Anda di halaman 1dari 95

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS

2013/2014 |1

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |2

TATA TERTIB PRAKTIKUM LABORATORIUM PFT


TAHUN AKADEMIK 2013/2014

Tata Tertib Pelaksanaan Praktikum


1. Praktikan wajib memenuhi seluruh kelengkapan praktikum yaitu :
Kartu Praktikum
Kartu praktikum tiap praktikan mencetak sendiri menggunakan kertas
concord
Wajib dilengkapi dengan data praktikan, foto dan cap laboratorium
Apabila kartu praktikum hilang, praktikan dapat mencetak ulang kartu
praktikum maksimal 1 kali serta meminta cap laboratorium.
2. Asisten berhak memberikan sanksi kepada praktikan yang tidak melengkapi persyaratan
yang telah ditentukan.
3. Praktikan wajib menjaga sopan, santun dalam bertutur kata dan berperilaku baik sesama
praktikan maupun kepada asisten.
4. Ketidakhadiran
a. Tidak mengikuti praktikum salah satu modul atau lebih, maka praktikan berhak
mengikuti praktikum susulan (jadwal pelaksanaan akan menyusul). Apabila
praktikan tidak mengikuti praktikum susulan dengan alasan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan maka berhak

mengulang keseluruhan praktikum di

tahun berikutnya.
b. Jika praktikan berhalangan hadir dikarenakan sakit, maka diwajibkan
menyerahkan surat keterangan dokter maksimal dua hari setelah praktikum.
5. Setiap praktikan wajib mengembalikkan fasilitas, perlengkapan dan / atau peralatan
praktikum yang digunakan dan dipinjam pada saat praktikum dan tidak diperkenankan
membawa barang-barang tersebut keluar dari ruangan Laboratorium PFT.
6. Penjadwalan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |3

a. Registrasi
Input Jadwal dilaksanakan
kelompok

dan

satu

dilakukan

kali

oleh

secara

perwakilan

online

anggota

tiap

Web

ie-

melalui

labwork.bie.telkomuniversity.ac.id
Jadwal shift praktikum berlaku hingga Praktikum Perancangan Tata Letak
dan Fasilitas berakhir.
Jadwal shift praktikum yang dipilih sesuai dengan kelas masing-masing
kelompok.
Apabila ada kelompok yang tidak input jadwal pada waktu yang telah
ditentukan, maka

asisten

laboratorium

berhak

menentukan

jadwal

praktikum dari kelompok tersebut.


b. Tukar jadwal
Praktikan dapat melakukan tukar jadwal praktikum dengan alasan yang
dipertanggungjawabkan paling lambat satu hari (24jam) sebelum praktikum
dilaksanakan.
Dilakukan dengan mengisi form tukar jadwal dalam kelompok (bukan
individu)
7. Praktikum
a. Praktikum Perancangan Tata Letak dan Fasilitas tahun akademik 2013/2014
terdiri dari 9 modul meliputi 1 modul penentuan lokasi, 6 modul tata letak
manufaktur, 1 modul material handling equipment dan 1 modul integrasi.
b. Praktikan wajib hadir tepat waktu saat pelaksanaan praktikum. Setiap
keterlambatan mendapat konsekuensi :
Keterlambatan 1-10 menit, boleh mengikuti praktikum tetapi tidak ada
tambahan waktu untuk pengerjaan tes awal.
Keterlambatan 10- 30 menit, boleh mengikuti praktikum, tetapi nilai Tes
Awal = 0.
Keterlambatan > 30 menit, tidak diijinkan mengikuti praktikum.
c. Alat komunikasi dinyalakan dalam mode silent atau dimatikan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |4

8. Prosedur Praktikum Susulan


a. Praktikum susulan maksimal 1 modul dari 4 modul pertama dan 1 modul dari
4 modul terakhir, lebih dari dua modul dinyatakan tidak lulus.
b. Jadwal susulan dilaksanakan seminggu sebelum UTS dan 2 minggu sebelum
UAS.
c. Aturan lainnya sama dengan aturan pelaksanaan praktikum.

9. Pakaian
a. Praktikan pria diwajibkan mengenakan seragam rapi dan sopan berupa
kemeja putih dan celana bahan warna biru gelap atau hitam dan wajib
masukkan serta memakai sepatu (tidak boleh memakai celana jeans).
b. Praktikan wanita diwajibkan mengenakan seragam rapi dan sopan berupa
kemeja putih dan rok bahan warna biru gelap atau hitam dan memakai
sepatu (tidak boleh memakai celana jeans).
10. Segala pengumuman yang berkaitan dengan Praktikum Perancangan Tata Letak dan
Fasilitas 2013/2014 hanya dapat dilihat di mading atau web Laboratorium PFT.
11. Laboratorium PFT tidak mentolerir segala bentuk kecurangan. Apabila praktikan
terbukti

berbuat curang, maka nilai praktikum PFT 2013/2014 dipastikan untuk

mendapat nilai E.
12. Kepentingan mahasiswa secara resmi dapat dilayani oleh Laboratorium PFT pada jam
kerja sampai dengan pukul 07.00 - 19.00 WLPFT (Waktu Laboratorium PFT).
13. Hal-hal yang belum tercantum dalam peraturan ini ditentukan kemudian.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |5

Penilaian Praktikum
1. Content Tiap Modul
TES AWAL

PRAKTIKUM

TES AKHIR

PROGRESS REPORT

15%

30%

25%

30%

II

15%

35%

20%

30%

III

10%

35%

20%

35%

IV

15%

35%

20%

30%

10%

35%

25%

30%

VI

15%

35%

20%

30%

VII

15%

35%

20%

30%

VIII

15%

35%

20%

30%

IX

40%

60%

2. Progress Report
a. Progress report dikumpulkan kepada asisten Lab PFT dalam waktu 3 x 24 jam
setelah jadwal praktikum.
b. Keterlambatan pengumpulan progress report dikenakan sanksi sebagai berikut :

Terlambat 1 - 15 menit

: Nilai progress report dipotong 25%

Terlambat 15 30 menit

: Nilai progress report dipotong 50%

Terlambat 30 60 menit

: Nilai progress report dipotong 75%

Terlambat > 60 menit

: Nilai progress report dipotong 100%

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |6

PENGANTAR TATA LETAK FASILITAS


Perencanaan tata letak (layout) secara umum banyak dibahas dalam beberapa literatur antara
lain pada facilities planning (perencanaan fasilitas). Facilities planning adalah berkaitan
dengan desain, tata letak (layout), lokasi, dan akomodasi orang, mesin, dan kegiatan dari
sistem atau manufaktur/jasa yang menyangkut lingkungan atau tempat yang bersifat fisik.
Berikut merupakan sistematika dalam perencanaan fasilitas :

1. Define and Redefine The Objective


Pada tahapan ini menentukan tujuan dari perencanaan fasilitas. Apakah akan
membuat rancangan fasilitas baru atau mendesaign ulang rancangan yang sudah ada.
2. Specify the Primary anf Support Activity

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |7

Menspesifikasikan

mana

aktifitas

primer

untuk

mencapai

tujuan

dan

menspesifikasikan aktifitas sekunder yang mendukung aktifitas primer.


3. Determine The Interrelationship
Menentukan hubungan keterkaitan antar aktivitas, apabila suatu departemen
memiliki keterkaitan yang sangat erat, maka posisinya bisa didekatnya agar aliran
operasinya lebih efisien.
4. Determine The Space Requirement
Menentukan kebutuhan ruang berdasarkan peralatan, pekerja, bahan material
5. Generate Facility Plan
Perancangan fasilitas alternatif meliputi rancangan tata letak alternatif, rancangan
struktural dan rancangan sistem pemindahan material ( material handling).
6. Evaluate Alternative Facility Plan
Menelusuri dampak penggunaan alternatif tersebut, memvisualisasikan interaksi dan
urutkan berdasarkan manfaat.
7. Select Facility Plan
Memilih rancangan fasilitas yang paling memiliki sedikit backtracking serta biaya
penyusutan yang paling rendah.
8. Implement Facility Plan
Mengimplementasikan rancangan tata letak fasilitas yang telah dirancang.
9. Maintain and Adapt
Keseluruhan dari rencana fasilitas harus dimodifikasi secara serasi. Rencana fasilitas
merupakan refleksi dari penghematan energi atau perbaikan dari peralatan
penanganan bahan menjadi lebih berguna.

Tata letak fasilitas (facility Layout) adalah susunan mesin, proses, departemen, tempat kerja,
area penyimpanan, gang dan fasilitas umum yang ada. Sedangkan tata letak (layout) adalah
susunan departemen, tempat kerja, dan peralatan, dengan perhatian utama pada gerakan
kerja (pelanggan atau material) melalui sistem: tata letak tetap (fixed-position layouts), tata

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |8

letak proses (process layouts), tata letak produk (product layouts), atau tata letak kombinasi
(combination layouts).
Tata letak yang baik dari segala fasilitas produksi dalam suatu pabrik adalah dasar untuk
membuat kerja menjadi lebih efektif dan efisien. Secara umum tujuan dan manfaat dari
adanya perancangan tata letak fasilitas adalah sebagai berikut :
1. Mengurangi investasi peralatan.
Perancangan tata letak akan memberi manfaat untuk menurunkan investasi dalam
peralatan. Penyusunan mesin-mesin dan fasilitas pabrik, dan departemen yang tepat,
serta pemilihan metode yang cermat, sedikit banyak akan dapat membantu menurunkan
jumlah peralatan yang diperlukan. Sebagai contoh adalah bila dua atau lebih komponen
berbeda, dalam proses pembuatannya memerlukan mesin yang sama, maka sebaiknya
proses pembuatan tersebut dapat dilewatkan pada mesin yang sama.
2. Penggunaan ruang lebih efektif.
Manfaat lain dari perncangan tata letak adalah penggunaan ruang yang lebih efektif.
Penggunaan ruang akan efektif jika mesin-mesin atau fasilitas pabrik lainnya disusun
atau diatur sedemikian rupa sehingga jarak antar mesin-mesin atau fasilitas pabrik
tersebut dapat seminimal mungkin tanpa mengurangi keleluasaan gerak para pekerja.
Dengan jarak minimal maka akan menghemat area yang digunakan. Penghematan area
berarti juga penghematan biaya, karena setiap meter persegi luas lantai akan memberi
beban biaya.
3. Menjaga perputaran barang setengah jadi menjadi lebih baik.
Adanya perancangan tata letak yang baik akan menjaga perputaran barang setengah jadi
menjadi lebih baik. Suatu proses produksi dapat dikatakan lancar jika bahan melewati
proses dengan waktu sesingkat mungkin. Hal ini dapat terjadi jika suatu proses produksi
dapat terhindar dari adanya penumpukan barang setengah jadi. Suatu aliran produksi
sedapat mungkin melalui proses dimana penyimpanan barang setengah jadi diturunkan
mendekati titik nol.
4. Menjaga fleksibilitas susunan mesin dan peralatan.
Ada kalanya suatu pabrik melakukan perbaikan atau penambahan fasilitas atau
bangunan baru. Untuk itu perancangan tata letak harus dapat menjamin atau menjaga
fleksibilitas dari susunan mesin-mesin atau fasilitas-fasilitas pabrik dari kemungkinan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2013/2014 |9

tersebut. perbaikan atau penambahan fasilitas atau bangunan baru tidak serta merta akan
mengubah atau mengganti seluruh susunan yang telah ada.
5. Memberi kemudahan, keamanan dan kenyaman bagi karyawan.
Untuk maemberi kemudahan, keamanan dan kenyamanan bagi para karyawan, maka
yang perlu diperhatikan dalam proses perancangan tata letak adalah bagaimana
mengatur lingkungan kerja seperti pencahayaan atau penerangan, sirkulasi udara,
temperatur, pembuangan limbah dan sebagainya. Penempatan mesin-mesin dan
peralatan lainnya harus dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dari para
karyawan.
6. Meminimumkan material handling.
Perancangan tata letak tidak dapat dipisahkan dengan masalah penanganan bahan. Setiap
proses produksi tidak bisa dihindari adanya gerakan perpindahan bahan. Gerakan
perpindahan bahan ini akan memberikan beban biaya yang tidak sedikit. Lebih-lebih jika
proses pergerakan perpindahan bahan ini tidak menganut asas efektivitas, misalkan
suatu proses operasi yang satu dengan yang lain yang berurutan jaraknya relatif jauh.
Hal ini akan membutukan waktu tambahan sehingga total waktu pengerjaan suatu
produk akan menjadi lebih lama. Demikian pula biaya dalam perpindahan material ini
juga akan semakin besar.
7. Memperlancar proses produksi.
Proses manufaktur akan menjadi lebih mudah jika telah dilakukan perancangan tata
letak. Dengan menggunakan beberapa metode atau tipe-tipe tata letak yang sesuai,
proses produksi akan berjalan sesuai dengan aliran proses yang telah digariskan.
8. Meningkatkan efektivitas penggunaan tenaga kerja.
Tata letak yang ada pada pabrik sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas tenaga
kerja. Departemen yang disusun berdasarkan aliran produksi yang tepat, dengan
peralatan pemindah bahan yang lebih modern seperti conveyor, crane, hoist, dan
peralatan modern lainnya akan mengurangi waktu dan tenaga yang digunakan para
pekerja dalam melakukan pergerakan. Efektivitas pemakaian tenaga kerja dengan
sendirinya akan lebih meningkat.

