Anda di halaman 1dari 12

Tinjauan Kritis Model Bisnis dalam Konteks

Hypercompetition
Pendahuluan
Lingkungan bisnis dalam lima pulih tahun terakhir semakin keras dan
kompetitif. Competitive

advantage yang

dulu

membuat

perusahaan

menjadi terdepan, saat ini menjadi tidak elevan lagi. IBM yang dua puluh
tahun yang lalu merupakan perusahaan raksasa di bidang mainframe dan
PC saat ini harus rela melepaskan bisnis PC-nya kepada Lenovo,
perusahaan komputer milik Cina. General Motor (GM), salah satu icon
amerika saat ini terus merasakan gempuran mobil-mobil Jepang dan Korea
di negerinya sendiri. Hingga saat ini GM masih harus berkutat pada
permasalahan
profitable.

internalnya

Sementara,

agar

pesaing

kembali

menjadi

terbesarnya,

perusahaan

yaitu

Toyota,

yang
terus

membayangi, bahkan sempat di tahun 2007 Toyota mengalahkan tingkat


produksi GM secara global. Menurut penelitian yang dilakukan oleh L. G.
Thomas dan Richard DAveni (The Rise of Hypercompetition From 1950 to
2002: Evidence of Increasing Industry Destabilization and Temporary
Competitive Advantage, 2004) sejak tahun 1950 hingga 2002 di Amerika
telah terjadi perubahan secara gradual pada industri manufakturnya.
Keanekaragaman dan kerapuhan competitive advantage yang dimiliki oleh
perusahaan-perusahaan tersebut cenderung meningkat. Ini menunjukkan
bahwahypercompetition memang benar-benar nyata. Dalam penelitian
tersebut ditemukan juga bahwa kompetisi monopolistik cenderung akan
mati. Tingkat keragaman dan kerapuhan competitive advantagejuga
menunjukkan

angka

yang

jauh

dari

teori

monopolistik.

Hal

ini

menunjukkan bahwa kesempatan tidak hanya dimiliki oleh perusahaan


besar yang dulunya mendominasi pasar. Kreatifitas, fleksibilitas, serta
inovasi

yang

persaingan.

dimiliki
Kerasnya

oleh

perusahaan

kompetisi

juga

kecil

telah

dirasakan

merubah

oleh

peta

perusahan-

perusahaan di Indonesia. PT. Pos Indonesia yang dulu menguasai


pengiriman surat dan paket serta wesel, kali ini harus terpaksa harus
menghadapi persaingan yang sangat keras di industri ini. PT. Pos tidak
hanya direpotkan oleh banyaknya pemain-pemain baru (yang relatif kecil
dan lincah bergerak) dari dalam negeri, tapi juga tantangan dari

perusahaan-perusahaan asing seperti DHL, UPS, TNT, dsb. Usaha wesel


pos-nya pun juga menghadapi tantangan dari ATM yang jaringannya mulai
merambah

desa.

Luasnya

jaringan

PT.

Pos

yang

dulunya

menjadi competitive advantage, saat ini menjadi kurang relevan lagi.


Walaupun telah berulang kali merubah definisi bisnisnya, PT Pos masih
belum keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
Kompetisi yang demikian keras tersebut salah satunya diakibatkan oleh
hilangnya batas-batas antar negara akibat semakin berkembangnya
teknologi informasi. Setiap orang memiliki akses terhadap pengetahuan
dan informasi yang nyaris tanpa batas. Selain itu, akses pasar pun
semakin terbuka lebar dengan semakin mudahnya orang berbisnis melalui
Internet. Barnes and Nobles, sebagai salah satu retailer buku terbesar di
Amerika harus menghadapi Amazon yang berjualan buku melalui Internet.
Dengan berjualan melalui internet, pasar Amazon tidak terbatas hanya di
Amerika saja, melainkan pasar global. Model bisnis baru pun bermunculan
setelah terjadinya booming internet. Sebut saja Yahoo, Google, E-Bay dan
para pemain di dunia internet lainnya, telah membuat peta persaingan di
dunia IT semakin ketat. Keinginan untuk berekspansi membuat setiap
perusahaan mulai memasuki area yang dulunya dimiliki oleh perusahaan
lain. Google, yang awalnya merupakan perusahaan search engine, mulai
memasuki area komunikasi dengan akan mengeluarkan Googlephone.
Apple yang dulunya bermain di PC dengan spesialisasi grafis-nya saat ini
meredifinisi
memproduksi

bisnisnya
PC

menjadientertainment

dan notebook,

Apple

company.

