Anda di halaman 1dari 31

JUDUL

TUJUAN

: PENGAMATAN MENCIT DENGAN PERLAKUAN 0.6ml


: Untuk mengetahui pengaruh pemberian serum terhadap mencit.
TINJAUAN TEORITIS

Mencit
Mencit digunakan sebagai hewan model hidup dalam berbagai kegiatan
penelitan terutama yang akan diterapkan pada manusia. Hewan ini mudah didapat,
mudah dikembangbiakkan dan harganya relatip murah, ukurannya kecil sehingga
mudah ditangani, jumlah anak perperanakannya banyak. Mencit liar bersifat
omnivorus yaitu pemakan segala macam makanan. Makanan yang diberikan di
laboratorium berupa pelet yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, air vitamin
dan mineral.
(http://iqbalali.com/2008/03/06/mencit/)
Imunitas
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang
melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan
membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh
biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus
sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan
mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti
biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar
dapat menginfeksi organisme.
Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga
berkurang, membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit
defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya,
menyebabkan munculnya infeksi.
(http://iqbalali.com/2008/03/06/sedikit-tentang-imunitas/)
Antibody
Antibodi adalah zat yang dibuat oleh tubuh sistem kekebalan sebagai respon
terhadap bakteri, virus, jamur, bulu binatang, atau kanker sel. Antibodi melekat pada
benda asing sehingga sistem kekebalan tubuh dapat menghancurkan mereka.

Antibodi spesifik untuk tiap jenis zat asing. Sebagai contoh, antibodi dibuat
sebagai tanggapan terhadap tuberkulosis infeksi melampirkan hanya untuk
tuberkulosis bakteri. Antibodi juga bekerja dalam reaksi alergi. Kadang-kadang,
antibodi dapat dilakukan terhadap jaringan Anda sendiri. Ini disebut penyakit
autoimun .
Jika sistem kekebalan tubuh membuat rendahnya tingkat antibodi, Anda
mungkin memiliki kesempatan lebih tinggi infeksi berulang berkembang. Anda bisa
dilahirkan dengan sistem kekebalan yang membuat rendahnya tingkat antibodi, atau
sistem Anda mungkin akan membuat rendahnya tingkat antibodi sebagai respon
terhadap penyakit tertentu, seperti kanker.
Lima jenis utama antibodi adalah:

Antibodi IgA ditemukan di bagian tubuh seperti hidung, pernapasan bagian,


saluran pencernaan, telinga , mata , dan vagina . Antibodi IgA melindungi
permukaan tubuh yang rentan terhadap zat asing di luar. Jenis antibodi ini juga
ditemukan dalam air liur, air mata, dan darah antibodi. Sekitar 10% sampai
15% dari antibodi ini dalam tubuh adalah IgA.

Antibody IgG. ditemukan di semua cairan tubuh. Mereka adalah antibodi yang
paling umum tetapi terkecil (75% sampai 80%) dari semua antibodi dalam
tubuh. Antibodi IgG sangat penting dalam memerangi infeksi bakteri dan
virus.

Antibodi IgM adalah antibodi terbesar. Mereka ditemukan dalam darah dan
cairan getah bening dan merupakan jenis pertama dari antibodi yang dibuat
sebagai respons terhadap infeksi. Mereka juga menyebabkan sistem kekebalan
sel lainnya untuk menghancurkan zat asing. Antibodi IgM adalah sekitar 5%
sampai 10% dari semua antibodi dalam tubuh.

Antibody IgE. Antibodi IgE ditemukan di paru-paru , kulit , dan selaput lendir.

Antibodi IgD ditemukan dalam jumlah kecil di jaringan yang garis di perut
atau dada.

(http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=immunoglobulin&aq=f&aqi=g1
0&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=c28077b057c07d3)

Serum
Serum secara definisi adalah suatu cairan tubuh yang mengandung sistem
kekebalan terhadap suatu kuman yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh seseorang,
maka orang tersebut akan mempunyai kekebalan terhadap kuman yang sama
(imunitas pasif red). Fungsi utama serum adalah mengobati suatu penyakit yang
diakibatkan oleh kuman.
(http://biohealth.wordpress.com/2008/09/01/jenis-serum/)
Antigen
Antigen adalah sebuah molekul diakui oleh sistem kekebalan tubuh . Awalnya
istilah itu berasal dari tubuh gen erator anti dan merupakan molekul yang mengikat
secara khusus untuk suatu antibodi , tetapi istilah ini sekarang juga mengacu pada
molekul atau fragmen molekul yang dapat terikat dengan suatu kompleks
histokompatibilitas utama (MHC) dan disajikan ke T-sel reseptor. Autoimmune
gangguan timbul dari sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap antigen sendiri.
Demikian pula, immunogen adalah tipe spesifik antigen. Sebuah immunogen
didefinisikan sebagai zat yang mampu merangsang respon imun adaptif jika
disuntikkan pada sendiri . Dengan kata lain, suatu immunogen mampu menginduksi
respon kekebalan, sedangkan antigen yang mampu menggabungkan dengan produk
respon imun setelah mereka dibuat. Konsep tumpang tindih imunogenisitas dan
antigenicity dengan demikian agak berbeda.
Imunogenisitas adalah kemampuan untuk membujuk humoral dan / atau
respon imun diperantarai sel. Antigenicity adalah kemampuan untuk menggabungkan
secara khusus dengan produk akhir respon kekebalan (antibodi yaitu dikeluarkan
dan / atau reseptor permukaan pada T-sel).
(http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Antigen&ei=NuEBTMevLMW2rAehyM
jzDg&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=2&ved=0CCUQ7gEwAQ&prev=/sea
rch%3Fq%3DANTIGEN%26hl%3Did%26sa%3DG%26prmd%3Di)

