berikut :
Tinggi kolom
> 0
Lebar bentang > 0
Daya
dukung > 0
lantai
Keliling dinding > 0
Luas mezzanine > 0
23) Untuk tangki, validasinya sesuai dengan letak dan kapasitas tangki yang
bersangkutan

(ii)

Fasilitas
1) Kolam Renang.
Diisi :
1 = diplester
2 = Dengan pelapis
2) Lapangan
= Kosong atau numeric.
tenis (6x)
3) Alat pemadam kebakaran : hydrant, springkler, fire alarm diisi 1 = ada,
atau 2 = tidak ada.
4) Panjang pagar.
Bila panjangnya > 0, bahan harus 1 = baja/besi, atau 2 = bata/batako.
5) Fasilitas AC sentral : 1 = ada, atau 2 = tidak ada.
6) Jumlah AC split = kosong atau numeric.
7) Jumlah AC window = kosong atau numeric.
8) Jumlah saluran pesawat PABX = kosong atau numeric.
9) Kedalaman sumur pantex = kosong atau numeric. JPB 1, 14, 15 = 0
(tidak diisi).
10) Jumlah lift (3x) = kosong atau numeric.
11) Jumlah tangga berjalan (2x) = kosong atau numeric.
12) Perkerasan halaman (4x) = kosong atau numeric, luas perkerasan
luas tanah.

c. Tata Cara Perhitungan


Proses CAV dapat dilakukan apabila data ZNT, DBKB objek pajak standar dan data
objek pajak sudah dimasukkan ke dalam komputer.
(i)

Perhitungan Nilai Tanah


NIR diketahui berdasarkan kode ZNT sebagaimana tercantum dalam SPOP.
Untuk menentukan nilai jual objek pajak bumi, NIR dicari dalam tabel ZNT
berdasarkan kode ZNT, kemudian dikalikan dengan luas bumi.
Contoh Penilaian Objek Bumi
Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) = Rp. 100.000,-. Bila luas tanah = 200 m2
maka
NJOP bumi = 200 m2 x Rp. 100.000 = Rp. 20.000.000,-

(ii)

Perhitungan Nilai Bangunan


Dalam pelaksanaan perhitungan nilai bangunan, harus ditentukan besarnya
nilai komponen bangunan menurut masing-masing karakter objek tersebut.
NJOP bangunan berdasarkan :
1) Kelas/bintang/tipe
2) Komponen bangunan utama
3) Komponen material
4) Komponen fasilitas/ m2
5) Komponen fasilitas yang perlu disusutkan
6) Penyusutan
7) Komponen fasilitas yang tidak perlu disusutkan
8) Kapasitas dan letak (khusus tangki)
Tingkat penyusutan bangunan berdasarkan umur efektif, keluasan dan
kondisi bangunan. Umur efektif bangunan secara umum adalah sebagai
berikut :
Umur Efektif = Tahun Pajak Tahun Bangunan
Bila tahun direnovasi terisi, maka :
Umur Efektif = Tahun Pajak Tahun Direnovasi.
Untuk bangunan-bangunan bertingkat tinggi dan bangunan-bangunan

eksklusif lainnya seperti gedung perkantoran, hotel, apartemen dan lain-lain,


penentuan umur efektifnya sebagai berikut :
(Tahun Pajak Tahun Dibangun) + 2 (Tahun Pajak Tahun Direnovasi)
3
Bila (Tahun Pajak Tahun Dibangun) 10 dan Tahun Direnovasi adalah 0
atau kosong, maka UMUR EFEKTIF = Tahun Pajak Tahun Dibangun
Bila (Tahun Pajak Tahun Dibangun) > 10 dan tahun direnovasi adalah )
atau kosong atau (Tahun Pajak Tahun Direnovasi) > 10, maka perlu
dianggap tahun direnovasi = tahun pajak 10, dan umur efektif adalah hasil
dari rumus yang disebut di atas. Dalam hal itu faktor (Tahun Pajak Tahun
Direnovasi) adalah 10.
Contoh
Tahun pajak adalah tahun 1993.
Untuk penghitungan Nilai Jual Objek Pajak bangunan secara manual dapat
dipergunakan formulir lampiran 28.
Tahun
Tahun
Umur Efektif
dibangun Renovasi
1988
1990
(1993-1988) + 2 (1993-1990) = 5+6 = 4
3
3
1988
(1993 1988) =5
1980
(1993 1980) + 2(10) = 13 + 20 = 11
3
3
1980
1982
(1993 1980) + 2(1993 1982) = 13 + 22 = 12
3
3
1980
1989
(1993 1980) + (1993 1989) = 13 + 8 = 7
3
3
(ii)

Penyusutan Bangunan
Dalam penentuan nilai bangunan diperhitungkan faktor penyusutan.
Penyusutan yang diterapkan dalam CAV hanya penyusutan fisik bangunan.
Faktor penyusutan ditentuakn berdasarkan pengelompokan besarnya biaya
pembuatan/ pengganti baru bangunan per meter persegi, umur efektif dan
kondisi bangunan pada umumnya, dan dituangkan dalam suatu daftar
penyusutan (Lampiran 29).

B. PENILAIAN INDIVIDUAL
1.

Persiapan
Kegiatan persiapan Penilaian Individual pada prinsipnya sama dengan yang
dilakukan dalam penilaian massal.
a. Menyusun Rencana Kerja.
b. Menyiapkan SPOP, LSPOP dan LKOK.
c. Menyeleksi data-data objek pajak yang perlu dilakukan Penilaian
Individual.
d. Mengumpulkan data-data lama, sebagai pelengkap, dari objek pajak
yang akan dinilai.

2.

Penilaian dengan Pendekatan Data Pasar


Pada saat ini, untuk kepentingan penilaian, objek pajak PBB, pendekatan
data pasar sesuai digunakan untuk Penilaian Individual terhadap tanah.
Sedangkan penilaian untuk bangunan menggunakan pendekatan biaya yang
akan diterangkan di bagian 3.
a. Pengumpulan Data
Pelaksanaan kerja pengumpulan data pasar dalam Penilaian Individual
dapat menggunakan formulir pengumpulan data pasar untuk penentuan
nilai tanah secara massa (Lampiran 22). Untuk mendapatkan analisis
data yang wajar harus dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
i) Kesesuaian penggunaan dan luas tanah data pembanding dengan
objek pajak yang dinilai secara individu.
ii) Lokasi dan waktu transaksi yang wajar
b. Penilaian
Konsep dasar penilaian perbandingan data pasar untuk Penilaian
Individual adalah membandingkan secara langsung data pembanding
dengan objek pajak yang dinilai dengan menggunakan faktor-faktor
penyesuaian yang lebih lengkap. Penilaian dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
i) Dalam menentukan nilai tanah diperhatikan :
1.
Kualitas dan kuantitas data pembanding yang terkumpul.
2.
NIR dimana objek pajak berada.
ii) Cara membandingkan data dengan faktor-faktor penyesuaian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi objek pajak yang dinilai dengan
diidentifikasi secara detail dan dibandingkan dengan faktor yang
sama pada data pembanding, Petugas penilai dapat memilih minimal
3 (tiga) data pembanding yang sesuai dari beberapa data
pembanding yang terkumpul. Pada umumnya perbandingan yang
dilakukan, meliputi faktor :
1). Lokasi.
2). Aksesibilitas.
3). Waktu transaksi.
4). Jenis data (harga transaksi atau harga penawaran).
5). Penggunaan tanah.
6). Elevasi.
7). Lebar depan (terutama untuk objek komersil).
8). Bentuk tanah.
9). Jenis hak atas tanah.
10). Dan lain sebagainya.

Besarnya penyesuaian yang akan diberi sesuai dengan pengetahuan


dan pengalaman penilai dengan menyebutkan dasar-dasar
pertimbangannya.
iii) Hasil penilaian tanah dengan pendekatan data pasar.
1). Apabila diperoleh nilai tanah yang selisihnya terhadap NIR masih
di bawah 10%, maka yang digunakan sebagai dasar ketetapan
PBB objek pajak yang dinilai adalah NIR.
2). Apabila selisih nilai tanah terhadap NIR sebesar 10% atau lebih,
maka nilai tanah hasil penilaian secra individu tersebut dijadikan
sebagai bahan rekomendasi untuk penentuan NIR tahun pajak
yang akan datang yang merupakan sumber informasi bagi
Kantor Pelayanan PBB.
3.

Penilaian Dengan Pendekatan Biaya


Pendekatan biaya digunakan dengan Cara menambahkan nilai bangunan
dengan nilai tanah.
a. Pengumpulan Data
i)

Pengumpulan Data Tanah


Pada dasarnya pengumpulan data tanah dilakukan dengan cara
mengisi SPOP. Disamping itu penilain juga diminta untuk
mengumpulkan data tanah sebagai berikut :
1) luas
2) Lebar depan
3) Aksesibilitas
4) Kegunaan
5) Elevasi
6) Kontur tanah
7) Lokasi tanah
8) Lingkungan sekitar
9) Data transaksi di lokasi sekitar
Untuk memudahkan pelaksanaan pengumpulan data tanah dan data
transaksi digunakan formulir seperti dalam Lampiran 30.

ii)

Pengumpulan Data Bangunan


Pengumpulan data bangunan dapat dilakukan dengan beberapa cara
yaitu :
1) Mengumpulkan data objek pajak dengan mempergunakan
SPOP, LSPOP dan LKOK. Contoh LKOK seperti dalam Lampiran
31.
2) Data lain yang belum tertampung dicatat dalam catatan
tersendiri.

b. Penilaian
(i)

Penilaian Tanah
Penilaian tanah adalah sebagaimana dalam penilaian dengan
pendekatan data pasar.

(ii)

Penilaian Bangunan
Penilaian bangunan dilakukan dengan cara menghitung Nilai
Perolehan Baru Bangunan kemudian dikurangi dengan penyusutan
bangunan. Nilai Perolehan Baru Bangunan adlah seluruh biaya yang

dikeluarkan untuk memperoleh/ membangun bangunan baru.


Penghitungan Nilai Perolehan Baru Bangunan ini meliputi biaya
komponen utama, komponen material dan fasilitas bangunan. Biaya
biaya tersebut hendaklah sesuai dengan tanggal penilaian dan
lokasi objek pajak.
Perhitungan Nilai Bangunan
Pada
dasarnya
Penilaian
Individual
adalah
dengan
memperhitungkan karakteristik dari seluruh objek pajak. DBKB
dapat digunakan sebagai alat bantu dalam penilaian, akan tetapi
apabila karakteristik-karakteristik dari objek pajak baik untuk
komponen utama, komponen material dan komponen fasilitas
bangunan belum tertampung dalam DBKB, perhitungan dapat
dilakukan bangunan belum tertampung dalam DBKB, perhitungan
dapat dilakukan sendiri dengan pendekatan survai kuantitas.
c. Konversi Nilai Jual Objek Pajak
(i)

Nilai tanah per meter persegi hasil dari analisis penilai dikonversi ke
dalam Klasifikasi dan Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Sebagai
Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 174/KMK.04/1993 tanggal 23
Pebruari 1993 Lampiran I dan II sebagaimana telah diuabah dan
ditambah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
273/KMK.04/1995.

(ii)

Nilai bangunan per meter persegi hasil dari analisis penilai


dikonversi ke dalam Klasifikasi dan Besarnya Nilai Jual Objek Pajak
Sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 174/KMK.04/1993 tanggal 23
Pebruari 1993 Lampiran I dan II sebagaimana telah diubah dan
ditambah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
273/KMK.04/1995.

(iii) Untuk objek pajak yang terdiri dari lebih dari satu bangunan,
konversi dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai seluruh
bangunan dan dibagi luas seluruh bangunan. Nilai bangunan per
meter persegi rata-rata tersebut kemudian dikonversi ke dalam
Klasifikasi dan Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Sebagai Dasar
Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan berdasarkan Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 174/KMK.04/1993 tanggal 23 Pebruari
1993 Lampiran I dan II sebagaimana telah diubah dan ditambah
terakhir
dengan
Keputusan
Menteri
Keuangan
Nomor
273/KMK.04/1995.
4.

Penilaian dengan Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan


Pendekatan Kapitalisasi Pendapatan digunakan dengan cara menghitung
seluruh pendapatan dalam satu tahun dari objek pajak yang dinilai dikurangi
dengan biaya kekosongan dan biaya operasi. Selanjutnya dikapitalisasikan
dengan suatu tingkat kapitalisasi tertentu berdasarkan jenis penggunaan
objek pajak.
a. Pengumpulan Data
Data-data yang harus dikumpulkan dilapangan adalah :
(i) Seluruh pendapatan dalam satu tahun (diupayakan data pendapatan
3 tahun terakhir) dari hasil operasi objek pajak. Pendapatan dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

1)

Pendapatan dari sewa, seperti objek pajak perkantoran,


pusat perbelanjaan.
2)
Pendapatan dari penjualan, seperti objek pajak pompa
bensin, hotel, bandar udara, gedung bioskop, tempat
rekreasi.
(ii) Tingkat kekosongan, yaitu besarnya tingkat persentase, akibat dari
terdapatnya: luas lantai yang tidak tersewa, jumlah kamar hotel
yangtidak terisi, jumlah kursi yang tidak terjual untuk gedung
bioskop, dalam masa satu tahun.
(iii) Biaya operasi dalam satu tahun yang dikeluarkan, seperti gaji
karyawan, iklan/pemasaran, pajak, asuransi. Untuk objek pajak
jenis perhotelan, perlu diperoleh data biaya-biaya lain, misalnya :
pemberian diskon atau komisi yang diberikan kepada biro
perjalanan.
(iv) Bagian pengusaha (operators share), biasanya sebesar 25% s/d
40% dari keuntungan bersih. Data ini hanya untuk objek pajak
dengan perolehan pendapatan dari hasil penjualan
(v) Tingkat kapitalisasi, besarnya tergantung dari jenis penggunaan
objek pajak.
Untuk memudahkan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan,
penilaian dengan pendekatan ini dapat menggunakan formulir seperti
dalam Lampiran 32.
b. Penilaian
Proses penilaian dengan pendekatan kapitalisasi pendapatan dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) berdasarkan jenis pendapatannya, yaitu :
(i)

Pendapatan dari sewa


Proses penilaiannya adalah :
1). Menghitung pendapatan kotor potensial dalam satu tahun
yaitu seluruh pendapatan sewa dalam satu tahun yang didapat
dengan cara mengalikan besarnya sewa per meter persegi
dalam satu tahun dengan seluruh luas lantai bersih yang
disewakan.
2). Menentukan tingkat kekosongan dalam satu tahun.
3). Mengurangi pendapatan kotor potential (butir 1) dengan
tingkat kekosongan (butir 2) hasilnya adalah pendapatan kotor
efektif dalam satu tahun.
4). Menghitung biaya-biaya operasi (outgoings) dalam satu tahun
yaitu biaya pengurusan, pemeliharaan, pajak (PBB) dan
asuransi.
5). Mengurangi pendapatan kotor efektif dalam satu tahun (butir
3) dengan biaya-biaya operasi (butir 4) hasilnya adalah nilai
sewa bersih dalam satu tahun.
6). Nilai objek pajak dihitung dengan jalan mengalikan nilai sewa
bersih (butir 5) dengan tingkat kapitalisasi.

(ii)

Pendapatan dari penjualan


Proses penilaiannya adalah :
1). Menghitung pendapatan kotor potensial/dalam satu tahun
yaitu seluruh pendapatan dari penjualan.
2). Menentukan besarnya tingkat kekosongan dalam satu tahun,
diskon serta komisi yang dikeluarkan selama mengoperasikan
objek pajak.
3). Mengurangi pendapatan kotor potential (butir 1) dengan
tingkat kekosongan, diskon dan komisi (butir 2) hasilnya
adalah pendapatan kotor efektif dalam satu tahun.

4).

Menambahkan hasil butir 3 dengan pendapatan dari sumbersumber lain.


5). Menghitung biaya-biaya operasional dalam satu tahun.
6). Mengurangi pendapatan kotor efektif dalam satu tahun (butir
4) dengan biaya-biaya operasi (butir 5) hasilnya adalah
keuntungan bersih dalam satu tahun.
7). Kurangkan hak pengusaha (operator share) sebesar 25% s/d
40% dari keuntungan bersih dalam satu tahun (butir 6)
sisanya adalah keuntungan bersih dalam satu tahun.
8). Menghitung biaya-biaya operasi lainnya (outgoings) dalam
satu tahun yaitu biaya pengurusan, perbaikan, pajak (PBB)
dan asuransi.
9). Kurangi nilai sewa kotor setahun (butir 7)dengan biaya-biaya
operasi (butir 8) hasilnya adalah nilai sewa bersih dalam satu
tahun.
10). Nilai objek pajak dihitung dengan jalan mengalikan nilai sewa
bersih (butir 9) dengan tingkat kapitalisasi.
c. Penentuan Tingkat Kapitalisasi
Tingkat kapitalisasi ditentukan dari pasaran properti yang sejenis dengan
properti yang dinilai.
(i) Tentukan nilai properti.
Hal ini dapat diperoleh melalui 2 cara:
1.
Transaksi jual beli.
2.
Nilai investasi ditambah keuntungan.
(ii)

Tentukan pendapatan bersih dari properti tersebut.


Pendapatan bersih ini dapat diperoleh dengan jalan mengeurangkan
pendapatan kotor efektif dengan biaya-biaya operasi.

(iii) Contoh perhitungan.


Sebuah Hotel A mempunyai nilai jual di pasar wajar Rp. 500 Juta
dan pendapatan bersihnya setahun Rp. 45 Juta.
45 juta
Tingkat Kapitalisasi = ------------ = 9%
500 juta
(iv) Untuk menentukan standar kapitalisasi suatu jenis objek (misalnya
hotel) di suatu kota, diperlukan banyak data dan analisis. Data
tersebut kemudian dihitung seperti contoh perhitungan di atas,
kemudian ditentukan suatu tingkat kapitalisasi yang standar.

PENYUSUNAN KONSEP LAMPIRAN KEPUTUSAN KAKANWIL


PAJAK TENTANG KLASIFIKASI DAN BESARNYA NJOP

DITJEN

Konsep lampiran Keputusan Kakanwil Direktorat Jenderal Pajak terdiri dari :


1. Klasifikasi dan besarnya nilai jual objek pajak bumi yang disusun per
desa/kelurahan setiap Daerah Kabupaten/Kota dan dilengkapi dengan
fotokopi peta ZNT.
2. Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) yang dibuat per jenis penggunaan
bangunan dan disusun per Daerah Kabupaten/Kota.
3. Klasifikasi dan besarnya NJOP bumi dan bangunan dengan nilai individu.
Daftar Objek Pajak hasil Penilaian Individu beserta nilainya disusun per
desa/kelurahan dan memuat per objek pajak.
Selanjutnya ketiga lampiran tersebut diusulkan kepada Kepala Kantor wilayah
Direktorat Jenderal Pajak untuk ditetapkan.

2.4.

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI PBB


Sistem Informasi Geografi (SIG) PBB adalah suatu sistem yang dirancang
terintegrasi dengan aplikasi SISMIOP dengan menekankan pada analisis secara
spasial (keruangan) yang selama ini tidak dapat ditangani oleh aplikasi SISMIOP.
Masukan dasar SIG PBB berasal peta, foto, citra satelit maupun hasil survai. Dari
data yang bersifat ruang (geografi/spasial) ini diharapkan dapat lebih memberikan
percepatan visualisasi sehingga mempermudah pengambilan keputusan. Agar dapat
menghasilkan analisis yang akurat maka masukan SIG PBB haruslah mencerminkan
keadaan sebenarnya di lapangan.

2.4.1. Latar Belakang Pengembangan SIG PBB


1. Pemeliharaan basis data yang selama ini dilaksanakan masih ditemukan
kekurangselarasan antara data alfanumeris dengan data grafis.
2. Pemutakhiran data grafis alfanumeris dilakukan melalui update pada basis data
di komputer, sedangkan data grafis dilaksanakan secara manual, sehingga
seringkali data grafis selalu ketinggalan dengan data non grafis.
3. Dengan SIG PBB maka updating data grafis dan alfanumeris dapat dialkukan
secara bersamaan sehingga pengelolaan PBB dan pelayanan kepada wajib pajak
akan lebih meningkat.
2.4.2. Maksud dan Tujuan Pengembangan SIG PBB
1. Menyediakan informasi grafis secara cepat yang berhubungan dengan seluruh
fungsi dalam administrasi pada semua tingkat organisasi PBB, khususnya bagi
kegiatan pemantauan operasional, manajemen, pengambilan keputusan, dan
evaluasi kinerja.
2. Menyelaraskan pemeliharaan basis data antara data alfanumeris SISMIOP
dengan data grafis SIG PBB, disertai modul-modul aplikasi SIG PBB yang siap
pakai dan dapat disajikan secara grafis dengan waktu yang cepat, maka sangat
membantu bagi perencana, pelaksana, dan pengawas dalam pengelolaan PBB.
2..4.3. Tahapan Pelaksanaan SIG PBB
Pada garis besarnya, SIG PBB berintikan pada pekerjaan pembuatan peta digital
berkoordinat dengan posisi utara, yang benar. Untuk mendapatkan peta dengan
kriteria tersebut, dapat dilakukan melalui pengukuran dengan peralatan survai biasa
(meteran dan teodolit) dibantu kompas atau peralatan survai canggih (Total Station)
dengan dibantu peralatan GPS (Mapping/Geodetic) guna referensi bila tidak ada titik
kontrol hasil GPS sebelumnya maupun dengan konversi peta garis yang telah ada
ke peta digital, bagi Kantor Pelayanan PBB yang telah mempunyai peta-peta garis.
Pekerjaan konversi peta garis ke peta digital ini dapat dilaksanakan sesuai dengan
tahapan-tahapan sebagai berikut :
A. Tahapan Persiapan
Tahapan persiapan meliputi :
1. Pengumpulan Peta Blok, Peta Desa/Kelurahan, di wilayah lokasi kegiatan;
2. Pengecekan kelengkapan dan kesesuaian teknis sesuai dengan kaidahkaidah Kartografi terhadap peta yang akan dikerjakan, meliputi
ketersambungan antar peta blok, kesesuaian NOP antara peta dengan basis
data SISMIOP, arah utara pada peta, kelengkapan detail peta yang akan
disambung satu sama lain dan keberadaan grid peta blok dan peta
kelurahan yang berkoordinat lokal atau koordinat bumi pada peta blok
dan/atau peta kelurahan;
3. Persiapan Personil (drafter dan operator komputer);

4.
5.

Persiapan peralatan termasuk di dalamnya pengujian dan set up seluruh alat


yang digunakan baik hardware maupun software;
Pembuatan rencana waktu pelaksanaan.

B. Evaluasi Data dan Koreksi Peta


Kegiatan evaluasi data dan koreksi peta antara lain :
1. Membuat lay out peta blok yang dimaksudkan untuk pengecekan ketepatan
sambungan antar blok dan kelengkapan data masing-masing blok pada tiaptiap desa/kelurahan.
Apabila terjadi ketidakcocokan batas antar blok tersebut maka harus
dilakukan koreksi terhadap kesalahan yang ditemui, dengan cara melakukan
penggambaran tambahan terhadap peta yang kurang lengkap ataupun
rekonstruksi gambar peta yang kurang tepat antar batas-batas bloknya.
Peta-peta blok yang digabungkan dalam lay out harus dapat membentuk
satu peta desa/kelurahan.
2. Melakukan penambahan gambar bidang, NOP, gambar bangunan dan nomor
bangunan apabila di dalam peta blok belum ada gambar bidang dan/atau
bangunan terbaru dan disesuaikan dengan data yang di basis data SISMIOP.
Pada tahapan ini harus dilakukan sortir terhadap peta-peta yang bisa langsung
dikerjakan, perlu diperbaiki atau peta-peta yang secara teknis tidak dapat
digunakan sama sekali.
C. Register Peta Blok dan Peta Kelurahan
Agar sebuah peta blok dapat disambungkan secara baik dengan lembar peta blok
disampingnya maka masing-masing lembar peta blok yang berbatasan harus
memiliki titik-titik registrasi yang koordinatnya sama (baik lokal maupun bumi).
Sebagai persiapan masing-masing lembar peta blok perlu dilayout pada lembar
kontrol dasar mozaik peta gambar kontrol). Tujuan dari layout lembar-lembar
peta blok ini adalah membatasi kesalahan dan menentukan arah atau jurusan
detail-detail pokok dalam peta blok, peta kelurahan/desa dan peta kecamatan.
Sebelumnya lembar kontrol ini perlu disiapkan terlebih dahulu dengan cara
menggambarkan kotak-kotak grid dalam sistem proyeksi yang berlaku di lokasi
tersebut (proyeksi, nasional adalah Universal Transverse Mercator/UTM dengan
datum DGN 1995 yang diadopsi dari WGS 84 dan menggambarkan detail-detail
pokok yang dikutip dari peta-peta berkoordinat, misalnya : peta minit (minute
plan) dari TOPDAM, peta skala besar dari BAKOSURTANAL atau peta sejenis
lainnya yang dapat dipercaya ketelitian posisi horisontalnya. Gambar detail
pokok ini dibuat berskala sama dengan skala peta blok yang akan dilayout (1 :
1.000 atau 1 : 2.500). Selanjutnya dilakukan layout masing-masing lembar peta
blok dengan pedoman orientasi adalah detail-detail pokok yang tergambar pada
lembar kontrol.
Batas peta blok dan detail peta blok yang gambarnya tidak sesuai dengan
gambar batas atau gambar detail pada lembar kontrol dibetulkan secara manual.
Layout peta blok ini harus meliputi satu wilayah kelurahan utuh, selanjutnya
masing-masing kelurahan harus dapat digabung menjadi satu wilayah kecamatan
utuh dan seterusnya. Setelah lay out masing-masing lembar peta blok selesai
baru dilakukab pemindahi (scanning) atau digitasi.
Selain itu apabila peta-peta bloknya berasal dari hasil pengukuran akurat (total
station/teodolit) denga referensi titik kontrol yang tepat (GPS) maka dapat
secara langsung diproses lebih lanjut tanpa harus melakukan lay out.

D. Perekaman Peta
Peta yang direkam adalah peta blok karena merupakan unit terkecil dari petapeta yang ada. Perekaman peta blok ke komputer dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu :
a. Melalui scanning yang diikuti dengan registrasi peta di komputer untuk
kemudian dilakukan digitasi screen terhadap setiap detail peta.
b. Melalui digitasi pada meja digitizer dimana tetap memerlukan registrasi
peta.
E. Registrasi Peta Blok Hasil Scanning
Pekerjaan registrasi Peta adalah pekerjaan pemberian titik koordinat meter
terhadap masing-masing peta blok minimal 4 titik yang mewakili peta dengan
ketentuan register :
Projection
Units

: Tergantung dari peta input. Sebaiknya Category Universal


Transverse Mercator (WGS 84) dengan zone disesuaikan
dengan lokasi kegiatan.
: Meter

F. Editing peta blok ke dalam bentuk digital (vektor)


Sesuai dengan cara perekaman peta ke dalam komputer, maka ada dua jenis
pekerjaan editing peta blok ke dalam bentuk digital (vektor) yaitu :
a. Hasil proses scanning
Editing data raster dimaksudkan untuk merubah data raster hasil
scanning/transformasi menjadi data vektor yang dilakukan dengan cara
digitasi pada layar (screen) secara manual. Konsep digitasi pada screen
adalah sama dengan digitasi melalui alat digitizer, perbedaannya hanya
terletak pada peralatannya saja (mouse monitor : digit mouse-meja digitasi)
dan media input (bila digitasi pada screen, media inputnya berupa hasil
scanning sedangkan digitasi pada meja digitizer, media inputnya berupa
peta tanpa perlu dilakukan scanning), dimana data vektor ini harus dibuat
sesuai dengan format yang akan dipakai untuk keperluan SIG PBB pada
Software Mapinfo Profesional versi terbaru.
b.

Proses digitasi.
Pembuatan peta digital (vektor) dengan menggunakan peralatan meja
digitasi dan sesuai dengan format yang akan dipakai untuk keperluan SIG
PBB pada Software Mapinfo Profesional versi terbaru.

Proses editing peta ke dalam bentuk digital (vektor) ini meliputi pekerjaan :
1. Digitasi pada bidang milik/tanah (layer bidang)
2. Digitasi pada batas bangunan (layer bangunan)
3. Digitasi pada batas wilayah dan utilitas yang terdiri dari :
a. Layer jalan
b. Layer sungai
c. Layar teks
d. Layer batas blok
e. Layer batas kelurahan
f. Layer batas kecamatan
g. Layer batas kabupaten/kota
h. Layer batas propinsi
4. Pemberian NOP untuk tiap-tiap bidang tanah.
5. Pemberian NOP berikut nomor bangunan pada tiap-tiap bangunan.
6. Pemberian Identitas pada tiap-tiap layer Utilitas.

G. PEMERIKSAAN HASIL EDITING PETA DATA RASTER


Setelah hasil editing diselesaikan kemudian dilakukan pemeriksaan (evaluasi)
melalui :
1. Check plot, yaitu dengan membandingkannya hasil pencetakan peta digital
tersebut terhadap peta dasarnya (peta input) dari Kantor Pelayanan PBB
atau peta-peta lain yang dipergunakan sebagai sumber tentunya dalam
skala yang sama. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya gambar
(penarikan garis) yang sangat berbeda (kekurangan, kelebihan, kesalahan
mencolok) dengan peta dasarnya, kekeliruan pemberian NOP, dan
kekeliruan lain yang dapat dilihat.
2. Analisis Data, adalah pekerjaan membandingkan data spasial/peta dengan
basis data SISMIOP secara otomatis yang dituangkan dalam laporan hasil
analisis. Adapun informasi yang diperbandingkan adalah : NOP, luas bidang,
bangunan beserta nomornya. Toleransi yang diperbolehkan antara luasan di
peta digital dan luasan di SISMIOP adalah 10%.
Setelah proses evaluasi ini dilaksanakan dan teruji benar, selanjutnya dibuat
back up data digital tersebut ke dalam media penyimpan (yang biasanya berupa
optical disk).
2.4.4. KETENTUAN DI DALAM PEMBUATAN PETA DIGITAL
A. Pemberian Nama File Peta Digital
Pemberian nama file peta digital harus disesuaikan dengan kode wilayah dari
peta tersebut.
Contoh :
Lembar peta blok yang akan dilakukan editing adalah Blok 001 Kelurahan
Melawati, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan maka penyimpanan
file peta blok digital adalah 3171050005001.
File peta blok digital digabung menjadi satu kelurahan dengan nama
3171050005 dan ditambah kode sesuai dengan jenis layer yang akan dibuat.
B. Pembuatan Layer Peta Digital
1.

Layer tanah/bidang 3171050005


Gambar memiliki tipe Poligon Fill Pattern None Border Garis penuh Color
Black Width 0,17 mm (paling tipis)
Struktur basis data
Nama
File
D_NOP
D_LUAS

2.

Type

Index

Keterangan

Character 18
Decimal
(10,2)

Index 1

NOP setiap bidang tanah


Luas
Bidang
tanah
dengan
menggunakan
Update
Column
terhadap Field D_LUAS dengan Value
Assist Function Area

Layer bangunan 3171050005bg


Gambar memiliki tipe Poligon Fill Pattern (MapInfo No. 5) Foreground
(MapInfo No. 7) Background None Border Style Garis putus (line style
MapInfo nomor 5) Color Hijau Width 0,17 mm (paling tipis)

3.

Struktur jalan 3171050005jl


Gambar memiliki tipe Polyline Style Garis penuh Color Red Width 0,17 mm
(paling tipis)
Struktur basis data
Nama Field
D_NM_JLN
D_LBR_JLN

4.

Type
Character (30)
Integer

Index

Keterangan
Nama Jalan
Lebar Jalan (rata-rata lebar
pada jalan tersebut)

Layer sungau 3171050005sg


Gambar memiliki tipe Polyline Style Garis penuh Color Blue width 0,17 mm
(paling tipis)
Struktur basis data
Nama Field
D_NM_SNG
D_LBR_JLN

5.

Type
Character (30)
Integer

Index

Keterangan
Nama Sungai
Lebar sungai (rata-rata
lebar pada sungai tersebut)

Layer text 3171050005tx


Berisi :
Teks mengenai keseluruhan nama utilitas jalan, sungai, informasi nama
wilayah bersebelahan, informasi lokasi penting, dan sebagainya, yang
tidak terdapat termasuk layer-layer lain berwarna hitam dengan tipe huruf
italic berukuran sesuai gambar input.
Batas tepi jalan diperkeras berwarna merah uktiran garis paling tipis,
Batas tepi jalan tidak diperkeras berwarna coklat kekuningan berukuran
garis paling tipis,
Batas tepi jalan TOL berwarna merah berukuran garis tipis no.2,
Batas tepi sungai berwarna biru berukuran garis tipis no.2,
Utilitas yang disertai dengan simbolnya
Struktur basis data
Nama Field
D_TEXT

6.

Type
Character (30)

Index

Kosong

Keterangan

Layer batas blok 3171050005bl


Gambar memiliki tipe Poligon Fill Pattern None Border Style Garis putus
dan titik (line style MapInfo nomor 13) Color Blue Width 0,25 mm (tipis
no.2)
Struktur basis data
Nama Field
D_BLOK

Type
Character (13)

Index

Keterangan
Kode Wilayah + Nomor Blok

7.

Layer Simbol 3171050005si


Struktur basis data
Nama Field
D_KD_SIMBOL

Type
Character (4)

Index

Keterangan
Kode Simbol

Rincian layer Simbol


Kode Simbol
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
8.

Uraian Simbol
Kuburan Islam
Kuburan Kristen
Kuburan Lainnya
Masjid
Gereja
Candi
Pura/Puri
Klenteng
Kantor
Titik Triangulasi
Tugu/Titik Poligon

Layer batas kelurahan 3171050


Gambar memiliki tipe Polygon Fill Pattern None Border Style Garis penuh
color Green Width 0,25 mm (tipis no.2)
Struktur basis data
Nama Field
D_KD_KEL
D_NM_KEL

9.

Type
Character (10)
Character (25)

Index

Keterangan
Kode Wilayah Kelurahan
Nama Kelurahan

Layer batas kecamatan -3171


Gambar memiliki tipe Polygon Fill Pattern None Border Style Garis putus
(line style MapInfo nomor 7) Color Black Width 1 mm
Struktur basis data
Nama Field
D_KD_KEC
D_NM_KEC

Type
Character (7)
Character (25)

Index

Keterangan
Kode Wilayah Kecamatan
Nama Kecamatan

10. Layer batas kabupaten / kota-605


Gambar memiliki tipe Polygon Fill Pattern None Border Style Garis positif
(line style MapInfo nomor 32) Color Black Width 1 mm
Struktur basis data
Nama Field
D_KD_DT2

Type
Character (4)

D_NM_DT2

Character (25)

Index

Keterangan
Kode Wilayah Daerah
Kabupaten/Kota
Nama daerah Kabupaten/
Kota

Penamaan layer batas daerah kabupaten/kota menggunakan kode Kantor

Pelayanan PBB masing-masing sesuai dengan kode yang ada di basis data
wilayah aplikasi SISMIOP. Hal ini disebabkan karena satuan wilayah suatu
Kntor Pelayanan PBB dapat meliputi satu atau beberapa Daerah
kabupaten/kota.

BAB III PEMELIHARAAN BASIS DATA

Pemeliharaan basis data dilaksanakan atas basis data yang telah terbentuk karena adanya
perubahan data objek dan subjek pajak. Dalam pelaksanaan pemeliharaan basis data yang
menyangkut perubahan data seperti pendaftaran objek pajak baru, pemecahan atau
penggabungan, tidak dibenarkan dilakukan perubahan data numeris sebelum dilakukan
pemutakhiran data grafisnya.
Pemeliharaan basis data dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut :

3.1.

PEMELIHARAAN BASIS DATA SECARA PASIF


Dilaksanakan pada tahun pajak yang sedang berjalan, digunakan untuk ketetapan tahun
pajak berjalan dan atau tahun pajak yang akan datang. Pemeliharaan basis data dapat
dilakukab baik secara sebagian maupun sekelompok karena permohonan/pengajuan laporan
dari wajib pajak dan atau laporan pejabat instansi yang terkait, sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan dalam Sistem Pelayanan Satu Tempat (PST), pendaftaran, dan atau
pemeliharaan basis data secara kolektif.

3.1.1 PENDAFTARAN
Pemeliharaan basis data karena adanya kegiatan pendaftaran dilaksanakan dengan tahapan
sebagai berikut :

A. Persiapan
Pada tahap ini dilakukan kegiatan antara lain :
1. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan memberitahukan kepada Pemerintah
Daerah setempat tentang kegiatan Pendaftaran objek dan subjek pajak, sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak.
2. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan bersama Pemerintah Daerah setempat
menunjuk tempat-tempat pengambilan dan pengembalian SPOP.
Tempat-tempat yang dapat ditunjuk antara lain :
a. Kantor-kantor Direktorat Jenderal Pajak setempat;
b. Kantor Dinas pendapatan Daerah;
c. Kantor Kecamatan;
d. Kantor Desa/Kelurahan;
e. Tempat lain yang dianggap memungkinkan.

3. Kantor Pelayanan pajak Bumi dan Bangunan bersama Pemerintah Daerah setempat
memberikan penjelasan kepada para penanggungjawab tempat pengambilan dan
pengembalian SPOP.
4. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan menyerahkan SPOP dan perangkat
administrasi lainnya (seperti tanda terima SPOP, daftar penjagaan, peta blok, dan
sebagainya) kepada para penanggungjawab tempat pengambilan dan pengembalian
SPOP dengan Berita Acara penyerahan. SPOP harus diberi nomor urut lebih dahulu
dan ditatausahakan.
5. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan memberikan penyuluhan kepada
masyarakat tentang rencana kegitan pendaftaran objek pajak.

