Anda di halaman 1dari 2

Kejahatan Lintas Negara

Selasa, 26 Juli 2011


Latar Belakang
Dengan perkembangannya yang demikian pesat, kejahatan lintas negara
(transnational crimes) dewasa ini dipandang sebagai salah satu ancaman serius
terhadap
keamanan
global.
Pada
lingkup
multilateral
lebih
sering
disebutTransnational Organized Crimes (TOC).
Kejahatan lintas negara memiliki karakteristik yang sangat kompleks. Beberapa
faktor yang menunjang kompleksitas perkembangan kejahatan lintas batas
negara antara lain adalah globalisasi, migrasi atau pergerakan manusia, serta
perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang pesat.
Keadaan ekonomi dan politik global yang tidak stabil juga berperan menambah
kompleksitas tersebut.
Pada pertemuan High Level yang diselenggarakan di Majelis Umum PBB tanggal
17 Juni 2010, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon menyebutkan bahwa di satu sisi ancaman kejahatan lintas
negara semakin meningkat namun di sisi lain kemampuan negara untuk mengatasinya masih terbatas. Untuk itu,
sangat penting bagi negara-negara untuk meningkatkan kerjasama internasional untuk secara kolektif
menanggulangi meningkatnya ancaman kejahatan lintas negara tersebut.
Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Negara Terorganisir (United Nations Convention on Transnational
Organized Crime-UNTOC) yang telah diratifikasi Indonesia dengan UU No. 5/2009 menyebutkan sejumlah
kejahatan yang termasuk dalam kategori kejahatan lintas negara terorganisir, yaitu pencucian uang, korupsi,
perdagangan manusia, penyelundupan migran serta produksi dan perdagangan gelap senjata api. Konvensi juga
mengakui keterkaitan yang erat antara kejahatan lintas negara terorganisir dengan kejahatan terorisme, meskipun
karakteristiknya sangat berbeda. Meskipun kejahatan perdagangan gelap narkoba tidak dirujuk dalam Konvensi,
kejahatan ini masuk kategori kejahatan lintas negara terorganisir dan bahkan sudah diatur jauh lebih lengkap
dalam tiga Konvensi terkait narkoba sebelum disepakatinya UNTOC.
Indonesia berperan aktif pada Pilot Review Implementation Programme (PRIP) sebagai volunteer dari total 15
negara dalam peer review (first track), selain itu juga terlibat menjadi expert reviewer dari total 5 negara
dalam second track review. Indonesia telah menyelesaikan seluruh kewajibannya dalam PRIP, yaitu: 1.
Menyelesaikan self-assessment 2. Melakukan review terhadap Meksiko dan Romania (termasuk Country visit ke
Meksiko City dan Bucharest), 3. Melakukan review terhadap seluruh negara peserta PRIP dalam expert group, dan
4. Membuat gap analysis antara konvensi UNTOC dan protokolnya terhadap legislasi nasional, yang menjadi
rekomendasi terhadap prolegnas. Pengalaman Indonesia ini dibawa dalam 1st Meeting of the Open ended Group on
the review implementation of UNCTOC yang pada akhirnya merumuskan TOR dan Guidelines mekanisme review
UNTOC untuk pertama kalinya sejak entry into force.
ASEAN Plan of Action to Combat Transnational Crimes (ASEAN-PACTC) tahun 2002 juga menyebutkan 8 jenis
kejahatan lintas negara dalam lingkup kerjasama ASEAN yaitu: perdagangan gelap narkoba, perdagangan
manusia, sea-piracy, penyelundupan senjata, pencucian uang, terorisme, international economic crimedan cyber
crime.
Seiring perkembangan jaman, terdapat berbagai kejahatan transnasional lainnya yang perlu ditangani secara
bersama dalam kerangka multilateral, seperti kejahatan pencurian dan penyelundupan obyek-obyek budaya,
perdagangan
organ
tubuh
manusia, environmental
crime (illegal
logging dan illegal
fishing), cyber
crime dan computer-related crime.
Meskipun belum terdapat kesepakatan mengenai konsep dan definisi atas beberapa kejahatan tersebut, secara
umum kejahatan ini merujuk secara luas kepada non-violent crime yang pada umumnya mengakibatkan kerugian
finansial.
Semakin beragam dan meluasnya tindak kejahatan lintas negara tersebut telah menarik perhatian dan mendorong
negara-negara di dunia melakukan kerjasama untuk menanggulangi kejahatan tersebut di tingkat bilateral,
regional dan multilateral.
Di tingkat multilateral, PBB memprakarsai dan melakukan langkah-langkah peningkatan kerjasama internasional
memberantas kejahatan lintas negara, selain implementasi Konvensi yang telah ada, seperti UNTOC, UNCAC,
maupun Single Convention on Narcotics Drugs, juga telah dibangun jejaring antar instansi focal point masingmasing negara, sehingga mempercepat penanganan terhadap kejahatan lintas negara.
Posisi Indonesia

