Anda di halaman 1dari 9

vtamin B1

VITAMIN B1
Vitamin adalah zat organic yang diperlukan oleh tubuh dari makanan
sehari-hari dalam jumlah kecil yang mempunyai aktivitas biologi tinggi
untuk menjamin berlangsungnya proses faali dalam tubuh, sehingga
dapat mempertahankan kesehatan tubuh
Vitamin B1 = Thiamine, Aneurin, Zat anti beri-beri
Sifat-sifat kimia dan fisika :
1. Kristal putih larut air.
2. Senyawa mengandung C, H, O, S dan N.
3. Mudah dioksidasi.
4. Rusak oleh pemanasan atau basa.
5. Stabil pada suasana asam dam kering.
6. Tidak ditemukan dalam jaringan dalam jumlah banyak.
7. Dalam perdagangan dalam bentuk : hidroksiklorida, dan mononitrat.
Vitamin B1 oksidasi THIOHROME (fluorescensi)
Absorpsi :
1. Duodenum
2. Distibusi keseluruh tubuh
3. Tidak dapat disimpan
4. Ekskresi melalui urine.
Fungsi :
1. Coenzym : T, P, P matabolisme karbohidrat
- asam pyruvat asetyl co-a
- pada HMP Shunt sebagai co transketolase.
2. Mempertahankan fungsi saraf tetap normal
Kebutuhan (Requirement) :
RDA untuk thiamin adalah 0,5 mg/1000 kkal perhari. Diperkirakan
konsumsi rata-rata makanan per hari sekitar 2000 kkal/orang, jadi RDA
untuk thiamin sekitar 1 mg perhari. Makanan yang seimbang akan
memberikan cukup thiamin. Orang yang berpuasa atau melakukan diet
harus memastikan bahwa mereka mendapat sejumlah thiamin yang
sama seperti dalam 2000 kkalori makanan.
Defisiensi :
Penyebab diabetes militus
Beri-beri : - kering
- basah cerebral dan infantil
Beri-beri dapat terjadi karena kekurangan thiamin dalam jangka
panjang. Penyakit ini ditemukan pertama kali di Timur Jauh saat
pembuatan beras poles' (polish rice) tersebar luas. Beras yang dipoles
mengakibatkan pembuangan kulit yang kaya akan thiamin. Beri-beri
dapat merusak sistem syaraf dan keracunan otot. Gejala kekurangan

yang lain adalah irama jantung yang tidak normal, gagal jantung,
kelelahan, susah berjalan, kebingungan dan kelumpuhan.
Sumber:
1. Bahan nabati: padi-padian, ragi, bekatul, kacang polong
2. Bahan hewani: jerohan, ginjal, dan daging.
Kandungan vitamin B1 pada beberapa bahan makanan (mg/ 100 gram)
Gandum Penuh 0,36-0,5
Giling 85 % 0,3-0,4
Giling 73% 0,07-0,1
Beras Tumbuk 0,5
Giling 0,03
Bekatul 2,3
Daging sapi <0,6
Kambing 0,1-0,2
Babi <1.0
Ayam 0,1
Kapri 0,36
Kacang-kacangan 0,4-0,6
Susu sapi 0,04
Kekurangan vitamin B1 terjadi bila makanan tersebut tidak terdapat
dalam menu makanan sehari-hari.
Penyebab :
Penggilingan padi untuk membuang sekam, pada dasarnya akan
membuang vitamin-vitamin. Orang-orang Asia beresiko mengalami
kekurangan vitamin B1 karena makanannya terutama terdiri dari padi
yang telah digiling. Tetapi merebus beras sebelum membuang
sekamnya, akan memindahkan vitamin ke seluruh butir padi sehingga
keberadaan vitamin tetap terjaga.
Kekurangan vitamin B1 juga bisa diakibatkan oleh berkurangnya
penyerapan karena diare menahun atau bertambahnya kebutuhan
vitamin karena hipertiroidisme, kehamilan atau demam.
Peminum alkohol berat menggunakan alkohol sebagai pengganti
makanan, sehingga mengurangi asupan vitamn-vitamin, termasuk
vitamin B1. Karena itu peminum alkohol berat memiliki resiko
menderita penyakit kekurangan zat-zat gizi.
Beri-beri pada bayi terjadi karena menyusi ASI dari ibu yang mengalami
defisiensi vitamin B1. Hal ini ditandai dengan gagal jantung, kehilangan
suara, kerusakan saraf tepi. Ketidaknormalan jantung biasanya teratasi
dengan pemberian vitamin B1.
Gejala

