Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pantai merupakan garis temu antara daratan dan lautan yang

dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan surut terendah, yang memiliki sifat
dinamis selalu mengalami perubahan-perubahan dalam waktu relative cepat.
Perubahan tersebut disebabkan oleh energi dari laut salah satunya adalah
gelombang (anonim).
Pada hakekatnya fenomena gelombang laut menggambarkan transmisi dari energi dan
momentum. Gelombang laut selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa hentihentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sama sekali diam. Gelombang
laut pada umumnya timbul oleh pengaruh angin, walaupun masih ada faktor-faktor lain yang
dapat menimbulkan gelombang di laut seperti aktifitas seismik di dasar laut (gempa), letusan
gunung api, gerakan kapal, gaya tarik benda angkasa (bulan dan matahari) (NINING, 2002
dalam Azis M. Furqon, 2006).
Tiga faktor yang menentukan karakteristik gelombang yang dibangkitkan oleh angin
yaitu : (1) lama angin bertiup atau durasi angin, (2) kecepatan angin dan (3) fetch (jarak yang
ditempuh oleh angin dari arah pembangkitan gelombang atau daerah pembangkitan gelombang)
(Baharuddin et all, 2009 dalam Hadi, S dkk, 2011).
Gelombang dapat menimbulkan energi untuk membentuk pantai, menimbulkan arus dan
transport sedimen dalam arah tegak lurus dan sepanjang pantai dan menyebabkan gaya-gaya
yang bekerja pada bangunan pelindung pantai. Gelombang merupakan faktor utama dalam
perencanaan bangunan pelindung pantai (Hidayat Nur, 2005). Untuk itu diperlukan penelitian
tentang gelombang padasuatu wilayah pantai agar dampak dan efek dari gelombang yang
merusak dapat diminimalisir.
Pulau Bintan termasuk salah satu kawasan di Indonesia yang mempunyai garis pantai
yang cukup panjang, salah satu pantai adalah trikora. Pantai Trikora salah satu pantai yang cukup
tinggi gelombangnya, maka dari itulah maka praktikum Oceanography Fisika Kimia dilakukan di
kawasan ini (Wikipedia).
1.2.

Tujuan

Mengetahui besaran parameter gelombang dipantai yang meliputi Tinggi, Laju Cepat
Rambat, Perioda, Kedalaman gelombang, Panjang, dan Frekuensi Gelombang.
1.3. Manfaat
2 Dapat mengetahui besaran parameter gelombang di Pantai Trikora.
3 Mengetahui cara pengukuran gelombang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pantai


Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air
pasang tertinggi dan surut terendah. Gelombang sangat berpengaruh
terhadap pantai. Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian
sehingga mampu meredam energi gelombang yang datang. Penyesuaian
bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alami pantai terhadap laut.
Beberapa definisi pantai untuk keperluan rekayasa/teknik pantai
(Triadmodjo,1999, dalam Supangat, A) yang perlu diketahui dan dipahami
diantaranya:
Surf zone
Adalah daerah yang terbentang antara bagian dalam dari gelombang
pecah sampai batas naik-turunnya gelombang di pantai.
Breaker zone
Adalah daerah dimana terjadi gelombang pecah.
Swash zone
Adalah daerah yang dibatasi oleh garis batas tertinggi naiknya
gelombang dan batas terendah turunnya gelombang di pantai.
Offshore
Adalah daerah dari gelombang (mulai) pecah sampai ke laut lepas.
Foreshore
Adalah daerah yang terbentang dari garis pantai pada saat surut
terendah sampai batas atas dari uprush pada saat air pasang tertinggi.
Inshore
Adalah daerah antara offshore dan foreshore.
Backshore
Adalah daerah yang dibatasi oleh foreshore dan garis pantai yang
terbentuk pada saat terjadi gelombang badai bersamaan dengan muka air
tertinggi.
Coast

Adalah daratan pantai yang masih terpengaruh laut secara langsung,


misalnya pengaruh pasang surut, angin laut, dan ekosistem pantai (hutan
bakau, sand dunes).
Coastal area
Adalah daratan pantai dan perairan pantai sampai kedalaman 100 atau
150 m (Sibayama, 1992).
2.2

Definisi Gelombang
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah

tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.


Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer
energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah
menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang.
Menurut Davis (1987), dalam Supangat, A pergerakan gelombang merupakan fase atau
energi gelombang, sedangkan materi atau partikel air sendiri dapat dikatakan tidak berpindah
dari tempatnya. Bila sebuah dilepaskan diatas permukaan air yang bergelombang maka akan
terlihat bahwa pelampung tersebut hanya bergerak naik turun pada daerah yang sangat terbatas .
Gerakan pelampung membuat pola melingkar pada bidang vertical dengan arah perambatan
gelombang.
Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang tergantung kepada
gayapembangkitnya. Gelombang tersebut adalah gelombang angin yang dibangkitkan oleh
tiupan angin dipermukaan laut, gelombang pasang surut dibangkitkan oleh gaya tarik bendabenda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi karena
letusan gunung berapi atau gempa di laut, gelombang yang dibangkitkan oleh kapal
yangbergerak, dan sebagainya (Triatmodjo.1999 dalam Hidayat Nur, 2005).
2.3 Notasi (Karakteristik) Gelombang
Terdapat beberapa notasi (karakteristik) yang digunakan dalam
perhitungan dan pembelajaran gelombang yaitu :
d = kedalaman laut (jarak antara muka air rerata dan dasar laut)
H = tinggi gelombang = 2 a ( a = H)
A = ampitudo gelombang

L =

panjang gelombang (jarak antara dua puncak gelombang yang

berurutan)
T =

Periode gelombang (interval waktu yang diperlukan oleh partikel air

untuk

kembali

pada

kedudukan

yang

sama

dengan

kedudukan

sebelumnya)
C = kecepatan rambat gelombang =
= frekuensi gelombang = 2/T
k = angka gelombang = 2/L

Gambar 1. Notasi Gelombang


Defenisi gelombang tersebut di atas digunakan untuk memudahkan
pemahaman mengenai gelombang dan merupakan pemahaman awal untuk
meyelesaikan persoalan maupun perhitungan yang berhubungan dengan
teknik pantai.
2.4 Faktor-Faktor Pembentuk Gelombang
Ada beberapa faktor pembentuk gelombang laut, yaitu :
1. Gelombang Laut yang Dibangkitkan Oleh Angin.
Pada tahun 1779, Benyamin Franklin mengatakan, Udara yang bergerak yaitu angin, melewati
permukaan yang halus, akan mengganggu permukaan, dan menjadikan permukaan tersebut
bergelombang, jika angin bertiup terus, maka menjadi elemen gelombang. Dengan kata lain, jika dua
lapisan fluida yang mempunyai perbedaan kecepatan bertemu, maka akan ada tegangan friksi diantara

keduanya, maka akan ada transfer energi. Di permukaan laut, kebanyakan energi yang ditransfer
merupakan hasil dari gelombang, namun dengan proporsi yang kecil merupakan hasil dari arus yang
dibangkitkan oleh angin. Pada tahun 1925, Harold Jeffrey S. menganggap gelombang memperoleh energi
dari angin karena perbedaan tekanan yang disebabkan efek dari puncak gelombang (Buku Pengantar
Oceanography).
Sifat-sifat gelombang yang dipengaruhi oleh faktor angin sedikitnya ada tiga faktor angin yang
sangat berpengaruh yaitu :
1. Kecepatan angin. Umumnya makin kencang angin yang bertiup, makin besar gelombang yang
terbentuk dan gelombang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang
besar.
2. Lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya cenderung untuk
meningkat sesuai dengan lamanya angin bertiup.
3. Jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal sebagai fetch) Pentingnya fetch dapat
digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif
kecil seperti danau di daratan dengan yang terbentuk di lautan bebas. Gelombang yang terbentuk
di danau dimana fetchnya kecil biasanya mempunyai panjang gelombang hanya beberapa
sentimeter, sedangkan yang di lautan bebas dimana fetchnya lebih besar, sering mempunyai
panjang gelombang sampai beberapa ratus meter.

