Anda di halaman 1dari 17

Proposal Penelitian

Isolasi dan Uji Aktivitas Bakteri Bacillus sp Penghasil Enzim Protease Dari Lahan Tambak Garam di Kabupaten Nagekeo Flores Nusa Tenggara Timur

Tambak Garam di Kabupaten Nagekeo Flores Nusa Tenggara Timur ASRIANDY RAMADHAN H311 12 290 JURUSAN KIMIA

ASRIANDY RAMADHAN

H311 12 290

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2014

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara di belahan dunia ini yang memiliki

keanekaragaman hayati dan biodiversitas yang melimpah. Keanekaragaman hayati

ini merupakan potensi alam yang tidak dimiliki oleh setiap negara lain, sehingga

harus dimanfaatkan seoptimal mungkin seperti pemanfaatan mikroorganisme

sebagai penghasil enzim.

Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel

hidup. Sekarang kira-kira lebih dari 2000

enzim telah teridentifikasi,

yang

masing-masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam sistem hidup.

Sintesis enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak

fungsinya (Yazid dan Nursanti, 2006).

Enzim mengkatalisis hampir semua reaksi-reaksi biologis penting. Oleh

karena itu bagi ahli ilmu kesehatan pengetahuan mengenai sifat-sifat kimia dan

fungsi enzim sangat diperlukan apabila akan mempergunakan dalam prosedur

diagnosa.

Beberapa

cabang

ilmu

kesehatan

telah

memperoleh

manfaat

dari

pemakaian analisis enzim ini, seperti pada penyakit infark miokardial, hepatitis,

kanker prostat, penyakit penyumbatan hati, dan distropi otot (Montgomery, 1993).

Protease merupakan enzim penting yang digunakan secara luas pada

aplikasi industri melalui reaksi sintesis dan reaksi hidrolisis, hampir 65 % dari

total penjualan enzim di dunia. Protease digunakan pada beberapa aplikasi industri

seperti detergen, farmasi, produk-produk kulit, pengempukan daging, hidrolisat

protein, produk-produk makanan, dan proses pengolahan limbah industri (Huang,

2006).

Berbagai jenis isolat mikroorganisme telah didapatkan dan diketahui

memiliki peranan yang besar sebagai penghasil enzim yang berguna dalam

industri.

Enzim

digunakan

dalam

industri

karena

bersifat

sangat

spesifik

dibandingkan dengan katalis senyawa kimia. Selain itu, enzim bekerja sangat

efisien, beroperasi pada kondisi aman dan mudah dikontrol, dapat menggantikan

bahan kimia yang berbahaya, dan dapat didegradasi secara biologis (Wijanarka

dan Pujiyanto, 2002).

Menurut Baehaki (2011), Bacillus sp merupakan salah satu jenis bakteri

yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan protease. Protease merupakan

satu diantara tiga kelompok enzim komersial yang diperdagangkan

sebagai

katalisator hayati. Protease dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi industri pangan

dan non-pangan. Salah satu industri non-pangan yang memanfaatkan protease

adalah industri biodeterjen (Baehaki, 2011).

Berdasar fenomena tentang aplikasi enzim protease dalam berbagai bidang

terutama

bidang

industri,

dan

untuk

membuktikan

hipotesa

tersebut,

maka

dilakukan penelitian mengenai isolasi bakteri halofilik yaitu Bacillus sp penghasil

enzim protease dari lahan tambak garam di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa

Tenggara Timur.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah

Apakah

lahan

tambak

garam

di

Kabupaten

Nagekeo,

Flores,

Nusa

Tenggara Timur terdapat bakteri Bacillus sp penghasil enzim protease ?

1.3 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka hipotesis dalam penelitian

ini adalah terdapat beberapa isolat bakteri halofilik seperti Bacillus sp yang

mampu menghasilkan enzim protease di lahan tambak garam di Kabupaten

Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tentang Enzim

Enzim dikenal untuk pertama kalinya sebagai

protein oleh Sumner pada

tahun 1926 yang telah berhasil mengisolasi urease dari ‘kara pedang’ (jack bean).