Dalam mendesain tata letak pabrik, berdasarkan literatur ada beberapa algoritma yang dapat
digunakan dalam mengatur letak tiap departemen, algoritma tersebut terdiri dari algoritma

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 10

konstruksi dan algoritma perbaikan. Berikut merupakan penjelasan dari kedua algoritma
tersebut beserta contohnya :

Algoritma Konstruksi
Algoritma konstruksi terdiri dari penyeleksian dan penempatan fasilitas atau departemen
secara berturut-turut sehingga diperoleh suatu tata letak yang baik. Algoritma ini
digunakan untuk mengembangkan tata letak yang baru atau awal. Maksud dari algoritma
dengan metode ini bekerja dari keadaan belum adanya susunan tata letak dan membentuk
susunan tata letak dengan cara menempatkan departemen-departemen yang disediakan
sehingga terbentuk susunan yang baik.
CORELAP
CORELAP (Computerized Relationship Layout Technique) merupakan suatu
algoritma konstruksi yang menentukan penyusunan tata letak, prinsip kerjanya
menggunakan hasil perhitungan Total Closeness Rating (TCR) dari setiap
departemen. TCR merupakan jumlah dari nilai-nilai numerik yang menyatakan
hubungan kedekatan antar departemen. Hubungan tersebut ditunjukkan melalui
huruf-huruf yang masing-masing telah diberi bobot.
Adapun bobot kedekatan yang digunakan adalah sebagai berikut:
A

= 6 (Mutlak harus didekatkan)

= 5 (Sangat penting didekatkan)

= 4 (Penting didekatkan)

= 3 (Dapat didekatkan)

= 2 (Tidak penting didekatkan)

= 1 (Dihindari untuk didekatkan)

ALDEP
Algoritma ALDEP (Automated Layout Design Program) termasuk dalam metode
konstruksi dengan data yang digunakan adalah data kualitatif. Algoritma ini
pertama kali dikembangkan oleh Seehof dan Evans pada tahun 1967.
Pengembangan berikutnya dilakukan oleh perusahaan di IBM. Prinsip kerja
ALDEP berdasarkan prefensif hubungan aktivitas seperti algoritma CORELAP.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 11

Perbedaan dasar dengan CORELAP terletak pada jumlah AAD yang dihasilkan.
CORELAP menghasilkan satu AAD terbaik, sedangkan ALDEP menghasilkan
beberapa kemungkinan AAD yang evaluasinya diserahkan kepada perancang.
ALDEP menggunakan nilai pada setiap bentuk tingkat hubungan dalam bentuk
angka. Nilai-nilai tersebut adalah:
A

= 64 (Mutlak harus didekatkan)

= 16 (Sangat penting didekatkan)

= 4 (Penting didekatkan)

= 1 (Dapat didekatkan)

= 0 (Tidak penting didekatkan)

= -1024 (Dihindari untuk didekatkan)

Nilai untuk alternatif yang dihasilkan diperoleh dengan menjumlahkan nilai-nilai


departemen yang saling berdampingan. ALDEP dapat melayani sampai 63
departemen atau aktivitas, dapat juga diterapkan dalam bangunan tiga lantai
dengan mempertimbangkan lokasi-lokasi yang sudah diterapkan terlebih dahulu
seperti lorong, tangga dan lain sebagainya.
PLANET
PLANET (Plant Layout Analysis and Evaluation Technique) pada awalnya
merupakan pengembangan model oleh J.M. Devis terhadap riset yang dilakukan
oleh A.J. Gani pada tahun 1965 di Institut Teknologi Georgia yang berjudul
Evaluation of Alternative Material Handling Flow, kemudian oleh K.M. Kleim
model yang telah dikembangkan tersebut dibuat program komputrnya. PLANET
dalam pembentukan tata letak mempunyai kelebihan karena mampu untuk
menerima tiga jenis input data dan mempunyai tiga metode seleksi departemen
yang akan ditempatkan. Ketiga jenis input ini adalah:
a.

Extended part list

b.

From to chart

c.

Penalty chart

Selain input tersebut, PLANET juga membutuhkan prioritas penempatan untuk


setiap departemen. Prioritas tertinggi adalah 1 dan prioritas terendah adalah 9.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 12

Metode seleksi yang digunakan dalam memilih departemen yang akan


ditempatkan dalam tata letak yaitu metode seleksi A, B, C.

Algoritma Perbaikan
Algoritma dengan metode perbaikan (Improvement Method) digunakan untuk
mengalokasikan kembali tata letak fasilitas dari suatu susunan yang sudah ada dengan
cara melakukan pertukaran lokasi departemen yang sudah ada. Selain dapat digunakan
untuk re-allocation, algoritma perbaikan juga dapat digunakan untuk merencanakan tata
letak. Perencanaan tata letak dengan algoritma perbaikan dilakukan dengan cara
membuat tata letak awal, kemudian dilakukan pertukaran tata letak sampai diperoleh
hasil akhir.
COFAD
Algoritma COFAD (Computerized Facilities Design) pada dasarnya merupakan
modifikasi dari CRAFT yang mempertimbangkan ongkos dari setiap alternatif
penggunaan berbagai peralatan penanganan material yang sesuai agar diperoleh
ongkos sekecil mungkin. Data masukan yang dibutuhkan COFAD adalah sebagai
berikut:
1.

Alternatif-alternatif peralatan material handling.

2.

Ongkos operasi masing-masing alternatif.

3.

From To Chart untuk masing-masing peralatan material handling.

4.

Tata letak awal (sekarang).

CRAFT
Sejak tahun 1983 teknik CRAFT (Computerized Relative Allocation of Facilities
Techniques) bertujuan untuk meminimumkan biaya perpindahan material, dimana
biaya perpindahan material didefenisikan sebagai aliran produk, jarak dan biaya
unit pengangkutan. CRAFT awalnya dipresentasikan oleh Armour dan Bufa.
CRAFT merupakan contoh program tipe teknik Heuristic yang berdasarkan pada
interpretasi Quadratic Assignment dari program proses layout, yaitu mempunyai

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 13

kriteria dasar yang digunakan meminimumkan biaya perpindahan material,


dimana biaya ini digambarkan sebagai fungsi linier dari jarak perpindahan. Fungsi
tujuan dari CRAFT adalah:
F = max/min ij Cij Wij Dij ......................... (2.4)
Dimana:
Cij = Ongkos aliran antar departemen
Wij = Frekuensi aliran antar departemen
Dij = Jarak antar departemen

CRAFT memerlukan input yang berupa biaya perpindahan material. Input biaya
perpindahan berupa biaya per satuan perpindahan per satuan jarak (ongkos
material handling per satuan jarak/OMH per satuan jarak). Asumsi-asumsi biaya
perpindahan material adalah sebagai berikut:
1. Biaya perpindahan tidak tergantung (bebas) terhadap utilisasi peralatan.
2. Biaya perpindahan adalah linier terhadap panjang perpindahan.
3. algoritma CRAFT melakukan pertukaran dua atau tiga departemen sekaligus.
Untuk setiap pertukaran, CRAFT menghitung ongkos transportasinya.
Pertukaran yang menghasilkan ongkos terbesar akan dipilih atau dicetak dalam
tata letak. Prosedur ini berlanjut sampai tidak ada lagi pertukaran lokasi yang
menghasilkan ongkos lebih kecil dari ongkos tata letak saat ini. CRAFT hanya
dapat melayani pertukaran sampai 40 departemen.

CRAFT merupakan sebuah program perbaikan. Program ini mencari perancangan


optimum dengan melakukan perbaikan tata letak secara bertahap. CRAFT
mengevaluasi tata letak dengan cara mempertukarkan lokasi departemen.
Perubahan antar departemen diharapkan dapat mengurangi biaya perpindahan
material. Selanjutnya CRAFT membuat pertimbangan pertukaran departemen
untuk tata letak yang baru, dan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai
menghasilkan tata letak yang terbaik dengan mempertimbangkan biaya
perpindahan material.

Input yang diperlukan untuk algoritma CRAFT (Francis R., L., and White J., A.)
adalah:

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 14

Tata letak awal

Data aliran (frekuensi perpindahan)

Data biaya (OMH per satuan jarak)

Jumlah departemen yang tidak berubah (fixed)

Perhitungan jarak antar mesin i dan mesin j dengan dua titik pusat yang berbeda
adalah:
Mesin i mesin j = [Xi Xj] + [Yi Yj] .......................... (2.5)

CRAFT untuk selanjutnya mempertimbangkan perubahan antar departemen yang


luasnya sama atau mempunyai sebuah batas dekat untuk mengurangi biaya
transportasi. Tipe pertukaran dapat terjadi seperti berikut (Francis R., L., and
White J., A.) :
a) Pair-Wise Interchanges (Pertukaran 2 departemen).
b) Three-Way Interchanges (Pertukaran 3 departemen).
c) Pair Wise Allowed by Three Way Interchanges (Pertukaran 2 departemen
dilanjutkan dengan pertukaran 3 departemen).
d) The best of Pair Wise or Three Way Interchanges (Pemilihan yang terbaik
antara pertukaran 2 departemen dan 3 departemen).

CRAFT membangun sebuah tata letak akhir dengan perbaikan bagian dari tata
letak awal melalui beberapa iterasi sampai pada layout terakhir, dan tata letak
akhir ini diperoleh tergantung pada tata letak awal. Departemen dummy adalah
departemen yang tidak mempunyai aliran terhadap departemen lain tetapi
meliputi sebuah area spesifik. Departemen dummy antara lain dapat digunakan
untuk hal-hal sebagai berikut:
Mengisi bangunan yang bersifat umum atau tidak beraturan.
Menggambarkan area yang tetap di dalam fasilitas dimana departemen
tidak dapat dialokasikan, yaitu tangga elevator, ruang istirahat, tempat
alat-alat service dan lain-lain.
Menyatakan ruang ekstra dalam fasilitas.
Membantu dalam mengevaluasi lokasi gang dalam tata letak.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 15

Ketika departemen dummy digunakan untuk menyatakan sebuah departemen tidak


berubah-ubah posisinya maka lokasi departemen harus dibuat tetap. Keuntungan
lain, CRAFT mengizinkan pengguna untuk menetapkan lokasi beberapa
departemen (dummy atau departemen lainnya). CRAFT mampu untuk
menyesuaikan departemen nonrectangular (tidak berbentuk kotak) atau
departemen yang tidak beraturan ditempatkan dimanapun yang diinginkan.

Kriteria penukaran data inti pada CRAFT adalah:


1) Kriteria pertukaran
Departemen yang menjadi kandidat untuk pertukaran dua atau tiga
departemen harus memenuhi paling sedikit satu dari kriteria berikut ini:
-

Departemen harus memiliki perbatasan yang sama.

Departemen harus memiliki ukuran atau area yang sama.

Departemen harus memiliki kedua perbatasan yang sama pada ketiga


departemen.

2) Data input (masukan)


Data masukan yang dibutuhkan oleh CRAFT yaitu :
-

Tata letak awal

Data aliran material (From to chart)

Data ongkos perpindahan (Move cost chart)

Jumlah dan lokasi dari departemen yang tetap atau tidak ikut
dipertukarkan.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 16

MODUL I
PENENTUAN TATA LETAK PUSAT FASILITAS

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mampu memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan penentuan lokasi
fasilitas/pabrik.
2. Praktikan mampu memahami alternatif pemilihan lokasi pabrik menggunakan metode
kualitatif dan kuantitatif.
3. Praktikan mampu menganalisis dan memilih alternatif tempat yang optimal untuk
penempatan peletakkan pusat fasilitas.

REFERENSI
1. Wignjosoebroto, Ir. Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Surabaya : Guna
Widya. Edisi ketiga.
2. Slide Manajemen Transportasi dan Logistik Universitas Brawijaya
3. PFT Laboratory. 2013.Modul Praktikum Perancangan Fasilitas Telekomunikasi.
Bandung.

ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 17

LANDASAN TEORI
Tata letak pabrik atau tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan
fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi (Wignjosoebroto,
1996). Pengaturan tersebut akan memanfaatkan luas ruang untuk penempatan mesin-mesin,
fasilitas produksi, kelancaran aliran material, penyimpanan material baik yang bersifat
sementara ataupun permanen. Secara skematis hirarki dari perencanaan fasilitas pabrik
dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.1 Hirarki Perencanaan Fasilitas Pabrik


Pada gambar 1.1 dapat dilihat bahwa Hirarki Perencanaan Fasilitas dibagi menjadi dua
tahap, yaitu tahap Facilities Location dan tahap Facilities Design. Pada modul ini akan
dibahas lebih lanjut mengenai tahap Facilities Location, dan untuk tahap Facilities Design
akan dibahas pada modul selanjutnya.
I.

Penentuan Lokasi Pabrik


I.1 Strategi Lokasi
Persoalan dimana suatu pabrik akan didirikan bukanlah hal yang mudah untuk
dipecahkan. Pada umumnya ada beberapa alasan dalam penentuan lokasi pabrik, yaitu :

Perluasan pabrik (expansion)

Pemecahan pabrik ke dalam sentral-sentral unit kerja (decentralization)

Faktor-faktor ekonomis (perubahan pasar, penyediaan tenaga kerja, dan lain lain)

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 18

Selanjutnya beberapa kondisi yang perlu diperhatikan saat proses penentuan lokasi
pabrik, yaitu :
a. Lokasi di kota besar (city location)

Tenaga kerja yang terampil lebih mudah didapat

Proses produksi sangat tergantung pada fasilitas-fasilitas yang umumnya


hanya terdapat dikota besar saja seperti listrik, gas dan lain-lain

Kontak dengan supplier dekat dan cepat

Sarana transportasi dan komunikasi mudah didapatkan

b. Lokasi di pinggir kota (sub urban location)

Tenaga kerja Semi-skilled mudah diperoleh

Menghindari pajak yang berat seperti halnya kalau lokasi terletak di kota
besar

Tenaga kerja dapat tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik

Rencana ekspansi pabrik akan mudah dibuat

Populasi tidak begitu besar sehingga masalah lingkungan tidak banyak


timbul

c. Lokasi jauh diluar kota (Country location)

Lahan yang luas mudah didapat

Pajak terendah bisa diperoleh

Banyak tenaga kerja tidak terampil

Mudah mendapatkan upah buruh yang lebih rendah

Baik untuk proses manufaktur produk-produk yang berbahaya

Berikut ini merupakan alternatif pilihan dalam menentukan sebuah lokasi antara lain :
a. Tidak pindah, akan tetapi MELUASKAN fasilitas yang telah ada.
b. MEMPERTAHANKAN lokasi yang sekarang dan menambah fasilitas lain
ditempat lain.
c. MENUTUP fasilitas yang ada dan pindah ke lokasi lain.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 19

I.2 LOKASI IDEAL


Lokasi ideal adalah suatu posisi atau tempat sebuah industri atau perusahaan yang
mampu memberikan total biaya produksi yang rendah dan akhirnya mampu memberikan
keuntungan yang maksimal. Suatu lokasi yang baik dapat ditandai dengan :

Infrastruktur yang baik, seperti : jalan, listrik, air, dan keamanan.

Dekat dengan supplier (pemasok).

Distribution cost yang rendah.

Kedekatan dengan customer untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi


para pelanggan.

