Anda di halaman 1dari 8

Adab-Adab Kepada Non muslim

Posted on January 15, 2015 by admin


Khutbah Pertama:





.
:
.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini merupakan kehendak dan ciptaan Allah
Tabaraka wa Taala. Baik itu yang sifatnya baik atau jelek dalam pandangan manusia. Allah
Taala berfirman,
Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al-Qamar: 49).

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan
serapi-rapinya. (Qs. Al-Furqan: 2).

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak
menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. (QS. Al-Hijr: 21).
Dan termasuk ciptaan Allah Taala adalah adanya orang-orang yang ingkar, yang kafir
kepada-Nya. Atau kita sebut dengan orang-orang non-Islam.
Ibadallah,
Agama Islam adalah agama yang haq dan adil, mengajarkan cara-cara bermuamalah.
Bagaimana kita hidup di lingkungan sosial. Hidup berbaur dengan seluruh jenis manusia,
termasuk mengajarkan sikap seorang muslim kepada orang-orang non-Islam. Melihat
beberapa isu akhir-akhir ini, terjadinya kerusuhan, konflik antar agama, dan keributankeributan lainnya, perlu kiranya khotib sampaikan bagaimana agama kita mengatur hubungan
antara seorang muslim dengan orang-orang non-Islam.

Ketahuilah kaum muslimin, hal ini menunjukkan kesempurnaan agama kita. Tidak ada agama
yang merinci hidup bersosial sebagaiman Islam telah mengaturnya dengan teliti, bijaksana,
dan penuh keadilan.
Seorang muslim meyakini bahwa seluruh agama selain agama Islam adalah agama yang batil
dan pemeluknya disebut kafir. Allah Taala berfirman,


Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran: 19).
Dan firman-Nya:


Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).
Juga firman-Nya:



Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).
Dengan berita-berita dari Allah Azza wa Jalla ini, seorang muslim mengetahui bahwa semua
agama sebelum Islam telah dihapus dan Islam menjadi agama semua manusia. Sehingga
Allah Tabaraka wa Taala tidak akan menerima agama kecuali Islam, juga tidak ridha dengan
syariat selain syariat Islam. Dari sini seorang muslim meyakini bahwa setiap orang yang tidak
tunduk kepada Allah yang telah menciptakan dan memberinya rezeki, dengan menganut
Islam, maka dia disebut kafir (ingkar) yang harus disikapi dengan sikap yang telah ditentukan
syariat. Di antaranya, sebagai berikut :
Pertama: Tidak menyetujui dan tidak ridha terhadap kekufurannya. Karena ridha terhadap
kekufuran merupakan salah satu kekufuran.
Kedua: Membenci orang kafir karena Allah Azza wa Jalla juga benci kepadanya. Namun
ingat, yang perlu digaris-bawahi membenci itu bukan berarti menzalimi. Sekali lagi,
membenci bukan berarti menzalimi. Allah membenci orang-orang kafir, tapi Allah tidak
zalim kepada mereka bahkan masih Allah berikan kenikmatan dunia kepada mereka.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membenci orang-orang kafir, akan tetapi beliau
tidak pernah menzalimi mereka. Beliau bergaul dengan pergaulan yang baik dan berusaha
mendakwahi mereka. Demikian juga para sahabat Rasulullah, mereka benci kepada orangorang kafir tapi mereka tidak menzaliminya. Allah Taala berfirman,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath: 29).

Ketiga: Tidak memberikan wala (kedekatan; loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada
orang kafir. Allah Taala berfirman :

Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab;
pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (QS. Ali
Imran: 28).
Dan firman-Nya:

Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orangorang yang menentang itu asdalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka. (QS. Al-Mujadilah: 22).
Prinsip ini sangat ingin dihilangkan oleh orang-orang yang membenci Islam. Mereka ingin
agar umat Islam bersedia memilih pemimpin-pemimpin dan teman dekat atau sahabat dari
kalangan mereka. Mereka pun berusaha mengubah prinsip ini dengan menampilkan imageimage orang-orang non-Islam dengan ketegasan, kebaikan, dan sifat-sifat terpuji lainnya
melalui pencitraan media masa. Lalu mereka tampilkan umat Islam yang bobrok, kemudian
dibesar-besarkan dan diulang-ulang. Tujuannya agar umat Islam menganggap sama saja
antara kaum muslimin dan orang-orang kafir. Mereka ingin agar umat Islam memandang
sama antara orang-orang yang menyembah Allah dengan orang-orang yang
menyekutukannya.
Kaum muslimin, tidaklah sama keadaannya dan tidak pernah akan sama. Allah telah
memuliakan seseorang dengan dua kalimat syahadat. Mengangkat derajatnya di dunia dan
akhirat. Di dunia, Allah bebaskan dari peribadatan kepada sesama makhluk ciptaan. Di
akhirat, Allah masukkan mereka ke dalam surga.
Keempat: Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir
muharib (orang kafir yang memerangi kaum muslimin). Berdasarkan firman Allah Azza wa
Jalla:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang
tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Ayat yang mulia lagi sangat jelas maknanya ini membolehkan bersikap adil dan berbuat baik
kepada orang-orang kafir, kecuali orang-orang kafir muharib (orang-orang kafir yang
memerangi umat Islam). Karena Islam memberikan sikap khusus terhadap orang-orang kafir
muharib.
Kelima: Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi
makan jika dia lapar; memberi minum jika haus; mengobatinya jika sakit; menyelamatkannya

