Anda di halaman 1dari 6

Langsa, 30 Januari 2015

Kepada Yth,
Ka.Prodi S.1 Kesehatan Masyarakat
Di
Tempat
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Isma Faizuhra

NPM

: 11.1.0004

Semester

: 7 (Tujuh)

Prodi

: S.1 Kesehatan Masyarakat

Bersama ini saya mengajukan Judul Skripsi kepada Bapak/Ibu sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Langsa Yayasan UMMI Langsa. Adapun judul Skripsi saya ajukan sebagai berikut:
1. Gambaran tingkat kelelahan dan keluhan gangguan muskuloskeletal pada penjahit di
kota Langsa Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
2. Hubungan antara pengetahuan tentang menstruasi dengan upaya penanganan
dismenore pada siswi SMAN 5 Langsa di kota Langsa.
3. Hubungan pengetahuan ibu tentang resiko penggunaan penyedap rasa dengan prilaku
penggunaan penyedap rasa pada masakan di desa Gedubang Aceh, Kecamatan Langsa
Baro, Kota Langsa.
Demikian yang dapat saya sampaikan,semoga Bapak/Ibu dapat mengabulkan Judul diatas
sebagai Judul Skripsi saya.
Hormat Saya,

(___________________)
Isma Faizuhra
JUDUL I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kelelahan secara umum dapat diartikan sebagai penurunan kapasitas kerja serta
ketahanan tubuh yang ditandai dengan munculnya perasaan letih serta hilangnya kemauan

untuk bekerja, sehingga akan menghambat aktivitas yang sedang berlangsung. Kelelahan
merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan yang lebih
lanjut sehingga akan terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan akibat kerja dapat
disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisik, usia,
jenis kelamin, gizi, atau gaya hidup. Sedangkan faktor eksternal dapat meliputi lingkungan
tempat kerja (kebisingan, suhu, kelembaban, dan pencahayaan), organisasi kerja (waktu kerja,
jam istirahat, dan psikososial) maupun faktor ergonomi (sikap kerja paksa serta gerakan yang
berulang). Kelelahan akan berakibat pada penurunan kemampuan tubuh pekerja sehingga
dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja dan mengakibatkan kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja itu sendiri disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pekerjaan dan faktor
manusia. Pada beberapa penelitian, 80-85% kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor
manusia. Salah satu faktor manusia yang menyebabkan kecelakaan kerja adalah stres dan
kelelahan. Kelelahan kerja memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap terjadinya
kecelakaan kerja.
Musculoskeletal disorders (MSDs) atau disebut dengan Cummulative Trauma
Disorders (CTDs) merupakan gangguan yang terjadi pada otot, saraf, tendon, ligament, sendi,
kartilago, maupun discus intervertebralis.7 Gangguan yang terjadi diakibatkan oleh adanya
kerusakan yang berupa ketegangan otot, inflamasi, degenerasi, maupun fraktur pada tulang
yang disertai dengan rasa nyeri sehingga mengurangi kemampuan gerak. MSDs terjadi
apabila adanya kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau 3
periode waktu yang lama dari usaha otot dalam menerima beban statis. Selain itu, MSDs
dapat muncul oleh kerusakan tiba-tiba yang disebabkan adanya aktivitas berat atau
pergerakan yang tak terduga. Keluhan muskuloskeletal yang dirasakan mulai dari keluhan
ringan sampai keluhan berat, baik yang bersifat sementara (reversible) maupun menetap
(persistent). Keluhan yang bersifat sementara akan segera hilang apabila pembebanan
dihentikan. Sedangkan pada keluhan yang menetap, rasa sakit pada otot akan terus berlanjut
walaupun pembebanan kerja telah dihentikan. Keluhan ringan biasanya akan menghilang
setelah istirahat dan tidak mempengaruhi performance kerja. Bila keluhan muskuloskeletal
sampai ke tahap yang berat, nyeri akan tetap ada walaupun setelah istirahat dan akan
berpengaruh terhadap pekerjaan. MSDs bukan merupakan diagnosis klinis, melainkan rasa
nyeri karena kumpulan cedera pada sistem muskuloskeletal akibat tidak diterapkannya
prinsip-prinsip ergonomi dalam pekerjaan yang dilakukan.
Menurut WHO tahun 2003, musculoskeletal disorders merupakan penyakit akibat
kerja yang paling banyak terjadi dan diperkirakan sekitar 60% dari semua penyakit akibat

