Anda di halaman 1dari 3

Diabetes Melitus sebagai Faktor Risiko Utama Penyakit Jantung

Written by Irfan Arief


Wednesday, 27 June 2007
Dr. Basuni Radi, SpJP.

http://www.pjnhk.go.id/content/view/191/31/
2013 National Cardiovascular Center Harapan Kita
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
Pendahuluan
Diabetes melitus (DM) telah diketahui merupakan faktor risiko yang penting untuk penyakit
jantung koroner. Diperkirakan hampir 200 juta orang di seluruh dunia mengidap DM, baik
tipe 1 maupun tipe 2, tetapi sebagian besar mengidap DM tipe 2. Angka tersebut
diperkirakan melonjak menjadi 2 kali lipat pada tahun 2005.
Di Indonesia diperkirakan ada 4,5 juta pengidap DM pada tahun 1995 dan menempati urutan
ke 7, kemudian diperkirakan ada 12,4 juta penderita DM pada tahun 2025 serta pada urutan
ke 4 negara yang banyak penderita Dmnya.
Selain telah dipastikan bahwa mereka yang mengidap DM lebih banyak yang menderita
akibat terjadinya penyakit jantung koroner, mereka juga mempunyai prognosis lebih buruk
bila mendapat serangan infark miokard akut.

Diabetes Melitus
Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai adanya hipergliemia
yang disebabkan karena defek sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya. DM
merupakan gangguan yang kronis dan berhubungan dengan kerusakan berbagai organ
tertentu seperti mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
DM digolongkan menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, gestational DM dan tipe lainnya. Komplikasi
vaskular karena diabetes dibagi menjadi komplikasi makrovaskular seperti penyakit jantung
koroner, penyakit pembuluh darah perifer dan stroke, serta komplikasi mikrovaskular seperti
retinopati, nefropati dan neropati.
Mekanisme yang diduga terjadi pada DM sehingga terjadi proses aterogenesis:
- Abnormalitas pada distribusi partikel-partikel apoprotein dan lipoprotein.
- Glkosilasi dan glikasi lanjut protein-protein dalam plasma dan dinding arteri.
- Glycoxidation dan oksidasi
- Procoagulant state

- Insulin resistance dan hyperinsulinemia


- Proloferasi sel otot polos dan pembentukan from cell karena rangsangan hormonal,
growth factor, dan cytokine.
Bila DM ini bisa dikontrol dengan baik tentunya kejadian komplikasi menjadi lebih kecil. Pada
kenyataannya 50% penderita DM sudah disertai komplikasi pada saat didiagnosa DM
pertama kalinya.

Insiden Penyakit Kardiovaskular Karena DM


Pemantauan pada Framingham Heart Study terhadap penderita DM yang berusia 30-64
tahun menunjukkan kejadian-kejadian kardiovaskular yang tampaknya lebih banyak terjadi
pada wanita.
Dibandingkan dengan orang yang tanpa DM, angka kematian karena kejadian koroner
meningkat 2,2 kali lipat pada laki-laki dan 2,8 kali lipat pada wanita, pada laporan lain
menyatakan 3-4 kali lipat. Kejadian IMA non fatal meningkat 1,6 kali dan 1,7 kali lipat pada
pria dan wanita. Kematian karena kardiovaskular (termasuk penyakit pembuluh darah
perifer dan serebrovaskular) meningkat 3,2 dan 4,1 kali lipat pada pria dan wanita.
Kejadian komplikasi karena DM lebih tinggi pada wanita kemungkinan disebabkan karena DM
pada wanita banyak yang disertai dengan faktor risiko lain seperti obesitas, hipertensi, dan
aterogenik dislipidemia. Walaupun ada kondisi protektif terhadap penyakit jantung pada
wanita tetapi pada wanita yang DM efek protektif tersebut hilang atau tak ada sama sekali.
Sebenarnya pada saat ini tidak hanya dipastikan bahwa DM yang memperburuk prognosis,
tetapi juga terbukti bahwa kondisi pre diabetespun berhubungan dengan meningkatnya
proses aterosklerosis dengan peningkatan risiko 2,4 kali lipat untuk kejadian kardiovaskular
dalam 15 tahun. Risiko gagal jantungpun meningkat seiring dengan meningkatnya kadar gula
darah pada mereka yang belum di diagnosis DM.
Penyakit pembuluh darah perifer juga merupakan komplikasi yang biasa terjadi mengiringi
DM. Berbeda dengan mereka yang tanpa DM, penyakit pembuluh darah perifer pada
penderita DM lebih ganas karena keterlibatannya pada pembuluh yang lebih distal dan
biasanya disertai neropati sehingga seolah-olah asimptomatik sehingga akan datang lebih
terlambat dan lebih banyak yang harus menjalani amputasi.
Hipertensi lebih banyak 1,5 sampai 3 kali lipat ditemukan pada penderita DM dibandingkan
dengan yang tanpa DM. Setiap kenaikan 5 mmHg tekanan darah sistolik atau diastolik akan
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 20-30% pada penderita DM.

Kejadian penyakit kardiovaskular karena DM juga berhubungan dengan perjalanan waktu,


semakin lama DM diidap maka semakin besar kejadian kardiovaskularnya.

Resistensi Insulin
DM merupakan bagian dari resistensi insulin. Resistensi insulin juga menyebabkan berbagai
kondisi seperti hipertensi, obesitas, diabetes, hiperinsulinemia, hipertrigliseridemia, HDL yang
rendah, small dense LDL yang tinggi dan kondisi hiperkoagulasi yang keseluruhannya
mengarah pada percepatan proses aterosklerosis.

DM sebagai risiko yang ekuivalen dengn PJK


Saat ini DM dianggap sebagai risiko yang ekuivalen dengan PJK. Mereka yang menderita DM
walaupun tanpa riwayat infark miokard akut mempunyai angka kejadian kardiovaskular yang
sama dengan mereka yang tanpa DM tetapi pernah mengalami infark miokard. Penderita DM
mempunyai risiko kejadian kardiovaskular dalam 10 tahun sebesar 20%. Mereka yang
menderita DM juga mempunyai angka kematian yang tinggi bila mengalami kejadian
kardiovaskular, mereka lebih banyak yang meninggal dan lebih banyak yang mendapatkan
komplikasi.
Oleh karena itulah bagi mereka yang menderita DM tata laksananya harus lebih agresif,
misalnya target pengontrolan tekanan darah pada mereka harus kurang dari 130/80 mmHg.
Pengontrolan kolesterol pada penderita Dmpun harus lebi rendah dan agresif dengan target
LDL kurang dari 100mg/dl. Pengobatan diberikan bila kadar kolesterol diatas 130 mmHg,
tetapi dapat juga diberikan bila kadar kolesterol LDLnya kurang dari 130 mg/dl.

Kesimpulan
Selain sebagai faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular, DM juga memperburuk dan
meningkatkan mortalitas serta morbiditas penyakit kardiovaskular. Diabetes juga saat ini
sudah dianggap setara dengan penyakit jantung itu sendiri sehingga diperlukan tatalaksana
yang lebih baik agar dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas. (Daftar Pustaka ada pada
penulis)