Anda di halaman 1dari 21

WAWASAN LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGURANGI

PERMASALAHAN LINGKUNGAN
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Ilmu Pengetahuan Lingkungan
Yang Dibina Oleh Dr. Sueb, M. Kes.

Disusun oleh
Kelompok 1 Off G
Aulia Fitri Wardani
Niken Eka Agustina
Wahidah Fitria Nur Maretta
Dina Aribah Nafan

(120342422492)
(120342400170)
(120342400171)
(140000000000)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2015

WAWASAN LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGURANGI


PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Oleh : Aulia Fitri 1)Dina Aribah2)Niken Eka3)Wahidah Fitria4)
Pembina : Dr. Sueb, M. Kes.
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Malang
email : wardaniaulia24@yahoo.com

Abstrak:Wawasan lingkungan merupakan disiplin lmu yang mengkaji mengenai


fenomena yang terjadi di lingkungan seperti dampak dari keberadaan spesies, zat
atau benda di udara, air, dan tanah serta dampaknya terhadap aktivitas manusia.
Ilmu ini berpijak pada disiplin ilmu ekologi yang menggunakan pandangan atau
sebuah paradigma lama dan baru. Tujuan dari penulisan makalah ini secara garis
besar adalah mengatasi suatu masalah lingkungan dengan mengacu pada
pemahaman terhadap wawasan lingkungan. Pembangunan lingkungan ini
diharapkan dapat mengatasi semua masalah lingkungan supaya generasi
berikutnya dapat memenuhi kebutuhan dasarnya di masa yang akan datang
erutama kebutuhan terhadap sumber daya alam.
Kata kunci : wawasan lingkungan, paradigma ekologi, masalah lingkungan
Abstrack: Environmental worldview is a dicipline knowledge who describe about
phenomenon that occurs in the environment as a presence of species, substance in
the air, water, and the impact to human actvity. This knowledge grounded in
ecological disciplines that use the view or an old and new paradigm. The purpose
of writing this paper an outline is addressing an environmental problem by
referring to the understanding of environmental worldview. The development
environment is expected to address all environmental issues so that the next
generations can meet their basic needs in the future erutama demand for natural
resources.
Keywords: environmental worldview, ecological paradigmn, environmental
problem

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Makalah yang
berjudul

Wawasan

Lingkungan

sebagai

Upaya

untuk

Mengurangi

Permasalahan Lingkungan ini kami susun untuk memenuhi tugas matakuliah


Pengetahuan Lingkungan yang dibina oleh Bapak Dr. Sueb, M. Kes.
Lingkungan merupakan ruang makhluk hidup untuk berinteraksi dengan
lingkungan guna melangsungkan kehidupannya. Wawasan lingkungan mengkaji
mengenai fenomena yang terjadi di lingkungan seperti dampak dari keberadaan
spesies, zat atau benda di udara, air, dan tanah serta dampaknya terhadap aktivitas
manusia Kegiatan manusia seringkali memunculkan berbagai permasalahan
lingkungan. Oleh karena itu, wawasan lingkungan penting keberadaannya sebagai
salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan dampak
buruk yang terjadi. Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
pembaca mengenai wawasan lingkungan dan permasalahan yang terjadi di
lingkungan.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan guna memperbaiki dan
menyempurnakan hasil karya tulis ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dalam hal wawasan lingkungan dan masalah lingkungan.
Malang, Januari 2015
Penyusun

DAFTAR ISI
Abstrak................................................................................................................i

Kata Pengantar....................................................................................................ii
Daftar Isi.............................................................................................................iii
Bab I Pendahuluan
1.1.

Latar

Belakang...............................................................................................1
1.2.
Rumusan
Masalah...........................................................................................2
Tujuan.............................................................................................................

1.3.

2
1.4.

Manfaat..........................................................................................................
.3

Bab II Kajian Teori


2.1 Konsep Dasar Wawasan Lingkungan..............................................................4
2.2 Wawasan Lingkungan yang Berkelanjutan......................................................5
2.3 Paradigma Ekologis Baru (PEB) .....................................................................6
2.4 Konsep Dasar Masalah Lingkungan.................................................................7
2.5 Kategori Masalah Lingkungan..........................................................................8
2.6 Dampak Masalah Lingkungan...........................................................................9
2.7 Hubungan Antara Wawasan Lingkungan dan Masalah Lingkungan...............10
Bab III Penutup
3.1.

Simpulan......................................................................................................1
1

3.2.

