Anda di halaman 1dari 19

Abstrak:

Gangguan pendengaran akibat bising ( noise induced hearing loss / NIHL ) adalah tuli
akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan
biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja.Tuli akibat bising merupakan jenis ketulian
sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis.Secara umum bising adalah
bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih dapat
menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya
adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua telinga.Banyak hal yang
mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang
lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain
yang dapat menimbulkan ketulian. Bising industri sudah lama merupakan masalah yang
sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman
serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran
yang sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian
ekonomi karena biaya ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan
terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala.
Kata Kunci : Noise Induced Hearing Loss ,bising industri, intensitas

ANAMNESIS
Pada anamnesis ditanya kan mengenai :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Riwayat penyakit.
Riwayat perkerjaan.
Sudah berapa lama bekerja sekarang.
Riwayat perkerjaan sebelumnya.
Alat kerja bahan kerja proses kerja.
Barang yang diproduksi atau dihasilkan.
Waktu bekerja sehari.
Kemungkinan pajanan yang dialami.
Alat pelindung diri yang dipakai.
1

10. Hubungan gejala dan waktu kerja.


11. Pekerja lain yang ada mengalami hal yang sama.3

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan luar
Inspeksi telinga luar ukuran, posisi, bentuk, deformitas, nodul, peradangan, lesi
dan pengeluaran cairan (warna, konsistensi, kejernihan).
Palpasi struktur telinga luar nyeri tekan, pembengkakan atau nodulus.
Ketajaman pendengaran
Test berbisik
Menutup satu kanalis eksternus dengan gerakan menekan ke dalam pada tragus dan
berbisik ke dalam telinga lainnya.

Pemeriksa harus menyembunyikan mulutnya untuk

menghindari pembacaan bibir oleh pasien. Pemeriksa seharusnya membisikkan kata-kata


seperti park(taman). dark (gelap) atau daydream (melamun) pada telinga yang tidak
ditutup dan menentukan apakah pasien dapat mendengar.

Prosedur diulang dengan

menggunakan telinga lainnya.


Uji Rinne Rinne positip

Uji Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik

Uji Schwabach memendek

Pemeriksaan otoskopik membran timpani (warna,retraksi,intak,perforasi).


Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekwensi
tinggi ( umumnya 3000 6000 Hz ) dan pada frekwensi 4000 Hz sering terdapat takik
( notch ) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini.
Sedangkan pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI ( Short Increment Sensitivity
Index ), ABLB ( Alternate Binaural Loudness Balance ) dan
menunjukkan

adanya

fenomena

Speech

Audiometry

rekrutmen ( recruitment ) yang khas untuk tuli saraf

koklea2.
PEJANAN YANG DIALAMI OLEH TENAGA KERJA
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah
esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu
3

dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang
mencakup:
a) Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

kronologis.
Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan.
Bahan yang diproduksi.
Materi (bahan baku) yang digunakan.
Jumlah pajanannya.
Pemakaian alat perlindungan diri (masker).
Pola waktu terjadinya gejala.
Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa).
Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label, dan
sebagainya).

Tempat pasien bekerja : turbin pembangkit listrik


Pajanan : bising turbin
Sumber kebisingan dapat dibagi dalam tiga jenis sumber:
1. Machines
Sumber kebisingan yang berasal dari mesin dapat diakibatkan oleh suara mesin dan
getaran mesin yang disebabkan dudukan/bantalan mesin yang kurang sempurna oleh karena
itu perlu adanya pengendalian kebisingan.Suara mesin sangat ditentukan oleh beberapa hal:

Jumlah silinder, semakin besar jumlah silinder semakin tinggi level kebisingannya.
Putaran motor, semakin besar putaran motor semakin tinggi level kebisingannya.
Berat jenis motor, semakin besar berat jenis motor semakin tinggi level kebisingannya.
Jumlah daun propeler, semakin banyak daun propeler semakin tinggi kebisingannya.
Usia mesin, semakin tua usia mesin semakin tinggi level kebisingannya.

