Anda di halaman 1dari 6

N

O
1

ASPEK
Perizinan
(institusi
RS)

SYARAT

INPUT

1. Izin
Pemilik yang akan mendirikan Rumah
mendirikan Sakit melampirkan dokumen:
rumah
sakit
a. fotokopi akta pendirian badan
PMK 56/ 14
(diajukan
hukum yang sah sesuai dengan
Bab V pasal
menurut
ketentuan peraturan perundang63- 72
jenis dan
undangan, kecuali instansi
klasifikasi
Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
rumah
b. studi kelayakan, meliputi :
sakit.)
kajian kebutuhan pelayanan
Rumah Sakit yang meliputi
( demografi, sosio-ekonomi,

morbiditas dan mortalitas


kebijkan dan regulasi dan aspek
internal RS)
kajian kebutuhan lahan,
bangunan, prasarana, SDM,
peralatan
kajian kemampuan pendanaan/
pembiayaan meliputi (prakiraan
jumlah kebutuhan dana investasi
dan sumberpendanaan,
pendapatan biaya tetap & tidak
tetap, proyeksi arus kas &
proyeksi laba)
c. master plan, meliputi (dentifikasi
proyek perencanaan, demografis,
tren masa depan, fasilitas yang ada,
modal dan pembiayaan).
d. Detail Engineering Design, meliputi
(gambar arsitektur, struktur dan
mekanikal, elektrikal sesuai dengan

Perizinan Institusi (Rumah Sakit)


PROSES
HASIL
pemilik Rumah Sakit mengajukan
permohonan Izin Mendirikan rumah sakit
secara tertulis kepada menteri.
Menteri mendelegasikan pemberian Izin
Operasional Rumah Sakit.
RS kelas A diberikan Direktur Jenderal
di lingkungan Kementerian Kesehatan
yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pembinaan Perumahsakitan.
Rumah sakit B diberikan pemerintah
daerah provinsi
Rumah sakit C dan D diberikan
pemerintah daerah /kabupaten kota

Memperoleh
izin
mendirikan
rumah sakit

persyaratan teknis yang ditetapkan


oleh Menteri)
e. dokumen pengelolaan dan
pemantauan lingkungan;
f. fotokopi sertifikat tanah/bukti
kepemilikan tanah atas nama badan
hukum pemilik rumah sakit;
g. izin undang-undang gangguan
(Hinder Ordonantie/HO);
h. Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
i. Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
j. rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan
pada Pemerintah Daerah
provinsi/kabupaten/kota sesuai
dengan klasifikasi Rumah Sakit,
untuk :
RS kelas A mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan
pada Pemerintah Daerah
Provinsi.
RS kelas B mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan
pada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
RS C dan D mendapat rekomendasi
dari pejabat yang berwenang di
bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota.

2. Izin
operasion
al rumah
sakit
diajukan
menurut
jenis dan
klasifikasi
Rumah
Sakit (Izin
OP tetap
dan
sementara/
PMK
147/2010)

Izin
operasional
sementara
kepada RS
yang belum
dapat
Memenuhi

Pengelola yang akan mendirikan


Rumah Sakit melampirkan dokumen:
a. Izin Mendirikan Rumah Sakit, bagi
permohonan Izin Operasional untuk
pertama kali;

b. Profil Rumah Sakit, meliputi (visi dan


misi, lingkup kegiatan, rencana
strategi, dan struktur organisasi);
c. Isian instrumen self assessment

sesuai klasifikasi Rumah Sakit yang


meliputi (pelayanan, sumber daya

manusia, peralatan, bangunan dan


prasarana);
d. Gambar desain (blue print) dan foto
bangunan serta sarana dan
prasarana pendukung;
e. Izin penggunaan bangunan (IPB) dan
sertifikat layak fungsi;
f. Dokumen pengelolaan lingkungan
berkelanjutan;
g. Daftar sumber daya manusia;
h. Daftar peralatan medis dan
nonmedis;
i. Daftar sediaan farmasi dan alat
kesehatan;
j. Berita acara hasil uji fungsi
peralatan kesehatan disertai
kelengkapan berkas izin
pemanfaatan dari instansi
berwenang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
untuk peralatan tertentu; dan
k. Dokumen administrasi dan
manajemen, meliputi:
Badan hukum atau kepemilikan;

pengelola RS mengajukan permohonan


perizinan operasional ke menteri
Menteri mendelegasikan pemberian Izin
Operasional Rumah Sakit.
RS kelas A diberikan Direktur Jenderal
di lingkungan Kementerian Kesehatan
yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang pembinaan Perumahsakitan.
Rumah sakit B diberikan pemerintah
daerah provinsi
Rumah sakit C dan D diberikan
pemerintah daerah /kabupaten kota
Menteri membentuk Tim penilai (tim
visitasi) klasifikasi RS
RS kelas A Menteri menugaskan
pejabat yang berwenang di bidang
kesehatan di
tingkat provinsi terdiri atas
(unsur Kementerian Kesehatan, dinas
kesehatan provinsi, dinas kesehatan
kabupaten/kota, dan asosiasi
perumahsakitan nasional)
RS kelas B kepala Pemerintah Daerah
provinsi menugaskan pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan di
tingkat
kabupaten/kota terdiri atas
(unsur Kementerian Kesehatan, dinas
kesehatan provinsi, dinas kesehatan
kabupaten/kota, dan asosiasi
perumahsakitan nasional).
RS kelas C dan D kepala Pemerintah

Berdasarkan
hasil penilaian
Tim / tom
visitasi Izin
OP dapat
ditolak /
diterima
Diterima
Dapat
menyelengara
kan pelayanan
kesehatan.
Mendapat
surat
keputusan dan
sertifikat
yang memuat
kelas Rumah
Sakit/
klasifikasi RS
dan jangka
waktu
berlakunya
izin. (5 Thn)
Sertifikat Izin
OP RS harus
dipasang di
ruang yang
mudah terlihat
oleh
masyarakat.
Jika ditolak
balik ke

seluruh
persyaratan.
(berlaku 1
thn).

