Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KURANG KALORI PROTEIN

STASE ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Program KKPaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Puskesmas Kasihan 1

Disusun Oleh:
Kurniati Hatmi
20090310168

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

1.1.

Definisi
KKP merupakan keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi
dan protein dalam makanan sehari-hari atau disebabkan oleh gangguan penyakit tertentu
sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi ( Depkes RI, 1999 ).

1.2.

Etiologi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya KKP yaitu ada penyebab langsung, tidak
langsung dan penyebab mendasar. Penyebab langsung yaitu ketidakmampuan konsumsi
makanan dan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung yaitu kurangnya pengetahuan
tentang kesehatan, kondisi ekonomi sosial yang rendah, ketersediaan pangan ditingkat
keluarga tidak mencukupi, besarnya anggota keluarga, pola konsumsi keluarga yang
kurang baik, pola distribusi pangan yang tidak merata serta fasilitas pelayanan kesehatan
yang sulit dijangkau. Sedangkan penyebab mendasarnya yaitu rendahnya pengetahuan
dan pendidikan ibu. ( Depkes RI, 1997 ).
Kegunaan utama protein bagi tubuh adalah sebagai zat pembangun tubuh. Selain
itu protein juga digunakan sebagai sumber energi bagi tubuh bila energi yang berasal dari
karbohidrat atau lemak tidak mencukupi. Pada anak-anak yang sedang dalam masa
pertumbuhan, pembentukan jaringan terjadi secara besar-besaran sehingga kebutuhan
tubuh akan protein akan lebih besar daripada dengan orang dewasa. Seorang anak balita
dikatakan kekurangan apabila tingkat konsumsi energi dan protein 80 % AKG
( Depkes, 1999 ). Kecukupan energi dan protein untuk anak balita perorang perhari
menurut kelompok umur yaitu :
Umur
Energi ( kkal )
0 - 6 bulan
550
7 12 bulan
650
1 3 tahun
1000
4 6 tahun
1550
Sumber : Depkes, 2005

Protein ( gr )
10
16
25
39

Keadaan perumahan dan lingkungan yang kurang sehat juga dapat menyebabkan
penyajian yang kurang sehat dan kurang bersih sehingga daat terjadi infeksi berulang
sehingga menyebabkan anak kehilangan cairan tubuh dan zat-zat gizi sehingga anak
menjadi kurus serta turun berat badannya. Apabila anak menderita kurang gizi maka daya
tahan tubuh akan melemah sehingga penyakit akan mudah masuk kedalam tubuh. Selain
2

itu, komplikasi berantai infeksi saluran nafas sering dijumpai dan diderita anak kurang
gizi. Bronkitis yang terjadi pada mereka tiga kali lebih sering daripada anak yang normal.
Pada anak yang berusia lebih dari 1 tahun perlindungan antibodi diperoleh dari ibunya
melalui plasenta dan ASI sudah berakhir sehingga anak sangat rentan sekali terkena sakit
terutama penyakit infeksi. Disamping itu anak yang sakit cenderung nafsu makannya
menurun sehingga menyebabkan masukan gizi kurang dan pada akhirnya akan
berdampak pada status gizinya.
Tingkat pendidikan orang tua sangat mempengaruhi pertumbuhan anak balita.
Orang tua yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi akan cenderung memilih makanan
yang lebih baik dalam kualitas maupun kuantitas. Semakin tinggi pendidikan orang tua
maka semakin baik juga status gizi anaknya. Orang yang mempunyai pendidikan yang
tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan dengan mereka yang
berpendidikan rendah atau mereka yang tidak berpendidikan.
Jumlah anggota yang besar akan sangat mempengaruhi distribusi makanan
terhadao anggota keluarga terutama keluarga yang miskin yang terbatas kemampuannya
dalam penyediaan pangan. Hal ini akan berisiko terhadap kejadian KKP. Rumah tangga
yang mempunyai anggota keluarga besar berisiko mengalami kelaparan 4 kali lebih besar
dibandingkan dengan rumah tangga yang anggotanya kecil dan berisiko pula mengalami
kurang gizi sebanyak 5 kali lebih besar dari keluarga yang mempunyai anggora keluarga
yang kecil. Komposisi dan jumlah anggota keluarga merupakan salah satu faktor risiko
terjadinya kurang gizi. Sebagian besar penduduk Indonesia berpenghasilan menengah ke
bawah sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarganya.
Hal lain yang dapat mengakibatkan terjadinya KKP yaitu karena pemberian
makanan tambahan pada anak-anak yang tidak terpelihara kebersihannya serta susu
buatan yang terlalu encer dan jumlahnya tidak mencukupi karena keterbatasan biaya
sehingga kandungan protein dan kalori pada makanan anak menjadi rendah. Prematuritas
dan penyakit pada masa neonatus juga merupakan penyebab timbulnya KKP. Pada
keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat refleks mengisap yang kurang
kuat.

