Anda di halaman 1dari 7

A.

MEDIKAMEN INTRAKANAL
Walaupun instrumentasi yang tepat pada saluran akar yang terinfeksi dapat
mengurangi jumlah bakteri, tapi diketahui bahwa instrumentasi saja tidak dapat
membersihkan seluruh permukaan internal saluran akar. Bakteri dapat ditemukan
pada dinding saluran akar, dalam tubulus dentinalis dan percabangan saluran akar.
Sehingga irigasi dan medikamen intrakanal

dibutuhkan untuk membunuh sisa

mikroorganisme. 17
Medikamen intrakanal bertujuan untuk ; (1) sebagai agen antimikroba pada
pulpa dan periapikal, (2) penetralan sisa-sisa debris pada saluran akar, (3) kontrol dan
pencegahan nyeri pasca perawatan, (4) kontrol eksudat dan (5) kontrol inflamasi
pada resorpsi akar. 17
1. Kalsium hidroksida
Kalsium hidroksida awalnya diperkenalkan oleh Hermann pada tahun 1920
sebagai pulp capping agent. Namun dewasa ini, kalsium hidroksida telah digunakan
secara luas dalam perawatan endodontik.18 Selain efek antibakteri, kalsium
hidrokasida juga bersifat anti-inflamasi dan kemampuan osteogenic karena kadar
alkali yang tinggi sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang ditemukan
pada infeksi endodontik.19
a. Mekanisme antibakteri kalsium hidroksida
Mekansime antibakteri kalsium hidroksida secara langsung berhubungan
dengan pHnya yang dipengaruhi oleh konsentrasi dan laju pelepasan hydroxyl ion
OH. Penguraian kalsium hidroksida dipengaruhi oleh penggunaan vehicle.
Pemutusan ion disebabkan oleh kalsium hidroksida menjadi solubilized dan

diresorpsi atau diabsorpsi pada laju yang berbeda pada jaringan periapikal dan
saluran akar.18
Ketika digunakan sebagai medikamen intrakanal pada perawatan endodontik,
uap yang terdapat pada saluran akar mengaktivasi kalsium hidroksida kemudian pH
pada saluran akar meningkat hingga 12+ dalam beberapa menit. Rata-rata waktu
perawatan sekitar 1-4 minggu.18
Ca(OH)2 + H2O

Ca+2 + OH

pH dentin pada gigi yang dirawat dengan kalsium hidroksida menunjukkan


peningkatan secara signifikan antara 2 sampai 24 jam dan turun setelah 7 hari. Tapi
jika dibandingkan dengan aqueous suspension kalsium hidroksida pH dapat bertahan
hingga 2 minggu. Hal ini disebabkan karena pelepasn ion yang lebih besar dari
kalsium hidroksida.18
b.

Keuntungan dan kerugian kalsium hidroksida


Efek antibakteri pada kalsium hidroksida dihubungkan dengan : 6
1) pH yang tinggi (11-12.5)
2) Interaksi penguraian ion hidroksil yang sangat tinggi yang membunuh
sel bakteri dengan merusak membran sitoplasma, denaturasi protein
dan merusak DNA4.
3) Kemampuannya dalam mengabsorpsi karbon dioksida dengan
menghancurkan bakteri capnophillic, yang diandalkan bakteri untuk
asupan nutrisinya dari thriving4.
4) Sifat fisisnya yang mencegah pertumbuhan bakteri baik pada mahkota
maupun akar.
Walaupun

demikian,

kalsium

hidroksida

menunjukkan

tidak

dapat

mengeliminasi E. faecalis dan tentunya beberapa mikroorganisme yang terdapat


dalam tubulus dentinalis oleh karena : 6

1) Membutuhkan

kontak

langsung

dengan

bakteri

dalam

sifat

antibakterinya.
2) Cenderung menetralkan sistem buffer dentin.
3) Kemampuannya (pH yang tinggi) telah resisten terhdap beberapa
bakteri tertentu.
4) Difusi dan daya larut yang rendah
2. Formokresol
Formokresol telah dikenal sejak satu abad yang lalu dan digunakan sebagai
material pulpotomi di Amerika Utara. Pengunaan formokresol sebagai medikamen
intrakanal pada gigi sulung memperlihatkan tingkat kesuksesan berkisar 55-98%
dalam jangka waktu 1-8 bulan.20 Lele et al juga memperlihatkan hasil yang sama
bahwa formokresol secara signifikan dapat mengurangi jumlah bakteri pada saluran
akar baik aerob maupun anaeorob.2 Walaupun demikian formokresol mengandung
formaldehida yang bersifat toksik. Sehingga penggunaannya dalam kedokteran gigi
masih diragukan.