Komplemen
Komponen ini melengkapi aktivitas antibodi sebagai antibakteri, sebagi
efektor dalam respon anibodi, sistem ini juga dapat diaktivasi lebih awal pada saat
infeksi dalam keadaa belum ada antibodi.
Karakteristika Sistem Komplemen :
Komplemen adalah nama yang diberikan terhadap suatu seri protein(plasma)
yang terdiri dari 21 protein
Mekanisme kerja sistem ini seperti proses pembekuan darah yang membentuk
suatu sistem enzim yang terstimulasi dalam plasma yang kebanyakannya
adalah proteinase-proteinase.
Ciri spesifik sistem ini : menghasilkan suatu respon yang cepat dan bertingkat
terhadap suatu stimulus yang dapat berupa kompleks imun
Protein plasma yang diberi simbol C diikuti dengan angka, menunjukkan
nomor penemuan komplemen tersebut, bukan suatu nomor urutan reaksi
Protein komplemen utama yaitu : C1 (q,r,s), C2, C3, C4 ,dst hingga C9,
faktor B, faktor D, faktor H, properdin,dll.
Pada setiap tahap aktivasi selalu dihasilkan suatu aktivitas enzim baru yang
juga komponen komplemen
Produk reaksi pertama berlaku sebagai katalis enzimatiik yang mengaktifkan
komponen-komponen selanjutnya, demikian seterusnya hingga dihasilkan
suatu respon bertingkat yang menyerupai cascade. Fragmen enzim diberi
nama a dan b misalnya C2a dan C2b.
Pusat katalitik sistem ini berada pada C3
Akhir dari aktivitas komplemen adalah : terbentuknya suatu pori fungsional
pada membran sel di mana komplemen tersebut melekat, kemudian terjadi

perubahan konformasi fosfolipid sel yang menyebabkan lisis dan berakhir


dengan kematian sel. Hal ini disebut MAC (membrane attack complex).
Sistem Komplemen terdiri dari tiga jalur yaitu :
Jalur Klasik. Jalur ini diawali dengan stimulasi dari kompleks antigen-antibodi yang
kemudian mengaktivasi C1q, C1r, C1s, ketiga komponen ini menghasilkan komponen
enzimatik yang menstimulasi C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang
menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan komponen enzimatik dan
menstimulasi C3 Convertase (pusat katalitik sistem komplemen).
Jalur Alternatif. Jalur ini diawali oleh stimulasi dari permukaan patogen yang
mengandung LPS (Lipopolisakarida) yang kemudian langsung menstimulasi C3, C3
menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi faktor B, faktor B
menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi fakator D, faktor D kemudian
menghasilkan komponen enzimatik yang akhirnya mensimulasi C3 convertase.
Setelah Ketiga jalur tersebut mengaktivasi C3 Convertase, C3 convertase ini
kemudian menghasilkan C3a, C5a dan C3b. C3a, C5a kemudian menstimulasi peptida
mediator untuk inflamasi dan menstimulasi rekrutmen sel fagositik. C3b kemudian
berikatan dengan reseptor komplemen pada sel fagositik dan kemudian menstimulasi
opsonisasi dan penghilangan kompleks imun. Selain itu, C3b juga menstimulasi
komponen terminal komplemen yang kemudian terjadi reaksi cascade : menstimulasi
C5b, C6,C7,C8,C9 dan akhirnya membentuk Membran attack complex dan
menyebabkan lisis pada patogen.
(http://biohealth.wordpress.com/2008/09/01/komplemen/)
Interleukin
Interleukin adalah kelompok sitokin (disekresi protein / molekul sinyal ) yang
pertama kali terlihat diekspresikan oleh sel-sel darah putih ( leukosit ). Fungsi dari
sistem kekebalan tergantung di bagian besar di interleukin, dan jarang kekurangan
beberapa diantaranya telah dijelaskan, semuanya lengkap penyakit autoimun atau
defisiensi imun . Mayoritas interleukin disintesis oleh helper CD4 + limfosit T,

maupun melalui monosit, makrofag, dan sel endotel. Mereka mempromosikan


pengembangan dan diferensiasi T, B, dan sel-sel hematopoietik.
(http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Interleukin&ei=zRALTIi9Gsq_rAe1z7i
mDQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CCAQ7gEwAA&prev=/sea
rch%3Fq%3Dinterleukin%26hl%3Did%26sa%3DX)

ALAT DAN BAHAN


ALAT
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

NAMA ALAT
PISAU
EMBER
SUNTIK
TABUNG REAKSI
CENTRIFUSE
OBJEK GLASS
MIKROSKOP
KULKAS
KANDANG
BOTOL MINUM
TIMBANGAN
MANGKOK

JUMLAH
1 buah
1 buah
2 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

BAHAN
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

NAMA BAHAN
MENCIT
AYAM EROPA
METILEN BLUE
DEDAK
PELET
JAGUNG
AIR
CLOROFORM
KAPAS

JUMLAH
6 ekor
1 ekor
2 tetes
1 kantong plastik/ secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya

PROSEDUR KERJA
1. Aklimatisasi

Menyediakan bahan bahan dan alat yang diperlukan seperti mencit, dedak,
kandang beserta tempat minum dan makannya, pelet, jagung, air.

Menaruh dedak di dasar bawah kandang sebagai alas agar mencit merasa
nyaman dan juga sebagai penyerap dari kotorannya supaya kandang tidak
basah.

Menyediakan makanannya lalu menaruhnya di kandang

Meletakkan mencit ke dalam kandang, lalu menaruhnya di ruangan yang telah


ditentukan, ruangan yang tidak sering dimasuki oleh orang agar mencit tidak
mudah stress.

Memberi makan dan minum mencit setiap 1 x sehari.

Mengaklimatisasinya selama 2 minggu.

2. Pengamatan

Membius 1 ekor mencit dengan cloroform sampai mencit pingsan.

Menimbang berat awal mencit.

Memotong ujung ekor mencit untuk mengambil darahnya lalu menaruhnya di


objek glass kemudian meratakannya.

Meneteskan metilen blue pada permukaan darah tadi lalu meratakannya agar
kelihatan bentuk sel sel darahnya.

Mencucinya agar darah bebas dari sisa metilen blue yang tidak terserap.

Mengamatinya dibawah mikroskop untuk melihat jumlah sel darah awal


mencit tadi.

Lalu membedah mencit tadi untuk mengambil limpanya dan menghitung berat
limpa mencit tersebut.

3. Pembuatan Serum

Menyediakan bahan dan alat yang diperlukan seperti ayam, pisau , suntik,
ember, centrifuse, tabung reaksi.