BUSINESS SUCCESS OFTEN IS BEING IN THE RIGHT PLACE AT THE RIGHT TIME

I.3 FAKTOR-FAKTOR PENENTU LOKASI


Memilih lokasi menjadi rumit karena adanya globalisasi tempat dengan kata lain
keputusan penentuan lokasi dapat melewati batas negara. Berikut merupakan faktor
penentu lokasi :
1. Ketersediaan tenaga kerja (termasuk sikap, umur, distribusi, keahlian, dan
biaya)
Faktor produksi tenaga kerja, merupakan salah satu faktor penentu lokasi yang
penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi. Setiap proses produksi
diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai, bukan saja dilihat dari tersedianya
tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula diperhatikan.
Jumlah tenaga kerja yang diperlukan harus disesuaikan dengan kebutuhan sampai
tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal.
2. Jarak lokasi dengan bahan baku dan pemasok
Hal ini ditunjukkan agar menghemat biaya transportasi. Selain itu pertimbangan
lainnya apabila barang yang disuplai mudah rusak dan jumlah produksi sangat besar.
3. Produktifitas Operasional Perusahaan
Tingkat produktifitas dapat diukur dari tenaga maupun performansi alat produksi.
hal ini sangat menentukan keberhasilan atau kesuksesan perusahaan. Berkaitan
dengan strategi penentuan lokasi maka banyak perusahaan mempertimbangkan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 20

faktor seberapa produktif tenaga kerja maupun peralatan produksi di beberapa


alternatif lokasi yang dipertimbangkan.
4. Jarak lokasi dengan pasar
Pusat fasilitas sebaiknya diletakkan dekat dengan pasar untuk mempermudah dalam
memenuhi demand maupun meminimasi biaya distribusi.
5. Peraturan lingkungan hidup
Sikap dari pemerintah pusat, wilayah maupun daerah terhadap kepemilikan swasta,
penetapan zona, polusi, stabilitas tenaga kerja dan juga pola kepemimpinan. Serta
tidak kalah penting adalah budaya masyarakat di lokasi tersebut.
6. Biaya lokasi : tanah, ekspansi, parkir
Biaya terkandung dalam lokasi ada dua macam. Biaya yang pertama adalah biaya
nyata (tangible cost), biaya yang dapat dihitung atau langsung dikenali secara tepat.
Biaya ini meliputi : biaya pelayanan umum, tenaga kerja, biaya sewa tanah, pajak,
penyusutan, dan biaya lainnya. Sedangkan biaya yang kedua adalah biaya tidak
nyata (intangible cost), biaya yang lebih sulit ditentukan, meliputi kualitas
pendidikan, sikap calon karyawan, standar hidup dan lain-lain yang dapat
mempengaruhi proses rekrutmen.
7. Ketersediaan transportasi (darat, laut, dan udara)
Faktor ini juga penting karena dengan adanya transportasi ini bahan baku
didatangkan dan bahan jadi akan dikirim. Terabaikannya masalah transportasi akan
menimbulkan kesulitan produksi (misalnya karena keterlambatan pengiriman bahan
baku) dan tersendatnya distribusi hasil produksi ke pasar.
8. Isu kualitas hidup masyarakat
Masyarakat merupakan faktor penting dalam penentuan lokasi usaha mengingat
keberadaan perusahaan disamping dapat memberi manfaat disisi lain dapat
menimbulkan kerugian bagi masyarakat, di sekitar usaha khususnya. Oleh karena itu
penerimaan masyarakat akan keberadaan perusahaan menjadi sangat penting.
9. Kurs Valuta Asing (tingkat kurs dan stabilitas kurs)
Semakin stabil nilai tukar uang pada suatu daerah maka semakin baik untuk
dijadikan sebagai tempat pusat fasilitas karena dapat meminimasi resiko kerugian
pada saat nilai tukar fluktuatif.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 21

10. Peraturan pemerintah


Pemerintah selama ini telah menentukan kawasan untuk pemukiman dan industri.
Dengan demikian perusahaan tidak dapat atau akan mengalami kesulitan bila
memilih lokasi yang bukan kawasan industri. Termasuk juga disini masalah ijin
mendirikan bangunan, ketinggian maksimal bangunan, pembuangan limbah, dan
kebijakan pemerintah lainnya.
11. Kedekatan dengan pesaing
Keberadaan pesaing termasuk faktor yang dipertimbangkan karena hal ini terkait
dengan pemasaran dan jumlah demand yang menggunakan layanan atau fasilitas dari
perusahaan.

Kekeliruan Dalam Penentuan Lokasi :


1. Kurangnya analisa/pertimbangan faktor-faktor terkait.
2. Besarnya pengaruh manajemen yang bersifat subyektif.
3. Pemilihan Kampung Halaman atau lokasi sekitar tempat tinggal.
4. Kejenuhan suatu wilayah
5. Sudah tersedianya lahan

II. METODE-METODE PENENTUAN ALTERNATIF LOKASI


Terdapat 2 metode pendekatan yang digunakan untuk menentukan alternatif lokasi
pabrik, yaitu metode kualitatif (Ranking Procedure) dan metode kuantitatif (metode
Analisa Pusat Gravitasi/COG dan metode Coverage Center).

II.1. Alternatif Pemilihan Lokasi Pabrik dengan Metode Kuantitatif


Metode ini bersifat kuantitatif dan dianggap obyektif karena penilainnya akan
didasarkan pada ukuran-ukuran yang bisa dikuantifikasikan secara nyata. Disini akan
dibahas beberapa metode kuantitatif yang mana secara garis besar kita bagi menjadi 2
metode dasar yaitu :

Metode Centre of Gravity (COG)

Metode Coverage Center

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 22

1. Metode Analisa Pusat Gravitasi (COG/Centre of Gravity)


Metode Center of gravity adalah sebuah teknik matematis yang digunakan untuk
menemukan lokasi yang paling baik untuk suatu titik distribusi yang dapat
meminimalkan biaya distribusi.
Langkah-langkah :
a) Masukkan total demand yang ada pada setiap grid wilayah.
b) Hitung total demand setiap baris & kolom, lalu hitung kuadratisnya (d^2),
kemudian kalikan dengan koordinatnya ((d^2)*X dan (d^2)*Y).
c) Tentukan Koordinat x dan y

d) Hasil jadi seperti berikut ini :

Dari data disamping, koordinat x dan y sentral dihitung dengan rumus Metode COG
diatas, sehingga didapatkan koordinat sentral sbb:
X = 222511 / 61799 = 3.6
Y = 205286 / 75759 = 2.7
Dari sel yang ada, maka alternative letak sentral pada koordinat (3.6 ; 2.7) berada
pada sel C2,D2,C3,D3. Berdasarkan peta yang telah dibuat grid untuk perhitungan
di atas 4 alternatif sel tersebut adalah
1) COG = (3,2)

3) COG = (4,2)

2) COG = (3,3)

4) COG = (4,3)

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 23

2. Metode Coverage Center


a) Masukkan total demand yang ada pada setiap grid wilayah.
b) Hitung total demand setiap baris & kolom, lalu hitung pula kumulatifnya,
sehingga jumlah kumulatif horizontal = jumlah kumulatif vertikal.
c) Hitung nilai Pusatnya mendekati pada kolom jumlah kumulatif horizontal ditarik
garis lurus horizontal. Demikian juga dari nilai yang sama atau mendekati pada
kolom jumlah kumulatif vertikal ditarik garis lurus vertikal.
d) Tentukan pusat demandnya

Contoh :

Median = 270,5
Pertemuan dari kedua garis tersebut merupakan lokasi teoritis dari sentral. Dalam
realisasinya lokasi tersebut ini masih perlu diteliti dan dipertimbangkan, dengan
memperhatikan daerah disekitar titik temu tersebut maka di dapatkan beberapa alternatif
lokasi yakni B2,C2,B3,C3. kemudian pilih alternatif terbaik dengan pembobotan.

II.2 Alternatif Pemilihan Lokasi Pabrik dengan Metode Kualitatif (Rangking


Procedure)
Metode ini lebih bersifat kualitatif dan/atau subyektif. Disini akan baik aplikasinya
untuk problema-problema yang sulit untuk dikuantifikasikan. Prosedur yang harus
dilaksanakan dalam pendekatan dengan metode kualitatif ini bisa diatur berdasarkan
langkah-langkah analisa sebagai berikut:

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 24

1. Metode Ranking Procedure


a) Tentukan faktor yang akan menjadi pertimbangan dari pemilihan lokasi dan
tentukan pula daerah mana saja yang akan dibandingkan. Faktor yang digunakan
dalam meranking dapat berupa hal hal yang menyangkut tersedianya tanah pada
lokasi, harga tanah, indeks pembangunan manusia, gaji karyawan, biaya
transportasi, serta kedekatan dengan suplier
b) Tentukan beberapa data yang menjadi pertimbangan dari setiap lokasi
yang dibandingkan.

Contoh :
Faktor
Harga tanah (per m2)
Indeks pembangunan
manusia
Ketersediaan transportasi
Gaji karyawan(per bulan)
Kedekatan dengan suplier

Cikarang
Rp
3.000.000

Kediri
Rp
9.253.473

Bandung
Rp
1.250.000

Cilegon
Rp
5.670.891

Semarang
Rp
8.714.286

73.39
5
Rp
2.002.000
4

72.28
3
Rp
1.089.950
3

74.43
4
Rp
1.396.399
5

75.52
1
Rp
2.200.000
1

77.42
2
Rp
1.051.000
2

c) Tentukan bobot dari setiap faktor, kemudian tentukan nilai perkalian antara
bobot dengan nilai tiap-tiap faktor.
Contoh :

d) Kemudian tentukan jumlah dari hasil perkalian pada point c, dan pilih daerah
yang memiliki poin terbesar.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 25

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM
Keterangan : Data peta berdasarkan data peramalan demand telah disiapkan oleh asisten
1. Buka file yang telah disediakan (dalam format excel)
2. Dapat diketahui demand masing masing area pada pulau jawa yang terdapat dalam
file excel.
3. Lakukan penentuan letak pabrik berdasarkan metode COG, dan Coverage Centre
pada sheet yang disediakan.
4. Lakukan penentuan letak pabrik berdasarkan metode Rangking Procedure.
5. Lakukan analisis kota mana yang akan dipilih untuk penempatan pusat fasilitas.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 26

MODUL II
PENENTUAN ALIRAN PRODUK PADA PEMBUATAN SEPATU

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mampu menganalisis aliran proses produksi dengan menggunakan OPC
dan Precendence Diagram
2. Praktikam mampu menganalisis produk menggunakan Bill of material

REFERENSI
1. http://etc-jxzzjc.hrbeu.edu.cn/Analysis and implementation of the BOM of a tree-

type structure in MRPII


2. Apple, James M.Tata letak pabrik dan pemindahan bahan : ITB: Bandung
3. http://teknikmanajemenindustri.wordpress.com/2010/10/26/routing-sheet/
4. PFT Laboratory. 2011.Modul Praktikum Perancangan Fasilitas Telekomunikasi.

Bandung.
5. Ariestyandi, Ramadian. 2011. TUGAS AKHIR PERANCANGAN DAN SIMULASI

TATA LETAK FASILITAS PABRIK UNTUK MENGOPTIMALKAN MATERIAL


HANDLING DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA CRAFT PADA PT.
PINDAD.Bandung
6. Wignjosoebroto, Sritomo. Tata Letak Pabrik Dan Pengendalian Bahan : Surabaya:

Institut Teknologi Sepuluh November, 1996


7. http://library.binus.ac.id/eColls/eThesis/Bab2/2006-2-01103-TI-Bab%202.pdf
8. Baroto, Teguh. Perencanaan dan Pengendalian Produksi : Jakarta : Ghalia Indonesia,

2002

ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 27

LANDASAN TEORI

II.1 BILL OF MATERIAL


DEFINISI
Bill of material (BOM) merupakan teknik dokumen yang memperjelas struktur suatu
produk, digunakan untuk menunjukkan struktur dan hubungan antara final product (produk
utama yang dihasilkan oleh perusahaan), sub assembly (yang terdiri dari bagian-bagian
untuk menyusun produk utama), parts of material serta jumlah yang sesuai dari pangkat
yang lebih rendah dari bagian dan material dari setiap assembly. Dengan adanya BOM maka
akan mempermudahkan pekerja untuk mengetahui yang manakah parent komponen dan
child komponen, serta berasal dari manakah penyusun komponen tersebut.
Bill of material mempunyai manfaat yang beragam, di bawah ini akan dipaparkan beberapa
contoh dan mengapa kita memerlukan Bill of material dalam manufaktur. Di antaranya :
1. Procurement / Purchasing : departmen yang bertugas sebagai gerbang perusahaan
dalam hal pembelian komponen bahan baku atau barang jadi memerlukan data Bill
of material sebagai referensi daftar komponen yang harus mereka beli atau order,
proses apa yang terdapat dalam komponen tersebut, lalu bagaimana part tersebut
didapat dengan sumber dari lokal atau import. Dari berbagai infomasi yang terdapat
di BOM memiliki peranan penting, karena perusahaan harus mendapatkan harga
komponen yang sesuai dengan target perusahaan dalam menghasilkan produk jadi
nantinya. Setiap komponen harga memiliki harga yang rasional agar tidak
mengakibatkan mahalnya produk yang akan dijual nantinya.
2. Engineering : di dalam proses produksi terdapat instruksi kerja untuk seorang
operator, setiap instruksi kerja memiliki komponen yang akan diproses, baik itu
welding, painting, machining dan lainnya memerlukan Bill of material sebagai dasar
penomoran komponen. Kode nomor harus sesuai dengan yang terdapat di dalam Bill
of material pembuatan instruksi kerja atau yang dikenal dengan OP-Sheet
(Operation Standard). Engineering departement juga memiliki peranan penting
untuk menginformasikan tingkatan atau level proses yang terdapat di dalam suatu
komponen atau part.
3. PP (Planning Production Control) : departemen ini yang bertanggung jawab dalam
proses MRP (Material Requirement Planning) yaitu suatu proses pada suatu sistem
untuk pengorderan sesuai dengan planning produksi atau sesuai dengan jumlah

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 28

order pesanan data Bill of material dipergunakan sebagai dasar terbentuknya PO


(Purchase Order) dari hasil proses MRP. Selain sebagai dasar terbentuknya PO, bill
of material berguna sebagai Forecast.

Cara Membuat BOM


Dalam pembuatan bill of material atau daftar order barang, perlu diingat bahwa sebelum
dilakukannya pembuatan BOM, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang akan dibuat, daftar
order barang harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Pembuatan bill of material atau daftar
order barang dapat dibuat dengan cara pembuatan baru atau memodifikasi bill of material
yang sudah ada. Setiap perusahaan pastinya memiliki sistem yang berbeda satu sama lain,
yang disebabkan karena kebutuhan yang berbeda sesuai kategori perusahaan masingmasing. Banyak pilihan aplikasi atau software yang dapat digunakan dan penanganannya
pun berbeda-beda pada setiap sistem yang dipakai.

Pahami dan kuasai terlebih dahulu sistem aplikasi perusahaan sebelum anda melakukan
pembuatan bill of material dan pelajari fungsi-fungsi dalam sistem aplikasi perusahaan.
Kumpulkan semua data-data pendukung atau referensi yang akan diimplementasikan nanti
ke dalam bill of material, perhatikan dengan teliti setiap informasi yang dibutuhkan agar
sesuai dengan yang diharapkan.

Sebelum memulai pembuatan bill of material, pastikan semua part nomor sudah terdaftar ke
dalam sistem, setiap part nomor mewakili satu barang atau komponen. Pastikan bahwa part
nomor tersebut telah memiliki atributnya dengan lengkap, seperti : part nomor tersebut
dibeli atau tidak , memiliki proses atau tidak memiliki proses, harga barang atau komponen,
kode vendor atau suplier dan lain-lain. Semua informasi itu dibutuhkan sebelum kita
melakukannya. Atribut informasi tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing perusahaan.

