Anda di halaman 1dari 27
MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA KONDISI LOGISTIK INDONESIA SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI

MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA KONDISI

LOGISTIK INDONESIA SAAT INI
LOGISTIK INDONESIA SAAT INI
RANTAI PASOK PADA KONDISI LOGISTIK INDONESIA SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS

Setijadi

setijadi@SupplyChainIndonesia.com

SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM
SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM
SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM
SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM
SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM
SAAT INI Setijadi setijadi@SupplyChainIndonesia.com DISKUSI TERBATAS TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM

DISKUSI TERBATAS TENTANG SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM SISTEM LOGISTIK DI INDONESIAKADIN DKI JAKARTA, 25 SEPTEMBER 2013

TENTANG “ SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DALAM SISTEM LOGISTIK DI INDONESIA ” KADIN DKI JAKARTA, 25 SEPTEMBER

1

OUTLINE 2. Contoh Kasus Rantai Pasok Sapi Potong di Indonesia 1. Pendahuluan: Rantai Pasok Komoditas

OUTLINE

OUTLINE 2. Contoh Kasus Rantai Pasok Sapi Potong di Indonesia 1. Pendahuluan: Rantai Pasok Komoditas Saat

2. Contoh Kasus Rantai Pasok Sapi Potong di Indonesia

2. Contoh Kasus Rantai Pasok Sapi Potong di Indonesia 1. Pendahuluan: Rantai Pasok Komoditas Saat Ini

1. Pendahuluan:

Rantai Pasok Komoditas Saat Ini

Sapi Potong di Indonesia 1. Pendahuluan: Rantai Pasok Komoditas Saat Ini 3. Analisis Singkat Sistem Logistik

3. Analisis

Singkat

Sistem

Logistik

Nasional

Sapi Potong di Indonesia 1. Pendahuluan: Rantai Pasok Komoditas Saat Ini 3. Analisis Singkat Sistem Logistik
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI
1
PENDAHULUAN:
RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
1 PENDAHULUAN: RANTAI PASOK KOMODITAS SAAT INI 3
SUPPLY CHAIN INBOUND OUTBOUND / PHYSICAL DISTRIBUTION Modified from Russell & Taylor (2006) 4

SUPPLY CHAIN

SUPPLY CHAIN INBOUND OUTBOUND / PHYSICAL DISTRIBUTION Modified from Russell & Taylor (2006) 4
INBOUND OUTBOUND / PHYSICAL DISTRIBUTION
INBOUND
OUTBOUND / PHYSICAL DISTRIBUTION
BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BUKAN POKOK Kepmenperindag 115/MPP/Kep/2/1998 tentang Jenis Barang Kebutuhan Pokok Masyarakat

BARANG KEBUTUHAN POKOK

DAN BUKAN POKOK
DAN BUKAN POKOK
BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BUKAN POKOK Kepmenperindag 115/MPP/Kep/2/1998 tentang Jenis Barang Kebutuhan Pokok Masyarakat

Kepmenperindag 115/MPP/Kep/2/1998 tentang

Jenis Barang Kebutuhan Pokok Masyarakat

1.

Beras

2.

Gula pasir

3.

Minyak Goreng dan Mentega

4.

Daging Sapi dan Ayam

5.

Telur Ayam

6.

Susu

7.

Jagung

8.

Minyak Tanah

9.

Garam Beryodium

Barang Kebutuhan Bukan Pokok

Barang kebutuhan sehari-hari

Minuman

Tekstil

Elektronik

Otomotif

dan lain-lain

RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK:

BERAS
BERAS
RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK: BERAS Peta Sentra Produksi Peta Distribusi dari Provinsi Lampung Sumber: BPS
RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK: BERAS Peta Sentra Produksi Peta Distribusi dari Provinsi Lampung Sumber: BPS
RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK: BERAS Peta Sentra Produksi Peta Distribusi dari Provinsi Lampung Sumber: BPS

Peta Sentra Produksi

Peta Distribusi dari Provinsi Lampung

KEBUTUHAN POKOK: BERAS Peta Sentra Produksi Peta Distribusi dari Provinsi Lampung Sumber: BPS (2009) Pola Distribusi