Selain

meramaikan

pasar

MP3 playerdengan mengeluarkan Ipod-nya yang fenomenal. Selain itu,


pasar ponsel pun diramaikan oleh produkIphone, yang juga dikeluarkan
oleh Apple, Inc. Persaingan yang semakin keras membuat perusahaan
harus berpikir keras dan lebih inovatif lagi agar dapat bertahan. Pemainpemain baru yang awalnya kecil berinovasi dengan model bisnis yang
tidak konvensional. Pemain baru tersebut cukup membuat peta persaingan
dalam Industri berubah, dan memaksa perusahaan incumbent bereaksi
agar posisinya tidak

tergoyangkan.

Michael Dell,

dahulu hanyalah

pengusaha kecil yang menjual komputer rakitan dari kantor ke kantor.


Namun, dengan model bisnis yang inovatif, yaitu penjualan PC secara
langsung kepada customer yang memungkinkan customer membeli PC

secara customized membuat posisi Dell saat ini menjadi salah satu
produsen PC terkemuka di dunia. Model bisnis yang dimiliki oleh Dell tidak
hanya

sebatas

bagaimana

model

proses

penjualannya

produksi

saja,

namun

juga

dan procurement-nya.

mencakup

Model

terserbut

membuat Dell sangat efisien sehingga memiliki profitabilitas yang tinggi.


Hal ini merubah peta pesaingan di industri PC. Perusahann besar seperti
HP harus mengakuisisi Compaq agar dapat terus bertahan di PC low end.
Sementara IBM akhirnya harus melepaskan bisnis PC-nya dan masuk ke
dalam industri consulting dengan mengakuisisi salah satu bisnis unit dari
PriceWaterhouseCooper.
Peta

persaingan

terus

berubah-ubah

dan

semakin

keras.

Kondisi

persaingan yang serba cepat dan keras ini disebut sebagai persaingan
yang hypercompetition. Kondisi ini ditandai oleh persaingan yang sangat
keras

yang

dapat

membuat competitive

advantage yang

dimiliki

perusahaan menjadi tidak relevan lagi akibat gerakan agresif dan inovatif
dari pesaing. Ini memaksa setiap pelaku bisnis harus berpikir lebih keras
dan lebih inovatif lagi untuk bertahan. Salah satu yang harus dipikirkan
oleh para pelaku bisnis adalah model bisnis apa yang dapat membuat
mereka bertahan di lingkungan bisnis yang keras seperti ini. Atau lebih
ekstrim lagi apakah model bisnis masih relevan dalam menjawab konteks
bisnis yang hypercompetitive?
Hypercompetition
Suatu

lingkungan

bisnis

yang hypercompetitive apabila

merupakan

persaingan

lingkungan

terjadi

sangat

cepat

sehingga competitive advantage yang dimiliki perusahaan menjadi usang


akibat adanya gerakan dari pesaing atau dari perusahaan itu sendiri.
Sementara, competitive

advantage merupakan

faktor

yang

dapat

membuat perusahaan dapat memenangkan persaingan. Grant (1995, p.


151)menyatakan

bahwa competitive

advantage adalah

kemampuan

perusahaan untuk mengalahkan pesaingnya dalam hal profitabilitas. Dan


agar perusahaan tersebebut unggul,

profit

yang

dimilikinya

harus

merupakan profitabilitas yang berada di atas rata-rata industri (above


average return) (Hill & Jones, 1995). Porter (1985, p. 11) menegaskan
bahwa keunggulan perusahaan yang dapat bertahan lama adalah

perusahaan yang memiliki profitabilitas di atas rata-rata secara jangka


panjang,
Secara natural, competitive advantage akan berkurang keefektifannya
(DAveni, 1994). Hal ini terjadi akibat adanya perlawanan dari pesaing.
Perusahaan tradisional (yang tidak hypercompetitive) dapat digambarkan
dalam grafik sebagai berikut:

Setiap advantage akan berkurang seiring dengan waktu. Sumber:


(D'Aveni, 1994, p. 8) Serangan (counter attact) yang dihadapi perusahaan
dapat

berupa competitive

atau competitive

advantage yang

advantage tersebut

ditiru

oleh

dimiliki
pesaing,

pesaing,
sehingga

menjadi tidak relevan lagi. Pada kondisi normal seperti ini, perusahaan
dapat

mengeksploitir competitive

advantage yang

dimilikinya

dalam

waktu yang relatif lama. Perusahaan pun masih dapat mendapatkan


keuntungan ketika counterattack dilakukan oleh pesaing dalam waktu
yang relatif lama.
Namun, dalam lingkungan bisnis yang hypercompetitive, perusahaan sulit
menikmati profit daricompetitive advantage yang dimilikinya dalam waktu
yang lama. Gerakan pesaing memaksa perusahaan untuk berpindah
dari competitive advantage satu ke competitive advantage lainnya untuk
mengantisipasi

gerakan

pesaing

tersebut.