Memotong ayam di atas ember agar darahnya tidak terciprat, lalu mengambil
darahnya sebanyak banyaknya dan menaruhnya di tabung reaksi.

Memasukkan tabung reaksi ke dalam alat cenrifuse, lalu mencentrifusenya


selama 7 menit dengan 3600 Rpm.

Setelah itu mengambil cairan bening yang terpisah dari darah ayam yang
berada pada tabung reaksi tadi.

Menaruh cairan bening tadi ke dalam suntik sehingga berjumlah 4 cc. Bila
belum memenuhi lalu mencentrifusenya lagi seperti yang diatas.

Menaruh suntik yang telah berisi srum ke dalam kulkas.

4. Pemberian Serum

Memasukkan serum sebanyak 0,6 pada stiap ekor, sisa dari serum di simpan
kembali untuk keperluan aglutinasi nanti. Memasukkannya secara oral dengan
meminumkannya.

Setelah pemberian tersebut menaruh mencit kembali ke dalam kandang.

5. Perlakuan Pertama

Membius 1 ekor mencit dengan menggunakan clorofom sampai pingsan.

Memotong ujung ekor mencit dan mengambil darah mencit tersebut dan
menaruhnya di objek glass.

Dengan perbesaran 10 x 10, menghitung jumlah leukosit mencit dengan


menggunakan mikroskop.

Lalu mengembalikan mencit tersebut kembali ke kandang.

Pada hari jumat mencit yang telah dipotong ekornya kemudian mengamatinya, lalu :

Membius mencit tersebut kembali

Menimbang berat mencit

Membedah mencit lalu mengambil limpanya kemudian menimbang berat


limpa tersebut .

Memotong kembali ekor mencit untuk mengambil darahnya lalu mengamati


dan menghitung jumlah leukosit mencit.

6. Perlakuan Kedua

Membius 1 ekor mencit dengan cloroform

Menimbang berat mencit tersebut

Memotong ujung ekor mencit dan mengambil darah menaruhnya pada objek
glass untuk mengamati jumlah leukosit mencit dengan menggunakan
mikroskop.

Membedah mencit dan mengambil limpa mencit tersebut dan menimbang


berat limpa mencit.

Aglutinasi

Mengambil lagi darah mencit yang sama dari ujung ekor dan menaruhnya
pada objek glass.

Meneteskan serum yang masih disimpan, pada darah lalu mengaduk agar
serum dan darah menyatu.

Mengamatinya , bila darah tidak menggumpal, menyatu dan tidak dapat


dibedakan mana cairan serum berarti tidak mengalami aglutinasi. Sedangkan
pada kelompok ini terjadi aglutinasi dimana darah menggumpal dan dapat
dibedakan mana darah dan serum.

Berarti pada mencit terbentuk antibodi.

7. Perlakuan Ketiga

Membius 1 ekor mencit dengan menngunakan cloroform

Menimbang berat mencit yang telah dibius tadi

Memotong ujung ekor mencit dan mengambil darahnya lalu mengamati dan
menghitung jumlah leukosit mencit tersebut, dengan menggunakan mikroskop.

Membedah mencit dan mengambil limpa mencit tersebut. Lalu menimbang


berat mencit tersebut.

Aglutinasi

Mengambil lagi darah mencit yang sama dari ujung ekor dan menaruhnya
pada objek glass.

Meneteskan serum yang masih disimpan, pada darah lalu mengaduk agar
serum dan darah menyatu.

Mengamatinya , bila darah tidak menggumpal, menyatu dan tidak dapat


dibedakan mana cairan serum berarti tidak mengalami aglutinasi. Sedangkan
pada kelompok ini terjadi aglutinasi dimana darah menggumpal dan dapat
dibedakan mana darah dan serum.

Berarti pada mencit terbentuk antibodi.

8. Perlakuan Keempat

Membius 1 ekor mencit dengan menngunakan cloroform

Menimbang berat mencit yang telah dibius tadi

Memotong ujung ekor mencit dan mengambil darahnya lalu mengamati dan
menghitung jumlah leukosit mencit tersebut, dengan menggunakan mikroskop.

Membedah mencit dan mengambil limpa mencit tersebut. Lalu menimbang


berat mencit tersebut.

Aglutinasi

Mengambil lagi darah mencit yang sama dari ujung ekor dan menaruhnya
pada objek glass.

Meneteskan serum yang masih disimpan, pada darah lalu mengaduk agar
serum dan darah menyatu.

Mengamatinya , bila darah tidak menggumpal, menyatu dan tidak dapat


dibedakan mana cairan serum berarti tidak mengalami aglutinasi. Sedangkan
pada kelompok ini terjadi aglutinasi dimana darah menggumpal dan dapat
dibedakan mana darah dan serum.

Berarti pada mencit terbentuk antibodi

HASIL PEMBAHASAN
Kami melakukan pengamatan mencit selama 7 minggu. Jumlah mencit yang
diamati adalah 6 ekor di mana yang 1 ekor (mencit 1) belum diberi perlakuan. Proses
aklimatisasi dilakukan terlebih dahulu selama 2 minggu di kandang biologi UNIMED
(dekat laboratorium kimia).
Setelah melakukan pengamatan, kami memperoleh data seperti tabel berikut :
Tabel Hasil Pengamatan Mencit :

Mencit/Hari
Mencit 1 /
Hari ke-3
Mencit 2 /
Hari ke-7
Mencit 2
Hari ke-9

Berat

Berat

Jumlah

Perlakuan

Awal

Limpa

Leukosit

(0,6 ml)

20,6 gr

0,1 gr

60

92

14,4 gr

0,1 gr

102

Aglutinasi

Menggump

Mencit 3 /
Hari ke-14

20,9 gr

0,2 gr

115

al
(Terbentuk
Antibodi)
Menggump

Mencit 4 /
Hari ke-21
Mencit 5 /
Hari ke-28

23 gr

0,1 gr

63

23,6 gr

0,3 gr

76

al
(Terbentuk
Antibodi)
Menggump
al
(Terbentuk

Antibodi)