Urease adalah enzim yang dapat menguraikan urea menjadi CO 2 dan NH 3 .

Beberapa tahun kemudian Northrop dan Kunitz dapat mengisolasi pepsin, tripsin,

kimotripsin. Selanjutnya makin banyak enzim yang dapat diisolasi dan telah

dibuktikan bahwa enzim itu adalah suatu protein. Sejak tahun 1926, pengetahuan

tentang enzim atau enzimologi berkembang dengan cepat.dari penelitian para ahli

biokimia ternyata bahwa banyak enzim mempunyai gugus bukan protein, jadi

termasuk golongan protein majemuk. Enzim semacam ini (holoenzim) terdiri atas

protein (apoenzim) dan suatu gugus bukan protein.sebagai contoh enzim katalase

terdiri atas protein dan ferriprotorfirin adajuga enzim yang terdiri atas protein dan

logam.

Misalnya

askorbat

oksidase

(Poedjiadi dan Supriyanti, 2009).

adalah

protein

yang

mengikat

tembaga

Di dalam biologi molekuler interaksi dari molekul-molekul kecil dengan

molekul-molekul makro yang besar merupakan peristiwa yang utama. Pengikatan

suatu molekul oleh molekul makro merupakan dasar bagi kerja antibodi, hormon,

toksin,

persepsi

bau

dan

rasa,

dan

kerja

enzim.

Enzim

sebagai

katalis

menunjukkan

tingkat

spesifitas

yang tinggi

terhadap

substrat.

Yaitu

bentuk

molekul substrat penting dalam menjamin orientasi terhadap gugus-gugus aktif

dari enzim. Beberapa enzim bekerja pada satu dan hanya satu zat. Enzim lain

bekerja pada suatu jenis tertentu gugus fungsional (Page, 1989).

Enzim adalah biokatalisator yang banyak digunakan pada berbagai bidang

industri produk pertanian, kimia, dan medis. Enzim memiliki sifat-sifat spesifik

yang menguntungkan yaitu efisien, selektif, predictable, proses reaksi tanpa

produk

samping,

dan

ramah

lingkungan.

Sifat-sifat

tersebut

menyebabkan

penggunaan

enzim

semakin

meningkat

dari

tahun

ke

tahun,

diperkirakan

peningkatan mencapai 1015% per tahun (Rahayu, 2004).

2.1.1 Penggolongan Enzim

Enzim digolongkan menurut reaksi yang diikutinya, sedangkan masing-

masing enzim diberi nama menurut nama substratnya, misalnya urease, arginase

dan lain-lain.

Oleh Commision on Enzymes of the International Union of

Biochemistry,

enzim

dibagi

dalam

enam

golongan

besar. Penggolongan

ini

didasarkan atas reaksi kimia dimana enzim memegang peranan. Enam golongan

tersebut adalah (Poedjiadi dan Supriyanti, 2009):

a. Oksidoreduktase

Enzim-enzim yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi dalam dua

bagian yaitu dehidrogenase dan oksidase.

Dehidrogenase bekerja pada reaksi-

reaksi dehidrogenase, yaitu reaksi pengambilan atom hidrogen dari suatu senyawa

(donor).

Enzim-enzim

oksidase

juga

bekerja

sebagai

katalis

pada

reaksi

pengambilan

hidrogen

dari

suatu

substrat.

Sebagai

contoh

enzim

glukosa

oksidase bekerja sebagai katalis pada reaksi oksidasi glukosa menjadi asam

glukonat.

b. Transferase

Enzim yang termasuk golongan ini bekerja sebagai katalis pada reaksi

pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain.

Beberapa

contoh

enzim

yang

termasuk

golongan

ini

adalah

metiltransferase,

hidroksimetiltransferase,

karboksiltransferase,

transferase atau disebut juga transaminase.

c. Hidrolase

asiltransferase

dan

amino

Enzim yang termasuk dalam kelompok ini bekerja sebagai katalis pada

reaksi hidrolisis.