Apabila counterattck yang

dilakukan pesaing tidak diantisipasi oleh perusahaan, maka market


share perusahaan
persaingan

akan

diambil

oleh

yang hypercompetitive dapat

sebagai berikut:

pesaing

tersebut.

digambarkan

Suasana

dalam

grafik

Langkah-langkah perusahaan untuk terus memiliki competitive advantage


Sumber: (D'Aveni, 1994, p. 12)
bagaimana

perusahaan

Ilustrasi tersebut menggambarkan

yang hypercompetitive terus

berinovasi

menciptakan competitive advantage yang baru. Agar dapat bertahan dan


terus maju, perusahaan harus dapat mengalahkan dirinya sendiri, sebelum
dikalahkan oleh pesaing. Pergerakan perusahaan tersebut harus dilakukan
sebelum pesaing melakukan counter attact. Dengan demikian, perusahaan
akan

terus

menjaga competitive

memberikan above

average

advantagenya

return)

secara

(yang

akan

berkesinambungan.

Competitive advantage yang dimiliki perusahaan dapat berbentuk arena


persaingan sebagai berikut:
1. Cost and quality,
Arena persaingan ini adalah yang paling umum yang dimiliki perusahaan.
Setiap pemain berlomba-lomba menawarkan produk dengan kualitas
terbaik sebagai diferensiasinya. Selain berlomba-lomba dalam kualitas,
sering kali para produsen menawarkan produk atau service dengan harga
termurah. Dengan kualitas atau harga termurah tersebut, perusahaan
mengejar competitive
telekomunikasi
contoh.

advantagenya.

bergerak

Awalnya

setiap

(mobile
operator

Persaingan

telecomunication)
menunjukkan

di
dapat

kelebihan

industri
dijadikan
kualitas

layanannya, seperti jangkauan yang luas, suara yang jernih, akses internet
cepat,dsb. Namun, setelah setiap operator sudah mengeksploitasi setiap
kelebihan kualitasnya, sehingga kelebihan antara operator semakin kabur
satu sama lain, maka langkah yang dilakukan para operator adalah perang
harga.
2. Timing and Know-how.
Arena lain yang dijadikan competitive advantage adalah sumber daya unik
yang dimiliki perusahaan, terutama dalam hal pengetahuan. Dengan
pengetahuan unik yang dimilikinya, perusahaan dapat memberikan nilai

lebih kepada pelanggan, sehingga dapat menjual produk atau servicenya


lebih

mahal.

Hal

yang

membedakannya

dengan

arena cost

and

quality adalah bahwa dalam arena ini perusahaan berfokus pada inovasi
sehingga dapat menciptakan pasar atau kategori produk baru. Kata kunci
pada arena ini adalah inovasi.
3. Strongholds
Perusahaan dapat mempertahankan competitive advantage-nya dengan
menciptakan entry barier, atau dengan bahasa sederhananya: pertahanan
(stronghold).

Kompetitor

baru

atau

produk

substitusi

dapat

mengurangi market share perusahaan, yang tentu saja dapat mengurangi


profitnya.

Porter

(1980,

6 entry barrier utama,

yaitu:

pp.

7-12)

skala

menyatakan

ekonomis,

bahwa

diferensiasi

ada

produk,

kebutuhan modal yang tinggi, switching cost, akses pada jalur distribusi,
serta biaya-biaya lainnya (cost disatvantages selain sekala ekonomis).
Pada intinya, perusahaan berusaha mempertahankan posisinya dengan
cara berusaha memblokir adanya pemain baru atau produk substitusi.
Contohnya adalah bagaimana Indofood melakukan integrasi vertikal,
melakukan diferensiasi produk, serta memblokir akses pada jalur distribusi
agar dominasinya di pasar mie instan terus terjaga.
4. Deep Pockets.
Salah satu competitive advantage yang dapat dimiliki oleh perusahaan
adalah

kemampuan

modalnya

yang

sangat

kuat

(deep

pocket).

