Anda di halaman 1dari 10

Mengenal Proses Bisnis Pengeluaran Barang Impor Di Bidang Kepabeanan

Oleh: AHMAD DIMYATI Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai

Pendahuluan

Ada anggapan di masyarakat bahwa keberadaan Bea dan Cukai di pelabuhan

menghambat perdagangan internasional. Barang yang masuk dan keluar daerah pabean

mantu gue penguasa pelabuhan ”.
mantu gue penguasa pelabuhan
”.

(wilayah Indonesia) harus diperiksa oleh Bea dan Cukai. Hal ini menimbulkan cost dan

waktu yang terbuang. Bea dan Cukai dianggap institusi yang paling menentukan di

pelabuhan. Jika terjadi kemacetan di pelabuhan yang dituding Bea dan Cukai.

Ada anekdot, seorang tua yang membanggakan anak-menantunya kepada

temannya dengan mengatakan:

Seperti kita

ketahui di pelabuhan bukan hanya ada institusi pabean. Beberapa institusi lain yang terkait

dengan penanganan barang impor di pelabuhan antara lain: Administrator Pelabuhan,

Pelindo, perusahaan bongkar muat, Terminal Operator (TO), Pengusaha Tempat

Penimbunan Sementara (TPS). Bea dan Cukai hanya menangani penyelesaian kewajiban

pabean atas barang yang diimpor atau diekspor.

Apakah tugas Bea dan Cukai begitu ruwet? Direktur Jenderal Bea dan Cukai pada

era tahun 2000-an pernah mengatakan bahwa tugas Bea dan Cukai itu sederhana. Beliau

mengibaratkan seperti petugas jaga karcis di gedung bioskop. Orang yang akan masuk ke

gedung tersebut harus menyampaikan karcis masuk kepada penjaga pintu. Siapapun dia,

termasuk anaknya pemilik bioskop, tanpa memperlihatkan karcis masuk tidak akan diizinkan

masuk. Karena jika diizinkan masuk tanpa karcis masuk orang tersebut akan kesulitan

dimana dia akan duduk. Tiap karcis mempunyai nomor duduk masing-masing. Demikian

juga jika ada orang/pelajar SMP akan masuk ke gedung dengan memperlihatkan karcis

masuk, namun film yang diputar bukan untuk anak di bawah umur, petugas penjaga pintu

gedung tersebut tidak akan mengizinkan masuk walaupun anak tersebut menyampaikan

karcis masuk. Selanjutnya penjaga gedung bioskop tidak hanya memeriksa karcis masuk.

Demi keamanan gedung, orang yang memasuki gedung juga akan diawasi. Orang yang

membawa tas besar atau orang yang dicurigai akan menimbulkan keonaran di dalam

gedung juga tidak akan diizinkan masuk. Namun tidak semua orang dilakukan pemeriksaan.

Seperti kita ketahui bahwa core business Bea dan Cukai adalah melakukan pemeriksaan atas barang yang masuk atau keluar daerah pabean. Hal tersebut diatur dengan jelas dalam peraturan perundang-undangan tentang Kepabeanan. Namun pelaksanaan tugas tersebut dilakukan tidak sewenang-wenang. Pemeriksaan pabean dilakukan dalam rangka tugas pengawasan dengan mempertimbangkan faktor risiko. Unsur pelayanan merupakan hal yang ditonjolkan dalam tugas-tugas kepabeanan. Dari sudut penamaan kantor pabean sudah terlihat adanya unsur pelayanan, seperti Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai.

Untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan hambatan-hambatan dalam penyelesaian kepabeanan, pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah melakukan upaya-upaya yang cukup drastis sehingga bagi importir tertentu seakan-akan tidak ada pemeriksaan apapun di Bea dan Cukai. Disamping itu ada juga fasilitas-fasilitas kemudahan pelayanan lainnya, seperti: izin timbun di gudang importir, pelayanan segera, vooruitslag, prenotification, pelayanan khusus atas pengemas berulang (returnable packages). Dalam bahasan ini penulis membatasi bahasan pada proses bisnis penyelesaian dokumen impor, khususnya importasi melalui kargo baik di sea port maupun di air port.

melalui kargo baik di sea port maupun di air port . Apakah semua barang yang akan