Ada tiga jenis hidrolase, yaitu yang memecah ikatan ester,

memecah glikosida dan yang memecah ikatan peptide.

Beberapa enzim sebagai

contoh

ialah

esterase,

lipase,

fosfatase,

amilase,

amino

peptidase,

karboksi

peptidase, pepsin, tripsin, kimotripsin. Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam

reaksi pemecahan molekul protein dengan cara hidrolisis disebut enzim proteolitik

atau protease. Oleh karena yang dipecah adalah ikatan peptida, maka enzim

tersebut dinamakan peptidase.

d. Liase

Enzim yang termasuk golongan ini mempunyai peranan penting dalam

reaksi pemisahan suatu gugus dari suatu substrat (bukan cara hidrolisis) atau

sebaliknya.

Contoh enzim golongan ini antara lain dekarboksilase, aldolase, dan

hidratase.

e. Isomerase

Enzim

yang

termasuk

golongan

ini

bekerja

pada

reaksi

perubahan

intramolekuler, misalnya reaksi perubahan glukosa menjadi fruktosa, perubahan

senyawa L menjadi senyawa D, senyawa sis menjadi senyawa trans dan lain-lain.

Contoh enzim yang termasuk golongan isomerase antara lain ialah ribulosafosfat

epimerase dan glukosafosfat isomerase.

f. Ligase

Enzim

yang

termasuk

golongan

ini

bekerja

pada

reaksi-reaksi

penggabungan

dua

molekul.

Oleh

karenanya

enzim-enzim

tersebut

juga

dinamakan sintatase.

Ikatan yang terbentuk dari penggabungan tersebut adalah

ikatan CO, CS, CN, atau CC. Contoh enzim golongan ini antara lain ialah

glutamin sintetase dan piruvat karboksilase.

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim

Beberapa

faktor

yang

mempengaruhi

aktivitas

enzim

berikut (Poedjiadi dan Supriyanti, 2009):

a. Kosentrasi enzim

Kecepatan

suatu

reaksi

yang

menggunakan

enzim

adalah

sebagai

tergantung

pada

konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan

reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.

b. Konsentrasi substrat

Konsentrasi enzim yang tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat

akan menaikkan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu,

tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar.

Pada

konsentrasi

substrat

yang

rendah,

bagian

aktif

enzim

hanya

akan

menampung sedikit substrat. Bila konsentrasi substrat diperbesar, banyak substrat

yang dapat berhubungan dengan sisi aktif enzim.

kompleks

enzim-substrat

kecepatan reaksi.

c. Suhu

makin

besar

dan

hal

Dengan demikian, konsentrasi

ini

menyebabkan

besarnya

Oleh karena reaksi kimia dapat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu rendah,

maka reaksi yang menggunakan katalis enzim yang dapat dipengaruhi oleh suhu.

Pada suhu rendah, reaksi-reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu

tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping karena enzim adalah suatu

protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan proses denaturasi. Apabila

terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan

demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya

pun akan menurun.

d. Pengaruh pH

Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya. Enzim dapat

berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan

demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian

aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat.

terhadap

struktur

ion

pada

enzim,

pH

rendah

atau

Di samping pengaruh

pH

tinggi

dapat

pula

menyebabkan

terjadinya

proses

denaturasi

dan

ini

akan

mengakibatkan

menurunnya aktivitas enzim.

 

e.

Inhibitor

Mekanisme

enzim

dalam

suatu

reaksi

ialah

melalui

pembentukan

kompleks enzim-substrat (ES). Oleh karena itu hambatan atau inhibisi pada suatu

reaksi

yang

menggunakan

enzim

sebagai

katalis

dapat

terjadi

apabila

penggabungan substrat pada bagian aktif enzim mengalami hambatan.