1.3.

Patofisiologi

Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak


faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri
(host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet
(makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan
makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan
pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan
melalui proses katabolik. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha
untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal
yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan. Karbohidrat (glukosa) dapat
dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh
untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi
kekurangan. Glikogen yang disimpan dalam hepar akan habis dalam waktu beberapa jam
dan protein otot akan digunakan melalui proses glukoneogenesis untuk mempertahankan
glukosa darah yang adekuat. Pada saat yang bersamaan, trigliserida akan dipecah menjadi
asam lemak bebas yang akan mampu menyediakan energi untuk sebagian besar organ tapi
tidak untuk sistem saraf. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol
dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai
sumber energi oleh otak dan organ lain jika kekurangan makanan ini berlangsung lama.
Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat,
sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada
saat status gizi masih diatas -3 SD maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi
akut/decompensated malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan
anti oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka
akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat
teradaptasi

sampai

dibawah

-3

SD

maka

akan

terjadilah

marasmik

(malnutrisikronik/compensated malnutrition). Dengan demikian pada KKP dapat terjadi :


gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan
hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.
Tetapi dalam kekurangan energi yang berat seperti pada marasmus, adaptasi ini
diiringi dengan meningginya kortisol dan hormone pertumbuhan (growth hormone) serta
menurunnya sekresi insulin dan hormone tiroid. Karena asam amino dimobilisasikan dari

otot untuk penyediaan bahan sintesis protein di hepar, kadar protein plasma akan lebih
rendah pada marasmus dibandingkan dengan kwarshiorkor.
Pada kwashiorkor yang klasik, terjadi edema dan perlemakan hati disebabkan
gangguan metabolik dan perubahan sel. Kelainan ini merupakan gejala yang menyolok.
Pada penderita defisiensi protein, tidak terjadi katabolisme jaringan yang berlebihan,
karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori yang cukup dalam dietnya.
Namun, kekurangan protein dalam dietnya akan menimbulkan kekurangan berbagai asam
amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Oleh karena dalam diet terdapat cukup
karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam
serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan ke otot. Berkurangnya
asam amino dalam serum merupakan penyebabnya kurang pembentukan albumin oleh
hepar, sehingga kemudian timbul edema. Perlemakan hati disebabkan gangguan
pembentukan lipoproteinbeta sehingga transportasi lemak dari hati ke depot lemak juga
terganggu dan akibatnya terjadi akumulasi lemak dalam hepar.
1.4.

Dampak KKP
Pada anak-anak, KKP dapat menghambat pertumbuhan, merosotnya mutu
kehidupan, terganggunya pertumbuhan, gangguan perkembangan mental anak serta
merupakan salah satu penyebab dari angka kematian yang tinggi, rentan terhadap
penyakit infeksi serta mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan.
Pada masa pascanatal sampai usia dua tahun merupakan masa yang amat sangat
kritis karena terjadi pertumbuhan yang amat sangat pesat dan terjadi diferensiasi fungsi
pada semua organ tubuh. Gangguan yang terjadi pada masa ini akan meyebabkan
perubahan yang menetap pada struktur anatomi, biokimia dan fungsi organ. Hubungan
KKP dengan penyakit infeksi dapat dijelaskan melalui mekanisme pertahanan tubuh yaitu
pada balita yang KKP terjadi kekurangan masukan energi dan protein kedalam tubuh
sehingga kemampuan tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh seluler terganggu
sehingga tubuh menderita rawan serangan infeksi. KKP menimbulkan efek pada
perkembangan mental dan fungsi intelegensia. Hal ini didukung oleh suatu fakta yang
menunjukkan bahwa bayi KKP berat mempunyai ukuran besar otak 15-20 % lebih kecil
dibandingkan dengan bayi normal. Apabila terjadi kurang gizi sejak dalam kandungan,
maka defisit volume otak bisa mencapai 50 %. Hasil penelitian Azwar menemukan bahwa
pada anak sekolah yang mempunyai riwayat gizi buruk pada masa balita, IQ-nya lebih
rendah sekitar 13-15 poin dibandingkan dengan yang normal.
5

Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat.
Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan
dinding kapiler, dan hormonal akibat dari gangguan eliminasi ADH.
Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture), maupun
warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut KKPala yang mudah
tercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita kwashiorkor lanjut, rambut akan tampak kusam,
halus, kering, jarang dan berubah warna menjadi putih. Rambutnya biasanya jarang dan
halus-halus serta kehilangan elastisitasnya. Pada anak-anak yang berambut gelap dapat
terlihat jalur-jalur rambut berwarna merah atau abu-abu. Sering bulu mata menjadi
panjang.
Otot-otonya tampak lemah dan atrofi,tetapi sesekali dapat ditemukan lemak
dibawah kulit yang berlebihan.
Kulit biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam
dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit. Pada sebagian besar
penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor, yaitu crazy
pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi
hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan. Terutama bila tekanan
itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada
bokong, fosa politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit
demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat
bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan
memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yang
masih hitam oleh hiperpigmentasi.
Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi, osteoporosis, dan
hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita.
Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan biopsi hati yang
hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda
fibrosis, nekrosis, da infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi
faktor lipotropik.
Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. Bila disertai
penyakit lain, terutama infestasi parasit ( ankilostomiasis, amoebiasis) maka dapat
dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting
untuk pembentukan darah seperti Ferum, vitamin B kompleks (B12, folat, B6) (2,7).
Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulang disebabkan
6

defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan
pembentukan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya terjadi defek umunitas seluler, dan
gangguan sistem komplimen.
Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis, lakrimal, saliva dan
usus halus terjadi perlemakan.
Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan
hipokalemi dan hipmagnesemia.
Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. Anoreksia kadang-kadang
demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya
dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Hal
ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi usus, intoleransi laktosa, dan
malabsorbsi lemak. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Malabsorbsi lemak
terjadi akibat defisiensi garam empedu, konyugasi hati, defisiensi lipase pankreas, dan
atrofi villi mukosa usus halus.
1.5.

Manifestasi klinis
Secara klinis KKP terdapat dalam 3 tipe yaitu :
a. Kwashiorkor, ditandai dengan : edema yang dapat terjadi di seluruh tubuh tetapi
terutama di kaki bagian bawah, wajah sembab

dan membulat ( moon face ), mata

sayu, rambut tipis berwarna coklat kemerahan seperti rambut jagung, mudah dicabut
dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi),
bercak

merah ke coklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement

dermatosis), sering disertai penyakit infeksi terutama akut, diare dan anemia.
Tanda klinisnya yang ditemukan yaitu kulit kering, hiperpigmentasi dan bersisik, serta
ada tanda crazy pavement dermatosis (bercak-bercak putih/merah muda dengan tepi
hitam dan ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan) dan juga
ditemukan hepatomegali.
b. Marasmus sering dijumpai pada usia 0 - 2 tahun dan ditandai dengan : sangat kurus,
tampak tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua ( old man face ), cengeng dan
rewel, kulit keriput, jaringan lemak sumkutan minimal/tidak ada, otot menyusut (
wasted ), lembek, tulang rusuk tampak terlihat jelas, terlihat tulang belakang lebih
menonjol dan kulit di pantat berkeriput ( baggy pant ), ubun-ubun besar cekung,
tulang pipi dan dagu menonjol, mata besar dan dalam, perut cekung, Dinding perut
hipotonus dan kulitnya longgar, iga gambang, sering disertai penyakit infeksi dan
7

diare, Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya. Suhu
tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. serta tekanan darah, detak
jantung dan pernafasan berkurang.
c. Marasmus kwashiorkor, campuran gejala klinis kwashiorkor dan marasmus yaitu
gangguan pertumbuhan, crazy pavement dermatosis, rambut tipis, pirang dan mudah
dicabut, muka seperti orang tua, oedema hanya pada anggota gerak bagian bawah.

