Anda di halaman 1dari 13

Kasunanan Surakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Nagari Surakarta Adiningrat) adalah sebuah
kerajaan di Jawa Tengah yang berdiri tahun 1755 sebagai hasil dari perjanjian Giyanti 13
Februari 1755. Perjanjian antara VOC dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan
Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi, menyepakati bahwa
Kesultanan Mataram dibagi dalam dua wilayah kekuasaan yaitu Surakarta dan
Yogyakarta.
Kasunanan Surakarta umumnya tidak dianggap sebagai pengganti Kesultanan Mataram,
melainkan sebuah kerajaan tersendiri, walaupun rajanya masih keturunan raja Mataram.
Setiap raja Kasunanan Surakarta yang bergelar Sunan (demikian pula raja Kasultanan
Yogyakarta yang bergelar Sultan) selalu menanda-tangani kontrak politik dengan VOC
atau Pemerintah Hindia Belanda.
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
Kesultanan Mataram yang runtuh akibat
pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibukotanya oleh Sunan Amral dipindahkan di
Kartasura. Pada masa Sunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan keraton
Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoayang mendapat
dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742. Kerajaan Mataram yang berpusat
di Kartasura itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali
berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV penguasa Madura barat yang merupakan sekutu
VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Pakubuwana II yang menyingkir
ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di desa Sala sebagai
ibukota kerajaan Mataram yang baru.
Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap "tercemar".
Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Honggowongso (bernama kecil
Joko Sangrib atau Kentol Surawijaya, kelak diberi gelar Tumenggung Arungbinang I),
bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van
Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah
keraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di
tepi Bengawan Solo. Nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda" bagi pusat
pemerintahan baru ini. Pembangunan keraton ini menurut catatan [siapa?] menggunakan
bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri dan kayunya
dihanyutkan melalui Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17
Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan
Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya).
Berlakunya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Surakarta menjadi pusat
pemerintahan Kasunanan Surakarta, dengan rajanya Pakubuwana III. Yogyakarta
menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, dengan rajanya
Sultan Hamengkubuwana I. Keraton dan kota Yogyakarta mulai dibangun pada 1755,
dengan pola tata kota yang sama dengan Surakarta yang lebih dulu dibangun. Perjanjian
Salatiga 1757 memperkecil wilayah Kasunanan, dengan diberikannya wilayah sebelah
utara keraton kepada pihak Pangeran Sambernyawa(Mangkunagara I).
Perkembangan[sunting | sunting sumber]
Kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta sebagai ibukota pemerintahan kemudian
dihadapkan pada pemberontakan yang besar karena Pangeran
Mangkubumi adik Pakubuwana II tahun 1746 yang meninggalkan keraton
menggabungkan diri dengan Raden Mas Said. Di tengah ramainya peperangan,
Pakubuwana II meninggal karena sakit tahun 1749. Namun, ia sempat menyerahkan
kedaulatan negerinya kepada VOC, yang diwakili olehBaron von Hohendorff. Sejak saat
itu, VOC lah yang dianggap berhak melantik raja-raja keturunan Mataram.
Perjanjian Giyanti dan Salatiga[sunting | sunting sumber]
Pada tanggal 13 Februari 1755 pihak VOC yang sudah mengalami kebangkrutan berhasil
mengajak Pangeran Mangkubumi berdamai untuk bersatu melawan
pemberontakan Raden Mas Said yang tidak mau berdamai. Semula Pangeran
Mangkubumi bersekutu dengan Raden Mas Said. Perjanjian Giyanti yang ditanda-tangani
oleh Pakubuwana III, Belanda, dan Mangkubumi, melahirkan dua kerajaan baru
yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningratdan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pangeran Mangkubumi sebagai raja di separuh wilayah Mataram mengambil gelar Sultan
Hamengkubuwana, sedangkan raja Kasunanan Surakarta mengambil gelar Sunan
Pakubuwana. Seiring dengan berjalannya waktu, negeri Mataram yang dipimpin oleh
1

