Anda di halaman 1dari 8

Komunitas Nyamuk ...

(Lasbudi P, et al)

STUDI KOMUNITAS NYAMUK DI DESA SEBUBUS (DAERAH ENDEMIS


FILARIASIS), SUMATERA SELATAN TAHUN 2004
A study on mosquito community in Sebubus village
(filariasis endemic area) South Sumatera, 2004
Lasbudi P. Ambarita, S.Si*, Hotnida Sitorus, SKM*
Abstract. A mosquito community study was conducted in Sebubus village (filariasis endemic area), South
Sumatera. This study aims to determine mosquitoes contact with human, reconfirm vector of filariasis,
and calculate microfilaria rate. There were 369 mosquitoes collected during the study, which consisted of 5
species, namely Mansonia uniformis, Mansonia bonneae/dives, Culex spp., Anopheles separatus, and
Aedes aegypti. The man-biting rate of Mansonia uniformis as a confirmed vector of filariasis in South
Sumatera peaks at 20.00-22.00 (outdoor) and 20.00-21.00 (indoor). Mansonia dives as the main species
collected has a man-biting rate that peaks at 18.00-19.00 (outdoor) and 20.00-21.00 (indoor). From all the
mosquitoes collected, no filarial larvae was found in their salivary glands. There are 2 glass film slides
found positive with Brugia malayi species, and the microfilaria rate is 1.12%.
Keywords : Filariasis, Mansonia, Microfilaria Rate

PENDAHULUAN
Penyakit kaki gajah (filariasis)
merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia terutama di daerah pedesaan.
Penyakit menular ini disebabkan oleh infeksi
cacing filaria yang ditularkan oleh gigitan
nyamuk. Penyakit ini dapat mengakibatkan
menurunnya produktivitas kerja sehingga
dapat menimbulkan kerugian ekonomi, disamping itu juga menyebabkan kecacatan,
stigma sosial, dan lain-lain.
Pemerintah sendiri pada tahun 2002
telah mencanangkan dimulainya eliminasi
penyakit kaki gajah di Indonesia dan telah
menetapkan eliminasi penyakit kaki gajah
sebagai salah satu program prioritas. Program
ini dicanangkan sebagai respons dari
program WHO yang menetapkan komitmen
global untuk mengeliminasi filariasis (The
Global Goal of Elimination of Lymphatic
Filariasis as a Public Health Problem by the
Year 2020).
Kabupaten
Banyuasin
sebagai
kabupaten yang baru terbentuk pada tahun
2003 dan merupakan pecahan dari Kabupaten
Musi Banyuasin merupakan salah satu daerah
endemis filariasis di Indonesia. Walaupun
* Peneliti pada Loka Litbang P2B2 Baturaja

merupakan kabupaten yang baru, namun


program pemberantasan filariasis masih tetap
diteruskan terutama di dalam pemantauan
timbulnya kasus-kasus baru, selain tetap
memonitor desa-desa yang memiliki kasus
lama.
Salah satu desa yang menjadi fokus
pemantauan dalam program eliminasi
filariasis adalah desa Sebubus. Desa yang
memiliki jumlah penduduk lebih kurang 680
jiwa (160 KK) ini berada di pinggiran sungai
yang merupakan percabangan dari Sungai
Musi. Pada tahun 1998 dari hasil
pemeriksaan sediaan darah jari di desa ini
diperoleh angka microfilaria rate (Mf rate)
masih cukup tinggi yaitu sebesar 4 % (Dinas
Kab.Banyuasin, 2004).
Tentu saja faktor-faktor yang
berperan penting dalam penyebaran filariasis
(epidemiologi filariasis) perlu diamati dalam
usaha pemutusan mata rantai penularannya.
Pemutusan mata rantai penularan terbaik
adalah penatalaksanaan kasus (menyembuhkan penderita filariasis) serta melakukan
pengamatan vektor penular filariasis secara
terus menerus sebagai dasar dalam
pemberantasan vektor serta menghilangkan
tempat-tempat perindukan nyamuk.

Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 5 No 1, April 2006 : 368 - 375

Dalam rangka tersebut di atas maka


studi komunitas nyamuk di daerah endemis
filariasis di Desa Sebubus Kabupaten
Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2004
dilaksanakan.
BAHAN DAN CARA
Daerah Penelitian
Lokasi penelitian yaitu Desa Sebubus
Kecamatan Banyuasin I, yang berada kurang
lebih 30 kilometer (alur sungai) dari kota
Palembang. Desa ini terletak di tepi sungai
yang merupakan percabangan dari sungai
Musi dan berketinggian lebih kurang 8 meter
di atas permukaan laut. Secara geografis desa
ini terdiri dari areal persawahan, lahan
perkebunan, rawa-rawa serta lahan semak
belukar (yang tidak dimanfaatkan). Pada
umumnya
penduduk
memiliki
mata
pencaharian bertani dan berkebun, selain itu
ada pula sebagai pencari kayu, wirausaha,
serta pegawai. Kondisi rumah di desa ini
umumnya rumah dengan bahan papan dan
sebagian kecil rumah permanen dan semi
permanen. Dan pada malam hari sebagian
besar
penduduk
memiliki
kebiasaan
berkumpul di luar rumah (di warung, pos
ronda, teras rumah dan di tepi jalan desa).
Desa Sebubus dipilih sebagai lokasi
penelitian karena menurut data dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Banyuasin bahwa di
Desa Sebubus ini terdapat penderita kronis
filariasis sebanyak 2 orang. Disamping itu
desa ini memiliki angka Mf Rate yang cukup
tinggi (4%), sehingga perlu untuk diketahui
informasi
terbaru
mengenai
derajat
endemisitas filariasis di daerah ini serta
vektor yang berperan di dalam penularan
nya.
Penangkapan Nyamuk
Penangkapan nyamuk menggunakan
aspirator dengan metode landing collections
dan dilakukan sepanjang malam yaitu mulai
pukul 18.00 sampai pukul 06.00 terhadap
semua
jenis
nyamuk
yang
menggigit/hinggap. Penangkapan dilakukan oleh 6
orang penangkap yang sebelumnya sudah
dilatih pada 3 rumah yang telah ditentukan.
Tiga
orang
penangkap
melakukan
penangkapan di dalam rumah (indoor
collection) yaitu menangkap nyamuk saat

menggigit (umpan orang) dan nyamuk yang


sedang
istirahat/hinggap
di
dinding,
sedangkan 3 orang peangkap lainnya
melakukan penangkapan di luar rumah
(outdoor collection) yaitu menangkap
nyamuk yang sedang menggigit orang dan
menangkap nyamuk di kandang ternak.
Penangkapan nyamuk dilakukan setiap
jamnya, dimana alokasi waktu yang
diberikan adalah sebagai berikut :
- 40 menit untuk penangkapan nyamuk
yang menggigit/umpan orang (di dalam
dan di luar rumah).
- 10 menit untuk penangkapan nyamuk
yang istirahat/hinggap di dinding dalam
rumah dan nyamuk yang hinggap di
kandang ternak.
- 10 menit dialokasikan untuk mengganti
wadah nyamuk yang tertangkap dan
sekaligus sebagai waktu istirahat bagi
penangkap nyamuk.
Pembedahan dan Identifikasi Nyamuk
Vektor Filariasis Yang Tertangkap
Nyamuk yang telah tertangkap
selanjutnya diidentifikasi menggunakan
kunci identifikasi OConnor dan Arwati
(OConnor, 1994), serta Dirjen P3M (Ditjen
P3M, 1983a; Ditjen P3M, 1983) dan dihitung
populasinya serta dilakukan pembedahan
nyamuk yang dilakukan secara individu
ataupun
massal
untuk
mengetahui
keberadaan larva cacing filaria pada tubuh
nyamuk. Adapun prosedur kerjanya sebagai
berikut :
Pembedahan secara individu
a. Tubuh nyamuk dibersihkan dari sayap
supaya sisik di sayap tidak mengotori.
b. Larutan garam fisiologis (GF) diteteskan di
atas gelas benda.
c. Nyamuk diletakkan di atas tetesan GF,
bagian tubuh nyamuk dipisahkan dengan
jarum bedah menjadi bagian yang kecilkecil dan semua bagian terendam dalam
larutan GF.
d. Pengamatan
dilakukan
menggunakan
mikroskop bedah.
e. Kalau ada cacing akan tampak bergerakgerak tergantung stadiumnya.
f. Stadium 1-2 pendek, gemuk, lambat
gerakannya, stadium 3 (infektif) panjang
dan cepat gerakannya.

