Anda di halaman 1dari 2

galeri cerpen:

[galeri karya] USTADZ TARMAN - Firman Venayaksa


Dikemas 26/02/2003 oleh Editor

Karena-Mu ya Allah, saya akan berdakwah, mencari daerah hitam yang penuh dengan
kemunafikan, tempat-tempat yang terjangkit penyakit munafik, bermalas-malas, linglung tentang
hidup; tak ada nafas cinta, yang hadir hanya lamat-lamat kebencian yang semakin mendesir. Saya
akan pergi ke tempat seperti itu. Jihad yang selalu tumbuh dalam hatinya meronta-ronta. Baginya
menularkan kebajikan adalah kewajiban. Dia berkeyakinan bahwa di setiap dada insan, selalu hadir
kerinduan bercengkrama dengan cahaya; cahaya yang sampai saat ini sulit ditemukan bagi sebagian
orang. Dan dia dilahirkan untuk mentransfer cahaya itu; Cahaya hanya bertemu dengan cahaya.
Pertemuan dengan cahaya harus dimulai dingan setitik cahaya pikirnya.
Tuhan, kuatkanlah hambamu untuk terus berjibaku dengan setan. Aku tahu hanya Engkaulah yang
mampu mengendalikan nafsu ciptaanmu. Dengan kehadiranmu dalam urat nadiku dan asmamu
yang menjalar dalam aortaku, aku tak kan pernah takut menganiaya kebatilan. Ya Tuhan, biarkan
selaksa cahaya menetap di jiwaku, jangan pernah kau padamkam Niat Tarman telah lurus.
Berdakwah! Doanya mengangkasa, menembus udara, meretas ke atas langit; bersemayam di muara
surga.
***
Tarman dengan segala kemantapannya melangkahkan kaki ke tempat itu, kampung Suka Endah.
Satu langkah lagi, maka dia masuk ke tempat itu. Setelah berkomat-kamit, Tarman memberanikan
diri untuk memasukinya. Dilihatnya pemandangan itu. Tak ada yang istimewa, tak ada wah disini.
Tak ada beda dengan perkampungan lainnya. Kata orang-orang disini tempat iblis bersemayam, tap
saya tak melihat tanda-tandanya. Tarman berseloroh di sukmanya. Ustadz muda itu terus berjalan
menyusuri sawah dan pematang, hingga dia bertemu dengan seorang tua, linggis di pundaknya.
Tarman menyunggingkan senyum manisnya; tak dibalas. Tarman mengucapkan salam; tak terbalas.
Tarman ingin berjabat tangan; tak dijabat. Allah, aku tahu ini ujian untukku kembali Tarman
berseloroh, seloroh yang tak terucap.
Maaf Pak, bolehkah saya bertanya?
Kamu telah bertanya Ustadz. Tarman agak kikuk.
Ehm, begini Pak saya.... Pak Tua itu menyekat pembicaraannya.
Kamu seorang Ustadz yang ingin berdakwah bukan? Kamu jauh-jauh datang kesini karena banyak
orang yang menyatakan bahwa di tempat ini maksiat sedang berkecamuk, dan kamu ingin
memberantasnya bukan? Kamu ingin mengaplikasikan teori-teori yang kamu punya di tempat ini
bukan?
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu sempat membuat mata Tarman tak bergeming dari kelopaknya,
melotot.
Dari mana bapak tahu?
Saya tahu dari matamu anak muda, saya tahu dari pakaianmu, saya tahu dari gerak gerikmu. Mari
kita berteduh di pohon teduh itu. Tarman bergegas mengikuti Pak Tua. Kemudian mereka
melanjutkan pembicaraan.
Ketahuilah Ustadz, disini adalah kampung yang rukun. Warga disini orangnya baik-baik, bahkan
terlampau baik. Kalau tadi saya tak merespon Ustadz, bukan berarti saya sombong. Sambil
membetulkan tempat duduknya, Pak Tua melanjutkan kata-katanya. Tarman sibuk mencatat
berbagai pertanyaan di benaknya.
Warga kampung disini sudah bosan dengan pendatang yang hanya ingin memberi petuah,
wejangan-wejangan dan dalil-dalil.
Ada yang harus saya luruskan Pak. Saya datang kesini semata-mata karena Allah, bukan ada
maksud tertentu dibalik semua ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan warga disini atas
ilmu yang pernah saya dapatkan di pesantren. Lagi pula, saya yakin tidak semua warga taat
beribadah bukan? Nah saya datang kesini untuk menyeru pada jalan kebenaran, jalan yang diridhoi
Allah.
Ustadz, saya mengerti maksud baik saudara. Saya juga mahfum bahwa tak semua warga baik.
Itulah mengapa kami masih bisa bertahan hidup.
Maksud Bapak?
Kalau semua Ustadz datang kemari, lantas kapan kami bisa berdakwah? Dakwah tidak hanya
Ustadz saja bukan? Ustadz jangan serakah seperti itu dong. Allah tidak menyukai orang-orang
serakah Ustadz. Kalau Ustadz berdakwah disini, lalu kami berdakwah dimana? Kalau kami tidak

berdakwah, apakah kami masih bisa hidup?


