P. 1
bab_4 pertumbuhan pddk&ekonomi rev 02_cp_231202

bab_4 pertumbuhan pddk&ekonomi rev 02_cp_231202

|Views: 4,076|Likes:
Dipublikasikan oleh jakarta2030

More info:

Published by: jakarta2030 on Jan 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2013

pdf

text

original

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

BAB 4 PERSEBARAN PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

4.1. Persebaran Penduduk 4.1.1. Esensi Kependudukan Dalam Tata Ruang. Demografi atau studi kependudukan umumnya menjadi titik tolak di dalam suatu perencanaan pada berbagai skala. Studi kependudukan akan menentukan pedoman di dalam pengambilan keputusan dari keseluruhan kebutuhan lahan serta akan menjadi dasar pengalokasian berbagai komponen fungsional dan lahan yang dibutuhkan untuk penempatan kegiatan fungsional tersebut. Penelaahan dan teknik perencanaan akan memerlukan masukan yang luas tentang informasi kependudukan yang meliputi jumlah penduduk dan distribusinya yang akan menjadi dasar pengarahan untuk berbagai kebijaksanaan untuk menetapkan berbagai kebutuhan hidup seperti perumahan, perbelanjaan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, peribadatan serta kegiatan sosial dan ekonomi lainnya. Acuan dasar perencanaan pada hakekatnya diarahkan kepada aspek kependudukan serta kebutuhannya. Oleh karena itu suatu proses perencanaan akan menganalisa/mengstudi jumlah dan struktur penduduk pada saat sekarang, menelaah setiap perubahan yang terjadi dan menyiapkan prediksi atau proyeksi pendududk di masa mendatang dalam perencanaan. Kependudukan merupakan hal yang esensial untuk dapat memperkirakan/ memproyeksikan berbagai kebutuhan penduduk kota bermukim dengan berbagai kegiatannya - untuk bermukim atau untuk menjalankan kegiatannya, seperti proyeksi kebutuhan perumahan dari berbagai lapisan masyarakat, memperkirakan kebutuhan prasarana kota seperti air bersih, sanitasi lingkungan, drainase, persampahan, kebutuhan gas, listrik, energi, telekomunikasi dan perangkutan kota. Selanjutnya juga untuk memperkirakan kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, sosial budaya dan pelayanan lingkungan seperti kegiatan ekonomi, sosial dan politik, pedidikan dan pelayanan kesehatan. Daya tarik kota Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, membuat Jakarta menjadi seperti mercu suar yang dipandang oleh hampir seluruh penduduk Indonesia sebagai pusat dari harapan dan impian dan barometer kemajuan. Jakarta sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, kebudayaan, dll- merupakan sebuah kota dengan banyak kepentingan yang tumpah ruah dan sesak oleh potensi/ kesempatan yang memicu siapapun untuk lebih maju dibandingan dengan kota lain di Indonesia. Dengan daya magnet yang begitu kuat tersebut, adalah wajar

4-1

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

jika banyak orang dari berbagai penjuru daerah datang berbondongbondong memadati Jakarta. Namun bagi Jakarta sendiri, arus masuk ini baik yang menetap untuk bertempat tinggal maupun yang bekerja saja sebagai komuter disamping membawa tambahan tenaga segar untuk pembangunan juga membawa beban yang cukup berat karena lahan semakin terbatas dan prasarana serta sarana kota yang dibangun sulit mengimbangi pertambahan penduduk tersebut. Untunglah sekarang beban itu tidak terpusat di Jakarta sendiri, tetapi disangga oleh daerah metropolitan Jabodetabek. Dan memang terlihat bahwa kecepatan pertambahan penduduk di Jakarta melambat, sementara perambahan penduduk di Bodetabek meningkat dengan pesat dan arus komuter makin tinggi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan definisi penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia, dengan definisi orang asing adalah orang bukan warga negara Indonesia. Sarana dan prasarana DKI Jakarta tidak hanya bagi penduduk ber-KTP DKI Jakarta saja, namun juga untuk pelayanan kaum urbanisasi dan komuter. 4.1.2. Jumlah Penduduk Pada tahun 1980 jumlah penduduk DKI Jakarta mencapai 6,5 juta jiwa, namun pada tahun 2001 meningkat pesat menjadi 8,4 jiwa. Pertumbuhan penduduk pada periode ini cukup tinggi yaitu mencapai 2,4 persen per tahun. Seperti yang ditunjukan tabel 1, .pada periode 2001-2007 pertumbuhan penduduk DKI Jakarta melambat hanya mencapai 1,27 persen, sehingga jumlah penduduk pada tahun 2007 menjadi 9 juta jiwa (Sumber BPS). Laju Pertumbuhan penduduk pada periode 2001-2007 pada masing-masing wilayah kota administrasi tidak sama. Laju pertumbuhan penduduk yang tertinggi terjadi di Jakarta Selatan (2,79%), diikuti oleh Jakarta Barat (2,09%) dan Jakarta Timur (0,34%). Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh angka fertilitas (TFR), pada tahun 2007 TFR DKI Jakarta turun menjadi 1,55 (berdasarkan proyeksi penduduk 2000-2025, data BPS) dari 2,04 tahun 1997 (survei demografi dan kesehatan Indonesia tahun 1997). Selain itu Terjadinya pelambatan pertumbuhan penduduk juga merupakan pengaruh dari adanya perkembangan pembangunan perumahan dan kawasan industri terpadu di Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Tabel 4.1 Jumlah, proporsi dan pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/kota Administrasi di DKI Jakarta 1990,2001 dan 2007
Kab/Kota Administrasi Kepulauan Seribu Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Pertumbuhan Penduduk/Tahun 2001-2007 (%) 2,79 0,34 0,22 2,09

1990

2001

2007 19.980 2.100.930 2.421.419 889.680 2.172.878

1.910.500 2.071.700 1.072.100 1.831.200

1.781.500 2.372.121 878.150 1.918.890

4-2

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Kab/Kota Administrasi

1990

2001 1.445.839 8.396.500

2007 1.543.106 9.147.993

1.370.100 Jakarta Utara Jumlah 8.255.600 Sumber : Badan Pusat Statistik

Pertumbuhan Penduduk/Tahun 2001-2007 (%) 0,08 1,27

Grafik di bawah ini menunjukan data komposisi penduduk menurut kelompok umur di DKI Jakarta tahun 1990, 2001 dan 2007 yang menunjukan proporsi penduduk muda (0-14 tahun) yang terus menurun atau dibawah 40%. Sebaliknya proporsi penduduk usia produktif terus meningkat mencapai 72,32 % pada tahun 2007, dibanding tahun 1990 sebesar 65,6% dan 73,13% pada tahun 2001. Sehingga angka ketergantungan penduduk pada tahun 2007 mencapai 38,27% . Angka ketergantungan dibawah 50%, merupakan komposisi umur yang menguntungkan, karena beban yang ditanggung oleh kelompok umur produktif semakin sedikit. Gambar 4.1 Grafik Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Di DKI Jakarta Tahun 1990, 2001 Dan 2007
distribusi % penduduk menurut golongan umur di DKI Jakarta 1990,2001 dan 2007

14 12

prosentase

10 8 6 4 2 0
0-4 th 5-9 th 10-14 th 15-19 th 20-24 th 25-29 th 30-34 th 35-39 th 40-44 th 45-49 th 50-54 th 55-59 th 60-64 th 65+ 2007 2001 1990 1990 2001 2007

golongan umur

Pengelompokan penduduk berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan pada tahun 1990 dengan rasio jenis kelamin 102 artinya terdapat 102 laki-laki dari setiap 100 perempuan. Pada tahun 2001 rasio jenis kelamin mengalami perubahan, keadaannya menjadi terbalik yaitu 99,19. kondisi tidak mengalami perubahan, pada tahun 2007 rasio jenis kelamin masih dibawah 100% yang artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki, yakni 99,49%.

4-3

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

1) Jumlah Penduduk DKI Jakarta Keseluruhan Jumlah penduduk Jakarta menurut Sensus: • TH. 1971 : 4.576.020 jiwa • TH. 1980 : 6.503.449 (+ 1.927.429 jiwa/42,1% atau +4,7% per th) • TH. 1990 : 8.259.266 (+ 1.755.817 jiwa/26,9% atau +2,7% per th) • TH. 2000 : 8.385.639 (+ 126.379 jiwa/1,53% atau +0,15% per th) • TH. 2004 : ± 7,47 juta jiwa (statistik 2004) • TH. 2006 : ± 8,6 juta jiwa (statistik 2006) Tabel 4.2 Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan Kota Administrasi Thn 1986-2007
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Tahun 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jakarta Selatan 1,599,733 1,690,084 1,724,472 1,765,019 1,773,685 1,805,026 1,830,794 1,830,794 1,887,364 1,903,014 1,909,563 1,910,399 1,983,443 1,966,411 1,733,397 1,674,780 1,686,208 1,701,376 1,707,767 1,995,214 2.053.684 1.730.680 Jakarta Pusat 1,165,914 1,177,805 1,173,093 1,165,215 1,148,669 1,145,750 1,128,871 1,130,863 1,119,893 1,117,747 1,119,180 1,113,579 1,108,029 1,107,606 1,056,088 929,259 922,242 897,941 893,195 861,531 891.778 880.286 Jumlah Penduduk Jakarta Jakarta Barat Timur 1,254,645 1,491,946 1,326,920 1,575,790 1,336,681 1,620,951 1,360,172 1,664,694 1,377,651 1,733,101 1,403,588 1,783,834 1,436,128 1,830,695 1,436,128 1,827,446 1,470,973 1,913,274 1,473,050 1,934,874 1,471,753 1,973,511 1,491,181 1,980,278 1,520,658 2,052,834 1,541,004 2,070,307 1,558,238 2,051,222 1,585,420 2,061,911 1,567,522 2,082,920 1,567,571 2,094,586 1,565,708 2,103,525 2,322,232 2,121,280 2.130.696 2.413.875 1.562.837 2.159.785 Jakarta Utara 960,254 990,911 1,009,470 1,075,253 1,075,253 1,067,325 1,083,234 1,084,164 1,123,886 1,118,560 1,142,168 1,130,357 1,153,612 1,158,656 1,179,756 1,192,009 1,179,026 1,176,355 1,182,749 1,205,919 1.452.285 1.200.958 Jumlah 6,474,478 6,763,497 6,866,655 7,032,342 7,110,349 7,207,514 7,309,722 7,309,395 7,515,390 7,547,245 7,616,175 7,625,794 7,818,576 7,843,984 7,578,701 7,443,379 7,437,918 7,437,829 7,452,944 8,506,176 8.961.680 7.554.461

Sumber : Badan Pusat Statistik, 1986-2007

4-4

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

` Gambar 4.2 Grafik Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007

Sumber : Badan Pusat Statistik

Berdasarkan hasil Kajian Upaya Perwujudan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan, dari data diatas didapat pertambahan jumlah penduduk untuk kurun tahun 1986-2007 terbagi sebagai berikut : a. Jakarta Selatan 20,815 b. Jakarta Pusat (16,020) c. Jakarta Barat 56,189 d. Jakarta Timur 33,123 e. Jakarta Utara 12,930 f. Provinsi DKI Jakarta 106,931 Terlihat bahwa di Provinsi DKI jakarta terdapat wilayah dengan pertambahan yang negatif, yakni di Jakarta Pusat. Pertambahan tertinggi terjadi di Jakarta Barat. Tabel 4.3 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007
Laju Pertambahan Jumlah Penduduk No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 86 - 87 87 - 88 88 - 89 89 - 90 90 - 91 91 - 92 92 - 93 93 - 94 94 - 95 Jakarta Selatan 5.65% 2.03% 2.35% 0.49% 1.77% 1.43% 0.00% 3.09% 0.83% Jakarta Pusat 1.02% -0.40% -0.67% -1.42% -0.25% -1.47% 0.18% -0.97% -0.19% Jakarta Barat 5.76% 0.74% 1.76% 1.29% 1.88% 2.32% 0.00% 2.43% 0.14% Jakarta Timur 5.62% 2.87% 2.70% 4.11% 2.93% 2.63% -0.18% 4.70% 1.13% Jakarta Utara 3.19% 1.87% 6.52% 0.00% -0.74% 1.49% 0.09% 3.66% -0.47% RataRata 4.46% 1.53% 2.41% 1.11% 1.37% 1.42% 0.00% 2.82% 0.42%

4-5

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Laju Pertambahan Jumlah Penduduk No. 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 23 Tahun 95 - 96 96 - 97 97 - 98 98 - 99 99 - 00 00 - 01 01 - 02 02 - 03 03 - 04 04 - 05 05 - 06 06 - 07 Rata-Rata Jakarta Selatan 0.34% 0.04% 3.82% -0.86% -11.85% -3.38% 0.68% 0.90% 0.38% 16.83% 2.93% -15.73% 0.56% Jakarta Pusat 0.13% -0.50% -0.50% -0.04% -4.65% -12.01% -0.76% -2.63% -0.53% -3.55% 3.51% -1.29% -1.29% Jakarta Barat -0.09% 1.32% 1.98% 1.34% 1.12% 1.74% -1.13% 0.00% -0.12% 48.32% -8.25% -26.65% 1.71% Jakarta Timur 2.00% 0.34% 3.66% 0.85% -0.92% 0.52% 1.02% 0.56% 0.43% 0.84% 13.79% -10.53% 1.86% Jakarta Utara 2.11% -1.03% 2.06% 0.44% 1.82% 1.04% -1.09% -0.23% 0.54% 1.96% 20.43% -17.31% 1.25% RataRata 0.91% 0.13% 2.53% 0.32% -3.38% -1.79% -0.07% 0.00% 0.20% 14.13% 5.35% -15.70% 0.87%