2. Equipments (vibration)
Kebisingan yang timbul akibat penggunaan peralatan kerja untuk proses kerja. Suara
timbul akibat tumbukan/benturan peralatan kerja yang pada umumnya terbuat benda
keras/logam.
3. Air or Gas flow
4

Aliran udara atau gas mengakibatkan gesekan dan tekanan yang mengakibatkan timbulnya
suara/kebisingan. Berdasarkan sumbernya kebisingan dapat dikategorikan sebagai berikut:

Electric Motor
Compresor dan engines
Gear Box
Blower and Fans
Pumps
Gas dan steam turbines
Control valve, flow meter, piping systems.
Steam ejector dan condensers5

HUBUNGAN PAJANAN DENGAN PENYAKIT


Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekwensi
bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa :
1. Adaptasi
Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh
kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena
suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.
2. Peningkatan ambang dengar sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan akan kembali
seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan
sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran sementara
ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz,tetapi bila pemeparan berlangsung lama
maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekwensi
sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan
nilai ambang pendengarannya.Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama
tergantung dari sensitivitas masing-masing individu.
3. Peningkatan ambang dengar menetap
Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi
pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen,
tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi
5

setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15
tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa
pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan
audiogram. Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh
setelah istirahat beberapa jam ( 1 2 jam ). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu
yang cukup lama ( 10 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ
Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti4.
Identifikasi pajanan yang ada
Pajanan bunyi bising turb
HUBUNGAN ANTARA GEJALA DAN WAKTU KERJA
Waktu kerja di tempat bising melebihi 85 desibel selama 8 jam/hari dapat menimbul
kan gejala telinga berdenging. Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena
dapat menyebabkan ketulian. Ketulian bersifat progresif. Pada awalnya bersifat sementara dan
akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising; namun bila terus menerus
bekerja di tempat bising, daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih
kembali. Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb:
Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory
fatigue = TTS
- non-patologis
- bersifat sementara
- waktu pemulihan bervariasi
- reversible/bisa kembali normal
Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat, daya dengarnya akan pulih sempurna.
Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 37hari. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising, dan keadaan
ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap hari-kemudian
menjadi ketulian menetap. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri
yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan
dari tempat bising sekurangnya 14 jam.

Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap


- patologis
- menetap
PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Ketulian ini disebut tuli perseptif
atau tuli sensorineural.
Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai
berikut :
a. Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga kerja mengeluh telinganya
berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.
b. Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten,sedangkan keluhan subjektif lainnya
menghilang. Tahap ini
berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
c. Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadigangguan pendengaran seperti tidak
mendengar detak jam, tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain.
d. Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Pada
tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula
meskipun diberi istirahat yang cukup4.

PATOFISIOLOGI PENYAKIT
Tuli akibat bising di tempat kerja mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel
rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya
degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel
rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan
bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti
hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal.
Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut.
Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga
rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada
saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak4.

PERUBAHAN HISTOPATOLOGI TELINGA AKIBAT KEBISINGAN


7

Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat


kebisingan adalah sebagai berikut :
1. Kerusakan pada sel sensoris
a. Degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis
b. Pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris
c. Anoksia
2. Kerusakan pada stria vaskularis
Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis
oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan
ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi.
3. Kerusakan pada serabut saraf dan nerve ending 4.

EPIDEMIOLOGI
Di negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan kerja. Menurut
WHO (1995), diperkirakan hampir 14% dari total tenaga kerja negara industri terpapar bising
melebihi 90dB di tempat kerjanya.
Di Indonesia, di pabrik peleburan besi baja prevalensi NIHL 31,55% pada tingkat
paparan kebisingan 85 - 105 dB (Sundari,1997). Di perusahaan plywood di Tangerang,
prevalensi NIHL 31,81% dengan paparan kebisingan 86.1-108.2 dB (Lusianawaty). Penelitian
Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helikopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan
bising antara 86 - 117 dB dengan prevalensi NIHL 27,16 %.8