Tarman berpikir serius. Kata-kata yang dilontarkan oleh Pak Tua begitu menyeruak ke dasar
otaknya. Tiba-tiba kepalanya manggut-manggut. Masih banyak tempat lain untuk berdakwah
pikirnya.
Baiklah Pak Tua saya mengerti. Semakin banyak orang-orang yang berdakwah, menyeru di jalan
Allah, semakin banyak yang sadar bahwa hidup di dunia hanyalah untuk beribadah.
Syukurlah kalau Ustadz mengerti. Tarman berpamit diri.
Ternyata sulit juga untuk berdakwah, pikirnya.
***
Akhirnya Tarman pergi ke kota. Menurutnya orang-orang kota pasti banyak yang berdosa. Apalagi
kalau melihat acara-acara di TV, wah sensasional. Banyak yang harus diperbaiki. Tarman naik bis.
Ternyata di dalam bis, dia melihat banyak wanita yang tak memakai jilbab, anak-anak muda yang
merokok dan berpakaian tak sopan. Ada hasrat untuk berdakwah. Tarman bangkit dari tempat
duduknya. Tarman mengucap salam. Namun sebelum keinginannya terlaksana, ada yang menepuk
bahu dari belakang. Kondektur. Lalu kondektur itu berbisik di telinganya.
maaf Pak Ustadz, tadi sudah ada yang berdakwah disini. Kasihan penumpang, mereka sudah jemu
dengan dalil-dalil. Biarkan mereka beristirahat barang sejenak. Bukankah mengganggu orang itu
tidak disukai Allah?
Lagi-lagi keinginannya tidak terlaksana. Tarman kembali duduk di kursinya. Berdakwah memang
penuh tantangan. Allah pintar sekali menguji manusia.
Datanglah Tarman di kota.
Saya harus mencari tempat yang butuh cahaya. Celotehnya dalam kalbu. Lalu dia masuk ke kafe.
Saya yakin disini pasti membutuhkan tausiah. Tarman masuk ke tempat itu. Masyaallah, musik
apa ini, begitu mengantam-hantam jantung. Wanita-wanita dengan pakaian terbatas, hamr dimanamana. Saya akan mencobanya. Ini dakwah pertama saya, saya harus terlihat memukau. Tarman
memulai dakwahnya. Dia bicara lantang.
Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang dimulikan Allah, hari
ini kita berjumpa disini karena Allah, jadi beribadahlah karena Allah. Tanpa Allah kita tidak bisa
berbuat apa-apa.. Tarman menggebu-gebu bicaranya. Sayang kata-kata yang bekecamuk itu tak
terdengar sama sekali, terkalahkan oleh dentuman musik yang hangar bingar. Tarman lemas.
Mengapa mereka tidak mendengarkan, pikirnya. Gagal lagi. Tarman keluar dari tempat itu. Tarman
terus memeras otakknya. Mengapa mereka tidak mendengarkan tausiahnya? Bukankah berdakwah
bisa dimana saja? Tapi memang tempat tadi kurang kondusif. Ah Allah saya butuh pertolonganmu.
Satu-satunya jalan ya mesjid! Saya akan cari mesjid terdekat disini. Tarman menemukan mesjid
itu. Mesjid yang megah. Banyak sekali jamaah berbondong-bondong memadati mesjid itu. Lalu
Tarman bertanya ke salah seorang jamaah.
Bisakah saya berdakwah di mesjid ini?
Maksud saudara ingin mendengarkan dakwah?
Tidak, maksud saya, saya yang menjadi ustadznya. Insyaallah saya punya ilmu yang bisa
disampaikan. Saya lulusan dari pesantren di kampung Munjul.
Sekarang yang akan memberikan tausiah itu K.H. Iqbal. Beliau ustadz yang terkenal.
Jadi saya tak bisa berdakwah disini?
Mungkin di mesjid lain bisa. Tarman agak kecewa. Lalu dia mencari mesjid lainnya.
Sekarang K.H. Rummi beliau usatdz yang terkenal.
jadi saya tak bisa berdakwah disini? Lagi-lagi kecewa yang didapatnya.
Sekarang K.H. Ghazali beliau ustadz yang terkenal. Tarman Kecewa.
Sekarang K.H. Hallaj beliau ustadz yang terkenal. Tarman kecewa.
sekarang K.H. Siti Jenar beliau ustadz yang terkenal. Tarman kecewa.
Tarman tak mampu lagi membendung kekesalan. Ternyata di kota lebih parah lagi. Tarman tak bisa
berdakwah. Di selasar mesjid Tarman terdiam, wajahnya kelabu. Pikirannya melesat ke kampung.
Dia rindu adiknya yang tak pernah mengaji, bapaknya yang selalu berjudi, dan tetangganya yang
selalu pamer kekayaan. Tarman tersenyum, wajahnya cerah kembali.
Tanah Air, 2003

Anda mungkin juga menyukai