Sumber: BPS (2009)

Pola Distribusi

6

RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK:

RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK: TEPUNG TERIGU Peta Distribusi dari Provinsi DKI Jakarta ke Wilayah Indonesia
TEPUNG TERIGU
TEPUNG TERIGU
RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK: TEPUNG TERIGU Peta Distribusi dari Provinsi DKI Jakarta ke Wilayah Indonesia

Peta Distribusi dari Provinsi DKI Jakarta ke Wilayah Indonesia Bagian Timur

dari Provinsi DKI Jakarta ke Wilayah Indonesia Bagian Timur Peta Sentra Industri Sumber: BPS (2009) Pola

Peta Sentra Industri

ke Wilayah Indonesia Bagian Timur Peta Sentra Industri Sumber: BPS (2009) Pola Distribusi ANALISIS SINGKAT RANTAI

Sumber: BPS (2009)

Pola Distribusi

ANALISIS SINGKAT RANTAI PASOK KOMODITAS KEBUTUHAN POKOK • Rantai pasok menggunakan beberapa pola saluran distribusi
ANALISIS SINGKAT
RANTAI PASOK KOMODITAS
KEBUTUHAN POKOK
• Rantai pasok menggunakan
beberapa pola saluran
distribusi yang berbeda-beda
antar wilayah di Indonesia
• Pengontrolan yang sulit
terhadap aspek produksi dan
distribusi
• Indikasi penguasaan oleh
beberapa pihak tertentu
7
INDIKASI PERMASALAHAN LOGISTIK KEBUTUHAN BAHAN POKOK DAN DAMPAKNYA 1. Harga barang mahal • Harga komoditas

INDIKASI PERMASALAHAN LOGISTIK

KEBUTUHAN BAHAN POKOK DAN DAMPAKNYA
KEBUTUHAN BAHAN POKOK DAN DAMPAKNYA
PERMASALAHAN LOGISTIK KEBUTUHAN BAHAN POKOK DAN DAMPAKNYA 1. Harga barang mahal • Harga komoditas lebih mahal
1. Harga barang mahal • Harga komoditas lebih mahal mahal daripada beberapa negara lain 2.
1.
Harga barang mahal
• Harga komoditas lebih mahal
mahal daripada beberapa negara lain
2.
Disparitas harga antar wilayah

Perbedaan harga produk antara di Pulau Jawa dengan harga di Indonesia Timur.

3. Fluktuasi harga • Harga beberapa komoditas (daging, kedelai, cabai, bawang) yang naik-turun dengan selisih
3.
Fluktuasi harga
Harga beberapa komoditas (daging, kedelai,
cabai, bawang) yang naik-turun dengan
selisih harga yang tinggi.
4. Kelangkaan barang/ komoditas

Kelangkaan komoditas (LPG, daging sapi, daging ayam)

1. Masyarakat:
1. Masyarakat:

Menerima barang dengan harga harga mahal

Masyarakat di Indonesia Timur harus

membeli dengan harga lebih mahal

2. Produsen
2. Produsen

Kepastian produksi (jumlah, waktu, harga, dsb) dan pendistribusian barang

3. Penyedia jasa logistik
3. Penyedia jasa logistik

Penyimpanan: kebutuhan gudang (jenis, kapasitas, jumlah, lokasi), jumlah stok

Pengiriman: penentuan armada (jenis, kapasitas, jumlah), penjadwalan, penentuan rute

RANTAI PASOK BARANG KEBUTUHAN BUKAN POKOK Menggunakan saluran distribusi yang dibangun secara bisnis profesional Saluran

RANTAI PASOK

BARANG KEBUTUHAN BUKAN POKOK
BARANG KEBUTUHAN BUKAN POKOK
RANTAI PASOK BARANG KEBUTUHAN BUKAN POKOK Menggunakan saluran distribusi yang dibangun secara bisnis profesional Saluran 1