Apakah semua barang yang akan diimpor dilakukan pemeriksaan pabean? Dalam ketentuan perundang-undangan Kepabeanan diatur bahwa pemeriksaan pabean dilakukan secara selektif. Artinya tidak semua importasi dilakukan pemeriksaan pabean. Ada importasi yang hanya diteliti dokumen pemberitahuannya saja; ada importasi yang diperiksa baik dokumen pemberitahuan maupun fisik barangnya; dan ada juga importasi yang tidak dilakukan pemeriksaan pabean sama sekali, baik penelitian dokumen maupun pemeriksaan fisik barang. Selektifitas pemeriksaan pabean tersebut dilakukan dengan menggunakan manajemen risiko. Pihak Bea dan Cukai memberikan kemudahan pelayanan tanpa mengabaikan faktor pengawasannya. Dalam implementasinya penyelesaian importasi dimaksud diterapkan berdasarkan sistem penjaluran, yaitu jalur hijau, jalur kuning, jalur merah, dan jalur Mitra Utama (MITA).

Pembahasan

Sesuai ketentuan dalam pasal 10B Undang-undang Kepabeanan ditetapkan bahwa semua barang yang akan diimpor untuk dipakai di dalam daerah pabean harus memenuhi kewajiban pabean. Kewajiban pabean itu berupa penyampaian dokumen pemberitahuan impor kepada pihak pabean dimana barang dibongkar, dan membayar bea masuk. Saat ini dokumen pemberitahuan pabean impor dikenal dengan Pemberitahuan Impor Barang (PIB)

yang ditetapkan sesuai Form BC 2.0. PIB adalah dokumen pemberitahuan pabean impor yang berisi informasi mengenai data pemberitahu, importir ataupun pemilik barang, data harga dan uraian jumlah/jenis barang, dan besarnya pungutan impor. Pengajuan PIB bersifat self assessment yang berarti pihak importir yang menyiapkan PIB dan dokumen pelengkap pabean lainnya yang wajib dilampirkan. Demikian juga importir melakukan perhitungan besarnya bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang wajib dibayar, dan penyetoran pungutan impor ke Kas Negara melalui Bank Devisa Persepsi ataupun Pos Persepsi.

Pembuatan PIB harus dilakukan berdasarkan dokumen pelengkap pabean. Dengan demikian seolah-olah PIB merupakan rekapitulasi dari dokumen pelengkap pabean. Pengisian data PIB harus berdasarkan data yang ada di dokumen pelengkap pabean. Dokumen pelengkap pabean antara lain berupa: invoice, packing list, Bill of Lading (B/L) atau Airway Bill (AWB), polis asuransi, perizinan terkait jika diperlukan, Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin (CoO) jika ada, foto copy Angka Pengenal Impor (API), Nomor Induk Kepabeanan (NIK) dan sebagainya. Namun demikian secara formal informasi yang mengikat dan digunakan oleh pabean adalah data yang disampaikan dalam dokumen PIB.

oleh pabean adalah data yang disampaikan dalam dokumen PIB. PIB diajukan ke Kantor Pabean salah satunya

PIB diajukan ke Kantor Pabean salah satunya melalui sistem Pertukaran Data Secara Elektronik (PDE). Masa kini hampir semua Kantor Pabean telah menerapkan sistem PDE dalam proses penyelesaian dokumen impor, kecuali kantor-kantor kecil yang masih menerapkan sistem manual. Setiap importir akan memperoleh program aplikasi PIB untuk dapat berhubungan dengan pihak Pabean. Dengan demikian komunikasi cukup dilakukan melalui komputer.

Proses bisnis

Langkah pertama yang ditempuh oleh importir atau PPJK (Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan) dalam pengurusan penyelesaian dokumen impor adalah mengumpulkan dokumen impor terkait berupa invoice, packing list, B/L dan dokumen pelengkap pabean lainnya yang akan dilampirkan pada PIB. Selanjutnya importir mengisi data pada aplikasi PIB di komputer importir/PPJK. Semua data pada kolom PIB harus diisi dengan lengkap dan benar hingga data PIB ready untuk dikirim ke Sistem Komputer Pelayan Bea dan Cukai (SKP).

Gambar 1 Penyiapan PIB untuk dikirim melalui PDE

Invoice p.list dsb
Invoice
p.list
dsb
PIB SKP Kantor Pabean Kantor Importir
PIB
SKP
Kantor Pabean
Kantor Importir

Penyampaian data PIB ke SKP baru dapat dilaksanakan jika PIB sudah diisi dengan lengkap dan benar termasuk pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor, serta pemenuhan persyaratan impor dalam hal barang terkena ketentuan larangan dan pembatasan atau tataniaga impor. Begitu juga PIB harus dilengkapi dengan persetujuan pemberian fasilitas jika impor barang tersebut mendapatkan fasilitas pabean berupa pembebasan atau keringanan bea masuk termasuk juga fasilitas kemudahan pelayanan seperti prenotification (penyerahan PIB sebelum pengangkut menyampaikan manifest kapal) dan sebagainya.

