Anda di halaman 1dari 44

RESPONSI

ILMU KEDOKTERAN JIWA


Hyacintha P.
2009.04.0.0122
Pembimbing : Dr. dr. Tuti Herwini, Sp.KJ

IDENTITAS PENDERITA
Nama
: Chusnul Chotimah
Umur
: 44 tahun
TTL
: Surabaya, 15 Juni 1970
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Agama
: Islam
Status
: Kawin
Suku Bangsa : Ayah : Jawa
Ibu : Jawa
Bangsa : Indonesia
Bahasa : Indonesia dan Jawa
Alamat
: Jalan KM Salim RT 03 RW 02 No 12 Sidoarjo
Tanggal MRS : 19 Desember 2013

Autoanamnesa
Autoanamnesa I dilakukan pada tanggal 23 Mei 2014, pukul
10.00 WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.
Autoanamnesa II dilakukan pada tanggal 26 Mei 2014,
pukul 10.00 WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.
Autoanamnesa III dilakukan pada tanggal 28 Mei 2014,
pukul 10.00 WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.
Heteroanamnesa
Heteroanamnesa I dilakukan pada tanggal 29 Mei 2014,
pukul 14.30 WIB di rumah ibu penderita di Jalan Badik 2
no.1 Sidoarjo.
Heteroanamnesa II dilakukan pada tanggal 30 Mei 2014,
pukul 17.00 WIB di rumah suami penderita di Jalan KM
Salim RT 03 RW 02 No 12 Sidoarjo.

RIWAYAT PSIKIATRI
Keluhan Utama
Marah-marah dan membuang barang-barang.
Keluhan Tambahan
Menyendiri, mendengar bisikan-bisikan.
Riwayat Penyakit Sekarang
Autoanamnesa I dilakukan pada tanggal 23 Mei 2014, pukul 10.00
WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.

Penderita tampak duduk sendiri di kamar ruang A Paviliun VI RSAL


dr. Ramelan Surabaya. Penderita memakai daster bunga-bunga dan
rambut penderita disisir rapi. Pemeriksa menyapa penderita dengan
ucapan selamat siang, penderita juga membalas dengan ucapan siang.
Pemeriksa mengajak penderita memulai percakapan dengan terlebih
dahulu memperkenalkan diri pada penderita. Penderita kelihatan agak
bingung dan takut. Pemeriksa memulai pertanyaan dengan menanyakan
nama penderita. Penderita menjawab namanya Chusnul Chotimah.
Pemeriksa menanyakan umur penderita yang dijawab dengan benar
beserta tempat dan tanggal lahirnya. Pemeriksa menanyakan nama
kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya kemudian dijawab dengan
benar dan dapat menyebutkan semua saudaranya

beserta usia dan pekerjaannya. Pemeriksa menanyakan apakah penderita


sudah menikah, penderita menjawab bahwa dia sudah menikah selama 6
tahun, tetapi belum mempunyai anak. Penderita juga dapat menyebutkan
nama suaminya dengan benar.
Pemeriksa menanyakan pendidikan terakhir penderita yaitu SMA di
Sidoarjo. Semua pendidikan penderita dapat disebutkan dengan benar.
Pemeriksa lalu menanyakan apakah penderita bekerja. Penderita menjawab
kalau sekarang hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi dulu setelah lulus
SMA, penderita bekerja membantu kakaknya untuk menjual sepatu,
penderita juga diminta kakaknya untuk membantu mengurus
keponakannya. Pada umur 28 tahun, penderita juga pernah melamar kerja
25 kali di perusahaan yang berbeda, tetapi tidak diterima. Pemeriksa
menanyakan kenapa tidak ada yang mau menerima penderita, penderita
menjawab karena masalah umur (sudah terlalu tua).
Pemeriksa menanyakan kenapa penderita dimasukkan ke Paviliun VI
RSAL dr. Ramelan Surabaya, penderita menjawab karena masalah keluarga,
setelah ditanya lebih lanjut, penderita bercerita bahwa saat itu penderita
setengah sadar lalu marah-marah dan membuang barang-barang. Penderita
mengatakan bahwa semua barang-barang penderita dibuang ke sungai di
belakang rumahnya. Pemeriksa menanyakan kenapa penderita marahmarah, tetapi penderita hanya menjawab karena masalah keluarga dan tidak
mau menjelaskan lebih lanjut. Pemeriksa kemudian mohon diri kepada
penderita karena penderita tampak tidak nyaman.