Gejala awal berupa kelemahan, mudah tersinggung, gangguan daya


ingat, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, rasa tidak enak perut
dan penurunan berat badan.
Pada akhirnya bisa terjadi kekurangan vitamin B1 yang berat (beri-beri),
yang ditandai dengan kelainan saraf, otak dan jantung. Pada semua
bentuk beri-beri, metabolisme sel darah merah mengalami perubahan
dan kadar vitamin B1 dalam darah dan air kemih akan menurun tajam.
Kelainan saraf (beri-beri kering) dimulai sebagai:
- sensasi rangsangan (seperti tertusuk jarum) di jari- jari kaki
- sensasi panas terbakar di kaki terutama memburuk pada malam hari
- kejang otot betis
- nyeri pada tungkai dan kaki.
Jika penderita juga mengalami kekurangan asam pantotenat, gejalagejala diatas akan semakin parah:
- otot betis terasa sakit
- bangun dari posisi jongkok menjadi sulit
- berkurangnya kemampuan untuk merasakan getaran di jari-jari kaki.
Pada akhirnya otot betis dan otot paha akan mengecil (atrofi) dan timbul
footdrop dan toedrop (keadaan dimana kaki atau jari-jari kaki
tergantung timpang dan tidak dapat diangkat). Hal ini terjadi karena
saraf-saraf dan otot-otot tidak berfungsi sebagaimana mestinya.Bisa
juga terjadi wristdrop.
Kelainan otak (beriberi otak, sindroma Wernicke-Korsakoff) sering
timbul jika terjadi suatu kekurangan vitamin B1 yang berat dan
mendadak, yang dapat disebabkan oleh pemakaian alkohol yang
berlebihan atau muntah berat pada kehamilan, dan memperburuk suatu
kekurangan vitamin B1 yang bersifat menahun.
Gejala awalnya berupa kelainan mental, laringitis dan penglihatan
ganda.
Selanjutnya penderita akan mengarang-ngarang kejadian dan
pengalaman untuk mengisi kekosongan ingatannya (konfabulasi)
Jika ensefalopati Wernicke tidak diobati, gejalanya akan bertambah
buruk, menyebabkan koma bahkan kematian.
Penyakit ini merupakan kedaruratan medis dan diobati dengan vitamin
B1 intravena (melalui pembuluh darah) sebanyak 100 kali dosis harian
yang dianjurkan, selama beberapa hari.
Dilanjutkan dengan pemberian vitamin B1 per-oral (ditelan) sebanyak
10 kali dosis harian yang dianjurkan sampai gejalanya menghilang.
Penyembuhan sering terjadi tidak secara menyeluruh karena kerusakan
otaknya bersifat menetap.
Kelainan jantung (beri-beri basah) ditandai oleh:

