Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Dalam menghadapi dampak globalisasi yang semakin meluas, sektor pertanian masih
memegang peranan penting dalam pembangunan di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten
Karawang. Oleh karena itu, penguatan sector pertanian dari semua aspek perlu ditingkatkan,
termasuk aspek sumberdaya manusia pertanian dan kelembagaan petani.
Tantangan pembangunan pertanian di pedesaan yang dihadapi saat ini merupakan
dampak dari adanya pergeseran nilai dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi yang
semakin canggih. Keberhasilan di bidang pertanian sangat ditentukan oleh sumber daya manusia
petani baik aktivitas, kreatifitas maupun ketepatan dan kualitas kerjanya.
Oleh karena itu kami sangat berterima kasih atas kepercayaan pemerintah Provinsi
Jawa Barat dalam pelaksanaan Program Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian dan
Kelembagaan Petani Tahun Anggaran 2014.
Semoga hasil dari Program Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian dan
Kelembagaan Petani Tahun Anggaran 2014 di BP3K Kecamatan Tempuran sesuai dengan
harapan serta dapat memberikan manfaat yang besar bagi kelembagaan petani, keluarga petani
serta masyarakat tani umumnya.

Tempuran,

Desember 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai sasaran utama yaitu meningkatkan
produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat yang terus meningkat sejalan dengan
pertumbuhan penduduk di satu pihak dan pendapatan petani di lain pihak. Beras merupakan
bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia meskipun dapat digantikan
dengan bahan makanan lainnya, namun beras memiliki nilai tambah bagi orang yang terbiasa
makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan dengan bahan makanan lainnya. Bahkan
pada beberapa daerah yang sebelumnya makanan pokoknya non beras, banyak yang beralih ke
beras karena pendapatannya yang meningkat. Keadaan pangan di suatu negara dapat menjadi
stabil apabila antara kebutuhan pangan dan penyediaan pangan seimbang maka akan mendorong
mantapnya stabilitas nasional.
Peningkatan produksi pangan khususnya padi mempunyai harapan yang cukup besar untuk
masa-masa yang akan datang karena kebutuhan akan beras masih cukup tinggi. Jika diasumsikan
penduduk Indonesia pada tahun 2008 sekitar 230 juta jiwa dengan kebutuhan beras per kapita
sebanyak 85/kg/tahun/orang, maka kebutuhan beras per tahunnya sekitar 19,55 juta ton.
Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 2% per tahun tentunya upaya program Peningkatan
Produksi Beras Nasional (P2BN) sebasar 2 juta ton per tahun harus mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak melalui peningkatan luas lahan, produktifitas, perbaikan penanganan panen dan
pasca panen.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka peran serta petani dalam kelembagaan petani harus
dioptimalkan dalam penerapan teknologi anjuran. Melalui Program Pengembangan Sumberdaya
Manusia Pertanian dan Kelembagaan Petani diharapkan para petani memahami peran pentingnya
dalam mendukung ketahanan pangan nasional sehingga senantiasa terus mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikapnya baik secara individu maupun dalam kelembagaan petani
seperti Gapoktan dan kelompok tani. Selain itu untuk menunjang kegiatan tersebut perlu
dipersiapkan unsur penunjang yaitu, permodalan dan sarana produksi lainnya yang menunjang
kegiatan yang telah direncanakan agar tercapai sesuai dengan harapan.
1.2. Tujuan
a. Menumbuh kembangkan kelembagaan petani untuk meningkatkan kompetensi dan
kemandirian petani.
b. Sebagai sarana belajar dan media informasi para petani.
c. Meningkatkan kapasitas petani dan partisipasi mereka dalam kelembagaan petani

1.3. Sasaran

1.
2.

Tertatanya kelembagaan petani sesuai dengan peraturan.


Meningkatkan Pengetahuan, Keterampilan dan sikap pengurus Gapoktan, kelompok tani dan

3.

petani.
Terfasilitasinya petani dalam menimgkatkan kompetensi pertanian.

1.4. Keluaran

a)
b)
c)
d)

Tersusunnya Rencana Kerja Penyuluhan tingkat WKPP untuk tahun 2015.


Tersusunnya Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
Terselenggaranya kegiatan Farmer Field Days.
Terselenggaranya kursus tani bagi anggota kelompok peserta Sekolah Lapang
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT).