1.6.

Diagnosa
Klasifikasi gizi buruk ada beberapa macam yaitu :
1. GOMEZ : BB/U
2. MacLarren : Klinis + laboratorium
3. The Wellcome : Klinis + antropometris
4. WHO (1999) : Klinis + antropometris

Klasifikasi menurut Gomez


Derajat KKP

BB% terhadap BB/U

Normal

90%

Ringan

89 75%

Sedang

74 - 60%

Berat

< 60%

Klasifikasi KKP Menurut Depkes (2000) berdasarkan BB/U :

> +2 SD

Status gizi
BB/U
Gizi lebih

- 2 SD s/d + 2 SD

Gizi baik

- 3 SD s/d < - 2 SD

Gizi kurang

< - 3 SD

Gizi buruk

Indeks

Klasifikasi KKP Menurut Depkes (2000) berdasarkan TB/U :

- 2 SD s/d + 2 SD

Status gizi
TB/U
Normal

< - 2 SD

Pendek

Indeks

Klasifikasi KKP Menurut Depkes (2000) berdasarkan BB/TB :

> +2 SD

Status gizi
BB/TB
Gemuk

- 2 SD s/d + 2 SD

Normal

- 3 SD s/d < - 2 SD

Kurus

< - 3 SD

Sangat kurus

Indeks

KKP ringan bila tidak ditangani maka data jatuh ke status gizi yang lebih buruk
(marasmus, kwashiorkor, marasmic-kwashiorkor)
KKP Berat / gizi buruk yaitu :
1. Marasmus kekurangan energi
2. Kwashiorkor kekurangan protein
3. Marasmic-kwashiorkor Kekurangan energi dan protein
1.7.

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori
dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa komplikasi
dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik;
sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lainlain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.
Pengobatan rutin yang dilakukan di RS berupa 10 langkah penting
a.

atasi/cegah hipoglikemia

b.

atasi/cegah hipotermia

c.

atasi/cegah dehidrasi

d.

koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

e.

obati/cegah infeksi

f.

mulai pemberian makanan

g.

fasilitasi tumbuh kejar (catch-up growth)

h.

koreksi defisiensi nutrient mikro

i.

lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental

j.

siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh

a. Atasi/cegah hipoglikemi
Hipoglikemia dan hipotermia biasanya terjadi bersama-sama, seringkali sebagai tanda
adanya infeksi. Periksa kadar guladarah bila ada hipotermia (suhu ketiak/dubur
<36C). Pemberian makanan yang sering penting untuk mencegah kedua kondisi
tersebut.
Bila kadar gula darah <50 mg/dl, berikan
-

50 ml bolus D10 atau larutan sukrosa 10% (1sdt gula dalam 5sdm air) secara
oral atau per-NGT.

selanjutnya berikan larutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam (setiap kali
berikan bagian dari jatah untuk 2 jam)

berikan antibiotika (lhat langkah ke-5)

secepatnya berikan makan tiap 2 jam, siang dan malam (lihat langkah ke-6)

Pemantauan

bila kadar glukosa darah rendah, ulangi pemeriksaan gula darah dengan darah
dari ujung jari atau tumit setelah 2 jam
-

sekali diobati, kebanyakan anak akan stabil dalam 30 menit

bila gula darah turun lagi sampai <50 mg/dl, ulangi pemberian 50 ml bolus D 10
atau larutan sukrosa 10%, dan teruskan pemberian setiap 30 menit sampai
stabil

ulangi pemeriksaan gula darah bila suhu ketiak <36C dan/atau kesadaran
menurun

10

Pencegahan
-

mulai segera pemberian makanan setiap 2 jam (langkah ke-6), sesudah


dehidrasi yang dikoreksi

b.

selalu memberikan makanan sepanjang malam

Atasi/cegah hipotermia
Bila suhu ketiak <36C, periksa suhu dubur dengan termometer suhu rendah.
Bila suhu dubur <36C
-

segera berikan makan cair/formula khusus (mulai dengan rehidrasi bila perlu)

hangatkan anak dengan pakaian atau selimut sampai menutup KKPala,


letakkan dekat lampu atau pemanas (jangan gunakan botol air panas) atau
peluk anak di dada ibu

beri antibiotika (lihat langkah ke-5)