Molekul

atau ion yang menghambat reaksi tersebut dinamakan inhibitor.

Hambatan

terhadap aktivitas enzim dalam suatu reaksi kimia ini mempunyai arti yang

penting, karena hambatan tersebut juga merupakan mekanisme pengaturan reaksi-

reaksi yang terjadi dalam tubuh kita.

2.2 Enzim Protease

Enzim protease adalah enzim yang dapat menguraikan atau memecah

protein, dengan menghidrolisis polipeptida menjadi peptida dengan berat molekul

yang lebih kecil. Menurut Bergman dan Futon (1941) dalam Winarno (1983),

eznim

protease

dapat

dikelompokkan

menjadi

dua

kelompok

besar

yaitu

eksopeptidase

dan

endopeptidase.

Golongan

eksopeptidase

dibedakan

lagi

menjadi karboksipeptidase, yang memotong peptida dari arah gugus karboksil

terminal, dan aminopeptidase yang memotong peptida dari arah gugus amino

terminal. Sedangkan endopeptidase memecah ikatan peptida dari sebelah dalam.

Menurut Hartley (1960), dalam Winarno (1983), enzim proteasedibagi

menjadi empat golongan berdasarkan sifat-sifat kimia :

1. Enzim protease serin yaitu mempunyai residu serin. Yang termasuk dalam

golongan enzim ini yaitu tripsin, kimotripsin, dan subtilisin.

2. Enzim protease sulfuhidril yaitu mempunyai residu sulfuhidril. Yang

termasuk dalam golongan ini adalah papain dan bromelin.

3. Enzim protease logam yaitu enzim yang keaktifannya tergantung pada

adanya ion logam (metal). Logam ini berupa Fe, Mg, Zn, Co, Hg, dan Ni.

4. Enzim protease asam yaitu enzim yang mempunyai dua gugus karboksil.

Yang termasuk golongan ini adalah pepsin, renin, dan protease kapang.

2.3 Uraian Bakteri

2.3.1 Tinjauan Umum Bakteri

Bakteri adalah mikroorganisme prokariotik uniseluler yang mempunyai

bentuk

sederhana.

Ukuran

sel

bakteri

dinyatakan

dalam

satuan

mikron.

Berdasarkan bentuk selnya, bakteri dibedakan menjadi bentuk batang, bulat dan

lengkung, dapat berpasangan, membentuk kelompok atau berantai (Frobisher,

dkk, 1974).

Bakteri dapat dibagi atas tiga golongan berdasarkan bentuk morfologinya,

yaitu golongan basil, golongan kokus, dan golongan spiril (Dwidjoseputro, 1998):

a. Basil (bacillus) berbentuk serupa tongkat pendek, silindris. Sebagian besar

bakteri merupakan basil.

b. Kokus

(coccus)

adalah

bakteri

yang

bentuknya

Golongan ini tidak sebanyak golongan basil.

serupa

bola-bola

kecil.

c. Spiril (spirillum) ialah bakteri yang bengkok atau berbengkok-bengkok serupa

spiral. Bakteri yang berbentuk spiral ini tidak banyak terdapat. Golongan ini

merupakan golongan yang paling kecil jika dibandingkan dengan golongan

basil dan kokus.

Berdasarkan atas cara untuk mendapatkan energinya, bakteri dibedakan

menjadi fotoautotrof dan kemoautotrof. Sedangkan berdasarkan atas suber karbon

yang dapat digunakan untuk metabolismenya, bakteri dibedakan menjadi bakteri

autotrof dan heterotrof. Beberapa ada yang hidup saprofit, parasit, atau patogen

pada organisme lain (Hendarko, dkk, 1990)

2.3.3 Tinjauan Umum Bakteri Bacillus sp.

2.3.3.1 Klasifikasi Bacillus sp.

Bakteri

dimasukkan

dalam

dunia

prostista

yang

prokariotik

yaitu

mikroorganisme dimana bahan nukleusnya tidak terbungkus dalam membran yang

jelas (Pelczar et al, 1977).

