Anda di halaman 1dari 4

Secara Umum ada 7 ciri-ciri paragraf narasi, yaitu :

1. Adanya unsur perbuatan atau tindakan.


2. Adanya unsur rangkaian waktu dan informatif.
3. Adanya sudut pandang penulis.
4. Menggunakan urutan waktu dan tempat yang berhubungan secara kausalitas.
5. Terdapat unsur tokoh yang digambarkan dengan memiliki karakter atau
perwatakan yang jelas.
6. Terdapat latar tempat, waktu, dan suasana.
7. Mempunyai alur atau plot.
PENALARAN INDUKTIF
Penalaran merupakan pemiikiran, logika, pemahaman. Penalaran adalah proses
berpikir yang dapat menghasilkan pengertian atau kesimpulan. Penalaran
berlawanan dengan panca indera karena, nalar didapat dengan cara berpikir
sehingga dapat mengetahui suatu kebenaran.
Induktif merupakan hal yang dari khusus ke umum.Sehingga dapat dikatakan
berpikir induktif adalah pola berpikir melalui hal-hal yang dari khusus lalu
dihubungkan ke hal-hal yang umum.
Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus
yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu
kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.
Contoh penalaran induktif :
kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kelinci berdaun
telinga berkembang biak dengan melahirkan. Panda berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan.
Pada Penalaran Induktif terdapat beberapa bentuk.
Bentuk-bentuk Penalaran Induktif:
a.)Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual
menuju kesimpulan umum.
Contoh:
Andika Pratama adalah bintang film, dan ia berwajah tamapan.
Raffi Ahmad adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan. Pernyataan semua bintang
film berwajah tampan hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum
pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi tidak berwajah tampan.
Macam-macam generalisasi :
1. Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi
dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
2. Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari
sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang
belum diselidiki.

Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana


pantaloon.
Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak
sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur
pengujian yang benar.
b.) Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar
terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses
morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah
ada.
Analogi dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan
pembandingnya memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi,
seseorang dapat menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit
dan lebih mudah dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau
analogi logis.
Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi
dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk
dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian
yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain
bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.
Jenis-jenis Analogi:
1. Analogi induktif :
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada
pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada
fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif
merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu
kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka
tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan
sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah
dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau
dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau
kita percayai.
contoh analogi deklaratif :
deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara
kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk
mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
c) Hubungan kausal

penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan


kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara
segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan
keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau
berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima
tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem
kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama
dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.
2. Akibat Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3. Akibat Akibat.
Contoh:Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya
korban kecelakaan.

d.) Hipotesa dan Teori


Hipotese (hypodi bawah, tithenaimenempatkan) adalah semacam teori atau
kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta
tertentu sebagai penentu dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun
dalam meneliti fakta-fakta lain secara lebih lanjut. Sebaliknya teori sebenarnya
merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan
dengan hipotese.
Contoh :
Tanzi & Davoodi (1998) membuktikan bahwa dampak korupsi pada pertumbuhan
ekonomi dapat dijelaskan melalui empat hipotesis (semua dalam kondisi ceteris
paribus) :
Hipotesis pertama: tingginya tingkat korupsi memiliki hubungan dengan
tingginya investasi publik. Politisi yang korup akan meningkatkan anggaran
untuk investasi publik. Sayangnya mereka melakukan itu bukan untuk memenuhi
kepentingan publik, melainkan demi mencari kesempatan mengambil
keuntungan dari proyek-proyek investasi tersebut. Oleh karena itu, walau dapat
meningkatkan investasi publik, korupsi akan menurunkan produktivitas investasi
publik tersebut. Dengan jalan ini korupsi dapat menurunkan pertumbuhan
ekonomi.
Hipotesis kedua: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya
penerimaan negara. Hal ini terjadi bila korupsi berkontribusi pada penggelapan
pajak, pembebasan pajak yang tidak sesuai aturan yang berlaku, dan lemahnya
administrasi pajak. Akibatnya adalah penerimaan negara menjadi rendah dan
pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
Hipotesis ketiga: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya
pengeluaran pemerintah untuk operasional dan maintenance. Seperti yang
diuraikan pada hipotesis pertama, politisi yang korup akan memperjuangkan
proyek-proyek investasi publik yang baru. Namun, karena yang diperjuangkan
hanya proyek-proyek yang baru (demi mendapat kesempatan mencari
keuntungan demi kepentingan pribadi) maka proyek-proyek lama yang sudah

berjalan menjadi terbengkalai. Sebagai akibatnya pertumbuhan ekonomi menjadi


terhambat.
Hipotesis keempat: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan kualitas
investasi publik. Masih seperti yang terdapat dalam hipotesis pertama, bahwa
dengan adanya niat politisi untuk korupsi maka investasi publik akan meningkat,
namun perlu digarisbawahi bahwa yang meningkat adalah kuantitasnya, bukan
kualitas. Politisi yang korup hanya peduli pada apa-apa yang mudah dilihat,
bahwa telah berdiri proyek-proyek publik yang baru, akan tetapi bukan pada
kualitasnya. Sebagai contoh adalah pada proyek pembangunan jalan yang dana
pembangunannya telah dikorupsi. Jalan-jalan tersebut akan dibangun secara
tidak memenuhi persyaratan jalan yang baik. Infrastruktur yang buruk akan
menurunkan produktivitas yang berakibat pada rendahnya pertumbuhan
ekonomi.