kerja.8 Prevalensi nyeri muskuloskeletal pada pekerja berkisar antara 6-76 % selama satu
tahun dan prevalensi ini lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria. Angka prevalensi
Low Back Pain antara 7,6-37% yang terjadi pada pekerja aktif.
Kelelahan dan MSDs merupakan faktor yang dapat menyebabkan turunnya
produktivitas kerja, hilangnya jam kerja, tingginya biaya pengobatan dan material, serta
rendahnya kualitas kerja. Salah satu usaha yang memiliki resiko kelelahan kerja dan
musculoskeletal disorders cukup tinggi adalah usaha sektor informal, khususnya industri
jahitan. Usaha ini sangat sering dijumpai, baik yang bersifat perorangan maupun dalam satu
kelompok usaha. Penyakit akibat kerja pada usaha jahitan biasanya terjadi karena peralatan
yang digunakan apa adanya tanpa memenuhi syarat ergonomi alat tersebut, posisi duduk yang
lama dengan postur janggal, gerakan yang berulang-ulang, pekerjaan yang monoton, serta
jam kerja yang tidak menentu. Usaha ini pada umumnya masih belum tersentuh oleh
kepedulian pemilik usaha terhadap 4 pekerjanya. Banyak penyakit yang timbul akibat kerja
pada usaha ini yang diabaikan oleh pemilik usaha ataupun pekerja itu sendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan para penjahit dan
mengetahui lokasi keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada para penjahit,
serta perbedaan rerata skor berdasarkan karakteristik responden (jenis kelamin, usia, waktu
kerja dalam sehari, IMT).

JUDUL II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama karena dampaknya luas
menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan Negara dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Kesehatan reproduksi adalah
keadaan kesejahteraan fisik, mental, social yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit
atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi
proses-prosesnya (Wahid, 2000).
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Cakir Metal. Terdapat (75%) gangguan menstruasi
yang paling sering muncul, yaitu oligomenore (jangka waktu haid terlalu lama) (50%),
polimenore (terlalu sering haid) (10,5%), hipermenorea (darah haid terlalu banyak),
hipomenorea (darah haid terlalu sedikit), amenore (tidak haid sama sekali) (15,8%) dan
dismenorea (nyeri haid) merupakan gangguan menstruasi dengan prevalensi paling besar
(89,5%) (Sianipar, 2009).
Berdasarkan data statistik dan jurnal penelitian (2001), 70% wanita mengalami
dismenore, walaupun tingkat kejadian dismenore cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama
dikenal, sampai sekarang patogenesisnya belum dapat diketahui.
Di Indonesia dari keseluruhan angka kejadian kasus nyeri haid, 54,89% diantaranya
merupakan dismenorea primer dan 9,36 % merupakan dismenorea sekunder. Gejala nyeri
haid terjadi pada perempuan usia produktif 3-5 tahun setelah haid pertama dan belum pernah
hamil. Nyeri haid primer sampai sekarang tidak jelas apa penyebabnya, tiba-tiba begitu
seorang gadis mulai menstruasi selalu disertai keluhan nyeri. Bukan nyeri sekedar mules tapi
jenis nyeri yang melilit hebat jika keluhan yang sama tidak berhenti setiap kali haid datang
itulah yang diogolongkan sebagai dismenorea primer (Hartanto, 2001).
Kurang lebih 50% wanita yang sedang haid mengalami dismenore 10% mempunyai
gejala yang hebat sehingga memerlukan istirahat ditempat tidur. Wanita yang menderita
dismenorea lebih banyak hari libur dan prestasinya kurang baik disekolah dibandingkan
dengan wanita yang tidak menderita dismenore (Yatim, 2001).
Nyeri saat haid tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya penanganan,
karena mungkin saja gejala endometriosis bisa mempersulit wanita untuk hamil. Semua haid
menimbulkan nyeri, namun yang tidak normal nyeri itu muncul menjelang menstruasi dan
semakin berat saat haid pertama maupun kedua. Upaya penanganan untuk mengatasi
dismenore ini ada beberapa terapi yang bisa dilakukan antara lain terapi hormonal yang
melibatkan dokter, terapi bahan alami serta mengikuti pola hidup sehat yang bisa dilakukan
sendiri. Pola hidup sehat tentu dapat dilakukan berupa asupan gizi seimbang, istirahat cukup
dan olah raga sesuai kebutuhan (Wahyu, 2004).
Menurut Baziad (2004), wanita Indoesia yang mengalami dismenore lebih banyak

