Anda di halaman 1dari 29

34

BAB II
PENGATURAN HUKUM MENGENAI MOU APABILA TERJADI
WANPRESTASI DALAM PROSES PELAKSANAAN MOU DI INDONESIA

Dilihat dari istilahnya Memorandum Of Understanding berasal dari dua kata,


yaitu Memorandum dan Understanding. Secara gramatikal Memorandum Of
Understanding diartikan sebagai nota kesepemahaman. Dalam Blacks Law
Dictiobary, yang dimaksud dengan Memorandum adalah dasar untuk memulai
penyusunan kontrak secara formal pada masa datang (is to serve as the basis of
future formal contrac),atau dapat diartikan bahwa memorandum itu sebagai
permulaan untuk mengadakan ikatan hukum atau perjanjian yang akan dituangkan
dalam suatu akta yang autentik. Understanding diartikan sebagai : An implied
agreement resulting from the express term of another agreement, whether written or
oral. Artinya, pernyataan persetujuan secara tidak langsung terhadap hubungannya
dengan persetujuan lain, baik secara tidak langsung terhadap hubungannya dengan
persetujuan lain, baik secara lisan maupun tertulis.
Memorandum of Understanding dalam pengertian idealnya sebenarnya
merupakan suatu bentuk perjanjian atau kesepakatan awal menyatakan langkah
pencapaian saling pengertian antara kedua belah pihak (prelimary understanding of
parties) untuk melangkah kemudian pada penandatanganan suatu kontrak. Contohnya
dalam suatu memorandum of understanding dicantumkan kalusula sebagai berikut :
This memorandum of understanding shall come into effect from the date
hereof and continue until february 2004 in which period the parties shall negotiate
34

Universitas Sumatera Utara

35

the terms and conditions of biding Agreement to be executed by the parties within the
said period unless this MOU is terminated earlier in accordance with point 12
herein. Dari pengertian tersebut, sejak awal para pihak telah mempunyai maksud
untuk memberlakukan langkah tersebut sebagai bagian kesepakatan untuk
bernegosiasi (agreement to negotiate). Karena itu, seharusnya tidak dimaksudkan
untuk menciptakan akibat hukum (no intention to create legal relation) terhadap
konsekuensi pelaksanaan kesepakatan dari memorandum of understanding tersebut.44.
Menurut Erman Radjagukguk Memorandum of Understanding mengandung
pengertian sebagai dokumen yang memuat saling pengertian dan pemahaman para
pihak sebelum dituangkan dalam perjanjian yang formal yang mengikat kedua belah
pihak, oleh sebab itu muatan Memorandum of Understanding harus dituangkan
kembali dalam perjanjian sehingga menjadi kekuatan yang mengikat. 45
Salim H. S memberikan pengertian Memorandum of Understanding adalah
Nota kesepahaman yang dibuat antara subjek hukum yang satu dengan subjek
hukum lainnya, baik dalam suatu negara maupun antarnegara untuk melakukan kerja
sama dalam berbagai aspek kehidupan dan jangka waktunya tertentu46, sedangkan
menurut I Nyoman Sudana menyatakan bahwaMemorandum of Understanding
merupakan perjanjian pendahuluan, dalam arti akan diikuti perjanjian lainnya. 47

44

Ricardo Simanjuntak, Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, Mingguan Ekonomi & Bisnis
Kontan, Jakarta, 2006, hal 37.
45
Erman Rajagukguk , Kontrak Dagang Internasional dalam Praktik diIndonesia,Universitas
Indonesia, Jakarta, 1994, hal.4.
46
Salim H. S,Opcit, hal 47
47
INyoman Sudana dkk, 1998, Teaching Material Penyusunan Kontrak Dagang, Depok,
Tanpa penerbit, hal. 9

Universitas Sumatera Utara

36

Dengan kata lain dasar penyusunan kontrak pada masa datang yang
didasarkan pada hasil permufakatan para pihak, baik secara tertulis maupun lisan48
Unsur-unsur yang terkandung dalam definisi tersebut, meliputi :
1) para pihak yang membuat Memorandum of Understanding tersebut adalah subjek
hukum, baik berupa badan hukum publik maupun badan hukum privat.
2) wilayah keberlakuan dari Memorandum of Understanding itu, bisa regional,
nasional, maupun internasional.
3) substansi Memorandum of Understanding adalah kerja sama dalam berbagai
aspek kehidupan.
4) jangka waktunya tertentu.49
Menurut Munir Fuady mengartikan Memorandum of Understanding sebagai
berikut :
Suatu perjanjian pendahuluan, dalam arti nantinya akan diikuti oleh dan akan
dijabarkan dalam perjanjian lain yang mengaturnya lebih detail, karena itu dalam
Memorandum of Understanding hanya berisikan hal-hal yang pokok saja.
Sedangkan mengenai lain-lain aspek dari Memorandum of Understanding relatif
sama saja dengan perjanjian perjanjian lainnya.50
Menurut Hikmahanto Juwana, penggunaan istilah MoU harus dibedakan dari
segi teoritis dan praktis. Secara Teoritis, dokumen Mou tidak mengikat secara hukum

48

Ibid, hal 46.