Menggunakan saluran distribusi yang dibangun secara bisnis profesional

Saluran 1

Saluran 2

Saluran 3

Saluran 4

Manufaktur Pelanggan
Manufaktur
Pelanggan
Manufaktur Pengecer Pelanggan
Manufaktur
Pengecer
Pelanggan
Pedagang Manufaktur Pengecer Pelanggan Besar Pedagang Manufaktur Jobber Pengecer Pelanggan Besar
Pedagang
Manufaktur
Pengecer
Pelanggan
Besar
Pedagang
Manufaktur
Jobber
Pengecer
Pelanggan
Besar

Saluran Pemasaran Pelanggan

Saluran 1

Saluran 2

Saluran 3

Saluran 4

Pelanggan Manufaktur Bisnis Distributor Pelanggan Manufaktur Bisnis Bisnis Perwakilan Manufaktur atau Cabang
Pelanggan
Manufaktur
Bisnis
Distributor
Pelanggan
Manufaktur
Bisnis
Bisnis
Perwakilan Manufaktur atau
Cabang Penjualan
Pelanggan
Manufaktur
Bisnis
Manufaktur
Perwakilan Manufaktur atau
Cabang Penjualan
Distributor
Pelanggan
Bisnis
Bisnis

Saluran Pemasaran Bisnis

9

2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA
2
CONTOH KASUS
RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar
2 CONTOH KASUS RANTAI PASOK SAPI POTONG DI INDONESIA Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar

Disarikan dari materi yang dipaparkan pada Seminar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia: Outlook Industri Peternakan 2013 Bogor, 21 Februari 2013

dipaparkan pada Seminar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia: Outlook Industri Peternakan 2013 Bogor, 21 Februari 2013 10

10

SALURANPEMASARAN DAN DISTRIBUSI SAPI POTONG Sumber: Kantor Bank Indonesia Medan, 2010. Sumber: Helena J. Purba
SALURANPEMASARAN DAN DISTRIBUSI SAPI POTONG Sumber: Kantor Bank Indonesia Medan, 2010.
SALURANPEMASARAN DAN DISTRIBUSI
SAPI POTONG
Sumber: Kantor Bank Indonesia Medan, 2010.
SALURANPEMASARAN DAN DISTRIBUSI SAPI POTONG Sumber: Kantor Bank Indonesia Medan, 2010. Sumber: Helena J. Purba 11
Sumber: Helena J. Purba
Sumber: Helena J. Purba
ANALISIS SISTEM MAKRO LOGISTIK • Belum ada perencanaan pengembangan sistem logistik peternakan secara khusus •

ANALISIS SISTEM MAKRO LOGISTIK

ANALISIS SISTEM MAKRO LOGISTIK • Belum ada perencanaan pengembangan sistem logistik peternakan secara khusus •
ANALISIS SISTEM MAKRO LOGISTIK • Belum ada perencanaan pengembangan sistem logistik peternakan secara khusus •

Belum ada perencanaan pengembangan sistem logistik peternakan secara khusus

Potensi permasalahan:

Biaya logistik yang tinggi yang berdampak terhadap harga dan daya saing komoditas.

Risiko kelangkaan di wilayah tertentu.

Risiko fluktuasi harga.

Risiko disparitas harga.

Rekomendasi:

Pengembangan sistem logistik nasional khusus peternakan dalam MP3EI dan Sistem Logistik Nasional.

Perlu koordinasi antar departemen/lembaga dan antar pemerintah daerah.

12

MP3EI dan Sistem Logistik Nasional. – Perlu koordinasi antar departemen/lembaga dan antar pemerintah daerah. 12 12

