Anda di halaman 1dari 45

GANGGUAN CEMAS PADA

ANAK
dr. Theresia kaunang
2013

Gangguan cemas perpisahan


(separation anxiety)
Kecemasan yang berlebihan dan
tidak sesuai menurut perkembangan
usia
Cemas terhadap perpisahan dengan
rumah atau orang dengan siapa
individu dekat
Tiga atau lebih dari 8 kriteria
diagnosis

Kriteria diagnosis
Penderitaan berlebihan, rekuren, jika
terjadi perpisahan dari rumah atau tokoh
perlekatan utama (ibu/ayah/pengasuh)
Ketakutan yg persisten dan berlebihan
mengenai kehilangan atau kemungkinan
bahaya yang mengenai tokoh perlekatan
Kekuatiran persisten dan berlebihan
bahwa kejadian yang tidak diharapkan
akan menyebabkan perpisahan dari tokoh
perlekatan utama (mis. Hilang atau diculik)

Kriteria diagnosis (2)


Keengganan atau penolakan yang persisten untuk pergi ke
sekolah atau tempat lain karena rasa takut akan perpisahan
Merasa takut secara persisten dan berlebihan atau enggan
untuk sendirian tanpa tokoh perlekatan utama di rumah atau
tanpa orang dewasa yang penting dalam situasi lain
Keengganan atau penolakan persisten untuk pergi tidur
tanpa dekat dengan tokoh perlekatan utama atau untuk tidur
jauh dr rumah
Mimpi buruk berulang kali mengenai tema perpisahan
Keluhan gej.fisik yang berulang seperti nyeri kepala perut,
mual atau muntah, jiaka terjadi atau akan dihadapi
perpisahan dengan tokoh perlekatan utama
Lama gangguan sekurangnya 4 minggu
Onset sebelum 18 th
Gangguan menyebabkan penderitaan bermakna secara klinis
atau gangguan dalam fungsi sosial, akademi (pekerjaan) dan
fungsi penting lainnya

Pada remaja
Secara langsung tidak
mengekspresikan ketidaknyamanan
untuk meninggalkan rumah, terlibat
dalam aktivitas sendirian,
menggunakan tokoh sebagai
penolong secara terus menerus,
dalam aktivitas sosial dan
rekreasional

Cemas antisipatorik
Tanda pramonitorik :
- iritabilitas, kesulitan makan,
merengek, takut tinggal sendirian di
ruangan, terus menerus
menggendong pada ortu
- Prtu tampak mengajari untuk cemas
dan berlaku overprotective

Geographic relocation anxiety :


-Rindu akan rumah, jika jauh dari rumah
atau pergi ke tempat yang baru
-Integrasi pada situasi hidup yang baru
sangat sulit
-Sulit tidur harus ditemani
-Mimpi buruk
-Ketakutan kegelapan
-Ketakuran yang dikhayalkan yang aneh

- Melihat mata memandang pada dirinya


- Takut dengan tokoh atau monster mitos
yang akan mengambilnya dari tempat
tidur
- Anak mudah sedih dan mudah menangis
- Mengeluh tidak dicintai
- Gejala GIT: mual, muntah, nyeri perut,
rasa sakit pada berbagai bagian tubuh,
sakit tenggorokan, dan gejala mirip flu

Terapi

Terapi multimodal:
Psikoterapi individual
Edukasi keluarga
Terapi keluarga
Terpai kognitif
Latihan relaksasi
farmakoterapi

Reactivr attachment
disorder
Ganggua interaksi dan hubungan
sosial karena pengasuh tidak mampu
Menelantarkan kebutuhan fisik dan
emosional dasar anak atau sering
berganti pengasuh yang menghalagi
ikatan adekuat
Terjadi sebelum 5 tahun

2 pola perilaku
Kegagalan menetap untuk memulai
atau berespons dengan sesuai pada
sebagian besar interaksi sosial
Ekspresi keakraban tanpa pilih2
dengan orang relatif asing

Gambaran klinis
Gagal tumbuh non organik
Hipokinesis, kelambanan, kelesuan,
apati, kemiskinan aktivitas spontan
Sedih, tidak gembira, tidak mau
main, menyedihkan
Ketakutan, mengamati orang lain
dengan pandangan mirip radar
Reson yang terlambat terhadap
stimulus menimbulkan penarikan diri

