Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kedokteran komunitas (community medicine) adalah cabang kedokteran yang
memusatkan perhatian kepada kesehatan anggota-anggota komunitas, dengan menekankan
diagnosis dini penyakit, memperhatikan faktor-faktor yang membahayakan (hazard)
kesehatan yang berasal dari lingkungan dan pekerjaan, serta pencegahan penyakit pada
komunitas. Cabang kedokteran komunitas yang memberikan perhatian khusus kepada
kesehatan keluarga sebagai sebuah unit adalah kedokteran keluarga (Murti, 2010).
Kedokteran keluarga (family medicine) adalah disiplin ilmu yang menekankan
pentingnya pemberian pelayanan kesehatan yang personal, primer, komprehensif, dan
berkelanjutan (continuing) kepada individu dalam hubungannnya dengan keluarga,
komunitas, dan lingkungannya. Keluarga merupakan sebab dan akibat kesehatan dan
penyakit pada individu. Masalah kesehatan pasien sering kali disebabkan oleh masalah
yang terdapat pada keluarga. Sebaliknya, masalah kesehatan pasien dapat menyebabkan
masalah kesehatan keluarga (Murti, 2010).
Untuk memahami lebih lanjut tentang kedokteran keluarga, kami mendapat tugas untuk
menganalisis skenario 2 blok kedokteran komunitas berikut.
Bu Susi Pantang Makan yang Basah-Basah Selama Hamil
Bu Susi, umur 38 tahun, G3A0P2 datang periksa kehamilan klinik dokter keluarga
ditemani oleh suaminya. Dokter Mira sebagai dokter keluarga menanyakan mengenai
struktur keluarga Bu Susi, siklus kehidupan keluaga, membuat genogram, serta menilai
faktor risiko internal dan faktor risiko eksternal serta dampak kesakitan terhadap
keluarga

dalam

rangka

membuat

diagnostik

secara

holistik

dan

melakukan

penatalaksanaan secara komprehensif. Saat ini Dokter Mira memperkirakan umur


kehamilan Bu Susi memasuki minggu ke-20. Riwayat persalinan sebelumnya adalah
dengan ukun beranak, dan anak pertamanya saat ini berumur 3 tahun, anak kedua 1,5
tahun. Saat ini Bu Susi memeriksakan kehamilannya ke dokter karena takut kejadian
perdarahan hebat saat persalinan sebelumnya terulang apalagi 3 tahun terakhir ini Bu
Susi dikatakan menderita sakit gula oleh dokter. Dokter melakukan pemeriksaan 7T pada
Bu Susi kemudian memberikan edukasi kepada Bu Susi untuk makan makanan yang
bergizi tinggi. Namun, Bu Susi mengatakan bahwa dari dulu selama hamil tidak mau
makan makanan yang basah seperti telur karena oleh orang tuanya dan orang-orang di

sekitarnya dikatakan dapat menyebabkan anak di dalam rahim gelisah dan lukanya lama
sembuh. Selain itu, setelah melahirkan, Bu Susi dilarang oleh ibunya memberikan ASInya
yang pertama kali keluar dan tidak boleh makan yang amis-amis seperti ikan.
Dokter juga mengingatkan Bu Susi untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin
karena Bu Susi masuk dalam kriteria 4 terlalu, dan mengingatkan agar segera ke dokter
apabila timbul keluhan-keluhan agar tidak terjadi 3 terlambat. Dokter Mira
merencanakan untuk melakukan kunjungan rumah, akan memberikan konseling tentang
perawatan selama masa nifas dan perawatan untuk bayinya setelah lahir nanti termasuk
laktasi, dan persiapan untuk merujuk pasien ke Puskesmas PONED menjelang waktu
melahirkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keluarga, siklus kehidupan keluarga, genogram dan
hubungannya dengan kedokteran keluarga?
2. Apa yang dimaksud dengan pelayanan kedokteran keluarga (prinsip, manfaat, syarat
dokter umum jadi dokter keluarga, kompetensi dokter keluarga, cara evaluasi
kedokteran keluarga klinik kedokteran keluarga dan tipenya)?
3. Bagaimana langkah dokter keluarga mengidentifikasi masalah dalam skenario?
4. Apa yang dimaksud diagnosis holistik dan bagaimana tahapan mendiagnosis secara
holistik?
5. Apa yang dimaksud dengan penatalaksanaan komprehensif beserta contohnya?
6. Apa yang dimaksud dengan Ante Natal Care?
7. Apa definisi, sebab dan risiko dari 4 terlalu dan 3 terlambat ?
8. Apa yang dimaksud dengan asuhan masa nifas?
9. Apa definisi dan tujuan dari kunjungan rumah (home visit)?
10. Bagaimana prinsip dari konseling dalam kedokteran keluarga dan contoh konseling
pada ibu hamil?
11. Apa yang dimaksud dengan Puskesmas PONED (kriteria, pelayanan, kompetensi
tenaga kesehatan PONED)?
12. Apa perbedaan PONED dan PONEK?
13. Bagaimana sistem rujukan dokter keluarga ke PONED dan ke Rumah Sakit?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang keluarga, siklus kehidupan keluarga, genogram dan
hubungannya dengan kedokteran keluarga.
2. Untuk mengetahui tentang pelayanan kedokteran keluarga (prinsip, manfaat, syarat
dokter umum jadi dokter keluarga, kompetensi dokter keluarga, cara evaluasi
kedokteran keluarga klinik kedokteran keluarga dan tipenya).
3. Untuk mengetahui tentang langkah dokter keluarga dalam mengidentifikasi masalah
dalam skenario.
4. Untuk mengetahui tentang diagnosis holistik dan bagaimana tahapan mendiagnosis
secara holistik.

5. Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan komprehensif beserta contohnya.


6. Untuk mengetahui tentang Ante Natal Care.
7. Untuk mengetahui tentang definisi, sebab dan risiko dari 4 terlalu dan 3 terlambat.
8. Untuk mengetahui tentang asuhan masa nifas.
9. Untuk mengetahui tentang definisi dan tujuan dari kunjungan rumah (home visit).
10. Untuk mengetahui tentang prinsip dari konseling dalam kedokteran keluarga dan
contoh konseling pada ibu hamil.
11. Untuk mengetahui tentang Puskesmas PONED (kriteria, pelayanan, kompetensi tenaga
kesehatan PONED).
12. Untuk mengetahui tentang perbedaan PONED dan PONEK.
13. Untuk mengetahui tentang sistem rujukan dokter keluarga ke PONED dan ke Rumah
Sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KEDOKTERAN KELUARGA
Keluarga
DEFINISI
1. Menurut Departemen Kesehatan RI (1988) dalam Ali (2010), keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
bergantung.
2. Ali (2010) mengatakan keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung
karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dlam satu rumah tangga, yang
berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan
suatu budaya.
3. Menurut BKKBN (1999) dalam Sudiharto (2007) keluarga adalah dua orang atau
lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kebutuhan hidup spiritual dam materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki
hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat
serta lingkungannya.
BENTUK KELUARGA

Menurut Sudiharto (2007), beberapa bentuk keluarga adalah sebagai berikut:


1. Keluarga Inti ( nuclear family ), adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan
perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak- anak baik
karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
2. Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal
seseorang dilahirkan.
3. Keluarga Besar ( extended family ), keluarga inti ditambah keluarga yang lain
(karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu termasuk
keluarga modern, seperti orang tua tunggal, keluarga tanpa anak, serta keluarga
pasangan sejenis (guy/lesbian families).
4. Keluarga Berantai, keluarga yang terbentuk karena perceraiandan/atau kematian
pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan
merupakan suatu keluarga inti.

5. Keluarga duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian
dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
6. Keluarga komposit ( composite family), keluarga dari perkawinan poligami dan
hidup bersama.
7. Keluarga kohabitasis ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa
pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak
lazim dan bertebtangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini
mulai dapat diterima.
8. Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan
pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak
lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah
dengan anak kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak
menikah dengan adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak
perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya,
jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Halini dapat kita cermati
melalui pemberitaan dari berbagai media cetak dan elektronik.
9. Keluarga

tradisional

dan

nontradisional,

dibedakan

berdasarkan

ikatan

perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga


nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah
ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga
nontradisional adalah sekelompok orang tinggal di sebuah asrama
CIRI-CIRI KELUARGA

Menurut Ali (2010) ciri-ciri keluarga di Indonesia adalah:


1. Mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat yang dilandasi oleh semangat
kegotongroyongan.
2. Merupakan satu kesatuan utuh yang dijiwai oleh nilai budaya ketimuran yang
kental yang mempunyai tanggung jawab besar.
3. Umumnya dipimpin oleh suami sebagai kepala rumah tangga yang dominan
dalam mengambil keputusan walaupun prosesnya melalui musyawarah dan
mufakat.
4. Sedikit berbeda antara yang tinggal di pedesaan dan di perkotaankeluarga di
pedesaan masih bersifat tradisional, sederhana, saling menghormati satu sama lain
dan sedikit sulit menerima inovasi baru.

FUNGSI KELUARGA

Menurut Friedman (1999) dalam Sudiharto (2007), lima fungsi dasar keluarga adalah
sebagai berikut:
1. Fungsi afektif, adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan
psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih serta, saling menerima
dan mendukung
2. Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan perubahan individu keluarga,
tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan di lingkungan
sosial
3. Fungsi reproduksi, adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan
dan menambah sumber daya manusia
4. Fungsi ekonomi, adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga,
seperti sandang, pangan, dan papan
5. Fungsi perawatan kesehatan, adalah kekampuan keluarga untuk merawat anggota
keluarga yang mengalami masalah kesehatan.

Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan


memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu.

Tugas-tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan menurut Friedman adalah:


1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga
2. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat
3. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit
4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubunga timbal balik antara anggota keluarga dan fasilitas
kesehatan (Ahmadi, 2003 dan Ali, 2006)
Prinsip layanan kedokteran keluarga
Prinsip pendekatan pelayanan Dokter Keluarga yaitu:
1. Memberikan layanan komprehensif dengan pendekatan holistik
2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang kontinyu mulai dari konsepsi sampai
3.
4.
5.
6.

mati.
Mengutamakan pencegahan (empat tingkat pencegahan).
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang koordinatif dan kolaboratif.
Memberikan pelayanan kesehatan individual sebagai bagian integral dari keluarganya.
Mempertimbangkan keluarga, komunitas, masyarakat dan lingkungan tempat pasien
berada.