Ibid.
50
Munir Fuady, Op.cit, 91
49

Universitas Sumatera Utara

37

agar mengikat secara hukum harus dilanjuti dengan perjanjian.51 Sama halnya dengan
pendapat

yang

diberikan

oleh

Nyoman

Sudana

yang

menyatakan

bahwaMemorandum of Understanding merupakan perjanjian pendahuluan, dalam arti


akan diikuti perjanjian lainnya.52
A. Kedudukan Memorandum Of Understanding Dalam Hukum Perjanjian.
Secara Internasional, di dalam sebuah perjanjian internasional yang menjadi
subjek hukum dalam perjanjian tersebut adalah antar negara, oleh demikian ketentuan
dalam perjanjian Internasional ini didasarkan pada Konvensi Wina 1969. Vienna
Convention on the Law of Treaties 1969 (Vienna Convention 1969) mengatur
mengenai Perjanjian Internasional Publik antar Negara sebagai subjek utama hukum
internasional. Konvensi ini pertama kali open for ratification pada tahun 1969 dan
baru entry into force pada tahun 1980. Sebelum adanya Vienna Convention 1969
perjanjian antar negara, baik bilateral maupun multilateral, diselenggarakan sematamata berdasarkan asas-asas seperti, good faith, pacta sunt servanda dan perjanjian
tersebut terbentuk atas consent dari negara-negara di dalamnya. Singkatnya sebelum
keberadaan Vienna Convention 1969 Perjanjian Internasional antar Negara diatur
berdasarkan kebiasaan internasional yang berbasis pada praktek Negara dan
keputusan-keputusan

Mahkamah

Internasional

atau

Mahkamah

Permanen

51

Hikmahanto Juwana, 2002, Hukum Ekonomi dan Hukum Internasional. Lentera Hati,
Jakarta hal. 123.
52
I Nyoman Sudana dkk, 1998, Teaching Material Penyusunan Kontrak Dagang,
Depok,Tanpa penerbit, hal. 9.

Universitas Sumatera Utara

38

Internasional (sekarang sudah tidak ada lagi) maupun pendapat-pendapat para ahli
hukum internasional (sebagai perwujudan dari opinion juris).53
Sedangkan secara Nasional, yang menjadi dasar hukum adanya Memorandum of
Understanding adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional.54 Dalam Pasal 1 huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang
Perjanjian Internasional, telah disebutkan pengertian perjanjian internasional, yaitu :
Perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang
dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik .

Selanjutnya dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang


Perjanjian Internasional, disebutkan bahwa : Perjanjian internasional yang dimaksud
dalam undang-undang ini adalah setiap perjanjian di bidang hukum publik, diatur
oleh hukum internasional, dan dibuat oleh pemerintah dengan negara, organisasi
internasional, atau subjek hukum internasional lain Apabila kita perhatikan definisi
dan penjelasan umum Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional, maka perjanjian internasional dalam prakteknya dapat disamakan
dengan : treaty (perjanjian); convention (konvensi/kebiasaan internasional);
agreement (persetujuan); Memorandum of Understanding (nota kesepahaman);
protocol (surat-surat resmi yang memuat hasil perundingan); charter (piagam);
declaration (pernyataan); final act (keputusan final); arrangement (persetujuan);
exchange of notes (pertukaran nota); agreed minutes (notulen yang disetujui);

53

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4268/konvensi-wina-1969-induk-pengaturanperjanjian-internasional
54
Salim H. S, Op.cit, hal 48

Universitas Sumatera Utara

39

summary records (catatan ringkas); process verbal (berita acara); modus vivendi; dan
letter of intent (surat yang menungkapkan suatu keinginan).55
Apabila kita perhatikan nama nama tersebut, maka Memorandum Of
Understanding yang di buat antara Negara yang satu dengan Negara yang lain
termasuk dalam kategori perjanjian internasional sehingga di dalam Implementasinya
berlaku kaidah kaidah Internasional.
1. Tahap-Tahap Pembuatan Perjanjian.
Suatu kontrak bisnis yang baik memerlukan suatu persiapan atau perencanaan
yang baik sebelumnya. Penyusunan suatu kontrak bisnis meliputi beberapa tahapan
sejak persiapan atau perencanaan sampai dengan pelaksanaan isi kontrak. Tahapantahapan tersebut adalah sebagai berikut :56
1). Prakontrak yang mencakup proses :
a. Negosiasi
b. Memorandum of Understanding (MoU)
c. Studi kelayakan
d. Negosiasi (lanjutan).
2). Kontrak
a. Penulisan naskah awal
b. Perbaikan naskah
c. Penulisan naskah akhir
55

Ibid, hal 51.


Marbun, B.N, , Membuat Perjanjian yang Aman dan Sesuai Hukum, Jakarta, PuspaSwara,
2009, hal. 13
56

Universitas Sumatera Utara

40

d. Penandatanganan.
3). Pascakontrak
a. Pelaksanaan
b. Penafsiran
c. Penyelesaian sengketa.
Menurut teori baru, perjanjian tidak hanya dilihat semata-mata tetapi harus
dilihat pembuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. Ada tiga tahapan dalam
pembuatan perjanjian, yaitu :
1) Tahap pra-contractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan;
2) Tahap contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para
pihak;
3) Tahap post-contractual, yaitu pelaksanaan perjanjian57
Adapun menurut Salim H.S, yang menjadi tahapan dalam perancangan
kontrak harus memenuhi delapan tahap58, yaitu :
a.

Penawaran Dan Penerimaan.


Dalam sistem Anglo Amerika, tahap penawaran dan penerimaan disebut

dengan Offer dan acceptance. Offer (penawaran) adalah suatu janji untuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu secara khusus pada masa yang akan datang. Penwaran
ini ditujukan kepada setiap orang. Acceptance adalah kesepakatan antara pihak

57
58

Salim, H.S,opcit, hal 16


Ibid, hal 83.

Universitas Sumatera Utara

41

penerima dan penawar terhadap persyaratan yang diajukan oleh penawar. Penerimaan
itu harus bersifat absolut dan tanpa syaray atas tawaran itu. Penerimaan yang belum
disampaikan kepada pemberi tawaran, belum berlaku sebagai penerimaan tawaran.
Akan tetapi, dalam perundingan yang dilakukan dengan korespondensi, penerimaan
yang dikirim dengan media yang sama dianggap sudah disampaikan
b.

Kesepakatan Para Pihak.


Kesepakan para pihak merupakan tahap persesuaian pernyataan kehendak

para pihak tentang objek perjanjian. Dalam sistem Anglo Amerika, kesepakatan para
pihak disebut dengan meeting of minds (persesuaian kehendak). Meeting of minds,
yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak tentang objek
kontrak. Apabila objeknya jelas maka kontrak itu dikatakan sah. Persesuaian
kehendak harus dilakukan secara jujur, tetapi apabila kontrak itu dilakukan dengan
adanya penipuan (fraud), kesalahan (mistake), paksaan (duress), dan penyalahgunaan
keadaan (undue influence), maka kontrak itu menjadi tidak sah, dan kontrak itu dapat
dibatalkan.
c.