FAKTOR INDIVIDU
Selain daripada pajanan bising semata-mata, terdapat beberapa faktor lain yang boleh
meningkatkan resiko untuk terjadinya NIHL. Faktor yang terjadi boleh dibahagikan kepada
faktor individu dan juga faktor lain diluar pekerjaan. Antara faktor individu yang boleh
8

menyumbang kepada terjadinya NIHL ialah usia, penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2,
sikap mengabaikan pemakaian APD
Dengan meningkatnya usia seseorang, terjadi kelainan pada system pendengaran
seseorang akibat proses degenerasi. Hal yang terjadi adalah berkurangnya elastisitas dan
bertambah besarnya ukuran daun telinga. Selain itu, liang telinga menjadi atrofi dan semakin
kaku. Membran timpani juga menjadi lebih tebal dan kaku dan terjadi kekakuan sendi dan
tulang pendengaran. Oleh itu, individu yang lebih berusia lebih berisiko untuk mendapat
NIHL berbanding dengan individu yang lebih muda apabila keduanya mendapat pajanan
bising.
Penyakit metabolik seperti diabetes tipe II juga dapat meningkatkan resiko kehilangan
pendengaran dengan adanya pajanan terhadap kebisingan. Walaubagaimanapun, pasien
diabetik retinopati mempunyai tendensi yang lebih rendah untuk kehilangan pendengaran
sensori neural. Patofisiologinya masih belum jelas namun ada hipotesis yang mengatakan
masalah kehilangan pendengaran berhubungan dengan masalah metabolic yang member
kesan kepada saraf pendengaran.
Sikap yang mengabaikan pemakaian APD juga memberikan dampak yang sangat
serius terhadap masalah pendengaran. Mungkin ada yang tidak selesa untuk mengenakan ear
muff atau ear plug, mereka tidak menggunakannya saat melakukan kerja dan terpajan kepada
bunyi yang sangat bising. Dampak yang timbul tidak timbul secara akut, oleh sebab itu,
mereka tidak menganggap pemakaiannya adalah satu keperluan untuk kesehatan mereka.
Akibatnya, beberapa tahun kemudian, kualitas pendengaran menurun dan yang paling ditakuti
ialah kehilangan pendengaran.7

FAKTOR LAIN DILUAR PEKERJAAN


Identifikasi penyebab untuk menyingkirkan penyebab ketulian non industrial seperti
riwayat penggunaan obat-obat ototoksik atau riwayat penyakit sebelumnya.

Obat-obat ototoksik

Tinitus gangguan pendengaran dan vertigo merupakan gejala utama ototoksisitas. Tinitus
biasanya menyertai segala jenis tuli sensorineural oleh sebab apa pun, dan sering kali
mendahului serta lebih mengganggu dari tulinya sendiri. Tuli akibat ototoksik yang menetap
malahan dapat terjadi berhari-hari,berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah selesai
pengobatan. Biasanya tuli bersifat bilateral,tetapi tidak jarang unilateral. Gangguan
pendengaran yang berhubungan dengan ototoksisitas sangat sering ditemukan, oleh karena
pemberian gentamisin dan streptomisin. Terjadinya secara perlahan-lahan dan beratnya
sebanding dengan lama dan jumlah obat yang diberikan serta keadaan fungsi ginjalnya.

Mekanisme ototoksik
Akibat penggunaan obat-obat yang bersifat ototoksik akan dapat menimbulkan gangguan
fungsional pada telinga dalam yang disebabkan telah terjadi perubahan struktur anatomi pada
organ telinga dalam. Kerusakan yang ditimbulkan oleh preparat ototoksik tersebut antara lain
adalah :

Degenerasi stria vaskularis.Kelainan patologi ini terjadi pada penggunaan semua jenis

obat ototoksik.
Degenerasi sel epitel sensori.Kelainan patologi terjadi pada organ corti dan labirin
vestibular,akibat penggunaan antibiotika aminoglikosida sel rambut luar dalam,dan
perubahan degeneratif ini terjadi dimulai dari basal koklea dan berlanjut terus hingga

akhirnya sampai ke bagian apeks.