7. Sadar etika, moral dan hukum.


8. Memberikan pelayanan kesehatan yang sadar biaya dan sadar mutu.
9. Menyelengarakan pelayanan kesehatan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan.
Manfaat pelayanan kedokteran keluaarga :
1. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai
manusia

seutuhnya,

bukan

hanya

terhadap

keluhan

yang

disampaikan.
2. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan
dijamin kesinambungan pelayanan kesehatan.
3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih
dan terarah, terutama di tengah-tengah kompleksitas pelayanan
kesehatan saat ini.
4. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu
sehingga penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan
berbagai masalah lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan, maka
segala keterangan tentang keluarga tersebut, baik keterangan
kesehatan

dan

ataupun

keterangan

keadaan

sosial

dapat

dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang sedang


dihadapi.
6. Akan dapat diperhitungkan sebagai faktor yang mempengaruhi
timbulnya penyakit, termasuk faktor sosial dan patologis.
7. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tata
cara yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu
akan meringankan biaya kesehatan.
8. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran
canggih yang memberatkan biaya kesehatan.
Kompetensi dokter keluarga
Kompetensi dokter keluarga sesuai yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter
Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah :
1. Kompetensi dasar
a. Keterampilan komunikasi efektif
b. Keterampilan klinik dasar
c. Keterampilan menerapkan ilmu ilmu dasar biomedik, ilmu klinik, ilmu
perilaku, dan epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga atau
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir, dan bekerjasama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
e. Memanfaatkan, menilai secara kritis, dan mengelola informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri/belajar sepanjang hayat

2.

3.

4.
5.
6.

g. Etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik


Ilmu dan keterampilan klinis layanan primer cabang ilmu utama
a. Bedah
b. Penyakit dalam
c. Kebidanan dan penyakit kandungan
d. Kesehatan anak
e. THT
f. Mata
g. Kulit dan kelamin
h. Psikiatri
i. Saraf
j. Kedokteran komunitas
Keterampilan klinis layanan primer lanjut
a. Keterampilan melakukan health screening
b. Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjut
c. Membaca hasil EKG
d. Membaca hasil USG
e. BTLS, BCLS, dan BPLS
Keterampilan pendukung
a. Riset
b. Mengajar kedokteran keluarga
Ilmu dan ketrampilan klinis layanan primer cabang ilmu pelengkap
a. Semua cabang ilmu kedokteran lainnya
b. Memahami dan menjembatani pengobatan alternatif
Ilmu dan keterampilan manajemen klinik
Manajemen klinik dokter keluarga

(Prasetyawati, 2010)
Syarat dokter umum menjadi dokter keluarga
Yang dimaksud dengan Program Konversi DPU-DK adalah program pemberian gelar
profesi "Dokter Keluarga yang disingkat DK" kepada Dokter Praktek Umum yang
disingkat DPU, yang memenuhi persyaratan keprofesian tertentu sebagai Dokter Layanan
Primer.
Program konversi mendata, sesuai dengan arahan BP2KB IDI, secara retrospektif
semua kegiatan profesional yang telah dilakukan dalam setahun terakhir yang mencakup :
1. Pembelajaran (Continuing Professional Development=CPD)
2. Profesionalisme (Praktik sebagai Dokter Layanan Primer)
3. Pengabdian kepada masyarakat
4. Publikasi ilmiah kedokteran layanan primer
5. Pengembangan ilmu kedokteran layanan primer
DPU jumlahnya sangat besar (sekitar 65.000 dokter), tersebar di seluruh pelosok
Indonesia mulai dari daerah urban dengan fasilitas komunikasi dan transportasi yang
mutakhir sampai daerah rural terpencil yang masih memanfaatkan sarana transportasi
berupa

kuda

dan/atau

perahu

dayung.

Sementara

itu

sumber

daya

untuk

menyelenggarakan dan mengelola CPD sangat terbatas. Sambil terus-menerus

menyelengarakan TOT (training of trainers) untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga


pelatih, perlu dikembangkan sarana penilai profesionalisme DPU yang memadai dan
dapat mengakomodasi jumlah besar DPU dengan jangkauan yang luas. Untuk itu
Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) merancang sejumlah CPD di antaranya
adalah Program Konversi DPU menjadi DK.
Program Konversi DPU menjadi DK merupakan upaya menilai diri yang sekaligus
bermanfaat untuk peringkatan diri. Tidak semua DPU yang mengikuti program ini secara
otomatis dapat dikonversi. Namun demikian dengan program ini setiap dokter akan
mendapat umpan balik kekurangannya masing-masing agar dapat segera melengkapinya
melalui program CPD. Cara ini ditempuh agar dapat mengukur profesionalisme secara
massal dalam waktu relatif singkat mengingat harus dapat mengakomodasi seluruh DPU
dalam perolehan SKP IDI sesuai dengan yang disyaratkan, tanpa mengurangi nilai mutu
Dokter Keluarga di Indonesia.
Program Konversi DPU menjadi DK ini mampu menilai 4 pilar profesionalisme yaitu:
1. Perilaku dokter dengan parameter
a. SIP
b. Tempat praktik
c. Perlengkapan tempat praktiknya
2. Ilmu pengetahuan dengan parameter
a. CPD yang telah diikuti
b. Tulisan yang telah dipublikasikan
c. Buku teks dan jurnal yang biasa dibaca
3. Keterampilan klinis dengan parameter
a. Pendekatan kedokteran keluarga pada setiap kasus selama praktik
b. Kasus yang pernah ditangani selama praktik
c. Kursus keterampilan medis teknis yang pernah dijalani
4. Kinerja dengan parameter
a. Jumlah kasus yang telah diselesaikan
b. Jenis kasus yang telah pernah dilayani
c. Keberhasilan menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi
d. Manajemen praktik dengan pendekatan kedokteran keluarga
Tata cara mengikuti program konversi
Buku Program Konversi DPU menjadi DK ini tersedia di kantor Cabang PDKI
seluruh Indonesia, khusus pada wilayah yang belum terbentuk cabang PDKI, buku dapat
diperoleh di kantor Wilayah dan kantor Cabang IDI.

Calon peserta dapat membeli buku ini untuk sekaligus memperoleh nomor registrasi
peserta program konversi.
Prasyarat mengikuti program konversi:

Memiliki STR (surat tanda registrasi) yang masih berlaku

Memiliki SIP (surat ijin praktik) yang masih berlaku

Berpraktik sekurangnya selama 5 tahun

Berkeinginan untuk berpraktik sebagai dokter keluarga

Menandatangani surat pernyataan bahwa mengisi formulir dengan jujur

Membayar administrasi konversi


Kemudian sebagai peserta program konversi, DPU mengisi dengan seksama surat

pernyataan dan borang yang terlampir. Borang diisi dengan lengkap dan jujur.Karena
menggunakan kertas rangkap, diharapkan mengisi dengan pena yang ditekan
Berdasarkan surat balasan, maka PDKI akan mengeluarkan beberapa kemungkinan surat:
1. Surat Tanda Lulus Konversi DPU menjadi DK
2. Surat pemberitahuan daftar kekurangan pelatihan atau pengalaman dalam praktik
yang dapat ditutupi dengan mengikuti CPD yang sesuai.
DPU yang telah memperoleh Surat Tanda Lulus konversi DPU menjadi DK akan dilantik
oleh PDKI sebagai anggota dan memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter Keluarga.

Peringkat klinik kedokteran keluarga


Kelas A (ideal)
Kelas B (optimum)
Kelas C (minimum)
24 jam
24 jam
24 jam
Kedaruratan dan kejadian Kedaruratan dan kejadian Kedaruratan dan kejadian
luar biasa
Pelayanan rawat jalan
Pelayanan rawat inap sehari
Bedah minor
Konseling
Preventif dan promotif
Kunjungan dan perawatan di

luar biasa
Pelayanan rawat jalan
Pelayanan rawat inap sehari
Bedah minor
Konseling
Preventif dan promotif
Kunjungan dan perawatan di

rumah pasien
rumah pasien
Penyediaan obat
Penyediaan obat
Pemeriksaan penunjang
Pendidikan,
riset
dan Pendidikan,
riset
pengembangan

pengembangan

luar biasa
Pelayanan rawat jalan
Pelayanan rawat inap sehari
Bedah minor
Konseling
Preventif dan promotif
Kunjungan dan perawatan di

rumah pasien
Penyediaan obat
dan
-

Evaluasi Kedokteran keluarga


Terdapat 3 hal utama yang dilakukan dalam evaluasi kasus dalam kedokteran keluarga
yaitu :
1. Observasi
Observasi merupakan langkah pertama dalam evaluasi kasus dalam kedokteran
keluarga. Hal ini dilakukan dalam rangka mengetahui faktor-faktor yang mungkin
menjadi penyebab permasalahan kesehatan dalam suatu komunitas.
2. Homevisit
Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana, bertujuan untuk
pembinaan keluarga rawan kesehatan.
Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif bertujuan
memandirikan pasien dan keluarganya, pelayanan kesehatan diberikan di tempat
tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan keluarganya sebagai subyek yang ikut
berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan, pelayanan dikelola oleh suatu
unit/sarana/institusi baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan
mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non profesional, di
bidang kesehatan maupun non kesehatan
3. Penyajian genogram
Genogram mengacu kepada penggunaan diagram secara luas untuk memahami
hubungan suatu keluarga setidaknya untuk tiga generasi. Perry, (2010: 383)
menyebutkan bahwa esensinya, genogram adalah hanya sekedar sebuah diagram
struktural hubungan keluarga yang mencakup tiga generasi. Secara konseptual,
genogram berarti suatu alat dalam model grafis yang menggambarkan asal-usul
keluarga klien dalam tiga generasi, yakni generasi dirinya, orang-tuanya dan
kakek-neneknya. Genogram adalah alat bantu untuk mengetahui tentang sejarah
keluarga dari waktu ke waktu dan biasanya menyediakan berbagai macam data dari
sebuah generasi keluarga melalui pola hubungan antar anggota keluarga beserta
karakteristik yang melekat pada masing-masing anggota keluarga, baik berupa
pekerjaan, jenis kelamin, umur, dan berbagai peristiwa yang mengiringi perjalanan
sebuah keluarga dari generasi ke generasi.
(Azwar, 1995)
B. DIAGNOSIS HOLISTIK
Langkah diagnostik holistik
1. Menyusun struktur keluarga dalam bentuk karakteristik demogradi
keluarga
2. Membuat status pasien (anggota keluarga yang memiliki masalah
kesehatan) mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

penunjang,

penyusunan

diagnosis

dan

penatalaksanaan

medikamentosa
3. Mengidentifikasi fungsi-fungsi keluarga:
a. Fungsi
biologis-psikologis-sosial-ekonomi-pemenuhan
kebutuhan
Biologi
: menunjukkan apakah di keluarga ada gejala
penyakit menurun, menular atau kronis
Psikologis : menunjukkan hubungan antar keluarga, apakah
dapat memecahkan masalah bersama
Sosial ekonomi : kondisi ekonomi dan peran aktif keluarga di
masyarakat
b. Fungsi
fisiologis