Pembuatan Kontrak.
Pembuatan kontrak merupakan tahap untuk menyusun dan merancang

substansi kontrak yang akan di setujui dan ditandatangani para pihak. Penyusunan
dan pembuatan kontrak ini dapat dilakukan oleh salah satu pihak atau kedua belah
pihak dengan menyiapkan rancanagan kontrak yang diinginkan oleh para pihak.
d.

Penelaahan Kontrak.

Universitas Sumatera Utara

42

Apabila rancangan kontrak telah selesai, maka tahap selanjutnya adalah


melakukan penelaahan atau pengkajian terhadap substansi kontrak yang dirancang
oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak. Tahap penelaahan kontrak merupakan
tahap untuk mempelajari, menyelidiki, dan memeriksa substansi kontrak yang dibuat
oleh para pihak. Hal-hal yang ditelaah meliputi judul kontraknya, tanggal mulai
berlakunya kontrak, komparisinya, pengaturan hak dan kewajiban para pihak, serta
cara penyelesaian sengketa.
e.

Negosiasi.
Negosiasi merupakan tahap untuk melakukan perundingan terhadap naskah

rancangan kontrak yang telah disusun oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak.
Hal-hal yang dirundingkan meliputi pengaturan hak-hak dan kewajibanpara pihak,
pilihan hukum, dan penyelesaian sengketa. Salah satu pihak selalu menginginkan
agar substansi kontrak yang dirancangnya harus menguntungkan yang bersangkutan.
f.

Penandatanganan Kontrak.
Tanda tangan kontrak merupakan tahap untuk menyetujui dan menandatangai

kontrak yang telah disusun oleh para pihak. Sejak ditandanganinya kontrak, maka
sejak saat itu timbullah hak dan kewajiban para pihak.
g.

Pelaksanaan Kontrak.
Tahap

pelaksannaan

kontrak disebut dengan

tahap

Postcontractual.

Pelaksanaan kontrak merupakan tahap implementasi kontrak yang dibuat oleh para
pihak, seperti para pihak harus melaksanakan hak dan kewajiban sebagaimana yang
ditentukan dalam kontrak.

Universitas Sumatera Utara

43

h.

Sengketa.
Tidak dilaksanakannya substansi kontrak dengan baik oleh salah satu pihak

akan menimbulkan sengketa bagi para pihak. Penyelesaian sengketa meripakan tahap
untup mengakhiri pertentangan, konflik, sengketa yang timbul antara kedua belah
pihak./timbulnya sengketa ini karena salah satu pihak tidak melaksanakan substansi
kontrak sebagaimana yang telah disepakati walaupun mereka telah diberikan somasi
sebanyak tiga kali berturut-turut. Ada dua cara yang akan di tempuh oleh kedua belah
pihak untuk meyelesaikan sengketa, yaitu dengan melalui penyelesaian diluar
pengadilan dan melalui litigasi (pengadilan).
Pada dasarnya, kontrak yang dibuat oleh para pihak dapat di bagi menjadi dua
macam, yaitu kontrak berdimensi nasional dan kontrak yang berdimensi
internasional. Kontrak yang berdimensi nasional merupakan kontrak yang dibuat oleh
para pihak, yang pihaknya adalah warga negara Indonesia. Kontrak yang berdimensi
internasional adalah kontrak yang dibuat oleh para pihak, yang salah satunya
pihaknya adalah warga negara asing atau badan hukum asing.
2.

Kedudukan Memorandum Of Understanding sebelum adanya Perjanjian.


Secara teori Memorandum of understanding bukanlah merupakan suatu

kontrak karena memang masih merupakan kegiatan pra kontrak. Karena itu, di
dalamnya sengaja tidak dimasukkannya unsur intention to create legal relation
oleh

pihak

yang

melakukan

tersebut.59

Pada

dasarnya

Memorandum

of

Understanding yang dibuat diantara para pihak hanya berisi hal-hal pokok saja,
59

Munir Fuady, Opcit, hal 38.

Universitas Sumatera Utara

44

seperti kesepakatan mengenai apa yang menjadi objek perjanjian dan kesepakatan
mengenai waktu pengerjaan. Didalam Memorandum Of Understanding, biasanya
yang menjadi hak-hak dan kewajiban dari para pihak tidak dicantumkan, artinya
pelaksanaan dari Memorandum Of Understanding tersebut hanya bermodalkan
kepercayaan dari masing-masing pihak, yang mengakibatkan apabila terjadi sengketa
dalam proses pelaksanaan dari Memorandum Of Understanding ini, pihak yang
dirugikan tidak dapat menuntut pihak yang lain atas dasar wanprestasi, atau dengan
kata lain sanksi dari tidak dilaksanakannya kesepakatan tersebut hanya sebatas sanksi
moral saja.
Ada beberapa hal yang perlu diteliti untuk menentukan apakah suatu
Memorandum Of Understanding dapat dikatakan suatu kontrak atau tidak yaitu
berdasarkan :
(1) Materi/substansi dalam Memorandum Of Understanding
Materi atau substansi yang diatur dalam pasal-pasal Memorandum Of
Understanding sangat penting untuk di teliti, karena di dalam Materi atau substansi
tersebut dapat diketahui apakah hak dan kewajiban para pihak di dalam Memorandum
Of Understanding tersebut sudah seimbang apa tidak, artinya didalam Memorandum
Of Understanding tersebut antara hak-hak dan kewajiban para pihak telah diatur
dengan terperinci atau secara detail. Pada prinsipnya didalam Memorandum Of
Understanding hanya diatur mengenai unsur-unsur pokoknya saja, seperti objek
perjanjian dan waktu perjanjian, maka Memorandum of Understanding semacam ini

Universitas Sumatera Utara

45

berdasarkan asas obligator tidak bisa dikatakan suatu kontrak, karena belum final
dalam pembuatannya.60
2.