Degenerasi sel ganglion.Kelainan ini terjadi sekunder akibat adanya degenerasi dari
sel epitel sensori.

Obat obat ototoksik


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Aminoglikosida misalnya streptomisin,neomisin etc


Eritromisin
Loop diuretic
Obat anti inflamasi
Obat anti malaria
Obat anti tumor
Obat tetes telinga

Tuli yang diakibatkan oleh obat-obat ototoksik tidak dapat diobati. Bila pada waktu
pemberian obat-obat ototoksik terjadi gangguan pada telinga dalam, maka pengobatan harus
segera dihentikan.

10

Riwayat merokok
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.500 remaja AS yang berusia 12- 19 tahun
menunjukkan bahwa merokok pasif berdampak langsung merusak telinga anak-anak
muda. Semakin besar paparan, semakin besar kerusakan yang ditimbulkan. Pada beberapa
kasus, kerusakan tersebut cukup mengganggu kemampuan seorang remaja untuk
memahami pembicaraan. Demikian laporan studi tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal
khusus bedah leher dan kepala, Archives of Otolaryngology (7/2011). Asap rokok
meningkatkan risiko infeksi yang menghalangi suplai darah halus ke telinga sehingga
dapat menyebabkan kerusakan kecil tapi fatal. Namun, belum diketahui dari studi tersebut
berapa banyak paparan asap rokok yang berbahaya dan kapan kerusakan dapat terjadi.

Pasien ditanyakan tentang, riwayat cedera kepala, trauma akustik, riwayat infeksi telinga
dan operasi telinga.7

DIAGNOSIS OKUPASI
Penyakit akibat kerja (PAK)
Nilai ambang batas (NAB) kebisingan sebagai faktor bahaya di tempat kerja adalah
standar sebagai pedoman pengendalian agar tenaga kerja masih dapat menghadapinya tanpa
mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari hari untuk waktu
tidak melebihi 8 jam sehari dan 5 hari kerja seminggu atau 40 jam seminggu. Sebagaimana
yang telah dinyatakan sebelumnya yang dimaksud dengan kebisingan dalam NAB ini adalah
semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau
alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
Laki-laki tersebut bekerja di bagian pembangkit listrik (turbin) di mana jenis
kebisingan menetap berkelanjutan tanpa henti dengan frekuensi yang lebar (steady state, wide
band noise) misalnya bising mesin, kipas angin, dapur pijar dan lain-lain. Laki-laki tersebut
memakai ear muff yang telah usang. Ear muff biasanya lebih efektif dari sumbat telinga dan
dapat lebih besar menurunkan intensitas kebisingan yang sampai ke saraf pendengar. Alat-alat
ini dapat mengurangi intensitas kebisingan sekitar 10-25 dB. Pajanan bising bersumberkan
dari mesin pembangkit listrik (listrik) dan penggunaan ear muff yang usang menunjukkan ada
hubungan antara pajanan dan penyakit yang terjadi. Noise induced hearing loss terjadi karena
terjadi kerusakan sel sendorik atau bahkan kerusakan total organ Corti di dalam koklea
11

disebabkan pajanan bising yang tinggi. NIHL adalah termasuk di dalam penyakit akibat kerja
(PAK) mengikut ILO 1992 iaitu kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.4

PENATALAKSANAAN
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari
lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga
yaitu berupa sumbat telinga ( ear plugs ), tutup telinga (ear muffs) dan pelindung kepala
(helmet ).
Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap
(irreversible ), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi
dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar ( ABD ).
Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak
dapat berkomunikasi dengan adekuat, perlu dilakukan psikoterapi supaya pasien dapat
menerima keadaannya. Latihan pendengaran ( auditory training ) juga dapat dilakukan agar
pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan
membaca ucapan bibir ( lip reading ), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat
untuk dapat berkomunikasi.6

PENCEGAHAN
Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi hal- hal berikut (NIOSH, 1996):
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Monitoring paparan bising


Kontrol engineering dan administrasi
Evaluasi audiometer
Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE)
Pendidikan dan Motivasi
Evaluasi Program
Audit Program

12

Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja;
kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya.
Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik, angka turn-over karena
lingkungan kerja akan rendah.