Sumber : Kajian Upaya Perwujudan Jakarta Yang Berkelanjutan

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Umur di DKI Jakarta Thn 1986-2007

Sumber : Badan Pusat Statistik, 1986-2007 Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di DKI Jakarta Thn 1986-2007
No. 1 2 3 Tahun 1986 1987 1988 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah 3.317.927 3.514.565 6.472.492 3.479.285 3.281.630 6.760.910 3.537.006 3.327.661 6.864.667

4-6

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah 4 1989 3.616.148 3.387.119 7.003.267 5 1990 3.683.867 3.424.492 7.108.359 6 1991 3.740.690 3.466.163 7.206.853 7 1992 − − − 8 1993 − − − 9 1994 3.903.772 3.611.620 7.515.392 10 1995 3.925.315 3.621.930 7.547.245 11 1996 3.964.207 3.661.587 7.625.794 12 1997 4.774.700 4.748.900 9.523.600 13 1998 4.715.400 4.704.400 9.419.800 14 1999 4.061.009 3.770.511 7.831.520 15 2000 3.923.924 3.654.777 7.578.701 16 2001 − − − 17 2002 4.173.408 4.205.661 8.379.069 18 2003 4.312.158 4.291.918 8.603.776 19 2004 4.372.337 4.353.293 8.725.630 20 2005 4.401.377 4.463.142 8.864.519 21 2006 4.483.001 4.478.679 8.961.680 22 2007 4.517.514 4.540.479 9.057.993 Sumber : Badan Pusat Statistik, 1986-2007 No. Tahun

Tabel 4.6 Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin, 2006
Kelompok Umur (Tahun) 0–4 5 –9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 + Jumlah Jenis Kelamin Laki-Laki 391,269 372,557 345,315 370,022 474,407 509,407 449,077 395,128 318,036 245,515 217,825 141,852 252,591 4,483,001 Perempuan 369,685 338,778 313,516 414,841 538,526 524,597 443,455 385,114 299,248 248,786 213,025 135,777 253,331 4,478,679 Jumlah 760,954 711,335 658,831 784,863 1,012,933 1,034,004 892.532 780,242 617,284 494,301 430,850 227,629 505,922 8,961,680

Sumber : Diolah Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2006

Tabel 4.7 Penduduk DKI Jakarta Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin, Tahun 2008
No 1 2 3 4 Golongan umur 15 - 24 TAHUN 25 - 34 TAHUN 35 - 44 TAHUN 45 - 54 TAHUN Laki laki 785.449 1.014.707 723.682 412.636 Perempuan 863.745 1.063.357 678.420 390.054 Jumlah 1.655.194 2.078.064 1.402.102 802.690

4-7

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

5

55 TAHUN KEATAS JUMLAH 2008 2007 2006 2005

328.620 3.265.094 3.265.094 3.298.922 3.267.735 3.575.882

305.064 3.306.640 3.306.640 3.329.823 3.352.494 3.625.520

633.684 6.571.734 6.571.734 6.628.815 6.620.229 6.565.284 6.274.524

2004 3.140.419 3.134.105 Sumber : Badan Pusat Statistik - Sakernas 2008

Tabel 4.8 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di DKI Jakarta Thn 1996-2007
Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah Akademi/ Tahun dan SD SLTP SLTA UniverBelum sitas Tamat SD 1996 223.908 739.242 679.443 1.560.257 443.415 1997 − − − − − 1998 244.200 840.800 644.800 1.325.500 464.400 1999 282.100 866.100 690.100 1.425.100 521.700 2000 212.500 723.300 576.300 1.397.200 517.500 2001 − − − − − 2002 251.132 792.858 844.584 784.810 504.232 2003 114.047 1.515.138 1.617.526 2.639.507 581.658 2004 142.615 628.910 730.259 1.470.825 524.750 2005 − − − − − 2006 112.263 664.692 729.298 1.481.737 543.809 2007 141.216 715.605 670.624 1.437.449 536.110 Sumber : Badan Pusat Statistik, 1986-2007

No.

Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

3.646.265 − 3.533.900 3.785.100 3.426.800 − 3.177.616 6.467.876 3.497.359 3.565.331 3.531.799 3.543.028

Tabel 4.9 Jumlah Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Selama Seminggu Yang Lalu 1986 – 2007
Jumlah Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Selama Seminggu Yang Lalu Mengurus Mencari Bekerja Sekolah Rumah Lainnya Jumlah Pekerjaan Tangga 3.313.887 419.755 1.851.355 1.462.541 425.452 7.472.990 3.411.795 421.984 1.898.651 1.580.851 423.563 7.736.844 − − − − − − − − − − − − 3.707.243 566.253 1.834.994 1.230.454 757.764 8.096.708 3.284.307 344.044 1.433.001 1.455.858 519.951 7.037.161

No.

Tahun

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

3.427.942 3.497.359 3.565.331 3.531.799 3.543.028

630.826 602.741 615.917 590.022 542.002

3.268.586 3.354.744 3.451.742 3.419.536 3.401.812

1.531.877 263.725 2.520.129 2.447.567 2.449.931 2.607.317

9.122.956 9.974.973 10.080.557 9.991.288 10.094.159

Ket : Data 17 tahun ke atas ; Tahun 2007, 2006, Sumber : Badan Pusat Statistik, 1986-2007

4-8

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

2) Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan Kota Administrasi Tabel 4.10 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin Tahun 2008
No 1 2 3 4 5 6 Kotamadya/kabupaten Kep. Seribu Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara DKI Jakarta 2008 2007 2006 2005 2004 Penduduk Laki-Laki 16,510 1,020,828 1,234,020 434,970 1,061,308 721,865 4.491.392 4.491.392 4.517.514 4.489.501 4.401.337 4.372.337 Perempuan 14.852 1,032,856 1,179,855 456,808 1,069,388 730,420 4.654.789 4.654.789 4.540.479 4,484,179 4.463.142 4.353.293 4.291.618 L+P 31,362 2,053,684 2,413,875 891,778 2,130,696 1,452,285 9.146.181 9.146.181 9.057.993 8,973,680 8,864,519 8,725,630 8,603,776 Rasio Jenis Kelamin 111.16 98.84 104.59 95.22 99.24 98.83 103,64 103,64 99,49 100.12 98,62 100,44 108,48

2003 4.312.158 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2008

Tabel 4.11 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin dan Kota Adm/Kabupaten Adm, 2007

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2007

Tabel 4.12 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin dan Kota Adm/Kabupaten Adm, 2006

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2006

4-9

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.13 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Barat Thn. 2007
Kota Administrasi Jakarta Barat Kecamatan Cengkareng Grogol Petamburan Kalideres Kebon Jeruk Kembangan Palmerah Taman Sari Tambora Jumlah Penduduk (Jiwa) 305628 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 11840.46619 17189.81435 8658.772825 12958.87835 6443.76626 23864.32293 26291.44873 40298.18037 18443.20625 Luas (Km2) 25.81215934 10.70692192 28.91264213 17.38190559 24.89615444 7.357049288 4.484880282 5.367463196 124.9191762

184050 250348 225250 160425 175571 117914 216299 TOTAL 1635485 Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Barat, 2007

Tabel 4.14 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Pusat Thn. 2007
Jumlah Penduduk (Jiwa) Jakarta Pusat Cempaka Putih 64951 Gambir 83361 Johar Baru 101192 Kemayoran 187771 Menteng 78542 Sawah Besar 102717 Senen 93069 Tanah Abang 102563 TOTAL 814166 Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat, 2007 Kota Administrasi Kecamatan Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 13951.51884 11151.12257 42800.73511 25970.84156 12093.68019 16465.78216 21423.71153 10222.51499 19259.98837 Luas (Km2) 4.655478788 7.47557024 2.364258458 7.230069906 6.49446643 6.23820958 4.344205245 10.0330496 48.83530825

Tabel 4.15 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Timur Thn. 2007
Jumlah Penduduk (Jiwa) Jakarta Timur Cakung 232140 Cipayung 125716 Ciracas 202815 Duren Sawit 320925 Jatinegara 263949 Kramat Jati 206327 Makasar 180581 Matraman 193254 Pasar Rebo 162747 Pulo Gadung 280147 TOTAL 2168601 Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Timur, 2007 Kota Administrasi Kecamatan Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 5623.572627 4567.135002 12174.19995 14542.2805 25506.95927 15668.8343 8346.953648 39725.50927 12361.97341 18793.9132 15731.13312 Luas (Km2) 41.2798083 27.52622814 16.65941095 22.06840943 10.34811705 13.16798659 21.63435999 4.864733103 13.16513105 14.90626231 185.6204469

4-10

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.16 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Selatan Thn. 2007
Kota Administrasi Jakarta Selatan Kecamatan Cilandak Jagakarsa Kebayoran Baru Kebayoran Lama Mampang Prapatan Pancoran Pasar Minggu Pesanggrahan Setiabudi Tebet Jumlah Penduduk (Jiwa) 154118 225276 143409 229687 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 8610.673763 9007.992463 11306.72763 11875.42363 13161.57251 13904.4312 11426.35094 11502.87524 13108.58706 26455.96276 13036.05972 Luas (Km2) 17.89848324 25.00845787 12.68351062 19.34137318 7.92800404 8.872639102 21.71576922 13.56321761 9.137750654 9.1121235 145.261329

104345 123369 248132 156016 119783 241070 TOTAL 1745205 Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Selatan, 2007

Tabel 4.17 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Utara Thn. 2007
Jumlah Penduduk (Jiwa) Jakarta Utara Cilincing 239438 Kelapa Gading 107557 Koja 232716 Pademangan 121307 Penjaringan 184603 Tanjung Priok 312349 TOTAL 1197970 Sumber : Badan Pusat Statistik Jakarta Utara, 2007 Kota Administrasi Kecamatan Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 5836.557795 6683.384187 20578.51675 6035.970393 3988.268803 13647.94408 9461.773669 Luas (Km2) 41.02383775 16.09319425 11.30868676 20.09734841 46.28649901 22.88615766 157.6957238

Tabel 4.18 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Kemampuan Membaca Dan Menulis, Kotamadya/Kabupaten Dan Jenis Kelamin, 2006

Sumber : Diolah Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2006

4-11

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.19 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Menurut Kemampuan Membaca dan Menulis, Kotamadya/Kabupaten dan Jenis Kelamin, 2001 - 2006
No. 1 2 3 4 5 Jenis Pendidikan Tidak Sekolah dan Belum Tamat SD Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Pertama Sekolah Lanjutan Atas Akademi/Universitas Jumlah 2001 14.74 25.09 21.61 29.52 9.04 100.00 2002 12.03 22.54 20.44 33.26 11.73 100.00 2003 10.2 21.36 22.8 37.21 8.43 100.00 2004 10.44 20.66 21.92 36.8 10.18 100.00 2005 12.84 22.46 20.48 34.34 9.88 100.00 2006 11.91 20.95 19.58 35.23 12.33 100.00

Sumber : Diolah Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sunsenas), 2006

3) Jumlah Penduduk Bodetabek Sedangkan jumlah peduduk Bodetabek menurut sensus penduduk tahun 2000 sebesar 14.347.019 jiwa • Kota Bogor : 743.089 jiwa (tingkat pertumbuhan penduduk + 4,8.% per th) • Kabupaten Bogor : 3.489.096 jiwa • Kota Depok : 1.146.047 jiwa (tingkat pertumbuhan penduduk + 3,9% per th) • Kabupaten Depok : 1.311.585 jiwa • Kab. Tangerang : 2.775.325 jiwa (tingkat pertumbhan penduduk + 3,4% per th) • Kota Tangerang : 1.600.000 jiwa (asumsi) • Kota Bekasi : 1.639.002 jiwa (tingkat pertumbuhan pendududk + 4,2% per th) • Kabupaten Bekasi : 1.642.875 jiwa Tabel 4.20 Jumlah Dan Laju Pertumbuhan Penduduk Jabodetabek Tahun 1980-2000
No. I II 1 2 3 4 5 6 7 Wilayah DKI JAKARTA BOTABEK Kab. Bogor Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi JABOTABEK 1980 6.840.645 5.414.001 2.493.909 247.409 Jumlah Penduduk (jiwa) 1985 7.299.600 6.399.037 2.870.757 245.6 1990 8.227.512 7.808.590 3.589.711 271.341 1995 7.678.283 10.286.321 3.080.049 671.405 2000 8.347.083 6.508.385 1.830.433 378.365 578.089 1.392.307 665.079 835.395 828.717 4,18 Laju Pertumbuhan (%/th) 2,65 5,51

1.529.072

1.006.196

1.843.146

2.548.200 1.417.550 1.581.757 972.907 17.950.151

1.143.611 12.254.655

1.275.484 12.698.637

2.104.392 16.036.102

Sumber : DKI Jakarta dan Kabupaten dalam Angka 1998-2000

4-12

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.21 Struktur Penduduk Jabodetabek Menurut Jenis Kelamin Tahun 2000
Luas Wilayah (Ha) 7.840.503 1.108.026 1.153.612 2.070.307 1.987.900 1.520.658 12.808.109 3.775.420 697.496 903.934 2.817.300 1.384.937 1.685.175 1.543.847 20.648.612 Jenis Kelamin Penduduk (jiwa) Laki-laki 4.057.906 558.733 588.342 1.097.263 1.045.636 767.932 6.488.202 1.917.913 352.978 456.259 1.436.823 694.578 845.618 784.033 10.546.108 Perempuan 3.782.597 549.293 565.27 973.044 942.264 752.726 6.319.907 1.857.507 344.518 447.675 1.380.477 690.359 839.557 759.814 10.102.504 Sex Ratio (%) 107 102 104 113 111 102 103 103 102 102 104 101 101 103 104

No.