2. Gelombang Laut yang Disebabkan Oleh Pasang Surut


Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan yang diamati adalah merupakan
penjumlahan dari komponen-komponen pasang yang disebabkan oleh gravitasi bulan, matahari,
dan benda-benda angkasa lainnya yang mempunyai periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda
dan sangat tergantung dari tempat dimana pasang itu terjadi (Cappenberg, 1992; Pengantar
Oceanography).
Tipe pasang surut yang terjadi di Indonesia terbagi atas dua bagian yaitu tipe diurnal
dimana terjadi satu kali pasang dan satu kali surut setiap hari misalnya yang terjadi di
Kalimantan dan Jawa Barat. Tipe pasang surut yang kedua yaitu semi diurnal, dimana pada jenis
yang kedua ini terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, misalnya yang terjadi
di wilayah Indonesia Timur (Ceppenberg,1992; Pengantar Oceanography).
3. Gelombang yang Disebabkan Oleh Tsunami
Gelombang tsunami merupakan bentuk gelombang yang dibangkitkan dari dalam laut
yang disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanis seperti letusan gunung api bawah laut, maupun
adanya peristiwa patahan atau pergeseran lempengan samudera (aktivitas tektonik). Panjang
gelombang tipe ini dapat mencapai 160 Km dengan kecepatan 600-700 Km/jam. Pada laut
terbuka dapat mencapai 10-12 meter dan saat menjelang atau mendekati pantai tingginya dapat
bertambah bahkan dapat mencapai 20 meter serta dapat menghancurkan wilayah pantai dan

membahayakan kehidupan manusia, seperti yang terjadi di Kupang tahun 1993 dan di Biak tahun
1995 yang menewaskan banyak orang serta menghancurkan ekosistem laut (Dahuri,1996,
Pengantar Oceanography).
4. Gelombang yang Disebabkan Oleh Seiche
Gelombang seiche merupakan standing wave yang sering juga disebut sebagai
gelombang diam atau lebih dikenal dengan jenis gelombang stasioner. Gelombang ini merupakan
standing wave dari periode yang relatif panjang dan umumnya dapat terjadi di kanal, danau dan
sepanjang pantai laut terbuka. Seiche merupakan hasil perubahan secara mendadak atau seri
periode yang berlangsung secara berkala dalam tekanan atmosfir dan kecepatan angin (Pond and
Picard, 1978).
2.5 Transformasi Gelombang
Gelombang di perairan

dalam

yang

bergerak

memasuki

perairan

pantai

mengalamitransformasi yakni : kecepatannya berkurang, panjang gelombang menjadi lebih


pendek dan tingginya bertambah. Transformasi gelombang ini diperlihatkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Transformasi Gelombang


Perubahan kecepatan yang dialami gelombang ketika memasuki perairan dangkal
(daerah pantai) mengakibatkan gelombang mengalami refraksi atau terjadi pembelokan dari arah
penjalaran gelombang. Refraksi ini membuat 'muka gelombang' sejajar garis pantai. Adakalanya
gerakan gelombang menuju pantai terhambat oleh adanya bangunan seperti pemecah gelombang
(breakwater). Gelombang yang membentur pemecah gelombang ini mengalami difraksi yang
mengakibatkan tinggi gelombang menjadi berkurang.
Disamping dapat mengalami refraksi dan difraksi, gelombang laut juga mengalami
refleksi (pemantulan), seperti yang dialami oleh gelombang yang memasuki pelabuhan atau

suatu teluk. Gelombang yang datang dipantulkan kembali ke arah laut. Superposisi dari
gelombang datang dan gelombang yang dipantulkan disebut gelombang berdiri(standing waves).
Pada gelombang berdiri ini tidak terlihat adanya perambatan gelombang seperti gelombang laut
pada umumnya.
Gelombang laut yang bergerak memasuki perairan pantai mengalami pertambahan
tinggi yang membuat keterjalan gelombang bertambah. Selanjutnya kecepatan partikel air pada
puncak gelombang mendekati kecepatan gelombang. Bila kecepatan partikel air lebih besar
daripada kecepatan gelombang maka gelombang menjadi tidak stabil dan pecah. Kriteria lain
adalah gelombang akan pecah bila H/d = 0,78. Pecahnya gelombang umumnya dapat dibagi
dalam tiga tipe, yaitu spilling, plunging dan surging (DUXBURY et al., 1994). Di pantai yang
landai umumnya terjadi spilling dan di pantai yang agak curam terjadi plunging sedangkan di
pantai yang curam terjadi surging.
Berdasarkan perbandingan antara kedalaman perairan (d) dan panjang gelombang (L),
gelombang laut dapat diklasifikasikan (NESTING, 2002) menjadi:
1. Gelombang perairan dalam (Deep water waves) dimana d/L > 1/2
2. Gelombang perairan transisi (Transitional waves) dimana 1/20 < d/L < 1/2
3. Gelombang perairan dangkal (Shallow water waves) dimana d/L < l/20