Pemantauan
-

periksa suhu rectal setiap 2 jam sampai suhu mancapai >36,5Cpastikan anak
selalu terbungkus selimut sepanjang waktu, terutama malam hari

raba suhu anak

bila ada hipotermia, periksa kemungkinan hipoglikemia

Pencegahan

segera beri makanan/formula khusus setiap 2 jam (lihat langkah ke-6)

selalu selimuti dan hindari keadaan basah

hindari paparan langsung dengan udara

c. Atasi/cegah dehidrasi
Jangan menggunakan jalur i.v. untuk rehidrasi kecuali pada keadaan syok/renjatan.
Lakukan pemberian cairan infus dengan hati-hati, tetesan perlahan-lahan untuk
menghindari beban sirkulasi jantung.

11

Cairan rehidrasi oral standar WHO mengandung terlalu banyak natrium dan kurang
kalium untuk digunakan pada penderita KKP berat/gizi buruk. Sebagai penganti,
berikan larutan garam/elektrolit khusus yaitu Resomal atau penggantinya.
d. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
berikan

tambahkan Kalium 2-4 mEq/kgBB/hari (=150-200 mg KCl/kgBB/hari)

tambahkan Mg 0,3-0,6 mEq/kgBB/hari (=7,5-15 mg MgCl2/kgBB/hari)

untuk rehidrasi, berikan cairan rendah Na (Resomal/pengganti)

siapkan makanan tanpa diberi garam/rendah garam

e. Pengobatan dan pencegahan infeksi


Pada semua KKP berat/gizi buruk beri secara rutin :
-

antibiotika spectrum luas

vaksinasi campak bila umur anak >6 bulan dan belum pernah diimunisasi
(tunda bila ada syok). Ulangi pemberian vaksin setelah keadaan gizi anak
menjadi baik

f. Mulai pemberian makanan


Pada fase awal stabilisasi, perlu pendekatan yang sangat berhati-hati karena keadaan
faali anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang
sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisme
basal.
Prinsip pemberian nutrisi pada fase ini adalah

Porsi kecil tapi sering dengan formula laktosa rendah dan hipo/iso osmolar

Berikan secara oral atau nasogastrik


Energi = 80-100 kal/kgBB/hari
Protein = 1-1,5 g/kgBB/hari
Cairan = 130 ml/kgBB/hari
Bila masih mendapat ASI, tetap diberikan tetapi setelah pemberian formula.
12

Formula khusus seperti F-WHO 75 yang dianjurkan dan jadwal pemberian


makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip tersebut
diatas. Berikan formula dengan cangkir/gelas. Bila anak terlalu lemah, berikan
dengan sendok/pipet.
Pada anak dengan selera makan baik dan tanpa edema. Jadwal pemberian
makanan pada fase stabilisasi ini dapat diselesaikan dalam 2-3 hari saja (1 hari
untuk setiap tahap). Bila asupan makanan tidak mencapai 80 Kkal/kgBB/hari,
berikan sisa formula melalui pipa nasogastrik. Jangan beri makanan lebih 100
Kkal/kgBB/hari pada fase stabilisasi ini.
Pantau dan catat

jumlah yang diberikan dan sisanya

muntah

frekuensi BAB dan konsistensi tinja

berat badan (harian)

Selama fase stabilisasi, diare secara perlahan berkurang dan BB mulai naik. Bila diare
melanjut atau memburuk walaupun pemberian nutrisi sudah berhati-hati.
g. Fasilitasi tumbuh kejar
Pada masa rehabilitasi, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar tercapai
masukan makanan yang tinggi dan pertambahan berat badan 50g/minggu. Awal fase
rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera makan, biasanya 1-2 minggu setelah
dirawat.
Pada periode transisi, dianjurkan untuk merubah secara perlahan-lahan dari formula
khusus awal ke formula khusus lanjutan
-

ganti formula khusus awal (F75) menjadi formula khusu lanjutan (F100 dan
protein 2,9 g per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam

kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula


tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgBB/kali (=200
ml/kgBB/hari)