Wilayah

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7

DKI JAKARTA Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Selatan Jakarta Barat BODETABEK Kab. Bogor Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi JABODETABEK

Sumber : DKI Jakarta dan Kabupaten dalam Angka

4.1.3. Proyeksi Jumlah Penduduk. Pertambahan penduduk Jakarta yang pernah mencapai 4.8% per tahun di sekitar tahun 60an, sekarang sudah melambat menjadi 1,27% /tahun (antara 2001-2007). Adapun rumus proyeksi yang dimaksud adalah; Pn = Po(1+r)n Keterangan: Pn = Jumlah penduduk tahun Proyeksi. Po = Jumlah penduduk tahun awal r = laju rata-rata pertumbuhan penduduk n = selisih tahun proyeksi dengan tahun awal. Data terakhir pada tahun 2007 jumlah penduduk kotaJakarta adalah 9.147.993 jiwa, laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.27%. Dapat di prediksi untuk tahun 2030 adalah 12.228.817,2 Jiwa. Pn = Po(1+r)n Pn = 9.147.993 (1+1,27%)23 Pn = 9.147.993 x 1,336775968 Pn = 12.228.817,2 Jiwa. Jumlah penduduk DKI tahun 2030 yang dalam RTRW 2030 dibatasi menjadi 10 juta dikarenakan proyeksi daya tampung tenaga kerja pada Kota Jakarta sebagai kota jasa tidak memungkinkan jumlah penduduk diatas 10 Juta. Sedangkan pertambahan penduduk di Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang jauh lebih pesat. Pergeseran ini menunjukkan bahwa

4-13

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

kaum migran lebih memilih bertempat tinggal di sekitar Jakarta di mana mereka bisa mendapatkan tanah relatif lebih murah dan mudah. Disamping itu perkembangan penyediaan sarana penddikan, kesehatan, perbelanjaan dan lain-lain tampaknya juga cukup memadai. Sebagaimana ditetapkan di dalam RTRW DKI Jakarta 2030, pada pencapaian pembangunan berdasarkan RTRW 2030 DKI Jakarta mentargetkan bahwa penduduk kota alan mencapai 10.000.000 jiwa. Disamping itu dalam RTRW DKI Jakarta telah memproyeksikan perkembangan penduduknya dengan hasil sebagai berikut : Perkiraan jumlah penduduk untuk tahun 2030 didasarkan kepada jumlah penduduk yang tercatat sejak 10 tahun terakhir yaitu tahun 2000. Berdasarkan data tersebut angka pertambahan penduduk cenderung stabil sampai dengan tahun 2010. Berdasarkan data ini apakah target penduduk kota Jakarta pada tahun 2030 akan tercapai. Sementara dapat dikemukakan bahwa dari evaluasi terhadap data yang dipergunakan ternyata bahwa data tersebut terutama berdasarkan angka yang tercatat sebagai penduduk terdaftar (registered population) yaitu berdasarkan penduduk yang ber KTP. Padahal menurut BPS ada data yang dicatata berdasarkan Pendataan BPS dimana seluruh penduduk yang ada di wilayah DKI Jakarta didata. Maka apabila sasaran pembangunan sebagaimana yang digariskan di dalam RTRW bermaksud ditujukan kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat maka proyeksi penduduk kota ini di dasarkan kepada real population number. Jadi pada RTRW 2030 ini masih belum jelas mengenai dasar pertimbangan perkiraan target penduduk. Selanjutnya adanya indikasi penduduk nyata yang disebutkan dengan jumlah 8 sampai 9 juta jiwa di malam hari dan antara 9 sampai 10 juta pada siang hari juga akan memerlukan pertimbangan data lain yaitu yang menunjukkan adanya faktor-faktor yang berpengaruh pada projeksi kecenderungan nyata (real trend projection) seperti adanya arus ulang alik, atau penduduk sementara (temporary population) antara Jakarta dan wilayah disekitar Jakarta atau wilayah metropolitan Jakarta. 4.1.4. Daya tampung tenaga kerja Perhitungan daya tampung tenaga kerja DKI Jakarta untuk proyeksi sampai dengan tahun 2030 diperhitungkan berdasarkan luas lahan yang digunakan untuk fungsi lahan yang berbasis ekonomi yaitu industri, perdagangan, pergudangan dan perkantoran. Masing- masing kegiatan ekonomi ada standart luasan untuk penggunaan aktivitas ekonomi tersebut yang diambil dari buku data arsitek yang ditulis oleh Ernst Neufert. Untuk kawasan undustri 17,5 m²/pekerja,untuk perdangan 11 m²/pekerja, untuk pergudangan 300 m²/pekerja dan untuk perkantoran 11 m²/pekerja. Proyeksi daya tampung tenaga kerja luasan kawasan yang berbasis ekonomi dibagi dengan luasan standart dari data arsitek. Secara lengkap dijabarkan dalam tabel 4.22. Dari perhitungan yang ada didapat jumlah

4-14

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

daya tampung tenaga kerja untuk Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2030 terdapat 8,665,758.84 pekerja. Dibulatkan menjadi 8.600.000 jiwa pekerja. Tabel 4.22 Tabel Daya Tampung Tenaga Kerja
Luas % dari Luas DKI 3.11% 3.62% 0.20% 6.11% 0.85% 1.78% 3.12% 2.63%

Peruntukan Kawasan Industri Kawasan Perdagangan Kawasan Perdagangan Taman Kawasan Pergudangan Kawasan Perkantoran Kawasan Perkantoran Pemerintah Kawasan Perkantoran Swasta Kawasan Perkantoran Taman Daya Tampung Tenaga Kerja DKI 2030

Luas(m²)

Standart (m²/pekerja) 17.5 11 11 300 11 11 11 11

Daya tampung tenaga kerja 1,177,673.88 2,178,726.06 122,389.74 134,966.96 514,028.72 1,071,472.33 1,881,362.69 1,585,138.47 8,665,758.84

20609292.85 23965986.62 1346287.104 40490086.69 5654315.971 11786195.6 20694989.56 17436523.22

Sumber: Hasil Perhitungan PT. Jakarta Konsultindo 4.1.5. Kepadatan Penduduk 4.1.4.1 Kepadatan Penduduk DKI Jakarta Jika dibandingkan dengan luas wilayah DKI Jakarta yang tidak berubah yaitu 661,62, maka kepadatan penduduk DKI Jakarta terus meningkat. Pada tahun 1990 kepadatan penduduk DKI Jakarta mencapai 12.484 jiwa per Km, pada tahun 2001 meningkat menjadi 12.691 jiwa per km, terus naik menjadi 13.691 jiwa per km pada tahun 2007. Paningkatan kepadatan penduduk ini terjadi pada seluruh wilayah kota administrasi termasuk kabupaten kepulauan seribu. Wilayah jakarta pusat merupakan memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 18.578 jiwa per km pada tahun 2007. Kota administrasi yang relatif jarang penduduknya adalah Jalarta Utara dengan luas wilayah142,31 km, kepadatan penduduknya hanya sekitar 10.211 jiwa per km, dan tingkat kepadatan yang terendah adalah kabupaten administrasi kepulauan seribu yaitu 2.205 jiwa per km.

4-15

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.3 Tabel dan Grafik Kepadatan Penduduk DKI Jakarta per Km2 Thn 1971-2005
16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0 1971 1980 1990 2000 2005

Sumber : Bappenas, 2005

Tabel 4.23 Penduduk DKI Jakarta, Luas Wilayah, Sex Ratio Dan Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya/Kabupaten Tahun 2008

Sumber : Buku Data 2008 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta http://dinas-nakertrans.jakarta.go.id

Tabel 4.24 Jumlah Kepadatan Penduduk per Wilayah Kota Adm. Bulan Maret 2009
Wilayah Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. Seribu TOTAL WNI LK 506.883 776.804 869.713 1.062.786 1.420.952 11.338 4.647.476 P 420.341 643.940 764.912 830.521 1.193.472 10.341 3.863.527 LK 198 276 334 396 113 0 1.317 WNA P 140 245 319 256 105 0 1.065 Total 926.562 1.421.265 1.635.278 1.893.959 2.614.642 21.679 8.513.385 Luas 2 (Km ) 47,14 129,69 125,25 145,73 188,26 8,7 644,77 Kepadatan / 2 Km 19.655,54 10.958,94 13.056,11 12.996,36 13.888,46 2.491,84 73047,25

Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya, 2009

4-16

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

4.1.4.2

Kepadatan Penduduk Bodetabek Tabel 4.25 Kepadatan Penduduk Di Jabodetabek Tahun 2000
No. A 1 2 3 4 5 B 1 2 3 4 5 6 7 C Wilayah DKI JAKARTA Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Selatan Jakarta Barat Sub. Jumlah BODETABEK Kab. Bogor Kota Bogor Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Kab. Bekasi Kota Bekasi Sub. Jumlah JABODETABEK Luas Wilayah (Ha) Jumlah Penduduk (jiwa) 874.595 1.436.336 2.347.917 1.784.044 1.904.191 7.840.504 3.775.420 697.496 903.934 2.817.300 1.384.937 1.685.175 1.543.847 12.808.109 20.648.613 Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) 230 75 110 136 120 118 16 59 45 23 84 13 73 23 33

4.817 15.411 18.773 14.573 12.711 66.292 237.121 11.85 20.029 123.03 16.431 127.388 21.049 556.898 623.19

Sumber : DKI Jakarta dan Kabupaten/Kotamadya dalam Angka

4.1.6. Laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan hasil Kajian Upaya Perwujudan Kota Jakarta Yang Berkelanjutan, dari data diatas didapat pertambahan jumlah penduduk untuk kurun tahun 1986-2007 terbagi sebagai berikut : a. Jakarta Selatan 20,815 b. Jakarta Pusat (16,020) c. Jakarta Barat 56,189 d. Jakarta Timur 33,123 e. Jakarta Utara 12,930 f. Provinsi DKI Jakarta 106,931 Terlihat bahwa id Provinsi DKI jakarta terdapat wilayah dengan pertambahan yang negatif, yakni di Jakarta Pusat. Pertambahan tertinggi terjadi di Jakarta Barat. Tabel 4.26 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007
No. 1 2 3 4 5 Tahun 86 - 87 87 - 88 88 - 89 89 - 90 90 - 91 Jakarta Selatan 5.65% 2.03% 2.35% 0.49% 1.77% Laju Pertambahan Jumlah Penduduk Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Pusat Barat Timur Utara 1.02% 5.76% 5.62% 3.19% -0.40% 0.74% 2.87% 1.87% -0.67% 1.76% 2.70% 6.52% -1.42% 1.29% 4.11% 0.00% -0.25% 1.88% 2.93% -0.74% RataRata 4.46% 1.53% 2.41% 1.11% 1.37%

4-17

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

No. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 23

Laju Pertambahan Jumlah Penduduk Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Selatan Pusat Barat Timur Utara 91 - 92 1.43% -1.47% 2.32% 2.63% 1.49% 92 - 93 0.00% 0.18% 0.00% -0.18% 0.09% 93 - 94 3.09% -0.97% 2.43% 4.70% 3.66% 94 - 95 0.83% -0.19% 0.14% 1.13% -0.47% 95 - 96 0.34% 0.13% -0.09% 2.00% 2.11% 96 - 97 0.04% -0.50% 1.32% 0.34% -1.03% 97 - 98 3.82% -0.50% 1.98% 3.66% 2.06% 98 - 99 -0.86% -0.04% 1.34% 0.85% 0.44% 99 - 00 -11.85% -4.65% 1.12% -0.92% 1.82% 00 - 01 -3.38% -12.01% 1.74% 0.52% 1.04% 01 - 02 0.68% -0.76% -1.13% 1.02% -1.09% 02 - 03 0.90% -2.63% 0.00% 0.56% -0.23% 03 - 04 0.38% -0.53% -0.12% 0.43% 0.54% 04 - 05 16.83% -3.55% 48.32% 0.84% 1.96% 05 - 06 2.93% 3.51% -8.25% 13.79% 20.43% 06 - 07 -15.73% -1.29% -26.65% -10.53% -17.31% Rata-Rata 0.56% -1.29% 1.71% 1.86% 1.25% Sumber : Kajian Upaya Perwujudan Jakarta Yang Berkelanjutan Tahun

RataRata 1.42% 0.00% 2.82% 0.42% 0.91% 0.13% 2.53% 0.32% -3.38% -1.79% -0.07% 0.00% 0.20% 14.13% 5.35% -15.70% 0.87%

Melambatnya pertambahan penduduk dan tidak tercapainya perkiraan jumlah penduduk 10 juta pada tahun 2030 bukanlah merupakan bencana, tetapi justru merupakan peluang bagi DKI untuk menata ruangnya dengan lebih baik, karena sebelum ini tekanan penduduk yang begitu besar ke DKI telah mempersulit penataan ruang dan cenderung menurunkan kualitas ruang. Memang melambatnya pertambahan penduduk ini merupakan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta melambat dan peran Jakarta sebagai ibukota menyusut sehubungan dengan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah. Tetapi secara nasional pergeseran ini positif dalam arti telah terjadi redistribusi peran dan pertumbuhan yang lebih sehat. Apakah DKI mampu menggunakan peluang ini, merupakan pertanyaan dan tantangan yang sangat mendasar. Setelah berjalan 5 tahun tentu diperlukan evaluasi atas pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana kota Dalam kaji ulang tersebut perlu diperhatikan bahwa yang dilayani oleh prasarana dan sarana kota DKI tidak hanya penduduk yang menetap di wilayah DKI saja. Yang jelas para komuter (pelaju) yang menggunakan prasarana jalan dan sarana angkutan DKI, tempat kerja di DKI, dan banyak juga mereka yang tidak tinggal di Jakarta tetapi menggunakan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan rekreasi di wilayah DKI. Demikian pula para wisatawan yang menggunakan berbagai prasarana dan sarana kota di DKI.