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum Oceanography Fisika Kimia, dilakukan pada hari Sabtu, 30

Desember 2014, yang bertempat di Pantai Trikora, Desa Malang Rapat< Kecamatan Gunung
Kijang, Kabupaten Bintan.

Gambar 3. Peta Lokasi Praktikum Oceanography Fisika Kimia (Pengukuran


Gelombang (sumber google earth).
3.2. Alat dan Bahan
Tabel 1. Alat dan Bahan
N

Nama Alat dan Bahan

Jumlah

Keterangan

o
1
2
3
4
5

Tongkat Ukur
Stopwacth
Alat Tulis
Meteran
Kamera

2 buah
1 buah
1 set
1 buah
1 buah

Untuk mengukur tinggi gelombang


Penghitung waktu
Mencatat hasil pengukuran
Mengukur jarak antar tongkat ukur
Alat dokumentasi selama kegiatan

3.3.

Prosedur Kerja
A. Pengukuran Tinggi dan Kedalaman Gelombang
1. Sediakan batang ukur dengan panjang minimal 2 meter.
2. Letakkan batang ukur tersebut pada suatu titik pantai di belakang sebelum gelombang
pecah.
3. Lakukan pengamatan pada batang ukur pada bagian puncak dan lembah gelombang
tinggi gelombang sebanyak 10 kali dengan 3 kali ulangan.
4. Bila telah melakukan pengukuran maka hitung :

Rata-rata tinggi gelombang (H) adalah rata-rata puncak dikurangi rata-rata


lembah.

Rata-rata kedalaman = H/2 ditambahkan pada rata-rata lembah atau dikurangkan


pada rata-rata puncak.

B. Pengukuran Perioda dan Frekwensi Gelombang


1. Posisi batang ukur sama saat pengukuran sebelumnya dan siapkan jam pencatat waktu
(stopwatch).
2. Lakukan pengamatan waktu 11 puncak gelombang yang melewati batang ukur dengan
3 kali ulangan.
3. Setelah pengukuran maka hitung :
Perioda gelombang dengan cara membagi waktu 10 gelombang (11 pengamatan

puncak) dengan 10.


Frekwensi gelombang dengan persamaan (2).

C. Pengukuran Cepat Rambat dan Panjang Gelombang


1. Letak 2 batang ukur dengan jarak antara 2 batang minimal 2 m dengan arah tegak
lurus terhadap garis pantai dan diupayakan tetap di belakang sebelum gelombang
pecah .
2. Lakukan pengamatan waktu tempuh puncak gelombang yang melewati 2 batang ukur
sebanyak 10 kali dengan 3 kali ulangan.
3. Setelah pengukuran maka hitung :
Laju cepat rambat dengan membagi rata-rata wakt,u gelombang dengan jarak

antara 2 batang.
Panjang gelombang dengan persamaan (1).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Hasil
Berdasarkan praktikum pengukuran gelombang yang telah dilaksanakan di Pantai

Trikora didapatkan hasil pengukuran sebagai berikut :


Tabel 2. Data Pengamatan Parameter Tinggi dan Kedalaman Gelombang
No.

Puncak Gelombang (cm)

No.

Lembah Gelombang (cm)

Tinggi &
Kedalaman
Gelombang

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata
R. Total

I
II
III
170
200
160
163
165
145
170
150
155
200
170
160
180
165
163
200
170
175
175
165
198
160
190
185
175
150
210
170
180
210
176,3
169,5
176,1
P = (P1+P2+P3)/3 = 173,96

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rerata
R. Total

I
II
III
125
150
120
130
135
140
130
130
138
150
140
145
145
130
139
150
145
148
135
145
173
130
140
165
130
135
180
135
130
185
136
138
153,3
L = (L1+L2+L3)/3 = 142,43

H = P-L
= 31,53
D = H/2 + L
Atau
D = P H/2
= 158, 195

Tabel 3. Data Pengamatan Periode dan Frekuensi Gelombang


No.
1
Rata-rata

I
5,714

Waktu 10 Gelombang (dtk)


II
4,932
T = (T1+T2+T3)/3 = 5,119
F = 1/T = 0,1953507

Tabel 4. Data Pengamatan Laju Cepat Rambat dan Panjang Gelombang


Jarak Antar Tongkat adalah 5 meter

III
4,711

No.