Setelah periode transisi dilampaui, anak diberi


-

makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering


13

energi = 150-220 Kkal/kgBB/hari

protein 4-6 g/kgBB/hari

bila anak mendapat ASI, teruskan, tapi juga beri formula, karena energi dan
protein ASI tidak akan mencukupi tumbuh kejar

h. Koreksi defisiensi mikronutrien


berikan setiap hari:
-

suplemnetasi multivitamin

Asam Folat 1mg/hari (5 mg pada hari pertama)

Seng 2 mg/kgBB/hari

tembaga 0,2 mg/kgBB/hari

bila BB mulai naik

: Fe 3 mg/kgBB/hari atau sulfas ferrosus 10

mg/kgBb/hari
-

Vitamin A pada hari I : umur >1 tahun=200.000 iu, 6-12 bulan=100.000 iu, <6
bulan=50000 iu

i. Stimulasi sensorik dan dukungan emosional


Pada KKP berat terjad keterlambatan perkembangan mental/perilaku, karenanya
berikan

kasih sayang

lingkungan yang ceria

terapi bermain struktur 15-30 menit

aktivitas fisik segera setelah sembuh

keterlibatan ibu

j. Tindak lanjut di rumah


Bila gejala klinis sudah tidak ada, BB anak sudah mencapai 80% BB/U, dapat
dikatakan sembuh.
Pemberian diet pada KKP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai berikut:
14

1. Melalui 3 periode yaitu periode stabilisasi, periode transisi, dan periode


rehabilitasi.
2. Kebutuhan energi mulai dari 80 sampai 200 kalori per kg BB/hari.
3. Kebutuhan protein mulai dari 1 sampai 6 gram per kg BB/hari.
4. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral bila ada defisiensi atau pemberian
bahan makanan sumber mineral tertentu, sebagai berikut:
Bahan makanan sumber mineral khusus

Sumber Zn : daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah, telur ayam.

Sumber Cuprum : tiram, daging, hati

Sumber Mangan : beras, kacang tanah, kedelai

Sumber Magnesium : daun seldri,

bubuk coklat, kacang-kacangan,

bayam,

Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang-kacangan, kentang, apel,


alpukat, bayam, daging tanpa lemak.

5. Jumlah cairan 130-200 ml per kg BB/hari, bila terdapat edema dikurangi


6. Cara pemberian : per oral atau lewat pipa nasogastrik
7. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering
8. Makanan fase stabilisasi hipoosmolar/isoosmolar dan rendah laktosa dan rendah
serat, (lihat tabel 1 formula WHO dan modifikasi).
9. Terus memberikan ASI
10. Membedakan jenis makanan berdasarkan berat badan, yaitu:

BB <7 kg diberikan kembali makanan bayi dan BB >7 kg dapat langsung


diberikan makanan anak secara bertahap, (lihat tabel 2).

No

FASE

STABILISASI
TRANSISI REHABILITASI
Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7

1
2
3
4
5
6

Hipoglikemia
Hipotermia
Dehidrasi
Elektrolit
Infeksi
MulaiPemberian makanan

Tumbuh kejar/peningkatan
15

pemberian makanan
Mikronutrien
Stimulasi
Tindak lanjut

8
9
10

Tanpa Fe

dengan Fe

Tabel 1 :
KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN MAKAN
FASE
ZAT GIZI

STABILISASI

TRANSISI

Energi

100
Kkal/KgBB/hr

150
Kkal/KgBB/hr

REHABILITASI
150-200
Kkal/KgBB/hr

Protein

1-1,5 g/KgBB/hr

2-3 g/KgBB/hr

4-6 g/KgBB/hr

Vitamin A

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Asam Folat

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Zinc

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Cuprum

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Fe

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Lihat langkah 8

Cairan

130 ml/KgBB/hr
atau 100
ml/KgBB/hr bila
ada edema

150 ml/KgBB/hr

150-200 ml/KgBB/hr

Tabel 2
JADWAL, JENIS, DAN JUMLAH MAKANAN YANG DIBERIKAN

FASE

Stabilisasi

WAKTU
PEMBER
IAN
Hari 1-2

JENIS
MAKANAN

FREKWENSI

JUMLAH CAIRAN
(ml) SETIAP MINUM
MENURUT BB ANAK
4
Kg

6
Kg

8
Kg

10
Kg

F75/modifikasi

12 x (dg ASI)

45

65

F75/Modisco

12 x (tanpa

45

65

90

110
16

ASI)
Hari 3-4

F75/modifikasi

8 x (dg ASI)