Komunitas Nyamuk ... (Lasbudi P, et al)

g. Cacing diambil dengan ujung jarum bedah


di bawah mikroskop bedah. Kemudian
dipindahkan ke kaca benda, ditutup dengan
gelas penutup dengan media Canada
balsem.
h. Dicatat berapa cacing/individu nyamuk,
untuk menghitung infection rate.
Pembedahan secara massal
a. Dikelompokkan nyamuk per spesies 10-25
ekor/kelompok
b. Nyamuk dimasukkan ke dalam petridish
c. Kelompok
nyamuk
dari
petridish
diletakkan di atas salah satu gelas benda.
Diteteskan sedikit GF di atas tumpukan
nyamuk dan ditutup dengan gelas benda
lain. Dua gelas benda tersebut ditekan
hingga tubuh nyamuk pecah menjadi
beberapa bagian.
d. Nyamuk yang telah pecah dipindahkan ke
dalam petridis yang telah diisi dengan GF
yang bisa merendam bagian-bagian tubuh
nyamuk tersebut.
e. Dibiarkan 5-10 menit, kemudian petridis
diamati di bawah mikroskop bedah.
f. Kalau ada cacing, diproses seperti pada
proses secara individu.
Pemeriksaan Klinis dan
Sediaan Darah Jari

Pengambilan

Pemeriksaan klinis serta pengambilan


sediaan darah jari terhadap penduduk
dilaksanakan pada malam hari yaitu mulai
pukul 20.00 WIB. Jumlah penduduk yang
diperiksa diharapkan mencapai 500 orang.
Pemeriksaan gejala klinis dilakukan diawali
dengan mewawancarai penduduk tentang
gejala akut diantaranya apakah pernah
merasakan demam berulang selama 1 2 kali
atau lebih setiap bulan selama 3 - 4 hari dan
kemudian mengamati apakah terdapat
pembengkakan pada kelenjar getah bening
(limfadenitis) seperti di daerah lipat paha,
ketiak, lipat lutut, dada dan lain-lain, dengan
atau tanpa kemerahan, panas dan sakit, tanpa
disertai luka/peradangan di tempat lain.
Metoda pengambilan sediaan darah jari
berdasarkan pedoman Ditjen P2M & PL
(2002) (Depkes, 2002).

HASIL
Penangkapan Nyamuk
Dari hasil penangkapan nyamuk
yang dilaksanakan dari pukul 18.00 WIB
06.00 WIB berhasil didapatkan nyamuk
sebanyak 369 ekor yang terdiri dari 5 spesies
nyamuk yaitu Mansonia bonneae/dives,
Mansonia uniformis, Culex spp, Anopheles
separatus dan Aedes aegypti. Dari ke 5
spesies nyamuk tersebut, proporsi nyamuk
tertangkap yang paling dominan baik di
dalam maupun di luar rumah adalah spesies
nyamuk Mansonia bonneae/dives sebesar
61%, selanjutnya berturut-turut Culex spp
(24,7%), Mansonia uniformis (7,9%),
Anopheles separatus (0,8%), dan Aedes
aegypti (0,5%). Kepadatan populasi nyamuk
Mansonia bonneae/dives lebih tinggi di luar
rumah dibandingkan di dalam rumah. Data
lengkap ditampilkan pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa
jumlah total nyamuk lebih banyak tertangkap
di luar rumah (UOL + KD) yaitu sebanyak
224 ekor dibandingkan dengan yang di dalam
rumah sebanyak 145 ekor.
Nyamuk
Mansonia uniformis merupakan spesies
vektor filariasis di Sumatera Selatan
sedangkan
Mansonia
bonneae/dives
merupakan nyamuk vektor filariasis di
Propinsi
Riau,
Kalimantan
Selatan,
Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan
Sulawesi Tenggara (Depkes, 2002).
Perilaku menggigit spesies Mansonia
bonneae/dives tampaknya lebih dominan di
luar rumah (termasuk kandang) yaitu sebesar
65,27% dibandingkan dengan di dalam
rumah yang sebesar 34,73%. Dominasi
Mansonia bonneae/dives juga terlihat dari
semua metoda penangkapan (Tabel 2).
Sedangkan perbandingan kepadatan nyamuk
Mansonia uniformis pada penangkapan di
dalam dan diluar rumah berturut-turut
sebesar 61,54% dan 38,46%.
Secara umum aktivitas menggigit
Mansonia
uniformis,
memperlihatkan
aktivitas menggigitnya mulai dari sore hari
hingga tengah malam, sedangkan pada paruh
kedua berikutnya tidak didapatkan sama
sekali (Gambar 1). Aktivitas Mansonia
uniformis menggigit di luar rumah dimulai
pada pukul 18.00 sampai pukul 19.00,
kemudian menurun pada pukul 19.00 sampai

Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 5 No 1, April 2006 : 368 - 375

pukul 20.00. Pada pukul 20.00 sampai pukul


21.00 intensitas menggigitnya kembali
meningkat dan dengan kepadatan yang sama
pada pukul 21.00 sampai pukul 22.00. Pada
dua jam penangkapan ini merupakan waktu
dengan kepadatan tertinggi dari sepanjang
malam penangkapan. Selanjutnya pada pukul
22.00 hingga tengah malam kepadatan
nyamuk mulai berkurang. Sedangkan yang
menggigit di dalam rumah terjadi mulai
pukul 18.00-19.00, 2 jam penangkapan
berikutnya menunjukkan kenaikan intensitas
menggigit dimana pada pukul 20.00-21.00
merupakan puncak kepadatan menggigit.
Sebaliknya pada pukul 21.00-22.00 nyamuk
ini tidak ditemukan, dan pada pukul 22.0023.00 aktivitas menggigit kembali terjadi dan
pada jam-jam penangkapan berikutnya
aktivitas menggigitnya tidak lagi ditemukan.
Untuk
nyamuk
Mansonia
bonneae/dives, aktivitas menggigit di luar
rumah (Gambar 2) mulai terjadi pada pukul
18.00 sampai dengan pukul 03.00, sedangkan
di dalam rumah terjadi mulai pukul 18.00
sampai pukul 05.00. Aktivitas menggigit
Mansonia bonneae/dives di luar rumah
memiliki kepadatan yang tertinggi (puncak)
pada jam awal penangkapan (pukul 18.00
sampai pukul 19.00), kemudian 2 jam
berikutnya (pukul 19.00 sampai pukul 20.00
dan pukul 20.00 sampai pukul 21.00)
berturut-turut mengalami penurunan. Pukul
21.00 sampai pukul 22.00 mengalami
peningkatan kepadatan menggigit dan pukul
22.00 hingga tengah malam mengalami
penurunan. Pukul 01.00 sampai pukul 02.00
dan pukul 02.00 sampai pukul 03.00
intensitas menggigitnya kembali meningkat,
dan pada jam-jam berikutnya tidak
ditemukan lagi yang kontak dengan manusia.
Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa
aktivitas menggigit Mansonia bonneae/dives
di dalam rumah hampir memiliki pola
kebiasaan menggigit yang hampir sama,
hanya saja berbeda intensitasnya pada 4 jam
penangkapan awal (pukul 18.00 - 19.00,
19.00 - 20.00, 20.00 - 21.00 dan pukul 21.00
- 22.00. Pada pukul 18.00 sampai pukul
20.00 hanya didapatkan sedikit nyamuk
dengan pola menggigit yang menurun.
Puncak kepadatan Mansonia bonneae/dives
terlihat pada pukul 20.00 - 21.00 dan pukul
02.00-03.00.

Masih pada Gambar 1 dapat dilihat


bahwa aktivitas menggigit Mansonia
bonneae/dives di dalam rumah hampir
memiliki pola kebiasaan menggigit yang
hampir
sama,
hanya
saja
berbeda
intensitasnya pada 4 jam penangkapan awal
(pukul 18.00 - 19.00, 19.00 - 20.00, 20.00
21.00 dan pukul 21.00 22.00. Pada pukul
18.00 sampai pukul 20.00 hanya didapatkan
sedikit nyamuk dengan pola menggigit yang
menurun. Puncak kepadatan Mansonia
bonneae/dives terlihat pada pukul 20.00
sampai pukul 21.00.
Secara umum aktivitas menggigit
Mansonia
uniformis,
memperlihatkan
aktivitas menggigitnya mulai dari sore hari
hingga tengah malam, sedangkan pada paruh
kedua berikutnya tidak didapatkan sama
sekali. Aktivitas Mansonia uniformis
menggigit di luar rumah dimulai pada pukul
18.00 sampai pukul 19.00, kemudian menurun pada pukul 19.00 sampai pukul 20.00.
Pada pukul 20.00 sampai pukul 21.00
intensitas menggigitnya kembali meningkat
dan dengan kepadatan yang sama pada pukul
21.00 sampai pukul 22.00. Pada dua jam
penangkapan ini merupakan waktu dengan
kepadatan tertinggi dari sepanjang malam
penangkapan. Selanjutnya pada pukul 22.00
hingga tengah malam kepadatan nyamuk
mulai berkurang.
Pembedahan Nyamuk
Pembedahan
dilakukan
setelah
nyamuk diidentifikasi terlebih dahulu. Dari
total 369 ekor nyamuk yang dibedah
menunjukkan
bahwa
tidak
satupun
ditemukan larva cacing filaria (pada semua
stadium) pada tubuh nyamuk dari semua
spesies yang tertangkap.
Pemeriksaan Klinis dan
Sediaan Darah Jari

