Anda di halaman 1dari 11

BAB III

BAHAN BAKU DAN HASIL PRODUKSI


1.1
1.1.1

Bahan Baku Produksi


Bahan Baku Utama
Komponen utama penyusun dari gas alam adalah hidrokarbon fraksi ringan, yang
memiliki komponen utama berupa metana (CH4) dan sedikit CO2, H2O, air raksa, dan
H2S. Komposisi dari gas alam yang dihasilkan dari berbagai tempat mempunyai
komposisi yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari fosil organik yang membentuk gas
alam tersebut. Pada umumnya gas alam digunakan sebagai bahan penghasil energi, baik
untuk perumahan ataupun industri. Sebagai produk komersial, gas alam harus
dimurnikan dari bahan-bahan pengotor seperti CO2, H2O, merkuri dan hidrokarbon berat
sehingga sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
Gas alam yang diolah oleh Badak LNG merupakan gabungan dari berbagai
sumber gas alam di daerah setempat. Seluruh gas alam umpan tersebut dikumpulkan di
Badak Export Manifold (BEM) sebelum ditransportasikan menuju kilang Badak.

1.1.2

Bahan Baku Penunjang


Untuk menghasilkan LNG dan LPG, selain dibutuhkan feed natural gas, juga
dibutuhkan berbagai bahan baku penunjang. Beberapa bahan baku penunjang yang
digunakan dalam proses di kilang LNG Badak LNG, di antaranya yaitu :
a. Activated Methyl Diethanol Amine (aMDEA)
Senyawa ini digunakan sebagai absorben CO 2 gas alam yang digunakan pada unit
1C-2 (CO2 Absorber). aMDEA diperoleh dari perusahaan kimia asal Jerman, yaitu
BASF.
b. Antifoaming Agent
Senyawa ini merupakan campuran senyawa silika dan glikol yang diinjeksikan pada
aliran lean amine yang masuk ke kolom CO2 Absorber (unit 1C-2). Tujuan
penginjeksian ini adalah untuk membuat pemisahan CO2 dari gas alam menjadi lebih
optimal. Terbentuknya busa (foaming) menyebabkan kontak antara lean amine dan
feed natural gas menjadi kurang optimal.
c. Molecular Sieve
Molecular sieve merupakan senyawa adsorben yang digunakan di kolom drier 2C2A/B/C untuk mengikat H2O yang terdapat pada feed natural gas. Molecular sieve
ini akan diregenerasi setiap 510-540 menit dengan menggunakan aliran feed natural
gas panas.
d. Sulfur Impregnated Activated Carbon (SIAC)
SIAC digunakan pada kolom drier 2C-4 untuk mengikat merkuri yang terkandung
dalam aliran feed natural gas.
e. Gas Nitrogen
Gas nitrogen merupakan senyawa yang digunakan sebagai salah satu komponen
MCR dan sistem pembilasan kolom (purging). Nitrogen digunakan sebagai purging
karena sifat nitrogen yang inert. Nitrogen diperoleh dari distilasi kriogenik udara
pada Plant #29 dan Plant #39 (Plant Nitrogen Generator).
f.
Propana
Propana merupakan fluida pendingin feed natural gas dan MCR (Multi Component
Refrigerant). Selain itu, propane juga merupakan salah satu komponen MCR.
Propana dihasilkan dari fraksinasi gas alam pada Depropanizer (unit 3C-6).
g. Multi Component Refrigerant (MCR)

MCR merupakan fluida pendingin (refrigeran) gas alam yang digunakan pada Main
Heat Exchanger (Plant-5). MCR tersusun dari nitrogen, metana, etana, dan propana.
Komposisi masing-masing penyusun MCR disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 3. 1 Komposisi MCR
No
1
2
3
4