Autoanamnesa II dilakukan pada tanggal 26 Mei 2014, pukul 10.00


WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.
Penderita berada di dalam kamar sedang duduk dan mengobrol
dengan teman sekamarnya. Lalu pemeriksa mendatangi dan mengajak
penderita mengobrol. Pemeriksa menanyakan apakah penderita sudah
mandi dan makan, penderita mengangguk dan menjawab sudah.
Pemeriksa menanyakan bagaimana kondisinya hari ini, penderita
diam sesaat lalu penderita bertanya apakah penderita bisa pulang.
Pemeriksa mengatakan kepada pasien untuk sabar dan menjalani
pengobatan supaya bisa lebih baik. Pemeriksa bertanya apakah
penderita minum obat secara teratur dan bagaimana rasanya setelah
minum obat. Penderita menjawab bahwa minum obat membuat
ngantuk, tetapi penderita tidak mau membiasakan diri untuk tidur
siang karena nanti kalau sudah pulang di rumah, mau membantu ibu
berjualan.
Pemeriksa menanyakan alamat rumah penderita kemudian
penderita menuliskan di selembar kertas beserta denah menuju
rumahnya. Penderita menanyakan alasan pemeriksa menanyakan
alamat rumahnya. Pemeriksa mengatakan bahwa pemeriksa mau
mengunjungi rumahnya, untuk mengetahui kondisi lingkungan di
sekitar rumah penderita.

Penderita lalu berpesan kepada pemeriksa, apabila


pemeriksa mengunjungi rumahnya, pemeriksa diminta untuk
menanyakan kenapa suaminya belum menjenguknya selama 2
bulan. Pemeriksa menanyakan kepada penderita tentang
pekerjaan suaminya. Pemeriksa menjawab bahwa suaminya
hanya berada di rumah, kerjanya sekarang hanya menjaga
parkiran sepeda dan menyewakan kos-kos an. Penderita
menjelaskan bahwa dulu sebelum menikah, suaminya bekerja
sebagai tukang jual ayam. Tetapi beberapa bulan setelah
menikah, suaminya terkena stroke dan berjalan pincang
sehingga tidak bisa bekerja seperti dulu lagi.
Pemeriksa lalu menanyakan kenapa dan oleh siapa
penderita dimasukkan ke Paviliun VI RSAL dr. Ramelan
Surabaya, penderita menjelaskan bahwa penderita dibawa oleh
keponakan penderita karena setengah sadar dan marah-marah.
Pemeriksa menanyakan kenapa penderita bisa dibawa oleh
keponakan penderita, padahal penderita tinggal bersama dengan
suami penderita. Penderita tidak menjawab dan diam saja.

Pemeriksa kemudian menanyakan sejak kapan penderita


marah-marah. Penderita menjelaskan bahwa 2 minggu sebelum
dimasukkan ke RSAL, penderita sudah setengah sadar dan
marah-marah serta membuang barang-barang. Pemeriksa
menanyakan barang apa saja yang dibuang, penderita menjawab
bahwa semua barang dirumahnya dibuang ke sungai, suratsurat, wajan, panci, baju-baju semua dibuang. Penderita juga
mengatakan kalau penderita sudah 2 minggu tidak minum obat
karena obatnya habis dan tidak dibelikan obat oleh suaminya.
Pemeriksa menanyakan kenapa suaminya tidak membelikan
obatnya, penderita terdiam sebentar dan mengatakan karena
suaminya tidak punya uang tetapi malu apabila meminta uang
dari kakak penderita. Lalu pemeriksa menanyakan alasan
penderita marah-marah, tetapi penderita hanya menjawab
karena masalah keluarga, penderita tidak bisa menjelaskan
karena tidak mau membuka aib suaminya, penderita masih
ingin menjalin hubungan baik dengan suaminya.