Pengambilan

Jumlah penduduk yang mau datang


untuk diperiksa secara klinis dan diambil
sediaan darahnya berjumlah 178 orang terdiri
dari 74 laki-laki dan 104 perempuan (Tabel
3). Dari hasil pemeriksaan klinis didapatkan
1 orang dengan gejala kronis dimana terjadi
pembengkakan pada salah satu kaki
penderita, sedangkan dari pemeriksaan
sediaan darah jari di laboratorium didapatkan

Komunitas Nyamuk ... (Lasbudi P, et al)

2 orang yang positif larva cacing filaria


(mikrofilaria) yang keduanya adalah lakilaki. Spesies cacing yang ditemukan tersebut
adalah Brugia malayi.
PEMBAHASAN
Di Indonesia secara umum terdapat
beberapa genus vektor penular filariasis.
Khusus untuk filariasis yang disebabkan
cacing Brugia malayi, yang paling dominan
dari semua spesies tersebut adalah dari genus
Mansonia. Untuk kawasan yang lebih luas
yakni di Asia Tenggara (termasuk Indonesia)
genus Mansonia juga berperan sebagai
vektor utama penularan filariasis dari spesies
Brugia Malayi (Chang, 2002; Ottesen, 1997;
Rozendal, 1997). Khusus di propinsi
Sumatera Selatan vektor yang telah
dikonfirmasi sebagai penular filariasis adalah
Mansonia
uniformis
dan
Anopheles
nigerrimus (Depkes, 2002).
Dari pengamatan aktivitas menggigit
Mansonia uniformis di luar rumah ditemukan
puncak kepadatan menggigit pada pukul
20.00 sampai pukul 21.00 dan pukul 21.00
sampai pukul 22.00. Sedangkan puncak
kepadatan menggigit di dalam rumah terjadi
pada pukul 20.00 sampai pukul 21.00.
Keadaan dimana aktivitas nyamuk vektor
yang mulai menggigit dan puncak kepadatan
vektor yang berada pada paruh pertama
malam hari akan sangat mendukung
terjadinya kontak antara nyamuk vektor
dengan manusia yang akhirnya dapat
menyebabkan penularan yang dalam hal ini
penyakit kaki gajah. Dikarenakan pada paruh
pertama malam hari penduduk biasanya
masih melakukan aktivitas baik di dalam
maupun di luar rumah. Dari pengamatan di
lokasi penelitian serta melakukan wawancara
singkat dengan penduduk setempat diketahui
bahwa sebagian penduduk juga melakukan
aktivitas di luar rumah seperti ngobrol di
warung, pos ronda serta di tepi jalan desa.
Diketahui juga bahwa salah satu aktivitas
yang hampir semua penduduk lakukan di luar
rumah yaitu buang air, dikarenakan tempat
buang air berada di tepian sungai.
Aktivitas
menggigit
Mansonia
bonneae/dives di luar dan di dalam rumah
ditemukan dengan kepadatan tertinggi pada
jam-jam awal penangkapan. Aktivitas