1.5. Dasar Hukum Pelaksanaan

a. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan,


dan Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4660);
b. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 273/Kpts/ OT.160/4/2007 tentang Pembinaan
Kelembagaan Petani;
c. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013 tentang pedoman pembinaan
kelompok tani dan gabungan kelompok tani
d. PERMENTAN No. 45/Permentan/OT.140/8/2007 tentang Tata Hubungan Kerja anatara
Kelembagaan Teknis, Penelitian, dan Pengembangan dan Penyuluhan Pertanian dalam
mendukung Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).
e. PERMENTAN No. 52/Permentan/OT.140/12/2009 tentang Metodologi Penyuluhan
Pertanian.
f. Pedoman Pemberdayaan Masyarakat Tani Dalam Pengembangan Agribisnis Tahun 2010.
1.6. Waktu dan Tempat
Kegiatan pendampingan dilakukan pada periode Mei s/d Oktober 2014 di 4 Wilayah Kerja
Penyuluh Pertanian (WKPP) di Kecamatan Tempuran Kabupaten Karawang, yang terdiri atas
WKPP Lemahduhur, WKPP Cikuntul, WKPP Pancakarya dan WKPP Purwajaya.

BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1. Pelaksanaan (Fisik)


1. Menyusun Rencana Kerja Penyuluh
a) Rencana Kerja Penyuluh disusun untuk menampung aspirasi kebutuhan belajar bagi
anggota kelompok tani peserta SL-PTT.
b) Penyusunan rencana kerja dilakukan bersama pengurus kelompok tani.
2. Kursus Tani yang membahas tentang :
a)
b)
c)
d)

Pengembangan agribisnis padi.


Analisa usahatani padi.
Pengolahan hasil padi.
Evaluasi.

3. Hari Temu Lapang (Farmer Field Days) yang meliputi :


a)
b)
c)
d)

Kunjungan ke lokasi Laboratorium Lapang.


Melihat/mengamati petak Laboratorium Lapang.
Mengambil Ubinan untuk menaksir produktivitas padi.
Diskusi dengan narasumber dari Penyuluh, POPT, Pengamat Pengairan, Kepala BP3K
Kec. Tempuran dan Kepala UPTD PKPP Kec. Tempuran.

4. Penyusunan RDKK tingkat WKPP/Desa :


a) Rencana kebutuhan sarana produksi dari masing-masing WKPP/Desa.
b) Rencana menjalin kemitraan dengan pelaku usaha agribisnis padi.

BAB III
PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHAN MASALAH
3.1. Permasalahan
Petani jika berusahatani secara individu terus berada di pihak yang lemah karena petani
secara individu akan mengelola usaha tani dengan luas garapan kecil dan terpencar serta
kepemilikan modal yang rendah. Sehingga, pemerintah perlu memperhatikan penguatan
kelembagaan lewat kelompoktani karena dengan berkelompok maka petani tersebut akan lebih
kuat, baik dari segi kelembagaannya maupun permodalannya. Kelembagaan petani di desa
umumnya tidak berjalan dengan baik ini disebabkan karena:
a. Kelompoktani pada umumnya dibentuk berdasarkan kepentingan teknis untuk
memudahkan pengkoordinasian apabila ada kegiatan atau program pemerintah,
sehingga lebih bersifat orientasi program, dan kurang menjamin kemandirian kelompok
dan keberlanjutan kelompok.
b. Partisipasi dan kekompakan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok masih relatif
rendah, ini tercermin dari tingkat kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok rendah
(hanya mencapai 50%).
c. Pengelolaan kegiatan produktif anggota kelompok bersifat individu. Kelompok sebagai
forum kegiatan bersama belum mampu menjadi wadah pemersatu kegiatan anggota dan
pengikat kebutuhan anggota secara bersama, sehingga kegiatan produktif individu lebih
menonjol. Kegiatan atau usaha produktif anggota kelompok dihadapkan pada masalah
kesulitan permodalan, ketidakstabilan harga dan jalur pemasaran yang terbatas.
d. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan tidak menggunakan basis social capital
setempat dengan prinsip kemandirian lokal, yang dicapai melalui prinsip keotonomian
dan pemberdayaan.
e. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan konsep cetak biru (blue
print approach) yang seragam. Introduksi kelembagaan dari luar kurang memperhatikan
struktur dan jaringan kelembagaan lokal yang telah ada, serta kekhasan ekonomi, sosial,
dan politik yang berjalan.
f. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan pendekatan yang top down,
menyebabkan tidak tumbuhnya partisipasi masyarakat.
g. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk memperkuat ikatan
horizontal, bukan ikatan vertikal. Anggota suatu kelembagaan terdiri atas orang-orang
dengan jenis aktivitas yang sama. Tujuannya agar terjalin kerjasama yang pada tahap
selanjutnya diharapkan daya tawar mereka meningkat. Untuk ikatan vertikal diserahkan
kepada mekanisme pasar, dimana otoritas pemerintah sulit menjangkaunya.
h. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namun pembinaan yang dijalankan cenderung
individual, yaitu hanya kepada pengurus. Pembinaan kepada pengurus memang lebih
murah, namun pendekatan ini tidak mengajarkan bagaimana meningkatkan kinerja
kelompok misalnya, karena tidak ada social learning approach.

i. Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural, dan lemah dari


pengembangan aspek kulturalnya. Struktural organisasi dibangun lebih dahulu, namun
tidak diikuti oleh pengembangan aspek kulturalnya. Sikap berorganisasi belum tumbuh
pada diri pengurus dan anggotanya, meskipun wadahnya sudah tersedia.