Setelah data-data lengkap part nomor sudah dibuat, mulailah merangkai satu per satu part
nomor tersebut , untuk mempermudah mulailah dari level yang paling atas. Biasanya BOM
baru dibuat dengan pembuatan 1 set dari suatu level BOM, yang mana setiap terdiri dari
parent item dan children item. Informasi dari struktur dapat berupa nomor produk, nomor
level, nomor lokasi dan nomor lokasi dari item parent. Dan untuk membuat BOM, harus

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 29

diketahui

komponen

penyusun

pendahulunya

untuk

memudahkan

kitamelakukan

penempatan level. BOM yang baik harus memberikan informasi-informasi penting agar
mempermudah operator dalam mengerjakan pembuatan produk tersebut. Seperti jenis
komponen yang detail dan berapa banyak yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut.

Keterangan struktur BOM


A
B
(c,d)

Gambar II.1 Struktur BOM


Keterangan:
A

: Nama part

: Kode part

: Level BOM

: Jumlah part

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 30

Contoh Bill of material


Sepatu
S-01
(0,1)

Upper
S-02
(1,1)

Leather
S-06
(2,1)

Insole
S-03
(1,1)

Benang
S-07
(2,1)

Phylon
S-08
(2,1)

Midsole
S-04
(1,1)

Rubber 1
S-09
(2,1)

Outsole
S-05
(1,1)

Sponge
S-10
(2,1)

Rubber 2
S-11
(2,1)

Gambar II.2 BOM Pembuatan Sepatu

II.2 OPERATION PROCESS CHART


Operation Process Chart (OPC) merupakan suatu diagram yang menggambarkan
langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku, urutan-urutan proses dan
pemeriksaan sejak dari awal proses sampai menjadi produk utuh maupun sebagai
komponen, dan juga memuat informasi-informasi yang dibutuhkan. Informasiinformasi yang bisa didapatkan dalam Operation Process Chart adalah sebagai
berikut.
1. Deskripsi proses bagi setiap kegiatan / aktivitas.
2. Waktu penyelesaian masing-masing proses.
3. Persentase scrap atau presentase defect yang dihasilkan dalam proses.
4. Mesin atau alat yang digunakan dalam operasi.
5. Bahan baku dan bahan penunjang yang dibutuhkan (direpresentasikan dengan
garis panah horizontal).
5

Gambar II.3 Informasi dari OPC

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 31

Manfaat penggunaan Operation Process Chart (OPC) adalah:


1. Agar kita dapat mengerti aliran proses yang dialami oleh bahan atau aliran
proses untuk tiap jenis komponen.
2. Untuk mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya
3. Bisa memperkirakan kebutuhan bahan baku (dengan memperhitungkan
efisiensi di tiap operasi)
4. Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik
5. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai
6. Untuk mengetahui keterkaitan produksi antara komponen-komponen produk
7. Sebagai alat untuk latihan kerja
Prinsip-prinsip Penyusunan OPC :
1. Pada baris paling atas terdapat kepala peta Operation Process Chart,
dan identifikasi lain: nama objek yang dipetakan, nama pembuat peta,
tanggal dipetakan, cara lama atau cara sekarang, nomor peta, dan nomor
gambar.
2. Material yang akan diproses diletakkan di atas garis horizontal, untuk
me- nunjukkan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses.
3. Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertikal, yang menunjukkan
terjadi- nya perubahan proses.
4. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan,
sesuai dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk
tersebut, atau sesuai dengan proses yang terjadi.
5. Penomoran terhadap suatu kegiatan inspeksi diberikan secara tersendiri
dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi.
6. Pada bagian bawah OPC dibuat ringkasan yang memuat informasi: jumlah
operasi, jumlah inspeksi, serta jumlah waktu yang diperlukan.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 32

Berikut contoh dari OPC Pembuatan Sepatu :


OPERATION PROCESS CHART
NAMA
NO PETA
DIPETAKAN OLEH
TANGGAL PEMETAAN

: SEPATU
:1
: PFT LABORATORY
: 03-11-2013

SEKARANG

USULAN

Rubber 1

Rubber 2

Phylon

Leather

Sponge
5'
1.8'
O-8
I-5
0%

Dibentuk
& Inspeksi

Meja
Outsole

5'
O-7
I-4
4%

Ditempel &
Inspeksi
Mesin
Molding

5,5'
O-6
I-3
4%

Dipotong

Dipotong &
Inspeksi

O-1

Cutting
Machine

4%

Mesin
Molding
1,5'

Dipola
O-2

3%

Lem
Assembly

5'

Inspeksi

1'

O-9
Meja
Assembly 1

0%
1'

Inspeksi

Meja Cutting
Dies

I-1

Meja
Inspeksi 1

0%

Benang

I-6
0%

Meja
Inspeksi 2

12'
O-3
I-2
1%

5'
O-4
0%

Dijahit &
Inspeksi
Stitching
Machine

Pembentukan
kontur
Meja Laste
Pengepressan

1.8'
O-5
0%

Toelas- Healast

Lem
10'

Assembly
O-10

Kegiatan

Jumlah
6

Waktu (menit)
28,3

0%

Meja Assembly 2

1.8'

Diperiksa
I-7

3,8

Meja
Inspeksi 3

0%
4

24,3
S-1

14

56.4

Gambar II.4 OPC Pembuatan Sepatu

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 33

Simbol simbol yang digunakan dalam OPC:

Operasi
Simbol:

Merupakan simbol yang digunakan untuk melambangkan proses operasi.


Tuliskan di samping lambang ini: nama proses, nama mesin, lama
waktu proses, serta jumlah scrap atau defect yang terbuang pada proses
ini.

Pemeriksaan/Inspeksi
Simbol:

Merupakan simbol yang digunakan untuk melambangkan kegiatan


pemeriksaan/inspeksi. Tuliskan di samping lambang ini: nama kegiatan
inspeksi, nama lokasi (pemerikasaan), lama waktunya, serta jumlah scrap
atau defect.

Aktivitas Gabungan
Simbol:

Kegiatan ini terjadi apabila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan


dilakukan bersama-sama atau dilakukan pada suatu tempat kerja.

Penyimpanan
Simbol:

Merupakan simbol yang digunakan untuk menandakan proses storing


setelah seluruh proses selesai.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 34

II.3 PRECEDENCE DIAGRAM


Precedence diagram adalah diagram yang menggambarkan urutan dan keterkaitan
antar elemen kerja perakitan sebuah produk. Pendistribusian elemen kerja yang
dilakukan untuk setiap stasiun kerja harus memperhatikan precedence diagram.
Precedence diagram merupakan suatu gambaran grafis dari urutan pekerjaan yang
memperlihatkan keseluruhan dan ketergantungan antar masing-masing operasi,
dimana suatu operasi tertentu tidak dapat dikerjakan sebelum operasi yang
mendahuluinya dikerjakan terlebih dahulu. Diagram ini dibuat berdasarkan Operation
Process Chart (OPC).
Adapun tanda-tanda atau simbol-simbol yang dipakai dalam precedence diagram
adalah sebagai berikut:
Sirnbol lingkaran dengan huruf atau nomor di dalamnya untuk mempermudah
identifikasi dari suatu proses operasi,
Tanda panah menunjukkan ketergantungan dan urutan proses operasi. Dalam
hal ini, operasi yang berada pada pangkal panah berarti mendahului operasi
kerja yang ada pada ujung anak panah.
Angka di atas simbol lingkaran adalah waktu standar yang diperlukan untuk
menyelesaikan setiap operasi.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 35

Contoh Precedence Diagram


5'

2'

20'

5'

2'

O-1

O-2

O-3

O-4

O-5

5'
10'

O-6

O-10
PHYLON

Start
RUBBERSHOLE

5'

5'

O-7

O-9

RUBBER 2

2'

O-8

Gambar II.5 Precedence diagram Pembuatan Sepatu

Precedence diagram berbasis dari Operation Process Chart, Precedence diagram


tidak dapat dibuat sebelum adanya Operation Process Chart. Simbol yang digunakan
di dalam Precedence diagram juga sama seperti yang ada di OPC, dan arrow di
Precedence diagram menunjukkan komponen yang akan dibuat tahapannya.

Finish

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 36

LANGKAH LANGKAH PRAKTIKUM TATA LETAK FASILITAS:


1.

Membuka Microsoft Excel

2.

Praktikan membuat Operation Process Chart (OPC) dari pembuatan sepatu

3.

Praktikan membuat Precedence diagram dari pembuatan sepatu

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 37

MODUL III
DETERMINING MACHINE NEEDS FOR FACTORY LAYOUT PLANNING
ON MAKING SHOES

PRACTICUM OBJECTIVES
1. Practican is able to create Routing Sheet tables for a company
2. Practican is able to analyze machine needs using Routing Sheet
3. Practican is able to identify and calculate the number of parts to produce the
desired product
REFERENCE
1. Apple, James M.Tata letak pabrik dan pemindahan bahan : ITB: Bandung
2. http://teknikmanajemenindustri.wordpress.com/2010/10/26/routing-sheet/
3. PFT Laboratory. 2011.Modul Praktikum Perancangan Fasilitas
Telekomunikasi. Bandung.
4. Ariestyandi, Ramadian. 2011. TUGAS AKHIR PERANCANGAN DAN
SIMULASI

TATA

LETAK

FASILITAS

PABRIK

UNTUK

MENGOPTIMALKAN MATERIAL HANDLING DENGAN MENGGUNAKAN


ALGORITMA CRAFT PADA PT. PINDAD.Bandung
5. http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=15808

PRACTICUM TOOL
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 38

Theoretical Basic
III.1 ROUTING SHEET
Routing table calculation sheet is material or raw material needs as well as the
number of machines needed to make a number of specific products, and in units of
time. Meanwhile, according to James (1977), Routing Sheet is a chart that shows the
need for materials, engine capacity, efficient use of machinery and others in an
attempt to obtain a finished product desired.

The required data in making Routing Sheet is the sequence of operation process of
each component (as knows well as Operation Process Chart or OPC), names or types
of facilities are used, the production capacity, the amount of defective, the efficiency
of the machine and the production process of material.

III.1.1. The Purpose and Function of The Routing Sheet


Routing Sheet made to streamline and simplify the way production, but in particular
the Routing Sheet has a purpose as follows:

As a workflow guidance of a complete component (from preparation till


packing).

As a process time guidance of component for each machine.

Facilitate the operations of the production process.

Discipline/familiarise operators to work regularly and quickly according


to what has been planned.

The function of the Routing Sheet is as follows:Menghitung jumlah mesin yang


diperlukan

Calculate the number of parts that must be prepared to produce a number of


the desired finished product.

M O D U L P R A K T I K U M P E R A N C A N G A N T A T A L E T A K F A S I L I T A S 2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 39

No. Operation Machine

Process

Theoretical

Time

Engine

(minutes)*

Capacity

Actual

Engine
Effeciency

Engine

Machine that Needs


Defective* Demands** Production

Capacity

Theoretical Actual
G

Figure 3.1 Routing Sheet Table

Description:
A : Operation name for each process
B : Machine that used for each process
C : Time that needs of a machine for doing process
D : Average product generated by a machine in one day
E : Skill level or measure success of a machine to produce a product
F : The actual machine capacity
G : Process failure and cannot be used again (defective) or residual materials (scrap)
H : Units produced per day
I : Number of products that are prepared after the defective
J : The number of machines required to meet the theoretical production capacity
K : According to the conditions of existing companies

* Processing time and defective as seen from OPC


** According to process flow

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 40

Kapasitas Mesin Teoritis =

Kapasitas Mesin Aktual = Kapasitas mesin teoritis * efisiensi mesin

Kebutuhan Mesin Teoritis =

Jumlah yang disiapkan =

PRACTICUM STEPS :
1. Open Microsoft Excel
2. Complete the existing data in the Routing Sheet table, are as follows :
a. Determine the processing time data from OPC
b. Determine the theoretical engine capacity
c. Determine the actual engine capacity
d. Determine defective based on data from the OPC
e. Specifies the number of products/parts to be prepared
f. Determine the number of theoretical machinery needs

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 41

MODUL IV
PENENTUAN KEBUTUHAN LUAS AREA DALAM PEMBUATAN
PRODUK SEPATU

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mampu menganalisa dan menghitung kebutuhan luas lantai
produksi.
2. Praktikan mampu mengenal sistem material handling dan material handling
equipment secara umum.
3. Praktikan mampu mengetahui aliran barang dan mengetahui keterkaitan antar
departemen.
4. Praktikan mampu menghitung berat masing-masing part yang digunakan
dalam pembuatan produk.

REFERENSI
1. Apple, James M.Tata letak pabrik dan pemindahan bahan : ITB: Bandung.
2. Sunderesh S., Heragu. Facilities Design. United States of Amerika : CRC
Press. 2008.
3. Wignjosoebroto, Ir. Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Surabaya : Guna Widya. 2003.
4. PFT Laboratory. 2011.Modul Praktikum Perancangan Fasilitas
Telekomunikasi. Bandung.
5. FTI ITENAS. 2011.Modul Pelaksanaan Studio Perancangan Tata Letak
Fasilitas. Bandung.
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Material_handling_equipment
7. http://taiyo.trustpass.alibaba.com/product/122568011101742155/mesh_pallet
_box_steel.html

ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 42

LANDASAN TEORI
IV.1

PERHITUNGAN LUAS LANTAI PRODUKSI

Perhitungan luas lantai produksi digunakan untuk mengetahui luas area yang
dibutuhkan untuk produksi yang menyangkut area penempatan kelompok mesin
produksi. Terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam perhitungan luas lantai
produksi, salah satunya adalah allowance. Allowance merupakan ruang keleluasan
dari mesin dan kelonggaran gang yang merupakan besarnya gang yang diperlukan
agar lalu lintas material maupun pekerja dapat berjalan dengan lancar.

Adapun allowance yang harus diperhatikan dalam penentuan perhitungan luas lantai
produksi adalah sebagai berikut.
1) Allowance operator
2) Allowance material
3) Allowance area tambahan bagi keperluan pemindahan material

Berikut adalah tabel yang digunakan untuk perhitungan kebutuhan luas area lantai
produksi.

Tabel IV.1 Perhitungan kebutuhan luas area lantai produksi

(1)
No

A
B
C
D
E
F

(2)
Fasilitas

Cutting Machine
Meja Cutting Dies
Meja Inspeksi 1
Stitching Machine
Meja Laste
Toelas-Healast

(3)
Jumlah
(mesin)
16
6
3
32
13
6

(4)
Dimensi (m)

(8)
(7)
(6)
Sub Total Total Luas
Luas Sub
Yang
X 150 %
Total
Allowance Dibutuhkan
Allowance
(m)
(m)
(m2)
Material
1.458
2.96
4.44
70.99
1.458
2.78
4.17
25.00
1.458
2.78
4.17
12.50
1.458
2.61
3.91
125.18
1.458
2.78
4.17
54.17
1.458
4.46
6.69
40.12

(5)
Luas dan Allowance (m)

Panjang

Lebar

Luas

1.00
0.80
0.80
0.60
0.80
1.00

0.50
0.40
0.40
0.25
0.40
2.00

0.50
0.32
0.32
0.15
0.32
2.00

Allowance
Karyawan
1
1
1
1
1
1

Keterangan :
Kolom 1 :

Nomor urutan sesuai dengan langkah operasi yang digunakan

Kolom 2 :

Nama Fasilitas atau mesin yang digunakan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 43

Kolom 3 :

Jumlah mesin yang dibutuhkan untuk proses produksi

Kolom 4 :

Panjang x Lebar dari mesin yang digunakan

Kolom 5 :

Luas dari mesin yang digunakan, allowance yang digunakan operator


agar bisa bergerak leluasa di sekeliling mesin dan allowance yang
digunakan untuk menaruh material seperti stock container, skid-box,
mesh pallet, dll.