4-18

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.27 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin (x 1000), 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Tabel 4.28 Proyeksi Penduduk DKI Jakarta Menurut Kelompok Umur (x 1000), 2000-2025

Sumber : Bappenas, 2005

4-19

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.4 Grafik Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur (x 1000), DKI Jakarta, 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Tabel 4.29 Proyeksi Penduduk Usia Sekolah Laki dan Perempuan Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

4-20

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.5 Grafik Proyeksi Penduduk Usia Sekolah Laki dan Perempuan Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Gambar 4.6 Grafik Proyeksi Penduduk Laki-laki Usia Sekolah (x 1000), DKI Jakarta, 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Gambar 4.7 Grafik Proyeksi Penduduk Perempuan Usia Sekolah (x 1000), DKI Jakarta, 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

4-21

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.30 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, DKI Jakarta, Thn 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Gambar 4.8 Matriks Piramida Penduduk DKI Jakarta, 2000, 2010, 2015, dan 2020

Sumber : Bappenas, 2005

4-22

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.31 Proyeksi Struktur Umur Penduduk (Jumlah dan Persentase) Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020

Sumber : Bappenas, 2005

Pertambahan penduduk di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara sangat tipis, bahkan di beberapa kelurahan negatif (menurun) karena banyak lahan permukiman yang dibebaskan dan dibangun untuk kegiatan komersial. Di daerah pinggiran perkembangan permukiman sangat cepat dan banyak merambah jalur hijau/daerah pertanian dan daerah genangan air. Perambahan daerah hijau ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan yang meningkat, ketersediaan lahan kosong dan murah, serta pengendalian terhadap tataguna tanah, KDB dan KLB yang belum efektif. Dikhawatirkan bahwa usaha penyesuaian rencana berulang-ulang untuk menampung dinamika lapangan tersebut, akan terus diikuti dengan pelanggaran lain dan berakhir dengan habisnya sama sekali daerah hijau yang sangat penting untuk menjaga kualitas lingkungan. 4.1.7. Proyeksi daya tampung Jumlah penduduk sangat menentukan jumlah dan besaran prasarana dan sarana kota yang harus dibangun. Jumlah dan karakteristik penduduk merupakan dasar penting dalam perencanaan pembangunan. Tetapi perlu diingat bahwa di dalam sektor kependudukan itu sendiri tidak ada mekanisme peraturan dan kendali aktif yang dapat melarang atau memaksakan jumlah penduduk tertentu di suatu kawasan. Upaya mengarahkan pemusatan, pergeseran, atau pertumbuhan tertentu justru lebih banyak melalui kendali tak langsung dalam bentuk peluang membangun permukiman, penyediaan sarana jalan dan transportasi, tempat kerja, dan berbagai kelengkapan lainnya. Dengan kata lain meskipun jumlah penduduk sangat menentukan kebutuhan prasarana dan sarana kota tetapi jumlah penduduk itu sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan dan kebijakan tata ruang. Faktor lain yang mempengaruhi pertambahan penduduk adalah sistem perpajakan, keamanan, dan keserasian sosial.

4-23

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.32 Perhitungan Daya Tampung Tenaga Kerja DKI Jakarta 2030
Peruntukan Kawasan Industri Kawasan Perdagangan Kawasan Perdagangan Taman Kawasan Pergudangan Kawasan Perkantoran Kawasan Perkantoran Pemerintah Kawasan Perkantoran Swasta Kawasan Perkantoran Taman Jumlah Luas(m²) 20609292.9 23965986.6 1346287.1 40490086.7 5654315.97 11786195.6 20694989.6 17436523.2 % Dari Luas.DKI 3.11% 3.62% 0.20% 6.11% 0.85% 1.78% 3.12% 2.63% Standart (m²/pekerja) 17.5 11 11 300 11 11 11 11 Daya tampung tenaga kerja 1,177,673.88 2,178,726.06 122,389.74 134,966.96 514,028.72 1,071,472.33 1,881,362.69 1,585,138.47 8,665,758.84

Sumber : Hasil Perhitungan PT. Jakarta Konsultindo. Dari hasil perhitungan luas peruntukan lahan berbasis ekonomi yang terdiri dari kawasan industri, kawasan perdagangan, kawasan pergudangan, kawasan perkantoran, dibagi dengan standart luasan kebutuhan aktivitas orang pada kegiatan yang berbasis ekonomi yang diambil dari buku data arsitek. Didapatlah daya tampung tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan yanng berbasis ekonomi sebesar 8.600.000 jiwa.

4-24

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.9 Kepadatan Penduduk DKI Jakarta 2010

Sumber : Dinas Tata Kota Sehubungan dengan perubahan/pergeseran perkembangan penduduk di Jakarta, perlu dihitung kembali proyeksi kebutuhan tempat kerja dan kemampuan tiap bagian kota untuk menyerap tenaga kerja tersebut. Perhitungan tersebut perlu memperhatikan kecenderungan penduduk dan perkembangan ekonomi yang mungkin berbeda dengan beberapa tahun terakhir ini di mana terdapat pengaruh krisis ekonomi dan perombakan birokrasi dalam rangka desentralisasi dan otonomi daerah. Kemampuan bagian kota menyediakan tempat kerja harus memperhatikan dengan cermat situasi setempat dan potensi pengembangan berbagai kegiatan ekonomi di bagian kota tersebut, tidak hanya diperhitungkan dari luas kawasan atau lantai bangunan perdagangan, jasa, dan industri. Sehubungan dengan kecenderungan pergeseran permukiman dari pusat kota ke tepi kota karena harga tanah yang semakin mahal, perlu diusahakan agar kawasan pusat kota tetap menarik untuk ditinggali dan tidak menjadi kota mati di malam hari. Disamping mereka yang ingin menepi karena mencari tanah murah, ada juga yang ingin mendekat ke tempat kerja, menghindari kemacetan dan pemborosan waktu berangkat dan pulang kantor. Perlu dikembangkan rangsangan dan dorongan untuk menarik kembali penghuni kota tua dan kawasan pusat kota. Revitalisasi kawasan pusat kota dan kota tua sangat diperlukan untuk menggairahkan kehidupan perkotaan dan mencegah degradasi lingkungan menjadi kota mati di malam hari dan perlahan terdegradasi menjadi kumuh dan tidak aman. Perlu kebijakan konsep perencanaan tata ruang yang tidak lagi menganut zoning peruntukkan murni-wisma, karya, marga, suka, dan penyempurna tetapi menjadi zoning campuran yang multiuse dalam batas-batas keserasian lingkungan ekonomi, sosial dan budaya. Insentif

4-25

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

perpajakan, pengadaan prasarana dan sarana, serta pengembangan kegiatan sosial budaya akan sangat membantu. Dalam persebaran jumlah penduduk sangat perlu diperhatikan karakteristik dan tingkat pendapatan kelompok masyarakat di lokasi tertentu, karena kelompok masyarakat yang berbeda tersebut mempunyai kebutuhan, kemampuan dan gaya hidup yang berbeda. Perlu diperhatikan alokasi ruang kota untuk masyarakat berpenghasilan rendah karena mereka cenderung terdesak dan tergeser oleh unsur-unsur lainnya. Keberadaan masyarakat berpenghasilan rendah tidak boleh dilihat hanya sebagai beban, karena mereka juga berjasa menyumbang tenaga produktif pada kehidupan ekonomi dan pembangunan perkotaan. Keberadaan berbagai lapisan masyarakat yang berbeda di suatu kawasan adalah wajar dan harus difasilitasi agar terjadi interaksi sosial yang harmonis. Segregasi atau pemisahan kelompok etnis maupun strata sosial secara tajam akan berbahaya dan mungkin dapat menuju pada kesenjangan dan konflik sosial. Sebagian masyarakat yang sangat miskin tidak mampu menjangkau permukiman dan standar perkotaan yang wajar sehingga sering dilihat sebagai ”pengganggu” keserasian dan keindahan kota. Sebagian dari mereka tinggal di daerah terlarang seperti di tepi sungai, di bawah jembatan, di pingir rel kereta api dan lokasi prasarana kota. Penanganan masalah ini perlu diharap dengan bijaksana dalam kombinasi memfasilitasi, mendidik, memberdayakan dan menertibkan sehinga berangsur-angsur terbangun kehidupan dan permukiman yang positif. Proses membina warga kota membentuk masyarakat yang dinamis, bersemangat, bertanggungjawab, dan menghormati hak dan kewajiban di antara sesama warga kota perlu dikembangkan dengan sistematis. Aspek kependudukan tidak hanya dilihat dari segi jumlah dan kepadatan, tetapi juga dari segi kualitas, sikap, dan perilakunya. Dahulu program kependudukan dan keluarga berencana pernah bergema dengan nyaring dan menjangkau ke seluruh pelosok berkat keyakinan yang tinggi dari para penggagas dan pelakunya. Program peningkatan kualitas penduduk perlu didorong dengan semangat dan sumberdaya yang sekuat itu. Perlu diingat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan pendidikan untuk memberi bekal ilmu pengetahuan, atau pengembangan kemampuan rasional. Perlu dikembangkan juga kemampuan hidup bermasyarakat dan kepekaan pada nilai-nilai etika dan moral dalam membentuk kota dan masyarakatnya yang beradab dalam suatu komunitas sosial budaya, dan sosial ekonomi. Peningkatan kepekaan pada sistem nilai banyak terkait dengan oleh rasa pada kegiatan seni budaya. Sayang sekali aspek ini belum benyak mendapat perhatian. Kembali pada pengendalian kependudukan penetapan angka-angka jumlah dan kepadatan penduduk di suatu kawasan, saat ini masih sangat lemah perangkat pelaksanaannya. Pengendalian melalui KTP belum efektif. Masih banyak KTP dobel dan KTP bodong. Sementara itu juga belum ada ketetntuan tentang pengendalian jumlah pendduk suatu lingkungan. Bagaimana aparat mengendalikan pertambahan penduduk yang sudah terlalu padat, memerlukan mekanisme dan prosedur yang

4-26

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

jelas untuk menerapkannya. Saat ini administrasi kependudukan sebagai sarana registrasi penduduk belum optimal. Untuk meningkat menjadi ”sarana pengendalian” masih diperlukan upaya lebih jauh lagi. Sementara perangkat itu belum berkembang, tampaknya pengendalian kependudukan justru lebih mungkin digarap melalui pengendalian tata guna tanah dan intensitas bangunan. Ketentuan tentang land use, ketinggian bangunan, Koefisien Dasar bangunan, dan Koefisien Lantai Bangunan dapat menjadi alat yang untuk mengendalikan jumlah penduduk jika digarap dengan efektif. Pelanggaran pada batasan ini sangat mudah dilihat secara visual sehingga masyarakat dapat membantu mengawasi dan memberi informasi jika terjadi pelanggaran. Kebijakan kependudukan dan kaitannya dengan berbagai sektor pembangunan perlu digarap dengan saksama. Parameter Demografi DKI Jakarta Tabel 4.33 Parameter Demografi DKI Jakarta (x1000) , 2000 – 2005

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2000-2005

Persebaran Penduduk (sumber : Kajian Upaya Perwujudan Jakarta Yang Berkelanjutan) Pada tahun 1975, 28% penduduk Jakarta tinggal di Jakarta Pusat sedangkan di pinggiran barat dan timur hanya ditinggali oleh masingmasing sekitar 13 % penduduk Jakarta. Pada masa itu kepadatan penduduk di pusat Jakarta mencapai 263 jiwa/ha dan dipinggiran hanya

4-27

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

sekitar 40 jiwa/ha. Memasuki tahun 1980, penduduk Jakarta mulai bergeser kearah selatan yang ditandai oleh peningkatan kepadatan penduduk dari 72 jiwa/ha menjadi 109 jiwa/ha. Sementara di bagian pusat mengalami penurunan kepadatan. Kecenderungan ini terus berlangsung hingga awal 1990. Pada periode 1990 hingga 2000, kecenderungan kependudukan mengalami perubahan yang mana wilayah barat dan timur mulai mengalami limpahan penduduk dari pusat Jakarta. Pada kedua wilayah tersebut kepadatan penduduk meningkat pesat masing-masing dari 105 jiwa/ha menjadi 151 jiwa/ha dan dari 88 jiwa/ha menjadi 129 jiwa/ha. Kecenderungan di atas mengindikasikan bahwa wilayah pusat Jakarta memang bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Dan dalam penetapan rencana tata ruangnya pun wilayah kota merupakan kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa yang berakibat menurunya jumlah rumah atau tempat tinggal. Selain itu nilai Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) yang tinggi di wilayah kota menjadi beban berat bagi keluarga, sehingga terjadi pergeseran fungsi perumahan menjadi fungsi kegiatan usaha. Konsekuansi logis dari preferensi lokasi tersebut adalah terjadinya aliran penduduk dalam jumlah beesar dari pinggiran ke Pusat pada pagi hari dan arah sebaliknya pada malam hari. Tingkat Fertilitas/Kelahiran dan Mortalitas/ Kematian Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan pendapat Beny Darmawan dalam Makalah Perkiraan Pola Migrasi Antarprovinsi Di Indonesia Berdasarkan “Indeks Ketertarikan Ekonomi”, dikatakan bahwa dinamika kependudukan terjadi karena adanya dinamika kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi) terhadap perubahan-perubahan dalam jumlah, komposisi dan pertumbuhan penduduk. Perubahan-perubahan unsur demografi tersebut kemudian mempengaruhi perubahan dalam berbagai bidang pembangunan secara langsung maupun tidak langsung. Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping migrasi masuk. Sementara mortalitas atau kematian merupakan indikator untuk memonitor kinerja pemerintah pusat maupun lokal dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