3.2. Pemecahan Masalah


Permasalahan yang dihadapi petani pada umumnya adalah lemah dalam hal permodalan.
Akibatnya tingkat penggunaan saprodi rendah, inefisien skala usaha karena umumnya berlahan
sempit, dan karena terdesak masalah keuangan posisi tawar ketika panen lemah. Selain itu
produk yang dihasilkan petani relatif berkualitas rendah, karena umumnya budaya petani di
pedesaan dalam melakukan praktek pertanian masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan
keluarga (subsisten), dan belum berorientasi pasar. Selain masalah internal petani tersebut,
ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur, lembaga ekonomi pedesaan, intensitas
penyuluhan, dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan, guna mendorong usahatani dan
meningkatkan akses petani terhadap pasar (Saragih, 2002).
Kesadaran yang perlu dibangun pada petani adalah kesadaran berkomunitas/ kelompok yang
tumbuh atas dasar kebutuhan, bukan paksaan dan dorongan proyek-proyek tertentu. Tujuannya
adalah (1) untuk mengorganisasikan kekuatan para petani dalam memperjuangkan hak-haknya,
(2) memperoleh posisi tawar dan informasi pasar yang akurat terutama berkaitan dengan harga
produk pertanian dan (3) berperan dalam negosiasi dan menentukan harga produk pertanian yang
diproduksi anggotanya (Masmulyadi, 2007).
Ada empat kriteria agar asosiasi petani itu kuat dan mampu berperan aktif dalam
memperjuangkan hak-haknya, yaitu: (1) asosiasi harus tumbuh dari petani sendiri, (2)
pengurusnya berasal dari para petani dan dipilih secara berkala, (3) memiliki kekuatan
kelembagaan formal dan (4) bersifat partisipatif.
Dengan terbangunnya kesadaran seperti diatas, maka diharapkan petani mampu berperan
sebagai kelompok yang kuat dan mandiri, sehingga petani dapat meningkatkan pendapatannya
dan memiliki akses pasar dan akses perbankan.

BAB IV
KESIMPULAN
Program SLPTT dapat meningkatkan kemampuan petani. Peningkatan ini ditunjukkan
oleh adanya perubahan yang positif dalam hal pengetahuan dan perubahan sikap serta tindakan

petani. Peningkatan kemampuan petani merupakan salah satu indikator keberhasilan revitalisasi
pertanian, sehingga dapat dikatakan bahwa program SLPTT merupakan program yang tepat
untuk mewujudkan revitalisasi pertanian sesuai dengan langkah yang ditempuh yaitu
peningkatan kemampuan petani dan penguatan lembaga pendukungnya serta peningkatan
produktivitas padi serta dapat dijadikan sebagai contoh model penyuluhan yang tepat bagi
program penyuluhan pertanian di masa yang akan datang.
BABV
PENUTUP
5.1. Saran dan Penutup
A. Saran
1. Pelaksanaan pendampingan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) masih
perlu ditingkatkan lagi terutama volume dan jumlah unit yang didampingi, karena telah
terbukti telah mampu meningkatkan Produktivitas dan pendapatan petani.
2. Ketersediaan benih padi yang memiliki potensi produksi tinggi perlu terus diupayakan dan
tersedia pada waktu yang tepat, yaitu pada saat dibutuhkan petani.
3. Stabilitas harga padi perlu terus dijaga oleh pemerintah atau dinas terkait agar petani
bergairah mengembangkan tanaman padi.
4. Mekanisasi dalam usaha budidaya padi harus mulai dipikirkan, karena semakin lama
ketersediaan tenaga kerja semakin langka.
B. Penutup
Demikian laporan ini dibuat sebagai pertanggung jawaban pelaksanaan Program
Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian dan Kelembagaan Petani melalui pendampingan
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi Tahun Anggaran 2014 di
Kecamatan Tempuran. Kami menyadari sepenuhnya, bahwa laporan ini sangat jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu masukan dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan laporan selanjutnya. Untuk itu dihaturkan terima
kasih.
Tempuran,
Desember 2014
Ka. BP3K Kecamatan Tempuran

EDENG SETIAWAN
NIP. 19560218 197912 1 003