Autoanamnesa III dilakukan pada tanggal 28 Mei 2014,


pukul 10.00 WIB di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan
Surabaya.
Penderita berada di luar kamarnya sedang duduk sendirian.
Lalu pemeriksa mendatangi dan mengajak penderita
mengobrol. Pemeriksa menanyakan apakah penderita sudah
mandi dan makan, penderita menjawab sudah dan
menanyakan apakah pemeriksa merasa bahwa penderita bau
karena menanyakan hal tersebut. Pemeriksa menjelaskan
bahwa pemeriksa menanyakan hal tersebut bukan karena
penderita bau.
Pemeriksa menanyakan bagaimana kondisinya hari ini,
penderita menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Pemeriksa
menanyakan sudah berapa kali penderita dimasukkan ke
Paviliun VI RSAL dr. Ramelan Surabaya, penderita menjawab
ini sudah yang ke-4 kali nya. Pemeriksa menanyakan mulai
kapan penderita sering marah-marah dan dimasukkan ke
Paviliun VI, penderita menjawab pertama kali dimasukkan ke
Paviliun VI mulai tahun 2011 sebanyak 2 kali, lalu pada tahun
2012, lalu tahun 2013.

Pemeriksa menanyakan apakah di rumah penderita minum


obat secara teratur, penderita menjawab bahwa di rumah
penderita tidak minum obat secara teratur karena kalau
obatnya habis, suaminya tidak membelikan obat karena tidak
punya uang. Penderita juga menjelaskan kalau setiap kali tidak
minum obat, penderita akan setengah sadar dan menjadi
marah-marah.
Pemeriksa menanyakan apakah penderita pernah melihat /
mendengar hal-hal yang orang lain tidak bisa lihat / dengar
sebelumnya. Penderita menjawab dengan suara pelan dan
hampir tidak terdengar jelas. Setelah menanyakan kembali,
penderita bilang bahwa penderita pernah mendengar, tetapi
tidak pernah melihat. Ketika ditanya lebih lanjut apa yang
penderita dengar, penderita menjelaskan bahwa ia mendengar
bisikan-bisikan, tetapi penderita tidak mau menjelaskan lebih
lanjut sepeti apa bisikan yang didengarnya. Pemeriksa lalu
menanyakan kenapa penderita dibawa ke Paviliun VI RSAL dr.
Ramelan Surabaya, penderita diam sesaat dan mengatakan
bahwa ada masalah keluarga dan tidak ingin menjelaskannya.

Pemeriksa menanyakan apakah keluarga penderita ada


yang marah-marah dan membuang barang-barang seperti
penderita, penderita menjelaskan bahwa kakaknya juga punya
gejala yang sama. Penderita menjelaskan bahwa pada saat
penderita kelas 6 SD, penderita juga pernah dimarahi oleh
kakak penderita karena tidak mau memberi uang pada kakak
penderita. Pada saat kelas 2 SMP, kakak penderita (Subur,
kakak ke-5 penderita) juga pernah membenturkan kepalanya
10 kali ke tembok. Setelah itu, penderita dibawa untuk MRI di
RSUD dr.Soetomo dan tidak didapatkan trauma kepala.
Pemeriksa
menanyakan
alasan
kakak
penderita
membenturkan kepalanya ke tembok, penderita menjawab
tidak tahu. Pemeriksa menanyakan apakah kakak penderita
pernah dimasukkan juga ke Paviliun VI RSAL dr. Ramelan
Surabaya, penderita menjawab tidak pernah karena kakak
penderita tidak mau dan setelah dibiarkan marahnya akan
reda sendiri. Pemeriksa menanyakan apakah penderita takut
kepada kakak penderita, penderita menjawab dengan suara
pelan iya.

Heteroanamnesa I dilakukan pada tanggal 29 Mei 2014, pukul


14.30 WIB di rumah ibu penderita di Jalan Badik 2 no.1
Sidoarjo.
Pemeriksa tiba dirumah ibu penderita, ibu Siti Asijah pada hari
kamis, 29 Mei 2014 pukul 14.30 WIB. Pemeriksa disambut oleh ibu
penderita, ibu Siti Asijah dan kakak penderita, ibu Tri Yuli Astuti,
yang kebetulan berada di rumah ibu penderita. Pemeriksa kemudian
dipersilahkan duduk. Ibu penderita, ibu Siti Asijah menanyakan
bagaimana kondisi penderita saat ini. Pemeriksa menjelaskan bahwa
saat ini kondisi penderita sudah tenang, namun masih sering
menyendiri dan kurang bersosialisasi dengan orang lain maupun
pasien lainnya.
Pemeriksa menanyakan bagaimana keadaan penderita sebelum
dibawa ke RSAL dr. Ramelan Surabaya, keluarga penderita
menjelaskan bahwa penderita sangat berubah sejak penderita
menikah. Keluarga penderita menjelaskan bahwa setelah menikah,
penderita tinggal bersama dengan suaminya, tetapi setiap kali
penderita marah-marah, penderita selalu dibawa oleh suaminya ke
rumah ibu penderita. Keluarga penderita tidah tahu apa yang
menyebabkan penderita marah-marah. Keluarga penderita meminta
pemeriksa untuk menanyakan langsung kepada suaminya.