PERHITUNGAN
Berat standar limpa =

berat lim pa
100%
bobottubuh

Mencit 1
0,1

Berat standar limpa = 20,6 100% = 0,5 %


Mencit 2
0,1

Berat standar limpa = 14,4 100% = 0,7 %


Mencit 3
0,2

Berat standar limpa = 20,9 100% = 0, 9%


Mencit 4
Berat standar limpa =

0,1
100% = 0,4 %
23

Mencit 5
0,3

Berat standar limpa = 23,6 100% = 1,3 %


KETERANGAN
Mencit 1
Kami mengamatinya pada hari ke-3 setelah diaklimatisasi selama 2 minggu.
Di sini belum ada perlakuan, yang diamati hanya berat awal (20,6 gr), berat limpa (0,1
gr), dan jumlah leukosit (60). Pengamatan aglutinasi belum dilakukan. Sedangkan
persen berat standar limpanya sekitar 0,5 %.
Mencit 2

Kami mengamatinya pada hari ke-7. Di sini dilakukan hanya pengamatan


jumlah leukosit (92).
Mencit 2
Kami mengamatinya pada hari jumat. Melakukan pengamatan berat awal
(14,4 gr), berat limpa(0,1 gr), dan jumlah leukosit (102). Di sisni kami juga telah
melakukan pemberian serum. Melakukan pengamatan aglutinasi dan hasilnya tidak
ada penggumpalan, berarti tidak terbentuk antibodi. Tetapi perlakuan ini dilakukan
tetap pada mencit ke dua. Sedangkan persen berat standar limpanya sekitar 0,7 %.
Mencit 3
Kami mengamatinya pada hari ke-14. Melakukan pengamatan berat awal(20.9
gr), berat limpa (0,2 gr), dan jumlah leukosit (115). Telah melakukan pemberian
serum. Hasil pengamatan aglutinasi ada penggumpalan, berarti terbentuk antibodi.
Sedangkan persen berat standar limpanya sekitar 0,9 %.
Mencit 4
Kami mengamatinya pada hari ke-21. Melakukan pengamatan berat awal(23
gr), berat limpa (0,1 gr), dan jumlah leukosit (63). Telah melakukan pemberian serum.
Hasil pengamatan aglutinasi ada penggumpalan, berarti terbentuk antibodi.
Sedangkan persen berat standar limpanya sekitar 0,4 %.
Mencit 5
Kami mengamatinya pada hari ke-28. Melakukan pengamatan berat awal(23,6
gr), berat limpa (0,3 gr), dan jumlah leukosit (76). Telah melakukan pemberian serum.
Hasil pengamatan aglutinasi ada penggumpalan, berarti terbentuk antibodi.
Sedangkan persen berat standar limpanya sekitar 1,3 %.

Tabel Hasil Pengamatan Mencit Control

Mencit/Hari
Mencit 1 /
Hari ke-3
Mencit 2 /
Hari ke-7
Mencit 3 /
Hari ke-14
Mencit 4 /
Hari ke-21
Mencit 5 /
Hari ke-28

Berat

Berat

Jumlah

Awal

Limpa

Leukosit

24,3 gr

0,1 gr

28,2 gr

Control

Aglutinasi

32

0,2 gr

49

25,3 gr

0,3 gr

42

24,2 gr

0,1 gr

34

32 gr

0,4 gr

48

Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada kelompok control dapat dilihat
bahwa berat limfa dari mencit pertama sampai mencit ke lima memiliki berat limfa
yang semakin besar. Begitu juga dengan berat tubuh mencit dan jumlah leukositnya
yang semakin lama semakin meningkat. Sedangkan pada kelompok kami yang
memiliki perlakuan 0,6 ml memiliki berat limfa yang relatif tetap yaitu 0,1 ini
kemungkinan dipengaruhi oleh adanya pemberian serum pada tubuh mencit.
Pada jumlah leukosit kelompok kami tidak teratur kadang naik dan kadang
turun, begitu juga dengan berat badannya tidak teratur. Sedangkan pada kelompok
control memang terjadi naik turun juga tetapi tidak begitu menonjol.

Jalur Masuknya Antigen


Serum atau antigen yang masuk lewat oral dengan spet/diminumkan.
Kemudian antigen tadi akan masuk melalui saluran pencernaan mencit yang dimulai
dari mulut, esophagus, ventrikulus, intestinum dimana tempat khususnya yaitu
duodenum.

Gambar: Fotomikrograf duodenum menampakkan villi


dan kelenjar duodenalis dalam submukosa

Gambar: Struktur skematis sebagian saluran cerna


dengan berbagai unsure dan fungsinya

Tunika mukosa usus halus terdiri atas :


1. Plika sirkularis Kerckring yaitu lipatan yang berjalan sirkular atau spiral yang
dapat melingkari lumen usus. Plika ini dibentuk oleh lapisan mukosa dan
submukosa.
2. Vilus intestinalis yaitu tonjolan kecil mirip jari atau daun pada membran
mukosa. Tiap vilus terdiri atas epitel dan lamina propria. Lapisan ini
mengandung pembuluh darah, limfatik dan jaringan ikat.
3. Kriptus Lieberkuhn yaitu kelenjar kelenjar yang terdapat pada usus halus
yang merupakan bangunan berbentuk tabung dan bermuara di dasar vili usus.

Gambar: Mikrograf usus kecil


Lamina propia terdapat diantara kelenjar intestinal dan ditengah vilus,
mengandung serat-serat retikulin dan sel-sel retikulir primitif dengan inti besar,
lonjong dan pucat, limfosit, makrofag dan sel plasma. Lamina propia juga
mengandung serat otot polos tipis, pembuluh limfe dan pembuluh darah. Selain
limfosit yang tersebar, di dalam lamina propia juga terdapat sejumlah folikel limfoid
atau noduli limfatisi yang menyendiri. Folikel ini terutama terdapat dalam jumlah
banyak pada ileum. Massa limfoid ini disebut plaque Peyeri atau noduli agregatii.
Jaringan limfoid yang terdapat di dalam usus (GALT= Gut Association Lymphoid
Tissue) mengandung limfosit T dan B. Sel B menjadi matang dan diperbanyak dalam
limfonoduli dan plaque Peyeri. Banyak pula yang menjadi sel plasma penghasil
antibodi terutama imunoglobulin A (IgA). Immunoglobulin itu menuju ke sel epitel