BAB VI
PEMBAHASAN
Bakteri memiliki peran yang sangat penting terhadap terjadinya lesi
periapikal. Sehingga eliminasi atau reduksi mikroorgansime pada saluran akar
merupakan hal penting yang perlu dilakukan dalam tahap perawatannya.
Biomekanikal Preparasi dan larutan irigasi saja dianggap tidak mampu
mengeliminasi seluruh bakteri yang ada pada saluran akar.4 Oleh karena itu aplikasi
medikamen intrakanal merupakan hal yang perlu dilakukan pada perawatan lesi
perapikal.
Bakteri diperoleh dari pasien anak yang menderita abses periapikal di
RSGMP Halimah Dg. Sikati. Konsentrasi hambat minimum ekstrak propolis
terhadap bakteri pada abses periapikal mulai pada konsentrasi 0.2% setelah inkubasi
selama 24 jam dengan suhu 37 . Berbeda dengan hasil yang diperoleh Fathoni
et al11 bahwa propolis mulai dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada
konsentrasi 1 %. Perbedaan ini mungkin diakibatkan oleh perbedaan komposisi
kimiawi yang sangat bergantung pada jenis tumbuhan dan letak geografis propolis

tersebut.16 Formokresol mulai mampu menghambat perumbuhan bakteri pada lesi


periapikal pada konsentrasi terendah yaitu 0.2%. Sedangkan kalsium hidroksida
mulai mampu menghambat pertumbuhan bakteri pada lesi periapikal pada
konsentrasi 2% setelah inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37 .

Efek antibakteri propolis memperlihatkan hasil yang baik dibanding kalsium


hidroksida. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Awawdeh et al13 pada tahun 2009
dengan menggunakan non-setting kalsium hidroksida dalam jangka waktu yang
pendek namun hanya spesifik terhadap bakteri E. Faecalis. Selanjutnya pada tahun
ini Jahromi et al27 juga memperlihatkan hasil yang sama bahwa propolis memiliki
potensi antibakteri yang lebih besar dibandingkan kalsium hidroksida juga pada
bakteri E. Faecalis.
Diameter zona inhibisi ekstrak propolis memperlihatkan hasil yang lebih
kecil dibanding formokresol. Hal ini mengindikasikan bahwa propolis memiliki efek
antibakteri yang lebih rendah dalam menghambat bakteri pada lesi periapikal.
Rendahnya diameter zona inhibisi ekstrak propolis mungkin disebabkan oleh jangka
waktu yang terlalu lama antara ekstraksi dan penentuan efek antibakteri sehingga
menyebabkan berkurangnya efek antibakteri ekstrak propolis itu sendiri. Cara
penyimpanan ekstrak propolis yang kurang baik juga mungkin mempengaruhi efek
antibakteri ekstrak propolis.

Walaupun ekstrak propolis memiliki efek antibakteri yang lebih rendah,


namun propolis dapat menjadi agen antibakteri baru yang bersifat natural dengan
alasan ; Pertama, propolis terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri lesi
periapikal dan dengan kompleksitas dan efek sinergi kandungan pada propolis
membuat bakteri sulit untuk berkembangbiak. Kedua, propolis relatif tidak bersifat
toksik.12

BAB VII
PENUTUP
A. SIMPULAN
Propolis

merupakan

agen

antibakteri

yang

mampu

mengahambat

pertumbuhan bakteri pada lesi periapikal. Diameter zona inhibisi terluas berturutturut adalah formokresol, ekstrak propolis kemudian kalsium hidroksida. Hal ini
mengindikasikan bahwa ekstrak propolis memiliki efek antibakteri yang lebih baik
dibanding kalsium hidroksida namun lebih rendah dibanding formokresol.
Walaupun demikian, propolis dapat dijadikan sebagai alternatif agen antibakteri baru
dalam aplikasi medikamen intrakanal pada perawatan endodontik yang bersifat
alamiah.
B. SARAN
1. Mengingat bahwa propolis memiliki efek antibakteri yang cukup baik,
maka disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut secara in-vivo
dengan jumlah sampel yang lebih besar.

2. Untuk meminimalkan perbedaan hasil efek antibakteri propolis, maka perlu


ditelusuri lebih lanjut mengenai metode ekstraksi dan pengaruh hasil
ekstraksi terhadap efek antibakteri propolis