Pemeriksa menanyakan bagaimana keadaan penderita saat dibawa


oleh suaminya ke rumah ibunya, keluarga penderita menjelaskan
bahwa pada waktu penderita dibawa ke rumah ibunya, keadaan
penderita sangat buruk, penampilan penderita sangat tidak rapi.
Keluarga penderita menjelaskan bahwa penderita pertama kali
penderita dibawa oleh suaminya ke rumah ibunya pada tahun 2011.
Setelah beberapa hari di rumah ibunya, penderita masih marahmarah dan membuang barang-barang di rumah ibunya. Setelah itu,
penderita dibawa ke RSAL dr. Ramelan Surabaya.
Penderita dirawat selama 3 bulan, setelah itu penderita pulang
ke rumah ibu penderita. 1 bulan di rumah ibu penderita, penderita
pulang ke rumah suaminya. Pada tahun 2011 sudah 2 kali
penderita dirawat di RSAL dr.Ramelan Surabaya. Pada tahun 2012,
suami penderita membawa penderita ke rumah ibu penderita
dalam kondisi yang sama seperti pada tahun 2011. Kemudian
keluarga penderita membawa penderita ke RSAL dr.Ramelan
Surabaya. Penderita dirawat di RSAL dr. Ramelan Surabaya selama
3 bulan, setelah itu penderita pulang ke rumah ibu penderita. 2
minggu di rumah ibu penderita, penderita pulang ke rumah suami
penderita karena ada masalah kecil dengan ibu penderita.

Pada tahun 2013 terjadi hal yang lebih buruk, penderita datang
sendiri ke rumah ibu penderita dalam keadaan tidak memakai
baju. Keluarga penderita kemudian membawa penderita ke RSAL
dr.Ramelan Surabaya dan dirawat sampai sekarang.
Pemeriksa menanyakan bagaimana penderita semasa kecil,
ibu penderita menjelaskan bahwa anaknya memang tipe anak
yang pemalu dan tertutup tetapi penderita sangat rajin, bahkan
selalu mendapat ranking di sekolahnya. Penderita juga anak yang
baik dan mempunyai teman dekat sewaktu sekolah. Kakak
penderita juga menjelaskan bahwa sewaktu kecil penderita
memang sangat disayang oleh ayahnya. Ketika ayah penderita
meninggal (sewaktu penderita umur 20 tahun), penderita menjadi
sangat tertutup dan seperti kehilangan kasih sayang.
Ibu penderita menjelaskan lagi bahwa sebenarnya anaknya
pernah marah-marah dan membuang barang-barang sewaktu
masih SMP, tetapi tidak separah setelah menikah, lalu dibawa ke
psikiatri di RSUD dr.Soetomo. Ibu penderita tidak tahu penyebab
anaknya marah-marah.

Sejak saat itu, penderita minum obat secara teratur dan rutin
kontrol selama 3 bulan. Tetapi setelah menikah, ibu penderita
tidak tahu apakah penderita minum obat secara teratur.
Pemeriksa menanyakan apakah ada keluarga penderita yang
pernah marah-marah dan dibawa ke psikiatri seperti penderita,
keluarga penderita menjelaskan bahwa kakak penderita juga
sering marah-marah tapi tidak mau dibawa ke psikiatri. Tetapi
kakak penderita tidak membuang barang-barang seperti
penderita. Keluarga penderita juga menjelaskan bahwa
saudara dari ibu penderita juga mengalami hal yang sama
dengan penderita. Tetapi saudara dari ibu penderita minum
obat secara teratur sehingga tidak pernah dirawat di RS.
Pemeriksa
menanyakan
apakah
penderita
pernah
menceritakan kepada keluarga penderita apabila penderita
melihat atau mendengar hal-hal yang tidak diketahui oleh
orang lain, tetapi keluarga penderita mengatakan bahwa
penderita tidak pernah bercerita mengenai hal tersebut.
Karena sudah sore, pemeriksa mohon diri dan berpamitan
kepada keluarga penderita.