12

ANALISIS ASPEK PEMASOK DAN PENGECER
ANALISIS ASPEK PEMASOK DAN PENGECER
ANALISIS ASPEK PEMASOK DAN PENGECER
ANALISIS ASPEK PEMASOK DAN PENGECER PEMASOK PENGECER • Secara umum belum • Secara umum belum memenuhi/menerapkan
PEMASOK PENGECER • Secara umum belum • Secara umum belum memenuhi/menerapkan standar teknis dan proses
PEMASOK
PENGECER
• Secara umum belum
• Secara umum belum
memenuhi/menerapkan standar
teknis dan proses
memenuhi/menerapkan standar
teknis dan proses
– Contoh pada sapi: Dari 800 RPH di
Indonesia, yang berstandar NKV
– Belum menerapkan pola rantai dingin
(cold chain)
sebanyak 25 RPH dan yang telah diaudit
• Potensi kerugian penggunaan truk:
oleh auditor independent sebanyak 11
RPH*.
– Risiko keamanan daging.
– Risiko kualitas daging.
• Potensi kerugian penggunaan truk:
• Kebutuhan perbaikan:
– Risiko kesehatan hewan.
– Standardisasi teknis dan proses (perlu
– Risiko kehalalan.
bantuan teknis dan permodalan).
– Risiko kualitas daging.
• Kebutuhan perbaikan:
– Standardisasi teknis dan proses (perlu
bantuan teknis, manajemen, dan
permodalan)
13

*Sumber: Ditjen Peternakan (2012)

ASPEK TRANSPORTASI TRANSPORTASI DARAT TRANSPORTASI LAUT • Masih menggunakan moda transportasi jalan raya (truk)

ASPEK TRANSPORTASI

ASPEK TRANSPORTASI TRANSPORTASI DARAT TRANSPORTASI LAUT • Masih menggunakan moda transportasi jalan raya (truk)
TRANSPORTASI DARAT TRANSPORTASI LAUT • Masih menggunakan moda transportasi jalan raya (truk) dengan kapasitas kecil
TRANSPORTASI DARAT
TRANSPORTASI LAUT
• Masih menggunakan moda transportasi
jalan raya (truk) dengan kapasitas kecil
dan tidak memenuhi standar teknis dan
proses.
• Masih menggunakan moda
transportasi laut dengan kapasitas
kecil (kapal kecil).
• Kondisi jalan raya yang tidak memadai
(rusak, sempit, macet, dsb.)
• Fasilitas bongkar muat belum
memadai
• Potensi kerugian penggunaan truk:
• Potensi kerugian:
– Kapasitas kecil berdampak ke biaya satuan
yang tinggi.
– Kapasitas kecil berdampak ke biaya
– Risiko terhadap keselamatan hewan (luka,
stres, dll).
satuan yang tinggi.
– Rawan pungli.
– Fasilitas bongkar muat belum
memadai berisiko terhadap
• Kebutuhan perbaikan:
keselamatan hewan (luka, stres, dll).
– Standardisasi moda dan proses.
• Rekomendasi: penggunaan dan
– Perbaikan infrastruktur jalan raya.
– Penggunaan dan pengembangan kereta
api sebagai moda secara terintegrasi
(multimoda).
pengembangan moda transportasi
laut yang modern dan berkapasitas
besar.
14
ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI TRANSPORTASI SAPI IMPOR TRANSPORTASI SAPI LOKAL 15 15 Sumber: Sucofindo (2012)
ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI
ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI

TRANSPORTASI SAPI IMPOR

ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI TRANSPORTASI SAPI IMPOR TRANSPORTASI SAPI LOKAL 15 15 Sumber: Sucofindo (2012)
ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI TRANSPORTASI SAPI IMPOR TRANSPORTASI SAPI LOKAL 15 15 Sumber: Sucofindo (2012)
ILUSTRASI PERBANDINGAN TRANSPORTASI TRANSPORTASI SAPI IMPOR TRANSPORTASI SAPI LOKAL 15 15 Sumber: Sucofindo (2012)

TRANSPORTASI SAPI LOKAL

15 15 Sumber: Sucofindo (2012)
15
15
Sumber: Sucofindo (2012)
DAMPAK TRANSPORTASI • Transportasi ternak lokal antar daerah dan antar pulau dikelola secara tradisional. –

DAMPAK TRANSPORTASI

DAMPAK TRANSPORTASI • Transportasi ternak lokal antar daerah dan antar pulau dikelola secara tradisional. –

Transportasi ternak lokal antar daerah dan antar pulau dikelola

secara tradisional.