4-28

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.34 Angka Kelahiran menurut Umur Wanita, Daerah, Periode dan Provinsi Tahun 1997

KetKetr : TFR / Total Fertility Rate : Angka Fertilitas Total Sumber : BPS, Estimasi Parameter Demografi, BPS (/http://demografi.bps.go.id/)

4-29

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.35 Trend Angka Fertilitas Total menurut Provinsi di Indonesia Tahun 1968-2000

Ketr : TFR / Total Fertility Rate : Angka Fertilitas Total Sumber : BPS, Estimasi Parameter Demografi, BPS (/http://demografi.bps.go.id/)

Tabel 4.36 Angka Kelahiran menurut Umur Wanita dan Periode di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1968-1999
Referensi waktu 1968 (1966 - 1970) 1972 (1970 - 1975) 1977 (1975 - 1979) 1982 (1980 - 1984) 1987 (1985 - 1989) 1992 (1990 - 1994) 1997 (1995 - 1999) 15-19 140 107 94 71 36 26 20 Umur Wanita (Kelahiran per 1000 Wanita) 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 266 241 208 171 121 97 73 268 252 213 171 138 122 98 198 185 157 139 100 85 78 110 113 87 74 49 41 39 41 46 31 20 16 10 14 12 12 8 4 5 4 5 TFR 5.17 4.78 3.99 3.25 2.33 1.93 1.63

Ketr : TFR / Total Fertility Rate : Angka Fertilitas Total Sumber : BPS, Estimasi Parameter Demografi, BPS (/http://demografi.bps.go.id/)

Tabel 4.37 Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Jenis Kelamin di Indonesia
Propinsi / Province Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Jenis Kelamin/Sex Laki-laki Perempuan Male Female 45.17 34.56 49.47 38.24 59.07 46.61 Total Total 39.71 43.69 52.66

4-30

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Jenis Kelamin/Sex Propinsi / Province Laki-laki Perempuan Male Female Riau 53.76 41.94 Jambi 59.07 46.61 Sumatera Selatan 59.07 46.61 Bengkulu 59.07 46.61 Lampung 53.76 41.94 Kep. Bangka Belitung 59.07 46.61 DKI Jakarta 28.77 21.03 Jawa Barat 63.33 50.34 Jawa Tengah 49.47 38.24 DI Yogyakarta 28.77 21.03 Jawa Timur 53.77 41.95 Banten 72.87 58.78 Bali 40.86 30.89 Nusa Tenggara Barat 97.12 80.47 Nusa Tenggara Timur 63.33 50.34 Kalimantan Barat 63.33 50.34 Kalimantan Tengah 53.76 41.94 Kalimantan Selatan 77.10 62.53 Kalimantan Timur 45.17 34.56 Sulawesi Utara 32.08 23.71 Sulawesi Tengah 72.87 58.78 Sulawesi Selatan 63.33 50.34 Sulawesi Tenggara 59.07 46.61 Gorontalo 63.33 50.34 Maluku 67.57 54.09 Maluku Utara 82.38 67.24 Papua 63.33 50.34 Sumber :SP 2000, BPS (/http://demografi.bps.go.id/)

Total Total 47.68 52.66 52.66 52.66 47.68 52.66 24.79 56.65 43.69 24.79 47.69 65.62 35.72 88.55 56.65 56.65 47.68 69.60 39.71 27.77 65.62 56.65 52.66 56.65 60.63 74.59 56.65

Tabel 4.38 Registrasi Kelahiran, Kematian, Perkawinan, Perceraian, dan Pengesahan/Pengakuan Anak Menurut Kota Adm.Thn. 2007
Kota Administrasi Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Kepulauan Seribu Total 2006 2005 2004 2003 Kelahiran Umum 42024 38346 30140 69405 25001 812 205728 128757 125873 222088 217951 Istimewa 69273 3344 3246 Kematian 454 645 555 2664 1058 37 5413 38417 5669 6261 5069 Perkawinan 861 1218 692 352 213 6929 10265 3495 3269 9250 9786 Perceraian 50 58 25 21 456 610 165 192 653 648 19 1408 1528 2608 2634 Pengesahan dan Pengakuan Anak 5 13 2 6

Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Prov. DKI Jakarta, BPS, 2007

4-31

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.39 Jumlah Kelahiran dan Kematian di DKI Jakarta Bulan Maret 2009
Lahir Mati LK PR Jumlah LK PR Jakarta Pusat 138 135 273 240 197 Jakarta Utara 382 361 743 305 246 Jakarta Barat 415 376 791 293 Jakarta Selatan 543 459 1.002 316 243 Jakarta Timur 1.070 1.002 528 423 Kep. Seribu 11 10 21 2 6 TOTAL 2.559 2.343 4.902 1.684 1.376 Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya 2009, http://www.kependudukancapil.go.id/ Wilayah Jumlah 437 551 554 559 8 3.060

Migrasi Penduduk 1) Pengertian Migrasi Menurut Munir R dalam Dasar-dasar Demografi, Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian dalam suatu negara. Tabel 4.40 Proporsi Tujuan Migrasi Provinsi Terbesar di Indonesia Tahun 2005 (tanpa pengaruh ekonomi)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Provinsi Asal Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Papua Proporsi Provinsi Tujuan Terbesar Provinsi Tujuan Riau Kepulauan Riau Kepulauan Riau Sumatera Barat Jawa Barat Sumatera Selatan Jawa Barat Jawa Barat DKI Jakarta DKI Jakarta Jawa Barat DKI Jakarta Jawa Timur Bali Jawa Timur Jawa Timur Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Papua Sulawesi Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Papua Jawa Timur Besarnya 7.9 4.25 2.93 5.78 2.7 5.09 2.96 43.89 4.77 7.25 4.35 1.55 5.06 2.82 1.68 2.07 9.39 4.77 4.42 2.43 4.64 5.76 6.55 5.68 3.59

Sumber : BPS 2005, Survey Antar Sensus Penduduk Indonesia

4-32

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.41 Jumlah Kedatangan dan Kepindahan Penduduk di DKI Jakarta Bulan Maret 2009
Datang Pindah PR Jumlah LK PR Jakarta Pusat 91 90 181 129 141 Jakarta Utara 110 92 202 229 205 Jakarta Barat 135 154 289 251 220 Jakarta Selatan 255 350 605 404 410 Jakarta Timur 757 733 1.490 746 742 Kep. Seribu 0 1 1 0 0 TOTAL 1.348 1.420 2.768 1.759 718 Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kotamadya 2009, http://www.kependudukancapil.go.id/ Wilayah LK Jumlah 270 434 471 814 1.488 0 2.477

2) Angka Migrasi Neto Tabel 4.42 Tingkat Angka Migrasi Neto menurut Umur (ASNMR), DKI Jakarta, SP 2000

Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, dan 2000

4-33

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

3) Pola Migrasi Penduduk Gambar 4.10 Matriks Riset Masuk dan Keluar menurut Jenis Kelamin, DKI Jakarta, SP 2000
60.00 Mig Masuk Laki-laki Mig. Keluar Laki-laki Mig Masuk Perempuan 40.00 Mig. Keluar Perempuan

50.00

AS M R

30.00

20.00

10.00

0.00
0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+

Kel. Umur

Sumber : Bappenas, 2005

Gambar 4.11 Matriks Angka Migrasi Neto menurut Umur (ASNMR), DKI Jakarta, SP 2000
30 20 10 0 -10 -20 -30 -40
-22.70 -26.66 -31.53 -14.38 -18.43 -22.70 -12.61 -13.81 -13.30 -10.81 -11.22 -19.57 3.08 0-4 4.61 3.75 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ 24.61

Sumber : Bappenas, 2005

Penduduk Komuter Konsep Jabotabek tahun 1970 menimbulkan fenomena dalam kependudukan di Jakarta, yaitu adanya gerak penduduk ulang alik (commuting). Gerak penduduk ulang alik adalah gerak penduduk dari daerah asal menuju daerah tujuan dalam batas waktu tertentu dan kembali ke daerah asal pada hari itu juga. Dalam buku Mobilitas Penduduk Sirkuler oleh Ida Bagus Mantra disebutkan bahwa jangka

4-34

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

waktu mobilitas ulang-alik diukur selama enam jam atau lebih. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Jakarta yang menetap di Jakarta adalah sebesar 8,4 juta penduduk, tidak termasuk penduduk komuter atau pergerakan ulang alik harian dari Bogor, Tangerang, Bekasi ke kota inti Jakarta. 1) Komuter menurut Golongan Umur dan Jarak Tempuh ke Tempat Kegiatan • Provinsi DKI Jakarta

Tabel 4.43 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jarak Tempuh ke Tempat Kegiatan DKI Jakarta

Sumber : Badan Pusat Statistik •

Provinsi Banten

Tabel 4.44 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jarak Tempuh ke Tempat Kegiatan Banten

Sumber : Badan Pusat Statistik

4-35

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Provinsi Jawa Barat

Tabel 4.45 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jarak Tempuh ke Tempat Kegiatan Jawa Barat

Sumber : Badan Pusat Statistik

2) Komuter menurut Golongan Umur dan Jenis Kegiatan • Provinsi DKI Jakarta

Tabel 4.46 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jenis Kegiatan DKI Jakarta

Sumber : Badan Pusat Statistik

4-36

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Provinsi Banten

Tabel 4.47 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jenis Kegiatan Banten

Sumber : Badan Pusat Statistik

Provinsi Jawa Barat

Tabel 4.48 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Jenis Kegiatan Jawa Barat

Sumber : Badan Pusat Statistik

4-37

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

3) Komuter menurut Golongan Umur dan Lama Perjalanan ke Tempat Kegiatan, DKI Jakarta • Provinsi DKI Jakarta

Tabel 4.49 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Lama Perjalanan ke Tempat Kegiatan DKI Jakarta

Sumber : Badan Pusat Statistik

Provinsi Banten

Tabel 4.50 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Lama Perjalanan ke Tempat Kegiatan Banten

Sumber : Badan Pusat Statistik

4-38

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Provinsi Jawa Barat

Tabel 4.51 Jumlah Komuter Menurut Umur dan Lama Perjalanan ke Tempat Kegiatan Jawa Barat

Sumber : Badan Pusat Statistik

4.2. Pertumbuhan Ekonomi 4.2.1. Kondisi perekonomian Jakarta saat ini Jakarta adalah ibukota propinsi memiliki perekonomian propinsi terbesar di Indonesia, PDRB/kapita non migas terbesar di Indonesia, perekonomian sektor jasa (perdagangan, keuangan), investasi PMA terbesar di Indonesia. Perhitungan pertumbuhan ekonomi dilakukan atas dasar data PDRB atas dasar harga konstan. Data PDRB Provinsi DKI Jakarta atas dasar harga konstan untuk kurun 1991 – 2007 dilandaskan pada 3 tahun dasar, yakni 1983, 1993 dan 2000. Hal ini akan menjadi tahun data PDRB Provinsi DKI Jakarta atas dasar harga konstan. Segenap data PDRB Provinsi DKI Jakarta atas dasar harga konstan untuk kurun 1991 – 2007 tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.53 Tabel 4.52 PDRB Sektoral Atas Dasar Harga Konstan
No. 1 2 3 4 5 6 Wilayah PDRB Berdasarkan Harga Konstan 1983 1991 1992 1993 144,428.00 124,943.00 123,035.00
-

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan 10,708,576.00 Listrik, Gas dan Air Bersih 900,449.00 Bangunan / Konstruksi 6,651,134.00 Perdagangan, Hotel dan 11,316,760.00 Restoran 7 Pengangkutan dan Komunikasi 4,445,521.00 8 Keuangan, Perusahaan dan 11,570,579.00 Jasa Perusahaan 9 Jasa-Jasa 5,369,013.00 10 Provinsi DKI Jakarta 51,106,460.00 Sumber : Badan Pusat Statistik. DKI Jakarta

11,651,126.00 974,402.00 7,595,541.00 12,317,610.00 4,668,405.00 12,592,349.00 5,580,892.00 55,505,268.00

11,865,289.00 1,009,380.00 8,783,484.00 13,664,018.00 5,100,642.00 13,326,468.00 5,776,374.00 59,648,690.00

4-39

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambaran kemajuan perekonomian suatu daerah juga dapat dilakukan dengan mengelompokkan kegiatan perekonomiannya berdasarkan lapangan usaha. Berdasarkan lapangan usaha, terdapat tiga kelompok lapangan usaha, yaitu : a. Sektor Primer, yaitu sektor yang tidak mengolah bahan mentah atau bahan baku melainkan hanya mendayagunakan sumber-sumber alam, seperti tanah dan kandungan deposit di dalamnya. Yang termasuk kelompok ini adalah sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian. b. Sektor Sekunder, yaitu sektor yang mengolah bahan mentah atau bahan Baku, baik yang berasal dari sektor primer maupun dari sektor sekunder menjadi barang yang lebih tinggi nilai tambahnya. Sektor ini mencakup sektor industri pengolahan, sektor listrik gas dan air minum, dan sektor konstruksi. c. Sektor Tersier atau Sektor Jasa, yaitu sektor yang tidak memproduksi barang dalam bentuk fisik melainkan dalam bentuk jasa. Sektor ini adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor bank dan lembaga keuangan lainnya, serta sektor jasa-jasa. Tabel 4.53 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 1991 - 1993
No. Wilayah Laju Pertumbuhan Ekonomi 1001 - 1993 1991-1992 1992-1993 Rata-Rata 1991 - 1993 -13.49% -1.53% -7.51% 0.00% 0.00% 0.00% 8.80% 1.84% 5.32% 8.21% 3.59% 5.90% 14.20% 15.64% 14.92% 8.84% 10.93% 9.89% 5.01% 9.26% 7.14% 8.83% 5.83% 7.33% 3.95% 8.61% 3.50% 7.46% 3.72% 8.04%

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Perusahaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Provinsi DKI Jakarta

Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo

Tabel 4.54 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 1994 - 2000
No. Wilayah 19941995 1.08% 0.00% 5.75% 12.93% 19951996 15.00% 0.00% 17.97% -8.81% Laju Pertumbuhan Ekonomi 1994 - 2000 1996199719981997 1998 1999 11.33% -0.96% -2.02% 0.00% 0.00% 0.00% 2.63% 5.25% 3.91% 7.29% 3.46% 4.09%

1 2 3 4

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih

19992000 -2.80% 0.00% 2.75% 5.12%

Rata-Rata 1994-1999 -1.39% 0.00% 0.09% 4.31%

4-40

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

No.