Komponen
N2
CH4
C2H6
C3H8

Komposisi (%-mol)
2-2,2
40-46
45-50
2-6

Sumber : Data Badak LNG

h. Air Laut
Air laut digunakan sebagai media pendingin unit feed natural gas pada unit Heat
Exchanger di Plant #1 dan Plant #3, propane dan MCR di Plant-4, unit Surface
Condenser di Utilities I dan II, serta penyediaan air pemadam kebakaran (fire water)
darurat.
i.
Optisperse HTP 3001
Senyawa ini merupakan senyawa yang diinjeksikan pada Boiler untuk mencegah
terjadinya korosi pada lapisan dalam tube Boiler. Optisperse HTP 3001 akan
membentuk lapisan film pada tube sehingga kotoran penyebab korosi lebih mudah
disingkirkan.
j.
Optisperse PO 5543
Senyawa ini digunakan untuk mengatur pH air umpan Boiler.
k. Sodium Hypochlorite (NaOCl)
Senyawa NaOCl merupakan senyawa yang diinjeksikan pada bagian suction pompa
air laut untuk menghambat pertumbuhan ganggang dan kerang yang terbawa oleh air
laut. Pertumbuhan ganggang, kerang, serta adanya partikel lain pada air laut dapat
menyumbat bagian suction pompa.
l.
Oxygen Scavenger (Cortrol)
Senyawa oxygen scavenger berfungsi untuk mengikat oksigen (O2) terlarut pada air
umpan boiler di dalam unit Deaerator Plant #31. Senyawa aditif sebagai oxygen
scavenger yang digunakan adalah Cortrol.
m. Neutralizing Amine (senyawa optimeen)
Senyawa ini berfungsi untuk mengikat karbondioksida (CO 2) terlarut. Senyawa ini
diinjeksikan bersamaan dengan oxygen scavenger (kortrol) di dalam De-Aerator.
n. Senyawa Demineralisasi (H2SO4 dan NaOH)
Senyawa demineralisasi yang digunakan adalah senyawa H 2SO4 dan senyawa
NaOH. Senyawa ini digunakan dalam demineralisasi air umpan Boiler pada Plant36. Asam sulfat digunakan sebagai cation exchanger dengan konsentrasi 95%
sedangkan Natrium Hidroksida dengan konsentrasi 10% digunakan sebagai anion
exchanger.
o. Kalsium Hipoklorit (Ca(OCl)2)
Senyawa ini digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada Plant #48 dan Plant
#49 dengan kadar maksimum 1,2 ppm.
p. Morpholine (C4H9NO)
Senyawa ini merupakan senyawa inhibitor korosi pada perpipaan yang digunakan
pada Deaerator (plant #31).

1.2
3.2.1

Hasil Produksi
Liquefied Natural Gas (LNG)

Produk utama yang dihasilkan oleh Badak LNG adalah Liquefied Natural Gas
(LNG) dengan kapasitas desain mencapai 22,5 MTPA (Million Tonne per Annual). Untuk
saat ini, produksi gas alam terus menurun dan nilainya hanya sekitar 17 MTPA. Hal ini
mengakibatkan hanya 4 dari 8 train saja yang dijalankan dan produksi LNG cenderung
menurun setiap tahunnya. Spesifikasi LNG yang dihasilkan Badak LNG diberikan pada
Tabel 4.2 di bawah ini :
Tabel 3. 3 Spesfikasi Produk LNG Badak LNG
Sifat Fisik
Wujud
Cair
Temperatur
-1580C
Tekanan
0,07 kg/cm2G
Warna
Tidak berwarna
Bau
Berbau hidrokarbon
Densitas
Rata-rata 453 kg/m3
Nilai kalor (HHV)
1100-1165 Btu/SCF
Sumber : Data Badak LNG

Tabel 3. 4 Komposisi Produk LNG di Badak LNG


C1
C2
C3
C4
C5
N2
Hg
H2S
Belerang
Total

3.2.2

Komposisi (Persentase Mol)


Minimal 90,0 %
Maksimal 5,0%
Maksimal 3,5%
Maksimal 1,5%
Maksimal 0,02%
Maksimal 0,05%
0 ppb
Maksimal 0,25 gram / 100 SCF
1,3 gram / SCF
100%

Liquefied Petroleum Gas (LPG)

Produk lain dari pencairan feed gas di Badak LNG ini adalah LPG. Terdapat 2
jenis LPG yang dihasilkan Badak LNG, yaitu LPG Propana (suhu -400C) dan LPG
Butana (suhu -100C) yang komposisinya dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5.
Badak LNG sengaja memisahkan LPG Propana dan LPG Butana yang dihasilkan agar
dapat dicampurkan dengan komposisi tertentu sesuai permintaan pembeli.
Tabel 3. 2 Komposisi LPG Propana
Senyawa
C3
C2
C4