Saran...........................................................................................................16

Daftar Rujukan
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Wawasan lingkungan merupakan studi multi disiplin ilmu yang terdiri dari

berbagai cabang ilmu seperti Kimia, Fisika, Biologi, Agrikultur, Kesehatan, serta
Teknik perairan. Wawasan lingkungan mengkaji mengenai fenomena yang terjadi
di lingkungan seperti dampak dari keberadaan spesies, zat atau benda di udara, air,
dan tanah serta dampaknya terhadap aktivitas manusia (Singh, 2006). Wawasan
lingkungan merupakan cara pandang manusia terhadap lingkungan. Wawasan
lingkungan diperlukan untuk menanggapi perubahan yang terjadi di lingkungan.
Lingkungan secara umum diartikan sebagai ruang atau tempat yang
digunakan makhluk hidup untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan
faktor biotik maupun abiotik. Singh (2006), menyatakan bahwa lingkungan terdiri
dari beberapa komponen diantaranya yaitu komponen fisik, biologi, dan
kebudayaan. Lingkungan memiliki arti penting bagi makhluk hidup untuk
menunjang siklus hidupnya. UU Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 1
menyebutkan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan mengalami perubahan seiring peningkatan aktivitas manusia.
Semakin bertambahnya jumlah manusia semakin banyak pula aktivitas yang
dilakukan. Peningkatan jumlah manusia yang tanpa diikuti dengan pembekalan
mengenai wawasan lingkungan dapat menimbulkan dampak yang tidak baik
terhadap lingkungan. Salah satu dampak yang ditimbulkan antara lain timbulnya
permasalahan lingkungan seperti penurunan daya dukung lingkungan dan
berbagai jenis pencemaran. Menurut Pasal 14 UU Republik Indonesia
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam

lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu


lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
Wardhana (2006) menyatakan bahwa pencemaran lingkungan merupakan
penyimpangan dari keadaan normal. Adanya pencemaran lingkungan
menyebabkan
lingkungan.

terganggunya
Pencemaran

ekosistem

lingkungan

seperti

yang

gangguan

terjadi

terus

keseimbangan
menerus

akan

menimbulkan damak negatif bagi kesehatan manusia. Dalam hal ini, wawasan
lingkungan memiliki peranan yang sangat penting terutama dalam hal pendekatan
kepada masyarakat. Oleh karena itu, pembekalan, pembinaan, dan pengenalan
terhadap wawasan lingkungan perlu disosialisasikan..
Pembekalan mengenai wawasan lingkungan merupakan salah satu upaya
prefentif untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih parah dan
diharapkan mampu mengurangi masalah lingkungan yang terjadi. Berdasarkan
permasalahan tersebut maka penting adanya sosialisasi dan pengkajian lebih lanjut
mengenai wawasan lingkungan. Oleh karena itu, disusunlah makalah yang
berjudul Wawasa Lingkungan sebagai Upaya untuk Mengurangi Permasalahan
Lingkungan.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disusun, rumusan masalah dalam

makalah ini sebagai berikut.


1.2.1. Bagaimanakah kategori klasifikasi masalah lingkungan?
1.2.2. Bagaimanakah dampak masalah lingkungan?
1.2.3. Bagaimanakah hubungan antara wawasan lingkungan dan masalah
lingkungan?
1.3.

Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penyusunan makalah

ini sebagai berikut.


1.3.1. Mengetahui kategori klasifikasi masalah lingkungan.
1.3.2. Mengetahui dampak masalah lingkungan.
1.3.3. Mengetahui hubungan antara wawasan lingkungan dan masalah lingkungan.
1.4.
Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut.
1.4.1. Memberikan informasi mengenai hal yang terkait dengan wawasan
lingkungan.
1.4.2. Memberikan informasi mengenai hal yang terkait dengan permasalahan
lingkungan.

1.4.3. Memberikan informasi mengenai dampak permasalahan lingkungan.


1.4.4. Memberikan informasi mengenai keterkaitan antara wawasan lingkungan
dan masalah lingkungan.
1.4.5. Melatih kepekaan sosial terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan
sekitar.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Dari Wawasan Lingkungan
Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik menempati suatu
ruang tertentu. Kecuali makhluk hidup, dalam ruang itu terdapat juga benda tak
hidup, seperti udara yang terdiri atas berbagai macam gas, air dalam bentuk uap,
cair dan padat, tanah dan batu (Soemarwoto, 2008). Lingkungan adalah suatu

