Anda di halaman 1dari 22

Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

REFERAT

ALAT BANTU PENDENGARAN

Disusun oleh:
1. Hafiz Idul Fitranul

C 111 10 815

2. Saifullah

C 111 10 251
Pembimbing
dr. Agustina Lungan

Dibawakan dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik pada


Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher
Universitas Hasanuddin
Makassar
2014
BAB I
PENDAHULUAN

Komponen panca indra pada manusia sangat penting dalam kelangsungan hidup
manusia itu sendiri, termasuk telinga dengan fungsi pendengaran dan keseimbangan.
Pendengaran yang baik merupakan salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi
kita. Jika kita mengalami gangguan pendengaran maka hal itu akan sangat berdampak
buruk dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas hidup adalah hal penting yang sangat
dikompromikan bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran dan keluarganya.
Gangguan pendengaran dapat dikatakan memiliki kategori berat, dimana suara yang
cukup keras tidak dapat terdengar atau yang biasanya terjadi orang tersebut sangat sulit
mengerti kata-kata yang diucapkan. Dalam kasus-kasus tersebut beberapa jenis suara
atau percakapan sulit untuk didengar, terutama di lingkungan suara yang bising.(1,2)
Saat ini sudah tersedia teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru dan
lebih baik. Penanganan gangguan pendengaran yang efektif telah terbukti menghasilkan
efek positif terhadap kualitas hidup.
Setelah diketahui seorang anak menderita ketulian upaya habilitasi pendengaran
harus dilaksanakan sedini mungkin. American Joint Commitee on Infant Hearing (2000)
merekomendasikan upaya habilitasi sudah harus dimulai sebelum usia 6 bulan.
Penelitian-penelitian telah membuktikan bahwa bila habilitasi yang optimal sudah
dimulai sebelum usia 6 bulan maka pada usia 3 tahun perkembangan wicara anak yang
mengalami ketulian dapat mendekati kemampuan wicara anak normal. (1,2,3)
Pemasangan alat bantu dengar (ABD) merupakan upaya pertama dalam
habilitasi pendengaran yang akan dikombinasikan dengan terapi wicara atau terapi
audio verbal. Sebelum proses belajar harus dilakukan penilaian tingkat kecerdasan oleh
Psikolog untuk melihat kemampuan belajar anak. Anak usia 2 tahun dapat memulai
pendidikan khusus di Taman Latihan dan Observasi (TLO), dan melanjutkan
pendidikannya di SLB-B atau SLB-C bila disertai dengan retardasi mental. Proses
habilitasi pasien tunarungu membutuhkan kerjasama dari beberapa disiplin, antara lain
dokter spesialis THT, audiologist, ahli madya audiologi, ahli terapi wicara, psikolog
anak, guru khusus untuk tuna rungu dan keluarga penderita. (4,5)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA
TELINGA LUAR

Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan
membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang
lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama
oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus
membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis
auditorius eksternus. (1,2)

Gambar 1. Potongan frontal telinga


Gambar 2. Pembagian telinga(1)
Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular.
Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius
eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya
sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat
di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis.
Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal
mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti
lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit
tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat
antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. (1,2,3)

TELINGA TENGAH
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah
lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua
Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas
lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu
mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah
bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungan dengan tuba eustachii ke nasofaring
berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. (1,2)

Gambar 3. Membran Timpani(2)

Gambar 4. Tulang-tulang Pendengaran, Kanal semisirkularis, dan Potongan


Koklea(2)
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes.
Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu
hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah,
yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak
pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan
jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran
kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela
3

bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam
dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat
terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau
menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan
menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. (1,2)
TELINGA DALAM
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial
VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian
dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang
labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral erletak membentuk sudut
90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang berhubungan dengan
keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan arah dan
gerakan seseorang.
Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua
setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan
organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sem-purna mengisinya,Labirin
membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan
langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. (1,2)
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis,
duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang
dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan
endolimfe dalam telinga dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila
keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan
telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa.
Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus
kranialis VIII ke otak. (1,3)
Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut
utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh
nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis (akus-dk),
yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari
kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus
4

kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus
adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa
nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. (1,5)
Fisiologi fungsional jendela oval dan bulat memegang peran yang penting.
Jendela oval dibatasi olehj anulare fieksibel dari stapes dan membran yang sangat
lentur, memungkinkan gerakan penting,dan berlawanan selama stimulasi bunyi, getaran
stapes menerima impuls dari membrana timpani bulat yang membuka pada sisi
berlawanan duktus koklearis dilindungi dari gelombang bunyi oleh menbran timpani
yang utuh, jadi memungkinkan gerakan cairan telinga dalam oleh stimulasi gelombang
suara. pada membran timpani utuh yang normal, suara merangsang jendela oval dulu,
dan terjadi jedai sebelum efek terminal stimulasi mencapai jendela bulat. namun waktu
jeda akan berubah bila ada perforasi pada membran timpani yang cukup besar yang
memungkinkan gelombang bunyi merangsang kedua jendela oval dan bulat bersamaan.
Ini mengakibatkan hilangnya jeda dan menghambat gerakan maksimal motilitas cairan
telinga dalam dan rangsangan terhadap sel-sel rambut pada organ Corti. Akibatnya
terjadi penurunan kemampuan pendengaran. (1,4)

Gambar 5. Organ Corti(1)


Gelombang bunyi dihantarkan oleh membrana timpani ke osikuius telinga
tengah yang akan dipindahkan ke koklea, organ pendengaran, yang terletak dalam
labirin di telinga dalam. Osikel yang penting, stapes, yang menggo dan memulai getaran
(gelombang) dalam cairan yang berada dalam telinga dalam. Gelombang cairan ini,
pada gilirannya, mengakibatkan terjadinya gerakan membrana basilaris yang akan
merangsang sel-sel rambut organ Corti, dalam koklea, bergerak seperti gelombang.
5

Gerakan membrana akan menimbulkan arus listrik yang akan merangsang berbagai
daerah koklea. Sel rambut akan memulai impuls saraf yang telah dikode dan kemudian
dihantarkan ke korteks auditorius dalam otak, dan kernudian didekode menjadi pesan
bunyi.
Pendengaran dapat terjadi dalam dua cara. Bunyi yang dihantarkan melalui
telinga luar dan tengah yang terisi udara berjalan melalui konduksi udara. Suara yang
dihantararkan melalui tulang secara langsung ke telinga dalam dengan cara konduksi
tulang. Normalnya, konduksi udara merupakan jalur yang lebih efisien; namun adanya
defek pada membrana timpani atau terputusnya rantai osikulus akan memutuskan
konduksi udara normal dan mengakibatkan hilangnya rasio tekanan-suara dan
kehilangan pendengaran konduktif. (1,2,3,6)

FISIOLOGI PENDENGARAN
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga
dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran
tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian
tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.
Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan
tingkap lonjong sehingga perilimf pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan
melalui membran Reissner yang mendorong endolimf, sehingga akan menimbulkan
gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan
rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel.
Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan
neurotransmitter ke dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf
auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area
39-40) di lobus temporalis. (1,2)
2. GANGGUAN PENDENGARAN
Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif,
sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli saraf, yang terbagi atas tuli koklea

dan tili retrokoklea. Sumbatatan tuba eustachius menyebabkan gangguan telinga tengah
dan akan terdapat tuli konduktif. Gangguan pada vena jugulare berupa aneurisma akan
menyebaban telinga berbunyi sesuai dengan dunyut jantung.
Antara inkus dan maleus berjalan cabang n. fasialisis yang disebut korda timpan.
Bila terdapat radang di telinga tengah atau trauma mungkin korda timpani terjepit,
sehingga timbul gangguan pengecap. Di dalam telinga dalam terdapat alat
keseimbangan dan alat pendengaran. Obat-obat dapat merusak stria vaskularis, sehingga
saraf pendengaran rusak, dan terjadi tuli saraf. Setelah pemakaian obat ototoksik seperti
streptomisin, akan terdapat gejala gangguan pendengaran berupa tuli saraf dan
gangguan keseimbangan.
Tili dibagi atas tuli konduktif, tuli saraf (sensorineural deafness) serta tuli
campur (mixed deafness). Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara,
disebabkan oleh kelainan atau penyakit di telinga luar atau telinga tengah. Pada tili saraf
(perseptif, sensorineural) kelainan tredapat pada koklea (telinga dalam), nervus VII atau
di pusat pendengaran< sedangkan tuli campur, disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif
dan tuli saraf. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit, msalnya tumor nervus VIII
(tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif).
Jadi jenis ketulian sesuai dengan letak kelainan. Suara yang didengar dapat
dibagi dalam bunyi, nada murni dan bising. Bunyi (frekuensi 20 Hz 18.000 Hz)
merupakan frekuensi nada murni yang dapat didengar oleh telinga normal. Nada murni
(pure tone), hanya satu frekueni, misalnya dari garpu tala, piano.
Bising (noise) disebabkan antara : NB (narrow band), terdiri atas beberapa
frekuensi, spektrumnya terbatas dan WN (white noise), yang terdiri dari banyak
frekuensi.(1)
Derajat Gangguan Pendengaran / Ketulian Menurut ISO(1)
Derajat Pendengaran