Hamengkubuwana kemudian lebih terkenal dengan nama Kasultanan Yogyakarta, sedang


negeri Mataram yang dipimpin oleh Pakubuwana terkenal dengan nama Kasunanan
Surakarta.
Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang, karena Perjanjian Salatiga
17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka
dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten, yang disebut dengan nama Praja
Mangkunegaran. Sebagai penguasa, Raden Mas Said bergelar Adipati Mangkunegara.
Wilayah Surakarta berkurang lebih jauh lagi setelah usainya Perang Diponegoro pada
tahun 1830, di mana daerah-daerah mancanegara diberikan kepada Belanda sebagai
ganti rugi atas biaya peperangan.
Berbeda dengan Pakubuwana III yang agak patuh kepada VOC, penerus tahta Kasunanan
Surakarta berikutnya, yakni Sri Susuhunan Pakubuwana IV(1788-1820) adalah sosok raja
yang membenci penjajah dan penuh cita-cita serta keberanian. Pada November 1790,
terjadi Peristiwa Pakepung, yakni insiden pengepungan Keraton Surakarta oleh
persekutuan VOC, Hamengkubuwana I, dan Mangkunegara I. Pengepungan ini terjadi
karena Pakubuwana IV yang berpaham kejawen menyingkirkan para pejabat istana yang
tidak sepaham dengannya. Para pejabat istana yang disingkirkan kemudian meminta VOC
untuk menghadapi Pakubuwono IV. VOC yang memang khawatir atas
aktivitas kejawen Pakubuwana IV akhirnya bersekutu dengan Hamengkubuwana I dan
Mangkunegara I untuk mengepung istana. Di dalam istana, para pejabat yang
sebenarnya tidak sependapat dengan Pakubuwana IV juga ikut menekan dengan tujuan
agar para penasehat rohani kerajaan yang beraliran kejawen bisa disingkirkan. Pada 26
November1790, Pakubuwana IV akhirnya takluk dan menyerahkan para penasehatnya
untuk diasingkan oleh VOC. Pada era pemerintahan Pakubuwana IV terjadi perundingan
bersama yang isinya menerangkan bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan
Yogyakarta, serta Praja Mangkunegaran memiliki kedudukan dan kedaulatan yang setara
sehingga tidak boleh saling menyerang.
SISKS Pakubuwana VI.
Pengganti Pakubuwana IV adalah Sri Susuhunan Pakubuwana V, yang oleh masyarakat
saat itu dijuluki sebagai Sunan Ngabehi, karena baginda yang sangat kaya, baik kaya
harta maupun kesaktian. Setelah wafat, pengganti Pakubuwana V adalah Sri
Susuhunan Pakubuwana VI. Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran
Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia
Belanda sejak tahun 1825. Penulis naskah-naskah babad waktu itu sering menutupi
pertemuan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro menggunakan bahasa
simbolis. Misalnya, Pakubuwana VI dikisahkan pergi bertapa ke Gunung Merbabu atau
bertapa di Hutan Krendawahana. Padahal sebenarnya, ia pergi menemui Pangeran
Diponegoro secara diam-diam. Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro,
Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda. Di samping memberikan bantuan dan dukungan,
ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda. Pujangga
besar Ranggawarsita mengaku semasa muda dirinya pernah ikut serta dalam pasukan
sandiwara tersebut. Setelah menangkap Pangeran Diponegoro, Belanda tetap saja
menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambonpada tanggal 8
Juni 1830 dengan alasan bahwa Mas Pajangswara sudah membocorkan semuanya, dan
kini ia hidup nyaman di Batavia.
Fitnah yang dilancarkan pihak Belanda ini kelak berakibat buruk pada hubungan antara
putra Pakubuwana VI, yaitu Pakubuwana IX dengan putra Mas Pajangswara,
yaitu Ranggawarsita. Pakubuwana IX sendiri masih berada dalam kandungan ketika
Pakubuwana VI berangkat ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman
Pakubuwana VI, yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana VII.
Saat itu Perang Diponegoro baru saja berakhir. Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif
damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Keadaan yang damai itu
mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton.
Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di
Kasunanan Surakarta dengan pujangga besarRanggawarsita sebagai pelopornya.
Pemerintahannya berakhir saat wafatannya dan karena tidak memiliki putra mahkota
maka Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Sri
Susuhunan Pakubuwana VIII yang naik tahta pada usia 69 tahun.
Pemerintahan Pakubuwana VIII berjalan selama tiga tahun hingga akhir hayatnya.
Pakubuwana VIII digantikan putra Pakubuwana VI sebagai raja Surakarta selanjutnya,
yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana IX. Hubungan antara Pakubuwana IX
dengan Ranggawarsita sendiri kurang harmonis karena fitnah pihak Belanda bahwa Mas
2

Pajangswara (ayah Ranggawarsita yang menjabat sebagai juru tulis keraton) telah
membocorkan rahasia persekutuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro.
Akibatnya, Pakubuwana VI pun dibuang ke Ambon. Hal ini membuat Pakubuwana IX
membenci keluarga Mas Pajangswara, padahal juru tulis tersebut ditemukan tewas
mengenaskan karena disiksa dalam penjara oleh Belanda. Ranggawarsita sendiri
berusaha memperbaiki hubungannya dengan raja melalui persembahan naskah Serat
Cemporet. Pemerintahan Pakubuwana IX berakhir saat kematiannya pada tanggal 16
Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Surakarta selanjutnya, bergelar Sri
Susuhunan Pakubuwana X.
Masa pemerintahan Pakubuwana X ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana
politik kerajaan yang stabil. Pada masa pemerintahannya yang cukup panjang,
Kasunanan Surakarta mengalami transisi, dari kerajaan tradisional menuju era modern,
sejalan dengan perubahan politik di Hindia Belanda. Meskipun berada dalam tekanan
politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, Pakubuwana X memberikan kebebasan
berorganisasi dan penerbitan media massa. Ia mendukung pendirian organisasi Sarekat
Islam, salah satu organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Kongres Bahasa
Indonesia I di Surakarta (1938) diadakan pada masa pemerintahannya.
Infrastruktur moderen kota Surakarta banyak dibangun pada masa pemerintahan
Pakubuwana X, seperti bangunan Pasar Gede, Stasiun Solo Jebres,Stasiun SoloKota (Sangkrah), Stadion Sriwedari, kebun binatang ("Taman Satwataru") Jurug, Jembatan
Jurug yang melintasi Bengawan Solo di timur kota, Taman Balekambang, gapura-gapura
di batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, rumah singgah
bagi tunawisma, dan rumah perabuan (pembakaran jenazah) bagi warga Tionghoa. Beliau
meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai Sunan Panutupatau
raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian
digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana XI.
Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan
meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan
dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Surakarta
dengan nama Solo Koo.Ia digantikan Sri Susuhunan Pakubuwana XII.
Masa Perjuangan Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]
Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik
Indonesia. Di awal masa kemerdekaan (1945 - 1946), KasunananSurakarta dan
Praja Mangkunegaran sempat menjadi Daerah Istimewa. Akan tetapi karena kerusuhan
dan agitasi politik saat itu maka pada tanggal 16Juni 1946 oleh Pemerintah Indonesia
statusnya diubah menjadi Karesidenan, menyatu dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Penetapan status Istimewa ini dilakukan Presiden Soekarno sebagai balas jasa atas
pengakuan raja-raja Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunagaran yang menyatakan
wilayah mereka adalah bagian dari Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. [1]
Kemudian pada tanggal 1 September 1945, Kasunanan Surakarta dan Praja
Mangkunegaran mengirimkan maklumat kepada Presiden Soekarno perihal pernyataan
dari Susuhunan Pakubuwana XII dan KGPAA Mangkunegara VIII yang menyatakan
bahwasanya Negeri Surakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah
Istimewa dari Negara Republik Indonesia, dimana hubungan antara Negeri Surakarta
dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia bersifat langsung. Atas dasar semua
itulah, maka Presiden Soekarno memberikan pengakuan resmi kepada
Susuhunan Pakubuwana XII dan KGPAA Mangkunegara VIII dengan diberikannya piagam
kedudukan resmi[2].
Sebagaimana diketahui, barulah sekitar empat hari setelahnya, yaitu pada tanggal 5
September 1945, Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman mengeluarkan
maklumat serupa, yang menjadi dasar dari pembentukan dari Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri
ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah
ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda. Kemudian, pada Oktober 1945,
muncul gerakan Anti swapraja/anti monarki/anti feodal di Surakarta, di mana salah
seorang pimpinannya adalah Tan Malaka, pimpinan Partai Murba. Barisan Banteng
berhasil menguasaiSurakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya
karena pembelaan Jendral Sudirman. Bahkan, Jendral Sudirman juga berhasil mendesak
pemerintah sehingga mencabut status Daerah Istimewa Surakarta. Tujuan gerakan ini
3