Peraturan internal Rumah Sakit


(hospital by laws);
Komite medik;
Komite keperawatan;
Satuan pemeriksaan internal;
Surat izin praktik atau surat izin
kerja tenaga kesehatan;
Standar prosedur
Standar prosedur operasional
kredensial staf medis;
Surat penugasan klinis staf
medis; dan
Surat keterangan/sertifikat hasil
uji/kalibrasi alat kesehatan.

Jika izin operasional ditolak

3. Setiap RS
harus di
(Bab VI pasal
Registrasi
76)
dan
akreditasi
persyarat
an u/
Perpanjang
an Izin

Akreditasi RS proses nasional meliputi


pemenuhan standar:
Self assessment / Instrumen
akreditas yg dikeluarkan KARS yg
merujuk pd Standar yanfar di RS

Daerah kabupaten/kota menugaskan


pejabat yang berwenang di
bidang kesehatan di tingkat
kabupaten/kota terdiri atas (unsur dinas
kesehatan provinsi, dinas kesehatan
kabupaten/kota, dan asosiasi
perumahsakitan daerah).
Rumah Sakit mengajukan surat
permohonan penetapan kelas Rumah
Sakit kepada Menteri.

proses

pemohon harus :
a. melengkapi persyaratan Izin
Operasional sesuai klasifikasi Rumah
Sakit yang akan diselenggarakan; atau
b. mengajukan permohonan Izin
Operasional sesuai klasifikasi
Rumah Sakit hasil penilaian tim penilai
tanpa dilakukan visitasi
ulang.
RS membentuk POKJA akreditasi (SK
Direktur RS)
Membuat POA akreditasi yaitu rencana
pelaksanaan akreditasi
Mengisi self assessment yaitu melakukan
penilaian sendiri dengan menggunakan
instrument akreditasi
Membuat surat permohonan bimbingan
akreditasi oleh pemulik RS kepada BPT

RS
mendapatkan
status
Akreditasi
RS yg telah di

Operasional
&
perubahan
kelas.
Setiap RS
baru yg
tlh
beroperasi
sekurangkurangnya
2 (dua)
tahun
wajib
mengajuka
n
permohona
n Akreditasi
(PMK 012 /
12)

kemenkes dengan tembusan KARS dan


Dinkes propinsi
Tim KARS (Komite Akreditasi Rumah sakit
) melakukan/ menyelenggaraan survey
yg dilaksanakan oleh surveior akreditasi
meliputi persiapan Akreditasi, bimbingan
Akreditasi, pelaksanaan Akreditasi &
kegiatan pasca Akreditasi
a. Persiapan akreditas
Bertujuan u/ meyiapkan sistem
pelayanan di RS. Dilaksnakan secara
terjenjang oleh pemerintah Dinkes &
PERSI melalui koordinasi antara
prmrintah & RS yg mencakup aspek
administrasi manajemen, pelayanan,
SDM, & farsilitas sarana di RS. Hasil
pembinaan adalah utk mengetahui
apakah RS perlu bimbingan atau tidak
b. Bimbingan akreditasi
Bertujuan u/ memberikan penjelasan,
pemahaman. Dan petunjuk tentang cra
pemenuhan dan penerapan standar
pelayanan dlm rangka akreditasi.
c.Survey akreditas
Merupakan kegiatan terhadap
pemenuhan standar oleh RS,
menggunakan instrument akreditasi.
Survey wajib dilakukan oleh RS dimana
telah memilih akreditasi 5,12,16
pelayanan tergantung kemampuan RS
d. Kegiatan Pasca akreditasi
Bertujuan menindaklanjuti rekomendasi
hasil survey akreditasi agar rs yg tlh
teakreditasi dapat tetap

Akreditasi
mencantumka
n kata
terakreditasi
nasional/
terakreditasi
internasional
di bawah atau
di belakang
nama RS
dengan huruf
lebih kecil
dan
mencantumka
n
nama lembaga
independen
penyelenggara
akreditasi
yang
mengakreditas
i,
masa berlaku
status
Akreditasinya
serta
mencantumka
n
lingkup/tingkat
an
Akreditasinya.

mempertahankan mutu pelayanan


(dilakukan min 6 bln scara berkala
pasca akreditasi), tim pendamping
terdiri dari KARS,PERSI daerah dan
Dinkes.
Akreditasi internasional dilakukan oleh
lembaga independen penyelenggara
akreditasi,
International
Society for Quality in Health Care
(ISQua).
(PMK 012/10 psl 5-12)

Sumber:
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
3. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan
5. peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147/Menkes/Per/I/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit dan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 340/Menkes/Per/I/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit JO Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No 56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 012 Tahun 2012 Tentang Akreditasi Rumah Sakit
7. Keputusan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 1195/menkes/sk/vii/2010 tentang lembaga/ badan akreditasi
rumah sakit bertaraf internasional
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di
Rumah Sakit
9. http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=672&Itemid=132
10. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1799/MENKES/PER/XII/2010 TENTANG INDUSTRI FARMASI