Kehilangan Pendengaran

Normal

0-25 dB

Ringan

26 40 dB

Sedang

41 55 dB

Sedang Berat

56 70 dB

Berat

71 90 dB

Sangat berat

>90 dB

3. ALAT BANTU DENGAR (HEARING AID)


Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan
batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa
berjalan dengan lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:

Microphone, bagian yang berperan menerima suara dari luar dan mengubah

sinyal suara
menjadi energi listrik, kemudian meneruskannya ke amplifier.
Amplifier, berfungsi memperkeras suara dengan cara memperbesar energi listrik

yang selanjutnya mengirimkannya ke receiver.


Receiver atau loudspeaker, mengubah energi listrik yang telah diperbesar

amplifier menjadi energi bunyi kembali dan meneruskannya ke liang telinga


Batere, sebagai sumber tenaga. (7,8)

Gambar 6. Komponen Alat Bantu Dengar(11)


Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan
apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah
seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya
gangguan fungsi pendengaran).
Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman
percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural.
Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan
mempertimbangkan hal-hal berikut:

Kemampuan mendengar penderita


Aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
Keterbatasan fisik
Keadaan medis
Penampilan
Harga. (8,9)

Pemrosesan Suara Pada Alat Bantu Dengar


Saat ini sebagian besar alat bantu dengar sudah memakai teknologi digital,
artinya sinyal suara yang ditangkap oleh mikrofon dirubah (konversi) menjadi kodekode digital, yang kemudian diproses menggunakan perhitungan matematis.
Pemrosesan suara secara digital memungkinkan untuk melakukan teknik
memanipulasi sinyal contohnya : memisahkan sinyal suara percakapan dengan sinyal
bising. Sebagian besar alat bantu dengar saat ini memiliki kemampuan (dalam
memproses) lebih baik dibanding komputer desktop, tidak seperti alat bantu dengar
yang ada di beberapa tahun lalu yang tidak lebih dari sekedar amplifier.
Algoritma yang kompleks dapat memisahkan suara/bunyi ke beberapa frekuensi
dan mengamplifikasi tergantung dari settingan/program yang diberlakukan pada alat
bantu dengar yang sesuai dengan kondisi gangguan pendengaran klien. Dengan metode
algoritma juga memungkinkan untuk membedakan jumlah amplifikasi antara suara
yang pelan,sedang dan keras. Dengan cara tersebut diharapkan suara yang pelan dapat
terdengar, namun suara yang keras tidak terasa menyakitkan telinga (over amplifikasi).
Dan pemrosesan digital memastikan replika sinyal asal secara presisi dengan distorsi
yang minimal agar menghasilkam kualitas suara yang bagus. (1,9)