B. Pelaksanaan
Pelaksanaan pendaftaran objek Pajak Bumi dan Bangunan akan melibatkan 3(tiga)
unsur, yaitu subjek pajak, petugas pada tempat pengambilan dan pengembalian SPOP,
serta petugas Kantor Pelayanan PBB. Masing-masing unsur mempunyai kewajiban
sebagai berikut :

1. Kewajiban Petugas pada Tempat Pengambilan dan Pengembalian SPOP


a. Memberikan formulir SPOP kepada subjek pajak yang datang untuk mendaftarkan
objek pajaknya;
b. Memberikan tanda terima penyampaian SPOP kepada subjek pajak untuk diisi dan
ditandatangani;
c. Mencatat identitas subjek/wajib pajak dan/atau kuasanya yang menerima SPOP.
Dalam hal ini kepada subjek pajak atau kuasanya supaya diminta menunjukkan
identitas (copy SIM/KTP dan lain sebagainya yang masih berlaku);
d. Menerima SPOP yang sudah diisi, ditandatangani, dilengkapi dengan data
pendukungnya, yangdikembalikan oleh subjek pajak atau kuasanya serta
memberikan tanda terima pengembalian SPOP;
e. Mengirimkan laporan Daftar Penjagaan Penyampaian dan pengembalian
SPOPkepada Kantor Pelayanan PBB pada setiap hari kerja terakhir dalam satu
minggu (Jumat/Sabtu) atau pada hari kerja berikutnya apabila pada hari
Jumat/Sabtu jatuh pada hari libur, disertai dengan :
(i) Tanda Terima Penyampaian SPOP;
(ii) SPOP yang sudah dikembalikan oleh subjek pajak, beserta tanda terima
pengembalian SPOP;
(iii) Surat Pengantar
f. Mengajukan permintaan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk mendapatkan
tambahan formulir SPOP, dalam hal persediaan SPOP sudah tidak mencukupi;

2. Kewajiban Subjek Pajak pada Pelaksanaan Pendaftaran Objek Pajak


a. Mengambil formulir SPOP pada tempat-tempat yang ditunjuk;
b. Mengisi formulir SPOP dengan jelas, benar dan lengkap serta menandatanganinya.
Bila perlu dilengkapi dengan data pendukungnya. Dalam pengisian SPOP, letak
relatif dan bentuk/sket objek pajak harus digambarkan pada tempat yang telah
disediakan, dengan mencantumkan :
(i) NOP yang berbatasan (informasi NOP yang berbatasan dapat diperoleh pada
peta blok yang disediakan di tempat pengambilan dan pengembalian SPOP);
(ii) Ukuran sisi objek pajak yang bersangkutan;
(iii) Sket pembagian bidang apabila terjadi pemecahan objek pajak;
(iv) Informasi lainnya yang diperlukan dalam pengolahan sket/peta.
c. Dalamhal yang menjadi subjek pajak adalah badan hukum, maka yang
menandatangani SPOP adalah Pengurus/direksi atau kuasanya;
d. Tanda terima SPOP harus diberi penjelasan secukupnya yang menjelaskan siapa
yang menandatangani SPOP;
e. Dalam hal SPOP ditandatangani bukan oleh subjek pajak yang bersangkutan,
maka harus dilampiri Surat Kuasa dari subjek pajak;
f. Mengembalikan SPOP yang sudah diisi ke Kantor-kantor Direktorat Jenderal Pajak
(kantor Pelayanan PBB) atau tempat dimana formulir SPOP diperoleh, selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sesudah diterimanya SPOP.

3. Kewajiban Petugas Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan


a. Menyusun Buku Penjagaan Penyampaian dan Pengembalian SPOP mengenai
semua SPOP yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak baik langsung
maupun dari tempat yang ditunjuk sebagai tempat pengambilan dan
pengembalian SPOP;
b. Menerima dan menatausahakan laporan yang disampaikan oleh petugas
penanggung jawab tempat pengambilan dan pengembalian SPOP;
c. Meneliti SPOP yang sudah dikembalikan, baik langsung dari subjek pajak maupun
tempat-tempat yang ditunjuk sebagai tempat pendaftaran. Yang perlu diteliti

d.

e.
f.
g.

h.

antara lain adalah :


(i) Kebenaran pengisian dan kelengkapan data pendekung SPOP;
(ii) Kebenaran NOP (dalam hal objek pajak tersebut telah diberi NOP).
Dalam hal diperlukan penelitian lapangan, SPOP berikut data pendukungnya
diteruskan kepada petugas yang ditunjuk untuk mengadakan penelitian lapangan;
Memberikan laporan kepada atasannya mengenai subjek pajak yang belum
mengembalikan SPOP setelah lewat batas waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
diterimanya SPOP, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sesudah batas waktu
pengembalian SPOP untuk diberikan Surat Teguran Pengembalian SPOP;
Jangka waktu pengembalian SPOP yang ditetapkan dalam Surat teguran
pengembalian SPOP ditenyukan paling lama 15 (lima belas) hari, terhitung mulai
tanggal pengiriman (stempel pos);
Melaporkan kepada atasannya apabila wajib pajak tidak juga mengembalikan
SPOP setelah melewati batas waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran
Pengembalian SPOP, untuk ditetapkan SKP-nya;
Meneliti permintaan tertulis dari Subjek Pajak tentang perpanjangan atau
penundaan pengembalian SPOP dan melaporkan kepada atasannya Dalam hal
Kepala Kantor Pelayanan PBB setempat menyetujui permintaan tersebut, maka
diterbitkan Surat Persetujuan Penundaan Pengembalian SPOP. Batas waktu
penundaan ditentukan paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima;
Setiap pemutakhiran data objek pajak yang menyangkut perubahan data seperti
pemecahan atau penggabungan, tidak dibenarkan dilakukan perubahan data
numeris sebelum dilakukan pemutakhiran data grafisnya.

3.1.2. PEMELIHARAAN BASIS DATA KOLEKTIF.


Desa yang kurang potensial dan letaknya sangat jauh dari tempat kedudukan Kantor
Pelayanan PBB yang bersangkutan, pemeliharaan basis data dapat dilakukan secara kolektif
melalui Kepala Desa dengan tahapan sebagai berikut :
1. Kepala Desa menghimpun perubahan objek dan subjek PBB ke dalam Daftar Perubahan
Data Objek dan Subjek PBB sebagaimana contoh dalam Lampiran 33;
2. Perubahan yang berhubungan dengan bangunan atau penambahan bangunan agar
dilengkapi LSPOP;
3. Melampirkan sket lokasi bidang objek pajak yang mengalami perubahan dengan
dilengkapi nama wajib pajak dan NOP bidang yang berbatasan;
4. Daftar Perubahan Data Objek dan Subjek PBB dan lampirannya setelah ditandatangani
oleh Kepala Desa disampaikan ke Kantor Pelayanan PBB setempat.

3.2.

PEMELIHARAAN BASIS DATA SECARA AKTIF


Dilaksanakan untuk tahun pajak berjalan, digunakan untuk ketetapan tahun pajak yang
akan datang, dan pada umumnya secara massal atas dasar rencana kerja yang telah
disusun oleh Kantor Pelayanan PBB sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam
rangka pembentukan basis data SISMIOP.

3.2.1. PEMELIHARAAN BASIS DATA UNTUK PENYEMPURNAAN ZNT/NIR


Kegiatan ini sebaiknya dilaksanakan dengan tahapan pekerjaan antara lain sebagai berikut :
1. Menentukan/mengevaluasi NIR yang terdapat dalam suatu wilayah objek pajak dengan
berpedoman pada cara pembuatan NIR yang diatur dalam Bab II butir 2.3.3 huruf A
angka 1 tentang Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR;
2. Mengadakan penyempurnaan NIR dan kode ZNT apabila berdasarkan hasil analisis
sebagaimana dimaksud di atas ternyata terjadi perubahan dari yang telah ditentukan
dalam pembentukan basis data.
Sebelum diadakan penyempurnaan, hasil analisis tersebut dapat dikonfirmasikan terlebih
dahulu dengan Pemerintah Daerah dan instansi terkait. Perubahan NIR dan kode ZNT

dicatat pada Formulir Zona Nilai Tanah dan Formulir Pemutakhiran Kode ZNT.

3.2.2. PEMELIHARAAN BASIS DATA OBJEK DAN ATAU SUBJEK PAJAK


Apabila menurut perkiraan tingkat ketidakcocokan data yang ada pada bsis data dengan
keadaan yang sebenarnya di lapangan dalam suatu wilayah administrasi pemerintahan
tertentu mencapai minimal 20%, maka perlu diadakan pemeliharaan basis data melalui
kegiatan Verifikasi Data Objek Pajak.

3.2.3. PEMELIHARAAN BASIS DATA PETA DIGITAL


Untuk suatu wilayah administrasi pemerintahan tertentu yang telah berbasis data SISMIOP
dan mempunyai peta garis (data grafis), tetapi belum menerapkan SIG PBB. Kantor
Pelayanan PBB dapat mengkonversi peta garis tersebut menjadi peta digital sebagai salah
satu tahapan aplikasi SIG PBB. Pelaksanaan selengkapnya dapat dilihat pada Bab II butir
2.4. tentang Sistem Informasi Geografis PBB.
Bagi Kantor Pelayanan PBB yang telah melaksanakan aplikasi SIG PBB, data grafis peta
digital yang ada harus diadakan pemutakhiran dan penyesuaian dengan keadaan di
lapangan.
Kegiatan pemeliharaan basis data di atas, dapat dilakukan secara sendiri-sendiri ataupun
kombinasi dari ketiga kegiatan tersebut.
Jika data grafis yang ada tidak dimungkinkan dilakukan verifikasi data objek pajak makan
dapat dilakukan pendataan dengan pengukuran bidang objek pajak, baik skala kecil (untuk
jumlah OP 50.000) atau skala besar (untukjumlah OP > 50.000). Dengan catatan NOP
tetap seperti semula kecuali untuk objek pajak baru.

BAB IV PENGAWASAN, PELAPORAN DAN EVALUASI

4.1.

PENGAWASAN PEKERJAAN LAPANGAN


Pengawasan pekerjaan lapangan adalah pekerjaan yang ditekankan pada kendali mutu
pekerjaan lapangan. Hal ini dimaksudkan agar pekerjaan lapangan sesuai dengan jadwal,
prosedur, dan materi dalam rencana kerja yang telah disetujui oleh pejabat yang
berwenang dan dimaksudkan untuk mengetahui secara dini apabila terdapat hambatan
atau penyimpangan dalam pekerjaan lapangan.
Selanjutnya pengawasan pekerjaan lapangan berfungsi untuk mencarikan alternatif/jalan
keluar penyelesaian terbaik dan secepat mungkin dengan tetap berpedoman pada rencana
kerja serta petunjuk pejabat yang berwenang, meningkatkan koordinasi pengawasan dan
mendukung upaya menghilangkan hambatan/penyimpangan dalam pekerjaan lapangan.

4.1.1. RUANG LINGKUP


Ruang lingkup pengawasan pekerjaan lapangan adalah :

A. Pengawasan pengumpulan data fisik


Pengawasan ini dilaksanakan agar :
1. Para petugas mengetahui dengan pasti bats blok yang menjadi tanggung jawabnya.
Untuk menentukan kepastian batas-batas blok bagi setiap petugas diperlukan
orientasi lapangan secara bersamaan antara pengawas dan petugas lapangan
dengan berpedoman pada peta kerja yang telah ditentukan.
2. Ukuran sisi bidang tanah dan bangunan harus dicantumkan dengan jelas dan benar
pada peta kerja. Objek bangunan digambarkan dengan garis putus-putus (-------- ),
kode tingkat bangunan ditulis dengan angka romawi.
3. SPOP diisi dengan jelas, benar, dan lengkap sesuai dengan data objek/subjek yang
bersangkutan.
4. Memberikan arahan dan bimbingan kepada petugas apabila petugas menghadapi
kesulitan dalam pelaksanaan pekrjaan lapangan. Dalam hal pengawas tidak dapat
mengatasi, pengawas melaporkan kepada koordinator pekerjaan lapangan.
5. SPOP yang telah diisi dengan jelas, lengkap, dan benar ditandatangani oleh petugas
lapangan dan oleh subjek pajak atau yang mewakilinya.
6. SPOP yang telah diterima dari petugas diperiksa dan ditandatangani oleh pejabat
yang berwenang serta dilengkapi dengan NIP dan tanggal pemeriksaan.

B. Pengawasan pelaksanaan pemberian NOP


NOP Pengawasan ini dilakukan agar :
1. Pengumpulan data dan pemberian NOP dimulai secara berurutan dari barat laut (kiri
atas peta) pada tiap blok, yang selanjutnya urutan pengumpulan/penomoran
diusahakan berbentuk spiral.
2. Penempelan stiker NOP hanya objek bangunan ditempat yang mudah terlihat.
3. Penempelan stiker NOP serta pengisian NOP ke dalam SPOP dilakukan pada saat
yang bersamaan di lapangan.
4. Pemberian NOP pada objek PBB dan pada SPOP harus sama dengan penomoran
pada peta kerja?konsep peta blok.

C. Pengawasan pengumpulan data harga jual


Pengawasan ini dilaksanakan agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya dengan cara mengadakan :
1. Pengecekan langsung ke lapangan terhadap data yang diragukan kebenarannya.
2. Penyesuaian terhadap data yang diragukan kebenarannya sehingga mendekati nilai
pasar yang sebenarnya.

4.1.2. CARA PENGAWASAN


Pengawasan diterapkan dengan pola berjenjang, mulai dari Penanggung jawab sampai
dengan Petugas Lapangan. Cara pengawasan, kepada Petugas Lapangan adalah sebagai
berikut :
1. Pengawasan lapangan mengharuskan kepada setiap [etugas lapangan untuk :
a. Mengisi daftar hadir di tempat yang telah ditentukan.
b. Memberitahukan secara langsung atu tidak langsung kemana petugas lapangan
yang bersangkutan akan bertugas.
C. Mengisi buku produksi untuk mencatat hasil kerja setiap hari.
d. Mmbawa surat tugas dan memakai tanda pengenal.
2. Pengawas lapangan diwajibkan mengawasi petugas lapangan yang menjadi tanggung
jawabnya dan berhak menegur serta memberikan pengarahan kepada petugas
lapangan.
3. Pengawas lapangan harus memeriksa buku produksi, konsep sket/peta blok yang
sedang dikerjakan oleh petugas lapangan dan membubuhkan parafnya pada buku
produksi tersebut.
4. Pengawas lapangan harus mengisi Daftar Pengawasan pada saat peninjauan ke
lapangan. Daftar Pengawasan tersebut harus ditandatangani pengawas maupun
petugas lapangan dan dibuat dalam rangkap 2 (dua), satu lembar untuk laporan dan
satu lembar untuk petugas yang bersangkutan. Contoh formulir Pengawasan Pekerjaan
Lapangan dapata dilihat pada Lampiran 34.
5. Pengawas Lapangan harus mengadakan uji petik terhadap hasil pekerjaan petugas
lapangan minimal 5 objek pajak untuk setiap blok dengan menggunakan berita acara.
Contoh Berita Acara Hasil Uji Petik dapat dilihat pada lampiran 35.

4.2.

PELAPORAN DAN EVALUASI


Dalam hal pembentukan basis data SISMIOP tidak dilaksanakan oleh Tim, maka pelaporan
dan evaluasi disesuaikan dengan tugas dan fungsi Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan. Apabila pembentukan basis data SISMIOP dilaksanakan oleh Tim, maka
mekanisme pelaksanaan pelaporan dan evaluasi dilaksanakan sebagai berikut :

4.2.1. PELAPORAN

A. Laporan Mingguan
1. Petugas lapangan setiap minggunya, setelah selesai melaksanakan pekerjaan di
lapangan, melaporkan sekaligus menyerahkan SPOP yang dapat diselesaikan pada
minggu tersebut kepada pengawas petugas lapangan.
2. Selanjutnya para Pengawas Petugas Lapangan meneliti SPOP yang diterimanya dari
petugas lapangan yang diawasi. Dalam hal terdapat kesalahan/kekurangan dalm
pengisian SPOP, maka SPOP tersebut agar dikembalikan kepada petugas lapangan
yang bersangkutan untuk diperbaiki.
3. SPOP yang telah diteliti oleh Pengawas Petugas Lapangan, setiap minggunya
diserahkan kepada Koordinator Pekerjaan Lapngan (KORLAP) yang bersangkutan
disertai rekapitulasi hasil pekerjaan lapngan di dalam Daftar Laporan Perkembangan

Pengumpulan Data Objek Pajak (Contoh pada Lampiran 36)


4. Apabila satu blok telah selesai didata, maka selain SPOP, petugas lapangan juga
harus menyerahkan net konsep peta blok kepada pengawas petugas lapangan.
5. Apabila dalam minggu yang bersangkutan terdapat blok-blok yang dapat
diselesaikan, maka dalam laporan mingguan agar dilampirkan net konsep peta blok
yang telah dilengkapi dengan batas-batas ZNT.
6. Selanjutnya KORLAP menghimpun laporan-laporan mingguan yang diterima dari
pengawas petugas lapangan beserta net konsep peta blok. Contoh Daftar
Pemantauan pelaksanaan Pengumpulan Data Objek Pajak dapat dilihat pada
Lampiran 37.
7. KORLAP menghimpun laporan mingguan untuk selanjutnya dilaporkan kepada Ketua
Tim melalui Sekretaris Tim.
8. Setiap minggu Koordinator Pekerjaan Administrasi Komputerisasi (KORADKOM)
membuat laporan perkembangan perekaman data dan pembuatan peta kepada
Ketua Tim. Contoh formulir Laporan Mingguan Perkembangan Perekaman Data
dapat dilihat pada Lampiran 38.

B. Laporan Bulanan
Setiap bulan Kepala Kantor Pelayanan PBB melaporkan pertanggungjawaban fisik dan
keuangan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang bersangkutan.
Contoh formulir laporan bulanan dapat dilihat pada Lampiran 39.

C. Laporan Triwulanan
Setiap triwulan Kepala Kantor Wilayah DJP melaporkan pertanggungjawaban fisik dan
keuangan hasil rekapitulasi laporan bulanan Kantor Pelayanan PBB kepada Direktur
Jenderal Pajak u.p. Direktur PBB.

D. Laporan Akhir
Setiap akhir penyelesaian kegiatan Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data,
Kepala Kantor Pelayanan PBB membuat laporan akhir yang disampaikan kepada Kepala
Kantor Wilayah DJP yang bersangkutan. Selanjutnya Kepala Kantor Wilayah DJP
melaporkankannya kepada Direktur Jenderal Pajak up. Direktur PBB. Contoh formulir
laporan akhir Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data SISMIOP dapat dilihat
pada Lampiran 41.

4.2.2. EVALUASI

1. Langkah pengendalian pelaksanaan kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan bass


data SISMIOP dilakukan dengan mengadakan evaluasi terdapat pelaksanaan pekerjaan
lapangan dan administrasi yang dilaksanakan setiap minggu.
2. Dalam evaluasi mingguan tersebut dihadiri oleh :
a. Ketua Tim Pelaksana;
b. KORLAP/Kasi Pedanil/Kasubsi/Petugas di Sie Pedanil;
c. KORADKOM (Koordinator Administrasi dan Komputerisasi)/ Kasi DAI;
d. Semua Pengawas Petugas Lapangan.
3. Materi yang dibahas dalam evaluasi mingguan :
a. Laporan dari Koordinator Pekerjaan Lapangan, tentang semua hasil yang telah
dicapai selama satu minggu kepada Ketua Tim;
b. Laporan Koordinator Pekerjaan Administrasi tentang pelaksanaan perekaman dan
penggambaran peta kepada Ketua Tim;
c. Pengarahan teknis secara umum dari Ketua Tim atas hasil pekerjaan;
d. Evaluasi akhir oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB dengan memberikan petunjuk
dan pengarahan secara umum.

BAB V STRUKTUR ORGANISASI JADWAL KEGIATAN PEMBIAYAAN DAN


PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

5.1.

STRUKTUR ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

5.1.1. SUMBER DANA DARI APBN U.P. DAFTAR ISIAN PROYEK (DIP)

A. Struktur Organisasi

B. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

1. Pembina dan Penanggung Jawab


Berdasarkan Keppres No. 16 Tahun 1994 sebagaimana dirubah dengan Keppres no.
8 Tahun 1997 pasal 62 ayat 4 menjelaskan bahwa Pembina dan penanggung jawab
adalah Pejabat Esselon I (Direktur Jenderal, Sekretaris Jenderal dan Pejabat lain
yang setingkat).

2. Pembina dan Penanggung Jawab Harian


Berdasarkan Keppres No. 16 Tahun 1994 sebagaimana dirubah dengan Keppres no.
8 Tahun 1997 pasal 62 ayat 5 menjelaskan bahwa Pembina dan penanggung jawab
adalah Pejabat Esselon II.

3. Pemimpin Proyek
Berdasarkan Keppres No. 16 Tahun 1994 sebagaimana dirubah dengan Keppres no.
8 Tahun 1997 menjelaskan bahwa Pemimpin Proyek tidak diperkenankan dijabat
oleh Pejabat Esselon I dan esselon II serta kepala kantor; Pimpro bertugas dan
berkedudukan di lokasi proyek atau ibukota Kabupaten/Kota yang terdekat.
Dalam hal ini Pemimpin Proyek diusulkan daerah melalui Kantor Pusat DJP untuk
diminta persetujuan dari Menteri Keuangan RI. Adapun uraian tugas dan tanggung
jawabnya adalah sebagai berikut :
a. Bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek baik secara teknis maupun
administrasi/keuangan;
b. Memberikan pertimbangan kepada Pembina dan Penanggung Jawab
Program/proyek mengenai segala permasalahan yang timbul sehubungan
dengan pelaksanaan proyek;
c. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan pembentukan dan atau pemeliharaan
basis data objek PBB;
d. Bertanggung jawab atas penyelesaian proyek tepat pada waktunya;
e. Memberikan laporan serta pertanggungjawaban secara berkala baik mengenai
pelaksanaan fisik maupun keuangan kepada pimpinan organisasi sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku dan tatacara serta prosedur pelaporan;
f. Menyerahkan hasil akhir pelaksanaan proyek kepada Direktur Jenderal Pajak c.q.
Direktur PBB dengan berita acara penyerahan.

Dalam melaksanakan pekerjaannya Pimpro dibantu oleh staf Administrasi Proyek,


yang bertugas :
a. Membantu Pemimpin Proyek untuk menyusun laporan pelaksanaan proyek serta
mengevaluasi pelaksanaan proyek.
b. Membantu Pimpinan Proyek menyusun rencana kerja dan jadwal pelaksanaan
pekerjaan.
c. Menerima, meneliti, menyimpan, dan menatausahakan hasil pekerjaan
pendataan dan/atau penilaian objek pajak.

4. Bendaharawan Proyek
Berdasarkan Keppres No. 16 Tahun 1994 sebagaimana dirubah dengan Keppres no.
8 Tahun 1997 menjelaskan bahwa Bendaharawan Proyek tidak diperkenankan
dijabat oleh Pejabat Esselon I dan esselon II serta kepala kantor; Bendaharawan
proyek bertugas dan berkedudukan di lokasi proyek tau ibukota Kabupaten/Kota
yang terdekat. Seperti halnya pengajuan Pimpro, Bendaharawan Proyek tetap
diusulkan oleh daerah melalui Kantor Pusat DJP untuk diminta persetujuan dari
Menteri Keuangan RI. Adapun uraian tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai
berikut :
a. Menerima, menyimpan dan membayarkan biaya proyek sebesar tersebut dalam
Daftar Isian Proyek yang bersangkutan;
b. Mengelola Keuangan berdasarkan ketentuan yang berlaku;
c. Memberikan laporan serta pertanggungjawaban secara berkala mengenai
pelaksanaan keuangan proyek kepada Pemimpin Proyek.

5. Tim Supervisi
Tim Supervisi beranggotakan aparat Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak
dan/atau tenaga ahli yang ditunjuk. Tim supervisi bertugas :
a. Memberikan saran yang bersifat teknis kepada pelaksana serta melakukan
pemeriksaan dan pengawasan pelaksanaan pendataan dan/atau penilaian objek
PBB;
b. Mengevaluasi semua hasil pekerjaan yang sudah dilaksanakan;
c. Mengkaji Hasil setiap tahapan pekerjaan agar output setiap tahapan tersebut

pada akhir pekerjaan dapat langsung digunakan secara optimal oleh Daerah/ KP
PBB setempat;
d. Melaporkan hasil evaluasi yang sudah dilaksanakan serta memberikan saransaran kepada Pimpro.
e. Bertanggung jawab kepada Pembina dan penanggung jawab program/proyek
harian.

6. Tim Pengawas pelaksanaan SISMIOP di Tingkat Kanwil


Tim pengawas adalah Tim Pengawas Pelaksanaan SISMIOP di Tingkat Kanwil
dibentuk dengan keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Uraian
mengenai tugas dan tanggungjawabnya, dijelaskan dalam bab 5.1.3.

7. Pelaksana Lapangan (dilaksanakan oleh Pihak III)


Struktur organisasi pelaksanaan lapangan disusun dan dibentuk oleh Pihak ketiga
dengan mempertimbangkan elemen organisasi dalam pelaksanaan kegiatan
pendataan seperti misalnya :
a. Petugas pembuat konsep sket/peta desa/kelurahan bertugas melaksanakan
pembuatan konsep sket/peta desa/kelurahan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
b. Petugas pembuat konsep sket/peta ZNT bertugas melaksanakan pembuatan
konsep sket/peta ZNT dan daftar NIR berdasarkan harga jual yang dikumpulkan
atau data lainnya.
c. Petugas pengumpul data bertugas melaksanakan pekerjaan pembuatan net
konsep peta blok/ZNT per blok dan pengumpulan data di lapangan dalam rangka
pembentukan dan atau pemeliharaan basis data objek PBB sesuai dengan
rencana kerja dan ketentuan yang berlaku.
d. Petugas pembuat sket/peta desa/kelurahan, bertugas melaksanakan pembuatan
sket/peta desa/kelurahan, sket/peta blok dan sket/peta ZNT.
Elemen struktur organisasi tersebut pada prinsipnya untuk memperlancar
pelaksanaan pekerjaan agar hasilnya dapat optimal dan tepat waktu, dalam arti
dapat langsung dimanfaatkan oleh Daerah sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan.

8. Pelaksana Adminstrasi dan Komputerisasi (dilaksanakan oleh Pihak III)


Struktur organisasi pelaksanaan administrasi dan komputerisasi disusun dan
dibentuk oleh Pihak ketiga dengan mempertimbangkan elemen organisasi dalam
pelaksanaan kegiatan pendataan seperti misalnya :
a. Petugas Pembuat Peta Digital bertugas melaksanakan pembuatan peta digital
yang berasal dari peta blok.
b. Petugas Operator Console bertugas mengkoordinir masalah teknis komputer dan
data entry dalam kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data.
c. Petugas Operator Data Entry bertugas melaksanakan perekaman data dari SPOP,
validasi DHR dan pencetakan hasil keluaran berupa DHR.

5.1.2. SUMBER DANA DARI APBN u.p. DIK DAN DA BP PBB

Bagan struktur organisasi disesuaikan dengan alokasi sumber dananya,pada prinsipnya untuk
semua jenis sumber dana mempunyai bagan struktur organisasi yang sama dengan
menyesuaikan kepada beban pekerjaannya.
Uraian masing-masing unit organisasi disesuaikan terhadap 3 karakteristik jenis sumber dana,
yaitu :
a. Daftar Isian Kegiatan (DIK)
b. DA BP PBB, dibagi menjadi 2
b1. Pembentukan Basis Data dalam skala kecil atau yang jumlah objek pajaknya 50.000
Dalam hal Pembentukan basis data dalam skala kecil (jumlah OP < 50.000)
Penanggung jawab kegiatan secara organisatoris menjalankan pekerjaan dan tidak
mendapatkan Honorarium Tim.

b2. Pembentukan Basis Data dalam Skala Besar


Dalam hal pembentukan basis data objek PBB meliputi suatu wilayah yang cukup luas
dengan jumlah objek pajak > 50.000 OP, Seorang Penanggung jawab kegiatan secara
organisatoris menjalankan pekerjaan dan berhak mendapatkan Honorarium Tim.

Organisasi pelaksana pembentukan basis data dimaksud disusun dengan pola pengendalian
wilayah dan pengawasan berjenjang, dengan mengacu kepada tugas dan fungsi organisasi
Direktorat Jenderal Pajak, khususnya Kantor Pelayanan PBB, sebagaimana yang diatur dalam
Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 94/KMK.01/1994 tanggal 29 Maret 1994 tentang
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana telah

diubah/ditambah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 162/KMK.01/1997


tanggal 10 April 1997.
Pola pengendalian wilayah di sini dimaksudkan agar setiap petugas diberi tanggung jawab
tertentu. Dengan demikian dalam hal terjadi permasalahan, petugas tesebut diharapkan akan
dapat menyelesaikannya dengan segera. Mengingat kegiatan pembentukan basis data tersebut
dilaksanakan secara serentak dalam satuan wilayah administrasi pemerintahan yang
melibatkan banyak personil, maka untuk efektivitas dan efisiensi pekerjaan tersebut,
pengawasan dilaksanakan secara berjenjang.

IKHTISAR URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MENURUT BAGAN STRUKTUR ORGANISASI
BERDASAR MASING-MASING JENIS SUMBER DANA

No.

1.

Unit dan Elemen


Organisasi

Sumber Dana dari APBN u.p. Daftar


Isian Kegiatan (DIK)

Sumber Dana Dari APBN u.p. DA BP


PBB Pembentukan Basis Data Skala
Kecil atau yang jumlah OP-nya
50.000

Sumber Dana Dari APBN u.p.


DA BP PBB Pembentukan Basis
Data Skala Besar

Penanggung jawab Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Kepala Kantor Pelayanan
Bangunan
Bangunan
yang bersangkutan
a. Bertanggung jawab atas pelaksanaan
pembentukan dan atau pemeliharaan
basis data objek PBB secara teknis,
administrasi dan keuangan.
b. Mengajukan rencana kerja pembentukan
dan atau pemeliharaan basis data
kepada Kanwil Ditjen Pajak untuk
mendapatkan persetujuan.
c. Melakukan
pengawasan
atas
pelaksanaan kegiatan pembentukan dan
atau pemeliharaan basis data objek PBB.
d. Memberikan sanksi kepada pelaksana,
apabila hasil pekerjaan pembentukan
dan atau pemeliharaan basis data objek
PBB tidak sesuai dengan penugasan.
e. Membuat laporan bulanan kemajuan
fisik
dan
keuangan
mengenai
pelaksanaan pembentukan dan atau
pemeliharaan basis data objek PBB
kepada
Kepala
Kantor
Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak.
f. Menyelenggarakan
tata cara dan
prosedur keuangan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

a. Melaksanakan pembentukan dan atau


pemeliharaan basis data objek PBB
setelah rencana kerja disetujui Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pajak.
b. Idem
c. Idem
d. Idem
e. Idem
f. Mengajukan permintaan pencairan
dana BP PBB pembentukan dan atau
pemeliharaan basis data objek PBB
kepada Kepala KPKN setempat sesuai
dengan plafon anggaran yang tersebut
dalam DA BP PBB.
g. Menyampaikan Laporan Keadaan
Kredit Anggaran (LKKA) dengan
disertai Laporan Keadaan Kas (LKK)
Bendaharawan kepada Kepala Kantor
Perbendaharaan dan Kas Negara
(KPKN)
setempat
tepat
pada
waktunya.
h. Bertanggung jawab dan mengkaji
Laporan Bulanan Penyaluran Dana BP
PBB yang dibuatketua tim kepada
kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak.

- idem -

PBB

2.

Ketua
Pelaksana

Tim Ketua Tim, adalah Kasi Pendataan dan Idem


Penilaian

a. Menyusun Rencana Kerja pelaksanaan


pembentukan basis data objek PBB.
b. Bertanggung
jawab
terhadap
pelaksanaan pekerjaan lapangan
maupun
pekerjaan
administrasi,
keuangan, personalia, pelatihan, dan
perlengkapan.
c. Mengadakan rapat evaluasi pekerjaan
lapangan secara berkala setiap
minggu.
d. Melaporkan pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data objek pajak setiap
bulan kepada Kepala Kantor Pelayanan
PBB sebagai dasar pembuatan laporan
bulanan Kantor Pelayanan PBB kepada
Kepala Kanwil DJP setempat.
e. Melaporkan hasil akhir pelaksanaan
pekerjaan kepada Pengarah.

a. Menyusun
Rencana
Kerja
pelaksanaan pembentukan basis
data objek PBB dan menyampaikan
kepada Kepala KP PBB selaku
penanggung jawab
b. Bertanggung
jawab
terhadap
pelaksanaan pekerjaan lapangan
maupun pekerjaan administrasi,
keuangan, personalia, pelatihan, dan
perlengkapan.
c. Mengadakan
rapat
evaluasi
pekerjaan lapangan secara berkala
setiap minggu.
d. Melaporkan pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data objek pajak
setiap bulan kepada Kepala Kantor
Pelayanan PBB sebagai dasar
pembuatan laporan bulanan Kantor
Pelayanan PBB kepada Kepala
Kanwil DJP setempat.
e. Menyusun Laporan Keadaan Kredit
Anggaran (LKKA) dengan disertai
laporan
Keadaan
kas
(LKK)
Bendaharawan untuk Kepala Kantor
Perbendaharaan dan Kas Negara
(KPKN)
setempat
tepat
pada
waktunya.
f. Melaporkan hasil akhir pelaksanaan
pekerjaan kepada Pengarah.

Ketua Tim, yaitu seorang Pejabat


Eselon IV yang ditunjuk oleh
Kepala Kantor Pelayanan PBB
yang bersangkutan.

- idem -

Bila diperlukan ketua tim dapat


membentuk Sekretariat Tim, yang
terdiri dari tiga orang, yaitu kepala
Sub Bagian Tata Usaha atau
seorang pejabat eselon IV yang

ditunjuk sebagai Sekretaris dan


dibantu oleh 2 (dua) orang
petugas urusan administrasi dan
perlengkapan.
a. Mengkoordinir pengelolaan
pekerjaan yang bersangkutan
dengan
urusan
umum,
keuangan,
personalia,
pelatihan dan perlengkapan.
b. Membantu Ketua Tim dalam
menyusun
pelaksanaan
pekerjaan.
3.

4.

Bendaharawan

Koordinator
Lapangan

Bendahara Rutin

Bendahara BP PBB

a. Menerima,
menyimpan,
dan
membayarkan biaya pembentukan dan
atau pemeliharaan basis data objek
PBB kepada yang berhak setelah
mendapat persetujuan dari Kepala
Kantor Pelayanan PBB.
b. Mengelola keuangan berdasarkan
ketentuan yang berlaku.
c. Menyusun laporan keuangan dan
pertanggungjawaban secara berkala
mengenai keuangan yang dikelolanya.

a. Menerima,
menyimpan
dan
membayarkan biaya pelaksanaan
pekerjaan sebesar yang telah
ditentukan setelah disetujui oleh
Kepala Kantor Pelayanan PBB.
b. Mengelola dan membuat laporan
pertanggungjawaban
keuangan
secara berkala setiap bulan kepada
Ketua Tim dan mengelola keuangan
berdasarkan
ketentuan
yang
berlaku.
c. Membantu Ketua Tim menyususn
Laporan Keadaan Kredit Anggaran
(LKKA) dengan disertai Laporan
Keadaan Kas (LKK) Bendaharawan
untuk
Kepala
Kantor
Perbendaharaan dan Kas Negara
(KPKN)
setempat
tepat
pada
waktunya.

Kasubsi/Petugas pada Seksi Pendataan dan Idem


Penilaian atau Pejabat Fungsional

Idem

- idem -

Kepala Seksi
Penilaian

Pendataan

dan

a. Membantu Ketua Tim dalam menyusun


rencana kerja dan jadwal pekerjaan
lapangan.
b. Mengkoordinir
dan
mengawasi
pelaksanaan pekerjaan lapangan antara
lain
yang
menyangkut
kegiatan
pembuatan konsep sket/ peta desa/
kelurahan, konsep sket/ peta blok/
konsep sket/ peta ZNT, pengumpulan
data objek PBB, pembuatan sket/peta
ukuran bidang objek pajak dan
pemberian NOP.
c. Meneliti kebenaran hasil pekerjaan
lapangan dan selanjutnya meneruskan
kepada koordinator administrasi untuk
diproses lebih lanjut.
d. Membuat laporan mingguan dan bulanan
mengenai
pelaksanaan
pekerjaan
lapangan kepada Ketua Tim.
6.

Koordinator
Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Administrasi
dan
Komputerisasi
a. Membantu Ketua Tim dalam menyusun
rencana kerja dan jadwal pelaksanaan
pekerjaan administrasi.
b. Menerima hasil pekerjaan lapangan
dari koordinator pekerjaan lapangan
untuk diadministrasikan/ diproses
lebih lanjut.
c. Mengkoordinir
dan
mengawasi
kegiatan perekaman data, validasi dan
pencetakan hasil keluaran berupa DHR
yang telah divalidasi.

- idem -

Idem
a. Idem
b. Idem
c. Mengkoordinir
dan
mengawasi
kegiatan perekaman data, pembuatan
sket/ peta desa/ kelurahan dan sket/
peta blok pada drafting film/kalkir,
serta sket/ peta ZNT pada lichtdruk/
copy dan/atau dalam komputer
(melalui proses digitizing).
d. Membuat laporan bulanan mengenai
pelaksanaan pekerjaan administrasi
kepada Ketua Tim.

- idem -

Idem

- idem -

Bila diperlukan dapat dibentuk


Koordinator
Pekerjaan
Lapangan Wilayah, terdiri dari
pejabat eselon IV/V yang ditunjuk,

dan
jumlahnya
disesuaikan
dengan luas wilayah yang didata.
a. Membantu
koordinator
Pekerjaan Lapangan dalam
mengkoordinir
dan
mengawasi
pelaksanaan
pekerjaan
lapangan
di
wilayahnya.
b. Meneliti pembuatan konsep
sket/ peta desa/ kelurahan,
konsep sket/ peta blok,
konsep sket/ peta ZNT,
kelengkapan pengisian SPOP,
pembuatan sket/ peta ukuran
bidang objek pajak dan
pemberian NOP di wilayahnya.
c. Membuat laporan mingguan
mengenai
pelaksanaan
pekerjaan
lapangan
di
wilayahnya
kepada
koordinator
pekerjaan
lapangan.
7.

Pengawas Pekerjaan Pengawas Pekerjaan Lapangan, terdiri dari Idem


Pejabat Eselon V, Pejabat Fungsional, atau
Lapangan
Petugas lain yang ditunjuk dan jumlahnya
disesuaikan dengan volume pekerjaan yang
ada.
a. Membuat konsep sket/ peta desa/
kelurahan, konsep sket/ peta ZNT.
b. Membantu
koordinator
Pekerjaan
Lapangan untuk mengkoordinir dan
mengawasi pelaksanaan pekerjaan
lapangan yang dikerjakan oleh petugas
lapangan agar berjalan sesuai dengan
jadwal dan spesifikasi pekerjaan/teknis
yang telah ditentukan.

