Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Demam Tifoid adalah penyakit sistematik yang disebabkan oleh bakteri ditandai
dengan demam insidious yang berlangsung lama, sakit kepala, badan lemah, anoreksis,
bradikardi relative, serta splenomegaly (james Chin, 2006)
Demam Tifoid adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri salmonella
typhy (S typhy) atau Salmonella paratyphi ( S paratyphi ) yang masuk kedalam tubuh
manusia. Dan merupakan kelompok penyakit yng mudah menular dan dapat menyerang
bnyak orang sehingga dapat menimbulkn wabah (Djoko Widodo, 2006).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam lebih dri satu minggu, gangguan pada pencernaan dan
gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2005).
Dari pendapat diatas maka disimpulkan demam tifoid adalah penyakit infeksi
sistemik yang disebabkan oleh bakteri Slmonella typhi (S. typhi) atau Salmonella paratyphi).
Yang masuk ke dalam tubuh manusia (saluran pencernaan) dengan ditandai oleh demam
insidius yang lama, sakit kepala, badan lemah, anoreksia, bradikardi relatif, serta
splenomegali, dan juga merupakan kelompok penyakit yang mudah menular serta menyerang
banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah.

B. Etiologi
Adapun penyebab dari penyakit demam tifoid ini adalah Bakteri Salmonella Typhi (S
Typhi) dan Salmonella Parathyphi. (James Chin, MD, 2006).
Demam tifoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. Typhi, s. Paratyphi
A, dan S. Paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain. Demam yang
disebabkan oleh s. Typhi cendrung untuk menjadi lebih berat daripada bentuk infeksi
salmonella yng lain. (Ashkenazi et al, 2002)

C. Patofisiologi
1. Proses perjalanan penyakit
S. typhi masuk ketubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar.
Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus
halus(mansjoer, 2000) Setelah mencapai usus, Salmonella typhosa menembus ileum
ditangkapoleh sel mononuklear, disusul bakteriemi I. Setelah berkembang biak di RES,
terjadilah bakteriemi II, Interaksi Salmonella dengan makrofag memunculkan mediatormediator. Lokal (patch of payer) terjadi hiperplasi, nekrosis dan ulkus. Sistemik timbul
gejala panas, instabilitas vaskuler, inisiasi sistem beku darah, depresi sumsum tulang dll.
Imunulogi.Humoral lokal, di usus diproduksi IgA sekretorik yang berfungsi
mencegah melekatnya salmonella pada mukosa usus.Humoral sistemik, diproduksi IgM
dan IgG untuk memudahkan fagositosis Salmonella oleh makrofag. Seluler berfungsi
untuk membunuh Salmonalla intraseluler (Darmowandowo, 2006)
Bakteri Salmonella typhy (S typhi) dan Salmonella paratyphi (Sparatyphi) masuk
kedalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh

bakteri tersebut. Sebagian bakteri dimusnahkan di lambung oleh asam lambung. Sebagian
lolos masuk ke dalam usus halus dan selanjunya berkembang biak. Bila respon imunitas
humoral mukosa (IgA) usus halus kurang baik maka bakteri akan menembus sel-sel epitel
dan selanjutnya kelamina propia.
Dilamina propia bakteri berkembang biak dan difgosit oleh sel-sel fagosit
terutama oleh makrofak, kemudian bakteri yang hidup dan berkembang biak di dalam
makrofak di bawa ke Plague peyeri ileum distal selanjutnya ke kelenjar getah bening.
Kemudin melalui duktus torasikus bakteri yang di dalam makrofag ini masuk ke dalam
sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar
keseluruh organ retukuloendotelial tubuh terutama organ hati dan limpa. Di organ-organ
ini bakteri meninggalkan sel-fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel dan
selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi sehingga mengakibatkan bakterimia
yang kedua kalinya dengan di sertai tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, Didalam
hati kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak bersama cairan empedu
diekresikan secara intermittent kedalam lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan
melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menebus usus, proses
yang sam terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivitas dan hiperaktif maka
saat fagositosis.kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator imflamasi yang
selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi imflamasi sistemik