KLASIFIKASI

Menurut sistim kerjanya

Secara umum sistim kerja ABD dibedakan menjadi:


a. Analog
Prinsip sistem analog adalah memperkeras suara yang masuk telinga melalui
komponen mekanik dasar yang sederhana. Sirkuit ABD ini telah diatur dari pabrik
sehingga kemampuan pengaturan yang lebih individual sangat terbatas atau kurang
fleksibel. Sistim ini mudah mengalami distorsi, terjadi noise (bising) pada rangkaian
komponen dan rentan terhadap bising di sekitarnya
b. Digital
Sistem analog merupakan ABD yang menggunakan chip komputer yang
menganalisa suara yang masuk. Setelah suara diamplifikasi, teknologi digital akan
memilih suara yang perlu diteruskan ke dalam telinga dan menyingkirkan suara yang
tidak diharapkan (noise). ABD Sistim digital bisa menerima program komputer tertentu
yang dapat memilih frekuensi syang spesifik sesuai dengan kebutuhan. ABD Sistim
digital menjadi sangat fleksibel karena secara otomatis dapat beradaptasi dengan suara
yang keras atau halus, sehingga tidak terjadi perkerasan yang berlebihan (7,10)

Menurut hantarannya

Berdasarkan jenis hantaran suaranya, ABD dapat dibedakan menjadi 2 macam:


a. ABD Jenis hantaran tulang
Bone conduction aid digunakan pada gangguan pendengaran jenis hantaran
(konduktif). Biasanya dimanfaatkan pada kasus atresia liang telinga. Selain itu, jenis ini
juga digunakan pada kasus dimana sewaktu-waktu liang telinga terisi cairan yang
berasal dari infeksi telinga tengah. ABD jenis hantaran tulang dibedakan menjadi:
1. ABD hantaran tulang konvensional
Suara dari luar akan yang ditangkap akan mengaktifkan bone vibrator. Getaran
tulang dihasilkan oleh bone vibrator yang ditempelkan pada tulang mastoid dengan
bantuan ikat kepala khsus, kaca mata, atau plastik mirip bando. Kerugian ABD jenis ini

10

adalah tidak praktis, penampulan kurang menarik (kosmetik), butuh amplifikasi besar
dan timbul lecet pada kulit yang menempel dengan bone vibrator. Pilihan model ABD
pada sistim ini adalah jenis saku atau BTE
2. ABD jenis BAHA (Bone Anchored Hearing AID)
ABD yang mirip jenis saku dihubungkan melalui kabel dengan penggetar tulang
(bone vibrator) yang dapat dipasang dan dilepas melalui sistim sekrup-baut dengan
lempengan logam dari bahan titanium yang telah ditanam ke dalam tulang mastoid
melalui tindakan operasi. Hantaran tulang lebih efektif dibandingkan ABD jenis
hantaran tulang.
b. ABD Jenis hantaran udara
ABD jenis hantaran udara merupakan ABD yang lebih lazim ditemukan
dan tersedia dalam berbagai bentuk. ABD jenis ini bekerja dengan prinsip mengurangi
jarak dari sumber suara dengan cara meletakkan loudspeaker di telinga penderita. (7,9)

Menurut bentuknya
Setiap bentuk ABD memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing.

Berikut adalah pembahasan beberapa jenis ABD yang ada saat ini:
a. ABD Jenis Saku (Pocket / Body Worn Type)
ABD jenis ini dapat dianggap sebagai ABD jenis terbesar. Mikrofon dan
amplifier berada dalam satu unit berbentuk kotak; sedangkan receiver terpisah dan
berada di liang telinga. Antara kotak (mikrofon, amplifier, dan baterai) dengan receiver
dihubungkan melalui kabel. Biasanya kotak ditempatkan pada saku baju atau kantung
khusus yang digantungkan pada dada.
Pada ABD jenis saku penempatan terpisah ini dimaksudkan agar
pengguna dapat leluasa memperbesar output tanpa khawatir timbulnya bunyi feedback.
Jadi ABD jenis saku ini diperlukan oleh penderita tuli berat atau sangat berat
yang membutuhkan perkerasan bunyi atau output yang besar. Hal ini dianggap sebagai
faktor yang menguntungkan untuk ABD jenis saku. Keuntungan lain adalah dapat
menggunakan baterai silinder biasa (ukuran AAA) yang selain murah juga mudah
didapat. Selain itu, tombol pengatur juga mudah disesuaikan.

