Anda di halaman 1dari 29

JURNAL

PERANAN UNIT PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (UPTSP) KABUPATEN


FLORES TIMUR DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
Albertus Asan Geli
Mahasiswa Fakultas Hukum Undana
Agustinus Mahur
Yohanes Tuan
Dosen Tetap Fakultas Hukum Undana
ABSTRAK
Biaya yang dipungut oleh UPTSP Kabupaten Flores Timur terhadap setiap
perizinan yang dihasilkan tentunya juga akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kabupaten Flores Timur. Hal ini dikarenakan UPTSP Kabupaten Flores Timur
selain mempunyai fungsi sebagai pemberi layanan publik kepada masyarakat Flores
Timur dan pihak yang membutuhkan, juga mempunyai fungsi sebagai Instansi di daerah
yang berperan dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores
Timur. UPTSP Kabupaten Flores Timur yang telah dibentuk sejak tahun 2009 ini
tentunya diyakini telah memberi dampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana peran Unit Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan peran Unit
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kabupaten Flores Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur dan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur.
Penelitian ini dilakukan di Kantor Penanaman Modal Dan Pelayanan Perizinan
Terpadu Kabupaten Flores Timur dengan tipe penelitian yuridis empiris, sedangkan aspek
penelitian yang diteliti yakni, peranan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP)
Kabupaten Flores Timur selaku pemberi izin dan faktor-faktor yang mempengaruhi
pelaksanaan peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur.

Jenis dan sumber data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh
langsung dari lokasi penelitian dan data sekunder yang diperoleh melalui studi
kepustakaan. Pengolahan data dilakukan dengan cara kategorisasi dan tabulasi data, yang
kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) di Kabupaten Flores Timur sudah berjalan dengan baik, ditandai dengan
semakin meningkatnya kontribusi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) terhadap
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Faktor yang menghambat pelaksanaan tugas
dan fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP), yaitu: masih terbatasnya
kompetensi dan jumlah pegawai pelaksana, masih terbatasnya sarana dan prasarana
pendukung pelayanan dan masih rendahnya dukungan dana operasional dari Pemerintah
Daerah Kabupaten Flores Timur.
Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang diajukan penulis anatara lain: perlu
dipertahankan dan ditingkatkan tugas dan fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) dalam memberikan Pelayanan Publik dan perlu adanya upaya-upaya untuk
meminimalisir faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan tugas dan fungsi Unit
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur.
A. Pendahuluan
Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pembentukan
Organisasi dan Tata Kerja UPTSP Kabupaten Flores Timur menerangkan bahwa pembentukan
UPTSP adalah untuk memaksimalkan pelayanan publik kepada masyarakat sehingga
masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Terbentuknya UPTSP
Kabupaten Flores Timur ini tentunya melekat segala tugas pokok dan fungsi UPTSP sebagai
penyelenggara pelayanan publik. UPTSP Kabupaten Flores Timur sebagai penyelenggara
pelayanan publik sudah pasti mempunyai produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan itu
adalah izin karena UPTSP ini bergerak dalam bidang perizinan (Pasal 7 Peraturan Bupati
Nomor 23 tahun 2007). Tentunya produk Perizinan yang dihasilkan ini dalam prosesnya
menghasilkan hubungan timbal balik antara Pemerintah daerah dengan pihak masyarakat.
Pemerintah daerah mengeluarkan instrumen berupa izin sebagaimana yang diminta oleh
masyarakat sedangkan masyarakat menggantinya dengan biaya sebagaimana yang telah
ditentukan oleh UPTSP Kabupaten Flores Timur.
Biaya yang dipungut oleh UPTSP Kabupaten Flores Timur terhadap setiap perizinan
yang dihasilkan tentunya juga akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur. Hal ini dikarenakan UPTSP Kabupaten Flores Timur selain
mempunyai Fungsi sebagai pemberi layanan publik kepada masyarakat Flores Timur dan
pihak yang membutuhkan, juga mempunyai fungsi sebagai Instansi di daerah yang berperan
dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur.
UPTSP Kabupaten Flores Timur yang telah dibentuk sejak tahun 2009 ini tentunya
diyakini telah memberi dampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores
Timur.
.
2

B. Pustaka Mengenai Peranan, Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP),


Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Izin
1. Peranan
Soedarno (1993: 144) mengemukakan peran adalah realisasi dari semua hal dan
pelaksanaan dari semua kewajiban yang terkandung di dalam kedudukan. Ini berarti
seseorang dikatakan telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan tidak melupakan
hak-haknya, tidak lebih seperti yang dituntut dan diberi kedudukan sosial yang
ditempatinya.
Gomang dalam Elvis (1997: 15) mengatakan bahwa peran adalah tindakan atau
aktifitas yang dijalankan oleh seseorang berdasarkan status dan kedudukannya. Oleh
karena itu sering orang menyebut peranan aspek dinamis dari status.
Soerjono Soekanto (1996: 220) menjabarkan peranan merupakan aspek yang dinamis
dari kedudukan. Apabila seseoarang melaksanakan hak-haknya dan kewajibankewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan. Suatu
peranan mencakup tiga hal yaitu:
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan denga posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaianrangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan
kemasyarakatan.
b. Peranan yakni suatu perihal yang dilakukan oleh suatu individu, organisasi.
c. Peranan dapat sebagai pelaku individu yang penting bagi struktur sosial
masyarakat.
Kamus besar bahasa Indonesia (1990; 667) menjabarkan peranan adalah bagian yang
dimainkan seorang pemain, atau bagian dari suatu tugas utama yang harus dilaksanakan.
Selanjutnya Gunarsih dan Gunarsih (1984; 118) mengatakan bahwa peranan
mencakup tiga hal pokok :
a. Suatu peranan adalah sekelompok norma-norma dan harapan-harapan mengenai
tingkah laku seseorang.
b. Norma-norma dan harapan-harapan yang dimiliki orang-orang dilingkungan yang
dekat dengan individu.
c. Norma-norma adalah harapan-harapan yang diketahui dan disadari oleh orangorang yang bersangkutan.
Berdasarkan jabaran ini maka peranan berkaitan erat dengan harapan-harapan yang
diinginkan dari seseorang, organisasi atau lembaga, karena tugas dan fungsinya telah dijabarkan.
2. Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP)
Konsep UPTSP ini merupakan salah satu pengembangan bentuk pelayanan
sebagaimana diatur dalam Permendagri No. 24 Tahun 2006 sebagai implementasi
kebijakan-kebijakan pemerintahan yang terkait dengan peningkatan pelayanan.
3

Sedangkan menurut Peraturan Bupati Flores Timur No. 23 Tahun 2007 Tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten
Flores Timur, Yang dimaksud dengan UPTSP adalah unit pelayanan umum masyarakat
yang menjadi kantor bersama satu pintu bagi masyarakat yang memerlukan perizinan.
UPTSP adalah unit pelayanan daerah yang berada di bawah dan bertanggung jawab
langsung kepada Bupati di Bidang Pelayanan Perizinan (Pasal 6 ayat (1) dan (2) Peraturan
Bupati Flores Timur No. 23 Tahun 2007).
Tugas dan Fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu ( UPTSP )
Pembentukan UPTSP pada dasarnya mempunyai tugas pokok melayani masyarakat
umum dalam bidang perizinan. Sedangkan untuk menyelenggarakan tugas pokok tesebut,
UPTSP mempunyai fungsi menerima berkas-berkas pengajuan perizinan, memproses dan
mengumumkan; serta menyelenggarakan kerja sama dengan instansi terkait dalam
memproses perizinan (Pasal 7 dan 8).
Pembentukan UPTSP ditujukan untuk menyederhanakan birokrasi penyelenggaraan
Perizinan dalam bentuk :
a. Pemangkasan tahapan dan prosedur lintas instansi yang bersangkutan. Pemangkasan
prosedur secara radikal dapat dilakukan dengan pemusatan penyelenggaraan
Perizinan pada satu instansi yang memiliki kecukupan institusional untuk melakukan
koordinasi dengan lembaga lain yang terkait sebagaimana diatur oleh Undangundang .
b. Pemangkasan biaya. Dapat dilakukan jika prosedur dapat dipangkas sedemikian
rupa, mengingat setiap prosedur adalah biaya. Selain itu pengorganisasian yang baik
dapat menangkal biaya-biaya di luar yang telah ditetapkan.
c. Pengurangan jumlah persyaratan. Mekanisme Perizinan yang terdistribusi pada
instansi yang bebeda, menuntut persyaratan yang serupa dalam jumlah banyak.
Dengan penyelenggaraan UPTSP maka persyaratan yang diperlukan dapat dikurangi
melalui penetapan persyaratan yang cukup satu salinan, dan dapat digunakan untuk
berbagai izin yang diperlukan.
d. Pengurangan jumlah paraf dan tanda tangan yang diperlukan. Paraf dan tanda tangan
dalam sistem Perizinan yang terdistribusi pada berbagai instansi, diperlukan jumlah
yang cukup banyak, mulai dari keabsahan klarifikasi dokumen permohonan,
keabsahan hasil verifikasi lapangan, sampai pada tanda tangan dolumen izin.
e. Pengurangan waktu rata-rata pemrosesan Perizinan. Para pengusaha
menginvestasikan uangnya untuk memperpendek waktu pengiriman barang kepada
konsumen, sehingga konsumen bisa menikmati barang dan jasa dengan cepat. Dalam
sistem Perizinan yang terdistribusi, waktu yang diperlukan untuk melengkapi
persyaratan administrasi saja menghambat percepatan usaha mereka. Oleh karena itu
banyak pengusaha tidak berdaya yang pada akhirnya harus mengeluarkan biaya yang
lebih tinggi untuk bisa mempersingkat waktu prose Perizinan. Dalam sistem
Perizinan yang disederhanakan, pemangkasan waktu pemrosesan harus menjasi
pertimbangan utama.(Ridwan Dan Sudrajat, 2009. 191-192).
3. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Mardiasmo (2002:132), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang


diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil
pengeloalaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang
sah. Bastian (2001) mengatakan bahwa penerimaan Pendapatan Asli Daerah merupakan
akumulasi dari Pos Penerimaan Pajak yang berisi Pajak Daerah dan Pos Retribusi Daerah,
Pos Penerimaan Non Pajak yang berisi hasil perusahaan milik daerah, Pos Penerimaan
Investasi serta Pengelolaan Sumber Daya Alam
Menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah disebutkan bahwa sumber pendapatan
daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Pendapatan
Asli Daerah sendiri terdiri dari:
1. Pajak Daerah,
2. Retribusi Daerah,
3. Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan,
4. Lain-lain PAD yang sah.
Klasifikasi PAD yang terbaru berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terdiri
dari: Pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan, dan lainlain pendapatan asli daerah yang sah. Jenis pajak daerah dan retribusi daerah dirinci
menurut objek pendapatan sesuai dengan Undang-undang tentang pajak daerah dan
retribusi daerah. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut
objek pendapatan yang mencakup bagian laba atas penyertaaan modal pada perusahaan
milik daerah/ BUMD, bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
pemerintah/ BUMN, dan bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta
atau kelompok usaha masyarakat.
Jenis lain-lain PAD yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah
yang tidak termasuk dalam pajak daerah, retribusi daerah dan hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup hasil penjualan
kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, penerimaan atas
tuntutan ganti kerugian daerah, penerimaan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai
akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan / atau jasa oleh daerah, penerimaan
keuntungan dari selisih nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, pendapatan denda
atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, pendapatan denda pajak, pendapatan denda
retribusi. Pendapatan hasil eksekusi atau jaminan, pendapatan dari penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan, pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.
Menurut Halim (2004:67), PAD dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu:
pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan
kekayaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. Klasifikasi PAD yang
dinyatakan oleh Halim (2004:67) adalah sesuai dengan klasifikasi PAD berdasarkan
Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002.
a. Pajak Daerah
Berdasarkan UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU Nomor 18 Tahun
1997 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dalam Saragih (2003:61), yang dimaksud
dengan pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi dan badan
kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan
peraturan perUndang-undang an yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai
5

penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.


Menurut Halim
(2004:67), pajak daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari pajak. Jenisjenis pajak daerah untuk Kabupaten/kota menurut Kadjatmiko (2002:77) antara lain ialah:
a) Pajak hotel,
b) Pajak restoran,
c) Pajak hiburan,
d) Pajak reklame,
e) Pajak penerangan jalan,
f) Pajak pengambilan bahan galian golongan C,
g) Pajak parkir
b. Retribusi Daerah
retribusi menurut Saragih(2003:65) Retribusi Daerah adalah Pungutan daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau
diberikan oleh Pemda untuk kepentingan orang pribadi atau badan hukum. Menurut Halim
(2004:67), Retribusi daerah merupakan pendapatan daerah yang berasal dari retribusi
daerah. Retribusi untuk Kabupaten/kota dapat dibagi menjadi 2, yakni:
a) Retribusi untuk Kabupaten/kota ditetapkan sesuai kewenangan masing-masing
daerah, terdiri dari: 10 jenis retribusi jasa umum, 4 jenis retribusi Perizinan
tertentu,
b) Retribusi untuk Kabupaten/kota ditetapkan sesuai jasa/pelayanan yang diberikan
oleh masing-masing daerah, terdiri dari: 13 jenis retribusi jasa usaha.
(Kadjatmiko,2002:78).
Jenis pendapatan retribusi untuk Kabupaten/kota meliputi objek pendapatan
berikut:
a) Retribusi pelayanan kesehatan,
b) Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan,
c) Retribusi pergantian biaya cetak KTP,
d) Retribusi pergantian cetak akta catatan sipil,
e) Retribusi pelayanan pemakaman,
f) Retribusi pelayanan pengabuan mayat,
g) Retribusi pelayanan parkir ditepi jalan umum,
h) Retribusi pelayanan pasar,
i) Retribusi pengujian kendraan bermotor,
j) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran,
k) Retribusi Pengujian Kapal Perikanan dan lain-lain (Halim 68 : 2004).
c. Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Milik Daerah yang
Dipisahkan
Menurut Halim (2004:68), Hasil perusahaan milik Daerah dan hasil Pengelolaan
kekayaan milik Daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan Daerah yang berasal dari
hasil perusahaan milik Daerah dan pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan.
Menurut Halim (2004:68), jenis pendapatan ini meliputi objek pendapatan berikut: 1)
bagian laba Perusahaan mlik Daerah, 2) bagian laba lembaga keuangan Bank, 3) bagian
laba lembaga keuangan non Bank, 4) bagian laba atas penyertaan modal/investasi.
6

d. Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang Sah


Menurut Halim (2004:69), pendapatan ini merupakan penerimaan Daerah yang
berasal dari lain-lain milik pemerinyah Daerah. Menurut Halim (2004:69), jenis
penndapatan ini meliputi objek pendapatan berikut, 1) hasil penjualan aset Daerah yang
tidak dipisahkan, 2) penerimaan jasa giro, 3) penerimaan bunga deposito, 4) denda
keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, 5) penerimaan ganti rugi atas kerugian/kehilangan
kekayaan Daerah
4. IZIN
Menurut Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 5 tahun 1986 merumuskan KTUN
sebagai suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN yang berisi
tindakan hukurn TUN berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat konkrit, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukurn bagi seseorang
atau badan hukurn perdata. Rumusan Pasal ini mengandung beberapa elemen-elemen
yaitu : Penetapan tertulis, dibuat oleh pejabat TUN, tindakan hukum TUN, individual,
Final dan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Hukum administrasi adalah hukum administrasi negara sebagai peraturan hukum
yang mengatur administrasi yaitu hubungan antara warga negara dan pemerintah yang
menjadi sebab sampai negara itu berfungsi. Maksudnya, adalah gabungan petugas secara
struktural berada dibawah pimpinan pemerintahan yang melaksanakan tugas sebagai
bagiannya, yaitu bagian dan pekerjaan yang tidak ditujukan kepada lembaga legislatif,
yudikatif dan atau lembaga pemerintahan daerah otonomi.
Dalam konsep hukum administrasi negara, pada pembangunannya administrasi harus
mampu memadukan antar dua aspek, yaitu aspek statis dan aspek dinamis. Dalam aspek
statis administrasi harus dapat menjamin lancarnya pekerjaan secara rutin, sedangkan
aspek dinamis dimaksudkan bahwa administrasi harus mampu gerak yang ditunjangi.
Administrasi negara adalah bagian dariadministrasi umum. Dalam arti luas, administrasi
negara adalah kegiatan negara dalam melaksanakan kekuasaan politiknya. Dalam arti
sempit, administrasi negara adalah kegiatan eksekutif dalarn penyelenggaraan pernerintah.
Dan telaah tentang arti istilah administrasi (legislatif, eksekutif dan yudikatif), sedangkan
administrasi dalam hukum administrasi negara (HAN) hanya meliputi lapangan bestuur
(Hadjon, 1994: 5).
Bestuur dirumuskan sebagai lingkungan kekuasaan negara diluar kekuasaan legislatif
dan kekuasaan yudisial. Dengan rumus itu kekuasaan pernerintah tidak sekedar
melaksanakan Undang-undang . Kekuasaan pemerintah merupakan kekuasaan yang aktif.
7

