Anda di halaman 1dari 9

RESTRUKTURISASI PELAYANAN PUBLIK

Beberapa kebijakan pemerintah selama dua-tiga tahun terakhir ini telah mengarahkan ke
perubahan kebijakan pelayan publik. Perubahan pekerja, konsumen dan masyarakat mulai
diarahkan untuk mencapai titik temu perubahan publik. Proses restrukturisasi telah dijadikan
momentum untuk menemukan keseimbangan yang baru (Osborne & Gabler, 1993).
Proses restrukturisasi harus diawali dengan proses penciptaaan kondisi. Landasan yang kuat
harus dipersiapkan. Dan konsep ini harus diterima oleh para pekerja di sektor publik,
masyarakat, lembaga-lembaga internasional dan kaum profesi/asosiasi. Proses pencptaan kondisi
akan mengurangi tanggapan negatif ketika kebijakan publik diterapkan.
Pertama, mengkampanyekan tanggungjawab pribadi anggota masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan perorangan. Pemerintah hanya akan berfungsi sebagai fasilitator akibat
ketidakefisienan dan kelambanan selama ini (Bastian, 2000). Sektor swasta di Indonesia dalam
beberapa industri menunjukkan prestasi positp, efisien dan mengembangkan pilihan melalui
mekanisme pasar (PPA, 1999).
Kedua, permasalahan ekonomi ditandai oleh kejarangan sumber daya dibanding kebutuhan yang
ada. Krisis atau kegagalan dalam penyediaan kebutuhan sering kali ditimbulkan, untuk membuka
berbagai peluang penerapan metode baru (Whitfield, 1992). Krisis Sumberdaya, pengeluaran
publik dikurangi, inflasi tinggi, dan pengelolaan keuangan yang terpusat, merupakan pertanda
penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat. Klaim tersedianya dana seringkali merupakan
produk pernyataan politik, daripada pernyataan keuangan. Krisis keuangan diciptakan
melalui overspeding. Krisis kepercayaan, kritik terhadap pemborosan dan korupsi terhadap
pemerintah selama dua tahun terakhir ini menandakan krisis kepercayaan publik terhadap
pelayanan publik. Berbagai kampanye melawan kebijakan penaikan harga dan keluhan
pelayanan sudah menjadi ciri khas fasilitas transportasi, kesehatan, pendidikan dan
utilitas. Krisis pelayanan dan Manajemen, berbagai krisis kepercayan telah mengakibatkan
pemotongan anggaran dan pertumbuhan pelayanan publik. Akibatnya semangat kerja dan
berbisnis dengan berbagai lembaga sektor publik menjadi amat berkurang. Bahkan beberapa
perusahaan negara mulai di tuntut oleh berbagai partner asing (PLN dan PT TELKOM)
(Kedaulatan Rakyat, 13 April 2001, h.1).
Ketiga, mempromosikan alternatif peranan swasta dalam penanganan pelayanan publik. Ini akan
berimplikasi pada konsumen dan pekerja, sekaligus mempengaruhi bentuk dan fungsi negara

dalam perekonomian. Alternatif tersebut dapat di rinci: menyertakan swasta untuk ikut dalam
kontrak pelayanan, menyertakan pihak lain untuk memperluas rentang pelayana, memecahkan
upah minimum, mengembangkan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui kreasi kontraktor,
mengembangkan bentuk kontrak untuk peningkatan pengendalian produktivitas, dan memecah
kekuatan serikat pekerja melalui kontrak yang beragam.
Tabel 1
Strategi Pengembangan Kultur Kontrak

Pelayan

1.

Kompetitive kontrak pelayanan


yang akan meningkatkan rentang

an Produksi

pelayanan
2.

Mengatur ulang peranan klien


kontraktor

3.

Inovasi pasar internal di dalam


proses pelayanan publik

4.

Menyertakan berbagai pihak


dalamcompetitive tendering

5.

Yang terpenting adalah kualitas


pelayanan, bukan lembaga /agen

Pelayan

1.

Prestasi dan kualitas di tentukan


dengan kontrak konsumen

an konsumsi
2.

Pemberdayaan konsumen dan


penelitian pasar

3.

