Anda di halaman 1dari 5

ACETAMINOPHEN

Asetaminofen merupakan metabolit aktif fenasetin dan bertanggung jawab atas efek
analgesiknya.

asetaminofen
Sifat farmakologis
Asetaminofen mempunyai efek analgesik dan antipiretik yang tidak berbeda secara
signifikan dengan aspirin. Namun, seperti telah dikemukakan, senyawa ini hanya mempunyai
efek antiradang yang lemah. Metabolit minor ikut andil secara signifikan dalam efek toksik
asetaminofen. Sifat farmakologis asetaminofen telah ditinjau oleh Clissold (1986).
Ketidakmampuan asetaminofen memberikan efek antiradang mungkin berkaitan
dengan fakta bahwa asetaminofen hanya merupakan inhibitor siklooksigenase yang lemah
dengan adanya peroksida konsentrasi tinggi yang ditemukan pada lesi radang. Sebaliknya,
efek antipiretiknya dapat dijelaskan dengan kemampuannya menghambat siklooksigenase di
otak, yang tonus peroksidanya rendah (Marshall et al., 1987; Hanel and Lands, neutrofil,
sedangkan NSAID lain menghambat aktivasi tersebut (abramson and weissmann, 1989).
Asetaminofen dosis terapeutik tunggal atau berulang tidak berefek terhadap sistem
kardiovaskular dan sistem pernapasan. Perubahan asam-basa tidak terjadi, dan juga tidak
menyebabkan iritasi, erosi, atau perdarahan lambung yang mungkin terjadi setelah pemberian
salisilat. Asetaminofen tidak mempunyai efek terhadap platelet, waktu perdarahan, atau
ekskresi asam urat.
Sifat Zat Berkhasiat
Menurut Dirjen POM. (1995), sifat-sifat Parasetamol adalah sebagai berikut:
Sinonim : 4-Hidroksiasetanilida
Berat Molekul : 151.16
Rumus Empiris : C8H9NO2

Sifat Fisika
Pemberian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N; mudah larut dalam etanol.
Jarak lebur : Antara 168 dan 172.
Farmakokinetik
Asetaminofen diberikan per oral. Absorpsinya bergantung pada kecepatan pengosongan
lambung, kadar puncaknya dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60 menit. Waktu
paruh dalam plasma sekitar 2 jam setelah dosis terapeutik. Asetaminofen sedikit terikat pada
protein plasma dan sebagian dimetabolisasi oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi
asetaminofen sulfat dan glukukronida, yang tidak aktif secara farmakologis. Kurang dari 5%
asetaminofen diekskresi tanpa mengalami perubahan. Suatu metabolit minor tetapi sangat
aktif (N-asetil-p-benzokuinon) penting pada dosis besar karena bersifat toksik terhadap hati
dan ginjal. Pada dosis toksik atau penyakit hati, waktu-paruhnya bisa meningkat hingga dua
kali lipat atau lebih
Farmakodinamik
Efek analgesik Parasetamol dan Fenasetin serupa dengan Salisilat yaitu menghilangkan
atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan
mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat.
Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu Parasetamol dan Fenasetin tidak
digunakan

sebagai

antireumatik.

Parasetamol

merupakan

penghambat

biosintesis

prostaglandin (PG) yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada
kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.(Mahar
Mardjono 1971)
Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan siklooksigenase.
Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi
prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda.
Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang
menyebabkan Parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat
pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer.
Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri
ringan sampai sedang. Parasetamol tidak mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek

langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa parasetamol menghambat sintesa