seperti : demam,

malaise, myalgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler, gangguan mental dan
koagulasi (Djoko Widodo 2006).
2. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat
bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid.Spektrum klinis demam tifoid
tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare
yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala
sistemik panas tinggi, gejala septik yang lain, ensefalopati atau timbul komplikasi
gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan.Hal ini mempersulit penegakan
diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja.
Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua
penderita demam tifoid.Demam dapat muncul secara tiba-tiba, dalam 1-2 hari menjadi
parah dengan gejala yang menyerupai septisemia oleh karena Streptococcus atau
Pneumococcus daripada S. typhi.Menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid
tetapi pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria, menggigil lebih mungkin
disebabkan oleh malaria.Namun demikian demam

tifoid dan malaria dapat timbul

bersamaan pada satu penderita.Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat
menyerupai gejala meningitis, di sisi lain S. typhi juga dapat menembus sawar darah otak
dan menyebabkan meningitis.Manifestasi gejala mental kadang mendominasi gambaran
klinis, yaitu konfusi, stupor, psikotik atau koma.Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan
dengan apendisitis.Pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat perforasi
usus.
Masa tunas demam Tifoid berlangsung antara 10 -14 hari gejala gejala klinis
yang timbul sangat bervriasi dari ringan samapai dengan berat.

a. Pada minggu I ditemukan gejala klinis dan keluhan demam tifoid seperti : Demam,
nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare,
perasaan tidak enak diperut, batuk, dan epistaksis
Pada pemeriksaan fisik biasanya hnya ditemukan peningkatan suhu tubuh, sifat
demam adalah meningkat perlahan lahan, dan terutama pada sore hari hingga
malam hari.
b. Pada minggu ke

II

di temukan gejla gejala yang lebih jelas seperti :

Demam,bradikardi, lidah berselaput (kotor dibagian tengah tepi dan ujung merah),
hepatomegaly, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa : Salmonella,
stuporkoma, delirium atau psikosis (Djoko Widodo 2006)
3. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid yaitu :
a. Komplikasi intestinal : Perdarahan usus, perforasi usus, Ileus paralitik, pankreastitis
b. Komplikasi Ekstra-intestinal : komplikasi kardivaskuler (gagal sirkulasi perifer,
miokarditis, tromboflebitis), komplikasi darah (anemia hemolitik, trombositopenia,
thrombosis),

kompliksi

paru

(pneumonia,

empyema,

pleuritis),

komplikasi

hepatobilier (hepatiis, kolesistitis), komplikasi tulang (ostemielitis, peritonitis,


spondylitis, arthritis). Komplikasi neuropsikiatrik / tifoid toksik ( Djoko Widodo 2006
).

D. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif
meliputi istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung penyulit yang

terjadi).Istirahat

bertujuan

untuk

mencegah

komplikasi

dan

mempercepat

penyembuhan.Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau
kurag lebih selama 14 hari.Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien. (Mansjoer, 2001)
Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.Namun
beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan
lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan
aman.Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien.
(Mansjoer, 2001)
Pada kasus perforasi intestinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif
dengan nutrisi parenteral total.Spektrum antibiotik maupun kombinasi beberapa obat yang
bekerja secara sinergis dapat dipertimbangkan.Kortikosteroid perlu diberikan pada renjatan
septik. (Mansjoer, 2001)
Pengobatan demam tifoid terdiri atas tiga bagian yaitu : Perawatan, Diet dan Obatobatan.
1. Perawatan
Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi
dan pengobatan.Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam
atau kurang lebih selama 14 hari.Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap,
sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.

Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada
waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan
dekubitus.
Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi
obstipasi dan retensi air kemih.
2. D i e t
Dimasa lampau, pasien dengan demam tifoid diberi bubur saring, kemudian bubur
kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.Karena ada pendapat
bahwa usus perlu diistirahatkan.Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian
makanan padat dini dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.
3. O b a t
Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah :
a. Kloramfenikol
b. Thiamfenikol
c. Ko-trimoksazol
d. Ampisillin dan Amoksisilin
e. Sefalosporin generasi ketiga
f. Fluorokinolon.
Obat-obat simptomatik :
a. Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin).
b. Kortikosteroid (tapering off Selama 5 hari).
Vitamin B komp.Dan C sangat diperlukan untuk menjaga kesegaran dan kekuatan
badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler.

E. Pengkajian Keperawatan
1. Dasar data pengkajian klien :
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah. Insomnia, tidak tidur semalaman
karena diare.Merasa gelisah dan ansietas. Pembatasan aktivitas/kerja s/d efek proses
penyakit.
b. S i r k u l a s i
Tanda : Takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses imflamasi dan nyeri).
Kemerahan, area ekimosis (kekurangan vitamin K).Hipotensi termasuk postural.
Kulit/membran

mukosa

turgor

buruk,

kering,

lidah

pecah-pecah

(dehidrasi/malnutrisi).
c. Integritas Ego
Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis. Perasaan tidak berdaya/tidak ada
harapan.Faktor

stress

akut/kronis

mis.hubungan

dengan

keluarga/pekerjaan,

pengobatan yang mahal.Faktor budaya peningkatan prevalensi.


Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.
d. E l i m i n a s i
Gejala : Tekstur feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau berair. Episode
diare berdarah tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering tidak dapat dikontrol,
perasaan dorongan/kram (tenesmus).Defakasi berdarah/pus/mukosa dengan atau
tanpa keluar feces.Peradarahan perektal.

Tanda : Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik atau adanya peristaltik yang
dapat dilihat. Haemoroid, oliguria.
e. Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah. Penurunan BB. Tidak toleran terhadap
diet/sensitive mis. Buah segar/sayur, produk susu, makanan berlemak.
Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan, tonus otot dan turgor
kulit buruk.Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut.
f. H i g i e n e
Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Stomatitis menunjukkan
kekurangan vitamin.Bau badan.
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kanan bawah (mungkin hilang dengan
defakasi). Titik nyeri berpindah, nyeri tekan, nyeri mata, foofobia.
Tanda : Nyeri tekan abdomen/distensi.
h. K e a m a n a n
Gejala : Anemia hemolitik, vaskulitis, arthritis, peningkatan suhu (eksaserbasi akut),
penglihatan kabur. Alergi terhadap makanan/produk susu.
Tanda : Lesi kulit mungkin ada, ankilosa spondilitis, uveitis, konjungtivitis/iritis.
i. Seksualitas
Gejala : Frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksual.
j. Interaksi Sosial
Gejala : Masalah hubungan/peran s/d kondisi, ketidakmampuan aktif dalam sosial.

k. Penyuluhan Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga berpenyakit inflamasi usus.
2. Pemeriksaan tes diagnostic
a. Pemeriksaan Laboratorium.
Untuk menentukan diagnose demm tifoid dilakukan pemeriksan darah lengkap,
fungsi hati, serologi, dan kultur.
b. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan
typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang
digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan
diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman).
c. STRT ( Salmonella tifoid rapi test ) adalah suatu test diagnose invitro semi kuantitatif
10 menit untuk deteksi demam thypoid akut yang disebabkan oleh salmonella thypi
melalui deteksi spesifik adanya serum anti bodi IgM tersebut dalam menghambat (

inhibisi ) reaksi antara antigen berlabel partikel latek magnetic ( regan warna coklat ).
Monoklonal antibody berlabel latek warna ( regan warna biru ) Selanjutnya ikatan
inhibisi tersebut disparasikan oleh suatu daya magnet tingkat inhibisi yang dihasilkan
adalah setara dengan konsentrasi antibody IgM salmonella thypi dalam semple hasil
dibaca secara fisual dengan membandingkan warna akhir reaksi terhadap skala warna.
d. Foto rontgen thorak :
Kesan: Peningkatan ringan corak bronchovaskuler