Kolom 6 :

Luas sub total = (Luas + Allowance karyawan + Allowance Material)

Kolom 7 :

Luas sub total x 150 %, dengan adanya penambahan 150 %, hal ini
dimaksudkan untuk memberikan area tambahan bagi pemindahan
bahan dan perawatan mesin sebelum material ditempatkan ke dalam
material handling equipment.

Kolom 8 :

IV.2

Total Luas yang dibutuhkan = (luas sub total x 150%) x Jumlah Mesin

SISTEM MATERIAL HANDLING

Ada dua definisi Material Handling secara umum, yaitu :


-

Material Handling adalah seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan,


penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material.

Material Handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang


tepat dari material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang
cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang
sesuai dan biaya yang murah dengan menggunakan metode yang benar. Jika
digunakan metode yang sesuai, maka sistem material handling akan
terjamin/aman dan bebas dari kerusakan.

Tujuan utama perancangan sistem material handling pada dasarnya adalah untuk
meningkatkan efisiensi perpindahan material dari satu departemen ke departemen
lainnya. Keputusan mengenai sistem dan peralatan material handling harus
berdasarkan pertimbangan - pertimbangan sebagai berikut :

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 44

a.

Karakteristik Material
Karakteristik material antara lain dapat dikategorikan berdasarkan hal- hal
berikut.

Sifat fisik : Dapat berupa benda padat, cair, atau gas.

Ukuran

: Berhubungan dengan volume material.

Berat

: Per buah, per kotak, atau per unit volume.

Bentuk

: Berupa plat panjang, persegi, bulat, dans ebagainya.

Kondisi

: Dalam keadaan panas, dingin, kering, basah, dsb.

Resiko keamanan : Apakah mudah meledak, beracun, mudah pecah,


mudah patah, dan sebagainya.

b. Tingkat Aliran Material


Perencanaan sistem material handling harus memperhatikan aspek kuantitas
atau jumlah barang yang dipindahkan dan jarak perpindahan material.
Pertimbangan aliran material dalam perencanaan sistem material handling
dapat digambarkan sebagai berikut :

Aliran
Material

tinggi

conveyor

Conveyor,
AGV Train

rendah

Hand truck

Powered Truck,
Unit load AGV

pendek

jauh

Jarak Perpindahan
Material

Gambar IV.1 Tingkat aliran material

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 45

c.

Tipe Tata Letak

Tipe fixed position layout

Gambar IV.2 Tipe fixed position layout

a. Metode pengaturan suatu fasilitas produksi seperti mesin, manusia, dan


komponen lainnya yang bergerak menuju komponen produk utama yang
berada pada posisi tetap.
b. Tata letak ini digunakan untuk kegiatan produksi yang menghasilkan
produk - produk dengan skala ukuran yang besar seperti pesawat terbang,
kapal laut, dan lainnya.
c. Dengan karakter produk berukuran sangat besar dan tingkat produksi
yang rendah, perpindahan material/barang dapat dilakukan dengan
peralatan seperti cranes, hoists, dan truck-truck industry.

Tipe process layout

Gambar IV.3 Tipe process layout

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 46

a. Metode pengaturan dan penempatan segala mesin dan peralatan


produksi yang memiliki tipe / jenis sama kedalam satu departemen.
b. Mesin dikelompokkan sesuai dengan kesamaan proses atau fungsi
kerjanya. Tata letak ini cocok untuk produksi produk dengan variasi
produknya tinggi dan volume produksinya rendah.
c. Dengan karakter produk bervariasi dan tingkat produksi yang relatif
rendah dan sedang, maka peralatan yang digunakan adalah hand
truck, forklift truck, dan Automated Guided Vehicle (AGV).

Tipe product layout

Gambar IV.4 Tipe product layout


a. Mesin disusun menurut urutan proses yang ditentukan pada
pengurutan produksi, tidak peduli macam/ jenis mesin yang
digunakan.
b. Tiap komponen berjalan dari satu mesin ke mesin berikutnya melewati
seluruh daur operasi yang dibutuhkan.
c. Suatu produk akan dikerjakan sampai selesai didalam departement
tanpa perlu dipindah-pindah ke departement lain.
d. Bahan baku akan dipindahkan dari satu operasi ke operasi berikutnya
secara langsung
e. Tujuan utama dari layout ini adalah untuk mengurangi proses
pemindahan bahan dan memudahkan pengawasan dalam aktifitas
produksi.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 47

f. Bisa digunakan conveyor untuk menangani aliran produk dengan


tingkat produksi yang tinggi. Untuk proses perpindahan komponen
dapat pula digunakan truck.
IV.3

MATERIAL HANDLING EQUIPMENT

Material handling equipment adalah peralatan yang berhubungan dengan


perpindahan, penyimpanan, proteksi, distribusi, konsumsi, dan pembuangan suatu
material. Contoh material handling equipment adalah trolley, truck, conveyor,
forklift, mesh pallet box, dll. Dalam studi kasus praktikum perancangan tata letak
fasilitas ini, jenis material handling equipment yang digunakan adalah mesh pallet
box.

IV.4

MESH PALLET BOX

Mesh pallet box adalah salah satu jenis material handing equipment yang
penggunaannya dapat bersamaan dengan penggunaan forklift dan pallet, namun ada
juga mesh pallet box yang memiliki roda sehingga penggunaanya tidak membutuhkan
material equipment tambahan.

Gambar IV.5 Mesh Pallet box tidak menggunakan roda

Gambar IV.6 Mesh Pallet box menggunakan roda

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 48

Untuk jenis material handling equipment yang digunakan untuk praktikum ini adalah
mesh pallet box dengan menggunakan roda, yang mana mempunyai spesifikasi lebar
1,215 m dan allowance material sebesar 1,458 m. Berikut adalah beberapa
keuntungan dari pemakaian Mesh Pallet Box.
1. Mesh pallet box merupakan salah satu MHE yang dapat dilipat, sehingga apabila
tidak digunakan dapat disimpan dengan rapi tanpa membutuhkan ruang
penyimpanan yang besar
2. Mesh pallet box dapat dioperasikan dengan mudah untuk pemakaian bersama
dengan forklift atau pallet jack

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 49

LANGKAH LANGKAH PRAKTIKUM


1.

Membuka Microsoft Excel

2.

Melengkapi data yang ada didalam tabel dimensi diantaranya adalah sebagai
berikut :

Di dalam praktikum modul IV ini, praktikan akan menghitung total kebutuhan luas
area lantai produksi dan menghitung total berat dari material yang akan diproses.

Terdapat 2 macam tabel yang akan dihitung dalam praktikum modul IV yaitu :
Tabel 1 digunakan untuk menghitung total kebutuhan luas area lantai produksi
Tabel 2 digunakan untuk menghitung total berat dari material yang akan diproses.

Langkah 1
Tabel ini digunakan untuk menghitung luas yang dibutuhkan untuk tiap mesin yang
dipakai dalam proses produksi sepatu, dengan formula sebagai berikut.
Panjang mesin x Lebar Mesin

Tabel 4.2 Perhitungan dimensi

No

A
B
C
D
E

Fasilitas

Cutting Machine
Meja Cutting Dies
Meja Inspeksi 1
Stitching Machine
Meja Laste

Langkah 2

Jumlah
(mesin)

15
5
3
32
13

Dimensi (meter)
Panjang

Lebar

Luas

1,00
0,80
0,80
0,60
0,80

0,50
0,40
0,40
0,25
0,40

0,50
0,32
0,32
0,15
0,32

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 50

Tabel ini digunakan untuk menghitung luas sub total dari kebutuhan dimensi mesin
dengan allowance karyawan serta allowance material, dengan formula sebagai
berikut.

Luas mesin + allowance karyawan + allowance material

Tabel 4.3 Perhitungan Luas dan Allowance


Luas dan Allowance (m2)
Luas

Allowance
Karyawan

Allowance
Material

0,50
0,32
0,32
0,15
0,32

1
1
1
1
1

0,7296
0,7296
0,7296
0,7296
0,7296

Luas Sub
Total (m2)

3,00
3,00
3,00
2,00
3,00

Langkah 3
Tabel ini digunakan untuk menghitung total luas yang dibutuhkan pabrik sesuai
dengan kuantitas tiap mesin yang dibutuhkan, dengan formula sebagai berikut.
Luas sub total x Jumlah Mesin

Tabel 4.4 Perhitungan Total luas yang dibutuhkan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 51

Untuk tabel kedua yang akan dihitung pada praktikum modul IV ini adalah tabel
mengenai penghitungan berat dari material yang akan diproses. Untuk itu diperlukan
tabel pendukung yang berisi tentang berat tiap material yang dibutuhkan.
Tabel 4.5 Perhitungan berat masing-masing part

Berat per part

Gram Berat part per hari

Leather

90

120,69

II

Benang (1ball)

10

13,41

III
IV

Phylon

100

128,4

Rubbersole

60

77,04

Sponge

14

17,976

VI

Rubber2

150

184,8

1,341

VII Lem
Total

543,657

Langkah 1
Tabel ini digunakan untuk menghitung total berat dari tiap material berdasarkan
urutan proses yang dilaluinya. Dengan cara menambahkan berat tiap material sesuai
urutan prosesnya.
Tabel 4.6 Perhitungan total berat masing-masing part sesuai urutan proses

Part

1
2

Leather
Phlyon

Urutan Proses
A-B-C-D-E-F-KL
G-I-J-K-L

Berat/unit
(gr)

426
326

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 52

Langkah 2
Tabel ini digunakan untuk menghitung banyaknya produksi material tersebut tiap
harinya. Dengan cara mengambil data dari sheet pada file microsoft excel yang diberi
nama routing sheet, pada kolom jumlah yang disiapkan.
Langkah 3
Tabel ini digunakan untuk menghitung berat total material dalam satuan kilogram
dengan formula sebagai berikut.
(Berat/unit x produksi/hari)/1000

Tabel 4.7 Perhitungan total berat masing-masing part yang diproduksi per hari

part

Urutan Proses

Berat/unit
(gr)

Produksi
unit/hari

Berat
total(kg)

Leather

A-B-C-D-E-F-K-L

426

1341

571,27

III

Phlyon

G-I-J-K-L

326

1284

418,58

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 53

MODUL V
PENENTUAN ONGKOS MATERIAL HANDLING DALAM PEMBUATAN
SEPATU

TUJUAN PRAKTIKUM
1.

Praktikan mampu menghitung ongkos material handling yang digunakan


dalam melakukan perpindahan material.

2.

Praktikan mampu menganalisa tingkat efisiensi aliran barang selama proses


produksi

REFERENSI
1. Apple, James M.Tata letak pabrik dan pemindahan bahan. ITB: Bandung.
2. Sunderesh S., Heragu. Facilities Design. United States of Amerika : CRC
Press. 2008.
3. Wignjosoebroto, Ir. Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Surabaya : Guna Widya. 2003.
2. PFT

Laboratory.

2011.Modul

Praktikum

Perancangan

Fasilitas

Telekomunikasi. Bandung.
3. FTI ITENAS. 2011.Modul Pelaksanaan Studio Perancangan Tata Letak
Fasilitas. Bandung.

ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 54

LANDASAN TEORI
V. 1

ONGKOS MATERIAL HANDLING

Menurut Wignjosoebroto (2003), material handling dinyatakan sebagai seni dan ilmu
yang

meliputi

penanganan

(handling),

pemindahan

(moving),

pengepakan

(packaging), penyimpanan (storing) sekaligus pengendalian (controlling) dari bahan


atau material dengan segala bentuknya.
Pendapat lain mengungkapkan, material handling merupakan alat yang digunakan
untuk transportasi material, mulai dari bahan baku, bahan setengah jadi, sampai
bahan jadi sehingga kegiatan ini akan menimbulkan ongkos, yaitu Ongkos Material
Handling (OMH).
Besarnya Ongkos Material Handling (OMH) tergantung pada beberapa faktor, yaitu :

Jenis alat angkut


Jenis alat angkut ini ditentukan oleh beban yang dibawa. Untuk efisiensi, selama
bisa ditangani oleh manusia maka material dapat diangkut oleh manusia. Apabila
material yang diangkut melebihi beban yang bisa diangkut oleh manusia maka
dapat digunakan alat bantu mesin. Namun, perlu diperhatikan bahwa biaya
penggunaan mesin lebih mahal daripada biaya tenaga manusia.

Berat benda yang dipindahkan


Berat material yang harus dipindahkan akan menentukan penggunaan suatu jenis
alat angkut. Makin berat beban, alat yang digunakan semakin besar daya
angkutnya dan tentunya akan mempunyai ongkos yang lebih besar pula.

Jarak perpindahan
Jika sudah mengetahui alat angkut apa yang harus digunakan maka faktor berikut
yang berpengaruh adalah jarak perpindahan. Semakin jauh jarak yang digunakan
maka ongkos yang dibutuhkan akan semakin besar.

