Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit infeksi mata perlu mendapat pertolongan segera dan adekwat agar tidak
mengganggu penglihatan terlalu lama atau tidak berakibat gangguan penglihatan dan
kebutaan. Radang pada konjungtiva pada pasien akan berdampak merahnya mata pada
pasien. Maka perlu di identifikasikan apakah merahnya berasal dri perdarahan
subkonjungtiva atau pelebaran pembuluh darah. Gejala pelebaran pembuluh darah terjadi
pada peradangan konjungtiva , peradangan kornea dan peradangan sklera. Selain radang mata
luar, injeksi siliar dapat timbul karena radang uvea anterior, endoftalmitis dan glaukoma akut.
Apabila injeksi konjungtiva dan hiperemi konjungtiva bagian tarsal, maka kita menghadapi
penderita dengan radang konjungtiva atau sering disebut konjungtivitis. Dalam menangani
penderita dengan radang konjungtiva, maka prosedur penatalaksanaannya dilakukan
pemeriksaan mata secara umum, kemudian dilakukan pemeriksaan penyebab peradangan atas
indikasi. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah dan pemeriksaan lain untuk mencari
sumber lain.

BAB II
LAPORAN KASUS
Seorang pria usia 36 tahun datang dengan keluhan adanya kemerahan pada kedua matanya
sejak 3 hari yang lalu. Kemerahan merata pada kedua mata, namun mata kanan terasa lebih
mengganjal. Buram disangkal. Kotoran mata (+) berwarna kekuningan dan pasien mengeluh
terganggu dengan kotoran matanya. Bengkak tampak pada kedua mata. Mata kanan terasa
lebih mengganjal karna sebelumnya terdapat selaput. Gatal juga dikeluhkan, air mata tidak
terlalu banyakkeluar. Silau disangkal pasien, maa juga tidak sakit dan buram. Tidak ada
riwayat demam, batuk, pilek sebelumnya. Pasien tidak memiliki riwayat alergi demikian juga
dengan keluarganya dahulu belum pernah sakit seperti ini namum sejak beberapa tahun lalu
memang ada selaput putih dipojok mata kanan.
Hasil pemeriksaan fisik
Status generalis :
Keadaan umum : Baik, compos mentis
Tanda vital

: Suhu 36,5 C
TD 120/80 mm/Hg
RR 18x/menit
Nadi 76 x/menit

Pemeriksaan thoraks, abdomen dan ekstremitas dalam batas normal


Pada pemeriksaan oftalmologi oculi dekstra dan sinistra didapatkan :
Tajam penglihatan

: 6/6

Tekanan intra okular : 17mmHG


Paltebra

: Edema ringan

Sekret (+)
2

Konjungtiva bulbi : OD : Terdapat jaringan fibrovascular berbentuk segitiga dengan puncak


di limbus, hiperemis (+), injeksi konjungtiva +
OS : Injeksi konjungtiva (+)
Kornea.

: Jernih

Kamera oculi anterior : Dalam


Iris dan pupil

: Bulat, sentral, refleks cahaya (+)

Lensa

: Jernih

Vitreus.

: Jernih

Funduscopy

: Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3 , aa/ w 2/3. , refleks makula (+).

Retina

: Baik

Pemeriksaan penunjang
Pewarnaan gram terhadap air mata (+) sekret mata : sel batang dan segmen (+)

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
A. INFORMASI KASUS
1. Identitas pasien
Nama
: Umur
: 36 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Pekerjaan
: Nelayan
2. Keluhan utama
: Mata merah
3. Keluhan tambahan : Terdapat sekret kekuningan, mata kanan pasien terasa lebih
mengganjal, bengkak pada kedua mata pasien.
B. ANAMNESIS
a. Riwayat penyakit sekarang : Kemerahan merata pada kedua mata, namun mata
kanan terasa lebih mengganjal. Terdapat kotoran mata berwarna kekuningan dan
pasien merasa terganggu dengan kotoran matanya. Bengkak tampak pada kedua
mata. Mata kanan dirasakan lebih mengganjal karena sebelumnya telah terdapat
selaput dan saat ini selaput berwarna merah. Pasien juga mengeluh mata gatal.
b.
c.
d.
e.

Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada riwayat penyakit sperti ini sebelumnya.
Riwayat lingkungan : Riwayat kebiasaan
: terpapar sinar matahari (SUV) , debu setiap hari
Riwayat pengobatan :-

C. ANAMNESIS TAMBAHAN
- Apakah pekerjaan pasien ?
- Apakah pasien terpapar oleh debu ?
- Terdapat alergi pada pasien ?
- Apakah pasien memiliki peyakit penyerta ?
- Ada riwayat demam dan batuk?
- Apakah ada keluarga yang mengalami hal serupa?
D. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan
Keadaan Umum
Suhu
Tekanan darah
Respiratory rate
Nadi

Hasil
Baik, Compos mentis
36.50C
120/80
18x/menit
76x/menit

Nilai Normal
Compos mentis
36.5-37.20C
120/80
15-18x/menit
60-100x/menit

Interpretasi
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Pemeriksaan thorax, abdomen, dan ekstremitas : dalam batas normal.

E. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI(1,2)
Pemeriksaan
Tajam Penglihatan
Tekanan Intra

Hasil
6/6
17 mmHg

Nilai Normal
6/6
10-20 mmHg

Okular
Palpebra

Edema ringan, sekret(+) Edema, sekret (-)

Interpretasi
Normal
Normal
Edema dapat
mengindikasi
terjadinya
peradangan;
Sekret
mengindikasi
gangguan pada
konjungtiva.

Konjungtiva bulbi
OD

Jaringan fibrovaskular
(+). Berbentuk segitiga
dengan puncak di
limbus, hiperemis (+);
Injeksi konjungtiva (+)

OS
Kornea
Kamera Okuli

Injeksi konjungtiva (+)


Jernih
Dalam

Jernih
Dalam

Normal
Normal

Anterior
Iris dan Pupil

Bulat, sentral, reflex

Bulat, sentral, reflex

Normal

Lensa
Vitreus
Funduskopi

cahaya (+)
Jernih
Jernih
Papil bulat, batas tegas

cahaya (+)
Jernih
Jernih
Papil bulat, batas tegas

Normal
Normal
Normal

CDR : 0.3

CDR : 0.5

Aa/vv : 2/3

Aa/vv : 2/3

Reflex macula (+)

Reflex macula (+)

Retina baik

Retina baik

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
5

Pewarnaan gram air mata + sekret : Sel batang dan Segmen (+) indikasi adanya
infeksi bakteri
G. DIAGNOSIS
Diagnosis

OD
Konjungtivitis bakterial akut &

OS
Konjungtivitis bakterial akut

pterygium tipe 1
Dasar Diagnosis
Konjungtivitis bakterial akut
Kedua mata merah merata sejak 3

Pterygium
Memiliki faktor resiko bermata

pencaharian sebagai nelayan


Selaput putih sudah ada di pojok

hari yang lalu


Kotoran mata (+) berwarna

kekuningan
Kedua mata bengkak
Ada gatal, namun tidak terlalu

dikeluhkan
Air mata tidak terlalu banyak

ditemukan jaringan fibrovaskular

keluar
Pada pem. penunjang air mata &

hiperemis

mata kanan sejak beberapa tahun

lalu
Pada pemeriksaan fisik OD
(+), puncak di limbus dan

sekret ditemukan sel batang dan


segmen (PMN)
Berdasarkan pendekatan anatomi, pterygium terbagi menjadi 3 tipe, yaitu :(3)

Tipe 1 : pterygium kecil


Lesi terbatas di limbus, menginvasi kornea di tepi dan masih bersifat asimptomatis.
Bisa terdapat inflamasi ringan.
Tipe 2 : Primer Advance
Lesi menutup kornea <4mm. Terdapat astigmatisma.
Tipe 3 : rekuren dengan keterlibatan zona optic
Lesi mengenai kornea >4mm, mengganggu aksis visual dan sering menimbulkan
fibrosis konjungtiva.

H. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa :
o Untuk pterygium pada pasien dapat diberikan steroid topikal untuk
menekan inflamasi. Tindakan bedah masih belum perlu dilakukan
6

sebab belum mengganggu penglihatan pasien dilihat dari visus dan


puncak selaput pada limbus. (4)
o Untuk mengatasi konjungtivitis bakterial dapat diberikan antibiotika
topikal ataupun sistemik spektrum luas (gentamisin, tobramisin,
kloramfenikol, aminoglikosida, dll). Pada kasus ini dapat diberikan
antibiotika tetes mata cendo xitrol untuk 7 hari, 4-6 kali sehari, 1-2
tetes, selama 5 hari. (5)
o Lakukan tes resistensi jika setelah 1 minggu belum sembuh.
o Air mata buatan (artifisial tears).
Non medikamentosa :
o Lindungi mata dari debu dan sinar matahari dengan kacamata
pelindung.
o Edukasikan pasien untuk menjaga kebersihan dengan sering mencuci
tangan dan menggunakan handuk atau sapu tangan terpisah dari orang
lain.
o Hindari kontaminasi dengan mata orang lain.
o Meminta pasien untuk datang kontrol kembali jika penglihatan
dirasakan menurun.
I. KOMPLIKASI(6)
Blefaritis marginal kronik
Parut konjungtiva
Dry eyes
Trikiasis
Entropion
Ulserasi kornea
Keratitis
Parut kornea
J. PROGNOSIS
Ad Vitam : Bonam, karena pterygium dan konjungtivitis yang diderita pasien
bersifat lokal. Hal ini ditunjang hasil pemeriksaan status generalis yang dalam

batas normal menunjukan tidak adanya keadaan yang mengancam jiwa pasien.
Ad Functionam : Bonam, karena tidak adanya gangguan penglihatan pada

pasien.
Ad Sanationam : Dubia ad malam, karena meskipun telah dilakukan operasi,
kemungkinan rekurensi pterygium pada pasien ini masih ada sebab pekerjaan
7

pasien merupakan faktor resiko untuk terpapar debu, sinar UV, dan udara

panas yang merupakan penyebab dari pterygium.


Ad Visam : Bonam, karena visus pada pasien ini normal. Pada mata kanan
pasien ini pterigyum belum mengenai kornea sehingga tidak mempengaruhi
fungsi penglihatan pasien.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI ORBITA(7)
Cavum orbita merupakan rongga / struktur bilateral terletak di bawah fossa cranii anterior
dan di atas fossa cranii media. Cavum orbita berbentuk pyramid, yaitu mempunyai dinding
medial, lateral, superior dan inferior, dimana apex terletak di belakang (foramen opticum) dan
basis terletak di depan. Cavum orbita bagian superior dibentuk oleh os frontalis dan sebagian
kecil os sphenoidalis. Bagian medial dari depan ke belakang terdiri dari os maxillaris, os
lacrimalis, os ethmoidalis, dan os sphenoidalis. Bagian dasar dibentuk oleh os maxillaries
(sebagian besar), os zygomaticum dan os palatina. Bagias lateral terdiri dari os zygomaticum
dan os sphenoidalis.

Orbita terdiri dari bulbus oculi, N.


opticus, otot ekstrinsik penggerak
bola mata, apparatus lacrimalis,
jaringan adipose, fascia, saraf dan
pembuluh darah yg mensuplainya.
Bola mata merupakan struktur
yang berbentuk spheris dengan
diameter 2,5 cm. Bola mata terdiri
dari 3 lapisan yaitu tunica fibrosa,
tunica
9