lalu berikatan dengan komponen sekretoris glikoprotein untuk kemudian dilepaskan


kedalam lumen usus, sehingga dapat bergabung dengan antigen, mikroorganisma, dan
toksin sebagai mekanisme pertahanan.
Antibody yang terdapat pada duodenum tadi adalah IgA. IgA ini tidak dapat
mengikat antigen sehingga antigen masih masuk dan lolos kedalam sel epitel. Karena
IgA ini tidak dapat berikatan dengan makrofag atau Fc reseptor. Dan terbentuknya
antibody di dalam tubuh kira-kira setelah 7 hari yang mengakibatkan timbulnya
respon immun (tanggap kebal) primer yang ditandai dengan munculnya IgM. Saat
antara pemaran antigen dan munculnya IgM disebut lag phase.

Gambar: Sel epitel mencit


Proses Pembentukan Immunitas
1. Langkah Pengenalan (Recognition)
Limfosit B dapat mengenali antigen tanpa bantuan sel lain, akan tetapi
Limfosit T akan menanggapi antigen apabila disajikan oleh sel penyaji antigen. Sel
yang dapat menyajikan antigen tersebut antara lain adalah:
1. Makrofag.
2. Sel dendritik (Dendritic Cell) yang terdapat dalam jaringan lymfoid.
3. Sel limfosit B.

4. Sel Langerhans dikulit dan lain-lain.


Limfosit T hanya akan menanggapi antigen apabila disajikan oleh sel penyaji
karena sel T hanya akan mengenali imunogen yang terikat pada protein Major
Histocompatibility Complex (MHC) yang ada pada permukaan sel-sel penyaji. Ada
dua kelas yang berbeda untuk protein MHC, yang masing-masing akan dikenali oleh 2
subset limfosit T. MHC kelas I akan diekspresikan oleh seluruh sel-sel tubuh dan
digunakan untuk menyajikan substansi-substansi ke sel T CD8+ yang bersifat
sitotoksik. Jadi semua sel tubuh dapat mempresentasikan antigen kepada sel T
sitotoksik dan menyajikannya sebagai target respon sitotoksik.
MHC kelas II hanya diekspresikan oleh makrofag dan beberapa tipe sel lain
dan mempresentasikan antigen kepada sel T CD4+, yang berfungsi sebagai sel helper.
Karena aktivasi sel helper dibutuhkan untuk keseluruhan respon imun, maka APC
yang memiliki MHC Kelas II merupakan poros dalam pengaturan respon ini. Untuk
selanjutnya istilah APC biasanya dipakai untuk menyatakan sel-sel khusus yang
memiliki protein MHC II.
Imunogen eksogen dapat ditangkap melalui bermacam-macam cara. Makrofag
adalah salah satu sel APC yang memiliki sifat sangat fago sit sehingga selalu siap
menangkap bagianbagian imunogen. Sel-sel APC lain memiliki kemampuan fagosit
kecil dan cenderung melakukan endositosis dengan perantara reseptor atau
pinositosis. Suatu cara yang juga dilakukan sangat efektif oleh makrofag.
Makrofag akan memasukkan protein asing ekstrasel dengan cara endositosis
protein tersebut ke endosome. Kemudian terjadi proses proteolitik protein asing
tersebut pada lingkungan asam endosom atau lisosom sehingga terbentuk fragmenfragmen peptida asing. Sementara itu di retikulum endoplasma terjadi sintesis molekul
MHC II. MHC II yang terikat dalam vesikel eksositik akan berikatan dengan fragmen
peptida asing yang telah diproses oleh endosome di vesikel endositik khusus. Ikatan
fragmen Peptida asing dengan MHC II akan diekspresikan ke permukaan sel sebagai
kompleks peptida antigen asing Molekul MHC II. Kompleks peptida antigen asing
Molekul MHC II inilah yang akan dikenali oleh sel T CD4+. Sel T CD4+ akan
mengenali kompleks tersebut apabila peptidanya asing dan MHCnya milik sendiri.

2. Langkah Aktivasi
Setelah pengenalan terhadap antigen terjadilah respon biologi sel T. Sel T akan
berikatan dengan kompleks fragmen peptida asing-self MHC. Setelah berikatan maka
dimulailah langkah berikutnya yaitu langkah aktivasi. Untuk memulai langkah
aktivasi ini dibutuhkan signal pertama yaitu ikatan antara antigen dengan antigen
reseptor dan signal kedua yaitu aktivasi sel T oleh molekul-molekul kostimulator.
Salah satu yang terpenting dan merupakan jalur khusus untuk aktivasi sel T yaitu
melibatkan molekul permukaan CD28 yang akan berikatan dengan molekul
kostimulator B7-1 (CD80) dan B7-2 (CD86) yang diekspresikan oleh sel APC. CD28
mengirimkan sinyal yang meningkatkan respon sel T terhadap antigen. Molekul
permukaan sel T yang lain yaitu CTLA-4 juga berikatan dengan B7-1 dan B7-2 tetapi
berlawanan dengan CD28, molekul ini mengirimkan sinyal yang menghambat sel T.
CD28 diekspresikan pada 80% sel T CD4+ manusia dan 50% oleh sel T CD8+ dan
jumlah CD28 yang diekspresikan akan meningkat setelah stimulasi sel T.132 Lain
halnya dengan CTLA-4 yang tak dapat ditemukan pada resting T Cells, tetapi
ekspresinya diinduksi setelah aktivasi sel T dan kadar maksimalnya dicapai dalam 48
jam.
Molekul B7 didapati pada APC profesional, termasuk sel B, sel dendritik dan
mono sit. Pada umumnya tidak didapati pada keadaan sel istirahat tetapi akan
diinduksi oleh beberapa stimuli termasuk reaksi silang membran Ig pada sel B dan
sitokin pada sel B dan mono sit. Pengecualian terjadi pada sel dendritik yang tetap
mengekspresikan banyak B7-2. Ada perbedaan kinetik pada induksi B7-1 dan B7-2.
Pada B7-2 kenetik terjadi setelah 6 jam sementara B7-1 dibutuhkan waktu 24 jam.
CD28 dan CTLA-4 sama-sama berikatan dengan molekul B7 tetapi afinitas ikatan
CTLA-4 lebih kuat bila dibandingkan dengan CD28. Meskipun secara detail belum
jelas tetapi mekanisme CD28/CTLA-4-B7-1/B7-2 mengaktivasi sel T dengan jalurnya
sendiri dan merupakan regulasi yang komplek yang tentu saja berfungsi sebagai saklar
respon imun yang akan dionkan bila diperlukan dan dioffkan bila tidak
dibutuhkan.