ruang yang mengandung makhluk hidup (biotis) dan benda mati (abiotis) serta
tatanan (sistem) interaksinya secara menyeluruh (holistik) (Suratmo, 1999).
sedangkan pengetahuan atau anggapan atau pandangan tentang suatu ruang yang
ditempati oleh makhluk hidup dengan benda mati dan saling mempengaruhi satu
sama lain disebut sebagai wawasan lingkungan.
Wawasan lingkungan merupakan studi multi disiplin ilmu yang terdiri dari
berbagai cabang ilmu seperti Kimia, Fisika, Biologi, Agrikultur, Kesehatan, serta
Teknik perairan. Wawasan lingkungan mengkaji mengenai fenomena yang terjadi
di lingkungan seperti dampak dari keberadaan spesies, zat atau benda di udara, air,
dan tanah serta dampaknya terhadap aktivitas manusia (Singh, 2006). Wawasan
lingkungan merupakan cara pandang manusia terhadap lingkungan. Wawasan
lingkungan diperlukan untuk menanggapi perubahan yang terjadi di lingkungan.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 yang dimaksud dengan
lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu
sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain (Zen, 1982). Lingkungan merupakan media tempat hidup masyarakat
secara alamiah kualitasnya terus merosot seiring dengan semakin meningkatnya
jumlah penduduk. Tetapi yang menjadi tanggung jawab kita saat ini adalah
bagaimana caranya agar kerusakan tersebut tidak terlalu cepat sehingga
lingkungan memiliki kesempatan untuk pulih kembali dan lingkungan dapat
mendukung kehidupan secara berkelanjutan (Nugroho, 2002). Pada umumnya
penduduk Indonesia berpendidikan sampai pada sekolah dasar, hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pendidikannya masih sangat rendah, maka wajar jika
pemahaman pada lingkungannya pun masih rendah, karena bekal informasi
tentang lingkungan masih terbatas. Tetapi kenyataannya kesalahan yang dilakukan
oleh orang (masyarakat) yang berpendidikan rendah tidak seberat yang dilakukan
oleh yang bependidikan tinggi. Sehingga perlu dirumuskan tentang bentuk dan
informasi yang harus disampaikan agar kerusakan lingkungan dapat dihambat
yang sudah dijelaskan sebelumnya merupakan wawasan lingkungan.
Pembangunan

berwawasan lingkungan haruslah berorientasi pada

kebutuhan pokok hidup manusia, pemerataan sosial, peningkatan kualitas hidup,


4

serta

pembangunan

yang

berkesinambungan.

Jadi,

pembangunan

harus

mengandung makna perkembangan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat


melalui keadilan. Untuk mencapainya maka visi pembangunannya adalah
tercapainya

peningkatan

kualitas

hidup

seluruh

masyarakat

melalui:

pengembangan kecerdasan, pengembangan teknologi, keterampilan dan moral


pembangunan sumber daya manusia yang tanggap terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan, serta seni untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan
berkesinambungan (Siahaan, 2007).
Jadi,

pembangunan

berwawasan

lingkungan

adalah

pembangunan

berkelanjutan yang mengoptimalkan manfaat sumber daya alam dan sumber daya
manusia dengan cara menserasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber
daya alam untuk menopangnya. Wawasan lingkungan diyakini merupakan salah
satu hal yang sangat penting dalam pembangunan karena dengan adanya wawasan
lingkungan seseorang akan mengatahui bagaimana mengolah dan memelihara
lingkungan dengan baik.
Wawasan lingkungan merupakan hal pokok yang mendasar dalam
pembangunan misalnya saja dalam pembangunan pemukiman berwawasan
lingkungan yang membutuhkan beberapa aspek seperti dijelaskan pada Aulia
(2005), bahwa pembangunan peukiman berwawasan lingkungan bertujuan untuk
mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
2.2 Mengetahui Wawasan Lingkungan Yang Berkelanjutan
Pembangunan lingkungan dapat diartikan sebagai upaya berkelanjutan
untuk memelihara dan memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar dapat
terpenuhi dengan sebaik-baiknya dan keseimbangan antara mutu lingkungan dan
mutu hidup tetap stabil (Zen, 1982). Untuk mendapat mutu lingkungan yang baik,
usaha yang dilakukan ialah memperbesar manfaat lingkungan atau memperkecil
risiko lingkungan, hal ini bukanlah usaha yang mudah. Dalam pembangunan
berkelanjutan diharapkan adanya suatu wawasan yang berkelanjutan pula,
sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu wawasan ini dibutuhkan tidak hanya
sebagai langkah pengolahan dan berhenti ketika lingkungan membaik akan tetapi
wawasan ini masih dapat dijadikan dasar sebagai langkah preventif untuk
terjadinya kerusakan lingkungan di masa yang akan datang.
5