vasculosa,

dan

tunica

nervosa. Tunica fibrosa terdiri dari kornea dan sclera. Tunica vaskulosa terdiri dari choroid,
corpus ciliaris, iris dan pupil. Tunica nervosa terdiri dari retina. Bola mata berisi camera oculi
anterior dan posterior, aqueous humor, lensa, uvea, corpus vitreus, dan retina.
Kornea merupakan lapisan transparan lanjutan dari sclera di anterior untuk tempat masuknya
cahaya ke dalam bola mata. Uvea terdiri dari uvea anterior yaitu iris dan badan siliaris dan
uvea posterior yaitu koroid. Choroid merupakan lapisan luar berpigmen dan lapisan dalam
kaya vascular.
Corpus cilliaris terdiri dari m. cilliaris dan processus ciliraris. M. ciliaris dipersarafi
parasimpatis N. III berungsi untuk mengecilkan mencembungkan lensa untuk akomodasi
melihat dekat dengan cara kontraksi sehingga ukuran cincin corpus ciliare mengecil dan
tegangan ligament suspensorium menurun.
Iris adalah diafragma berpigmen dengan lubang di tengahnya, yaitu pupil. Iris adalah bagian
berwarna dari mata yang merupakan perpanjangan corpus ciliaris dan membagi ruang antara
camera oculi anterior dan camera oculi posterior. Serabut otot iris yaitu m. sphincter pupillae
yang dipersarafi parasimpatis n. occulomotorius berfungsi untuk miosis dan m. dilatators
pupillae dipersarafi oleh simpatis untuk midriasis.
Otot ekstrinsik terdiri dari m. rectus oculi superior, m. rectus oculi inferior, m. rectus oculi
medial, m. rectus oculi lateral, m. obliquus oculi superior, m. obliquus oculi inferior, dan m.
levator palpebrae. M. rectus oculi superior, inferior, dan medial masing-masing berfungsi
untuk memutar bola mata ke atas, bawah, dan tengah dan dipersarafi oleh N. III. M. rectus
oculi lateral untuk memutar bola mata ke lateral dipersarafi oleh N. VI. M. obliquus superior
untuk memutar bola mata ke bawah dipersarafi oleh N. IV. M. obliquus inferior untuk
memutar bola mata ke bawah dan dipersarafi oleh N. III. M. levator palpebrae berguna untuk
mengangkat palpebra dan dipersarafi oleh N. III.
MATA MERAH(8)
Mata akan terlihat merah apabila bagian putih mata atau sklera yang ditutup
konjungtiva menjadi merah. Mata akan terlihat merah bila pembuluh darah yang terdapat
diluar sklera yang menutupinya melebar (injeksi) atau akibat dari pecahnya pembuluh darah.
Mata merah akibat pembuluh darah yang terlihat seperti :

10

A. Injeksi konjungtival, melebarnya arteri konjungtiva posterior yang dapat terjadi


akibat dari kelainan pada selaput lendir mata pengaruh mekanis, alergi ,mata
kering (dry eyes), kurang tidur, iritasi akibat klorida, asap dan benda asing atau
infeksi konjungtiva. Berwarna merah segar. Injeksi jenis ini memiliki sifat mudah
digerakkan dari dasarnya, dengan tetesan adrenalin 1:1000 injeksi lenyap
sementara, gatal, pupil ukuran normal dengan reaksi normal, mata tidak mereasa
sakit melihat sinar atau fotofobia, mata berair atau lakrimasi, sakit tekan yang
dalam sekitar selaput bening (kornea).
B. Injeksi siliar, melebarnya pembuluh tepi selaput bening (perikornea) atau arteri
siliar anterior terjadi akibat dari penyakit pada bola mata seperti:
Kelainan kornea seperti keratitis atau tukak selaput bening (kornea).
Kelainan selaput pelangi (iris) dan selaput hitam (uvea) seperti iritis dan

radang badan siliar atau siklitis.


Infeksi dalam bola mata (endoftalmitis-panoftalmitis).

Injeksi siliar mempunyai sifat berwarna lebih ungu dibandingkan dengan


pelebaran pembuluh darah konjungtiva, pembuluh darah tidak tampak, tidak ikut
serta dengan pergerakan konjungtiva bila digerakkan karena menempel erat
dengan jaringan tepi selaput bening, ukuran sangat halus terletak di sekitar
selaput bening atau kornea, paling padat sekitar kornea dan berkurang ke arah
forniks, tidak menciut bila diberi epinefrin 1:1000, pupil kecil pada iritis dan
lebar pada glaukoma.
C. Injeksi episklera, melebarnya pembuluh darah episklera atau siliar anterior.
Injeksi ini terjadi pada radang jaringan di dalam bola mata seperti endoftalmitis,
panoftalmitis dan glaukoma akut. Berwarna merah gelap, tidak menciut dengan
pemberian epinefrin serta penglihatan akan sangat turun.
D. Perdarahan subkonjungtiva, disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah kecil
konjungtiva. Biasanya terjadi mendadak, berwarna cerah merah di bawah
konjungtiva. Besarnya pendarahan subkonjungtiva ini dapat kecil atau luas di
seluruh subkonjungtiva. warna merahnya akan berubah jadi hitam setelah
beberapa lama. Biasanya akan diserap dengan spontan dalam 1-3 minggu.
Mata merah dapat dibagi menjadi :