Setelah limfosit T teraktivasi kemudian menjadi berfungsi biologis yang


memungkinkan limfosit T mengadakan respons yang bermanfaat terhadap antigen
asing tersebut misalnya mengeluarkan sitogen sehingga menghancurkan sel sasaran
(Target Cell) yang memiliki antigen yang dituju.
Proliferasi limfosit T sebagai jawaban terhadap pengenalan antigen terutama
bekerja melalui jalan pertumbuhan autokrin (Autocrine Growth Pathway). Limfo sit
T mengeluarkan sitokin peningkat pertumbuhan dan menampilkan reseptor pada sel
permukaan bagi sitokin ini. Faktor pertumbuhan autokrin (yang juga berfungsi
sebagai parakrin) bagi limfosit antara lain adalah IL-2, IL-4. Respon proliferasi ini
adalah pembiakan klon dari limfosit T yang spesifik bagi antigen tersebut.
Beberapa sel T ini kemudian berkembang menjadi sel T pengingat antigen
spesifik (Antigen-Specific Memory T Cells). Dengan demikian aktivasi limfo sit
terdiri dari 5 langkah yaitu:
1. Peristiwa penyampaian isyarat awal
2. Aktivasi transkripsi berbagai gen
3. Timbulnya molekul permukaan sel yang baru
4. Sekresi sitokin
5. Induksi aktivitas mitosis
3. Langkah Pelaksanaan Efektor
Fungsi fisiologis respon imun spesifik adalah mengeliminasi antigen. Setelah
langkah-langkah tersebut diatas maka dimulailah langkah pelaksanaan efektor yang
diambil dan dipacu dari sistem imun alamiah dan imunitas spesifik. Langkah
pelaksanaan efektor meliputi:
1. Produksi sitokin oleh limfosit T dan beberapa sel-sel non limfoid yang
merupakan soluble mediator pada imunitas alami dan imunitas spesifik.
2. Kehadiran sel-sel efektor dari imunitas seluler termasuk limfosit T, makrofag
dan sel NK yang ikut serta dalam reaksi inflamasi karena dan fungsinya
sebagai pertahanan pertama terhadap mikroba intraseluler.
3. Bekerjanya sistem komplemen

4. Reaksi khusus yang berhubungan dengan imunitas humoral.

4. Fungsi dan Pertumbuhan Subset Sel T yang Menghasilkan Sitokinin Berbeda


Sel T CD4+ yang telah teraktivasi akan berdiferensiasi tergantung tipe
stimulan terutama adalah sitokin yang dihasilkan pada saat pengenalan antigen.
Sitokin terpenting yang dihasilkan sel Th1 pada fase efektor adalah IFN-g. IFN-g
akan memacu aktivitas pembunuhan mikroba sel-sel fagosit dengan meningkatkan
destruksi intrasel pada mikroba yang difagositosis. Jadi fungsi pokok efektor Th1
adalah adalah sebagai pertahanan infeksi dimana proses fagositosis sangat diperlukan.
Th1 juga mengeluarkan IL-2 yang berfungsi sebagai faktor pertumbuhan autokrin dan
memacu proliferasi dan diferensiasi sel T CD8+. Jadi Th1 berfungsi sebagai pembantu
(helper) untuk pertumbuhan sel limfosit T sitotoksik yang juga meningkatkan
imunitas terhadap mikroba intrasel. Sel-sel Th1 memproduksi LT yang meningkatkan
pengambilan dan aktivasi netrofil.
Karakteristik sitokin yang dihasilkan Th2 adalah IL-4 dan IL-5. Sehingga Th2
adalah mediator untuk reaksi alergi dan pertahanan infeksi terhadap cacing dan
arthropoda. Th2 juga memproduksi sitokin seperti IL-4, IL-13 dan IL-10 yang bersifat
antagonis terhadap IFN-g dan menekan aktivasi makrofag. Jadi Th2 kemungkinan
berfungsi sebagai regulator fisiologis pada respon imun dengan menghambat efek
yang mungkin membahayakan dari respon Th1. Pertumbuhan yang berlebihan dan tak
terkontrol dari Th2 berhubungan dengan berkurangnya imunitas seluler terhadap
infeksi mikroba intraseluler seperti mikobakteria.
Diferensiasi Sel T CD4+ menjadi Th1 dan Th2 tergantung sitokin yang
diproduksi pada saat merespon mikroba yang memacu reaksi imunitas. Beberapa
bakteria intaseluler seperti Listeria dan Mycobakteria dan beberapa parasit seperti
Leishmania menginfeksi makrofag dan makrofag merespon dengan mengeluarkan IL12. Mikroba lain mungkin memacu produksi IL-12 secara tidak langsung. Misalnya
virus dan beberapa parasit memacu sel NK untuk memproduksi IFN-g yang memacu
makrofag mengeluarkan IL- 12. IL- 12 berikatan dengan Sel T CD4+ sehingga
memacu untuk menjadi sel Th1. IL- 12 juga meningkatkan produksi IFN-g dan