adalah penghapusan DIS, serta pembubaran Mangkunegara dan Susuhunan. Motif lain
dari gerakan ini adalah perampasan tanah-tanah pertanian yang dikuasai Mangkunegara
dan Susuhunan untuk dibagi-bagikan sesuai dengan kegiatan landreform oleh
golongan sosialis.
Tanggal 17 Oktober 1945, Pepatih Dalem (perdana menteri) Kasunanan KRMH
Sosrodiningrat diculik dan dibunuh oleh gerombolan Anti swapraja. Aksi ini diikuti
pencopotan Bupati-bupati yang umumnya kerabat raja dan diganti orang-orang yang pro
gerakan Anti swapraja. Maret 1946, Pepatih Dalem yang baru KRMT Yudonagoro juga
diculik dan dibunuh. April 1946, 9 pejabat Kepatihan mengalami hal yang sama.
Karena banyaknya kerusuhan, penculikan dan pembunuhan, maka untuk sementara
waktu Pemerintah RI membekukan status DIS dan menurunkan kekuasaan raja-raja
Kasunanan dan Mangkunegaran dan daerah Surakarta yang bersifat istimewa sebagai
karesidenan sebelum bentuk dan susunannya ditetapkan undang-undang. Status
Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegara hanya sebagai simbol saja di
masyarakat dan warga negara Republik Indonesia, serta Keraton diubah menjadi pusat
pengembangan seni dan budaya Jawa.
Era Indonesia[sunting | sunting sumber]
Terdapat pendapat yang menilai[siapa?] bahwa pada awal pemerintahannya, Pakubuwana
XII gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia.
Bahkan muncul rumor bahwa para bangsawan Surakarta sejak dahulu merupakan sekutu
pemerintah Belanda, sehingga rakyat merasa tidak percaya dan memberontak terhadap
kekuasaan Kasunanan[rujukan?]. Dalam buku seri Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia,
Jenderal Abdul Haris Nasution menulis bahwa raja-raja Surakarta membelot dan
mengkhianati Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949. Bahkan
pihak TNI sudah menyiapkan Kolonel Djatikoesoemo (KSAD pertama), putra Pakubuwana
X, untuk diangkat menjadi Susuhunan yang baru dan Letkol. Suryo Sularso untuk
diangkat menjadi Mangku Negara yang baru. Namun rakyat dan tentara semakin ingin
menghapuskan monarki sama sekali. Akhirnya Mayor Akhmadi, penguasa militer kota
Surakarta, hanya diberi tugas untuk langsung berhubungan dengan istana-istana monarki
Surakarta. Kedua raja diminta untuk secara tegas memihak Republik. Jika raja-raja
tersebut menolak, akan diambil tindakan sesuai Instruksi Non Koperasi [3]
Meskipun gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi figur pelindung
kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap
menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa. Pakubuwana XII wafat pada
tanggal 11 Juni 2004, dan masa pemerintahannya merupakan yang terlama di antara
para raja-raja Kasunanan terdahulu, yaitu sejak tahun 1945-2004.
Sepeninggal Pakubuwana XII, sempat terjadi perebutan tahta antara Pangeran Hangabehi
dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana
XIII; dua-duanya mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing
menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan tetapi, konsensus
keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang diberi gelar SISKS Pakubuwana XIII.
Saat ini, konflik dua Raja Kembar telah usai setelah Pangeran Tejowulan melemparkan
tahta Pakubuwana kepada kakaknya yakni Pangeran Hangabehi dalam sebuah
rekonsiliasi resmi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan
Pangeran Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (pepatih dalem) dengan gelar KGPHPA
(Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung).

Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta
Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh
Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti
Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan1743. Istana terakhir
Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat
Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun,
nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu
penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC pada
tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana
resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi
sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan
tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata
di Kota Solo. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai
koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika
pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu
contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.
Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya.
Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi(kelak bergelar
Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh
karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut
(Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta
sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 174445, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang
yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran
terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 18931939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya
campuran Jawa-Eropa.
Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara,
Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, KompleksKamandungan
Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan,
Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan (?) danKemandungan Kidul/Selatan, serta
Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi
dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima
meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah
daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus
meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam
dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua
kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.
Kompleks Alun-alun Lor/Utara[sunting | sunting sumber]
Kompleks ini meliputi Gladhag, Pangurakan, Alun-alun utara, dan Masjid Agung Surakarta.
Gladhag yang sekarang dikenal dengan perempatan Gladhag di Jalan Slamet Riyadi
Surakarta, pada zaman dulu digunakan sebagai tempat mengikat binatang buruan yang
ditangkap dari hutan. Alun-alun merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara
kerajaan yang melibatkan rakyat. Selain itu alun-alunmenjadi tempat bertemunya raja
dan rakyatnya. Di pinggir alun-alun ditanami sejumlah pohon beringin. Di tengah-tengah
alun alun terdapat dua batang pohon beringin (Ficus benjamina; Famili Moraceae) yang
diberi pagar. Kedua batang pohon ini disebut Waringin Sengkeran (harifah: beringin yang
dikurung) yang diberi nama Dewodaru dan Joyodaru. Di sebelah barat alun-alun utara
berdiri Mesjid Ageng (Masjid Raya) Surakarta. Masjid raya ini merupakan masjid resmi
kerajaan dan didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono III (Sunan PB III) pada tahun 1750
(Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan Islam). Bangunan utamanya terdiri dari atas
serambi dan masjid induk.
Kompleks Sasana Sumewa dan kompleks Sitihinggil Lor/Utara[sunting | sunting
sumber]
Sasana Sumewa merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Surakarta. Tempat ini
pada zamannya digunakan sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat
menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Di kompleks ini terdapat sejumlah
meriam diantaranya di beri nama Kyai Pancawura atau Kyai Sapu Jagad. Meriam ini
5

dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Di sebelah selatan Sasana Sumewa
terdapat kompleks Sitihinggil.
Sitihinggil merupakan suatu kompleks yang dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari
sekitarnya. Kompleks ini memiliki dua gerbang, satu disebelah utara yang disebut
dengan Kori Wijil dan satu disebelah selatan yang disebut dengan Kori Renteng. Pada
tangga Sitihinggil sebelah utara terdapat sebuah batu yang digunakan sebagai tempat
pemenggalan kepala Trunajaya yang disebut dengan Selo Pamecat.
Bangunan utama di kompleks Sitihinggil adalah Sasana Sewayana yang digunakan para
pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Selain itu terdapat Bangsal Manguntur
Tangkil, tempat tahta Susuhunan, dan Bangsal Witono, tempat persemayaman Pusaka
Kebesaran Kerajaan selama berlangsungnya upacara. Bangsal yang terakhir ini memiliki
suatu bangunan kecil di tengah-tengahnya yang disebut dengan Krobongan Bale
Manguneng, tempat persemayaman pusaka keraton Kangjeng Nyai Setomi, sebuah
meriam yang konon dirampas oleh tentara Mataram dari VOC saat menyerbu Batavia. Sisi
luar timur-selatan-barat kompleks Sitihinggil merupakan jalan umum yang dapat dilalui
oleh masyarakat yang disebut dengan Supit Urang (harfiah=capit udang).
Kompleks Kemandungan Lor/Utara[sunting | sunting sumber]
Kori Brajanala (brojonolo) atau Kori Gapit merupakan pintu gerbang masuk utama dari
arah utara ke dalam halaman Kemandungan utara. Gerbang ini sekaligus menjadi
gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut
baluwarti) yang menghubungkan jalan sapit urang dengan halaman dalam istana.
Gerbang ini dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan gaya Semar Tinandu. Di
sisi kanan dan kiri (barat dan timur) dari Kori Brajanala sebelah dalam terdapat Bangsal
Wisomarto tempat jaga pengawal istana. Selain itu di timur gerbang ini terdapat menara
lonceng. Di tengah-tengah kompleks ini hanya terdapat halaman kosong. Bangunan yang
terdapat dalam kompleks ini hanya di bagian tepi halaman. Dari halaman ini pula dapat
dilihat sebuah menara megah yang disebut dengan Panggung Sangga
Buwana (Panggung Songgo Buwono) yang terletak di kompleks berikutnya, Kompleks Sri
Manganti.
Kompleks Sri Manganti[sunting | sunting sumber]
Untuk memasuki kompleks ini dari sisi utara harus melalui sebuah pintu gerbang yang
disebut dengan Kori Kamandungan. Di depan sisi kanan dan kiri gerbang yang bernuansa
warna biru dan putih ini terdapat dua arca. Di sisi kanan dan kiri pintu besar ini terdapat
cermin besar dan diatasnya terdapat suatu hiasan yang terdiri dari senjata dan bendera
yang ditengahnya terdapat lambang kerajaan. Hiasan ini disebut dengan Bendero Gulo
Klopo. Di halaman Sri Manganti terdapat dua bangunan utama yaitu Bangsal
Smarakatha disebelah barat dan Bangsal Marcukundha di sebelah timur.
Pada zamannya Bangsal Smarakatha digunakan untuk menghadap para pegawai
menengah ke atas dengan pangkat Bupati Lebet ke atas. Tempat ini pula menjadi tempat
penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior. Sekarang tempat ini digunakan untuk
latihan menari dan mendalang. Bangsal Marcukundha pada zamannya digunakan untuk
menghadap para opsir prajurit, untuk kenaikan pangkat pegawai dan pejabat yunior,
serta tempat untuk menjatuhkan vonis hukuman bagi kerabat raja. Sekarang tempat ini
untuk menyimpan Krobongan Madirenggo, sebuah tempat untuk upacara sunat/kitan
para putra Susuhunan.
Di sisi barat daya Bangsal Marcukundha terdapat sebuah menara bersegi delapan yang
disebut dengan Panggung Sangga Buwana. Menara yang memiliki tinggi sekitar tiga
puluhan meter ini sebenarnya terletak di dua halaman sekaligus, halaman Sri Manganti
dan halaman Kedhaton. Namun demikian pintu utamanya terletak di halaman Kedhaton.
Kompleks Kedhaton[sunting | sunting sumber]
Kori Sri Manganti menjadi pintu untuk memasuki kompleks Kedhaton dari utara. Pintu
gerbang yang dibangun oleh Susuhunan Pakubuwono IV pada 1792 ini disebut juga
dengan Kori Ageng. Bangunan ini memiliki kaitan erat dengan Pangung Sangga Buwana
secara filosofis. Pintu yang memiliki gayaSemar Tinandu ini digunakan untuk menunggu
tamu-tamu resmi kerajaan. Bagian kanan dan kiri pintu ini memiliki cermin dan sebuah
ragam hias diatas pintu. Halaman Kedhaton dialasi dengan pasir hitam dari pantai
selatan dan ditumbuhi oleh berbagai pohon langka antara lain 76 batang pohon Sawo
Kecik (Manilkara kauki; Famili Sapotaceae). Selain itu halaman ini juga dihiasi dengan
patung-patung bergaya eropa. Kompleks ini memiliki bangunan utama diantaranya
adalah Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Handrawina, dan Panggung
Sangga Buwana.
6