Idem

- idem -

- idem -

c. Meneliti dan bertanggung jawab atas


hasil
pekerjaan
lapangan
yang
dikerjakan oleh petugas lapangan, dan
selanjutnya meneruskan hasil pekerjaan
lapangan tersebut kepada koordinator
Pekerjaan Lapangan.
d. Menyelesaikan
permasalahan yang
timbul
di
lapangan.
Dalam
hal
permasalahan tersebut tidak dapat
diselesaikan
atau
di
luar
kewenangannya, agar dilaporkan kepada
Koordinator Pekerjaan Lapangan.
e. Mengadakan pengawasan/ pemeriksaan
lapangan dengan cara mengisi check list
rangkap
dua setiap mengadakan
pemeriksaan di lapangan.
f. Mengikuti rapat evaluasi pekerjaan
lapangan yang dilaksanakan oleh Tim.
g. Membuat laporan mingguan pelaksanaan
pekerjaan lapangan kepada Koordinator
Pekerjaan Lapangan.
Dalam
melaksanakan
pekerjaannya
Pengawas lapangan membawahi :
a. Petugas pengumpul data bertugas
melaksanakan pekerjaan pembuatan net
konsep peta blok/ ZNT per blok dan
pengumpulan data di lapangan dalam
rangka
pembentukan
dan
atau
pemeliharaan basis data objek PBB
sesuai dengan rencana kerja dan
ketentuan yang berlaku.
8.

Petugas pembuat Petugas pembuat konsep sket/ peta desa/ Idem


konsep sket/ peta kelurahan
desa/ kelurahan
a. Bertanggung jawab pada Koordinator
lapangan.

Idem

b. Bertugas melaksanakan pembuatan


konsep sket/ peta desa/ kelurahan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
9.

Petugas
konsep
ZNT

- idem -

pembuat Petugas pembuat konsep sket/peta ZNT


Idem
sket/peta
a. Bertanggung jawab pada Koordinator
Lapangan.
b. Bertugas melaksanakan pembuatan
konsep sket/peta ZNT dan daftar NIR
berdasarkan harga jual tanah yang
dikumpulkan atau data lainnya.

10. Petugas pembuat


sket/peta
desa/kelurahan

11. Operator Console

Petugas pembuat sket/peta desa/kelurahan

Operator Console
a. Mengkoordinir masalah teknis komputer
dan
data
entry dalam kegiatan
pembentukan dan atau pemeliharaan
basis data.
b. Membantu koordinator Administrasi
untuk mengkoordinir dan mengawasi
pelaksanaan pekerjaan Kantor yang
dikerjakan oleh petugas Pengolah Data
agar berjalan sesuai dengan jadwal dan
spesifikasi pekerjaan/ teknis yang telah
ditentukan.
c. Meneliti dan bertanggung jawab atas
hasil Pengolahan data lapangan yang
dikerjakan oleh Petugas Pengolah Data,

Idem

- idem -

Idem

a. Bertanggung jawab pada Koordinator


Lapangan.
b. Bertugas melaksanakan pembuatan
sket/ peta desa/ kelurahan, sket/ peta
blok dan sket/ peta ZNT, dari data dan
informasi Petugas Pembuat Konsep sket/
peta desa/ kelurahan dan ZNT.

- idem -

- idem Idem

- idem -

Idem

- idem -

Idem

- idem -

- idem -

dan selanjutnya meneruskan hasil


pekerjaan lapangan tersebut kepada
Koordinator Pekerjaan Lapangan.
d. Menyelesaikan
permasalahan yang
timbul dalam pengelolaan b & c. Dalam
hal permasalahan tersebut tidak dapat
diselesaikan
atau
di
luar
kewenangannya, agar dilaporkan kepada
Koordinator Administrasi.
e. Mengikuti rapat evaluasi pekerjaan yang
dilaksanakan oleh Tim.
Dalam menjalankan tugasnya
Console dibantu oleh :

Operator

a. Petugas Operator Data Entry bertugas


melaksanakan perekaman data dari
SPOP, validasi DHR dan pencetakan hasil
keluaran berupa DHR yang telah
divalidasi.
12. Petugas Pembuat Petugas Pembuat Peta Digital
Idem
Peta Digital
a. Bertanggung jawab pada Koordinator
Administrasi dan Informasi.
b. Bertugas melaksanakan pembuatan peta
digital yang berasal dari peta blok.

Idem

- idem -

- idem -

5.1.3. STRUKTUR ORGANISASI TIM PENGAWAS PELAKSANAAN SISMIOP DI TINGKAT


KANWIL
Tim pengawas dibentuk dengan keputusan Kepala Kantor Wilayah bertanggung jawab
untuk pengawasan pelaksanaan kegiatan Pendaftaran, Pendataan dan Penilaian Objek
dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan dalam rangka pembentukan dan atau
pemeliharaan basis data sistem manajemen informasi Objek Pajak (SISMIOP) di
wilayahnya.
Untuk semua jenis kegiatan dari sumber dana APBN u.p. DIP, DIK dan DA BP PBB secara
organisasi, Kakanwil, Kabag Umum, Kabid PBB, Bendaharawan BP PBB dan Anggota Tim
Pengawas lainnya termasuk dalam struktur organisasi.
Honorarium serta Biaya Perjalanan Dinas dapat dibebankan pada sumber dana DA BP
PBB. Frekwensi perjalanan dinas disesuaikan dengan lingkup dan area pengawasan
secara efisien dan ekonomis.
Tim pengawas Pelaksanaan SISMIOP di Tingkat Kanwil DJP adalah sebagai berikut :
(i) Pengarah Tim Pengawas : Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
setempat.
(ii) Ketua Tim dan Wakil ketua Tim Pengawas ditentukan diantara Kepala Bidang PBB
dan atau Kabag Umum Kanwil Ditjen Pajak setempat dengan mempertimbangkan
optimalisasi pelaksanaan pengawasan.
(iii) Sekretaris : Kepala Seksi Bimbingan Pendataan dan Penilaian pada Bidang PBB
Kanwil DJP setempat.
(iv) Bendaharawan : adalah Bendahara DA BP PBB.
(v) Anggota Tim Pengawas adalah Kasi Bimbingan P2K, Kasi Bimbingan Pengenaan,
Kasubag Keuangan dan masing-masing 1 orang kasubsie/Petugas dari Sie Pedanil,
P2K dan Pengenaan Kanwil DJP setempat. Bagan struktur organisasi Tim Pengawas
sebagai berikut :

2. Uraian Tugas dan Tanggung jawab Tim Pengawas

a. Ketua Tim Pengawas


(i) Mengkoordinasikan pengawasan kelancaran pelaksanaan pembentukan basis
data objek PBB di wilayahnya.
(ii) Mengawasi kelancaran alokasi perlengkapan, keuangan dan personalia.
(iii) Mengkoordinasikan penyusunan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan SISMIOP
ke Kantor Pusat Ditjen Pajak cq. Direktorat PBB.
(iv) Melaporkan hasil evaluasi pengawasan, pembinaan dan bimbingan kepada
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sebagai pengarah secara
berkala.
(v) Dalam hal Sumber dana dari APBN u.p. DIP, agar lebih dalam melakukan
pengawasan Hasil keluaran Pekerjaan setiap tahapnya supaya dapat
dipergunakan langsung dan optimal oleh Daerah/ KP PBB setempat.

b. Wakil Ketua Tim Pengawas


(i) Mengadakan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan SISMIOP.
(ii) Mengadakan evaluasi hasil pengawasan dan memberikan saran-saran
bimbingan kepada Tim Pelaksana.
(iii) Membantu Ketua Tim Pengawas dalam menyiapkan laporan-laporan hasil
pembinaan, bimbingan serta kemajuan pekerjaan.

c. Sekretaris Tim Pengawas


(i) Membantu Ketua/Wakil Ketua Tim Pengawas dalam mengkoordinasikan
pengawasan pengelolaan administrasi yang berhubungan dengan urusan
keuanga, urusan umum, dan perlengkapan untuk memperlancar pekerjaan.
(ii) Membantu Ketua/Wakil Ketua Tim Pengawas dalam penyususnan laporan
berkala.

d. Bendaharawan BP PBB
(i) Menerima dan menyalurkan biaya pelaksanaan pekerjaam Tim Pelaksana
yang telah ditentukan setelah disetujui Ketua Tim Pengawas.
(ii) Mengelola Keuangan dan membuat laporan pertanggungjawaban keuangan
secara berkala setiap bulan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

e. Anggota Tim Pengawas


(i) Membantu Ketua/Wakil Ketua Tim Pengawas dalam pengawasan kelancaran
pelaksanaan pekerjaan.
(ii) Membantu Ketua/Wakil Ketua Tim Pengawas dalam evaluasi hasil pekerjaan
yang dilakukan oleh Tim Pelaksana.
(iii) Membantu Ketua/Wakil Ketua Tim Pengawas dalam pelaksanaan evaluasi
serta memberikan saran-saran kepada Tim Pelaksana.

5.1.4. SUMBER DANA DARI APBD PROPINSI/KABUPATEN/KOTA

1. Pelaksanaan pekerjaan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data objek PBB
dapat dilakukan sendiri oleh Direktorat Jenderal Pajak, atau bersama-sama dengan
Pemda Kabupaten/Kota atau pihak lain yang ditunjuk, mengacu pada petunjuk teknis
dan ketentuan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
2. Susunan organisasi pelaksanaannya :
- Jika dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak, struktur organisasi sama dengan
struktur organisasi pembentukan dan atai pemeliharaan basis data objek PBB
yang dibiayai dari dana DIK dan BP PBB namun dengan Bendaharan tersendiri.
- Jika dilaksanakan secara bersama-sama, struktur organisasi menyesuaikan

dengan ketentuan di Pemerintah Daerah yang bersangkutan


3. Tata cara pertanggungjawaban mengacu kepada ketentuan yang berlaku di bidang
administrasi penggunaan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah.

5.2.

JADWAL KEGIATAN PEMBENTUKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA

Jadwal pelaksanaan kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data dapat
disesuaikan dengan tersedianya :
- Dana
- Sumber daya manusia
- Sarana untuk memproses data, yaitu perangkat komputer dan kelengkapannya
- Sarana lainnya
sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan tersebut, maka Jadwal waktu
pelaksanaan di daerah adalah sebagai berikut :

Bulan
Jenis Kegiatan
1
Persiapan a.l. :
Penelitian pendahuluan
Penyusunan Rencana Kerja
Pembuatan konsep sket/peta
desa/kel., konsep sket/peta
ZNT, dsb.
Pelaksanaan
Pengumpulan
Data Lapangan
Perekaman data pencetakan
DHR dan Validasi
Pembuatan peta blok, peta
ZNT, dan peta kel/desa
Pencetakan SPPT, STTS dan
DHKP
Penyerahan SPPT, STTS, dan
DHKP dari KP PBB kepada
aparat Pemda TK I/II dan
tempat pembayaran
Penyerahan SPPT dari aparat
Pemda kepada wajib pajak
Wajib Pajak membayar PBBnya (masa pembayaran sesuai
dengan jatuh temponya)

5.3.

Tahun Anggaran Berjalan


4 5 6 7 8 9 10 11 12

PEMBIAYAAN

5.3.1. STANDAR BIAYA


Standar biaya pembentukan dan atau pemeliharaan basis data objek PBB adalah
besarnya satuan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan setiap butir kegiatan dalam
kegiatan pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan yang
dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) c.q. Daftar Isian Proyek
(DIP), Daftar Isian Kegiatan (DIK), Daftar Alokasi Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan
Bangunan (DA BP PBB) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Standar Biaya tersebut adalah harga acuan yang diperkenankan dan dalam
pelaksanaannyaagar diupayakan memperoleh harga yang lebih menguntungkan negara.
Standar biaya dimaksud selengkapnya pada Lampiran Petunjuk Pelaksanaan ini dan jika
dipandang perlu dapat diadakan penyesuaian dengan Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak.
- Standar biaya untuk kegiatan pendataan objek dan subjek PBB dengan cara
penyampaian dan pengembalian SPOP adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran
42;
- Standar biaya untuk kegiatan pendataan dan penilaian objek dan subjek pajak Pajak
Bumi dan Bangunan dalam rangka Pembentukan Basis Data SISMIOP dengan SPOP
Kolektif adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran 43;
- Satandar biaya untuk kegiatan pendataan objek dan subjek PBB dengan cara
identifikasi/verifikasi/pengukuran objek Pajak sebagaimana tercantum dalam Lampiran
44;
- Standar biaya untuk kegiatan pemeliharaan basis data SISMIOP yang dilaksanakan
secara aktif maupun pasif sebagaimana tercantum dalam lampiran 45;
- Standar biaya untuk kegiatan pelaksanaan penilaian bumi secara massal sebagaimana
tercantum dalam Lampiran 46;
- Standar biaya Pelaksanaan Kegiatan Analisis dan Penyempurnaan ZNT/NIR
sebagaimana tercantum dalam Lampiran 47;
- Standar biaya pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan
dalam Rangka Pembentukan dan atau pemeliharaan Basis Data SISMIOP yang
penilaiannya dilakukan secara individu adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran
48;
- Standar biaya pendataan dan penilaian objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan
untuk sarana pendukung adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran 49;
- Honorarium dan Biaya transportasi tim pengawas Pelaksanaan SISMIOP si Tingkat
Kanwil serta Honorarium dan Biaya transportasi Pelaksanaan Pendataan dan Penilaian
objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan di KP PBB adalah sebagaimana tercantum
dalam Lampiran 50;
- Standar biaya untuk aplikasi SIG PBB dalam Rangka Pembentukan dan atau
Pemeliharaan Basis Data adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran 51;
- Standar biaya pembuatan kerangka peta Desa/Kelurahan dengan alat Total Station
tercantum dalam Lampiran 53;
- Honor petugas operator console dibayar sesuai dengan mulai efektifnya pelaksanaan
perekaman hingga selesainya perekaman sesuai dengan rencana kerja.

Beberapa pengecualian dari ketentuan di atas, diantaranya adalah :


1. Standar biaya pembentukan dan atau pemeliharaan basis data objek PBB yang
dilaksanakan oleh Pihak Ketiga (swasta nasional) ditetapkan oleh panitia
tender/lelang setempat, setinggi-tingginya 200% dari standar biaya per objek pajak
secara keseluruhan apabila dilaksanakan secara swakelola.
2. Biaya-biaya yang diperlukan untuk
a. Pengadaan formulir PBB;
b. Kebutuhan operasional komputer seperti : floppy diskette, continuous form,
ribbon, dan lain sebagainya;
c. Honorarium :
(i) Pimpinan Proyek/Bagian Proyek
(ii) Bendaharawan dan staf proyek
(iii) Bendaharawan dan staf bagian proyek
(iv) Tim Pengawas
Dibebankan pada anggaran/dana yang bersangkutan.
3. Honorarium staf administrasi, Staf Bagian Perencana dan Operasional, Staf Bagian
Administrasi, serta Bendaharawan BP PBB dapat dibiayai dari DA BP PBB. Besarnya
honorarium tersebut di atas ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak.
4. Uang harian Petugas Pendataan, Penilaian Individu dan Tim Pelaksana Harian dan

biaya untuk keperluan pengawasan/pemeriksaan pelaksanaan pembentukan dan atau


pemeliharaan basis data objek PBB di luar kota tempat domisili Kantor Pelayanan PBB
dibebankan pada biayaperjalanan dinas m.a. 05410, sedangkan biaya untuk
keperluan sejenis yang dilaksanakan di dalam kota tempat domisili Kantor Pelayanan
PBB ditetapkan sebesar Rp. 25.000,-/hari yang dibebankan pada dana BP PBB.
5. Khusus kegiatan di lapangan dalam rangka penyesuaian DBKB berdasarkan indeks
harga yang berlaku, diperhitungkan berdasarkan jumlah hari kerja yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan sebagaimana nomor 4, maksimal 10 hari.
6. Petugas pembentukan dan atau pemeliharaan basis data objek PBB di daerah-daerah
yang mengalami kesulitan transportasi (misalnya harus menggunakan kapal perintis)
dapat diberikan tambahan ongkos perjalanan yang besarnya ditentukan oleh Kepala
Kantor Wilayah DJP setempat.

5.3.2. KELOMPOK BIAYA


Pembiayaan kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data SISMIOP terdiri
dari atas 5 (lima) kelompok, yaitu :
A.

Pekerjaan Persiapan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk
melaksanakan kegiatan penelitian pendahuluan, penyusunan rencana kerja,
pengadaan dan penggandaan peta desa/kelurahan, pencocokan peta
desa/kelurahan dengan keadaan di lapangan untuk penentuan blok-blok dan konsep
sket/peta ZNT, pelatihan petugas dan penyuluhan.

B.

Pekerjaan Lapangan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah baiay yang dikeluarkan untuk
melaksanakan kegiatan yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan pendataan
dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP, verifikasi, identifikasi,
pengukuran objek pajak, pengumpulan harga pasar, pembuatan konsep sket/peta
blok dan sket/peta ZNT per blok.

C.

Pekerjaan Kantor
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk
melaksanakan pekerjaan di akntor, seperti : perekaman data, validasi, pencetakan
DHR, pembuatan sket/peta desa/kelurahan, pembuatan sket/peta blok, pembuatan
sket/peta ZNT, pembuatan peta digital, dan pembuatan usulan Suarat Keputusan
Kepala Kantor Wilayah DJP tentang Klasifikasi dan Besarnya NJOP.

D.

Sarana Pendukung
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk
pengadaan alat tulis kantor dan sarana penunjang lainnya dalam rangka kegiatan
pembentukan dan atau pemeliharaan basis data.

E.

Kegiatan Pembinaan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk
mengadakan rapat, honorarium dan biaya transportasi tim pengawas dan tim
pelaksana harian.

5.4.

PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

5.4.1. JENJANG PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

1.
2.

Pertanggungjawaban keuangan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku tentang


Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkab (UYHD).
Laporan Pertanggungjawaban keuangan disampaikan Kantor Pelayanan PBB ke
Kantor Wilayah DJP yang selanjutnya dilaporkan ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak (menggunakan formulir seperti pada lampiran 39 dan 40).

5.4.2. KELENGKAPAN DOKUMEN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN

1.
2.

Kelengkapan dokumen pertanggungjawaban keuangan disesuaikan dengan


kelompok pembiayaan yang bersangkutan.
Jenis, hasil keluaran, bentuk bukti pengeluaran dan pendukungnya secara rinci
dapat dilihat pada Lampiran 52.

BAB VI PENUTUP

1. Petunjuk Pelaksanaan ini berlaku untuk objek dan subejk pajak PBB sektor pedesaan dan
perkotaan.

2. Khusus pekerjaan pendataan dan penilaian untuk objek sektor perkebunan, perhutanan,
pertambangan dan objek khusus diatur secara tersendiri.

3. Pendaftaran, pendataan dan penilaian yang dilaksanakan oleh pihak ke-III tidak termasuk
kegiatan Penelitian Pendahuluan, dan Penyusunan Rencana Kerja.

4. Dalam pelaksanaan pendaftaran, pendataan dan penilaian PBB agar dilaksanakan peningkatan
pemeriksaan dan pengawasan baik secara teknis maupun administratif.

5. Setiap petugas yang melakukan pendaftaran,pendataan, dan penilaian PBB harus dilengkapi
dengan surat tugas yang dikeluarkan oleh Pejabat yang memberi tugas.

Jakarta, 20 Desember 2000


DIREKTUR JENDERAL PAJAK

ttd,-

MACHFUD SIDIK
NIP. 060043114

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
DIREKTORAT PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

LAMPIRAN

PETUNJUK PELAKSANAAN PENDAFTARAN, PENDATAAN DAN PENILAIAN OBJEK DAN SUBJEK


PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DALAM RANGKA PEMBENTUKAN DAN ATAU PEMELIHARAAN
BASIS DATA SISTEM MANAJEMEN INFORMASI OBJEK PAJAK (SISMIOP)

JAKARTA
2000

DAFTAR LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.

31
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.

Struktur/Bagan Umum SISMIOP


Formulir SPOP Perorangan dan Petunjuk Pengisian
Formulir SPOP Kolektif
Berita Acara Penyerahan SPOP
Tanda Terima Penyampaian SPOP PBB
Tanda Terima Pengembalian SPOP PBB
Daftar Penjagaan Penyampaian dan Pengembalian SPOP
Daftar Rekapitulasi SPOP Perseorangan yang Diterima Kembali dari Subjek Pajak
Surat Teguran Pengembalian SPOP
Surat Persetujuan Penundaan Pengembalian SPOP
Rencana Kerja Pembentukan dan Pemeliharaan Basis Data Objek dan Subjek Pajak dalam
Rangka SISMIOP
Contoh Peta Desa/Kelurahan
Daftar Sementara Data Objek dan Subjek PBB
Daftar Penjagaan Pengisisn SPOP dalam Rangka Pembentukan dan atau Pemeliharaan
Basis Data SISMIOP
Tanda Terima Penyerahan Hasil Pekerjaan Lapangan SPOP Kolektif
Formulir Laporan Hasil Verifikasi
Daftar Hasil Pemeriksaan
Contoh Peta Blok
Formulir ZNT
Formulir Pemutakhiran ZNT
Bagan Sistem Penilaian
Formulir Data Harga Jual
Standar Baku Penulisan Nama Jalan
Contoh Pembuatan Batas Imajiner ZNT
Contoh Peta ZNT
Daftar Upah Pekerja, Harga Bahan Bangunan, dan Sewa Alat (Standar dan Non Standar)
Contoh DBKB untuk Penilaian Objek Standar dan Non Standar (Lokasi DKI Jakarta tahun
2000)
Lembar Kerja Penilaian
Tabel Penyusutan
Formulir : Data Transaksi dan Properti,
1
Formulir : Analisa Penentuan Nilai Pasar Wajar,
2
Formulir : Analisa Penentuan Nilai Indikasi Rata-rata (berdasarkan transaksi),
3
Formulir : Analisa Penentuan Nilai Indikasi Rata-rata (tidak ada transaksi)
4
Lembar Kerja Objek khusus
Lembar Kerja Penilaian Metode Pendapatan
Daftar Perubahan Data Objek dan Subjek PBB
Daftar Pengawasan Pekerjaan Lapangan
Berita Acara Uji Petik Pengumpulan Data Objek PBB dan Pemberian NOP
Laporan Perkembangan Pengumpulan Data Objek Pajak
Daftar Pemantauan Pelaksanaan Pengumpulan Data Objek Pajak dalam Rangka
Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data SISMIOP
Laporan Mingguan Pendataan Perekaman Data SISMIOP
Laporan Bulanan Rencana dan Realisasi Pengumpulan Data objek Pajak dalam rangka
SISMIOP
Laporan Triwulanan Rencana dan realisasi Pengumpulan data objek Pajak dalam rangka
SISMIOP
Laporan Akhir Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data SISMIOP
Standar Biaya Pendataan Objek dan Subjek PBB dengan Cara Penyampaian dan
Pemantauan Pengembalian SPOP Perorangan

43. Standar
Biaya
Pendataan
Objek
dan
Subjek
PBB
dengan
Cara
Identifikasi/verifikasi/Pengukuran Objek Pajak
44. Standar Biaya Pemeliharaan Basis Data SISMIOP
45. Standar Biaya Pelaksanaan Penilaian Bumi Secara Massal
46. Standar Pelaksanaan kegiatan analisis dan Penyempurnaan ZNT/NIR
47. Standar Biaya Pelaksanaan Penilaian Individu
48. Standar Biaya Pendataan dan Penialaian Objek dan Subjek PBB untuk Sarana Pendukung
49. Honorarium dan Biaya Transportasi Tim Pengawas Pelaksanaan SISMIOP di Tingkat
Kanwil serta Honorarium dan biaya Transportasi pelaksanaan pendataan dan penilaian
Objek dan subjek PBB di Tingkat KP PBB
50. Standar Biaya Aplikasi SIG PBB dalam Rangka Pembentukan/Pemeliharaan Basis Data
SISMIOP
51. Standar Biaya Pendataan Objek dan Subjek PBB dengan Cara Penyebaran SPOP Kolektif
52. Jenis Kegiatan, Hasil, Bentuk Bukti Pengeluaran, dan Pendukung yang Diperlukan dalam
Pertanggungjawaban Keuangan Pembentukan dan atau Pemeliharaan Basis Data SISMIOP
53. Standar Biaya Pembuatan Kerangka Peta Desa/Kelurahan dengan Alat Total Station

Lampiran I
STRUKTUR/BAGAN UMUM SISMIOP

No. Formulir

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

Selain yang diisi oleh Petugas (bagian yang diarsir),


diisi oleh Wajib Pajak
Beri tanda silang pada kolom yang sesuai.

SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK


KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN :
1. JENIS TRANSAKSI

1. Perakaman Data
PR

DT II

2. Pemutakhiran Data

KEC

KEL/DES

BLOK

3. Penghapusan Data

NO URUT

KODE

2. NOP
3. NOP BERSAMA
A. INFORMASI TAMBAHAN UNTUK DATA BARU
4. NOP ASAL
5. NO SPPT LAMA
B. DATA LETAK OBJEK PAJAK
6. NAMA JALAN

7. BLOK / KAV / NOMOR

8. KELURAHAN /DESA

9. RW

10. RT

C. DATA SUBJEK PAJAK


11. STATUS

1. Pemilik

12. PEKERJAAN

1. PNS*)

2. Penyewa
2. ABRI*)

3. Pengelola

4. Pemakai

3. Pensiunan*)

4. Badan

5. Sengketa
5. Lainnya

13. NAMA SUBJEK PAJAK

15. NAMA JALAN

17. KELURAHAN/DESA

18. RW

19. RT

20. KABUPATEN / KOTAMADYA KODE POS

21. NOMOR KTP

D. DATA TANAH
23. ZONA NILAI TANAH

22. LUAS TANAH


24. JENIS TANAH

1. Tanah +
Bangunan

2. Kavling
Siap Bangun

3. Tanah Kosong

4. Fasilitas Umum

Catatan: *) yang penghasilannya semata-mata berasal dari gaji atau uang pensiunaan

dilanjutkan dihalaman berikutnya

E. DATA BANGUNAN
25. JUMLAH BANGUNAN
F. PERNYATAAN SUBJEK PAJAK
Saya menyatakan bahwa informasi yang telah saya berikan dalam formulir ini termasuk lampirannya adalah benar, jelas dan lengkap
menurut keadaan yang sebenarnya, sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) Undang-undang No.12 Tahun 1985.
26. NAMA SUBJEK PAJAK/
KUASANYA

27. TANGGAL

28. TANDA TANGAN

Dalam hal bertindak selaku kuasa, Surat Kuasa harap dilampirkan


Dalam hal Subjek Pajak mendaftarkan sendiri Objek Pajak, supaya menggambarkan Sket/ Denah Lokasi Objek Pajak
Batas waktu pengembalian SPOP 30 (tiga puluh) hari sejak diterima oleh Subjek Pajak sesuai Pasal 9 ayat (2) UU No. 12 Tahun 1985

G. IDENTITAS PENDATA/PEJAB AT YANG BERWENANG


PETUGAS PENDATA
29. TANGGAL (TGL/BLN/THN)

MENGETAHUI PEJABAT YANG BERWENANG :


/

29. TANGGAL (TGL/BLN/THN)

30. TANDA TANGAN

30. TANDA TANGAN

31. NAMA JELAS

31. NAMA JELAS

32. NIP

32. NIP

SKET / DENAH LOKASI OBJEK PAJAK

Contoh Penggambaran
KETERANGAN :
- Gambarkan sket/ denah lokasi objek pajak
(tanpa skala), yang dihubungkan dengan jalan raya/
jalan protokol, jalan lingkungan dan lain-lain, yang
mudah diketahui oleh umum.
- Sebutkan batas-batas pemilikan sebelah utara,
Selatan, timur dan barat

Jl. Kerinci
Karno

Burhan

Ali
Saidi

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PETUNJUK PENGISIAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK
PERHATIAN

Isilah formulir ini dengan benar, lengkap dan gunakan


huruf balok.
Pengisisn huruf dimulai dari kotak awal.
Pengisian angka dimulai dari kotak akhir secara
berurutan dengan angka terkahir dari kanan ke kiri.

No. Formulir
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
JENIS TRANSAKSI
NOP
NOP BERSAMA
A.

Diisi
Diisi
Diisi
Diisi
Diisi

oleh petugas
oleh petugas
oleh petugas
oleh petugas
oleh petugas

:
:

Diisi oleh petugas


Diisi oleh petugas

INFORMASI TAMBAHAN UNTUK DATA BARU

NOP ASAL
NO SPPT LAMA
B.

:
:
:
:
:

DATA LETAK OBJEK PAJAK


NAMA JALAN

Isilah dengan nama alamat objek pajak

Gunakan singkatan sebagai berikut :


JL
Untuk Jalan
KAV
Untuk
Kaveling
BJ
Untuk Banjar
KO
Untuk
Komplek
DS
Untuk Dusun
SB
Untuk Subak
BLK Untuk Belakang
DLM Untuk dalam
BLOK/KAV/NOMOR

GG

Untuk Gang

KP

Untuk Kampung

LK
UJ

Untuk Lingkungan
Untuk Ujung

Isilah dengan Nomor, Blok, Kaveling.

Contoh Pengisian NAMA JALAN


BLOK/KAV/NOMOR

C.

NAMA JALAN
JL. HR. RASUNA SAID
JL. SRIWIJAYA IV
JL. LABU GG III
GG AYUB
KP. RAMBUTAN
JL. CEMPAKA PUTIH ELOK BLK

BLOPK/KAV/NOMOR
KAV B7
10
15
28
BLOK C1 22
BLOK D1 - 15

KELURAHAN/DESA

RW/RT

Isilah dengan nama Kelurahan/Desa dimana objek


pajak berada.
Isilah dengan nama RW/RT dimana objek pajak
berada.

DATA SUBJEK PAJAK


STATUS

Berilah tanda silang (X) sesuai dengan keadaan yang


sebenarnya pada saat formulir diisi.

D.

E.

PEKERJAAN

Berilah tanda silang (X) pada butir I (PNS), 2(ABRI),


3(Pensiunan) jika penghasilan subjek pajak sematamata berasal dari gaji atau uang pensiun. Butir 4
(Badan) diberi tanda silang (X) jika objek pajak
tersebut milik Badan atau Pemerintah. Butir 5
(Lainnya) diberi tanda silang (X) jika subjek pajak
adalah PNS, ABRI, Pensiunan yang mempunyai
penghasilan lain diluar gaji atau uang pensiunan, dan
pekerjaan lainnya selain PNS, ABRI dan Pensiunan.

NAMA SUBJEK PAJAK

Isilah dengan lengkap.


Gelar, titel, pangkat dan yang sejenis, penulisannya
disingkat di belakang nama subjek pajak setelah
koma diberi jarak satu spasi dan diakhiri dengan titik.
Contoh ALI, H.
:
SUWARNO, JEND.
JOHANNES, PROF.DR IR.SH.

NPWP

Isilah dengan Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP). Jika


objek pajak milik perorangan maka NPWP yang
dicantumkan adalah NPWP Perseorangan.

NAMA JALAN

Isilah dengan nama jalan/alamat subjek pajak sesuai


petunjuk huruf B.

KELURAHAN/DESA

Isilah dengan nama kelurahan/desa dimana subjek


pajak bertempat tinggal.

RW/RT

Isilah dengan nama RW/RT dimana subjek pajak


bertempat tinggal.

KABUPATEN/KOTAMADYA
KODE POS

Isilah dengan nama Kabupaten/kodya dan nomor


kode pos dimana subejk pajak bertempat tinggal.

NOMOR KTP

Isilah dengan Nomor KTP dari subjek pajak


perseorangan.

LUAS TANAH

Isilah dengan luas tanah objek pajak yang


dimiliki/dimanfaatkan (dalam meter persegi) sesuai
dengan petunjuk pengisian angka.

ZONA NILAI TANAH

Diisi oleh petugas.

JENIS TANAH

Berilah tanda silang (X) sesuai dengan pemanfaatan


tanah, pada Kolom yang tersedia.

Isilah dengan jumlah bangunan yang ada pada objek


pajak (bidang tanah) yang bersangkutan. Setiap
bangunan, adanya harus dirinci ke dalam satu
lampiran SPOP.

DATA TANAH

DATA BANGUNAN
JUMLAH BANGUNAN

F.

PERNYATAAN SUBJEK
PAJAK
NAMA SUBJEK PAJAK/KUASANYA, TANGGAL,

TANDA TANGAN
G.

Isilah di atas masing-masing garis yang disediakan.

IDENTITAS PENDATA/PEJABAT YANG BERWENANG


Diisi oleh petugas.

SKET/DENAH LOKASI OBJEK PAJAK


-

Diisi/digambar oleh Subjek Pajak jika subjek pajak mendaftarkan objek pajaknya.
Apabila kegiatan pendataan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, Sket/Denah
Lokasi objek pajak tidak perlu diisi/digambar.

LAMPIRAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK


1. JENIS TRANSAKSI

1. Perekaman Data
PR

No. formulir

2. Pemutakhiran Data

4. Penilaian individual
DI II KEC KEL/DES

BLOK

NO.URUT

3.Pemutakhiran Data

KODE

3. JUMLAH BNG

2. NOP

5. JNS PENGGUNAAN
BANGUNAN

4. BANGUNAN KE
A. RINCIAN DATA BANGUNAN
2. Perkantoran Swasta

1. Perumahan

3. Pabrik

4. Toko/Apotik/Pasar/Ruko

5. Rumah Sakit/Klinik

6. Olah Raga/Rekreasi

7. Hotel/Wisma

8. Bengkel/Gudang/Pertanian

9. Gedung Pemerintah

10.Lain-lain

11.Bng Tidak Kena Pajak

12.Bangunan Parkir

13.Apartemen

14.Pompa Bensin

15.Tangki Minyak

16.Gedung Sekolah
6. LUAS BANGUNAN

7. JUMLAH LANTAI

(M2)
8. THN DIBANGUN
9. THN DIRENOVASI

10. DAYA LISTRIK


TERPASANG (WATT)
3. Sedang

11. KONDISI PADA


UMUMNYA

1. Sangat
Baik

2. Baik

12. KONSTRUKSI

1. Baja

2. Beton

3. Batu Bata

4. Kayu

13. ATAP

1. Decrabon/
Beton/
Gtg Glazur

2. Gtg Beton/
Aluminium

3. Gtg Biasa/
Sirap

4. Asbes

5. Seng

14. DINDING

1. Kaca/
Aluminium

2. Beton

3. Batu Bata/
Conblok

4. Kayu

5. Seng

6. Tidak Ada
1. Marmer

2. Keramik

3. Teraso

4. Ubin PC/
Papan

5. Semen

1. Akustik/
Jati

2. Triplek/Asbes
Bambu

3. Tidak Ada

15. LANTAI
16. LANGIT-LA NGIT

4. Jelek

B. FASILITAS
17. JUMLAH AC

Split

Window

19. LUAS KOLAM


RENANG (M2)
1. Diplester
21. JUMLAH
LAPANGAN
TENIS

DGN LAMPU
Beton

2. Dengan
Pelapis
TNP LAMPU

18. AC Sentral

26. JML.SALURAN
PES.PABX

Kapsul

Lbr < 0,80 M

Barang

Lbr > 0,80 M

25. PEMADAM
KEBAKARAN
1. Baja/Besi

2. Tdk Ada

20. LUAS PERKERASA N HALAMAN (M2)


Ringan
Berat
Sedang
Dengan Penutup
Lantai
22. JUMLAH LIFT
23. JUMLAH TANGGA
Penumpang
BERJALAN

Aspal
Tanah Liat/
Rumput
24. PANJANG PAGAR
(M)
BAHAN PAGAR

1. Ada

2. Bata/
Batako
27. KEDALAMAN SUMUR
ARTESIS (M)

1. Hydrant
2. Sprinkler
3. Fire Al.

1. Ada
1.Ada
1. Ada

2. Tidak ada
2. Tidak ada
2. Tidak ada

C. DATA TAMBAHAN UNTUK JPB = 3 / 8


PABRIK/BENGKEL/GUDANG/PERTANIAN (JPB=3/8)
28. TINGGI KOLOM (M)
29. LEBAR BENTANG (M)
30. DAYA DUKUNG
31. KELILING
32. LUAS MEZZANINE
LANTAI (Kg/M2)
DINDING (M)
(M2)
D. DATA TAMBAHAN UNTUK BANGUNAN NON-STANDARD
PERKANTORAN SWASTA / GEDUNG PEMERINTAH (JPB=2/9)
33. KELAS BANGUNAN
1. Kelas 1
2. Kelas 2
3. Kelas 3
4. Kelas 4
TOKO/APOTIK/PASAR/RUKO (JPB=4)
34. KELAS BANGUNAN
1. Kelas 1
2. Kelas 2
3. Kelas 3
RUMAH SAKIT / KLINIK (JPB=5)
35. KELAS BANGUNAN
1. Kelas 1
2. Kelas 2
3. Kelas 3
4. Kelas 4
36. LUAS KMR DNG
37. LS RUANG LAIN DNG
AC SENTRAL (M2)
AC SENTRAL (M2)
OLAHRAGA / REKREASI (JPB=6)
38. KELAS BANGUNAN
1. Kelas 1
2. Kelas 2
HOTEL / WISMA (JPB=7)
39. JENIS HOTEL
1. Non-Resort
2. Resort
40. JML BINTANG
1. Bintang 5
2. Bintang 4
3. Bintang 3
4. Bintang 1-2
41. JUMLAH KAMAR

5. Non
Bintang
43. LS RUANG LAIN DNG
AC SENTRAL (M2)

42. LUAS KMR DNG


AC SENTRAL (M2)

BANGUNAN PARKIR (JPB=12)


44. TIPE BANGUNAN
1. Tipe 4

2. Tipe 3

3. Tipe 2

4. Tipe 1

APARTEMEN (JPB=13)
45. KELAS BANGUNAN

2. Kelas 2

3. Kelas 3

4. Kelas 4

1. Kelas 1

46. JML APARTEMEN

47.LUAS APT DNG


AC SENTRAL (M2)

TANGKI MINYAK (JPB=15)


49. KAPASITAS TANGKI
50. LETAK TANGKI
(M3)
GEDUNG SEKOLAH (JPB=16)
51. KELAS BANGUNAN
1. Kelas 1
2. Kelas 2

48. LS RUANG LAIN DNG


AC SENTRAL (M2)
1. Di Atas
Tanah

2. Di Bawah
Tanah

E. PENILAIAN INDIVIDUAL ( x 1000 Rp)


53. NILAI INDIVIDUAL

52. NILAI SISTEM

F. IDENTITAS PENDATA / PEJABAT YANG BERWENANG


PETUGAS PENDATA

MENGETAHUI PEJABAT YANG BERWENANG

54. TGL KUNJUNG


KEMBALI

55. TGL PENDATAAN

59. TGL PENELITIAN

56. TANDA TANGAN

60. TANDA TANGAN

57. NAMA JELAS

61. NAMA JELAS

58. NIP

62. NIP

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PETUNJUK PENGISIAN LAMPIRAN SPOP UNTUK SUBJEK PAJAK
1.
Jenis Transaksi
: Diisi oleh petugas
2.
NOP
: Diisi oleh petugas
3.
Jumlah Bangunan
: Diisi oleh petugas
4.
Bangunan Ke
: Diisi oleh petugas
A.