Terlihat bayi mengalami gizi buruk


Abdomen menonjol
Feses bau busuk
Gambaran klinis marasmus
Tonus otot kurang
Kulit dingin dan pucat
Hormon pertumbuhan biasanya
normal

Tidak menunjukkan protes terhadap


perawatan di rumah sakit
Semua gejala tersebut diakibatkan
karena hubungan dengan pengasuh
yang tidak harmonis
Gagal untuk membentuk kelekatan
optimal sebelum usia 2 th

penatalaksanaan
Bila keparahan fisik lebih bermakna,
rawat di RS
Terapi untuk kondisi mental dilakukan
oleh ortu atau pengasuh jangka
panjang
Diciptakan hubungan yang
menyenangkan

intervensi
Intervensi psikososial pelayanan
suportif psikososial, meningkatkan
suasana rumah yang adekuat,
mengurangi isolasi keluarga
Intervensi psikoterapi psikoterapi
individual, play terapi, terapi keluarga,
terapi marital, parenting skill program
Edukasi & konseling kesadaran dan
pemahaman tentang pola asuh
Monitoring ketat tumbuh kembang anak

Gangguan eliminasi
Berhubungan dengan pengendalian
VU dan usus
Diperlukan toilet training
Toilet training dipengaruhi oleh:
- Kapasitas intelektual anak
- Maturitas sosial
- Determinan kultural
- Interaksi psikologis antara anak & ortu

enkopresis
Keluarnya feses berulang kali di
tempat yang tidak tepat (pakaian,
lantai), tidak disadari/sengaja
Sekurangnya 1 kejadian dalm
sebulan
Usia kronologis sekurangnya 4 th
Bukan karena disebabkan oleh efek
fisiologis, seperti laksatif

Beberapa anak ditemukan


mengumpulkan feses di pakaian atau
tempat lain sebagai alasan emosional
Ada yang marah terhadap ortunya sbg
pola gangguan perilaku menentang
Mencari perhatian
Respon stres sebelumnya ibu
melahirkan adik baru
Anak tidak menyadari proses BAB tdk
dilatih

Pengeluaran feses yang involunter


karena penahanan feses kronis
Bisa disebabkan karena kecemasan

2 tipe enkopresis
Dengan konstipasi dan inkontinensia
Tanpai konstipasi dan inkontinensia
Anak yang mengalami enkopresis
tanpa gejala GIT memiliki kesulitan
dalam relaksasi otot sfinkter anal
saat mencoba defekasi

penatalaksanaan

Edukasi keluarga
Ketegangan dalam keluarga dikurangi
Pola asuh tepat
Ciptakan lingkungan keluarga yang
mendukung
Tolite training
Terapi perilaku anak
Terapi keluarga

enuresis
Mengeluarkan urin berulang kali di
pakaian atau di tempat tidur, tidak
disadari/sengaja
Penyebab bukan karena kondisi medis
Ada 3 tipe:
- Nokturnal
- Diurnal
- Norkturnal dan diurnal

terapi
Toilet training
Terapi perilaku
Farmakoterapi imipramin (tofranil)

Pika
Merupakan gangguan makan pola
makan yang tidak bergizi
Makan tanah (geofagia), makan kanji
(amilofagia)
Penelantaran anak
Kecanduan benda tertentu yang
seharusnya tidak untuk dimakan

Gambaran klinis
Makan benda yang bukan makanan
Onset sebelum usia 12-24 bulan
Meningkat sesuai dengan
perkembangan anak menguasai
gerakan dan peningkatan kemandirian
Makan cat, plester, tali, rambut, kain,
kotoran, binatang kecil, batu, kertas, dll
Implikasi berat keracunan timbal,
parasi usus (anemia)

terapi

Terapi perilaku
Konseling keluarga
Pola asuh
Jika keracunan sesuaikan dengan
komplikasi fisik
Koreksi anemia

Gangguan ruminasi
Regurgitasi makanan secara
berulang
Onset sebelum usia 3 bulan
Makanan ditelan kemudian
dikeluarkan dan ditelan lagi
Ditemukan secara berulang
sekurangnya dalam 1 bulan

