Anda di halaman 1dari 32

Krisis Hipertensi

( Hypertensive
Crisis )
dr. Andreas Octaviano Rainaldy

Krisis Hipertensi
Definisi :
Kenaikan tekanan darah mendadak (sistolik 180 mm Hg
dan / atau diastolik 120 mm Hg) dengan kerusakan organ
target yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus
diturunkan segera, dalam hitungan menit sampai jam.

KLASIFIKASI KRISIS HIPERTENSI


1. Hipertensi emergensi (darurat)
Ditandai dengan TD Diastolik > 120 mmHg, disertai
kerusakan berat dari organ sasaran yag disebabkan oleh satu
atau lebih penyakit/kondisi akut.
TD harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu
sampai beberapa jam. Bila perlu penderita dirawat di ruangan
intensive care unit atau (ICU).

KLASIFIKASI KRISIS HIPERTENSI


2. Hipertensi urgensi (mendesak)

TD diastolik > 120 mmHg dan dengan tanpa


kerusakan/komplikasi minimum dari organ sasaran.
TD harus diturunkan dalam 24-48 jam sampai batas
yang aman memerlukan terapi parenteral.

Hipertensi
Emergensi

Kerusakan organ target

Ensefalopati hipertensi

Diseksi
aorta

Eklamsi

Infark miokard
akut/angina tidak
stabil

Anemia mikroangiopati
hemolitik

Gagal ginjal akut

FAKTOR RISIKO
1. Penderita hipertensi yang tidak rutin meminum obat atau
tidak minum obat antihipertensi.
2. Kehamilan
3. Penggunaan NAPZA
4. Penderita dengan rangsangan simpatis yang tinggi seperti
luka bakar berat, phaechromocytoma, penyakit kolagen,
penyakit vaskuler, trauma kepala
5. Penderita hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal

PENDEKATAN AWAL
PADA KRISIS
HIPERTENSI

Anamnesis
Hal yang penting ditanyakan :
Riwayat hipertensi, lama dan beratnya.
Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya.
Usia, sering pada usia 30 70 tahun.
Gejala sistem syaraf ( sakit kepala, pusing, perubahan mental, ansietas ).
Gejala sistem ginjal ( gross hematuri, jumlah urine berkurang )
Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah jantung, kongestif dan oedem
paru, nyeri dada ).

Riwayat penyakit glomerulonefrosis, pyelonefritis.

Riwayat kehamilan, tanda- tanda eklampsi.

Pemeriksaan fisik
1. Sesuai dengan organ target yang terkena
2. Pengukuran TD di kedua lengan
3. Palpasi denyut nadi di keempat ekstremitas
4. Auskultasi untuk mendengar ada/ tidak bruit
pembuluh darah besar, bising jantung dan ronkhi paru
5. Pemeriksaan neurologis umum
6. Pemeriksaan funduskopi

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium awal:
a. Urinalisis
b. Hb, Ht, ureum, kreatinin, gula darah dan
elektrolit.

Pemeriksaan penunjang:
EKG, foto toraks

Pemeriksaan penunjang lain bila memungkinkan:


CT scan kepala, echocardiogram, ultrasonogram.

PENETAPAN DIAGNOSTIK
Diagnosis hipertensi emergensi harus ditegakkan
sedini mungkin, karena hasil terapi tergantung kepada
tindakan yang cepat dan tepat. Tidak perlu menunggu
hasil

pemeriksaan

yang

menyeluruh

walaupun

dengan data-data yang minimal kita sudah dapat


mendiagnosis suatu krisis hipertensi.

TATALAKSANA
HIPERTENSI EMERGENSI

Penurunan tekanan darah harus dilakukan dengan segera namun


tidak terburu-buru.
Penurunan

tekanan

darah

yang

terburu-buru

dapat

menyebabkan iskemik pada otak dan ginjal.


Tekanan darah harus dikurangi 20% dalam waktu 1 menit sampai
2 jam dan diturunkan lagi ke 160/100 dalam 2 sampai 6 jam.
Medikasi yang diberikan sebaiknya per parenteral (Infus drip,
BUKAN INJEKSI).

TATALAKSANA HIPERTENSI
EMERGENSI
Obat yang cukup sering digunakan adalah Nitroprusid IV

dengan dosis 0,25 ug/kg/menit.


Bila tidak ada, pengobatan oral dapat diberikan sambil

merujuk penderita ke Rumah Sakit.


Pengobatan

oral

yang

dapat

diberikan

meliputi

Nifedipinde 5-10 mg, Captorpil 12,5-25 mg, Clonidin 75100 ug, Propanolol 10-40 mg
Penderita harus dirawat inap.

TATALAKSANA HIPERTENSI
EMERGENSI
Diltiazem ampul 25mg
Diberikan 2 ampul, dicampur dengan NaCl 100cc atau D5 100cc.
Diberikan secara drip, awal 10 tetes mikro.
Bila belum mencapai TD target, tetesan dapat dinaikkan sampai

dengan tetes maksimal.