Strategi konsumen membayar


untuk meningkatkan penyelenggaraan
kebutuhan

Keempat, partisipasi pelayanan swasta seperti di industri rumah sakit, harus didukung peraturan
pemerintah. Bahkan dalam beberapa hal, terutama penelitian dan pengembangan, masih perlu
dibantu dengan dana publik.
Kelima, kerjasama antar swasta dan publik harus di kembangkan dalam bentuk joint
venture, BOT dan partnership. Bentukbentuk kerjasama ini harus dilakukan melalui proses

leleng yang disertai dengan dokumentasi rinci (.,2001,jurnal Akuntansi dan Keuangan Sektor
Publik, h. ).
STRATEGI DASAR PERUBAHAN PELAYANAN PUBLIK
Dari penjelasan diatas, perubahan pelayanan publik akan dilandasai oleh strategi komersialisasi,
komodifikasi dan konsumerisasi. Tiga strategi ini berbeda namun terkait satu dengan yang
lainnya. Komersialisasi, pelayanan publik harus dikelola dari aspek organisasi, manajemen, dan
pengendalian keuangan selaras dengan praktik yang ada disektor swasta. Pembedaan antar unit
disektor publik mulai di kembangkan. Proses pembentukan pasar internal diciptakan di berbagai
organisasi kesehatan, pendidikan dan pemerintahan daerah. Komoditi, pelayanan haruslah
dikemas dan dipasarkan sebagai suatu komoditi. Penentuan harga dan tersedianya pelayanan
diciptakan melalui proses kekuatan pasar. Konsumerisasi, hubungan antar organisasi sektor
publik dan konsumennya sedang berubah selaras hubungan bisnis antar swasta dan
konsumennya.
Proses perubahan akan meliputi berbagai tahap, antara lain peringkat yang berbeda, tujuan
komersial, korporatisasi, reorganisasi, paket keuangan dan pemasaran. Rincian tehnik yang
biasanya digunakan akan meliputi:

Penyusunan tujuan komersial: tahapan ini akan mendorong tujuan komersil dan target
prestasi, perencanaan bisnis, penerapan akuntansi, kontrak pelayanan dan pembebanan
kepada pemakai. Kriteria bisnis dan kekuatan pasar akan mendorong perbaikan kualitas
pelayanan.

Korporatisasi: aktiva dan tanggung jawabditransfer dari departemen Pemerintah ke


perusahaan negara. Proses ini telah dilakukan oleh Coopers dan Lybrand (1988) dengan
menggantikan admnitrasi birokrasi dengan manajemen komersial , memfasilitasi target
keuangan dan operasional dengan sistem akuntansi, mengurangi secara radikal pengaruh
kepentingan politik, dan melakukan sentralisasi keputusan produksi.

Reorganisasi biasanya dilakukan melalui proses rasionalisasi. Dengan penutupan unit


yang merugi, mengurangi ketidakefisienan aktivitas, investasi perlengkapan baru, dan
penjualanaktiva dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan bentuk organisasi yang
sederhana dan cepat bergerak di mekanisme pasar.
Gambar 1
Runtutan Tehnik Coopers and Lybrand

Status :

Hubungan pemerintah
Hukum

Kepentingan Publik
Struktur : Organisasi
Keuangan
Sumberdaya Manusia
Strategi : Definisi usaha dan posisi pasar
Tujuan perusahaan
Sistem :

Prestasi
Akuntansi
Informasi Manajemen
Personalia

Gaya :

Penggajian
Sikap

Manajemen
Sumber: Coopers and Lybrand, 1988,p.14

Paket keuangan merupakan kegiatan pengaturan akun dengan menghapus hutang untuk
mengurangi pembayaran bunga, perubahan kebijakan akuntansi, dan penghitungan ulang
keuntungan.

Pemasaran ditujukan untuk mensosialisasi ide perubahan dan pelaksanaannya. Melalui


pidato, diskusi, talk show dan seminar, ide-ide baru dipertajam dengan tujuan
pelaksanaannya akan berjalan lancar. Setelah diterima secara luas, pelaksanaan ide tersebut
akan lebih ditekankan untuk membentuk citra lembaga, bukan pemerintah keseluruhan.
Setelah itu, proses pemasaran akan lebih ditujukan untuk memantapkan posisi penjualan
produk lembaga itu sendiri.

AKUNTANSI UNTUK PERUBAHAN PELAYANAN PUBLIK


Perubahan dalam kebijakan akuntansi dan keuangan pelayanan publik mempunyai peranan
penting dalam melakukan perubahan pelayanan publik, akuntansi akan lebih ditujukan untuk
menjadi dasar penilaian kondisi riil organisasi sektor publik, berbagai aspek bisa dilihat dari
fungsi akuntansi ini.