Wilayah 19941995 5.35% 5.84% 6.92% 4.27% 0.28% 5.11% 19951996 38.29% 15.55% 11.99% -8.94% 11.63% 17.37%

5 6 7 8 9 10

Bangunan / Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Perusahaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Provinsi DKI Jakarta

Laju Pertumbuhan Ekonomi 1994 - 2000 19961997199819991997 1998 1999 2000 -2.80% 2.04% 1.59% 2.93% 0.77% 2.17% -6.87% 5.09% -0.43% 4.54% 6.17% 4.75% 4.15% 4.33% 4.47% 5.43% 3.43% 3.02% 3.64% 5.06% 5.69% 3.68% 2.96% 3.88%

Rata-Rata 1994-1999 -4.86% 0.86% 2.40% 0.05% 0.65% -0.14%

Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo.

Tabel 4.55 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 2001 - 2007
No. Wilayah 20012002 6.75% 2.41% 6.31% 7.48% 9.72% 10.02% 28.89% 5.02% 20022003 15.71% 14.08% 5.05% 5.70% 4.04% 6.60% 12.57% 3.97% Laju Pertumbuhan Ekonomi 2001 - 2007 20032004200520062004 2005 2006 2007 -1.27% 1.05% 1.13% 1.55% -6.81% 5.74% 5.66% 4.42% 6.96% 12.63% 4.17% -7.24% 5.07% 6.95% 5.89% 7.89% 13.28% 4.10% 1.87% 4.82% 4.99% 7.12% 6.47% 14.36% 3.82% 0.46% 4.75% 5.20% 7.81% 6.88% 15.25% 4.47%

1 2 3 4 5 6 7 8

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Perusahaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Provinsi DKI

Rata-Rata 2001-2007 -1.08% -3.90% 5.29% 6.00% 6.50% 7.47% 16.16% 4.26%

9 10

7.08% 8.28%

5.24% 5.31%

4.65% 5.65%

5.06% 6.01%

5.56% 5.92%

6.08% 6.47%

5.61% 6.27%

Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo

Tabel 4.56 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2007
No. 1 2 3 Wilayah Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan RataRata 19911993 -7.51% 0.00% 5.32% RataRata 19941999 -1.39% 0.00% 0.09% RataRata 20012007 -1.08% -3.90% 5.29% RataRata 19912007 -3.33% -1.30% 3.57%

4-41

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

No. 4 5 6 7 8

Wilayah

Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan / Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Perusahaan dan Jasa Perusahaan 9 Jasa-Jasa 3.72% 0.65% 5.61% 10 Provinsi DKI 8.04% -0.14% 6.27% Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo

RataRata 19911993 5.90% 14.92% 9.89% 7.14% 7.33%

RataRata 19941999 4.31% -4.86% 0.86% 2.40% 0.05%

RataRata 20012007 6.00% 6.50% 7.47% 16.16% 4.26%

RataRata 19912007 5.40% 5.52% 6.07% 8.57% 3.88% 3.33% 4.72%

Gambar 4.12 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2007
10.00% 8.00% 6.00% 4.00% 2.00% 0.00% -2.00% P rta ia e n n In u P n o h n d stri e g la a P n a g ta d n K m n si e g n ku n a o u ika B n u a / K n ksi a g n n o stru Ja -Ja sa sa -4.00%

Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo Jakarta sebagai pusat segalanya dari perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak berbeda jauh dengan nasional. Konsentrasi sektor keuangan dan perbankan nasional meskipun tidak sebesar era sentralisasi. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat dan investasi dengan sektor transportasi dan komunikasi, perdagangan, keuangan, serta bangunan menjadi sumber pertumbuhan utama. Kegiatan perekonomian yang ada di kota Jakarta adalah berbasis industri dan perdagangan. Penataan dan pengembangan Basis Industri dan Perdagangan dan jasa: • Melakukan pengkajian basis ekonomi industri termasuk keterkaitannya dengan sektor-sektor produksi lainnya dan sektor distribusi.

4-42

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Merumuskan strategi peningkatan daya saing melalui pengembangan kawasan industri berbasis sumber daya pertanian dan perikanan, kawasan industri berbasis tenaga kerja terampil dan terlatih dan kawasan industri berbasis padat modal. Mengembangakan pola keterkaitan usaha produksi, distribusi dan jasa pelayanan dalam kawasan industri. 1. Arah dan kebijakan pembangunan industri dan perdagangan Propinsi DKI Jakarta: Sub Sektor Industri : Menjadikan usaha industri yang sehat, berteknologi tepat guna, mandiri dan tahan terhadap globalisasi, ramah lingkungan dalam suatu kawasan industri yang mampu memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya termasuk industri serta meningkatkan ekspor. Sub Sektor Perdagangan : Menciptakan sistim perdagangan yang sehat dan efisien, adil dan dinamis bagi semua skala usaha, serta mengembangkan jaringan distribusi produk industri dan perdagangan. 2. Strategi Pembangunan propinsi DKI Jakarta Perindustrian dan Perdagangan

Strategi Pembangunan prindustrian dan prdagangan propinsi DKI Jakarta propinsi DKI Jakarta pada hakekatnya bersifat multidimensional lalu lintas sektoral/regional guna menjamin terselenggaranya pembangunan sesuai visi, misi, dan sasaran yang telah ditetapkan: 1. Sinergi antara Pemerintah, Dunia Usaha, dan masyarakat; 2. Peningkatan peran industri kecil dan dagang kecil dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat; 3. Pemanfaatan keunggulan komperatif dan penciptaan keunggulan komperatif dalam rangka menghadapi persaingan global; 4. Peningkatan kandungan lokal dan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan devisa dan mendorong kemadirian ; 5. Penataan kelembagaan dalam rangka pengamanan proses industrialisasi dalam era perdagangan bebas; 6. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sektor industri dan perdagangan secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi; 7. Pengembangan dan penguatan sumber daya informasi dalam mendorong pembangunan sektor industri dan perdagangan. Kondisi Umum Sektor Perdagangan Sebaran guna lahan perdagangan, jasa dan perkantoran di Jakarta, hampir merata di segenap wilayah Jakarta, utamanya pada ruas-ruas

4-43

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

jalan aretri dan kolektor. Pada jalan lokal, guna lahan perdagangan, jasa dan perkantoran juga dapat dijumpai, namun yang berskala kecil. Dari sebaran yang nyaris merata tersebut, dominasi guna lahan perdagangan di kelima wilayah menunjukkan pola yang sama yaitu didominasi oleh pusat perbelanjaan sewa. Berkembangnya guna lahan jasa dan perkantoran di peruntukan perumahan berkembang secara diam-diam, walaupun peraturan yang ada tegas-tegas melarang hal ini. Ini terjadi, antara lain di Jl. Kemang, Jl. Iskandar Muda (Pondok Indah), dan Kawasan Kebayoran Baru. Guna lahan perdagangan yang dicerminkan oleh pusat perbelanjaan sewa, terdapat terutama di Kota Administrasi Jakarta Barat, Kota Administrasi Jakarta Timur dan Kota Administrasi Jakarta Selatan. DI Kota Administrasi Jakarta Pusat dan Kota Administrasi Jakarta Utara terdapat juga, walaupun semakin mengecil. Berdasarkan sistem penjualan produknya, pasar swasta di Jakarta di kelima wilayah didominasi oleh sistem penjualan secara eceran. Pasar swasta yang menjual produk secara grosiran hanya terdapat di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, yaitu : pusat perbelanjaan JITC Mangga Dua dan Mangga Dua Mall di Jakarta Pusat, Tanah Abang di Jakarta Utara serta Cipulir Plaza di Jakarta Selatan. Berdasarkan jenis produk yang dijual, perdagangan di kelima wilayah Jakarta didominasi oleh pasar campuran. Sedangkan pasar yang menjual specialty produk hanya terdapat di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Pasar swasta di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat didominasi oleh pasar untuk kelas menengah ke atas. Sementara wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Timur didominasi oleh pasar untuk kelas menengah ke bawah. Sebaran CBD/pusat kota dalam wilayah DKI Jakarta relatif merata di setiap wilayah kotamadya. CBD, yang dalam terminologi RTRW disebut sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pusat kegiatan penunjang. Perkem-bangan CBD cukup pesat, terutama dimotori oleh pertumbuhan fasilitas perdagangan dan jasa. Area CBD relatif rentan terhadap bahaya kebakar-an akibat dari beberapa sebab, antara lain : Tingginya aktivitas harian yang banyak menggunakan peralatan yang terkait dengan pemicu kebakaran, seperti : listrik, bendabenda mudah terbakar, dan lain-lain. Kekosongan gedung pada malam hari dan hari-hari libur. Sebagai salah satu lokasi sasaran unjuk rasa dan terorisme yang dapat menyebabkan kebakaran (arson fire). Sarana dan prasarana pencegahan kebakaran gedung yang minim. Dalam trend perkembangan kota CBD memegang peranan penting ka-rena menyangkut pembentukan struktur ruang kota dan aglomerasi bangunan-bangunan tinggi (high rise building).

4-44

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.13 Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2007
10.00% 5.00% 0.00% -5.00% -10.00% -15.00% 1991-1992 1994-1995 1996-1997 1998-1999 2001-2002 2003-2004 2005-2006 -20.00%

A.

Pusat Perbelanjaan (Ruang Belanja) Pusat perbelanjaan berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern adalah suatu area tertentu Perkembangan pusat perbelanjaan di Jakarta juga mengalami satu proses tranformasi yang perlu pula dicermati dan dipahami ”behavior”nya. Perkembangan pembangunan ruang belanja di Jakarta dibagi dalam 4 periode, yaitu periode sebelum tahun 1991, periode tahun 1991 – 1997 (sebelum krisis), periode tahun 1998 - 2000 (setelah krisis), dan periode setelah tahun 2000 (pemulihan ekonomi). Pada periode sebelum tahun 1991, pembangunan ruang belanja berada di kawasan Thamrin, Sudirman, Roxy, Jatinegara, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Mangga Besar, Blok M, Kelapa Gading, dan Pintu Air. Kawasan tersebut merupakan kawasan pusat perdagangan lama atau perintis pusat perdagangan di Jakarta. Konsep bangunan lebih banyak berupa deretan bangunan-bangunan bertingkat individual. Pembangunan ruang belanja di kawasan tersebut, terutama Gajah Mada, Hayam Wuruk, Mangga Besar, Blok M, dan Pintu Air, pada akhirnya membentuk kawasan pusat perdagangan.

4-45

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.14 Perkembangan Pusat Perbelanjaan 1960-sekarang

Sumber: Seminar Pusat Perbelanjaan, Transformasi Spasial, Kerja Sama, Kompetisi, atau Kanibalisme, Tahun 2006 Pada periode tahun 1991 – 1997 (sebelum krisis), pembangunan ruang belanja di kawasan pusat-pusat perdagangan semakin meningkat. Selain itu, pembangunan ruang belanja juga tumbuh di kawasan pusat bisnis Jakarta (Thamrin-Sudirman-G SubrotoRasuna Said) serta di kawasan perumahan menengah atas seperti Pondok Indah dan Menteng. Konsep bangunan lebih banyak berbentuk mall dengan desain arsitektur yang modern. Beberapa ruang belanja terutama yang berada di kawasan pusat bisnis Jakarta dibangun dengan desain dan kualitas bangunan yang mewah seperti Plaza Senayan, Pondok Indah Mall, dan Plaza Indonesia. Pada periode ini, juga mulai dikenal ruang belanja dengan konsep hypermarket dan trade center seperti ITC Mangga Dua. Beberapa ruang belanja juga dibangun dengan konsep terpadu dengan bangunan komersial lainnya (mix used development) seperti Plaza Indonesia yang menyatu dengan Hotel Hyatt ataupun berada pada kawasan terpadu seperti Mal Ambasador di kawasan Superblok Mega Kuningan. Pada periode setelah krisis, pembangunan ruang belanja lebih banyak berada di kawasan sekunder Jakarta. Selain itu, sebagian dari pembangunan ruang belanja tersebut merupakan perluasan atau renovasi dari ruang belanja yang sudah ada.