- tingginya curah jantung


- denyut jantung yang cepat
- pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan kulit menjadi hangat
dan lembab.
Karena kekurangan vitamin B1, jantung tidak dapat mempertahankan
curah jantung yang tinggi dan terjadi kegagalan jantung, dimana
ditemukan:
- pelebaran vena-vena
- sesak nafas
- penahanan cairan di paru-paru dan jaringan perifer.
Pengobatannya berupa pemberian vitamin B1 secara intravena (melalui
pembuluh darah) sebanyak 20 kali dosis harian yang dianjurkan selama
2-3 hari, diikuti dengan pemberian vitamin per-oral (ditelan).
Beri-beri infantil terjadi pada bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang
menderita kekurangan vitamin B1, yang terutama terjadi pada usia 2-4
bulan.
Gejalanya berupa:
- kegagalan jantung
- suara hilang
- kerusakan saraf perifer.
Kelainan jantung biasanya akan pulih sempurna bila diobati dengan
vitamin B1.
Dosis vitamin B1 (thiamine) yang cukup bisa mengembalikan fungsi
ginjal, terutama bagi penderita diabetes lewat jurnal kesehatan
Diabetologia.Hal itu disimpulkan oleh peneliti di Warwick University
setelah meneliti pengaruh perawatan vitamin B1 atas 40 pasien dari
Pakistan. Dalam perawatan itu para pasien diberi vitamin B1 sebesar
300 miligram per hari (dosis tinggi) selama tiga bulan dan hasilnya
urine sepertiga pasien menunjukan pemulihan fungsi ginjal. Kerusakan
ginjal pada penderita diabetes disebabkan rusaknya pembuluh darah
halus karena tingginya gula darah sehingga pembuluh darah yang
menuju ginjal melepaskan protein penting seperti albumin ke dalam
urine.
Terapi vitamin itu dilaporkan bisa mengurangi hilangnya albumin pada
sepertiga dari pasien. Namun demikian peneliti kepala dalam tim itu
Professor Paul Thornalley mengatakan terapi ini masih terbatas untuk
menolong penderita diabetes ringan. Sedangkan Dr Iain Frame dari
Diabetes UK mengatakan penderita masih bisa mengatasi hal itu lewat
konsumsi vitamin B1 alami yang cukup yang terdapat pada daging,
kacang-kacangan, dan ragi, tidak perlu lewat vitamin khusus.
Diabetes Mellitus adalah adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa
(gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat

merian

arutan

melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup.


Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang
bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang
normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa
menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.
DM merupakan penyakit berbahaya yang bila tidak tertangani dapat
mengakibatkan komplikasi ke semua bagian tubuh. Penyakit yang dapat
ditimbulkan antara lain gangguan penglihatan, katarak, penyakit
jantung, sakit ginjal, impotensi, luka sulit sembuh dan membusuk /
gangren, infeksi paru-paru, gangguan pembuluh darah, stroke dan
sebagainya.
Karena diabetes tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, maka tujuan
utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar
gula darah dalam kisaran yang normal. Semakin mendekati kisaran yang
normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi menjadi semakin
berkurang.
B. Uraian Umum Vitamin B1

Gambar 1. Struktur Thiamin HCl


Berat molekul

: 337,27

Rumus kimia

: C12H17ClN4OS. HCl

: Hablur atau serbuk hablur, putih, bau khas lemah. Jika bentuk anhidrat terpapar
diudara dengan cepat menyerap air lebih kurang 4%. Melebur pada suhu lebih
kurang 248 disertai peruraian
: Mudah larut dalam air, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam
eter dan dalam benzene.

onim, 1995).
1. Sejarah Penemuan vitamin B1(Sunita Almatsier, 2003)
Pada abad ke-19 ditemukan penyakit beri-beri secara edemis di Jepang, Cina,
dan Asia Tenggara. Takaki (1906) menunjukkan bahwa prnyakit ini pada pelaut
Jepang dapat dikurangi dengan menggantikan sebagian nasi putih yang telah
dimakan, dengan roti yang telah terbuat dari gandum. Eykman (1897) di