Indonesia berperan aktif dalam kerjasama internasional menanggulangi kejahatan lintas negara. Sebagai
implementasi peran aktif tersebut, Indonesia telah menjadi Negara Pihak pada beberapa instrumen internasional
yang terkait dengan penanggulangan kejahatan lintas negara yakni:
a.
b.
c.
d.
e.

UN Single Convention on Narcotics Drugs, 1961


UN Convention on Psychotropic Substances, 1971
UN
Convention
against
Illicit
and Psychotropic Substances, 1988
UN
Convention
on
(UNTOC)
serta
dua
Orang dan Penyelundupan Manusia, dan
UN Convention Against Corruption (UNCAC)

Traffic
Transnational
Protokolnya

in

Narcotic
Organized
mengenai

Drugs
Crime
Perdagangan

Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen sebagai negara pihak pada lima instrumen internasional tersebut,
Pemri telah memiliki sejumlah peraturan perundang-undangan terkait dengan penanggulangan kejahatan lintas
negara yang mengadopsi atau sejalan dengan standar dan norma yang diatur dalam konvensi-konvensi tersebut.
Pemri juga turut berpartisipasi secara aktif dalam berbagai forum internasional terkait dengan penanggulangan
kejahatan lintas negara, antara lain:
a.
b.
c.
d.

Commission on Narcotic Drugs (CND),


Commission
on
Crime
and
Criminal
termasuk
UN
Crime
Congress
setiap 5 tahun sekali,
Conference
of
Parties
dari
intergovernmental
working
diselenggarakan dalam kerangka UNTOC, dan
Conference
of
State
Parties
dari
intergovernmental
working
diselenggarakan
dalam
kerangka
Prevention of Corruption and WG on Asset Recovery).

Justice
yang

(CCPCJ),
diselenggarakan

UNTOC,
groups
UNCAC,
groups
UNCAC

termasuk
yang

(WG

termasuk
yang
on

Pemri juga ikut aktif dalam forum sektoral seperti Asia Pacific Group on Money Laundering dan Egmont Group.
Kedua forum tersebut membahas isu pencegahan dan pemberantasan isu pencucian uang. Khususnya terkait
penanggulangan korupsi, Pemri telah berperan aktif dalam berbagai pertemuan yang membahas upaya
pemberantasan korupsi diantaranya dengan menjadi tuan rumah Konferensi Negara Pihak UNCAC sesi kedua di Bali
pada tahun 2008. Pada pertemuan keduaImplementation Review Group (IRG) di Wina pada bulan Juni 2011,
Indonesia juga telah terpilih sebagai negara yang akan melakukan review pada sesi kedua putaran pertama
mekanisme review UNCAC.
Sementara dalam kerangka kerjasama kawasan, sejak tahun 2002 Indonesia bersama dengan Australia telah
menginisiasi Bali Process Regional Ministerial Conference (BRMC/Bali Process) yang bertujuan untuk
menanggulangi permasalahan kejahatan penyelundupan manusia, perdagangan orang dan kejahatan transnasional
terkait lainnya. Sejalan dengan semakin meningkatnya arus penyelundupan manusia di kawasan Asia-Pasifik, Bali
Process memiliki peran yang sangat penting sebagai forum untuk menyusun mekanisme kawasan dalam
menanggulangi permasalahan tersebut. BRMC IV telah diselenggarakan pada tanggal 29-30 Maret 2011 dengan
menghasilkan penguatan komitmen terhadap penanggulangan masalah irregular migration di kawasan, baik dalam
bentuk penyelundupan manusia, perdagangan orang maupun kejahatan lintas negara. Selain itu pula negaranegara Bali Process memandang perlu adanya sebuahregional cooperation framework (RCF) yang sifatnya inklusif
namun tidak mengikat yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar-negara dalam mengurangi irregular
movement di kawasan.
Menanggapi semakin berkembangnya kejahatan lintas negara ini, Pemri akan terus meningkatkan peran dan
partisipasinya dalam berbagai forum internasional terkait dengan penanggulangan kejahatan lintas negara. Pemri
juga berkomitmen untuk selalu mengedepankan kepentingan nasional dalam upaya penanggulangan kejahatan
lintas negara.