Anda di halaman 1dari 5

G.

Bolehnya Transaksi Salam


Ayat yang menyebutkan bolehnya hal ini adalah firman Allah Taala,


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al Baqarah:
282)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma- mengatakan,


)
(
Aku bersaksi bahwa salaf (transaksi salam) yang dijamin hingga waktu yang
ditentukan telah dihalalkan oleh Allah azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya.
Setelah itu Ibnu Abbas menyebutkan firman Allah Taala (yang artinya), Hai orangorang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu
yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al Baqarah: 282) (HR. Al
Baihaqi 6/18, Al Hakim 2/286 dan Asy Syafii dalam musnadnya no. 597. Al Hakim
mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun
keduanya tidak mengeluarkannya)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma- juga mengatakan,

- -


Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka (penduduk
Madinah) mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistem salaf (salam), yaitu
membayar di muka dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun
kemudian. Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang
mempraktekkan salam dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya
dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu
yang diketahui. (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)
Adapun dalil ijma (kesepakatan para ulama) sebagaimana dinukil oleh Ibnul
Mundzir. Beliau -rahimahullah- mengatakan,

.
Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijma)
tentang bolehnya jual beli salam.
Sayyid Sabiq -rahimahullah- menjelaskan, Jual beli salam dibolehkan berdasarkan
kaedah syariat yang telah disepakati. Jual beli semacam ini tidaklah menyelisihi
qiyas. Sebagaimana dibolehkan bagi kita untuk melakukan pembayaran tertunda,
begitu pula dibolehkan barangnya yang diserahkan tertunda seperti yang ditemukan
dalam akad salam, dengan syarat tanpa ada perselisihan antara penjual dan
pembeli. Allah Taala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,

hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah: 282). Utang termasuk


pembayaran tertunda dari harta yang dijaminkan. Maka selama barang yang dijual
disebutkan ciri-cirinya yang jelas dan dijaminkan oleh penjual, begitu pula pembeli
sudah percaya sehingga ia pun rela menyerahkan uang sepenuhnya kepada
penjual, namun barangnya tertunda, maka ketika itu barang tersebut boleh
diserahkan tertunda. Inilah yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 282
sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.
Mengapa Salam diperbolehkan?
Orang yang mempunyai perusahaan sering membutuhkan uang untuk keperluan
perusahaan mereka, bahkan sewaktu-waktu kegiatan perusahaannya sampai
terhambat karena kekurangan modal. Sedangkan si pembeli, selain akan
mendapatkan barang yang sesuai dengan yang diinginkannya, ia pun sudah
menolong kemajuan perusahaan saudaranya. Maka untuk kepentingan tersebut,
Allah mengadakan peraturan salam.
Rukun salam adalah

Ada si penjual dan si pembeli

Ada barang dan uang

Ada sigat (lafaz akad)

H. Syarat-Syarat Salam

Uangnya hendaklah dibayar di tempat akad. Berarti pembayaran dilakukan


lebih dulu.

Barangnya menjadi utang bagi si penjual

Barangnya dapat diberikan sesuai waktu yang dijanjikan. Berarti pada waktu
yang dijanjikan, barang itu harus sudah ada. Oleh sebab itu, men-salam
buah-buahan yang waktunya ditentukan bukan pada musimnya hukumnya
tidak sah.

Barang tersebut hendaklah jelas ukuran, baik takaran, timbangan, ukuran,


ataupun bilangannya, menurut kebiasan cara menjual barang semacam itu.

Diketahui dan disebutkan sifat-sifat barangnya. Dengan sifat ini berarti harga
dan kemauan orang pada barang tersebut dapat berbeda. Sifat-sifat ini
hendaknya jelas, sehingga tidak ada keraguan yang akan mengakibatkan
perselisihan nanti antara kedua belah pihak (si penjual dan si pembeli). Begitu
juga macamnya, harus pula disebutkan, misalnya daging kambing, daging
sapi, atau daging kerbau

Disebutkan tempat menerimanya, kalau tempat akad tidak layak buat menerima
barang tersebut. Akad salam mesti terus, berarti tidak ada khiyar syarat
Jual Beli Salam dan Syaratnya : Hukum Jual Beli Salam