B.

RINCIAN DATA BANGUNAN


5.
Jenis Penggunaan Bangunan (JPB)

Berilah tanda silang (x) sesuai dengan


pemanfaatan bangunan saat ini. Apabila
penggunaan satu bangunan lebih dari
satu jenis, masing-masing penggunaan
bangunan menggunakan 1 (satu) lembar
lampiran SPOP sesuai dengan JPB-nya.
Contoh :
- Lantai basement untuk parkir (JPB =
12)
- Lantai 1-6 untuk perkantoran (JPB =
2)
- Lantai 7 dan seterusnya untuk
apartemen (JPB = 13)

6.

Luas Bangunan

7.
8.
9.

Jumlah Lantai
Tahun Dibangun
Tahun Direnovasi

:
:
:

10.

Daya Listrik Terpasang watt

11.
12.
13.

Kondisi Pada Umumnya


Konstruksi
Atap

:
:
:

14.

Dinding

15.

Lantai

16.

Langit-langit

Isilah jumlah luas lantai bangunan


termasuk teras, balkon dan bangunan
tambahan lainnya.
Isilah jumlah lantai yang ada.
Cukup Jelas.
Isilah dengan tahun terakhir yang
direnovasi.
Isilah daya listrik sesuai yang tertera
dalam rekening.
Cukup Jelas.
Cukup Jelas.
Berilah tanda silang (x) sesuai dengan
bahan yang digunakan. Jika bahan yang
digunakan lebih dari satu jenis,
pilih/cantumkan bahan yang
utama/dominan.
Berilah tanda silang (x) sesuai dengan
bahan yang digunakan. Jika bahan yang
digunakan lebih dari satu jenis,
pilih/cantumkan bahan yang
utama/dominan.
Berilah tanda silang (x) sesuai dengan
bahan yang digunakan. Jika bahan yang
digunakan lebih dari satu jenis,
pilih/cantumkan bahan yang
utama/dominan.
Berilah tanda silang (x) sesuai dengan
bahan yang digunakan. Jika bahan yang
digunakan lebih dari satu jenis,
pilih/cantumkan bahan yang
utama/dominan.

FASILITAS

17.
18.
19.
20.

Jumlah AC
AC Sentral
Luas kolam renang
Luas perkerasan halaman

:
:
:
:

21.
22.
23.
24.
25.
26.

Jumlah lapangan tennis


Jumlah lift
Jumlah tangga berjalan
Panjang pagar, bahan pagar
Pemadam kebakaran
Jumlah/sal. Pesawat PABX

:
:
:
:
:
:

27.

Kedalaman sumur artesis

Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Isilah luas perkerasan halaman sesuai
dengan typenya.
- Konstruksi ringan :
Tebal rata-rata 6 cm, biasanya
menggunakan beton ringan.
- Konstruksi sedang :
Tebal rata-rata 10 cm, untuk parkir
mobil pribadi, biasanya menggunakan
beton, aspal atau paving block.
- Konstruksi berat :
Tebal rata-rata lebih dari 10 cm,
menggunakan beton dilapis aspal,
untuk halaman pabrik/industri.
- Penutup lantai misalnya : dengan
keramik, dll.
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Isilah sesuai dengan jumlah saluran
telepon (extension) yang dihubungkan
dengan PABX.
Cukup jelas.

PETUNJUK PENGISIAN LAMPIRAN SPOP


(UNTUK PETUGAS)
A.
B.

RINCIAN DATA BANGUNAN


FASILITAS

:
:

Diisi wajib pajak


Diisi wajib pajak

C.

DATA TAMBAHAN UNTUK JPB = 3/8


28. Tinggi kolom
29. Lebar bentang

:
:

Diisi dengan tinggi kolom bangunan


Diisi dengan lebar bentang bangunan

:
:
:

Diisi daya dukung lantai


Keliling dinding = 2 x (panjang + lebar)
Mezzanine atau lantai antara adalah
lantai tambahan yang terletak di dalam
bangunan dengan ketinggian 2 3 m dari
lantai, dan biasanya digunakan untuk
kantor atau tempat penyimpanan barang.

Contoh :

30.
31.
32.

Daya dukung lantai


Keliling dinding
Luas Mezzanine

D.

DATA TAMBAHAN UNTUK BANGUNAN NON-STANDARD PERKANTORAN


SWASTA/GEDUNG PEMERINTAH (JPB = 2/9)
33.

Kelas bangunan

Diisi kelas bangunan

Diisi kelas bangunan

Diisi kelas bangunan


Untuk mendapatkan luas, caranya
dengan mengalikan jumlah umumnya
kamar dengan luas sesuai type masingmasing.
Diisi dengan luas ruangan selain kamar,
termasuk ruang kantor dan ruanganruangan yang lain.

TOKO/APOTIK/PASAR/RUKO (JPB = 4)
34.

Kelas bangunan

RUMAH SAKIT/KLINIK (JPB = 5)


35.
36.

Kelas bangunan
Luas kamar dengan AC Central

:
:

37.

Luas Ruangan Lain dengan AC


sentral

OLAHRAGA/REKREASI (JPB = 6)
38.

Kelas bangunan

Diisi kelas bangunan

Non resort adalah jenis hotel yang


biasanya terdapat di dalam kota dan
aktifitas penghuni umumnya dalam
rangka bisnis.
Contoh Hotel Indonesia Jakarta, Hotel
Simpang Surabaya, Hotel
:
Tiara Medan.
Resort adalah jenis hotel yang lokasinya
di daerah-daerah tempat wisata dan
aktifitas penghuninya adalah dalam
rangka liburan.
Contoh Hotel Nusa Dua Bali, Hotel
:
Parapat Danau Toba, Hotel
Senggigi Lombok.
Diisi sesuai dengan klasifikasi hotel.
Diisi dengan jumlah seluruh kamar dari
semua type.
Untuk mendapatkan luas caranya dengan
mengalikan jumlah kamar dengan luas
sesuai type masing-masing. Ukuran
kamar umumnya standard.
Diisi dengan ruangan lain selain kamar,
termasuk ruang pertemuan, lobby dan
restaurant.

HOTEL/RESTORAN/WISMA (JPB = 7)
39.

Jenis hotel

40.
41.

Jumlah Bintang
Jumlah Kamar

:
:

42.

Luas Kamar dengan AC Sentral

43.

Luas Ruangan Lain dengan AC


sentral

BANGUNAN PARKIR (JPB = 12)


44.

Type Bangunan

Diisi type bangunan.

APARTEMEN/KONDOMINIUM (JPB = 13)


45.
46.

Kelas Bangunan
Jumlah Apartemen

:
:

47.

Luas Apartemen dengan AC Sentral

48.

Luas Ruangan Lain dengan AC


Sentral

Diisi kelas bangunan


Diisi sesuai dengan jumlah unit-unit
apartemen yang ada (bukan jemlah
gedung).
Untuk mendapatkan luas, caranya
dengan mengalikan jumlah unit
apartemen dengan luas sesuai type
masing-masing. Ukuran unit apartemen
umumnya standard.
Diisi dengan luas ruangan lain selain
kamar, termasuk ruang pertemuan, lobby
dan restaurant.

TANGKI MINYAK (JPB = 15)


49. Kapasitas Tangki

50.

Diisi sesuai dengan kapasitas tangki yang


ada (pengisian kapasitas agar
disesuaikan dengan keadaan di
lapangan).
Cukup jelas

Diisi kelas bangunan.

:
:

Nilai hasil perhitungan komputer


Kolom ini diisi untuk objek pajak yang
dinilainya dihitung dengan menggunakan
penilaian individual.

Letak tangki

GEDUNG SEKOLAH (JPB = 16)


51.
E.

PENILAIAN INDIVIDUAL
52.
53.

F.

Kelas Bangunan

Nilai Sistem
Nilai Individual

IDENTITAS PENDATA/PEJABAT YANG BERWENANG


Nomor 54 s/d 62

Cukup jelas.

LAMPIRAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK


1. *)TRANSAKSI
1. Perekaman Data
4. Penilaian individu
2.
PR
DT II
KEC .
KEL/DESA

2. Pemutakhiran data
BLOK

NO. URUT

PR

5.

JENIS
PENGGUNAAN
BANGUNAN
(JPB)

1.
4.
7.
10.
13.
16.

Perumahan
Toko/apotik/ruko
Hotel/resto/wisma
Lain-lain
Apart./kondominium
Gedung sekolah

2.
5.
8.
11.
14.

I. IDENTITAS OBJEK
Perkantoran
RS/klinik
Bengkel/gudang
Bang. Tdk kena pajak
Pompa bensin (kanopi)

6.

KONDISI UMUM

1.

Sangat baik

2.

Baik

7.

THN. SELESAI
BANGUN

JUMLAH
LT.BANG.
11. LUAS
BANGUNAN
12. LUAS LT.
BASEMENT

15. MATERIAL
DINDING LUAR

(tdk. Termasuk basement)

Gypsum import

Str
Bsm

Triplex

Str
Bsm

a. kaca

d. Seng
16. PELAPIS DINDING a. Kaca impor
c. Kaca lokal
e. Marmer
impor
g. Marmer lokal
i. C at
17. PELAPIS DINDING a. Granit impor
LUAR

M2
M2

M2

c. Pas batu

DALAM

3.
4.

3. Sedang

3.
6.
9.
12.
15.

Pabrik
Olahraga/rekreasi
Gd. Pemerintah
Bang. Parkir
Tangki minyak

4.

Jelek

8. THN. DIRENOVASI

9.

14. MATERIAL
DINDING DALAM

NO. FORMULIR

3. Penghapusan data

c. Kaca impor

II. DATA KOMPONEN UTAMA


10. JML. LT.BASEMENT
Ruangan, kamar/unit apartemen (JPB 7,5,13), pabrik/gudang, kanopi
Luas ruangan lain
13. KONSTRUKSI
Baja
Batu bata
II. DATA KOMPONEN MATERIAL
Gypsum lokal
Str
Bsm
Ply wood

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Kayu

Str
Bsm

Str
Bsm

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Pas dind.
batu

Beton

b. Pas
C elcon
d. Beton
pracetak
e. Kayu
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm

b.
d.
f.
h.

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Wall
paper
Granit
impor
Granit
lokal
Keramik
std

b. Marmer
impor
d. Granit
lokal

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm

e. Marmer lokal
g. Keramik
standar
18. LANGIT-LANGIT

a. Gypsum

21. JUMLAH &


DAYA AC

Genteng keramik

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

i. Lantai
kayu
k. Teraso

a. Split

28. SISTEM
PENGOLAHAN
LIMBAH
31. PROTEKSI API

a.

36. SISTEM TV
a. MATV
b. C C TV
37. KOLAM RENANG

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Akustik

d.

Eternit

b.
d.
f.
h.
j.
l.

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

press

Marmer
impor
Granit lokal
Keramik
standar
Karpet lokal
Pas ubin
abu-abu
Semen

d. C entral
b. Barang

26.

b. Lebar > 0,8 m


Tinggi
M
Tinggi
M
Tinggi
M
DAYA LISTRIK TERPASANG

29.

KEDALAMAN SUMUR ARTESIS

M
M
M

Hydrant

b. Sprinkler
Sal

33. JML. SALURAN


PABX

PK

Unit

Ada
Tdk ada

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Str
Bsm
Str
Bsm

Asbes
gelombang

Seng gelombang

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm

IV. DATA KOMPONEN FASILITAS


PK
b. Window
Unit

Unit
Unit

KVA

b.

Genteng
beton
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm
Str
Bsm

Unit

c. Floor
22. JUMLAH
a. Penumpang
LIFT
23. ESKALATOR a. Lebar < 0,8 m
24. PAGAR
a. Batako
c. Beton pracetak
e. BRC
25. GENSET

Kaca lokal

h. C at
Str
Bsm
Str
Bsm

Pelat beton

20. PENUTUP LANTAI a. Granit


impor
c. Marmer
lokal
e. Karpet
impor
g. Vinil

f.

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

c. Triplex
+ cat
19. ATAP

Ls. (m2)
Jml. Lt.
Ls. (m2)
Jml. Lt.

c.
34.

Alarm kebakaran

d. Interkom
SISTEM TATA
SUARA

Ada
Tdk ada

38.

JUMLAH LAPANGAN TENIS

a.

Beton

b.

Aspal

Dgn. Lampu
Ban
Ban

PK
Unit

Unit
b. Bata
d. Besi

M
M
KVA

27. SISTEM AIR PANAS

30. RESERVOIR

32.

PENANGKAL
PETIR

35.

VIDEO
INTERC OM

Tinggi
Tinggi
Ada
Tdk ada
Ada
Tdk ada

Ada
Tdk ada
Ls. (m2)
Jml. Lt.

39. LUAS PERKERASAN


Tanpa lampu
Ban a.
Ban b.

M
M

Ringan

Sedang

a. Luas
b. Finishing

Diplester
Dgn pelapis

M2

JPB 3 (PABRIK)/JPB 8 (GUDANG)


40. Keliling
dinding
43. Luas
mezzanin
44. Lantai
Daya dukung
Tipe
JPB 14 (POMPA BENSIN)
JPB 15 (TANGKI MINYAK)

c.

Tanah
Ban
Ban c. Keras
liat
V. DATA TAMBAHAN UNTUK BANGUNAN SELAIN GEDUNG
M

41. Tinggi
kolom

M2

48. NILAI SISTEM

Ringan

42. Lebar bentang

Kg/m2
Sedang
45. Jumlah kanopi
46. Posisi

Menengah

Di atas tanah
Di bawah tanah
VI. PENILAIAN INDIVIDUAL ( x 1000 Rp )
49.
NILAI INDIVIDUAL
VII. IDENTITAS PENDATA / PEJABAT YANG BERWENANG

PETUGAS PENDATA
50. TGL. KUNJUNGAN KEMBALI
51. TGL. PENDATAAN
52. TANDA TANGAN

Berat

Sangat berat

47. Kualitas

M3

MENGETAHUI PEJABAT YANG BERWENANG


/
/

/
/

55.
56.

TGL. PENELITIAN
TANDA TANGAN

53. NAMA JELAS

57.

NAMA JELAS

54. NIP

58.

NIP

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PETUNJUK PENGISIAN LSPOP (DIISI PETUGAS)
1.
2.
3.
4.

Jenis Transaksi
NOP
Jumlah Bangunan
Bangunan Ke

:
:
:
:

Diisi
Diisi
Diisi
Diisi

oleh petugas,
oleh petugas,
jumlah seluruh bangunan yang terdapat dalam satu objek pajak,
urutan bangunan,

I.

IDENTITAS OBJEK
5.
Jenis Penggunaan Bangunan (JPB) :
Berilah tanda chek () sesuai dengan jenis struktur/tipe konstruksi dan peruntukkan/penggunaan bangunan saat ini. Ketentuan-ketentuan yang
perlu diperhatikan adalah :
a.) Apabila tipe konstruksi/penggunaan dalam satu objek pajak lebih dari satu, maka masing-masing penggunaan bangunan menggunakan 1
(satu) lembar LSPOP sesuai dengan JPB-nya.
b.) Apabila di dalam satu tipe konstruksi/penggunaan bangunan terdapat jumlah lantai yang tidak sama (variasi tower dan podium), maka masingmasing lantai tipikal harus menggunakan 1 (satu) lembar LSPOP meskipun memiliki JPB-nya sama sesuai dengan jumlah lantai masing-masing.
c.) Apabila di dalam satu objek pajak terdapat beberapa tower yang bentuk dan konstruksinya sama, maka cukup menggunakan 1 (satu) lembar
LSPOP saja untuk satu tower, namun demikian perhitungannya dikalikan jumlah tower tipikal tersebut.
d.) Apabila dalam satu tower memiliki lebih dari satu JPB (terdapat JPB sisipan0, maka hanya diperlukan 1 (satu0 lembar LSPOP saja tetapi yang
membedakan hanya pada komponen materialnya saja.
6.
Kondisi bangunan :
:
Cukup jelas
7.
Tahun selesai dibangun
:
Cukup jelas
8.
Tahun direnovasi
:
Diisi dengan tahun terakhir dilakukan renovasi.

II.

DATA KOMPONEN UTAMA


9.
Jumlah lantai bangunan :
Diisi dengan jumlah lantai bangunan (tidak termasuk basemen/bangunan di bawah tanah) mulai dari bangunan di atas permukaan tanah sampai
lantai terakhir/atap/penthouse,
10. Jumlah lantai basemen :
Diisi dengan jumlah lantai basemen/bangunan di bawah tanah mulai sari permukaan tanah sampai lantai terakhir di bawah tanah,
11. Luas bangunan :

Untuk bangunan selain JPB 5, 7 dan 13 diisi luas bangunan (tidak termasuk luas basemen/bangunan di bawah tanah) dengan luas lantai
bangunan termasuk teras, balkon, podium dan bangunan tambahan lainnya,

Untuk bangunan JPB 5 dan 7 diisi luas bangunan dengan luas kamar dan luas ruangan lain (tidak termasuk luas basemen/bangunan di bawah
tanah) termasuk teras, balkon, podium dan bangunan tambahan lainnya,

Untuk bangunan JPB 13 diisi luas bangunan dengan luas unit apartemen dan luas ruangan lain (tidak termasuk luas basemen/bangunan di
bawah tanah) termasuk teras, balkon, podium dan bangunan tambahan lainnya.

Untuk JPB 3/8 diisi luas bangunan dengan luas pabrik/gudang tidak termasuk luas mezzanine.

Untuk JPB 14 diisi luas bangunan dengan luas kanopi.


Dalam hal ini yang dimaksud ruangan lain adalah lobby, hall, koridor dan lain-lain.
12. Luas lantai basemen :
Diisi luas lantai basemen dengan luas basemen/bangunan di bawah tanah, termasuk core lift, ruang tangga dan lain-lain.
13. Konstruksi bangunan : cukup jelas.

III.

DATA KOMPONEN MATERIAL


14. Material dinding dalam :

Berilah tanda chek () sesuai dengan bahan yang digunakan. Jika bahan yang digunakan lebih dari satu jenis, pilih/cantumkan bahan yang
dominan.

15.

Berilah tanda chek () pada kotak struktur bila material dinding dalam yang dipilih diperuntukkan bagi bangunan struktur atas tanah,
Contoh :
Gypsum impor
Str

Bsm
Berilah tanda chek () pada kotak basemen bila material dinding dalam yang dipilih diperuntukkan bagi basemen/bangunan bawah tanah,
Contoh :
Gypsum impor
Str

Bsm

Berilah tanda chek () pada kotak struktur dan basemen bila material dinding dalam yang dipilih diperuntukkan bagi kedua struktur bangunan
tersebut,
Contoh :
Gypsum impor
Str

Bsm

Material dinding luar :

Berilah tanda chek () dan diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya pada MDL yang menggunakan material tersebut sesuai dengan bahan
yang digunakan. Jika MDL yang digunakan dalam satu lantai bangunan lebih dari satu jenis, pilih/cantumkan bahan yang dominan,
Contoh :
Bangunan 10 lantai seluruhnya menggunakan kaca sebagai MDL,
Kaca Jml. Lt.

10

Jika MDL yang digunakan dalam satu struktur bangunan lebih dari satu jenis (maksimal 2 jenis), maka harus dirinci satu per satu serta berilah
tanda chek () pada MDL yang dipilih dan diisi jumlah lantai pada kotak di sebelahnya, jumlah lantai yang menggunakan material tersebut
sesuai dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan 10 lantai, lantai 1 MDL = Kaca, lantai 2 s/d 10 MDL = Pas batu.
Kaca Jml. Lt.

16.

Pas batu Jml. Lt.

Pelapis dinding dalam

Berilah tanda chek () sesuai dengan material PDD yang digunakan, diisi jumlah lantai pada kotak di sebelahnya serta berilah tanda chek ()
pada kolom struktur bila material PDD yang dipilih diperuntukkan bagi bangunan struktur atas tanah atau pada kotak basemen bila PDD yang
dipilih diperuntukkan bagi basemen. Jika PDD yang digunakan dalam satu lantai bangunan lebih dari tiga jenis, pilih/cantumkan bahan yang
dominan,
Contoh :
Bangunan 5 lantai seluruh struktur atasnya menggunakan PDD cat.
Cat Jml. Lt.
Str

Bsm

Jika PDD yang digunakan dalam satu struktur bangunan lebih dari satu jenis (maksimal 3 jenis), maka harus dirinci satu per satu serta berilah
tanda chek () pada PDD yang dipilih dan diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya, jumlah lantai yang menggunakan PDD tersebut sesuai
dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan 10 lantai + 1 basemen, lantai 1 s/d 2 PDD = wallpaper, lantai 3 s/d 10 PDD = cat, basemen = keramik,
Wallpaper Jml. Lt.
Str

Bsm
Cat Jml. Lt.
Str

Bsm


17.

18.

Str
Bsm

Pelapis dinding luar :

Berilah tanda chek () dan diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya pada PDL yang menggunakan material tersebut sesuai dengan bahan
yang digunakan. Jika PDL yang digunakan dalam satu lantai bangunan lebih dari satu jenis, pilih/cantumkan bahan yang dominan,
Contoh :
Bangunan 10 lantai seluruhnya menggunakan kaca sebagai PDL,
Kaca Jml. Lt.

1 0

Jika PDL yang digunakan dalam satu struktur bangunan lebih dari satu jenis (maksimal 2 jenis), maka harus dirinci satu per satu serta berilah
tanda chek () pada PDL yang dipilih dan diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya, jumlah lantai yang menggunakan material tersebut
sesuai dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan 10 lantai, lantai 1 PDL = Kaca lokal, lantai 2 s/d 10 MDL = Cat,
Kaca lokal jml. Lt.

1
Cat jml. Lt.

PDL pada umumnya mengikuti MDL yang digunakan, sehingga :


a.)
Jika MDL kaca, maka PDL harus berupa kaca (impor/lokal),
b.)
Jika MDL Pas batu, maka PDL dapat berupa granit (impor/lokal), marmer (impor/lokal), keramik standar atau cat.
c.)
Jika MDL seng, maka PDL dapat harus berupa cat,
d.)
Jika MDL Pas.celcon, makaPDL dapat berupa granit (impor.lokal), marmer (impor/lokal), keramik standar atau cat,
e.)
Jika MDL beton pra cetak, maka PDL dapat berupa granit (impor/lokal), marmer (impor/lokal), keramik standar atau cat,
f.)
Jika MDL kayu, maka PDL dapat harus berupa cat,

Langit-langit :

Berilah tanda chek () sesuai dengan LL yang digunakan, diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya serta berilah tanda chek () pada kolom
struktur bila material LL yang dipilih diperuntukkan bagi bangunan struktur atas tanah atau pada kotak basemen bila LL yang dipilih
diperuntukkan bagi basemen. Jika LL yang digunakan dalam satu lantai bangunan lebih dari tiga jenis, pilih/cantumkan bahan yang dominan.
Contoh :
Bangunan 5 lantai seluruh struktur atasnya menggunakan LL akustik.
Akustik Jml. Lt.
Str

Bsm

Jika LL yang digunakan dalam satu struktur bangunan lebih dari satu jenis (maksimal 3 jenis), maka harus dirinci satuper satu serta berilah
tanda chek () pada LL yang dipilih dan diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya, jumlah lantai yang menggunakan LL tersebut sesuai
dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan 10 lantai + 1 basemen, lantai 1 s/d 10 LL = akustik, basemen = eternite,

Akustik Jml. Lt.


1 0

Str
Bsm

19.

Keramik Jml. Lt.

Eternite Jml.Lt.

Str
Bsm

Penutup Atap :

Berilah tanda chek () pada PA yang menggunakan material tersebut sesuai dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan dengan PA pelat beton,


20.

Penutup lantai :

Berilah tanda chek () sesuai dengan material PL yang digunakan, diisi jumlah lantai pada kotak disebelahnya serta berilah tanda chek ()
pada kolom struktur bila material PL yang dipilih diperuntukkan bagi bangunan struktur atas tanah atau pada kotak basemen bila PL yang
dipilih diperuntukkan bagi basemen. Jika PL yang digunakan dalam satu lantai bangunan lebih dari tiga jenis, pilih/cantumkan bahan yang
dominan,
Contoh :
Bangunan 5 lantai seluruh struktur atasnya menggunakan PL keramik standar.
Keramik standar
Str

Jml. Lt.
Bsm

IV.

Pelat beton Jml.lt.

Jika PL yang digunakan dalam satu struktur bangunan lebih dari satu jenis (maksimal 3 jenis), maka harus irinci satu per satu serta berilah
tanda chek () pada PL yang dipilih dan diisi jumlah lantai pada kotak di sebelahnya, jumlah lantai yang menggunakan PL tersebut sesuai
dengan bahan yang digunakan.
Contoh :
Bangunan 10 lantai + 1 basemen, lantai 1 PL = granit impor, lantai 2 s/d 10 PL = keramik standar, basemen = semen,
Granit impor Jml. Lt.

Keramik standar
Jml. Lt.

Semen Jml. Lt

DATA KOMPONEN FASILITAS


21. Jumlah dan daya AC :

Diisi jumlah, jenis dan daya AC (khusus untuk AC split, window dan floor),

Jika daya AC yang digunakan lebih dari satu jenis, maka cantumkan daya AC yang dominan,

Jika dalam satu bangunan terdapat beberapa AC, maka harus dirinci per jenis AC yang digunakan,
Contoh :
Bangunan JPB 7 memiliki 10 AC split 1,5 pk, 10 AC window 0,5 pk, AC central.
a.
Split
Unit
.
PK
1 0
1
5

22.
23.
24.

b.

Window

c.

Floor

d.

Central Jml. Lt.

Unit
Unit

.
.

PK
PK

Jumlah lift
: Cukup jelas,
Eskalator
: Cukup jelas,
Pagar
:

Dipilih jenis pagar, diisi panjang dan tinggi pagar,

Jika tinggi pagar yang digunakan lebih dari satu macam, maka cantumkan tinggi pagar yang dominan saja,

Jika dalam satu bangunan terdapat beberapa jenis pagar, maka harus dirinci per jenis pagar yang digunakan.
Contoh :
Bangunan memiliki pagar batako 100 m (tinggi 2,0 m), pagar BRC 150 m (tinggi 1,5 m) dan pagar besi 50 m (tinggi 1 m).
a.
Batako
M
.
M
1 0 0
2
0

25.

b.

Bata

c.

Beton pra cetak

d.

Besi

e.

BRC

5
1

0
0

Sistem TV
a.
MATV
: Sistem pertelevisian,
Berilah tanda chek () pada pilihan jumlah lantai jika diketahui jumlah lantai yang terlayani oleh MATV
Contoh : bangunan 10 lantai, seluruh lantai dilayani oleh MATV.
a. MATV

Ls (m2)
1 0
Jml.lt.
Contoh : bangunan 10 lantai, hanya 5 lantai yang dilayani oleh MATV,
a.

MATV

Ls (m2)
Jml.lt.

Contoh : bangunan 1000 m2, hanya 500 m2 yang dilayani oleh MATV,
a.
b.

MATV

Ls (m2)
Jml.lt.

CCTV
: Kamera sistem keamanan (security system),
Berilah tanda chek () pada pilihan jumlah lantai jika diketahui jumlah lantai yang terlayani oleh CCTV
Contoh : bangunan 10 lantai, seluruh lantai dilayani oleh CCTV.
b. CCTV
Ls (m2)
1 0
Jml.lt.

Contoh : bangunan 10 lantai, hanya 5 lantai yang dilayani oleh CCTV,


b.

CCTV

Ls (m2)
Jml.lt.

Contoh : bangunan 1000 m2, hanya 500 m2 yang dilayani oleh CCTV,
b.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.

CCTV

Proteksi api
Sistem air panas
Reservoir (bak penampung air)
PABX
Daya listrik terpasang
Penangkal petir
Pengolahan limbah
Video interkom

Ls (m2)
Jml.lt.
:
:
:
:
:
:
:

Pada umumnya terdapat pada seluruh JPB gedung,


Pada umumnya terdapat pada JPB 7,5 dan 13,
Pada umumnya terdapat pada seluruh JPB
diisi dengan jumlah saluran (extension) yang dihasilkan/dihubungkan oleh PABX,
Cukup jelas,
Pada umumnya terdapat pada seluruh JPB gedung,
Pada umumnya terdapat pada seluruh JPB gedung.

Berilah tanda chek () pada pilihan jumlah lantai jika diketahuijumlah lantai yang terlayani oleh video interkom.
Contoh : bangunan 10 lantai, seluruh lantai dilayani oleh video interkom,
Ls (m2)
1 0
Jml.lt.

Contoh : bangunan 10 lantai, hanya 5 lantai yang dilayani oleh video interkom,
Ls (m2)
5
Jml.lt.

Contoh : bangunan 1000 m2, hanya 500 m2 yang dilayani oleh video interkom.

Ls (m2)
5 0 0
Jml.lt.
34.
35.
36.
37.
38.
V.

Sumur artesis
Sistem tata suara
Kolam renang
Lapangan tenis
Perkerasan

:
:
:
:
:

Diisi kedalaman sumur artesis, gedung,


Pada umumnya terdapat pada seluruh JPB gedung,
Diisi luas kolam renang dan dipilih finishingnya.
Dipilih jenis perkerasan, fasilitas lampu dan jumlah ban lapangan tenis.
Diisi luas perkerasan halaman sesuai dengan tipenya.

DATA TAMBAHAN UNTUK BANGUNAN SELAIN GEDUNG


JPB 3/8 (pabrik/gudang)
39. Tinggi kolom
: Diisi dengan tinggi kolom bangunan,
40. Lebar bentang
: Diisi dengan lebar bentang bangunan,
41. Daya dukung lantai
: Diisi daya dukung lantai atau tipr konstruksi,
42. Luas mezzanin
: Mezzanin merupakan lantai antara (1/2 lantai)/lantai tambahan yang terletak di dalam bangunan dengan
ketinggian 2-3 m dari lantai dan biasanya digunakan untuk kantor, lobby atau tempat penyimpanan barang,
Contoh :

JPB 14
43. Jumlah kanopi

Diisi dengan jumlah kanopi pompa bensin,

JPB 15
44. Posisi tangki
45. Kapasitas tangki

:
:

Cukup jelas
Diisi sesuai dengan kapasitas tangki yang ada,

VI.

PENILAIAN INDIVIDUAL
46. Nilai sistem
47. Nilai individual

VII.

IDENTITAS PENDATA/PEJABAT YANG BERWENANG


Nomor 48 s/d 56
: Cukup jelas.

:
:

Nilai hasil perhitungan komputer,


Kolom ini diisi untuk objek pajak yang nilainya dihitung dengan menggunakan penilaian individual,

HIMPUNAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (SPOP) DAN


LAMPIRAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (LSPOP) KOLEKTIF
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

Nomor Bundel

TAHUN :
PROPINSI

: (

KABUPATEN

: (

KECAMATAN

: (

DESA

: (

JUMLAH OBJEK PAJAK

:
,
Petugas Pendata/Kepala Dusun

Pengawas Lapangan

()

Petugas Verifikasi

()

PENANGGUNG JAWAB
Kepala Desa

()

()

Lampiran 3
SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (SPOP) KOLEKTIF
NAMA DESA :

Nomor Bundel
DATA SUBJEK PAJAK

DATA OBJEK PAJAK


No.
urut

Nmr Urut
Bundel

Nmr Blok

NOP
1

LETAK OBJEK
Nmr SPPT
lama

DATA TANAH

ALAMAT

Nama Jalan Blok/Kavling/Dusun/Nomor

RW

RT

STATUS

NAMA

10

Nama Jalan
NomorBlok/Kavling/Dusun

RW

RT

11

12

13

NMR
KTP

14

LUAS M2 KODE ZNT

15

16

Jenis
Tanah

17

Jml
B
A
N
G
U
N
A
N
18

LAMPIRAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (LSPOP) KOLEKTIF


DESA :
Nmr Blok

No.
U
No. Urut
R
Bundel
U
No. Objek
T
1

Jml
Bangunan

Bangunan
Ke

J
P
B

Luas
M2

Jml
Lantai

Tahun
dibangun

Tahun
Renovasi

Listrik
(Watt)

Kondisi
Bangunan

Konstruksi

Atap

Dinding

Lantai

Langitlangit

10

11

12

13

14

15

16

17

Nomor Bundel
PETUNJUK PENGISIAN:
KLm1 : diisi Angka (1dst)
KLm2 : diisi Petugas KP PBB
KLm3 : diisi Angka (1dst)
KLm4 : diisi Jml Bgn. yang ada
KLm5 : diisi Bangunan ke (1dst)
KLm6 : Jenis Penggunaan Bgn
1. Perumahan
8.
2. Kantor swasta
9.
3. Pabrik
10.
4. Toko/apotik/pasar/ruko
11.
5. Rumah sakit/klinik
12.
6. Gdg.Olah raga
13.
7. Hotel/wisma
14.
Klm7 : diisi Luas Bgn yang ada
Klm8 : diisi Jumlah lantai
Klm9 : diisi sesuai tahun dibangun
Klm10 : diisi tahun dilakukan renovasi
1. Sangat baik
3. Sedang
4. Jelek
Klm13 : Konstruksi diisi :
1. Baja
KLm14 : Atap diisi :
1. Dekrabon/Beton/Gtg Glazur
2. Genteng Beton
3. Genteng Biasa/Sirap
4. Asbes
Klm15 : Dinding diisi :
1. Kaca/Alumunium
2. Beton
3. Bata/Konblok
4. Kayu
Klm16 : Lantai diisi :
1. Marmer
2. Keramik
3. Teraso
4. Ubin PC /Papan
Klm17 : Lantai diisi :
1. Kayu jati/Akustik
2. Triplek/Asbes/Eternit

3.

Bengkel/Gudang
Gdg Pemerintah
Lain-lain
Bgn tidak
Bgn. Parkir
Apartemen
Pompa bensin

Bata

Lampiran 4
BERITA ACARA
PENYERAHAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK (SPOP)
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
telah menyerahkan SPOP kepada :
Nama
N.I.P

:
:

Staf pada Kantor : Penyuluhan Pajak / Dinas Pendapatan Daerah Propinsi / Dinas Pendapatan Daerah
Kabupaten/Kota /Kecamatan /Desa/Kelurahan untuk diberikan SPOP kepada
subjek wajib pajak yang mendaftarkan objek pajaknya untuk diisi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Jumlah SPOP Perseorangan yang diserahkan sebanyak () lembar, sebagai persediaan.
Dengan Berita Acara dibuat dengan sebenarnya dalam rangkap ().

Yang menerima penyerahan,

,
Yang menyerahkan,
Kepala Kantor Pelayanan PBB

Lampiran 5
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1)

NO. :

TANDA TERIMA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK


PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

2)

Telah diterima Surat Pemberitahuan Objek Pajak Bumi dan Bangunan tahun
dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan

3)
4)

Subjek pajak
:
Alamat
:
Surat Pemberitahuan Objek Pajak yang diterima *)

5)
6)

Langsung dari KP PBB

7)

Melalui pos tercatat tanggal

8)

Dari

9)

(tempat lain yang ditunjuk oleh KP PBB)

Catatan : *) Beri tanda X pada kotak yang berkenaan


KP.PBB 1.4

20 10)

Yang menerima

11)

PETUNJUK PENGISIAN : KP. PBB 1.4.


Bahwa tanda terima dipakai sebagai alat pembuktian bagi KP PBB bahwa SPOP yang dikirimkan telah diterima dengan baik oleh subjek pajak (kuasanya) yang
bersangkutan.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Cukup jelas;
Diisi nomor pengiriman (agenda) KP PBB;
Diisi tahun pajak yang dikenakan;
Diisi nama kota KP PBB pengirim;
Diisi nama lengkap subejk pajak;
Diisi alamat lengkap subejk pajak;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima langsung dari KP PBB;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima melalui pos tercatat dan dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun pengiriman pos tercatat;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima selain dari butir 7) dan 8), serta mencantumkan tempat pengambilan SPOP yaitu :
*) Kantor Penyuluhan Pajak,
*) Kantor Dinas Pendapatan Daerah,
*) Kantor Kecamatan,
*) Kantor Desa/Kelurahan,
*) Tempat lain yang ditunjuk;
10) : Diisi nama kota, tanggal, bulan, dan tahun diterimanya kiriman pos tercatat/SPOP.
11) : Diisi dengan tanda tangan dan nama terang subjek pajak/penerima kiriman SPOP.

Lampiran 6
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1)

NO. :

TANDA TERIMA PENGEMBALIAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK


PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

2)

Telah diterima Surat Pemberitahuan Objek Pajak Bumi dan Bangunan tahun
Atas nama :

3)

Subjek pajak
Alamat

4)
5)

:
:

Surat Pemberitahuan Objek Pajak yang diterima *)


Langsung dari KP PBB

6)

Melalui pos tercatat tanggal

7)

Dari

8)

(tempat lain yang ditunjuk oleh KP PBB)

20 9)

Yang menerima

10)
Catatan : *) Beri tanda X pada kotak yang berkenaan
KP.PBB 1.5

PETUNJUK PENGISIAN : KP. PBB 1.5.