Transportasi ternak impor, sejak tiba dipelabuhan bongkar, diangkut ke feedlot; kemudian dari feedlot dibawa ke RPH untuk disembelih; sudah mulai memperhatikan kaidah-

kaidah kesejahteraan hewan dalam

proses transportasinya, sejak Agustus

2011

Mutu sarana transportasi ternak yg buruk menimbulkan kerugian yg

besar, akibat susutnya bobot badan

ternak selama perjalanan.

Kesejahteraan Hewan / Animal Welfare

Ekonomi : adanya kerugian produksi (dehidrasi, luka, mutu daging, dll)

Sumber: Sucofindo (2012)

Simulasi kerugian susut bobot badan akibat transportasi.

Apabila volume sapi yang

ditransportasikan dari daerah produksi ke konsumsi sebanyak 500.000 ekor, BB rata-rata 300 kg.

Susut akibat penanganan

transportasi diasumsikan 8.75%

(kisaran 5.5-12%), berapa kerugian dalam setahun?

Susut 8.75% x 300 kg x 500.000 =

13.125.000 kg.

Harga sapi (tahun 2012) = Rp27.500/kg bobot hidup

Kerugian/tahun =

Rp361 MILYAR…!!!

16

ASPEK SISTEM INFORMASI DAN REGULASI SISTEM INFORMASI • Sistem informasi belum memadai, mencakup kebutuhan untuk:

ASPEK SISTEM INFORMASI DAN REGULASI

ASPEK SISTEM INFORMASI DAN REGULASI SISTEM INFORMASI • Sistem informasi belum memadai, mencakup kebutuhan untuk: –

SISTEM INFORMASI

Sistem informasi belum memadai, mencakup kebutuhan untuk:

Pemantauan stok (berdasarkan wilayah, jenis kelamin dan umur

ternak, tahapan ternak*, tingkatan

distribusi, dll.).

Pemantauan aliran/distribusi.

Pemantauan ekspor/impor.

Pemantauan kebutuhan (volume,

wilayah, waktu).

Potensi kerugian:

Risiko kelangkaan di wilayah tertentu.

Risiko fluktuasi harga.

Risiko disparitas harga.

Rekomendasi:

Pengembangan “sistem informasi ternak” terpadu .

REGULASI

Beberapa regulasi yang berpotensi menimbulkan masalah:

Persyaratan dokumen (akta, surat jalan, surat pengantar hewan, surat izin angkut, dll.).

Pembatasan kuota pengiriman.

Potensi kerugian:

Risiko kelangkaan di wilayah tertentu.

Risiko fluktuasi harga.

Risiko disparitas harga.

Risiko keberlanjutan

Rekomendasi:

Pengembangan “sistem informasi

ternak” terpadu .

*Misalnya, tahapan ternak sapi: semen/embrio, sapi bibit, sapi bakalan, sapi siap potong, daging sapi.

17

3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL
3
ANALISIS SINGKAT
SISTEM LOGISTIK NASIONAL
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18
3 ANALISIS SINGKAT SISTEM LOGISTIK NASIONAL 18

Sumber: Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, 2012

Sumber: Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, 2012 SISLOGNAS DAN MP3EI Visi Ekonomi Indonesia 2025 “Mewujudkan

SISLOGNAS DAN MP3EI

Visi Ekonomi Indonesia 2025 “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur“ MP3EI 1
Visi Ekonomi Indonesia 2025
“Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur“
MP3EI
1
2
Koridor
Konektivitas
Ekonomi
Sistem Logistik
Nasional
Meningkatkan
Daya Saing
Meningkatkan
Kesejahteraan
IPTEK /
IPTEKS
INOVASI
3
3
Meningkatkan Kesejahteraan IPTEK / IPTEKS INOVASI 3 • Cetak Biru merupakan arah dan pola pengembangan

Cetak Biru merupakan arah dan pola pengembangan Sislognas pada tingkat kebijakan makro yang dijabarkan lebih lanjut dalam RKP dan RK-Kementerian/Lembaga setiap tahunnya