Waktu Tempuh (detik)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

2.22
2,43
2,67
2,99
2,49
2,70
2,07
3,29
2,69
2,66
t = 2,621

Rata-rata

C = s/t = 1,907

L = C x T = 4,998247

Tabel 5. Hasil Pengukuran Keseluruhan Parameter Gelombang

4.2.

No

Tinggi

Kedalaman

(H)
31,53

(D)
158,195

Rekap Parameter Gelombang


Perioda (T)
Frekwensi
Laju Cepat Rambat
5,119

(F)
0,1953507

(C)
1,907

Panjang
(L)
4,998247

Pembahasan
Dari hasil praktikum pengukuran gelombang di pantai Trikora didapat :
1. Tinggi Gelombang (H)
Untuk parameter tinggi (H) gelombang didapat dengan cara puncak gelombang dikurangi
dengan panjang gelombang ( H = P L) maka didapat hasil sebesar 31,53;
2. Kedalaman (D)
Untuk kedalaman (D) gelombang didapat dengan cara tinggi gelombang dibagi 2 ditambah
dengan lembah gelombang (D = H/2 + L), atau puncak gelombang dikurangi tinggi gelombang
dibagi 2 (D = P H/2) maka didapat hasil 158,195 (1/20 X 990 cm = 49,5) dan dapat dikatakan
bahwa jenis gelombangnya tergolong transisi karena 1/2 L < d < 1/20L.
3. Periode (T) dan Frekuensi (F)
Untuk periode (T) gelombang didapat hasil 5,119 dengan frekuensi (F) sebesar 0,1953507
yang mana frekuensi didapat dengan cara satu di bagi periode (F = 1/T) .
4. Laju Cepat Rambat (C)
Laju cepat rambat (C) 1,907 yang didapat dari jarak antar tongkat pengukuran dibagi dengan
waktu ( C = L/t).
5. Panjang Gelombang (L)

Panjang (L) gelombang sebesar 4,998247 yang didapat dengan cara laju cepat rambat dikali
dengan waktu (L = C X t) .

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.

Kesimpulan
Dari hasil praktikum pengukuran gelombang di pantai Trikora didapat hasil; untuk

parameter tinggi (H) gelombang didapat angka sebesar 31,53; untuk kedalaman (D) gelombang
didapat hasil 158,195 (1/20 X 990 cm = 49,5) dan dipat dikatakan bahwa jenis gelombangnya
tergolong transisi karena 1/2 L < d < 1/20L. Untuk periode (T) gelombang didapat hasil 5,119
dengan frekuensi (F) sebesar 0,1953507 dan memiliki laju cepat rambat (C) 1,907 dengan
panjang (L) gelombang sebesar 4,998247.
5.2.

Saran
1. Dalam pengukuran gelombang untuk lebih diperhatikan lagi keselamatan dari pelaksana
kegiatan, seperti dengan pengadaan Life jeket.
2. Lebih dikembangkan lagi peralatan yang lebih canggi dalam pengukuran parameter
gelombang.

DAFTAR PUSTAKA
Azis, M. Furqon. 2006. Gerak Air Dilaut. www.oseanografi.lipi.go.id
Hidayat, Nur. 2005. Kajian Hidro-Oseanografi Untuk Deteksi Proses-Proses
Fisik Di Pantai. Jurnal SMARTe.
Hutabarat, S. dan S.H Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. UI press. Jakarta
Pond, S. and G.L. Pickard. 1983. Intoduction Dynamical Oceanography. Pergamon Press. Tokyo.
Supangat, A & Susanna. Pengantar Oceanography. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya
Non-hayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan
Perikanan. Jakarta.
Wikipedia.co.id