Sasana Sewaka aslinya merupakan bangunan peninggalan pendapa istana Kartasura.


Tempat ini pernah mengalami sebuah kebakaran pada tahun1985. Di bangunan ini pula
Susuhunan bertahta dalam upacara-upacara kebesaran kerajaan seperti garebeg dan
ulang tahun raja. Di sebelah barat Sasana ini terdapat Sasana Parasdya, sebuah
peringgitan. Di sebelah barat Sasana Parasdya terdapat nDalem Ageng Prabasuyasa.
Tempat ini merupakan bangunan inti dan terpenting dari seluruh Keraton Surakarta
Hadiningrat. Di tempat inilah disemayamkan pusaka-pusaka dan juga tahta raja yang
menjadi simbol kerajaan. Di lokasi ini pula seorang raja bersumpah ketika mulai bertahta
sebelum upacara pemahkotaan dihadapan khalayak di Sitihinggil utara.
Bangunan berikutnya adalah Sasana Handrawina. Tempat ini digunakan sebagai tempat
perjamuan makan resmi kerajaan. Kini bangunan ini biasa digunakan sebagi tempat
seminar maupun gala dinner tamu asing yang datang ke kota Solo. Bangunan utama
lainnya adalah Panggung Sangga Buwana. Menara ini digunakan sebagai tempat
meditasi Susuhunan sekaligus untuk mengawasi benteng VOC/Hindia Belanda yang
berada tidak jauh dari istana. Bangunan yang memiliki lima lantai ini juga digunakan
untuk melihat posisi bulan untuk menentukan awal suatu bulan. Di puncak atap teratas
terdapat ornamen yang melambangkan tahun dibangunnya menara tertua di kota
Surakarta.
Sebelah barat kompleks Kedhaton merupakan tempat tertutup bagi masyarakat umum
dan terlarang untuk dipublikasikan sehingga tidak banyak yang mengetahui kepastian
sesungguhnya. Kawasan ini merupakan tempat tinggal resmi raja dan keluarga kerajaan
yang masih digunakan hingga sekarang.
Kompleks Magangan, Sri Manganti, Kemandungan, serta Sitihinggil
Kidul/Selatan[sunting | sunting sumber]
Kompleks Magangan dahulunya digunakan oleh para calon pegawai kerajaan. Di tempat
ini terdapat sebuah pendapa di tengah-tengah halaman. Dua kompleks berikutnya, Sri
Manganti Kidul/Selatan dan Kemandungan Kidul/Selatan hanyalah berupa halaman yang
digunakan saat upacara pemakaman raja maupun permaisuri. Kompleks
terakhir, Sitihinggil kidul termasuk alun-alun kidul, memiliki sebuah bangunan kecil. Kini
kompleks ini digunakan untuk memelihara pusaka keraton yang berupa kerbau albino
yang disebut dengan Kyai Slamet.
Warisan Budaya[sunting | sunting sumber]
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan
budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral,
musik, dan pusaka. Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg,
upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman
kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya
Indonesia yang harus dilindungi.
Grebeg[sunting | sunting sumber]
Upacara Grebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa
yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan
kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut
raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas
kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem,
berupapareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki
dan perempuan).
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak
membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang
berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa
perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi
rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti
keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari
makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran
dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.
Sekaten[sunting | sunting sumber]
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari untuk
memperingati kelahahiran Nabi Muhammad. Konon asal usul upacara ini sejak kerajaan
Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi
Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam
agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan
Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan
Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas
7

bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut


dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari
ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara
tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum
penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
Kirab Mubeng Beteng utawa Malam Satu Suro[sunting | sunting sumber]
Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut
kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan
terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan
pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati
dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini
dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian
mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam
dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi
bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar
keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah di barisan
terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi
nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.
Pusaka (heirloom) dan tari-tarian sakral[sunting | sunting sumber]
Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi pusaka kerajaan diantaranya berupa
singgasana raja, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata. Di antara koleksi gamelan
adalah Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu yang hanya dimainkan/dibunyikan pada
saat upacara Sekaten. Selain memiliki pusaka keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian
khas yang hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu. Sebagai contoh tarian
sakral adalah Bedaya Ketawang yang dipentaskan pada saat pemahkotaan raja.
Pemangku Adat Jawa Surakarta[sunting | sunting sumber]
Semula keraton Surakarta merupakan Lembaga Istana (Imperial House) yang mengurusi
raja dan keluarga kerajaan disamping menjadi pusat pemerintahan Kesunanan Surakarta.
Setelah Kesunanan Surakarta dinyatakan hapus oleh pemerintah Indonesia pada
tahun 1946, peran keraton Surakarta tidak lebih sebagai Pemangku Adat Jawa khususnya
garis/gaya Surakarta. Begitu pula Susuhunan tidak lagi berperan dalam urusan
kenegaraan sebagai seorang raja dala artian politik melainkan sebagai Yang Dipertuan
Pemangku Tahta Adat, pemimpin informal kebudayaan. Fungsi keraton pun berubah
menjadi pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Surakarta.
Walaupun dengan fungsi yang terbatas pada sektor informal namun keraton Surakarta
tetap memiliki kharisma tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di bekas
daerah Kesunanan Surakarta. Selain itu keraton Surakarta juga memberikan gelar
kebangsawanan kehormatan (honoriscausa) pada mereka yang mempunyai perhatian
kepada budaya Jawa khususnya Surakarta disamping mereka yang berhak karena
hubungan darah maupun karena posisi mereka sebagai pegawai (abdidalem) keraton.
Filosofi dan Mitologi seputar Ker[sunting | sunting sumber]
aton[sunting | sunting sumber]
Setiap nama bangunan maupun upacara, bentuk bangunan maupun benda-benda
upacara, letak bangunan, begitu juga prosesi suatu upacara dalam keraton memiliki
makna atau arti filosofi masing-masing. Namun sungguh disayangkan makna-makna
tersebut sudah tidak banyak yang mengetahui dan kurang begitu mendapat perhatian.
Beberapa diantaranya akan ditunjukkan dalam paragraf berikut.
Cermin besar di kanan dan kiri Kori Kemadungan mengadung makna introspeksi diri.
Nama Kemandungan sendiri berasal dari kata mandung yang memiliki arti berhenti.
Nama bangsal Marcukundha berasal dari kata Marcu yang berarti api dan kundho yang
berarti wadah/tempat, sehingga Marcukundho melambangkan suatu doa/harapan.
Menara Panggung Sangga Buwana adalah simbol Lingga dan Kori Sri Manganti di sebelah
baratnya adalah simbol Yoni. Simbol Lingga-Yoni dalam masyarakat Jawa dipercaya
sebagai suatu simbol kesuburan. Dalam upacara garebeg dikenal dengan adanya
sedekah raja yang berupa gunungan. Gunungan tersebut melambangkan sedekah yang
bergunung-gunung.
Selain itu keraton Surakarta juga memiliki mistik dan mitos serta legenda yang
berkembang di tengah masyarakat. Seperti makna filosofi yang semakin lenyap, mistik
dan mitos serta legenda inipun juga semakin menghilang. Sebagai salah satu contoh
adalah kepercayaan sebagian masyarakat dalam memperebutkan gunungan saat
garebeg. Mereka mempercayai bagian-bagian gunungan itu dapat mendatangkan tuah
berupa keuangan yang baik maupun yang lainnya.
8

Selain itu ada legenda mengenai usia Nagari Surakarta. Ketika istana selesai dibangun
muncul sebuah ramalan bahwa kerajaan Surakarta hanya akan berjaya selama dua ratus
tahun. Setelah dua ratus tahun maka kekuasaan raja hanya akan selebar mekarnya
sebuah payung (Jw: kari sak megare payung). Legenda inipun seakan mendapat
pengesahan dengan kenyataan yang terjadi. Apabila dihitung dari penempatan istana
secara resmi pada 1745/6 maka dua ratus tahun kemudian pada 1945 Indonesia merdeka
kekuasaan Kesusnanan benar-benar merosot. Setahun kemudian pada 1946 Kesunanan
Surakarta benar-benar dihapus dan kekuasaan Susuhunan benar-benar habis dan hanya
tinggal atas kerabat dekatnya saja.