mengatasinya dengan mengkonsumsi obat-obatan penghilang rasa nyeri yang beredar


dipasaran. Sebagian masyarakat mempunyai anggapan yang salah bahwa nyeri ini dapat
hilang dengan sendirinya apabila wanita yang bersangkutan menikah, sehingga mereka
membiarkan gangguan tersebut (Boy, 2004).
Seorang wanita yang berpengetahuan kurang tentang upaya penanganan dismenore
akan mudah terkena dibandingkan dengan wanita yang sudah mendapatkan penerangan
dengan baik tentang upaya penanganan terhadap dismenore, informasi yang diperoleh dapat
bersumber dari orang tua, guru, dokter (tenaga kesehatan) (Saraswati, 2008).

JUDUL III
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Melihat kebiasaan masyarakat terutama dikalangan ibu-ibu menggunakan penyedap
rasa pada masakan yang disajikan untuk keluarganya, dan kebanyakan ibu-ibu ataupun
wanita berprinsip saat memasak penggunaan penyedap rasa adalah hal yang wajib, karena
tanpanya maka masakan yang dibuat tidak akan terasa dan kurang nikmat. Ini merupakan
masalah kesehatan masyarakat, karena terlalu sering menggunakannya akan mengganggu
kesehatan masyarakat.
Pemakaian

monosodium glutamate (MSG)

dalam

masakan

dipercaya

dapat

meningkatkan cita rasa tersendiri. Namun, sensasi rasa nikmat dengan campuran MSG malah
akan menimbulkan masalah pada kesehatan. MSG merupakan zat aditif yang terdiri dari
garam dan asam glutamat. Kedua bahan ini bisa mengganggu kinerja sistem saraf otak.
Pemakaian MSG dalam dosis tinggi bahkan bisa mengakibatkan serangan epilepsi.
Walaupun sudah diketahui efek buruk dari MSG, namun belum banyak penelitian
yang mendukung studi ini. Sebagai bukti reaksi negatif pemakaian MSG, dapat diketahui dari
orang yang mengonsumsi zat aditif ini selama bertahun-tahun. Banyak di antara mereka yang
mengeluh sakit kepala, mual, jantung berdebar-debar, berkeringat, mati rasa, dan kelelahan.
Beberapa reaksi tersebut dikenal dengan gejala kompleks MSG. Gejala yang ditimbulkan
biasanya ringan, namun tetap saja mengganggu kesehatan.
Untuk menghindari dampak negatif dari MSG, kontrolah asupan MSG sejak dini. Jika
perlu, gunakan bumbu dapur yang lebih alami dan aman bagi tubuh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan ibu terhadap bahaya
penggunaan penyedap rasa pada masakan dan prilaku ibu menggunakan penyedap rasa pada
masakan.