prostaglandin dan bukan blokade langsung prostaglandin. Obat ini menekan efek zat pirogen
endogen dengan menghambat sintesa prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat
pemberian prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain,
seperti latihan fisik. (Aris 2009)
Indikasi
Walaupun setara dengan aspirin sebagai agen analgesik dan antipiretik, asetaminofen
berbeda karena tidak memiliki efek antiinflamasi. Obat ini tidak mempengaruhi kadar asam
urat dan tidak mempunyai sifat menghambat trombosit. Asetaminofen berguna untuk nyeri
ringan sampai sedang seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri pasca persalinan, dan keadaan lain
ketika aspirin efektif sebagai analgesik. Asetaminofen sendiri tidak adekuat untuk terapi
berbagai bentuk peradangan, seperti artritis rematoid, walaupun dapat digunakan sebagai
analgesik tambahan pada terapi anti inflamasi. Untuk analgesia ringan, asetaminofen
merupakan obat yang lebih dianjurkan pada penderita yang alergi terhadap aspirin atau jika
salisilat tidak dapat ditoleransi. Obat ini lebih dianjurkan daripada aspirin pada penderita
hemofilia atau dengan riwayat tukak lambung dan pada penderita yang menderita
bronkospasme akibat aspirin. Tidak seperti aspirin, asetaminofen tidak mengantagonisasi efek
obat urikosurik; obat ini dapat diberikan bersama dengan probenesid pada terapi gout. Aspirin
lebih dianjurkan pada anak-anak yang menderita infeksi virus.
Efek Samping
Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi. Manifestasinya berupa
eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa.
Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian kronik. Anemia
hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme autoimmune, defisiensi enzim G6PD dan
adanya metabolit yang abnormal.
Methemoglobinemia dan Sulfhemoglobinemia jarng menimbulkan masalah pada dosis terapi,
karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi met-Hb. Methemoglobinemia baru
merupakan masalah pada takar lajak.
Insidens nefropati analgesik berbanding lurus dengan penggunaan Fenasetin. Tetapi
karena Fenasetin jarang digunakan sebagai obat tunggal, hubungan sebab akibat sukar
disimpulkan. Eksperimen pada hewan coba menunjukkan bahwa gangguan ginjal lebih

mudah terjadi akibat Asetosal daripada Fenasetin. Penggunaan semua jenis analgesik dosis
besar secara menahun terutama dalam kombinasi dapat menyebabkan nefropati analgetik.
Sangat jarang terjadi anemia hemolitik dan methemoglobinemia. Nefritis interstisialis
dan nekrosis papiler komplikasi berat fenasetin tidak terjadi, begitu juga dengan perdarahan
saluran cerna. Pemberiannya harus dilakukan secara hati-hati pada penderita penyakit hati.
Mekanisme Toksisitas
Pada

dosis

terapi,

salah

satu

metabolit

Parasetamol

bersifat

hepatotoksik,

didetoksifikasi oleh glutation membentuk asam merkapturi yang bersifat non toksik dan
diekskresikan melalui urin, tetapi pada dosis berlebih produksi metabolit hepatotoksik
meningkat melebihi kemampuan glutation untuk mendetoksifikasi, sehingga metabolit
tersebut bereaksi dengan sel-sel hepar dan timbulah nekrosis sentro-lobuler. Oleh karena itu
pada penanggulangan keracunan Parasetamol terapi ditujukan untuk menstimulasi sintesa
glutation. Dengan proses yang sama Parasetamol juga bersifat nefrotoksik.
Dosis
Parasetamol tersedi sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500mg atau sirup yang
mengandung 120mg/5ml. Selain itu Parasetamol terdapat sebagai sediaan kombinasi tetap,
dalam bentuk tablet maupun cairan. Dosis Parasetamol untuk dewasa 300mg-1g per kali,
dengan maksimum 4g per hari, untuk anak 6-12 tahun: 150-300 mg/kali, dengan maksimum
1,2g/hari. Untuk anak 1-6 tahun: 60mg/kali, pada keduanya diberikan maksimum 6 kali
sehari. .(Mahar Mardjono 1971)
Dosis oral asetaminofen yang biasa sebesar 325 sampai 1000 mg (secara rectal 650
mg); dosis total harian tidak boleh melebihi 4000 mg. Untuk anak-anak, dosis tunggal sebesar
40 sampai 480 mg, untuk anak-anak, dosis tunggal sebesar 40 sampai 480 mg, bergantung
pada usia dan bobot badan; tidak boleh lebih dari lima dosis diberikan dalam 24 jam. Dosis
10 mg/kg dapat juga digunakan. (goodman)

Daftar pustaka
-

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31341/4/Chapter%20II.pdf.

oktober 2014 (23.48)


Katzung, Bertram G. 2012. Farmakologi dasar dan klinik. 10th ed. EGC. Jakarta.

28

Anda mungkin juga menyukai