11

Faktor yang merugikan dari ABD jenis saku:

Penampilan kosmetik kurang baik

Kemampuan mikrofon melokalisir bunyi dari belakang terhalang oleh


tubuh

Tidak praktis karena ukuran relatif besar

Kabel dapat putus

Dapat timbul bunyi gesekan antara ABD dengan kain saku

b. ABD jenis Belakang Telinga (BT) / Behind The Ear (BTE)


ABD ini dipasang pada lekukan daun telinga bagian belakang, dengan mikrofon
mengarah ke depan. Posisi ini cukup baik karena selain selalu mengikuti gerakan kepala
juga menghadap lawan bicara. Suara yang telah diperkeras (output) disalurkan melalui
pipa plastik (tubing) yang terhubung dengan ear mould di concha daun telinga, untuk
selanjutnya diteruskan ke liang telinga.
Kemampuan amplifikasinya cukup besar, juga tersedia jenis super power. Dalam
hal mencegah bunyi feedback masih sedikit dibawah jenis saku. Sumber tenaga berupa
batere yang bentuknya pipih dan tipis (disc). Penyetelan tombol pengatur juga relatif
lebih mudah dibandingkan ABD jenis lain yang lebih kecil.
c. Open-fit mini BTE
ABD jenis ini merupakan abd yang paling baru dikembangkan. ABD jenis ini
mengkombinasikan keelebihan akustik dari ABD berukuran besar dan kelebihan
kosmetik dari ABD berukuran kecil. Open-fit mini BTE terdiri dari alat BTE yang kecil,
tuba kurus tersembunyi yang berfungsi sebagai pengait daun telinga, dan receiver yang
halus dan tidak sampai menutupi liang telinga. Hasilnya, efek oklusi yang dialami
pasien berkurang, baterai dan amplifier yang lebih baik dibandingkan tipe yang lebih
kecil, tampilan kosmetik yang lebih baik dibanding ABD tipe besar lainnya, dan
pemakaian yang lebih singkat karena tidak memerlukan cetakan personal yang presisi
sebagaimana ABD tipe BTE dan ITE butuhkan
d. ABD Jenis Dalam Telinga (DT) / In The Ear (ITE)
12

ABD jenis ITE ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan BTE. Dipasang pada
bagian concha daun telinga. Komponen ABD menyatu dengan ear mould. Karena
ukurannya yang relatif kecil berarti jarak antara mikrofon dengan receiver juga lebih
pendek, akibatnya kemampuan amplifikasinya terbatas sehingga hanya cocok untuk
ketulian derajat sedang.
e. ABD tipe kanalis / In The Canal (ITC) & Completely In Canal (CIC)
ABD jenis ini dibedakan menjadi dua macam: ITC dan CIC. ABD jenis ITC
ukurannya lebih kecil lagi daripada jenis ITE. Pemasangan sampai setengah bagian luar
liang telinga. Amplifikasi suara baik untuk frekuensi tinggi, karena dipasang cukup
dalam pada liang telinga. Akan tetapi karena keterbatasan ukuran, hanya bermanfaat
untuk tuli derajat sedang. Selain itu juga terdapat jenis CIC yang merupakan ABD
terkecil dan dipasang pada sisi dalam liang telinga, jadi lebih dekat dengan gendang
telinga. Permukaan luar dilengkapi dengan tangkai plastik untuk mempermudah
memasang dan melepaskan ABD. Sebagaimana halnya dengan jenis ITC, pengaturan
secara manual lebih sulit. Namun hal ini dapat diatasi pada model terbaru yang telah
dilengkapi dengan remote control
f. ABD jenis kacamata / Spectacle Aid
ABD ditempatkan pada tangkai kaca mata bagian belakang. Umumnya
jenis BTE, namun dapat juga jenis bone conduction, meskipun emanfaatan cara ini
untuk ABD jenis hantaran tulang kurang efektif karena tekanan bone vibrator tidak
stabil (7,10)
PEMAKAIAN ALAT BANTU DENGAR
Kandidat pemakai alat bantu dengar
Setiap orang dengan kesulitan mendengar atau memahami pembicaraan harus
mempertimbangkan penggunaan alat amplifikasi pendengaran. Hal ini terutama sangat
dianjurkan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, dimana intervensi harus
dianjurkan sedini mungkin. Gangguan pendengaran dapat secara umum dikelompokkan
menjadi:
1. Mild Hearing Loss (20-40 dB)

13

Penggunaan alat bantu dengar dapat membantu kemampuan komunikasi pasien.