Sifat aktif tersebut dalam konsep hukum administrasi secara intrisik merupakan unsurunsur utama dan sturen (Besturen). Unsur-unsur tersebut adalah :
1. Sturen merupakan kegiatan yang kontinyu. Kekuasaan pemerintah dalam hal
menerbitkan izin mendirikan bangunan misalnya, tidaklah berhenti dengan
diterbitkannya izin mendirikan bengunan.
Kekuasaan pemerintah senantiasa
mengawasi agar izin tersebut digunakan dan ditaati.
2. Sturen berkaitan dengan penggunaan kekuasaan. Konsep kekuasaan adalah konsep
hukumpublik, penggunaan kekuasaan harus dilandaskan pada asas-asas negara hukum,
asas demokrasi dan asas instrumental.
3. Sturen menunjukan lapangan diluar legislatif dan yudisil. Lapangan ini lebih luas dan
lapangan eksekutif semata.
4. Sturen senantiasa diarahkan kepada suatu tujuan (Hadjon, 1997: 3).
Keputusan pemberian izin adalah suatu keputusan TUN. KTUN adalah suatu
keputusan sepihak dan suatu organ pamarintah, diberikan atas dasar wewenang
ketatanegaraan danlatau ketatausahaan negara yang menciptakan satu atau lebih keadaankeadaan konkrit, individual dan final dalam suatu hubungan hukum, menetapkannya secara
mengikat atau membebaskannya, atau dalam mana hal itu ditolak. Menurut akibat
hukumnya, izin merupakan KTUN yang menciptakan hukum (konstitutif).
Hal ini berarti bahwa dengan izin dibentuk suatu hubungan hukum tertentu. Dalam
hubungan hukum ini oleh organ pemerintahan diciptakan hak-hak (izin) dan kewajibankewajiban (melalui ketentuan-ketentuan) bagi yang berhak. Ketentuan-ketentuan yang
dimaksud disini adalah syarat-syarat yang menjadi dasar bagi organ pemerintahan memberi
izin. Fakta bahwa dalam banyak hal izin dikaitkan pada syarat-syarat, berhubungan erat
dengan fungsi sistem Perizinan sebagai salah satu instrumen pengaruh (pengendaliansturen) dan penguasa. Sedangkan keputusan izin menurut akibat hukumnya diperlukan
sebagai suatu keputusan yang mencipatakan hukum. Dengan pembenian izin timbul
hubungan hukum tertentu.
Perbedaan keputusan yang menciptakan hukum atau yang menetapkan hukum
merupakan alat bantu atau ikut menentukan kebebasan menguji dan hakim. Tetapi apabila
lembaga pembuat Undang-undang rnenggantungkan akibat hukum pada kenyataan
obyektif yang dipaparkan dengan samar-samar atau tebak-tebakan, maka hakim memiliki
akses untuk menguji secara Iengkap. Dalam hal ini hakim meneliti cara penetapan hukum
oleh organ pernerintahan. Namun bila lembaga pembuat Undang-Undang memberikan
kebebasan kebijaksanaan. maka lembaga tersebut dengan sendirinya rnenghendaki
8

menciptakan ruang bagi perundangan yang kreatif oleh organ pemenintahan untuk keadaan
konknit, individual dan final.
Ridwan HR (2002 :155-159), mengemukakan izin adalah perbuatan pemerintah
bersegi satu berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk diterapkan pada peristiwa
konkrit menurut prosedur dan persyaratan tertentu. Dari pengertian diatas, ada beberapa
unsur penting dalan izin, yaitu: Pertama, Instrumen Yuridis yaitu kewenangan pemerintah
tidak hanya sekedar menjaga ketertiban dan keamanaan (Rust En Orde), tetapi juga
mengupayakan kesejahteraan umum (Bestuurszorg). Dalam rangka melaksanakan tugas
ini kepada pemerintah diberikan wewenang dalam bidang pengaturan (Regelen atau
Besluiten Van Algemeen Strekking), yang dan fungsi pengaturan ini muncul beberapa
instrumen yuridis untuk menghadapi peristiwa individual dan konkrit yaitu dalam bentuk
ketetapan (Beschikking). Kedua, Peraturan Perundang-undangan : setiap tindakan hukum
pemerintah baik dalam menjalankan fungsi pengaturan maupun fungsi pelayanan harus
didasarkan pada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Ketiga, Organ pemerintah adalah organ yang menjalankan urusan pemerintahan
baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Keempat, Peristiwa konkrit : peristiwa
konkrit artinya peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu. Keempat Prosedur dan
persyaratan pada umumnya permohonan izin harus menempuh prosedur tertentu yang
ditentukan oleh pemerintah, selaku pemeberian izin. Disamping harus memenuhi prosedur
tertentu, pemohon izin juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang
ditentukan secara sepihak oleh pemberi izin.
Secara umum bentuk dan isi dari izin terdiri atas:
1. Organ yang berwenang memberi izin. Dalarn izin dinyatakan siapa yang meniberikan
izin tersebut.
2. Yang dialamatkan. Izin ditujukan pada pihak yang berkepentingan. Izin tersebut lahir
setelah yang berkepentingan mengajukan pemohonan kepadaOrgan Yang Berwenang
Memberi Izin. Karena itu, keputusan yang memuat izin akan dialamatkan pula kepada
pihak yang memohon izin. Disini jelas bahwa sebenarnya pemerintah (organ yang
memberi izin) tahu tempat/kawasan yang akan dipakai untuk melakukan kegiatan yang
secara nyata akan berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan hidup khususnya
ekosistem darat.
3. Diktum/Keputusan yang memuat izin. Demi alasan kepastian hukum, maka harus
mernuat uraian sejelas mungkin untuk apa izin itu diberikan.

4. Ketentuan-ketentuan, pembatasan-pembatasan, dan syarat-syarat.


Sebagai mana
kebanyakan keputusan, didalamnya mengandung ketentuan, pembatasan, dan syaratsyarat, demikian pula dengan keputusan yang berisi izin.
5. Pemberian alasan. Pemberian alasan ini harus memuat hal-hal sebagaimana yang
tercantum dalam ketentuan Peraturan Daerah.
6. Pemberitahuan-pemberitahuan tambahan. Pemberitahuan tambahan dapat berisi bahwa
kepada yang dialamatkan ditunjukkan akibat-akibat dan pelanggaran ketentuanketentuan dalam izin, Seperti pemberian sanksi baik sanksi pidana maupun sanksi
administrasi yang diberikan kepada yang tidak patuh terhadap Peratutran Daerah.
Didalam Peraturan Daerah itu saja tidak memuat sanksi administrasi tetapi hanya
memuat sanksi pidana yang sampai saat ini juga tidak pernah diberikan kepada yang
melanggar.

C. Hasil Dan Pembahasan


A. Peranan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Uptsp) Kabupaten Flores Timur
1. Stuktur Organisasi UPTSP
Pemerintah Flores Timur sebagai pelaksana Otonomi Daerah dalam rangka
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menetapkan produk hukum daerah yaitu
Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi
dan Tata Kerja Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores. Lebih
lanjut Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) merupakan unit pelayanan umum
masyarakat yang menjadi kantor bersama satu pintu bagi masyarakat yang memerlukan
perizinan. Sesuai dengan apa yang tercantum dalam Pasal 6 ayat (1) Peraturan Bupati
Flores Timur Nomor 23 Tahun 2007 yakni sebagai penerima berkas-berkas pengajuan
perijinan, memproses dan mengumumkan serta sebagai penyelenggaraan kerjasama
dengan instansi terkait dalam memproses perijinan. Berikut ini merupakan struktur
oganisasi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur .
Gambar 1.
UNIT PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN FLORES TIMUR
PERATURAN BUPATI FLORES TIMUR NO. 23 TAHUN 2007
TENTANG
PEMBENTUKAN DAN TATA KERJA UNIT PELAYANAN TERPADU SATU PINTU KABUPATEN FLORES
TIMUR
KOORDINATOR

10

SUB BAGIAN TATA USAHA

SEKSI PELAYANAN

Setiap organisasi selain mempunyai struktur juga harus mempunyai tugas dan fungsi.
Berikut penulis menguraikan mengenai tugas pokok dari Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) Kabupaten Flores Timur sebagai berikut :
a. Koordinator
Tugas Pokok :
Menyusun program dan rencana kegiatan, mengkoordinasikan tata laksana
pelayanan umum ketatausahaan dan melaksanakan pengawasan terhadap petugas
pelayanan perizinan.
Fungsi :
1) Penyusunan program dan rencana kegiatan pelayanan perizinan;
2) Koordinasi tata usaha dan petugas pelayanan perizinan;
3) Koordinasi dengan instansi terkait untuk kelancaran pelayanan perizinan.
b. Sub Bagian Tata Usaha
Tugas Pokok :
Menyiapkan bahan penyusunan program dan rencana kegitan pengelolaan
informasi, pengelolaan administrasi keuangan dan penyusunan surat menyurat, rumah
tangga dan perlengkapannya.
Fungsi :
1) Penyusunan, pembuatan dan pelaporan hasil pelaksanaan tugas;
2) Pengelolaan administrasi keuangan;
3) Pengurusan administrasi pelayanan masyarakat;
4) Pengurusan surat menyurat, kearsipan dan perlengkapan.
c. Seksi Pelayanan
Tugas Pokok :
Menyiapkan bahan rencana kegiatan pelayanan, pengelolaan pelayanan dan
mengkoordinir petugas pelayanan perizinan.
Fungsi :
1) Penyiapan bahan dan kegiatan pelaayanan perizinan;
2) Pengelolaan pelayanan perizinan;
3) Koordinasi petugas pelayanan perizinan;
4) Pengawasan terhadap petugas pelayanan perizinan;
5) Penyusunan bahan laporan.
Namun dalam perkembangannya dengan adanya Peraturan Daerah No. 16 Tahun
2011, Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) melebur menjadi Kantor Penanaman
Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu yang mulai berlaku sejak Februari 2012. Hal
tersebut yang menyebabkan adanya perubahan struktur organisasi, seperti dibawah ini.
11

Gambar 2.