aktivitas sitolitik yang dilakukan oleh sel T sitotoksik dan sel NK sehingga memacu
imunitas seluler. IFN-g yang diproduksi Th1 akan menghambat proliferasi sel Th2
sehingga meningkatkan dominasi sel Th1.
Diferensiasi Sel T CD4+ menjadi Th2 dipacu oleh IL-4. Peranan IL-4 untuk
memacu diferensiasi sel T CD4+ menjadi Th2 menimbulkan pertanyaan, darimana
datangnya IL-4 sebelum Th2 dipacu karena sel Th2 adalah sumber utama IL-4.
Ternyata Sel T CD4+ mengeluarkan IL-4 dalam jumlah kecil pada saat aktivasi
inisial. Apabila antigen bersifat persisten dan berada dalam konsentrasi tinggi maka
konsentrasi lokal IL-4 perlahan-lahan akan meningkat. Jika antigen tidak memicu
inflamasi dengan mengeluarkan IL-12 maka hasilnya adalah peningkatan diferensiasi
Sel T ke subset Th2 dan terjadi penumpukan efektor Th2. Jadi respon terhadap parasit
cacing dan alergen lingkungan yang menyebabkan bergeser ke Th2 adalah stimulasi
sel T yang persisten dan berulang-ulang dengan inflamasi yang kecil atau aktivasi
makrofag. Keterangan lain yang diajukan adalah produksi IL-4 oleh tipe sel lain dan
perbedaan struktur antigen atau signal yang melengkapi APC selain sitokin. Faktor
genetik juga mempengaruhi apakah akan bergeser ke Sel Th1 atau Th2.
5. Makrofag Teraktivasi
Proses pengaktivan makrofag bukanlah proses tunggal. Untuk melihat apakah
makrofag teraktivasi maka dilakukan pengukuran tertentu misalnya kemampuan
killing terhadap mikroba. Pengukuran lain misalnya adalah kemampuan killing
terhadap sel tumor. Aktivasi makrofag diakibatkan adanya peningkatan transkripsi
gen-gen. Karena adanya peningkatan ekspresi gen-gen tersebut maka makrofag dapat
melakukan fungsi yang tidak dapat dilakukan oleh sel yang sama dalam keadaan
istirahat. Fungsi tersebut antara lain adalah killing bakteria yang sudah difagositosis.
Sitokin aktivator makrofag yang poten adalah IFN-g. IFN-g bukanlah satu-satunya
sitokin yang mengaktivasi makrofag, tetapi makrofag juga diaktivkan oleh kontak
dengan limfosit T melalui CD 40.
a). Makrofag teraktivasi akan meningkat kemampuan Killing-nya terhadap
mikroorganisme

Killing terhadap bakteria menyangkut proses fagosistosis dan pembentukan


Reactive Oxygen Species (ROS). Sitokin seperti IFN-g akan meningkatkan baik
endositosis maupun fagositosis oleh monosit. Fagositosis terhadap partikel
tertentu dapat ditingkatkan dengan opsonisasi bakteria yaitu dengan melapisi
bakteria dengan molekul IgG atau komplemen. IFN-g menyebabkan ekspresi
reseptor dengan ikatan kuat terhadap bagian Fc dari IgG pada makrofag
meningkat. Setelah bakteria masuk ke dalam sel maka makrofag akan
melakukan pembunuhan dengan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS)
melalui jalur Reactive Oxygen Intermediates (ROI).
Pada perlakuan makrofag mencit yang diberi IFN-g dengan kombinasi LPS,
TNF atau IL-1, sel tersebut akan mengekspresikan NOS dengan sangat tinggi
untuk memproduksi NO. NOS akan berikatan dengan molekul kofaktor
tetrahidrobiopterin. Ikatan NOS dan ko-faktor ini akan mengubah L-arginin
dengan bantuan oksigen untuk membentuk citrulin dan NO. NO ini bersifat
toksik untuk bakteria dan selsel tumor serta dapat menghambat replikasi virus.
Jalur ini diaktivasi oleh IFN-g dan dipicu oleh adanya TNF. Interaksi antara NO
dan ROS sangatlah kompleks.
b). Makrofag teraktivasi akan memacu inflamasi akut dengan mengeluarkan mediatormediator inflamasi
Beberapa mediator seperti Platelet Activating Factor (PAF), prostaglandin dan
leukotrien adalah lipid. Beberapa disintesa oleh makrofag sendiri dan yang
lainnya dihasilkan dari molekul-molekul plasma sebagai tanggapan atas enzym
dan molekul-molekul terkait yang dihasilkan oleh makrofag. Trombin sebagai
protease darah yang terkativasi selama clotting cascade akan menyebabkan
netrofil dan sel endotel mensintesa PAF. Pemberian IFN- g akan meningkatkan
kapasitas biosintesis makrofag untuk membentuk mediator semacan tissue
factor. Akibat mediator-mediator yang dilepaskan maka terjadilah inflamasi
lokal.
c). Makrofag teraktivasi akan meningkat efisiensinya sebagai sel APC

Peningkatan kapasitas presentasi antigen berhubungan dengan ekspresi


molekul MHC kelas II pada permukaaannya. IFN-g diketahui sebagai aktivator
untuk transkripsi gen-gen MHC kelas II. Tetapi di makrofag GranulocyteMacrophage Colony-Stimulating Factor (GM-CSF) juga mempunyai efek
serupa. Fungsi kostimulator juga meningkat pada makrofag yang teraktivasi.
Pada keadaan teraktivasi, makrofag akan mengekspresikan molekul-molekul
keluarga B7 dan meningkatkan kadar ICAM-1 dan LFA-3. Pada akhirnya
makrofag teraktivasi menghasilkan sitokin seperti IL-12 atau IFN-g yang
memacu diferensiasi limfosit. Apabila proses inflamasi dan aktivasi makrofag
gagal mengeradikasi mikroba maka produk-produk makrofag teraktivasi akan
memodifikasi lingkungan jaringan lokal, selanjutnya dimulailah penghancuran
jaringan lokal (misalnya pada reaksi DTH) dan digantikan jaringan ikat lain.
d). Makrofag teraktivasi akan membunuh sel-sel tumor
Meskipun makrofag teraktivasi biasanya dihubungkan dengan mekanisme
efektor pada pertahanan terhadap organisme infeksius tetapi dari pengamatan
didapatkan bukti bahwa makrofag teraktivasi akan membunuh sel-sel ganas.
Efek

antitumor

makrofag

ini

berhubungan

dengan

kemampuannya

menghasilkan TNF yang menyebabkan kematian sel-sel tumor. Mekanisme


antitumor kedua yang terjadi pada mencit adalah kemampuannya dalam
menghasilkan NO yang akan membunuh sel-sel tumor.
Sel Dalam Sistem Immun

Pembesaran Limpa
Jika limpa membesar (splenomegali), kemampuannya untuk menangkap dan
menyimpan sel-sel darah akan meningkat. Splenomegali dapat menyebabkan
berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit dalam sirkulasi.
Jika limpa yang membesar menangkap sejumlah besar sel darah yang
abnormal, sel-sel ini akan menyumbat limpa dan mengganggu fungsinya.
Proses ini menyebabkan suatu lingkaran setan, yaitu semakin banyak sel yang
terperangkap dalam limpa, maka limpa akan semakin membesar; semakin membesar
limpa, maka akan semakin banyak sel yang terperangkap.