Cetak Biru berperan dalam mencapai sasaran RPJMN, menunjang Implementasi MP3EI, dan

mewujudkan visi ekonomi Indonesia Tahun 2025

ROADMAP SISLOGNAS Integrasi Jaringan Logistik Global Integrasi Jaringan Logistik ASEAN Menyatukan Logistik dan Rantai

ROADMAP SISLOGNAS

ROADMAP SISLOGNAS Integrasi Jaringan Logistik Global Integrasi Jaringan Logistik ASEAN Menyatukan Logistik dan Rantai
Integrasi Jaringan Logistik Global
Integrasi Jaringan Logistik
Global
Integrasi Jaringan Logistik ASEAN Menyatukan Logistik dan Rantai Pasok Nasional, Penguatan Kapasitas Penyedia Jasa
Integrasi Jaringan Logistik
ASEAN
Menyatukan Logistik dan Rantai Pasok Nasional,
Penguatan Kapasitas Penyedia Jasa Logistik dan
Pelaku Logistik Nasional
Roadmap Sistem
Transportasi Nasional
Roadmap Sistem
Pengadaan Nasional
Roadmap Sistem
Informasi Nasional
Roadmap Sistem
Perdagangan Nasional
Informasi Nasional Roadmap Sistem Perdagangan Nasional Membangun Kerangka Kelembagaan Cetak Biru Sistem Logistik
Membangun Kerangka Kelembagaan
Membangun
Kerangka
Kelembagaan
Cetak Biru Sistem Logistik Nasional
Cetak Biru Sistem
Logistik Nasional

2011

2012

2013

2014

2015

2020

2025

Sumber: Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, 2012

20

FAKTOR PENGGERAK SISTEM LOGISTIK NASIONAL

[Perpres 26/2012]
[Perpres 26/2012]
FAKTOR PENGGERAK SISTEM LOGISTIK NASIONAL [Perpres 26/2012] ASPEK KOMODITAS • Kondisi logistik yang ingin dicapai
ASPEK KOMODITAS • Kondisi logistik yang ingin dicapai adalah terwujudnya sistem logistik komoditas penggerak utama
ASPEK KOMODITAS
• Kondisi logistik yang ingin dicapai adalah terwujudnya sistem
logistik komoditas penggerak utama (key commodities)
yang mampu meningkatkan daya saing produk nasional baik
di pasar domestik, pasar regional maupun di pasar
global
penetapan komoditas penggerak utama (key
commodities) menjadi faktor penting dalam penetapan
kebijakan logistik nasional.
• Sesuai dengan paradigma “ship follows the trade” maka
komoditas merupakan penghela (driver) dari seluruh
kegiatan logistik. Oleh sebab itu perlu ditetapkan jenis
komoditas yang dikategorikan sebagai komoditas penggerak
utama, dianalisa pola jaringan logistik dan rantai pasok, pola
tata niaga, dan pola tata kelolanya.
Penetapan Komoditas Penggerak Utama?
Penetapan
Komoditas
Penggerak
Utama?

21

KONSEP TRANSPORTASI LAUT Konsep Pendulum Nusantara Konsep Logistik Maritim Indonesia (Sislognas & MP3EI) »

KONSEP TRANSPORTASI LAUT

KONSEP TRANSPORTASI LAUT Konsep Pendulum Nusantara Konsep Logistik Maritim Indonesia (Sislognas & MP3EI) »
KONSEP TRANSPORTASI LAUT Konsep Pendulum Nusantara Konsep Logistik Maritim Indonesia (Sislognas & MP3EI) »

Konsep Pendulum Nusantara

Konsep Logistik Maritim Indonesia (Sislognas & MP3EI)

» Pengembangan sistem logistik nasional berlandaskan

pada konsep Wilayah Depan dan Wilayah Dalam.

» Pengembangan konektivitas lokal dan konektivitas global mempertimbangkan kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional.

» Percepatan; (1) Pengembangan pelabuhan Short Sea Shipping (SSS) di wilayah Jawa, Sumatera,

Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua dan

(2) pengembangan Logistics Support di wilayah laut dalam.

» Mendorong transformasi pelabuhan hub international menjadi logistics port.