KEPALA KANTOR
SUB BAGIAN TATA USAHA
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

Keterangan :

SEKSI
KERJA SAMA DAN
PROMOSI

SEKSI
Garis Komando
INFORMASI
DAN
Garis
Kooordinasi

SEKSI
DATA DAN EVALUASI

PELAYANAN

Setiap organisasi selain mempunyai struktur juga harus mempunyai tugas dan fungsi.
Berikut ini merupakan tugas pokok dari Kantor Penanaman Modal dan Pelayaan Perizinan
Terpadu Kabupaten Flores Timur menurut Peraturan Bupati Flores Timur No.6 Tahun 2012:
a. Kepala Kantor Penanaman Modal Dan Pelayanan Perizinan Terpadu
1. Ikhtisar Jabatan
Membantu Bupati dalm mengkoordinasikan, membina dan mengarahkan
penyelenggaraan tugas Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu,
meliputi urusan tata usaha, urusan kerja sama dan promosi, urusan informasi dan
pelayanan periziznan dan urusan data dan evaluasi sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
2. Uraian Tugas
12

1) Mengkoordinasikan penyusunan rencana kerja kantor penananman modal dan


pelayanan perizinan terpadu, meliputi urusan tata usaha, urusankerjasama dan
promosi, urusan informasi dan pelayanan perizinan dan urusan data dan evaluasi ;
2) Mengkoordinasikan peyelanggarakan Sistem Akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah (SAKIP). Meliputi:
a) Penyusunan rancana strategis (RENSIRA);
b) Penyusunan kinerja tahunan (RKT);
c) Penyusunan penetapan kinerja (PK) tahunan;
d) Penyusunan laporan akuntabilitas kierja instansi pemerintah (LAKIP) tahunan;
dan
e) Penyusunan evaluasi kinerja
3) Memberi petunjuk penyusunan laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ)
dan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD), dan informasi
penyelenggaraan pemerintahan daerah (IPPD), pengawasan melekat, budaya
kerja, kionerja keuangan berdasarkan rencana kerja;
4) Mengkoordinasikan penyusunan rencana kegiatan kantor penananman modal dan
pelayanan perizinan terpadu berdasarkan rencana strategis (RENSTRA) dan
sumber data lainnya;
5) Menyelia pelaksanaan tugas staf;
6) Mengkoordinasikan kebijakan kabuptaen di bbidang penanaman modal yang
meliputi penyusunan peta investasi daerah dan identifikasi sumber daya daerah;
7) Mengkoordinasikan penyusunan kebijakan pengembangan penanaman modal
daerah dalam rencana umum penanaman modal;
8) Mengkoordinasikan serta mengajukan usulan materi dan memfasilitasi kerjsama
dengan dunia usaha di bidang penanaman modal
9) Merumuskan dan menyusun pedoman tata cara dan pelaksanaan pelayanan
perizinan secara terpadu;
10) Merumuskan dan menyusun promosi penanaman modal daerah baik dalam negeri
maupun keluar negeri;
11) Mengkoordinasikan pemberian izin usaha kegiatan penanaman modal dan non
perizinan yang menjadi kewennagan kabupaten;
12) Mengkaji, merumuskan dan menyusun pedoman tata cara pengolahan data dan
sistem informasi penanaman modal
13) Merencanakan kegiatan-kegiatan di bidang pelayanan periziznan terutama
mekanisme, prosedur dan persyaratan serta pemberian izin;
14) Mengevaluasi pelaksanaan tugas/kegiatan;
15) Memberikan saran dan pertimbangan pada atasan;
16) Melakukan kooordinasi dengan instansi terkait;
17) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan atasan; dan
18) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas/kegiatan kepada atasan.
b. Sub Bagian Tata Usaha
1. Ikhtisar Jabatan
Membantu Kepala Kantor dalam menyelenggarakan, mengarahkan dan
mengkoordinasikan pelaksanaan urusan tata usaha sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
13

2. Uraian Tugas
1) Menyusun rencana kerja Sub Bagian Tata Usaha;
2) Menyusun materi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).
Meliputi:
a) Penyusunan rancana strategis (RENSIRA);
b) Penyusunan kinerja tahunan (RKT);
c) Penyusunan penetapan kinerja (PK) tahunan;
d) Penyusunan laporan akuntabilitas kierja instansi pemerintah (LAKIP) tahunan;
dan
e) Penyusunan evaluasi kinerja
3) Menyusun laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) dan laporan
penyelenggaraan pemerintahan daerah (LPPD), dan informasi penyelenggaraan
pemerintahan daerah (IPPD), pengawasan melekat, budaya kerja,kinerja keuangan
berdasarkan rencana kerja;
4) Memberi petunjuk penyusunan rencana kegiatan kantor penananman modal dan
pelayanan perizinan terpadu berdasarkan rencana strategis (RENSTRA) dan
sumber data lainnya;
5) Menyusun rencana kebutuhan barang unit, melakukan pendataan aset sesuai tahun
pengadaan dan sumber dana;
6) Menyusun dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas/kegiatan Sub Bagian Tata
Usaha sesuai data, informasi dan ketentuan;
7) Membagi tugas pada staf
8) Memeriksa hasil kinerja staf
9) Menyelia pelaksanaan tugas staf
10) Menyusun rencana kebutuhan barang unit, melakukan pendataan aset sesuai
tahun anggaran dan sumber dana;
11) Mengkoordinasikan penyusunan rencana program/kegiatan kantor berdasarka
input data dari seksi-seksi di lingkungan kantor;
12) Mengendalikan pelaksanaan pelayanan administrasi umum kepada semua unsur;
13) Mengevaluasi pelaksanaan tugas Sub Bagian Tata Usaha;
14) Menyusun laporan keuangan;
15) Melakukan kooordinasi dengan instansi terkait;
16) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan atasan; dan
17) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas/kegiatan kepada atasan
c. Kepala Seksi Kerjasama Dan Promosi
1. Ikhtisar jabatan
Membantu Kepala Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
dalam melakukan urusan kerjasama dan promosi sesuai ketentuan Peraturan Perundangundangan.
2. Uraian Tugas
1) Menyusun rencana kerja seksi kerjasama dan promosi;
2) Menyusun dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas/kegiatan seksi kerjasama dan
promosi sesuai data, informasi dan ketentuan;
3) Membagi tugas pada staf
4) Memeriksa hasil kerja staf
5) Menyelia pelaksanaan tugas staf;
14