Batavia/Jakarta Indonesia mengamati bahwa ayam yang makan sisa-sisa nasi putih
dari penjara mengalami kelemahan berat. Funk (1911) berhasil mengisolasi faktor
antiberi-beri dari dedek beras dan memakannya vitamin. Jansen dan donat (1926) di
laboratorium Eykman berhasil mengisolasi bentuk kristal Tiamin dan melakukan uji
coba pada burung-burung. Struktur kimia dan sintesis tiamin untuk pertama kali
berhasil dilakukan oleh Williams dan Cline pada tahun 1936 .
2. Sifat Fisika dan Kimia Vitamin B1
Vitamin B1 telah diisolir dalam bentuk murni sebagai tiamin hidrokhlorid. Zat
tersebut mengkristal sebagai lempeng-lempeng putih monoklinik dalam tanda yang
menyerupai roset. Tiamin mempunyai bau dan rasa khusus. Terurai pada 248oC.
Sangat larut dalam air, agak larut dalam gliserol, propilen glikol dan 95% etanol.
Tidak larut dalam lemak atau larutan-larutan lemak. Pada suhu biasa, tiamin
hidrokhlorid mengambil air dan membentuk suatu hidrat. Oleh karena itu zat yang
murni harus disimpan dan tertutup rapat, sebab jika tidak zat tersebut akan
bertambah berat. Bila thiamin hidrokhlorid diperlukan untuk larutan setandar, zat
tersebut perlu dikeringkan. Tiamin stabil pada 100oC selama 24 jam. Dapat
disterilkan pada 120oC dalam larutan encer kecuali jika pH di atas 5,5, kemudian zat
tersebut rusak cepat sekali. Analisis analitik untuk thiamin dilakukan dengan cara
oksidasi menjadi thiokhrom yang memperlihatkan fluorensi biru khas dalam cahaya
ultraviolet. Satu Satuan Internasional aktivitas vitamin B1 seharga dengan lebih
kurang 3 ug Kristal thiamin hidrokhlorid (satu gram thiamin hidrokhlorid = 333.000
Satuan Internasional). Di Amerika Serikat kebutuhan vitamin B1 dan vitamin B
lainnya dinyatakan dalam milligram bahan murni per kilogram ransum. Turunan
hidroklorid jika ditambah NaOH dapat terjadi degradasi menjadi tiokrom dan bias
ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri.
Tiamin atau

vitamin

B1 merupakan

kompleks

molekul

organik

yang

mengandung satu inti tiazol dan pirimidin. Tiamin ditemukan terutama dalam bijibijian dan dedaknya serta sejumlah kecil dalam daging dan kacang-kacangan.
Sayuran hijau, ikan, buah-buahan dan susu juga mengandung tiamin dalam jumlah
yang bermanfaat. Beras putih, gula, alkohol, lemak, dan pangan yang sudah diolah
adalah sumber-sumber tiamin yang miskin (Hakim Nasution dan Darwin, 1991).
Fungsi dan pengaruh tiamin adalah sebagai koenzim untuk beberapa reaksi
inti sampai metabolisme antara dalam semua sel. Usus halus mengabsorbsi tiamin
melalui 2 mekanisme, pada konsentrasi tinggi dan konsentrasi rendah. Bentuk
koenzim tiamin berfungsi sebagai aldehida transferase (Linder. 2007).

Defisiensi tiamin yang berat menyebabkan penyakit beri-beri yang ditandai


oleh neuropati permukaan/ periferi, terutama dalam beberapa anggota tubuh yang
paling banyak digunakan, diikuti oleh perasaan gatal, kaku, empuk dan kelemahan
(Linder. 2007). Kecukupan gizi yang dianjurkan sekarang ini untuk tiamin adalah 0,5
mg per 1000 kkal per hari (Hakim Nasution dan Darwin, 1991). Karena tiamin
penting untuk metabolisme energi, terutama karbohidrat, maka kebutuhan akan
tiamin umumnya sebanding dengan asupan kalori. Kebutuhan minimum adalah 0,3
mg/1000 kcal, sedangkan AKG di Indonesia ialah 0,3-0,4 mg/hari untuk bayi, 1,0
mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk wanita hamil (Tanu, ian. 1999).