Klasifikasi Bacillus sp yaitu (Buchanan dan Gibbons, 1974):

Divisio

: Protophyta

Classis

: Schyzomycetes

Ordo

: Eubacteriales

Famili

: Bacillaceae

Genus

: Bacillus

Spesies

: Bacillus sp

2.3.3.2 Genus Bacillus.

Anggota dari genus Bacillus selnya bernetuk batang, tidak bermiselium,

membentuk endospora yang resisten terhadap panas, dan agen perusak lain.

Termasuk

bakteri

gram

positif,

kebanyakan

motil,

flagella

bertipe

peritrik.

Bersifat aerobik sampai anaerobik fakultatif, temperatur untuk pertumbuhan

Bacillus adalah mesofilik yaitu pada suhu 25 o C 40 o C. Genus Bacillus

dibedakan dari genus Clostridium, di mana Clostridium bersifat anaerob obligat,

membentuk endospora gram negatif dan bersifat katalase negatif (Buchanan dan

Gibbons, 1974).

2.4 Lahan Tambak Garam Kabupaten Nagekeo Flores Nusa Tenggara

Timur.

Indonesia merupakan salah-satu negara penghasil garam.

Berdasarkan

Kajian Universitas Indonesia dan Kajian Universitas Hasanuddin Makassar, kadar

garam terbaik di Indonesia dengan perbandingan 50 gr/1 liter air laut bahkan lebih

tinggi dari Madura ada di Kabupaten Nagekeo. Dengan iklim yang mendukung

untuk pengembangan tambak garam

curah hujan rendah.

yaitu 8 sampai 9 bulan musim kering dan

 

Kabupaten

Nagekeo

mempunyai

lahan

potensial

pengolahan

tambak

garam

mencapai

2.283

ha,

yang

tersebar

di

beberapa

wilayah

kecamatan

Secara geografis Kabupaten Nagekeo terletak pada koordinat 121˚.10'.48 -

121˚24'.4 bujur

timur

dan

8˚.26'15'-

8˚40'0 lintang

selatan.

Luas

wilayah

Kabupaten Nagekeo adalah 1.416,96 km 2 . Batas administrasi Kabupaten Nagekeo

adalah

sebelah

utara

laut

Flores,

sebelah

selatan

laut

Sewu,

sebelah

barat

Kabupaten Ngada, dan sebelah timur Kabupaten Ende.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah

dari lahan tambak garam, Skim Milk Agar (SMA), alkohol 70%, aluminium foil,

kertas label, aquadest, kapas, parafilm dan tissue roll .

3.2 Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah spektofotometer, pH

meter,

inkubator (haraeus), neraca analitik (haraeus), penangas listrik, stirrer,

cawan petri, autoclave, bunsen, spoit, sendok tanduk, batang pengaduk, laminar

air flow, botol semprot, jarum ose, serta alat gelas yang umum digunakan dalam

laboratorium.

3.3 Waktu Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan pada bulan Februari di Desa

Maropokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara

Timur.

3.4 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari di laboratorium Biokimia

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar.

3.5 Prosedur Krja

3.5.1 Pengambilan Sampel Tanah Lahan Tambak Garam

Sampel tanah lahan tambak garam di ambil secara aseptik. Sampel tanah

terlebih dahulu diambil kemudian ditimbang kurang lebih 250 gram di beberapa

lokasi. Sampel disimpan dalam wadah yang telah disterilkan. Kemudian dilakukan

sejumlah pengukuran parameter fisika dan kimia keadaan tanah di lokasi seperti

pengukuran pH tanah yang dilarutkan dalam air dengan menggunakan pH meter.

Setelah itu, sampel tanah dibawa ke laboratorium utnuk di analisis.

3.5.2 Pembuatan Medium Padat

Media pada SMA dibuat dengan komposisi 5 gram kasein, 2.5 gram

ekstrak yeast, 1 gram Skim Milk Agar, 1 gram glukosa, dan 10,5 gram agar.