Surat tanda terima dipakai sebagai alat pembuktian bagi subjek pajak bahwa SPOP yang diterima dari KP PBB setelah diisi sudah dikirimkan/dikembalikan
kepada KP PBB.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

:
:
:
:
:
:
:
:

Cukup jelas
Diisi nomor tanda terima SPOP (agenda) KP PBB;
Diisi tahun pajak yang dikenakan;
Diisi nama lengkap subjek pajak;
Diisi alamat lengkap subjek pajak;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima langsung dari KP PBB;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima melalui pos tercatat dan dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun pengiriman pos tercatat;
Diisi dengan tanda silang (X) apabila SPOP diterima selain dari butir 7) dan 8), serta mencantumkan tempat pengambilan SPOP yaitu :
*) Kantor Penyuluhan Pajak,
*) Kantor Dinas Pendapatan Daerah,
*) Kantor Kecamatan,
*) Kantor Desa/Kelurahan,
*) Tempat lain yang ditunjuk;
9) : Diisi nama kota, tanggal, bulan, dan tahun diterimanya kiriman pos tercatat/SPOP;
10) : Diisi dengan tanda tangan, nama terang dan NIP petugas yang ditunjuk untuk itu serta dicap dinas;

Lampiran 7
DAFTAR PENJAGAAN PENYAMPAIAN DAN PENGEMBALIAN SPOP
KABUPATEN/KOTA
KECAMATAN
KEL/DESA
MINGGU KE

:
:
:
:

BULAN : .20

TEMPAT PENGAMBILAN SPOP :


Penyampaian
Pengembalian
Nama dan Alamat
No.
NOP
Subjek Pajak
Dikirim
Diterima
Seharusnya
Kenyataannya
1
2
3
4
5
6
7

Catatan : dibuat untuk objek-objek yang dikirim SPOP.


KP. PBB 1.8.

1)

Penundaan
Keterangan
Seharusnya
Kenyataannya
8
9
10

PETUNJUK PENGISIAN : KP. PBB 1.8.


Surat ini dimaksudkan untuk penjagaan penyampaian terhadap SPOP yang dikirimkan kepada subjek pajak. Dengan Daftar ini dapat diketahui jumlah SPOP yang
seharusnya sudah kembali, namun subjek pajak belum mengirimkannya, sehinggaterhadap subjek pajak ini dapat dikenakan sanksi.
Nomor 1)
Kolom 1
2
3
4
5
6

:
:
:
:
:
:
:

7
8
9
10

:
:
:
:

Cukup jelas
Cukup jelas
Diisi nama dan alamat lengkap subjek pajak;
Diisi NOP (nomor Objek Pajak), jika telah mempunyai;
Diisi tanggal, bulan dan tahun saat penyampaian SPOP (KP. PBB 1.22);
Diisi tanggal, bulan dan tahun saat diterimanya SPOP oleh subjek pajak (tanda terima KP.PBB 1.4.);
Diisi tanggal, bulan dan tahun kapan seharusnya SPOP harus dikembalikan oleh subjek pajak (tanggal diterima SPOP oleh subjek pajak KP. PBB
1.4. ditambah dengan 30 hari)
Diisi tanggal, bulan dan tahun pengembalian SPOP oleh subjek pajak (sesuai dengan KP. PBB 1.5.);
Diisi tanggal, bulan dan tahun sesuai dengan batas waktu penundaan pengembalian SPOP yang dikirimkan oleh KP PBB (KP. PBB 1.6.);
Diisi tanggal, bulan dan tahun pengembalian SPOP oleh subjek pajak (sesuai dengan KP. PBB 1.5.);
Diisi penjelasan/keterangan yang dianggap perlu.

Lampiran 8
DAFTAR REKAPITULASI SPOP PERSEORANGAN YANG DITERIMA KEMBALI DARI SUBJEK PAJAK
KABUPATEN/KOTA
KECAMATAN
KEL/DESA
TAHUN
Tempat
Pengambilan
SPOP
1

Jumlah SPOP
yang diserahkan
kepada subjek
pajak
2

:
:
:
:

Jumlah SPOP yang diterima kembali dari subjek pajak


Jelas dan
lengkap

Tidak
jelas

Tidak
lengkap

Rusak

Jumlah

Jumlah SPOP
yang tidak
kembali

Keterangan

,5)
PETUGAS
6)

KP. PBB. 1.20.

NIP.

Lampiran 9
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1)
202)
Yth.

3)
SURAT TEGORAN PENGEMBALIAN SPOP
No. : 4)

Menurut tata usaha kami, hingga saat ini Saudara belum mengembalikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) Pajak Bumi dan Bangunan yang kami
sampaikan kepada Saudara pada tanggal 5) No. : 6).
Berhubungan dengan itu, Saudara diberi kesempatan terakhir untuk mengembalikan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dimaksud, dalam jangka
waktu () hari 7), terhitung mulai tanggal 8).
Apabila dalam jangka waktu tersebut di atas terlampaui, maka Saudara akan dikenakan ketetapan pajak ditambah dengan denda administrasi 25%
dihitung dari pokok pajak sesuai dengan Pasal 10 ayat (3) Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12
tahun 1994.
a.n. Direktur Jenderal Pajak Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan 9)
10)

Tembusan :
1. Kasi Pendataan dan Penilaian
2. Kasi Penetapan
KP. PBB 1.6.

___________________________
NIP.

PETUNJUK PENGISIAN : KP. PBB 1.6.


Surat ini dimaksudkan untuk memperingatkan kepada subjek pajak yang belum mengirimkan kembali SPOP kepada KP PBB, sedangkan batas waktu
pengembalian SPOP sudah berakhir.
1) : Cukup jelas
2) : Cukup jelas
3) : Diisi nama dan alamat lengkap wajib pajak;
4) : Diisi nomor (agenda KP. PBB);
5) : Diisi tanggal, bulan dan tahun surat tanda terima penyampaian SPOP (KP. PBB 1.4) yang telah dikirimkan kepada wajib pajak;
6) : Diisi nomor surat tersebut pada butir 5) di atas;
7) : Diisi angka dan huruf, jumlah hari batas waktu pengembalian SPOP;
8) : Diisi tanggal, bulan dan tahun mulai dihitung batas waktu pengiriman;
9) : Cukup jelas;
10) : Diisi tanda tangan, nama terang dan NIP. Kepala KP PBB.

Lampiran 10
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1)
202)
Yth.

3)
SURAT PERSETUJUAN PENUNDAAN PENGEMBALIAN SPOP
No. : 4)

Berkenaan dengan surat permohonan Saudara tanggal 5) No. : 6) dengan ini kami dapat menyetujui
perpajangan
waktu
pengembalian
Surat
Pemberitahuan
Objek
Pajak Bumi dan
Bangunan
tahun
7) atas
nama
8) selama jangka waktu () hari. 9) terhitung mulai tanggal
10).
Apabila dalam jangka waktu tersebut di atas dilampaui, maka Saudara dikenakan ketetapan pajak ditambah denda administrasi 25% dihitung dari pokok
pajak sesuai dengan Pasal 10 ayat (3) Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 1994.
Apabila dalam jangka waktu tersebut di atas terlampaui, maka Saudara akan dikenakan ketetapan pajak ditambah dengan denda administrasi 25%
dihitung dari pokok pajak sesuai dengan Pasal 10 ayat (3) Undang-undang Nomor 12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12
tahun 1994.
a.n. Direktur Jenderal Pajak Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan 11)
12)

Tembusan :
1. Kasi Pendataan dan Penilaian
2. Kasi Penetapan
KP. PBB 1.7.

____________________________
NIP.

PETUNJUK PENGISIAN : KP. PBB 1.7.


Surat ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada subjek pajak karena sesuatu hal yang dapat dipertanggungjawabkan dalam batas waktu
tertentu, dapat menunda pengembalian SPOP.
1) : Cukup jelas
2) : Cukup jelas
3) : Diisi nama dan alamat lengkap wajib pajak;
4) : Diisi nomor (agenda KP. PBB);
5) : Diisi tanggal, bulan dan tahun surat permohonan dari subjek pajak;
6) : Diisi nomor surat permohonan penundaan dari subjek pajak;
7) : Diisi tahun pajak yang dikenakan;
8) : Diisi nama lengkap subjek pajak;
9) : Diisi angka dn huruf jumlah hari penundaan yang diberikan;
10) : Diisi tanggal, bulan dan tahun mulai berlakunya penundaan pengembalian SPOP;
11) : Cukup jelas;
12) : Diisi tanda tangan, nama terang dan NIP Kepala KP PBB yang bersangkutan.

Lampiran 11
RENCANA KERJA PENGUMPULAN DATA OBJEK DAN SUBJEK PAJAK
DALAM RANGKA SISMIOP
DAERAH TINGKAT II/KODYA
TAHUN

:
:

BAB I

PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
2.
Lokasi dan Sasaran

BAB II

GAMBARAN UMUM
1.
Administrasi Pemerintahan
2.
Perbandingan Luas Wilayah dengan Luas Bumi yang Sudah Dikenakan PBB, Jumlah Penduduk dengan Jumlah Wajib Pajak per
Desa/Kelurahan.
3.
Klasifikasi NJOP PBB.

BAB III

PELAKSANAAN PEKERJAAN
1.
Sasaran dan Volume Pekerjaan
2.
Jenis Pekerjaan
2.1. Pembuatan konsep peta blok dan peta ZNT
2.2. Pengumpulan data objek dan subjek PBB
2.3. Pengadministrasian SPOP
2.4. Perekaman/pembentukan basis data
2.5. Penggambaran peta desa/kelurahan, peta blok, dan peta ZNT
2.6. Pembuatan konsep SK Kakanwil DJP tentang klasifikasi NJOP
3.
Standar Prestasi Kerja
4.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
5.
Organisasi dan Jumlah Pelaksana Pekerjaan
5.1. Struktur, uraian tugas dan tanggung jawab
5.2. Jumlah personel yang dibutuhkan
5.3. Mekanisme pelaksanaan pekerjaan
6.
Biaya yang diperlukan

BAB IV

HASIL AKHIR
1.
Fisik
1.1. Perangkat keras administrasi PBB (hard copy)
1.2. Basis data objek dan subjek PBB
2.
Non Fisik
2.1. Peningkatan ketetapan PBB
2.2. Peningkatan tertib administrasi
2.3. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat
2.4. Peningkatan penerimaan PBB

BAB V

PENUTUP

LAMPIRAN

Lampiran 13
DAFTAR SEMENTARA OBJEK DAN SUBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
KANTOR PELAYANAN PBB
TAHUN
KECAMATAN
DESA/KEL.
BLOK

:
:
:
OBJEK PAJAK

SUBJEK PAJAK

DATA TANAH
DATA BANGUNAN
Pjg. Sisi
Jml.
Daya
NO. NOP
Luas
Jml.
Luas
Thn.
Nama Alamat Status Nama Alamat
Depan
ZNT JPT
JPB
Tingkat
Listrik Konstruksi Lantai
(m2)
Bangunan
(M2)
dibangun
(M)
Bangunan
(Watt)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11
12
13 14
15
16
17
18
19

Ket.

Lampiran 14
DAFTAR PENJAGAAN PENGISIAN SPOP DALAM RANGKA PEMBENTUKAN BASIS DATA SISMIOP
KECAMATAN
:
DESA/KELURAHAN :
BLOK :
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

BLOK :
1

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

BLOK :
1

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Lampiran 15
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
TANDA TERIMA PENYERAHAN HASIL PEKERJAAN LAPANGAN SPOP KOLEKTIF
NO. :
Telah diterima hasil pekerjaan lapangan berupa Surat Pemberitahuan Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan Kolektif dan Konsep Sket Blok tahun Untuk
:
Blok
Desa
Kecamatan
Jumlah objek pajak

:
:
:
:

Dusun :

Hasil pekerjaan lapangan tersebut diterima dari petugas pendata :


Nama
:
Jabatan :

Petugas Pendata

,
Petugas yang Menerima

NIP.

NIP.

Lampiran 16
LAPORAN HASIL VERIFIKASI
PROPINSI
KABUPATEN/KOTA
KECAMATAN
KELURAHAN
No.
Unit

(
(
(
(

)
)
)
)

DATA HASIL PEKERJAAN LAPANGAN


DATA HASIL VERIFIKASI
Letak
Nama dan
Luas
Z
Nama dan
Bumi
Bangunan
Objek
Alamat Wajib
N Alamat Wajib Status Pekerjaan Luas
Jenis
OP
Bumi Bangunan T
ZNT
Luas M2
Pajak
Pajak
Pajak
M2
Tanah

Nomor
Blok

:
:
:
:

No.
KTP

Keterangan

Lampiran 17
DAFTAR HASIL PEMERIKSAAN DHR
DESA/KELURAHAN
KECAMATAN
KABUPATEN/KOTA
NO. URUT

*)

:
:
:

*)

*)

*)

,
Petugas Pemeriksa DHR,

NIP.
Cat : *) Dokumen Sumber tidak jelas

Lampiran 19
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
DIREKTORAT PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
FORMULIR ZONA NILAI TANAH
KP PBB :
KODE KELURAHAN

NO.
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

KODE

NI/M2(000)

NIP PEMERIKSA

NAMA PEMERIKSA

NO.
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

KODE

NI/M2(000)

NO.
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72

KODE

TANDA TANGAN :
TANGGAL :

NI/M2(000)

Lampiran 20
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
DIREKTORAT PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
FORMULIR PEMUTAKHIRAN ZONA NILAI TANAH
KODE KELURAHAN

BLOK

NO.
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

KODE ZNT ASAL

NO. URUT

NO.
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

NIP PEMERIKSA

NAMA PEMERIKSA

NO. URUT

KODE ZNT BARU

NO.
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72

NO.URUT

NO.
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96

TANDA TANGAN :
TANGGAL :

NO. URUT

Lampiran 22
Formulir Data Harga Jual
KOTA/KABUPATEN :
KECAMATAN
:
KELURAHAN
:

No.
1
2
3
4

Alamat
Objek
Jl.
Mawar
No. 3
Jl.
Mawar
No. 19
Jl.
Mawar
No. 40
Jl.
Mawar
No. 15

Dalam Ribuan Rupiah

DATA BANGUNAN

Sumber
Tran
saksi

Tgl.
Tran
saksi

Trans

12/
1995

Harga
Jenis
Tran
Luas
Peng
saksi
(m2)
gunaan
(Rp)
Rp.
Rmh
270
450.000

Trans

9/
1996

Rp.
250.000

Rmh

180

Gtg
Btn

Terazo

Trans

11/
1994

Rp.
405.000

Rmh

300

Gtg
Btn

Pena
waran

12/
1996

Rp.
325.000

Rmh

180

Gtg
Btn

Jml.
Lantai
1

Kon
Penu
disi
Atap
tup
Umum
Lantai
nya
Gtg Keramik
B
Btn

Tahun
dibgn

Tahun
reno
vasi

Harga
Bang. Per
m2 (Rp)

Harga
Bang.

Luas
(m2)

DATA TANAH

Harga Jual
%
Nilai Jual
Tanah per Penye
Tanah
m2 (Rp) suaian
m2

12/
1988

Rp. 332

Rp.
89.640

500

Rp. 720

+ 6,5
%

Rp. 767

1/
1986

Rp. 280

Rp.
50.400

255

Rp. 782

+ 6,5
%

Rp. 833

Keramik

12/
1987

Rp. 335

Rp.
100.500

450

Rp. 677

+ 13%

Rp. 765

Keramik

7/
1986

Rp. 332

Rp.
59.760

297

Rp. 890

- 10%

Rp. 801

Tanggal Penilaian

Petugas

//

NIR

Rp.
791,5

Lampiran 23
STANDAR BAKU PENULISAN NAMA JALAN
1. PENDAHULUAN
Penulisan nama jalan perlu dibakukan untuk memudahkan berbagai pemrosesan
data. Alamat merupakan suatu alat terpenting, setelah NOP, untuk merelasikan informasi
objek pajak dari basis data yang satu terhadap lainnya. Penulisan nama jalan yang
seragam akan memudahkan pembandingan (matching) data baru dengan data lama yang
telah dimiliki KP PBB.
Dengan penulisan nama jalan yang baku, penyortiran, pencarian, dan pembandingan
objek pajak menjadi lebih mudah. Penulisan yang baku memungkinkan kontrol terhadap
objek pajak dalam satu jalan yang belum terdaftar dengan cara menyortir data untuk jalan
tersebut dan memeriksa bila ada nomor-nomor yang terlewat.
Penulisan nama jalan yang aku memudahkan pengkodean. Sehingga apabila suatu
saat akan diperkenalkan Kode Jalan, konversi yang perlu dilakukan menjadi sangat mudah.
Penggunaan Kode Jalan akan banyak menghemat tempat penyimpanan data di dalam
komputer.
2. FORMAT PENULISAN ALAMAT
Di dalam SPOP, alamat ditulis pada kolom yang berbeda, yaitu Nama Jalan dan
Nomor yang masing-masing terdiri dari 30 dan 15 karakter. Pada pelaksanaannya, Nama
Jalan masih dipisah menjadi Tipe Jalan itu sendiri. Semua huruf dalam penulisan nama
jalan harus ditulis dengan huruf kapital.
Tipe
3

Nama Jalan
Nama Jalan

Nomor
Nomor

Tipe jalan ditulis tanpa titik atau tanda baca lainnya dan terdiri dari dua karakter ditambah
satu spasi. Yang dimaksud dengan tipe jalan, antara lain :
JL
= Jalan
GG
= Gang
DS
= Desa
Dst.
Nama Jalan merupakan nama jalan/gang/lorong yang penulisannya harus baku.
Sedangkan Nomor berisi nomor baku yang di dalamnya termasuk Blok, Kavling, Persil, dan
yang sejenisnya.
3. TIPE JALAN/TIPE ALAMAT
Tipe jalan, bila dipergunkan, hanya terdiri dari dua huruf diikuti dengan satu spasi (bukan
titik atau tanda baca lainnya). Adapun tipe jalan yang dikenal antara lain :
JL = Jalan
GG = Gang
KP = Kampung DS = Desa
LR = Lorong
PS = Pasar
KO =
Dst.
Kompleks
4. NAMA JALAN
4.1. Nama Jalan, sepanjang tidak melebihi 30 karakter, harus ditulis lengkap (tidak
disingkat).
4.2. Apabila nama jalan melebihi 30 karakter, maka suku kata yang harus disingkat,
sedapat mungkin, adalah kata-kata yang sudah dibakukan, dimulai dari suku kata
paling terakhir kemudian suku kata kedua terakhir, dan seterusnya. Singkatan yang
dapat digunakan antara lain :
UTR = Utara
RY = Raya

SLT = Selatan
BRT = Barat
TMR = Timur
Dll.

DLM = dalam
TMN = Taman
TGH = Tengah

4.3. Setiap suku kata harus dipisahkan oleh satu spasi saja.
4.4. Nomor Jalan ditulis dengan angka Romawi.
Contoh : JL. BUDI SWADAYA II
4.5. Penulisan gelar/pangkat/titel selalu disingkat dan diletakkan di belakang setelah
tanda koma (gelar/pangkat/titel yang disingkat harus diakhiri dengan titik. Bila titel
lebih dari satu, maka setelah titik ditulis gelar berikutnya tanpa spasi. Singkatan
gelar/pangkatan/titel yang dipergunakan antara lain :
PROF. = Profesor DR. = Doktor
KH. = Kyai Haji
H. = Haji
IR. = Insinyur
SH. = Sarjana
Hukum
DRS.=
JEND =
Doktorandus
Jenderal
LETJEN = Letnan
Dll.
Jenderal
Contoh :

JL. SUPOMO,
PROF.DR.SH.
JL. GATOT
SUBROTO,
JEND.

4.6. Gelar kebangsawanan ditulis lengkap di depan nama pemiliknya.


Contoh :
JL. RADEN SALEH
JL. SULTAN HASANUDDIN
4.7. Nama yang umumnya ditulis disingkat, ditulis tanpa titik.
Contoh :
JL. MH THAMRIN
JL. MT HARYONO, LETJEN.
5. NOMOR
5.1. Kolom nomor berisi nomor rumah, nomor blok (bukan blok PBB), kavling, persil, dan
yang sejenisnya.
5.2. Nomor rumah ditulis dengan angka Arab (angka biasa) tanpa kata-kata NOMOR,
NO, atau yang sejenisnya.
Contoh :
Nama Jalan
Nomor
Jl OPHIR
5A-5B
JL PAKUBUWONO VI 11A
JL BUDI SWADAYA
No 126 (salah)
II
5.3. Nomor blok (berbeda dengan Blok dan NOP) ditulis dengan angka Arab (angka biasa).
Nomor blok dipisahkan dari nomor rumah dengan menggunakan / (garis miring).
Kata Blok tidak ditulis.
Contoh :
Nama Jalan
Nomor
KO CITRA GARDEN C1/15
5.4. Nomor objek yang menggunakan Kavling ditulis dengan menggunakan singkatan
KAV
Contoh :
KAV 52/15 (Kavling nomor 52, rumah nomor 15)

5.5 Apabila nomor objek lebih dari satu, maka penulisan dipisahkan dengan . (koma)
atau dengan - tanpa dipisahkan oleh spasi.
Contoh :
7,8, & 10
Ditulis : 7,8,10
7,8,9, & 10
Ditulis : 7 - 10
5.6. Apabila objek mempunyai nomor lama dan masih sering digunakan, maka nomor
tersebut ditulis dalam kurung di belakang nomor baru yang sekarang berlaku. Antara
nomor baru dan tanda kurung buka dipisahkan oleh satu spasi.
Contoh :
6 (2) (nomor baru enam, nomor lama dua)
6. CONTOH-CONTOH PENULISAN
J
J
J
J
J

L
L
L
L
L

G
T
S
S
B

A
E
I
U
U

T
B
A
D
D

O
E
G
I
I

T
T
A
R M
S

S
B
R
A

Nama Jalan
U B R O T O . J E N D
A R A T I I I
A Y A
N . J E N D
A D A Y A
I I

4
6
C
K
7

Nomor
0 . 4 2
( 2 )
/ 7
A V
7 5
- 9

Lampiran 24

Lampiran 26
DAFTAR UPAH PEKERJA
HARGA BAHAN BANGUNAN DAN SEWA ALAT
DBKB STANDAR
KODE

JENIS

SATUAN

0101
0102
0103
0104

I. UPAH PEKERJA
Mandor
Kepala Tukang
Tukang
Pekerja

Hr
Hr
Hr
Hr

0201
0202
0203
0204
0205
0206
0207
0208

II. BAHAN BATU/PASIR


Pasir Urug
Pasir Pasang
Pasir Beton
Batu Kali
Batu Koral (untuk beton)
Split - 2/3 (untuk beton)
Batu bata
Conblock 10x20x40

M3
M3
M3
M3
M3
M3
Bh
Bh

0301
0302

III. SEMEN
Semen PC Abu-abu
Semen Putih

Zak
Zak

0401
0402
0403
0404

IV. KAYU
Kayu Kamper
Kayu Meranti
Papan Terentang (untuk bekisting)
Dolken f8 10 cm

M3
M3
M3
M3

0501
0502
0503
0504
0505
0506
0507

V. BAHAN BESI / BAJA


Besi Beton
Kawat Beton
Baja Profil WF
Baja Profil C
Baja Plat
Paku
Baut

Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
Bh

0601
0602
0603
0604

VI. BAHAN ATAP


Genteng Biasa / Plentong
Genteng Kodok
Genteng Keramik Glazur
Genteng Beton

Bh
Bh
Bh
Bh

HARGA SATUAN
(dlm ribuan rupiah)

0605
0606
0607
0608
0609
0610

Decrabon (2 lbr)
Sirap ulin (100 bh)
Asbes Gelombang
Seng Gelombang Bjls 33
Alumunium Gelombang
Spandex (Steel Sheet)

M2
M2
M2
Lembar
M2
Lembar

0701
0702
0703
0704
0705
0706
0707
0708

VII. BAHAN LANTAI


Ubin PC Abu-abu
Teraso 30 x 30
Keramik 30 x 30 (lokal)
Marmer 30 x 30 (lokal)
Vinyl 30 x 30
Pavingblock (untuk perkerasan jalan)
Parquet (parket)

0801
0802
0803
0804
0805
0806
0807
0808

VIII. BAHAN LANGIT-LANGIT


Plywood 4 x 8 x 4 mm
Plywood 4 x 8 x 6 mm
Teakwood 4 x 8 x 3mm
Asbes / Eternit
Akustik 30 x 60
Gypsum
Bambu Anyam
Lis Kayu I/3

0901
0902
0903
0904
0905
0906

IX. BAHAN PINTU/JENDELA/PARTISI


Kusen Alumunium
Nako + kaca
Kaca Polos 5 mm
Kaca Rayban 5 mm
Kaca Laminated Rayban (untuk dinding

M
Daun
M2
M2
M2
M2

1001
1002
1003
1004
1005
1006
1007
1008
1009
1010
1011
1012

X. ALAT-ALAT SANITER / PLUMBING


Kloset Jongkok
Kloset duduk/Monoblock
Bathtub
Wastafel
Bak Mandi
Shower
Bidet
Urinoir
Meja Dapur
Metal Zink 1 lubang
Metal Zink 2 lubang
Pipa Galvanis o 1/2 (p=6 m)

Bh - ls
Bh ls
Bh - ls
Bh ls
Bh ls
Bh ls
Bh - ls
Bh ls
Bh ls
Bh ls
Bh - ls
Batang

M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
Lembar
Lembar
Lembar
M2
M2
M2
M2
M

1013
1014
1015
1016

Pipa Galvanis o 3/4 (p=6 m)


Pipa PVC o 3/4 (p=4 m)
Pipa PVC o 4 (p=4 m)
Septictank + Rembesan

Batang
Batang
Batang
Bh - ls

1101
1102
1103
1104
1105
1106
1107
1108
1109
1110
1111
1112
1113
1114
1115
1116
1117

XI. LAIN-LAIN
Cat Kayu
Cat Tembok
Plamuur
Minyak Cat
Amplas
Kunci
Engsel
Upah Pancang Beton
Direksikeet
Lem Aica Aibon
Saluran air kotor
Pipa air bersih
Kran air
Titik lampu
Stop Kontak
Sekring box/panel
Pembersihan

Kg
Kg
Kg
Liter
Lembar
Bh
Psg
M
Bh ls
Kg
Bh ls
M
Bh ls
Bh ls
Bh ls
Bh ls
M2 ls

1201
1202
1203
1204
1205
1206
1207
1208
1209
1210
1211
1212
1213
1214
1215
1216
1217
1218
1219

XII. FASILITAS BANGUNAN


AC Sentral
AC Window
AC Split
Lift
Tangga berjalan
Perkerasan
- aspal
- beton
- pavingblock
Kolam renang
Lapangan tenis
Daya Listrik PLN
Daya Listrik genset
Alat Pemadam kebakaran
- Hydran
-Sprinkler
-Fire alarm/smoke detector
PABX 12 samb/250 ext.
Generator set
25 KVA
100 KVA
300 KVA

M2
Bh
Bh
Bh
Bh
M2
M2
M2
Bh
Bh
Watt
M2
M2
M2
M2

DAFTAR UPAH PEKERJA


HARGA BAHAN BANGUNAN DAN SEWA ALAT
DBKB NON STANDAR
NO.
1.

UPAH PEKERJA
1 Kepala Tukang Cat
2 Kepala Tukang Kayu
3 Kepala Tukang Batu
4 Mandor
5 Pekerja
6 Tukang Besi
7 Tukang Kaca
8 Tukang Wallpaper
9 Tukang cat
10 Tukang kayu
11 Tukang batu
12 Tukang gali

JENIS

DAN SEJENISNYA
Bata tras bekisting (hollow brick)
Batu bata merah uk. 21 x 10,5 x 4,5
Batu kali
Pasir beton
Pasir pasang
Split
Paving block abu-abu tipe 4,6 ukr. 6 x 10,5 x 2

SATUAN
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr
Hr

2.

BATU
1
2
3
4
5
6
7

3.

TIANG PANCANG
1 Tiang pancang uk. 40 x 40 cm panjang 17 s/d 18 m

4.

SEMEN/ READY MIX/ ADMIXTURE


1 Admixture (Super cement extra)
2 Floorhardener
3 PC abu-abu
4 Slump 10

Lt
M2
Zak
Cm

5.

BESI/ BAJA/ ALUMUNIUM


1 Baja WF 300.150.65.9
2 Baja C 150.25.2,5
3 Besi beton polos
4 Besi beton ulir
5 Plat baja hitam 4 x 10mm
6 Kawat beton
7 Paku segala ukuran (rata-rata)
8 Seng gelombang 180x90x,05
9 Alumunium Atap SWG 29(0,35mm) 1 m, profile: A,B,C,D

Kg
M
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg
Lbr
M

Bh
Bh
M3
M3
M3
M3
M2
M

HARGA SATUAN

6.

KAYU DAN SEJENISNYA


1 Kayu/ papan kruing (4/6,5/7,3/4,6/12,2/3,2/20)
2 Kayu kamper (2/3,6/7,4/6,3/4,6/12,2/20,8/12)
3 Plywood Sungkai 4ftx8ft, 18mm, 2 muka
4 List kayu kamper
5 Profil kayu kamper 5x5 cm
6 Triplex 4ftx8ftx9mm
7 Triplex 4ftx8ftx12mm/15mm

M3
M3
M3
M
M
Lbr
Lbr

7.

DINDING/ LANTAI/ PLAFOND


1 Akustik type series 5000 2 x 4 x 1/2
2 Asbes semen
3 Celcon Jaya 59x19x10 cm
4 Granito grup B950 Patricia 40x40 Polished MCP
5 Granito grup A810 Aminah 40x40 Polished MCP
6 Granit impor Balmoral Green
7 Gypsum import Jayaboard Metal Furring 9mm
8 Gypsum import Jakaboard Metal Furring 13mm
9 Kaca Tempered Glass Magitemp 10 Non Std 3408x2134mm Stopsol
10 Kaca Tempered Glass Magitemp 15 Non Std 3048x2134mm Clear
11 Kaca Tempered Glass Magitemp 19 Non Std 3048x2134mm Clear
12 Kaca Panazap Bronze/Blue /Green/ Grey 12 mm
13 Kaca Asahimas Float Glass Polos/Clear 12 mm
14 Karpet impor opening Night ( Cut Pile L = 3.66 m)
15 Karpet lokal Long live ( L = 4.0 m)
16 Lantai kayu (facy floor) Mozaik Jati (HH) 8x335x335 mm
17 Keramik Masterina Plaint Std 40x40 m2s
18 Marmer alam lokal tebal 15-18mm Creama 400x600mm
19 Marmer import Creama Marfil
20 Ubin terasso
21 Ubin PC abu-abu Rata/bata 20x20x2 cm
22 Wallpaper Aphrodite
23 Vinil 30x30 tebal 1,6

M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M
M
M2
M2
M2
M2
M2
M2
M2
lbr

8.

ATAP
1
2
3
4
5
6
7

Lbr
Bh
Bh
Bh
Bh
Lbr
M2

9.

CAT DAN SEJENISNYA


1 Cat tembok setara ICI/DULUX
2 Meni besi
3 Plamur tembok

Asbes semen gelombang 210 x 108 x 0,5 cm


Genteng fossano, Maridional natural
Genteng fossano, Maridional glasuur std
Genteng press beton
Genteng Nok
Seng Gelombang 180x90x0,5
Sirap 57x7 cm tebal 2-3 mm

Kg
Kg
Lt

10.

WATERPROOVE
1 Perekat
2 Waterprooving
3 Waterstop

11.

PERANCAH
1 Perancah kolom (Vertical frame)
2 Perancah shearwall (Bekisting Perry)
3 Perancah balok
4 Scaffolding
Rincian:
a Main frame 1219x1930 mf 1219
b Leader frame 1219x1200mm mf1212
c Beam frame 1219x500mm bf 1205
d Horizontal frame 1050x1829mm hf 1018
e Base jack 400mm, bj 40
f Head jack 400mm, bj 60
g Base plate 42 BP 42
6 Perpipaan fire hydrant
7 Perpipaan sprinkler
8 Pipa riser & rytem
Alarm kebakaran :
1 Master control panel
2 Kabel feeder (unit lengkap)
3 Kabel ladder
4 Detektor unit lengkap
5 Instalasi bel lengkap
Intercom Kebakaran
1 Main distribution intercom kebakaran
2 Master control intercom kebakaran
3 Interkom kebakaran

17.

PABX
1
2
3
4

18.

SUMUR ARTESIS
1 Screen (stainless steel)
2 Perpipaan
3 Bak kontrol
4 Mobilisasi/demobilisasi
5 Perizinan PDAM dan Geologi

19.

AIR PANAS

Main distribution frame telepon


KEY TEL lengkap
Kabel feeder lengkap
Kabel ITC lengkap

unit
M2
M
Unit
Unit
Unit
Unit
Bh
Bh
Bh
Bh
Bh
Bh
Bh
*)

M
M
M
Unit
M
M
Unit
Titik
Unit
Unit
Titik
Unit
Unit
M
Titik
Set
Lot
Bh
Lot
Lot

1
2
3
4
5
6
7

Boiler (kap. 860 kg/jam)


Pompa air panas
Tangki air (kap. 2000 lt)
Plate head exchanger
Water softener (kap 12 lt/m)
Storage pump (kap 15 m3)
Alat ukur

Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Bh

20.

LISTRIK
1 Panel MVMDP 5 cuicible
2 Transformator lengkap
3 Panel PUTR 1
4 Panel Capasitor bank P
5 Panel
6 Instalasi penerangan
7 Armatur set

Unit
Unit
Unit
unit
Unit
Titik
Unit

21.

PLUMBING
1 Pompa air bersih
2 Pompa booster
3 Tangki atap air bersih
4 Pompa sumpit/sump pump
5 Submersible sewage pump
6 PT P dng. Komponen lengkap
7 Gate valve

Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Bh

22.

PENANGKAL PETIR
1 Titik penangkal petir (EF)
2 Kabel CO-Axial
3 Titik grounding elektrode

set
M
Titik

23.

PENGOLAHAN LIMBAH
1 Sewage treatment plant
2 Ajr difuser
3 Comminutor (dgn. Reduction)
4 Bar screen kasar (dng. Demtering ramp & transfer gate)
5 Bar screen halus (dng. Demtering ramp & transfer gate)
6 Gate flow control float
7 Surface skimmer (dng. Vertikal adjuster)
8 Sludge recirculiton
9 Chiolifier (dng. Reduction gear trains)
10 Metring pump (chemical pump)
11 Efluent pump (dng. Manifold N?R)
12 Plate settler
13 Panel control STP
14 Ventilating van
15 Filter feed pump
16 Sand filter

unit
Unit
Unit
Unit
Unit
bh
Unit
Unit
Unit
bh
Unit
Bh
Unit
Unit
Unit
Unit

17

Carbon filter

Unit

SUARA
Selector switch
Main distribution frame
Kabel feeder tata suara lengkap
Kabel tray
Junction box tata suara
Ceiling speaker

Unit
Unit
M
M
Unit
Bh

24.

TATA
1
2
3
4
5
6

25.