» Pengembangan 2 hub internasional di Pelabuhan

Kuala Tanjung dan Pelabuhan Bitung

» Rute pelayaran melewati enam pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Batam, Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Sorong.

» Bertujuan menurunkan biaya logistik nasional.

» Mewujudkan sistem distribusi barang yang efisien dan terintegrasi.

» Menjadi solusi yang efektif dalam mencegah berlayarnya kapal berkapasitas kosong dari satu tempat ke tempat lainnya.

» Terbentuknya multiple port call dan ship size.

» Meningkatkan kapasitas dan efisiensi.

22

PERMASALAHAN UTAMA SISLOGNAS: IMPLEMENTASI • Antar Kementerian Koordinasi di antara • Pemerintah Pusat dan

PERMASALAHAN UTAMA SISLOGNAS:

IMPLEMENTASI
IMPLEMENTASI
PERMASALAHAN UTAMA SISLOGNAS: IMPLEMENTASI • Antar Kementerian Koordinasi di antara • Pemerintah Pusat dan
• Antar Kementerian Koordinasi di antara • Pemerintah Pusat dan Pemeritah Daerah para pihak terkait
• Antar Kementerian
Koordinasi
di antara
• Pemerintah Pusat dan
Pemeritah Daerah
para pihak
terkait
• Kementerian dan
BUMN
• Antar Instansi
Evaluasi dan
Pengawasan
• Proses operasional
• Alokasi dana
• Penyerapan
Komitmen para
pihak
• Pemerintah Pusat:
Kementerian
• Pemerintah Daerah
• BUMN
• BUMS
• Asosiasi
IMPLEMENTASI MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA SISTEM LOGISTIK BAHAN POKOK • Aspek-aspek produksi-distribusi-konsumsi

IMPLEMENTASI MANAJEMEN RANTAI PASOK

IMPLEMENTASI MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA SISTEM LOGISTIK BAHAN POKOK • Aspek-aspek produksi-distribusi-konsumsi
PADA SISTEM LOGISTIK BAHAN POKOK •
PADA SISTEM LOGISTIK BAHAN POKOK
Aspek-aspek produksi-distribusi-konsumsi “saling terpisah” • Perencanaan (kapasitas) produksi “secara
Aspek-aspek produksi-distribusi-konsumsi
“saling terpisah”
• Perencanaan (kapasitas) produksi “secara
agregat” tanpa memperhatikan kebutuhan
(konsumsi): volume, wilayah, waktu.
• Volume produksi dan distribusi tidak memenuhi
skala ekonomis
• Produksi dan distribusi dilakukan oleh para
pihak secara transaksional dan tanpa kerja
sama yang setara
• Penguasaan rantai distribusi oleh pihak-pihak
tertentu
KEBUTUHAN PERANAN PEMERINTAH • Infrastruktur • Kebijakan • Sarana • Koordinasi • Finansial • Pengawasan
KEBUTUHAN PERANAN PEMERINTAH
• Infrastruktur
• Kebijakan
• Sarana
• Koordinasi
• Finansial
• Pengawasan
PRO- DUKSI DISTRI -BUSI KONSUMSI INTE- GRASI KOORDI -NASI KOLA- BORASI
PRO-
DUKSI
DISTRI
-BUSI
KONSUMSI
INTE-
GRASI
KOORDI
-NASI
KOLA-
BORASI
• Finansial • Pengawasan PRO- DUKSI DISTRI -BUSI KONSUMSI INTE- GRASI KOORDI -NASI KOLA- BORASI SCM

SCM

24

ANALISIS DINAMIS BEBERAPA FAKTOR DALAM SISTEMLOGISTIK Infrastruktur Penyebaran Keseimbangan Pemerataan Pembangunan