11

1. Mata merah dengan penglihatan normal, dapat ditemukan pada kelainan pada
kornea atau di dalam bola mata atau mengenai jaringan tempat jalannya sinar masuk
ke dalam bola mata. Kadang dapat tidak merata atau merata mengenai seluruh bagian
selaput lendir mata.
Mata merah jenis ini dapat ditemukan pada :
Skleritis dan episkleritis (radang konjungtiva sebelah dalam yang terletak di
permukaan selaput putih atau sklera, biasanya akibat reaksi tubuh atau
hipersensitivitas

terhadap penyakit sistemik seperti SLE, lues, TBC, atau

reumatoid arthritis.
Perdarahan subkonjungtiva

konjungtiva.
Pterygium, merupakan pertumbuhan konjungtiva yang memberikan warna

akibat

pecahnya

pembuluh

darah

kecil

merah pada mata dan tidak merupakan kanker yang menjalar ketengah menuju

selaput bening.
Pseudopterygium, merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang
cacat. Sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea.

2. Mata merah dengan penglihatan menurun, bila terdapat suatu proses yang
mengakibatkan media penglihatan (kornea, cairan mata, lensa dan badan kaca).
Terganggu, dapat terjadi pada:
Radang kornea merupakan kelainan akibat terjadinya radang selaput bening

mata yang mengakibatkan kornea menjadi keruh.


Glaukoma akut
Uveitis atau peradangan selaput hitam mata.
Iritis akut atau radang selaput pelangi.
Endoftalmitis (peradangan purulen pada seluruh jaringan intraokular, disertai
dengan pembentukan abses dalam badan kaca).

3. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak, terjadi pada keadaan


penyumbatan pembuluh darah selaput jala atau retina (oklusi arteri retina sentral).
Biasanya terjadi pada glaukoma akut.
PTERYGIUM(9,10,11,12)
Definisi
Pterygium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva
yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terdapat pada celah kelopak
bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea. Pterygium
12

berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterygium mudah
meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterygium akan berwarna merah. Pterygium
sering mengenai kedua mata.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kasus pterygium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk
daerah di atas 400 lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Hubungan
ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya meningkat dan daerah-daerah elevasi
yang terkena penyinaran ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini.
Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak
dibandingkan wanita. Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun.
Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi, sedangkan
pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling
tinggi.
Etiopatofisiologi
Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan ultraviolet,
debu, kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi
yang menjalar ke kornea.
Pterygium berhubungan erat dengan kondisi lingkungan. Penyebab paling umum
adalah paparan atau sorotan berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata.
Ultraviolet (UV), baik UV A ataupun UV B berperan penting dalam hal ini. Selain itu dapat
pula dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti alergen, kimia, debu, dan zat pengiritasi
lainnya.
UV-B merupakan mutagenik untuk p53 tumor supressor gen pada stem sel limbal.
Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta over produksi dan memicu terjadinya
peningkatan kolagenasi, migrasi seluler, dan angiogenesis.
Secara histologi, pterygium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel
yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan pada pewarnaan hemaktosilin dan eosin.
Berbentuk bulat atau degenerasi elastotik dengan penampilan seperti cacing bergelombang
dari jaringan yang berdegenerasi. Perusakan lapisan bowman oleh jaringan fibrovaskular
13

sangat khas. Epitel diatasnya biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau
bahkan diplastik dan sering menunjukkan area hyperplasia dari sel goblet.
Pterygium ini biasanya bilateral, karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang
sama untuk kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua kotoran pada
konjungtiva akan menuju ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke
meatus nasi inferior.
Daerah nasal konjugtiva juga relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak
dibandingkan dengan bagian konjugtiva yang lain, karena di samping kontak langsung,
bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultraviolet secara tidak langsung akibat
pantulan dari hidung karena itu pada bagian nasal konjugtiva lebih sering didapatkan
pterygium dibandingkan dengan bagian temporal.
Gejala Klinis
Pterygium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif,
gatal, merah, sensasi benda asing dan mungkin menimbulkan astigmat atau obstruksi aksis
visual yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan.
Berdasarkan luas perkembangannya diklasifikasikan menjadi 3 :

Stadium I : pterygium belum mencapai limbus


Stadium II : sudah mencapai atau melewati limbus tapi belum mencapai daerah

pupil
Stadium III : sudah mencapai daerah pupil

Berdasarkan progresifitas tumbuhnya :


1.
2.

