Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Kadaster

http://uzteyqah.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html
PENDAHULUAN
Syarat umum berdirinya sebuah Negara Indonesia adalah memiliki rakyat, memiliki
wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Wilayah disini sering dibaca sebagai
tanah, sedang tanah merupakan bagian dari bumi. Menurut UUD 45 pasal 33 Bumi dan air
dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang praturan
dasar pokok-pokok Agraria, pasal 2 ayat (2) a, menyebutkan wewenangan Negara untuk
mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeriharaan
bumi, air, dan ruamh angkasa tersebut. Dan yang dimaksud dengan tanah sebagaimana pasal
4 ayat (1) adalah permukaan bumi yang disebut tanah, sedangkan ayat (2) menyebutkan
wewewnang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan
air serta ruang yang ada diatasnya.
Tanah merupakan bagian dari bumi. Tanah yang dimaksud disini adalah tanah dalam
pengertian yuridis yang disebutkan hak. Tanah sebagai bagian dalam pasal 4 ayat (1) UUPA,
yaitu Atas dasar hak mengusai dari Negara sebagai dimaksud dalam pasal 2 ditentukan
adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang diberikan kepada
dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain
serta badan-badan hukum.
Tanah memiliki nilai yang sangat berarti bagi manusia. Pada beberapa wilayah di
Indonesia, dan di belahan dunia lain, kepemilikan atas tanah memcerminkan status social
seseorang, bukan perebutan tanah dapat menjadi salah satu sumber konflik yang
berkepanjangan. Sejarah mencatat bahwa peperangan antar Negara, antar suku, bahkan antar
kerajaan dimasa lalu maupun masa kini sering diakibatkan karena persoalan tanah, termasuk
penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah untuk mengusai kekayaan alam
yang terkandung didalamnya, serta nilai-nilai hakiki kehidupan manusia dan lingkungannya.
Manusia dan tanah memiliki hubunga yang sangat erat, sangat alami dan tidak
terpisahkan. Hal tersebut dapat dimengerti dan dipahami, karena tanah selain merupakan
tempat tinggal, juga merupakan tempat pemberi makan, tempat mereka dilahirkan, tempat ia
dimakamkan, bahkan tempat leluhurnya, ,maka selalu ada pasangan antara manusia denga
tanah, aantara masyarakat dengan tanah.
Hubungan tanah dengan bangsa Indonesia bersifat abadi, dan hubungan manusia dengan
tanah memiliki nilai social religious yang sulit dipadankan dengan kepemilikan benda
lainnya. Kepemilikan atas tanah tidak bisa disamakan dengan kepemilikan atas hak cipta,
pengetahuan ataupun ketrampilan. Kepemilikan atas tanah juga masih memiliki perbedaan
dibandingkan dengan kepemilikan atas benda seperti kendaraan, emas, dan barang lainnya.
Hal ini disebabkan karena tanah memiliki beberapa jenis nilai, antara lain seerti nilai jual,
nilai produksi, nilai lokasi, nilai kesejarahan, dan nilai sentimental.
Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan
No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan menyebutkan bahwa tanah secara fisik dapat diartikan
sebagai permukaan bumi. Atas dasar pemanfaatanna, penggunaann, tanah dapat dibedakan

