Anda di halaman 1dari 4

Khbvdsa.

ikdkshdkis Analisis HbA1c sebagai Prediktor dan Sebagai Hasil Studi

Laporan sekarang ini mencakup para peserta yang tidak memiliki riwayat diabetes pada
dasarnya menurut FPG, 2hPG, dan HbA1c (2010 kriteria ADA), yaitu FPG <7,0 mmol/L,
2hPG < 11,1 mmol/L, dan HbA1c < 6.5% (48 mmol/mol). Dari 3.234 orang yang diacak, kami
mengecualikan 54 orang dengan FPG 7,0 mmol/L (terdaftar sebelum perubahan pada
kriteria diagnostik ADA), 7 orang yang kehilangan HbA1c dan 408 orang dengan HbA1c
6,5%, yang kemudian menyisakan seperangkat analisis berjumlah 2.765 peserta. Para peserta
dikelompokkan dengan dasar HbA1c < 5,5%, 5,5% sampai < 6,0% atau 6,0% sampai < 6,5%
(<37, 37 sampai < 42, atau 42 sampai < 48 mmol/mol masing masing) untuk menentukan
nilai prediktif pada perkembangan diabetes yang didefinisikan dengan glukosa atau HbA1c .
Tambahan Gambar 1 menunjukan lanjutan dari para peserta ini. Hasil-hasil HbA1c tidak
dikonfirmasi dengan uji ulang; Oleh karena itu, untuk analisis-analisis ini, satu HbA1c 6,5%
dianggap diagnostik.
Metode Statistik
Tujuan untuk memproses analisis yang membandingkan setiap kelompok intervensin dengan
kelompok placebo pada pada produk yang dimodifikasi dari batas kehidupan-tabel distribusi
dengan menggunakan uji statistik log rank. Kelompok perlakuan dan periode waktu studi
juga dibandingkan dengan tingkat kejadian dalam kasus/100 orang per tahun. Orang per
tahun dijumlahkan pada semua peserta dalam kelompok waktu untuk tindak lanjut sebelum
diagnosis atau akhir dari tindak lanjut jika diabetes tidak berkembang selama periode
kepentingan. Tingkat bahaya diabetes berlandaskan pada umur, jenis kelamin, dan ras yang
dilaporkan sendiri/etnik, dan dampak kovariat dinilai dengan mengevaluasi kondisi indikator
secara simultan pada setiap kelompok utama yang dibandingkan dengan kelompok
pembanding pre-definisi dengan menggunakan uji rasio kemungkinan. Pengurangan resiko
dan interaksi antara tugas perlakuan dan kovariat dinilai dengan regresi bahaya proporsional.
Kami menyajikan hasil untuk 2.765 peserta secara terpisah selama median 3.0 tahun (kisaran
interkuartil 2,5-3,7), tindak lanjut di DPP sebelum hasil studi diumumkan dan protokolnya
dimodifikasi dan untuk keseluruhan periode tindak lanjut (DPP dan DPPOS) dari setiap
pengacakan peserta sampai tanggal penutupan umum pada 27 Agustus 2008 (median 9,9
tahun, kisaran interkuartil 9,0-10,5). Uji statistik yang mengevaluasi kedua periode tersebut
harus ditafsirkan sementara mengakui bahwa mereka tidak mandiri satu samalainnya (yang
pertama terkandung dalam yang kedua). Kedua periode tersebut merupakan bagian dari
kepentingan: periode DPP karena dampak-dampak intervensi pada kejadian diabetes sangat