Heteroanamnesa II dilakukan pada tanggal 30 Mei


2014, pukul 17.00 WIB di rumah suami penderita di
Jalan KM Salim RT 03 RW 02 No 12 Sidoarjo.
Pemeriksa tiba dirumah suami penderita, bapak
Muhaimin pada hari jumat, 30 Mei 2014 pukul 17.00 WIB.
Pemeriksa disambut oleh suami penderita, bapak Imam
Muhaimin
dengan
ramah.
Pemeriksa
kemudian
dipersilahkan duduk. Suami penderita, bapak Imam
Muhaimin menanyakan bagaimana kondisi penderita saat
ini. Pemeriksa menjelaskan bahwa saat ini kondisi penderita
sudah tenang, tidak marah-marah namun masih sering
menyendiri dan kurang bersosialisasi dengan orang lain
maupun pasien lainnya.
Pemeriksa menanyakan kepada suami penderita kenapa
penderita dibawa ke Paviliun VI RSAL dr.Ramelan
Surabaya, suami penderita menjawab bahwa penderita
marah-marah dan membuang barang-barang di rumah
sampai barang-barang di rumah habis semua.

Suami penderita juga menjelaskan bahwa yang membawa


penderita ke RSAL dr.Ramelan Surabaya adalah keponakan
penderita, karena pada waktu itu penderita lari ke luar rumah
dengan tidak memakai baju, sampai dilihat oleh semua
tetangga. Suami penderita sangat malu dan mengikuti
penderita. Ternyata, penderita pulang ke rumah orang tua
penderita. Suami penderita mengatakan kalau penderita naik
sepeda sampai ke rumah orang tua penderita.
Setelah sampai di rumah orang tua penderita, suami
penderita lalu kembali ke rumahnya. Suami penderita
mengetahui bahwa penderita dimasukkan ke Paviliun VI RSAL
dr.Ramelan Surabaya dari keponakan penderita. Suami
penderita mengakui bahwa sejak 2 minggu sebelum dibawa ke
Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya, penderita sudah
sering marah-marah, sehingga suami penderita harus
mengikat penderita di tempat tidur karena suami penderita
malu akan keadaan penderita. Pemeriksa menanyakan kenapa
penderita marah-marah dan membuang barang-barang, suami
penderita menjawab bahwa dia tidak tahu penyebab penderita
marah-marah.

Tetapi memang setiap hari setelah menikah, penderita


selalu curiga dan marah-marah apabila suami penderita
mengobrol dengan wanita lain. Suami penderita mengaku
bahwa penderita mencurigai dirnya berselingkuh. Padahal,
menurut pengakuan suami penderita, suami penderita hanya
mengobrol dengan wanita yang akan kos di tempatnya maupun
dengan wanita yang menitipkan sepeda di rumahnya. Menurut
suami penderita, penderita juga sering marah-marah dengan
penghuni kos wanita di rumahnya. Suami penderita tidak tahu
penyebab penderita marah-marah karena ketika penderita
ditanya, penderita hanya diam saja.
Pemeriksa menanyakan sejak kapan suami penderita
melihat perubahan pada diri penderita yang sering marahmarah, suami penderita menjawab bahwa setelah menikah
memang penderita sering marah-marah.Tetapi suami
penderita hanya diam saja.

