Anda di halaman 1dari 2

Tagihan Mobile Blackberry Meroket Sepulang dari Luar Negeri

Oleh A. Hafied A. Gany


gany@hafied.org

Terinspirasi oleh statemen di status FB seorang usahawan elektronik marketing


kaliber internasional yang sukses, 'Anneke' (nama samaran) saya menulis catatan
pengalaman saya ini untuk sekedar perhatian bagi pengguna Mobile BB agar tidak
terkaget-kaget dengan tagihan yang mendadak memeroket sepulang dari Luar
Negeri.
Anneke, yang saat ini sedang bepergian untuk urusan bisnis di Negaranya Pak
Obama, menulis di FB-nya bahwa beliau mendapat SMS dari provider telkomunikasi
langganannya mengabarkan bahwa tagihan Mobile-nya meningkat tajam menjadi
sembilan juta Rupiah. Sebenarnya jumlah tersebut bagi usahawan sekaliber Anneke,
sangatlah kecil artinya, bahkan saya yakin hal tersebut disengajanya, namun saya
masih tertarik juga membuka comment atau tanggapan publik di statement FB
tersebut yang ternyata jumlahnya ratusan komentar hanya dalam belasan menit
pasca posting. Meskipun saya mengalami kesulitan untuk membaca ratusan
comment tersebut, dan saya yakin bahwa Anneke pasti sudah mengantisipasi hal ini,
namun saya sempatkan mengintip sepintas beberapa comment teratas yang
berfariasi antara ungkapan kagum, kaget dan komentar sinis, sampai ada
mengatakan "Mau berapa kek, EGP - emangnya gua pikirin". Yah saya bisa
menyadari spontanitas manusiawi dalam masyarakat yang berfariasi antara nada
positif dan negatif tersebut, meskipun saya sendiri secara peribadi tidak sependapat
dengan yang berpandangan negatif.
-----
Sebagai pengelana "Abidin" yang sudah kenyang ke Luar Negeri (abidin – ‘atas
biaya dinas') saya mengakui termasuk kelompok yang terkaget-kaget dengan
pembengkakan tagihan mobile sebesar itu, yang secara nominal mendekati dua
bulan gaji saya. Untung saja dalam perjalanan saya ke LN kali ini (tepatnya ke
negaranya Gandhi selama dua minggu) bulan lalu, saya bisa terhindar dari
pembengkakan biaya Mobile tipe BB yang berpotensi mencapai belasan juta Rupiah
(untuk komunikasi yang tidak dibutuhkan) kalau tidak secara kebetulan mendapatkan
informasi tentang kiat menghindar dari potensi pembengkakan tagihan tersebut.
Maklum, jujur saya harus mengakui bahwa baru kali ini saya membawa Mobile BB
dengan fasilitas "push E-mail" bepergian ke Luar Negeri.
-----
Berdasarkan pengalaman sebagai pelanggan abonemen salah satu provider
telekomunikasi yang sudah cukup lama, saya cukup menyadari bahwa mobile saya
akan terkoneksi secara otomatis tatkala berada di Luar Negeri pada negara yang
providernya ada kerja dengan provider langganan saya di Indonesia tersebut.
Hari itu, seminggu sebelum keberangkatan ke LN, saya kebetulan saja datang ke
kantor provider langganan saya di kawasan Semanggi itu, men-service Mobile BB
isteri saya yang kebetulan ada masalah.
Sambil menunggu, iseng-iseng saya tanyakan mengenai ikhwal penggunaan dan
tarif pembayaran mobile BB ketika berada di LN. Saya malahan sempat tersinggung

1
dengan jawaban cewek cantik petugas customer service yang mengatakan "sangat
mahal Pak". Terus terang, saya terkesan diremehkan seolah dia mengatakan bahwa
saya tidak akan sanggup membayar, dengan jawabannya tersebut. Mendengar nada
tinggi dari respond saya yang spontan menanyakan balik lebih lanjut berapa sih
mahalnya tarif loading yang disebutkannya, si nona cantik yang customer service
tersebu rupanya sadar kalau saya tersinggung lantas menjawab dengan nada sangat
sopan meminta maaf. “Maksud saya begini Pak, BB dengan fasilitas pelayanan
“pushed e-mail” bapak ini pasti akan menerima junk mail yang banyak, dan ini semua
harus Bapak dibayar, walaupun Bapak langsung menghapus tanpa membukanya”.
“Bayangkan saja Pak kalau Bapak menerima 100 saja junk mail selama di LN, Bapak
akan membayar setidaknya 10 US Dollar per junk mail (tergantung besarnya
memori) atau total 1.000 US Dollar, padahal ini belum termasuk e-mail rutin Bapak.”
"Itu yang saya sebut mahal Pak" katanya dengan sangat sopan dan sedikit bernada
bela diri.
Dengan serta merta, posisi interaksi menjadi terbalik, saat itu saya malah tersipu
nyengir malu minta terimakasih sambil menanyakan bagaimana kiat menghindari
besarnya bayaran E-Mail untuk komunikasi yang tidak dimanfaatkan tersebut, sambil
menyerahkan Mobile BB saya kepadanya untuk diset.
Si Nona Cantik menyarankan dengan nada tidak mengharuskan agar saya hanya
memakai SMS saja dan menutup komunikasi pushed E-mail sejak meninggalkan
Bandara CKG sampai saat tiba kembali di Indonesia nantinya. "Kalau mau E-Mail,
lebih baik baik ke Internet Cafe setempat saja pak", katanya sambil menyerahkan
kembali Mobile BB isteri saya dan Mobile BB saya sendiri yang selesai disetnya
dengan "off when roaming". "Tapi jangan di on-kan e-m-nya Pak selama di LN",
kalau itu bapak lakukan, walaupun hanya sebentar saja, maka semua approaching
e-mail akan mendadak masuk" katanya lebih lanjut, sambil tersenyum manis penuh
simpati mengucapkan selamat jalan kepada saya.
-----
Benar saja, setiba di kembali CKG, saat menunggu bagasi, saya mencoba meng on-
kan pushed e-mail BB saya dan dengan serta merta menjadi sangat sibuk
menghapus ratusan junk mail yang masuk hampir bersamaan hanya dalam bilangan
belasan menit saja. Hampir saja saya harus membayar sampah ini semua.
Hal yang menjadikan saya lega dan berterimakasih kepada si cewek cantik costomer
service provider saya adalah bahwa total tagihan Mobile BB saya hanya berkisar
enam ratusan ribu rupiah ketimbang tagihan seorang pejabat yang sepesawat yang
bangga membuka terus fasilitas pushed e-mail-nya, yang saya tahu seminggu
kemudian, dari seorang teman bahwa tagihan Mobile BB pejabat tersebut mencapai
hampir sepuluhan juta Rupiah. "Tidak apalah, toch bukan pribadi saya yang bayar
ini" katanya ringan kepada teman saya. Sembari berpisah dengan teman saya yang
menginformasikan hal tersebut, saya lalu membatin, alangkah enaknya kalau saja
Mobile BB saya juga ada yang bayarin, meskipun itu jelas-jelas pemborosan yang
seharusnya bisa dihindari. "Yah.... Begitulah akibatnya, kalau rasa memiliki (sense of
belonging) pejabat terhadap milik instansi kerjanya belum membudaya!" Gumam
saya sendirian dengan suara nyaris tidak terdengar oleh kuping saya sekalipun.
Jakarta, 20 Januari 2010