Lingkungan yang berkelanjutan adalah lingkungan yang dapat memenuhi


kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang berdasarkan potensinya dalam
aspek fisiokimia, biologi, dan sosial ekonomi (Gilpin, 1996). Sedangkan dalam
The Bruntland Commission Report tahun 1987 yang berjudul Our Common
Future dijelaskan batasan/pengertian tentang pembangunan berkelanjutan
(Sustainable Development) sebagai berikut adalah pembangunan yang dapat
menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia atau penduduk saat ini tanpa
mengurangi potensi pemenuhan kebutuhan dan aspirasi manusia di masa
mendatang.
Dari batasan tersebut maka pembangunan berkelanjutan mengandung tiga
pengertian yaitu: (1) memenuhi kebutuhan penduduk saat ini tanpa mengorbankan
kebutuhan penduduk di masa yang akan datang, (2) tidak melampaui daya dukung
lingkungan (ekosistem), (3) mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam
dengan menyelaraskan manusia dan pembangunan dengan sumberdaya alam
(Sitorus, 2004).
Dalam usaha untuk mengubah keseimbangan lingkungan yang ada pada
mutu lingkungan yang rendah ke keseimbangan lingkungan baru pada tingkat
mutu lingkungan yang tinggi diusahakan agar lingkungan tetap dapat mendukung
mutu hidup yang lebih tinggi itu (Soemarwoto, 2008). Dengan demikian jelaslah
yang dilestarikan bukanlah keserasian dan keseimbangan lingkungan, melainkan
yang ingin dilestarikan adalah dayadukung lingkungan yang dapat menopang
secara terlanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang diusahakan dalam
pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, diusahakan agar tetap ada kondisi
yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan dan
perkembangan, sehingga kelangsungan hidup terus dapat terjamin pada tingkat
mutu hidup yang semakin baik.
Pembangunan mempunyai tujuan jangka panjang dalam arti bukan hanya
membangun pada generasi saat itu, melainkan juga generasi yang akan datang,
dengan kata lain bumi harus diberikan ke generasi berikutnya dalam keadaan yang
lebih baik. Keadaan baik yang ditinggalkan merupakan suatu fase dalam suatu
proses panjang menuju ke kondisi yang lebih baik. Fase yang ditinggalkan itu
harus dapat mendukung fase pembangunan berikutnya, sehingga ada jaminan
tidak akan terjadi kehancuran karena lingkungan tidak dapat lagi mendukung

pembangunan itu. Inilah pada hakekatnya pembangunan wawasan lingkungan


berkelanjutan (Zen, 1982). Pembangunan itu menaikkan mutu hidup dan sekaligus
menjaga dan memperkuat lingkungan untuk mendukung pembangunan yang
berkesinambungan.
Faktor lingkungan yang diperlukan untuk mendukung pembangunan yang
berkelanjutan ialah:
a) Terpeliharanya proses ekologi yang esensial
b) Tersedianya sumber daya yang cukup
c) Lingkungan sosial-budaya dan ekonomi yang sesuai
ketiga kelompok faktor ini sangat berperan penting untuk menentukan daya
dukung berkelanjutan

ketiga faktor itu tidak hanya mengalami dampak dari

pembangunan, melainkan juga mempunyai dampak terhadap pembangunan.


2.3 Mengetahui Paradigma Ekologis Baru (PEB)
Pembangunan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidup.
Interaksi antara pembangunan dan lingkungan hidup membentuk sistem ekologi
yang disebut ekosistem. Ilmu yang mempelajari interaksi antara pembangunan
dan lingkungan hidup disebut ekologi pembangunan.
Pada paradigma lama (Equilibrium Paradigm) Titik kestabilan dalam
sistem ekologi terfokus pada hasil akhir dari proses ekologi, sedangkan prosesnya
sendiri kurang diperhatikan. Dalam hal ini sistem telah dianggap selesai baik
secara

struktur

maupun

fungsional,

stabil

baik

di

dalam

maupun

diluarnya,dianggap telah lengkap oleh pengaturan mereka sendiri, maka


muncullah anggapan adanya peraturan sendiri (self regulating). Dalam paradigma
lama muncul anggapan bahwa setiap unit alam dapat dikonservasi dan setiap
landscape dapat dijadikan cagar alam. Kemudian ada anggapan bahwa sistem di
alam dipertahankan oleh dirinya sendiri dalam kondisi seimbang. Dalam
paradigma lama muncul anggapan bahwa setiap unit alam dapat dikonservasi dan
setiap landscape dapat dijadikan cagar alam. Kemudian ada anggapan bahwa
sistem di alam dipertahankan oleh dirinya sendiri dalam kondisi seimbang.
Kesimpulannya pada paradigma lama bahwa manusia dan aktivitasnya bukan
bagian dari system alam.
Paradigma baru (non-equilibrium paradigm) muncul didasarkan pada
anggapan-anggapan dari paradigma lama yang tidak sesuai dengan fakta yang
7

terjadi di alam sekarang ini.

Hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan

adalah Periode yang tidak dapat diprediksi atau periode yang akan datang akan
kemungkinan besar berpengaruh terhadap struktur dan fungsi ekosistem yang ada.
Aktivitas manusia sangat berpengaruh pada keseimbangan alam yang ada, segala
bentuk aktivitas manusia dapat menimbulkan perbaikkan dalam alam atau justru
kerusakan pada alam, jadi keseimbangan alam tergantung dari apa yang dilakukan
manusia pada alam tersebut contohnya kebakaran hutan diakibatkan oleh aktivitas
manusia yang negatif sehingga akan mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem
yang ada.
Paradigma Non equilibrium lebih menekankan pada proses dibanding hasil.
Sehingga salah satu hal yang paling membedakan antara paradigma lama dan
paradigma baru adalah bahwa dalam paradigma baru aspect manusia merupakan
bagian yang tidak terpisahkan.
2.4 Mengetahui Konsep Dasar Masalah Lingkungan
Pengertian masalah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan) sedangkan pengertian masalah
menurut para ahli antara lain sebagaiberikut.
a. Menurut Craig (2009) , masalah adalah situasi atau kondisi yang akan
datang dan tidak diinginkan.
b. Menurut Kaufman (1988), masalah adalah suatu kesenjangan yang perlu
ditutup antara hasil yang akan dicapai pada saat ini dan hasil yang
diharapkan.
Sedangkan pengertian lingkungan menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Poerwadarminta (Neolaka,2008) adalah berasal dari kata lingkung
yaitu sekeliling, sekitar. Lingkungan adalah bulatan yang melingkupi atau
melingkari, sekalian yang terlingkung disuatu daerah sekitarnya. Sedangkan
menurut Chiras (Neolaka,2008) menyatakan bahwa lingkungan menunjukkan
keluasan segala sesuatu meliputi air, binatang, dan mikro organisme yang
mendiami tanah itu. Jadi lingkungan termasuk segala komponen yang hidup dan
tidak hidup, interaksi antar sesama komponen. Lingkungan hidup adalah sistem
yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk
8

hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi


kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup
lainnya
Sedangkan Menurut Undang Undang RI No. 4 tahun 1982, tentang
ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan lingkungan hidup dan Undang-Undang
RI No 23 tahun 1997 tentang Pengolahan Lingkungan Hidup, dikatakan bahwa
Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan,
dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup
lainnya. Lalu masalah lingkungan dapat didefinisikan sebagai semua situasi atau
kondisi di lingkungan yang harus diselesaikan karena merugikan kelangsungan
hidup semua organisme.

2.5 Mengetahui Kategori Klasifikasi Masalah Lingkungan


Masalah lingkungan dapat dikelompokkan menjadi masalah global,
masalah nasional, dan masalah regional berdasarkan lingkup terjadinya suatu
masalah lingkungan. Beberapa contoh masalah yang yang terjadi di setiap
lingkupnya menurut Syamsuri (1993) adalah sebagai berikut :
2.5.1 Masalah Global
2.5.1.1 Lapisan Ozon Menipis
Ozon meupakan gas yang menyelubungi bumi yang terbentuk dari reaksi
anatara O dan O2 di stratosfer, dengan pertolongan cahaya. Gas

ozon ini

merupakan pelindung atau tameng terhadap sinar ultra violet. Menurut Syamsuri
(1993) gas ozon dapat rusak oleh adanya gas CFC (Choloroflurocarbon) yang
merupakan gas sintetik. Gas ini tidak berbau, tidak beracun, dan stabil karena
tidak mudah bereaksi dengan zat lain. Karena sifatnya itu gas ini sangat ideal
digunakan untuk berbagai campuran penyemprot (aerosol) misalnya hairspray,
pendingin lemari es, dan AC, serta pembuatan karet busa pada bebagai industri.
Lepasnya CFC ke angkasa dapat mencapai stratosfer dan di lapisan udara ini CFC
mengalami dekomposisi oleh pengaruh sinar UV, sehingga CFC ini bisa
mengeluarkan chlor yang sangat reaktif yang menyebabkan penipisan lapisan
ozon.
9

Dilihat dari segi fungsi ozon tersebut, jika ozon menipis maka sinar UV
akan lebih banyak yang mencapai permukaan bumi. Sinar UV merupakan sinar
yang berenergi tinggi sehingga dapat mematikan kehidupan.
a. Meningkatnya Kadar CO2
Sebagai akibat dari proses pembakaran kadar CO2 semakin meningkat.
Menurut Syamsuri (1993) peningkatan kadar CO2 dikhawatirkan akan dapat
menyerap sinar inframerah lebih banyak sehingga dapat menyebabkan efek rumah
kaca. Efek rumah kaca adalah efek peningkatan suhu sebagai akibat
terperangkapnya sinar matahari yang mencapai ke permukaan bumi oleh CO2 yang
menyelebungi bumi.
2.5.1.2 Hutan Tropik Semakin Habis
Hutan hujan tropis adalah hutan yang terdapat di daerah khatulistiwa,
karena pengaryh hujan dan iklim yang tropis dan stabil , di dalamnya penuh
dengan keananekaragaman flora dan fauna. Hutan berperan sebagai paru-paru
dunia dan dapat mempengaruhi iklim dunia. Karenanya, hutan tropik sangat
penting artinya bagi kelestarian makhluk hidup.
Jika suatu saat terjadi kebakaran hutan maka kadar CO2 meningkat di
atmosfer. Sebagaimana hal tersebut Syamsuri (1993) menjelaskan bahwa
kerusakan hutan tidak hanya berakibat meningkatkan kadar CO2 yang hasil
akhirnya menurunkan keseimbangan bumi, selain itu hal ini dapat berakibat :
1.
2.
3.
4.
5.