Stasioner : relatif tidak berkembang lagi (tipis, pucat, atrofi)


Progresif : berkembang lebih besar dalam waktu singkat

Penatalaksanaan
Karena munculnya pterygium akibat paparan lingkungan, penatalaksanaan kasus dengan
tanpa gejala atau iritatif yang sedang dengan kacamata anti UV dan pemberian air mata
buatan/topical lubricating drops. Pasien disarankan untuk menghindari daerah yang berasap
atau berdebu. Pterygium dengan inflamasi atau iritasi diobati dengan kombinasi

14

dekongestan/antihistamin (seperti Naphcon-A) dan/atau kortikosteroid topikal potensi sedang


(seperti FML, Vexol) 4 kali sehari pada mata yang terkena.
Indikasi operasi eksisi pterygium yaitu karena masalah kosmetik dan atau adanya gangguan
penglihatan, pertumbuhan pterygium yang signifikan (> 3-4 mm), pergerakan bola mata yang
terganggu/terbatas, dan bersifat progresif dari pusat kornea/aksis visual.5
Operasi mikro eksisi pterygium bertujuan mencapai keadaan yang anatomis, secara topografi
membuat permukaan okuler rata. Teknik operasi yang umum dilakukan adalah
menghilangkan pterygium menggunakan pisau tipis dengan diseksi yang rata menuju limbus.
Meskipun teknik ini lebih disukai dilakukan diseksi ke bawah bare sclera pada limbus, akan
tetapi tidak perlu diseksi eksesif jaringan Tenon, karena kadang menimbulkan perdarahan
akibat trauma terhadap jaringan otot. Setelah eksisi, biasanya dilakukan kauter untuk
hemostasis sclera. Beberapa teknik operasi antara lain :

Bare Sclera : tidak ada jahitan atau menggunakan benang absorbable untuk
melekatkan konjungtiva pada sklera superfisial di depan insersi tendon rektus,
meninggalkan area sklera yang terbuka. (teknik ini menghasilkan tingkat rekurensi

40% - 50%).
Simple Closure : tepi bebas dari konjungtiva dilindungi (efektif jika defek

konjungtiva sangat kecil)


Sliding flap : insisi L-shaped dilakukan pada luka sehingga flap konjungtiva

langsung menutup luka tersebut.


Rotational flap : insisi U-shaped dibuat membuat ujung konjungtiva berotasi pada

luka.
Conjunctival graft: graft bebas, biasanya dari konjungtiva bulbar superior dieksisi
sesuai ukuran luka dan dipindahkan kemudian dijahit.

Diagnosis Banding

Pinguekula. Merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva.


Pseudopterygium. Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat dan
sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea.

KONJUNGTIVITIS(13)
Peradangan konjungtiva diakibtkan infeksi bakteri atau virus, dapat pula karena terpapar
angin, asap dan sinar kuat selain daripada alergi, demam, tampek dan penyakit lainnya.
Gejala umum konjungtivitis adalah mata merah, sekret ,mata atau kelopak mata bengkak,
15

mata berair, kelopak mata lengket, atau mata kotor dan pedes seperti kelilipan. Penglihatan
penderita tidak terganggu namun konjungtivitis mudah menular mengenai kedua mata
(bilteral).
Jenis konjungtivitis :
1. Konjungtivitis akut ,merupakan radang konjungtiva yang menutupi belakang

kelopak mata dan bola mata.