Kadar
Lebih dari 95%
Kurang dari 2%
Kurang dari 2,5%

Tabel 3. 3 Komposisi LPG Butana


Senyawa
C4
C5

Kadar
Lebih dari 98%
Kurang dari 1%

BAB IV
PROSES PRODUKSI DI BADAK LNG
4.1

Kilang & Produksi


Kilang LNG Badak saat ini berjumlah 8 (delapan) train yang dilengkapi
dengan 1 (satu) unit pendinginan LPG, 6 (enam) tangki penimbun LNG, 5 (lima)
tangki penimbun LPG, 21 (dua puluh satu) unit pembangkit uap serta dilengkapi
dengan 1 (satu) pelabuhan muat LNG dan 2 (dua) pelabuhan muat LNG/LPG.
Produksi meningkat dari kapasitas awal 3,3 juta ton (pada tahun 1977)
menjadi lebih dari 22 juta ton LNG/tahun dan 1,2 juta ton LPG/tahun dengan 4
(empat) empat jalur pipa parallel 36 dan 42 yang menyalurkan gas alam dari
ladang-ladang gas untuk kebutuhan bahan baku LNG dan LPG.
Teknologi dalam proses pencairan gas alam disebut sebagai Cryogenic
Technic karena pencairan gas alam di kilang ini mencapai temperatur cryogenic (<
-800C) :

Proses pencairan gas alam menjadi LNG (Liquid Natural Gas) terdiri dari 4
(empat) bagian utama, yaitu:
1. CO2 Removal Process yakni suatu proses untuk menghilangkan kandungan CO2.
2. Dehydration Process and Mercury Removal yakni proses untuk menghilangkan
kandungan air (H20) serta kandungan air raksa (Hg).
3. Fractionation Process yakni proses pemisahan kandungan hidrokarbon berat.
4. Proses Pendinginan yakni proses pencairan gas alam menuju temperatur -158 0C.
Teknologi pencairan ini merupakan teknologi utama dalam proses pencairan gas
alam dan merupakan hak paten dari APCI.
5. Liquefaction
Gas alam yang berbentuk LNG selanjutnya disimpan dalam tangki
penyimpanan LNG menunggu jadwal pengiriman yang telah disepakati antara

Pertamina JMG dengan pihak pembeli di Jepang, Korea Selatan dan Taiwan serta
pihak Transporter LNG.
Jika beroperasi pada kapasitas penuh, kilang LNG Badak dapat berproduksi
rata-rata 140.000 ton m3 gas alam cair per harinya atau lebih banyak dari jumlah
muatan satu pengapalan tanker khusus LNG.
4.2 Konsep Proses Pencairan Gas
Proses pencairan gas alam (produksi LNG) merupakan proses perubahan fasa gas
alam menjadi fasa cair. Untuk menghasilkan LNG, maka panas sensibel dan panas laten
dari gas alam diambil sehingga menghasilkan gas alam dalam bentuk cairan yang sangat
dingin (kriogenik). Pengubahan fasa ini dapat mengurangi volum gas alam hingga 1/600
kali volum awalnya sehingga dapat mempermudah dalam transportasinya. Secara garis
besar proses pencairan gas alam melalui proses-proses sebagai berikut:
a. Pemurnian Gas Alam merupakan proses pemurnian untuk menghilangkan
senyawa
senyawa yang dapat mengganggung jalannya proses berikutnya dalam rangkaian
proses produksi LNG, merusak peralatan produksi LNG, serta mengurangi kualitas
produk LNG.
b. Fraksinasi merupakan proses untuk memisahkan gas alam menjadi umpan dengan
komponen-komponen yang sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan.
c. Pencairan merupakan proses untuk mendinginkan gas alam menjadi bentuk
cairnya.
Ketiga proses utama tersebut dilakukan secara berurutan dalam suatu rangkaian plant
yang disebut sebagai train proses. Dalam train ini feed natural gas diproses menjadi gas
alam cair (LNG) yang siap dikapalkan. Setiap train proses terdiri dari lima plant.
4.3