Beberapa pasien dapat mempertimbangkan pemakaian alat bantu dengar paruh waktu /
pada kondisi-kondisi tertentu saja
2. Moderate Hearing Loss (45-65 dB)
Penggunaan alat bantu dengar sudah menjadi kebutuhan bagi pasien dalam
kategori ini. Pada umumnya alat bantu dengar memberikan hasil yang baik bila dipakai
dengan strategi pemakaian yang sesuai
3. Severe Hearing Loss (70-85 dB)
Alat bantu dengar harus digunakan bila pasien masih ingin berkomunikasi
dengan suara sebagai media penerimaan primernya. Pada beberapa kasus pasien dengan
tingkat gangguan pendengaran ini membutuhkan implantasi koklea
4. Profound Hearing Loss (>85 dB)
Keberhasilan penggunaan alat bantu dengar pada pasien ini berbeda-beda
tergantung umur dan berbagai faktor lainnya. Pada kasus yang baik, kemampuan
komunikasi pasien dapat membaik, dan pada kasus terburuk pun, setidaknya alat bantu
dengar masih dapat membantu sebagai warning device. Pasien dengan gangguan
pendengaran jenis ini merupakan kandidat kuat untuk implantasi koklea
Selain tipe dan derajat ketulian, ada beberapa faktor lainnya yang perlu
diperhitungkan mengenai apakah seorang pasien membutuhkan alat bantu dengar,
antara lain:
1. Umur dan kondisi kesehatan mental dan fisik pasien secara umum
2. Motivasi pasien (Bukan keluarga atau pihak lain)
3. Kondisi keuangan pasien
4. Pertimbangan kosmetis
5. Kebutuhan pasien akan komunikasi, terutama dalam kehidupan dan pekerjaan (1,12,14)
Pemilihan alat bantu dengar
Setelah ditentukan bahwa kandidat akan sangat tertolong dengan pemakaian alat
bantu dengar, maka harus diseleksi spesifikasi alat tersebut. Untuk tujuan ini telah

14

dikembangkan sejumlah metode dan rumusan. Umumnya tiap prosedur pemilihan


membutuhkan informasi audiometrik berupa:
1) Ambang pendengaran / Threshold (T)
2) Tingkat Pendengaran paling nyaman / Most Comfortable Level (MCL)
3) Tingkat kekerasan yang mengganggu / Loudness Discomfort Level (LDL)
Setelah itu, klinisi harus menentukan apakah pasien membutuhkan alat bantu
pendengaran pada satu atau kedua telinga. Bilamana mungkin sangat dianjurkan
menggunakan alat bantu pada kedua telinga (binaural)
Keuntungan amplifikasi binaural antara lain :
1. Minimalisasi / Eliminasi efek bayangan kepala (Head Shadow)
Efek bayangan kepala adalah berkurangnya intensitas sinyal dari sisi kepala
yang berlawanan dari lokasi pemakaian alat bantu dengar. Dengan pemakaian binaural,
hal ini dapat membaik atau bahkan hilang seluruhnya
2. Peningkatan kemampuan lokalisasi
Dengan perbedaan intensitas dan waktu masuknya sinyal ke alat bantu dengar
binaural, penderita dapat dengan lebih mudah menentukan lokasi sumber suara
(lokalisasi)
3. Efek peredam atau penekanan bising latar belakang (Binaural squelch)
Binaural squelch adalah kemampuan otak untuk memisahkan suara dengan
bising. Hal ini disebut juga sebagai central masking dan dapat bekerja dengan lebih baik
dengan membandingkan suara dari dua telinga
4. Sumasi binaural (Binaural loudness summation)
Sumasi binaural adalah kemampuan otak untuk memproses suara dengan lebih
baik melalui informasi yang repetitif, dalam hal ini melalui sinyal suara yang serupa
dari kedua telinga
Paham yang dianut sekarang adalah bilamana mungkin sangat dianjurkan
menggunakan pendengaran binaural. Akan tetapi, untuk alasan pribadi ataupun
audiologik, pada beberapa pasien tidak dapat dilakukan amplifikasi binaural. Dengan
demikian perlu dilakukan pemilihan salah satu telinga yang paling diuntungkan dengan