a. Konjungtivitis akut bakterial adalah konjungtivitis yang murni dan biasanya
disebabkan oleh staphylococ, streptococus pneumoniae, gonococ, haemifillus
influenzae atau pseudomonas.
Beberapa jenis konjungtivitis akut bakterial:
Konjungtivitis Blenore merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru
lahir. Penyebab oftalmia neonatorum adalah gonoccoc, chlamydia, dan
staphylococ.
Konjungtivitis flikten mempunyai dua bentuk yaitu tipe bulbar dan
limbal yang terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tipe IV, berupa alergi
terhadap tuberkuloprotein, ascariasis, staphylococ, dan lain-lain.
b. Konjungtivitis akut viral, biasanya disebabkan oleh adenovirus atau suatu
infeksi herpes simpleks yang terjadi bersama dengan infeksi saluran napas
atas. Infeksi ini biasanya sembuh dalam waktu setelah 3 minggu.
konjungtivitis herpetik: karena virus herpes simpleks tipe 1.
Merupakan manifestasi primer herpes simpleks. Terdapat
limfadenopati preaurikel, konjungtivitis berat dengan lesi vesikuler,
hipertrofi papil pada konjungtiva.
keratokonjungtivitis epidemik, oleh adenovirus tipe 3,7,8, dan 19.
Penularan biasanya melalui kolam renang, masa inkubasi 8-9 hari dan
masa infeksius 14 hari. Gejala berupa demam dengan mata seperti
kelilipan, mata berair berat, folikel terutama di konjungtiva bawah, dan
pseudomembran.
c. Konjungtivitis akut jamur, jamur dapat mengakibatkan tukak kornea dan
kelainan lainnya terutama pada orang dengan imun buruk. Jamur yang dapat
menyebabkan infeksi adalah candida albicans yang dapat menyebabkan
pseudomembran serta Actinimyces yang dapat menimbulkan kanakulitis.
d. Konjungtivitis akut alergik, akibat reaksi alerhi terhadap noninfeksi, misal
terhadap obat, bakteri atau toksik. Keluhan dapat berupa mata gatal, panas,
mata berair dan mata merah. Tanda karakteristik lain berupa papil besar pada
konjungtiva, datang bermusim dan dapat mengganggu penglihatan.

Virus
Sekret
Air mata

Sedikit
Banyak

Bakteri
Purulen
Penuh
Sedang

Jamur

Alergi

Non Purulen
Sedikit
sedikit
Sedang
Sedikit

sedikit
Sedikit

16

Gatal
Merah
Kelenjar
Aurikula
Pulasan

Sedikit
Merata
Membesar

Sedikit
Merata
Arang

Monosit dan Bakteri PMN


Limfosit

Tak ada
Terbatas
Membesar

Tak ada
Terbatas
Membesar

Berat
Merata
Normal

Bakteri PMN

Biasa
(-) Eosinofil
(granula)
(granula)

2. Konjungtivitis kronis
Trakoma, merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan
oleh Chlamydia trachomatis, ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderita atau handuk, sapu tangan dan alat sehari-hari. Masa inkubasi 514 hari dengan keluhan mat berair, gatal dan fotofobia.

Perawatan bagi konjungtivitis :

Medikamentosa dengan pemberian obat sesuai dengan penyebabnya :


o
anti bakteri (polimiksin,basitrasin)
o
anti virus
o
anti jamur
o
anti alergi

Non Medikamentosa dengan meningkatkan hygiene, dengan :


o Tidak sering memegang mata
o Mencuci tangan dengan baik sebelum dan setelah memakai obat
o Bersihkan mata menggunakan kasa dengan air hangat dan bersih
o Kompres dingin
o Cegah pemakaian bersama sapu tangan untuk menghindari kontak
dan penularan.

PATOGENESIS KONJUNGTIVITIS BAKTERI(5)


Konjungtiva adalah lapisan mukosa yang membentuk lapisan terluar mata. Iritasi
apapun pada mata dapat menyebabkan pembuluh darah dikonjungtiva berdilatasi. Iritasi yang
terjadi ketika mata terinfeksi menyebabkan mata memproduksi lebih banyak air mata. Sel
darah putih dan mukus yang tampak di konjungtiva ini terlihat sebagai discharge yang tebal
kuning kehijauan.
Perjalanan penyakit pada orang dewasa secara umum, terdiri atas 3 stadium :
1. Stadium Infiltratif
17

Berlangsung 3 4 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme,


disertai rasa sakit. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang lembab, kemotik
dan menebal, sekret serous, kadang-kadang berdarah. Kelenjar preauikuler membesar,
mungkin disertai demam. Pada orang dewasa selaput konjungtiva lebih bengkak dan lebih
menonjol dengan gambaran hipertrofi papilar yang besar. Gambaran ini adalah gambaran
spesifik gonore dewasa. Pada umumnya kelainan ini menyerang satu mata terlebih dahulu
dan biasanya kelainan ini pada laki-laki didahului pada mata kanannya, 4,6,7
2. Stadium Supurativa/Purulenta
Berlangsung 2 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra masih bengkak,
hiperemis, tetapi tidak begitu tegang dan masih terdapat blefarospasme. Sekret yang kental
campur darah keluar terus-menerus. Pada bayi biasanya mengenai kedua mata dengan sekret
kuning kental, terdapat pseudomembran yang merupakan kondensasi fibrin pada permukaan
konjungtiva. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah sekret akan keluar dengan mendadak
(memancar muncrat), oleh karenanya harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai
sekret mengenai mata pemeriksa.
3. Stadium Konvalesen (penyembuhan). hipertrofi papil
Berlangsung 2 3 minggu, berjalan tak begitu hebat lagi, palpebra sedikit bengkak,
konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Pada konjungtiva bulbi injeksi konjungtiva
masih nyata, tidak kemotik, sekret jauh berkurang.
Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu
mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi
sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis ditemukan lakrimasi,
apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler yang lama
kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang
terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat
menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata
sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing.