Sebelum melangkah lebih jauh, pembahasan tuntutan masyarakat ke profesi akuntansi telah
berunah dalam dua tiga tahun terakhir (Bastian, 2000). Tuntutan kejujuran.Akuntansi diawal
masa reformasi telah telah menghadapi semacam `kehinaan` secara eksplisitnya dengan
ditunjuknya akuntan asing melakukan due dilligence dalam konteks restrukturisasi perbankan
(Subianto, 1998). Terlepas dari alasan untuk membangkitkan kepercayaan asing ke
perekonomian kita, fakta itu menunjukkan rendahnya kredibilitas akuntan pemeriksa kita di mata
dunia internasional dan kalangan pemerintah. Akibatnya, praktek kejujuran akuntan harus
ditingkatkan. Etika pemeriksaan akuntansi harus ditegakkan, dalam artian pelanggaran bukan
hanya berdampak keanggotaan profesi, namun kerugian yang ditimbulkan bisa dilakukan
tuntutan di jalur hukum.
Penegakan etika profesi akuntan pemeriksa saat ini menjadi suatu hal yang mendesak.
Kemungkinan penuntutan lewat jalur hukum harus diatur, sehingga proses pertanggungjawaban
bisa dipilahkan ke profesi maupun masyarakat. Selama ini, tuntutan dibatasi oleh profesi, dalam
artian sepanjang aturan profesi dipatuhi maka akuntan dianggap sudah memenuhi kewajiban baik
secara profesi maupun kemasyarakatan. Hal ini telah dinilai tidak wajar, sehingga masyarakat
menuntut, khususnya terkait dengan likuidasi perbankan, agar akuntan pemeriksa bisa dituntut di
jalur hukum.
Professionalism profesi dalam hal ini terkait dengan kejujuran keahlian dan pribadi telah dituntut
untuk dapat dibawa sebagai kredibilitas profesi di mata prosedur hukum masyarakat. Sehingga
yang diminta sebenarnya adalah perubahan dari sekedar moralitas menjadi realitas hukum
masyarakat.
Tuntutan Sistem Pemerintahan Bersih. Salah satu ciri khas gerakan reformasi adalah tuntutan
akan pemerintahan yang bersih. Akuntan sebagai suatu profesi diminta untuk terlibat secara aktif,
terkait dengan pelaksanaan transparansi ekonomi. Masyarakat secara umum memahami keahlian
penyusunan sistem keuangan adalah merupakan kompetensi akuntansi. Oleh sebab itu, akuntansi
diharapkan bergerak bukan cuma berorientasi ke pasar modal tetapi juga ke pertanggungjawaban
publik. Atau dengan kata lain, perkembangan akuntasi sektor publik merupakan tuntutan
masyarakat dalam mewujudakn pemerintahan yang bersih.
Akuntansi sektor publik yang diharapkan disini lebih ditekankan pada sistem dan pemeriksaan
akuntansi. Sistem akuntansi publik yang selama ini dikembangkan lebih untuk melayani
karakteristik persaingan swasta . Usaha yang dilakukan selama ini adalah benchmark secara