Hukum jual beli salam


Jual beli salam diperbolehkan dalam syariat Islam, berdasarkan dalil-dalil Alquran dan AsSunnah serta ijma', juga sesuai dengan analogi akal yang benar (al-qiyas ash-shahih).
Pertama: Dalil dari Alquran adalah firman Allah Ta'ala,
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak cara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah:282)
Sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, menjadikan ayat ini
sebagai dasar bolehnya jual beli salam. Beliau berkata,
Saya bersaksi bahwa jual-beli as-salaf, yang terjamin hingga tempo yang ditentukan,
telah dihalalkan dan diizinkan oleh Allah dalam Alquran. Allah ta'ala berfirman (yang
artinya), 'Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak dengan
cara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.' (Hadis ini
dinilai sahih oleh Al-Albani dalam kitab Irwa Al-Ghalil, no. 340, dan beliau katakan,
Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Asy-Syafii, no. 1314; Al-Hakim, 2:286; Al-Baihaqi, 6:18)
Kata apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai bersifat umum; meliputi tidak tunai
dalam pembayaran dan tidak tunai dalam pemberian barang dagangannya. Apabila tidak
tunai dalam pemberian barangnya maka dinamakan salam. (Lihat keterangan Syekh
Ibnu Utsaimin tentang hal ini di Syarhu Al-Mumti, 9:49)
Kedua: Dalil dari As-Sunnah adalah hadis Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma yang
artinya: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan
penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan
tiga tahun, maka beliau bersabda, 'Barang siapa yang memesan sesuatu maka
hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah
pihak) dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), serta hingga
tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.'" (Muttafaqun 'alaih)
Ketiga: Ulama Islam telah ber-ijma (berkonsensus) tentang kebolehan sistem jual beli
salam ini, seperti diungkapkan oleh Imam Ibnu Al-Mundzir dalam kitab Al-Ijma, hlm. 93.
Ibnu Qudamah rahimahullah menyetujui penukilan ijma ini, dengan menyatakan,
Semua ulama, yang kami hafal, telah sepakat menyatakan bahwa as-salam itu boleh.
(Al-Mughni, 6:385)
Keempat: Kebolehan akad jual beli salam ini juga sesuai dengan analogi akal dan
kemaslahatan manusia, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdillah
Al-Fauzan hafizhahullah, dalam ungkapan beliau, Analogi akal dan hikmah menuntut
bolehnya jual beli ini, karena kebutuhan dan kemaslahatan manusia bisa sempurna
dengan jual beli salam. Orang yang membutuhkan uang akan terpenuhi kebutuhannya
dengan pembayaran uang kontan, dan pembeli mengambil keuntungan dengan
mendapatkan barang lebih murah serta dengan nilai harga di bawah (harga) pada
umumnya. Kemaslahatan kembali kepada keduanya. (Min Fiqhi Al-Muamalat, hlm. 150).
Oleh karena itu, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,
Kebolehan muamalah ini (yaitu jual beli salam) termasuk kemudahan dan kemurahan
syariat Islam karena muamalah ini berisi hal-hal yang mempermudah orang dan
mewujudkan maslahat bagi mereka, di samping bebas dari riba dan terhindar dari
seluruh larangan Allah. (Al-Mulakhash Al-Fiqh, 2:60

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL


NO: 05/DSN-MUI/IV/2000
Tentang JUAL BELI SALAM

Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI SALAM


Pertama : Ketentuan tentang Pembayaran
1.

Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaat.

2.

Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.

3.

Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Kedua : Ketentuan tentang Barang


1.

Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.

2.

Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.

3.

Penyerahannya dilakukan kemudian.

4.

Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan


kesepakatan.

5.

Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.

6.

Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai


kesepakatan.

Ketiga : Ketentuan tentang Salam Paralel


Dibolehkan melakukan salam paralel dengan syarat:
a. Akad kedua terpisah dari akad pertama, dan
b. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
Keempat : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya
1.

Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan
jumlah yang telah disepakati.

2.

Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual
tidak boleh meminta tambahan harga.

3.

Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan
pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga
(diskon).

4.

Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati
dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia
tidak boleh menuntut tambahan harga.

5.

Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan,
atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia
memiliki dua pilihan:

a. membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya,


b. menunggu sampai barang tersedia.
Kelima : Pembatalan Kontrak
Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua
belah
pihak.
Keenam : Perselisihan
Jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka persoalannya
diselesaikan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan
melalui
musyawarah.
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 M