6) Memberi petunjuk teknis dalam melaksanakan, mengajukan usulan materi dan


memfasilitasi kerjasama dengan dunia usahadi bidang penanaman modal baik
kerjasama lintas instansi/lembaga/dunia usaha/asosiasi dalam dan luar negeri;
7) Memberi petunjuk pengisian format dan mengidentifikasi informasi kerjasama dengan
pihak dunia usaha di bidang penanaman modal baik scara interen maupun eksteren;
8) Mengkaji, merumuskan, dan menyusun kebijakan teknis pelaksanaan pemberian
bimbingan dan pembinaan promosi penanaman modal di tingkat kabupaten;
9) Melaksanakan sosialisai atas kebijakan dan perencanaan pengembangan kejasama
luar negeri, promosi pemberian pelayanan perizinan secara terpadu;
10) Merencanakan pelaksanaan promosi penanaman modal Daerah baik di dalam negari
maupun di luar negeri;
11) Mengevaluasi pelaksanaan tugas seksi kerjasama dan promosi;
12) Melakukan kooordinasi dengan instansi terkait;
13) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan atasan; dan
14) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas/kegiatan kepada atasan.
d. Seksi Informasi Dan Pelayanan Perizinan
1. Ikhtisar Jabatan
Membantu Kepala Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu
dalam melakukan urusan informasi dan pelayanan perizinan sesuai ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
2. Uraian Tugas
1) Menyusun rencana kerja seksi informasi dan pelayanan perizinan;
2) Menyusun dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas/kegiatan Seksi informasi dan
pelayanan perizinan;
3) Membagi tugas pada staf;
4) Memeriksa hasil kerja staf;
5) Menyelia pelaksanaan tugas staf;
6) Memberi petunjuk teknis tentang informasi dan pelayanan perizinan dalam
meningkatkan kualitas pelayanan publik;
7) Memberi petunjuk pengisian format dan mengidentifikasi informasi pelayanan
perizinan;
8) Merencanakan dan memfasilitasi pelaksanaan promosi pelayanan perizinan;
9) Memproses permohonan perizinan dan menindaklanjuti untuk dianalisa apakah
disetujui atau tidak.
10) Melakukan pengawasan dan pelaksanaan di bidang sistem informasi pelayanan
perizinan;
11) Memberikan informasi kepada pemohon yang berkaitan dengan perizinan dan
mekanisme serta persyaratan pembuatan perizinan;
12) Mengevaluasi pelaksanaan tugas seksi informasi dan pelayanan perizinan;
14) Melakukan kooordinasi dengan instansi terkait;
15) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan atasan; dan
16) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas/kegiatan kepada atasan
e. Seksi Data Dan Evaluasi
1. Ikhtisar Jabatan
15

Membantu Kepala Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan


Terpadu dalam melakukan urusan data dan evaluasi sesuai dengan ketentuan
Perundang-undangan.
2. Uraian Tugas
1) Menyusun rencana kerja Seksi data dan evaluasi;
2) Menyusun dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas/kegiatan Seksi dat dan
evaluasi sesuai data, informasi dan ketentuan;
3) Membagi tugas pada staf;
4) Memeriksa hasil kerja staf;
5) Menyelia pelaksanaan tugas staf;
6) Mengumpulkan dan mengolah data kegiatan usaha penanaman modal dan
pelayanan perizinan secara terpadu;
7) Memutakhirkan data dan informasi baik pelayanan penanaman modal maupun
jenis pelayanan perizinan lainya;
8) Melakukan monitoring usaha untuk melihat sejauh mana pelaksanaan pelayanan
perizinan;
9) Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan perizinan sehingga dapat
diketahui keadaan atau permasalahannya;
10) Melakukan evaluasi terhadap data-data penanaman modal dan pelayanan
perizinan;
11) Menyiapkan data-data perkembangan penanaman modal dan pelayanan perizinan
sesuai ketentuan peraturan Perundang-undangan;
12) Merencanakan dan memfasilitasi pelaksanaan evaluasi kegiatan penanman modal
dan pelayanan perizinan;
13) Memproses permohonan perizinan dan menindaklanjuti;
14) Memberikan informasi kepada pemohon yang berkaitan dengan perizinan dan
mekanisme serta persyaratan pembuatan izin;
15) Mengevaluasi pelaksanaan tugas Seksi Informasi dan Pelayanan Perizinan;
16) Melakukan koordinasi dengan instansi tekait;
17) Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan atasan; dan
18) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas/kegiatan kepada atasan
Dari gambaran uraian tugas di atas penulis berpendapat bahwa, tidak ada perbedaan
tugas antara Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dan Kantor Penanaman Modal dan
Pelayanan Perizinan Terpadu khususnya dalam hal pelaksanaan pelayanan perizinan.
2. Peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD)
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) tidak dapat dipisahkan dari konsep Pelayanan Publik yang berkualitas. Karena pada
hakekatnya kehadiran Unit Pelayanan Satu Pintu (UPTSP) adalah untuk memberikan sebuah
efisiensi pelayanan kepada masyarakat dengan memutus mata rantai birokrasi yang berbelit
karena Unit Pelayanan Satu Pintu (UPTSP) diselenggarakan pada satu tempat yang meliputi
berbagai jenis pelayanan yang memiliki keterkaitan proses dan dilayani melalui satu pintu.
16

Menurut
Ketetapan
Menteri
Pendayagunaan
Aparatur
Negara
No.63/KEP/M.PAN/7/2003, Pelayanan Publik adalah segala kegiatan pelayanan yang
dilaksanakan oleh penyelenggara Pelayanan Publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pelayanan Publik pada kenyataannya telah menjadi ranah dimana negara yang telah
diwakili oleh pemerintah berinteraksi langsung dengan pihak non pemerintah. Dalam ranah ini
telah terjadi pergumulan yang sangat intensif antara pemerintah dengan warga, dan baik atau
buruknya dalam Pelayanan Publik sangat dirasakan oleh masyarakat. Keberhasilan dalam
mewujudkan praktek good governance dalam Pelayanan Publik mampu membangkitkan
dukungan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Menurut penulis peningkatan terhadap Pelayanan Publik tidak dapat dilepaskan dari
konsep penegakan hukum. Hal tersebut tercemin dari konsep Laurence M. Friedman tentang tiga
unsur sistem hukum yaitu:
a. Stuktur hukum yakni kerangka atau rangkayan dari hukum itu sendiri.
b. Substansi hukum yakni aturan, norma, dan pola perilaku mmanusia yang nyata dalam sistem
hukum.
c. Kultur hukum yakni sikap manusia terhadap hukam dan sistem hukum yang didalamnya
terdapat kepercayaan, nilei, pemikiran serta harapan.
Menurut Soerjono Soekanto, penegakan sebenarnya terletak pada faktor-faktior yang
mungkin mempengaruhinya. Faktor itu mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif
maupun negatifnya terletak pada substansi atau faktor tersebut. Faktor tersebut antara lain:
a. Faktor hukumnya sendiri.
b. Faktor penegak hukum.
c. Faktor sarana.
d. Faktor masyarakat.
e. Faktor kebudayaan.
Upaya Pemerintah dalam meningkatkan Pelayanan Publik dan laju pertumbuhan
ekonomi dalam rangka Otonomi Daerah ditempuh melalui peningkatan profesionalisme
Pelayanan Publik termasuk didalamnya penataan bidang Perizinan yang memberikan efek
meningkatkan kualitas Pelayanan Publik. Selain itu Perizinan merupakan elemen yang sangat
diperhatikan oleh pelaku bisnis dalam menanamkan investasinya di daerah. Oleh karena itu kalau
penyelenggaraan Perizinan tidak diselenggarakan dengan baik maka akan melemahkan nilai-nilai
daya saing dalam kegiatan perekonomian.
Upaya pemerintah untuk mengendalikan setiap kegiatan atau perilaku individu atau
kolektifitas yang sifatnya preventif adalah melalui izin. Izin adalah suatu keputusan administrasi
negara yang memperkenankan suatu perbuatan yang pada umumnya dilarang, tetapi diperkenan
kan dan bersifat konkrit.
Menurut Ateng Syafrudin izin bertujuan dan berarti menghilangkan halangan dimana
hal yang dilarang menjadi boleh. Kemudian Asep Warlan Yusuf mengatakan izin sebagai
instrumen pemerintah yang bersifat yuridis preventif yang digunakan sebagai sarana hukum
administrasi untuk mengendalikan perilaku masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan,
bahwa izin adalah perangkat hukum administrasi yang digunakan pemerintah untuk
mengendalikan warganya agar berjalan dengan teratur. Izin dimaksudkan sebagai hal yang bisa
memberikan kontribusi posif terhadap aktifitas ekonomi terutama dalam upaya menggali
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan mendorong laju investasi. Suatu izin yang diberikan
pemerintah memiliki maksud untuk menciptakan kondisi aman dan tertib agar setiap kegiatan
17

sesuai dengan peruntukannya. Di sisi lain tujuan dari perizinan bagi pemerintah seringkali
dihubungkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena pandapatan merupakan hal yang
penting dalam kerangka mewujudkan Otonomi Daerah. Tanpa pendapatan yang memadai,
mustahil otonomi daerah itu bisa terwujud.
Maksud dibentuknya Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) adalah mendorong
prakarsa masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan
daerah dan meningkatkan daya guna, hasil guna dan kelancaran pelayanan umum yang dilakukan
oleh aparatur negara di daerah. Selain itu pembentukan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan memberikan akses
yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik yang lebih prima.
Didasarkan pada keinginan untuk meningkatkan kualitas pelayanan aparatur kepada
masyarakat dalam bidang perizinan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna, maka melaui
Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Dan Tata Kerja
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten
Flores Timur membentuk suatu satuan kerja yang bertugas menampung dan menyelenggarakan
semua pelayanan perizinan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang disebut UPTSP. Oleh karena
itu diharapkan dengan adanya Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) di Kabupaten Flores
Timur ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat. Selain itu
dengan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat di kabupaten flores timur dapat membantu
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur.
Sejak berdirinya Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) di Kabupaten Flores
Timur pada tahun 2009 mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) itu sendiri, sebagai bukti dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Tabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten FLOTIM Tahun 2006 2011
No

Tahun

Pendapatan Asli Daerah


(PAD)

Angka Peningkatan

Persen
(%)

2006

Rp.9.735.017.601,57

2007

Rp.12.561.388.160,06

Rp.2.826.370.558,49
(2007-2006)

22,5 %

2008

Rp.19.009.213.063,84

Rp.6.447.824.903,78
(2008-2007)

33,9%

2009

Rp.20.691.978.390,-

Rp.1.682.765.326,16
(2009-2008)

8,1 %

18

2010

Rp.21.935.859.168,-

Rp.1.243.880.778,(2010-2009)

5,6%

2011

Rp.27.079.032.527,-

Rp.5.143.173.359,(2011-2010)

18,9 %

Sumber : Data lapangan yang telah diolah.