Gambar 2 Proses penyampaian dokumen PIB

INSW
INSW

BANK

DEVISA

cusdec
cusdec
dok kap
dok
kap
PIB SKP cusres = dokumen pelengkap pabean (invoice, packinglist, B/L dsb) = Indonesia Nasional Single
PIB
SKP
cusres
= dokumen pelengkap pabean (invoice, packinglist, B/L dsb)
= Indonesia Nasional Single Window
= customs declaration
= customs respond
= Sistem Komputer Pelayanan Bea dan Cukai

Keterangan:

Dokkap

INSW

Cusdec

Cusres

SKP

Setelah pembuatan PIB pada aplikasi PIB, importir membayar pungutan impor

melalui Bank Devisa Persepsi (saat ini hampir semua bank merupakan bank devisa

persepsi) dan menerima tanda bukti penyetoran berupa Surat Setoran Pabean, Cukai, dan

pajak dalam rangka impor (SSPCP). Pungutan impor tersebut meliputi bea masuk, PPN,

PPn.impor (jika ada), PPh pasal 22 impor. Jika atas barang yang diimpor terkena Bea

Masuk Anti Dumping atau Bea Masuk Tindakan Pengamanan (Safeguard), maka

pembayarannya dilakukan terpisah dengan menggunakan formulir PPBMAD

(Pemberitahuan Pembayaran Bea Masuk Anti Dumping) dan formulir PPBMTP

(Pemberitahuan Pembayaran Bea Masuk Tindakan Pengamanan). Bank akan mengirimkan

konfirmasi pembayaran (credit advice) ke SKP.

Langkah berikutnya importir mengirim data PIB (customs declaration) melalui PDE

ke SKP Bea dan Cukai. Data ini diambil oleh INSW yang akan mengkonfirmasi apakah atas

importasi tersebut memerlukan izin dari instansi terkait. Dalam hal barang termasuk dalam

kategori lartas dan sudah ada izinnya data diteruskan ke SKP, jika belum ada izinnya akan

diinformasikan kepada importir untuk pengurusannya. Dengan demikian data PIB yang

masuk ke SKP sudah memperoleh credit advice dari Bank bahwa pungutan impor sudah

dibayar; dan sudah memenuhi persyaratan izin impor atau rekomendasi dari instansi terkait dalam hal barang impor terkena ketentuan lartas atau tataniaga impor.

SKP akan meneliti data yang disampaikan oleh importir tanpa campur tangan pejabat Bea dan Cukai. SKP ini disebut sebagai intelligent computer karena bisa meneliti dan mengambil keputusan tanpa campur tangan pejabat BC. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan data yang ada di SKP, profil importir serta profil komoditi barang yang diimpor. Selanjutnya SKP akan memberikan respon (customs respond) kepada importir. Respon SKP dapat terjadi dalam hitungan menit. Respon SKP bisa terdiri dari:

-

-

-

-

Surat Pemberitahuan Penolakan (SPP).

Pemberian Nomor register/penerimaan dokumen. Penetapan Jalur. Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).
Pemberian Nomor register/penerimaan dokumen.
Penetapan Jalur.
Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).

Respon pada sistem aplikasi pelayanan pabean dapat berupa penolakan data PIB dalam hal:

a). data PIB tidak diisi dengan lengkap dan benar; b). belum ada konfirmasi pembayaran (credit advice) dari bank; b). importir belum melunasi utang Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan/atau denda dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal SPTNP; c). importir belum melunasi utang Bea Masuk, Cukai, dan PDRI melewati jatuh tempo pelunasan pembayaran berkala; d). data nomor B/L, AWB, atau nomor pengajuan yang berulang; e). kode valuta asing tidak tercantum dalam data NDPBM dan/atau pos tariff tidak tercantum dalam BTKI; f). importir belum menyerahkan hardcopy pemberitahuan pabean atau dokumen pelengkap pabean yang dipersyaratkan; g). importir belum teregistrasi pada importasi yang kedua; dan/atau h). barang impor termasuk barang larangan.