18

19

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang didapatkkan bahwa
pasien ini terdiagnosis menderita Konjungtivitis Bakteri Akut dan Ptegium . pada
pemeriksaan fisik di temukan jaringan fibrovascular yang terdapat di limbus, serta mata
merah dan terdapat sekret berwarna kekuningan pada mata pasien. Dari hasil anamnesis juga
pasien sebagai pekerja nelayan, dimana lebih banyak terpapar oleh matahari yang mendukung
diagnosis kelompok kami kepada Ptegium. Pada pemeriksaan Laboratorium juga ditemukan
sel Batang dan segmen yang positif, mendukung diagnosis kamu kepada Konjungtivitis
Bakteri akut.

20

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Intraocular pressure measure on normal eyes by Pardianto G et al., in Mimbar Ilmiah


Oftalmologi Indonesia.2005;2:78-9.
2. Jonas J B, Schmidt A M, MllerBergh J A. et al Human optic nerve fiber count and
optic disc size.Invest Ophthalmol Vis Sci 1992. 3320122018.2018.
3. SU Suhardjo, Sundari S, Sasongko MB. Kelainan palpebra, konjungtiva, kornea,
sklera, dan sistem lakrimal. In SU Suhardjo, Hartono, editors. Ilmu Kesehatan Mata.
1st ed. Yogyakarta: Bagian Ilmi Penyakit Mata FK UGM, 2007.p.40-41.
4. Fisher, JP. Pterygium. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1192527overview. Accessed on: September 8, 2012.
5. Yeung KK. Bacterial Conjunctivitis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview. Accessed on: September 8,
2012.
6. Vaughan DG, Asbury T. Oftalmologi Umum. In: Ivan R. Schwab, MD, Chandler
R.Dawson, MD, editors. Konjungtiva: konjungtivitis. 17th ed. Jakarta: Widya
Medika;2009.p.99-113
7. Snell RS. Kepala dan leher. In: Anatomi klinik. Hartanto H, Listiawati E, Suryono J,
Susilawati et al, editors. ed.6. EGC: Jakarta. 2006. p. 768-82.
8. Ilyas S. Keluhan : Mata Merah. Ilmu Perawatan Mata.1st ed. Jakarta : Sagung Seto;
2004; p.16-35.
9. Ilyas, S. Pterigium. In : Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2004. p. 116-7
10. Lisegang JL, Scuta GL, Cantor LB, editors. External Disease and Cornea. In: Basic
and Clinical Science Course. American Academy of Ophthalmology. The Eye M.D.
Association. 2003-2004.
11. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata. Edisi III penerbit
Airlangga Surabaya. 2006. hal: 102 104.
12. Coroneo MT, Di Girolamo N, Wakefield D. The pathogenesis of pterygia. Curr Opin
Ophthalmol. Aug 1999;10(4):282-8
13. Ilyas S. Mata Merah : Mata merah dengan visus normal.2nd ed. Jakarta :Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia ; 2001; p. 56-78

21

LAPORAN KASUS I
Seorang Pria Datang dengan Kemerahan Pada Matanya
22

KELOMPOK IV

030.09.252 Teresa Shinta P

030.10.149 Kartika Hermawan

030.09.263 Vania Paramitha

030.10.150 Kelly Keshia

030.09.267 Widya Rahayu

030.10.151 Kezia Marsilina

030.09.284 Zaddam Wahid

030-10-152 Komang Ida W.R

030.09.287 Ardi Arfandy

030-10-154 Krisliana Jeane

030.10.147 Karamina Maghfirah

030-10-155 Kumala Sari


030-10-156 Lana Novira Y

Jakarta
10 September 2012

23