dalam dua bentuk, yaitu penggunaan untuk hutan dan penggunaan lainnya. Atas dasar
fungsinya, kawasan dibedakan dalam kawasan budi daya dan kawasan lindung. Sebaliknya,
berdasarkan penguasaan dan atau pemilikannya, tanah dapat dibagi dalam dua kelompok,
yaitu tanah yang langsung dikuasai oleh Negara dan tanah hak sebagaimana diatur oleh
peraturan perundang-undangan.
Di Indonesia ada beberapa instansi pemerintah yang diberi kewenangan (kepercayaan) di
dalam menangani pengelolaan dan penggunaan yang berhubungan dengan pertanahan dan
informasi, yaitu :
1. UU nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA dan PP 24/1997 tenteng Pendaftaran Tanah,
(informasi tentang pengertian tanah, status tanah, hubungan tanah dengan manusia,
pengukuran dan pemetaan, tematik pertanahan dan pengelolaan pertanahan).
2. UU nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (pengertian ruang wilayah dan
kewenangan).
3. UU nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Pantai dan Pulau-Pulau Kecil.
4. UU nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (pengertian data,
informasi/batasan-batasannya dan teknologinya).
5. UU nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (pengertian tanah versi
pertambangan dan ruang bawah tanah, tematik pertambangan).
6. UU nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (pengertian tanah, wilayah, survey dan
pemetaan, peta dasar dan peta tematik).
7. UU nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan
Umum (tentang nilai tanah sebagai sumber data untuk informasi kadaster)
Adanya berbagai instansi pemerintah tyang berbeda di dalam hal pengertian dan
kewenangan penangana, pengelolaan serta penggunaan pertanahan, maka dengan sendirinya
berakibat sering terjadinya benturan-benturan kepentingan. Apalagi jika masing-masing
instansi yang memiliki data dan informasi pertanahan yang ditangani tidak saling melakukan
berbagi pakai (data sharing) maka akan berakibat terjadinya pertikaian masalah pertanahan.
Pemerintah perlu memikirkan penunjukan satu instansi yang diberikan kewenangan untuk
penangan pengelolaan dan penggunaan pertanahan, sehingga tidak ada lagi dualisme atau
tumpang
tindih
di
dalam
pengelolaan
dan
pengguanaan
tanah.
PERTANAHAN, KADASTER DAN PENDAFTARAN TANAH
Setiap penduduk Indonesia yang mempunyai tanah selalu berkeinginan untuk
mempunyai sertifikat tanah sabagai bukti kepemilikan tanahnya. Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) No. 5 tahun 1960 Lembaran Negara 1960 No. 104 telah menentukan bahwa
tanah-tanah di seluruh Indonesia harus didaftarkan. Sesui Pasal 19 (1) UUPA No. 5/1960
berbunyi: Untuk menjamin kepastian kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan
pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang
diatur dengan Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah yang dimaksud adalah PP No. 10
tahun 1961 (L.N. 1961 No. 28 tentang Pendaftaran Tanah) dan diubah menjadi Peraturan
Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Kadaster secara etimilogis berasal dari Yunani yang kurang lebih bermakna daftar
publik yang memperlihatkan rincian kepemilikan dan nilai suatu tanah yang dibuat untuk
keperluan perpajakan. Berdasarkan definisi diatas terdapat kata kunci yang menjadi roh dari

kadaster, yaitu: daftar publik, tanah, kepemilikan, nilai tanah dan pajak (atau penerima
Negara). Daftar public yang berkaitan dengan kadaster dapat berwujud form atau daftar isian,
daftar table, dan bahkan peta.
Daftar public berarti dapat diketahui oleh public yang berkepentingan sesui dengan
kompetensinya. Semua daftar tersebut dapat menjelaskan hubungan antara orang (pribadi
ataupun badan hukum) dengan tanah yang dimilikinya. Siapa memiliki apa, letaknya dimana
dan apa jenis kepemilikannya. Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah di Indonesia mengenal 4
(empat) jenis daftar umum, yaitu Peta Pendaftaran, Daftar Tanah, Surat Ukur dan Daftar
Nama.
Sejarah perkembangan pendaftaran tanah di Indonesia pelaksanaanya tidak terlepas
dari dinamika istilah dan tujuan dari pendaftaran tanah sebagaimana disebutkan di atas,
termasuk perkembangan dari lembaga pelaksanaanya serta metode atau cara penyelenggaraan
dari pendaftaran tanah dimaksud. Pada beberapa referensi, pengertian pendaftaran tanah tidak
terlepas dari pengertian kadaster, namun sesuai dengan perkembangan jaman, pengertian
kadaster jauh lebih luas daripada pengertian pendaftaran tanah yang dikenal dewasa ini.
Pengertian tanah menurut UUPA adalah permukaan bumi yang ada di daratan dan permukaan
bumi yang berada dibawah air, termasuk air laut, sedang dalam Peraturan Pemerintah tentang
Pendaftaran Tanah, bidang tanah adalah sebagian permukaan bumi yang merupakan satuan
bidang yang terbatas. Penekanan tanah disini lebih focus kepada permukaan bumi.
Mengingat pentingnta tanah bagi kehidupan manusia, kelompok manusia bahkan bagi
bangsa Indonesia, maka pemerintah menyelenggarakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah
Indonesia. Kegiatan pendaftaran tanah meliputi pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah,
pendaftaran hak-hak tanah atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut; serta pemberian suratsurat tanda buku hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Menurut PP Nomor 24
Tahun 1997, pendaftaram tanah bertujuan :
a. Untuk memberikan kepastian hukun dan perlindungan hukum kepada pemengang hak atas
suatu bidang tanah, suatu rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah
dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;
b. Untuk menyediakan informasi kedapa pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah,
agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan
hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;
c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.