Respon juga dapat berupa Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB), atau berupa Surat Pemberitahuan Jalur atau berupa permintaan Informasi Nilai Pabean (INP). Penetapan jalur oleh SKP dapat berupa penetapan jalur hijau, jalur kuning atau jalur merah. Pada penetapan jalur hijau barang impor dapat dikeluarkan lebih dahulu dan penelitian dokumennya dilakukan kemudian. Pada penetapan jalur kuning sebelum barang impor diizinkan keluar terlebih dahulu dilakukan penelitian dokumennya. Sedangkan pada penetapan jalur merah barang impor baru dapat diizinkan keluar setelah dilakukan

pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik barang impor. Terhadap importir yang telah ditetapkan sebagai importir dengan kategori MITA sistem akan menetapkan jalur MITA. Atas penetapan jalur MITA PIB tidak dilakukan pemeriksaan pabean, baik penelitian dokumen maupun pemeriksaan fisik barang. Selengkapnya penyelesaian penetapan jalur adalah sebagai berikut:

1). Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Hijau Dalam hal importasi ditetapkan Jalur Hijau, importir akan menerima respon dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang. Paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal penerbitan SPPB importir wajib menyerahkan hardcopy PIB, dokumen pelengkap pabean, dan SSPCP kepada Kantor Pabean; Selanjutnya berkas PIB dan dokumen pelengkap pabeannya beserta tanda bukti bayar dilakukan penelitian oleh pihak pabean. Dalam hal hasil penelitian dokumen diputuskan sesuai/benar, dokumen PIB disimpan sebagai file. Namun jika hasil penelitian dokumen menimbulkan kurang bayar bea masuk, Pejabat Pabean menerbitkan SPTNP kepada importir untuk dilunasi. Jika dalam waktu 60 hari tagihan tidak dibayar importir akan terkena blokir.

60 hari tagihan tidak dibayar importir akan terkena blokir. 2). Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Kuning

2). Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Kuning Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Kuning importir akan menerima dan mencetak respons jalur kuning. Atas respon tersebut importir menyiapkan dan menyerahkan hardcopy PIB dan lampirannya berupa dokumen pelengkap pabean, dan SSPCP kepada pihak pabean dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal respon Jalur Kuning. Dalam hal hasil penelitian dokumen PIB ditemukan bahwa barang yang diimpor merupakan barang larangan atau pembatasan maka Pejabat Pabean akan menyampaikan Nota Pemberitahuan setentangnya. Dalam hal hasil penelitian dokumen menimbulkan kurang bayar bea masuk, Pejabat Pabean menerbitkan SPTNP kepada importir. Atas penetapan jalur kuning tidak dilakukan pemeriksaan fisik. Namun jika pihak pabean dapat meminta tambahan penjelasan uraian barang. Jika demikian importir wajib menyampaikan penjelasan tambahan uraian barang. Jika diperlukan contoh barang, importir akan menerima permintaan pengambilan contoh barang dari Pejabat Pabean. Importir mengajukan permohonan pengambilan contoh barang dan pengambilan contoh dilakukan bersama dengan pejabat pabean. Selanjutnya untuk PIB dengan penetapan Jalur Kuning yang telah selesai diproses, importir akan menerima respon SPPB dan selanjutnya mencetak SPPB untuk kepentingan pengeluaran barang dari pelabuhan.

3). Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Merah Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Merah importir akan menerima dan mencetak respon Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM). Atas respon tersebut importir wajib menyerahkan hardcopy PIB beserta dokumen pelengkap pabean, kepada Kantor Pabean, paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM. Dalam hal jangka waktu 3 hari tersebut dilampaui dan importir tidak mengajukan permohonan perpanjangan batas waktu penetapan pemeriksaan, maka atas importasi tersebut dapat diterbitkan Instruksi Pemeriksaan Jabatan. Barang dapat diperiksa oleh pihak pabean dengan resiko ditanggung importir. Importir menyiapkan barang yang akan dilakukan pemeriksaan fisik, dan turut menyaksikan pemeriksaan barang. Apabila dari hasil penelitian ditemukan bahwa barang yang diimpor merupakan barang larangan atau pembatasan maka pihak pabean akan menyampaikan Nota Pemberitahuan setentangnya. Dalam hal hasil penelitian dokumen menimbulkan keraguan atas pemberitahuan nilai pabean pihak pabean akan mengirimkan INP kepada importir. Importir akan menerima respon dan mencetak permintaan informasi tentang Nilai Pabean, dan menyerahkan bukti-bukti kebenaran Nilai Pabean/deklarasi nilai pabean (DNP) kepada pihak pabean. Selanjutnya untuk PIB Jalur Merah yang telah selesai diproses dan telah memenuhi semua persyaratan, importir akan menerima respon SPPB dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang.