VIDEO INTERKOM
1 Kabel Nym dlm. PVC untuk detektor
2 Junction box
3 Rate of Rise (ROR) head detector
4 Gas detector

26

TV

a
b

M.A.T.V
Kabel coaxial induk
C.C.T.V
Kabel feeder, set lengkap
Flexible coaxial cable, set lengkap

M
Unit
Unit
Unit

M
M
M

Lampiran 27
KOMPONEN UTAMA DBKB STANDARD
Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Luas
1 69
70 99
100 149
150 224
125 299
300 449
450 549
550 589
590 669
670 749
750 834
835 914
915 - 1000

Lantai I
207.882
209.976
214.488
223.655
235.698
268.417
296.623
309.338
316.545
352.083
394.223
438*)
490.962

BETON
Lantai II
Lantai III
218.191
231.636
219.898
233.448
223.874
237.669
232.490
246.816
244.288
259.341
277.431
294.527
306.599
325.491
319.850
339.559
349.515
357.624
382.622
390.435
421.816
429.346
*)
469.178
509.717
516.788

Tahun : 2000

Lantai IV
232.934
234.756
239.000
248.198
260.793
296.176
327.315
341.461
372.984
408.309
450.130
493*)
543.922

Lantai I
145.740
147.128
150.087
156.036
163.799
184.764
202.770
210.875
230.372
252.572
278.034
*)
332.977

KAYU
Lantai II
193.791
195.292
198.795
206.401
216.826
246.137
271.945
283.672
309.652
338.082
373.704
*)
451.575

Lantai I
272.325
275.008
280.979
292.987
308.764
351.526
388.576
405.232
414.674
461.228
516.432
*)
643.160

BAJA
Lantai II
Lantai III
285.831
303.443
288.066
305.817
293.275
311.346
304.552
323.228
320.017
339.736
363.435
385.030
401.645
426.394
419.004
444.822
457.864
468.487
*)
*)
552.579
562.443
*)
*)
667.729
676.992

Lantai IV
305.143
397.530
313.090
328.140
341.639
387.991
428.782
447.314
488.609
*)
589.671
*)
712.538

TABEL KOMPONEN UTAMA


Kode Propinsi
Kode Dati2/Kab.
Nomor Lantai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

: - DKI JAKARTA
: - JAKARTA BARAT
JPB 2/9
*)
524.063
*)
555.392
571.742
588.708
*)
623.878
642.244
661.150
680.769
700.810
721.440
742.677
764.715
787.227
810.401
834.257
*)
884.301
*)
937.130

Tanggal proses : 01 Januari 2000

JPB 4
*)
622.157
*)
721.274
776.605
836.180
800.326
969.393
1.043.758
1.123.826
1.210.319
1.303.167
1.403.137
1.510.776
1.626.672

Tahun :

JPB 5
*)
473.805
494.765
516.654
539.511
583.378
588.437
614.469
641.653
670.039
699.681
730.634
762.957
796.710
831.955

NILAI DBKB
JPB 6
JPB 7
*)
*)
594.292
608.555
623.161
638.117
653.431
669.114
685.173
701.617
718.456
735.699
753.356
771.436
789.951
808.910
828.324
848.203
868.560
889.406
910.752
*)
954.993

JPB 12
*)
623.304
628*)
634.162
639.753
645.357
651.026
656.750
662.522
668.344
674.217
680.143
686.120
691.990
698.072
704.206
710.395
716.638
722*)
729.290

JPB 13
*)
698.876
703.435
718.290
728.115
738.244
748.342
758.752
769.308
779.830
790.679
801.493
812.643
823.948
835.218
846.837
858.420
870.362
882.267
894.540
906.985
919.390

JPB 16
*)
594.565
617.163
640.472
664.814
689.922
716.143
743.190
771.436
800.571
830.998
862.383
895.159
928.966
964.273
1.000.691
1.038.724
1.078.202
1.118.927
1.161.449
1.205.240
1.251.123
Halaman 1

Kode Propinsi
Kode Dati2/Kab.
Nomor Lantai
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

: - DKI JAKARTA
: - JAKARTA BARAT
JPB 2/9
993.345
*)
*)
*)
*)
*)
1.187.497
1.217.307
1.253.141
1.290.328
1.328.312
1.367.414
1.407.667
1.449.439
1.492.107
1.536.031
1.581.248
1.628.171
1.676.100
1.725.441
1.776.233
1.825.521
1.882.782
1.938.206
1.995.262
2.053.998
*)

Tanggal proses : 01 Januari 2000

JPB 4

Tahun :

JPB 5

NILAI DBKB
JPB 6
JPB 7
1.041.383
*)
*)
*)
*)
*)
1.154.250
1.161.952
1.210.319
1.239.347
1.269.112
1.299.571
1.330.761
1.362.699
1.395.404
1.428.894
1.463.188
1.498.304
1.534.264
1.571.026
1.608.792
*)
1.686.941
1.727.428
1.768.887
1.841.340
*)

JPB 12

JPB 13
944.93x
*)
971.401
*)
*)
*)
1.025.124
1.040.399
1.054.630
1.059.3xx
1.083.927
1.099.006
1.114.038
1.129.536
1.145.249
1.160.914
1.177.064
1.193.194
1.209.762
1.225.592
1.243.369
1.260.xxx
1.277.909
1.295.687
1.313.409
1.331.680
*)

JPB 16
1.347.721
*)

Halaman 2

GUDANG
Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Satuan
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M

Lebar
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Tahun :
Tinggi
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
> 10
> 10
> 10
> 10
> 10

Satuan2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

2000
Nilai
420.640
403.885
389.101
364.201
365.281
301.491
282.273
267.448
258.377
440.503
422.956
407.474
381.399
382.530
315.727
295.602
280.077
270.578
490.161
470.636
453.408
424.393
425.852
351.218
328.925
311.650
301.080
512.285
191.xxx
473.877
443.552
444.868
Halaman 1

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Satuan
M
M
M
M

Lebar
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38

Tahun :

Tinggi
> 10
> 10
> 10
> 10

Satuan2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

2000

Nilai
367.179
343.774
*)
*)

1.2 PABRIK
Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Satuan
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M
M

Lebar
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38
< 10
10 s.d. 13
14 s.d. 17
18 s.d. 21
22 s.d. 25
26 s.d. 29

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Tahun : 2000
Tinggi
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
<5
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
5 s.d. 7
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
8 s.d. 10
> 10
> 10
> 10
> 10
> 10
> 10

Satuan2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

Nilai
546.832
525.051
505.831
473.461
474.865
391.938
366.955
347.682
335.890
572.654
549.843
529.716
495.819
497.289
410.445
384.283
364.100
351.751
637.209
611.827
589.430
551.711
553.348
456.715
427.603
405.145
391.404
665.975
639.447
616.040
576.618
578.328
477.333
Halaman 1

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Satuan
M
M
M

Lebar
30 s.d. 33
34 s.d. 37
> 38

Tahun : 2000
Tinggi
> 10
> 10
> 10

Satuan2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

Nilai
446.907
423.435
409.074

DAYA DUKUNG LANTAI


Propinsi
Dati2
Satuan
Kg/m2
Kg/m2
Kg/m2
Kg/m2
Kg/m2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
Dukung
1- 600
601 1200
1201 2400
1401 5000
> 5000
Mezzanin JPB 8 Rp/m2

Tahun :

Tipe
Ringan
Sedang
Menengah
Berat
Sangat Berat

Satuan2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

2000

Nilai
88.948
127.102
143.234
178.144
232.520
673.556

1.4 BASEMEN
Propinsi
Dati2
Tahun

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
: 2000
1
2
3
4
5
6
7
1
2
3
4
5
6
7

MALL

SELAIN MALL

1.653.502
1.653.805
1.653.901
1.738.968
1.761.475
1.783.982
1.806.489
1.009.712
1.171.123
1.344.386
1.420.505
1.692.049
1.960876
2.228.218

1.5 POMPA BENSIN


Propinsi
Dati2
Tahun
Jumlah Kanopi
1
>1

:
:
:

31 DKI JAKARTA
74 JAKARTA BARAT
2000
Satuan
Rp/m2
Rp/m2

Nilai
xxx.622
505.784

TANGKI DI ATAS TANAH


Propinsi
Dati2
Tahun
Kapasitas
20.000,00 m3
17.500,00 m3
15.000,00 m3
12.500,00 m3
10.000,00 m3
9.000,00 m3
8.000,00 m3
7.000,00 m3
6.000,00 m3
5.000,00 m3
4.500,00 m3
4.000,00 m3
3.500,00 m3
3.000,00 m3
2.750,00 m3
2.500,00 m3
2.250,00 m3
2.000,00 m3
1.750,00 m3
1.500,00 m3
1.250,00 m3
750,00 m3
500,00 m3
250,00 m3
200,00 m3
150,00 m3
100,00 m3
75,00 m3
50,00 m3

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
: 2000
Satuan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Nilai
7.260.692.446
6.737.043.988
5.916.006.733
5.087.853.938
4.230.046.735
3.998.305.324
3.033.513.634
3.264.981.985
2.874.635.225
2.610.263.154
2.160.188.638
1.974.957.684
1.778.680.462
1.584.616.742
1.436.227.458
1.335.694.519
1.234.025.920
1.130.663.281
1.024.364.411
922.618.250
810.127.316
549.215.23
429.267.721
250.701.523
215.216.531
178.363.936
133.168.831
109.587.030
86.121.251

Tanggal Proses : 01 Januari 2000


Propinsi
Dati2

Halaman : 1

: 31
: 74

Nomor Lantai
50

Tahun

Material A

Material B

391.917

247.426

Material C

Material D

538.058

912.548

TANGKI BAWAH TANAH


Propinsi
Dati2
Tahun
Kapasitas
1,00 m3
3,00 m3
5,00 m3
7,00 m3
10,00 m3
13,00 m3
16,00 m3
20,00 m3
25,00 m3
30,00 m3
40,00 m3
50,00 m3
60,00 m3
80,00 m3
100,00 m3

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
: 2000
Satuan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Nilai
4.187.798
8.144.113
10.313.749
13.289.235
17.9xx.xxx
22.749.458
27.31x.605
34.395.392
41.361.08x
49.02x.266
58.203.088
70.723.488
84.377.011
120.168.018
147.731.290
Halaman : 1

: 2000

Material E
293.430

Material F
62.360

Material G
c
284.811

d
232.553

TABEL DBKB KOMPONEN MATERIAL GOLONGAN A

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
MATERIAL A
256.527
259.726
262.861
266.034
269.246
272.496
275.786
279.115
282.485
285.895
289.347
292.840
296.375
299.953
303.574
307.239
310.948
314.702
318.501
322.346
326.237
xxx.xxx
xxx.xxx

MATERIAL B
190.380
182.557
184.761
186.992
189.249
191.534
193.846
196.186
198.555
100.952
203.378
205.833
208.318
210.833
213.378
215.954
218.561
221.199
223.870
226.573
229.30x
xxx.xxx
xxx.xxx

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

MATERIAL C
786.941
796.441
806.056
815.787
825.635
835.502
845.690
855.899
866.232
876.xxx
887.273
897.984
908.825
919.797
930.901
942.139
953.513
965.024
976.674
988.464
1.000.397
x.xxx.xxx
x.xxx.xxx

Tahun
MATERIAL D
a
b
175.441
182.413
177.559
184.615
179.703
186.844
181.872
189.099
184.068
191.382
185.290
193.693
188.539
196.031
190.615
198.398
193.118
200.793
194.450
203.377
197.809
205.670
200.197
208.153
202.614
210.666
205.080
213.209
207.536
215.783
210.041
218.388
212.577
221.024
215.143
223.693
217.740
226.393
220.369
229.126
223.029
231.892
xxx.xxx
xxx.xxx
228.447
237.xxx

MATERIAL E
248.007
251.001
254.031
257.097
260.201
263.342
266.522
269.739
272.995
276.291
279.627
283.003
286.419
289.877
293.376
296.918
300.502
304.130
307.802
311.517
315.278
xxx.xxxx
322.93x

: 2000
MATERIAL F
52.440
53.073
53.713
54.362
55.018
55.682
56.355
57.035
57.723
58.420
59.126
59.839
60.562
61.293
62.033
62.782
63.540
64.307
65.083
66.169
66.664
xx.xxx
xx.xxx

MATERIAL G
a
b
505.451
559.503
512.565
566.257
518.752
573.093
525.015
580.012
531.353
587.014
537.768
594.100
544.280
601.273
550.830
608.531
557.480
615.878
564.210
623.313
571.021
630.838
577.915
638.453
584.892
646.151
591.953
653.961
599.099
661.856
606.331
669.846
613.651
677.933
621.059
686.117
628.557
694.400
636.145
702.783
643.825
711.267
xxx.xxx
xxx.xxx
659.464
xxx.xxx
Halaman : 1

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
MATERIAL A
338.196
342.273
346.411
xxx.xxx
354.825
359.105
363.444
367.902
372.272
376.768
381.315
385.918
390.577
395.292
400.064
404.894
409.782
414.729
419.736
424.803
429.931
435.127
440.374
445.691
451.071

MATERIAL B
237.713
xxx.xxx
245.487
xxx.xxx
249.402
252.413
255.460
258.541
261.665
254.824
268.021
271.257
274.531
277.845
281.200
284.594
288.030
291.507
295.026
298.588
302.193
305.241
309.533
313.270
317.052

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

MATERIAL C
1.037.068
1.049.535
1.052.250
x.xxx.xxx
1.048.061
1.181.197
1.114.491
1.127.945
1.141.562
1.165.343
1.169.291
1.183.407
1.197.693
1.212.152
1.226.786
1.241.596
1.256.585
1.271.754
1.287.107
1.302.646
1.318.372
1.324.257
1.350.295
1.366.698
1.383.197

Tahun
MATERIAL D
a
b
231.205
240.392
233.495
243.295
245.821
245.232
249.204
xxx.xxx
242.573
252.213
245.592
255.257
248.465
258.339
251.465
261.458
254.501
264.614
257.573
267.800
260.683
271.042
263.830
274.314
267.015
277.625
270.238
280.977
273.501
284.369
276.802
287.802
280.144
291.276
283.526
294.793
286.949
298.352
290.413
301.953
293.919
305.599
xxx.xxx
309.288
301.058
313.022
304.693
316.801
308.371
320.625

: 2000

MATERIAL E
326.835
330.781
334.774
xxx.xxx
342.906
347.645
351.235
355.475
359.766
364.110
368.505
372.954
377.456
382.013
386.625
391.292
396.016
400.797
405.636
410.533
415.489
420.504
425.581
430.719
435.918

MATERIAL F
69.108
69.647
70.786
xx.xxx
72.505
xx.xxx
74.267
75.163
76.071
78.988
77.919
78.859
79.811
80.775
81.750
82.737
83.736
84.746
85.770
86.805
87.853
88.xxx
89.987
91.073
92.173

MATERIAL G
a
b
667.425
737.340
675.482
xxx.xxx
683.637
755.250
xxx.xxx
xxx.xxx
700.243
773.595
705.595
787.934
717.252
792.386
725.911
801.952
734.674
811.633
743.543
821.431
752.519
831.348
761.604
841.384
770.798
851.542
780.104
861.822
789.521
872.226
799.053
882.756
808.699
893.413
818.462
904.198
828.343
915.114
838.343
926.161
848.463
937.342
858.x05
945.658
869.073
960.111
879.564
971.701
890.183
983.432
Halaman : 2

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
49.
50.

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
MATERIAL A
456.517
462.028

MATERIAL B
320.879
324.753

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

MATERIAL C
1.399.895
1.416.795

Tahun
MATERIAL D
a
b
312.094
324.xxx
315.862
328.413

: 2000

MATERIAL E
441.181
446.507

MATERIAL F
93.285
94.412

MATERIAL G
a
b
900.925
995.304
911.806
1.007.320
Halaman : 3

TABEL DBKB KOMPONEN MATERIAL GOLONGAN B

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
MATERIAL A
217.685
220.313
222.973
225.664
228.389
231.146
233.936
236.761
239.619
242.512
245.439
248.402
251.401
254.436
257.508
260.616
263.763
266.947
270.169
273.431
276.732
280.073
283.454

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

MATERIAL B
137.429
139.088
140.768
142.407
144.187
145.928
147.689
149.472
151.277
153.103
154.951
156.822
158.715
160.631
162.570
164.533
166.519
168.529
170.564
172.623
174.707
176.816
178.951

Tahun

MATERIAL C
298.857
302.465
306.117
309.812
313.552
317.338
321.169
325.046
328.970
332.941
336.961
341.029
345.145
349.312
353.529
357.797
362.117
366.488
370.912
375.390
379.922
384.509
389.150

MATERIAL D
506.863
512.982
519.175
525.442
531.786
538.206
544.703
551.279
557.934
564.669
571.486
578.385
585.368
592.435
599.587
606.825
614.151
621.565
629.069
636.663
644.349
652,128
660.000

MATERIAL E
162.982
164.950
166.941
168.956
170.996
173.060
175.150
177.264
179.404
181.570
183.762
185.980
188.225
190.498
192.798
195.125
197.481
199.865
202.278
204.719
207.191
209.692
212.224

: 2000
MATERIAL F
34.637
35.055
35.478
35.907
36.340
36.779
37.223
37.672
38.127
38.587
39.053
39.524
40.002
40.485
40.973
41.468
41.969
42.475
42.988
43.507
44.032
44.564
45.102

MATERIAL G
a
b
158.194
129.168
160.104
130.728
162.037
132.306
163.993
133.903
165.973
135.520
167.977
137.156
170.005
138.811
172.057
140.487
174.134
142.183
176.236
143.900
178.364
145.637
180.517
147.395
182.696
149.174
184.902
150.975
187.134
152.798
189.393
154.643
191.680
156.509
193.994
158.399
196.335
160.311
198.706
162.246
201.205
164.205
203.532
166.187
205.989
168.194
Halaman 1

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
MATERIAL A
286.876
290.339
293.844
297.391
300.982
304.615
308.293
312.014
315.781
319.593
323.452
327.356
331.308
335.308
339.356
343.453
347.599
351.795
356.042
360.340
364.691
369.093
373.549
378.059
382.623
387.242

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

MATERIAL B
181.111
183.297
185.510
187.750
190.016
192.310
194.632
196.982
199.360
201.766
204.202
206.667
209.162
211.687
214.243
216.829
219.447
222.096
224.777
227.491
230.237
233.017
235.830
238.677
241.558
244.474

Tahun

MATERIAL C
393.848
398.603
403.415
408.285
413.214
418.203
423.251
428.361
433.532
438.766
444.063
449.424
454.849
460.340
465.898
471.522
477.214
482.976
488.806
494.707
500.679
506.724
512.841
519.032
525.298
531.640

MATERIAL D
667.968
676.032
684.193
692.453
700.813
709.273
717.836
726.502
735.272
744.148
753.132
762.224
771.426
780.739
790.164
799.703
809.357
819.128
829.017
839.025
849.154
859.405
869.780
880.280
890.907
901.663

MATERIAL E
214.786
217.379
220.003
222.659
225.347
228.067
230.821
233.607
236.427
239.282
242.170
245.094
248.053
251.047
254.078
257.145
260.249
263.391
266.571
269.789
273.046
276.342
279.678
283.055
286.472
289.930

: 2000
MATERIAL F
45.646
46.197
16.755
47.319
47.891
48.469
49.054
49.646
50.245
50.852
51.466
52.087
52.716
53.352
53.997
54.648
55.308
55.976
56.652
57.336
58.028
58.728
59.437
60.155
60.881
61.616

MATERIAL G
a
b
208.476
170.224
210.993
172.279
213.540
174.359
216.118
176.464
218.727
178.594
221.368
180.750
224.040
182.932
226.745
185.141
229.482
187.376
232.252
189.638
235.056
191.927
237.894
194.244
240.766
196.589
243.672
198.962
246.614
201.364
249.591
203.795
252.604
206.256
255.654
208.746
258.740
211.266
261.864
213.816
265.025
216.397
268.225
219.010
271.463
221.654
274.740
224.330
278.057
227.038
281.413
229.779
Halaman 2

TABEL DBKB KOMPONEN MATERIAL GOLONGAN C

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
Material
A
121.442
122.908
124.392
125.894
127.413
128.952
130.508
132.084
133.678
135.292
136.925
138.578
140.251
141.945
143.658
145.392
147.148
148.924
150.722
152.542
154.383
156.247

Material B
c
d
140.958
133.061
142.659
134.668
144.382
136.294
146.125
137.939
147.889
139.604
149.674
141.290
151.481
142.995
153.310
144.721
155.160
145.469
157.034
148.237
158.929
150.026
160.848
151.838
162.790
153.671
164.755
155.526
166.744
157.403
168.757
159.303
170.794
161.227
172.856
163.173
174.943
165.143
177.055
167.137
179.192
169.154
181.356
171.196

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

c
242.509
245.437
248.400
251.399
254.434
257.505
260.614
263.760
266.944
270.167
273.428
276.729
280.070
283.451
286.873
290.336
293.841
297.389
300.979
304.612
308.290
312.011

Material C
d
201.184
203.613
206.071
208.558
211.076
213.624
216.203
218.813
221.455
224.128
226.834
229.573
232.344
235.149
237.988
240.861
243.769
246.711
249.690
252.704
255.755
258.842

Tahun

e
209.100
211.624
214.179
216.765
219.382
22.030
224.711
227.423
230.169
232.948
235.760
238.606
241.486
244.402
247.352
250.338
253360
256.419
259.515
262.648
265.818
269.027

d
55.374
56.042
56.719
57.403
58.096
58.798
59.507
60.226
60.953
61.689
62.434
63.187
63.950
64.722
65.503
66.294
67.094
67.904
68.724
69.554
70.394
71.243

Material D
e
69.317
70.154
71.001
71.858
72.725
73.603
74.492
75.391
76.301
77.222
78.155
79.098
80.053
81.019
81.997
82.987
83.989
85.003
86.029
87.068
88.119
89.183

: 2000

f
128.484
130.035
131.605
133.193
134.801
136.429
138.076
139.743
141.430
143.137
144.865
146.614
148.384
150.175
151.988
153.823
155.680
157.559
159.461
161.386
163.335
165.307

Material E
68.439
69.265
70.101
70.947
71.804
72.671
73.548
74.436
75.334
76.244
77.164
78.096
79.039
79.993
80.959
81.936
82.925
83.926
84.939
85.965
87.003
88.053

Material F
32.748
33.143
33.543
33.948
34.358
34.773
35.193
35.617
36.047
36.483
36.923
37.369
37.820
38.277
38.739
39.206
39.680
40.159
40.643
41.134
41.631
42.133

Material G
165.896
167.899
169.925
171.977
174.053
176.154
178.281
180.433
182.611
184.816
187.047
189.305
191.590
193.903
196.244
198.613
201.011
203.438
205.894
208.379
210.895
213.441
Halaman 1

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
Material
A
158.133
160.042
161.974
163.930
165.909
167.911
169.939
171.990
174.066
176.168
178.295
180.447
182.625
184.830
187.061
189.320
191.605
193.918
196.259
198.629
201.027
203.453
205.909
208.395
210.911

Material B
c
d
183.545
173.263
185.761
175.355
188.003
177.472
190.273
179.614
192.570
181.783
194.895
183.977
197.248
186.198
199.629
188.446
202.039
190.721
204.478
193.023
206.946
195.354
209.445
197.712
211.973
200.099
214.532
202.514
217.122
204.959
219.743
207.434
222.396
209.938
225.081
212.472
227.798
215.037
230.548
217.633
233.331
220.261
236.148
222.920
238.999
225.611
241.884
228.334
244.804
231.091

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

c
315.778
319.590
323.448
327.353
331.305
335.305
339.353
343.449
347.596
351.792
356.039
360.337
364.687
369.090
373.545
378.055
382.619
387.238
391.913
396.644
401.433
406.279
411.183
416.147
421.171

Material C
d
261.967
265.130
268.331
271.570
274.848
278.166
281.524
284.923
288.363
291.844
295.367
298.933
302.542
306.194
309.891
313.632
317.418
321.250
325.128
329.053
333.026
337.046
341.115
345.233
349.401

Tahun

e
272.275
275.562
278.889
282.256
285.663
289.112
192.602
296.134
299.709
303.328
306.989
310.695
314.446
318.242
322.084
325.973
329.908
333.891
337.921
342.001
346.130
350.308
354.537
358.817
363.149

d
72.103
72.974
73.855
74.746
75.649
76.562
77.486
78.422
79.369
80.327
81.296
82.278
83.271
84.276
85.294
86.324
87.366
88.420
89.488
90.568
91.661
92.768
93.886
95.021
96.169

Material D
e
90.259
91.349
92.452
93.568
94.698
95.841
96.998
98.169
99.354
100.553
101.767
102.996
104.239
105.498
106.771
108.060
109.365
110.685
112.021
113.374
114.742
116.127
117.529
118.948
120.384

: 2000

f
167.302
169.322
171.366
173.435
175.529
177.648
179.792
181.963
184.159
186.383
188.633
190.910
193.215
195.547
197.908
200.297
202.715
205.162
207.639
210.146
212.683
215.250
217.849
220.479
223.140

Material E
89.116
90.192
91.280
92.382
93.498
94.626
95.769
96.925
98.095
99.279
100.478
101.691
102.918
104.161
105.418
106.691
107.979
109.283
110.602
111.937
113.288
114.656
116.040
117.441
118.859

Material F
42.642
43.157
43.678
44.205
44.739
45.279
45.825
46.379
46.938
47.505
48.079
48.659
49.246
49.841
50.443
51.052
51.668
52.292
52.923
53.562
54.208
54.863
55.525
56.295
56.874

Material G
216.018
218.625
221.265
223.936
226.639
229.375
232.144
234.947
237.783
240.654
243.559
246.499
249.475
252.487
255.535
258.620
261.742
264.902
268.100
271.336
274.612
277.927
281.283
284.678
288.115
Halaman 2

Propinsi
Dati2
Nomor
lantai
48
49
50

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
Material
A
213.457
216.034
218.642

Material B
c
d
247.760 233.881
250.751 236.704
253.778 239.562

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

c
426.256
431.402
436.610

Material C
d
353.619
357.888
362.208

Tahun

e
367.533
371.970
376.461

d
97.329
98.504
99.694

Material D
e
121.838
123.308
124.797

f
225.834
228.561
231.320

2000
Material E
120.294
121.746
123.216

Material F
57.561
58.255
58.959

Material G
291.593
295.113
198.676
Halaman 3

TABEL DBKB KOMPONEN MATERIAL GOLONGAN D

Propinsi
Dati2
Nmr
Lan
tai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Material A
d
e
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
5 9.108
6 0.833
6 1.566
6 2.311
6 3.063
6 3.825
6 4.595
6 5.375
6 6.164
6 6.963
6 7.771
6 8.589
6 9.417
7 0.255
7 1.104
7 1.962
7 2.831
7 3.710
7 4.800
7 5.500
7 6.412

xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
3 6.557
3 6.998
3 7.445
3 7.897
3 8.355
3 8.816
3 9.266
3 9.760
4 0.240
4 0.726
4 1.218
4 1.715
4 2.219
4 2.729
4 3.245
4 3.767
4 4.295
4 4.830
4 5.371
4 5.919
4 6.473

Mat erial B
e
f
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
4 2.554
4 3.068
4 3.588
4 4.114
4 4.647
4 5.186
4 5.731
4 5.283
4 6.842
4 7.408
4 7.980
4 8.559
4 9.145
4 9.739
5 0.359
5 0.947
5 1.562
5 2.184
5 2.814
5 3.452
5 4.097

T anggal P roses : 0 1 J anuari 2000

xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
2 3.456
2 3.739
2 4.025
2 4.315
2 4.609
2 4.906
2 5.207
2 5.511
2 5.819
2 6.131
2 6.448
2 6.765
2 7.068
2 7.415
2 7.746
2 8.081
2 8.420
2 8.764
2 9.111
2 9.462
2 9.818

f
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
6 7 .226
6 8 .038
6 8 .859
6 9 .690
7 0 .552
7 1 .383
7 2 .245
7 3 .117
7 4 .000
7 4 .893
7 5 .797
7 6 .712
7 7 .638
7 8 .576
7 9 .524
8 0 .484
8 1 .456
8 2 .439
8 3 .434
8 4 .442
8 5 .461

Material C
g
h
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
8 3 .639
8 4 .649
8 5 .673
8 6 .705
8 7 .751
8 8 .811
8 9 .883
9 0 .968
9 2 .066
9 3 .178
9 4 .303
9 5 .441
9 6 .593
9 7 .759
9 6 .940
100.134
101.343
102.566
103.804
105.058
106.326

xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
5 2.637
5 3.272
5 3.916
5 4.566
5 5.225
5 5.892
5 6.587
5 7.249
5 7.941
5 8.640
5 9.348
6 0.064
6 0.790
6 1.523
6 2.266
6 3.018
6 3.779
6 4.549
6 5.328
6 6.117
6 6.915

i
x.xxx
x.xxx
x.xxx
9 .3 75
9 .4 89
9 .6 03
9 .7 19
9 .8 37
9 .9 55
1 0.076
1 0.197
1 0.320
1 0.445
1 0.571
1 0.699
1 0.828
1 0.959
1 1.091
1 1.225
1 1.380
1 1.497
1 1.635
1 1.777
1 1.919

Tahun
Material D
g
h
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
3 3.592
3 3.987
3 4.398
3 4.813
3 5.233
3 5.659
3 6.089
3 6.325
3 6.966
3 7.412
3 7.864
3 8.321
3 8.763
3 9.251
3 9.725
4 0.205
4 0.690
4 1.182
4 1.679
4 2.182
4 2.691

xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
1 1.251
1 1.387
1 1.524
1 1.663
1 1.804
1 1.947
1 2.091
1 2.237
1 2.384
1 2.534
1 2.885
1 2.838
1 2.983
1 3.150
1 3.309
1 3.470
1 3.532
1 3.797
1 3.963
1 4.132
1 4.303

Material
E
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
5 4 .479
5 5 .137
5 5 .803
5 6 .476
5 7 .158
5 7 .848
5 8 .546
5 9 .283
5 9 .969
6 0 .693
6 1 .425
6 2 .167
6 2 .917
6 3 .677
6 4 .446
6 5 .224
6 6 .011
6 6 .808
6 7 .614
6 8 .431
6 9 .257

d
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
2 0.770
2 1.021
2 1.274
2 1.531
2 1.791
2 2.054
2 2.320
2 2.590
2 2.863
2 3.139
2 3.416
2 3.701
2 3.987
2 4.276
2 4.569
2 4.866
2 5.166
2 5.470
2 5.778
2 6.089
2 6.404

: 2000

Mat erial F
e
f
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
2 4.016
2 4.306
2 4.599
2 4.896
2 5.197
2 3.501
2 5.809
2 6.120
2 6.435
2 6.755
2 7.078
2 7.405
2 7.736
2 8.070
2 8.409
2 8.752
2 9.098
2 9.451
2 9.808
3 0.166
3 0.530

2 5.506
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
2 6.440 1 8 .688
2 6.760 1 8 .914
2 7.083 1 9 .142
2 7.410 1 9 .373
2 7.741 1 9 .607
2 8.075 1 9 .844
2 8.414 2 0 .083
2 8.757 2 0 .326
2 9.105 2 0 .571
2 9.456 2 0 .819
2 9.812 2 1 .071
3 0.171 2 1 .325
3 0.536 2 1 .582
3 0.904 2 1 .843
3 1.277 2 2 .107
3 1.655 2 2 .374
3 2.027 2 2 .544
3 2.424 2 2 .917
3 2.815 2 3 .194
3 3.212 2 3 .474
3 3.612 2 3 .7557

f
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
6 0.636
6 1.358
6 2.108
6 2.858
6 3.617
6 4.385
6 5.182
6 5.349
6 6.745
6 7.551
6 8.366
6 9.192
7 0.027
7 0.873
7 1.728
7 2.594
7 3.470
7 4.357
7 5.255
7 6.164
7 7.083

Material G
i

xx.xxx 7 6 .888
xx.xxx xx.xxx
xx.xxx xx.xxx
5 5.538 7 9 .499
5 6 209 8 0 .459
5 6.887 8 1 .431
5 7.574 8 2 .414
5 8.269 8 3 .408
5 8.973 8 4 .475
5 9.084 8 5 .435
6 0.405 8 6 .486
6 1.134 8 7 .510
6 1.872 8 8 .566
6 2.619 8 9 .635
6 3.375 9 0 .717
6 4.140 9 1 .518
6 4.915 9 2 .921
6 5.090 9 4 .043
6 6.491 9 5 .178
6 7.294 9 5 .527
6 8.106 9 7 .490
6 8.929 9 8 .667
6 9.761 9 9 .858
7 0.603 101.064

6 7.688
xx.xxx
xx.xxx
6 9.734
7 0.575
7 1.427
7 2.290
7 3.162
7 4.046
7 4.940
7 5.844
7 6.760
7 7.687
7 8.624
7 9.574
8 0.534
8 1.506
8 2.190
8 3.486
xx.xxx
8 5.514
8 6.547
8 7.591
8 8.649

2 6.857
xx.xxx
xx.xxx
2 7.842
2 8.178
2 8.518
2 8.862
2 9.211
2 9.583
2 9.920
3 0.281
3 0.647
3 1.017
3 1.391
3 1.770
3 2.154
3 2.542
3 2.935
3 3.333
xx.xxx
3 4.142
3 4.554
3 4.971
3 5.394

3 3.204
xx.xxx
xx.xxx
3 4.421
3 4.836
3 5.257
3 5.682
3 6.113
3 6.548
3 6.990
3 7.437
3 7.889
3 8.346
3 6 .xxx
3 9.278
3 9.752
4 0.232
4 0.718
4 1.209
xx.xxx
4 2.210
4 2.720
4 3.235
4 3.757

13.863
xx.xxx
xx.xxx
14.372
14.545
14.721
14.898
15.078
15.260
15.454
15.631
15.820
16.011
16.204
16.399
16.597
16.798
17.001
17.206
xx.xxx
17.624
17.837
18.052
18.270

H alaman 1

Propinsi
Dati2
Nmr
Lan
t ai
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Material A
d
e
7 7 .334
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
8 2 .116
8 3 .108
8 4 .111
8 5 .126
8 6 .154
8 7 .194
8 8 .247
8 9 .312
9 0 .390
9 1 .482
9 2 .586
9 3 .704
9 4 .585
9 5 .980
9 7 .189
9 8 .311
9 9 .405
100.699
101.915
103.145
104.390

47.034
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
49.943
50.545
51.156
51.773
52.398
53.031
53.671
54.319
54.975
55.638
56.310
56.990
57.578
58.374
59.079
59.792
6 0 .xxx
61.244
6 1 .xxx
62.732
63.489

Material B
e
f
54.750
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
58.838
59.548
60.267
60.004
61.731
62.476
63.230
63.993
64.766
65.546
66.339
67.140
67.951
68.771
69.601
70.441
71.292
72.152
73.023
73.905

T anggal P roses : 0 1 J anuari 2000

30.178
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
32.431
32.822
33.219
33.520
34.025
34.436
34.852
35.273
35.698
36.129
36.566
37.007
37.454
37.996
38.364
38.827
39.295
39.770
40.250
40.735

f
8 6 .493
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
9 1 .841
9 2 .950
9 4 .072
9 5 .208
9 6 .353
9 7 .520
9 8 .598
9 9 .889
1 01.095
1 02.316
1 03.551
1 04.801
1 06.066
1 07.346
1 08.642
1 09.954
1 11.261
1 12.625
1 13.984
1 15.360
1 16.753

Material C
g
h
107.609
xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
114.954
115.643
117.039
118.452
119.882
121.329
122.794
124.276
125.777
127.295
128.832
130.387
131.961
133.554
135.167
136.798
138.450
140.121
141.813
143.525
145.258

67.723
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
71.910
72.778
73.657
74.546
75.446
76.357
77.279
78.212
79.156
80.111
81.079
82.057
83.048
81.051
65.065
86.092
8 7 .xxx
88.183
8 8 .xxx
90.325
91.416

Tahun

i
12.063
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
12.809
12.963
13.120
13.278
13.438
13.601
13.765
13.931
14.099
14.269
14.442
14.616
14.793
14.971
15.152
15.335
15.820
15.707
15.897
16.089
16.283

Mat erial D
g
h
43.206
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
45.678
46.432
46.993
47.560
48.134
48.715
49.303
49.898
50.501
51.110
51.727
52.352
52.984
53.624
54.271
54.926
5 5 .xxx
56.260
56.940
57.627
58.323

14.475
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
15.370
15.556
15.744
15.934
16.120
16.321
16.518
16.717
16.919
17.123
17.330
17.539
17.751
17.965
18.182
18.402
18.628
18.849
18.078
19.307
19.540

Mat erial
E
7 0 .093
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
7 4 .427
7 5 .326
7 6 .235
7 7 .155
7 8 .087
7 9 .029
7 9 .983
8 0 .949
8 1 .928
8 2 .915
8 3 .916
8 4 .929
8 5 .955
8 6 .992
8 8 .042
8 9 .105
xx.xxx
9 1 .270
9 2 .372
9 3 .487
9 4 .615

d
26.722
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
28.375
28.717
29.084
29.415
29.770
30.129
30.493
30.861
31.234
31.611
31.993
32.379
32.770
33.165
33.586
33.971
xx.xxx
34.796
35.216
35.641
36.072

: 2000

Material F
e
f
30.899
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
32.809
33.205
33.505
34.012
34.423
34.838
35.259
35.684
36.115
36.551
36.993
37.439
37.891
38.348
38.812
39.280
xx.xxx
40.234
41.720
41.211
41.709

34.018
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
35.122
36.558
36.999
37.446
37.898
38.355
38.818
39.287
39.761
40.241
40.727
41.219
41.717
42.220
42.730
43.246
xx.xxx
44.296
44.531
45.372
45.920

Mat erial G
i

24.044
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
25.531
25.839
26.151
26.466
26.786
27.109
27.437
27.768
28.103
28.442
28.786
29.133
29.484
29.841
30.201
30.566
xx.xxx
31.308
xx.xxx
32.069
32.456

7 8 .014
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
8 2 .838
8 3 .838
8 4 .850
8 5 .874
8 6 .911
8 7 .960
8 9 .022
9 0 .097
9 1 .184
9 2 .285
9 3 .399
9 4 .527
9 5 .658
9 6 .823
9 7 .903
9 9 .175
xxx.xxx
101.584
xxx.xxx
104.051
105.307

71.455
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
75.874
76.790
77.717
78.655
79.605
80.566
81.538
82.523
83.519
84.527
85.547
86.580
87.525
88.683
8 9 .xxx
90.837
xx.xxx
93.044
xx.xxx
95.304
96.455

1 02.284
xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
xxx.xxx
1 08.609
1 09.920
1 11.247
1 12.590
1 13.949
1 15.325
1 16.717
1 18.126
1 19.552
1 20.995
1 22.456
1 23.934
1 25.435
1 26.945
1 28.472
1 30.028
xxx.xxx
1 33.186
xxx.xxx
1 36.422
1 38.069

8 9 .719
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
9 5 .267
9 6 .417
9 7 .581
9 8 .759
9 9 .951
1 01.158
1 02.379
1 03.615
1 04.586
1 06.132
1 07.413
1 08.710
1 10.222
1 11.350
1 1 1.xxx
1 14.055
xxx.xxx
1 16.826
1 1 8.xxx
1 19.663
1 21.108

35.821
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
38.036
38.495
38.960
39.430
39.906
40.388
40.875
41.369
41.868
42.374
42.885
43.403
83.927
44.457
44.995
45.537
xx.xxx
46.643
xx.xxx
47.776
48.353

44.286
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
xx.xxx
47.024
47.592
48.166
48.748
49.336
49.932
50.535
51.145
51.762
52.387
53.019
53.660
xx.xxx
54.963
xx.xxx
56.298
xx.xxx
57.666
xx.xxx
59.066
59.779

18.490
xx.xxx
18.940
xx.xxx
xx.xxx
19.834
19.871
20.111
20.353
20.599
20.848
21.100
21.354
21.612
21.873
2 2.1xx
22.404
xx.xxx
22.948
xx.xxx
23.506
xx.xxx
24.077
xx.xxx
24.662
24.958

H alaman 2

DAFTAR HARGA FASILITAS

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Jenis Komponen
AIR CONDITIONING (AC)
AC Split
Daya 1 PK
Daya 1,5 PK
Daya 2 PK
Daya 2,5 PK
Daya 3 PK

Tahun

: 2000

Nilai

Satuan

6.528.547
7.972.650
10.560.000
12.906.667
17.058.462

Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit

AC Window
Daya 0,5 PK
Daya 1 PK
Daya 1,5 PK
Daya 2 PK

3.173.626
4.567.037
5.242.149
6.270.000

Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit

AC Floor
Daya 2 PK
Daya 2,5 PK
Daya 3 PK
Daya 5 PK
Daya 10 PK
Daya 15 PK
Daya 20 PK
Daya 25 PK
Daya 30 PK

7.167.884
8.435.376
10.190.081
32.204.870
53.368.071
83.732.663
104.665.829
137.790.838
150.672.786

Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit
Rp/Unit

AC Central
JPB 2
JPB 7 Kamar
JPB 7 Ruangan Lain
JPB 4
JPB 5 Kamar
JPB 5 Ruangan Lain
JPB 13 Ruang Apartemen
JPB Ruang Lain
Bangunan Lain
LIFT
Passenger Lift
< 5 Lantai
5 - < 10 Lantai
10 - < 20 Lantai
> 20 Lantai
Service Lift
< 5 Lantai
5 - < 10 Lantai
10 - < 20 Lantai
> 20 Lantai
ESCALATOR
Lebar < 0,8 m
Lebar > 0,8 m
PAGAR
Pagar Batako
Tinggi s/d 1 m
Tinggi > 1 m s/d 1,5 m
Tanggal Proses : 01 Januari 2000