F. Diagnosa Keperawatan
Sebelum membuat diagnose keperawatan maka data yang terkumpul diidentifikasi
untuk menentukan masalah melalui analisa, penggelompokan dan menentukan diagnose.
Diagnosa keperawatan adalah keputusan / kesimpulan yang terjadi dari hasil
pengkajian keperawatan,Diagnosa keperawatan yang muncul pada Demam tifoid dibuat
berdasarkan manifestasi klinik yang ada, lalu dimodifikasi kepermasalahan penyakit
pencernaan yang sesuai menurut Marylin E Dongoes ( 2000 ) adalah sebagai berikut :
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhn tubuh behubungan
dengan kehilngan cairan yang berlebihan melalui muntah dan diare
2. Gangguan rasa nyaman nyeri epigastrium berhubungan dengan hyperperistaltik pada usus
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi yang tidak adekuat.
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi Salmonella Typhi
5. Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari hari berhubungan dengan kelemahan
fisik

6. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi

G. Perencanaan Keperawatan
Berdasarkan diagnose keperawatan secara teoritis, maka rumusan diagnose
keperawatan pada klien dengan demam tifoid adalah sebagai berikut ;
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kehilangan cairan yang brlebihan melalui muntah, diare.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Tanda tanda dehidrasi tidak ada
Rencana Keperawatan :
a. Kaji turgor, membrane mukosa dan pengisisn kapiler
Rasional : Indikator tidak langsung dari status hidrasi/ derajat kekurangan
b. Observasi tanda tanda vital
Rasional : Menunjukan keadekuatan volume sirkulasi
c. Monitor pemasukan cairan secara oral.
Rasional : Keseimbangan cairan negative terus menerus, menurunkan haluaran renal
dan kosentrasi urine menunjukan terjadinya dehidrasi dan perlunya
penungkatan penggantian cairan.
d. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral.
Rasional : Diberikan untuk hidrasi umum serta mengencerkan obat antineoplastic
dan menurunkan efek samping merugikan misalnya : mual, muntah.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses hiperperistaltik pada usus

Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan rasa


nyaman nyeri teratasi.

Kriteria hasil : Klien tampak rileks dan rasa nyeri tidak ada.
Rencana Keperawatan :
a. Catat lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri
Rasional : Sediakan informasi mengenai kebutuhan /efektifitas intervensi
b. Beri posisi yang nyaman
Rasional : Pahami penyebab ketidak nyamanan
c. Monitor tanda- tanda vital.
Rasional : Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidak nyamanan,
Catatan : Sebagian klien mungkin mengalami sedikit penurunan tekanan
darah, yang akan kembali kedalam jangkauan normal setelah

rasa

sakit berhasil di hilangkan


d. Ajarkan tehnik relaksasi kepada klien.
Rasional : Lepaskan tegangan emosional dan otot; tingkatkan perasaan dan kontrol
yang dapat menungkatkan kemampuan koping.
e. Anjurkan klien untuk melaporkan nyerinya
Rasional : Mencoba untuk mentoleransi nyeri, daripada meminta analgesic.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi yang tidak adekuat.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat


menunjukan pemasukan makanan yang adekuat.

Kriteria hasil : Menunjukan peningkatan berat badan, tidak ada tanda tanda

malnutrisi.
Rencana Keperawatan :
a. Berikan makanan dalam keadaan hangat.
Rasional ; sejumlah kecil makanan sering dan dapat mencegah /mengurangi gangguan
gastrointestinal
b. Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapi
c. Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional :

Keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut makanan


eksaserbasi gejala.

d. Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien


Rasional :

Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan lebih kondusif


untuk makan

e. Kolaborasi untuk pemberian diet


Rasional :

Memungkinkan saluran

usus untuk mematikan kembali proses

pencernaan, protein perlu untuk menyembuhkan integritas jaringan,


rendah bulk menurunkan respon peristaltic terhadap makanan.

4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi Salmonella typhi


Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapakan peningkatan suhu


tubuh tidak terjadi.

Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal ( 36C - 37C )


Rencana Keperawatan :

a. Monitor tanda tanda vital


Rasional : suhu 38.9-41,1 C, menunjukan proses penyakit infeksius akut, pola
demam dapat membantu dalam diagnosis misal : kurva demam lanjut berakhir lebih
dari 24 jam menunjukan pneumonia, demam scarlet atau tifoid; demam remiten
(bervariasi hanya beberapa derajat pada arah tertentu ), menggigil sering mendahului
puncak suhu
b. Beri kompres air hangat
Rasional ; dapat membantu mengurangi demam, catatan : penggunaan air es/alcohol
mungkin menyebabkan kedinginan, peningkatan suhu secara actual, selain itu alcohol
dapat mengeringkan kulit.
c. Kolaborasi untuk pemberian anti piretik.
Rasional : digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada
hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi
pertumbuhan organisme, dan meningkatkan autodestruksi dari sel- sel yang terinfeksi.
5. Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari hari berhubungan dengan kelemahan
fisik.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu
melakukan aktifitasnya.
Kriteria hasil :Klien dapat melakuakan aktifitas sehari hari.
Rencana keperawatan :
a. Dekatkan alat yang mudh dijangkau oleh klien.
Rasional :Menetapkan kemampuan atau kebutuhan klien dan memudahkan pilihan
intervensi

b. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene, makan dan minum
Rasional : Minimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai
Dan kebutuhan oksigen.
c. Beri mobilitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan
metabolic, menghemat energy untuk penyembuhan
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan ; Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien mampu memahami
tentang penyakitnya.
Kriteria hasil : Klien menyatakan paham tentang informasi yang diberikan.
Rencana Keperawatan :
a. Beri pendidikan kesehatan tentang penyakitnya.
Rasional

;memberikan

pengetahuan

dasar

dimana

klien

dapat

membuat

pilihanberdasarkan informasi
b. Kaji tingkat pendidikan klien.
Rasional :membantu klien/orang terdekat membuat pilihan berdasarkan informasi
tentang masa depan, biblioterapi dapat menjadi tambahan yang bermanfaat untuk
pendekatanterapi lain.

c. Kaji ulang mengenai pengetahuan klien tentang informasi yang diberikan.


Rasional : membantu dalam merencanakan perubahan jangka panjang yang perlu
untuk mempertahankan status pantangan/bebas obat, klien mungkin mempunyai
pengetahuan bebas tentang obat tpi mengabaikan kenyataan medis.

H. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan adalah pelaksanaan tindakan keperawatan yang disesuaikan
dengankeadaan klien.Tindakan keperawatan ini dilakukan dengan pendekatan independent,
dependent, dan interdependent. Independent adalah tindakan keperawatan yang dilakukan
sendiri tanpa ada ketergantungan dengan tim kesehatan lain seperti mengukur tanda tanda
vital, mengkaji pola makan. Dependent adalah tindakan keperawatan yang dilakukan dengan
kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya seperti dokter, analis, dan dokter gizi. Sedangkan
interdependent adalah tindakan keperawatan yang dilakukan dengan kolaborsi dengan tim
kesehatan yang terlibat dalam keperawatan klien seperti konsultasi tentang kesehatan klien
dengan dependent lain seperti penykit dalam, bedah, dan lain lain.

I. Evaluasi Keperawatan
Proses evaluasi mencakup perbandingan antara data yng telah terkumpul dengan
kriteria hasil, memeriksa ulang rencana asuhan keperawatan dan memodivikasi rencana
keperawatan. Evaluasi merupakan tahapan akhir dari proses keperawatan, dimana penulis
menilai sejauh mana tujuan perawatan dapat tercapai yang didokumentasikan menggunakan
format SOAP yaitu subyektif, obyektif, analisa, planning.
Sejalan dengan telah dievaluasinya tujuan, penyesuaian terhadap rencana asuhan
dibuat sesuai dengan keperluan.Jika tujuan terpenuhi dengan baik, perawat menghentikan
rencana asuhan keperawatan tersebut dan mendokumentasikaanya.