Pemeriksa menanyakan apakah suami penderita tahu


tentang penyakit penderita sebelum menikah, suami
penderita menjawab bahwa dia tidak tahu karena
penderita tidak pernah cerita dan selama pacaran
penderita tidak pernah menunjukkan sikap yang aneh
dan marah-marah seperti setelah menikah. Pemeriksa
menanyakan apakah setelah menikah, penderita selalu
mengkonsumsi obat-obatan secara teratur, suami
penderita menjawab bahwa penderita selalu minum
obat secara teratur, tetapi suami penderita tidak tahu
obat apa yang diminum oleh penderita. Suami penderita
mengira penderita hanya minum vitamin untuk
kekuatan tubuh. Suami penderita baru mengetahui
bahwa penderita mengalami masalah kejiwaan setelah
tahun 2011, setelah penderita dibawa oleh kakak
penderita di Paviliun VI RSAL dr.Ramelan Surabaya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Gangguan Psikiatrik
MRS di RSUD dr.Soetomo pada tahun 1984 (selama 1 bulan).
2 kali MRS di RSAL dr.Ramelan Surabaya pada tahun 2011
(selama 3 bulan).
MRS di RSAL dr.Ramelan Surabaya pada tahun 2012 (selama 3
bulan).
Riwayat Gangguan Medik
Riwayat pembedahan, trauma kepala, penyakit SSP, tumor dan
kejang : disangkal.
Hipertensi
: disangkal.
Diabetes melitus : disangkal.
Asma
: disangkal.
Gangguan jiwa
: ditemukan.
Riwayat Penggunaan Obat-Obatan Terlarang dan Alkohol
Penderita tidak pernah memakai obat-obatan terlarang dan
minum-minuman beralkohol.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Gangguan Psikiatrik
Ditemukan : Saudara ibu dan kakak penderita.
Riwayat Gangguan Medik
Riwayat pembedahan, trauma kepala, penyakit SSP, tumor dan
kejang : disangkal.
Hipertensi
: ditemukan (ibu penderita).
Diabetes melitus : disangkal.
Asma
: disangkal.
Penyakit jantung : ditemukan (ayah penderita).
Gangguan jiwa
: ditemukan (saudara ibu dan kakak penderita).
Riwayat Sosial dan Riwayat Hidup
Penderita lahir di Surabaya tanggal 15 Juni 1970.
Penderita adalah anak dari Tn. Hadi Purnomo Soegijat (alm), 56
tahun, pensiunan TNI-AL dan Ny. Siti Asijah, 72 tahun, ibu rumah
tangga.
Penderita anak ke-6 dari 6 bersaudara.

Saudara pertama

Nama

: Agus Susilo Utomo

Umur

Jenis kelamin: Laki-laki

Status : Menikah

Pekerjaan

: 54 tahun

: Pegawai Negeri Sipil

Saudara kedua

Nama

: Dwi Sulis Purwati

Umur

: 53 tahun

Jenis kelamin: Perempuan

Status : Menikah

Saudara ketiga

Nama

: Tri Yuli Astuti

Umur

Jenis kelamin: Perempuan

Status : Menikah

Pekerjaan

: 51 tahun

Saudara keempat
Nama
: Eni Lestari
Umur
: 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status
: Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Saudara kelima
Nama
: Subur Julianto
Umur
: 46 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status
: Belum Menikah
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Saudara keenam (penderita)
Nama
: Chusnul Chotimah
Umur
: 44 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status
: Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

: Wiraswasta

Penderita adalah anak perempuan terakhir (anak bungsu), anak paling baik,
anak paling dimanja dan paling pintar pada waktu masa kecilnya di keluarga.

Riwayat Pendidikan

SD Kaliasin Surabaya : 6 tahun lulus.


SMP PGRI 1 Surabaya
: 3 tahun lulus.
SMA 1 Sidoarjo : 3 tahun lulus.

Faktor Premorbid

Immature, schizoid, dissosial, paranoid.


Faktor Penyebab

Premorbid : immature, schizoid, dissosial, paranoid.


RTTGJ : penderita adalah anak perempuan terakhir (anak bungsu),
anak paling baik, anak paling dimanja dan paling pintar pada waktu
masa kecilnya di keluarga.
Keturunan : ditemukan (pada saudara ibu dan kakak penderita).
Faktor Pencetus

Tidak spesifik

PEMERIKSAAN FISIK
Status Interna
Keadaan Umum
: baik.
Kesadaran
: compos mentis.
Vital Sign
Tekanan Darah
: 120/70 mmHg.
Nadi
: 96 x/menit reguler.
RR
: 20 x/menit.
Suhu
: 370C axiller.
Kepala/Leher
A/I/C/D
: -/-/-/Pembesaran KGB : (-)
Pembesaran Thyroid : (-)

Thorax
Cor : Inspeksi : IC tidak terlihat.
Palpasi : IC tidak teraba kuat angkat.
Perkusi : Batas Jantung Kanan : SL ICS IV
Batas Jantung Kiri
: MCL ICS IV
Auskultasi : S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-).
Pulmo : Inspeksi : normochest, gerak napas simetris.
Palpasi
: gerak napas simetris, fremitus raba simetris.
Perkusi
: sonor sonor.
Auskultasi : vesikuler, rhonki (-), wheezing (-).
Abdomen
Inspeksi : datar, simetris.
Palpasi : soepel, nyeri tekan (-).
Hepar/Lien/Ren : tidak teraba.
Perkusi : tympani
Auskultasi
: bising usus normal.