total ke pemerintahan . Ini tentunya merupakan kesalahan besar karena karakter dan evaluasi
kinerja publik amat berbeda dengan yang ada di swasta.
Pemeriksaan akuntansi sektor publik juga tidak bisa disamakan dengan sektor swasta.
Pengukuran dan pengakuan kinerja piblik amatlah berbeda (Smith, 1995). Sebab itu dibutuhkan
standar khusus pemeriksaan akuntan sektor publik. Sehingga prosesbenchmark yang terjadi di
sistem akuntansi tidak terulang pada pemeriksaan akuntan sektor publik.
Tuntutan Program Kesejateraan Masyarakat. Di masa krisis ekonomi, masyarakat Indonesia
menjadi amat peka terhadap pemenuhan kesejahteraan, terutama masalah pendidikan, kesehatan
dan pangan. Terkait dengan ini, program-program pemerintah pusat mulai dikembangkan di
sektor-sektor ini. Program ini umumnya menghadapi masalah penghitungan unit biaya per
program, seperti unit cost rumah sakit (Bastian, 1999). Praktek yang berlaku selama ini adalah
sistem ad-hoc, yang berarti penghitungan unit biaya dilakukan untuk suatu saat dan, apabila ada
perubahan maka perlu dilakukan penghitungan biaya lagi. Praktek ini tentunya jauh dari akurasi
dan efisiensi.
Melihat latar belakangnya, tuntutan kesejahteaan masyarakat sebenarnya lekat dengan tuntutan
penghapusan biaya tinggi. Ekonomi biaya tinggi sebenarnya telah lama menghantui sektor
publik, seperti kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, listrik, air, transportasi, pemerintahan dan
lainnya. Kondisi ini dapat diartikan kebutuhan akuntansi manajemen sektor publik. Bidang ini
haruslah dikembangkan secara madiri, karena pengalaman benchmark sistem akuntansi harus
selalu diperhitungkan.
Pengukuran prestasi dan kinerja sektor publik merupakan titik berat pengembangan akuntansi
manajemen sektor publik. Penekanan terhadap efisiensi keuangan dan efektifitas manajemen
akan menjadi dua sisi titik awal fokus pengembangan bidang akuntansi manajemen sektor publik
ini. Sehingga tuntutan masyarakat terhadap pengembangan peranan akuntansi di sektor publik
menjadi suatu yang harus dijawab.
Kondisi tersebut menunjukkan akuntansi Indonesia telah berkembang peranannya menjadi tiga
dimensi: dimensi entitas yang merupakan fungsi akuntansi dalam pertanggungjawaban ; dimensi
organisasi yang merefleksikan fungsi pendukung pengambilan keputusan; dan dimensi sosial
yang mencerminkan fungsi pendukung pelayanan sosial.
Dari pemahaman tentang perubahan tuntutan masyarakat akuntansi, peranan akuntansi untuk
pelayanan publik merupakan turunan tuntutan ketiga akuntansi untuk program kesejahteraan

masyarakat. Fokus pengelolaan sumberdaya berubah dari input ke output. Sehingga konsep dasar
manajemen keuangan dari input expenditure ke cost output. Proses pendanaan akan lebih
bersifat funding outcomes. Pada saat ini pemerintah memberikan kontribusi dengan cara bobot
penduduk, bobot jumlah murid dalam satu sekolah dan bobot jumlah pasien. Akibatnya, lembaga
yang gagal akan mendapat dana lebih banyak, karena jumlah bobot mereka lebih. Pada saat yang
sama, informasi tentang keberhasilan suatu lembaga sulit didapatkan. Dalam kondisi seperti ini,
politik akan menjadi lebih berperanan, karena politik lebih mengutamakan persepsi dan ideologi.
Pengurangan intervensi politik mulai dituntut. Masyarakat mulai menolak membayar pajak.
Mereka mulai frustasi karena mereka tidak pernah tahu apa yang mereka dapatkan dari
pembayaran pajak. Sehingga kata akuntabilitas, prestasi dan hasil menjadi kunci komunikasi
antar masyarakat dan pemerintah, sebagai penyelenggara kebutuhan.
Tehnologi akuntansi telah dapat menjawab pertanyaan diatas. Standar Akuntansi Berterima
Umum dimunculkan untuk menciptakan transparansi aktivitas organisasi, sekaligus pengukuran
prestasi yang didasarkan pada bukti (IAI KASP, 2000, ED SAKSP 1). Di Indonesia, Ikatan
Akuntansi Indonesia melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan dan KompartemenAkuntan
Sektor Publik (Dewan Standar Akuntansi Sektor Publik) telah mengembangkan standar
akuntansi keuangan untuk transaksi swasta dan standar akuntansi keuangan sektor publik untuk
transaksi pemerintah. Dengan dasar bukti yang dapat dipercaya maka proses
pengukuran outcome akan dapat dilakukan .
Proses pengukuran prestasi akan mmemberikan cara pengukuran kualitas pelayanan, yang
merefleksikan kualitas kerja unit pemerintah dalam mencapai tujuannya; contohnya, prosentase
peserta dalam program rekreasi, dan jumlah keluhan tentang pelayanna fasilitas rekreasi. Dengan
demikian, proses pengambilan keputusan akan menjadi lebih baik dan tajam. Ini berarti,
manajemen akan bisa berbicara jelas tentang keberhasilan dan kegagalan, hasil peningkatan
pengeluaran, dan juga hasil dari pemotongan anggaran. Manajemen akan dapat memahami apa
yang didapatkan dari dana yang dicairkan.
Dampak implementasi pengukuran prestasi adalah pemberian penghargaan bagi kesuksesan.
Pada saat yang sama, kesalahan pemberian kompensasi bagi yang tidak berprestasi dapat
dihindari. Atau, proses pembelajaran pengalaman manjemen akan dapat dilakukan dengan lebih
lengkap: menghargai kesuksesan dan mengkoreksi kegagalan.