65

100

F75/Modisco

8 x (tanpa ASI)

65

100

130

160

F75/modifikasi

6 x (dg ASI)

90

130

F75/Modisco

6 x (tanpa ASI)

90

130

175

220

Minggu 23

F100/modifikasi

4 x (dg ASI )

130

195

F100/Modisco
I /modisco II

6 x (tanpa ASI)

90

130

175

220

Rehabilitasi Minggu 36

F135/modifikasi

3 x (dg/tanpa

90

100

150

175

100

100

100

100

3 x 1 porsi

1 2 x 1 buah

Hari 3-7

Transisi

F135/Modisco

ASI )

III, ditambah
BB < 7 Kg

Makanan lumat
makan lembik

3 x 1 porsi
1x

Sari buah
BB >7 Kg

Makanan lunak
makan biasa
Buah

*) 200 ml = 1 gelas
Contoh :
Kebutuhan anak dengan berat badan 6 Kg pada fase rehabilitasi :Energi : 1200 Kkal
400 kalori dipenuhi dari 3 kali 100 cc F 135 ditambah 800 kalori dari 3 kali makanan
lumat/makanan lembik dan 1 kali 100 cc sari buah.
Tabel 3
FORMULA WHO
Bahan

Per 100 ml

F75

F 100

F 135

85

90

FORMULA WHO
Susu skim bubuk

25

17

Gula pasir

100

50

65

Minyak sayur

30

60

75

Larutan elektrolit

Ml

20

20

27

Tambahan air s/d

Ml

1000

1000

1000

Energi

Kalori

750

1000

1350

Protein

29

33

Lactosa

13

42

48

Potasium

Mmol

36

59

63

Sodium

Mmol

19

22

Magnesium

Mmol

4.3

7.3

Seng

Mg

20

23

30

Copper

Mg

2.5

2.5

3.4

% energi protein

12

10

% energi lemak

36

53

57

Mosm/l

413

419

508

NILAI GIZI

Osmolality
Keterangan :
F75

: Setiap 100 ml mengandung 75 kalori

F100 : Setiap 100 ml mengandung 100 kalori


F135 : Setiap 100 ml mengandung 135 kalori

18

Tabel 4
MODIFIKASI FORMULA WHO
FASE

STABILISASI
F75

F75

F75

II

III

Susu skim bubuk (g)

25

Susu full cream (g)

Susu sapi segar (ml)

Bahan Makanan

REHABILITASI

TRANSISI
M

F100

M1

MII

F135

MIII

100

100

100

35

110

25

120

300

Gula pasir (g)

70

70

70

50

50

50

50

75

75

Tepung beras (g)

35

35

35

50

Tempe (g)

150

Minyak sayur (g)

27

17

17

25

30

50

60

Margarine (g)

50

50

Lar. Elektrolit (ml)

20

20

20

20

27

Tambahan air (L)

Penatalaksanaan Penyakit Penyerta


Pengobatan ditujukan pada penyakit yang sering menyertai KKP berat, yaitu :
a. Defisiensi Vitamin A
Bila terdapat tanda defisiensi vitamin A pada mata, beri anak vitamin A secara
oral pada hari ke-1, 2 dan 14 atau sebelum pulang, dengan dosis :
o umur > 1 tahun

: 200,000 iu/kali

o umur 6-12 bulan

: 100,000 iu/kali

o umur 0-5 bulan

: 50,000 iu/kali

Bila ada ulserasi pada mata, beri tambahan perawatan lokal untuk mencegah
prolaps lensa :

beri tetes mata kloramfenikol atau salep mata tetrasiklin, setiap 2-3 jam selama 710 hari

teteskan tetes mata atropin, 1 tetes, 3 kali sehari selama 3-5 hari
19

tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali.