(APGAR

score)

melihat

adaptation,

partnership, growth, affection, dan resources dalam keluarga


sehingga dapat dilihat siklus kehidupan keuarga
Adaptation :
kemampuan
anggota
keluarga
beradaptasi

dengan

anggota

keluarga

yang

tersebut
lain,

serta

penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang


lain
Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi,
saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah
yang dialami oleh keluarga tersebut
Growth
: menggambarkan dukungan keluarga terhadap
hal hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut
Affection
: menggambarkan hubungan kasih sayang dan
interaksi antar anggota keluarga
Resolve
: menggambarkan kepuasan anggota keluarga
tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama
anggota keluarga yang lain
Skor untuk masing masing kategori adalah :
0 = jarang/tidak pernah sama sekali
1 = kadang kadang
2 = sering/selalu
Terdapat tiga kategori penilaian yaitu nilai rata rata <5 =
kurang, 6 7 = cukup, 8 10 = baik
c. Fungsi patologis (SCREEM score)

melihat

fungsi

sosial,

cultural, religion, education, economic, dan medical dalam


keluarga
Social
sekitar

: melihat bagaimana interaksi dengan tetangga

Culture

: melihat bagaimana kepuasan keluarga terhadap

budaya, tata krama, dan perhatian terhadap sopan santun


Religious : melihat ketaatan anggota keluarga dalam
menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya
Economic : melihat status ekonomi anggota keluarga
Educational : melihat tingkat pendidikan anggota keluarga
Medical
: melihat apakah anggota keluarga ini mampu
mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai
d. Fungsi keturunan dengan menyusun genogram keluarga
Menunjukkan adanya penyakit keturunan ataukah penyakit
menular dalam keluarga. Apabila keduanya tidak ditemukan,
berarti dalam keadaan baik.
e. Fungsi hubungan antar manusia untuk melihat harmonisasi
interaksi anggota keluarga
f. Fungsi perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan) dan non
perilaku (lingkungan indoor/outdoor, akses ke pusat pelayanan
kesehatan) untuk mengetahui faktor resiko internal dan
eksternal dalam keluarga)
(Prasetyawati, 2010).
Dari langkah ini bisa dilihat bagaimana dampak kesakitan dalam
keluarga
4. Mencari literatur ilmiah untuk memecahkan masalah keluarga
pasien (evidence based medicine)
5. Menyusun kesimpulan diagnostik

holistik

dan

perencanaan

penatalaksanaan yang komprehensif


Siklus kehidupan keluarga
Menurut Duvall (1997), siklus kehidupan keluarga terdiri dari delapan tahap
perkembangan yang mempunyai tugas dan resiko tertentu pada tiap tahap perkembangan.
1.Tahap pasangan baru (Keluarga baru)
Tugas perkembangan keluarga :
a. Membina hubungan perkawinan yang saling memuaskan
b. Membina hubungan saling harmonis dengan saudara atau kerabat
c. Merencanakan keluarga (termasuk merencanakan jumlah anak)
2.Tahap menanti kelahiran (Child Bearing) atau anak tertua adalah bayi (usia <1 bulan)
Tugas perkembangan keluarga :
a. Menyiapkan anggota keluarga yang baru (bayi dalam keluarga)
b. Membagi waktu untuk individu, pasangan dan keluarga
c. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
d. Memperkuat hubungan dengan keluarga besar, dengan tambahan peran sebagai
orang tua dan kakek/nenek
3.Tahap anak berusia pra sekolah atau anak tertua berusia 2,5 6 tahun

Tugas perkembangan keluarga :


a. Menyatukan kebutuhan masing masing anggota keluarga meliputi ruangan
(privacy) atau kamar dan keamanan
b. Mensosialisasikan anak anak
c. Menyatukan keinginan anak yang berbeda beda
d. Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga

4.Tahap keluarga dengan anak atau anak tertua berusia 7 12 tahun


Tugas perkembangan keluarga :
a. Mensosialisasikan anak anak termasuk di dalamnya membantu anak anak
mencapai prestasi baik di sekolah
b. Membantu anak anak membina hubungan peergroup dengan teman sebaya
c. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
d. Memenuhi kebutuhan kesehatan masing masing anggota keluarga
5.Tahap keluarga dengan remaja atau anak tertua berusia 13 20 tahun
Tugas perkembangan keluarga :
a. Mengimbangi kebebasan remaja dengan tanggung jawab sejalan dengan maturitas
remaja
b. Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
c. Melakukan komunikasi terbuka di antara orang tua dan anak anak
6.Tahap keluargan dengan anak dewasa (pelepasan)
Tugas perkembangan keluarga :
a. Menambah anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru
dengan pernikahan anak - anak yang telah dewasa
b. Menata kembali hubungan perkawinan
c. Menyiapkan datangnya proses menua, termasuk timbulnya masalah masalah
kesehatan
7.Tahap keluarga dengan usia pertengahan
Tugas perkembangan keluarga :
a. Mempertahankan kontak dengan anak dan cucu
b. Memperkuat hubungan perkawinan
c. Meningkatkan usaha promosi kesehatan
8.Tahap keluarga dengan usia lanjut
Tugas perkembangan keluarga :
a. Menata kembali kehidupan yang memuaskan
b. Menyesuaikan kehidupan dengan penghasilan kurang
c. Mempertahankan hubungan perkawinan
d. Menerima kehilangan pasangan
e. Mempertahankan kontak dengan masyarakat
f. Menemukan arti hidup
Genogram
Genogram dalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah
keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan
informasi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota

keluarga. Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus
kehidupan keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota
keluarga.
Di dalam genogram berisi : nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anakanak, keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan.
Juga terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota
keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain, serta informasi-informasi lain
yang relevan. (Gan, et al. 2004)
C. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama
untuk semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus
(preventive and specific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan
kecacatan (disability limitation), dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation) dengan
memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko legal etika kedokteran
(Prasetyawati, 2010).
Upaya pencegahan primer mencakup promosi kesehatan (misalnya, pendidikan
kesehatan, pemberian makanan tambahan dan mikronutrien) dan perlindungan spesifik
(misalnya, imunisasi untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, penggunaan helm dan kacamata pengaman oleh pekerja untuk mencegah
cedera, pengasapan untuk membunuh Aedes aegypti sebagai vektor Demam Berdarah
Dengue) (Murti, 2010) .
1. Mempertinggi Nilai Kesehatan (Health Promotion)
Promotif adalah usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat. Upaya
promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,keluarga, kelompok dan
masyarakat. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat
informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek pemeliharaan kesehatannya.
Usaha ini merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada
umumnya. Beberapa usaha diantaranya :
a. Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya.
b. Perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan, seperti : penyediaan air rumah
tangga yang baik, perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran dan air limbah
dan sebagainya.
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya.
d. Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang baik.
2. Memberikan Perlindungan Khusus Terhadap Suatu Penyakit (Specific Protection)

Usaha ini merupakan tindakan pencegahan terhadap penyakit-penyakit


tertentu yang gangguan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Beberapa usaha diantaranya adalah :
a. Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah terhadap
penyakit-penyakit tertentu
Contohnya : imunisasi hepatitis diberikan kepada mahasiswi kebidanan yang
akan praktek di rumah sakit.
b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular
Contohnya : isolasi terhadap pasien penyakit flu burung.
c. Perlindungan terhadap kemungkinan kecelakaan di tempat-tempat umum dan
di tempat kerja
Contohnya : di tempat umum, misalnya adanya rambu-rambu zebra cross agar
pejalan kaki yang akan menyebrang tidak tertabrak oleh kendaraan yang
sedang melintas. Sedangkan di tempat kerja : para pekerja yang memakai alat
perlindungan diri.
d. Peningkatan keterampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan
narkotik
Contohnya : kursus-kursus peningkatan keterampilan, seperti kursus menjahit,
kursus otomotif.
e. Penanggulangan stres
Contohnya : membiasakan pola hidup yang sehat dan seringnya melakukan
relaksasi.
Upaya pencegahan sekunder meliputi deteksi dini penyakit (misalnya, pap smear
untuk kanker leher rahim, pemeriksaan tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi) dan
pengobatan segera (Murti, 2010).
1. Mengenal dan Mengetahui Jenis Penyakit pada Tingkat Awal Serta Mengadakan
Pengobatan yang Tepat dan Segera (Early Diagnosis And Prompt Treatment)
Early diagnosis mengandung pengertian diagnosa dini atau tindakan pencegahan
pada seseorang atau kelompok yang memiliki resiko terkena penyakit.Tindakan yang
berupaya untuk menghentikan proses penyakit pada tingkat permulaan sehingga tidak
akan

menjadi

parah.

Prinsipnya

diterapkan

dalam

program

pencegahan,

pemberantasan dan pembasmian macam penyakit baik menular ataupun tidak dan
memperhatikan tingkat kerawanan penyakit terhadap masyarakat yang tinggi.
Misalnya : TBC paru-paru, kusta, kanker, diabetes, jantung dll. Sedangkan Prompt
treatment memiliki pengertian pengobatan yang dilakukan dengan tepat dan segera
untuk menangani berbagai masalah yang terjadi. Prompt treatment merupakan
tindakan lanjutan dari early diagnosis. Pengobatan segera dilakukan sebagai
penghalang agar gejala tidak menimbulkan komplikasi yang lebih parah.