Keraton Kasunanan Solo


2.0/5 rating (3 votes)
Kasunanan Surakarta Hardiningrat adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang
berdiri pada tahun 1755, sebagai hasil dari perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari
1755. Perjanjain antara VOC dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan
Mataram, yaitu Sultan Pakubuwono III dan Pangeran Mangkubumi. Pada perjanjian
tersebut, disepakati bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua wilayah kekuasaan,
yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744, karena Istana/
Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan pada tahun 1743.
Pemberontakan ini dimulai sejak tahun 1740, ketika VOC memberlakukan kebijakan untuk
mengurangi jumlah orang Cina di Batavia. Pelarian laskar-laskar Cina tersebut ternyata
mendapat dukungan dari para Bupati di wilayah pesisir. Secara diam-diam, Paku Buwana
II juga mendukung gerakan perlawanan laskar Cina terhadap VOC melalui patih kerajaan
yang bernama Adipati Natakusuma. Tujuannya untuk memukul mundur kekuasaan VOC di
wilayah kekuasaan Mataram Kartasura. Namun melihat Kota Semarang yang menjadi
pusat VOC di Timur Batavia tidak kunjung jatuh ke tangan orang-orang Cina, Paku
Buwana II menarik dukungannya dan kembali memihak VOC untuk memerangi
perlawanan lascar Cina. Akan tetapi kekuatan pasukan Cina tidak berangsur surut,
melainkan bertambah kuat dengan dukungan Bupati Pati, Bupati Grobongan dan
beberapa kerabat raja. Bahkan Laskar Cina mampu mengangkat Mas Garendi (cucu
Amangkurat III) sebagai penguasa yang baru atas kerajaan Mataram Kartasura dengan
gelar Sunan Kuning (yang bermakna raja yang didukung oleh Cina).
Pada tahun 1742 pihak kerajaan makin terdesak, sehingga raja, kerabat dan pengikutnya
yang masih setia harus mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Para pemberontak berhasil
menduduki dan merusak bangunan Keraton Kartasura. Pemberontakan baru dapat
dipadamkan setelah Paku Buwana II dibantu pasukan VOC menyerbu Laskar Cina.
Meskipun kembali bertahta, namun Paku Buwana II merasa pusat kerajaan di Keraton
Kartasura tidak layak lagi untuk ditempati. Karena menurut kepercayaan Jawa, Keraton
yang sudah rusak telah kehilangan Wahyu. Oleh sebab itu, maka Susuhunan kemudian
menugaskan Adipati Pringgalaya, Adipati Sindureja, Mayor Higendrop dan bebrapa ahli
nujum seperti Tumenggung Hanggawangsa, Mangkuyuda dan Puspanegara untuk
mencari lokasi baru.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka Desa Solo ditetapkan sebagai lokasi baru
untuk menggantikan Keraton Kartasura. Setelah Istana Kerajaan Mataram selesai
dibangun secara resmi, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hardiningrat. Istana ini
juga menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Paku Buwana II
kepada VOC di tahun 1749. Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian
dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta umumnya tidak
dianggap sebagai pengganti Kasultanan Mataram, melainkan sebuah kerajaan tersendiri,
walaupun rajanya masih keturunan Raja Mataram. Setiap raja Kasunanan Surakarta
bergelar Sunan (demikian pula raja Kasultanan Yogyakarta yang bergelar Sultan) selalu
menandatangani kontrk politik dengan VOC atau Pemerintahan Hindia-Belanda.
Keberadaan keraton ini tidak lepas dari budaya, nilai sejarah dan nilai magisnya.
Pembangunan keratin dilakukan dari tahun 1743 sampai tahun 1745. Konstruksi
bangunan keratin menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat
Wonogiri. Luas keratin ini 54 hektar, mulai dari Alun-Alun Utara hingga Alun-Alun
Selatan dan dikitari oleh Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.
Bangunan Keraton terdiri dari Pagelaran, Siti Hinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan,
Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana. Sedangkan bagian keraton yang tidak
boleh dikunjungi para wisatawan adalah Sasana Sewaka, Sasana Pustaka dan Maligi.
Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan
dengan tinggi 3-5 meter dengan tebal 1 meter tanpa anjungan. Dinding ini
melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang, daerah itu berukuran lebar
500 meter dan panjangnya 700 meter. Kompleks keraton yang berada di dalam
dinding adalah Kemandungan Lor/ Utara sampai Kemandungan Kidul/ Selatan. Keuda
kompleks Siti Inggil dan Alun-Alun tidak dilingkupi tembok pertahanan ini.
Keraton ini juga memiliki museum yang menyimpan barang-barang peninggalan keraton
dan fragmen candi-candi di Jawa Tengah. Pada ruang pertama, pengunjung dapat melihat
benda-benda yang pernah digunakan sebagai alat memasak abdi dalem (pembantu raja),
seperti dandang, mangkuk serta beberapa peralatan dari gerabah. Ada juga ruangan
10

yang digunakan untuk memamerkan senjata-senjata kuno, seperti tombak, pedang,


meriam dan juga pistol jaman dulu yang digunakan oleh keluarga Keraton. Berbagai
peralatan kesenian yang biasa ditampilkan di Keraton Surakarta, seperti gamelan dan
topeng juga dipamerkan di dalam museum ini. Koleksi menarik lainnya yang bisa
dinikmati adalah kereta kencana, dayung sampan sepanjang 5 meter, serta topi
kebesaran Paku Buwana VI, Paku Buwana VII serta Paku Buwana X. Apabila ingin
mengetahui sejarah pembagian Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta berdasarkan
Perjanjian Giyanti 1755, para wisatawan dapat melihat silsilah para penguasa dan
penerus Mataram Islam yang berpuncak pada Panembahan Senopati, raja pertama
Mataram Islam.
Di samping museum terdapat Sasana Sewaka, untuk halaman Sasana Sewaka diselimuti
oleh hamparan pasir yang diambil langsung dari Gunung Merapi dan Pantai
Parangkusumo. Di keraton ini juga terdapat menara yang disebut dengan nama Panggung
Sanggabuwana, konon digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu dengan
Nyai Roro kidul, penguasa pantai selatan. Selain itu, Panggung Sunggabuwana juga
berfungsi sebagai menara pertahanan, yaitu untuk mengontrol keadaan di sekeliling
keraton.
Keraton Kasunanan Surakarta memiliki luas 500 meter x 700 meter yang dikelilingi oleh
dinding pertahanan (benteng) yang disebut Baluarti. Dinding tersebut mengelilingi
keraton setinggi 3-5 meter dengan tebal 1 meter, dengan bentuk persegi panjang.
Para wisatawan yang ingin menikmati peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Surakarta
ni, diwajibkan untuk mematuhi berbagai peraturan. Seperti tidak memakai topi, kaca
mata hitam, celana pendek, sanal serta jaket. Bagi wisatawan yang memakai celana
pendek, dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengililingi kawasan
keraton.
(Sika, Oktober 2011)
Sumber : www.disolo.com, www.wisatajawa.com, www.keratonkartasura.com
Sumber foto : berbagai sumber
Specifications
Tiket Masuk:Domestik (Rp. 4.000/ orang), Mancanegara (Rp. 8.000/ orang),
Kamera (Rp. 2.000)
Jam Buka:Senin - kamis (09.00 - 14.00), Sabtu dan Minggu (09.00 - 15.00), Jumat
(tutup)
Alamat Lokasi:Jl. Mangkubumen Sasono Mulyo, Solo