dari kebinasaan; dan tidak mengganggunya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


bersabda,



Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas
langit akan mengasihi kamu. (HR. at-Tirmidzi).
Keenam: Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatan, selama dia bukan kafir muharib.
Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, berdasarkan
hadits qudsi berikut ini:



Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau
meriwayatkan dari Allah Tabraka wa Tala berfirman: Wahai hamba-hambaKu,
sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sesuatu
yang diharamkan di tengah kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. (HR. Muslim).
Ketujuh: Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya
serta diperbolehkan memakan daging sembelihan ahli kitab. Allah Azza wa Jalla berfirman,

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang
diberi Al kitab itu halal bagimu. (QS. Al-Maidah: 5).
Memberi hadiah kepada orang-orang non-Islam bisa membuat mereka tertarik dan simpati
terhadap agama Islam. Karena dengan akhlak yang baik hati itu akan tertaut dan jiwa merasa
nyaman. Ketika seorang non-Islam merasa dekat dengan kaum muslimin, maka ia pun tidak
segan untuk bertanya tentang Islam. Selain itu, umat Islam wajib membekali diri. Jangan
sampai ketika hubungan dekat dengan orang-orang non-Islam, malah akidah umat Islam yang
luntur karena dia sendiri tidak pernah belajar apa itu Islam? Apa makna dan konsekuensi dua
kalimat syahadat? Dan perkara-perkara mendasar lainnya.
Kedelapan: Tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir (walaupun
lelaki ini Ahli kitab-pent). Dan laki-laki muslim tidak boleh menikahi wanita kafir, kecuali
wanita ahli kitab.
Tentang larangan menikahkan wanita muslimah dengan lelaki kafir, Allah Azza wa Jalla
berfirman,

Mereka (perempuan-perempuan yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan
orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. (QS. Al-Mumtahanah: 10).
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.


Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia
menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanitawanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik
dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang
Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. AlBaqarah: 221).
Saat ini, isu ini mencuat. Ada segelintir orang yang menampilkan seolah-olah mereka
menyuarakan suara wanita muslimah menuntut agar boleh dihalalkan menikahi laki-laki nonIslam. Naudzubillah, ia menuntut sesuatu yang Allah haramkan agar menjadi halal. Ia
lakukan itu atas nama HAM, hak asasi manusia.
Ironis memang, di Indonesia, kaum muslimin sangat banyak. Laki-laki muslim dengan segala
tipenya ada. Tapi ada muslimah yang menuntut agar dibolehkan menikahi laki-laki dari
kalangan non-muslim. Sementara di Eropa dan negara-negara Barat lainnya, laki-laki muslim
sedikit, minoritas, sedangkan laki-laki non-muslim banyaka, tapi tidak ada tuntutan untuk
dihalalkan menikahi laki-laki non-muslim.
Islam melarang wanita menikahi laki-laki non-muslim karena dalam rumah tangga, lakilakilah yang dominan. Dan secara umum, pengaruh laki-laki lebih kuat dari wanita. Islam
mencegah hal itu agar ia tidak terpengaruh kepada kekufuran yang membuatnya merugi di
dunia dan akhirat.
Sedangkan tentang bolehnya menikahi wanita Ahli kitab, Allah Azza wa Jalla berfirman,