Adanya Sanksi.
Teori Holmes yang menyatakan bahwa tidak ada sanksi moral dalam suatu

kontrak,61 artinya Memorandum Of Understanding bukanlah merupakan suatu


perjanjian apabila hanya memiliki sanksi moral saja. Oleh karena itu didalam
memorandum Of Understanding tersebut haruslah mengatur sanksi hukum yang
tegas. Maksudnya adalah dalam proses pelaksanaan Memorandum of Understanding
apabila terjadi sengketa atau salah satu pihak tidak melaksanakan prestasinya sesuai
dengan yang telah diperjanjikan,

maka pihak yang dirugikan akan mendapat

perlindungan hukum, dan perlindungan hukum tersebut berupa penggantian biaya


kerugian atas dasar gugatan wanp restasi terhadap pihak yang tidak melaksanakan
prestasinya sesuai yang diperjanjikan.
Dengan demikian Memorandum Of Uderstanding yang merupakan Nota
Kesepahaman yang dibuat para pihak tentang suatu kesepakatan, haruslah ditindak
lanjuti dengan membuat akta otentik yang di buat di hadapan notaris sebagai tindak
lanjut dari Memorandum Of Understanding tersebut agar memiliki kekuatan hukum.
Akan tetapi apabila dalam proses pelaksanaannya, Memorandum Of Understanding
tersebut tidak ditindak lanjuti dengan membuat akta otentik yang diperbuat di
hadapan noteris, maka daya mengikat dari Memorandum Of Understanding tersebut,

60
61

Ibid, hal 32
Ibid, hal 11

Universitas Sumatera Utara

46

hanya sebatas moral saja. Hal ini sesuai dengan pendapat sebahagian para ahli yang
mengemukakan bahwa Memorandum Of Understanding adalah merupakan
Gentlemen Agreement, maksudnya adalah kekuatan mengikatnya suatu Memorandum
of Understanding tidak sama dengan perjanjian biasa, sungguh pun Memorandum of
Understanding dibuat dalam bentuk yang paling kuat seperti dengan akta notaris
sekalipun. Oleh karena itu menurut pendapat golongan ini, Memorandum of
Understanding mengikat sebatas pada pengakuan moral belaka, dalam arti tidak
punya daya ikat secara hukum.
3.

Kedudukan Memorandum Of Undesrtanding Dalam Perjanjian.


Berbicara mengenai memorandum of understanding, tidak terlepas dari

konsep perjanjian secara mendasar, oleh karena Memorandum Of Understanding itu


pada akhirnya akan dilanjutkan dengan suatu perjanjian yang mengikat dan yang
melahirkan tanggungjawab diantara para phak selanjutnya. Namun karena
Memorandum of Understanding dibuat sebagai dasar untuk suatu perikatan atau
perjanjian ,hal itu tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan bagaimna untuk membuat
suatu perjajian. Memorandum of Understanding yang dibuat oleh para pihak
melahirkan hak dan kewajiban diantara mereka, dan secara norma hukum hal itu
menjadi ketentuan yang melahirkan sanksi dalam arti sanksi moral. Dalam ketentuann
KUHperdata yang termuat dalam Pasal 1338 BW disebutkan :
1. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya;

Universitas Sumatera Utara

47

2. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua
belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan
cukup untuk itu.
3. Setiap perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Dari ketentuan pasal 1338 ini ditegaskan bahwa perjanjian yang dibuat
dengan dasar itikad baik dan tidak bertentangan dengan undang undang berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang mebuatnya. Demikian juga dengan
Memorandum of Understanding waalaupun belum memberikan sanksi yang tegas
dalam perjanjiannya akan tetapi karena Memorandum of Understanding itu dibuat
memenuhi unsur-unsur perjanjian, maka Memorandum of Understanding tersebut
melahirkan hak dan kewajiban yang akhirnya ada sanksi moral sebagaimana yang
diingikan pasal 1338 tersebut. Mengacu kepada ketentuan KUHPerdta Memorandum
of Understanding atau kesepahaman ini adalah suatu perbuatan dengan mana satu
orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih sebagaimana
yang diatur dalam ketentuan pasal 1313 yang merumuskan pengertian perjanjian
dalam Buku III BW yaitu : suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.
Ketentuan ini

memiliki sifat terbuka yang artinya ketentuan-ketentuannya dapat

dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi mengatur saja. Sifat terbuka ini termuat
dalam Pasal 1338 ayat(1) BW yang mengandung asas Kebebasan Berkontrak, artinya
setiap orang bebas menentukan bentuk, macam dan isi perjanjian asalkan tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, terutama syarat-

Universitas Sumatera Utara

48

syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana diatur didalam pasal 1320 KUHPerdata.
Dalam pasal 1320 KUHPerdata tersebut diuraikan bahwa yang menjadi unsur-unsur
sahnya suatu perjanjian adalah sebagai berikut:
1.

Kata sepakat yang membuat perjanjian,

2.

Kecakapan pihak-pihak yang melakukan perjanjian,

3.

Obyek perjanjian itu harus jelas,

4.

Perjanjian itu dibuat atas dasar suatu sebab yang dibolehkan.