Tujuan utama dari usaha ini adalah :


a.

Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepatnya dari seytiap jenis penyakit

b.
c.

sehingga tercapai penyembuhan yang sempurna dan segera


Pencegahan menularkan kepada orang lain, bila penyakitnya menular
Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan suatu penyakit
Beberapa usaha diantaranya :

a.

Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan misalnya

b.

pemeriksaan darah, rontgen, paru-paru dsb, serta memberikan pengobatan


Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular
(contact person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat diberikan segera

c.

pengobatan dan tindakan-tindakan yang lain misalnya isolasi, desinfeksi, dsb.


Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala
penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan.
Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau tidaknya usaha pengobatan,
tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta keahlian tenaga kesehatnnya,
melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan itu diberikan. Pengobatan yang
terlambat akan menyebabkan usaha penyembuhan menjadi lebih sulit, bahkan
mungkin tidak dapat sembuh lagi misalnya pengobatan kanker (neoplasma) yang
terlambat. Kemungkinan kecacatan terjadi lebih besar penderitaan si sakit menjadi
lebih lama, biaya untuk pengobatan dan perawatan menjadi lebih besar.
2. Pembatasan Kecacatan dan Berusaha Untuk Menghilangkan Gangguan Kemampuan
Bekerja yang Diakibatkan Suatu Penyakit (Disibility Limitation)
Usaha ini merupakan lanjutan dari usaha pengobatan dan perawatan yang
sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat. Bila sudah terjadi kecacatan,
maka dicegah agar kecacatan tersebut tidak bertamabah berat (dibatasi), fungsi dari
alat tubuh yang menjadi cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin.peran bidan
dalam hal tersebut yaitu memberikan pelayanan kesehatan secara professional,
melakukan pendampingan pada pasien untuk mendapatkan kesehatan secara sempurna,
serta memberikan pendidikan kesehatan untuk masyarakat sejak dini
Upaya pencegahan tersier meliputi rehabilitasi, pemulihan fungsi dan anatomi,
pembatasan kecacatan, pencegahan komplikasi dan rekurensi, dan pencegahan kematian
dini (misalnya, pemberian aspirin pasca infark miokard akut untuk mencegah rekurensi
dan kematian, fisioterapi dan rehabilitasi pasien pasca stroke untuk mengembalikan
semaksimal mungkin fungsi kognitif, afektif dan psikomotor) (Murti, 2010).
Rehabilitasi

Rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam


masyarakat, sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna
untuk dirinya dan masyarakat, semaksimalnya sesuai dengan kemampuannya.
Rehabilitasi ini terdiri atas :
a. Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimalnya.
Misalnya, seorang yang karena kecelakaan, patah kakinya, perlu mendapatkan
rehabilitasi dari kaki yang patah yaitu denganmempergunakan kaki buatan yang
fungsinya sama dengan kaki yang sesungguhnya.
b. Rehabilitasi mental
Yaitu agar bekas penderita dapat menyusuaikan diri dalam hubungan perorangan
dan sosial secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badania
muncul pula kelainan-kelaianan atau gangguan mental.untuk hal ini bekas penderita
perlu mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali kedalam masyarakat
c. Rehabilitasi sosial vokasional
Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat
dengan kapasitas kerja yang semaksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidak
mampuannya.
d. Rehabilitasi aesthetis
Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan rasa
keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat
dikembalikan misalnya: misalnya penggunaan mata palsu.
D. HOME VISIT
Batasan kunjungan dan perawatan pasien di rumah banyak macamnya. Secara
sederhana, yang dimaksud dengan kunjungan rumah adalah kedatangan petugas kesehatan
ke rumah pasien untuk lebih mengenal kehidupan pasien dan atau memberikan
pertolongan. Kedokteran sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pasien. Sedangkan yang
dimaksud dengan oerawatan pasien di rumah adalah apabila pertolongan kedokteran yang
dilakukan di rumah tersebut telah tidka termasuk lagi dalam kelompok pelayanan rawat
jalan (Ambulatory services), melainkan dalam kelompok rawat inap (Hospitalization)
Jika diperhatikan kedua batasan di atas, terlihat bahwa ruang lingkup kegiatan pada
kunjungan rumah lebih bersifat terbatas jika dibandingkan dengan ruang lingkup kegiatan
pada perawatan pasien di rumah. Ruang lingkup kegiatan pada kunjungan rumah hanya
untuk lebih mengenal kehidupan pasien serta melakukan pertolongan kedokteran yang
bersifat rawat jalan saja. Sedangkan pada perawatan pasien di rumah, ruang lingkup

kegiatan tersebut telah mencakup kegiatan pertolongan kedokteran yang bersifat rawat
inap.
Tata cara kunjungan pasien di rumah mencakup bidang yang amat luas. Jika ditinjau
dari tenaga pelaksana, dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, dilakukan sendiri oleh
dokter yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga. Kedua, dilakukan oleh petugas
kesehatan khusus, lazimnya tenaga paramedis, yang telah mendapatkan pelatihan.
Sedangkan, jika ditinjau dari pihak yang mengambil inisiatif, juga dapat dibedakan atas
dua macam. Pertama, atas inisiatif dokter keluarga yang melaksanakan pelayanan dokter
keluarga. Kedua, atas inisiatif pasien yang memerlukan pertolongan kedokteran dari
dokter keluarga. Hanya saja, terlepas dari kategori tenaga yang akan melaksanakan dan
atau para pihak yang mengambil inisiatif, suatu kunjungan pasien di rumah yang baik
memang harus mengikuti suatu tata cara tertentu. Tata cara yang dimaksud secara umum
dapat dibedakan atas tiga macam hal, yaitu :
1. Untuk Mengumpulkan Data tentang Pasien
Jika tujuan kunjungan rumah adalah untuk mengumpulkan data tentang pasien, tata
cara yang ditempuh adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan daftar nama keluarga yang akan dikunjungi
Apabila memang ada kemampuan, seyogyanya dokter keluarga dapat melakukan
kunjungan rumah kepada semua keluarga yang menjadi tanggung jawabnya,
terutama apabila keluarga tersebut merupakan pasien baru. Tetapi apabila
kemampuan tersebut tidak dimiliki, kunjungan rumah untuk pengumpulandata
cukup dilakukan terhadap keluarga yang sangat membutuhkan saja, yakni keluarga
yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi (high risk family), seperti misalnya
menderita penyakit menular, isteri sedang hamil, atau keluarga dengan anak balita.
Siapkanlah daftar nama keluarga yang akan dikunjungi tersebut.
b. Mengatur jadwal kunjungan
Tidak ada gunanya melakukan kunjungan rumah apabila kepala keluarga yang
dapat menjelaskan tentang kehidupan keluarga yang ingin diketahui dan atau
anggota keluarga yang ingin dikunjungi, sedang tidak berada di tempat. Untuk
menghindari kunjungan rumah yang sia - sia ini, perlulah dilakukan pengaturan
jadwal kunjungan rumah yang sebaik - baiknya.
c. Mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan
Macam data yang akan dikumpulkan banyak macamnya, yang kesemuanya sangat
tergantung dari masalah kesehatan yang ada pada keluarga. Macam data minimal
yang patut dikumpulkan adalah tentang identitas keluarga, keadaan rumah dan
lingkungan pemukiman pasien, struktur keluarga (genogram), fungsi keluarga serta
interaksi anggota keluarga dalam menjalankan fungsi keluarga. Data minimal ini

sering disebut sebagai data dasar (data base) keluarga dan atau disebut pula sebagai
profil keluarga.
d. Melakukan pengumpulan data
Apabila ketiga persiapan di atas selesai dilakukan, kegiatan dilanjutkan dengan
melakukan kunjungan rumah serta mengumpulkan data sesuai dengan yang telah
direncanakan. Kumpulkanlah data tersebut selengkap-lengkapnya, tetapi jangan
terburuburu karena kecuali dapat meninggalkan kesan yang kurang baik, juga
biasanya data yang dikumpulkan melalui satu kunjungan saja, sering tidak
menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
e. Melakukan pencatatan data
Kegiatan berikutnya yang dilakukan adalah mencatat semua data yang berhasil
dikumpulkan. Catatan data dasar pasien ini biasanya dilakukan pada rekam medis
khusus yang disebut dengan nama rekam medis keluarga.
f. Menyampaikan nasehat dan atau penyuluhan kesehatan
Sekalipun tujuan utama kunjungan rumah adalah untuk mengumpulkan data pasien,
namun sangat dianjurkan pada waktu kunjungan rumah tersebut dapat sekaligus
disampaikan nasehat dan ataupun dilakukan penyuluhan kesehatan, sesuai dengan
hasil temuan. Misalnya, menyampaikan nasehat tentang kebersihan perseorangan,
kebersihan lingkungan pemukiman, dan lain sebagainya. Sesungguhnyalah melalui
kunjungan rumah akan dapat dikumpulkan data tentang pasien secara lengkap, yang
jika dilakukan hanya melalui wawancara di ruang praktek, hampir tidak mungkin
diperoleh. Pasien memang akan lebih bersikap terbuka jika berada di lingkungan
yang lebih dikenalnya, yakni lingkungan rumah dan keluarganya, bukan lingkungan
tempat praktek.
2. Untuk Memberikan Pertolongan Kedokteran Atas Inisiatif Dokter Keluarga
Jika tujuan kunjungan rumah tersebut adalah untuk memberikan pertolongan
kedokteran atas inisiatif dokter keluarga, misalnya untuk keperluan pelayanan tindak
lanjut yang telah terjadwal dan disepakati bersama, maka tata cara yang dilakukan
mencakup enam kegiatan pokok sebagai berikut :
a. Mempersiapkan jadwal kunjungan
Kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan jadwal kunjungan
yang berisikan daftar nama pasien yang akan dikunjungi sesuai dengan tanggal dan
jam kunjungan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh pasien. Ada baiknya
jadwal kunjungan tersebut disusun untuk satu minggu sekali.
b. Menyampaikan jadwal kunjungan yang telah disusun kepada pasien
Jika keadaan memungkinkan ada baiknya jadwal kunjungan tersebut disampaikan
kepada pasien yang akan dikunjungi. Misalnya melalui surat dan ataupun telepon,

yang sebaiknya disampaikan minimal tiga hari sebelum tanggal kunjungan.