Ditinjau dari segi biaya, suatu pabrik yang memiliki total ongkos material handling
yang minimum dapat dikatakan bahwa pabrik tersebut memiliki tata letak yang baik.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 55

Meskipun biaya bukan merupakan satu satunya faktor yang menentukan bahwa tata
letak suatu pabrik itu baik tetapi menurut Tompkins dan White (2000) bahwa 20-50%
dari total biaya operasi manufaktur berasal dari Ongkos Material Handling (OMH)
dan ongkos yang berhubungan dengan tata letak. Jika material handling minimal
maka secara tidak langsung akan menyebabkan peningkatan kapasitas dan efisiensi
serta pengurangan biaya produksi dan kemacetan pada proses produksi.
Terdapat beberapa cara untuk meminimasi biaya material handling tersebut antara
lain sebagai berikut :
1. Mengurangi waktu menganggur peralatan.
2. Memaksimalkan penggunaan peralatan untuk mendapatkan satuan muatan yang
tinggi.
3. Meminimumkan perpindahan material handling dan mengurangi gerakan mundur
(backtrack) untuk mengurangi biaya operasi.
4. Mengatur jarak antar departemen atau antar mesin sedekat mungkin agar
perpindahan material menjadi lebih pendek.
5. Menggunakan peralatan yang tepat untuk mengurangi kerusakan material dan
menggunakan muatan satuan yang sesuai.
6. Melakukan perawatan pada peralatan untuk mencegah perbaikan yang
memerlukan biaya besar.
Rumus :
Material Handling Cost = Jarak x Biaya x Frekuensi

VI.1.1 Input dan Output Ongkos Material Handling


1. Input Ongkos Material Handling

Tabel Material

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 56

Operation Process Chart

Routing Sheet

Tabel Luas Lantai

Jarak mesin

1. Output Ongkos Material Handling

Tabel dan total ongkos/biaya material handling suatu


perusahaan/pabrik

VI.1.2 Ukuran Jarak


Menurut Heragu (2008), ukuran jarak dalam perancangan tata letak dibagi menjadi
tujuh, yaitu :
a) Jarak Euclidean
Merupakan jarak yang diukur lurus antara pusat fasilitas satu dengan pusat fasilitas
lainnya. Formula yang digunakan dalam pengukuran jarak euclidien yaitu:
dij = [(xi xj)2 + (yi yj)2]1/2 ........................................... (V.1)
di mana:
xi = koordinat x pada pusat fasilitas i
yi = koordinat x pada pusat fasilitas j
dij = jarak antara pusat fasilitas i dan j

Gambar V.1 Jarak Euclidean

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 57

b) Jarak Squared Euclidien


Squared Euclidien merupakan pengukuran jarak dengan mengkuadratkan jarak
euclidien dimana adanya pembebanan lebih besar kepada pasangan fasilitas yang
berjauhan dari pada pasangan yang berdekatan. Adapun formula yang digunakan
dalam pengukuran jarak tersebut yaitu :
dij = [(xi xj)2 + (yi yj)2] ........................................... (V.2)
di mana:
xi = koordinat x pada pusat fasilitas i
yi = koordinat x pada pusat fasilitas j
dij = jarak antara pusat fasilitas i dan j
c) Jarak Rectilinear
Merupakan jarak yang diukur mengikuti jalur tegak lurus dari satu titik pusat fasilitas
ke titik pusat fasilitas lainnya. Formula yang digunakan dalam pengukuran jarak
rectilinear yaitu:
dij = |xi xj| + |yi yj| ....................................................... (V.3)
di mana:
xi = koordinat x pada pusat fasilitas i
yi = koordinat x pada pusat fasilitas j
dij = jarak antara pusat fasilitas i dan j

Gambar V.2 Jarak Rectilinear

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 58

d) Tchebychev
Pengukuran ini biasanya diapliasikan pada permasalahan system picking, dimana
dimensi yang dipakai adalah tiga dimensi, sehingga formulasinya yaitu:
dij = max (|Xi-Xj|, |Yi-Yj|, |Zi-Zj|) ....................................................... (V.4)
e) Aisle Distance
Pengukuran jarak secara aktual, dengan mengukur jarak sepanjang lintasan yang
dilalui alat pengangkut bahan atau material handling.

Dept K
Dept 1

Dept L

Dept 2

d
c

b
d

Dept 3
h
f

Dept M
Dept 4

(a)

Dept 5

Dept 6

(b)

Gambar V.3 Aisle Distance


Contoh :

DK-L = a + b + c
D1-6 = a+c+f+g

f) Adjacency
Bila fasilitas / departemen i dan j saling berhubungan secara langsung (adjacency)
maka nilai kedekatan = 1, bila tidak = 0
K

dik = d kj = 1

dij = 0
I

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 59

g) Shortest Path
Perhitungan jarak Shortest Path biasa digunakan dalam permasalahan network
location, shortest path dipergunakan untuk menentukan jarak dua titik yang paling
pendek.

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM

1. Membuka Microsoft Excel


2.

Melengkapi data yang ada di dalam tabel Ongkos Material Handling (OMH),
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Menentukan centroid dari masing-masing fasilitas
b. Menentukan Ongkos Material Handling (OMH) dari setiap aliran material

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 60

MODUL VI
ANALISIS ALIRAN PROSES MENGGUNAKAN MPPC, FTC, DAN SKALA
PRIORITAS

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mampu mengetahui aliran barang dan mengetahui keterkaitan antar
departemen menggunakan FTC dan MPPC
2. Praktikan mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pembuatan
Skala Prioritas

REFERENSI
1. Apple , James M. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan : ITB. Bandung
2. Wignjosoebroto, Ir.Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Surabaya : Guna Widya. 2003.
3. PFT

Laboratory.

2013.

Modul

Praktikum

Perancangan

Fasilitas

Telekomunikasi. Bandung
4. FTI ITENAS. 2011.Modul Pelaksanaan Studio Perancangan Tata Letak
Fasilitas. Bandung.

ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 61

LANDASAN TEORI
VI. 1 MULTI PRODUCT PROCESS CHART
Multi Product Process Chart adalah suatu diagram yang menunjukkan urut-urutan
proses untuk masing-masing komponen yang akan diproduksi (Apple, 1990). Multi
Product Process Chart termasuk dalam peta untuk menganalisis dan merencanakan
aliran barang dalam pabrik yang sudah berdiri maupun bagi perencanaan proyek baru,
erat kaitannya dengan proses operasi. Peta ini terutama berguna untuk menunjukkan
keterkaitan produksi dengan komponen. Tujuan dari membuat Multi Product Process
Chart ini yaitu :
1. Menganalisa efisiensi lintasan dengan menilai ada tidaknya arus balik pada tiap
lintasan
2. Untuk meningkatkan efisiensi lintasan dengan meminimumkan backtracking
3. Memahami aliran proses tiap jenis komponen dan mengetahui jumlah mesin
teoritis yang dibutuhkan untuk tiap jenis komponen
4. Mengetahui total jumlah mesin yang akan digunakan
Berikut merupakan contoh Multi Product Process Chart dalam pembuatan sepatu :

Gambar VI.1 Contoh Multi Product Process Chart

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 62

Dalam pembuatan MPPC, membutuhkan informasi dari :


a. Routing sheet
b. Peta Proses Operasi (OPC)

VI.2 FROM TO CHART


Menurut Wignjosoebroto (2003), From to Chart kadang disebut pula sebagai trip
frekuensi chart atau travel chart yaitu suatu teknik konvesional yang umum
digunakan untuk perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan dalam suatu
proses produksi. Teknik ini sangat berguna untuk kondisi-kondisi dimana banyak
item yang mengalir melalui suatu area seperti job shop, bengkel permesinan, kantor
dan lain-lain.
From to Chart (FTC) merupakan penggambaran tentang beberapa total OMH dari
suatu bagian aktivitas dalam departemen menuju departemen lainnya. Sehingga dari
peta ini dapat dilihat ongkos material handling secara keseluruhan, mulai dari gudang
bahan baku (receiving) menuju pabrikasi, assembling dan terakhir yaitu gudang
barang jadi (shipping). Tabel ini berbentuk matriks dengan baris menunjukkan asal
material dan kolom menunjukkan tujuan material. Jadi, suatu cell Xij berisi nilai
(ongkos) perpindahan material dari lokasi i ke lokasi j.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 63

Gambar VI.2 Contoh from to chart (FTC)


Cara pengisian From to Chart (FTC) adalah sebagai berikut :

Perhatikan total ongkos dari tabel OMH, kemudian masukan nilai total ongkos
tersebut disesuaikan dengan pengangkutan bahan dari satu tempat ke tempat
lainnya.

Jumlah total ongkos setiap baris dan setaip kolom juga total ongkos secara
keseluruhan.

FTC berguna dalam kegiatan perencanaan tata letak dan pemindahan bahan di suatu
lokasi, dimana banyak aliran barang yang terlibat yaitu untuk melihat keterkaitan
antara seluruh kegiatan produksi.
From to Chart ini selanjutnya akan digunakan dalam perhitungan outflow-inflow
chart untuk merencanakan penempatan lokasi kegiatan yang paling menguntungkan.
From to Chart biaya didapat dari material handling cost yang ada di Ongkos Material
Handling.
Beberapa kegunaan dari From to Chart yaitu :
a.

Menganalisa perpindahan bahan

b.

Perencanaan pola aliran

c.

Penentuan lokasi kegiatan

d.

Pengukuran efisiensi pola aliran

e.

Menunjukkan ketergantungan satu kegiatan dengan kegiatan lainnya

f.

Menunjukkan hubungan kuantitatif antara kegiatan dan perpindahannya

VI.2.1 Outflow Inflow Chart


Outflow chart digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang keluar dari suatu
departemen ke departemen lainnya. Sedangkan inflow chart digunakan untuk mencari
koefisien ongkos yang masuk ke suatu departemen ke departemen lainnya.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 64

Outflow chart dan Inflow chart berguna untuk mengetahui lokasi kegiatan mana yang
harus direncanakan berdekatan agar ongkos material handling total menjadi
minimum. Referensi perhitungan outflow dan inflow yaitu dari OMH dan FTC, yaitu
ongkos yang dibutuhkan untuk material handling dari suatu mesin ke mesin lainnya
dan sebaliknya.
Perhitungan outflow dan inflow adalah sebagai berikut :
Outflow =

Inflow =

VI.3

SKALA PRIORITAS

Skala prioritas dibuat untuk mengetahui hubungan antara tiap departemen


berdasarkan tingkat kepentingannya. Dengan adanya skala prioritas dapat diketahui
departemen-departemen mana sajakah yang perlu diletakkan berdekatan atau
departemen mana saja yang dapat diletakkan berjauhan dengan tujuan dapat
meminimasi Ongkos Material Handling yang diperlukan.

Tabel skala prioritas menunjukkan hubungan antar mesin dan gudang adalah skala
yang menunjukkan derajat kepentingan antar mesin-mesin produksi maupun antar
mesin dan gudang. Skala prioritas dibagi menjadi 2 macam yaitu :

1. Skala prioritas inflow ( dibuat berdasarkan inflow )


2. Skala prioritas outflow ( dibuat berdasarkan outflow )

Menurut Apple (1990), untuk membantu dalam menentukan kegiatan yang harus
diletakkan pada satu tempat maka digunakan derajat kedekatan sebagai berikut :

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 65

Tabel VI.1 Tabel derajat kedekatan dan range nilai


Hubungan

Deskripsi

Range
nilai

Absolut

Mutlak perlu kegiatan - kegiatan tersebut


berdampingan satu dengan lainnya

0.45 - XX

Especially

Sangat penting kegiatan - kegiatan tersebut


saling berdekatan

0.25-0.44

Important

Penting kegiatan - kegiatan tersebut saling


berdekatan

0.2 - 0.24

Ordinary

Kegiatan biasa atau umum,dimana saja


tidak ada masalah

0.1 - 0.19

Unimportant

Tidak perlu adanya keterkaitan geografis


apapun

0.01-0.09

Pengisian derajat kedekatan pada table skala prioritas berdasarkan angka-angka atau
koefisien dari FTC inflow dan FTC outflow yang telah diurutkan berdasarkan range
yang sudah ditentukan. Kemudian dikelompokan untuk masuk kedalam hubungan A,
E, I, O, U. Yang menjadi prioritas utama yaitu ongkos dengan harga koefisien
terbesar dan seterusnya sampai harga koefisien terkecil dan jumlah prioritas
ditentukan berdasarkan banyaknya frekuensi yang masuk ke salah satu departemen.
Tujuan skala prioritas antara lain adalah :
a. Memperpendek jarak tempuh material handling
b. Meminimasi ongkos material handling
c. Memperbaiki tata letak produksi agar menjadi lebih optimal

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 66

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM :
1. Membuka Microsoft Excel
2. Menentukan jumlah total mesin yang dibutuhkan untuk setiap part sepatu
pada Multi Product Process Chart sesuai dengan routing sheet
3. Menentukan steps, least steps dan efficiency
4. Memasukan data Metrial Handling Cost ke dalam From to Chart biaya yang
terjadi dalam perpindahan mesin sesuai dengan aliran proses
5. Membuat FTC Inflow berdasarkan data FTC biaya
6. Membuat FTC Outflow berdasarkan data FTC biaya
7. Menentukan Tabel Skala Prioritas berdasarkan data FTC

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 67

MODUL VII
PENENTUAN KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN DAN
PENENTUAN LETAK DEPARTEMEN

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mampu menganalisis keterkaitan antara setiap proses di suatu
perusahaan
2. Praktikan mampu menentukan letak setiap departemen sesuai dengan keterkaitan
antara kegiatan dan aliran materialnya
3. Praktikan mampu menenentukan letak departemen sesuai jumlah lantai yang
dibutuhkan dan jumlah lantai yang tersedia
4. Praktikan mampu untuk mempraktekan software WINQSB
5. Praktikan

mampu

merancang

alternative

tata

letak

pabrik

dengan

mempertimbangkan batasan praktis dan pertimbangan modifikasi dalam


Systematic Layout Planning (SLP).
REFERENSI
1. Apple, James M.Tata letak pabrik dan pemindahan bahan : ITB: Bandung Activity
Relationship Diagram oleh Universitas Mercu Buana
2. http://www.docstoc.com/docs/9085082/ARD-(Activity-Relationship-Diagram)adalah-hubungan-antar
3. http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/362/jbptunikompp-gdl-wawanrusma-18064-1bab2.pdf
4. Heragu, S, 1997, Facilities Design, PSW Publishing Company, Boston
5. ftp.gunadarma.ac.id/handouts/S1_TEKNIK%20INDUSTRI/.../PTLP.doc
6. Wignjosoebroto, Sritomo. Tata Letak Pabrik Dan Pengendalian Bahan : Surabaya:
Institut Teknologi Sepuluh November, 1996

ALAT PRAKTIKUM
Microsoft Excel dan Software WINQSB

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 68

VII.1 ACTIVITY RELATIONSHIP CHART (ARC)


Activity Relationship Chart atau peta hubungan kerja kegiatan adalah aktivitas atau
kegiatan antara masing-masing bagian yang menggambarkan penting tidaknya
kedekatan ruangan. Activity Relationship Chart cenderung untuk mencari hubungan
aktifitas pemindahan material dari suatu fasilitas kerja ke fasilitas kerja yang lainnya.
Dalam suatu organisasi pabrik harus ada hubungan yang terikat antara suatu kegiatan
dengan kegiatan lainnya yang dianggap penting dan selalu berdekatan demi
kelancaran aktivitasnya. Oleh karena itu dibuatlah suatu peta hubungan aktivitas,
dimana akan dapat diketahui bagaimana hubungan yang terjadi dan harus dipenuhi
sesuai dengan tugas-tugas dan hubungan yang mendukung.

VII.2 TUJUAN
Secara umum peta hubungan kegiatan dapat didefinisikan sebagai berikut yaitu teknik
ideal untuk merencanakan keterkaitan antara setiap kelompok kegiatan yang saling
berkaitan. ARC ini akan berhubungan dengan struktur organisasi dan tabel-tabel
perhitungan luas lantai.