15

teknik amplifikasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa telinga yang terpilih adalah
telinga dengan diskriminasi bicara yang lebih baik dan dengan rentang dinamik yang
lebih luas. Rentang dinamik adalah perbedaan antara tingkat ambang pendengaran
dengan ambang ketidaknyamanan pendengaran. (10,13,15)
Gangguan pendengaran unilateral
Untuk

pasien

dengan

gangguan

pendengaran

unilateral,

diberlakukan

penanganan yang berbeda. Bila ketulian unilateral tidak melampaui kehilangan sebesar
60-70 dB, atau bila diskriminasi bicara relatif baik dan jika bunyi yang diperbesar
ditoleransi dengan baik, maka dapat dilakukan amplifikasi pada telinga yang terganggu.
Akan tetapi bila telinga yang terganggu tidak memenuhi kriteria diatas, dapat digunakan
alat bantu dengar CROS (Contralateral Routing Of Signals = Pengalihan sinyal
kontralateral). Mikrofon diletakkan pada satu alat bantu sementara amplifier dan
penerima ditempatkan pada alat bantu kedua. Penataan seperti ini dapat pula diterapkan
pada kacamata. Maka sinyal akan dihantarkan dari telinga yang terganggu ke telinga
dengan pendengaran normal. Suatu sirkuit frekuensi radio dapat digunakan untuk
menghantarkan bunyi dari satu sisi ke sisi lainnya. Meskipun alat bantu dengar CROS
hanya sedikit membantu dalam memperbaiki lokalisasi, namun alat ini kadang-kadang
terbukti bermanfaat pada beberapa kondisi mendengar suara bising dan juga
meminimalkan efek bayangan kepala. (14)
Berbagai variasi CROS yang disebut Bi-CROS atau Multi-CROS dapat
digunakan bila terdapat gangguan pendengaran yang cukup bermakna pada telinga yang
lebih baik, sedangkan telinga yang lebih buruk tidak sesuai untuk teknik amplifikasi.
Tipe Bi-CROS memiliki mikrofo pada masing-masing alat bantu dan suatu pemasok
bunyi amplifier pada telinga yang lebih baik [BOIES]
Setelah itu, klinisi menentukan jenis alat bantu pendengaran yang sesuai dengan
jenis gangguan pendengaran pasien dan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian
dari berbagai jenis alat bantu pendengaran, baik dari aspek medis maupun pribadi
pasien.
Berikut tabel ringkas keuntungan dan kerugian macam-macam ABD: (11,13,15)
Jenis alat bantu pendengaran
Body Worn Type

Keuntungan
Harga murah
Baterai tahan lama

Kerugian
Bentuk besar
dan Ada kabel
16

mudah didapat
Feedback tidak ada
Amplifikasi lebih kuat
Pengaturan manual mudah

Behind-the-ear type

In-the-ear type

In-the-canal type

Completely-in-canal

Spectacle aid

Open-fit mini BTE

Bunyi gesekan dengan kain


Selit menangkap suara dari
belakang
Dapat rusak oleh sekret
telinga pasien
Amplifikasi kuat
Membutuhkan ear mould
Feedback minimal
Memberikan efek oklusi
Pengaturan manual relatif
Dapat rusak oleh sekresi
telinga pasien
Sulit terlihat
Amplifikasi terbatas
Membutuhkan ear mould
Sulit terlihat
Rentan terhadap feedback
Amplifikasi
cukup
baik Pengaturan manual sulit
karena terpasang dalam
Tidak terlihat kecuali melihat
langsung ke liang telinga
pemakai

Pengaturan manual sulit


Rentan feedback
Fitur tertentu tidak dapat
digunakan
Secara kosmetik lebih dapat Letak receiver menjadi relatif
diterima
tidak stabil
Baterai relatif lebih tahan
Harga mahal
Amplifikasi kuat
Ketersediaan masih terbatas
Feedback minimal
karena merupakan teknologi
Pengaturan mudah
baru
Sulit terlihat
Tidak perlu ear mould
Tidak menimbulkan efek
oklusi
Memungkinkan
keluarnya
sekret telinga pasien