674.086
758.347
505.565
421.304
758.347
421.304
758.347
505.565
252.782

Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai

694.024.187
1.445.883.722
2.024.237.211
2.602.590.700

Rp/Pass
Rp/Pass
Rp/Pass
Rp/Pass

Lift
Lift
Lift
Lift

542.426.759
904.044.598
1.687.549.916
2.410.785.594

Rp/Service
Rp/Service
Rp/Service
Rp/Service

Lift
Lift
Lift
Lift

404.523.797 Rp/Unit Escalator


494.417.973 Rp/Unit Escalator

125.105 Rp/m
159.088 Rp/m
Halaman : 1

DAFTAR HARGA FASILITAS

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Jenis Komponen
Tinggi > 1,5 m s/d 2 m
Tinggi > 2 m s/d 2,5 m
Tinggi > 2,5 m s/d 3 m
Pagar Bata
Tinggi s/d 1 m
Tinggi > 1 m s/d 1,5 m
Tinggi > 1,5 s/d 2 m
Tinggi > 2 s/d 1 m
Tinggi > 2,5 s/d 3 m
Pagar Beton Pracetak
Tinggi 2 m
Tinggi 2,3 m
Tinggi 2,4 m
Tinggi 2,5 m
Tinggi 2,8 m
Tinggi 3 m

Tahun
Nilai

2000

Satuan
193.070 Rp/m
244.136 Rp/m
282.386 Rp/m

101.446
124.965
148.481
189.082
216.869

Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m

122.500
131.688
140.875
145.468
168.438
179.922

Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m

Pagar Besi
Tinggi s/d 1 m
Tinggi > 1 m s/d 1,5
Tinggi > 1,5 m s/d 2
Tinggi > 2 m s/d 2,5
Tinggi > 2,5 m s/d 3

m
m
m
m

70.875
135.587
167.943
201.839
235.736

Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m

Pagar BRC
Tinggi s/d 1 m
Tinggi > 1 m s/d 1,5
Tinggi > 1,5 m s/d 2
Tinggi > 2 m s/d 2,5
Tinggi > 2,5 m s/d 3

m
m
m
m

105.759
124.100
172.882
194.347
229.859

Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m
Rp/m

10.315
33.543
16.994
434.623

Rp/m2 Lantai
Rp/m2 Lantai
Rp/m2 Lantai
Rp/1 Lantai

PROTEKSI API
Hydrant
Sprinkler
Alarm
Intercom
GENSET
< 100
100 - < 250
250 - < 500
> = 500

3.851.435
2.995.561
2.335.045
2.114.873

PABX
Biaya Sistem PABX

5.243.728 Rp/Saluran

SUMUR ARTESIS
Biaya Sumur Artesis
AIR PANAS
JPB 2
JPB 4
JPB 5
JPB 7
JPB 12
JPB 13

Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA

468.517 Rp/m dlm sumur


11.227
5.173
62.592
46.011
5.422
87.852

Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai

LISTRIK
Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Halaman : 2

DAFTAR HARGA FASILITAS

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Jenis Komponen
JPB 1
JPB 2, 9, 16
JPB 3, 8
JPB 4, 6, 14
JPB 7
JPB 5, 13
PENANGKAL PETIR
Biaya Sistem Penangkal Petir
PENGOLAHAN LIMBAH
JPB 2, 16
JPB 3, 4, 8
JPB 5
JPB 7
JPB 12
JPB 13
TATA SUARA
Biaya Sistem Tata Suara

Tahun
Nilai

1.011.094
2.488.694
777.779
1.866.520
2.799.780
2.799.780

2000
Satuan
Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA
Rp/KVA

1.764.307 Rp/Ttk. Petir/1 Lantai


5.262
2.425
29.338
21.567
2.542
41.178

Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2
Rp/m2

Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai
Lantai

4.968 Rp/m2 lt. Tt. Suara

VIDEO INTERKOM
Biaya Sistem Video Interkom

74.127 Rp/m2 lt. Video Int.

TELEVISI (TV)
MA TV
CCTV

59.333 Rp/m2 lt. MATV


2.715 Rp/m2 lt. CCTV

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Halaman : 3

17 KOLAM RENANG
Propinsi
Dati2
Tahun

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
: 2000

Luas (m2)
< 50
51 s.d. 100
101 s.d. 200
201 s.d. 400
> 400

Plester
1.178.687
1.068.619
783.445
744.720
709.257

*)
1.375.676
1.262.088
956.127
914.079
876.394

18 PERKERASAN
Propinsi
Dati2
Tahun

:
:
:

Jenis Perkerasan
RINGAN
SEDANG
KERAS

31 DKI JAKARTA
74 JAKARTA BARAT
2000
Nilai (Rp/m2)
143.668
237.809
660.001

19 LAPANGAN TENIS

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Jenis Lantai

SATU BAN
Dgn. Lampu
279.105.860
232.495.181
223.284.688

BETON
ASPAL
TANAH
21 RESERVOIR

Tahun

Nilai DBKB

2000
LEBIH DARI SATU BAN

Tanpa Lampu
253.732.600
211.359.256
202.986.080
8.102

Dgn. Lampu
265.815.105
217.968.386
212.652.084

Tanpa Lampu
196.463.492
161.100.063
157.170.794
(Rp/m2 luas lantai bangunan)

TABEL SANITASI

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
*)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

*)

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

17.472
*)
17.896
*)
14.331
*)
18.776
*)
13.232
*)
*)
*)
20.178
*)
*)
*)
23.370
*)
21.684
*)
*)
*)
22.750
*)
23.303
*)
23.802
*)
24.445
*)
25.043
*)
*)

*)

Tahun

8.578
8.681
8.786
8.892
9.000
9.108
9.218
9.330
9.442
9.562
9.672
9.788
9.906
10.026
10.147
10.270
10.394
10.519
10.646
10.775
10.905
11.03X
11.170
11.301
11.441
11.573
11.719
11.800
12.003
12.148
12.295
12.443
12.594

*)

106.348
107.032
108.931
110.246
111.577
112.024
114.288
115.567
117.064
118.477
119.907
121.355
122.820
124.303
125.803
127.323
128.859
130.415
131.989
133.582
135.195
*)
138.479
140.151
141.843
*)
145.288
*)
148.817
*)
152.432
*)
156.135

:
*)

87.089
88.141
89.205
90.282
91.372
92.475
93.591
94.721
95.864
97.022
98.193
99.378
100.578
101.792
103.021
104.265
105.524
106.798
108.087
109.392
110.712
112.049
113.402
114.771
116.156
117.558
118.978
120.414
121.868
123.339
124.828
126.335
127.860

2000
*)

9.400
9.513
9.628
9.744
9.862
9.981
10.101
10.223
10.347
10.472
10.598
10.726
10.855
10.985
11.119
11.253
11.389
11.527
11.666
11.807
11.949
12.XXX
12.239
12.387
12.537
12.088
12.841
12.995
13.153
13.312
13.473
*)
13.800

*)

148.593
150.387
152.202
154.040
155.899
157.782
159.686
161.xxx
163.565
165.540
167.538
169.561
171.608
173.XXX
175.776
177.XXX
180.046
182.219
184.419
186.XXX
188.899
*)
193.487
195.823
198.187
*)
203.001
225.452
207.932
210.442
212.983
*)
218.156

Halaman : 1

TABEL SANITASI

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT
*)
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

*)

*)
26.274
*)
*)
*)
*)
*)
28.235
*)
28.921
*)
*)
*)
30.343
*)
31.080
*)

Cat : *) Dokumen sumber tidak jelas

*)

Tahun

12.745
12.900
13.054
13.213
13.352
13.534
13.697
13.863
14.030
14.199
14.371
14.544
14.720
14.897
15.077
15.259
*)

*)

158.020
159.927
*)
263.812
*)
167.791
168.817
171.867
173.947
176.041
178.167
180.317
182.494
184.697
185.184
189.184
*)

:
*)

129.403
130.966
132.547
134.147
135.766
137.405
139.064
140.743
142.442
144.162
145.663
147.663
149.446
151.250
154.924
154.924
156.794

2000
*)

13.966
14.135
14.306
14.478
*)
14.830
15.009
15.190
15.374
15.559
15.937
15.937
16.130
16.324
16.721
16.721
*)

*)

220.790
223.455
*)
228.883
*)
234.443
237.273
240.137
243.0xx
245.970
248.xxx
251.945
254.xxx
258.065
*)
264.335
*)

11 PLUMBING

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Tabel Harga

Lantai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

JPB 2

Tanggal Proses : 01 Januari 2000

Rp/m2 lantai
29.011
29.361
29.716
30.074
30.438
30.805
31.177
31.553
31.934
32.320
32.710
33.105
33.504
33.909
34.318
34.733
35.152
35.576
36.006
36.440
36.880
37.325
37.776
38.232
38.694
39.161
39.634
40.112
40.596
41.086
41.582
42.084

JPB 4

13.368
13.530
13.693
13.858
14.026
14.195
14.366
14.540
14.715
14.893
15.073
15.255
15.439
15.625
15.814
16.005
16.198
16.393
16.592
16.792
16.994
17.190
17.407
17.617
17.830
18.045
18.263
18.484
18.707
18.932
19.161
19.392

Tahun : 2000
JPB 5
161.745
163.696
165.676
167.672
169.701
171.747
173.821
175.917
178.042
180.194
182.368
184.570
186.795
189.053
191.333
193.647
195.983
198.347
200.744
203.164
205.617
208.098
210.613
213.155
215.731
218.334
220.971
223.636
226.335
229.067
231.832
234.631

JPB 7
118.899
120.333
121.788
123.255
124.747
126.251
127.776
129.317
130.878
132.460
134.059
135.678
137.313
138.973
140.649
142.350
144.067
145.805
147.567
149.346
151.149
152.973
154.821
156.690
158.583
160.497
162.436
164.395
166.379
168.387
170.420
172.477

JPB 12

14.012
14.181
14.353
14.526
14.702
14.879
15.058
15.240
15.424
15.611
15.799
15.990
16.182
16.378
16.576
16.776
16.978
17.183
17.391
17.601
17.813
18.028
19.246
18.466
18.689
18.915
19.143
19.374
19.608
19.845
20.084
20.327

JPB 13
227.020
229.759
232.537
235.338
238.186
242.058
243.969
246.912
249.893
252.914
255.966
259.057
262.179
265.348
268.549
271.796
275.075
278.393
281.758
285.154
288.597
292.079
295.609
299.177
302.792
306.447
310.148
313.888
317.676
321.510
325.392
329.320
Halaman : 1

Propinsi
Dati2

: 31 DKI JAKARTA
: 74 JAKARTA BARAT

Tabel Harga

Lantai
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

JPB 2

Rp/m2 lantai
42.592
43.107
43.627
44.154
44.687
45.226
45.772
46.325
46.884
47.450
48.023
48.603
49.189
49.783
50.384
50.992
51.608
52.231

JPB 4

19.626
19.864
20.103
20.346
20.592
20.840
21.092
21.347
21.604
21.865
22.129
22.396
22.666
22.940
23.217
23.497
23.781
24.068

Tahun : 2000
JPB 5
237.463
340.334
243.234
246.172
249.143
252.149
255.193
258.276
261.392
264.548
267.743
270.976
274.243
277.555
280.906
284.296
287.730
291.203

JPB 7
174.559
176.670
178.801
180.961
183.145
185.354
187.592
189.858
192.149
194.469
196.817
199.195
201.596
204.031
206.494
208.986
211.510
214.064

JPB 12

20.572
20.821
21.072
21.326
21.584
21.844
22.108
22.375
22.645
22.918
23.195
23.475
23.758
24.045
24.335
24.629
24.927
25.228

JPB 13
333.295
337.325
341.394
345.518
349.689
353.907
358.180
362.507
366.881
371.310
375.794
380.333
384.919
389.567
394.270
399.028
403.848
408.723

Lampiran 28
Lembar Kerja
NOP

PROP

KAB/KOTA

LUAS STRUKTUR BANGUNAN


LUAS BASEMEN
JML. LANTAI BANGUNAN
JML. LANTAI BASEMEN
I.

II.

=
=
=
=

KEC .

KEL.

BLOK

BIAYA KOMPONEN UTAMA/M2


Struktur utama

Basemen

BIAYA KOMPONEN MATERIAL/M2


A. Material dinding dalam
Struktur utama

Basemen

B. Material dinding luar

C . Pelapis dinding dalam


Super struktur

Basemen

D. Pelapis dinding luar

E. Langit-langit

F. Penutup atap

G. Penutup Lantai
Super struktur

Basemen

H. Sanitasi
Super struktur

Basemen

I. Plumbing
Super struktur

Basemen

NO.URUT

-/9

M2
M2
Lt
Lt

PERHITUNGAN NJOP BANGUNAN


JPB = 1-2-4-5-6-7-9-11-12-13-16

M2
M2

x
x

Rp.
Rp.

=
=

Rp.
Rp.

M2
M2
M2

x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.

M2
M2
M2
M2
M2

x
x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

M2
M2

x
x

Rp.
Rp.

=
=

Rp.
Rp.

M2
M2

x
x

Rp.
Rp.

=
=

Rp.
Rp.

M2
M2

x
x

Rp.
Rp.

=
=

Rp.
Rp.

(+)

(+)

III. BIAYA KOMPONEN FASILITAS


Fasilitas pendukung (dari formulir fasilitas
NILAI SEBELUM DISUSUTKAN
IV.

PENYUSUTAN
NILAI PENYUSUTAN
NILAI SETELAH DISUSUTKAN

V.

FASILITAS (tidak perlu disusutkan)


Daya Listrik

AC Split

AC Window

AC Floor

NJOP BANGUNAN
NJOP BANGUNAN/m2

Rp.

Rp.

Rp.
Rp.
%

KV A
Buah
Buah
Buah

x
x
x
x

Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

Rp.
Rp.

Rp.

Rp.
Rp.

Lembar Kerja
NOP

PROP

KAB/KOTA

KEC .

KEL.

BLOK

NO.URUT

-/9

LEBAR BENTANG = M
TINGGI KOLOM = M
LUAS BANGUNAN = M2
I.

II.

BIAYA KOMPONEN UTAMA/M2


Struktur utama

Daya dukung lantai

Mezzanin

BIAYA KOMPONEN MATERIAL/M2


A. Material dinding
dalam

B. Material dinding luar

C . Pelapis dinding dalam

D. Pelapis dinding luar

E. Langit-langit

F. Penutup atap

G. Penutup Lantai
Lantai Gudang

Mezzanin

H. Sanitasi

I. Plumbing

PERHITUNGAN NJOP BANGUNAN


JPB = 3-8

M2
M2
M2

x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.

M2
M2

x
x

Rp.
Rp.

=
=

Rp.
Rp.

M2
M2
M2
M2

x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

M2
M2
M2
M2

x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

III. BIAYA KOMPONEN FASILITAS


Fasilitas pendukung (dari formulir fasilitas
NILAI SEBELUM DISUSUTKAN
IV.

PENYUSUTAN
NILAI PENYUSUTAN
NILAI SETELAH DISUSUTKAN

V.

FASILITAS (tidak perlu disusutkan)


Daya Listrik

AC Split

AC Window

AC Floor

NJOP BANGUNAN
NJOP BANGUNAN/m2

Rp.

Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
KV A
Buah
Buah
Buah

x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

(+)

(+)

Rp.

(+)

Rp.
Rp.

Lembar Kerja
NOP
PROP

KAB/KOTA

KEC .

KEL.

BLOK

LUAS KANOPI
= M
JUMLAH KANOPI = M
I.

BIAYA KOMPONEN UTAMA/M2


Kanopi

II.

BIAYA KOMPONEN FASILITAS


Fasilitas pendukung (dari formulir fasilitas)
NILAI SEBELUM DISUSUTKAN

III. PENYUSUTAN
NILAI PENYUSUTAN
NJOP BANGUNAN
NJOP BANGUNAN/m2

NO.URUT

-/9
PERHITUNGAN NJOP BANGUNAN
JPB = 14

M2 x Rp. = Rp.

= Rp. (+)
= Rp.
%

x Rp. = Rp. (-)


= Rp.
= Rp.

Lembar Kerja
NOP
PROP

KAB/KOTA

KEC .

KEL.

BLOK

NO.URUT

-/9

KAPASITAS = M3

I.

BIAYA KOMPONEN UTAMA/M2


Kapasitas tangki

II.

BIAYA KOMPONEN FASILITAS


Fasilitas pendukung (dari formulir
fasilitas)
NILAI SEBELUM DISUSUTKAN

III.

PENYUSUTAN
NILAI PENYUSUTAN
NJOP BANGUNAN

PERHITUNGAN NJOP BANGUNAN


JPB = 15

M3

Rp.

Rp.

Rp.

(+)

Rp.

Rp.

(-)

Rp.

Lembar Kerja
NOP
PROP

KAB/KOTA

LUAS STRUKTUR BANGUNAN


LUAS BASEMEN
JML. LANTAI BANGUNAN
JML. LANTAI BASEMEN
I.

II.

III.

IV.

V.

VI.
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.
XIV.

XV.

AC Central
JPB 7,5,13

Lift

Escalator

Pagar

Proteksi api

=
=
=
=

KEL.

BLOK

NO.URUT

-/9

M2
M2
Lt
Lt

PERHITUNGAN NJOP BANGUNAN


JPB = 1-2-4-5-6-7-9-11-12-13-16

Bangunan Lain
Kamar
Ruangan Lain

M2 x Rp.
M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.
= Rp.

(+)

Penumpang
Barang

Unit

x Rp.
x Rp.

= Rp.
= Rp.

(+)

L < 0,8 m
L > 0,8 m

Unit

x Rp.
x Rp.

= Rp.
= Rp.

(+)

Batako
Batako
Beton pracetak
Besi
BRC

M
M
M
M
M

x
x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

Hydrant
Sprinkler
Alarm
Intercom

M2
M2
M2
M2

x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

M2 x Rp.
M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.
= Rp.

M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.

M2 x Rp.

= Rp.

M2
M2
M2
M2

=
=
=
=

M2 x Rp.
M2 x Rp.

PABX
Sumur artesis
Sistem air
panas
Penangkal Petir
Sistem
pengolahan
limbah
Sistem tata
suara
Video intercom
Reservoir
TV MATV
CCTV
Kolam renang

KEC .

Plester
Pelapis

Unit

Unit

x
x
x
x

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

(+)

= Rp.
= Rp.

(+)

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

Rp.

XVI.

XVII.

Perkerasan

Lapangan tenis

JUMLAH NILAI
FASILITAS

Ringan
Sedang
Keras
DENGAN LAMPU
Beton
Aspal
Tanah liat
TANPA LAMPU
Beton
Aspal
Tanah liat

M2 x Rp.
M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.
= Rp.

M2 x Rp.
M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.
= Rp.

M2 x Rp.
M2 x Rp.
M2 x Rp.

= Rp.
= Rp.
= Rp.

(+)
(+)
(+)

(+)

Rp.

Rp. (+)
Rp.

Lampiran 29
TABEL PENYUSUTAN
UMUR
EFEKTIF
(tahun)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

SB
0
3
5
8
10
13
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15
15

< Rp.275.000,B
S
0
0
4
6
9
12
13
17
16
22
20
27
23
31
27
35
30
39
30
43
30
46
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50

Biaya Pengganti Baru per m2 dan Kondisi pada Umumnya


Rp. 275.000 Rp. 475.000,J
SB
B
S
J
SB
0
0
0
0
0
0
6
2
4
5
6
2
16
5
7
9
11
4
23
7
10
13
17
5
29
9
13
17
21
7
35
11
16
21
26
9
40
13
19
24
30
10
45
15
22
28
34
12
50
15
25
31
38
13
54
15
27
34
42
15
58
15
30
37
45
15
61
15
30
40
48
15
64
15
30
43
51
15
67
15
30
45
54
15
70
15
30
48
57
15
70
15
30
50
59
15
70
15
30
50
62
15
70
15
30
50
64
15
70
15
30
50
66
15
70
15
30
50
68
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15
70
15
30
50
70
15

> Rp. 475.000,B


S
0
0
2
3
5
6
7
9
9
11
11
14
13
17
15
19
17
21
19
24
21
26
23
28
25
30
27
32
28
34
30
36
30
38
30
40
30
42
30
44
30
45
30
47
30
48
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50
30
50

J
0
4
7
11
14
18
21
24
27
30
32
35
37
40
42
44
46
48
50
52
54
56
57
59
61
62
64
65
66
68
69
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70

Lampiran 30
NO.
DATA

FORMULIR 1 : DATA TRANSAKSI JUAL BELI

PROP

NOP
1.

Alamat Properti

2.

Nomor Telepon

3.

Tanggal Transaksi

4.

Harga Transaksi (Rp)

5.

Jenis Data

6.

Sumber Data

7.

KETERANGAN TANAH

8.

9.

a.

Jenis Penggunaan Tanah

b.
c.
d.
e.
f.

Luas Tanah
Lebar sisi depan
Ketinggian dari paras jalan
Bentuk Tanah
Kedudukan Tanah

KAB/KOTA

1.

KEC

KEL

Jual Beli

1. PPAT

2. Broker/agen

1. Tanah ada
bangunan

1. Persegi
1. Sudut

2.

M2
M2
M

BLOK

NO. URUT

Hak Tanggungan
3. Lurah

2. Kaveling Siap
Bangun

3.
4. Pemilik

Penawaran
5. Lainnya

3. Tanah Kosong

2. Segitiga
2. Tengah

-/9

4. Lainnya

3. Tidak Beraturan
3. Ujung

KETERANGAN BANGUNAN
a.

Luas Bangunan

c.
e.

Tahun dibangun
Jenis Penggunaan

f.
g.
h.
i.

Kondisi pada umumnya


Konstruksi
Atap
Dinding

j.
k.
l.

Lantai
Langit-langit
Kolam renang

M2

b. Jumlah Tingkat
Lantai
Bangunan
b. Tahun Direnovasi
1. Perumahan
2. Perkantoran
3. Pabrik/Gudang
4. Toko/Ruko
5. Rumah Sakit
6. Olah Raga
7. Hotel
8. Pertanian
9. Penyelenggaraan Pemerintahan
10. Lain-lain
1. Sangat baik
2. Baik
3. Sedang
4. Jelek
1. Baja
2. Beton
3. Batu bata
4. Kayu
1. PPAT
2. Broker/agen
3. Lurah
4. Pemilik
5. Lainnya
1. Kaca
2. Beton
3. Batu
4. Kayu
5. Seng
6. Tidak
bata
ada
1. PPAT
2. Broker/agen
3. Lurah
4. Pemilik
5. Lainnya
1. Langit-langit
2. Tripleks/asbes/bambu
1. Ada
2. Tidak ada

FASILITAS
a.
b.
e.
f.

Jumlah Lift
Jumlah tangga berjalan
AC Sentral
Alat Pemadam Kebakaran

1. Ada
1. Hydrant

10. KETERANGAN LAIN

11. TANGGAL PENDATAAN


12. NAMA PENDATA
NIP

TANDA TANGAN :

b. Generator set (KVA)


b. Perkerasan Halaman (m2)
2. Tidak ada
2. Sprinkler/Fire Alarm

3. Tidak ada

FORMULIR 2 : ANALISA PENENTUAN NILAI PASAR WAJAR


Kota/Kab
Kecamatan
Kelurahan
No.

:
:
:

Alamat
NOP KODE
Tgl.
Objek Pajak
ZNT Transaksi
(Data
Transaksi)
2
3
4
5

Harga
Transaksi/
Penawaran
6

Penyesuaian
Waktu
Jenis
Data
7

Nilai
Pasar
Wajar

Harga
Bangunan

Luas

Tanah
Nilai
Tanah

10

11

12

Nilai
Tanah
per M2
13

FORMULIR 3 : ANALISA PENENTUAN NILAI INDIKASI RATA-RATA (NIR)


Kota/Kab
Kecamatan
Kelurahan
NO.

:
:
:

ALAMAT OBJEK
PAJAK (DATA
TRANSAKSI)

NOP

NILAI
TANAH
(M2)

LOKASI

PENYESUAIAN
INDIKASI
NILAI
NILAI TANAH
FAKTOR
JUMLAH
SETELAH
LAIN
PENYESUAIAN
ANALISA

KETERANGAN

FORMULIR 4 : ANALISA PERBANDINGAN NIR BARU DENGAN NIR LAMA


KOTA/KAB
:
KECAMATAN :
KELURAHAN :
NO.
1

ZNT BARU
KODE
NIR
2
3

ZNT LAMA
KODE
NIR
4
5

PERUBAHAN
KODE
NIR
6
7

ASSESSMENT KETERANGAN
RATIO
8
9

Lampiran 31

LEMBAR KERJA OBJEK KHUSUS (LKOK) LAPANGAN GOLF


Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah

A.

:
:
:
:

Rincian Luas
HOLE

Hole 1
Hole 2
Hole 3
Hole 4
Hole 5
Hole 6
Hole 7
Hole 8
Hole 9
Hole 10
Hole 11
Hole 12
Hole 13
Hole 14
Hole 15
Hole 16
Hole 17
Hole 18
Jumlah

TEE

GREEN

LUAS (m2)
FAIRWAY

BUNKER

DANAU

JUMLAH SPRINKLER

B.

Panjang Hole dan Jumlah Sprinkler


HOLE

Hole 1
Hole 2
Hole 3
Hole 4
Hole 5
Hole 6
Hole 7
Hole 8
Hole 9
Hole 10
Hole 11
Hole 12
Hole 13
Hole 14
Hole 15
Hole 16
Hole 17
Hole 18
Jumlah

PANJANG (m)

FAIRWAY

JUMLAH SPRINKLER
GREEN

TOTAL

LEMBAR KERJA OBJEK KHUSUS (LKOK) BANDAR UDARA


Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah
a.

Bangunan Khusus

NO.

JENIS BANGUNAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Runway
Taxiway, Fillet dan Alarm Area
Traffic Apron
Paved Shoulder
Jalan Inspeksi
Jalan Lingkungan
Jalan :uar
Perkerasan Parkir
Jembatan
dst.

b.

Bangunan Utama

NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

:
:
:
:

JENIS BANGUNAN
Bangunan Pemadam Kebakaran
Menara Pengawas
Ruang Mekanik
Bangunan Genset (Power House)
Kantor Pengendali
Bengkel/Garasi
Terminal Internasional
Terminal Domestik
Terminal VIP
Bangunan VIP
Kantor Penerbangan
Bangunan Ekspedisi
Bea Cukai dan Karantina
Bangunan Kargo
Restoran
Gerbang Utama
Dan Lain-lain

LUAS (M2)

KONDISI UMUM

LUAS (M2)

MATERIAL
SECARA UMUM

KONSTRUKSI/
KONDISI

Keterangan Teknis Berdasarkan Gambar Potongan


Pondasi
Lantai Kerja dan Bantalan
Permukaan

LANTAI

LANGIT2

ATAP

DINDING

c.
No.
1
2
3
4
5
9
10
11
12
13
14
15

Fasilitas Bangunan yang diperhitungkan


Jenis Fasilitas Bangunan
Perkerasan
Saluran PABX/telephone
Pagar Wiremesh
Pagar Tembok
Genset
AC Central, Cooling Tower
AC Split
AC Window
Lift Penumpang
Taman
Lampu (Approach Light)
Lain-lain

Luas/Berat/Panjang/Volume

Keterangan/Kondisi

LEMBAR KERJA OBJEK KHUSUS (LKOK) PELABUHAN LAUT


Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah

a.

:
:
:
:

Bangunan Khusus

NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
b.

BANGUNAN
Break Water
Jetty
Trestel
Fender
Bolard
Dock
Breasting Dolphin
Mooring Dolphin
dst.

Luas, Jumlah, Volume

KONSTRUKSI KONDISI UMUM

MATERIAL

KETERANGAN LAINNYA

Bangunan Utama

NO.

BANGUNAN

LUAS (M2)

1
2
3
4
5
6

Terminal Penumpang
Gudang
Bangunan Syah Bandar
Kantor Utama
Kantor Agen Pelayaran
Dan Lain-lain

c.

Fasilitas Bangunan yang Diperhitungkan


NO.
1
2
3
4
5
6

Perkerasan
Genset
Menara Lampu
AC Split
Lift
Dan lain-lain

Jenis Fasilitas Bangunan

KONSTRUKSI
KONDISI UMUM

LANTAI

LANGIT2

Luas/Berat/Panjang/Volume

MATERIAL

ATAP

DINDING

Keterangan/Kondisi

LEMBAR KERJA OBJEK KHUSUS (LKOK) INDUSTRI


Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah

A.

DATA KHUSUS

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
B.

:
:
:
:

Nama Unit Bangunan

Jumlah Unit

Material

Silo/Tangki
Cerobong
Kolom Beton
Water Tower
Jembatan Timbang
Konstruksi Baja
Pengolah Limbah
Lain-lain

Tinggi/Panjang

Volume Baja
Tebal

Diameter

Panjang

Volume Beton
Lebar

Tebal

DATA FASILITAS

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Item Fasilitas
Listrik
Genset
Perkerasan Jalan
Pagar
Lapangan Tenis
Kolam Renang
Sambungan Telepon (PABX)
Sumur Artesis
Water Treatment
Ban Berjalan/Konveyor
Lift Penumpang
Lift Barang

Kapasitas

Satuan
KVA
KVA
M2
M
Ban
M2
Line
M
M2
M
Unit
Unit

Merek

Keterangan Material

Lampiran 32
LEMBAR KERJA PENILAIAN PENDEKATAN PENDAPATAN
(Pendapatan dari Sewa)
Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah
Jenis Penggunaan Bangunan

:
:
:
:
:

A.

PENDAPATAN KOTOR POTENSIAL


Luas
: Basement

Lantai dasar

Lantai dua

Lantai tiga

Lantai
Lantai
Lantai
Lantai

B.

KEKOSONGAN STRUKTURAL

C.

D.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=
=
=
=
=

m2 X Rp.
PENDAPATAN KOTOR EFEKTIF
BIAYA-BIAYA OPERASI (OUT GOINGS)
1.
PBB
Rp.
2.
Asuransi
Rp.
3.
Biaya Manajemen
Rp.
4.
Pemeliharaan
Rp.

TINGKAT KAPITALISASI

m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2
m2

X
X
X
X
X
X
X
X

NILAI SEWA BERSIH SETAHUN


NILAI MODAL

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp. +
Rp.
Rp. Rp.

Rp. Rp.
X
Rp.

LEMBAR KERJA PENILAIAN PENDEKATAN PENDAPATAN


(Pendapatan dari Penjualan)
Contoh Objek Pajak Perhotelan
Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah
Jenis Penggunaan Bangunan
A.

PENDAPATAN KOTOR POTENSIAL


kamar @ Rp.
Kamar @ Rp.
Kamar @ Rp.
kamar @ Rp.

B.

KEKOSONGAN TETAP
DISKON/KOMISI

:
:
:
:
:

/malam
/malam
/malam
/malam

X
X
X
X

365
365
365
365

% = Rp.
% = Rp.

=
=
=
=
+

PENDAPATAN KOTOR EFEKTIF


C.

D.

E.

PENERIMAAN LAIN-LAIN
1.
Sewa ruang rapat
2.
Sewa ruang drugstore/business centre
3.
Pendapatan konsesi
4.
Makanan dan minuman
5.
Telephone dan Facsimile
6.
Laundry
7.
Olah raga
8.
Komisi taksi dll

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

BIAYA-BIAYA OPERASI
1.
Gaji karyawan
2.
Pembelian makanan & minuman
3.
Air/listrik/telephon
4.
Barang-barang
5.
Iklan/pemasaran
6.
Penggantian
7.
Laundry
8.
Gaji manajer
9.
Biaya-biaya lain

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

HAK PENGUSAHA 25% s/d 40%

KEUNTUNGAN BERSIH SETAHUN

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.

Rp.
Rp.

Rp. Rp.
Rp. -

F.

G.

NILAI SEWA KOTOR SETAHUN


BIAYA-BIAYA OPERASI (OUT GOINGS)
1.
PBB
Rp.
2.
Asuransi
Rp.
3.
Biaya Manajemen
Rp.
4.
Pemeliharaan
Rp.
TINGKAT KAPITALISASI

NILAI SEWA BERSIH SETAHUN


NILAI MODAL

Rp.

Rp. Rp.
X
Rp.

LEMBAR KERJA PENILAIAN PENDEKATAN PENDAPATAN


(PENDAPATAN DARI PENJUALAN)
CONTOH OBJEK PAJAK SPBU/POMPA BENSIN
Nomor Objek Pajak (NOP)
Nama Wajib Pajak
Alamat Wajib Pajak
Luas Tanah (m2)
A.

:
:
:
:

HASIL PENJUALAN TAHUN I


Premium :
Solar
:
Oli
:
Lain-lain :

liter
liter
liter
liter

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

PEMBELIAN TAHUN I
Premium :
Solar
:
Oli
:
Lain-lain :

+
= Rp.

liter
liter
liter
liter

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

KEUNTUNGAN TAHUN I
HASIL PENJUALAN TAHUN II
Premium : liter
Solar
: liter
Oli
: liter
Lain-lain : liter

+
= Rp.
= Rp.

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

PEMBELIAN TAHUN II
Premium :
Solar
:
Oli
:
Lain-lain :

+
= Rp.

liter
liter
liter
liter

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

KEUNTUNGAN TAHUN II
HASIL PENJUALAN TAHUN III
Premium : liter
Solar
: liter
Oli
: liter
Lain-lain : liter

+
= Rp.
= Rp.

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

PEMBELIAN TAHUN III


Premium :
Solar
:
Oli
:
Lain-lain :

+
= Rp.

X
X
X
X

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

=
=
=
=

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

liter
liter
liter
liter

(+)
(a)

(+)
(b)

B.

KEUNTUNGAN TAHUN III


Rata-rata keuntungan kasar/tahun

C.

Biaya-biaya operasi/tahun :
1. Gaji Pegawai
2. Listrik
3. Air
4. Telepon
5. Stationary (alat tulis)
6. Bunga atas stok dan modal
7. Pemeliharaan alat-alat
8. Lain-lain

D.
E.

Keuntungan bersih setelah operasi per tahun


Hak Pengusaha (40% - 50%) x Rp.

Sewa kasar per tahun


Pengeluaran lain (out going) :
1. Pengurusan harta (manajemen)
2. Pemeliharaan bangunan
3. Asuransi
4. Pajak-pajak

F.
G.

H.
I.

a+b+c
3
:
:
:
:
:
:
:
:

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

= Rp.
(+)
= Rp.
(c)
= Rp.

+
= Rp.
= Rp.
= Rp.
= Rp.

:
:
:
:

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Sewa bersih per tahun


Nilai Jual Objek Pajak :
Sewa bersih x tingkat kapitalisasi
Rp. x

= Rp.
= Rp.
= Rp.

Lampiran 33
DAFTAR PERUBAHAN DATA OBJEK/SUBJEK PBB
: (
)
: (
)
: (
)
: (
)
:

PROPINSI
DATI II
KECAMATAN
DESA
TAHUN
N
O
M
O
R
1

U Nomor Nomor
DATA LAMA
R Urut
B
N Letak Nama Bumi Bangunan
U Pere
L
O Objek
dan
L J Luas (m2)
T kaman O
Alamat U T
P
Wajib
A
K
Pajak
S
2

Nomor Bundel

DATA BARU
S PEKERJAAN NAMA
ALAMAT
Nomor
BUMI
BANGUNAN
T
Nama Jalan,
RW RT
KTP
LUAS KODE Jenis LUAS Jumlah
Nomor
M2
ZNT Tanah M2 Bangunan
A
Blok/Kavling/Dusun
T
U
S
10
11
12
13
14 15
16
17
18
19
20
21

*) Apabila terdapat bangunan, maka LSPOP/LSPOP Kolektif harus dilampirkan

KEPALA DESA

()

Lampiran 34
KANTOR PELAYANAN PBB
PENGAWASAN PEKERJAAN LAPANGAN
Tanggal
Nama Petugas
Nomor Blok

:
:
:

(NIP :
Desa/Kelurahan :

I. PELAKSANAAN KEGIATAN LAPANGAN


Jenis Kegiatan
-

Dilaksanakan
Ya
Tidak

Keterangan

Pengukuran OP
Pembuatan sket bidang
Pencantuman ukuran sisi T/B
Pemberian NOP pada Peta
Penempelan sticker NOP
Pengisian SPOP
Penandatanganan SPOP

II. PRESTASI KERJA


Periode
s/d minggu lalu
Minggu ini
s/d minggu ini

Pengukuran/Identifikasi/Verifikasi OP
Luas (m2)
Jumlah
Tanah
Bangunan
OP
Blok

Penyampaian SPOP
Dikirim
Kembali
Sisa

Keterangan

III. HAMBATAN/MASALAH YANG DITEMUI

IV. SARAN PEMECAHAN MASALAH

V.

LAIN-LAIN

PETUGAS,

PENGAWAS,

Lampiran 35
BERITA ACARA UJI PETIK
PENGUMPULAN DATA OBJEK PBB DAN PEMBERIAN NOP
Pada hari ini, tanggal yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
NIP
Pangkat
Jabatan

:
:
:
:

Telah melaksanakan uji petik terhadap hasil pengumpulan data objek PBB dan pemberian NOP dalam pembentukan basis data SISMIOP yang dilaksanakan di :
Desa/Kelurahan
:
Kecamatan
:
Dengan hasil sebagaimana daftar terlampir.
Demikian berita acara ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.
Petugas Lapangan

Yang melakukan uji petik

LAMPIRAN BERITA ACARA UJI PETIK PENGUMPULAN


DATA OBJEK PBB DAN PEMBERIAN NOP
*)

*)

Petugas Lapangan

*)

*)

*)

*)

*)

,
Yang melakukan uji petik

Lampiran 36
LAPORAN PERKEMBANGAN PENGUMPULAN DATA OBJEK PAJAK
KELURAHAN : .
KECAMATAN : .
MINGGU : BULAN :

PERMASALAHAN

PEMECAHAN

..
..
..
..

.., ..
PENGAWAS KEL. .

NIP.

Lampiran 37
DAFTAR PEMANTAUAN PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA OBJEK PAJAK
DALAM RANGKA PEMBENTUKAN BASIS DATA SISMIOP
WILAYAH KOTA :
NO.