Proses Pada Train

Proses pembuatan LNG di Badak LNG dilakukan dalam suatu unit rangkaian yang
disebut train Badak LNG memiliki 8 buah train yang memilki konstruksi idnetik dan hanya
berbeda pada kapasitasnya. Train di badak LNG diberi nama train A,B,C,D,E,F,G, dan H.
Akan tetapi, saat ini train yang produksi hanya 4 train karena menurunnya feed gas yang
masuk ke Badak LNG.
Berikut ini adalah diagram proses produksi LNG di PT Badak LNG :

Sumber : Data Operation Department Badak LNG

Gambar 4. 1 Diagram Proses Produksi LNG di Badak LNG

Saat ini terdapat delapan train proses yaitu Train A sampai dengan Train H.
Perbedaan antar train terletak pada tahun pembangunan dan kapasitas produksinya,
sedangkan proses produksi yang terjadi relatif sama. Kapasitas produksi Train EFGH lebih
besar daripada Train ABCD. Untuk saat ini, train yang beroperasi hanya empat sementara
empat train lainnya tidak beroperasi karena jumlah feed natural gas yang lebih sedikit dari
kapasitas produksi.
Kapasitas dari masing-masing train proses telah dirancang untuk dapat mengolah
dan menghasilkan feed gas alam menjadi LNG sebanyak 724 m3/jam/train (average).
Dengan beroperasinya kedelapan train kilang pencairan gas alam di Bontang maka total
produksi LNG yang dihasilkan dapat mencapai 21,64 juta ton per tahun. Dalam operasi
sehari-hari, banyaknya produksi LNG disesuaikan dengan besarnya pasokan feed natural gas
yang disediakan oleh produsen gas. Untuk mengoperasikan kilang LNG, diperlukan tiga
sistem utama yang saling berkaitan. Ketiga sistem utama itu adalah sistem proses, sistem
utilitas, serta sistem storage and loading.
4.6.1. CO2 removal unit ( plant 1 )
Gas yang berasal dari KOD ( separator ) tadi disalurkan ke unit ini untuk dipisahkan
dari kandungan CO2. Tujuannya adalah agar tidak membeku pada temperatur di bawah 0C
dan tidak menimbulkan korosi pada sistem ( unit ) selanjutnya. Batasan maksimum yang
diijinkan pada pemisahan ini adalah sebesar 50 ppm. Pemisahan ini menggunakan MDEA
( Methyl De Ethanol Amina ) dengan cara absorbsi.

Gambar Plant 1
4.6.3. Dehydrationand mercury removal ( plant 2 )
Pada plant 2 ini dilakukan pemisahan H2O agar pada saat proses Main Exchanger,
molekul H2O tidak membeku pada temperatur di bawah 0 C dan Hg tidak menimbulkan
korosi, karena Main Exchanger terbuat dari bahan aluminium. Pemisahan ini
menggunakan Molekular Silve hingga kandungan Hg yang diijinkan sebesar 0,1 ppm dan
kandungan H2O maksimum 0,5 ppm.

Gambar Plant 2
4.6.4. Heaver HC ( plant 3 )

Dalam tahap ini dilakukan pemisahan fraksi berat ( kandungan unsur C3 dan C4 ) dan
fraksi ringannya (kandungan unsur C1 dan C2 ), alat ini disebut juga Scrub Column. Fraksi
berat yang terpisah dari fraksi ringan kemudian dialirkan ke DeEthanizer, DePropanizer,
dan DeButanizer untuk proses pemisahan selanjutnya,. Sedangkan fraksi ringannya
didinginkan terlebih dahulu pada temperatur -50C untuk selanjutnya diproses pada plant 5
untuk didinginkan lebih lanjut dan dicairkan.