Ekstremitas
Akral hangat pada keempat ekstremitas
+
+
+
+

Oedema pada keempat ekstremitas


-

Status Neurologi

Kesadaran
: GCS 4-5-6
Refleks Fisiologis : dalam batas normal.
Refleks Patologis : ekstremitas bawah (-).
ekstremitas atas (-).
Meningeal Sign : (-).
Motorik
: normotonus, turgor baik.
Mata
: gerakan normal, pupil isokor.
Reflek cahaya +/+
Reflek kornea +/+

Status Psikiatri

Kesan Umum : wajah sesuai usia, penampilan tidak


rapi, rambut tidak disisir rapi,
tidak ada cacat fisik.
Kontak
: mata (+), verbal (+), lancar, kadang
irrelevan.
Kesadaran : berubah.
Disorientasi W/T/O : - /- / Afek/emosi
: dangkal.
Proses Berpikir
Bentuk : non realistik.
Arus : assosiasi longgar.
Isi : waham curiga (+), PTM (+).
Persepsi : halusinasi dengar (+)
halusinasi optik (-)

Kemauan
Perawatan Diri : menurun.
Sosial
: menurun.
Pekerjaan
: menurun.
Psikomotor : meningkat.
Intelegensi : dalam batas normal.

RESUME
Ny Chusnul Chotimah, 44 tahun, adalah anak keenam dari 6
bersaudara. Penderita dibawa oleh kakak penderita ke RSAL
dr.Ramelan Surabaya karena marah-marah dan membuang barangbarang ke sungai. Penderita tinggal dengan suami penderita, tetapi
pada saat itu, penderita lari dari rumah suami penderita dengan
tidak memakai baju dan pulang ke rumah orang tua penderita.
Penderita pernah masuk rumah sakit pertama kali pada tahun
1984. Setelah itu, 2 kali masuk RSAL dr.Ramelan Surabaya pada
tahun 2011, dan 1 kali pada tahun 2012. Penderita marah-marah
dan membuang barang-barang tanpa sebab yang jelas. Penderita
merupakan orang yang tertutup sehingga tidak pernah
menceritakan masalahnya kepada orang lain, perawatan diri
berkurang, bahkan memusuhi orang lain.
Penderita pernah berhalusinasi mendengar suara-suara yang tidak
dapat didengar oleh orang lain, tetapi penderita tidak mau
menceritakan halusinasi yang didengarnya. Penderita juga selalu
curiga bahwa suaminya berselingkuh ketika suaminya berbicara
dengan wanita lain.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Gangguan Psikiatrik
MRS di RSUD dr.Soetomo pada tahun 1984 (selama 1 bulan).
2 kali MRS di RSAL dr.Ramelan Surabaya pada tahun 2011
(selama 3 bulan).
MRS di RSAL dr.Ramelan Surabaya pada tahun 2012 (selama
3 bulan).
Riwayat Gangguan Medik
Riwayat pembedahan, trauma kepala, penyakit SSP, tumor
dan kejang : disangkal.
Hipertensi
: disangkal.
Diabetes melitus : disangkal.
Asma
: disangkal.
Gangguan jiwa
: ditemukan.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Gangguan Psikiatrik
Ditemukan : Saudara ibu dan kakak penderita.
Riwayat Gangguan Medik
Riwayat pembedahan, trauma kepala, penyakit SSP, tumor dan
kejang : disangkal.
Hipertensi
: ditemukan (ibu penderita).
Diabetes melitus : disangkal.
Asma
: disangkal.
Penyakit jantung : ditemukan (ayah penderita).
Gangguan jiwa
: ditemukan (saudara ibu dan kakak penderita).
Riwayat Sosial dan Riwayat Hidup
Penderita lahir di Surabaya tanggal 15 Juni 1970.
Penderita adalah anak dari Tn. Hadi Purnomo Soegijat (alm), 56
tahun, pensiunan TNI-AL dan Ny. Siti Asijah, 72 tahun, ibu rumah
tangga.
Penderita anak ke-6 dari 6 bersaudara.