Berdasarkan tabel diatas, dilihat dari segi presentase peningkatan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kabupaten Flores Timur pada tahun 2007 meningkat sebesar 22,5 % yakni dari Rp.
9.735.017.601,57 (PAD Tahun 2006) menjadi 12.561.388.160,06 (PAD Tahun 2007) dan pada
tahun 2008 meningkat lagi dari sebesar 33,9 % yakni dari 12.561.388.160,06 (PAD Tahun 2007)
menjadi 19.009.213.063,84 (PAD Tahun 2008). Akan tetapi pada tahun 2009 Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur dari segi presentase menurun drastis menyentuh titik
8,1% yakni dari 19.009.213.063,84 (PAD Tahun 2008) hanya mampu meningkat menjadi Rp.
20.691.978.390,- (PAD Tahun 2009). Dan menurun lagi pada tahun 2010 yang hanya mampu
meningkat sebesar 5,6% yakni Rp. 20.691.978.390 (PAD Tahun 2009) menjadi Rp.
21.935.859.168,- (PAD Tahun 2010), akan tetapi pada tahun 2011 presentase Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur meningkat sebesar 18,9%, yakni Rp. 21.935.859.168,(PAD Tahun 2010) menjadi Rp. 27.079.032.527,- (PAD Tahun 2011).
Akan tetapi jika dilihat dari segi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Flores Timur secara kualitatif menagalami peningkatan setiap tahunnya meskipun dari segi
indeks presentasenya mengalami pasang - surut.
Dengan demikian jika dilihat secara keseluruhan dari tahun 2006 sampai tahun 2011
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur terus mengalami peningkatan.
Kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores
Timur tidak dapat dipisahkan dari peranan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) yang
menyelenggarakan jasa perizinan di Kabupaten Flores Timur. Sebagaimana telah dijelaskan
bahwa izin merupakan instrumen penting dalam pembangunan suatau daerah sehingga perlu
dikelola secara utuh dan menyeluruh sehingga memberikan dampak positif terhadap
pembangunan suatu daerah. Adapun izin yang telah dikelolah oleh Unit Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur sejak berdiri dari tahun 2009-2011 adalah sebagai
berikut:
1) Izin yang dikelola Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) selama Tahun 2009
adalah sebagai berikut:
A. BAGIAN ADMNISTRASI PEREKONOMIAN
1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
: 435 izin
2. Izin Gangguan (HO)
: 7 izin
B. DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMASI
1. Surat Izin Usaha Pariwisata :
o Hotel
: 4 izin
o Rumah Makan
: 3 izin
o Restoran
: 1 izin
o Agen perjalanan wisata
: 1 izin
2. Izin trayek
: 23 izin
19

C.
1.
2.
3.
4.
5.
D.
1.
2.
E.
1.
2.
3.
4.
F.
1.
2.
3.

DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN


Tanda Daftar Industri (TDI)
: 8 izin
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
: 91 izin
Tanda Daftar Gudang
: 2 izin
Tanda Daftar Perusahaan
: 55 izin
SIUP Minuman Beralkohol (SIUP-MB)
: 3 izin
DINAS PEKERJAAN UMUM PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Surat Izin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK)
: 7 izin
Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
: 3 izin
DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)
: 8 izin
Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)
: 11 izin
Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) : 2 izin
Surat Izin Pengolahan Ikan (SIPI)
: 1 izin
DINAS KESEHATAN
Izin Toko Obat
: 1 izin
Izin Apotik
: 1 izin
Izin praktek dokter : 4 izin

Berdasarkan data di atas maka total izin yang dikelola oleh Unit Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur selama Tahun 2009 adalah sebanyak 671 izin.
2) Izin yang dikelola Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) selama Tahun 2010
adalah sebagai berikut:
A. BAGIAN ADMNISTRASI PEREKONOMIAN
1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
: 386 izin
2. Izin Gangguan (HO)
: 9 izin
B. DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMASI
1. Surat Izin Usaha Pariwisata
: 28 izin
2. Izin Trayek
: 55 izin
C. DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
1. Izin Usaha Industri (IUI)
: 1 izin
2. Tanda Daftar Industri (TDI)
: 17 izin
3. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
: 341 izin
4. Tanda Daftar Gudang
: 19 izin
5. Tanda Daftar Perusahaan
: 237 izin
D. DINAS PEKERJAAN UMUM PERTAMBANGAN DAN ENERGI
1. Surat Izin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK)
: 18 izin
2. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
: 14 izin
E. DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
1. Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)
: 12 izin
2. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)
: 6 izin
3. Surat Izin Pengolahan Ikan (SIPI)
: 7 izin
4. Surat Izin Budidaya Ikan (SIBI)
: 1 izin
F. DINAS KESEHATAN
1. Izin Tetap BP/BKIA/RB Swasta
: 1 izin
20

2. Izin Apotik
3. Izin Tetap/Sementara Laboratorium
4. Izin Praktek Dokter

: 5 izin
: 3 izin
: 11 izin

Berdasarkan data di atas maka total izin yang dikelola oleh Unit Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur selama Tahun 2010 adalah sebanyak 1.171 izin.
3) Izin yang dikelola Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) selama Tahun 2011
adalah sebagai berikut:
A. BAGIAN ADMNISTRASI PEREKONOMIAN
1. Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
: 386 izin
2. Izin Gangguan (HO)
: 9 izin
B. DINAS PERHUBUNGAN, PARIWISATA, KOMUNIKASI DAN INFORMASI
1. Surat Izin Usaha Pariwisata : 22 izin
2. Izin Trayek
: 63 izin
C. DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
1. Tanda Daftar Perusahaan
: 337 izin
2. SIUP Perdagangan
: 314 izin
3. Tanda Daftar Industri
: 32 izin
D. DINAS PEKERJAAN UMUM PERTAMBANGAN DAN ENERGI
1. Surat Izin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK)
: 99 izin
2. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
: 28 izin
E. DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
1. Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)
: 34 izin
2. Surat Izin Budidaya Ikan (SIBI)
: 1 izin
3. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)
: 24 izin
4. Surat Izin Pengolahan Ikan (SIPI)
: 4 izin
5. Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) : 3 izin
F. DINAS KESEHATAN
1. Izin Praktek Dokter : 8 izin
2. Izin Toko Obat
: 1 izin
3. Izin Apotik
: 1 izin
4. Izin Optikal
: 1 izin
5. Izin Fisioterapis
: 1 izin
6. Izin Praktek Bidan
: 1 izin
Berdasarkan data di atas maka total izin yang dikelola oleh Unit Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur selama Tahun 2011 adalah sebanyak 1.515 izin.
Dari data di atas dapat diketahui bahwa rangkaian-rangkaian izin yang telah dikelola
oleh Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur hingga tahun 2011
dengan sendirinya memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur yang dapat dilihat pada tabel berikut:

21

Tabel 2. Tabel kontribusi UPTSP terhadap PAD


Total PAD

Presentase
(%)

Rp.66.753.900,-

Rp.20.691.978.390,-

0.32 %

Rp.21.831.474.418,-

Rp.104.384.750,-

Rp.21.935.859.168,-

0,47%

Rp. 26.932.676.027,-

Rp.146.356.500,-

Rp.27.079.032.527,-

3,4%

No

Tahun

Pendapatan Asli Daerah

Kontribusi UPTSP

2009

Rp.20.625.224.490,-

2010

2011

Sumber : Data lapangan yang telah diolah.