Badai yang semakin meningkat baik jumlah dan kekuatannya


Kelestarian fora dan fauna terancam punah
Tanah akan menjadi gundul sehingga mudah mengalami erosi
Terjadi banjir di waktu hujan dan kering di waktu kemarau
Terjadi tanah longsor
2.5.1.3 SDA Tidak Terpulihan Semakin Langka
Pemanfaatan SDA yang terus menerus akan mnyebabkan kelangkaan
bahkan SDA tersebut juga diperkirakan habis. Akibad dari kelangkaan SDA ini
bisa berakibat punahnya plasma nutfah karena adanya eksploitasi yang tidak
terkendali oleh manusia.
2.5.2 Masalah Nasional
2.5.2.1 Tingginya tungkat pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, emigrasi,
dan imigrasi. Pertumbuhan penduduk dinyatakan dalam proses untuk setiap 1000

10

orang. Menurut syamsuri (1993) indonesia yang memiliki pertumbuhan penduduk


2,32% pertahun termasuk kategori sedang.
2.6.2.2 Beberapa flora dan fauna terancam punah
Beberapa fauna seperti harimau jawa, badak bercula, cenderawasih,
danbyang lain banyak yang diburu untuk diambil bagian tubuhnya dan
diperjualbelikan. Hal ini menyebabkan populasi fauna ini menurun. Apabila
kesadaran mazyarakat untuk melestarikan fauna tersebut masih rendah bukan
tidak mungkin suatu saat hewan itu punah.
2.6.2.3 Timbulnya kekeringan dan banjir
Hutan merupakan pengatur air dan pengatur penyerapan sumber energi
surya agar berpangaung efektif dan efisien. Menurut syamsuri(1993) jika di
musim kemarau mata air banyak yang mengalami kekeringan sementara di musim
penghujan terjadi banjir itu adaalah pertanda bahwa bukit-bukit telah banyak yang
gundul dan hutan lindung telah banyak yang menebangi.
2.5.3

Masalah Regional
Selain itu masalah lingkungan dikelompokkan sebagai berikut.
1. Menurut Kompartemen

Masalah lingkungan menurut kompartemen dibagi atas tanah, air dan udara.
Setiap masing-masing bagian berhubungan satu sama lain.
2. Menurut Efek yang ditimbulkan
Masalah lingkungan menurut efek yang ditimbulkan antara lain polusi, abrasi,
erosi, dan kerusakan lainnya.
3. Menurut sumber penyebab
Masalah lingkungan menurut sumber penyebabnya ada dua yaitu peristiwa alam
dan manusia .Berbagai kasus lingkungan hidup yang terjadi sekarang ini, baik
pada lingkup global maupun lingkup nasional, sebagian besar bersumber dari
perilaku manusia. Dan perilaku manusia dalam kaitannya dengan lingkungan
sangat berpengaruh terhadap wajah lingkungan di masanya dan juga berpengaruh
terhadap keseimbangan sistem lingkungan di masa depan. Beberapa bentuk
kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

11

a. Terjadinya pencemaran (baik pencemaran udara, air, tanah, maupun suara)


sebagai dampak adanya kawasan industri dan pertambangan.
b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan
air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan
hutan.
c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.
d. kepunahan suatu spesies karena perburuan dan perdagangan ilegal.
2.6 Dampak Masalah Lingkungan
Lingkungan adalah suatu ruang yang mengandung makhluk hidup (biotis) dan
benda mati (abiotis) serta tatanan (sistem) interaksinya secara menyeluruh (holistik)
(Suratmo, 1999). Lingkungan akan muncul sebagai suatu masalah apabila telah