b. Dermatosis
Dermatosis ditandai dengan adanya :
o hipo/hiperpigmentasi
o deskuamasi
o lesi ulseratif eksudatif, menyerupai luka baker, sering disertai infeksi
sekunder, antara lain oleh Candida
Tatalaksana

kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO 4 (Kpermanganat) 1% selama 10 menit

beri salep/krim

usahakan agar daerah perineum kering

umumnya terdapat defisiensi Zn: beri preparat Zn peroral

c. Parasit/Cacing
Beri Mebendazole 100 mg oral, 2 kali sehari selama 3 hari, atau preparat anti
helmintik lain.
d. Diare Melanjut
Diare biasa menyertai KKP berat, tetapi akan berkurang dengan sendirinya pada
pemberian makanan secara berhati-hati. Diobati hanya bila diare berlanjut dan
tidak ada perbaikan keadaan umum. Berikan formula bebas / rendah laktosa.
Sering terjadi kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain
dari melanjutnya diare. Bila mungkin, lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik.
Beri: Metronidasol 7.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari.
e. Tuberkulosis
Pada setiap kasus gizi buruk, lakukan tes tuberculin/Mantoux dan rontgen foto
thoraks. Bila positif atau sangat mungkin TB, obati sesuai pedoman TB.
TINDAKAN PADA KEGAWATAN
1. Syok (renjatan):

20

Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KKP berat dan sulit membedakan
keduanya secara klinis saja.
Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan intravena,
sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi.
Pedoman pemberian cairan:
Berikan larutan Dekstrosa 5% : NaC1 0.9% (1:1) atau larutan Ringer dengan kadar
dekstrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam 1 jam pertama.
Evaluasi setelah 1 jam :
-

Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekwensi nadi dan pernafasan) dan status
hidrasi syok disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian cairan seperti diatas untuk
1 jam berikutnya, kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/pengganti, per
oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam, selanjutnya mulai berikan
formula khusus (F-75/pengganti).

Bila tidak ada perbaikan klinis anak menderita syok septik. Dalam hal ini,
berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan transfusi darah
sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam). Kemudian mulailah
pemberian formula (F-75/pengganti).

2. Anemia berat
Transfusi darah diperlukan bila:

Hb <4 g/dl

Hb 4-6 g/dl disertai distres pernafasan atau tanda gagal jantung.

Transfusi darah:
-

berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam.


Bila ada tanda gagal jantung, gunakan packed red cells untuk transfusi dengan
jumlah yang sama.

- beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v. pada saat transfusi dimulai.


Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam, gatal, Hb-uria, syok).
Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap <4 g/dl atau antara 4-6
g/dl, jangan diulangi pemberian darah.

21

1.8.

Pencegahan
Pencegahannya dapat berupa diet adekuat dengan jumlah-jumlah yang tepat dari
karbohidrat, lemak (minimal 10% dari total kalori), dan protein (12 % dari total kalori).
Sentiasa konsumsi diet yang seimbang dengan cukup karbohidrat, cukup lemak dan
protein bisa mencegah terjadinya kwashiorkor. Protein terutamanya harus disediakan
dalam makanan. Untuk mendapatkan sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan
dari protein hewan seperti susu, keju, daging, telur dan ikan. Bisa juga mendapatkan
protein dari protein nabati seperti kacang ijo dan kacang kedelai.

1.9.

Prognosis
Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian sering
disebabkan oleh karena infeksi; sering tidak dapat dibedakan antara kematian karena
infeksi atau karena malnutrisi sendiri. Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan
mulai dilaksanakan. Dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat, bila
penyakitnya progesif kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan
yang irreversibel dari set-sel tubuh akibat under nutrition.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Buku 1.
Info Medika. Jakarta. 2000
2. Corry S Matondang, Prof, dr, dkk. Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi ke-2. CV Sagung
Seto. Jakarta. 2003
3. Departemen Kesehatan RI, WHO, Unicef. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita
Sakit (MTBS) Indonesia, Jakarta 1997
4. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Binkesmas

Depkes.

Pedoman

Penanggulangan Kekurangan Energi Protein (KKP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT


pada Balita, Jakarta 1997.
5. Donna G Grigsby, MD. Malnutrition. Associate Professor, Department of Pediatrics,
University

of

Kentucky

College

of

Medicine.

Available

from:

http://www.emedicine.com. November 2005


6. FKUI-RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Jakarta: FKUI, 2005.
7. Soetjiningsih, dr, Sp.AK. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 1995
8. WHO. Guideline for the Inpatient Treatment of Severely Malnourished Children,
WHO Searo, 1998.
9. Waterlow JC. Protein Energy Malnutrition, Edward Arnold, London, 1992
10. www.republika.co.id

23

DOKUMENTASI PASIEN

24