KEC AMATAN/
KELURAHAN

NAMA
PENGAWAS
PETUGAS
LAPANGAN
LAPANGAN

JUMLAH OBJEK PAJAK YANG DIDATA PADA TANGGAL DALAM BULAN


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

JUMLAH OBJEK
PAJAK

Lampiran 38
LAPORAN MINGGUAN PENDATAAN PEREKAMAN DATA SISMIOP
KANTOR PELAYANAN PBB
Periode laporan : Minggu ke tanggal s/d
NO.
1
2
3
4
5

*)
Pendataan
Perekaman Data
Pembuatan Peta Blok
Pembuatan Peta ZNT
Pembuatan Peta Desa/Kel.

Keterangan :
1.
Jumlah pendata
2.
Jumlah pengawas lapangan
3.
Jumlah operator data entry

*)
OP
OP
Blok
Buah
Buah

*)
OP
OP
Blok
Buah
Buah

: orang
: orang
: orang

*)
OP
OP
Blok
Buah
Buah

*)
OP
OP
Blok
Buah
Buah

*)

,
KEPALA KANTOR PELAYANAN PBB

NIP.

*)

Lampiran 39
Laporan Bulanan

: RENCANA DAN REALISASI PEMBENTUKAN ATAU


PEMELIHARAAN BASIS DATA OBJEK DAN SUBJEK PBB
DALAM RANGKA SISMIOP

KANTOR PELAYANAN PBB : (1)


KABUPATEN/KOTA
: (2)

No.

TAHUN ANGGARAN
SUMBER DANA
LAPORAN BULANAN

JENIS PEKERJAAN

1
2
1. PERSIAPAN PEKERJAAN LAPANGAN
a.
Penelitian Pendahuluan dan Penyusunan Rencana Kerja
b.
Pengadaan Peta Desa/Kel.
c.
Pengadaan sket *) (konsep lap)
d.
Penggandaan
- Sket/peta ZNT (konsep lap)
- Sket/peta BLOK (konsep lap)
e.
Pelatihan Petugas Lapangan
f.
Penyuluhan
2. PEKERJAAN LAPANGAN
a. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP Perorangan
yang dilaksanakan oleh :
- Petugas lapangan
- Pembantu pend pekerjaan lap
- Pengawas lapangan

Volume
3
RK
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Org/m
Ds/kel

Org/hr
Org/hr
Org/bln

b. Pendataan dengan penyampaian dan pemantauan


pengembalian SPOP kolektif dilaksanakan oleh :
- Petugas Lapangan
- Pengawas Lapangan
- Petugas identifikasi

Org/hr
Org/bln
Org ds-kel

c. Pendataan dengan identifikasi data OP


- Petugas Lapangan
- Pengawas Lapangan
- Pembantu pendamping pekerjaan lap.

Org/hr
Org/bln
Org/hr

d. Pendataan dengan verifikasi OP


- Petugas Lapangan
- Pengawas Lapangan
- Pembantu pendamping pekerjaan lap.

Org/hr
Org/bln
Org/hr

: (3)
: (4)
: (5)

Fisik
Biaya (Rp. 000)
Realisasi
Realisasi
Keterangan
s/d
s/d
Rencana Bulan
*) Rencana Bulan
*)
Bulan
bulan
ini
ini
ini
ini
4
5
6
7
8
9
10
11
12

e. Pendataan dengan pengukuran OP


- Petugas Lapangan
- Pengawas Lapangan
- Pembantu pendamping pekerjaan lap
f.

Org/hr
Org/bln
Org/hr

Penempelan stiker dan penggambaran bidang OP pada peta OP


blok

g. Penilaian Individu
- Pengumpulan data pendukung tanah dan atau
bangunan
- Pengumpulan data fisik OP dan pengukuran OP
- Biaya *) pemotretan dll

OP
OP
OP

h. Pe*) konsep sket peta ZNT dalam pembentukan basis data


- Pencocokan sket/peta desa/kel dengan keadaan lapangan Ds/kel.
pengumpulan informasi harga jual dan analisa
- Pembantu penilai
Org ds/kel
i.

Pemeliharaan basis data untuk penyempurnaan ZNT/NIR


- Penentuan objek acuan/pencocokan NOP, letak dan kondisi Ex-kel
fisik objek acuan
- Analisis data penyempurnaan NIR dan kode ZNT
Pemeliharaan basis data untuk penyempurnaan data OP
yang dilaksanakan oleh :
- Petugas lapangan
OP > d 3 lb. LSPOP
OP < 3 lb LSPOP
- Pemantau pendamping petugas lap.
- Pengawas petugas lapangan

3.

PEKERJAAN KANTOR
a. Perekaman data dan pencetakan DHR
b. Validasi
c. Pembuatan sket/peta desa/kel. dan penggandaan
d. Pembuatan sket/peta blok dan penggandaan
e. Penggambaran dan penggandaan sket/peta blok
f. Perbaikan sket/peta desa/kel dan penggandaan
g. Perbaikan sket/peta blok dan penggandaan
h. Pembuatan sket/peta ZNT
i. Pembuatan sket/peta ZNT blok
j. Pembuatan usulan SK Kakanwil DJP
- Penggandaan peta ZNT untuk lamp
- Penjilidan
k. Perhitungan nilai dan pembuatan laporan

Ds/kel
OP
OP
OP
Ds/kel
OP
OP
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Bk/kec
OP

4.

APLIKASI SIG PBB


a. Register kelurahan @ 4 titik
b. Persiapan (lembar peta blok)
c. Revisi peta dan scanning lembar peta
d. Editing
E. Plotting peta

Ds/kel
Lbr
Lbr
OP
lbr

5.

SARANA PENDUKUNG
a. Pencetakan
- SPOP
-LKPP
- Tanda terima SPOP
b. Pencetakan stiker
c. Pita printer
d. Disket/DAT
e. Continuous form
f. Biaya fotocopy
g. Folder
h. Mistar logam
i. Kertas kalkir
i. Milimeter block
j. Drafting film untuk peta desa/kel
k. Rapido dan sablon
l. Binding SPOP
m. Tanda Pengenal
n. Drafting film untuk peta blok
o. Cetak kop legenda
p. Rak penyimpanan peta
q. Gantungan peta
r. Pewarna merk Doubler
s. Meteran (50m)
t. Kompas
u. Topi petugas
v. Busur derajat

Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Buah
Buah
Box
LS
Buah
Buah
Roll
Roll
Roll
Buah
Buku
Orang
roll
Kop
Buah
Box
Set
Buah
Buah
buah
Buah

6.

RAPAT EVALUASI DAN PENYUSUNAN LAPORAN


a. Rapat
b. Evaluasi

7.

HONORARIUM

8.

TRANSPORT

Kepala Kantor Pelayanan PBB

NIP. 0600

Lampiran 40
Laporan Triwulanan :

RENCANA DAN REALISASI PENGUMPULAN DATA OBJEK


DAN SUBJEK PBB DALAM RANGKA SISMIOP

KANTOR PELAYANAN PBB


KABUPATEN KOTA

: (1)
: (2)

No.

1
1.

2.

JENIS PEKERJAAN

2
PERSIAPAN PEKERJAAN LAPANGAN
a. Penelitian Pendahuluan
b. Penyusunan Rencana Kerja
c. Pengadaan Peta Desa/Kel.
d. Pengadaan sket blok (konsep lap.)
e. Pencocokam sket Peta Kelurahan dengan keadaan
lapangan, pembuatan konsep peta blok,
pengumpulan informasi harga jual
f. Penggandaan :
- Peta Desa/Kelurahan/ZNT
- Peta Blok
g. Pelatihan Pengawas dan Petugas Lapangan
h. Penyuluhan
PEKERJAAN LAPANGAN
- Pendataan debfab penyampaian dan pemantauan
pengembalian SPOP
* Perorangan
* Kolektif
- Pendataan dengan identifikasi data OP
- Pendataan dengan verifikasi OP
- Pendataan dengan pengukuran/pemetaan OP
- Penempelan stiker dan penggambaran bidang OP
pada peta blok.
- Penilaian Individu :
* Penyampaian SPOP dan formulir pendataan
* Pengumpulan data pendukung (tanah dan/atau
bangunan)
* Pengumpulan data fisik OP dan pengukuran OP
* Biaya fotocopy, pemotretan, dll
- Pemeliharaan basis data untuk penyempurnaan
ZNT/NIR :
* Penentuan objek acuan/pencocokan NOP, letak
dan kondisi fisik objek acuan
* Analisis data/penyempurnaan NIR dan kode ZNT

TAHUN ANGGARAN
SUMBER DANA
LAPORAN BULANAN
Volume

3
Ds/kel.
RK
Lbr
Blok
ZNT

Blok
Org/hr.
Ds/kel

OP
OP
OP
OP
OP
ZNT
ZNT

Rencana

: (3)
: (4)
: (5)

Fisik
Realisasi
Bulan s/d bulan ini
ini
5

Biaya (Rp. 000)


Keterangan
s/d Rencana
Realisasi
%
7- 4
Bulan s/d (10+8)
ini
bulan
ini
7
8
9
10
11
12

3.

4.

5.

PEKERJAAN KANTOR
a. Perekaman data dan pencetakan DHR
b. Validasi
c. Pembuatan peta desa/kelurahan
d. Pembuatan peta ZNT
e. Pembuatan konsep SK Kakanwil
f. Penjilidan SK Kakanwil
g. Penggambaran dan penggandaan
- peta blok
- desa/kel
h. Perhitungan nilai dan pembuatan laporan individu
APLIKASI SIIG
a. Register kelurahan @ 4 titik
b. Persiapan (lembar peta blok)
c. Revisi peta dan scanning lembar peta
d. Editing
e. Plotting peta
SARANA PENDUKUNG
a. Pencetakan
- SPOP
- LKPP
- Tanda terima SPOP
b. Pencetakan stiker
c. Pita printer
d. Disket/DAT
e. Continuous form
f. Biaya fotocopy
g. Folder
h. Mistar logam
i. Kertas kalkir
j. Milimeter block
k. Rapido dan sablon
l. Binding SPOP
m. Tanda pengenal
n. Drafting film untuk peta desa/kel.
o. Cetak kop legenda
p. Rak penyimpanan peta
q. Gantungan peta
r. Pewarna merk Doubler
s. Meteran (50m)
t. Kompas
u. Topi petugas
v. Busur derajat

OP
OP
Lbr
Ds/kel
Ds/kel
Buku
Blok
Lbr
OP
Ds/kel
Lbr
Lbr
OP
lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Lbr
Buah
Buah
Box
LS
Buah
Buah
Roll
Roll
Buah
Buah
Orang
Roll
Kop
Buah
Box
Set
Buah
Buah
Buah
Buah

6.
7.
8.

RAPAT EVALUASI DAN PENYUSUNAN LAPORAN


a. Rapat
b. Evaluasi
HONORARIUM
TRANSPORT

Kepala Kantor Pelayanan PBB

NIP. 0600

Lampiran 41
LAPORAN AKHIR PEMBENTUKAN/PEMELIHARAAN
BASIS DATA SISMIOP
DA TI II
KECA MA TA N
DESA /
KELURA HA N
1

OBJEK PA JA K

LUA S BUMI

Sebelum

Rencana

Realisasi

J U M LAH
C atatan :
- L uas bumi dan bangunan dalam ribuan m2
- P okok Ketetapan P BB dalam ribuan rupiah

+/(%)
5

Sebelum

Realisasi

POKOK KETETA PA N BUMI


+/(%)
8

Sebelum

Realisasi

10

+/(%)
11

LUA S BA NGUNA N
Sebelum

Realisasi

12

13

+/(%)
14

POKOK KETETA PA N
BA NGUNA N
Sebelum

Realisasi

15

16

POKOK KETETA PA N PBB


+/(%)
17

Sebelum

Realisasi

18

19

+/(%)
20

KETERA NGA N
21

Lampiran 42 Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor
:
Kep-533/PJ/2000
Tanggal
:
20 Desember 2000
STANDAR BIAYA PENDATAAN OBJEK DAN SUBJEK PBB
DENGAN CARA PENYAMPAIAN DAN PEMANTAUAN PENGEMBALIAN SPOP
No.

SATUAN
KEGIATAN

KETERANGAN

RK
Lembar
Lembar
Or/hari
Desa/kel

500.000 Per sumber dana dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota


10.000 Biaya copy
- Lihat lampiran 46
10.000
20.000
125.000

2.

Pekerjaan Lapangan
2.1. Petugas Lapangan
2.2. Pembantu/Pendamping Pekerjaan Lapangan
2.3. Pengawas Petugas Lapangan

Or/hari
Or/hari
Or/bln

20.000 Minimal 20 OP
10.000 1 orang per petugas lapangan
300.000 1 pengawas 3-5 kel/desa

3.

Pekerjaan Kantor
3.1. Perekaman Data dan Pencetakan DHR
3.2. Validasi
3.3. Pembuatan Sket/peta Desa/Kel.
3.4. Penggambaran dan penggandaan sket/Peta blok
3.5. Penjilidan

OP
OP
lembar
lembar
buku

4.

Pembinaan
4.1. Rapat
4.2. Evaluasi dan penyusunan laporan

kali
Ls

5.
Honorarium Pelaksana
Keterangan :
*)
1.
Penggambaran untuk Peta Master/Arsip
2.
Penggandaan (Fotocopy/Lichtdruck) untuk Peta Kerja PST dan Peta Desa/Kelurahan

SATUAN
BIAYA
(Rp)
4

2
Persiapan
1.1. Penelitian Pendahuluan dan Penyesuaian Rencana Kerja
1.2. Pengadaan Sket/Peta Desa/Kel.
1.3. Pembuatan konsep sket/peta ZNT/NIR
1.4. Pengadaan sket/peta blok (konsep lapangan)
1.5. Pelatihan Petugas Lapangan
1.6. Penyuluhan

1.

JENIS KEGIATAN

200
50
27.500
40.000 *)
15.000
100.000 (maks. 2 kali per bulan)
325.000
Lihat Lampiran 50 (tidak berlaku bagi sumber dana dari APBN u.p. DIK)

Lampiran 43

Nomor
Tanggal

:
:

Keputusan Direktur
Jenderal Pajak
Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PENDATAAN OBJEK DAN SUBJEK PBB


DENGAN CARA PENYEBARAN SPOP KOLEKTIF
No.

SATUAN
KEGIATAN
3

SATUAN
BIAYA
4

KETERANGAN

2
Persiapan
1.1. Penelitian Pendahuluan dan Penyesuaian Rencana Kerja
1.2. Pengadaan Sket/Peta Desa/Kel.
1.3. Pembuatan konsep sket/peta ZNT/NIR
1.4. Pengadaan sket/peta blok (konsep lapangan)
1.5. Pelatihan Petugas Lapangan
1.6. Penyuluhan

RK
Lembar
Lembar
Or/hari
Desa/kel

500.000 Per sumber dana dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota


20.000 Biaya copy
- Lihat lampiran 46
10.000
20.000
125.000

2.

Pekerjaan Lapangan
2.1. Petugas Lapangan
2.2. Pembantu verifikasi
2.3. Pengawas Petugas Lapangan

Or/hari
Or/ds(kel)/bln
Or/bln

20.000 Minimal 40 OP/hari


60.000 1 petugas 1 kel/desa
300.000 1 pengawas 3-5 kel/desa

3.

Pekerjaan Kantor
3.1. Perekaman Data dan Pencetakan DHR
3.2. Validasi
3.3. Pembuatan Sket/peta Desa/Kel.
3.4. Penggambaran dan penggandaan sket/Peta blok

OP
OP
lembar
lembar

4.

Pembinaan
4.1. Rapat
4.2. Evaluasi dan penyusunan laporan

kali
Ls

5.

Honorarium Pelaksana

1.

JENIS KEGIATAN

200
50
27.500
40.000 Penggandaan 2 kali

100.000 (maks. 2 kali per bulan)


325.000
Lihat Lampiran 50

Lampiran 44
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PENDATAAN OBJEK DAN SUBJEK PBB


DENGAN CARA IDENTIFIKASI/VERIFIKASI/PENGUKURAN OBJEK PAJAK
No.

1.

2.

JENIS KEGIATAN

SATUAN
KEGIATAN

KETERANGAN

2
Persiapan
1.1. Penelitian Pendahuluan dan Penyesuaian Rencana Kerja
1.2. Pengadaan Sket/Peta Desa/Kel.
1.3. Pembuatan konsep sket/peta ZNT/NIR
1.4. Pengadaan sket/peta blok (konsep lapangan)
1.5. Pelatihan Petugas Lapangan
1.6. Penyuluhan

RK
Lembar
Lembar
Or/hari
Desa/kel

500.000 Per sumber dana dalam 1 (satu) Daerah Kabupaten/Kota


20.000 Biaya copy
- Lihat lampiran 46
10.000
20.000
125.000

Pekerjaan Lapangan
2.1. Petugas Lapangan

Or/hari

2.2.
2.3.

Or/hari
Or/bln

20.000 a. Identifikasi OP min. 15 OP/hari


b. Verifikasi OP min. 15 OP/hari
c. Pengukuran OP min. 10 OP/hari
10.000 2 orang per petugas lapangan
300.000 1 pengawas 3-5 orang Petugas lapangan

Pembantu/Pendamping Pekerjaan Lapangan


Pengawas Lapangan

SATUAN
BIAYA
(Rp)
4

3.

Pekerjaan Kantor
3.1. Perekaman Data dan Pencetakan DHR
3.2. Validasi
3.3. Pembuatan Sket/peta Desa/Kel.
3.4. Penggambaran dan penggandaan sket/Peta blok
3.5. Penjilidan

OP
OP
lembar
lembar
buku

4.

Pembinaan
4.1. Rapat (maks. 1 bulan 2 kali)
4.2. Evaluasi dan penyusunan laporan

kali
LS

5.
Honorarium Pelaksana
Keterangan :
*)
1.
Penggambaran untuk Peta Master/Arsip
2.
Penggandaan (Fotocopy/Lichtdruck) untuk Peta Kerja PST dan Peta Desa/Kelurahan

200
50
27.500
40.000 *)
15.000
100.000 (maks. 2 kali per bulan)
325.000
Lihat Lampiran 50 (tidak berlaku bagi sumber dana dari APBN u.p. DIK)

Lampiran 45
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP


No.

1.

2.

3.

4.

JENIS KEGIATAN
2
Persiapan
1.1. Penelitian Pendahuluan dan Penyesuaian Rencana Kerja
1.2. Penyempurnaan sket/peta ZNT/NIR
1.3. Pengadaan
a. sket/peta ZNT (konsep lapangan)
b. sket/peta blok (konsep lapangan)
1.4. Penyuluhan

SATUAN
KEGIATAN
3
RK
Lembar
Lembar
Desa/kel

SATUAN
BIAYA
(Rp)
4

KETERANGAN
5

500.000 Per sumber dana dalam 1 (satu) Kabupaten


- Lihat lampiran 46
Biaya copy
20.000
10.000
125.000

Pekerjaan Lapangan
Pemeliharaan basis data untuk penyempurnaan data objek pajak
2.1. Petugas Lapangan
a. objek pajak s/d 5 lb L. SPOP
b. objek pajak > 5 lb L. SPOP
2.2. Pembantu/Pendamping Petugas Lapangan
2.3. Pengawas Petugas Lapangan

OP
OP
OP
Desa/kel

3.000
7.000
1.000
80.000 1 pengawas untuk 1 Desa/Kelurahan per bulan

Pekerjaan Kantor
3.1. Updating Perekaman Data dan Pencetakan DHR

OP

3.2.
3.3.
3.4.
3.5.

OP
lembar
lembar
buku

200 Pemeliharaan data secara aktif dan pasif (melalui PST : perorangan,
kolektif)
50
27.500
40.000 *)
15.000

Validasi
Perbaikan Peta Desa/Kel.
Perbaikan Peta blok dan penggandaan
Penjilidan

Pembinaan
4.1. Rapat
4.2. Evaluasi dan penyusunan laporan

Keterangan :
*)
1.
Penggambaran untuk Peta Master/Arsip
2.
Penggandaan (Fotocopy/Lichtdruck) untuk Peta Kerja PST dan Peta Desa/Kelurahan

kali
LS

100.000
325.000

Lampiran 46
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP


No.
1
1.

JENIS KEGIATAN

2
3
Pekerjaan Lapangan
1.1. Pembuatan konsep sket/peta ZNT NIR dalam pembentukan basis data
a. Pencocokan sket/peta desa/kel dengan keadaan lapangan, pembuatan Konsep Blok, Desa/kel
Pengumpulan Informasi Harga Jual dan analisa data

1.2.

2.

SATUAN KEGIATAN

KETERANGAN
5

Satu blok minimal 3 ZNT


600.000 - per ZNT minimal 5 informasi harga jual

b. Pembantu Penilai
Pemeliharaan basis data untuk penyempurnaan ZNT/NIR
a. Penentuan objek pajak sebagai objek acuan/pencocokan NOP, letak dan kondisi
fisik objek acuan

Or/ds/kel.

- dilengkapi analisa
400.000 - per blok kurang dari 3 ZNT
- per ZNT kurang dari 5 informasi harga jual
40.000 1 orang

Desa/kel

400.000 Satu blok minimal 3 ZNT

b.

Desa/kel

300.000 Satu Blok kurang dari 3 ZNT


200.000 Setiap ZNT minimal 3 informasi harga jual
150.000 Satu ZNT kurang dari 3 informasi harga jual

Analisis data/penyempurnaan NIR dan kode ZNT

Pekerjaan Kantor
2.1.
2.2.
2.3.

SATUAN
BIAYA
(Rp)
4

Pembuatan sket/peta ZNT


Pembuatan sket/peta ZNT blok
Pembuatan usulan SK Kakanwil DJP
a. Penggandaan peta ZNT untuk lampiran
b. Penjilidan

Lembar
Lembar

35.000
10.000

Desa/kel/lembar
Buku/kec

10.000
15.000

Lampiran 47
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PELAKSANAAN KEGIATAN


ANALISIS DAN PENYEMPURNAAN ZNT/NIR
No.
1
1.

JENIS KEGIATAN
2
Pekerjaan Lapangan
1.1. Pengumpulan informasi harga jual objek pajak sebagai objek acuan

SATUAN
KEGIATAN
3
Kel/desa

SATUAN
BIAYA
4
400.000
275.000
200.000

1.2.

Analisis data/penyempurnaan ZNT/NIR

Kel/desa

225.000
125.000
100.000
75.000

2.

3.

1.3. Pembantu Penilai


Pekerjaan Lapangan
2.1. Pembuatan sket/peta ZNT
2.2. Pembuatan sket/peta ZNT blok
2.3. Pembuatan usulan SK Kakanwil DJP
Penyusunan rencana kerja, sarana penunjang, kegiatan rapat, evaluasi dan penyusunan
laporan

Orang/kel/desa
Lembar
Lembar
LS

40.000

KETERANGAN
5
-

Kelurahan di Kota Metropolitan dan kelurahan di Kota Besar


Satu blok minimal 3 ZNT
Kelurahan di Kota Sedang
Satu blok kurang dari 3 ZNT
Kelurahan di Kota Kabupaten
Satu Blok kurang dari 3 ZNT
Kelurahan di Kota Metropolitan
Satu ZNT minimal 3 informasi harga jual
Kelurahan di Kota Besar
Satu ZNT kurang dari 3 informasi harga jual
Kelurahan di Kota Sedang
Satu ZNT kurang dari 3 informasi harga jual
Kelurahan di Kota Kabupaten
Satu ZNT kurang dari 3 informasi harga jual

35.000
70.000
15.000
150.000 Kelurahan di Kota Metropolitan
125.000 Kelurahan di Kota Besar
100.000 Kelurahan di Kota Sedang
75.000 Kelurahan di Kota Kabupaten

Lampiran 48
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PELAKSANAAN PENILAIAN INDIVIDU


NO.

1.
2.

3.
4.

JENIS KEGIATAN
2
Persiapan
Penelitian pendahuluan dan penyusunan rencana kerja
Pekerjaan lapangan
2.1. Pengumpulan data-data pendukung untuk keperluan
penilaian individu
2.2. Pengumpulan data fisik objek pajak (bumi dan bangunan)
dan pengukuran objek pajak
2.3. Biaya untuk foto copy, pemotretan OP dan lainnya
Pekerjaan Kantor, perhitungan nilai dan pembuatan laporan
Transportasi
Pengawas petugas lapangan

SATUAN
KEGIATAN
3

SATUAN
BIAYA
( 20 L.SPOP)
4

SATUAN
BIAYA
(> 20 40 L.SPOP)
5

SATUAN
BIAYA
(> 40 L.SPOP)
6

KETERANGAN
7

RK

300.000

300.000

300.000 Per sumber dana

OP

80.000

100.000

120.000 Tanah dan bangunan

OP

250.000

300.000

450.000

OP
OP

125.000
100.000

150.000
125.000

175.000
150.000

- Lihat Lampiran 50

Lampiran 49
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PENDATAAN DAN PENILAIAN OBJEK DAN SUBJEK PBB


UNTUK SARANA PENDUKUNG

1.

No.
1

JENIS KEGIATAN
2
Alat Tulis Kantor/Sarana Penunjang
1.
Pencetakan
a.
SPOP
b.
LSPOP
c.
Daftar Perubahan OP/SP
d.
Form. Laporan Hasil Verifikasi
e.
Tanda Terima SPOP
f.
Sticker NOP
2.
DAT
3.
Continuous Form 60 gram
4.
Biaya Foto Copy
5.
Folder untuk Petugas Lapangan
6.
Mistar Logam 50 cm
7.
Kertas Milimeter Blok
8.
Drafting Film type 002 DCH
9.
Kalkir
10.
Rapido dan sablon
11.
Binding SPOP/LSPOP (100 OP)
12.
Tanda Pengenal
13.
Cetak Kop/Legenda Peta Blok dalam Drafting Film
14.
Pengadaan Rak Penyimpanan SPOP/LSPOP
15.
Gantungan Peta
16.
Pewarna Merk Doubler
17.
Meteran Fibreglass 50 m
18.
Kompas
19.
Busur Derajat 15 cm
20.
Lemari Peta (A 0)
21.
Lemari Peta (A 1)

SATUAN KEGIATAN
3
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
buah
box
LS
Buah
Buah
roll
roll
roll
Buah
Buku
Orang
Kop/blok
Buah (300 bendel)
box
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

SATUAN BIAYA
4
125
125
125
125
50
175
125.000
200.000
900.000
12.500
40.000
35.000
800.000
125.000
150.000
7.500
2.500
4.500
500.000
200.000
10.000
175.000
75.000
25.000
4.700.000
3.700.000

KETERANGAN
5
*)
*)
SPOP Kolektif *)
SPOP Kolektif *)
*)
*)
*)

*)
*)
*)
*)
Peta hasil SIG PBB tidak memerlukan pencetakan kop
*)

*)
**)
**)

Keterangan :
1.
2.
3.

Penggunaan sarana pendukung kegiatan pendataan disesuaikan menurut wilayah regional dan sesuai kebutuhan dengan memperhatikan efisiensi.
*) Untuk Kanwil XV, harga yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi setempat setinggi-tingginya 200% dari satuan biaya yang tercantum di atas;
Untuk Kanwil X, XI, XII, XIII, dan XIV, harga yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi setempat setinggi-tingginya 150% dari satuan biaya yang tercantum di atas;
**) Harga lemari peta yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi setempat setinggi-tingginya 175% untuk Kanwil XV dan 150% untuk Kanwil X, XI, XII, XIII & XIV dari
satuan biaya yang tercantum di atas;

Lampiran 50
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

A. HONORARIUM DAN BIAYA TRANSPORTASI TIM PENGAWAS PELAKSANAAN SISMIOP DI TINGKAT KANWIL
No.
1
1.

2.

JENIS KEGIATAN

SATUAN KEGIATAN

Honorarium
1.1. Pembina (Ess. II)
1.2. Ketua (Ess. III)
1.3. Wakil Ketua (Ess. III)
1.4. Bendahara
1.5. a. Sekretaris (Ess. IV)
b. Sekretaris (Ess. V)
1.6. Anggota
a. Sekretaris (Ess. IV)
b. Sekretaris (Ess. V)
Transportasi Tim Pengawas
2.1. Ketua dan Wakil Ketua

SATUAN
BIAYA
4

Or/bln
Or/bln
Or/bln

450.000
350.000
300.000

Or/bln
Or/bln

225.000
175.000

Or/bln
Or/bln
Dibebankan pada M.A. 05410

175.000
150.000

KETERANGAN
5
Dibentuk dan dianggarkan di tingkat Kanwil DJP

Maks. 3 hari/perjalanan dinas/orang/bulan sesuai dengan ketentuan


M.A. 05410

B. HONORARIUM DAN BIAYA TRANSPORTASI PELAKSANAAN PENDATAAN DAN PENILAIAN OBJEK DAN SUBJEK PBB DI KP PBB
No.
JENIS KEGIATAN
1
2
1.
Honorarium
1.1.1.
Penanggung jawab (Kepala KP PBB)
1.1.2.
Ketua Tim (Ess. IV)
1.1.3.
KORLAP.KORADKOM
1.1.4.
Bendahara BP PBB
1.1.5.
Operator Console/Staff Sekretariat
2.
Transportasi
2.1.
Kepala KP PBB (Ess. III)
2.2.
Ketua Tim (Ess. IV)
2.3.
Kasi Pedanil. Kasi DA1
2.4.
KORLAP.KORADKOM
2.5.
Pengawas Petugas Lapangan dalam kota
2.6.
Untuk Luar Kota
2.7.
2.8.

Camat
Lurah

SATUAN KEGIATAN
3
Or/bln
Or/bln
Or/bln
Or/bln
Or/bln

SATUAN BIAYA
4

150.000

4 x/Bulan
4 x/Bulan
4 x/Bulan
4 x/Bulan
6 x/Bulan
Dibebankan pada D.A. BP PBB
4 x/Bulan
4 x/Bulan

KETERANGAN
5

350.000
250.000
225.000
175.000
25.000
25.000
25.000
25.000
25.000
15.000
12.500

Maks. 3 hari/perjalanan dinas/orang/bulan sesuai dengan ketentuan


M.A. 05410

Lampiran 51
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI PBB DALAM RANGKA


PEMBENTUKAN/PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP
No.
1
1.
2.
3.
4.
5.

JENIS KEGIATAN
2

Register Kelurahan @ 4 titik


Persiapan (lembar Peta Blok)
Revisi peta dan scanning lembar peta blok
Editing Objek Pajak
Plotting dan penggandaan peta Desa/Kelurahan dan Blok

SATUAN KEGIATAN
3
Desa/Kel
Lembar
Lembar
OP
Lembar

SATUAN BIAYA
KETERANGAN
4
5
25.000
7.500
15.000
150
35.000 Penggandaan 2 kali, termasuk tinta plotter dan kertas

Lampiran 52
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

JENIS KEGIATAN, HASIL, BENTUK BUKTI PENGELUARAN, DAN PENDUKUNG


YANG DIPERLUKAN DALAM PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN
PEMBENTUKAN DAN/ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA SISMIOP
NO.
I

JENIS KEGIATAN
2
PERSIAPAN PEKERJAAN LAPANGAN
a. Penelitian Pendahuluan

g.

- Cek list
- Daftar pertanyaan yang telah diisi
Penyusunan Rencana Kerja
Buku rencana kerja
Pengadaan Peta Desa/Kel.
Peta desa/kel
Pengadaan sket blok (konsep lap.)
Sket Blok
Pencocokan sket Peta Kelurahan dengan keadaan
- Konsep sket/peta desa/kel
lapangan, pembuatan konsep peta blok, pengumpulan - Konsep sket/peta ZNT
informasi harga jual
- Daftar NIR
Penggandaan
- Peta Desa/Kelurahan/ZNT
- Peta desa/kel/ZNT
- Peta Blok
- Peta Blok
Pelatihan Pengawas dan Petugas Lapangan
- Laporan pelaksanaan pelatihan

h.

Penyuluhan

b.
c.
d.
e.
f.

2.

HASIL/OUTPUT

PEKERJAAN LAPANGAN
Penyampaian dan pengembalian SPOP,
identifikasi/pengukuran OP, pembuatan net konsep peta
blok/ZNT per blok yang dilaksanakan oleh :
a. Petugas lapangan

b.

Pengawas lapangan

c.

Pendamping petugas lapangan

- Materi pelatihan
Laporan pelaksanaan penyuluhan

- SPOP yang telah diisi dan


dikonfirmasikan kepada WP
- Net Konsep peta blok
- Net konsep peta ZNT per blok
- Laporan/cek list
- BA uji petik

Pengumpulan data pasar objek pajak, yang dilakukan oleh


a. Petugas pengumpul data
- Daftar inventarisasi data harga jual
- Formulir pengumpulan data

BENTUK BUKTI
PENDUKUNG
4

PENDUKUNG

KETERANGAN

Kwitansi pembayaran

Surat Tugas

Kwitansi pembayaran
Kwitansi pembayaran
Kwitansi pembayaran
Daftar pembayaran

Surat Tugas
Surat Tugas

Kwitansi pembayaran
Kwitansi pembayaran

Daftar hadir petugas dan


peserta pelatihan

Kwitansi pembayaran

- Surat tugas
- Daftar hadir peserta
penyuluhan

Daftar pembayaran

Surat Tugas
SPK *

Daftar pembayaran

Surat tugas

Daftar pembayaran

Fotocopy KTP

Daftar pembayaran

Surat Tugas

b.
3.

PEKERJAAN KANTOR
a. Updating data, Perekaman data dan pencetakan DHR

- Daftar himpunan harga jual tanah dan


bangunan
- Daftar NIR

Daftar pembayaran

Surat tugas

Daftar pembayaran

Surat Tugas
SPK *
Surat Tugas
SPK *
Surat Tugas
SPK *
Surat Tugas
SPK *

b.

Validasi

Laporan hasil perekaman data dan


pencetakan DHR
Laporan hasil validasi

c.

Pembuatan peta desa/kelurahan

Peta desa/kel.

Daftar pembayaran

d.

Pembuatan peta ZNT

Peta ZNT

Daftar pembayaran

e.
f.

Pembuatan konsep SK Kakanwil


Penjilidan

Konsep lampiran SK Kakanwil


Buku

Kwitansi pembayaran
Kwitansi pembayaran

Peta blok

Kwitansi pembayaran

Fisik sarana pendukung

Kwitansi pembayaran

Dokumen pelelangan, dll.

Notula rapat
Laporan

Kwitansi pembayaran
Kwitansi pembayaran
Daftar pembayaran
Daftar pembayaran

Daftar Hadir
Daftar Hadir

g.
4.
5.

Petugas analisis/fungsional penilai

Penggambaran dan penggandaan


peta blok
desa/kel.
SARANA PENDUKUNG
KEGIATAN PEMBINAAN
a. Rapat
b. Evaluasi dan penyusunan laporan
c. Honorarium tim pengawas dan tim pelaksana harian
d. Transport tim pengawas dan tim pelaksana harian

Keterangan :
Surat Tugas diberikan kepada petugas yang berstatus PNS sedangkan SPK diberikan kepada
petugas yang bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Daftar pembayaran

Surat Tugas
SPK *
Surat Tugas
SPK *

Lampiran 53
Nomor
Tanggal

:
:
:

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Kep-533/PJ/2000
20 Desember 2000

STANDAR BIAYA PEMBUATAN KERANGKA PETA DESA/KELURAHAN


DENGAN ALAT TOTAL STATION
No.
JENIS KEGIATAN
1
2
1.
Persiapan
1.1. Penelitian Pendahuluan dan Penyusunan Rencana Kerja
1.2. Pengadaan Sket/Peta Desa
1.3. Penyuluhan Koordinasi
1.4. Penentuan Koordinat Titik Ikat
1.5. Mobilisasi dan Demobilisasi
1.6. Base Camp
2.
Pekerjaan lapangan
2.1. Identifikasi Lapangan dan Perencanaan Jalur Pengukuran

2.2.
2.3.
2.4.
2.5.

2.6.

3.
4.

- Surveyor
- Transport Lokal
Pengukuran Poligon Utama
- Surveyor
- Transport Lokal
Pengukuran Poligon Cabang dan Detil
- Surveyor
- Transport Lokal
Identifikasi Penentuan Batas Blok
- Surveyor
- Transport Lokal
Identifikasi dan Analisa Batas ZNT

Supervisi
- Supervisor
- Transport Lokal
2.7. Pembantu/Pendamping Surveyor
Pekerjaan Kantor
3.1. Operator Pengolah Data
3.2. Penggandaan Peta
Pembinaan
4.1. Rapat
4.2. Evaluasi dan penyusunan laporan

SATUAN KEGIATAN
3
RK
Lembar
Desa/Kel
Titik
Orang/trip
Bulan

Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari
Desa

SATUAN BIAYA
4

KETERANGAN
5

500.000
10.000
125.000
75.000 Mengikat ke Orde 0 1 Bakosurtanal; Orde 2 3 dari BPN
50.000 Transport petugas dan peralatan dari KPPBB ke Base Camp
300.000 Termasuk perlengkapan listrik
- Kapasitas 1 desa/hari/tim
- 1 tim terdiri atas :
50.000 a. 2 orang surveyor
5.000 b. 2 orang pembantu
- Kapasitas 15-20 titik (5-6 km/hari/tim)
50.000
5.000
- Kapasitas 25 30 hektar/hari/tim
50.000
5.000
50.000
5.000
400.000
500.000
650.000
800.000

Untuk desa/kel di kabupaten


Untuk desa/kel di Kota sedang
Untuk desa/kel di Kota besar
Untuk desa/kel di kota Metropolitan

Orang/hari
Orang/hari
Orang/hari

60.000 1 orang untuk 3 4 tim


5.000
15.000 2 orang per hari

Orang/hari
Lembar

25.000 0,5 desa/hari/orang


10.000 Maksimal 4 lembar per desa

kali
LS

100.000 Maksimal 2 kali/bulan


325.000

5.
6.

Honorarium Pelaksana
Sarana Pendukung
6.1. Tinta Plotter
6.2. Kertas Plotter
6.3. Patok
a. Patok Kayu (Sementara)
b. Patok Tetap/PVC (Poligon Cabang)
6.4. Disket 3 1/4
6.5. CD ROM
6.6. Paku Seng
6.7. Cat/Pylok
6.8. Sepatu Boot
6.9. Payung

Lihat Lampiran 48
Unit/warna
Roll
Buah
buah
box
Buah
Kg
Per kaleng
Per pasang
Buah

1.200.000
250.000
2.000
50.000 Maksimal 2 buah per desa/kel dan minimal 1/OP Perkebunan
50.000
15.000
12.500
17.500
50.000
25.000 1 (satu) buah/tim