respon SPPB dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang. 4). Pengajuan dokumen oleh importir Mitra Utama (MITA)

4). Pengajuan dokumen oleh importir Mitra Utama (MITA) Berbeda dengan penetapan jalur yang telah diuraikan di atas, terhadap importir dengan reputasi sangat baik diperlakukan khusus berupa tidak dilakukan pemeriksaan pabean

atas importasi yang dilakukannya. Penetapan jalur atas importir tersebut dikenal dengan jalur MITA. Artinya terhadap importir penerima fasilitas jalur MITA tidak dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan dokumen. Dengan demikian atas pengajuan dokumen impor respon yang diterima selalu SPPB. Importir tidak diwajibkan menyerahkan dokumen impor berupa hardcopy PIB (paperless). Namun untuk kepentingan pengawasan itu importir diminta untuk menyampaikan laporan bulanan kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client coordinator), berupa:

a) rekapitulasi importasi setiap 1 (satu) bulan dalam bentuk softcopy;

b) penyelesaian PIB impor sementara, PEB re-ekspor, dan PIB re-impor;

c) rekapitulasi (realisasi dan saldo) importasi yang mendapatkan fasilitas pembebasan atau keringanan;

d) rekapitulasi importasi yang terkait dengan kuota tataniaga;

e) rekapitulasi PIB .

Selain itu terhadap importasi yang memerlukan izin dari instansi terkait, untuk kepentingan pengawasan, importer tersebut masih diminta untuk menyerahkan dokumen pelengkap pabean atas PIB-PIB bulan sebelumnya kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client coordinator), berupa: (1) dokumen yang dijadikan dasar pembebasan/keringanan, atau fasilitas lainnya misalnya Form D, SKB PPh Ps. 22; dan (2) perijinan dari instansi terkait. Terhadap importir jalur MITA non prioritas yang mengimpor barang tertentu seperti impor sementara, barang re-impor dan barang impor yang ditetapkan untuk diperiksa, dilakukan pemeriksaan fisik dengan diterbitkan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Fisik (SPPF). Prosedur atas PIB yang diterbitkan SPPF sama dengan prosedur penetapan jalur merah. SPPF ini merupakan izin pengeluaran barang sekaligus izin pemeriksaan fisik barang di lokasi importir.

sekaligus izin pemeriksaan fisik barang di lokasi importir. Penutup DJBC telah melakukan reformasi yang meliputi antara

Penutup

DJBC telah melakukan reformasi yang meliputi antara lain penyederhanaan proses bisnis dengan penggunaan IT yang dikenal dengan Electronic Data Interchange (EDI) atau dikenal juga sebagai Pertukaran Data Secara Elektronik (PDE). Sistem ini menjanjikan proses pelayanan/penyelesaian dokumen PIB yang lebih sederhana, singkat dan murah. Dengan sistem ini importir membuat dan menyampaikan PIB dari tempat domisilinya dan mendapatkan respon dalam waktu yang tidak terlalu lama tanpa harus datang ke Kantor Pabean. Pada importir yang dikategorikan sangat baik (importir MITA) bahkan proses penyelesaian dokumen paperless langsung mendapatkan respon persetujuan impor. Jika semua persyaratan dipenuhi proses penyelesaian pemberitahuan pabean hanya memakan waku dalam hitungan menit. Kecuali jika importir ditetapkan jalur merah penyelesaiannya hingga 3 hari. Dengan sistem PDE tersebut diharapkan pelayanan pabean akan menjadi lebih lancar. Penetapan jalur merah juga diharapkan menjadi lebih kecil. Namun untuk mendukung hal tersebut hendaknya direspon oleh pengguna jasa kepabeanan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

KEPUSTAKAAN

Republik Indonesia (2006). Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan

Atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang DJBC.

Kepabeanan. Jakarta.

Kementerian Keuangan RI (2007), Keputusan Menteri Keuangan Nomor 144/KMK.04/2007 tentang Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (2008), Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 42/BC/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.

WBC edisi 455, Oktober 2012, Perjalanan Reformasi DJBC.

Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai. WBC edisi 455, Oktober 2012, Perjalanan Reformasi DJBC. 10