Bagi pengusaha
Taat hukum, hubungan baik dengan karyawan, menunjuk- kan itikad baik,
meningkatkan produktivitas, mengurangi angka kecelakaan, mengurangi angka kesakitan,
mengurangi lost day dan menaikkan kepuasan karyawan.
Bagi karyawan
Mencegah ketulian; ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit), bersifat menetap
(irreversible). Serta bisa mengurangi stres.
Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut :
Dukungan manajemen
Berupa policy statement
Integrated dengan program K3
Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja
sama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and
Policy. Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program.
SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas
Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut. Dalam menyusun
program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain:
Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising.
Dilaksanakan oleh semua jajaran, dari pimpinan tertinggi sampai pekerja

pelaksana. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting.


Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memper- hatikan tiga unsur :
a. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik, menggunakan
mesin/alat yang kurang bising dan mengubah metode proses).
b. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari
pekerja, mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada
dinding, langit-langit dan lantai, menutup sumber kebisingan dengan barrier.

13

c. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung

diri, ruang isolasi. rotasi kerja, jadwal kerja , dan lain-lain).


Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.
Utamakan pencegahan bukan pengobatan, proaktif

kesejahteraan bukan santunan.


NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat, namun merupakan

bukan

reaktif,

pedoman. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan


kesehatan pendengaran tenaga kerja (IDKI, 1994).

Monitoring paparan bising


Tujuan monitoring paparan bising, yang sering juga disebut survei bising, bertujuan
untuk :
Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap
tempat kerja.
Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD.
Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri
secara periodik.
Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis).
Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku. Prinsip
monitoring paparan bising : Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai
kualifi- kasi sebagai berikut :
1. SOP pengukuran harus ada dan jelas.
2. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai,
- paling lama dalam waktu 2 minggu
- untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam
Ada 2 macam monitoring paparan bising :
1. Monitoring pendahuluan
Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masa- lah yang potensial berbahaya untuk
pendengaran, berdasarkan lokasi tempat kerja. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan
dalam berkomunikasi, adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.
2. Monitoring bising terperinci

14

Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising penda- huluan, dengan menetapkan lokasi
khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci di
setiap lokasi. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap :
Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Buat gambar peta
bising (luas < = 93 meter). Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut
cukup aman untuk bekerja, sedangkan bila antara 80 - 92 dB perlu pengukuran dan
tindakan lebih lanjut (skala B).
Pengukuran di tempat kerja (<85 dB) .Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) ,
pengukuran dengan peta, ukur tempat dan ruang kerja, ukur maximun dan

minimumnya., bila lebih dari 85 dB, lakukan tahap selanjutnya


Lamanya paparan (jumlah jam terpapar) . Buat logbook untuk setiap orang
berdasarkan job classification, catat lamanya terpapar (sekarang digunakan
audiometer).

Kontrol engineering dan administratif


Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising; contohnya :
1. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti, mengencangkan bagian mesin
yang longgar, memberi pelumas secara teratur, dan lain-lain.
2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.
3. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi tenaga mesin, kecepatan
putaran atau isolasi.
4. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan.
5. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai
berpegas, menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja.
6. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara.
7. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara.
Pengendalian administratif dilakukan dengan cara :
1. Mengatur jadual produksi
Rotasi tenaga kerja
2. Penjadualan pengoperasian mesin
3. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran
4. Mengikuti peraturan

15

Evaluasi audiometri
Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada :

Pre-employment
Penempatan ke tempat bising
Setiap tahun, bila bising > 85 dB
Saat pindah tugas keluar dari tempat bising
Saat pensiun/purna tugas