menggigit Mansonia bonneae/dives di luar


rumah memiliki kepadatan tertinggi pada
pukul 18.00 sampai pukul 19.00 dengan
kepadatan 18 ekor/orang/jam, sedangkan
yang menggigit di luar rumah puncak
kepadatan terjadi pada pukul 20.00 sampai
pukul 21.00. Suhu lingkungan erat kaitannya
dengan kehidupan nyamuk yang ditunjukkan
dengan perilaku nyamuk mencari darah.
Temperatur udara saat hari mulai menjelang
malam biasanya lebih rendah di luar rumah
dibandingkan dengan di dalam rumah.
Dengan demikian perilaku nyamuk mencari
darah akan lebih banyak di daerah dengan
suhu yang tidak terlalu tinggi, dimana pada
saat penangkapan nyamuk pada pukul 18.00
sampai pukul 19.00 suhu berkisar 28 29,5
C. Sedangkan pada pukul 20.00 sampai
pukul 21.00 suhu berkisar 25-26 C.
Dari hasil pembedahan nyamuk
didapatkan tidak satupun nyamuk yang
dibedah ditemukan larva cacing filaria
(semua stadium). Kerentanan nyamuk
terhadap parasit juga menentukan apakah
suatu nyamuk bisa menjadi vektor atau tidak.
Apabila jumlah parasit yang dihisap
nyamuk dari tubuh penderita terlalu banyak
maka nyamuk akan mati. Sementara
penularan filariasis dari nyamuk ke manusia
sangat berbeda dengan penularan yang terjadi
pada penyakit malaria dan demam berdarah.
Seseorang dapat terinfeksi filariasis apabila
orang tersebut mendapat gigitan dari nyamuk
vektor ribuan kali (Depkes.2002). Peluang
untuk terinfeksi dari satu gigitan nyamuk
vektor (infected mosquito) adalah sangat
kecil (Rozendal, 1997).
Pemeriksaan klinis terhadap gejalagejala filariasis berhasil mendapatkan 1
orang dengan gejala pembengkakan pada
kaki kiri penderita. Setelah dikonfirmasi
dengan petugas kabupaten diketahui bahwa
penderita tersebut telah tercatat sebelumnya
(penderita lama). Hal yang cukup mendapat
perhatian adalah ditemukannya 2 orang yang
di dalam darahnya positif terdapat cacing
mikrofilaria. Dengan demikian dapat
diketahui bahwa penularan filariasis masih
memungkinkan terjadi di desa ini mengingat
nyamuk vektor dan agent filariasis (cacing
filaria) ditemukan di desa ini.

Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 5 No 1, April 2006 : 368 - 375

tetapi faktor-faktor lain yang berpengaruh


dalam penularan filariasis (dinamika
penularan).

KESIMPULAN
1. Dari
hasil
penangkapan
nyamuk
didapatkan 5 spesies nyamuk yaitu
Mansonia bonneae/dives, Mansonia
uniformis, Culex spp, Aedes aegypti dan
Anopheles separatus.
2. Aktivitas
menggigit
Mansonia
bonneae/dives di luar rumah tertinggi
pada pukul 18.00 sampai pukul 19.00,
sedangkan di dalam rumah tertinggi
didapatkan pada pukul 20.00 sampai
pukul 21.00.
3. Aktivitas menggigit Mansonia uniformis
di luar rumah tertinggi pada pukul 20.00
sampai pukul 21.00 dan pukul 21.00
sampai pukul 22.00. Aktivits menggigit
di dalam rumah tertinggi pada pukul
20.00 sampai pukul 21.00.
4. Tidak ditemukan satupun nyamuk yang
mengandung larva cacing filaria
5. Angka Microfilaria Rate (Mf Rate) di
desa ini sebesar 1,12 %.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis menyampaikan terima kasih kepada
Kepala
Dinas
Kesehatan
Kabupaten
Banyuasin yang telah memberi ijin dan
bantuan sehingga penelitian ini dapat
terlaksana.
DAFTAR PUSTAKA
Chang, MS, 2002. Operational Issues in The Control of
The Vectors of Brugia. Annals of Tropical
Medicine & Parasitology, Vol. 96: 71 76.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, 2004. Laporan
Evaluasi Eliminasi Penyakit Kaki Gajah
(ELKAGA). Banyuasin.
Ditjen P3M, 1983. Kunci Bergambar Nyamuk
Mansonia di dunia. Jakarta
Ditjen P3M, 1983. Kunci Identifikasi Nyamuk Aedes
(Stegomya) Group. Jakarta
Depkes RI, 2002. Pedoman Penentuan Daerah
Endemis Penyakit Kaki Gajah (Filariasis).
Jakarta
Depkes RI, 2002. Epidemiologi Penyakit Kaki Gajah
(Filariasis). Jakarta
Ottesen, E. A, Duke, B. O., Karam, M., Behbehani, K,
1997. Strategies and tools for the
Control/Elimination of Lymphatic Filariasis.
Bulletin of the World Health Organization
75: 491 503.
OConnor, CT., A. Soepanto, 1994. Kunci Bergambar
Anopheles Betina di Indonesia. Depkes RI,
Jakarta
Rozendal, J. A, 1997. Vector Control. Methods for Use
by Individuals and Communities. World
Health Organization. Geneva