ASAM SALISILAT
Rumus bangun :

Rumus molekul : C7H6O3


Asam salisilat (asam ortohidroksibenzoat) merupakan asam yang bersifat iritan lokal,
yang dapat digunakan secaratopikal. Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat
luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam organik.
Di samping itu digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling dikenal asalahasam
asetilsalisilat.
Asam salisilat mendapatkan namanya dari spesies dedalu (bahasa Latin: salix),
yang
memiliki
kandungan
asam
tersebut
secara
alamiah,
dan
dari
situlah manusia mengisolasinya. Penggunaan dedalu dalam pengobatan tradisional telah
dilakukan oleh bangsa Sumeria, Asyur dan sejumlah suku Indian seperti Cherokee. Pada
saat ini, asam salisilat banyak diaplikasikan dalam pembuatan obat aspirin. Salisilat
umumnya bekerja melalui kandungan asamnya. Hal tersebut dikembangkan secara menetap
ke dalam salisilat baru. Selain sebagai obat, asam salisilat juga merupakan hormon
tumbuhan.
Sifat-sifat fisik dari asam salisilat
1

Penampakan

Tidak berwarna menjadi kuning pada larutan dengan bau kenari


pahit

Titik lebur

1-2 0C

1.
2.
3.
4.

Titik didih

197 0C

Kerapatan

4,2

Tekanan uap

1 mmHg pada 33 0C

Daya ledak

1,146 g/cm3

Titik nyala

76 0C

Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh asam salisilat adalah sebagai berikut:
Panas jika dihirup, di telan dan apabila terjadi kontak dengan kulit.
Iritasi pada mata
Iritasi pada sauran pernafasan
Iritasi pada kulit
Sifat asam salisilat
Secara kimia asam salisilat disintesis pada tahun 1860 dan telah di gunakan
secara luas dalam terapi dermotologis sebagai suatu agen keratolitik. Digunakan pada bagian
luar tubun yang pada kulit sebagai antiseptik lemah serta keratolitikun (melarutkan sel-sel
kulit mati). Agen ini berupa bubuk berwarna putih yang mudah larut dalam alkohol tetapi
sukar larut dalam air. Asam salisilat merupakan zat anti akne sekaligus keratolitik yang lazim
diberikan secara topikal. Penggunaanya dalam kosmetik anti akne atau karatolitik merupakan
usaha untuk meningkatkan kemampuan kosmetika tersebut umpamanya dalam kosmetika
perawatan kulit yang berjerawat.
Asam salisilat berkhasiat keratolotis dan sering digunakan sebagai obat ampu
terhadap kutil kulit, yang berciri penebalan eidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi
dengan virus papova. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat
luar. Derifatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dan asam organik
dengan subtitusi pada gugus hidroksil misalnya asetosal.
Kegunaan asam salisilat
Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik yaitu akan mengurangi ketebalan
interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan
menyebabkan desintegrasi dan pengelupasana kulit. Asam organis ini berkhasiat fungisit
terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Di samping itu, zat ini juga
bekerja keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%.
Toksisitas asam salisilat
Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti
sehingga banyak terjadi penggunasalahan atau penyalahgunaan obat bebas ini. Keracunan
salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat
ringan. Gejala saluran cerna lebih menonjol pada intoksikasi asam salisilat. Efek terhadap
saluran cerna, perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian

contoh kronik. Salisilisme dan kematian terjadi setelah pemakaian secara topikal. Gejala
keracunan sistemik akut dapat terjadi setelah penggunaan berlebihan asam salisilat di daerah
yang luas pada kulit, bahkan sudah terjadi beberapa kematian.
Pemakaian asam salisilat secara topikal pada konsetrasi tinggi juga sering
mengakibatkan iritasi lokal, peradangan akut, bahkan ulserasi. Untuk mengurangi
absorpsinya pada penggunaan topikal maka asam salisilat tidak digunakan dalam penggunaan
jangka lama dalam konsentrasi tinggi, pada daerah yang luas pada kulit dan pada kulit rusak.