Walaupun pasal 1338 mengatakan bahwa setiap perjanjian yang dibuat

secarah sah mengikat sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya,
akan tetapi apabila unsur-unsur sahnya perjanjian yang disebutkan dalam pasal 1320
KUHPerdata tersebut tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut batal demi hukum,
dan tidak mempunyai kekuatan hukum,demikian juga dalam Memorandum of
Understanding atau Nota kesepahaman itu , Memorandum of Understanding tersebut
harus tetap memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam pasal 1320 KHUPerdata
tersebut. Memorandum Of Understanding yang telah ditindak lanjuti dengan suatu
perjanjian akta otentik yang mengatur substansi dan sanksi hukum yang tegas, maka
apabila terjadi sengketa yang disebabkan tidak dipenuhinya prestasi oleh salah satu
pihak sesuai dengan yang diperjanjikan, maka dengan demikian pihak yang dirugikan
dapat menuntut haknya atas dasar wanprestasi kepada pihak yang tidak melaksanakan
prestasinya tersebut sesuai dengan yang diperjanjikan. Adapun tuntutan tersebut
adalah berupa penggantian biaya kerugian yang disebabkan dari adanya wanprestasi
itu. Dalam pasal 1246 KUHPerdata kerugian ini dirumuskan antara lain :

Universitas Sumatera Utara

49

1.

Kerugian Materil dan

2.

Kerugian moril.
Kerugian ini dapat dituntut oleh pihak yang dirugikan tergantung kepada

kemauan dari yang bersangkutan,walaupun nantinya akan ditetapkan berdasarkan


keputusan Pengadilan oleh Hakim yang mengadilinya.
Memorandum of Understanding pada dasarnya merupakan Nota Kesepakatan,
akan tetapi Memorandum of Understanding yang apabila dibuat dengan mengacu dan
telah memenuhi unsure-unsur yang diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata, maka
kekuatan hukum Memorandum of Understanding tersebut seyognyanya sama dengan
kekuatan hukum perjanjian yang berlaku di Indonesia pada umumnya. Apabila
Memorandum of Understanding yang dibuat antara PT. Matahari Anugerah Perkasa
dengan CV. Ponorogo dikaitkan dengan pasal 1320 KUHPerdata, maka kekuatan
hukum berlakunya Memorandum of Understanding tersebut sama dengan kekuatan
hukum perjanjian pada umumnya yang berlaku di Indonesia. Hal ini disebabkan
karena Memorandum of Understanding yang dibuat antara PT. Matahari Anugerah
Perkasa dengan CV. Ponorogo tersebut sudah memenuhi unsur unsur yang terdapat
dalam pasal 1320 KUHPerdata.
B. Akibat Hukum Adanya Wanprestasi Dalam Pelaksanaan suatu Perjanjian
Wanprestasi merupakan situasi dimana salah satu pihak dalam sebuah
perjanjian tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan yang telah disepakati
dalam perjanjian tersebut. Menurut Amirizal,

tindakan wanprestasi membawa

konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak
yang melakukan wanprestasi untuk melakukan pemenuhan prestasi, sehingga oleh
hukum diharapkan agar tidak ada satu pun pihak yang dirugikan karena prestasi

Universitas Sumatera Utara

50

tersebut.62 Prestasi diartikan sebagai suatu pelaksanaan hal-hal yang tertulis dalam
suatu perjanjian atau hal-hal yang telah disepakati bersama, oleh pihak yang telah
mengikatkan diri untuk itu. Sedangkan pelaksanaan prestasi disesuaikan dengan
syarat-syarat yang telah disebutkan dalam perjanjian yang bersangkutan.63 Namun
demikian pada kenyataannya sering dijumpai bahwa pelaksanaan dari suatu
perjanjian tidak dapat berjalan dengan baik karena salah satu pihak wanprestasi.
Pasal 1234 KUHPerdata menentukan bahwa prestasi dapat berupa:
a.

memberikan sesuatu;

b.

berbuat sesuatu;

c.

tidak berbuat sesuatu.


Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda wanprestatie artinya tidak

memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, baik yang timbul
perjanjian maupun perikatan yang timbul karena undang-undang. Suatu perjanjian
lahir pada detik tercapainya kesepakatan atau persetujuan kedua belah pihak
mengenai apa yang menjadi obyek perjanjian atau dengan kata lain wanprestasi
berarti prestasi buruk.64 Apabila si berutang tidak melakukan apa yang dijanjikannya,
maka dikatakan telah melakukan wanprestasi. Ia alpa atau lalai atau ingkar janji.
Wanprestasi seorang debitur dapat berupa empat macam:65
a.

tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

b.

melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;

c.

melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;


62

Amirizal, Hukum Bisnis, Risalah Teori dan Praktik, Djambatan, Jakarta, 1999, hal.36.
Op.Cit, Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaya, hal 87
64
Ridwan Syahrani, Seluk Beluk dan Azaz-Azaz Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 1989,
63

Hal 280.
65

Subekti, Hukum Perjanjian (Jakarta: Intermasa, 2002), hal 45

Universitas Sumatera Utara

51

d.

melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.


Menurut Abdulkadir Muhammad terdapat 3 (tiga) bentuk wanprestasi, yaitu :

1.

Tidak memenuhi prestasi sama sekali ;

2.

Memenuhi prestasi tetapi keliru;

3.

Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktu;


R. Subekti menambahkan melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak

boleh dilakukan. Melakukan prestasi tetapi terlambat atau tidak tepat waktu;66
Berbicara mengenai Memorandum of Understanding, tidak terlepas dari konsep
perjanjian secara mendasar sebagaimana termuat dalam Pasal 1313 BW yang
menegaskan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau
lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Ketentuan yang mangatur
tentang perjanjian terdapat dalam Buku III BW, memiliki sifat terbuka yang artinya
ketentuan-ketentuannya dapat dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi mengatur
saja. Sifat terbuka ini termuat dalam Pasal 1338 ayat(1) BW yang mengandung asas
Kebebasan Berkontrak, artinya setiap orang bebas menentukan bentuk, macam dan isi
perjanjian asalkan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Memorandum of Understanding sebenarnya adalah merupakan suatu bentuk
perjanjian atau kesepakatan awal menyatakan langkah pencapaian saling pengertian
antara kedua belah pihak (prelimary understanding of parties) untuk melangkah
kemudian pada penandatanganan suatu kontrak. Artinya
66

Memorandum of

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990, hal 23.