4-46

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Pada periode pemulihan ekonomi (setelah tahun 2001), ruang belanja banyak dibangun dalam skala besar dan berkonsep strata title. Pembangunan ruang belanja tersebut tersebar baik di kawasan pusat bisnis Jakarta maupun di kawasan pusat perdagangan seperti Mangga Dua dan Blok M. Beberapa ruang belanja yang dibangun pada periode ini adalah Mangga Dua Square, Plaza Semanggi, ITC Fatmawati, dan lain-lainnya. 4.2.2. Kondisi Global Dan Nasional Dampak terberat krisis global pada perekonomian nasional adalah pada penurunan permintaan dunia dengan ekspor yang akan makin lambat serta seretnya investasi. Tercatat untuk kurun waktu tahun 2003 hingga tahun 2007 terjadi pertumbuhan nilai ekspor dari DKI Jakarta rata – rata pertahunnya adalah 12,04%. Sementara itu pertumbuhan nilai impor yang terjadi ke Provinsi DKI Jakarta untuk kurun waktu yang sama adalah 17,41% rata – rata pertahunnya. Kegiatan ekspor dan impor yang terus cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta menyebabkan pentingnya penyediaan infrastruktur penunjang yang dapat memfasilitasi kebutuhan aktivitas ekspor impor tersebut. Permintaan ekspor diperkirakan akan menurun dan menyebabkan penurunan pula pada pemanfaatan kapasitas produksi di dunia usaha. Namun hal ini dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai momentum untuk meningkatkan infrastruktur perekonomian guna mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang akan terjadi di masa mendatang. Tabel 4.57 Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Volume Impor Pertumbuhan (% per Tahun) 17.450.894.752 17.729.575.474 15.278.037.714 21.418.543.499 19.959.587.089 20.454.440.187 24.501.221.918 26.958.167.238 29.809.517.655 32.186.885.000 Volume Ekspor Pertumbuhan (% per Tahun) 22.602.570.430 15.566.294.971 10.306.824.075 17.049.770.256 15.189.261.753 16.169.567.982 23.883.257.384 26.827.744.132 27.134.810.269 34.739.269.000

Sumber : BPS DKI Jakarta

Tabel 4.58 Laju Pertumbuhan Tahuan Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta
No. 1 2 3 4 Tahun 97 - 98 98 - 99 99 - 00 00 - 01 Laju Pertumbuhan Tahunan Impor Pertumbuhan Ekspor Pertumbuhan (% per Tahun) (% per Tahun) 1.60% -31.13% -13.83% -33.79% 40.19% 65.42% -14.07% -36.85%

4-47

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

No. 5 6 7 8 9 10 11

Tahun 01 - 02 02 - 03 03 - 04 04 - 05 05 - 06 06 - 07 Rata-Rata

Laju Pertumbuhan Tahunan Impor Pertumbuhan Ekspor Pertumbuhan (% per Tahun) (% per Tahun) 8.44% 41.08% 2.48% 6.45% 19.78% 47.70% 10.03% 12.33% 10.58% 1.14% 7.98% 28.02% 7.32% 10.04%

Sumber : Hasil Perhitungan dan Pengolahan Data PT. Jakarta Konsultindo Tahun 2008 Gambar 4.15 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta
120.00% 100.00% 80.00% 60.00% 40.00% 20.00% 0.00% -20.00% -40.00% -60.00%

Ekspor Impor

'01 - 02

'02 - 03

'03 - 04

'04 - 05

'05 - 06

Gambar 4.16 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta
12.00% 10.00% 8.00% 6.00% 4.00% 2.00% 0.00% Impor Ekspor

Pada Gambar 4.16 di atas terlihat bahwa untuk kurun 1997 – 2007, secara umum senantiasa terjadi fluktuasi laju pertumbuhan tahunan volume ekspor dan impor, bahkan terkadang sampai terjadi perubahan negatif, yang berarti terjadi penurunan. Sedangkan secara rata-rata pada kurun waktu tersebut, selanjutnya pada Gambar 1.9 menunjukkan bahwa yang terjadi adalah perubahan positif, yang berarti terjadi kenaikan, baik pada ekspor maupun impor. Krisis finansial global diperkirakan membutuhkan waktu 18 bulan untuk memulai pemulihan. Krisis saat ini melanda seluruh dunia, dan juga seluruh wilayah Indonesia. Perekonomian Indonesia 2009 diperkirakan hanya tumbuh 4.5 – 5.5% dengan sumber pendorong konsumsi

'06 - 07

97 - 98

98 - 99

99 - 00

00 - 01

4-48

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

masyarakat dan pemerintah. Industri padat karya akan mengalami dampak terberat dari krisis dengan kemungkinan PHK. 4.2.3. Perekonomian Indonesia 2030 Dengan pemulihan ekonomi th 2010 (pertumbuhan 6%), perekonomian Indonesia akan tumbuh cepat pada periode 2015 – 2025 dan kemudian sedikit lebih lambat tapi stabil pada periode 2025 – 2030. Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2007. Tabel di bawah ini menunjukkan Jumlah Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) tahun 2005 Tabel 4.59 Jumlah Surat Ijin Usaha Perdagangan ( SIUP ) Tahun 2005 KOTAMADYA TAHUN JAKPUS JAKBAR JAKUT JAKSEL JAKTIM 2005* 88.727 95.958 38.854 106.954 43.751 374.244 JML

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tahun 2005 Tabel di atas menunjukkan jumlah SIUP DKI Jakarta Tahun 2005 mencapai 374.244, angka tersebut tergolong angka yang cukup tinggi dengan konsentrasi terbesar berada pada kotamadya Jakarta Selatan. Pertumbuhan ekonomi 7 – 8% per tahun akan membawa Indonesia masuk 10 besar dunia tahun 2030 sebagai emerging economy terbesar ketiga di Asia setelah Cina dan India. Pertumbuhan yang relatif tinggi tersebut harus ditunjang dengan manufaktur berbasis sumber daya alam yang mengoptimalkan nilai tambah dan pengelolaan kekayaan alam lainnya seperti pariwisata. Image Kota sebagai Penentu Keberhasilan Pariwisata Image kota sangat berperan dalam perwujudan kota sebagai destinasi/tujuan pariwisata (Wisata sejarah dan budaya, belanja dan kuliner, bahari, bisnis (MICER), hiburan/rekreasi). Dengan kata lain, pembentuk ruang-ruang kota yang futuriistik berkualitas, berkarakter, dan bermakna) merupakan kata kunci penentu dalam pariwisata kota. Transformasi dan moderenisasi wajah kota pariwisata (urban tourism) jakarta diarahkan agar tetap memiliki tipologi spesifik yang berbeda dengan kota-kota lainnya sehingga identitas/kekhasan jakarta sebagai tujuan wisata (destinasi wisata) mampu memperkuat nilai jual (selling point) dan daya saing kota dalam percaturan pariwisata global. Identitas kota jakarta masih sangat tergantung sejauh mana kawasan-kawasan potensial yang merupakan hasil pembangunan masa lalu dapat dikembangkan, ditata, dan dikelola secara kreatif agar mampu mendorong citra pertumbuhan tipologi kawasan tersebut agar lebih bermakna dan memiliki nilai tambah (value added) tinggi 1. Persyaratan / dukungan: Kualitas, Karakter dan Nilai Lingkungan Kemudahan, Keamanan, Kenyamanan, Ketertiban, dan keindahan

4-49

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Standar Kualitas Pelayanan Kreativitas/Inovasi Komunitas Lingkungan yang aksesable Jaringan Antar Kota-kota Internasional 2. Trend Pembangunan Pariwisata Perkotaan Pariwisata sebagai industri jasa terbesar Kota / kawasan dikembangkan sebagai tujuan pariwisata (tourist destination) Optimalisasi pemanfaatan sumber daya kota berbasis iptek ( 3t + 2e ) Daya tarik kota mendorong life style & kultur perilku masyarakat perkotaan 3. Program prioritas yang telah didiagnosa sesuai sk gubernur 4486/1999 Secara garis besar potensi/sumber daya pariwisata Jakarta di bagi dalam 4 kategori : Wisata Sejarah Wisata Belanja dan Kuliner Wisata Bisnis dan Hiburan Wisata Bahari Gambar 4.17 3 Jalur Wisata DKI Jakarta

Sumber: Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta

4-50

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

4. Wisatawan Volume kunjungan wisatawan ke Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Sedangkan kondisi kunjungan wisatawan ke ODTW utama di Provinsi DKI Jakarta, terlihat bahwa : Taman Impian Jaya Ancol, TMII, dan Kebun Binatang Ragunan merupakan ODTW utama di Jakarta. Tabel 4.60 Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2006
No 1 2 3 4 5 6 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jakarta 1,111,645 1,267,295 1,125,168 1,063,910 1,235,514 1,219,132 Indonesia 5,153,620 5,033,400 3,690,852 4,541,165 4,074,354 4,871,351 Persentase 21,57 25,18 30,49 23,43 30,32 25,03

Sumber : BPS DKI Jakarta

Gambar 4.18 Volume Kunjungan Wisatawan ke Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006
1,300,000 1,250,000 1,200,000 1,150,000 1,100,000 1,050,000 1,000,000 950,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Sumber : BPS DKI Jakarta

Tabel 4.61 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006
No 1 2 3 4 5 6 Kurun 01-02 02-03 03-04 04-05 05-06 Rata-Rata Jakarta 14.00% -11.21% -5.44% 16.13% -1.33% 2.43% Indonesia -2.33% -26.67% 23.04% -10.28% 19.56% 0.66%

Sumber : BPS DKI Jakarta

4-51

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.19 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006
20.00% 15.00% 10.00% 5.00% 0.00% -5.00% -10.00% -15.00% '01 - 02 '02 - 03 '03 - 04 '04 - 05 '05 - 06

Sumber : BPS DKI Jakarta

Tabel 4.62 Kondisi Kunjungan Wisatawan ke ODTW Utama di Provinsi DKI Jakarta
No. 1 2 3 4 5 ODTW Taman Impian Jaya Ancol TMII Kebun Binatang Ragunan Monumen Nasional Museum Nasional (Gedung Gajah) Museum Satria Mandala Museum Fatahillah Pelabuhan Sunda Kelapa 1999 12.595.162 3.950.427 2.861.313 426.562 82.602 Kunjungan Wisatawan ke ODTW Utama 2000 2001 2002 2003 12.793.257 12.921.189 9.808.190 12.051.106 5.554.648 3.111.543 463.647 143.393 5.234.522 3.173.773 468.283 147.694 4.281.780 2.793.517 580.465 136.144 4.217.896 3.121.677 615.263 105.786

6 7 8

31.028 38.044 10.933

67.710 38.621 10.716

69.741 39.007 11.114

70.717 46.098 12.480

72.123 52.321 8.419

Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta.

4-52

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.20 Kondisi Kunjungan Wisatawan ke ODTW Utama di DKI Jakarta
800 600 400 200 0 1999 2000 2001 TMII Monumen Nasional Museum Satria Mandala Pelabuhan Sunda Kelapa 2002 2003

Taman Impian Jaya Ancol Kebun Binatang Ragunan Museum Nasional (Gedung Gajah) Museum Fatahillah

Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta. Dari segi PDB/kapita, pada tahun 2030 diperkirakan akan menembus USD 10,000/kapita dengan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik, seperti ditunjukkan dengan HDI yang naik signifikan.

4.2.4. Perekonomian Jakarta 2030. Masalah perekonomian selalu terkait pada penduduk. Tekanan penduduk dan keterbatasan lahan memaksa percepatan pengembangan sistim transportasi massal sebagai alternatif utama transportasi masyarakat. Urbanisasi yang makin cepat di pantai utara Jawa serta terbentuknya perekonomian megapolitan secara terintegrasi dengan batas barat mencapai Serang, timur sampai Karawang, serta selatan sampai Cianjur. Peran Jakarta sebagai pusat jasa modern dan keuangan nasional dan regional akan makin kuat, sedangkan sektor manufaktur akan tergeser menjauhi pusat kota. Dukungan infrastruktur akan makin kuat dengan pasokan listrik dan gas yang handal, keberadaan dua pelabuhan terbesar di Indonesia, bandara terbesar, serta jaringan jalan bebas hambatan di seputar Jakarta. 4.2.5. Tantangan Jakarta pada tahun 2030. Tantangan yang akan dihadapi Jakarta secara perekonomian pada tahun 2030 adalah persaingan regional sebagai pusat bisnis dan keuangan dengan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Manila, dan Ho Chi Min City. Untuk dapat mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi Jakarta harus dapat membangkitkan kembali pariwisata kota, terutama MICE, wisata sejarah, dan wisata belanja. Jakarta diharapkan dapat memecahkan masalah transportasi .Transportasi massal berbasis “railway” dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Membangun infrastruktur dan fasilitas berkelas global. Jika masalah transportasi dapat terselesaikan maka pertumbuhan ekonomi dapat diprediksi meningkat.

4-53

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Kota Jakarta diharapkan mempunyai kemampuan menyebarkan kegiatan ekonomi nasional ke daerah-daerah lain dengan tidak kehilangan potensi ekonominya sendiri. Mewujudkan visi Jakarta sebagai kota Jasa yang nyaman dan berkelanjutan dengan menciptakan rasa aman, nyaman, dan tenang bagi warga kota dengan standar internasional.