Maksudnya untuk mengingatkan kembali pasien tentang perjanjian kunjungan yang
akan dilakukan, yang apabila ada perubahan, masih sempat diperbaiki.
c. Mempersiapkan keperluan kunjungan
Sebelum berkunjung ke tempat pasien, dokter harus mempersiapkan segala sesuatu
yang diperlukan, sesuai dengan pertolongan kedokteran yang akan dilakukan.
Jangan lupa pula membawa rekam medis keluarga untuk pasien yang akan
dikunjungi tersebut.
d. Melakukan kunjungan dan pertolongan kedokteran
Sesuai dengan tanggal dan jam yang telah ditetapkan dalam jadwal kunjungan,
dokter keluarga berkunjung ke tempat pasien serta melakukan pertolongan
kedokteran sesuai dengan keperluan pasien. Patut diingat dalam pertolongan
kedokteran ini termasuk pula pemberian nasehat atau penyuluhan kesehatan yang
ada hubungannya dengan kesehatan pasien.
e. Mengisi rekam medis keluarga
Kegiatan kelima yang dilakukan adalah mencatat semua hasil temuan serta tindakan
kedokteran yang dilakukan pada rekam medis keluarga. lsilah rekam medis
keluarga tersebut dengan lengkap.
f. Menyusun rencana tidak lanjut
Kegiatan terakhir yang dilakukan adalah bersama pasien menyusun rencana
pelayanan tindak lanjut yang perlu dilakukan. Jika memang perlu pelayanan rawat
inap di rumah sakit, bicarakanlah dengan sebaik - baiknya.
(Tim Field Lab UNS, 2014)
E. KONSELING
Konseling aalah hubungan profesional antara konselor dan klien sebagai upaya
membantu klien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalahnya sendiri.
Tujuan utama konseling adalah menolong pasien agar mereka dapat :
1. Mengembangkan hubungan sedemikian rupa sehingga mereka merasa dimengerti
2.
3.
4.
5.

untuk selanjutnya dapat secara jujur dan terbuka mendiskusikan persoalannya,


Mendapatkan pengertian yang mendalam akan masalah yang mereka hadapi,
Mendikusikan alternatif pemecahan masalah dan menentukan keputusan,
Merencanakan dan melaksanakan tindakan yang spesifik, dan
Merasakan perasaan yang berbeda yang membuat mereka lebih tenang dan bahagia.
Beberapa dekade lalu Szas dan Hollender menjelaskan tiga model dasar hubungan

antara petugas kesehatan-pasien, yakni a) activity-passivity, pada model ini petugas secara
aktif menangani pasien yang bersikap pasif sebagai penerima pelayanan, (b) guidancecooperation, di dalam hubungan ini pasien dengan patuh mengikuti perintah petugas

kesehatan, dan (c) mutual participation, petugas kesehatan membantu pasien menolong
dirinya sendiri. Model yang ketiga membantu terciptanya interaksi yaitu petugas dan
pasien mempunyai kekuatan yang sama, tidak bergantung satu sama lain, dan mencapai
kepuasan. Konseling medik jelas akan menghasilkan efek yang memuaskan bila
menggunakan model yang ketiga tersebut, karena di dalam beberapa penelitian telah
dibuktikan partisipasi pasien dapat meningkatkan keluaran konsultasi medik, baik berupa
kepuasan pasien dan petugas, maupun beberapa keluaran lain yang dapat diukur secara
obyektif misalnya berat badan, tekanan darah, kolesterol darah.
Contoh model konseling yang diajukan oleh Egan. Model tersebut menunjukkan
konseling sebagai satu proses yang terdiri atas 4 tahap yakni attending, exploring,
understanding dan action.
1. Tahap attending
Konselor harus menunjukkan keterlibatan mereka kepada pasien dan siap untuk
menyediakan waktu untuk konsultasi. Jadi attentive listening (mendengar aktif)
harus diperlihatkan oleh konselor sejak pertemuan pertama.
2. Tahap exploring (menggali informasi)
Yang perlu dilakukan setelah hubungan antara konselor dengan pasien
ditegakkan. Konselor harus berusaha untuk mendapatkan pengertian dan
pemahaman yang lengkap mengenai keadaan pasien. Keterampilan yang
diperlukan oleh konselor untuk dapat melakukan exploring adalah questioning,
reflecting dan summarizing.
3. Tahap understanding
Konselor harus memahami semua perasaan, masalah, dan pendapat pasien yang
dikemukakan pada tahap sebelumnya. Konselor harus menyampaikan pengertian
dan pemahamannya kepada pasien. Keterampilan yang penting di sini adalah
empati, yaitu konselor menunjukkan bahwa ia melihat sesuatu yang terjadi
melalui mata pasien.
4. Tahap action
Pada tahap ini pasien diberi kesempatan untuk memahami masalahnya untuk
selanjutnya dapat membuat keputusan dibantu oleh konselor sebagai fasilitator.
Di tahap tersebut pasien didorong untuk menentukan sendiri tujuan yang akan
dicapai serta rencana apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Peranan konselor adalah
menyediakan dukungan dan dorongan. Di akhir tahap ini terjadi pengakhiran
proses konseling.

Keterampilan konseling dapat dibagi menjadi tiga kelompok yakni:


1. Introduksi
Memperkenalkan diri kepada orang lain adalah keterampilan yang sangat penting
dalam menolong orang lain. Dalam konteks hubungan provider dengan pasien,
jelas tujuannya adalah agar pasien mampu menunjukkan siapa dirinya dan mau
menceritakan masalahnya dengan tuntas sehingga memudahkan petugas dalam
membuat diagnosis atau merencanakan pengobatannya. Ini akan dilakukan oleh
pasien bila petugas juga membuka dirinya.
2. Mendengarkan
Mendengarkan tidak hanya sekedar memberikan perhatian penuh kepada
seseorang yang berbicara, tetapi juga harus menyadari bahwa orang yang
berbicara tersebut melihat apakah kita mendengarkan pembicaraannya. Menurut
Egan perilaku berikut merupakan perwujudan effective listening dan seyogyanya
dilatih terus-menerus:
a. Duduk berhadapan dengan lawan bicara (sit squarely),
b. Posisi tubuh yang menunjukkan keterbukaan, jangan bersilang lengan atau
kaki (maintain an open position),
c. Condongkan tubuh sedikit ke arah lawan bicara (lean forward),
d. Lakukan kontak mata dengan lawan bicara secukupnya (maintain reasonable
eye contact),
e. Santai waktu mendengarkan (relax).
Dalam melakukan perilaku mendengarkan, perlu diingat faktor budaya dan norma
setempat, serta penyesuaian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Intervensi
Intervensi adalah apa yang disampaikan oleh seorang konselor dalam proses
konseling. Keterampilan tersebut meliputi keterampilan komunikasi non-verbal,
mengajukan pertanyaan (questioning), melakukan refleksi (reflection), melakukan
selective reflection, empathy building dan meneliti pemahaman pasien (checking
for understanding).
(Basuki, 2009)

F. PEMELIHARAAN DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN IBU HAMIL


Konseling dapat dilakukan selama pemeriksaan kehamilan (ANC) paling sedikit 4 kali
selama kehamilan sesuai anjuran WHO:
1. 1 kali pada TM1
2. 1 kali pada TM2

3. 2 kali pada TM3


Pelayanan atau asuhan standar yang diberikan pada pemeriksaan kehamilan adalah 7T:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Timbang berat badan


Ukur tekanan darah
Ukur tinggi fundus uteri
Pemberian imunisasi TT lengkap
Pemberian tablet FE selama kehamilan
Tes terhadap penyakit menular sekual
Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
Konseling pada ibu hamil salah satunya dapat memberikan informasi tentang tanda-

tanda bahaya kehamilan yang diantaranya adalah:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perdarahan Pervaginam
Sakit kepala lebih dari biasa
Gangguan penglihatan
Pembengkakan pada wajah/ tangan
Nyeri abdomen
Keluar cairan pervaginam
Gerakkan janin tidak terasa
Hal ini sangat bermanfaat sehingga seorang ibu mampu mendeteksi secara dini jika

terjadi hal-hal yang dapat membahayakan janinnya, sehingga angka resiko kecacatan
ataupun kematian bayi maupun ibu dapat berkurang.
Konseling pada wanita hamil terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama.
Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama berkenaan dengan
perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu.
Konseling pada kehamilan trimester ketiga berfokus pada intervensi yang diberikan pada
klien berkenaan dengan keadaan janin dalam rahim, posisi janin dan letak janin. Persiapan
persalinan baik yang normal maupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan
tanda persalinan.
3.Peristiwa fisiologis:
Terjadi konsepsi (pertemuan sperma dan sel telur), ibu tidak menstruasi, terjadi
perubahan hormonal, hal ini yang menyebabkan kadang ibu mengalami pusing, mual,
tidak nafsu makan, peningkatan suhu tubuh dan nampak cloasma gravidarum, BB
bertambah, pembesaran uterus, sehingga tadinya langsing menjadi montok, gendut,
dan gerakan lambat.
4.Perubahan psikologis:
Kehamilan merupakan arti emosional pada setiap wanita, yang biasanya disertai
perubahan-perubahan

kejiwaan.