Gambar Plant 3
4.6.5. MCR refrigeration and propane ( plant 4 )
Selain penurunan tekanan, proses pencairan gas alam dilakukan dengan menggunakan
pendinginan bertingkat. Bahan pendinginan yang digunakan adalah Propana dan Multi
Component Refrigerant ( MCR ) dari hasil sampingan pembuatan LNG. MCR adalah
campuran nitrogen, metana etana, propana, dan butane yang digunakan untuk pendinginan
akhir dalam proses pembuatan LNG.
a. Siklus pendingin prophane
Cairan prophane akan berubah fase menjadigas prophane setelah temperaturenya naik karena
dipakai mendinginkan gas alam maupun MCR. Sesuai dengan kebutuhan pendinginan
bertingkat pada proses pengolahan LNG, kondisi cairan prophane yang dipakai pendinginan
ada 3 tingkat untuk MCR dan 3 tingkat untuk gas alam. Gas prophane setelah dipakai untuk
pendinginan dikompresikan oleh Prophane Recycle Compresor 4K-1 untuk menaikkan
tekanannya, kemudian didinginkan oleh air laut, dan selanjutnya dicairkan dengan cara
penurunantekanan.Demikiansikluspendinginpropanediperoleh
b.SiklusPendinginMCR
CairanMCRberubahfasemenjadigasMCRdengankenaikantemperaturkarenadipakai
pendinginangasalampadaMainHeatExchanger5E1.GasMCRtersebutdikompresikan
secaraseriolehMCRFirstStageCompresor4K2danMCRSecondStageCompressor4K3
untukmenaikkantekanannya.Pendinginandenganairlautdilakukanpadainterstage4K2
dan4K3sertapadadischarge4K3
4.6.6. Liquefaction ( plant 5 )
Tahap ini merupakan bagian inti dari proses pencairan gas alam, dengan
menggunakan Main Heat Exchanger. Gas yang diproses dalam tahap ini adalah C1 dan C2
yang didinginkan sampai pada temperatur -160C dan pada tekanan atmosfer. Setelah
berubah wujud menjadi cair maka gas cair tersebut dialirkan ke LNG Storage untuk
penyimpanan dan pengapalannya.

GambarMHEPlant5
4.3.4

Proses pada Storage & Loading

Storage merupakan tempat penyimpanan LNG dan LPG setelah selesai diproses.
Loading merupakan tempat pengapalan LNG dan LPG untuk proses distribusi. Di PT Badak
LNG, terdapat satu section khusus yang menangani proses pada storage & loading, yaitu
storage & loading section yang memiliki tugas utama berupa menampung dan menyimpan
hasil produksi LNG dan LPG hingga pengapalannya, menanggulangi sistem blowdown, flare
dan burn pit, dan memproduksi nitrogen gas dan gas cair untuk keperluan LNG tanker.
Storage & loading terdiri dari beberapa buah plant, di antaranya plant 15, 16, 17, 19, 20, 21,
24, 38, dan 39.
4.3.4.1 Plant 15 (Pendinginan LPG Propane dan Butane)
Pada plant ini, propane yang bertemperatur -400C dan butane yang bertemperatur -40C
didinginkan menggunakan beberapa unit pendinginan LPG berupa warm heat exchanger
(15E-3) dan cold heat exchanger (15E-4), dan refrigerant unit berupa kompresor (15K-1),
desuperheater (15E-1), refrigerant condenser (15E-2) dan accumulator (15C-1).
4.3.4.2 Plant 16 (Condensate Stabilizer)
Proses yang dilakukan pada plant ini merupakan proses pengolahan cairan-cairan
hidrokarbon berat dari knock out drum (KOD) dan process train menjadi bahan bakar
(condensate) untuk kendaraan. Sedangkan gas-gas yang dihasilkan oleh proses pada plant ini
digunakan sebagai bahan bakar boiler dan sebagian lagi dikembalikan ke plant 21 dengan
kompresor. Sebagian besar condensate tersebut dipompakan kembali ke lapangan Muara
Badak, sedangkan sebagian kecilnya dipakai sebagai bahan bakar kendaraan di PT Badak
LNG. Kapasitas produksi unit plant 16 ini sekitar 210 m3/jam.
4.3.4.3 Plant 17 (LPG Storage Tank)
Proses yang dilakukan pada unit plant ini adalah proses penyimpanan cairan LPG. Pada
plant ini terdapat 3 buah tangki penyimpanan propane dan 2 buah tangki penyimpanan
butane dengan masing-masing kapasitas : 40.000 m3. Setiap tangki dilengkapi dengan 2 buah
pompa loading dengan kapasitas masing-masing : 2.500 m3/jam dan 1 buah pompa sirkulasi
dengan kapasitas : 50 m3/jam. Pompa-pompa tersebut digunakan untuk memompakan LPG
ke kapal melalui 2 transfer line, sedangkan pompa sirkulasi berfungsi untuk mensirkulasikan
LPG dari satu tangki ke tangki yang lain melalui loading dock II dan loading dock III selama
tidak ada LPG loading supaya jaringan LPG loading line tetap dingin. Uap propane yang
timbul dari tangki dicairkan kembali oleh kompresor (17K-1) untuk dikembalikan ke tangki
propane setelah didinginkan.