4.2.6. Sektor informal. Sektor formal merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang kegiatan perekonomian dan aktivitas kota akan tetapi kontribusi sektor informal juga tidak dapat diabaikan. Perkembangan sektor formal akan sangat membutuhkan sektor informal baik secara langsung maupun tidak langsung. Khusus untuk DKI Jakarta, Perkembangan pedagang kaki lima di Jakarta Pusat sebagai usaha di sektor informal memiliki jumlah yang cukup besar apabila dibandingkan dengan wilayah Kota Administrasi Jakarta lainnya. Penyebaran pedagang kaki lima biasanya berlokasi di prasarana dan fasilitas umum. Di Kota Administrasi Jakarta Pusat, tercatat tempat-tempat yang digunakan untuk para Pedagang Kaki Lima berada di trotoar dan badan jalan sebanyak 11.579 pedagang, di lokasi jalur hijau dan taman kota sebanyak 305 pedagang, di lahan parkir dan halte sebanyak 989 pedagang, di halaman terminal/stasiun sebanyak 489 pedagang, pada halaman pasar/pertokoan sebanyak 2.949 pedagang, di tanah kosong sebanyak 365 pedagang dan pada lokasi lainnya sebanyak 1.983 pedagang dengan total keseluruhan 18.839 pedagang. Pertumbuhan PKL (sektor Informal) ini sangat dinamis dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Permasalahan sektor informal yang terdapat di Wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat adalah:; a) mengganggu ketertiban umum; b) mengganggu lalu lintas karena karena menggunakan badan jalan atau trotoar sebagai tempat untuk berjualan; c). kebersihan; dan d) mengganggu estetika lingkungan. Khusus untuk Jakarta Barat Sektor informal, tidak hanya PKL tetapi semua kegiatan yang berskala kecil seperti home industry (tidak ada izin, tidak ada tempat resmi dll). Kondisi sektor informal di Jakarta Barat saat ini belum tertata dan tidak tertib sehingga sering menimbulkan permasalahan pencemaran lingkungan, sosial dan kemacetan lalu lintas dan tidak sesuai dengan peruntukkannya (home industry) Sektor informal seperti PKL (berlokasi tetap, nomaden) bertumbuh karena masih kurangnya tawaran pekerjaan formal selain itu juga ada permintaan dari masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah PKL dibutuhkan karena mudah diakses dan cenderung barang yang dijual murah harganya murah. PKL-PKL yang terdapat di DKI Jakarta tidak seluruhnya menempati ruang-ruang publik, sebagian PKL ada yang direlokasi dan ditampung pada kawasan tertentu sebagai lokasi binaan usaha kecil.

4-54

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

4.2.7. Kebijakan perekonomian terkait tata ruang. • Jakarta harus lebih fokus : pusat pemerintahan pindah ke luar Jakarta tanpa kehilangan status ibukota. Pola transportasi harus memprioritaskan angkutan massal yang bisa menarik minat warga dan membatasi pemakaian kendaraan pribadi. Kerjasama antara daerah dalam konteks megapolitan harus lebih konkrit dan didukung komitmen penuh. Pola perumahan vertikal menjadi satu-satunya opsi dengan memberikan ruang pada perumahan kelas menengah dan bawah, dan dikembangkan dengan konsep superblok. Perumahan vertikal (Rusunawa dan Rusunami) terkait dengan lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi: Komunitas masyarakat Lapangan kerja masyarakat Kapasitas transportasi Kapasitas energi dan air bersih Penataan sektor informal dengan alokasi lahan untuk mereka dan pembinaan usaha mereka. Jakarta harus mempunyai suatu event besar sebagai momentum merubah wajah kota ke arah lebih baik.

4-55

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

BAB 4 PERSEBARAN PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI............................4-1 4.1. Persebaran Penduduk ..................................................................................................4-1 4.1.1. Esensi Kependudukan Dalam Tata Ruang. ............................................................4-1 4.1.2. Jumlah Penduduk ...................................................................................................4-2 1) Jumlah Penduduk DKI Jakarta Keseluruhan ...............................................................4-4 2) Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan Kota Administrasi .................................4-9 3) Jumlah Penduduk Bodetabek ....................................................................................4-12 4.1.3. Proyeksi Jumlah Penduduk...................................................................................4-13 4.1.4. Kepadatan Penduduk ............................................................................................4-15 4.1.4.1 Kepadatan Penduduk DKI Jakarta ...................................................................4-15 4.1.4.2 Kepadatan Penduduk Bodetabek .....................................................................4-17 4.1.5. Laju pertumbuhan penduduk. ...............................................................................4-17 4.1.6. Proyeksi daya tampung ........................................................................................4-23 Parameter Demografi DKI Jakarta .......................................................................................4-27 Persebaran Penduduk (sumber : Kajian Upaya Perwujudan Jakarta Yang Berkelanjutan) 4-27 Tingkat Fertilitas/Kelahiran dan Mortalitas/ Kematian Penduduk DKI Jakarta ...................4-28 Migrasi Penduduk ................................................................................................................4-32 1) Pengertian Migrasi ....................................................................................................4-32 2) Angka Migrasi Neto ..................................................................................................4-33 3) Pola Migrasi Penduduk .............................................................................................4-34 Penduduk Komuter ...............................................................................................................4-34 1) Komuter menurut Golongan Umur dan Jarak Tempuh ke Tempat Kegiatan ............4-35 2) Komuter menurut Golongan Umur dan Jenis Kegiatan ............................................4-36 3) Komuter menurut Golongan Umur dan Lama Perjalanan ke Tempat Kegiatan, DKI Jakarta ..................................................................................................................................4-38 4.2. Pertumbuhan Ekonomi ..............................................................................................4-39 4.2.1. Kondisi perekonomian Jakarta saat ini .................................................................4-39 1. Arah dan kebijakan pembangunan industri dan perdagangan Propinsi DKI Jakarta:4-43 2. Strategi Pembangunan Perindustrian dan Perdagangan propinsi DKI Jakarta ..........4-43 Kondisi Umum .....................................................................................................................4-43 4.2.2. Kondisi Global Dan Nasional...............................................................................4-47 4.2.3. Perekonomian Indonesia 2030 .............................................................................4-49 4.2.4. Perekonomian Jakarta 2030..................................................................................4-53 4.2.5. Tantangan Jakarta pada tahun 2030......................................................................4-53 4.2.6. Sektor informal. ....................................................................................................4-54 4.2.7. Kebijakan perekonomian terkait tata ruang. .........................................................4-55

Tabel 4.1 Jumlah, proporsi dan pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/kota Administrasi di DKI Jakarta 1990,2001 dan 2007 ..................................................................................................4-2 Tabel 4.2 Jumlah Penduduk DKI Jakarta Berdasarkan Kota Administrasi Thn 1986-2007 .........4-4 Tabel 4.3 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007................................................................................................................................................4-5 Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Menurut Umur di DKI Jakarta Thn 1986-2007 ..............................4-6 Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di DKI Jakarta Thn 1986-2007 ...................4-6 Tabel 4.6 Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin, 2006......................................................4-7 Tabel 4.7 Penduduk DKI Jakarta Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin, Tahun 2008 .....................................................................................................................4-7 Tabel 4.8 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di DKI Jakarta Thn 1996-2007 .........4-8 Tabel 4.9 Jumlah Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Selama Seminggu Yang Lalu 1986 – 2007 .................................................................................................4-8 Tabel 4.10 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin Tahun 2008 .........................4-9 Tabel 4.11 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin dan Kota Adm/Kabupaten Adm, 2007 ......................................................................................................................................4-9

4-56

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Tabel 4.12 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Rasio Jenis Kelamin dan Kota Adm/Kabupaten Adm, 2006 ......................................................................................................................................4-9 Tabel 4.13 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Barat Thn. 2007 ..................................4-10 Tabel 4.14 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Pusat Thn. 2007 ..................................4-10 Tabel 4.15 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Timur Thn. 2007................................4-10 Tabel 4.16 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Selatan Thn. 2007 ...............................4-11 Tabel 4.17 Jumlah Penduduk Kota Administrasi Jakarta Utara Thn. 2007 ..................................4-11 Tabel 4.18 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas Menurut Kemampuan Membaca Dan Menulis, Kotamadya/Kabupaten Dan Jenis Kelamin, 2006 .........................................................4-11 Tabel 4.19 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas Menurut Kemampuan Membaca dan Menulis, Kotamadya/Kabupaten dan Jenis Kelamin, 2001 - 2006 ..............................................4-12 Tabel 4.20 Jumlah Dan Laju Pertumbuhan Penduduk Jabodetabek Tahun 1980-2000 ...............4-12 Tabel 4.21 Struktur Penduduk Jabodetabek Menurut Jenis Kelamin Tahun 2000 .......................4-13 Tabel 4.22 Penduduk DKI Jakarta, Luas Wilayah, Sex Ratio Dan Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya/Kabupaten Tahun 2008 .............................................................................................4-16 Tabel 4.23 Jumlah Kepadatan Penduduk per Wilayah Kota Adm. Bulan Maret 2009 ................4-16 Tabel 4.24 Kepadatan Penduduk Di Jabodetabek Tahun 2000 ....................................................4-17 Tabel 4.25 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007..............................................................................................................................................4-17 Tabel 4.26 Proyeksi Penduduk Menurut Jenis Kelamin (x 1000), 2010-2020 .............................4-19 Tabel 4.27 Proyeksi Penduduk DKI Jakarta Menurut Kelompok Umur (x 1000), 2000-2025 ...4-19 Tabel 4.28 Proyeksi Penduduk Usia Sekolah Laki dan Perempuan Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020 .....................................................................................................4-20 Tabel 4.29 Distribusi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, DKI Jakarta, Thn 2010-2020 ....................................................................................................................................4-22 Tabel 4.30 Proyeksi Struktur Umur Penduduk (Jumlah dan Persentase) Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020 .....................................................................................................4-23 Tabel 4.31 Parameter Demografi DKI Jakarta (x1000) , 2000 – 2005 .........................................4-27 Tabel 4.32 Angka Kelahiran menurut Umur Wanita, Daerah, Periode dan Provinsi Tahun 1997 ...429 Tabel 4.33 Trend Angka Fertilitas Total menurut Provinsi di Indonesia Tahun 1968-2000 ......4-30 Tabel 4.34 Angka Kelahiran menurut Umur Wanita dan Periode di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1968-1999 ....................................................................................................................................4-30 Tabel 4.35 Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Jenis Kelamin di Indonesia ......................................................................................................................................4-30 Tabel 4.36 Registrasi Kelahiran, Kematian, Perkawinan, Perceraian, dan Pengesahan/Pengakuan Anak Menurut Kota Adm.Thn. 2007 ...........................................................................................4-31 Tabel 4.37 Jumlah Kelahiran dan Kematian di DKI Jakarta Bulan Maret 2009 ..........................4-32 Tabel 4.38 Proporsi Tujuan Migrasi Provinsi Terbesar di Indonesia Tahun 2005 (tanpa pengaruh ekonomi) ......................................................................................................................................4-32 Tabel 4.39 Jumlah Kedatangan dan Kepindahan Penduduk di DKI Jakarta Bulan Maret 2009 .4-33 Tabel 4.40 Tingkat Angka Migrasi Neto menurut Umur (ASNMR), DKI Jakarta, SP 2000 ......4-33 Tabel 4.41 PDRB Sektoral Atas Dasar Harga Konstan...............................................................4-39 Tabel 4.42 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 1991 - 1993 ....................................................4-40 Tabel 4.43 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 1994 - 2000 ....................................................4-40 Tabel 4.44 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral 2001 - 2007 ....................................................4-41 Tabel 4.45 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2007 .................4-41 Tabel 4.46 Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta .............................................................4-47 Tabel 4.47 Laju Pertumbuhan Tahuan Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta ..................4-47 Tabel 4.48 Jumlah Surat Ijin Usaha Perdagangan ( SIUP ) Tahun 2005.....................................4-49 Tabel 4.49 Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2006 ..451 Tabel 4.50 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006 .............................................................................................................4-51 Tabel 4.51 Kondisi Kunjungan Wisatawan ke ODTW Utama di Provinsi DKI Jakarta ..............4-52

4-57

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

Gambar 4.1 Grafik Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Di DKI Jakarta Tahun 1990, 2001 Dan 2007 ...............................................................................................................................4-3 Gambar 4.2 Grafik Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta 1986 – 2007 .....................................4-5 Gambar 4.3 Tabel dan Grafik Kepadatan Penduduk DKI Jakarta per Km2 Thn 1971-2005 .......4-16 Gambar 4.4 Grafik Proyeksi Penduduk Menurut Kelompok Umur (x 1000), DKI Jakarta, 20102020..............................................................................................................................................4-20 Gambar 4.5 Grafik Proyeksi Penduduk Usia Sekolah Laki dan Perempuan Menurut Jenis Kelamin (x 1000), DKI Jakarta 2010-2020 ................................................................................................4-21 Gambar 4.6 Grafik Proyeksi Penduduk Laki-laki Usia Sekolah (x 1000), DKI Jakarta, 2010-2020 ......................................................................................................................................................4-21 Gambar 4.7 Grafik Proyeksi Penduduk Perempuan Usia Sekolah (x 1000), DKI Jakarta, 20102020..............................................................................................................................................4-21 Gambar 4.8 Matriks Piramida Penduduk DKI Jakarta, 2000, 2010, 2015, dan 2020...................4-22 Gambar 4.9 Matriks Riset Masuk dan Keluar menurut Jenis Kelamin, DKI Jakarta, SP 2000...4-34 Gambar 4.10 Matriks Angka Migrasi Neto menurut Umur (ASNMR), DKI Jakarta, SP 2000 ..4-34 Gambar 4.11 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2007 ............4-42 Gambar 4.12 Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi DKI Jakarta 2001 - 2007 ............................4-45 Gambar 4.13 Perkembangan Pusat Perbelanjaan 1960-sekarang .................................................4-46 Gambar 4.14 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta ...........4-48 Gambar 4.14 Laju Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Volume Ekspor-Impor Provinsi DKI Jakarta ......................................................................................................................................................4-48 Gambar 4.14 3 Jalur Wisata DKI Jakarta .....................................................................................4-50 Gambar 4.14 Volume Kunjungan Wisatawan ke Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006 .................4-51 Gambar 4.14 Laju Pertumbuhan Tahunan Volume Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dan Provinsi DKI Jakarta 2001 – 2006 ...............................................................................................4-52 Gambar 4.14 Kondisi Kunjungan Wisatawan ke ODTW Utama di DKI Jakarta Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta. ................................................................................................4-53

Error! No table of figures entries found

4-58

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->