11

Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo


Bandar Udara Adisumarmo (SOC/WRSQ) adalah bandara internasional yang melayani
kota Surakarta (Solo) 57108, Jawa Tengah yang dioperasikan PT (Persero) Angkasa Pura I.
Bandara ini melayani penerbangan Garuda, Sriwijaya Air, dan Lion Air untuk
penerbangan Jakarta-Solo Pulang Pergi, Indonesia Air Transport untuk penerbangan SoloPangkalanbun PP serta konekting ke Pontianak, Trigana Air Service untuk penerbangan
Solo-Banjarmasin PP serta konekting ke Balikpapan dan Berau, Solo-Pangkalanbun PP
serta konekting ke Ketapang dan Pontianak, Silk Air untuk penerbangan SoloSingapura PP serta Air Asia untuk penerbangan Solo-Kuala Lumpur, di samping
penerbangan langsung ke Mekkah atau Jeddah, Arab Saudi dikarenakan Solo sebagai kota
embarkasi Haji untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY.Sebagaimana bandara yang lain,
bandara Adisumarmo ini terletak di luar kota Solo tepatnya diNgemplak, Boyolali.
Bandara ini juga berfungsi sebagai pangkalan TNI AU.
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Bandara ini dulu bernama Pangkalan Udara (Lanud) Panasan, karena terletak di kawasan
Panasan. Kemudian namanya diubah menjadi Pangkalan Udara Adisumarmo mengikuti
nama Adi Sumarmo (adik dari Agustinus Adisucipto). Bandara ini dulu
bernama Pangkalan Udara (Lanud) Panasan yang dibangun pertama kali pada tahun
1940 oleh Pemerintah Belanda sebagai lapangan terbang darurat. Ketika bala
tentara Jepang masuk ke Indonesia bandara tersebut sempat dihancurkan
oleh Belanda namun dibangun lagi oleh Pemerintah Jepang sejak pada tahun 1942
sebagai basis militer penerbangan angkatan laut (Kaigun Bokusha).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia penyelenggaraan bandara
dilaksanakan oleh Penerbangan Surakarta yang diresmikan pada tanggal 6 Februari
1946. Pada tanggal 1 Mei 1946, Penerbangan Surakarta sejak berubah menjadi
Pangkalan Udara Panasan yang hanya diperuntukkan penerbangan militer. Pangkalan
udara tersebut pertama kali digunakan secara resmi untuk penerbangan komersial pada
tanggal 23 April 1974 yang dilayani oleh Garuda Indonesia dengan rute Jakarta-Soekarno
Hatta-Solo & Solo-Jakarta-Soekarno Hatta dengan frekuensi 3-kali seminggu. Pada tanggal
25 Juli 1977, Pangkalan Udara Panasan berubah nama menjadi Pangkalan Udara
Utama Adi Sumarmo yang mengikuti nama Adi Sumarmo (adik dari Agustinus
Adisucipto). Pada tanggal 31 Maret 1989, Bandara ini ditetapkan menjadi Bandara
Internasional dengan melayani penerbangan rute Solo-Kuala Lumpur & Solo-SingaporeChangi.
Pada tanggal 1 Januari 1992, Bandara Adi Sumarmo dikelola oleh Perusahaan Umum
Angkasa Pura I yang pada tanggal 1 Januari 1993 berubah status menjadi Persero
Terbatas Angkasa Pura Isampai dengan sekarang.
Data-data[sunting | sunting sumber]
Data Bandara[sunting | sunting sumber]
Jarak dari Surakarta, 14 kilometer
Koordinat 073058"S, 1104525"E
Ketinggian 128 meter
Jumlah terminal: 2 terminal penumpang, 2 terminal kargo, 11 tempat parkir pesawat
Data Lapangan Terbang[sunting | sunting sumber]
Runway 1: Heading 08/26, 2,600m (8,530 ft), 68/F/C/X/T, ILS, Lighting: PAPI
Fire Category VIII, Rescue and fire fighting Navigational Aids: VOR-DME, NDB Airfield
Restrictions: Wide body ACFT 180 turn at the end of Runway
Fasilitas Kargo[sunting | sunting sumber]
Kapasitas 48tonnes (105.000 lbs), gudang seluas 574m (6,178sq ft), kawasan berikat,
hanya kargo domestik, karantina hewan, fasilitas kesehatan, peralatan X-ray , bahan
berbahaya, GPU, sabuk berjalan kargo, dan kursi roda.
Maskapai Penerbangan[sunting | sunting sumber]
Maskapai

Tujuan

Termina
l
Internasiona
l

AirAsia

Kuala Lumpur

Garuda Indonesia

Jakarta-Soekarno-Hatta

Garuda Indonesia

Hajj flight: Jeddah

Indonesia Air Transport

Pangkalanbun, Pontianak

Domestik
Internasiona
l

12

Domestik

Maskapai

Tujuan

Termina
l

Lion Air

Jakarta-Soekarno-Hatta

Domestik

SilkAir

Singapura

Sriwijaya Air

Jakarta-Soekarno-Hatta

Domestik

Trigana Air Service

Banjarmasin, Balikpapan, Berau, Pangkalanbun,


Ketapang, Pontianak

Domestik

Internasiona
l

13