Ket : * Belum termasuk kontribusi UPTSP
* *Sudah termasuk kontribusi UPTSP

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP)
turut ambil bagian dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dimana sejak tahun 2009
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) memberikan kontribusi yang sangat baik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Marta Tena Lema selaku kordinator Unit Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (UPTSP) saat itu berpendapat bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur mengelami peningkatan yang cukup baik dari tahun ke tahun, selain itu
beliau juga mengatakan bahwa sejak tahun 2009 sampai 2011 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur mengalami peningkatan tidak terlepas dari kontribusi yang diberikan
oleh Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP), yang dalam hal ini bergarak dalam pelayanan
bublik khususnya di bidang perizinan. Hal ini dipertegas oleh Bapak Aloysius Ferdi Kuman,
A.Md selaku Kepala Seksi Pelayanan pada Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) bahwa
meskipun Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) hanya bergerak dalam bidang pelayanan
publik namun Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dapat memberikan suatu kontribusi
bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dari uraian penjelasan diatas penulis berpendapat bahwa peran Unit Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (UPTSP) dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur
sudah berjalan dengan baik, dan sejak terbentuk pada tahun 2009 sampai saat ini mampu
memberikan kontribusi yang baik bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Flores Timur.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur
Pengelolalaan dan pengembangan Pelayanan Publik dalam rangka pemenuhan kebutuhan
masyarakat menjadi satu tugas bagi pemerintah di daerah. Terlebih lagi Pelayanan Publik
menjadi primadona bagi daerah-daerah guna menciptakan kesejahteraan masyarakat dan
pencapaian pendapatan Asli Daerah (PAD). Untuk itu pemerintah dituntut untuk selalu kreatif,
inovatif dan cerdas tentang mana yang harus dilakukan dan diprioritaskan. Dengan
memepertimbangkan keterbatasan sumber daya guna penambahan sumber aset publik, Salah
satunya melalui perizinan.
22

Beragam organ pemerintahan yang berwenang dalam memberikan izin, bisa


menyebabkan tujuan dari kegiatan yang membutuhkan izin tertentu menjadi terhambat bahkan
tidak mencapai sasaran. Menghadapi permasalahan yang demikian ini maka unsur
profesionalisme merupakan hal yang mutlak karena profesionalisme berkaitan erat dengan
pelayanan, maka izin yang berbelit- belit harus dihindarkan. Maka untuk mencapai kondisi
tersebut maka salah satu dari tindakan pemerintah dengan dikeluarkanya suatu kebijakan
pelayanan terpadu satu pintu.
Dalam kaitannya dengan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP), secara umum
tujuan dari dibentuknya Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) adalah untuk menciptakan
suatu sistem pelayanan yang optimal. Adapun yang menjadi alasan pemerintah
menyelenggarakan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) adalah:
1) Perizinan merupakan pelayanan pemerintah yang tidak dapat digantikan oleh pihak swasta.
2) Perizinan adalah entry point kegiatan usaha.
3) Perizinan adalah persyaratan bagi akses terhadap modal.
4) Perizinan adalah fungsi awal untuk melakukan kontrol dalam pembinaan
5) Perizinan menghasilkan pendapatan asli daaaaerah dan dapat menambah objek pajak.
6) Pelayanan perizinan merupakan salah satu cermin kualitas pelayanan pemerintah kepada
masyarakatnya.
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) adalah penyelenggaraan perizinan yang
proses pengelolaanya dilakukan terpadu dalam satu tempat. Melalui konsep ini, dalam mengurus
perizinan pemohon cukup hanya datang ke satu tempat dan hanya bertemu dengan petugas front
office sehingga meminimalisasi interaksi dan menghindari pungutan tidak resmi. Pembentukan
Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) pada dasarnya ditujukan untuk memudahkan
birokrasi penyelenggaraan perizinan dalam bentuk pemangkasan tahapan dan prosedur lintas
instansi maupun dalm instansi yang bersangkutan, pemangkasan biaya, pengurangan jumlah
persyaratan, pengurangan jumlah paraf dan jumlah tanda tangan yang diperlukan, dan
pengurangan waktu pemrosesan perizinan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perizinan
merupakan wujud Pelayanan Publik yang sangat menonjol dalam tata pemerintahan, sehingga
seringkali perizinan menjadi sebuah indikator untuk menilai apakah sebuah tata pemerintahan
sudah mencapai good governance atau belum.
Langkah untuk mewujudkan good governance Pelayanan Publik adalah dengan adanya
efektifitas dan efisiensi Pelayanan Publik. Yang pertama adalah efektifitas. Secara sederhana
efektifitas dapat diartikan sebagi tepat sasaran. Efektifitas terfokus pada tingkat pencapaian
terhadap tujuan dari organisai publik.
Hal yang kedua yakni efisiensi, karena efisiensi lebih melekat pada upaya organisasi
pemerintah untuk menghemat sumber daya pemerintah yang dititipkan padanya. Efisiensi adalah
suatu keadaan yang menunjukan tercapainya perbandingan terbaik antara masukan dan keluaran
dalam penyelenggaraan Pelayanan Publik.
Dalam menjalankan suatu tugas dan fungsi suatu organisasi tentu mengalami kendala
kendala. Hal tersebut juga terjadi dan dirasakan pada Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) Kabupaten Flores Timur. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Marta Tena Lema,
pada tanggal 22 November 2012, beliau selaku Koordinator Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) pada saat itu menyatakan bahwa kendala yang dihadapi Unit Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (UPTSP) antara lain dana operasional yang menjadi jatah Unit Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (UPTSP) dinilai masih kurang sehingga dalam menjalankan tugas tidak begitu efektif.
Menurut beliau Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) cukup berperan penting dalam
23

perkembangan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jadi perlu dukungan yang efektif
dari pemerintah. Hal ini dipertegas oleh Bapak Aloysius Ferdi Kuman, A.Md bahwa dalam
menjalankan tugasnya selaku seksi pelayaan sangat terhambat karena kurangnya sarana
pendukung seperti komputer, printer, mesin foto kopi dan kendaraan dinas untuk kelancaran
operasional. Selain kendala kendala yang sudah disebutkan diatas, berdasarkan pengamatan
penulis masih banyak kendala kendala lain seperti ruangan kantor yang sangat kecil, belum
adanya papan informasi dan kotak pengaduan yang disediakan bagi masyarakat, dan jumlah
aparat yang dinilai masih kurang dalam segi jumlah serta Sumber Daya Manusia (SDM) aparat
yang masih rendah. Selain itu kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang tugas dan
wewenang dari Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) ini yang menyebabkan masyarakat
kurang memanfaatkan keberadaan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dikarenakan
pemahaman masyarakat awam tentang proses penyelenggaraan pelayanan perizinan yang
memakan waktu cukup lama (birokrasi yang berbelit-belit) yang dapat memperlambat
terlaksananya pelayanan secara efektif dan efisien sehingga masyarakat merasa kurang tertarik
untuk memanfaatkan keberadaan UPTSP kabupaten flores timur. Dari uraian diatas dapat kita
ketahui bahwa masih banyak kendala yang dihadapi oleh Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa yang
menjadi kendala utama bagi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam menjalankan
tugasnya adalah masalah kekurangan dana dan kurangnya sarana dan prasarana pendukung.
Kondisi yang terjadi pada UPTSP Kabupaten Flores Timur dapat mempengaruhi
kualitas dari pada pelayanan publik di Kabupaten Flores Timur itu sendiri. Sehingga standar
pelayanan untuk mencapai sebuah pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat flores timur
yang membutuhkan pelayanan akan jauh dari efektivitas sebuah organisasi pelayanan publik
dalam bidang perizinan.
Berdasarkan undang-undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik setiap
penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai
jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar pelayanan adalah ukuran yang
dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan yang wajib ditaati oleh pemberi atau penerima
pelayanan. Standar pelayanan tersebut meliputi:
1) Prosedur Pelayanan
Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima termasuk pengaduan.
Dalam kaitannya dengan Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten
Flores Timur berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November
2012) menyatakan bahwa pada Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) ini belum
tersedia sistem atau sarana pengaduan yang berkaitan dengan pengaduan masyarakat tentang
kepengurusan proses perizinan di Kabupaten Flores Timur. Padahal dalam undang-undang
Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik Pasal 36 Ayat (1) penyelenggara
berkewajiban menyediakan sarana pengaduan dan menugaskan pelaksana yang berkompeten
dalam pengelolaan pengaduan. Ayat (4) penyelenggara berkewajiban mengumumkan nama
dan alamt penanggungjawab pengelola pengaduan serta sarana pengaduan yang disediakan.
Yang dimaksud dengan saran pengaduan dalam ayat (4) ini antara lain nomor telepon, pesan
layanan singkat (SMS), laman/web site, Pos- el (email) dan kotak pengaduan.
2) Waktu Penyelesaian
Waktu penyelesaian adalah waktu yang ditetapkan sejak saat pengejuan permohonan
sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan. Berdasarkan wawancara penulis
24

dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November 2012) mengatakan bahwa waktu penyelesaian
pengurusan izin di Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur
belum sepenuhnya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, hal ini dikarenakan seluruh
berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh Bupati Flores timur sering tertunda dikarenakan
Bupati Flores Timur yang sedang bertugas keluar Daerah. Hal ini tentunya akan sangat
berpengaruh terhadap tingkat kepuasan dari masyarakat yang memanfaatkan keberadaan Unit
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur karena masyarakat
menganggap bahwa Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) belum memberikan pelayanan
yang prima.
Wawancara yang dilakukan penulis terhadap Bapak Paulus Boro yang pernah mengurus
Surat Izin Tempat Usaha (SITU) di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores
Timur mengatakan dirinya merasa cukup kecewa dengan proses pelayanan terutama soal
waktu kepengurusan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 6 (enam) hari namun pada
kenyataannya memakan waktu hingga 14 (empat belas) hari.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka penulis berkesimpulan bahwa proses
pelayanan publik yang terjadi di UPTSP Kabupaten Flores Timur dalam hal waktu
penyelesaian izin belum belum maksimal.
3) Biaya Pelayanan
Biaya pelayanan adalah biaya atau tarif pelayanan termasuk rincian yang ditetapkan
dalam proses pemeberian pelayanan.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November 2012)
menyatakan bahwa biaya pelayanan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini
diperkuat dengan pernyataan dari Bapak Paulus Boro (22 November 2012) yang menyatakan
bahwa benar biaya pelayanan sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka penulis menyimpulkan bahwa standar
pelayanan berupa biaya pelayanan yang ditetapkan oleh Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) Kabupaten Flores Timur sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
4) Produk Pelayanan
Produk pelayanan adalah hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November 2012)
menyatakan bahwa produk pelayanan yang diterbitkan sudah sesuai dengan ketentuan
peraturan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Ibu Yuli Diaz yang pernah
mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang menyatakan bahwa produk pelayanan yang
dikeluarkan oleh Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur sudah
sesuai dengan yang diinginkannya.
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka penulis menyimpulkan bahwa standar
pelayanan publik yang diberikan oleh Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten
Flores Timur sudah sesuai dengan perannya (efektif).
5) Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana adalah penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai
oleh penyelenggara pelayanan publik.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November 2012)
menyatakan bahwa Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur belum
25

memiliki saran dan prasarana yang memadai sehingga pelayanan kepada masyarakat yang
membutuhkan manjadi tersendat-sendat. Hal ini diperkuat dengan pengamatan langsung
penulis pada fasilitas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur,
didapati bahwa ruangan tidak memenuhi syarat (terlalu kecil dan sempit), kurangnya fasilitas
pendukung seperti komputer, mesin print yang terbatas, tidak adanya kotak pengaduan
masyarakat, tidak adanya e-mail dan minimnya kendaraan operasional.
Berdasarkan hasil wawancara diatas dan pengamatan penulis maka dapat disimpulkan
bahwa standar pelayanan berupa sarana dan prasarana yang disediakan oleh Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur belum memadai.
6) Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan
Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan
pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan.
Berdasarkan wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November 2012)
menyatakan bahwa Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur dalam
hal sumber daya aparat masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Sumber Daya Manusia (SDM) pegawai Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP)
Kabupaten Flores timur Tahun 2009-2010
NO

TINGKAT PENDIDIKAN

JUMLAH

KET.

1.

STRATA- I

PNS

2.

DIPLOMA III

PNS

3.

SLTA

4 PNS+1 Tenaga Kontrak

Sumber : Data lapangan yang telah diolah.

Tabel 4. Sumber Daya Manusia (SDM) pegawai Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP)
Kabupaten Flores timur Tahun 2011-2012
NO
1.
2.
3.

TINGKAT PENDIDIKAN
STRATA- I
DIPLOMA III
SLTA

JUMLAH
1
2
4

KET.
PNS
PNS
2 PNS+2 Tenaga Kontrak

Sumber : Data lapangan yang telah diolah.

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa petugas pemberi pelayanan pada Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur, berupa tingkat pendidikan masih sangat
minim. Tentunya hal ini dapat mempengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Lebih lanjut dalam wawancara penulis dengan Ibu Marta Tena Lema (22 November
2012) juga mengungkapkan bahwa seringkali pelayanan kepada masyarakat menjadi tertunda
karena minimnya jumlah pegawai.
Dari uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa untuk lebih meningkatkan
peranan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) dalam upaya untuk meningkatkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Kabupaten Flores Timur, harus didahului dengan peningkatan kualitas
Pelayanan Public berupa standar Pelayanan Publik, pola penyelenggaraan Pelayanan Publik,
prinsip Pelayanan Publik sehingga akan meningkatkan tingkat kepuasan masyarakat yang akan
26

berdampak terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Apabila kualitas Pelayanan


Publik pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur meningkat maka
secara langsung masyarakat akan lebih memiliki gairah untuk memanfaatkan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur dalam hal perizinan, dengan demikian melalui
retribusi yang diberikan oleh masyarakat akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Flores Timur.
D. Kesimpulan Dan Saran
1) Kesimpulan
Bertolak dari hasil penelitelian atau temuan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) di Kabupaten Flores Timur sudah
berjalan dengan baik ditandai dengan semakin meningkatnya kontribusi Unit Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (UPTSP) terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
2. Peran Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP) Kabupaten Flores Timur, meskipun
sudah berjalan dengan baik namun masih ditemui beberapa faktor yang menghambat
pelaksanaan tugas dan fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP), yaitu:
a) Masih terbatasnya kompetensi dan jumlah pegawai pelaksana.
b) Masih terbatasnya sarana dan prasarana pendukung pelayanan.
Masih rendahnya dukungan dana operasional dari Pemerintah Daerah Kabupaten Flores
Timur
2) Saran
Sesuai dengan apa yang penulis temukan, maka penulis memberikan beberapa saran
sebagai berikut :
1. Perlu dipertahankan dan ditingkatkan tugas dan fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(UPTSP) dalam memberikan Pelayanan Publik.
2. Perlu adanya upaya-upaya untuk meminimalisir faktor-faktor yang menghambat
pelaksanaan tugas dan fungsi Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPTSP), berupa:
a) Meningkatkan kompetensi dan jumlah pegawai pelaksana.
b) Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung pelayanan.
c) Meningkatkan dana operasional dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi.

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku :
Badudu, J. S. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinara Harapan.
Halim, Abdul, 2004. Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta : Salemba Empat.
27

, 2004. Akuntansi Keuangan Daerah. Yogyakarta : Salemba Empat.


Huda, Nimatul,b 2009. OTONOMI DAERAH Filosofi, Sejarah Perkembangan dan
Problematika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mardiasmo. 2002, Perpajakan, Andi Offset, Yogyakarta.
Patty, Donatus, 2005. Pengantar Sosiologi, Kupang : CV. Kasih Indah.
Philipus M. Hadjon et al,. 1994. Pengantar Hukum administrasi Indonesia, KSHIB.
Pudyatmoko, Sri, 2006. Pengantar Hukum Pajak, Andi, Yogyakarta.
Singgih Gunarsih dan Singgih Gunarsih, 1984. Psikologi Manajemen, gunung Mulia
Jakarta.
Soejono, Soekanto, 1990. Pengantar Sosiologi, Rajawali Indonesia. Jakarata.
Subekti R. dan Tjitrosoedinio. 2005. Kamus Hukum. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Administrasi. Alfa Beta Bandung.
Syueb, Sudono, 2008. Dinamika Hukum Pemerintahan Daerah Sejak Kemerdekaan
sampai Era Reformasi. Surabaya: Laksbang Mediatama.
Wiyono, 2003. Peranan Dinas Pendapatan Daerah Dalam Upaya Meningkatkan
Penerimaan Pajak Rumah Makan Di Kota Kupang, Skripsi FISIP UNDANA,
Jurusan Administrasi Negara.
B. Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik. Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. (Lembaran
Negara Republik. Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438).

28

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844).

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 tahun 2006 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.
Peraturan Daerah No.16 Tahun 2011 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat,
Badan Perencanaan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah.
Peraturan Bupati Flotim No. 23 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata
Kerja UPTSP Kabupaten Flotim Sebagaimana beberapa pasalnya telah diubah
dengan Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 4 tahun 2009 tentang Perubahan
atas Peraturan Bupati Flores Timur Nomor 24 tahun 2007 tentang Pelimpahan
Sebagian Kewenangan Bupati kepada Koordinator UPTSP Kabupaten Flores
Timur.
C. Internet
http://lewotanah.blogspot.com/2009/06/uptsp-oss-flotim-diresmikan.html, UPTSP-OSS
FLOTIM Diresmikan.
http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2177328-konsep-pendapatan-aslidaerah-pad/#ixzz1jzuzvonE
http://kupang.tribunnews.com/28883/ 29 Jenis Izin Dilayani Satu Pintu

29