ANALISIS DINAMIS BEBERAPA FAKTOR

DALAM SISTEMLOGISTIK
DALAM SISTEMLOGISTIK
ANALISIS DINAMIS BEBERAPA FAKTOR DALAM SISTEMLOGISTIK Infrastruktur Penyebaran Keseimbangan Pemerataan Pembangunan
Infrastruktur Penyebaran Keseimbangan Pemerataan Pembangunan Pertumbuhan • Kapasitas Pilihan Moda/ Pembangunan
Infrastruktur
Penyebaran
Keseimbangan
Pemerataan
Pembangunan
Pertumbuhan
• Kapasitas
Pilihan Moda/
Pembangunan
GCG
Infrastruktur
Ekonomi
• Standar teknis
Multimoda
• Standar layanan
• Koordinasi antar
instansi
Keseimbangan
Pergerakan
Aksesibilitas
Barang
Waktu
Kerusakan
Biaya
Tempuh
Armada
Kerusakan
Jalan
Pelanggaran:
Produktivitas
Overtonase,
Armada
dsb.
Regulasi
Penegakan
Ancaman terhadap
Hukum
Pendapatan
Jumlah Supir
Kekurangan
Kapasitas
Supir Turun
Turun
Supir
Transportasi/Logistik

MEMBANGUN SISTEM LOGISTIK NASIONAL

MEMBANGUN SISTEM LOGISTIK NASIONAL YANG EFISIEN, EFEKTIF, DAN PRODUKTIF PERENCANAAN IMPLEMENTASI PENGAWASAN Penetapan
YANG EFISIEN, EFEKTIF, DAN PRODUKTIF PERENCANAAN IMPLEMENTASI PENGAWASAN
YANG EFISIEN, EFEKTIF, DAN PRODUKTIF
PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
PENGAWASAN

Penetapan visi dan misi yang disepakati para pihak terkait

Komitmen para pihak terkait

Pemutakhiran data untuk perencanaan yang tepat/akurat Koordinasi di antara para pihak terkait
Pemutakhiran data untuk perencanaan
yang tepat/akurat
Koordinasi di antara para pihak terkait
Koordinasi di antara para pihak terkait
Koordinasi di antara para pihak terkait
Penyederhanaan birokrasi
Penyederhanaan birokrasi
Ketersediaan dan alokasi anggaran yang memadai Sistem logistik komoditas dan sistem logistik daerah dalam kerangka
Ketersediaan dan alokasi anggaran yang
memadai
Sistem logistik komoditas dan sistem
logistik daerah dalam kerangka sistem
logistik nasional
Sinkronisasi dan harmonisasi regulasi
Sinkronisasi dan harmonisasi regulasi
Standardisasi teknis dan proses logistik
Standardisasi teknis dan proses logistik
Pengembangan fasilitas logistik untuk meningkatkan skala ekonomi proses- proses logiistik
Pengembangan fasilitas logistik untuk
meningkatkan skala ekonomi proses-
proses logiistik

Penerapan Good Corporate Governance

Pemantauan dan pengawasan terhadap implementasi rencana dalam cetak biru, rencana strategis, dsb.

Penyerapan anggaran

Operasionalisasi infrastruktur yang memenuhi standar proses

Pengawasan terhadap operasionalisasi prasarana dan sarana

Pengawasan Good Corporate Governance

Anti-monopoli dan persaingan usaha yang sehat Pemantauan melalui pendataan produksi, distribusi, dan konsumsi komoditas
Anti-monopoli dan persaingan usaha
yang sehat
Pemantauan melalui pendataan
produksi, distribusi, dan konsumsi
komoditas

Penegakan hukum

26

EDUCATION | TRAINING | CONSULTING | RESEARCH | DEVELOPMENT Sekretariat: Jl. Negla 25 Setiabudi Bandung
EDUCATION | TRAINING | CONSULTING | RESEARCH | DEVELOPMENT Sekretariat: Jl. Negla 25 Setiabudi Bandung

EDUCATION | TRAINING | CONSULTING | RESEARCH | DEVELOPMENT

Sekretariat:

Jl. Negla 25 Setiabudi Bandung 40154

Phone : 022 7000 1090

Mobile : 0821 1515 9595

E-mail : sekretariat@SupplyChainIndonesia.com

Website : www.SupplyChainIndonesia.com Mailing list : SupplyChainIndonesia@googlegroups.com LinkedIn : Supply Chain Indonesia Facebook : Supply Chain Indonesia