Selanjutnya dihomogenisasi dengan magnetik stirrer, dipanaskan sampai larut lalu

disterilkan dengan autoclave selama 30 menit, selanjutnya dilakukan pengaturan

pH yang sesuai dengan pertumbuhan mikroba yang akan dikulturkan. Pengaturan

ini bisa dilakukan dengan penambahan asam atau basa. Kemudian, medium

didinginkan kemudian dituang pada cawan petri steril.

3.5.3 Isolasi Bakteri

Sampel tanah kemudian dilarutkan dalam air dan diambil krang lebih 2 mL

sampel,

dimasukkan

kedalam

masing-masing

medium

SMA

yang disiapkan

dalam cawan petri. Penebaran ini di lakukan pada

50 cawan petri yang berisi

Skim Milk Agar (SMA). Cawan petri yang bersisi isolat bakteri dan SMA

kemudian digerakkan diatas meja dengan gerakan melingkar seperti angka 8, agar

sel

mikroba menyebar secara merata. Setelah memadat, cawan

diinkubasikan

kedalam inkubator pada suhu 30 o C dalam posisi terbalik . Koloni yang terbentuk

kemudian di kumpulkan untuk persiapan analisis. Semua pekerjaan dilakukan di

laminar air flow. Tiap isolat bakteri yang tumbuh pada media agar tersebut ditetesi

dengan larutan kasein untuk menyeleksi bakteri penghasil enzim protease. Isolat

yang menghasilkan enzim protese menghasilkan zona bening pada agar di sekitar

koloninya jika ditetesi dengan larutan kasein. Lebar zona bening yang terbentuk

diukur dengan menggunakan jangka sorong. Tiga isolat terbesar zona beningnya

digunakan dalam penelitian selanjutnya untuk pengujian parameter aktivitas

enzim protease kasar.

DAFTAR PUSTAKA

Buchanan, D.E., and N.E., Gibbons, 1974, Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology Eight Edition, The William and Walkins Company, Baltimore.

Dwidjoseputro, D., 1998, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta.

Frobisher, M., Hindshill, R.D., and Goodheart, C.R., 1974, Fundamental of Microbiology, Toppan and CO. LTH, Tokyo.

Hendarko, Sriani, Isworo, R., Agung, S., 1990, Petunjuk Praktikum Mikrobiology, PS Biologi UNDIP, Semarang.

Huang, G., Ying, T., Huo, P., dan Jiang, J., 2006, Purification andcharacterization of a Protease From Thermophilic Bacillus Strain HS08, African Biotechnol, 5: 2433-2438.

Montgomery, R., dkk., 1993, Biokimia Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Page, D., 1989, Prinsip-Prinsip Biokimia, Erlangga, Jakarta.

Pelczar, M.J., Roger, and E.C.S., Chan, 1977, Microbiology Fourth Edition, Mc Graw-Hill Book Publishing Company LTH, New Delhi.

Poedjiadi, A., dan Supriyanti, T., 2009, Dasar-Dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.

Rahayu, S., 2004, Karakteristik Biokimiawi Enzim Termostabil Penghidrolisis Kitin (Online), Disertasi tidak diterbitkan, Sekolah Pasca Sarjana , Institut Pertanian Bogor, Bogor, (http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/sri_ Rahayu.pdf, diakses 8 Maret 2014).

Wijanarka dan Pujiyanto, S., 2002, Optimasi Produksi Enzim Inulinase Termostabil Oleh Bakteri Termofilik dari Umbi Dahlia (Dahlia variabilis),

diakses 5 Maret 2014).

Winarno, F.G, 1983, Enzim Pangan, Gramedia, Jakarta.

Yazid,

E.,

dan

Nursanti,

L.,

2006,

Penuntun

Praktikum

Biokimia

untuk

Mahasiswa Analis, Penerbit Andi, Yogyakarta.