Tipe audiogram :
Pre-employment/preplacement/Baseline
Annual monitoring
Exit
Policy mengenai audiogram :
1. Base line atau data dasar :
- dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 d A)
- untuk baseline 14 jam bebas bising, atau menggunakan APD
2. Annual audiogram Bagi yang dBA > 85 dBA
3. Evaluasi :
- setiap tahun dibandingkan dengan base-line
- bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz),
maka disebut + (positif) .
Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah :

periksa dokter
periksa tempat kerja
periksa data kalibrasi alat
komunikasikan dengan karyawan tersebut
jika karena penyakit, konsulkan ke dokter THT
periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun

Bila STS (+) karena pekerjaannya :

Bila belum menggunakan APD, diharuskan memakai


Bila sudah memakai, beri petunjuk ulang
Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis
Bila perlu, konsul THT

Lakukan revisi baseline, bila STS persisten atau membaik

16

Penggunaan APD
Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga :
Kecocokan; alat pelindung telinga tidak akan memberikan perlindungan bila tidak

dapat menutupi liang telinga rapat- rapat.


Nyaman dipakai; tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman

dipakai.
Penyuluhan khusus, terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut.

Pendidikan dan motivasi


Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi
pendengaran sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja, dan mendeteksi
perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising. Tujuan pendidikan adalah untuk
menekankan keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas
hidupnya.
Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka, sehingga tenaga kerja
termotivasi untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Juga melalui penyuluhan
diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat
pelindung telinga.
Evaluasi program
Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi,
dengan sasaran :

17

Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya, misalnya pelatihan dan
penyuluhan, kesertaan supervisor dalam program, pemeriksaan masing-masing area
untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan.
Hasil pengukuran kebisingan, identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu
dikontrol lebih lanjut.
Kontrol engineering dan administratif.
Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya; bandingkan data audiogram dengan
baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program.
APD yang digunakan.
Program audit
1. Audit Eksternal, dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui
cost-effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran.
2. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal, terus menerus
untuk menilai efektivitas program konservasi pendengaran.4
PROGNOSIS
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya
menetap, dan tidak dapat diobati secara medikamentosa maupun pembedahan, maka
prognosisnya kurang baik. Oleh sebab itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya
ketulian.
KESIMPULAN
Mengingat kebisingan dan tuli akibat bising bisa dicegah dengan program konservasi
pendengaran, perusahaan sangat dianjurkan untuk menerapkan program konservasi. Tidak
saja untuk melindungi pekerja, keuntungan utama perusahaan adalah mendapatkan karyawan
yang produktif dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dr.Suryadi, Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja, Penerbit Buku Kedokteran ECG,
2010, halaman 255-9
2. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher,Edisi
6,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,2007,halaman 51 ; 53-6
3. John Ridley,Health & Safety in Brief,3rd edition,Penerbit Erlangga,2008,
halaman192-9

18

4. Sulistomo A. Penyakit akibat kerja dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan
(Bab 6). In: Aditama TY, Hastuti T, editors. Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Jakarta: UI-Press; 2002. p. 64-71.
5. Agrawal SK, Schindler DN, Jackler RK, Robinson S. Occupational hearing loss
(Chap. 58). In: Lalwani AK, editor. Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology
Head and Neck Surgery. 2nd ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p. 732-43.
6. Sumamur. Aneka pendekatan keselamatan lain (Bab 19). In: Sumamur. Keselamatan
Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Haji Masagung; 1989. p. 296-301.
7. Bashiruddin J, Soetirto I. Gangguan pendengaran akibat bising (Bab 2). In: Soepardi
EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta: Gaya Baru; 2007. p.
49-52.
8. Sherwood L. The peripheral nervous system: afferent division; special senses (Chap.

6). In: Sherwood L. Human Physiology: From Cells to Systems. 5th ed. Belmont:
Thomson Learning; 2004. p. 221.

19