12

merugikan dan mempengaruhi kelangsungan hidup manusia. Pada awalnya mungkin


apa yang dilakukan oleh manusia pada masa lalu lebih buruk ketimbang dari manusia
masa kini. Tetapi yang membedakan pada masa lalu jumlah manusia masih sedikit
sehingga kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia masih dalam batas toleransi alam
dan alam dapat memperbaharuinya. Tetapi pada saat ini jumlah manusia semakin
banyak sehingga akumulasi kesalahan dalam mengelola lingkungan sudah tidak dapat
di toleransi oleh alam, dan pengembaliannya diperlukan waktu yang cukup lama.
Jika ditelusuri hampir semua kegiatan selalu berdampak pada kerusakan
lingkungan, hal ini dapat diamati dari ketidak berlanjutan kegiatan tersebut, sebagai
contoh :
a. Pertanian
Pembangunan pertanian yang telah dilakukan ternyata telah menuai
kegagalan dari sisi lingkungan, karena pada awalnya pertanian sebagai sumber
kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia, kemudian ditata seiring terus
meningkatnya jumlah penduduk dengan sistem panca usahatani, ternyata dalam
waktu 20 tahun sistem tersebut tidak dapat berlanjut, karena muncul berbagai jenis
penyakit dan hama baru yang memiliki kekebalan pada berbagai jenis racun tanaman.
Biota air tawar musnah akibat pestisida yang digunakan sehingga kualitas generasi
muda petani menurun akibat pasokan protein ikan yang biasa dikonsumsi masyarakat
petani berkurang. Muncul berbagai penyakit baru di masyarakat petani karena banyak
mengkonsumsi pangan yang telah tercemari oleh pertisida dan pupuk pemacu
pertumbuhan tanaman. Kualitas air permukaan dan air tanah terus menurun karena
banyak tercemari oleh pestisida dan pupuk yang digunakan, sehingga petani harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk penyediaan air bersih. Kualitas perairan laut
terus menurun karena muara sungai banyak tercemari air yang berasal dari daerah
pertanian.
b. Industri dan Transportasi
Industri dan transportasi merupakan kebutuhan yang bergandengan untuk
menunjang kehidupan masyarakat saat ini. Karena banyak manfaat yang dapat
dihasilkan baik secara lagsung manupun tidak langsung. Tetapi sampai saat ini
efisiensi pemanfaatan bahan baku untuk industri dan pemakaian bahan bakar untuk
proses industri dan transportasi masih belum seimbang. Sehingga polusi dan
pengurasan sumberdaya alam terus berlangsung akibatnya kualitas udara, air, dan

13

tanah terus menurun yang ujung-ujungnya kualitas hidup manusia juga menurun yang
ditunjukkan dengan penyakit yang semakin variatif dan mengejutkan.
c. Kehutanan

Sektor kehutanan pada awalnya merupakan sektor yang paling diandalkan


dalam pembangunan, sehingga pengeksploitasian sumberdaya hutan terus
menerus tanpa mempertimbangkan aspek daya dukungnya. Manusia lupa bahwa
untuk membentuk hutan yang dapat dimanfaatkan kayunya diperlukan waktu
ratusan tahun, sementara menebangnya hanya dibutuhkan waktu beberapa saat
saja. Sehingga pemulihan hutan hampir tidak mungkin terjadi. Dampaknya saat
ini dapat dilihat, kerusakan hutan dimana-mana dan bencanamnya telah merusak
penduduk dan masyarakat yang ada disekitarnya.
d. Kualitas dan Degradasi Lahan
Kualitas lahan yang tadinya cukup menjanjikan pada saat ini terus merosot
akibat adanya kesalahan dalam mengelola dan pencemaran industri dan transportasi.
Daerah pedataran yang tadinya identik dengan daerah pesawahan sekarang banyak
yang dialih fungsikan menjadi kawasan industri dan pemukiman. Pada lahan sawah
yang masih bertahan harus memikul akibatnya dengan pengairan yang sudah tercemar
dengan limbah industri sehingga selain produksinya merosot juga hasilnya telah
tercemar yang jika dijual harganya jatuh dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Degradasi fisik lahan terjadi sangat intensif sehingga banjir, pelumpuran, dan
sedimentasi di bagian hilir terus terjadi. Dampaknya air permukaan tidak dapat
dimanfaatkan, air tanah semakin sedikit, areal pertanian rusak oleh genangan dan
lumpur, produktivitas terus menurun. Dampaknya beban pemerintah dan masyarakat
semakin tinggi karena bantuan pangan dan kemanusian untuk daera hilir harus
mengalir, dan bantuan penghijauan/reboisasi dibagian hulu harus didahulukan.

2.7 Hubungan Wawasan Lingkungan dengan Masalah Lingkungan


Menurut Hardjasumantri (2002) bahwa pembangunan dapar berjalan,
tanpa menganggu lingkungan hidup. Untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup
tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, dibutuhkan swadaya masyarakat
banyak untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna sistem pengelolaan sumber
daya alam dan lingkungan hidup.