maksimal dalam periode ini dan periode ini merupakan satu-satunya periode double-blind.
(untuk placebo dan metformin) dan keseluruhan periode tindak lanjut untuk menilai dampakdampak untuk selama mungkin.
HASIL
Karakteristik-karakteristik dasar dari 2.765 peserta ditunjukkan pada Tabel 1. Tidak ada
faktor-faktor resiko diabetes, termasuk HbA1c dan ukuran glukosa, berbeda dengan
kelompok-kelompok perlakuan.
HbA1c pada dasar merupakan prediktor yang kuat pada perkembangan glukosa yang
didefinisikan diabetes selama DPP dan keseluruhan periode tindak lanjut (Gambar 1A dan
B). Selama DPP dan keseluruhan periode tindak lanjut, kejadian glukosa yang didefinisikan
diabetes berhubungan positif dengan dasar HbA1c dan di stratifikasi dengan dasar HbA1c ,
dalam kejadian diturunkannya metformin versus placebo (P < 0,001) dan dengan gaya hidup
versus placebo (P< 0,001), dan penurunan oleh gaya hidup lebih besar daripada apa yang
terjadi pada metformin (P < 0,001). Hubungan-hubungan ini ada terus menerus, dengan tidak
adanya bukti sebuah ambang HbA1c . dalam ketiadaan periode yang ada, terdapat interaksi
yang nyata dari dasar HbA1c dengan kelompok perlakuan pada kejadian diabetes, yaitu
dampak perlakuan (sebagaimana tingkat persentase penurunan) yang mandiri pada dasar
HbA1c. Dampak mutlak dalam mengurangi kejadian diabetes lebih besar pada mereka yang
mempunyai dasar HbA1c yang lebih tinggi. Namun, diantara mereka mempunyai tingkat
kejadian yang lebih tinggi terlepas dari tugas perlakuan.
Tingkat kejadian dengan perlakuan ditunjukkan pada diabetes yang didefinisikan oleh HbA1c
6,5% dalam Gambar 1C dan D. Seperti dengan glukosa yang didefinisikan diabetes
(Gambar 1A dan B), dasar HbA1c sangat memprediksi HbA1c- yang mendefinisikan diabetes,
dan dampak perlakuan tidak berbeda secara signifikan pada dasar HbA1c. Selama DPP dan
periode keseluruhan tindak lanjut, kejadian diabetes yang didefinisikan oleh HbA1c 6,5%
berhubungan positif dengan dasar HbA1c , kejadian berkurang pada metformin versus placebo
(P< 0,0001) dan pada gaya hidup versus placebo (P > 0,0001), tetapi penurunan pada
metformin dan gaya hidup tidak berbeda secara signifikan dari masing-masing yang lainnya.
Ada interasi yang signifikan ( P< 0,01) antara dasar HbA1c dan gaya hidup versus dampak
placebo, dampaknya menjadi lebih besar pada dasar HbA1c yang lebih tinggi. Memang, hasil
ini jarang terjadi pada mereka yang mempunyai dasar HbA1c < 5,55, dampak perlakuan
tersebut tidak dapat diperkirakan secara tepat dalam kelompok ini.

Tingkat kejadian dengan perlakuan yang dibandingkan untuk hasil glukosa dan HbA1c- yang
mendefinisikan diabetes (Gambar 2). Tingkat kejadian glukosa yang mendefinisikan diabetes
lebih rendah pada bagian kecil ini dibandingan untuk semua peserta seperti yang dilaporkan
sebelumnya (2) karena pengecualian pada kelompok dengan resiko tertinggi dengan dasar
HbA1c 6.5%, tetapi dampak-dampak perlakuan tetap ada, dengan pengurangan sebesar 29%
dengan metformin dan sebesar 51% dengan ILS selama DPP dan sebesar 21% dengan
metformin dan 285 dengan ILS dalam keseluruhan periode tindak lanjut. Selama periode
DPP, kejadian diabetes dengan kriteria glukosa berkurang oleh metformin versus placebo (P =
0,0013) dan oleh gaya hidup versus placebo (P < 0,0001) dan intervensi gaya hidup
menurunkannya lebih banyak daripada metformin (P = 0,0023). Selama keseluruhan periode
tindak lanjut, kejadian diabetes dengan kriteria glukosa telah berkurang oleh metformin
versus placebo (P< 0,0001), tetapi pengurangan oleh metformin atau intervensi gaya hidup
tidak berbeda secara signifikan dari masing-masing yang lainnya. Sebaliknya, untuk tingkat
kejadian HbA1c- yang mendefinisikan diabetes, metformin dan ILS menghasilkan penurunan
yang hampir sama dengan masing-masing yang lainnya selama periode DPP (masing-masing
44% dan 49%) dan selama keseluruhan tindak lanjut (masing-masing 38% dan 29%). Selama
periode DPP dan keseluruhan periode tindak lanjut, kejadian HbA1c 6,5% telah berkurang
oleh metformin versus placebo (P< 0,0001) dan oleh gaya hidup dan placebo (p < 0,0001),
tetapi tidak berbeda secara signifikan antara metformin dan intervensi gaya hidup.
Ada dampak-dampak ras/etnik yang signifikan pada kejadian glukosa yang didefinisikan
(selama keseluruhan tindak lanjut) dan HbA1c- yang didefinisikan diabetes (selama periode
DPP dan keseluruhan periode tindak lanjut). Disamping semua kelompok perlakuan yang
digabungkan, tingkat kejadian yang tertinggi terdapat pada orang Afrika Amerika (Tambahan
Tabel 1) selama periode keseluruhan tindak lanjutan ketika didefinisikan dengan glukosa (P =
0,005) dan ketika didefinisikan dengan HbA1c selama DPP dan keseluruhan periode tindak
lanjut (semua P < 0,001) dalam model yang disesuaikan dengan jenis kelamin, umur, HbA1c
pada dasar, FPG dan 2hPG pada dasar dan tugas perlakuan.
Hasil yang disajikan distratifikasi dengan dasar usia dan jenis kelamin dalam Gambar 3.
Dalam setiap stratum usia antara laki-laki dan pada setiap hasil (diabetes yang didefinisikan
dengan glukosa atau HbA1c), tingkatnya lebih rendah pada kelompok metformin dan ILS
daripada pada kelompok placebo. Diantara wanita yang berusia 60 tahun, kejadian glukosa
yang didefinisikan dengan diabeter lebih tinggi pada metformin daripada kelompok placebo,
tetapi pada kejadian HbA1c- yang didefinisikan diabetes lebih rendah pada kelompok
metformin. Interaksi tiga arah antara jenis kelamin X usia X perlakuan secara statistik tidak