(Dan dihalalkan mangawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang
yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka, dengan
maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundikgundik. (QS. Al-Maidah: 5).
Hal ini pun ditujukan sebagai sarana dakwah. Agar wanita non-muslim itu bisa dipengaruhi
untuk memeluk Islam. Karena itu Allah syaratkan wanita-wanita yang menjaga kehormatan
di antara orang-orang yang diberi al-Kitab. Orang-orang yang menjaga kehormata, wanita
yang baik-baik, maka akan mudah diajak kepada kebaikan.
Kesembilan: Tidak mendahului orang kafir dalam mengucap salam. Jika orang kafir tersebut
mengucapkan salam terlebih dahulu, maka cukup dijawab dengan Wa Alaikum. Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Jika salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan Wa
Alaikum. (HR. Ibnu Majah).
Kesepuluh: Kaum muslimin harus menyelisihi orang kafir dan tidak boleh melakukan
tasyabbuh (menyerupai) dengannya.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka. (HR. Abu Dawud).
Tasyabbuh artinya menyerupai atau meniru. Tasyabbuh dengan orang kafir yang terlarang
adalah meniru atau menyerupai orang kafir dalam masalah keyakinan, ibadah, kebiasaan, atau
model-model perilaku yang merupakan ciri khas mereka.
Inilah beberapa adab berkaitan dengan orang-orang kafir. Lewat paparan singkat ini, kita
dapat mengetahui sikap adil yang diajarkan agama Islam dalam menyikapi orang-orang kafir
secara umum.

.
Khutbah Kedua:







.
:
.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Setelah mengetahui adab-adab seorang muslim terhadap non-muslim, maka dapat kita
ketahui ada dua kelompok yang berlebih-lebihan dalam permasalahan ini. Semoga Allah
melindungi kita dari kedua kelompok ini.
Kelompok yang pertama mereka bermuamalah dan bergaul dengan orang-orang non-muslim
dengan cara keras dan kasar saja. Mereka menafikan tuntunan Alquran dan Sunnah yang juga
menjelaskan adanya perintah Allah dan Rasul-Nya agar bermuamalah dengan baik terhadap
orang-orang non-Islam. Mereka menganggap orang-orang non-Islam yang ada di dunia ini,
baik di Indonesia maupun selain Indonesia adalah kafir muharib yakni orang-orang kafir
yang diperangi.
Untuk menguatkan pendapat mereka ini, mereka bawakan dalil-dalil dari Alquran dan Sunnah
pula. Namun dalil yang mereka bawakan hanya sebatas sikap tegas saja, mereka lupakan dalil
yang menjelaskan sikap lemah lembut. Mereka juga beralasan bahwa orang-orang non-Islam
sekarang memerangi umat Islam, minimal menaruh kebencian. Dan alasan-alasan lainnya.

Akibat dari keyakinan ini, muncullah konflik horizontal. Lahirlah tindakan anarkis atas nama
agama. Akhirnya citra Islam buruk. Dan umat Islam dinilai jelek. Ditambah lagi media sangat
senang mengekspos yang demikian.
Ibadallah,
Adapun kelompok kedua adalah mereka yang bermudah-mudahan. Mereka bermuamalah
dengan non-Islam dengan toleransi yang kebablasan dan menafikan batasan-batasan yang
telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Mereka korbankan akidah, berbaur dengan non-muslim
dalam perayaan-perayaan hari besar mereka, membenarkan ajaran mereka dengan
mengatakan sama-sama agama Ibrahimi. Bahkan mereka menjadi penceramah di tempattempat ibadah umat non-Islam atas nama toleransi dan persamaan agama.
Keadaan yang demikian adalah keadaan yang mengenaskan. Atas nama toleransi mereka
korbankan akidah mereka. Mereka bawakan dalil-dalil Alquran yang mengatakan Islam
adalah agama rahmat bagian sekalian alam. Iya, Islam adalah agama rahmat bagi sekalian
alam. Namun terjemahan rahmat bagi sekalian alam yang dipraktikkan Rasulullah dan para
sahabatnya apakah yang demikian?
Akibat dari yang demikian, muncullah generasi-generasi Islam yang tidak jelas indentitas
keislamannya. Muncullah generasi-generasi yang hanya untuk menyebut nama Allah saja
mereka malu dan segan kalau hal itu merusak persatuan. Mereka terus menyebut dan
mengganti lafadz Allah dengan kata Tuhan dalam berbagai kesempatan. Kata mereka nanti
menyinggung dan memecah belah. Allahul mustaan. Inilah pendangkalan akidah atas nama
toleransi.
Ibadallah,
Mudah-mudahan kita menjadi golongan yang Allah dan Rasul-Nya tuntunkan dalam
bermuamalah dengan non-Islam. Tidak bermuamalah hanya dengan sikap tegas saja dan tidak
juga melulu toleransi. Semoga Allah membimbing dan memberi taufik kepada kita untuk
mengikuti petunjuk-Nya.

:


)) : [: ]

(( .


.


.
.
:
.

Oleh tim KhotbahJumat.com


Artikel www.KhotbahJumat.com