Tujuan utama ARC adalah dapat diketahui hubungan kedekatan dari setiap kelompok
kegiatan dalam hal ini organisasi pabrik.
VII.3 FUNGSI ARC
Fungsi ARC dan kegunaannya adalah :
1. Penyusunan urutan dari pusat kerja atau departemen dalam suatu Perusahaan..
2. Menentukan Lokasi kegiatan dalam suatu usaha pelayanan.
3. Menentukan Lokasi pusat kerja dalam operasi perawatan atau dalam perbaikan
4. Menunjukan hubungan suatu kegiatan yang lainnya, serta alasannya.
5. Memperoleh suatu landasan bagi penyusunan daerah selanjunya

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 69

VII.4 Teknik ARC


Teknik untuk menganalisa hubungan antar aktivitas yang ada adalah dengan
menggunakan Activity Relationship Chart (ARC). Teknik ini dikemukakan oleh
Richard Muthe, adalah sebagai berikut :
1. Hubungan antar aktifitas ditunjukkan dengan tingkat kepentingan hubungan antar
aktifitas tersebut yang dikonversikan dalam bentuk huruf, sebagai berikut :

Tabel VII.1 Hubungan antar aktivitas dalam teknik ARC


No. TINGKAT KEPENTINGAN KODE WARNA
1

MUTLAK PENTING

MERAH

PENTING TERTENTU

KUNING

PENTING

HIJAU

BIASA

BIRU

TIDAK PENTING

PUTIH

TIDAK DIINGINKAN

COKLAT

Jika dua departemen mendapat nilai atau derajat keterkaitan A, maka dua departemen
tersebut mutlak untuk didekatkan agar proses operasi perusahaan berjalan dengan
baik. Tidak ada satu alasanpun yang digunakan untuk memisahkan departemen
tersebut. Sedangkan derajat keterkaitan E diberikan kepada dua departemen yang
dinilai sangat erat terkait, hanya saja keterkaitan hubungan dua departemen tidak
sepenting derajat keterkaitan A. Begitu pula dengan derajat keterkaitan I, dimana dua
departemen penting pula untuk didekatkan jika kondisi area memungkinkan.
Sedangkan nilai O diberikan kepada dua departemen yang kaitannya tidak terlalu
dekat. Khusus untuk nilai U dan X, sangat penting sekali membedakannya, dimana
nilai atau derajat keterkaitan U mengandung arti bahwa dua departemen tidak perlu
untuk didekatkan, hanya dalam keadaan tertentu masih dapat ditempatkan
berdampingan. Sedangkan derajat keterkaitan X mempunyai arti bahwa dua

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 70

departemen harus dipisahkan antara satu dengan lainnya, karena kemungkinan akan
mengganggu kelancaran proses operasi, baik pada masing-masing departemen, kedua
departemen sekaligus atau bahkan ada kemungkinan dapat mengganggu proses
operasi perusahaan secara keseluruhan.
2. Alasan untuk menyatakan tingkat kepentingan tersebut adalah sebagai berikut :
-

Menggunakan catatan yang sama

Menggunakan personil yang sama

Menggunakan ruang yang sama

Tingkat hubungan personil

Tingkat hubungan kertas kerja

Urutan aliran kertas

Melakukan aliran kerja yang sama

Menggunakan peralatan dan fasilitas yang sama

Ribut, kotor, getaran, debu, dan lain-lain

Lain-lain yang mungkin perlu

Contoh Activity Relationship Chart :


Departemen A
E
Departemen B

O
I

Departemen C

U
O

Departemen D

U
U

I
U

Departemen E

I
O

U
Departemen I

U
U

U
U

E
Departemen H

U
U

Departemen G

U
U

Departemen F

U
U

I
I

A
U

U
E

A
Departemen J

Gambar VII.1 Contoh activity relationship chart

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 71

Secara umum alasan keterkaitan dibagi menjadi tiga macam yaitu keterkaitan untuk
produksi, keterkaitan untuk pegawai dan aliran informasi (Apple. J.,M) :
A. Kriteria produksi
-

Urutan aliran kerja

Mempergunakan peralatan yang sama

Menggunakan catatan yang sama

Menggunakan ruangan yang sama

Bising, debu, getaran, bau, dan lain-lain

Memudahkan pemindahan bahan

B. Keterkaitan pegawai
-

Menggunakan pegawai yang sama

Pentingnya berhubungan

Derajat hubungan kepegawaian

Jalur perjalanan normal

Kemudahan pengawasan

Melaksanakan pekerjaan serupa

Disenangi pegawai

Perpindahan pegawai

Gangguan pegawai

C. Aliran informasi
-

Menggunakan catatan/berkas yang sama

Derajat hubungan kertas kerja

Menggunakan alat komunikasi yang sama

VII.5 Tabel Normalisasi ARC


Normalisasi Activity Relationship Chart digunakan untuk merubah data kualitatif dari
perusahaan kedalam bentuk data kuantitatif agar dapat diperhitungkan dalam usulan

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 72

layout selanjutnya. Nilai dari normalisasi ini didapat dari perkiraan skala-skala setiap
grade agar disetiap permasalahan mempunyai pengali yang sama.

Tabel VII.2 Hubungan antar aktivitas dalam teknik ARC

Grade
A
E
I
O
U
X

Nilai
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0

VII.6 UNIT FLOW DISTRIBUTION (UFD)


Matriks Unit Flow Distribution nantinya akan menjadi data yang dimasukkan pada
algoritma CRAFT (WinQSB).

Gambar VII.2 Tabel data for UFD


Pada tahap ini matriks untuk mendapatkan nilai Unit Flow Distribution kita dapat
mencarinya dengan cara
UFD = FTC (biaya x jarak x frekuensi) x ARC
Normalisasi

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 73

VII.7 AREA ALLOCATION DIAGRAM (AAD)


Area Allocation Diagram merupakan lanjutan dari ARC, dimana ARC telah diketahui
kesimpulan dari tingkat kepentingan antar aktivitas. Maka dengan demikian berarti
ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas lainnya dan juga sebaliknya, atau
dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan
antar tata letak aktivitas tersebut.
Area Allocation Diagram (AAD) merupakan template secara global, informasi yang
dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasinya secara
lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisisan
dan perencanaan tata letak fasilitas dan pemindahan bahan. ARC dan AAD
merupakan jenis peta yang menggambarkan hubungan antar ruangan-ruangan akibat
dari alas an-alasan tertentu yang harus dipenuhi
Area Allocation Diagram (AAD) terdiri dari 2 jenis, yaitu :
1. AAD pendekatan Powrarm, yaitu penggambaran AAD dalam bentuk diagram
balok yang saling berhimpitan antara fasilitas kegiatan. Berikut adalah contoh
AAD pendekatan Powrarm.

Gambar VII.3 AAD Pendekatan Powrarm

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 74

2. AAD pendekatan Muther, yaitu penggambaran AAD dengan hubungan garis


yang menunjukan besarnya tingkat hubungan antara kegiatan yang satu
dengan kegiatan yang lain. Pendekatan Muther serupa dengan yang
disarankan DE Villenuve, dan belakangan oleh Hofman dan Downs. Mereka
semua telah mengembangkan diagram aliran yang serupa, dengan kegiatankegiatan yang dihubungkan dengan garis atau pita dengan berbagai ketebalan
yang berbeda. Lebar garis menunjukan volume aliran antara kegiatan, dan
membantu perencana untuk menghubungkan masing-masing kegiatan secara
tepat dalam tahapan awal perencanaan tata letak.

5
(500)

8
(200)

7
(575)

6
(75)

9
(500)
10
(1750

4
(350)

2
(125)

3
(125)

1
(1.000)

Gambar VII.4 AAD pendekatan Muther

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 75

VII.8 MERANCANG ALTERNATIVE TATA LETAK PABRIK


Pada tahap ini, dibuat desain alternative layout dengan memperhatikan Area
Allocation

Diagram

dan

melakukan

modifikasi

seperlunya

berdasarkan

pertimbangan pertimbangan khusus dan batasan praktis. Batasan praktis merupakan


suatu batasan masalah yang digunakan untuk mendesain alternative layout dengan
memperhatikan keadaan suatu pabrik. Misalnya adalah jika rancangan alternative
layout yang telah dibuat membutuhkan luas area yang lebih besar dari luas pabrik
sebenarnya maka alternative layout tersebut harus dimodifikasi agar rancangan
alternative layout tersebut memenuhi luas pabrik yang tersedia. Selain itu,
pertimbangan modifikasi juga dilakukan apabila suatu system kerja atau mesin
membutuhkan keadaan tertentu misalnya suhu, udara, atau cahaya agar sistem kerja
atau mesin tersebut bisa bekerja secara optimal. Perancangan alternative tata letak
pabrik dapat menggunakan software WinQSB.
SOFTWARE WinQSB
WinQSB adalah suatu software yang dibuat oleh developer berasal dari China yang
dibuat sebagai alat bantu penyelesaian perhitungan berbagai jenis permasalahan
kuantitatif. WinQSB biasanya digunaan untuk membantu menyelesaikan perhitungan
dengan skala yang besar dari permasalahan permasalahan operasional, sistem
produksi, tata letak fasilitas, dan permasalahan kuantitatif lainnya. Pada praktikum
kali ini, kita akan menggunakan WinQSB sebagai alat bantu kita untuk menentukan
layout optimum pabrik sehingga dapat meminimasi ongkos material handling.
User Manual WinQsb
1. Buka file FLL.exe yang terdapat di dalam folder winqsb
2. Setelah itu, muncul tampilan di bawah ini

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 76

Gambar VII.5 Tampilan awal WINQSB


3. Kemudian pilih New Program, maka akan muncul kotak dialog seperti di
bawah ini

Gambar VII.6 Tampilan pilihan problem specification


Untuk Problem Type pilih yang Functional Layout dan Objective Criterion
pilih yang Minimization.
Isi Problem Title dengan nama perusahaan.
Isi Number of Functional Departments dengan jumlah departemen yang akan
dibangun.
Isi Number of Row in Layout Area dengan jumlah baris yang digunakan pada
initial layout.
Isi Number of Columns in Layout Area dengan jumlah kolom yang digunakan
pada initial layout.
Setelah itu klik OK.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 77

Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar VII.7 Tampilan winQSB untuk pengisian specification


4. Setelah itu akan muncul table seperti di bawah ini :

Gambar VII.8 Tabel pengisian departement


Isi kolom Department Name sesuai dengan nama departemen pada initial
layout.
Isi kolom Location Fixed dengan Yes/NO/ Yes artinya departemen tidak dapat
dipindah pindah. No artinya lokasi departemen dapat dipindah pindah lagi.
Isi kolom To Dept. X dengan biaya perpindahan antar departemen yang dapat
dilihat pada Cost Matrix.
Isi kolom Initial Layout in Cell Location dengan koordinat initial layout yang
sudah dibuat di Microsoft Excel.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 78

Sebagai contoh dapat dilihat di bawah ini :

Gambar VII.9 Contoh pengisian cost tiap department .. (1)

Gambar VII.10 Contoh pengisian cost tiap department .. (2)


5. Untuk dapat mengetahui total cost dari semua solusi dengan menggunakan
algoritma CRAFT adalah dengan mengklik gambar orang yang dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :

Gambar VII.11 Contoh tabel pengisian cost

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 79

Setelah itu akan keluar kotak dialog seperti di bawah ini :

Gambar VII.12 Tampilan kotak dialog solution option dan distance measure
Untuk solusi Option, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Improve by Exchanging 2 departments, yaitu proses perbaikan layout
dengan melakukan pertukaran 2 departemen secara acak dari jumlah
keseluruhan departemen.
b. Improve by Exchanging 3 departments, yaitu proses perbaikan layout
dengan melakukan pertukaran 3 departemen secara acak dari jumlah
keseluruhan departemen.
c. Improve by Exchanging 2 then 3 departments, yaitu proses perbaikan
layout dengan melakukan pertukaran 2 departemen di awal secara acak,
kemudian dilakukan kembali pertukaran 3 departemen secara acak dari
keseluruhan departemen.
d. Improve by Exchanging 3 then 2 departments, yaitu proses perbaikan
layout dengan melakukan pertukaran 3 departeman di awal secara acak,
kemudian dilakukan kembali pertukaran 2 departemen secara acak dari
keseluruhan departemen.
e. Evaluate the initial layout only, yaitu evaluasi dari layout existing dari
keseluruhan departemen sebelum dilakukan usulan perbaikan layout.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 80

Untuk Distance Measure pilih yang Rectlinier Distance


Setelah itu, klik OK

Untuk melihat matriks jarak dengan rectlinier distance dapat dilakukan dengan
mengklik tanda yang dilingkari pada gambar di bawah ini :

Gambar VII.13 Tampilan initial layout after iteration


Maka akan muncul matriks jarak seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar VII.14 Tampilan matriks jarak

6. Untuk membuka layout yang sudah dibuat, klik file pilih menu Load
Program. Setelah itu pilih nama layout yang sudah disave. Lalu klik OK.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 81

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM
1. Membuka Microsoft Excel
2. Melengkapi data yang ada di dalam tabel Activity Relationship Chart
3. Melengkapi data yang ada di dalam tabel Normalisasi Activity Relationship Chart
4. Mengisi data yang ada di dalam tabel Unit Flow Distribution untuk inputan ke
WINQSB
5. Membuat Area Allocation Diagram di sheet yang telah disediakan
6. Membuat alternatif layout menggunakan software WINQSB

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 82

MODUL VIII
PERANCANGAN SISTEM MATERIAL HANDLING

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Praktikan mengetahui dan memahami material handling equipment dan
manfaatnya.
2. Praktikan mengenal 10 prinsip material handling dan implementasinya
3. Praktikan mampu memahami dan merancang sistem material handling dalam
suatu pabrik.

REFERENSI
1. Tompkins, James A. and White John A. Facilities Planning. John Wiley &
Sons, 1984.
2. Wignjosoebroto, Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh November, 1996
3. Purnomo, Hari. Perencanaan dan Perancangan Tata Letak Fasilitas.
Yogyakarta : Graha Ilmu, 2004.
4. Material handling Institute. The Ten Principles of Material handling. [
Journal ] Charlotte: Material handling Institute. http://www.mhia.org/. [27
Febuari 2012]
ALAT PRAKTIKUM
1. Microsoft Excel
2. Komputer

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 83

LANDASAN TEORI
VIII.1

MATERIAL HANDLING

VIII.1.1

DEFINISI

Definisi dari Material handling adalah sebagi berikut:


Material handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang tepat dari
material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu
yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah
dengan menggunakan metode yang benar. Jika digunakan metode yang sesuai, maka
sistem material handling akan terjamin/aman dan bebas dari kerusakan.
Sistem Material handling lebih fokus membahas mengenai: Motion, Time, Quantity,
dan Space.
1. MOTION: Setiap produk harus dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi
yang lain. Dan sebuah material handling harus bisa memberikan peran
tersebut.
2. TIME: Sebuah material handling harus bisa mengatasi masalah pada
sebuah industry untuk setiap waktu dapat terpenuhi kedatangan sebuah
produk dg tepat, tidak terlambat atau pun terlalu awal.
3. QUANTITY: Material handling bertugas untuk memastikan mampu
membawa produk/barang yg diantar ke berbagai lokasi dengan jumlah
yang benar.
4. SPACE: Kebutuhan akan sebuah space sangat dipengaruhi oleh bentuk
aliran dari Sistem Material handlingnya.