Peristiwa-peristiwa

kejiwaan

yang

biasanya

menyertai ibu hamil antara lain peristiwa ngidam dibarengi dengan emosi-emosi yang

kuat karena dorongan hormonal, ibu jadi peka, mudah tersinggung, karena hamil
umumnya menambah intensitas tekanan batin pada psikisnya, tetapi dapat juga
dijumpai ibu yang bangga dengan kehamilannya dan bergairah menyambut kehadiran
bayinya, bila merupakan peristiwa pertama. Disamping perasaan gembira, rasa cemas
pun timbul apa bayinya cacat/sehat, apa melahirkan dengan lancar. Hal ini biasanya
diperberat dengan kasus-kasus rumah tangga.
Hal-hal yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada ibu hamil adalah:
1. Ibu hamil pertama belum punya pengalaman, contoh adanya pergerakan anak,
kelainan-kelainan kulit.
2. Anak yang tidak diharapkan, contoh pernah mau digugurkan tetapi tidak gugur, takut
anaknya cacat, kehamilan diluar nikah.
3. Persalinan lalu tidak menyenangkan, contih anak lahir tidak abnormal, anak
meninggal, perdarahan, terlalu mengharap jenis kelamin tertentu, umur ibu resiko
tinggi, ibu menderita penyakit tertentu, tidak mendapat dukungan suami atau keluarga
yang lain, dll.
Prinsip komunikasi pada ibu hamil:
1. Pesan yang disampaikan sesuai dengan kondisi ibu hamil.
2. Informasi yang diberikan menyangkut tentang kehamilan dan persiapan melahirkan.
Seperti ke hal-hal yang menyangkut kesehatan serta pelayanan kesehatan yang
diperlukan.
3. Menciptakan kenyamanan dan keakraban saat menyampaikan pesan.
4. Tidak membuat penerima stres dengan info yang disampaikan
(Asrinah dkk, 2010)
Tabu makanan merupakan salah satu masalah kepercayaan yang mempengaruhi factor
perilaku kesehatan. Tabu makanan membuat seseorang tidak meu makan sesuatu yang
disebabkan oleh pengaruh kepercayaan, seperti tidak mau makan amis amis/ basah-basah
pada perempuan hamil karena khawatir akan menyebabkan luka kehamilan lama
sembuhnya dan mempengaruhi kondisi janinnya.
Secara skematis pengaruh kepercayaan terhadap tingkah laku ibu digambarkan sebagai
berikut:
Kepercayaan pengetahuan sikap tindakan perilaku mempengaruhi
status kesehatan seseorang.
Promosi kesehatan yang perlu dilakukan dengan meruah pada enabling factor ini
dengan metode komunikasi yang efektif (missal konseling, penyuluhan, dsb) baik pada

sasaran langsung (ibu dan keluarga) maupun sasaran sekunder dan tersiernya (kader, ketua
RT/RW, tokoh masyarakat)
4 Terlalu
1. Terlalu muda
Yang dimaksud dengan kehamilan adalah hamil pada usia kurang dari 20 tahun.
Penyebab tidak boleh hamil pada usia muda karena :
a. Secara fisik
o Kondisi rahim dan panggul belum berkembang optimal, mengakibatkan
kesakitan dan kematian pada ibu dan bayinya
o Pertumbuhan dan perkembangan fisik ibu terhenti/terhambat
b. Secara mental
o Belum siap menghadapi perubahan yang terjadi saat usia kehamilan
o Belum siap menjalankan peran sebagai ibu
o Belum siap menghadapi masalah masalah rumah tangga
Gabungan faktor fisik dan mental yang belum matang akan meningkatkan resiko
terjadinya persalinan yang sulit dengan komplikasi medis. Resiko yang mungkin terjadi
antara lain :
a. Keguguran
b. Preeklampsia
c. Eklampsia
d. Timbulnya kesulitan persalinan
e. Bayi lahir sebelum waktunya
f. Perdarahan
g. Cacat bawaan
h. Berat badan lahir rendah (BBLR)
i. Fistula vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina)
j. Fistula retrovaginal (keluarnya gas dan feses/tinja ke vagina)
k. Kanker leher rahim
Resiko ini dapat meningkatkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi
2. Terlalu tua
Yang dimaksud dengan terlalu tua adalah hamil di atas usia 35 tahun. Penyebab tidak
boleh hamil di usia terlalu tua karena :
a. Pada usia tersebut kondisi kesehatan ibu mulai menurun
b. Fungsi rahim menurun
c. Kualitas ovum berkurang
d. Meningkatnya komplikasi medis pada kehamilan dan persalinan, berhubungan
dengan kelainan degeneratif, hipertensi, dan diabetes mellitus
Resiko yang mungkin terjadi antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Keguguran
Preeklampsia
Eklampsia
Timbulnya kesulitan pada persalinan
Perdarahan
Cacat bawaan

3. Terlalu dekat
Yang dimaksud terlalu dekat adalah jarak antara kehamilan satu dengan berikutnya
kurang dari 2 tahun (24 bulan). Jarak optimal yang dianjurkan adalah 36 bulan.
Penyebab tidak boleh hamil terlalu dekat yaitu :
a. Kondisi rahim ibu belum pulih
b. Dapat mengakibatkan terjadinya penyulit kehamilan, seperti anemia
c. Dapat menghambat proses persalinan, seperti gangguan kontraksi, kelainan letak
dan posisi janin
d. Dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan
e. Waktu ibu untuk menyusui dan merawat bayi kurang
Resiko yang mungkin terjadi antara lain :
a. Keguguran
b. Anemia
c. Payah jantung
d. Bayi prematur
e. Berat bayi lahir rendah (BBLR)
f. Cacat bawaan
g. Tidak optimalnya tumbuh kembang balita
4. Terlalu banyak
Yang dimaksud terlalu banyak adalah jumlah anak yang dilahirkan lebih dari 3 orang.
Penyebab tidak boleh melahirkan terlalu banyak antara lain :
a. Dapat mengakibatkan terjadinya gangguan dalam kehamilan, seperti plasenta yang
letaknya dekat jalan lahir
b. Dapat menghambat proses persalinan, seperti gangguan kekuatan kontraksi,
c.
d.
e.
f.

kelainan letak, dan posisi janin


Dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan
Waktu ibu untuk menyusui dan merawat anak kurang
Tumbuh kembang anak tidak optimal
Menambah beban ekonomi keluarga

Resiko yang terjadi antara lain :


a. Sisi kesehatan
o
o
o
o

Keguguran
Anemia
Perdarahan hebat
Preeklampsia

o
o
o
o

Eklampsia
Plasenta previa
Berat bayi lahir rendah
Prolaps uteri

b. Sisi ekonomi
o Kurang gizi
o Putus sekolah
o Kurang perhatian/kasih sayang
o Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak optimal
c.

(BKKBN, 2007)

d.

3 Terlambat

1. Terlambar mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan


2. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan
3. Terlambat mendapatkanpertolongan di fasilitas kesehatan
e.
f.
G. ASUHAN MASA NIFAS
g. Perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan sebagai berikut :
1. Rawat gabung (roming in)
h.
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama.Tujuannya agar
terbentuk ikatan antara ibu dan bayinya dalam bentuk kasih sayang (bounding
attachment), sehingga ibu lebih banyak memperhatikan bayinya, memberikan ASI
sehingga kelancaran pengeluaran ASI terjamin.
2. Pemeriksaan umum meliputi kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah
persalinan.
3. Pemeriksaan khusus meliputi pemeriksaan fisik, tekanan darah, nadi, suhu, respirasi,
tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
4. Payudara
i.
Perawatan payudara sudah dimulai sejak hamil sebagai persiapan untuk
menyusui bayinya. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan
rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oxitosin dikeluarkan oleh
hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan involusi uteri akan lebih sempurna.
5. Lochea: lochea rubra, lochea sanguinolenta
6. Luka jahitan
j.
Luka jahitan apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi ( kalor,
dolor, turbor, dan tumor ).
7. Mobilisasi
k.
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam
pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan ke kanan serta diperbolehkan
untuk duduk, atau pada hari ke 4 dan ke- 5 diperbolehkan pulang.
8. Diet
l.
Makan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan
yang mengandung protein, banyak cairan, sayuran dan buah-buahan.
9. Miksi
m. Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4
jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikaterisasi.
10. Defekasi
n.
Buang air besar dapat dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit bab dan
terjadi obstipasi apabila bab keras dapat diberikan laksans per oral atau perektal. Jika
belum biasa dilakukan klisma.
11. Kebersihan diri
o.
Anjurkan kepada ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, membersihkan
daerah kelamin dengan air dan sabun, dari vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang

kemudian anus, kemudian mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari, mencuci
tangan sebelum dan sesudah membersihkan kelamin.
12. Menganjurkan pada ibu agar mengikuti KB sendini mungkin setelah 40 hari (16
minggu post partum)
13. Imunisasi
p.
Menganjurkan ibu untuk selalu membawa bayinya ke RS, PKM, posyandu
atau dokter praktek untuk memperoleh imunisasi
q.
H. PUSKESMAS PONED
r. Pengertian PONED
s.
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial
Dasar. PONED dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas
kesehatan yang boleh memberikan PONED yaitu dokter, bidan, perawat dan tim PONED
Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.
t.
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dapat dilayani oleh puskesmas
yang mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan obstetri dan
neonatal dasar. Puskesmas PONED merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai
rujukan antara kasus-kasus rujukan dari polindes dan puskesmas. Polindes dan puskesmas
non perawatan disipakan untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat darurat obstetri
dan neonatal (PPGDON) dan tidak disiapkan untuk melakukan PONED.
u.
v.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Batasan dalam PONED


Dalam PONED bidan boleh memberikan

Injeksi antibiotika
Injeksi uterotonika
Injeksi sedative
Plasenta manual
Ekstraksi vacuum
Transfusi darah
Operasi SC
w.
x.
y. Indikator kelangsungan dari puskesmas PONED

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kebijakan tingkat PUSKESMAS


SOP (Sarana Obat Peralatan)
Kerjasama RS PONED
Dukungan Diskes
Kerjasama SpOG
Kerjasama bidan desa
Kerjasama Puskesmas Non PONED
Pembinaan AMP
Jarak Puskesmas PONED dengan RS
z.

Tujuan PONED

aa.

Untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 jam dan untuk memutuskan

mata rantai rujukan itu sendiri


ab. Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan PONED
1.
2.
3.
4.