14

Dari gambaran diatas dapat diketahui kunci permasalahan lingkungan


adalah manusia. Jadi manusia dengan lingkungannya merupakan suatu yang tidak
dapat dipisahkan. Karena kedua hubungan tersebut saling pengaruh dan
mempengaruhi.Tingkah laku manusia selalu mempengaruhi keharmonisan dan
keseimbangan lingkungan. Manusia yang mampu memelihara lingkungan dengan
baik adalah manusia yang mampu mempergunakan alam sekitarnya guna
memenuhi kebutuhan materinya secara wajar, sehingga kualitas lingkungan dapat
dijaga dan ditingkatkan sekaligus memberikan manfaat kepada manusia.
Hal tersebut dapat diwujudkan bila setiap masyarakat memiliki wawasan
terhadap lingkungan. Wawasan lingkungan in dapat didapatkan di sekolah
maupun di luar sekolah. Pendidikan lingkungan hidup harus ditanamkan sejak
dini. Hal utama yang seharusnya dalam pendidikan lingkungan hidup adalah
memasukkan nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup pada tiap siswa baik itu
melalui

pelajaran

maupun

dengan

membangun

kebiasaan-kebiasaan

prolingkungan. Bahkan dalam pembelajaran PLH siswa tidak hanya mengkaji


persoalan lingkungan hidup, tetapi juga harus bisa berpikir kritis untuk
menawarkan solusi dan hal-hal praktis yang dapat dilakukan untuk memperbaiki
persoalan lingkungan hidup
Selain itu harus ada program pendidikan melalui sosialisasi untuk
menambah wawasan lingkugan terhadap masyarakat awam. Pendidikan yang
dimaksud disini adalah pemberian informasi serta memperat hubungan antara
sikap dan perilaku yang diharapkan, yang ditujukan untuk merubah perilaku
dalam jangka pendek, dan tidak merujuk pada program pendidikan lingkungan
umum yang bersifat jangka panjang seperti yang dilakukan di sekolah. Gardner &
Stern (1996) mengkaji usaha-usaha pendidikan yang menyasar sikap dan
keyakinan yang spesifik terhadap lingkungan , serta informasi mengenai tindakan
yang dapat dilakukan dalam sikap pro-lingkungan. Pendidikan dapat merubah
sikap (attitudes) dan keyakinan (beliefs).
Dari wawasan inilah akan menghasilkan kesadaran untuk berpartisipasi
dan ikut andil dalam penanganan masalah lingkungan. Hasil penelitian teoritik
tentang kesadaran lingkungan hidup dari Neolaka (2008), menyatakan bahwa
kesadaran adalah keadaan tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini

15

lingkungan hidup, dan dapat terlihat pada prilaku dan tindakan masing-masing
individu. Kesadaran lingkungan menurut M.T Zen (1985) adalah usaha
melibatkan setiap warga Negara dalam menumbuhkan dan membina kesadaran
untuk melestarikan lingkungan berdasarkan tata nilai, yaitu tata nilai dari pada
lingkungan itu sendiri dengan filsafat hidup secara damai dengan alam
lingkungannya.
Menurut Tjokroamidjojo (1990) bahwa dalam partisipasi terdapat tiga
tahapan, yaitu :
1. Keterlibatan dalam proses penentuan arah, strategi kebijaksanaan dalam
perencanaan.
2. Keterlibatan dalam memikul beban dan tanggungjawab dalam pelaksanaan
kegiatan pembangunan.
3. Keterlibatan dalam memetik hasil dan manfaat pembangunan
Apabila kesadaran masyarakat tinggi terhadap upaya pengentasan masalah
lingkungan maka masalah lingkungan dapat diminimalisir, dan terjadi kehidupan
yang berjalan selaras,serasi , dan harmonis antara lingkungan sebagai komponen
abiotik dan dan manusia, hewan, tumbuhan, dan komponen biotik lainnya.

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Daftar Rujukan
Craig, D.V. 2009. Action Research Essentials.San Fansisco: JosseyBass.
Gardner, G. T. & Stern P. C. (1996). Environmental Problems and Human
Behavior. Boston: Allyn and Bacon.
Gilpin, A. 1996. Dictionary of Environment and Sustainable Development. John
Wiley & Sons, Chichester.
Hardjasumantri, K. 2002. Hukum Tata Lingkungan. Yogyakarta:Gajah Mada
University Press.
Kaufam, R. 1988. Planning Educational System. New Holland Avenue:
Technomic Publishing Company Inc.
Singh, Y. K.2006. Environment Science. New Delhi: New Age International (P)
Ltd., Publishers.
Neolaka, A. 2008. Kesadaran Lingkungan.Jakarta: Rineka Cipta.
Sitorus, S.R.P. 2004. Pengembangan Sumberdaya Lahan Berkelanjutan.
Lab.Perencanaan Pengembangan Sumberdaya Lahan Jurusan Tanah
Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Soemarwoto, O. 2008. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta:
Djambatan.
Suratmo, F.G. 1999. Strategi dalam Menghadapi Masalah Lingkungan Dunia.
Handout M.K. PSL 702 Pascasarjana IPB, Bogor.
Syamsuri, I. 1993. Pengetahuan Lingkungan. Malang : IKIP Malang
Tjokroamidjojo, Bintoro.1990. Perencanaan Pembangunan. Jakarta :Penerbit Haji
Masagung.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 1.
Wardhana, W.A. 2006. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
Zen, M.T. 1982. Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Gramedia.

17