Perusahaan dengan modal dapat melakukan apapun agar dapat terus


bertahan. Namun ini bukan jaminan. Berbagai kasus menunjukkan bahwa
perusahaan dengan modal besar dapat dikalahkan oleh perusahaan kecil.
Faktor yang menentukan adalah apakah perusahaan dapat memanfaatkan
sumber daya yang dimilikinya secara efektif atau tidak. Contohnya adalah
bagaimana Dell yang awal mulanya hanyalah perusahaan kecil dapat
mengalahkan perusahaan sekelas IBM dan HP. Namun di sisi lain, terdapat
pula kisah sukses perusahaan dengan modal besar yang terus bertahan,
seperti halnya General Electric.
Untuk dapat terus menerus memiliki competitive advantage, di manapun
arena perusahaan itu bermain, dibutuhkan inovasi dan fleksibilitas. Dalam
pencapaian tujuannya, perusahaan memiliki model bisnis tertentu, yang
sering kali menjadi competitive advantage bagi perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, model bisnis yang dimiliki oleh Dell menyebabkan


perusahaan tersebut memiliki competitive advantage. Namun, apakah
perusahaan yang hypercompetitive atau berada di lingkungan bisnis
yanghypercompetitive memiliki model bisnis tertentu yang menyebabkan
perusahaan

tersebut

dapat

terus

menerus

berinovasi

menciptakan competitive advantage yang baru? Ataukah lingkungan bisnis


yanghypercompetitive membuat perusahaan tidak membutuhkan model
bisnis tertentu, karena model bisnis dapat dianggap membuat perusahaan
tidak

inovatif

dan

tidak

flexible

dalam

menciptakan competitive

advantage?
Model Bisnis
Model bisnis dijelaskan oleh Afuah (2004, p. 9) sebagai berikut:
The set of which activities a firm performs, how it performs them, and
when it performs them as it uses its resources to perform activities, given
its industry, to create superior customer value and put itself in a position
to appropriate the value.
Sedangkan

Osterwalder (2004, p. 15) mendefinisikan bisnis model

sebagai:
A conceptual tool that contains a big set of elements and their
relationships and allows expressing the business logic of a specific firm. It
is a description of the value a company offers to one or several segments
of customers and of the architecture of the firm and its network of
partners for creating, marketing, and delivering this value and relationship
capital, to generate profitable and sustainable revenue streams
Secara

sederhana,

model

menjalankan

bisnisnya,

pendapatan,

pengaturan

bisnis

dimulai
biaya,

adalah
dari

serta

bagaimana

bagaimana
bagaimana

perusahaan
mendapatkan

aktivitas-aktivitas

pendukungnya dapat mencapai tujuan perusahaan. Model bisnis tidak


hanya sebatas bagaimana caranya mendapatkan penghasilan, melainkan
juga bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan/profit (Affuah,
2004, p. 11). Dengan tidak hanya membatasi pada bagaimana caranya
perusahaan mendapatkan penghasilan, maka sebuah bisnis model yang
baik juga harus mempertimbangkan permasalahan biaya dan aktivitasaktivitas pendukung bisnis tersebut. Model bisnis juga merupakan
penerjemahan

strategi

ke

dalam blue

print bagaimana

perusahaan

mendapatkan profitnya (Osterwalder, 2004). Hubungan model bisnis dan


strategi digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Hubungan antara model bisnis dan strategi bisnis Sumber: (Osterwalder,


2004, p. 20) Menurut penelitian (Malone, et al., 2006), beberapa model
bisnis memiliki performansi finansial yang lebih baik dibandingkan model
bisnis

lainnya.

Dalam

penelititan

tersebut

model

bisnis manufacturingdan physical landlord ternyata memiliki cash flow


yang lebih baik dibandingkan model bisnis lain yang diteliti.
Komponen dalam model bisnis
Banyak penulis menawarkan berbagai komponen yang membentuk model
bisnis. Salah satunya, Sthler (2002) menawarkan konsep model bisnis
dengan pendekatan yang berpusat pada jaringan (network centric
approach).

Dalam frameworknya,

Sthler

tidak

memasukkan

model

marketing. Menurutnya, model bisnis memiliki komponen-komponen


sebagai berikut:
1. Value proposition, yaitu nilai apa yang akan ditawarkan perusahaan
kepada pelanggan dan partner bisnisnya.
2. Produk/service yang ditawarkan oleh perusahaan
3. Arsitektur, yaitu bagaimana dan melalui konfigurasi apa nilai
diciptakan (value created)
4. Revenue

Model, yaitu

bagaimana

perusahaan

memperoleh

pendapatannya.
Namun framework tersebut dirasa masih kurang lengkap, karena tidak
memasukkan unsur costsebagai komponen model bisnis. Padahal, sebuah
bisnis memiliki bottom line berupa profit, bukanrevenue saja. Penulis lain,
Alt dan Zimmerman (2001) memiliki pendekatan lain dalam menentukan
komponen

dalam

suatu model

bisnis. Mereka

menjelaskan bahwa

komponen-komponen dalam model bisnis adalah sebagai berikut:


1. Misi

perusahaan,

yaitu

bahwa

model

bisnis

haruslah

dapat

mencakup pengertian akan visi dan misi perusahaan, tujuan

stratejik, dan value proposition perusahaan. Termasuk di dalamnya


produk atau service features.
2. Struktur,

yang

menentukan

peran

masing-masing agent yang

terlibat dalam bisnis, dengan fokus kepada industri, pelanggan, dan


produk.
3. Proses, yang menggambarkan misi perusahaan dan struktur model
bisnis secara lebih detail. Dalam komponen ini ditunjukkan elemenelemen proses value cration.
4. Pendapatan (revenue), yaitu merupakan bottom line dari sebuah
model bisnis.
5. Isu Legal, karena ini mempengaruhi segala aspek dalam model
bisnis dan visi perusahaan.
6. Teknologi, karena merupakan enabler dari sebuah bisnis, sehingga
perubahan dalam teknologi dapat mempengaruhi desain model
bisnis.
Terakhir, Afuah (2004, p. 10) menjelaskan bahwa model bisnis memiliki
komponen-komponen yang relatif lebih sederhana namun cukup lengkap.
Komponen-komponen model bisnisnya antara lain sebagai berikut:
1. Aktivitas, bahwa profitabilitas perusahaan tergantung dari aktivitas
apa yang dilakukan oleh perusahaan, bagaimana aktivitas ini
dilakukan, serta kapan aktivitas ini dilakukan agar perusahaan
memiliki posisi yang lebih baik relatif terhadap pesaing. Di sini
aktivitas merupakan pusat dari komponen-komponen lainnya,
karena komponen lain harus didukung oleh aktivitas yang seuai (fit).
2. Posisi perusahaan, yaitu bagaimana perusahaan memposisikan
dirinya

relatif

memposisikan

terhadap
dirinya

denganairlines lainnya.

pesaing.

Sebagai

sebagai low

fare

Posisi

di

sini

contoh,

Air

Asia

airlines dibandingkan

agak

berbeda

dengan

konsep positioning dalam marketing, yang hanya pada level produk


saja. Posisi di sini maksudnya adalah posisi perusahaan/bisnis unit
relatif

terhadap

perusahaan/bisnis

marketing positioning biasanya

merupakan

lain.
turunan

Strategi
dari posisi

perusahaan. Mercedes-benz memposisikan dirinya sebagai produsen


mobil

mewah

berteknologi

tinggi.

Dengan

demikian,

semua

produknya memiliki positioning sebagai mobil mewah. Agar posisi

perusahaan tersebut dapat efektif, aktivitas yang dimiliki oleh


perusahaan tersebut harus dapat mendukung posisi perusahaan.
Sebagai

contoh,

Mercedes-benz

memiliki

aktivitas

R&D

yang

mendukung posisinya sebagai produsen mobil mewah berteknologi


tinggi.

Bila

perusahaan

tersebut

tidak

memiliki

R&D

yang

mendukung posisi perusahaan, maka posisi perusahaan tersebut


tidak akan efektif mencapai competitive advantagenya.
3. Sumber daya, yaitu bagaimana agar aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan

dapat

memanfaatkan

sumber

daya

yang

dimiliki

perusahaan saat ini untuk memperoleh sumber daya yang dapat


menciptakan nilai pelanggan (customer value). Contohnya adalah
sumber daya yang dimiliki oleh Mercedes-benz (yaitu kemampuan
dan fasilitas R&D) dapat membentuk sumber daya lainnya (seperti
proses produksi) yang dapat menciptakan nilai yang dinginkan oleh
pelanggan, yaitu mobil mewah yang berteknologi dan berkualitas
tinggi.
4. Faktor

Industri,

perusahaan

yaitu

bahwa

dipengaruhi

dan

aktivitas
atau

yang

dilakukan

mempengaruhi

oleh

tekanan

persaingan dalam industri di mana perusahaan tersebut bermain.


5. Biaya

(cost),

bahwa

berbicara revenue saja.

sebuah
oleh

model

karena

itu,

bisnis

tidak

biaya

juga

hanya
menjadi

komponen dalam model bisnis. Segala aktivitas perusahaan juga


harus mempertimbangkan biaya (tidak perduli apakah perusahan
tersebut memiliki strategi cost leadership atau diferensiasi) karena
ini berpengaruh pada profitabilitasnya.
Komponen dalam bisnis model yang ditawarkan oleh Afuah (2004)
tersebut digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

Komponen dalam model bisnis Sumber: (Affuah, 2004, p. 10)

Komponen-komponen dalam model bisnis tersebut di atas menunjukkan


bahwa sebuah model bisnis yang baik harus mempertimbangkan faktorfaktor internal dan eksternal. Kembali pada pembahasan hubungan antara
model bisnis dan strategi bisnis, di sini terlihat bahwa pembuatan model
bisnis sangat terkait dengan strategi yang diformulasikan. Namun, apakah
dengan framework yang dibuat oleh para penulis mengenai model bisnis
dapat menjawab tuntutan lingkungan bisnis yang hypercompetitive?
Bagaimana model bisnis menjawab tantangan hypercompetition
Model bisnis secara natural bersifat statis dan hanyalah merupakan
snapshot dari kondisi saat ini (Osterwalder, 2004, p. 36). Agar model bisnis
dapat

menghadapi

pasar

persaingan

yanghypercompetitive, maka

perusahaan harus memiliki bisnis model yang flexible. Linder dan Cantrell
(2000) memiliki 4 model perubahan model bisnis, yaitu: realization model,
renewal

model,

extension

model, dan journey

model.

Realization

model berfokus pada perubahan kecil pada model bisnisnya untuk


memaksimasi

potensi

yang

dimilikinya.

Sedangkan renewal

model dicirikan oleh revitaliasi secara konsisten pada produk atau jasa,
merek, struktur biaya, serta teknologinya. Dengan demikian, perusahaan
akan meningkatkan kemampuan intinya (core skill) untuk menciptakan
posisi baru. Model perubahan ini sering kali melibatkan serangan terhadap
pasar baru dan format retail yang baru.Extention model memperluas
bisnis dengan cara melebarkan model operasinya (operating model) untuk
masuk ke pasar baru, fungsi rantai nilai (value chain function), serta lini
produk atau service yang baru. Model ini sering dicirikan oleh adanya
integrasi vertikal (backward dan forward) maupun horizontal. Sedangkan
pada journey model perusahaan benar-benar merubah model bisnisnya
secara keseluruhan. Model tersebut digambarkan dalam gambar sebagai
berikut:

Model perubahan Sumber: (Linder & Cantrell, 2000)

Model perubahan model tersebut dapat kita kombinasikan dengan


komponen bisnis model dari Afuah (2004). Perusahaan dapat maka sebuah
model bisnis dapat disesuaikan sesuai dengan kontekshypercompetition.
Pada

setiap

arena hypercompetition,

menciptakancompetitive

perusahaan

advantage secara

terus

tetap

menerus

dapat
dengan

menggunakan model perubahan tersebut.


Kesimpulan
Model bisnis yang pada mulanya dianggap sebagai suatu hal yang statis,
tetap dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Model yang
ditawarkan oleh Linder dan Cantrell (2000) adalah jawabannya. Walaupun
perusahaan dihadapkan oleh kondisi yang hypercompetitive, model bisnis
tetap

harus

dimiliki

oleh

perusahaan.

Karena,

perusahaan

perlu

memiliki track agar bisnis yang dijalankan mencapai tujuannya, yaitu


profit. Tanpa model bisnis, aktivitas perusahaan akan sulit align dengan
sumber daya yang dimilikinya. Sehingga, akan sulit bagi perusahaan
mencapai tujuannya tanpa memiliki model bisnis. Perusahaan yang
dengan

tepat

menjalankan

model

bisnisnya

dapat

menjadikannya

sebagaicompetitive advantage yang dimilikinya. Beberapa perusahaan


yang memiliki model bisnis yang inovatif seperti FedEx, Dell, Google,
ternyata menjadikan model bisnisnya sebagai competitive advantage. Hal
ini memperkuat bahwa model bisnis tetap harus dimiliki oleh perusahaan
agar tujuan profitabilitasnya tercapai, walaupun konteks bisnis yang
dihadapinya adalah konteks hypercompetition.