Mutu SDM yang rendah


Sarana prasarana yang kurang
Ketrampilan yang kurang
Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non

PONED belum maksimal


5. Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran)
6. Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai
ac. Tugas puskesmas PONED
1. Menerima rujukan dari fasilitas rujukan dibawahnya, Puskesmas pembantu dan
Pondok bersalin Desa
2. Melakukan pelayanan kegawatdaruratan obstetrik neonatal sebatas wewenang
3. Melakukan rujukan kasus secara aman ke rumah sakit dengan penanganan pra
hospital.
ad. Kriteria puskesmas yang siap untuk ditingkatkan menjadi puskesmas mampu
PONED:
1. Puskesmas rawat inap yang dilengkapi fasilitas untuk pertolongan persalinan, tempat
tidur rawat inap sesuai kebutuhan untuk pelayanan kasus obstetri dan neonatal
emergensi/komplikasi.
2. Letaknya strategis dan mudah diakses oleh Puskesmas/ Fasyankes non PONED dari
sekitarnya.
3. Puskesmas telah mampu berfungsi dalam penyelenggaraan Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP) dan tindakan mengatasi kegawat-daruratan, sesuai dengan
kompetensi dan kewenangannya serta dilengkapi dengan sarana prasarana yang
dibutuhkan.
4. Puskesmas telah dimanfaatkan masyarakat dalam/ luar wilayah kerjanya sebagai
tempat pertama mencari pelayanan, baik rawat jalan ataupun rawat inap serta
persalinan normal.
5. Mampu menyelenggarakan UKM dengan standar.
6. Jarak tempuh dari lokasi pemukiman sasaran, pelayanan dasar dan Puskesmas non
PONED ke Puskesmas mampu PONED paling lama 1 jam dengan transportasi umum
mengingat waktu paling lama untuk mengatasi perdarahan 2 jam dan jarak tempuh
Puskesmas mampu PONED ke RS minimal 2 jam
ae. Kriteria puskesmas mampu PONED
1. Memenuhi kriteria butir 1.

2. Mempunyai Tim inti yang terdiri atas Dokter, Perawat dan Bidan sudah dilatih
PONED, bersertifikat dan mempunyai kompetensi PONED, serta tindakan mengatasi
kegawat-daruratan

medik

umumnya

dalam

rangka

mengkondisikan

pasien

emergensi/komplikasi siap dirujuk dalam kondisi stabil.


3. Mempunyai cukup tenaga Dokter, Perawat dan Bidan lainnya, yang akan mendukung
pelaksanaan fungsi PONED di Puskesmas/ Fasyankes tingkat dasar.
4. Difungsikan sebagai Pusat rujukan antara kasus obstetri

dan

neonatal

emergensi/komplikasi, dalam satu regional wilayah rujukan kabupaten


5. Puskesmas telah mempunyai peralatan medis, non medis, obat-obatan dan fasilitas
tindakan medis serta rawat inap, minimal untuk mendukung penyelenggaraan PONED.
6. Kepala Puskesmas mampu PONED sebagai penanggung-jawab program harus
mempunyai kemampuan manajemen penyelenggaraan PONED
7. Puskesmas mampu PONED mempunyai komitmen untuk menerima rujukan kasus
kegawat-daruratan medis kasus obstetri dan neonatal dari Fasyankes di sekitarnya.
8. Adanya komitmen dari para stakeholders yang berkaitan dengan upaya untuk
memfungsikan Puskesmas mampu PONED dengan baik yaitu:
a. RS PONEK terdekat baik milik pemerintah maupun swasta, bersedia menjadi
pengampu dalam pelaksanaan PONED di Puskesmas
b. Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama RS kabupaten/kota dan RS
PONEK terdekat dalam membangun sistem rujukan dan pembinaan medis
yang berfungsi efektif-efisien.
c. Adanya komitmen dukungan dari BPJS Kesehatan untuk mendukung
kelancaran pembiayaan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dalam rangka
d.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


Dukungan Bappeda dan Biro Keuangan Pemda dalam pengintegrasian
perencanaan pembiayaan Puskesmas mampu PONED dalam sistem yang

berlaku.
e. Dukungan Badan Kepegawaian Daerah dalam kesinambungan keberadaan tim
PONED di Puskesmas
f. Dukungan politis dari Pemerintah daerah dalam bentuk regulasi (Perbup,
Perwali atau SK Bupati/ Walikota) dalam mempersiapkan sumber daya dan
atau dana operasional, untuk berfungsinya Puskesmas mampu PONED secara
efektif dan efisien.
9. Seluruh petugas Puskesmas mampu PONED melakukan pelayanan dengan nilai-nilai
budaya: kepuasan pelanggan adalah kepuasan petugas Puskesmas, berkomitmen selalu
memberi yang terbaik, memberi pelayanan dengan hati(dengan penuh rasa tanggung
jawab untuk berkarya dan berprestasi mandiri bukan karena diawasi), peduli pada
kebutuhan masyarakat, selalu memberikan yang terbaik pada setiap pelanggan.

af. Petugas pelaksana PONED


1.
2.
3.
4.

Dokter umum 2 orang


Bidan 8 orang
Perawat
Petugas yang telah mendapat pelatihan PONED

ag. Pelayanan yang dilaksanakan PONED


1. Pelayanan KIA/KB
2. Pelayanan ANC & PNC
3. Pertolongan Persalinan normal
4. Pendeteksian Resiko tinggi Bumil
5. Penatalaksanaan Bumil Resti
6. Perawatan Bumil sakit
7. Persalinan Sungsang
8. Partus Lama
9. KPD
10. Gemeli
11. Perdarahan Post Partum
12. Abortus Incomplitus
13. Distosia Bahu
14. Asfiksia
15. BBLR
16. Hypotermia
17. Komponen pelayanan maternal
a. Pre eklamsia/eklamsia

b. Tindakan obstetri pada


pertolongan persalinan
c. Perdarahan postpartum
d. Infeksi nifas
18. Komponen pelayanan neonatal
a. Bayi berat lahir rendah
b. Hipotermi
c. Hipoglikemi
d. Ikterus/hiperbilirubinemia
e. Masalah pemberian nutrisi
f. Asfiksia pada bayi
g. Gangguan nafas
h. Kejang pada bayi baru lahir
i. Infeksi neonatal
j. Rujukan dan transportasi bayi baru
lahir

19.
20. Faktor pendukung keberhasilan Puskesmas PONED antara lain
1. Adanya Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JKRS, Jamkesmas)
2. Sistem rujukan yang mantap dan berhasil
3. Peran serta aktif bidan desa
4. Tersedianya sarana/prasarana, obat dan bahan habis pakai
5. Peran serta masyarakat, LSM, lintas sektoral dan Stage Holder yang harmonis.
6. Peningkatan mutu pelayanan perlu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi serta kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan standart
pelayanan minimal.
21. Sistem rujukan Puskesmas PONED
22.

Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang

melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap kasus penyakit atau
masalah kesehatan baik secara vertikal dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang
kepada unit yang lebih mampu atau secara horisontal dalam ar unit-unit yang setingkat
kemampuannya.
23.

Kasus yang dirujuk ke Puskesmas mampu PONED, kemungkinan berasal dari:

1. Rujukan masyarakat:
a. Datang sendiri sebagai pasien perorangan atau keluarga
b. Diantar/dirujuk oleh kader Posyandu, Dukun Bayi, dan lainnya
c. Dirujuk dari institusi masyarakat, seperti Poskesdes, Polindes, dll
2. Rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan tingkat pertama dari wilayah kerja
Puskesmas mampu PONED, antara lain dari:
a. Unit rawat jalan Puskesmas, Puskesmas pembantu/keliling.
b. Praktek dokter atau bidan mandiri
c. Fasilitas pelayanan kesehatan perorangan tingkat pertama lainnya
3. Rujukan dari Puskesmas sekitar

24. Alur rujuan di Puskesmas mampu PONED

25.

26.
27.

Kebutuhan merujuk pasien tidak hanya dalam kondisi kegawatdaruratan saja,

akan tetapi juga pada kasus yang tidak dapat ditangani di fasilitas pelayanan rawat inap
karena tim Interprofesi tidak mampu melakukan dan atau peralatan yang diperlukan tidak
tersedia. Khusus untuk pasien dalam kondisi sakit cukup berat dan atau kegawat-daruratan
medik, proses rujukan mengacu pada prinsip utama, yaitu :

1. Ketepatan menentukan diagnosis dan menyusun rencana rujukan, yang harus dapat

dilaksanakan secara efektif dan efisien, sesuai dengan kemampuan dan kewenangan
tenagadan fasilitas pelayanan.
2. Kecepatan melakukan persiapan rujukan dan tindakan secara tepat sesuai rencana

yang disusun.
3. Menuju/memilih fasilitas rujukan terdekat secara tepat dan mudah dijangkau dari

lokasi.
28.

Model pola rujukan kegawat-daruratan medik/PONED yang ideal adalah

dengan regionalisasi pelayanan kesehatan dengan cara :


1. Pemetaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan dalam wilayah
kabupaten/kota:
a. Setiap Puskesmas dengan jejaring pelayanan dalam lingkup wilayah kerjanya,
perlu dipetakan secara jelas dengan jalur rujukan pelayanan dasar yang
memungkinkan dapat dibangun
b. Puskesmas non PONED/Puskesmas mampu PONED, bersama RS kabupaten/kota
dalam satu wilayah kabupaten/kota atau dengan RS Kabupaten/kota tetangganya,
perlu dipetakan dalam membangun sistem rujukan medik spesialistik pada tingkat
kabupaten/kota.
c. Puskesmas non PONED di sepanjang perbatasan negara tetangga dan fasilitas
rujukan medik di negara tetangga, perlu dipetakan dalam rangka membangun satu
sistem rujukan medik/PONED terdekat, bilamana dianggap perlu, didukung
dengan satu kebijakan khusus, melalui hubungan antar pemerintahan
d. Keterlibatan Provinsi dalam kondisi wilayah kabupaten mempunyai daerah-daerah
sulit yang harus dilayani Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak (TPKB) Provinsi
melalui Flying Health Care perlu dipetakan dalam sistem rujukan medik di
Provinsi.
2. Pemetaan sumberdaya:
a. Tenaga kesehatan : Medis, Keperawatan (Bidan, Perawat) dan tenaga pendukung
lainnya, dengan kemampuan pelayanan dan kewenangannya,
b. Kelengkapan peralatannya, dipetakan di setiap fasilitas pelayanan dalam peta
sistem rujukan, sehingga dapat digambarkan kondisi kemampuan fasilitas
pelayanan kesehatan dimaksud dalam satu sistem rujukan medik.
3. Alur rujukan kasus obstetrik dan neonatal secara timbal-balik.
a. Dari tingkat masyarakat/UKBM:

1) Masyarakat hendaknya telah terdidik dengan baik untuk mengenal tanda


bahaya kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir, tahu kemana mencari
pertolongan segera, tepat waktu, tepat tujuan.
2) Posyandu, UKBM lainnya, Kader Kesehatan, dapat membantu pasien untuk
menunjukkan dan atau mengantarkannya menuju fasilitas pelayanan kesehatan
yang tepat serta mampu memberikan layanan sesuai kebutuhannya.
b. Mekanisme rujukan pasien maternal dan atau neonatal, dalam kondisi bermasalah
atau kegawat-daruratan medik:
1) Pasien maternal/neonatal dari Keluarga, Masyarakat Umum, Polindes,
Poskesdes,

dengan

masalah

dan

atau

emergensi/komplikasi,

dapat

memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat layanan sesuai


kebutuhan layanan.
2) Pasien obstetri dan neonatal, dalam kondisi kegawatdaruratan medik
obstetrik/neonatal, dapat dibawa ke semua fasilitas pelayanan kesehatan yang
mampu menangani kasusnya, misalnya ke Puskesmas mampu PONED dan
bila dipandang perlu dapat langsung ke RS rujukan PONEK/RSSIB terdekat.
c. Puskesmas akan mengirimkan pasiennya tepat waktu dan tepat tujuan ke:
1) Puskesmas dengan fasilitas rawat inap mampu PONED, dengan kinerja
(performance) yang baik, atau
2) RS rujukan medik spesialistik/PONEK, RSSIB terdekat.
d. Pada kondisi Puskesmas yang difungsikan sebagai pusat rujukan-antara tidak
mampu memberi layanan rujukan medis pada kasus obstetri dan neonatal
(PONED), pasien harus secepatnya dirujuk ke RS rujukan (PONEK/RSSIB) dan
secepatnya diberikan latihan ulang.
4. Pada lokasi-lokasi tertentu seperti di lokasi terpencil /sangat terpencil, merujuk pasien
ke RS rujukan medik spesialistik/PONEK terdekat hampir tidak mungkin, dan atas
dasar kebutuhan pelayanan rujukan, Puskesmas dengan fasilitas rawat inap di lokasilokasi terpencil dan sangat terpencil di pusat gugus pulau atau pusat kluster daratan
terpencil/sangat terpencil, perlu dipertimbangkan untuk ditingkatkan kemampuannya,
sebagai pusat rujukan medik spesialistik terbatas.
5. Pada kondisi kabupaten berada di daerah terpencil, atau sebagian wilayah kabupaten
berada di daerah terpencil, maka:
a. Apabila RS Kabupaten tidak memiliki dokter spesialis (SpOG dan Sp.A), maka
RS tidak dapat difungsikan sebagai pusat rujukan medik spesialistik/PONEK,

b. Pada

kondisi

demikian,

pasien

yang

membutuhan

rujukan

spesialistik

maternal/obstetri dan neonatal emergensi tidak dapat dilayani


c. Dinas Kesehatan Kabupaten melalui Pemda Kabupaten, dapat meminta bantuan
Provinsi, mendukung penyelenggaraan pelayanan rujukan obstetri dan neonatal, di
RS Kabupaten dan pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya di daerah
terpencil/sangat terpencil.
d. Provinsi harus membantu kabupaten untuk mendukung penyelenggaraan
pelayanan melalui kunjungan Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak (TPKB)
Provinsi dalam upaya skrining kasus risiko maternal/neonatal sesuai standar yang
mewajibkan ibu hamil minimal 1 kali diperiksa dokter.
e. TPKB daerah terpencil, yang datang ke RS Kabupaten atau Puskesmas perawatan,
dapat memberikan layanan rujukan medik spesialistik, dan umpan balik serta
tindak lanjutnya.
6. Rujukan yang dikirim ke fasilitas pelayanan rujukan medik spesialistik/spesialistik
terbatas (PONEK), harus menerima umpan balik rujukan, sehingga kebutuhan
pelayaan kesehatan dapat secara tuntas dilayani. (Kemenkes RI, 2013)
29.
30.
31.

32.
33.

BAB III
PEMBAHASAN

34.

35.

Dokter keluarga merupakan dokter pelayanan primer dan juga dokter

pelayanan umum. Sehingga, dokter keluarga mempunyai peran penting dalam meningkatkan
taraf kesehatan masyarakat. Dokter keluarga juga bertanggung jawab bukan hanya dalam
penatalaksanaan secara kuratif, tetapi juga promotif, preventif, dan rehabilitatif. Sesuai
dengan prinsipnya, yaitu holistik dan komprehensif maka dr. Mia melakukan terapi dengan
pertimbangan biopsikososial. Seperti dalam skenario, dr. Mia melakukan upaya-upaya
pencegahan selaku dokter keluarga. Dr. Mia tidak hanya melakukan terapi terhadap Bu Susi,
tetapi juga melakukan pelacakan terhadap keluarga Bu Susi. Dr. Mia juga melakukan edukasi
kepada Bu Susi untuk meluruskan pemahamannya yang keliru sehingga bisa mencegah
adanya penyakit yang timbul karena ketidaktahuan Bu Susi tentang kesehatan kehamilannya.
36. Langkah dokter keluarga mengidentifikasi masalah di scenario
1. Menyusun diagnostik holistik secara bio-psiko-sosial:
37.

Biologis

: ibu usia 38 tahun, G3A0P2, usia kehamilan 20 minggu, anak

pertama 3 tahun, anak kedua 1,5 tahun. Riwayat persalinan sebelumnya di


dukun beranak dengan perdarahan hebat. Riwayat sakit gula 3 tahun.
38.

Psikologis

: rasa cemas akan riwayat persalinan sebelumnya dan riwayat

penyakit gula
39.

Sosial : tabu makanan (kepercayaan di keluarga dan daerahnya tentang


pantangan makan) yang mempengaruhi perilaku kesehatan.

2. Mengenal kondisi keluarga lebih mendalam melalui struktur keluarga, siklus kehidupan
keluarga, factor risiko internal dan eksternal, genogram keluarga untuk menyusun rencana
pelayanan kesehatan yang komprehensif.
3. Risiko kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir serta upaya pencegahannya.
4. Upaya pemeliharaan kesehatan ibu hamil, asuhan nifas, dan pasca salin, serta
pemeliharaan kesehatan bayi
5. Rencana dan tata cara kunjungan rumah serta konseling
6. Puskesmas PONED
40.

41. SINTESIS SKENARIO II


42.
Pasien dengan masalah
43.
kesehatan

Dokter Keluarga

Identifikasi fungsi fungsi


keluarga

Pelayanan
kedokteran

Melakukan tahap tahap pelayanan


kedokteran keluarga meliputi
penyusunan data struktur keluarga,
siklus kehidupan keluarga, genogram,
faktor risiko internal dan eksternal,
dampak kesakitan terhadap keluarga

Prinsip prinsip dasar


pelayanan kedokteran
keluarga

Kunjungan
rumah

Mengenal
kehidupan
pasien

Menyusun diagnostik holistik

Menyusun rencana penatalaksanaan


yang komprehensif dengan Evidence
Based Medicine meliputi upaya
promotif, preventis, kuratif,
rehabilitatif

Memberikan
pelayanan
kedokteran
komprehensif

Konseling

44.
45.

BAB IV
PENUTUP
46.

A. Kesimpulan
1. Kedokteran keluarga (family medicine) adalah disiplin ilmu yang menekankan
pentingnya pemberian pelayanan kesehatan yang personal, primer, komprehensif, dan
berkelanjutan (continuing) kepada individu dalam hubungannnya dengan keluarga,
komunitas, dan lingkungannya.
2. Diagnostik holistik dalam pelayanan kedokteran keluarga didasarkan pada fungsifungsi keluarga (biologis, psikologis, sosial, ekonomi, pemenuhan kebutuhan,
fisiologis, patologis,keturunan, interaksi antar manusia, perilaku).
3. Penatalaksanaan secara komprehensif dalam pelayanan kedokteran keluarga mencakup
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
4. Kunjungan rumah (home visit) dalam pelayanan kedokteran keluarga bertujuan untuk
lebih mengenal kehidupan pasien dan atau untuk memberikan pertolongan kedokteran
yang bersifat rawat jalan. Pemberian konseling dapat dilakukan saat kunjungan rumah.
5. Sistem rujukan adalah sistem pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap kasus
penyakit atau masalah kesehatan baik secara vertikal (dari unit yang kurang mampu ke
unit yang lebih mampu) atau secara horisontal (unit-unit yang setingkat
kemampuannya).
47.
B. Saran
48. Kedokteran keluarga sebaiknya diaplikasikan lebih banyak lagi untuk memperkuat
sistem pelayanan kesehatan primer sebagai kunci meningkatkan status kesehatan
masyarakat.
49.
50.
51.
52.
53.
54.

55.

56.
57.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

58.
59. Ahmadi A (2003) Ilmu sosial dasar. Jakarta : Rineka Cipta.
60. Ali Z (2006) Pengantar keperawatan keluarga. Jakarta : EGC.
61. Asrinah dkk (2010) Asuhan kebidanan masa kehamilan.Yogyakarta : Graha Ilmu.
62.

Azwar A (1995) Pengantar pelayanan dokter keluarga. Jakarta : IDI.

63.

Basuki ES (2009) Konseling medik : Kunci menuju kepatuhan pasien. Maj Kedokt
Indon. 59(2):55-60.

64.

BKKBN (2007) Ingin Memiliki Kesehatan Reproduksi Prima ? Hindari Kehamilan


4 Terlalu. Jakarta : Direktorat kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak badan
koordinasi keluarga berencana nasional.

65.

Gan LG, Azwar A, Wonodirekso S (2004). A primer on primary medicine practice.


Singapore.

66.

Kemenkes RI (2013). Pedoman penyelenggaraan puskesmas mampu PONED.


Jakarta:

67.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Modul Keterampilan Kedokteran Keluarga : Kunjungan Pasien di Rumah (Home


Visit) http://fk.uns.ac.id/static/filebagian/MODUL_HOME_VISIT.pdf diakses pada
tanggal 10 September 2014

68.

Murti, Bhisma. 2010. Kedokteran Komunitas.


http://fk.uns.ac.id/static/materi/Kedokteran_Komunitas_Prof_Bhisma_Murti.pdf.
Diakses 14 September 2014.

69.

Prasetyawati, Arsita E. 2010. Kedokteran Keluarga.


http://fk.uns.ac.id/static/resensibuku/BUKU_KEDOKTERAN_KELUARGA_.pdf.
Diakses 14 September 2014.