Universitas Sumatera Utara

52

Understanding ini selanjutnya akan di tindak lanjuti dengan pembuatan Akta otentik
yang mengatur mengenai hak dan kewajiban yang lebih terperinci lagi diantara para
pihak. Saat ini hukum positif di Indonesia sendiri belum mengatur secara khusus
mengenai

keberlakuan

Memorandum

of

Understanding.

Dari

pengertian

memorandum of understanding disebutkan bahwa Memorandum of Understanding


merupakan suatu perjanjian pendahuluan, oleh karena itu pengaturannya tunduk
kepada ketentuan tentang perikatan yang tercantum dalam Buku III Kitab UndangUndang Hukum Perdata. Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pada
dasarnya menganut sistem terbuka (open system). Artinya bahwa setiap orang bebas
untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur
dalam undang-undang. Sistem hukum perjanjian yang bersifat terbuka tersebut
tertuang

didalam asas kebebasan berkontrak. Berdasarkan asas kebebasan

berkontrak, para pihak diberi kebebasan untuk membuat atau tidak membuat
perjanjian; mengadakan perjanjian dengan siapapun; menentukan isi perjanjian;
menentukan bentuk perjanjian; dan menerima atau menyimpangi hukum perjanjian
yang bersifat hukum pelengkap (aanvullendrecht). Dalam pembuatan perjanjian, di
Indonesia dikenal adanya asas kebebasan berkontrak, sebagaimana tertuang dalam
pasal 1338 KUH Perdata ayat (1). Asas kebebasan berkontrak berarti para pihak
bebas untuk membuat kesepakatan dalam bentuk apapun, termasuk jika kesepakatan
itu dituangkan dalam suatu perjanjian pendahuluan atau Memorandum of
Understanding. Para pihak juga diberikan kebebasan untuk menentukan materi
muatan atau substansi Memorandum of Understanding akan mengatur mengenai apa

Universitas Sumatera Utara

53

saja, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban


umum, serta sepanjang penyusunan Memorandum of Understanding itu memenuhi
syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana tertuang dalam Pasal 1320 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata. Oleh karena itu walaupun dalam peraturan
perundang-undangan di indonesia tidak ada mengatur mengenai Memorandum of
Understanding, maka dengan adanya asas kebebasan berkontrak tersebut maka dapat
dijadikan pijakan untuk berlakunya Memorandum of Understanding.
Berbicara mengenai kekuatan hukum dari berlakunya Memorandum of
Understanding khususnya di indonesia, maka pertama kali yang harus di teliti adalah
mengenai apa-apa saja yang menjadi isi atau unsur-unsur yang diatur atau terdapat di
dalam memorandum of understanding tersebut. Dalam pasal 1335 dan pasal 1337
kitab undang-undang hukum perdata dikatakan bahwa suatu perjanjian tidak
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat apabila perjanjian tersebut tidak
mempunyai causa; causanya palsu; causanya bertentangan dengan undang-undang;
causanya bertentangan dengan kesusilaan; causanya bertentangan dengan ketertiban
umum. Dengan kata lain, bahwa apa yang hendak dicapai oleh para pihak dalam
suatu perjanjian harus disertai dengan suatu iktikad baik. Artinya Memorandum of
understanding yang dibuat, dan telah memenuhi unsur 1320 kitab undang-undang
hukum perdata, maka secara hukum memorandum of understanding tersebut sudah
mempunyai kekuatan hukum layaknya perjanjian-perjanjian lain yang berlaku di
indonesia.

Universitas Sumatera Utara

54

Dalam arti bahwa apabila terjadi pengingkaran dalam

memorandum of

understanding yang mempunyai kekuatan hukum yang telah mempunyai kekuatan


hukum mengikat, akan menyebabkan pihak yang mengingkari memorandum of
understanding tersebut dapat dituntut di muka pengadilan dengan dasar gugatan
wanprestasi. Dasar hukumnya adalah Pasal 1243 Kitab Undnag-Undang Hukum
Perdata. Gugatan wanprestasi harus didasarkan pada adanya hubungan kontraktual
diantara para pihak. Dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara
peristiwa yang menjadi penyebab wanprestasi dengan kerugian yang ditimbulkan
akibat peristiwa tersebut. Gugatan wanprestasi yang ditujukan kepada pihak yang
melakukan

pengingkaran

terhadap

memorandum

of

understanding

dapat

menimbulkan akibat hukum atau kewajiban hukum bagi pihak yang melakukan
pengingkaran tersebut, antara lain pemenuhan isi kesepakatan dalam memorandum of
understanding; pemenuhan isi kesepakatan dalam memorandum of understanding
ditambah dengan ganti rugi; ganti rugi; pembatalan memorandum of understanding;
atau pembatalan memorandum of understanding ditambah dengan ganti rugi.
Dalam hal memorandum of understanding yang tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat, dimana unsur unsur yang terdapat dalam pembuatan
memorandum of understanding tersebut tidak memenuhi unsur unsur seperti yang
dimaksudkan dalam pasal 1320 kitab undang-undang hukum perdata, maka apabila
terjadi pengingkaran oleh salah satu pihak yang menyebabkan kerugian pada pihak
lain, maka pihak yang dirugikan tersebut tidak dapat mengajukan gugatan dengan
dasar wanprestasi. Namun pihak yang dirugikan tersebut dimungkinkan untuk

Universitas Sumatera Utara

55

mengajukan gugatan dengan dasar perbuatan melawan hukum. Perbuatan yang


menimbulkan kerugian tersebut harus dibuktikan dengan unsur-unsur perbuatan
melawan hukum. Apabila perbuatan tersebut tidak memenuhi salah satu saja dari
unsur-unsur perbuatan melawan hukum, maka perbuatan tersebut bukan merupakan
perbuatan melawan hukum. Dan apabila perbuatan tersebut terbukti merupakan
perbuatan melawan hukum, maka pihak yang melakukan pengingkaran terhadap
Memorandum of Understanding tersebut dapat dituntut untuk mengganti kerugian
yang telah ditimbulkannya. Ganti kerugian dalam perbuatan melawan hukum
meliputi tiga hal. yaitu:
a) Biaya yang telah dikeluarkan;
b) Kerugian yang diderita;
c) Keuntungan yang mungkin akan diperoleh.
Terhadap kelalaian atau kealpaan si berutang, diancamkan beberapa sanksi
atau hukuman. Hukuman atau akibat-akibat yang tidak enak bagi debitur yang lalai
ada empat macam, yaitu;
1) membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dengan singkat dinamakan
ganti-rugi;
2) pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian;
3) penilaian resiko;
4) membayar biaya perkara, kalau sampai diperkarakan didepan hakim. Menginggat