17

Gambar 7. Tipe Alat Bantu Dengar.(8)

Gambar 8. Alat Bantu Dengar tipe Spectacle(16)

Gambar 9. Alat Bantu Dengar tipe Body Worn(4)

18

BAB III
KESIMPULAN
Alat Bantu Dengar (ABD) adalah Alat suatu perangkat elektronik yang berguna
untuk memperkeras (mengamplifikasi) suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga si
pemakai dapat mendengar lebih jelas suara yang ada di sekitarnya
Pada umumnya, mekanisme kerja ABD berupa: masuknya suara melalui
mikrofon, pengerasan suara oleh amplifier, dan penyampaian ulang suara oleh receiver /
loudspeaker yang mana keseluruhan sistemnya diperdayai oleh suatu komponen baterai
Terdapat berbagai macam jenis ABD: Menurut sistem kerjanya, Menurut jenis
hantarannya, dan Menurut bentuknya yang memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.
Untuk pemakaian alat bantu pendengaran, pertama-tama klinisi harus
mengidentifikasi derajat ketulian penderita, mengenali jenis ketuliannya, menentukan
TL, MCL, dan LDL, menentukan jumlah alat bantu dengar yang sebaiknya digunakan

19

oleh pasien, baru kemudian bersama pasien mempertimbangkan bentuk ABD yang akan
digunakan beserta kelebihan, kekurangan, dan faktor-faktor lain dari diri pasien.
Seringkali ABD sendiri tidak cukup untuk mengembalikan kualitas hidup pasien
secara sempurna. Karenanya dibutuhkan pelengkap dari ABD yang bisa berupa: ALD,
baik ALD yang dihubungkan ke ABD maupun tidak; Fitur-fitur tambahan; dan
Implantasi koklea bila ABD tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan
Setelah Pemakaian ABD, perlu dilakukan penilaian ulang untuk menentukan
keberhasilan pemakaian ABD dengan beberapa tes, seperti Assessment of Word
Recognition & Sound Quality, Probe Tube Measure, dan Subjective Scaling

DAFTAR PUSTAKA
1. Arsyad, Efiaty S. dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2. Moller, Aage R. 2006. Hearing: Anatomy, Physiology, and Disorders of the Auditory
System Second Edition. California: Academic Press
3. Thomas R. et al. 2006. Otolaryngology: Basic Science and Clinical Review. New York:
Thieme Medical Publishers
4. Yetter, Carol J. A Hearing Aid Primer. WROCC Outreach Site. Western Oregon
University. (www.wou.edu) diakses tanggal 16 Desember 2014
5. Rahman, Sukri. Dkk. 2012. Neuropati Auditori. Jurnal Kesehatan Andalas.
(http://jurnal.fk.unand.ac.id) diakses tanggal 16 Desember 2014
6. Snow, James B Jr. 2002. Ballengers Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery. London: BC Decker
7. Menner, Albert L. 2003. A Pocket Guide to the Ear. New York: Thieme Medical
Publishers
8. Peng, Shu-Chen. 2012. Hearing Aids: The Basic Information You Need to Know pada
Scientific Reviewer in Audiology Center for Device and Radiological Health.
(www.fda.gov) diakses tanggal 16 Desember 2014

20

9. Gwinner, Nanette. 2006. Your Veteran Affairs Hearing Aid. Denver: Department of
Veterans Affairs Denver Distribution Center.
10. American Academy of Audiology. 2001. Hearing Aids. Mclean VA: NIH Publication
11. FDA Consumer Health Information. 2009. A New Online Guide to Hearing Aids.
(www.fda.gov) diakses tanggal 16 Desember 2014
12. Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
13. Kimball, Suzanne H. et al. 2013. Hearing Aids (www.medscape.com) diakses tanggal
16 Desember 2014
14. Dewi, Yussy Afriani. 2007. Presbiakusis. Disampaikan pada Seminar Ilmu Penyakit
Dalam, Bandung 13 Juli 2007.
15. Kochkin, Sergei. 2005. Your Guide to Hearing Aids. Alexandria: Better Hearing
Institute

16. (http://www.rehab.research.va.gov/mono/ear/portfoli.htm) diakses tanggal 25


Desember 2014

21