signifikan, namun, mengindikasikan bahwa ketidaksamaan ini bisa terjadi karena kebetulan.
Tidak ada signifikansi pada jenis kelamin X perlakuan dalam interaksi pada kejadian glukosa
yang didefinisikan diabeter selama periode DPP dan periode keseluruhan tindak lanjut, ada
beberapa signifikansi pada jenis kelamin X perlakuan pada interaksi dalam kejadian HbA1c
6,5%. Selama DPP, penurunan resiko oleh ILS versus placebo lebih besar pada laki-laki
daripada wanita (masing-masing 70% dan 38%; P = 0,010 untuk jenis kelamin X perlakuan
dalam interaksi). Penurunan resiko yang mencapai HbA1c 6,5% selama keseluruhan tindak
lanjut juga lebih besar pada laki-laki (52% pada ILS vs. Placebo dan 54% untuk metformin vs
placebo dibandingkan dengan 15% dan 29% penurunan resiko, masing masing pada wanita;
keduanya P < 0,05 untuk jenis kelamin X interaksi perlakuan).
Terdapat signifikansi (P < 0.05) pada interaksi antara perlakuan dan dasar usia dalam kejadian
glukosa yang didefinisikan diabetes selama periode DPP dan periode keseluruhan tindak
lanjut, dengan ILS yang mempunyai keuntungan lebih besar atas metformin pada usia yang
lebih tua. Meskipun ada tendensi untuk interaksi usia tersebut pada kejadian HbA1c 6.5%,
interaksi tidak begitu jelas dan tidak signifikan secara statistik pada periode DPP dan periode
keseluruhan tindak lanjut. Kejadian diabetes yang didefinisikan dengan glukosa dan kriteria
HbA1c yang diuji. Pada pengujian 1.059 yang menuju pada diagnosa diabetes yang
dikonfirmasi berdasarkan pada kriteria glukosa selama keseluruhan periode tindak lanjut,
HbA1c adalah < 6,5% pada 779 (74%) peserta, 6,5% pada saat pertama pda 105 (105)
peserta dan telah mencapai 6.55 pada pengujian sebelumnya pada 175 (17%) peserta.
Sebaliknya, pada pengujian pertama setela dasar pada yang mana HbA1c sebesar 6,5% (750
kejadian), tidak ada diagnosis dengan basis glukosa yang dikonfirmasi diabetes pada 341
(45%), konfirmasi diagnosis dengan dasar glukosa memicu pada orang yang sama sejumlah
105 (14%) dan diagnosis diabetes yang berdasarkan glukosa dikonfirmasi pada 304 (41%)
peserta.