Universitas Sumatera Utara

56

wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu penting, maka harus


ditetapkan lebih dahulu apakah si berutang melakukan wanprestasi atau lalai, dan
kalau hal itu disangkal olehnya, harus dibuktikan dimuka hakim67
Dalam hal terjadinya perbuatan wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian,
maka kreditur dapat menuntut hal-hal sebagai berikut :68
1). Ia dapat meminta pemenuhan prestasi
2). Ia dapat meminta penggantian kerugian saja, yaitu kerugian yang dideritanya,
karena perjanjian tidak atau terlambat dilaksanakan, atau dilaksanakan tetapi
tidak sebagaimana mestinya.
3). Ia dapat menuntut pemenuhan prestasi disertai dengan penggantian kerugian
yang diderita sebagai terjadinya wanprestasi.
4). Ia dapat meminta pembatalan perjanjian.
Beberapa ahli hukum maupun praktisi hukum berpendapat bahwa wanprestasi
tidak secara otomatis mengakibatkan batalnya perjanjian, tetapi harus memintakan
pembatalan terlebih dahulu kepada hakim. Hal ini didukung oleh alasan bahwa jika
pihak debitur wanprestasi, maka kreditur masih berhak mengajukan gugatan agar
pihak debitur memenuhi perjanjian. Selain itu, berdasarkan ketentuan Pasal 1266 ayat
(4) KUH Perdata, hakim berwenang untuk memberikan kesempatan kepada debitur
untuk memenuhi perjanjian dalam jangka waktu paling lama satu bulan meskipun
sebenarnya debitur sudah wanprestasi atau cidera janji. Dalam hal ini hakim memiliki

67
68

Ibid. hal 40
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, PT. Intermasa, Jakarta, 1985, hal. 147

Universitas Sumatera Utara

57

penilaian untuk menimbang berat ringannya kelalaian debitur dibandingkan kerugian


yang diderita jika perjanjian dibatalkan. Mengenai Pengesampingan Pasal 1266 KUH
Perdata, berikut ini ada dua pendapat yang saling bertolak belakang, yaitu: pertama,
pendapat yang menyatakan bahwa Pasal 1266 KUH Perdata merupakan aturan yang
bersifat memaksa (dwingend recht), sehingga tidak dapat disimpangi oleh para pihak,
dan kedua, pendapat yang menyatakan bahwa Pasal 1266 KUH Perdata merupakan
aturan yang bersifat melengkapi (aanvullend recht), sehingga dapat disimpangi oleh
para pihak.69
1) Pendapat yang menyatakan bahwa Pasal 1266 KUH Perdata merupakan aturan
yang bersifat memaksa (dwingend recht).
Pandangan ini beranjak dari rumusan Pasal 1266 KUH Perdata yang menyatakan,
bahwa:
a) Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam kontrak-kontrak yang
bertimbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya.
b) Dalam hal yang demikian kontrak tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan
harus dimintakan kepada pengadilan. Permintaan ini juga harus dilakukan,
meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di
dalam kontrak.
c) Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam kontrak, hakim adalah leluasa untuk,
menurut keadaan, atas permintaan si tergugat, memberikan suatu jangka

69

Agus Yudha Hernoko, Op. Cit, hal. 271.

Universitas Sumatera Utara

58

waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak
boleh lebih dari satu bulan.
Rumusan Pasal 1266 KUH Perdata tersebut menentukan 3 (tiga) syarat
untuk berhasilnya pemutusan kontrak, yaitu:
a) harus ada persetujuan timbal balik
b) harus ada wanprestasi, untuk itu pada umumnya sebelum kreditor
menuntut pemutusan kontrak, debitor harus dinyatakan lalai (pernyataan
lalai, in mora stelling, ingebrekestelling)
c) putusan hakim.
Dengan menekankan pada rumusan pemutusan harus dimintakan
kepada Pengadilan , kata harus pada ketentuan Pasal 1266 KUH
Perdata ditafsirkan sebagai aturan yang bersifat memaksa (dwingend
recht)70 dan karenanya tidak boleh disimpangi para pihak melalui
(klausul) kontrak mereka. putusan hakim dalam hal ini bersifat
konstitutif, artinya putusannya kontrak itu diakibatkan oleh putusan
hakim, bukan bersifat deklaratif (kontrak putus karena adanya
wanprestasi, sedang putusan hakim sekedar menyatakan saja bahwa

70

Menurut Pitlo, untuk mengetahui suatu undang-undang bersifat memaksa atau


melengkapi kadang-kadang tidak mudah. Namun demikian, dengan rumusan kata-kata
memerintahkan, melarang, tidak boleh, tidak dapat menunjukkan sifat memaksanya. Begitu
juga apabila menyangkut kepentingan umum menunjukkan karakter memaksanya suatu aturan.
Periksa A. Pitlo, Het Systeem van Het Nederlandse Privaaterecht, (terjemahan D.Saragih), (Bandung:
Alumni, 1973). hal.13-20. Dalam Agus Yudha Hernoko. Ibid. hal. 272

Universitas Sumatera Utara

59

kontrak telah putus). Pendapat yang menyatakan bahwa putusan hakim


adalah konstitutif berdasarkan:71
1.

Alasan historis (sejarah), bahwa menurut Pasal 1266 KUH Perdata,


putusnya kontrak terjadi karena putusan hakim

2.