M O D U L P R A K T I K U M P E R A N C A N G A N T A T A L E T A K F A S I L I T A S 2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 84

Factors For Consideration in Material Handling


Problem Analysis

Material

Move

Method

Type

Characteristics

Quantity

Source and
Destination

Logistics

Characteristics

Type

Handling Unit

Equipment

Quantity

Physical
Restriction

Unit

Shape

Annual

Scope

Eksternal

Distance

Transporting

Function

Annual

Area

Bulk

Dimensions

Route

Internal

Frequency

Conveying

Load support
meth.

Liquid
Gas

Temperature

Perishability
Wt./Unit
Others

Max. Invent.
Per Delivery

Per Move

Load/Unload
Level
Load/Unload
Method

Type indicated

Max. Invent.

Desired
Characteristics

Per Delivery

Container
Rate

Manuvering

Speed

Elevating

Motion

Motion

Traffic

Positioning

Environment

Transfering

Items/
Handling Unit

Handl. Units/
tot. quantity

Amount
Cost

Weight

Per Move

Column
Spacing
Clear
Height

Aisle
Location
Aisle
width

Number

Transportation

Door
Size(s)

Handling

Etc.
Sequence

Gambar VIII.1 Faktor pertimbangan dalam analisis permasalahan material handling

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 85

Untuk melakukan analisis pada Material Handling, sebaiknya dilakukan analisis dari
berbagai faktor .Berdasarkan framework tersebut terdapat faktor-faktor untuk
menganalisis material handling yaitu Barang (Material), Pergerakan (Move) dan
Metode perpindahan (Method).

Dari segi material dapat dilihat dari tipe,

karakteristik maupun kuantitasnya. Kemudian dari segi pergerakan (Move) dapat


mempertimbangkan source and destination, logistik, karakteristik dan tipenya.
Sedangkan dari segi metode dapat dilihat dari Handling Unit, Peralatan dan
Kuantitasnya. Dan yang terakhir adalah segi batas fisik (physical restriction) yang
dipengaruhi oleh lokasi, aisle, dan space.

VIII.1.2

TUJUAN SISTEM MATERIAL HANDLING

Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya
produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan
perancangan fasilitas yang diimplementasikan.
Beberapa tujuan dari sistem material handling antara lain:
Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan
memberikan perlindungan terhadap material.
Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja.
Meningkatkan produktivitas
a. Material akan mengalir pada garis lurus.
b. Material akan berpindah dengan jarak sedekat mungkin.
c. Perpindahan sejumlah material pada satu kali waktu.
d. Mekanisme penanganan material.
e. Otomasi penanganan material.
f. Menjaga atau mengembangkan rasio antara produksi dan penanganan
material.
g. Meningkatkan muatan/beban dengan penggunaan peralatan material
handling otomatis.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 86

Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas:


a. Menigkatkan penggunaan bangunan.
b. Pengadaan bangunan serbaguna.
c. Standarisasi peralatan material handling.
d. Menjaga, dan menempatkan seluruh peralatan sesuai kebutuhan dan
mengembangkan program pemeliharaan inventif.
e. Integrasi seluruh peralatan material handling dalam suatu sistem.

Mengurangi bobot mati.

Sebagai pengawasan persediaan.

VIII.1.3

JENIS PERALATAN MATERIAL HANDLING

Tulang punggung sistem material handling adalah peralatan material handling.


Sebagian besar peralatan yang ada mempunyai karakteristik dan harga yang berbeda.
Semua peralatan material handling diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama yaitu:
conveyor (ban berjalan), crane (derek) dan trucks (alat angkut/kereta).

a. Conveyor
Conveyor merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan material
secara kontinyu dengan jalur yang tetap. Terdapat beberapa tipe conveyor
yang biasa dipergunakan, antara lain belt conveyor, roller conveyor, screw
conveyor, dll.

Keuntungan Conveyor :
- Kapasitas tinggi sehingga memungkinkan untuk memindahkan material
dalam jumlah besar.
- Kecepatan dapat disesuaikan.
- Penanganan dapat digabungkan dengan aktivitas lainnya seperti proses
dan inspeksi.
- Serba guna dan dapat ditaruh diatas lantai maupun diatas operator.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 87

- Bahan dapat disimpan sementara antar stasiun kerja.


- Pengiriman/pengangkutan bahan secara otomatis dan tidak memerlukan
bantuan beberapa operator.
- Tidak memerlukan aisle (gang).

Kerugian Conveyor :
- Mengikuti jalur yang tetap sehingga pengangkutan terbatas pada area
tersebut.
- Dimungkinkan terjadi bottle necks dalam sistem.
- Kerusakan pada salah satu bagian conveyor akan menghentikan aliran
proses.
- Conveyor ada pada tempat yang tetap, sehingga akan mengganggu
gerakan peralatan bermesin lainnya.

Gambar VIII.2 Screw Conveyor, Belt Conveyor, dan Roller Conveyor

b. Cranes & Hoists


Cranes (derek) dan Hoists (kerekan) adalah peralatan yang digunakan untuk
memindahkan beban secara terputus-putus dengan area yang terbatas.
Terdapat beberapa tipe cranes dan hoist antara lain jib crane, bridge crane,
gantry crane, tower crane, stacker crane, dan sebagainya.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 88

Keuntungan Cranes & Hoists :


- Dimungkinkan untuk mengangkat dan memindahkan benda.
- Keterkaitan dengan laintai kerja.produksi sangat kecil.
- Lantai kerja yang berguna untuk kerja dapat dihemat dangan
memasang peralatan handling berupa cranes.

Kerugian Cranes & Hoists:


- Membutuhkan investasi yang besar.
- Pelayanan terbatas pada area yang ada.
- Crane hanya bergerak pada arah garis lurus dan tidak dapat dibuat
berputar/belok.
- Pemakaian tidak dapat maksimal sesuai yang diinginkan karena crane
hanya digunakan untuk periode waktu yang pendek setiap hari kerja.

Gambar VIII.3 Crane dan hoist

c.

Trucks
Trucks yang digerakkan tangan atau mesin dapat memindahkan material
dengan berbagai macam jalur yang ada. Yang termasuk dalam kelompok
truck adalah fork lift trucks, hand trucks, fork trucks, automated guide
vehicles (AGV) dan sebagainya.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 89

Keuntungan Trucks :
- Perpindahan tidak menggunakan jalur yang tetap, oleh sebab itu dapat
digunakan dimana-mana selama ruangan dapat untuk dimasuki
trucks.
- Mampu

untuk

loading,

unloading

dan

mengangkat

kecuali

memindahkan material
- Karena gerakannya tidak terbatas, memungkinkan untuk melayani
tempat yang berbeda, truck dapat mencapai tingkat pemakaian yang
tinggi.

Kerugian Trucks :
- Tidak mampu menangani beban yang berat.
- Mempunyai kapasitas yang terbatas setiap pengangkutan.
- Memerlukan aisle/gang.
- Sebagian besar trucks harus dijalankan oleh operator.
- Trucks tidak bisa melakukan tugas ganda/gabungan yaitu proses dan
inspeksi seperti peralatan lainnya.

Gambar VIII.4 Trolley dan Pallet Jack

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 90

Gambar VIII.5 AGV (Automated Guided Vehicle) dan Forklift


VIII.2

PRINSIP PRINSIP MATERIAL HANDLING

VIII.2.1

Planning Principle

Perencanaan merupakan aktivitas yang harus didefinisikan sebelum implementasi


tata letak baru yang dirancang. Perencanaan dari material handling mendefinisikan
mengenai material (apa) dan pergerakan (kapan dan mana); kedua hal tersebut akan
menentukan metode yang digunakan (bagaimana dan siapa). Perencanaan
penanganan material harus mencerminkan tujuan strategis organisasi serta kebutuhan
yang lebih mendesak, mendokumentasikan pada metode dan masalah, fisik, kendala
ekonomi, kebutuhan masa depan untuk menfokuskan pada tujuan material handling,
dan mempromosikan rekayasa produk, desain proses, dan tata letak proses.
VIII.2.2

Standardization Principle

Standardisasi berarti berkurangnya variasi dan kustomisasi dalam metode dan


peralatan yang digunakan. Salah satu contohnya yaitu dalam proses perencanaan,
perencanaan harus memilih metode dan peralatan yang dapat melakukan berbagai
tugas di dalam berbagai operasi atau bersifat fleksibilitas dan modularitas.
VIII.2.3

Work Principle

Ukuran kerja adalah penanganan aliran material (volume, berat atau menghitung
waktu per unit) dikalikan dengan jarak perpindahan. Konsep yang digunakan yaitu
menyederhanakan proses dengan mengurangi, menggabungkan, memperpendek atau
menghilangkan tanpa mengorbankan produktivitas dan level service yang dibutuhkan
untuk melakukan operasi.
VIII.2.4

Ergonomic Principle

Ergonomi adalah ilmu yang digunakan untuk menyesuaikan pekerjaan atau kondisi
kerja yang sesuai dengan kemampuan dari pekerja. Contohnya yaitu penanganan
bahan pada tempat kerja dan peralatan yang digunakan untuk membantu dalam

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 91

pekerjaan harus dirancang dengan baik sehingga dapat meningkatkan keamanan bagi
pekerja dan peralatan kerja.
VIII.2.5

Unit Load Principle

Unit load merupakan sesuatu yang bisa disimpan atau dipindahkan dalam satu entitas
dengan sekali pemindahan atau angkut, seperti kontainer, pallet atau tote namun,
tanpa memperhatingkan masing-masing item yang menjadi beban tersebut. Unit Load
dan komposisinya dapat berubah sesuai dengan gerakan material dan produk yang
telah melalui tahapan dari proses manufaktur dan distribusi yang dihasilkan.
VIII.2.6

Space Utilization Principle

Ruang dalam material handling dapat dilihat dengan sisi tiga dimensi yang
tergambarkan secara kubik. Di suatu area kerja yang tidak beraturan beberapa hal
yang harus diperhatikan adalah ruang dan lorong yang kosong, pengaturan tata letak
daerah penyimpanan, dan jalur transportasi material.
VIII.2.7

System Principle

Suatu sistem adalah kumpulan interaksi dalam proses produksi dan saling terkait
membentuk suatu kesatuan yang utuh. Arus informasi dan aliran material harus
diintegrasikan dan diseimbangkan dalam setiap kegiatan pada proses produksi. Salah
satunya adalah persyaratan pelanggan yaitu mengenai kuantitas, kualitas, dan
pengiriman tepat waktu yang harus dipenuhi.
VIII.2.8

Automation Principle

Penanganan bahan operasi harus termekanik atau otomatis yang mana layak untuk
meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan respon dari sistem produksi,
meningkatkan konsistensi dan prediktabilitas. Semua item diharapkan akan ditangani
otomatis dan harus memiliki fitur yang mengakomodasi mekanik dan penanganan
otomatis.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 92

VIII.2.9

Environmental Principle

Kesadaran Lingkungan yaitu keinginan untuk tidak menyia-nyiakan sumber daya


alam dan untuk memprediksi dan menghilangkan kemungkinanefek negatif pada
kegiatan keseharian terhadap lingkungan pada pabrik tersebut. Konsepnya yaitu
mendesain sistem sesuai dengan fungsinya dan kesesuaiannya dengan lingkungan.
VIII.2.10 Life Cycle Cost Principle
Life Cycle Cost mencakup semua arus kas yang ada antara waktu per biaya yaitu pada
periode awal yang dihabiskan untuk perencanaan atau pengadaan peralatan baru, atau
untuk pemberlakukan metode baru, hingga pergantian peralatan. Life Cycle Cost
mencakup investasi, instalasi, setup dan pemrograman peralatan, pelatihan, pengujian
sistem dan penerimaan, operasi (tenaga kerja, utilitas, dll), pemeliharaan dan
perbaikan, dan akhir pembuangan.

VIII.3

UNIT LOAD

Unit Load menjelaskan bahwa material sebaiknya ditangani dengan segala sesuatu
yang paling efisien. Unit load memberikan pemahaman mengenai maksimal jumlah
unit dari produk yang diangkut/dibawa secara teknis, dengan tujuan untuk
mengurangi jumlah perpindahan yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Sebuah
pertanyaan logika yang tepat untuk Unit Load Principle ialah What is the right size
for a package or load?. Berikut ini akan di jelaskan salah satu teknik dasar unit load
yaitu Unit Load dengan Platform Pallet. Pallet merupakan sarana untuk mengangkut
material supaya mampu mengangkat material untuk volume yang lumayan besar.
Biasanya diatas pallet diberi material yang jumlahnya sesuai dengan dimensi dan
kapasitas pallet itu sendiri. Terdapat 6 ukuran pallet yakni, 30x40 inc, 36x48 inc,
40x48 inc, 42x42 inc, 48x49 inc, dan 48x48 inc.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 93

Gambar VIII.6 Tipe tipe Pallet


Kelebihan Unit Load :
a) Lebih banyak material yang ditangani pada saat yang sama dapat mengurangi
jumlah perjalanan yang diperlukan sehingga berpotensi mengurangi ongkos
material handling , mengurangi waktu bongkar muat dan mengurangi kerusakan
produk.
b) Memungkinkan untuk menggunakan material handling equipment yang standar.

VIII.4 HUBUNGAN ANTARA MATERIAL HANDLING DAN TATA LETAK


Tata letak dilihat dari sudut pandang produksi didefinisikan sebagai susunan fasilitasfasilitas produksi untuk memperoleh efisiensi pada suatu produksi. Perancangan tata
letak juga harus menjamin kelancaran aliran bahan-bahan, penyimpanan bahan, baik
bahan baku, bahan setengah jadi maupun produk jadi.
Perancangan sistem fasilitas, perancangan tata letak, dan perancangan material
handling pada dasarnya mempunyai kaitan yang tidak dapat terpisahkan. Yang sering

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 94

terjadi bahwa perancangan tata letak dan material handling dilakukan terlebih dahulu,
sedangkan perancangan sistem fasilitas menyesuaikan dengan tata letak yang telah
dirancang. Untuk itu perancangan tata letak diusahakan sefleksibel mungkin. Jadi
salah satu tolak ukur dalam membuat sebuah tata letak yang efisien adalah tata letak
yang mampu meminimasi material handling yang disusun oleh perbandingan lurus
antara jarak antar mesin/aktivitas dan frekuensi perpindahan materialnya, oleh karena
itu diperlukan perhitungan material handling yang akan membandingkan antara tata
letak existing dan usulan nantinya.

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM
1. Penjelasan Material handling Equipment secara keseluruhan
2. Penjelasan Material handling handtruck & manual (yang digunakan di
praktikum)
3. Penjelasan aliran perpindahan material di perusahaan pembuatan sepatu.

MODUL PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS


2 0 1 3 / 2 0 1 4 | 95