4.3.4.4 Plant 19 (Relief & Blowdown System)


Pada plant ini, terjadi proses pengolahan cairan gas bocoran yang dikumpulkan dari
proses train yang kemudian dialirkan menuju tempat yang aman untuk dibakar. Ada 3 jenis
metode pembakaran yang dipakai yaitu :
1. Dry Flare System, untuk menyalurkan dan membakar gas hydrocarbon kering (tanpa
H2O).
1. Wet Flare System, untuk menyalurkan dan membakar gas hydrocarbon yang masih
mangandung H2O.
2. Burn Pit dan Liquid Disposal System, untuk menyalurkan dan membakar buangan
hydrocarbon cair dari process train.
4.3.4.5 Plant 20 (Tangki Penampung Produk Refrigeran Cairan)
Hasil refrigeran dari process train ditampung pada tangki-tangki 20C-1A/B dan 20C3A/B. Refrigeran tersebut disimpan dan siap dipakai sebagai make-up kebutuhan refrigerant
pada process train. Sedangkan condensate dari Plant 16 ditampung di tangki 20D-4.
4.3.4.6 Plant 21 (Knock Out Drum)
Knock Out Drum (KOD) meliputi sistem pemipaan yang menghubungkan Muara Badak
hingga kilang LNG Bontang. Terdapat tangki KOD yang berfungsi untuk memisahkan antara
gas dan cairan hidrokarbon sebelum dialirkan ke process train untuk diolah menjadi LNG.
Jaringan pipa feed gas dari Muara Badak, terdiri dari 2 buah jaringan pipa 36 dan 2 buah
lagi berukuran 42. Pada pipa gas dari Muara Badak diluncurkan bola pembersih/ scrapper/
brush pig dengan tekanan operasi 720 Psig untuk membawa cairan yang tertinggal pada pipa,
yang kemudian diterima oleh 4 unit pig receiver 36 dan 42.
4.3.4.7 Plant 24 (LNG Tank dan Loading Dock)
Produk LNG dari process train ditampung pada 6 tangki LNG 24D-1/2/3/4/5/6
berkapasitas 95,000 m3 dan satu tangki berkapasitas 126,500 m3. Kemudian proses pemuatan
LNG menuju kapal menggunakan 2 unit Loading Dock. Pada Loading Dock 1 terdapat 4
buah LNG Loading Arm dan 1 LNG Boil-Off Loading Arm. Pada Loading Dock 2 terdapat 4
buah LNG Loading Arm dan 1 LNG Boil-Off Loading Arm, serta 2 buah LPG Loading Arm
dan 1 LPG Boil-Off Loading Arm. Terdapat 4 buah kompresor boil-off gas (24K-1/8/9/16)
yang digunakan untuk mengkompresi boil-off gas LNG baik dari tangki maupun dari kapal
untuk disalurkan ke sistem bahan bakar boiler.
4.3.4.8 Plant 38 (Sistem Gas Bahan Bakar)
Plant ini menampung dan menyediakan kebutuhan bahan bakar boiler. Bahan bakar
boiler (fuel system) tersebut didapatkan dari sisa uap LNG dari kompresor 2K-1 pada masingmasing process train serta dari boil-off kompresor 24K.
4.3.4.9 Plant 39 (Nitrogen Generator)
Pada plant ini terdapat dua unit generator yang digunakan untuk mengolah udara
sebagai bahan baku dengan produk nitrogen cair dan gas. Setelah melewati proses
pengolahan, nitrogen cair ditampung di tangki-tangki penampungan sebagai cadangan atau
digunakan untuk memenuhi permintaan kapal-kapal LNG, sedangkan produk nitrogen gas
digunakan untuk kebutuhan operasional kilang LNG. Kapasitas produksi N2 cair : 474
liter/jam. Kapasitas produksi N2 gas : 2200 liter/jam.