Kiprah akuntansi dalam pelayanan publik justru akan mengokohkan fungsi akuntansi itu sendiri.
Produk Akuntansi, pelaporan keuangan, akan bertambah manfaatnya. Selain itu, proses umpan
balik dalam manajemen organisasi sektor publik akan lebih mudah dibentuk.Masyarakat akan
mendapat manfaat terbesar dalam penerapan akuntansi di pelayanan publik. Umpan balik dan
memahami apa yang dilakukan pemerintahan akan membuat komunikasi antar masyarakatpemerintah menjadi lebih lancar dan konstruktif. Proses ini akan mempercepat rasionalitas
masyarakat tentang kebijakan pemerintah.
Aparat pemerintah sebagai pelaksana pelayanan publik akan terlindungi denagan landasan
pencatatan bukti transaksi. Proses kecurigaan tentang pengguanaan dana publik akan semakin
luntur dengan transparansi. Kredibilitas organisasi dan aparat akan semakin tinggi. Dan akhirnya,
tuntutan aparat akan semakin diperhatikan.
Manajemen pemerintahan juga akan semakin diuntungkan dengan berbagai penyederhanaan
proses. Gerak akan semakin cepat dan fokus lebih pada kinerja dari administratif. Kondisi ini
menyebabkan sinerji unit pemerintah akan lebih mudah diukur dan dikendalikan. Atau dengan
kata lain, program pembangunan akan mulai dibedakan dengan program pengembangan
organisasi Pemerintah. Program pembangunan akan lebih memfokuskan pada peningkatan
partisipasi masyarakat. Sedangkan program pemerintah lebih pada peningkatan kapasitas
pengendalian program dan organisasi.
Berikutnya, berbagai konsep di atas perlu diturunkan dalam teknik yang biasanya digunakan. Di
bawah ini rincian teknik yang bisa digunakan dalam mengubah orientasi pelayanan publik :

Perubahan kebijakan akuntansi

Penghapusan hutang jangka panjang dan kerugian

Peningkatan investasi

Peningkatan modal usaha negara

Catatan permintaan pelayanan publik

Memasang sistem performance related pay dan tunjangan pengabdian bagi pegawai
senior
Perubahan kebijakan akuntansi lebih bertujuan agar organisasi lebih terpercaya dan menarik.
Lebih terpercaya bagi semua pemakai pelaporan keuangan, sedangkan menarik bagi para
investor dan kreditor. Ini berarti kebijakan akuntansi akan mengarahkan pemerintahan menjadi

lebih dekat ke pasar. Proses restrukturisasi hutang dan kerugian perlu dilakukan agar organisasi
dapat mulai dengan suatu kondisi yang kondusif. Kondisi ini diperlukan untuk memasuki
mekanisme pasar.
Peningkatan modal usaha negara dan investasi menjadi kunci untuk mengembangkan sektor
publik. Dengan mendapatkan sumber modal dari luar negeri, organisasi akan mendapatkan
suntikan untuk mempercepat proses pengembangan program dan kapasitasnya. Ini berarti,
produk akuntansi harus dieksplorasi untuk meyakinkan kegunaan dana investasi sesuai tujuan
investasi, dan meningkatkan kredibilitas organisasi sebagai penerima investasi.
Catatan permintaan pelayanan publik dan sistem prestasi mirip dengan dua sisi mata uang.
Permintaan pelayanan merupakan rincian aktivitas yang akan dilakukan, sedangkan pencapaian
pemenuhan permintaan akan direkam sebagai prestasi manajemen. Ini berarti, keselarasan antar
internal dan eksternal organisasi akan dapat dicapai melalui proses akuntansi.
Menengok besarnya manfaat akuntansi dalam perubahan pelayanan publik di Indonesia, penulis
mengusulkan agar pembangunan akuntansi sebagai infrastruktur organisasi sektor publik
dipercepat.
Keberhasilan pembangunan akuntansi akan menciptakan proses komunikasi yang lancar antar
berbagai pihak di lingkungan sektor publik. Ini berarti akuntansi dapat menjadi kunci
keberhasilan proses transisi dari sentralisaisi ke desentralisasi dan dari Orde Baru ke Orde
Reformasi.