SARAN
Pemerintah dalam hal ini Dinas
Kesehatan Kabupaten Banyuasin agar
senantiasa memberikan pengertian kepada
penduduk akan pentingnya memproteksi diri
mereka dari gigitan nyamuk khususnya
nyamuk vektor penular penyakit kaki gajah.
Antara lain dengan memakai kelambu, obat
nyamuk bakar, repellent ataupun dengan
menutup ventilasi dengan kassa agar nyamuk
tidak dapat masuk.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
tidak hanya pada aspek vektor saja akan

Tabel 1.
Jenis-Jenis Nyamuk yang Berhasil Ditangkap di Desa Sebubus, Agustus 2004

No
1
2
3
4
5

Spesies
Mansonia bonneae/dives
Mansonia uniformis
Culex spp
Anopheles separatus
Aedes aegypti
JUMLAH

Ket:

UOD
UOL
DD
KD

METODA PENANGKAPAN/
JUMLAH NYAMUK TERTANGKAP (ekor)

Jumlah

UOD

UOL

DD

KD

58
10
35
2
0

109
16
42
1
1

25
2
12
0
1

43
2
10
0
0

225
29
91
3
2

61,0
7,9
24,7
0,8
0,5

105

169

40

55

369

100

= Umpan Orang Dalam


= Umpan Orang Luar
= Penangkapan di Dinding Dalam Rumah
= Penangkapan di Sekitar Kandang

Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 5 No 1, April 2006 : 368 - 375

Tabel 2.
Kelimpahan Nisbi Spesies Nyamuk yang Tertangkap di Desa Sebubus
Agustus 2004
No

1
2
3
4
5

Ket:

METODE PENANGKAPAN

Spesies

UOD
UOL
DD
KD

UOD
Mansonia bonneae/dives
55,24%
Mansonia uniformis
9,52%
Culex spp
33,33%
Anopheles separatus
1,90%
Aedes aegypti
0%
JUMLAH
100%
= Umpan Orang Dalam
= Umpan Orang Luar
= Penangkapan di Dinding Dalam Rumah
= Penangkapan di Sekitar Kandang

UOL
64,50%
9,47%
24,85%
0,59%
0,59%
100%

DD
62,50%
5,00%
30,00%
0%
2,50%
40%

KD
78,18%
3,63%
18,18%
0%
0%
100%

Tabel 3.
Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur Yang Diperiksa Gejala Klinis
Filariasis Serta Sediaan Darah Jarinya Di Desa Sebubus, Agustus 2004
Golongan Umur

Jumlah
(orang)

Akut

Kronis

Cacing Filaria

(tahun)
0- 5

11

6 - 10

38

11 - 15

27

16 - 20

12

21 - 25

12

26 - 30

12

31 - 35

11

36 - 40

14

41 - 45

12

10

46 - 50

10

11

51 - 55

12

56 - 60

13

60 - 65

14

>65

178

Angka Kesakitan

0,56

Microfilaria Rate (Mf rate)

1,12

No.

Jumlah

Gejala klinis

Positif (+)

Komunitas Nyamuk ... (Lasbudi P, et al)

Gam bar 1. Grafik Pola Menggigit Spesies M ansonia uniformis di Desa


sebubus, Agustus 2004

Jumlah Tertangkap (ekor)

6
5

18.0019.00

19.0020.00

2
1

0
20.0021.00

0
21.0022.00

0
23.0024.00

22.0023.00

0
24.0001.00

0
01.0002.00

0
02.0003.00

0
03.0004.00

0
04.0005.00

0
05.0006.00

Waktu m enggigit
Dalam Rumah

40

Jumlah tertangkap (ekor)

35

Luar Rumah

Gambar 2. Grafik Pola Menggigit Spesies Mansonia bonneae/dives


di Desa Sebubus, Agustus 2004
36

30
25

24
21

20
15

13

10
5

8
4

11
2
1

9
4
1

1
0

5
3

1
0

1
0

18.00- 19.00- 20.00- 21.00- 22.00- 23.00- 24.00- 01.00- 02.00- 03.00- 04.00- 05.0019.00

20.00

21.00

22.00 23.00

24.00

01.00

02.00 03.00

Waktu m enggigit
Dalam rumah

Luar rumah

04.00

05.00

06.00