(rumus : 9/10 x BB)
Bila sudah mencapai TD target, jumlah tetesan dipakai sebagai

maintenance, dipantau terus sampai TD stabil walaupun jumlah


tetesan sudah dikurangi.
Bila KU semakin membaik, lanjutkan terapi oral.

Tatalaksana Hipertensi Urgensi


Penderita dengan hipertensi urgensi tidak memerlukan
rawat inap di rumah sakit.
Sebaiknya penderita ditempatkan diruangan yang tenang,
tidak terang dan TD diukur kembali dalam 30 menit.
Bila TD tetap masih sangat meningkat, maka dapat dimulai
pengobatan.
Umumnya digunakan obat-obat oral anti hipertensi dalam
menggulangi hipertensi urgensi ini dan hasilnya cukup
memuaskan.
Obat-obat oral anti hipertensi yang digunakan a.l :

Nifedipine : pemberian bisa secara sublingual (onset 5-10


menit).
Buccal (onset 5 10 menit),oral (onset 15-20 menit),duration 5
15 menit secara sublingual/buccal).
Clondine : Pemberian secara oral dengan onset 30 60 menit
Duration of Action 8-12 jam. Dosis : 0,1-0,2 mg, dilanjutkan
0,05mg-0,1 mg setiap jam s/d 0,7mg.

Tabel Algoritma
Evaluasi Krisis
Hipertensi
Hipertensi Mendesak

Parameter

Hipertensi Darurat

Biasa

Mendesak

Tekanan darah (mmHg)

> 180/110

Gejala

Sesak napas, nyeri dada,


Sakit
kepala,
Sakit kepala hebat, sesak nokturia,
dysarthria,
kecemasan; sering kali
napas
kelemahan, kesadaran
tanpa gejala
menurun

Pemeriksaan

Terapi
Rencana

Tidak ada kerusakan


organ target, tidak ada
penyakit kardiovaskular
Awasi
1-3
jam;
memulai/teruskan obat
oral, naikkan dosis

> 180/110

> 220/140

Kerusakan organ target; Ensefalopati,


edema
muncul klinis penyakit paru, insufisiensi ginjal,
kardiovaskuler, stabil
iskemia jantung
Pasang jalur IV, periksa
Awasi 3-6 jam; obat oral
laboratorium
standar,
berjangka kerja pendek
terapi obat IV

Periksa ulang dalam 3 Periksa ulang dalam 24


Rawat ruangan/ICU
hari
jam

Obat Hipertensi Oral


Obat

Dosis
12,5 - 25 mg PO;

Captopril

ulangi per 30 min ;


SL, 25 mg

Clonidine

Propanolol

Nifedipine

PO 75 - 150 ug, ulangi


per jam
10 - 40 mg PO; ulangi
setiap 30 min
5 - 10 mg PO; ulangi
setiap 15 menit

SL, Sublingual. PO, Peroral

Efek / Lama Kerja

15-30 min / 6-8 jam ;

Perhatian khusus

Hipotensi, gagal ginjal,

SL 10-20 min / 2-6 jam stenosis arteri renalis

30-60 min/8-16 jam

15-30 min/3-6 jam

5 -15 min/4-6 jam

Hipotensi, mengantuk,
mulut kering
Bronkokonstriksi,
hipotensi ortostatik
Takikardi,

hipotensi,

gangguan koroner

Obat

Obat Antihipertensi
Parenteral
Dosis

Perhatian khusus

Efek / Lama Kerja

Mual, muntah, penggunaan


jangka

Sodium nitroprusside

0,25-10 mg / kg / menit Langsung


sebagai infus IV

2-3

setelah infus

panjang

menit menyebabkan

dapat
keracunan

tiosianat,
methemoglobinemia, asidosis,
keracunan sianida.

Nitrogliserin

Nicardipine

Klonidin

Diltiazem

500-100 mg sebagai infus


IV

5-15 mg / jam sebagai infus


IV
150 ug, 6 amp per 250 cc
Glukosa 5% mikrodrip
5-15 ug/kg/menit sebagai
infus IV

2-5 min / 5-10 min

Sakit

kepala,

takikardia,

muntah, ,methemoglobinemia;

Takikardi, mual, muntah, sakit

1-5 min / 15-30 min

kepala, peningkatan tekanan


intrakranial; hipotensi

30-60 min / 24 jam

Ensepalopati

dengan

gangguan koroner
Takikardi, mual, muntah, sakit

1-5 min / 15- 30 min

kepala, peningkatan tekanan


intrakranial; hipotensi

Prognosis
Sebelum ditemukannya obat anti hipertensi yang efektif, survival
penderita hanyalah 20% dalam 1 tahun. Kematian yang disebabkan oleh uremia
(19%), gagal jantung kongestif (13%), cerebro vascular accident (20%), gagal
jantung kongestif disertai uremia (48%), infrak Miocard (1%).
Prognose menjadi lebih baik berkat ditemukannya obat yang efektif dan
penaggulangan penderita gagal ginjal dengan analysis dan transplanta ginjal.
Whitworth melaporkan dari penelitiannya sejak tahun 1980, survival dalam 1
tahun berkisar 94% dan survival 5 tahun sebesar 75%.