4.3.5

Proses pada Utilities

Utilities merupakan sarana penunjang untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk
proses pengolahan gas alam serta penyediaan air dan listrik untuk komunitas yang berada di
komplek PT Badak LNG. Meskipun berperan sebagai penunjang, proses yang terjadi pada
train tidak akan berjalan lancar apabila proses pada utilities mengalami trip. Utilities terbagi
menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya, yaitu on-plot utilities dan off-plot utilities.
3.2.3.1 On-Plot Utilities

Produk yang dihasilkan pada on-plot utilities merupakan produk yang dapat menunjang
dan menyediakan kebutuhan yang diperlukan oleh proses pada train. Produk tersebut diolah
pada beberapa plant.

3.2.3.1.1 Plant 29 (Nitrogen Plant)

Udara dari plant 35 yang telah dibersihkan dari H2O dan CO2 dialirkan ke dalam coldbox
dengan menggunakan cara destilasi dan bertemperatur rendah (-160oC), sehingga udara dapat
dipisahkan menjadi N2 dan O2. Gas nitrogen dialirkan menuju sistem distribusi sedangkan
gas oksigen dibuang ke atmosfir. Nitrogen (N2) digunakan sebagai bahan campuran MCR
untuk purging, yaitu pembebasan gas yang mudah terbakar / menghambat proses, dan dipakai
sebagai blanketing pada operasi.
3.2.3.1.2 Plant 31 (Penyediaan Steam dan Listrik)

Pada plant ini terdapat 15 boiler untuk pembuatan steam dari seluruh train, dan terdapat
13 unit turbin uap/ generator dengan kapasitas 12,5 MW, 1 turbin gas/ generator dengan
kapasitas 12,5 MW serta 1 Diesel/ Generator dengan kapasitas 5 MW untuk memenuhi
kebutuhan listrik.

3.2.3.1.3 Plant 35 (Penyediaan Udara Bertekanan)

Proses yang dilakukan pada plant ini digunakan untuk keperluan instrumentasi di pabrik
dan keperluan lainnya. Peralatan yang digunakan pada plant ini terdiri dari 4 unit kompresor
sentrifugal dengan tenaga listrik 900 HP dan masing-masing mempunyai kapasitas 500
SCFD, dan 1 unit kompresor torak dengan tenaga diesel sebagai penggerak 150 HP dan
mempunyai kapasitas 500 SCFD. Pada operasi normal, diperlukan 2 unit kompresor dengan
tekanan udara + 9.1 Kg/cm2 untuk menghasilkan udara bertekanan yang kemudian
digunakan sebagai pembersih bengkel dan tempat lainnya, angin instrumentasi, dan bahan
baku untuk pembuatan nitrogen.
3.2.3.2 Off-Plot Utilities

Off-Plot utilities terdiri dari beberapa plant yang memfasilitasi keperluan-keperluan yang
tidak berhubungan langsung dengan pabrik.

3.2.3.2.1 Plant 32 (Cooling Water Plant)

Pada plant ini terdapat proses penyediaan air laut untuk pendinginan pada proses
pembuatan LNG. Peralatan utama di Plant 32 adalah 22 buah pompa air laut. Air laut tersebut

dibersihkan oleh sodium hypochlorite untuk mengurangi kandungan chlorin hingga


maksimum 1 ppm untuk kemudian didistribusi ke dalam proses train.
3.2.3.2.2 Plant 33 (Fire Water System)

Plant ini menyediakan air yang diperlukan untuk pemadam kebakaran (air tawar dan air
laut) dengan menggunakan beberapa pompa untuk keperluan tersebut. Sistem perpipaan yang
dilakukan pun dijaga tekanannya secara kontinu sekitar 12 kg/cm2 dengan menggunakan
Jocky Pump sehingga siap dipakai jika diperlukan.
3.2.3.2.3

Plant 36 (Water Treating Plant)

Proses yang terjadi pada plant ini dilakukan untuk menyediakan air yang sudah diolah
untuk keperluan pembuatan steam (uap air) serta make-up air untuk penambahan kebutuhan
pembuatan steam. Sebagian besar air yang dibuat steam berasal dari steam condensate dari
proses ataupun turbin-turbin.
3.2.3.2.4 Plant 34 (Sewer and Sewage Plant)

Pada plant ini terjadi proses pengolahan air limbah untuk dinetralkan sebelum air
tersebut dibuang ke laut.
3.2.3.2.5 Plant 48/ 49 (Water Treating Plant)

Pada plant ini terjadi proses pengolahan air dari sumur untuk dipakai keperluan di pabrik
ataupun community.