Pasal 1266 ayat (2) KUH Perdata, menyatakan dengan tegas bahwa
wanprestasi tidak demi hukum membatalkan kontrak

3.

Hakim berwenang untuk memberikan terme de grace (tenggang


waktu bagi debitor untuk memenuhi prestasi kepada kreditor), dan ini
berarti bahwa kontrak belum putus.

4.

Kreditor masih mungkin untuk menuntut pemenuhan.

2) Pendapat yang menyatakan bahwa Pasal 1266 KUH Perdata merupakan aturan
yang bersifat melengkapi (aanvullend recht). Pendapat ini didasarkan pada
argumentasi, sebagai berikut:
a) Pasal 1266 KUH Perdata, terletak pada sistematika Buku III dengan
karakteristiknya yang bersifat mengatur
b) Para pihak dapat menentukan bahwa untuk pemutusan kontrak tidak
diperlukan bantuan hakim, dengan syarat hal tersebut harus dinyatakan secara
positif dalam kontrak

71

Periksa Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Cet. IV (Jakarta: Binacipta, 1987), hal.
66-67. Bahkan menurut Subekti, selain putusan itu bersifat konstitutif, hakim juga
Mempunyai
kekuasaan descretionair , artinya ia mempunyai wewenang untuk menilai kadar wanprestasinya
debitor. Apabila kelalaian itu dinilai terlalu kecil Hakim berwenang menolak permintaan pemutusan
kontrak, meskipun tuntutan ganti ruginya dikabulkan. Periksa Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata,
(Jakarta: Intermasa, 1982), hal. 148. Dalam Agus Yudha Hernoko. Ibid

Universitas Sumatera Utara

60

c)

Praktik penyusunan kontrak komersial pada umumnya mencantumkan klausul


pengesampingan Pasal 1266 KUH Perdata, sehingga hal ini dianggap sebagai
syarat yang biasa diperjanjikan (bestandig geberukikelijk beding) dan
merupakan faktor otonom yang disepakati para pihak. Dengan demikian
kedudukan klausul ini dianggap mempunyai daya kerja yang mengikat para
pihak lebih kuat dibanding daya kerja Pasal 1266 KUH Perdata yang bersifat
mengatur.
Berdasarkan 2 (dua) pendapat yang berkembang mengenai klausul

pengesampingan Pasal 1266 KUH Perdata, apabila dikaitkan dengan kepentingan


para pelaku bisnis (Pengembang) tampaknya pendapat kedua lebih mendekati nilai
kepraktisannya (Pasal 1266 KUH Perdata disimpulkan bersifat mengatur). Harus
diakui bahwa para pelaku bisnis lebih memilih alternatif terbaik bagi kontrak mereka,
termasuk ketika harus menghadapi kendala dalam pelaksanaan kontrak. Klausul
Pengesampingan Pasal 1266 KUH Perdata dianggap jalan singkat yang sesuai dengan
tuntutan efisien dan kepastian hukum pelaku bisnis. Namun dari sisi perlindungan
hak-hak Pembeli, Pengesampingan Pasal 1266 dan Pasal 1267 KUH Perdata rentan
terhadap terjadinya pelanggaran hak-hak Pembeli oleh Pengembang dengan
mengatasnamakan melaksanakan ketentuan perjanjian. Dari sisi kepatutan mungkin
Pengesampingan Pasal 1266 dan Pasal 1267 KUH Perdata dapat diterima apabila
substansi perjanjian telah memberikan jaminan adanya keseimbangan bagi para
pihak. Namun pada kenyataannya tidak jarang ditemukan perjanjian yang berat
sebelah dan cenderung merugikan kepentingan salah satu pihak. Dalam praktik bisnis

Universitas Sumatera Utara

61

masih ditemukan suatu perjanjian yang mencantumkan klausul baku tentang


pembatasan tanggung jawab salah satu pihak apabila timbul suatu resiko. Terhadap
perjanjian yang demikian, maka pengabaian Pasal 1266 dan Pasal 1267 KUH Perdata
perlu ditelaah secara mendalam apakah dapat diterima berdasarkan asas kepatutan di
atas.
C. Akibat Hukum Terhadap Adanya Wanprestasi Dalam Suatu Memorandum
Of Understanding.
Memorandum of understanding akan memiliki kekuatan hukum tetap
layaknya suatu perjanjian apabila telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu
perjanjian seperti yang diatur di dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Pengingkaran terhadap memorandum yang telah di sepakati oleh kedua belah
pihak, maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan gugatan secara hukum dengan
dasar gugatan wanprestasi. Akan tetapi memorandum yang tidak memenuhi syaratsyarat seperti yang diatur di dalam pasal 1320 tetapi memenuhi ketentuan yang
terdapat di dalam pasal (Pasal 1335, 1337, 1339, dan 1347 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata) maka apabila terjadi suatu pengingkaran di dalam memorandum
tersebut, pihak yang dirugikan dapat mengajukan gugatan hukum dengan dasar
perbuatan melawan hukum, serta tidak dapat di gugat berdasarkan gugatan
wanprestasi.
Dalam hal Memorandum of Understanding yang isinya merupakan
kesepakatan mengenai pokok-pokok tertentu saja, misalnya berupa objek pekerjaan
dan waktu pelaksanaan saja, tetapi tidak mencakup mengenai hak-hak dan kewajiban

Universitas Sumatera Utara

62

kedua belah pihak (belum bersifat final sebagai perjanjian), maka dengan demikian
apabila dalam pelaksanaan memorandum tersebut terjadi sengketa, maka pihak yang
dirugikan tidak dapat menuntut secara hukum, dengan kata lain apabila terjadi
sengketa, maka sanksi yang ditimbulkan terhadap adanya pengingkaran prestasi
tersebut hanyalah sebatas sanksi moral saja, sanksi moral disini dimaksudkan adalah
sebatas itikad baik dari pihak yang tidak melakukan prestasinya sesuai dengan yang
disepakati.

Universitas Sumatera Utara