Saudara pertama

Nama

: Agus Susilo Utomo

Umur

Jenis kelamin: Laki-laki

Status : Menikah

Pekerjaan

: 54 tahun

: Pegawai Negeri Sipil

Saudara kedua

Nama

: Dwi Sulis Purwati

Umur

: 53 tahun

Jenis kelamin: Perempuan

Status : Menikah

Saudara ketiga

Nama

: Tri Yuli Astuti

Umur

Jenis kelamin: Perempuan

Status : Menikah

Pekerjaan

: 51 tahun

Saudara keempat
Nama
: Eni Lestari
Umur
: 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status
: Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Saudara kelima
Nama
: Subur Julianto
Umur
: 46 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status
: Belum Menikah
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Saudara keenam (penderita)
Nama
: Chusnul Chotimah
Umur
: 44 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status
: Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

: Wiraswasta

Penderita adalah anak perempuan terakhir (anak bungsu), anak paling baik,
anak paling dimanja dan paling pintar pada waktu masa kecilnya di keluarga.

Riwayat Pendidikan
SD Kaliasin Surabaya: 6 tahun lulus.
SMP PGRI 1 Surabaya : 3 tahun lulus.
SMA 1 Sidoarjo
: 3 tahun lulus.
Faktor Premorbid
Immature, schizoid, dissosial, paranoid.
Faktor Penyebab
Premorbid : immature, schizoid, dissosial, paranoid.
RTTGJ: penderita adalah anak perempuan terakhir (anak bungsu),
anak paling baik, anak paling dimanja dan paling pintar pada waktu
masa kecilnya di keluarga.
Keturunan : ditemukan (pada saudara ibu dan kakak penderita).
Faktor Pencetus
Tidak spesifik
Status Interna : dalam batas normal.
Status Neurologi : dalam batas normal.

Status Psikiatri

Kesan Umum : wajah sesuai usia, penampilan tidak


rapi, rambut tidak disisir rapi,
tidak ada cacat fisik.
Kontak
: mata (+), verbal (+), lancar, kadang
irrelevan.
Kesadaran : berubah.
Disorientasi W/T/O : - /- / Afek/emosi
: dangkal.
Proses Berpikir
Bentuk : non realistik.
Arus : assosiasi longgar.
Isi : waham curiga (+), PTM (+).
Persepsi : halusinasi dengar (+)
halusinasi optik (-)

Kemauan
Perawatan Diri : menurun.
Sosial
: menurun.
Pekerjaan
: menurun.
Psikomotor : meningkat.
Intelegensi : dalam batas normal.

DIAGNOSIS
Axis I
: F20.90 Skizofrenia yang Tak Terinci
Berkelanjutan.
Axis II : Immature, schizoid, dissosial, paranoid.
Axis III : Axis IV : Masalah Keluarga.
Axis V : GAF Scale 40-31
Diagnosa banding : Skizofrenia paranoid dan
skizofrenia simpleks.

TERAPI

Somatoterapi
Haloperidol 2 x 5 mg/hari.
Psikoterapi
Memotivasi penderita untuk minum obat secara teratur
Menganjurkan penderita untuk menjadi orang yang lebih terbuka
Memotivasi penderita untuk dapat mengendalikan emosi
Sosioterapi
Dengan memanipulasi lingkungan, untuk mendukung kesembuhan penderita,
yaitu dengan cara :
Menganjurkan kepada keluarga penderita untuk selalu mengawasi penderita
agar minum obat teratur
Menganjurkan kepada keluarga penderita agar memberikan perhatian yang
lebih dan dukungan moril terhadap penderita
Menyarankan keluarga penderita agar berkomunikasi dengan baik dan
mengerti kondisi penderita dengan baik

MONITORING
Status psikiatri.
Monitoring keteraturan penderita minum obat.
Perkembangan penderita pada masa pengobatan.
Efek samping obat.
PROGNOSIS
Kepribadian
: mudah curiga,schizoid,immature: Jelek
Premorbid
Onset usia : muda
: Jelek
Onset Pengobatan : lambat
: Jelek
Jenis : Skizofrenia paranoid berkelanjutan : Jelek
Onset Timbul
: Kronis
: Jelek
Faktor Pencetus
: tidak spesifik (stressor ringan)
: Jelek
Faktor Keturunan : ditemukan
: Jelek
Kesimpulan : Prognosa jelek (dubia ad malam)
GAF Scale : 40-31

USUL
Tes MMPI.
Injeksi Haloperidol Decanoas 50 mg atau Sikzonoate.

10
m
e
t
e
r