Gambar: Aliran limfa di tengah


Interaksi Antigen Dan Antibody

Gambar. Jalur Perkembangan Limfosit


Pada gambar dapat dilihat jalur perkembangan limfosit. Antibodi diproduksi
oleh Limfosit B. Limfosit B memerlukan bantuan dari anak perangkat limfosit T agar
dapat bereaksi terhadap antigen-antigen tertentu. Antibodi merupakan suatu zat kimia
(protein plasma) yang dapat mengidentifikasi antigen. Ketika sel limfosit B
mengidentifikasi antigen, dengan cepat sel akan bereplikasi untuk menghasilkan
sejumlah besar sel plasma. Sel plasma lalu menghasilkan antibodi dan melepaskan ke
dalam cairan tubuh. Antibodi memiliki struktur seperti huruf Y dengan dua lengan dan
satu kaki. Struktur tiga dimensi suatu molekul antibodi dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:

Jaringan Ikat Longgar


Jaringan ikat berasal dari mesoderem dimana jaringan ini dapat membentuk
jaringan ikat embrionl dan jaringan lemak. Jaringan ikat tersusun oleh bermacammacam sel ( sel yang sifatnya tetap atau pun sel yang sifatnya sementara ). sel itu
antara lain sel mesenkim, sel retikuler, sel fibroblast, sel fibrosit, sel makrofag, sel
perisit, sel mast, sel plasma ( substansi ini berupa mukopolisakarida ).
Jaringan ikat komponen penyusunnya adalah sel jaringan ikat, matrik, dan
serabut jaringan ikat. Fungsi jaringan ikat:
- Penunjang, pengikat dan proteksi serta menghubungkan satu jaringan dengan
jaringan lain.

- Komunikasi antar sel.


- Melindungi jaringan atau organ tubuh.
- Pengatur suhu tubuh.
- Membungkus organ.
- Mengisi ronga diantara organ.
- Mengangkut zat oksigen dan makanan ke jaringan lain.
- Mengangkut sisa-sisa metabolism ke alat pengeluaran.
- Menghasilkan kekebalan.
Cara Kerja Pembuluh Limfatik
Sistem limfatik ini terdiri atas pembuluh limfa-tik yang terdifusi di seluruh
tubuh, nodus limfa yang terdapat di beberapa tempat tertentu pada pembuluh limfatik,
limfosit yang diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli di sepanjang pembuluh
limfatik, serta cairan getah bening tempat limfosit berenang di dalamnya, yang
bersirkulasi dalam pembuluh limfatik.
Cara kerja sistem limfatik ini adalah sebagai berikut: Cairan getah bening
dalam pembuluh limfatik menyebar di seluruh tubuh dan berkontak dengan jaringan
yang berada di sekitar pembuluh limfatik kapiler. Cairan getah bening yang kembali
ke pembuluh limfatik sesaat setelah melaku-kan kontak ini membawa serta informasi
mengenai jaringan tadi. Infor-masi ini diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada
pembuluh limfatik. Jika pada jaringan mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini
akan diteruskan ke nodus limfa melalui cairan getah bening.

Gambar: Sistem limfatik


KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan
dengan pemberian serum 0,6 ml pada mencit dapat terlihat bahwa antibodi
terbentuk pada mencit ke- 3 pada hari ke-14, dengan ditandai menggumpalnya
darah mencit pada saat proses aglutinasi. Sedangkan pada mencit 1 dan 2
belum terbentuk antibodi. Karena pada mencit pertama belum diberi
perlakuan, sedangkan pada mencit ke 2 sudah diberi perlakuan 0,6 ml serum
(antigen) tetapi kami belum melakukan pengamatan leukosit.
Jumlah leukosit pada setiap mencit dapat dapat dilihat yaitu kadang naik dan
kadang turun, begitu juga dengan berat badannya tidak teratur.
Limpa adalah kelenjar tanpa saluran (ductless) yang berhubungan erat dengan
sistem sirkulasi dan berfungsi menghancurkan sel darah merah tua. Limpa
termasuk salah satu organ sistem limfoid, selain timus, tonsil, dan kelenjar
limfe. Sistem limfoid berfungsi untuk melindungi tubuh dari kerusakan akibat
zat asing.

DAFTAR PUSTAKA

(http://iqbalali.com/2008/03/06/mencit/)
(http://iqbalali.com/2008/03/06/sedikit-tentang-imunitas/)
(http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=immunoglobulin&aq=f&aqi=
g10&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=c28077b057c07d3)
(http://biohealth.wordpress.com/2008/09/01/jenis-serum/)
(http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Antigen&ei=NuEBTMevLMW2rA
ehyMjzDg&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=2&ved=0CCUQ7gEwAQ
&prev=/search%3Fq%3DANTIGEN%26hl%3Did%26sa%3DG%26prmd
%3Di)
(http://translate.google.co.id/translate?
hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Interleukin&ei=zRALTIi9Gsq_rA
e1z7imDQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CCAQ7gEwAA
&prev=/search%3Fq%3Dinterleukin%26hl%3Did%26sa%3DX)
(http://www.bulletinveteriner.com/mencit-balbc-dapat-digunakan-sebagaihewan-model-penelitian-virus-penyakit-jembrana/)
(http://biologigonz.blogspot.com/2009/12/jaringan-ikat.html)
(http://kesehatan.kompasiana.com/2010/05/09/interaksi-antigen-dan-antibodi/)

(http://biohealth.wordpress.com/2008/09/01/komplemen/)