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Tn. M.Y.R
Umur : 56 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Status : Menikah
Alamat : Jl. Balaikota III no. 59 A.
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : S1
Pekerjaan : PNS
Tanggal masuk : 6 Januari 2015

Keluhan utama
Nyeri Kepala dan leher merasa tegang.

Riwayat penyakit sekarang


Pasien mengeluh nyeri di bagian kepala sejak 2 hari SMRS. Nyeri kepala
tersebut disertai dengan rasa tegang di leher bagian belakang. Awalnya pasien
merasa nyeri di lambungnya sejak 2 hari SMRS, lalu kemudian nyeri kepala
dirasakan pasien disertai rasa tegang di lehernya. Keluhan dirasakan sepanjang
hari. Pasien mengatakan bahwa rasa sakit kepalanya seperti ditekan di bagian
depan. Pasien merasa keluhan dirasakan semakin memberat kemudian memutuskan
untuk dibawa ke rumah sakit. Pasien belum meminum obat apapun untuk
mengurangi keluhan. Keluhan lainnya pasien merasa sakit di lambungnya. Tidak ada
demam, tidak ada batuk pilek, tidak ada mual muntah.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien pernah dirawat dengan keluhan seperti ini pada tahun 2012 di RS.
Harapan Kita di Jakarta.

Riwayat keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama seperti
pasien.
Riwayat Hipertensi (-). Riwayat Diabetes (+) kakak laki-laki pasien.

Riwayat kebiasaan
Pasien tidak merokok maupun minum alkohol.
Pasien sering terlambat makan.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: tampak sakit
sedang
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 180/120 mmHg
Frekuensi nadi
: 90 x/menit
Frekuensi napas : 20 x/menit
Suhu
: 36,5C

Status generalisata

Kepala
Bentuk : normocephali
Rambut: hitam, tidak mudah dicabut

Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
pupil isokor, refleks
cahaya (+/+)
Hidung: napas cuping hidung (-)
Mulut : mukosa basah, tidak pucat, faring tidak hiperemis
Leher
KGB

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thoraks

Inspeksi
: gerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-),
bunyi jantung I
& II normal, murmur (-)

Abdomen
Inspeksi

: bentuk normal, simetris, datar, scar

(-)
Palpasi : teraba lunak, tidak ada nyeri tekan,
ballotement (-), hepar dan lien tidak

teraba

Perkusi : timpani
Auskultasi: bising usus normal

Ekstermitas :
akral hangat, CRT
edema

< 2 detik, tidak ada

Diagnosis kerja
Krisis Hipertensi : Hipertensi Urgensi

Penatalaksanaan
Rawat inap
O2 2-3 L/menit
IVFD RL 20 tpm
Furosemide inj 1 amp 20mg / 24 jam.
Captropil 2 x 25mg p.o / 24 jam
Amlodipin 10mg 1x1 p.o / 24 jam
Ranitidine 1 amp / 12 jam
Ibuprofen 400mg 3 x 1 tab / 24 jam.
Konsul dr. N.S, Sp.PD untuk perawatan lanjut

Follow Up
7 Januari 2015
S : nyeri kepala, nyeri lambung, dan muntah bercamur darah
O :
keadaan umum : sedang kesadaran: compos mentis
T: 170/110 mmHg N: 88 x/menit R: 20 x/menit S: 36C
Paru : Suara napas vesikuler, wh(-/-), ronkhi (-)
Jantung : murmur (-), Gallop (-)

A : Hipertensi Emergency, Gastritis.


P : EKG + : susp. Artery Coronaria Syndorome (ACS) tipe
NSTEMI..

Terapi

Diltiazem 2 ampul + 100 cc NaCl, drip 10 tetes mikro. Pantau


dalam 3 jam.
Inj. Omeprazole / 12 jam
Inj. As.Traneksamat / 8 jam
Inj Vit. K / 8 jam
Isosorbid Dinitrat 1 x 5mg sublingual

Hasil laboratorium

Eritrosit : 5,50 x 106 / mm3


Leukosit
: 3200 / mm3
Trombosit : 155.000 / mm3
Hemoglobin : 15,5 g/dl
Hematokrit : 46,9 %

Follow Up
8 Januari 2015
S : Sakit kepala di bagian depan. Suka nyeri di lambung.
O : keadaan umum : sedang
kesadaran: compos mentis
T: 160/80 mmHg
N: 80 x/menit
R: 24 x/menit
S: 36C
Paru : Suara napas vesikuler, wheezing (-/-)
Jantung : Murmur (-), Gallop (-).
A : Hipertensi Grade 2. Gastritis.
P : Terapi lanjut

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai