Anda di halaman 1dari 22

1

I. KONSTRUKSI KERAMBA

Definisi Keramba
Keramba adalah merupakan sebagai wadah pemeliharaan ikan / udang dan
memenuhi syarat yang diperlukan sesuai dengan sifat biologi hewan yang
dipelihara.
a. Jaring
Jaring terbuat dari bahan:
- Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 11,25, guna
untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
- 1 Unit Pembesaran : 6 jaring ( 4 terpasang dan 2 jaring cadangan)
b.

Kerangka / rakit: Kerangka berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan,


dapat terbuat dari bahan bambu, kayu, besi bercat anti karat atau paralon.
Bahan yang dianjurkan adalah bahan yang relatif murah dan mudah
didapati di lokasi budidaya.
- Bahan: Bambu atau kayu

c. Pelampung: pelampung berfungsi untuk mengapungkan seluruh sarana


budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan.
- Jenis: Drum plastik / besi (volume 120 liter), styrofoam atau ban bekas
- Jumlah : 9 buah atau lebih
d. Jangkar / Pemberat : berfungsi agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser
dari tempatnya akibat

pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar

(denga kata lain keramba tetap berada pada tempatnya).

- Jenis yang dipakai : Besi atau beton (40 kg)


- Jumlah 4 buah
- Panjang tali :Minimal 1,5 kali kedalam air

e. Kurungan atau wadah : berfungsi untuk memelihara ikan, disarankan


terbuat dari bahan polyethline (PE) karena bahan ini disamping tahan
terhadap pengaruh lingkungan juga harganya relatif murah jika
dibandingkan dengan bahan bahan lainnya. Bentuk kurungan bujur
sangkar dengan ukuran (3x3x3)m3.
f. Ukuran benih yang akan dipelihara: 50- 57 gr/ekor
g. Perahu: Jukung
h. Peralatan lain : ember, serok ikan, keranjang, gunting, paku baja atau paku
beton tahan karat dll
Perakitan keramba jaring biasa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu
dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan.
Kerangka ditempatkan dilokasi budidaya yang telah ditentukan dan agar tetap
pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah. Sebelum
kegiatan budidaya dilakukan terlebih dahulu diadakan pemilihan lokasi.Pemilihan
lokasi yang tepat akan menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan Kerapu
Sunu. Secara umum lokasi yang baik untuk kegiatan usaha budidaya ikan di laut
adalah daerah perairan teluk, lagoon dan perairan pantai yang terletak diantara dua
buah pulau (selat).

Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk lokasi budidaya


ikan di laut adalah:
1. Perairan pantai/laut yang terlindungi dari angin dan gelombang
2. Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan berkisar antara 5-7 m.
3. Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40cm/detik
4. Kadar garam 27 32 ppt, suhu air 28 30 0 c, dan oksigen terlarut antara
7-8 ppm
5. Benih mudah diperoleh
6. Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau
7. Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil

Gambar 1. Keramba Jaring Apung digantung pada platform yang biasa

Gambar. Keramba Apung


Keterangan :
fl
p

- floating log (kayu pelampung)


- pole of wood (pemberat dari kayu dimana untuk menjaga agar keramba
tetap pada tempatnya)
ws - water surface ( gelombang air)
wsc - wood screen (dinding kayu)

Konstruksi dari perangkap (kurungan) ikan adalah membutuhkan proses


yang sangat sederhana untuk dioperasikan bersama 5 lapisan dari jaring nilon dan

Gambar. Kerangka Keramba Jaring Apung Tampak Atas

Gambar. Kerangka Keramba Jaring Apung Tampak Samping

Gambar. Rancangan Tata Letak Kerangka Kurungan Jaring Apung

II. KONSTRUKSI TAMBAK

Definisi Tambak
Tambak adalah merupakan bangunan air yang dibangun pada daerah
pasang surut yang diperuntukkan sebagai wadah pemeliharaan ikan / udang dan
memenuhi syarat yang diperlukan sesuai dengan sifat biologi hewan yang
dipelihara.
Bagian bagian dari Konstruksi Tambak :
1. Inlet, berfungsi sebagai saluran pemasukan air dari sumber mata air
menuju lahan yang akan dijadikan sebagai Tambak.
2. Outlet, berfungsi sebagai saluran keluarnya air Tambak menuju keluar
kolam yang mana hal ini bertujuan untuk mengatur kadar limbah yang
sudah berlebihan yang mengendap pada dasar perairan tambak atau
memberikan sirkulasi air yang baru.
3. Tanggul, berfungsi sebagai penahan pinggiran tambak agar tidak hancur
ataupun runtuh ke dalam kolam.
4. Pematang, berfungsi sebagai daerah di mana kita dapat memantau
perkembangan tambak dan isinya.
5. Pipa Saluran Pengontrol Air, berfungsi agar air di dalam tambak tidak
meluber atau banjir, prinsip kerjanya adalah apabila ketinggian air sudah
mencapai ketinggian tertentu maka secar otomatis air akan masuk ke
dalam pipa dan berakhir pada saluran pembuangan. Biasanya pipa ini
diletakkan pada bagian tengah tambak

6. Rumah Jaga, berfungsi sebagai tempat dimana diletekkan sarana dalam


proses pemeliharaan ikan atau udang, seperti : makanan ikan, dan berbagai
peralatan yang dibutuhkan dalam pembudidayaan.
Keterangan :
a) Tambak pembesaran
b) Tambak pengendapan
c) Jalur hijau
d) Pemetang utama
e) Saluran utama

Gambar . Tata Letakan Petakan Tambak yang Disesuaikan Dengan Kondisi Lokal
(Arah Angin Dominan Dan Topografi) Serta Pertimbangan Asvek Konservasi
Komponen Tambak
Untuk memenuhi persyaratan di atas maka tambak harus terdiri dari atas :
a. Saluran pengairan
b. Petak tandon perlakuan air masuk
c. Petak tandon air siap pakai
d. Petak pemeliharaan dengan sistem pembuangan sedimen limbah
e. Saluran pengendapan limbah
f. Saluran pengurangan nutrien terlarut
g. Petak pengolahan limbah

Gambar . Model Tambak Bewawasan Lingkungan Dengan Sistem Bio-Filter Dan


Pengaturan Saluran Air
Keterangan :
A. Tambak pertama
B. Tambak kedua
E. Saluran pertama (saluran keluar)
F. Saluran ketiga (saluran keluar)

C. Tambak ketiga
D. Saluran pertama (pintu masuk)
G. Kolam penyelesaian/ kolam air
H. Saluran kedua (pintu masuk)
I. Pembesar kolam

Gambar. Petakan Tambak Ramah Lingkungan


SPA / AP = Saluran Pemasukan Air / petak air siap pakai melalui proses /
sistem resirkulasi
PT
= Petak Treatment (karantina air siap pakai)
AP
= Petak Air Siap Pakai berisi ikan omnivora herbivora ( bandeng
mujair jantan / nila jantan belanak )
PP
= Petak Pembesaran Udang
SS
= Saluran Sedimentasi
SPN
= Saluran Penyerapan Nutrient terlarut (rumput laut)

UPL / AM = Petak Pengolahan Limbah (oksidasi dan pohon bakau) Areal


Mangrove
PAA
= Pompa Air Masuk dari Air Sumber Utama / Kanal Utama

Gambar. Saluran Inlet Pada Kolam

Gambar. Saluran Outlet Pada Kolam

Gambar. Kolam Pembenihan

Gambar. Sistem Kolam Pembenihan Dengan Desain Wajik

Gambar. Pintu Saluran Kontrol Utama di depan Sungai Jalaud.

Gambar. Pintu Saluran utama

10

Gambar . Pintu Saluran Kedua

Gambar. Pintu Saluran Ketiga

Gambar. Pintu Saluran yang Terbuat Dari Kayu

11

III. KONSTRUKSI KOLAM


Definisi Kolam
Kolam adalah merupakan sebagai wadah pemeliharaan ikan / udang dan
memenuhi syarat yang diperlukan sesuai dengan sifat biologi hewan yang
dipelihara.
Bagian bagian dari Konstruksi Kolam :
7. Inlet, berfungsi sebagai saluran pemasukan air dari sumber mata air
menuju lahan yang akan dijadikan sebagai kolam.

12

8. Outlet, berfungsi sebagai saluran keluarnya air kolam menuju keluar


kolam yang mana hal ini bertujuan untuk mengatur kadar limbah yang
sudah berlebihan yang mengendap pada dasar perairan kolam atau
memberikan sirkulasi air yang baru.
9. Tanggul, berfungsi sebagai penahan pinggiran kolam agar tidak hancur
ataupun runtuh ke dalam kolam.
10. Pematang, berfungsi sebagai daerah di mana kita dapat memantau
perkembangan kolam dan isinya.

Gambar. Saluran Inlet Pada Kolam

Gambar. Saluran Outlet Pada Kolam

13

Sumber : www.fao.org

Gambar. KONSTRUKSI KOLAM PENELURAN


(CONSTRUCTION OF BREEDING POND)

Gambar. KONSTRUKSI KOLAM PENETASAN/PENDEDERAN


(CONSTRUCTION OF NURSERY POND)

14

Gambar. Konstruksi kolam air deras

Gambar. Kolam Air Deras (circular)

Gambar. Inlet and outlet situation

15

Gambar. Sistem Monik (Outlet)

Gambar. Diagram ilustrasi posisi dari pipa inlet (saluran masuk)


A - different positions at side view. A vertical position no water goes out while
at horizontal position water pass through perforations thus provide aeration by
the sprinkling water.
B Posisi vertikal, tampak dari samping
C Posisi Horizontal, tampak dari atas

16

Gambar. Diagram showing filtration box in reservoir pond


A. Top view showing layers of coarse sand, nylon screen and bamboo splits.
B. Side view of filter box in reservoir pond.
C. Inset showing the details inside filter box and drain box.

Gambar. Kolam Eksperimen Udang Dan Ikan Bandeng (Zone 11-A) Dan Kolam Sistem
Modular Untuk Produksi Ikan Bandeng (Zone 11-B)

17

Gambar. Kolam Sistem Produksi dan Perawatan Udang

Cara Membuat Pakan Pelet Yang Terapung Dan Tenggelam :


Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
a) Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30
hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu
dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan
air pelarutnya.
b) Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung
halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
c) Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80
hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
d) Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur
80-120 hari). Remah berasal dari pelet yang dihancurkan menjadi butiran
kasar.
e) Pelet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat >
60-75 gram dan berumur > 120 hari.

18

f) Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng
dan dikeringkan, kemudian diremas-remas.
Agar pelet tersebut terapung ataupun tenggelam sangat dipengaruhi oleh
tampilan fisik pelet dan melihat ketahanan menggumpalnya pelet tersebut di
dalam air. Kemampuan untuk menggumpal ini dipengaruhi oleh kadar air ataupun
berat jenis dari tepung itu sendiri. Pelet yang baik secara fisik mempunyai
ketahanan menggumpal yang cukup lama di dalam air sehingga dapat dikonsumsi
ikan secara utuh. Dan juga kadar lemak yang terkandung di dalamnya.

19

Tugas Individu Dasar Dasar Budidaya Perairan

KONSTRUKSI
KERAMBA, TAMBAK, DAN KOLAM

OLEH
AGUSTINUS TATO ALIK
0604120903
THP

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2007

20

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas paper mata
kuliah Dasar Dasar Budidaya Perairan mengenai Konstruksi Keramba, Tambak,
dan Kolam. Adapun penyusunanan paper ini bertujuan untuk sebagai tugas untuk
mengikuti ujian semester.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Yurisman, M.Sc
selaku pembimbing mata kuliah Dasar Dasar Budidaya Perairan sehingga tugas
ini dapat selesai tepat pada waktunya dan tidak lupa kepada teman teman yang
telah membantu dalam penyelesaian.
Penulis menyadari laporan ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan laporan ini dimasa yang akan datang.

Pekanbaru,

Januari 2008

Penyusun

21

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Dalam Jaring Terapung. Ditjen
Perikanan, Jakarta.
______. 1996. Keramba Jaring Apung Dilengkapi Bagan. Departemen Pertanian,
BPTP, Ambon.
Ariawan. I Kade. 2004. Persiapan Budidaya Udang Windu (Air). Departemen
Kelautan dan Perikanan. Balai besar Pengembangan Budidaya Air Payau.
Jepara.
Chaloyandeja, K., 1977 Shrimp farming. Division of Brackishwater Fisheries,
Department of Fisheries (Mimeograph)
Chiba, K., 1970 Studies on the carp culture in running water pond III. On the
relation between fish growth or harvest and environmental conditions in
fishponds. Bull. Freshwater. Fish. Res. Lab. Tokyo. 20(2): 199215
Directorate General of Fisheries, 1975 Fisheries Statistics of Indonesia.
Jamandre, T.J. and H.R. Rabanal, 1975 Engineering aspects of brackishwater
aquaculture in the South China Sea Region. FAO/UNDP South China Sea
Fisheries Development and Coordinating Programme, Working Paper
SCS/75/WP/16: 37p., 17 annexes
Joko Subagy. 1992. Rekayasa Konstruksi Untuk Budidaya Ikan Nila di Waduk
Edung Ombo. Dalam : Prossiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air
Tawar. Balitkanwar, Bogor.
Kato, J., 1975 Guide to design and construction of coastal aquaculture pond.
Japan International Cooperation Agency, vi + 76p.Kungvankig, P., 1976
Early development stages of jumbo tiger shrimp (Penaeus monodon
Fabricius) No. 6. Brackishwater Fisheries Unit, Phuket Fisheries Station
Ling, S.W., 1969b Methods of rearing and culturing Macrobrachium rosenbergii
(de Man). FAO Fish. Rep. (57) Vo. 3: 60719
Mitchell, R.E. and A.M. Kirby, Jr., 1976 Performance characteristics of pond
aeration devices. Proc. Ann. Meet. World Maricult. Soc. 7: 56181
Mujiman, A. 1999. Makanan Ikan. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

22

Ong, K.S., 1977 Prospects and problems of Macrobrachium/Finfish polyculture in


freshwater ponds. First ASEAN Meeting of Experts on Aquaculture, Tech.
Rep., ASEAN77/FA.EgA/Rpt.2, Doc. WP20: 1437
Rappaport, A., S. Sarig and M. Marek, 1976 Results of tests of various aeration
systems on the oxygen regime in the Genosar experimental ponds and growth
of fishes there in 1975. Bamidgeh, 28 (3) : 3549.
Sudarmono. B. M., Bambang Salamoen Ranoemihardjo.1992. Rekayasa Tambak.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Suhaili Asmawi. 1984. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. PT. Gramedia,
Jakarata.
Tang, Y.A., 1976 Planning, design and construction of a coastal fish farm. FAO
Technical Conference on Aquaculture, Kyoto, Japan, 26 May 2 June 1976.
FIR:AQ/Conf/76/E68: 9p.
Tapiador, D.D., et al, 1977 Freshwater fisheries and aquaculture in China. FAO
Fish. Tech. Pap. (168): 84p.

Sumber internet :
http://www.dkp.go.id
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E01.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E02.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E03.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E04.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E05.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E06.htm
http://www.fao.org/docrep/field/003/AC014E/AC014E07.htm