Gambaran klinis
Regurgitasi
Makanan dikeluarkan dari mulut dan
dimasukan kembali
Tanpa gangguan GIT
Bayi terlihat menghisap makanan
dengan lidah
Tanpa mual, muntah

Akibat sekunder
Malnutrisi
Dehidrasi
Penurunan daya tahan terhadap
infeksi
Gagal tumbuh
Terlambat perkembangan dalam
semua bidang

penatalaksanaan

Perbaikan lingkungan sosial


Pola asuh kasih sayang
Psikoterapi
Social skill untuk anak

Mutisme selektif
Tidak dapat berbicara dalam situasi
sosial tertentu
Beberapa komunikasi dengan kontak
mata dan bahasa isyarat
Gejala berlangsung minimal sebulan
Gangguan mengganggu akademik dan
aktivitas sosial
Bukan gangguan komunikasi atau gagap

etiologi

Penolakan bicara secara menta


Konflik keluarga
Depresi maternal
Meingkatnya kebutuhan
ketergantungan
Overprotective
Hubungan yg dekat dengan ibu
Hubungan ambivalen

Gambaran klinis
Memiliki ketrampilan bahasa yg
adekuat
Onset 4-8 th
Periode membisu manifestasi di
sekolah atau di luar rumah
Mungkin jg disertai dg gangguan
cemas perpisahan, penolakan
sekolah, riwayat terlambat bicara

penatalaksanaan
Terapi multimodal:
- Intervensi individual terapi perilaku
- Intervensi keluarga konseling
keluarga
- Observasi terhadap fobia social di
kemudian hari
- farmakoterapi

Gangguan tourette
Ditemukan oleh Georges Gilles de La
Tourette, th 1885 di Perancis
Ini merupakan gangguan tik
Ditemukan pertama kali berupa tik
motorik multiple, koprolalia dan
ekolalia
Etiologi genetik, neurotransmiter
dopamin, noradrenergik

Diagnosis dan gambaran


klinis
Terjadi dengan frekuensi yang sering
dalam sehari, intermiten, selama
lebih dari 1 bulan
Onset rata2 usia 7 th
Dapat terjadi paling awal pada usia 2
th

Tik yang paling sering


Wajah dan kepala:
Mengerutkan dahit, menaikan alis mata,
mengedipkan kelopak mata,
mengendutkan mulut, menunjukkan gigi,
menggigit bibir dan bagian lain,
menjulurkan lidah, menarik rahang
bawah, menganggukan, menyentakkan,
menggoncangkan kepala, memuntir leher,
melihat ke samping dan memutar kepala

Lengan dan tangan:


Menyentakkan tangan dan lengan, menarik
jari, meremas tangan, mencengkram
telapak tangan
Tubuh dan anggota gerak bagian bawah:
Menarik bahu, menggoyangkan kaki,
lutut, ibu jari, gaya berjalan aneh,
menggeliat tubuh, meloncat
Menimbulkan kecemasan
Fobia school

Sistem pernapasan dan pencernaan:


Cegukkan, menarik napas panjang,
menguap, menghirup, meniup melalui
lubang hidung, inspirasi berbunyi,
pernapasan yang dipaksakan,
bersendawa, bunyi menyedot,
mencium, membersihkan tenggorokan
koprolalia

penatalaksanaan
Farmakoterapi
Terapi perilaku

Gejala prodormal
Iritabilitas
Kesulitan memusatkan perhatian
Toleransi frustasi buruk

Gangguan pergerakkan
stereotipik
Perilaku motorik berulang, karena
dorongan dr dlm diri dan non fungsional
Menggoyangkan badan, membenturkan
kepala, menggigit diri sendiri, gerakan
memetik, gerakan badan bergelombang
Gejala sekurangnya 4 minggu
Perkembangan normal, gerakan
stereotipi 80% hilang pada usia 4 tahun
Gerakan meningkat saat kebosanan,
frustasi, ketegangan

Diagnosis dan gambaran


klinis
Membentur kepala
Menggigit kuku

penatalaksanaan

Lingkungan sosial dioptimalkan


Terapi perilaku
Psikoterapi
Pola asuh farmako terapi SRRI